Rahasia Hiolo Kumala Jilid 16

Jilid 16

DARI Seng-sut-pay yang bernama Tang Kwik-siu telah sesumbar sebelum kabur kembali ke negeri asalnya bahwa dalam sepuluh atau seratus tahun mendatang, pihak Seng- sut-pay akan mengirim jago lihaynya untuk minta kembali kitab pusaka perguruannya dan mengetahui pula kalau murid pertama dari Tang Kwik-siu bernama Hong-Liong, maka begitu mendengar Siau Khi-gi mengatakan bahwa susioknya bernama Hong Seng, teringat juga akan perkataan dari tosu setengah baya tadi yang menyinggung soal “ilmu siluman” dan “hiolo darah”. Pahamlah pemuda itu siapa gerangan musuh yang sedang dihadapi.

Siau Khi-gi sendiri rada terperanjat sehabis mendengar perkataan itu. Untuk sesaat ia termangu, tapi hanya sebentar, tiba-tiba sorot mata aneh memancar dari matanya lalu tertawa seram. “Hee…. hee…. hee…. Sekarang aku sudah paham, kau tidak she Pek tapi she Hoa, kau dilahirkan oleh Pek Kun-gi!”

Tampaknya Hong Seng adalah seorang manusia kasar yang tidak mengerti menggunakan otak. Ketika didengarnya Siau Khi-gi menyebut ‘kau she Hoa’, tanpa banyak berbicara lagi dia lantas membentak, “Khi-gi, tangkap orang itu! Tangkap orang itu!”

Hoa In-liong sendiripun diam-diam merasa terperanjat, pikirnya, “Ia dapat menebak aku she-Pek dari ibuku, kecerdikan serta daya kemampuannya untuk berpikir betul- betul bukan sembarangan orang dapat menandangi. Bila ingin menangkan pertarungan ini, agaknya aku harus bersikap lebih berhati-hati”

Sekalipun dalam hati merasa terperanjat, paras mukanya sama sekali tidak berubah. Pemuda itu merasa tak bisa memungkiri lagi setelah pihak lawan berhasil menebak jitu asal usulnya. Kalau tidak, maka tindakannya ini sama artinya seperti tak berani mengakui nenek moyang sendiri.

Sementara itu, Siau Khi-gi telah maju ke depan setelah mendengus dingin katanya, “Bagaimana? Mau menyerah kalah ataukah harus bertarung lebih dahulu sebelum takluk?”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya, lalu tertawa, “Aku tak pernah takut terhadap ilmu silat aliran Mo-kauw. Sebentar lagi aku pasti akan minta petunjuk dari saudara Siau. Tapi sebelum itu, lebih baik kita bereskan dahulu sebuah persoalan. Bila kau tidak bisa mengambil keputusan, biarlah aku bercakap-cakap secara langsung dengan gurumu”

Sekalipun perkataan itu diutarakan dengan blak blakan dan wajah yang cerah, namun dalam pendengaran Siau Khi-gi ibaratnya sebilah pisau yang menusuk ulu hatinya. Saking sakit hatinya ia sampai menggertak gigi dengan muka hijau membesi.

Hong Seng yang ada disampingnya segera menukas, “Tooyaa tidak ingin membicarakan soal apapun jua, Khi-gi Sikat saja bajingan cilik itu!”

Sejak tadi Siau Khi-gi memang berharap bisa mendapat perintah tersebut, tanpa banyak bicara lagi ia membentak keras, lalu melancarkan sebuah pukulan dahsyat kearah Hoa In-liong. Serangan tersebut dilancarkan dalam keadaan amat gusar, bisa dibayangkan betapa dahsyatnya pukulan itu. Diantara deruan angin yang mengerikan, bagaikan terbentuknya selapis tembok hawa, secara langsung menerjang kedada pemuda itu.

Hoa In-liong tak tahu serangan itu suatu serangan sungguhan atau tidak. Ia tak berani dengan gerakan keras lawan keras. Dengan suatu langkah yang cekatan dia mengigos kesamping lawannya. Setelah lolos dari sambaran angin pukulan yang maha dahsyat itu, segera bentaknya keras-keras, “Tunggu sebentar! Aku hendak mengucapkan sesuatu kepada kalian….”

Orang Mo-kauw paling tidak menurut aturan dunia persilatan. Dikala anak muda itu sedang mengigos kesamping, terlihatlah seorang imam jubah kuning lainnya menyelinap ke muka. Lengan kanannya segera menyambar ke depan mencengkeram punggung Hoa In-liong, bentaknya dengan seram, “Mau bicara nanti saja bila sudah tertawan, too-ya tak akan menyiksa dirimu”

Serangan yang dilancarkan dari belakang adalah suatu sergapan yang memalukan. Hoa In-liong paling benci menghadapi manusia-manusia macam begini.

Serta merta telapak tangan kirinya diayun ke bawah membacoh pergelangan tangan kirinya. “Bangsat, tak tahu malu!” dia memaki.

Serangan tersebut dilancarkan dengan gerakan “Menyerang sampai mati gerakan pertama”. Babatan sisi telapak tangannya itu tak kalah tajamnya dengan pedang atau pisau belati. Andaikata terbacok telak, niscaya pergelangan tangannya akan cacad. Terkesiap orang baju kuning itu karena kaget, cepat-cepat sikutnya ditekuk ke bawah tubuhnya dengan gerakan cepat mundur tiga langkah kebelakang.

Menggunakan kesempatan itu Hoa In-liong melompat mundur kebelakang dan langsung menyusup kehadapan Hong Seng, dengan wajah penuh kegusaran dan tampang yang buas ia membentak, “Sebetulnya kau pakai aturan tidak?”

Hong Seng mundur selangkah dengan hati keder, keberaniannya agak goyah oleh keangkeran musuhnya. “Kenapa tooya tidak pakai aturan?” dia menyahut.

“Kalau pakai aturan itu lebih bagus lagi, lepaskan dulu tawananmu!” kata Hoa In-liong lebih jauh dengan mata bersinar tajam.

Hong Seng mulai pulih kembali kesadarannya setelah mendengar ucapan itu, dia semakin tertegun. “Kenapa tooya musti melepaskan tawanan?”

“Hmm ! Engkau benar-banar manusia yang tak tahu malu!” bentak Hoa In-liong sambil melangkah setindak kedepan, “Sekalipun Yu Siau-lam adalah sahabat karibku, ia sama sekali tak tahu kemana aku pergi. Sedang kau telah menyekapnya tanpa alasan yang kuat, bahkan menanyakan pula jejakku. Cara semacam ini sudah terhitung suatu tindakan yang tak tahu aturan. Sekarang aku kan sudah berdiri dihadapanmu? Bagaimanapun juga tujuanmu menyekap Yu Siau-lam sudah tercapai, mengapa tidak kau lepaskan juga dirinya? Atau memang kau anggap aku tak bisa melakukan apa-apa terhadap dirimu?”.

Pada waktu itu kemarahan telah menyelimuti seluruh benak Hoa In-liong. Perkataannya kian lama kian bertambah kasar, tampangnya juga makin lama semakin keren. Didesak secara begini oleh anak muda itu, kontan Hong Seng merasakan bulu kuduknya pada bangun berdiri. Ia bergidik dan tanpa sadar mundur selangkah lagi ke belakang.

Walaupun demikian, bukan bukan berarti persoalan dapat diselesaikan dengan begitu saja.

Hoa In-liong benar-benar memandang rendah musuhnya yang bernama Hong Seng ini, karena lawannya itu berhasil digertak sampai ketakutan setangah mati, walau cuma hanya dengan kata-kata belaka.

Dalam kesal dan jengkelnya, anak muda itu segera memutar badannya dan siap berlalu dari situ.

Tapi…. baru saja badannya berputar, tiba-tiba terasa ada desiran angin dingin menyergap belakang tubuhnya, menyusul kemudian lima jari tangan yang tajam bagaikan kaitan mengancam iganya.

Ternyata reaksi dari Hoa In-liong cukup cepat, tiba-tiba ia tarik lambungnya ke belakang, telapak tangan kanannya diangkat ke atas. Dengan jari tengah dan telunjuknya ia totok pergelangan tangan musuh yang sedang menyambar tiba itu.

Diantara desingan angin jari yang menderu-deru, terdengar serentetan jeritan ngeri yang menyayatkan hati berkumandang memecahkan kesunyian. Seorang imam berbaju kuning terhuyung mundur kebelakang dengan sebuah lengannya terkulai kebawah.

Ternyata dalam serangannya tersebut, totokan jari tangan dari Hoa In-liong itu berhasil mematahkan pergelangan tangan kanan lawannya. Baru pertama tali ini Hoa In-liong melukai orang, tak kuasa jantungnya berdebar keras.

Sementara itu Siau Khi-gi menjadi ketakutan setengah mati. Diam diam ia bersyukur. Bersyukur karena bukan dia yang melakukan serangan tersebut. Kalau tidak maka yang terluka sekarang bukan imam baju kuning itu melainkan dirinya.

