Rahasia Hiolo Kumala Jilid 18

Jilid 18

BEGITU jalan darah Bu-jian tootiang tertotok bebas, sepasang biji matanya segera berputar memandang sekeliling tempat itu, kemudian sambil melompat bangun, tanyanya dengan wajah tercengang, “Aku…. Aku…. berada dimana?”

“Tenangkan dulu hatimu tootiang!” cepat Yu Siau-lam berseru, “Tempat ini adalah empat puluh li dari kota Hong- yang yang disebut orang sebagai Ang-sim-poh!”

Kembali Bu-jian tootiang celingukan kesana kemari seperti orang kebingungan. ”Aku…. Aku….” Tiba-tiba ia seperti teringat akan sesuatu, segera teriaknya, “Aaah…. Aku sudah teringat semua kini, Ooh…. Thian!

Kuilku….kuilku….”

“Yaa…. Kuil Cing-siu-koan telah musnah!” lanjut Hoa In- liong dengan sikap yang tenang, “Tootiang, jelek-jelek engkau adalah seorang imam

yang beribadat, semestinya jalan pikiranmu jauh lebih terbuka dari pada orang lain”

Bu-jian tootiang segera meloncat bangun dari atas tanah, lalu serunya agak tergagap, “Tetapi…. Tetapi…. Dua puluh tujuh lembar nyawa manusia! Mereka semua adalah anak murid pinto!”

Menyinggung tentang kedua puluh tujuh lembar nyawa manusia itu, tak dapat dibendung lagi titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Semua orang sudah tahu kalau kuil Cing siu-koan telah terbakar habis tinggal puing-puing yang berserakan. Tapi menyaksikan kesedihan yang mencekam perasaan Bu-jian tootiang ketika itu, semua orang ikut merasa bersedih hati hingga nyaris air mata ikut meleleh keluar membasahi pipinya.

Coa Cong-gi merupakan seorang laki-laki yang berhati sekeras baja dan bernyali besar, tapi ia paling pantang menyaksikan orang lain mengucurkan air mata, maka segera serunya, “Jangan menangis! Jangan menangis lagi! Siapa hutang uang dia harus bayar dengan uang, siapa hutang nyawa harus dibayar pula dengan nyawa. Meskipun mereka sudah sudah bikin mati anak muridmu, lain kali kau bisa comot keluar jantungnya. Mereka sudah bakar kuilmu, maka lain kali kau bongkar juga sarang mereka. Kekerasan harus dibalas dengan kekerasan, kekejaman harus dibayar pula dengan kekejaman. Sebagai seorang laki-laki sejati, sebagai kesatria yang gagah perkasa, kau harus dapat mengendalikan perasaan. Kau anggap hanya menangis belaka, maka urusan dapat diakhiri dengan gampang?”

Hoa In-liong yang berada disampingnya segera menambahkan pula dari samping, “Betul juga perkataan itu. Bagaimanapun juga, toh kuil yang tootiang huni telah musnah. Yang paling penting sekarang adalah menjaga kesehatan badan, selanjutnya adalah memanfaatkan keadaan yang ada. Kesedihan yang mencekam menjadi suatu kekuatan untuk membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu.

Sebaliknya jika kesedihan yang kau alami sekarang mengakibatkan badanmu semakin rusak, coba bayangkan sendiri, siapa yang akan membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu? Kalau sakit hati ini sampai tidak terbalas, bukankah mereka akan mati dengan mata tak meram?”

“Mati dengan mata tak meram…. Mati dengan mata tak meram….” kembali Bu-jian tootiang bergumam seorang diri.

Dari cara imam setengah baya itu mengulangi kembali kata-kata tersebut, Yu Siau-lam tahu bahwa perasaan dan pikirannya sudah mulai bergerak, maka setelah berpikir sebentar, dia berkata pula, “Tootiang, aku pernah berhutang budi kepadamu. Maka bila engkau berhasrat untuk membalas kan dendam bagi kematian anak muridmu, sekalipun harus terjun ke lautan api, aku pasti akan membantu dirimu pula.

Entah bagaimanakah menurut pendapatmu?”

Meskipun butiran air mata yang mengembang dalam kelopak mata Bu-jian tootiang belum mengerti akan tetapi dibalik matanya yang berkaca-kaca itu telah memancar keluar serentetan cahaya tajam yang menggidikkan hati. Ini menunjukkan bahwa keputusan telah diambil dalam hatinya dan makin lama keputusan tersebut semakin bulat.

Saat itulah Hoa In-liong menambahkan kembali kata- katanya dari samping, “Pertimbangkanlah secara seksama. Tapi menurut pendapatku, anak murid dalam perguruan sama halnya dengan anak kandung sendiri. Kematian mereka terlalu menyedihkan, apalagi dibunuh secara keji tanpa sebab musabab. Kematian mereka adalah kematian yang penasaran, bagaimanapun jua dendam ini harus dituntut balas. Bila engkau telah memutuskan untuk membalas dendam, maka semua sahabatku dengan rela hati akan membantu usahamu itu”

Begitu kata-kata tersebut berkumandang keluar, sinar mata yang memancar keluar dari mata Bu-jian tootiang makin bercahaya. Ia tampak termenung sejenak. Kemudian dengan ujung bajunya menyeka air mata dalam kelopak mata, matanya tertunduk rendah. Sambil pejamkan mata ia menjura dalam-dalam. Ia menjura tanpa diketahui siapa yang dituju, tapi setelah berdiri tegak ujarnya kepada Hoa In-liong, “Terima kasih atas nasehatmu itu, pinto menerima semua kritik yang membangun ini”

Setelah menyapu sekejap wajah para jago yang hadir disana, ia berkata lebih jauh, “Saudara-saudara sekalian, walaupun aku sudah menjadi pendeta semenjak kecil tapi akupun merupakan seorang manusia yang berdiri dari darah dan daging. Aku mempunyai perasaan juga. Maka atas budi kebaikan yang telah kuterima hari ini, pinto tak berani menjanjikan sesuatu. Tapi yang pasti aku akan berusaha untuk maju ke depan. Andaikata lain waktu masih berjodoh, kita pasti akan bersua kembali….”

Selesai berkata, ia lantas beranjak dan menuju keluar hutan untuk berlalu dari sana. Hoa In-liong bertindak cepat, tangannya segera berputar kedepan mencekal ujung bajunya. “Tootiang, engkau akan kemana?” Tegurnya gelisah.

Karena ditarik ujung bajunya, terpaksa Bu-jian tootiang membatalkan niatnya. “Seng-sut-pay telah membakar habis kuil pinto, maka pinto juga akan menghancurkan lumatkan Hay-sim-san sarang mereka”

“Tapi…. Tapi…. Kau cuma sendirian, mana mungkin niatmu bisa terwujud? “seru Hoa In-liong agak ragu-ragu.

“Hoa kongcu, apakah engkau anggap pinto benar-benar seorang imam tua yang tak berguna?” tiba-tiba Bu-jian tootiang balik bertanya, suaranya sangat hambar.

“Aku tahu, tootiang adalah seorang tokoh persilatan yang selama ini menyembunyikan diri dalam too-koan!”

Bu-jian tootiang tertawa ewa. “Kongcu keliru besar. Guru pinto yang sebenarnya tak lain adalah Tong Thian-kaucu dimasa lalu, dia adalah seorang gembong iblis yang betul- betul pantas disebut iblis”

Setelah ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orang yang berada dalam gelanggang jadi terbelalak lebar. Tak seorangpun sanggup mengucapkan sepatah kata pun.

Terdengar Bu-jian tootiang berkata lagi, “Saudara-saudara sekalian tak usah kuatir. Anak murid dari Thian Ek-cu untuk selanjutnya tak ada yang menjadi iblis sesat lagi”

Hoa In-liong merasa serba salah. Iapun tak sanggup mengatakan apa-apa lagi. Maka apa yang bisa ia lakukan hanya menarik tangan Bu-jian tootiang erat-erat tanpa dilepas kembali.

Bu-jian tootiang kembali berkata, “Tempo dulu pinto pernah berjumpa muka dengan ayahmu. Watak kongcu persis seperti watak ayahmu, bunyak manfaat yang telah pinto tarik dan pelajaran ini.”

Yang dia maksudkan adalah kebaikan serta kegagahan keluarga Hoa. Apa mau dikata Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang keras kepala, segera teriaknya, “Aku tak ambil peduli! Sekalipun kau berbicara sampai lidahmu membusuk juga percuma. Pokoknya aku tak nanti akan membiarkan engkau menempuh bahaya seorang diri.”

“Kalan memang begitu, pinto terpaksa harus menyalahi dirimu!”

Seraya berkata demikian, Bu-jian tootiang segera putar telapak tangannya dan menghantam kepada Hoa In-liong.

Serangan tersebut tak dapat diketahui arah asalnya, tapi kecepatannya luar biasa sekali.

Padahal Hoa In-liong sama sekali tidak bersiap sedia terhadap datangnya ancaman tersebut, tampaknya serangan itu segera akan bersarang telak di atas tubuhnya.

Berada dalam keadaan seperti ini, untuk memberi pertolongan jelas sudah tak mungkin lagi. Semua orang jadi terperanjat, bahkan ada pula diantara mereka yang menjerit kaget.

Disaat yang amat kritis itulah, semua orang hanya merasa pandangan matanya jadi kabur dan sesosok bayangan manusia tahu tahu sudah terlempar ketengah udara. Menyusul kemudian, terdengar suara Hoa In-liong yang sedang minta maaf berkumandang, “Maaf….! Maaf….! Aku…. Aku…. Sebenarnya tidak sengaja!”

Ketika semua orang memandang kearah gelanggang dengan lebih cermat, maka terlihatlah orang yang terlempar dari gelanggang itu ternyata adalah Bu-jian tootiang.

Sementara itu Bu-jian tootiang tergeletak diatas tanah sambil meringis menahan sakit. “Pinto….Pinto….Aaai!”

Ditengah helaan nafasnya, ia gelengkan kepalanya berulang kali. Agaknya bandingan itu cukup keras sehingga mengakibatkan tubuhnya terasa amat sakit.

Dengan wajah penuh rasa menyesal dan permintaan maaf Hoa In-liong membimbingnya bangun berdiri, katanya, “Tootiang, harap engkau suka memberi maaf atas kecerobohan serta kekasaranku!”

Bu-jian tootiang tertawa getir. “Hal ini tak dapat menyalahkan diri kongcu. Kalau ingin nenyalahkan maka harus salahkan diri pinto sendiri yang tak tahu diri serta menilai dirimu terlampau rendah”

“Tidak! Tootiang terlalu baik hati dan ramah, lagipula engkaunpun tidak menggunakan tenaga sepenuhnya.

Andaikata tootiang menggunakan tenaga yang lebih besar lagi maka yang roboh sudah pasti adalah diriku sendiri. Aku tahu, tujuan dari tootiang dengan serangan itu adalah bermaksud untuk memaksa aku lepas tangan. Akulah yang salah karena tak dapat menguasahi diri sehingga sungguh-sungguh membanting tootiang sampai terjungkal” Setelah pembicaraan itu berlangsung, semua orang baru menyadari akan duduk persoalan yang sebenarnya, semua orang lantas mengerumun maju ke depan.

Ternyata Bu-jian tootiang ingin terburu buru lepaskan diri dari cekalan orang, maka ia gunakan telapak tangannya untuk pura-pura melancarkan serargan. Dalam anggapannya gertak sambal itu pasti akan berhasil dengan cemerlang. Dalam keadaan tak terduga dan tergesa-gesa Hoa In-liong pasti akan melepaskan cekalannya untuk mengundurkan diri kebelakang.

Asal cekalannya terlepas, maka dengan suatu gerakan yang sama sekali tak terduga ia dapat kabur dari situ.

Siapa tahu Hoa In-liong memang berniat sungguh-sungguh untuk mencegah imam itu menempuh bahaya seorang diri.

Sewaktu menyaksikan datangnya serangan secara tiba-tiba, tentu saja cekalannya tidak dilepaskan dengan begitu saja.

Lantaran dia sendiripun tidak bermaksud mundur ke belakang, maka bukannya mundur justru pemuda itu maju ke muka, kaki kirinya maju selangkah. Sementara telapak tangannya dari mencekal menjadi mencengkeram dan ditangkapnya lengan kiri Bu jian tootiang erat-erat.

Ketika badannya dilengkungkan seperti busur dan lengan kanannya digetarkan ke depan, ternyata tubuh Bu-jian tootiang terangkat lewat punggungnya dan melayang ke depan.

Ternyata di saat yang terakhir ia baru tahu jika Bu-jian tootiang sama sekali tidak menggunakan tenaga penuh, tak ampun lagi terpelantinglah si toosu setengah baya itu dengan kepala menghadap ke atas.

oooOOOooo SEMENTARA itu Bu-jian tootiang telah berkata dengan dahi berkerut kencang, “Tak usah dibicarakan lagi tentang soal itu, harap kongcu bersedia lepas tangan!”

Dari nada ucapannya itu, dapat ditarik kesimpulan bahwa keputusannya untuk berlalu dari situ sudah bulat dan tak dapat diganggu gugat lagi.

Tapi Hoa-In-liong tetap menggelengkan kepalanya. “Padamkanlah amarahmu untuk sementara waktu” Hiburnya. “Dendam sakit hati ini memang harus dituntut balas. Tapi adapun sebab musabab hingga terjadinya dendam berdarah ini adalah gara-gara soal diriku. Sewajarnya kalau aku tak boleh mengesampingkan diri dalam urusan pembalasan dendam ini. Kita harus rundingkan siasat dengan sebaik- baiknya agar hasil yang tercapai pun memadai”

“Benar!” kata Yu Siau-lam juga, “Sebab musabab sampai terjadinya dendam berdarah ini adalah karena soal diriku.

Andaikata aku tidak tertawan, saudara In-liong tak mungkin akan menyusul ke kota Hong-yang dan orang-orang dari Mo- kauw juga tak nanti akan menghancurkan tookoan mu serta membinasakan anak muridmu. Sebab itu aku juga tak dapat mengesampingkan diri dalam urusan ini. Tootiang, kenapa kau tidak tenangkan dulu hatimu dan marilah kita rundingkan bersama-sama urusan ini untuk menyusun rencana bersama?”

Meskipun dari pembicaraan tersebut ia tahu akan maksud baik rekan-rekannya dan diapun tahu bahwa mereka tetap menguatirkan keselamatan dirinya jika seorang diri menempuh bahaya, maka semua tanggung jawab persoalan itu dibebankan di atas bahu sendiri. Namun rasa haru dan terima kasihnya itu tak dapat membatalkan niat serta jalan pemikiran sendiri karenanya setelah termenung sejenak, tiba-tiba ia bertanya, “Apakah kalian berdua tabu bahwa pinto mempunyai sebuah gelar lain yang disebut Cing-liang?”

Baik Yu Siau lam maupun Hoa In-liong sama-sama tertegun, sebelumnya mereka sempat mengucapkan sesuatu, Coa Cong-gi sudah tak dapat menahan rasa sabarnya, ia segera menukas, “Aaah…. Kamu ini kok cerewet amat! Perduli amat Cing lian-si teratai hijau atau Pek-lian-si teratai putih, apa sangkut pautnya soal itu dengan masalah pokok? Saudara Hoa berbuat demikian adalah dikarenakan maksud baik, terserah engkau bersedia untuk mendengarkan atau tidak….?”

Bu jian tootiang tertawa getir. “Memangnya pinto adalah seorang manusia yang tak tahu baik buruknya orang lain?”

“Kalau sudah tahu kau urusannya beres, buat apa kau masih ribut dan cerewet terus? “tegur Coa Cong-gi lebih jauh dengan alis matanya berkenyit.

“Pinto rasa, kalian semua pasti pernah mendengar tentang peristiwa berdarah dilembah Cu-bi-ok bukan?” Kata Bu-jian tootiang dengan tenang. “Dalam pertarungan yang berlangsung di lembah Cu-bu-kok dahulu, guruku pernah menitahkan seorang bocah imam berbaju merah yang bernama Cing-lian untuk membacok kotak emas milik Siang Tang lay, Siang locianpwe….”

Diam-diam Coa Cong-gi mendesis dihati kecilnya. “Oooh…. Jadi engkau adalah si bocah imam berbaju merah itu? Toh hal ini bukan suatu kejadian yang perlu dibanggakan? Kenapa musti kau ungkap kembali?” tegurnya.

“Pinto tidak bermaksud pamer atau membanggakan diri. Maksud pinto sejak kecil guruku telah menganjurkan kepada pinto agar berambisi besar untuk mencapai apa yang dicita- citakan. Tapi sejak kembali dari operasi penggalian harta karun dibukit Kiu-ci-san, ambisinya banyak yang telah padam. Beliau berpesan kepada pinto agar mengganti nama menjadi Bu-jian dan mengasingkan diri ditempat sunyi serta tidak mencampuri urusan dunia persilatan lagi….”

Hoa In-liong agaknya dapat menangkap maksud sebenarnya dari perkataan lawan, ia segera menukas, “Aaaah…. Sekarang aku sudah paham dengan maksud hatimu. Jadi tootiang bermaksud hendak menghubungi kembali bekas rekan-rekan seperguruanmu dimasa lampau untuk membantu usahamu guna membalaskan dendam bagi kematian anak muridmu ini?”

Dengan wajah yang amat sedih Bu jian tootiang manggut- manggut lirih. “Yaaa. Terpaksa aku harus berbuat demikian. Sekalipun tindakanku ini berarti suatu pelanggaran terhadap perintah guruku, tapi keadaan situasilah yang memaksa aku berbuat demikian. Karena itu pinto juga tidak akan memikirkan bagaimanakah akibatnya nanti”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua orangpun sama-sama dibuat tertegun.

Sementara semua orang masih termangu, terdengar Bu- jian tootiang melanjutkan kembali kata-katanya setelah menghela napas panjang, “Keadaan situasi yang terpapar di depan mata kita sekarang dengan jelas telah membuktikan bahwa orang-orang dari Mo-kauw adalah iblis-iblis keji yang sama sekali tidak berperi kemanusiaan. Cukup ditinjau dari sikap mereka yang begitu kejam buas dan ganas untuk membakar sebuah tookoan serta merenggut dua puluh tujuh lembar nyawa hanya dikarenakan untuk melampiaskan rasa marah dan mendongkol mereka dapatlah kita ketahui bahwa kebusukan hati mereka luar biasa besarnya. Bahkan bila dibandingkan dengan tingkat kekejaman yang pernah diperbuat orang-orang Sin Ki-pang, Hong Im-hwe dan Tong Thian-kau, entah berapa kali lipat lebih dahsyat. Jika manusia- manusia berhati binatang semacam merekapun dibiarkan hidup terus didunia ini, mana mungkin umat persilatan didunia ini bisa peroleh ketenangan? Sampai kapankah dunia persilatan jadi aman dan sentausa? Apakah kita hendak membiarkan hawa jahat hawa iblis menguasahi seluruh jagad?”