Mula-mula Hong Seng agak tertegun karena terperanjat, tapi sesaat kemudian dengan wajah menyeringai seram dan sorot mita bertambah buas, ia membentak nyaring, “Khi-gi, siapkan hiolo darah!”

Menyaksikan kebuasan sorot mata Hong Seng, apalagi setelah mendengar ia meneriakkan kata-kata “siapkan hiolo darah,” Hoa In-liong merasakan hatinya berdetak keras, segera pikirnya, “Konon anak murid Mo-kauw dari Seng Sut- pai banyak yang memiliki ilmu sesat yang rata-rata amat lihay dan luar biasa, seperti misalnya Hong Seng. Rupanya ia menitik beratkan kepadanya pada “hiolo darah” tersebut. Aku tak boleh berbuat gegabah sehingga kena dipecundangi olehnya”

Walaupun dihati kecilnya ia merasa murung bercampur ngeri namun kewaspadaan sama sekali tidak berkurang. Diawasinya Siau Khi-gi yang ada disampingnya dengan pandangan tajam.

Sekulum senyuman dingin yang seram dan keji tiba-tiba menghiasi wajah Siau Khi-gi. Kemudian ia putar badan dan pelan-pelan berjalan ke arah pintu ruangan yang tertutup rapat. Sikap maupun air mukanya berubah jadi amat serius.

Sementara itu, Hong Seng sendiri jaga berdiri dengan wajah serius. Sepasang matanya tertutup rapat, bibirnya bergetar kemak kemik seperti orang lagi membaca doa. Entah mentera apa yang sedang dibaca oleh imam tersebut?

Tindak tanduknya persis seperti upacara suatu aliran kepercayaan yang serba misterius. Suasana penuh diliputi keangkeran, keajaiban, kemisteriusan, kengerian dan serba baru. Berada dalam keadaan begini, Hoa In-liong merasa detak jantungnya tiba-tiba berdebar lebih keras, sampai- sampai bernafas keras-keras pun tak berani.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benak Hoa In-liong, dengan cepat ia berpikir, “Eeh…. Tidak benar!. Bukankah kamar tengah adalah kamar yang dipakai oleh mereka untuk menyekap saudara Siau-lam? Jangan-jangan…. Ya Jangan- jangan….””

Dengan cepat ia menengadah, waktu itu Siau Khi-gi sudah melangkah di atas serambi.

Saking kagetnya peluh dingin telah membasahi sekujur badan Hoa In-liong, kakinya lantas dijejakkan ke permukaan tanah sambil menerjang ke depan dengan cepat.

“Tunggu sebentar!” bentaknya lantang.

Menyusul suara bentakan itu, dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah tubuh Siau Khi-gi, sedang serangan yang lain ditujukan ke arah pintu kamar.

Gerakan tubuhnya itu terlampau cepat, dalam keadaan demikian tak sempat bagi Siau Khi-gi untuk menghindarkan diri, ia terjatuh keluar dengan sempoyongan.

Tapi begitu pintu kamar terpentang lebar, suatu kejadian aneh pun segera berlangsung di depan mata. Kecuali sebuah pembaringan bambu dalam ruangan tersebut, di lantai ada sebuah bantalan untuk bersemedi. Di depan bantalan semedi tadi berdirilah sebuah hiolo setinggi tiga depa dengan lebar beberapa depa dan berwarna merah bercahaya terang. Kecuali itu tidak nampak benda apapun juga.

Hoa In-liong sangat mengkuatirkan keselamatan Yu Siau- lam, menyaksikan kesemuanya itu dia lantas berteriak keras, “Dimana orangnya? Orangnya…. kemana parginya dia?”

Sementara itu Hong Seng telah menyerbu masuk ke dalam ruangan, tapi ketika hiolo itu dillongok sekejap, tiba-tiba ia menjerit setengah kalap. “Oooh barang pusakaku…. kemana larinya Po hoat ku…. oooh…. Poo-hoat ku….”

Rupanya dalam hiolo berwarna merah bercahaya itulah terkumpul beratus-ratus macam makhluk beracun yang paling jahat didunia.

Makhluk beracun serta hiolo darah ini merupakan bahan pokok terpenting bagi orang Mo-kauw untuk melakukan ilmu Hiat-teng-toh-hun-tay-hoat (ilmu hiolo darah pembetot sukma) yang maha dahsyat itu.

Selain kepandaian tersebut, terdapat juga sejenis kepandaian yang disebut Hua-hiat-to (Pekikan pelumer jadi darah). Untuk melatih kepandaian tersebut, seseorang juga tak boleh melupakan kedua jenis barang tersebut.

Sekarang hio!o pusakanya masih berada ditempat, tapi makhluk-makhluk beracunnya justru sudah kempas-kempis melingkar dalam hiolo itu dalam keadaan sekarat. Kematian pun caranya tidak terlalu jauh lagi. Tidaklah heran kalau Hong Seng jadi khekinya bukan kepalang, sampai-sampai perkataanpun terbata-bata. Sementara semua orang diliputi rasa gugup dan keget, bayangan merah berkelebat lewat disebelah samping, menyusul kemudian Giok-kou-nio-cu Wan Hong-giok munculkan diri ditempai itu.

Begitu Hong-giok munculkan diri, Siau Khi-gi pertama-tama yang menghampiri seraya menyapa, “Adik Hong, sejak pagi tadi kau telah pergi kemana?”

Wan Hong-giok mengangkat kepalanya tidak menjawab, menggubris pun tidak. Dia langsung menuju kepintu kamar dan berdiri bertolak pinggang disana, tiba-tiba serunya dengan suara lirih, “Hong-susiok, kenapa bersedih hati? Apakah lantaran makhluk-makhluk beracunmu itu?”

Waktu itu Hong Seng sedang mendongkol dari kesalnya bukan kepalang, apalagi tidak ada tempat penyaluran, matanya kontan melotot besar. “Hmm…. Gembira bukan karena bencana yang menimpa aku?” Teriaknya, “Lain hari kau tak usah takut kepadaku lagi”

Wan Hong-giok mencibirkan bibirnya. “Huuuh…. konon kau sangat ahli dalam hal makhluk beracun. Kenapa tidak kau periksa dulu dengan lebih seksama sebelum mengamuk macam orang edan ?”.

Mula-mula Hong Seng agak tertegun, menyusul kemudian merangkak kesisi hiolo tersebut. Dimana dia bersuara aneh sesaat lamanya, selang kemudian sambil berjingkrak karena kegirangan teriaknya: ‘”Hong-giok, kau memang hebat, kau….!”

“Tiada sesuatu yang perlu dihebatkan,” tukas Wan Hong- giok ketus, “Aku cuma menuruti caramu belaka. Siapa tahu darah manusia yang kuberikan kepada mereka rupanya terlalu banyak sehingga jimat-jimatmu tak tahan lagi. Bukan keuntungan yang didapat justru satu nyawa telah dibuang dengan percuma”

Tak terkirakan rasa kaget dan cemas Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, serunya dengan gelisah, “Apa kamu bilang?”

Wan Hong-giok melirik sekejap kearah pemuda itu, lalu sahutnya dengan angkuh, “Tidak apa-apa. Orang-orang dari perkumpulan kami sudah terbiasa menggunakan darah sendiri untuk memberi makan kepada makhluk-makhluk beracun.

Belum pernah nona saksikan ada orang yang begitu tak becus setelah kehilangan darah. Sobatmu she-Yu itu memang orang tak berguna, baru setengah jam saja ia sudah mampus dengan darah mengering”

“Kau bilang dia sudah mati?” Hoa In-liong merasa kaget bercampur gusar.

“Yaa, sudah mampus!”

Merah membara sepasang mata Hoa In-liong. “Dimana…. Dimana mayatnya? Aku menginginkan mayatnya !” teriaknya keras-keras.

“Mayatnya berada lima ratus langkah disebelah timur kuil ini” jawab Wan Hong-giok dengan dingin, “Aku rasa saat ini sudah habis dimakan anjing liar”

Seketika itu juga Hoa In-liong merasakan darah didalam tubuhnya bergolak keras, mukanya hijau membesi. Ketika mendengar berita duka ini, hampir saja ia kehilangan ketenangannya seperti dihari-hari biasa. Sekujur badannya gemetar keras, giginya saling bergemerutuk keras, teriaknya dengan penuh kebencian, “Kau…. Kau…. Hitung-hitung aku sudah mengenali watakmu yang sebenarnya”

Pemuda itu buru-buru ingin menemukan kembali jenasah dari sahabatnya, ia tak rela membiarkan jenasah temannya terlantar ditengah hutan sebagai umpan anjing, maka sambil menahan rasa sedih dan gusarnya, begitu selesai berkata ia segera lari meluncur kearah timur.

Wan Hong-giok segera mendengus dingin, ia mengejar dari belakangnya seraya membentak. “Masih ingin kabur. ? Lihat senjata rahasia”.