Coa Cong-gi yang berjiwa panas, segera menanggapi ucapan tersebut dengan teriakan bersemangat, “Betul! Masuk diakal, sungguh tak kusangka meski rada cerewet tapi jalan pikiranmu lumayan juga. Cuma…. Cuma…. Membangkang perintah gurumu, apakah tootiang dapat mempertanggung jawabkan perbuatanmu ini kepada gurumu?”

Pemuda ini memang berwatak polos, jujur dan cepat berbicara. Baik buruk semuanya diungkapkan perasaannya waktu itu. Maka ketika didengarnya perkataan dari Bu-jian tootiang cengli dan cocok sekali dengan seleranya, bukan saja ia lantas memuji-muji, bahkan sedikit menguatirkan keselamatan imam tersebut.

Bu-jian tootiang tertawa sedih. “Membangkang perintah guru memang merupakan suatu tindak penghianatan yang merupakan perbuatan tidak berbakti. Tapi…. apakah pinto harus berdiam diri saja menyaksikan anak muridku dibantai orang secara keji tanpa usahakan suatu pembalasan dendam? Apakah hatiku bisa tenteram membiarkan mereka mati penasaran? Memang, apa yang dikatakan Hoa kongcu tepat sekali, pinto harus mengubah kesedihan yang yang mencekam dalam hatiku menjadi suatu kekuatan. Pinto pun sadar, kekuatan yang kumiliki sendiri amat minim dan terbatas, maka aku harus mengundang rekan-rekan seperguruanku dimasa lampau, untuk bersama-sama melakukan perang terhadap mereka” Li Poh-seng yang selama ini hanya membungkam, tiba-tiba berkata pula setelah menghela nafas panjang, “Aaaai….

Sungguh tak kusangka kalau tootiang bisa berpikir sampai ke situ. Padahal membasmi kaum jahat dan sesat dari muka bumi adalah kewajiban dari kita semua. Apa salahnya kalau kitapun membantu usahamu untuk membasmi hawa jahat dari muka bumi? Tootiang, engkau sendiripun sudah cukup tak tenang hatinya karena soal ini, buat apa kau undang pula rekan-rekan seperguruanmu untuk terjun pula ke dalam air keruh?

Tidakkah perbuatan ini malah mengganggu ketenangan hidup mereka?”

“Sekarang, jalan pemikiran pinto sudah jauh lebih terbuka. Selama hawa siluman belum dilenyapkan, mana mungkin kita semua dapat hidup beribadah dengan hati yang tenang?”

“Tapi tootiang, orang persilatan paling menjunjung tinggi perintah dari seorang guru” Sambung Yu Siau-lam cepat, “Apakah tootiang tidak merasa berdosa, bila kau langgar perintah dari gurumu?”

Bu-jian tootiang tertawa getir. “Ya….sudah tentu hal itu tak bisa dihindari lagi” Sahutnya, “Tapi aku yakin, guruku tak akan sampai menegur ataupun menyalahkan tindakanku ini”

“Kenapa bisa begitu?” tanya Coa Cong-gi dengan alis mata berkenyit rapat.

“Ketika guruku mengumumkan akan mengundurkan diri dari keramaian dunia serta melarang anak muridnya mencampuri urusan dunia persilatan lagi, dalam dasar hatinya sudah muncul benih-benih penyesalan. Disamping itu, perkumpulan Tong Thian-kau tak dapat dibantah lagi memang pernah melakukanbanyak kejahatan dan kekejaman dimasa lampau. Maka pinto mengambil keputusan untuk mengundang kehadiran rekan-rekan seperguruan untuk bersama-sama melawan serta membendung kekuatan jahat dari pihak luar. Tindakanku ini pertama untuk membalaskan dendam bagi kematian anak muridku. Kedua untuk menebuskan dosa-dosa yang pernah dilakukan pihak Tong Thian-kau dimasa lalu.

Maka pinto pikir, jika guruku dapat mengetahui maksud hatiku ini, tak mungkin beliau akan menegur ataupun menyalahkan tindakan pinto yang telah melanggar perintah-perintahnya ini”

Selama pembicaraan berlangsung, Hoa In-liong mencengkal terus lengan Bu jian tootiang tanpa bermaksud untuk melepaskannya kembali. Tapi sesudah imam setengah baya itu mengutarakan isi hatinya, cekalan tersebut segera dilepaskan.

“Baiklah! Kau tak usah berkata lagi. Tak kusangka kalau maksud hati tootiang secermat dan sebagus ini. Kalau begitu akulah yang menguatirkan keselamatanmu terlalu berlebihan. Silahkan tootiang! Semoga dilain waktu gurumu dapat memahami keadaan tersebut. Bila mana perlu akupun bersedia menjadi saksi bagi tootiang untuk menghindari diri tootiang menjadi penasaran”

Persetujuan yang diberikan secara tiba-tiba oleh anak muda ini atas kepergian Bu-jian tootiang tentu saja amat mencengangkan semua orang. Untuk sesaat semua yang hadir jadi tertegun dan tak mampu mengucapkan sepatah katapin.

Bu-jian lootiang sendiripun tertegun, tapi hanya sebentar, cepat ia menjura memberi hormat. “Terima kasih atas janji yang telah Hoa kongcu berikan. Pinto mohon diri lebih dahulu”

Selesai berkata, ia putar badan dan buru-buru berlalu dari sana dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Ketika tubuhnya sudah mencapai tiga kaki jauhnya, mendadak Hoa In-liong berteriak kembali, “Tootiang!” Bu-jian tootiang segera menghentikan langkah kakinya dan putar badan menghadap ke arah pemuda tersebut.

Dengan senyuman dikulum Hoa In-liong berkata lebih jauh, “Kita adalah sepaham dan setujuan, harap tootiang tinggalkan alamat buat kami. Dikemudian hari aku pasti akan berkunjung ke sana untuk menyambangi dirimu”

“Kepergian pinto kali ini tanpa arah tujuan tertentu, lebih baik kita berjumpa saja dalam dunia persilatan!”

Hoa In-liong termenung dan berpikir setentar kemudian ujarnya lagi, “Begini saja! Bila tootiang menghadapi kesulitan dikemudian hari, kirim saja utusan ke perkampungan Liok- soat-san-ceng. Kami orang-orang dari keluarga Hoa bersedia menjadi tulang punggung kalian”

“Terima kasih atas perhatian dari kongcu. Pinto akan mengingat terus pesan ini” sahut Bu jian tootiang lantang.

Diapun memberi hormat dari kejauhan, kemudian baru berlalu dari situ. Sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan mata.

Kepergian Bu-jian tootiang segera mengundang helaan napas sedih dari rekan-rekan persilatan lainnya. Lama sekali Hoa In-liong baru berkata lagi, “Aku rasa kitapun harus segera berangkat!”

“Ya, kita harus berangkat! Sekarang juga kita harus berangkat!” sambung Coa Cong-gi setengah berteriak.

Sambil ulapkan tangannya berjalan lebih dahulu keluar dari hutan lebat itu. Para jago lainnya saling menyusul dari belakang dengan membungkam dalam seribu basa mereka menelusuri jalan raya.

Ketika itu waktu sudah menunjukkan lewat tengah hari. Matahari bersinar terang dengan teriknya ditengah angkasa. Panas sang surya yang menyengat badan menimbulkan rasa panik, gelisah dan murung dihati setiap orang. Ini menyebabkan perasaan mereka makin kalut.

Kurang lebih sepertanak nasi kemudian, tiba-tiba Yu Siau- lam berkata memecahkan kesunyian, “Saudara In-liong, tiba- tiba aku merasa jantungku berdebar keras, seakan-akan mendapat firasat bahwa sesuatu bencana besar telah berada didepan mata. Tahukah kau apa maksud dari firasat hatiku ini? Apakah kau dapat menerangkan?”

“Entahlah apa yang bakal terjadi” Sahut Hoa In-liong seraya berpaling, “Sebab akupun mempunyai perasaan yang sama. mungkin dalam lubuk hati kita masiag-masing sedang menguatirkan keselamatan dari Bu-jian tootiang, maka perasaan semacam itupun otomatis muncul dengan sendirinya! “

“Benar!” Seru Coa Cong-gi pula setengah berteriak, “Toosu itu bukan saja dingin dan tawar. Berbicarapun tak bisa blak- blakan dan lancar. Tak disangka manusia semacam itu sanggup mengutarakan serangkaian perkataan yang masuk diakal. Jika menuruti adatku bagaimanapun juga tak nanti akan kubiarkan dia pergi dari sini. Bukan saja tidak membawa senjata rahasia, harus berkeliaran juga kesana-kemari tanpa tujuan tertentu. Kalau sampai ketemu lagi dengan rombongan anak iblis itu, niscaya lebih banyak kegetiran yang diterima daripada kegembiraan” Li Poh-seng tidak sependapat dengan perkataan itu, ia cepat membantah dari samping, “Aaaah…. Aku rasa belum tentu demikian. Menurut penglihatanku Bu-jian tootiang tidak termasuk seorang manusia sembarangan. Dia memiliki kekuatan, memiliki keberanian dan merupakan seorang yang berotak cerdas. Sekalipun sampai menderita kerugian, tak akan besar kerugian yang dideritanya. Aku rasa kita tak usah terlalu menguatirkan keselamatan jiwanya”

“Aaaah. Kamu ini kalau bicara tak ada ujung pangkalnya, bikin orang jadi bingung saja” Omel Coa Cong-gi sambil mengernyitkan alis matanya yang tebal. “Perlu kuatir atau tidak ada urusan yang tersendiri. Pada hakekatnya kita semua sedang kuatir, kalau tidak, tak mungkin hatiku terasa gundah sekali!”

Li Poh-seng tersenyum. ”Akupun demikian, hatiku amat kalut dan tidak tenteram, begini saja! Mari kita bicarakan langkah-langkah yang akan kita ambil dalam perjalanan menuju bukit Yan-san. Mungkin dengan cara begini, perasaan gelisah dan tidak tenteram itu dapat kita buang jauh-jauh dari dalam benak kita”

“Betul!” Yu Siau-lam menanggapi lebih dulu sambil manggut-manggut, “Perjalanan kita menuju ke bukit Yan-san memang perlu dirundingkan lebih dahulu. Sebab langkah- langkah penting perlu suatu perencanaan yang matang!”

Ia berpaling kearah Hoa In-liong, menyusul kemudian tanyanya, “Saudara In-liong, engkau bermaksud kunjungi bukit Yan-san secara terang-terangan ataukah secara tersembunyi?”

“Tak bisa dikatakan suatu kunjungan secara terang- terangan atau secara tersembunyi. Sebab tujuan kita adalah memenuhi undangan dari nona Wan untuk mengadakan pertemuan. Tentu saja sasaran kita adalah berjumpa dengan nona Wan”

“Hal ini mana bisa jadi?” kata Yu Siau-lam dengan dahi berkerut, “Nona Wan selalu ada bersama-sama Hong Seng sekalian. Andaikata kita sampai bertemu dengan Hong Seng lantas bagaimana? Sebelum hal-hal yang tak diinginkan terjadi, lebih baik kita mempersiapkannya lebih dahulu dengan masak-masak!”

Hoa In-liong tersenyum. “Kalau sampai berjumpa, itu lebih baik lagi. Justru kita dapat langsung menegur mereka tentang dibakarnya tookoan Cing-siu-koan secara biadab!”

“Aaaai…. Soal dibakarnya Cing-siu-koan, kenapa musti banyak ditanyakan lagi” Tukas Yu Siau-lam dengan dahi berkerut.

“Lantas menurut pendapatmu?”

“Menurut pendapatku. bila kunjungan kita ini bersifat terang-terangan maka kita langsung temui Hong Seng dan sekaligus membasmi mereka dari muka bumi serta selamatkan nona Wan dari cengkeraman mereka. Aku rasa siasat sekali tepuk tiga lalat ini paling bagus sekali bagi kita dalam keadaan seperti ini”

“Tidak mungkin! Tidak mungkin! Cara semacam ini tak mungkin bisa dilaksanakan” kata Hoa In-liong kemudian sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Kenapa tidak mungkin?”

“Sekalipun kita berhasil melenyapkan Hong Seng sekalian dari muka bumi, tapi justru tindakan tersebut merupakan suatu tindakan memukul rumput mengejutkan ular. Karena pembunuhan itu, orang-orang Mo-kauw pasti akan mempertingkat kewaspadaan mereka terhadap kita. Malahan mungkin mereka jadi semakin kalap dan menciptakan pembunuhan-pembunuhan keji yang lebih banyak lagi”

Bergetar hati Yu Siau-lam setelah mendengar akibatnya, tapi ia bertanya juga dengan nada tercengang, “Lantas apakah engkau mempunyai pendapat lain?”

“Malam kemarin dulu, paman Ngo ku pernah kisikan kepadaku bahwa disekitar kota Kim-leng telah dijumpai sekelompok manusia dari suku-suku asing….”

“Apakah kelompok manusia suku-suku asing yang dilihat oleh paman Ngo mu juga berasal dari satu aliran dengan Hong Seng?” tanya Yu Siau-lam dengan hati tercekat.

“Tak usah kita persoalkan apakah mereka berasal dari satu rombongan atau tidak kenyataan telah berpapar dihadapan kita dan bukti menunjukkan bahwa Hong Seng sekalian masih mencari jejakku dimana-mana dengan ketat. Namun mereka tak berani secara terang-terangan, hal ini berarti pula bahwa kaucu dari Mo-kauw masih menaruh rasa segan dan takut terhadap ayahku. Karena mereka masih mempunyai perasaan segan dan takut maka dapatlah kita ketahui bahwa kedatangan Hong Seng sekalian ke daratan Tionggoan adalah bermaksud menyelidik dan menjajaki kemampuan kita. Jelas yang mereka utus bukan hanya kelompok dari Hong Seng belaka. Jika kita langsung membabat Hoag Seng sekalian tanpa melakukan penyelidikan lebih dulu terhadap keadaan sebenarnya, bukankah tindakan tersebut sama artinya dengan memukul rumput mengejutkan ular?”

Yu siau lam tidak langsung menjawab, ia berpikir sebentar, kemudian baru menjawab, “Baiklah! Kalau begitu kita putuskan untuk berkunjung secara sembunyi-sembunyi” “Bagaimana yang dimaksudkan berkunjung secara sembunyi-sembunyi?” tanya In-liong.

“Kita datang lebih pagian ke bukit Yan-san dan menunggu disana sebelum mereka datang!”

“Kenapa musti datang lebih pagian?”

“Aku rasa si sastrawan she Siau itu adalah seorang manusia licik yang banyak tipu muslihatnya. Sejak terjadinya kebakaran besar di kuil Cing siu-koan dan terbunuhnya dua puluh tujuh orang imam, aku selalu merasa kuatir. Aku takut gerak-gerik dari nona Wan telah membangkitkan rasa curiga dalam hati kecilnya. Pokoknya lebih baik kau datang ke bukit Yan-san selangkah lebih dulu, sedangkan kami akan bersiap siaga disekitar sana. Apabila Siau Khi-gi sudah menaruh curiga terhadap nona Wan, dia pasti sudah mengatur segala persiapan untuk menghadapi dirimu. Selain mengamati terus keadaanmu untuk menjaga segala kemungkinan yang tidak diinginkan, dia pasti sudah mengatur pula bala bantuan bilamana keadaan benar-benar memerlukan”

“Baik! Kita tetapkan demikian saja” Seru Coa Cong-gi serentak, “Andaikata bangsat muda she-Siau itu berani menyiapkan segala rencana dan siasat busuk, kita ganyang saja sampai habis!”

“Tidak, hal ini tak bisa dilakukan!” tukas Hoa In-liong tiba- tiba dengan tegas.

Mendengar jawaban tersebut, Coa Cong-gi tertegun. “Kenapa?” Tanyanya, “Seandainya cara ini meleset, engkau juga tak akan menyetujuinya?” “Seandainya kita hendak mengganyang mereka, apa bedanya kalau kita langsung pergi mencari Hong Seng?”

“Lalu…. kau bersiap sedia hendak berbuat apa?” Coa Cong- gi agak tergagap oleh jawaban itu.

”Lebih baik biarkanlah aku pergi seorang diri!”

Begitu mendengar bahwa dia akan memenuhi undangan seorang diri, Coa Cong-gi segera berteriak, “Waaah. Tidak boleh, tidak boleh. Tidak boleh. Kalau kau hendak pergi sendirian, andaikata sampai….”

Hoa In-liong tersenyum, seraya tukasnya, “Aku harap engkau bersedia mendengarkan penjelasanku lebih dahulu! Tujuan kepergianku memenuhi undangan adalah menjumpai nona Wan serta ingin kuketahui sebetulnya nona Wan ingin menyampaikan rahasia apa kepadaku. Pertemuan semacam ini tak mungkin bisa mengakibatkan terjadinya bentrokan kekerasan. Malahan kalau terlalu banyak orang yang pergi jejak kita gampang ketahuan. Daripada konangan musuh, kau lebih baik kupenuhi sendiri undangan dari nona Wan secara diam-diam?”

“Tidak! Tidak bisa! Sekali aku bilang tidak bisa tetap tidak bisa!”seru Coa Cong-gi tetap ngotot, “Seandainya hal itu adalah suatu jebakan, seandainya sampai terjadi bentrokan kekerasan, apa yang hendak kau lakukan waktu itu?”

“Seandainya sampai terjadi bentrokan, jika aku hanya seorang diri maka untuk meloloskan diri jauh lebuh gampang daripada orang banyak. Mengenai suatu perangkap, aku rasa nona Wan bukan sekomplotan dengan mereka. Jadi hal ini tak mungkin bisa terjadi. Harap saudara Cong-gi bersedia melegakan hatimu….” Coa Cong-gi kontan mendelik besar.

“Apanya yang kulegakan? Perempuan adalah racun dunia. Apalagi hati kaum wanita paling sukar diukur dalamnya. Siapa tahu kalau ia bakal menghianati dirimu?”

Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulangkali.

Sebetulnya ia ingin memberi penjelasan lagi.

Tapi Li Poh-seng sudah menyela dari samping, “Urusan itu lebih baik lain kali dibicarakan lagi! Didepan sana adalah kota keresidenan Teng-wan. Mari kita mencari penginapan lebih dulu. Sehabis beristirahat, perundingan baru dilangsungkan kembali!”

Mendengar perkataan itu, semua orang lantas menengadah dan memandang ke depan. Betul juga, kurang lebih delapan- sembilan li lagi terpaparlah sebuah tembok kota yang tinggi besar.