Serentetan cahaya kilat mengikuti ayunan telapak tangannya segera menyergap punggung Hoa In-liong….

oooOOOooo

HOA IN-LIONG merasa amat perih batinnya. Apa yang terpikir olehnya pada saat ini adalah secepatnya menemukan diri Yu Siau-lam. Bagaimanakah keadaan sobatnya itu itu apakah masih hidup atau sudah mati, ia tidak berniat untuk memikirkannya lebih jauh.

Sama sekali tak terduga olehnya, Wan Hong-giok yang pernah menaruh hati kepadanya tiba-tiba seperti berubah jadi orang lain. Bukan dia yang mendesak gadis itu lebih jauh, ternyata malahan gadis itulah yang mengejarnya sambil menyerang senjata rahasia. Seakan-akan nona itu amat mendendam kepadanya sehingga hatinya baru puas bisa dapat membinasakan dirinya.

Mendengar bentakan tersebut, dengan hati yang mangkel pemuda itu lantas berpikir, “Bagus sekali! Tempo hari saja cintamu padaku begitu berkobar-kobar, sekarang hatimu sudah jadi busuk, bukan saja sobatku kau celakai, sampai kepadaku pribadi juga tak mau lepas tangan”

Sebelum ingatan tersebut habis melintas dalam benaknya, desingan angin tajam telah menyergap punggungnya.

Dalam keadaan demikian, serta merta Hoa In-liong menjatuhkan diri kebelakang. Begitu senjata rahasia itu menyambar lewat, lengan kanannya segera menyambar kemuka, ujung kakinya menjejak permukaan tanah dan secepat kilat menyambar senjata rahasia yang menyambar lewat diatas punggungnya tadi.

Anak muda itu sungguh merasa amat gusar, dia ingin menangkap senjata rahasia itu untuk disambit kembali kearah nona itu.

Tapi apa yang kemudian terjadi? Ternyata senjata rahasia yang berhasil ditangkapnya itu adalah segumpal kertas kecil.

Meudapatkan gumpalan kertas tersebut, Hoa In-liong semakin tertegun sehingga untuk sesaat lamanya tak mampu berbuat apa-apa.

Pada waktu itutah, tiba-tiba Hong Seng membentak dengan suara yang amat nyaring, “Kenapa cuma berdiri termangu saja? Ayoh dikejar!”

Waktu itu Hoa In-liong akan membuka kertas tersebut untuk diperiksa apa isinya, tapi ketika mendengar bentakan itu, hatinya jadi amat tercek kat, segera pikirnya, “Hong Seng sudah merasakan hal ini, aku…. aku harus cepat-cepat kabur dari sini “ Cepat-cepat gumpalan kertas itu disusupkan ke dalam saku, kemudian ia melompat kedepan dan naik keatas atap rumah.

Baru saja badannya lenyap disudut tembok, tiba-tiba terdengar suara deruan ujung baju tersampok angin menyambar lewat diatas kepalanya dan kabur menuju ketimur.

Hoa In-liong termenung dan berdiam diri sesaat lamanya disana, kemudian ia putar badannya kembali dan balik menuju kearah ruangan semula.

Satelah melalui suatu pemikiran yang cukup panjang, Hoa In-liong dapat mengambil kesimpulan bahwa sikap Wan Hong- giok bukanlah sikap yang sungguh-sungguh, melainkan suatu kesengajaan agar pihak lawan tak curiga. Tujuannya tentu saja agar dia cepat-cepat tinggalkan kuil Cing-siu-koan tersebut.

Menurut analisanya, sikap gadis itu pasti mengandung arti yang mendalam sekali. Mungkin juga Hong Seng sekalian masih memiliki kepandaian lainnya yang sakti dan belum dikeluarkan, maka iapun menggunakan alasan bahwasanya Yu Siau-lam sudah mampus dan mayatnya terlantar ditimur kota untuk mengelabuinya.

Kendatipun anak muda itu mulai mengerti bahwa Yu Siau- lam belum mati, tapi sebelum bertemu dengan orangnya ia belum juga berlega hati. Apalagi menurut anggapannya kendati Hong Seng sekalian memiliki ilmu silat yang lebih sakti, sembilan puluh persen juga mengandalkan keampuhan “hiolo darah” nya. Maka setelah dipikir pulang pergi akhirnya dia memutuskan untuk menggunakan kesempatan yang sangat baik ini untuk memusnahkan” hiolo darah” itu. Asal benda yang mereka andalkan musnah, berarti pertarungan andaikata sampai berlangsung, kedua belah pihak terpaksa harus bertarung dengan andalkan kepandaian sejati.

Cepat nian gerakan tubuhnya, tak lama kemudian ia sudah tiba didepan pintu halaman tersebut.

Pintu kamar sebelah tengah masih terpentang lebar, hiolo darah masih ada dalam kamar, tapi seorang imam jubah kuning dengan mata yang jelalatan berdiri ditengah serambi panjang dengan sikap siap siaga penuh.

Kembali Hoa In-liong memutar otaknya. Ia merasa bahwa kekuatan imam jubah kuning itu minim sekali. Asal diserang musuh pasti dapat ditaklukkan, berarti inilah kesempatan yang terbaik baginya untuk musnahkan” hiolo darah” itu. Sebab kalau sampai Hong Seng sekalian balik lagi kesana, dia harus mengeluarkan tenaga yang lebih besar lagi untuk mengalahkannya.

Sementara pemuda itu sedang mempersiapkan diri untuk membekuk imam jubah kuning itu dengan suatu serangan yang tak tarduga, tiba-tiba ia menyaksikan berkelebat lewatnya sesosok bayangan manusia.

Dengan terkejut ia berpaling, sinar matanya tanggung ditujukan kearah mana berasalnya bayangan tadi.

Ternyata orang itu adalah imam setengah baya yang pernah mencegahnya masuk keruang belakang tadi

Waktu itu dengan wajah yang amat gelisah si imam tersebut berpaling kearahnya sambil menggape tiada hentinya.

“Aneh, ada urusan apa totiang ini mencari aku”?, pikir Hoa In-Liong kemudian dengan dahi berkerut. Walau berpikir begitu, ia maju pula menghampirinya, lalu bertanya lirih setibanya didepan imam tersebut, “Ada urusan apa tootiang mencari aku?”.

“Ikutilah pinto?” jawab imam itu sambil ulapkan tangannya.

Lalu dengan wajah tegang dan serius, ia putar badan dan berlalu dari situ.

Pelbagai pertanyaan berkecamuk dalam benak Hoa In- liong. Tapi diapun tidak banyak bertanya, terpaksa diikuti dibelakangnya dengan mulut membungkam

Setelah melewati serambi samping, mereka berbelok ke halaman sebelah kiri. Di bawah dinding pekarangan dekat halaman samping terdapat dua buah hiolo tempat pembakaran abu yang besar.

Dengan mata yang tajam, imam itu celingukan kesana kemari. Dengan cepat imam tersebut menggape kearah Hoa In-liong dan menerobos masuk kedalam hiolo pembakaran tadi.

Tak terkirakan rasa heran Hoa In-liong menyaksikan tindak- tanduk imam itu, tapi dia ikut masuk juga.

Ternyata didalam hiolo pembakaran itu terdapat sebuah pintu rahasia yang menghubungkah tempat ruangan dengan ruang bawah tanah. Ketika itu imam setengah baya sedang membungkukkan badan dan menyingkap sebuah batu persegi yang amat besar.

Dibawah batu datar itu merupakan sebuah liang goa yang gelap. Imam setengah baya itu melompat turun lebih dulu, disana ia menyulut api dan memasang otor yang ada diatas dinding.

Hoa In-liong ikut melompat turun, setelah menutup kembali batu datar itu pada tempatnya semula, imam setengah baya itu baru putar badan dan menuruni anak tangga batu.

Diujung trap-trapan tersebut merapikan sebuah lorong sempit. Bau apek tersiar kemana-mana menimbulkan bau tak sedap yang menusuk penciuman.

Melihat kesemuanya itu, Hoa In-liong mengerutkan dahinya, diam-diam ia berpikir, “Mau diajak kemana aku….? Heran, kenapa dalam kuil Cing-siu-koan disediakan lorong bawah tanah yang begini rahasia letaknya?”

Sementara dia masih termenung, tibalah mereka didepan sebuah pintu baja yang tebal dan berat. Imam setengah baya itu menekan tombol dia tas dinding tersebut kemudian baru berkata, “Hoa kongcu, sobatmu menderita luka yang amat parah. Hawa murninya mendapat cedera hebat, ditambah pula racun yang menyerap ditubuhnya sudah menyusup terlampau dalam”.

Belum habis perkataan tersebut diutarakan ke luar, Hoa In- liong sudah merasakan hatinya bergetar, baru-buru serunya dengan nada amat gelisah, “Dimana orangnya?”

“Kraaaaak!”

Pintu baja itu terpentang lebar dan dan imam setengah baya itupun menyahut, “Dia berada disini, ikutilah diri pinto, kongcu!”

Detik itu, Hoa In-liong betul-betul merasa terkejut bercampur girang. Girang karena Yu Siau-lam yang dicari-cari berhasil ditemukan jejaknya. Terkejut karena Yu Siau-lam menderita keracunan hebat dan hawa murninya menderita cedera hebat.