Rupanya sambil berjalan sambil berbicara, tanpa terasa mereka sudah melakukan perjalanan sejauh empat-lima puluh li.

Tiba-tiba sesosok bayangan tubuh yang cukup dikenal melintas dihadapan mata mereka semua. Ini membuat semua orang sama-sama dibuat tercengang dan melongo.

Orang itu adalah seorang laki-laki kekar berbaju hijau, ia berbaring diatas punggung kuda yang sedang berlari kencang menuju kearah rombongan itu berada.

Selang sesaat kemudian, orang itu sudah semakin dekat, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam berteriak kaget, “Yu Bok kah disitu?” Baru saja seruan itu berkumandang, Coa Gong-gi sudah menyusup kedepan menyongsong kedatangan kuda itu, bentaknya, “Cepat berhenti! Yu Bok, kenapa kau….”

Kuda itu lari sangat cepat. Hanya sekejap mata sudah berada didepan mata. Dalam keadaan begini Coa Cong-gi tak sempat membentak lagi, lengannya segera diayun kemuka mencengkaram tali les kuda tersebut.

Diiringi suara ringkikan panjang, kuda itu berdiri dengan kaki depannya terangkat keatas. Sentakan ini menyebabkan Yu Bok yang berada diatas pelana terlempar ketanah.

Untung Li Poh-seng cukup cekatan, tepat pada waktunya ia menerkam kedepan dan menyambut tubuh Yu Bok yang terlempar itu.

Semua orang segera merubung kedepan, tampaklah Yu Boh berada dalan keadaan payah. Sepasang matanya terpejam rapat-rapat, giginya saling beradu gemerutukan, pucat pias wajahnya. Peluh membasahi sekujur badannya. Jelas ia melakukan perjalanan dengan membawa luka.

Keadaannya ketika itu sangat kritis atau dengan perkataan lain keselamatan jiwanya lebih banyak buruknya daripada baiknya.

Yu Bok adalah pelayan dari keluarga Kanglam Ji-gi (Tabib sosial dari Kanglam). Kenyataannya sekarang, dengan membawa luka yang parah dan tidak mendapat perawatan yang baik pelayan itu membedal kudanya kencang-kencang melalui jalan raya. Tanpa dijelaskan semua orang sudah dapat membaca garis besar peristiwa yang telah terjadi.

Diantara sekian banyak orang. Yu Siau-lam paling kaget bercampur panik, dicekalnya lengan Yu Boh sambil diguncang- guncangkan berulang kali. “Yu Boh! Yu Boh! Sadarlah sebentar, sadarlah sebentar! Apa yang telah terjadi?”

Mendapat guncangan tersebut, dengan merasa kesakitan yang luar biasa Yu Boh membuka kembali matanya.

Melihat pelayannya sudah sadar, Yu Siau-lam segera menegur lagi dengan cemas, “Apa yang telah terjadi? Yu Boh, kau masih kenali aku. Yu Boh! Jawablah pertanyaanku!”

Dengan lemas Yu Boh mengangguk, bisiknya terbata-bata, “Kong…. Kongcu….cepat….”

Tapi sebelum maksud hatinya diutarakan keluar, pelayan itu kembali terkulai dengan mata terpejam, jatuh tak sadarkan diri.

Yu Siau-lam semakin gelisah, dia hendak menggoncang- goncangkan kembali Yu Boh yang pingsan, tapi Hoa In-liong bertindak cepat. Ia pegang lengan pemuda itu dan berkata, “Saudara Siau-lam, tenangkan dulu hatimu! Luka dalam yang diderita palayanmu ini teramat parah. Sedikit goncangan yang keras akan menyebabkan jiwanya melayang”

Kemudian sambil berpaling ke arah Li Poh-seng katanya lagi, “Cepat baringkan Yu Boh ke atas tanah. Akan siaute periksa keadaan luka yang dideritanya”

Li poh seng tidak membantah, dia lantas membaringkan Yu Boh ke atas tanah. Hoa In-liong pun bungkukkan badan memeriksa denyutan nadinya, sementara tangan yang laiu dengan cepat membuka pakaian dada dari pelayan tersebut.

Setelah pakaian terbuka, belasan pasang matapun dengan sinar mata berkilat memandang ke arah dada Yu Boh. Apa yang terlibat? Sebuah bekas telapak tangan yang berwarna merah darah tertera nyata didada sebelah kiri Yu Boh.

Bekas telapak tangan itu menonjol tiga bagian dari permukaan dada, merah darah dan sembab mengerikan. Jelas pukulan itu dilancarkan seseorang dengan menggunakan punggung telapak tangan yang kuat.

Diam-diam Hoa In-liong terkejut setelah menyaksikan bekas luka itu. Ia lantas berpikir, “Melukai orang dengan punggung telapak tangan, ini menunjukkan bahwa serangan dilancarkan dengan suatu ayunan yang kencang. Aaaai….

Luka Yu Boh tepat di dada kiri, jantungnya sudah tergetar putus. Dari sini dapat ku ketahui betapa dahsyat dan kuatnya serangan tarsebut. Mungkinkah bencana besar sudah menjelang tiba? Bagaimanapun juga aku harus berusaha dengan segala kemampuan untuk mencegah peristiwa ini terjadi….”

Ternyata pemuda ini sudah mengetahui dari pemeriksaan denyut nadinya bahwa jantung Yu Boh sudah pecah.

Kendatipun ada obat dewapun nyawa pelayan tersebut tak bisa ditolong lagi.

Sekalipun demikian, hal ini tidak diungkapkan diatas wajahnya. Sembari diam-diam menyalurkan hawa murninya untuk membantu pernapasan Yu Boh yang sudah sekarat diapun perhatikan bekas telapak tangan itu dengan seksama. Ia berharap dari bekas telapak tangan yang berwarna merah membara itu dapat menemukan titik terang, sehingga dalam usahanya melacak jejak pembunuh itupun tidak mengalami banyak kesulitan. Selang sesaat kemudian, Coa Cong-gi yang pertama-tama tak sabar, ia lantas menegur dengan suara lirih, “Saudara Hoa, keadaan Yu Boh tidak menguatirkan bukan?”

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali sambil berpaling ke arah arah Yu Siau-lam ia berkata, “Saudara Siau lam, selembar nyawa Yu boh mungkin tak dapat diselamatkan lagi!”

Dalam beberapa waktu ini, perasaan Yu Siau lam paling tegang. Ia sudah mendapat firasat bahwa dalam keluarganya telah tertimpa musibah besar, maka sedapat mungkin ia kendalikan perasaannya yang bergolak dengan berdiri membungkan diri.

Ia berbuat demikian karena Hoa In-liong sendiripun bersikap tenang. Dalam sangkaannya, bila anak muda itupun tenang, pastilah keadaan pelayannya tidak berbahaya.

Siapa tahu Hoa In-liong menyusulkan kata-kata tersebut, mendadak sontak ia jadi tertegun.

Hanya sebentar ia mematung, selanjutnya dengan suara memohon teriaknya berulang kali, “Saudara Hoa, aku mohon tolonglah jiwanya! Saudara Hoa, tolonglah jiwanya sedapat mungkin!”

Pelan-pelan Hoa In-liong menggeleng. “Bila tak ada Leng-ci mustika, jiwanya tak mungkin bisa diselamatkan lagi!”

Yu Siau-lam jadi kelabakan bercampur gugup. “Kaaa…. kalau memang begitu, berusahalah sadarkan dirinya sejenak. Aku ingin bertanya kepadanya!”

“Baiklah!” Ucap Hoa In-liong, “Siau-te akan berusaha sekuat tenaga untuk menyadarkannya, cuma….” Ia berhenti sejenak, wajahnya berubah amat serius. “Saudara Siau-lam” Katanya selanjutnya, “Bila dirumahmu telah terjadi bencana, aku harap engkau dapat menguasai diri!”

Perasaan Yu Siau-lam waktu itu sangat kalut. Apa yang diharapkan sekarang adalah menyadarkan Yu Bok dari pingsannya, maka setelah mendengar perkataan itu, diapun menggangguk. “Siau-te mengerti!”

Hoa In-liong masih kuatir meski rekannya telah mengangguk, ia memberi tanda kepada Li Poh Seng dan Coa Cong-gi untuk berjaga-jaga didamping Yu Siau-lam. Sesudah itu baru mengulurkan hawa murninya kedalam tubuh Yu Boh.

Terdesak oleh hawa murni yang mengalir kedalam tubuhnya dengan deras, Yu Boh menghembuskan nafas panjang dan sadar kembali diri pingsannya….

Begitu Yu Boh sadar, cepat Yu Siau-lam berjongkok disampingnya sambil bertanya dengan lembut, “Yu Boh….Yu Boh….! Bagaimanakah rasamu sekarang? Apakah masih dapat bertahan?”

Dengan lemah Yu Boh menggerakkan biji matanya mengawasi Yu Siau-lam, lama…. Lama sekali, ia baru berbisik, “Koo…. Koongcu…. cee…. ceepat….puu….pulang….”

Yu Siau-lam makin tercekat. “Apa yang telah terjadi? Bagaimana dengan Lo-ya dan Hujin? Tidak apa-apa toh?”

Dengan nada yang semakin lemah Yu Boh berbisik kembali. “Kee…. kemarin malam…. telah datang see…. serombongan manusia yaa…. yang tak jelas asal usulnya…. mee…. mereka….meee….melepaskan api. da…. dan….membakar ruu….rumah kita….”