“Tapi, bagaimanapun jua, ia merasa perjalanannya tidak sia-sia belaka, sebab toh mendatangkan hasil seperti yang diharapkan.

Dengan jantung berdebar keras, ia mengikuti dibelakang imam setengah baya itu masuk ke ruang dalam.

Ruangan itu adalah sebuah ruangan batu yang lebar dan luas. Dalam ruangan terdapat sebuah meja, beberapa buah kursi, sebuah hiolo, sebuah kasur semedi dan dua pintu lain yang berhubungan dengan ruangan lainnya.

Setelah masuk kedalam ruangan, imam setengah baya itu belok menuju kepintu sebelah kanan.

Hoa In-liong betul-betul merasa amat gelisah dia memburu maju lebib dulu masuk keruangan sebelah kanan. Disitu ditemuinya sebuah pembaringan. Di atas pembaringan berbaringlah seorang laki-laki berbaju perlente dan bermuka warna hitam pekat. Orang itu tak lain adalah Yu Siau-lam!

Berdebarlah jantung Hoa In-liong menyaksikan kesemuanya itu. Dengan langkah terburu-buru dia berebut maju ke depan, lalu membungkukkan badan dan memeriksa keadaan lukanya. Untuk sesaat ia sampai melupakan kehadiran dari imam setengah baya itu.

Suasana diliputi keheningan, selang sesaat kemudian imam setengah baya itu baru maju ke muka sambil menghela napas panjang. “Aaaai…. Nona baju merah itulah yang menghantar sobatmu kesini. Waktu dibawa kemari, keadaannya sudah begini rupa!” “Wan Hong-giok kah yang menghantar kemari? Apa yang dia katakan?” seru Hoa In-liong seraya menengadah.

“Pinto tidak menanyakan nama nona itu, tapi tahu kalau dia berasal dari satu rombongan dengan suku-suku asing tersebut. Pada mulanya, lantaran pinto lihat sikapnya dingin dan ketus, tindak tanduknya buas dan kejam, kuanggap dia juga orang jahat. Aaaai…. Sungguh tak nyana …. sungguh tak nyana ….”

Rupanya imam ini merasa menyesal sekali dengan perasaannya waktu itu, hingga saking terharunya ia tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya.

Tapi Hoa In-liong tidak berniat untuk mendengarkan pembicaraan tentang seal itu, cepat tukasnya dengan nada berat, “Tentang soal itu tak usah kau bicarakan. Tolong tootiang beritahukan saja kepadaku, apa yang telah dia pesankan?”

“Waktu itu, sikap nona tersebut sangat gugup dan tidak tenang. Ia pesan kepada pinto agar di luar pengetahuan suku- suku asing tersebut berusaha untuk menghubungi kongcu, kecuali itu tiada pesan apa-apa lagi. Kenapa? Apakah kongcu juga tak mampu untuk membebaskan racun yang mengeram ditubuh sobatmu ini?”

Orang beribadah memang selalu berhati welas, meski Yu Siau-lam bukan sanak keluarganya, akan tatapi perhatian serta rasa gelisahnya atas keselamatan pemuda itu sangat mempengaruhi hatinya. Terbukti dari wajah serta sikapnya yang amat gelisah.

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali ia membungkukkan badannya untuk memeriksa lagi keadaan luka yang diderita Yu Siau-lam. Kelopak mata pemuda itu juga disingkap dan diperiksa, lalu membuka bibirnya dan memeriksa lidahnya. Setelah selesai melakukan pemeriksaan baju bagian dadapun dibuka.

Tampaklah sekujur badannya telah berubah jadi hitam pekat. Hanya diseputar dadanya terlihat bercak-bercak warna- warni yang amat menyolok pandangan, namun warna hitam itu sudah mulai menembusi kulit berwarna-warni itu.

Ibu pertama dari Hoa In-liong yakni Chin Wan-hong adalah anak murid dari Kiu-tok-sian-ci yang berada di lembah Hu- hiang-kok dalam wilayah Biau. Perempuan itu sangat menguasahi tentang pelbagai ramuan dan obat-obatan, terutama dalam ilmu memunahkan racun. Boleh dibilang kepandaian tersebut merupakan kepandaian yang tak terkalahkan didunia dewasa ini.

Semenjak kecil Hoa In-liong mengikuti terus ibunya ini. Tentu saja terhadap ilmu racun dan ilmu pertabiban amat menguasai.

Kendati demikian sepanjang hidupnya belum pernah ia jumpai penyakit bercak-bercak warna warni macam begini. Tak heran kalau ia jadi terbelalak kaget setelah menyaksikan kesemuanya itu.

Imam setengah baya itu semakin gelisah lagi, teriaknya tertahan, “Aduuuh mak, digigit oleh makhluk beracun apa ini? Kenapa kulitnya berubah jadi begini tak sedap dilihat?”

Hoa In-liong sendiri, walaupun dihati kecilnya merasa kaget bercampur terkesiap, namun ia masih sanggup menguasahi diri. Sesudah berpikir sejenak diapun bertanya, “Dapatkah tootiang sediakan segentong cuka asli?” “Cuka asli? Kongcu minta cuka buat apa?” tanya imam setengah baya itu tertegun.

Tentu saja untuk memunahkan racun yang mengeram ditubuh sahabatku. Sekarang tak sempat bagiku untuk memberi penjelasan lebih jauh. Bila ada cuka tolong siapkan satu gentong, harus cepat-cepat!”

“Wah …. kalau cepat rada susah” Imam setengah baya itu mengerutkan dahinya, “Sebab pinto harus mengirim orang untuk membelinya lebih dahulu” Setelah berhenti sebentar, katanya kembali, “Konon cuka itu dibuat dari arak. Dalam kuil kami terdapat arak air untuk menjamu tamu, apakah arak itu bisa dipakai sebagai penggantinya ?”

Hoa In-liong mengangguk. “Boleh juga kalau memang tak ada cuka asli, tapi harus ada gula dan harus digarang dengan api”

“Kalau gula ada persediaan dalam kuil, sekarang juga pinto akan mempersiapkannya”

Selesai berkata, diapun putar badan dan berjalan keluar dari ruangan tersebut.

“Eeeh tootiang!” seru Hoa In-liong kembali, “Jangan lupa menyiapkan kayu bakar serta setengah gentong air bersih, sebab air itu perlu

untuk membersihkan badan”

Imam setengah baya itu mengiakan dan buru-buru berlalu dari ruangan bawah tanah.

Selang sesaat kemudian, arak, gula, kayu bakar dan air sudah diangkut kedalam ruang bawah tanah. Hoa In-liong lantas menggali tanah untuk dipakai sebagai tungku darurat dan disanalah gentong air disiapkan. Setelah arak dari gula dilarutkan menjadi satu, kayu bakarpun disuluti api.

Setelah semua pekerjaan dibereskan, dari sakunya Hoa In- liong mengeluarkan dua buah botol yang putih seperti susu kambing. Dari salah satu botol itu dia mengambil sebiji pil Cing-hiat-wan yang berwarna kuning emas, dan pil pah-tok- san yang berwarna putih dari botol yang lainnya.

Separuh bungkus dari obat puyer pah-tok-san itu ia larutkan pula kedalam gentong arak, sedang separuh yang lain diminumkan kepada Yu Siau-lam bersama-sama dengan obat cing-hiat-wan dan air putih. Selesai minum obat, baru menelanjangi pemuda itu dan merendamkan tubuhnya kedalam gentong berisi larutan arak bercampur obat.

Perlu diterangkan disini, ibu tua dari Hoa In-liong yakni Chin hujin atau lebih dikenal dengan namanya Chin Wan-hong merupakan seorang perempuan yang barhati sekokoh baja.

Ketika Hoa Thian-hong terkena racun jahat Tan-hwee-tok-lian (teratai racun empedu api), dengan semangat yang berkobar dan tidak mengenal putus asa ia berusaha melakukan percobaan demi percobaan untuk menciptakan obat penawar racun yang dapat melenyapkan kadar racun jahat tersebut dari tubuh suaminya. Pil cing-hiat-wan (obat pembersih darah) seria pah-tok-san (bubuk pencabut racun) merupakan dua diantara sekian jenis obat penawar racun yang berbasil diciptakannya pada waktu itu.

Baik cing-hiat-wan maupun pah-toh-san bernama amat sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi justru dibalik kesederhanaan nama itu terseliplah suatu daya kemampuan untuk menawarkan racun yang maha dahsyat. Tak selang setengah perminuman teh kemudian, seluruh hawa hitam yang menyelimuti sekujur badan Yu Siau-lam telah berhasil dibikin luntur dan mulai menghilang.

Walau begitu Yu Siau-lam masih berada dalam keadaan tak sadar.

Lewat beberapa waktu kemudian, kulit muka-baru mulai tampak berkerut dan mengalami kejang-kejang. Dari sikap serta mimik wajahnya itu dapat diketahui bahwa ia sedang mengalami suatu penderitaan yang luar biasa hebatnya.

Rada gemetar si tosu setengah baya itu menyaksikan penderitaan orang, mula pertama ia masih dapat menahan diri, tapi lama kelamaan akhirnya tak tahan juga, iapun menegur, “Hoa kongcu, sobatmu itu tidak apa-apa bukan keadaannya?”

Waktu itu, Hoa In-liong sedang menyalurkan bawa murninya untuk menguruti seputar jalan darah Pek-hwi hiat di ubun-ubun Yu Siau-lam dengan telapak tangan kanannya, sementara tangan yang lain menahan tubuh anak muda itu.

Maka ia cuma gelengkan kepalanya belaka ketika mendengar pertanyaan tersebut.

Kembali si tosu setengah baya itu mengerutkan dahinya. “Aku lihat sobatmu sedang mengalami penderitaan yang cukup hebat” Serunya lagi dengan kuatir, “Jangan-jangan kadar racun ditubuhnya lagi kambuh?”

Melihat kekuatiran orang, Hoa In-liong tersenyum. “Bukan kumat. Penderitaan tersebut dialaminya lantaran racun mulai membuyar dan larut ke luar dari badannya. Tootiang tak usah kuatir, cing-hiat-wan serta pah-toh-san bikinan ibuku sangat manjur dan punya daya kemampuan amat mujarab. Racun apa saja dapat dipunahkan secara mudah. Memang! Sobatku terluka oleh banyak jenis makhluk beracun, tapi keadaannya sudah tidak membahayakan lagi jiwanya”

“Apa kau bilang? Jadi jadi ia dilukai oleh banyak jenis makhluk beracun?” seru tosu setengah taya itu agak kaget.

“Yaa! ini dapat kita ketahui dari kulit dadanya yang berwarna-warni dengan bercak-bercak panca warna. Warna warni itu dihasilkan oleh gigitan khas dari ular beracun, kala jengking beracun, laba-laba beracun, kelabang beracun dan lain jenis makhluk beracun. Tapi racun-racun itu sudah ditawarkan semua, keadaannya sudah tidak berbahaya lagi”

Tanpa sadar tosu setengah baya itu melirik lagi kearah Yu Siau-lam, tapi apa yang terlihat olehnya?

Kali ini, bukan saja sekujur badannya mengejang keras bahkan mulai gemetar keras. Keadaan semacam ini tentu saja tak bisa diartikan sebagai keadaan yang “tidak berbahaya” lagi, maka dia pun jadi setengah percaya setengah tidak.

“Aku lihat penderitaan yang dialami sobatmu itu kian lama kian bertambah hebat!” katanya kemudian dengan lirih.

“Penderitaan memang tak bisa dihindari. Lantaran sari racun sudah menyerang ke dalam hati, sobatku kehilangan daya kesadarannya. Jika pertolongan diberikan satu jam lebih terlambat niscaya jiwanya tak ketolongan lagi. Sekarang sobatku sudah mendapat pengobatan dari luar maupun dalam. Daya kerja obatpun mulai reaksi, hawa racun menyebar ke empat penjuru. Kesadarannya sedikit demi sedikit akan pulih kembali seperti sedia kala. Lihatlah tootiang! Bukankah kulit badan sobatku mulai berubah jadi normal kembali?”

Betul juga! Hawa hitam yang semula menyelimuti tubuh Yu Siau-lam sekarang sudah mulai luntur bahkan selang sesaat kemudian, keadaannya sudah pulih kembali seperti sedia kala. Menyaksikan kesemuanya itu legalah hati si tosu setengah baya itu.

Percayanya dia memang sudah percaya, tapi anehnya ia malah semakin berkerut kening, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi akhirnya maksud itu dibatalkan jua.

Melihat itu Hoa In-liong tertawa geli “Apakah tootiang masih kuatir?” tanyanya kemudian.

Cepat-cepat tosu setengah baya itu menggeleng. “Oooh…. tidak! Pinto tidak kuatir. Maksud pinto ….”

Ia seperti agak sangsi, tapi akhirnya ujung bajunya digulung juga, sambil memperlihatkan lengan kirinya dihadapan Hoa In-liong dia berkata lebih jauh, “Lihatlah Hoa kongcu, bekas gigitan yang tertera diatas lengan pinto ini.

Gigitan itu adalah bekas gigitan dari seekor kelabang raksasa yang berwarna bercak-bercak hitam diatas merah, dua puluh tujuh orang murid pinto yang berdiam dalam kuil ini menjadi korban gigitan yang sama semua”

Hoa In-liong memeriksa bekas gigitan itu dengan seksama, terlihatlah pada seputar pergelangan tangan muncul dua bintik warna merah sebesar ka cang kedelai yang berdempetan, kulit tubuh yang diseputarnya mencekung kedalam, bentuknya memang bentuk gigitan kelabang. Murkalah sianak muda itu, serunya dengan gusar, “Kenapa? Semua orang penghuni kuil sudah di gigit oleh kelabang beracun:….?”

“Yaa begitulah….”sahut tosu setengah baya itu dengan muka sedih bercampur marah. Setelah berhenti sejenak, ia turunkan kembali lengan bajunya, lalu berkata lebih jauh, “Tiga hari berselang, suku- suku asing itu dengan membawa sobatmu datang kemari dan memaksa untuk menginap dikuil kami. Sebetulnya pinto segan menerima mereka lantaran menyaksikan tingkah pola mereka yang bengis dan buas. Aaai siapa tahu orang-orang itu

memang buas dan liar. Bukan saja mereka memaksa diri untuk menginap dan minta makan disini, bahkan semua murid yang ada dikuil ini telah mereka kumpulkan. Kemudian dari dalam hiolo merah darah itu mereka tangkap seekor kelabang raksasa dan digigitkan pada lengan masing-masing orang.

Setelah itu merekapun menitahkan kepada pinto sekalian agar merahasiakan betul-betul jejak mereka semua. Katanya jika kami tak menurut perintahnya, merekapun tak akan memberi obat pemunah kepada kami semua. Bila racun keji dari kelabang itu sudah bercampur dengan darah dan waktu mencapai tujuh kali tujuh empat puluh sambilan hari, maka kambuhnya sari racun dalam tubuh kami akan mengakibatkan kematian bagi kami semua”

Diam-diam Hoaln-liong menggertak gigi menahan rasa mendongkolnya, dia berpikir dihati, “Hati Hong Seng betul- betul sangat busukdan beracun. Padahal mereka toh tahu bahwa tosu-tosu penghuni kuil Cing-siu-koan bukan orang- orang persilatan, tapi mereka gunakan juga cara dan tindakan yang begitu buas dan kejam untuk menindas serta memaksa mereka . Hmmm….! Aku Hoa In bersumpah akan musnahkan hiolo darah milikmu itu!”

Rasa benci dan mendongkolnya itu untuk sementara hanya disimpan dalam hati. Selain itu diapun dapat memahami arti serta maksud pembicaraan dari tosu setengah baya itu, jelas imam tersebut sedang memohon obat penawar racun bagi anggota-anggota kuilnya, maka diapun mengangguk tanda setuju. “Enmm ! Orang-orang itu memang kelewat kejam dan bias” sahutnya, “Tapi kau tak usah kuatir, racun kelabang akan segera punah begitu menelan sebutir pil cing hiat-wan milikku. Obat tersebut cukup banyak persediaannya dalam sakuku, totiang boleh menggunakannya untuk menolong murid-murid totiang!”

Lega juga perasaan sitosu setengah baya itu sehabis mendengar kesanggupan orang. “Sebetulnya pinto memang ada maksud untuk meminta obat. Sekarang setelah koagcu menyanggupi, pinto pun dengan tebalkan muka menerima kebaikan kongcu tersebut!”

Selesai berkata, dia lantas menjura dalam-dalam kearah Hoa In-liong

Buru-buru Hoa In-liong goyangkan tangannya terulang kali, “Jangan begitu…. Jangan begitu…. Rasa terimasih totiang terlampau berlebihan. Apalagi jika totiang tidak tepat pada waktunya menemukan diriku, selembar jiwa sobatku ini terus lebih banyak berbahaya daripada selamat.”

Belum selesai ia berkata, tiba-tiba terdengar Yu Siau-lam menghembuskan nafas panjang seraya mengeluh, “Oooh…. Sesak amat nafasku!”

Dalam pada itu keadaan Yu Siau-lam sudah membaik, hawa hitan yang semula menyelimuti sekujur badannya, kini sudah luntur dan putih kembali seperti sedia kala.

Hoa In-liong cepat berpaling dengan perasaan kaget, lalu serunya dengan gelisah, “Bersabarlah sedikit saudara Siau- lam, kau keracunan hebat. Jika semua bibit racun itu tidak sekalian dibersihkan, banyaklah kesulitan yang akan kau hadapi dikemudian hari” Yu Siau-lam membelalakkan sepasang matanya lebar-lebar, kemudian sambil menggigit bibir menahan sakit sahutnya agak terbata-bata, “Oooh…. Ruu rupanya saudara In-liong, konon kau kau ditangkap oleh Kiu-im kaucu. Aku…. Aku….”