Tibi tiba nafasnya memburu, kata-katanya terputus setengah jalan, sebelum ucapan itu serapat dilanjutkan kembali. Tubuhnya telah mengejang keras, kakinya tiba-tiba menjejak ketanah dan….

Yu Siau-lam makin gelisah, sekuat tenaga ia menggoncang- goncangkan bahunya sambil berteriak, “Bagaimana dangan loya? Bagaimana dengan loya dan hujin?”

Waktu itu Yu Boh sulih hampir putus nyawa tapi terkena goncangan yang begitu keras, tiba-tiba seperti mendapat tambahan tenaga yang entah datang dari mana, matanya membelalak kembali.

Kulit mukanya mengejang sangat keras, bibirnya gemetar, suaranya yang sempat meletup keluar kedengaran sangat rilih, “Loo….looya…. dii…. dii”

Ucapan itu tak dilanjutkan untuk selamanya. Sebagai seorang manusia yang sudah, sekarat, ibaratnya lentera yang kehabisan minyak. Meski cahaya lampu itu mencorong terang tapi hanya sebentar saja sebelum padam untuk selamanya.

Demikian pula dengan Yu Boh. Karena, guncangan yang diterimanya, ia seolah-olah mendapat kekuatan. Tapi itupun hanya berlangsung sedetik. Sebelum kata-kata itu sempat diselesaikan, malaikat elmaut telah menjemput nyawanya. Ia mengejang makin keras, kali ini kakinya betul-betul menjejak tanah, kepalanya terkulai dan Yu Boh menghembuskan nafas yang penghabiskan.

Bagaimana dengan Yu Siang-tek suami istri? Apa yang telah terjadi? Yu Boh tidak berhasil menyelesakan tugasnya untuk menyampaikan berita itu kepada majikan mudanya rahasia tersebut dibawanya sampai keliang kubur.

Tak terkirakan rasa sedih Yu Siau-lam menghadapi kejadian itu. Tak kuasa lagi ia memeluk jenazah Yu Boh sambil mengucurkan air matanya dengan deras, “Yu Boh….Ooh Yu Boh…. Bangunlah kau. Kau tak boleh pergi! Kau tak boleh pergi!”

Hoa In-liong kuatir rekannya terlampau sedih hingga mengakibatkan kesehatan badannya terganggu, cepat ia bopong jenazah Yu Boh seraya berkata, “Saudara Siau-lam, simpanlah kesedihanmu itu. Sampai sekarang keadaan dari Pek-bu dan Pek-bo masih belum jelas. Hal paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah kembali ke kota Kim-leng secepatnya. Kita periksa sendiri apa gerangan yang telah terjadi disitu!”

Li Poh-seng dan Coa Cong-gi yang sedang memayang Siau- lam, segera menanggapi pula, “Betul! Saudara Siau-lam tak boleh bersedih hati sehingga mengacaukan pikiranmu.

Ketahuilah pikiran yang kalut tidak akan memberi manfaat apa-apa terhadap persoalan yang sedang kita hadapi.

Perkataan dari saudara In-liong memang benar. Tindakan paling penting yang harus kita lakukan sekarang adalah kembali dulu ke kota Kim-leng. Kemudian dari situ kita baru menyusun rencana kembali”.

Air mata bercucuran bagaikan bendungan yang ambrol, Yu Siau-lam membungkam dalam seribu bahasa, namun kesedihan yang menghiasi wajahnya teramat jelas.

Be Si-kiat maju menghampiri, katanya tiba-tiba, “Hoa kongcu, serahkan jenazah Yu Boh kepadaku, biar aku saja yang bopong!” Hoa In-liong berpikir sebentar, akhirnya dia serahkan jenazah itu kepada Be Si-kiat sambil berkata, “Begitupun boleh juga! Nah, lebih baik kalian berangkat lebih duluan. Belikan sebuah peti mati yang baik dikota Teng-wan, kemudian kebumikan jenazahnya dengan baik-baik. Kamu sekalian tak perlu menunggu lebih lama lagi”

“Baiklah!”sahut Be Si-kiat, setelah menyambut jenazah itu diapun putar badan siap berlalu.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Yu Siau-lam membentak dengan suara dalam, “Aku hendak melihat dulu bekas luka di dadanya!”

“Tidak usah!” tolak Hoa In-liong cepat, “Bekas luka itu sudah kuamati dengan jelas dan masih teringat dalam benakku. Biarkanlah mereka yang telah mati cepat masuk tanah. Mereka harus berangkat lebih duluan dari kita”

Dalam beberapa saat belakangan ini, apa yang dipikirkan Yu Siau-lam hanyalah soal keselamatan ayah ibunya. Dia selalu menganggap orang tuanya telah mendapat bencana, maka maksudnya dia hendak mencari jejak pembunuh keji itu dari bekas luka di dada Yu Boh. 

Siapa tahu Hoa In-liong lebih cerdik dan cekatan, ia sudah memperhatikan lebih dulu sampai ke situ.

Setelah tertegun sejenak, Yu Siau-lam bertanya lagi sambil palingkan wajahnya, “Adakah sesuatu yang istimewa dengan bekas luka itu?”

“Bekas luka itu terkena oleh pukulan pungung telapak tangan. Disekitar bekas ibu jari tampak dua bulatan merah yang menonjol besar” “Aku juga perhatikan sampai kesitu” Sambung Poh-seng, “Tonjolan merah itu sama besarnya antara yang satu dengan yang lain. Entah terluka oleh benda apa?”

“Aku telah berpikir cermat sampai kesitu” Ujar Hoa In-liong lebih lanjut, “Tonjolan yang agak kecil berada didepan, sedangkan tonjolan yang besar berada dekat dengan bekas luka disekitar ibu jari”

“Bekas luka itu jadi lebih banyak sebuah? Maksudmu pukulan itu dilancarkan oleh enam buah jari tangan?” Yu Siau- lam bertanya keheranan, air mata yang membasahi wajahnya cepat diseka.

Hoa In-liong mengangguk. “Aku rasa begitulah. Cuma tidak kuketahui itu bekas pukulan telapak tangan kanan atau bekas pukulan telapak tangan kiri”

“Perduli amat bekas pukulan telapak tangan kanan atau kiri, yang paling penting sekarang adalah kembali dulu ke kota Kim-leng” Tukas Coa Cong-gi tiba-tiba dengan lantang.

Hoa In-liong menengadah ke depan, ketika dilihatnya Be Si- kiat sekalian sudah pergi jauh, dia pun mengangguk. “Betul juga perkataan itu. Sampai sekarang keadaan dari empek dan pek-bo masih belum jelas. Apa gunanya kita bicarakan dulu soal bekas luka itu, ayoh kita segera berangkat!”

“Kau tak usah ikut!” tiba-tiba Yu Siau-lam menyela. “Apa kau bilang? Aku tak usah ikut?” Hoa In-liong

tercengang sampai berdiri tertegun.

“Ehmmm, yaa!” Jawab Yu Siau-lam dengan tenang. “Kau harus pergi ke bukit Yan san untuk memenuhi janji. Bila harus ke kota Kim-leng dulu kemudian baru menuju bukit Yan-san, aku kuatir kalau waktunya tidak sempat lagi”

Dalam detik-detik yang terakhir ini, hampir seluruh pikiran dan perhatian Hoa In-liong dilimpahkan atas peristiwa yang sedang berlangsung di depan mata, hampir saja ia lupakan sama sekali bila di bukit Yan-san dia masih punya janji.

Maka begitu diingatkan kembali oleh Yu Siau-lam, kontan saja pemuda itu merasa serba salah karena tak tahu apa yang harus dilakukan. Matanya jadi terbelalak, mulutnya melongo dan untuk sementara waktu dia cuma berdiri termangu-mangu seperti orang bodoh.

Melihat anak muda itu tertegun, cepat Yu Siau-lam berkata kembali dengan lembut, “Dengarkan dulu perkataanku. Meski dirumahku telah terjadi peristiwa besar, toh musibah itu sudah terlanjur terjadi. Sekalipun kita menyusul ke sana juga tak mungkin bisa mencegah berlangsungnya peristiwa tersebut, paling banter kita hanya bisa berusaha melacaki jejak pembunuh keji itu. Lain halnya dengan keadaaan nona Wan. Setiap hari ia berada diseputar orang jahat, posisinya berbahaya dan lagi dia pun ada rahasia besar yang heudak disampaikan kepadamu. Jika kau sampai datang terlambat, siapa tahu kalau jiwanya keburu melayang? pergilah memenuhi janji, kami akan nantikan kedatanganmu di kota Kim-leng!”

Sewaktu mengucapkan kata- kata tersebut, sikapnya sangat tenang dan kalem. Sedikitpun tidak memenunjukan luapan emosi atau golakan perasaan hatinya.

Padahal sebagaimana diketahui, sampai detik itu ia masih belum tahu musibah apakah yang telah menimpa keluarganya. Diapun tak tahu bagaimanakah nasib ayah ibunya ketika itu.

Maka bila berbicara dari sikap tenangnya sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, dapat diketahui bahwa rasa perhatiannya terhadap Hoa In-liong sudah mencapai tingkatan yang amat akrab.

Coa Cong-gi segera menanggapi pula ucapan tersebut. “Betul perkataan dari saudara Siau-lam memang masuk diakal. Lebih baik kita memisahkan diri untuk melaksanakan tugas masing-masing. Saudara Poh-seng boleh temani saudara Siau- lam pulang ke Kim-leng. Sedang aku biarlah temani saudara Hoa menuju bukit Yan-san.