“Kejadian yang sesungguhnya akan kuceritakan nanti saja” tukas Hoa In-liong dengan cepat, “Yang paling penting sekarang adalah membersihkan sisa racun dari dalam tubuhmu. Jika saudara Siau-lam masih sanggup untuk menyalurkan tenaga dalam, cepatlah atur pernafasan dan bantu untuk mendesak keluar sisa hawa racun yang masih mengeram dalam tubuhmu, siaute akan membantu dari depan”

Tidak menunggu sampai Yu Siau-lam memberikan jawaban, hawa murni lantas disalurkan keluar. Dalam waktu singkat segulung aliran hawa murni yang panas sekali menyusup kedalam tubuh Yu Siau-lam melalui jalan darah Pek-hwi-hiat diatas ubun-ubun.

Yu Siau-lam menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi ketika dilihatnya Hoa In-liong telah menyalurkan hawa murninya dengan serius, maka sesudah agak sangsi sejenak, akhirnya diapun membungkam, mata dipejamkan dan hawa murnipun dikerahkan untuk bantu mengusir racun dalam tubuhnya.

Si-tosu setengah baya sendiri mengamati kedua orang pemuda dihadapannya dengan wajah penuh rasa kagum. Sebentar ia menengok Hoa In-liong yang sedang menyalurkan tenaga dalamnya, sebentar lagi ia berpaling kearah Yu Siau- lam yang sedang bersemedi, entah ia sedang merasa berterima kasih lantaran pemberian obat mujarab dari Hoa In- liong ataukah dia kagum karena dengan usianya yang begitu masih muda, ternyata memiliki tenaga dalam yang amat sempurna. Selang sesaat kemudian, kekuatan maupun paras muka Yu Siau-lam telah jauh membaik. Warna wajahpun kian lama kian bertambah semu merah, sedang air arak dalam gentong yang dipakai untuk mererdam diri, saat itu warnanya sudah berubah jadi bitam pekat. Dari sini dapat diketahui betapa lihaynya racun yang mengeram ditubuh Yu Siau-lam.

Tak lama kemudian, semua sisa racun yang ma sih berada dalam tubuh Yu Siau-lam telah luntur tak berbekas. Mereka berdua serentak menghentikan semedinya. Yu Siau-lam sendiripun melancar keluar dari dalam arak.

”Saudara Siau-lam!” ujar Hoa In-liong kemudian sambil tertawa nyaring, “Kita adalah sesama saudara, aku rasa omong kosong sama sekali tak ada gunanya. Tapi kalau toh ingin omong kosong, maka aku harus berterima kasih lebih dulu kepadamu, sebab lantaran aku kau telah lakukan perjalanan jauh hingga mengakibatkan keracunan hebat”

Yu Siau-lam memang ada maksud menyampaikan rasa terima kasihnya, tertegunlah sianak muda itu sehabis mendengar ucapan tersebut, tapi menyusul kemudian ia terbahak-bahak, “Haa…. haa…. ha…. Bagus…. Bagus! Bagus! Jadi kalau bagitu, perasaanmu memang jauh lebih tajam lalu dibandingkan dengan perasaanku!”

Hoa In-liong tersenyum. “Kalau toh saudara Siau-lam menyetujui, maka harap engkau keringkan badan dan mengenakan pakaian lebih dahulu!”

Yu Siau-lam tundukkan kepalanya, kontan merah padam selembar wajahnya, cepat-cepa ia bersihkan badan dengan air bersih, lalu mengeringkan badan dan mengenakan pakaian. Walaupun dalam ruangan bawah tanah cuma ada tiga orang pria belaka, toh bertelanjang bulat adalah suatu pemandangan yang kurang sopan. Karenanya meski ia sudah kenakan pakaian, warna merah diwajahnya belum juga luntur.

Untuk menghilangkan rasa malunya, Yu Siau-lam berpaling kearah toiu setengah baya itu sambil berkata, “Tootiang ini adalah….”

Cepat tosu setengah baya itu memberi hormat, “Pinto Bu- jian, koancu dari kuil ini.” sahutnya.

“Hoa In-liong yang berada disampingnya cepat menyambung, “Tempat ini adalah ruang bawah tanah dari kuil Cing-siu-koan. Tahukah saudara Siau-lam? Di kala nyawamu berada diujung tanduk lantaran racun jahat yang mengeram dalam tubuhmu mulai kambuh, Bu jian tootiang lah yang sudah menyelamatkan dirimu?”

Mendengar ucapan tersebut, buru-buru Yu Siau lam menjura kearah Bu-jian tootiang.v”Oooh…. rupanya tootiang adalah Cing-siu koancu!” katanya, “aku yang muda Yu Siau- lam mengucapkan banyak terima kasih atas bantuan serta pertolongan yang telah koancu berikan”

“Keliru…. Keliru…. Yu kongcu harus mengetahui dulu duduk persoalan yang sebenarnya” Tukas Bu jian tootiang seraya goyangkan tangannya berulang

kali, “Pinto hanya melaksanakan permintaan dari nona Wan Hong-giok untuk menyembunyikan kongcu disini, kemudian secara kebetulan kujumpai pula Hoa kongcu. Bila berbicara soal budi dan kebaikan. Oh…. Pinto tidak berani menerima penghargaan tersebut!” Hoa In-liong tertawa, ia menyambung dari samping, “Tootiang, engkau terlalu merendahkan diri. Sekalipun hanya menyembunyikan saudara Siau-lam, tapi bila perbuatanmu tidak kau lakukan dengan berhati-hati, bisa jadi akan mendatangkan bencana yang mengakibatkan kematianmu.

Bayangkan saja, bttapa besarnya pahala yang telah kau berikan kepadanya? Cuma, aku rasa soal budi dan kebaikan cuma hiasan bibir yang hanya dibicarakan saja. Marilah, kita bercakap-cakap di luar saja”

Bu-jian tootiang tidak dapat berbicara lagi, sedang Yu Siau- lam dengan pelbagai pertanyaan yang memusingkan kepalanya menurut saja atas perkataan sobatnya. Merekapun menuju ke ruang depan.

Setelah mereka bertiga tiba diluar, Yu Siau-lam dengan tidak sabaran lagi segera menanyakan kisah tertangkapnya Hoa In-liong oleh Kiu-im- kaucu serta bagaimana caranya hingga dia tahu kalau dirinya sudah kena ditangkap oleh Hong Seng beserta komplotannya? 

Hoa In-liong pun menerangkan satu demi satu hingga akhirnya ia berhasil menyelamatkan jiwanya,

Selesai bercerita, pemuda itu menambahkan, “Saudara Siau-lam, apakah racun yang bersarang ditubuhmu adalah akibat dari gigitan makhluk beracun yang dipelihara dalam hiolo darahku?”

Yu Siau-lam segera mengangguk. “Yaa benar!” Sahutnya dengan murung bercampur marah, “Dalam hiolo darah itu, mereka pelihara berpuluh-puluh jenis makhluk beracun yang rata-rata merupakan makhluk paling berbahaya didunia ini. Setiap satu jam sekali mereka gunakan makhluk beracun yang berbeda untuk menyiksa aku dan melukai dadaku. Mereka paksa aku untuk memberi tahukan jejak yang berhubungan dengan kau. Sebetulnya idee jahat ini diusulkan oleh si nona baju merah. Sungguh tak kusangka rupanya ia adalah seorang nona yang punya maksud tertentu, akhirnya dia juga yang telah selamatkan selembar jiwaku”

Tiba-tiba Hoa In-liong bangkit berdiri. “Harap kalian berdua duduk sejenak disini akan kumusnahkan lebih dulu hiolo darah yang jahat itu!” serunya.

Mula-mula Yu Siau-lam agak tertegun menyusul kemudian cegahnya sambil goyangkan tangannya berulang kali. “Eeeh eeh nanti dulu!, nanti dulu! Jangan terburu napsu! Setelah gagal menyandaki dirimu, aku pikir Hong Seng pasti sudah balik ke ruangannya. Dari pembicaraan yang berhasil siau-te sadap selama ini, dapat kuketahui bahwa mereka miliki serangkaian ilmu Hiat-teng-toh-han-tay-hoat (ilmu hiolo darah pembetot sukma) yang luar biasa lihaynya. Sebelum mengambil sesuatu tindakan lebih baik kita rundingkan dulu semasak-masaknya”

“Aku rasa tak perlu dirunding lagi!” tolak Hoa In-liong dengan wajah yang membara, “Dari sebutan ilmu Hiat-teng- toh-hun-tay-hoat mereka itu, dapat kuketahui bahwa kepandaian itu lebih mengandalkan keampuhan dari makhluk- makhluk beracun yang dipelihara dalam hiolo berdarah daripada mengandalkan kekuatan sendiri. Bila hiolo darah itu berhasil kupunahkan, niscaya merekapun tak mampu mencelakai orang lain lagi “

“Eeeh…. Nanti dulu!” kembali Yu Siau-lam mencegah, “Bukankah tadi kau katakan bahwa nona baju merah itu telah memberi segumpal kertas untukmu? Kenapa tidak kau baca dulu isi suratnya sebelum mengambil keputusan lebih jauh?” Setelah diingatkan kembali, Hoa In-liong baru teringat kalau surat yang dilemparkan Wan Hong-giok kepadanya belum diperiksa. Cepat kertas itu dirogoh keluar dari sakunya dan diperiksa isi surat tersebut.

Maka terbacalah surat itu berbunyi demikian, “Ditujukan buat Hoa Kongcu In-liong yang terhom at, Sejak berpisah di kota Lok-yang, nasib tak mujur telah menimpa diriku. Tak kusadari diriku telah berjumpa dengan orang-orang dari Mo- kauw. Waktu itu lantaran aku dengar dalam pembicaraan mereka bermaksud tidak baik terhadap kongcu, naaka sepanjang jalan kuikuti jejak mereka. Aku ingin tahu apa yang hendak mereka lakukan.

Ai, memang nasib lagi buruk, ternyata karena tindak tandukku yang amat gegabah ini telah diketahui oleh kawanan bajingan itu, akhirnya aku kena ditangkap dan diperkosa oleh Siau Khi-gi.

Tubuhku telah tak suci lagi, aku sudah ternoda ditangan orang. Selama hidupku kini tak punya muka lagi untuk bertemu dengan kongcu “

Membaca sampai disini, Hoa In-liong tak dapat menahan rasa terkejutnya lagi, ia berseru tertahan, “Apa? Ia dinodai orang?”

Haruslah diketahui, walaupun Hoa In-liong itu romantis dan suka bermain perempuan, tapi dia adalah seorang lelaki yang menitik beratkan pada kesetiaan.

Lantaran menyelidiki rencana busuk Hong Seng sekalian yang hendak mencelakai jiwanya, Wan Hong-giok telah diperkosa orang. Bagaimanapun juga peristiwa itu baru terjadi karena persoalannya, maka tak aneh kalau ia menjerit tertahan saking kaget dan terkesiapnya. Yu Siau-lam sendiri juga kaget ketika mendengar seruan kaget itu. Sambil melompat bangun segera teriaknya. “Siapa yang ternoda?”

Sesudah ditegur orang, Hoa In-liong baru menyadari kesilafannya, cepat surat itu diangsurkan kepada Yu Siau-lam. “Nona baju merah itulah yang kumaksudkan” Sahutnya kemudian, “Ia sudah dinodai deh Siau Khi-gi, laki-laki berdandan sastrawan itu!”

“Apakah kau tahu dari isi surat itu?”tanya Yu Siau-lam tercengang, “Mari kita membacanya bersama-sama!”

Surat itu tidak diterimanya, tapi ia maju kemuka dan berdiri bersanding disamping Hoa In-liong.

Bu-jian tosu ikut maju pula, merekapun membaca bersama isi surat selanjutnya, “ Setelah ternoda, sebenarnya aku ingin menghabisi nyawa sendiri. Tapi mengingat rencana busuk mereka menyangkut keselamatan umat persilatan yang ada didunia ini dan lagi membayangkan pula kelangsungan hidup dari keluarga ayahmu, maka dengan menahan derita dan siksaan kulanjutkan hidupku yang terhina ini.

Kuikuti terus kemanapun mereka pergi. Aku ingin menyelidiki rencana busuk mereka lebih jauh serta berharap dapat bertemu sekali lagi dengan diri kongcu.

Tapi yaa, aku tak tahu dimanakah kongcu berada pada saat ini. Maka dalam keadaan terpaksa, aku hanya bisa menganjurkan kepada Hong

Seng si iblis itu agar menggunakan siksaan paling keji untuk menyiksa sahabatmu “ Membaca sampai disini, Yu Siau lam lantas menjadi paham aku duduk persoalan yang sebenarnya, ia lantas berpikir, “Ternyata ia memang bermaksud tertentu dengan perbuatannya, aku tak boleh menyalahkan dia kalau begitu”

Maka diapun melanjutkan membaca isi surat itu, “

Tetapi, aku yang rendah telah memberi obat pemunah untuk sahabatmu itu, musti tidak lengkap obat pemunahnya, namun aku rasa cukup untuk mempertahankan jiwanya.

Setelah membaca surat ini, harap kongcu segera mencari Bu-jian kongcu, dia dapat menghantar dirimu untuk bertemu dengan sahabatmu”

Dibawahnya tak ada tanda tangan melainkan terdapat lagi sebaris tulisan yang lembut, kecil dan rapat, tulisan itu berbunyi demikian, “Surat ini kubuat dengan tergesa-gesa.

Banyak lagi persoalan yang tak dapat kubicarakan disini. Tiga hari kemudian pada kentongan ketiga tengah malam akan kunantikan kedatangan kongcu dipuncak bukit Yan-san. Selain akan kuserahkan sisa obat penawar yang tak sempat kuberikan, akan kuterangkan juga segala sesuatu yang kuketahui. Semoga kongcu bisa datang tepat pada waktunya, jangan lupa! Jangan lupa.’”

Surat itu ditulis secara tergesa-gesa, terutama sekali kata- kata terakhir yang berupa tulisan “jangan lupa” itu, bisa diketahui betapa gelisahnya Wan Hong-giok waktu itu.

Selesai membaca isi surat tersebut, pertama-tama Bu-jian tootiang yang menghela napas lebih dulu, katanya, “Begitu dalam perasaan cinta nona Wan, begitu pedih perasaan hatinya, mungkin sukar ditemukan keduanya didunia ini” Betapa tidak? Setelah ternoda ia rela mengikuti musuhnya, setelah tahu bakal celaka ia mengikuti terus kemana musuhnya pergi.

Bahkan walaupun dia tahu bahwa Yu Siau-lam adalah sahabatnya Hoa In-liong, ia rela dirinya dimaki kejam dan telengas asal jejak Hoa In-liong dapat diketahuinya. Dan ia melakukan kesemuanya itu hanya berharap bisa bertemu dengan Hoa In-liong dan menyampaikan semua rahasia yang diketahuinya kepada kekasih hatinya itu.

Dari sini dapat diketahui betapa dalamnya rasa cinta Wan Hong-giok terhadap sianak muda itu, terbukti dari isi suratnya yang begitu memilukan hati.

Untuk sesaat lamanya Hoa In-liong hanya berdiri termangu- mangu seperti orang bodoh hatinya betul-betul terharu dan sedih.

Yu Siau-lam sendiri gelengkan kepalanya berulang kali, katanya dengan hati yang sedih, “Nona Wan terlalu polos pikirannya. Coba pandangannya tidak secupat itu, tentu lain pula keadaannya”

Ditepuknya bahu Hoa In-liong dengan lembut, kemudian menambahkan, “Saudara In-liong aku lihat nona Wan ada maksud untuk menghabisi nyawa sendiri. Tiga hari kemudian siau-te akan temani dirimu pergi ke bukit Yan-san. Akan kunasehati dengan sungguh-sungguh ia ternoda bukan karena kesilafan sendiri melainkan karena dipaksa orang lain. Rasanya ia tak usah malu terhadap nenek moyangnya, menyesali diri sendiri itu tak ada gunanya”

“Ternoda menahan derita, ternoda menahan derita ” Gumam Hoa In-liong dengan wajah aneh. Tiba-tiba ia putar badan dan lari menuju ke pintu luar.

Cepat Yu Siau-lam ikut bangkit dan menyusul dari belakangnya. “Saudara In-liong, mau kemana kau?” teriaknya keras.

“Akan kujagal Siau Khi-gi bangsat terkutuk itu” Sahut Hoa In-liong sambil lari terus ke muka, “Akan kubalaskan dendam sakit hati dari nona Wan!”

“Jangan ngaco belo!”‘ bentak Yu Siau-lam dengan gelisah, “Kalau toh seorang perempuan sudah ternoda, sudah semestinya kalau ia tidak menikah lagi dengan pria lain, karena tidak kau tanyakan dulu pendapat dari nona Wan?

Mana boleh kau lakukan tindakan yang ngawur hanya menuruti nafsu sendiri?”

Teguran itu ibaratnya guyuran air dingin sebaskom yang menimpa kepalanya, untuk sesaat

Hoa In-liong jadi tertegun dibuatnya, langkah kakinya ikut menjadi lambat.

Yu Siau-lam melompat kemuka dan menghadang dihadapannya, katanya lebih jauh dengan lembutt, “Saudara In-liong, aku lebih tua beberapa tahun dari padamu, maukah engkau menuruti perkataan ku?”

Hoa In-liong bukannya seseorang yang tak tahu diri, Ia sendiripun merasa bahwa tindakan seperti itu tidak pantas dilakukan oleh seorang jago seperti dia, maka diapun tertawa menyesal. “Aaaai…. Siau-te memang sedikit terburu nafsu dan terlalu menuruti emosi” Ujarnya kemudian sambil menghela napas panjang, “Menyesal tindakanku tadi telah mencemaskan saudara Siau-lam…. Yaa, jika engkau ada nasehat, katakaalah keluar, siau-te akan mendengarkan dengan seksama!”