“Waah…. Tidak bisa, tidak bisa. Kalian tak usah ikut aku. Lebih baik semuanya pulang ke Kim-leng lebih dulu!” Tukas Hoa In-liong dengan cemas….

Kontan Coa Cong-gi mendelik besar. Tapi sebelum pemuda itu sempat menyembur kata-katanya, Hoa In-liong telah malanjutkan kembali kata-katanya, “Saudara Cong-gi, keadaan dikota Kim-leng dewasa ini masih belum jelas. Jumlah kekuatan kitapun sangat minim, tidak sepantasnya kalau engkau mengurangi kembali kekuatan yang sudah minim itu untuk menemani aku kebukit Yan-san. Coba kalau keedaan tidak mendesak, mungkin akupun akan berangkat ke kota

Kim-leng untuk membantu saudara Siau-lam lebih dulu!”

Setelah alasan tersebut diutarakan keluar, Coa Cong-gi tidak mampu berkata-kata lagi. Meski bibirnya bergetar hendak mengucapkan sesuatu, namun tak sepotong perkataanpun yang sempat diutarakan keluar.

Sesungguhnya perkataan itu memang tepat sekali. Kedua belah pihak sama-sama adalah sahabat karib, mana boleh ia pilih kasih dengan condong kesatu pihak? Kata-kata tersebut boleh dibilang tepat mengena disasarannya dalam hati Cong- gi. Li Poh-seng berbicara pula, “Apa yang dikatakan saudara In-liong masuk diakal. Keadaan kota Kim-leng masih kabur dan belum jelas. Keadaan tersebut butuh tenaga yang lebih banyak untuk menyelidikinya. Adik Cong-gi ayoh kita segera berangkat!”

Coa Cong-gi masih rada sangsi, tapi akhirnya diapun mengangguk. “Baiklah! Akan kunantikan kedatanganmu di kota Kim-leng. Jika di bukit Yan san tak ada kejadian lain, cepat cepatlah menyusul kami!”

“Siau-te akan mengingatnya baik-baik!” jawab Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.

Maka mereka berempatpun saling memberi hormat, kemudian buru-buru melanjutkan perjalanannya masing- masing.

Memandang hingga bayangan punggung Yu Siau lam sekalian lenyap dari pandangan, Hoa In-liong merasa sangat terharu.

“Yu Siau lam adalah pemuda yang tenang dan pandai membawa diri” Ia berpikir, “Li poh-seng lembut tapi tangguh, sedang Coa Cong-gi, walaupun seringkali mengambil tindakan tanpa berpikir panjang, toh dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa besar dan mengutamakan kesetiaan kawan. Aku bisa berkenalan dengan sobat sobat sepeti ini, boleh di bilang perjalananku ke kanglam kali ini bukan suatu perjalanan yang sia-sia belaka. Tapi, siapakah yang melepaskan api membakar Pesanggrahan tabib? Siapa pula yang melukai Yu Boh? Yu locianpwe termashur sebagai dermawan yang paling besar dari kota Kim-leng, siapakah yang bagitu tega mencari gara- gara terhadapnya? Jangan-jangan…. Jangan-jangan peristiwa ini terjadi karena mereka memang sengaja hendak menyulitkan kedudukan aku si Hoa loji?” Dia bukan seorang pemuda yang pemurung, lebih-lebih tidak berambisi besar atau mengidap penyakit ragu-ragu serta sukar mengambil keputusan. walaupun ia sudah merasa bahwa kejadian itu tak mungkin terjadi tanpa sebab-sebab tertentu, bahkan mungkin ada sangkut pautnya dengan dia, namun itu hanya terbatas pada perasaan belaka, untuk selanjutnya perasaan semacam itu tidak dipikirkan lebih mendalam.

Karena itu, setelah termenung sejenak lagi, kembali dia bergumam seorang diri, “Aaaah…. Perduli amat! Biarlah urusan satu demi satu datang menimpa, pokoknya asal Yu- locianpwe suami isteri sampai cedera atau mendapat celaka, aku Hoa loji bersumpah akan mengobrak-abrik bajingan- bajingan itu sampai musnah dari muka bumi!”

Ditengah gumaman tersebut, pemuda itu putar badan dan berangkat menuju bukit Yan-san dengan mengitari kota Teng- wan.

Setelah keluar dari pintu kota selatan, pemuda itu mengambil arah jalan menuju kota Kim-leng, kemudian berbelok pula menuju ke tenggara.

Dikota Teng wan itulah Hoa In-liong menginap semalam untuk melepaskan lelahnya, untuk kemudian keesokan harinya sebelum fajar menyingsing ia sudah melanjutkan kembali perjalanannya.

Bukit Yan-san itu ada dua tempat. Yang satu terletak propinsi Ou-pak keresidenan Siang-yang, dekat bukit Long- tiong.

Oleh karena bukit Long-tiong-san adalah tempat tinggal dari Cu-kat Khong Beng pada jaman Sam-kok, maka meski kecil bukitnya, besar sekali namanya dalam pendengaran orang.

Sedang bukit Yan-san yang dituju Hoa In-liong kali ini letaknya di propinsi An-hui diseputar pegunungan Pak-shia- san. Tempat itu berada di selatan Cuan-siok, sebelah barat kota Wu-kang-tin. Meski bukitnya kecil tapi keadaan medannya berbahaya dan curam. Batu karang yang tajam dan licin berserakan dimana-mana. Demikian sulitnya bukit itu didaki, sehingga membuat orang yang berkunjung kesitu terpaksa harus balik ke bawah setibanya dipunggung bukit.

Hoa In-liong bergerak ke arah selatan. Sepanjang jalan ia tak lupa menyelidiki jejak dari Hong Seng sekalian, maka karena itu perjalanan dilakukan tidak terlalu cepat. Ketika tengah hari ketiga menjelang tiba, ia baru sampai di kota Ci- tin di utara bukit Yan-san.

Waktu itu dengan perasaan tercengang bercampur heran ia berpikir tiada hentinya, “Aneh…. betul-betul sangat aneh, Hong Seng sekalian adalah manusia-manusia suku asing yang berwajah jelek. Dengan dandanan yang aneh, apa lagi membawa seorang gadis rupawan, semestinya

rombongan mereka sangat menarik perhatian orang banyak. Kenapa sepanjang perjalananku kemari, tak seorangpun yang mengatakan pernah berjumpa dengan mereka….? Masa mereka bisa terbang di langit atau berjalan di bawah tanah….? Heran!…. benar-benar mengherankan!”

Makin dipikir pemuda itu semakin curiga, tanpa terasa tibalah pemuda itu diujung jalan dimana terdapat sebuah warung teh yang memakai merek Cwan-seng-lo. Satu ingatan tiba-tiba melintas dalam benaknya. Pemuda itu segera percepat langkahnya masuk ke warung teh itu Cwan-seng-lo merupakan sebuah rumah makan yang cukup termashur dikota Ci-tin usahanya sangat maju, langganannya banyak. Meskipun saat bersantap sudah lewat, ternyata tamu yang bersantapan disitu masih amat banyak.

Dengan dandanan Hoa In-liong yang berpakaian ketat, menyoren pedang tik dipinggang, mengenakan mantel dipunggung serta berperawakan tinggi besar, kemunculannya dirumah makan itu segera menarik perhatian orang banyak.

Dengan senyum dikulum ia memilih sebuah tempat dekat meja. Seorang pelayan muncul dengan badan terbungkuk- bungkuk. “Kongcu maafkanlah pelayanan kami yang lamban” Katanya minta maaf, “Maklum, jumlah pelayan di tempat kami terlalu sedikit untuk melayani tamu yang begitu banyak”.

Hoa In-liong tersenyum, “Tak perlu sungkan-sungkan, sediakan saja sayur dan arak. Sediakan pula sepeci air teh, nanti aku hendak menanyai pula dirimu tentang beberapa persoalan”.

Pelayan itu mengiakan berulang kali, dengan badan terbungkuk-bungkuk ia pun berlalu dari situ.

Sebentar saja suara berbisik-bisik bergema dari sana sini, “Woouw…. Sauya dari manakah itu? Tampan amat!”

“Ehmm…. Gagah pula potongannya dia pasti keturunan hartawan yang kaya raya!”

“Coba lihat wibawanya yang besar, wajahnya yang tampan dan tubuhnya yang kekar, mungkin dia adalah seorang pendekar muda!”

Maklum, Ci-tin hanya sebuah kota kecil. Belum pernah tempat itu dikunjungi seorang pemuda tampan yang gagah perkasa macam Hoa In-liong. Tak heran kalau mereka lantas berbisik-bisik memuji kegagahan pemuda itu.

Selang sesaat kemudian, pelayan muncul menghidangkan sayur dan arak, lalu menghidangkan pula sepoci air teh.

Setelah memenuhi cawan Hoa In-liong dengan air teh, pelayan itu berkata, “Kongcu tentu lelah dijalan selahkan minum!”

Hoa-In liong mengambil cawan dan menghirup setegukan. Ketika dilihatnya pelayan itu tidak bermaksud mengundurkan diri dari situ, tahulah dia bahwa pelayan itu sedang menantikan pertanyaannya.

“Tolong tanya berapa banyak rumah penginapan yang berada dalam kota ini?”