“Tak usah kau bicarakan tentang kata-kata sopan” tukas Yu Siau-lam dengan tenang. Digenggamnya tangan pemuda itu erat-erat, “Aku hanya berharap agar kau suka berpikir lebih cermat lagi. Tahukah kau kenapa nona Wan menahan segala penderitaan dan penghinaannya setelah mengalami perkosaan?”

Hoa In-liong termenung sebentar sebelum menjawab, “Terus terang kukatakan, nona Wan merasa tertarik dan jatuh hati kepadaku. Dalam pandangannya yang pertama, ia bersedia menanggung semua derita dan penghinaa, tak lain karena soal cinta. Ia menguatirkan keselamatan siaute, takut siaute tak tahu keadaan yang sebenarnya dan kena digarap orang-orang Mo-kauw”

Yu Siau-lam mengangguk beberapa kali. “Nah, itulah dia.

Jika pihak Mo-kauw tidak memiliki suatu tindakan yang sangat lihay. Tidak merencanakan suatu rencana busuk yang besar dan berbahaya, apa gunanya nona Wan bersikap seserius itu? Buat apa bersikeras ingin berjumpa muka denganmu dan ingin menyampaikan sendiri semua persoalannya kepadamu? Lebih- lebih lagi sikapnya yang menggunakan setiap kesempatan yang ada untuk berkomunikasi denganmu, contohnya ia menyampaikan gumpalan surat tersebut ke padamu?”

Pelan-pelan Hoa In-liong mengangguk. “Lalu bagaimana menurut pendapatmu?” tanyanya kemudian.

“Siau-te sih tidak mempunyai pendapat lain. Aku cuma merasa bahwa persoalan ini tak boleh dihadapi secara gegabah. Apalagi didalam suratnya nona Wan telah peringatkan bahwa persoalan ini menyangkut keselamatan umat persilatan, dan keselamatan hidup dari ayahmu sekeluarga, “Aku pikir jika Hong Seng dan komplotannya tidak memiliki suatu kekuatan yang bisa diandalkan, belum tentu nona Wan bersedia mempercayai ucapan mereka dengan begitu saja, bila sekarang kau ambil tindakan secara gegabah. Kalau sampai menemui marabahaya, betapa menyesalnya kau dan lagi bukankah tindakanmu itu akan menyia-nyiakan jerih payah serta pengorbanan nona Wan selama ini?”

Keadaan Hoa In-liong pada saat ini benar-benar sudah menjadi tenang, sebagai seorang pemuda yang berotak cerdas, setelah mengalami pemikiran yang lebih mendalam, dapat disadari olehnya dimana letak kelihayan dari persoalan itu, masalah semacam ini memang benar-benar tak boleh ditanggapi secara gegabah,

“Aaai…. Agaknya kita baru bisa menyusun rencana lagi sehabis berjumpa dengan nona Wan” keluhnya kemudian sambil menghela napas panjang.

“Itu sih tidak perlu” seru Yu Siau-lam lagi, “Atau paling sedikit, rencana busuk pihak Mo-kauw sedikit banyak sudah kita ketahui lebih duhulu “

“Tentang soal ini, siau-te sendiripun sudah memikirkannya. Apalagi ketika diadakan penggalian harta karun dibukit Kiu-ci- san, justru Mo-kauw kaucu Tang Kwik-siu menderita kekalahan total ditangan ayahku. Waktu itu dia pernah sesumbar demikian: Barang pusaka milik Seng sut-pay untuk sementara waktu dititipkan kepada ayahku. Sepuluh tahun atau seratus tahun kemudian bila dari Seng-sut-pay muncul orang yang berbakat, barang pusaka itu pasti akan diminta kembali. Dan kini urusan telah menyangkut keluargaku, ini berarti mereka pasti sudah merasa bahwa saatnya membalas dendam telah tiba. Tang-kwik kaucu pasti menganggap kekuatannya sudah mampu untuk melawan ayahku, maka kedatangannya ketimur kali ini bukan saja untuk menuntut kembali barang pusakanya, tentu diapun akan membalas pula sakit atas kekalahan yang pernah dideritanya dahulu”

Yu Siau-lam mangut-mangut. “Yaa…. Yaa…. Aku rasa tentu begitu. Karenanya kau lebih-lebih tak boleh menempuh bahaya.”

Hoa In-liong tersenyum, selanya, “Aku tak takut menempuh bahaya, cuma aku merasa tak ada keperluannya untuk menempuh bahaya”

“Kalau kau sudah paham, itu lebih baik lagi” Yu Siau-lam ikut tertawa pula, “Mari kita bercokol beberapa waktu lagi disini. Jika Hong Seng tidak berhasil temukan jejakmu, dia pasti akan pergi tinggalkan tempat ini”

Bu-jian tootiang yang selama ini hanya membungkam terus disamping, tiba-tiba menyela, “Pinto rasa cara ini memang paling tepat. Biar pinto yang ke atas untuk melihat keadaan, sekalian akan ku bawakan pula sedikit makanan untuk kongcu berdua”

“Terima masih atas perhatian koancu!” seru Yu Siau-lam sambil berpaling dan tertawa.

Cepat Bu-jian tootiang goyangkan tangannya kali. “Aaah….

Tidak terhitung seberapa…. Tidak terhitung seberapa…. kalian tak usah sungkan-sungkan!”

Walaupun diluaran dia berkata begini, ternyata kakinya sama sekali tidak beranjak dari tempat semula.

Menyaksikan kesemuanya itu Hoa In-liong lantas mengerti maksud orang, cepat ia meroboh ke dalam sakunya dan mengangsurkan sebuah botol porselen ke tangannya seraya berkata, “Isi botol porselen ini adalah pil cing-hiat wan. Siapa saja yang keracunan tentu akan sembuh kembali bila menelan satu butir saja. Bawalah pergi botol ini tootiang!”

Setelah menerima botol porselen itu, Bu-jian tootiang segera memberi hormat. “Terima kasih atas pemberian Hoa kongcu “

“Waaah….waaah…. tadi kan sudah bilang, tak usah pakai segala macam adat dan sanjungan yang kosong” Tukas Hoa In-liong sambil tersenyum, “Silahkan tootiang berlalu, minumkan mereka dengan air putih”

Bu-jian tootiang ikut tertawa terbahak-bahak. “Haa…. ha…. ha…. Hoa kong cu memang pandai sekali bergurau “

Ia ingin mengucapkan terima kasih lagi, tapi ketika teringat sesuatu kata-kata selanjutnya lantas ditelan kembali ke dalam perutnya. Selesai memberi hormat diapun berlalu dari situ.

Yu Siau-lam dan Hoa In-liong saling berpandangan sekejap.

Menanti bayangan punggung dari Bu jian tootiang sudah lenyap dari pandangan, mereka baru putar badan dan masuk kembali ke dalam.

Siapa tahu ketika mereka berdua hampir masuk ke pintu utama, tiba-tiba didengarnya Bu-jian tootiang sedang

menjerit-jerit seperti orang kalap, “Kebakaran….! Kebakaran….

!”

Jeritan itu bernada kaget, ngeri dan memilukan hati. Tanpa tanpa terasa Yu Siau-lam dan Hoa In-liong berdiri berpandangan dengan hati terkesiap

Salang sesaat kemudian, terdengar Bu-jian tootiang berteriak teriak lagi, “Kalian…. Kalian…. Betul-betul amat kejam!” Ucapan tersebut diulangi sampai beberapa kali. Dari sini dapatlah diketahui bahwa dalam kuil Cing-siu-koan telah terjadi perubahan besar yang sama sekali diluar dugaan.

Hoa In-liong merasakan jantungnya berdebar keras, cepat serunya dengan hati cemas, “Ayoh jalan! Kita lihat apa yang telah terjadi”

Tidak menanti jawaban dari rekannya lagi, ia putar badan dan lari keluar, kemudian berkelebat menuju ke pintu masuk ruang bawah tanah.

Yu Siau-lam ikut memburu dari belakapg, selang sejenak kemudian mereka sudah berada diluar ruang rahasia tersebut. Apa yang terlihat?

Ternyata kuil Cing-siu koan telah berubah menjadi puing puing yang berserakan.

Hanya dalam beberapa jam yang amat singkat, kuil Cing- siu-koan yang begitu mewah tinggal puing-puing yang berserakan dimana-mana. Amukan jago merah masih tampak disana sini.

Ruang tengah yang megah juga masih berada di tengah kobaran api. Jilatan api yang menyala disana-sini mendidihkan pula darah dalam tubuh Yu Siau-lam serta Hoa In-liong.

Mereka rasakan kemarahan yang memuncak sampai ke ubun- ubun.

Sesosok bayangan manusia berlarian tiada hentinya diantara jilatan api sambil menjerit-jerit seperti orang kalap.

Bayangan itu bukan lain tubuh dari Cing-siu koancu.