Sambil tersenyum yang dipaksakan, jawab pelayan itu, “Harap kongcu maklum, kota ini hanya berpenduduk enam- tujuh ratus orang. Lagi pula merupakan dusun yang miskin, jarang dilewati orang luar

daerah. Tentu saja tak ada penginapan disini. Cuma. Hee…. hee…. Bila kongcu ingin menginap, hamba dapat usahakan tempat beristirahat bagi dirimu”

“Ramah amat pelayan ini” batin Hoa In-liong berpikir demikian, ia bertanya lebih jauh, “Tak usah repot-repot, aku ingin mencari kabar pula tentang beberapa orang”

“Siapa yang hendak kongcu cari?” tanya pelayan itu setelah tertegun sejenak.

“Seorang gadis, seorang sastrawan muda serta dua orang laki-laki setengah baya berjubah kuning” “Orang asing?” Tanya pelayan itu lagi sambil mengerdipkan matanya yang sipit.

Hoa In-liong mengangguk. “Ehmm! Dua orang laki-laki setengah baya yang berjubah kuning itu datang dari Seng-sut- hay, bukan bangsa Han. Sebaliknya gadis dan sastrawan itu orang Tionggoan”

Dergan kening berkerut pelayan itu berpikir sebentar, kemudian ia gelengkan kepalanya. “Tidak ada, tidak ada manusia macam itu disini! Setiap orang yang datang luar daerah kecuali punya sanak keluarga disini, kebanyakan mereka menginap di rumah kami. Sekalipun tidak menginap disini, hamba percaya mereka tak akan lolos dari pengamatanku”

Tiba-tiba ia tertawa cekikikan, lanjutnya lebih jauh, “Terus terang kukatakan kongcu, bahwa hamba sebenarnya bernama Go Beci. Tapi ia lantaran semua urusan kuketahui maka orang menyebut diri hamba sebagai “Bu-put-ci (tak ada yang tak tahu). Hee…. hee…. hee…. hal ini lantaran….”

Tanpa terasa Hoa In- liong tersenyum, cepat tukasnya, “Cukup…. cukup…. Tolong tanya saja disekitar sini apakah ada kuil atau sebangsa too koan?”

“Oooh…. tidak ada, tidak ada” Pelayan itu gelengkan kepalanya berulang kali, “Disekitar dua puluh li dari dusun ini hanya ada sebuah kuil dewa tanah di sebelah barat kota!”

Menyaksikan sikapnya yang serius dan bersungguh- sungguh itu, Hoa In-liong kembali merasa geli, ia tertawa tergelak. “Bagaimana dengan bukit Yan-san? Apakah di situ juga tidak ada kuil atau too koan?” tanyanya kemudian selesai tertawa. “Bukit Yan-san?” Mula mula pelayan itu tertegun, untuk selanjutnya dia manggut-manggut, “Kalau di bukit Yan-san memang terdapat sebuah too-koan dan too-koan itu berada dekat dengan puncak bukit tersebut, besar sekali bangunannya!”

Diam-diam Hoa In-liong merasa gembira setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Yaa betul, mereka pasti menuju ke sana dengan mengitari tempat ini. Kalau begitu mereka pasti bercokol di dalam too-koan tersebut untuk beristirahat….”

Tapi sebelum ingatan itu selesai berkelebat dalam benaknya, terdengar pelayan itu sudah melanjutkan kembali kata katanya, “Cuma too-koan itu sudah roboh banyak tahun. Banyak diantara bangunan tadi sudah menjadi puing-puing yang berserakan. Konon dahulunya tempat itu adalah sebuah markas dari perkumpulan Thong Thian-kau. Kongcu tahu?

Thong Thian-kau adalah sebuah perkumpulan yang amat jahat dan ganas. Disana sini mereka melakukan banyak kejahatan dan kebiadaban. Kemudian dari dunia persilatan telah muncul seorang pendekar besar yang bernama Thian-cu-kiam Hoa thayhiap….”

Setelah tujuannya tercapai, Hoa In-liong tidak berminat untuk mendengarkan cerita dari pelayan itu lagi, cepat dia ulapkan tangannya sambil menukas, “Cukup….

Cukup….sekarang kau boleh berlalu. Atas jerih payahmu ini, akan kuperhitungkan nanti saja!”

Padahal ketika itu sang pelayan sedang berceritera dengan penuh semangat. Selaan dari Hoa In-liong tersebut ibaratnya sebaskom air dingin yang diguyurkan diatas kepalanya.

Seketika itu juga ia berdiri bodoh dengan wajah termangu, untuk sesaat dia tak tahu apa yang musti dilakukan. “Sudah cukupkah?” Tiba-tiba serentetan suara merdu menyambung dari samping, “Nah kalau sudah cukup, sekarang tiba giliran untuk melayani kami”.

Suara itu lembut, merdu dan enak didengar bagaikan bunyi genta. Dengan perasaan terkejut Hoa In-liong berpaling kesamping.

Disudut kiri dekat dinding ruangan, duduklah seorang pemuda sastrawan berbaju putih, disampingnya duduk pula seorang kacung yang berusia empat lima belas tahunan.

Waktu itu dengan senyuman di kulum mereka sedang memandang ke arahnya.

Sastrawan itu tampan sekali, usianya antara enam tujuh belas tahunan, alis matanya bagaikan semut beriring, matanya jeli bagaikan bintang kejora. Hidungnya mancung, bibirnya merah seperti delima merekah. Giginya yang putih rata.

Pipinya yang halus putih dengan sepasang lesung pipinya menambah kebagusan paras mukanya.

Kulit tubuh sastrawan itu putih bersih. Sifat kekanak kanaknya masih tertera jelas dibawanya. Diantara sifat kekanak kanaknya terselip pula sifat binal, nakal dan cerdiknya. Ini membuat siapapun yang memandang segera timbul rasa senang dan simpantiknya. Siapapun ingin berkenalan rasanya setelah berjumpa dengan orang ini.

Tapi, perasaan Hoa In-liong ketika itu jauh berbeda.

Pertama lantaran kedatangan pemuda itu sangat mendadak, suaranya menggetarkan telinga. Kedua meski berada dalam perhatian tetamu yang begitu banyak, ternyata pemuda itu dapat bersikap tenang dan bebas, sedikitpun tak nampak rikuh atau panik. Hal ini membuktikan bahwa dia bukan manusia sembarangan…. Padahal waktu itu suasana amat kalut. Banyak kejadian berlangsung berturutan dan yang paling penting tempat itu adalah sebuah dusun miskin yang terpencil sebagai seorang pemuda yang cermat dan tidak gegabah tentu saja ia jadi kaget dan waspada setelah berjumpa dengan manusia seperti itu.

Dalam waktu singkat ia merasa suasana diloteng rumah makan itu seakan akan berubah jadi beku. Begitu sunyi sepi sehingga jarum yang terjatuh ke tanahpun dapat kedengaran dengan jelas.

Diamatinya pemuda sastrawan itu dengan cermat, tiba-tiba Hoa In-liong merasakan hatinya tergerak ia merasa orang itu makin dilihat semakin dikenal rasanya. “Aneh, kenapa raut wajah orang ini amat kukenal jumpai disuatu tempat.

Tapi….siapakah dia? Aku pernah menjumpainya dimana?” oooOOOooo

PENEMUANNYA ini seketika itu juga membuat sepasang alis matanya berkenyit. Dengan sinar mata setajam sembilu diamatinya orang itu dengan tajam, sementara otaknya berputar untuk menduga-duga siapa gerangan pemuda tersebut.

Bayangan manusia melintas didepan matanya. Sambil menggoyangkan pantatnya pelayan itu menghampiri pemuda sastrawan tersebut, lalu sambil tertawa yang dipaksakan sahutnya, “Maaf kalau terlambat…. Maaf kalau terlambat….

Apa yang sauya inginkan? Harap diucapkan.”

Pemuda itu mengerling sekejap sambil moncongkan bibirnya. “Huuh!…. Pandai amat kau memilihkan sebutan! Kau sebut dia kongcu dan sebut aku sauya. Memangnya lantaran dia menyoren pedang dan pandai bersilat, sedang aku cuma seorang sastrawan yang lemah tak punya kepandaian apa- apa, maka kau berani permainkan orang?”

Pelayan itu dibuat serba salah, menangis tak bisa tertawapun sungkan. Terpaksa sambil bungkukkan badan minta maaf katanya lagi sambil tertawa, “Kongcu suka bergurau…. Kongcu suka bergurau…. Harap engkau yang terhormat….”

Sebelum pelayan itu menyelesaikan kata-katanya, kembali pemuda itu tertawa merdu, kepada kacung bukunya ia berkata, “Anak Leng! Tahun-tahun belakangan ini memang suasananya sedikit ganas. Coba lihatlah begitu cepat ia mengikuti gelagat?”

Kacung buku itu menutupi bibirnya dengan ujung baju, lalu sambil menahan tertawanya ia berkata, “Sio…. sauya, perkataanmu memang benar. Sebutan kongcu itu memang kedengaran lebih segar!”

Hoa In-liong yang mengikuti semua pembicaraan tersebut dari samping, diam-diam tertawa geli, pikirnya, “Entah siau- sauya darimanakah ini? Tampaknya dia lebih binal dan nakal daripada aku Hoa loji. Haa…. haa…. haa…. Akan kulihat permainan busuk apa lagi yang bisa dia lakukan untuk menggoda pelayan tersebut?”

Perlu diketahui, pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang binal, nakal dan suka menggoda orang. Ketika dilihatnya pemuda tampan yang berapa dihadapannya memiliki tabiat serta sifat yang persis seperti tabiat sendiri, betapa gembira dan senangnya dia. Seketika itu juga, sifat binal dan ingin menggodanya menguasahi kembali seluruh benaknya. Otomatis perasaan waswasnya tersapu lenyap dari dalam benaknya.