Rahasia Hiolo Kumala Jilid 15

Jilid 15

MENDENGAR sampai disitu, Hoa In-liong merasakan hatinya bergolak keras, diam-diam pikirnya, “Tookoh ini boleh dibilang merupakan sahabat paling akrab dari keluarga Hoa kami. Jika ayah mempunyai sobat semacam ini, kenapa nenek hanya diam diri belaka tanpa mengurusinya? Kenapa nenek tidak berusaha untuk menjemputnya pulang kerumah?”

Sebagaimana diketahui pemuda ini adalah seorang pemuda yang romantis, ia tahu “sahabat karib” macam begini paling sukar ditemukan, hingga tanpa disadari timbullah rasa simpatiknya terhadap Tiang-heng Tookoh. Ia merasa tidak sepantasnya kalau nenek tidak mengurusi persoalan itu sebijaksana mungkin.

Dalam pada itu Tiang-heng Tookoh telah berkata lagi setelah menghela napas panjang, “Tentang persoalan ini lebih baik tak usah kita bicarakan lagi. Tadi bukankah kau bilang kalau putranya Pek Kun-gi telah ditugaskan terjun ke dalam dunia persilatan untuk menyelidiki peristiwa pembunuhan itu? Tahukah kau sekarang dia berada dimana?”

“Beberapa hari berselang, dia bersama putranya Kanglam Ji-gi telah berkunjung ke Gi-sim-wan untuk menyelidiki asal usulnya. Anak itu kabarnya sekarang dia sudah ditangkap oleh kaucu!” “Kau maksudkan Kiu-im kaucu?” seru Tiang-heng Tookoh dengan terkejut, “Jadi Kiu-im kaucu juga sudah datang ke kota Kim-leng?”

Pui Che-giok mengangguk. “Ya, dia sudah ditangkap Kiu-im kaucu. Ketika Che-giok mendengar kalau ia sudah tertangkap segera kugerakkan semua anak murid kita untuk menyelidiki persoalan ini sampai jelas. Tapi hingga kini kami masih belum berhasil menemukan tempat tinggal Kiu-im kaucu”

Tiang-heng Tookoh termenung dan berpikir beberapa saat lamanya, tiba-tiba ia berkata, “Pintar juga bocah itu, ia bisa mencari Kiu-im kaucu berarti sudah ia temukan sasaran yang se-benarnya. PinTo-cukup memahami bagaimanakah watak dari Kiu-im kaucu itu. Dia licik banyak akal dan kejam, tanpa tujuan tertentu tak mungkin ia muncul kembali didalam dunia persilatan…. Aaaai…. bila bocah ini sampai terjatuh ke tangannya, bukan saja dia tak akan berhasil mendapatkan sesuatu, mungkin nasibnya lebih banyak buruknya daripada beruntung”

Dugaan tersebut sama sekali bertolak belakang dengan kenyataan. Tapi lantaran ucapan tersebut diutarakan Tiang heng Tookoh dengan nada kuatir den penuh perhatian, bukan saja Hoa In-liong tidak merasa geli, sebaliknya malah semakin menambah kesan baiknya terhadap perempuan itu.

Sementara itu Pui Che-giok sudah berkata lagi, “Menurut hasil penyelidikan yang berhasil Che-giok lakukan, peristiwa terbunuhnya Suma tayhiap mencakup suatu hubungan persoalan yang luas sekali. Pembunuhan itu bukan dilakukan oleh pihak Kiu-im kau belaka. Tapi berhubung tanda yang ditinggalkan pembunuh itu adalah lambang dari totiang, maka orang-orang Liok-soat-san-ceng beranggapan bahwa totianglah merupakan orang yang paling dicurigai. Menurut pendapat Che-giok, sudah waktunya bagi totiang untuk membersihkan diri dari segala tuduhan tersebut, daripada harus menanggung kesalahan orang lain, totiang harus membersihkan nama totiang dari segala taksiran yang salah!”

“Tak usah dinyatakan lagi, aku percaya engkau semua tak ada hubungannya dengan peristiwa itu” pikir Hoa In-liong dalam hati.

Waktu itu Tiang-heng Tookoh sudah meaghela nafas lirih. “Aaaai…. Siapa yang bersih dia akan bersih dengan sendirinya. Siapa kotor dia akan menjadi kotor dengan sendirinya.

Sekarang pinto sudah menjadi seorang paderi, apalah arti nama dan kebersihan bagi diriku? Apalagi pinto sudah mengirimkan surat wasiatku ke perkampungan Liok-soat- san- ceng. Giok-teng-hujin yang dulu sudah meninggal dunia banyak tahun berselang, itu berarti hiolo kecil kemala hijau tersebut sudah tiada hubungannya lagi dengan pinto.

Biarkanlah mereka pecahkan sendiri persoalan tersebut?”

Perasaan Hoa In-liong sangat sensitif. Ketika mendengar sampai disitu, ia merasa darah paras yang bergolak dalam dadanya tiba-tiba menggelora hampir saja ia menerjang masuk ke dalam kamar untuk membongkar jejaknya serta menghibur Tookoh tersebut.

Untunglah dihari biasa ia sudah mendapat pendidikan yang berdisiplin ketat, disaat yang gawat ia masih mampu untuk mengendalikan golakan emosinya, hingga tindakan yang gegabah itu tak sampai dilaksanakan dengan begitu saja.

Dengan cepat pemuda itu berpikir, “Giok-teng hujin telah merubah namanya menjadi Tiang-heng, itu berarti ia merasa benci yang tak terkirakan dalamnya. Jika tindakan terlalu gegabah tanpa perhitungan, mungkin malahan akan memancing rasa antipatinya terhadap diriku, bisa jadi malahan kejadian akan berobah makin kacau. Bagaimanapun juga aku tak boleh bertindak semaunya sendiri.”

Sesudah berpikir sampai disitu, emosinya dapat dipadamkan, dan diapun mendengarkan pembicaraan tersebut lebih jauh.

Terdengar Pui Che giok menghela napas ringan lalu berkata. “Aaaai…. Tootiang, apa gunanya engkau selalu menyiksa diri sendiri?”

Tiang-heng tookoh tertawa sedih. “Dan kau sendiri mengapa bersusah hati lantaran aku?” balik tanyanya. “Kau mengatakan tak akan menyulitkan keluarga Hoa, tapi selalu teringat untuk mendirikan perkumpulan Cha-li-kau. Dimanakah letak tujuanmu itu? Bukankah perasaanmu tidak jauh berbeda dengan perasaan pinto sekarang?”

Tiba-tiba paras muka Pui-Che-giok bersemu merah, sambil tundukkan kepadanya dia membantah, “Che-giok berbuat ini itu hanya berdasarkan perintah dari tootiang belaka. Bila aku mampu, ingin sekali kuterbitkan hujan badai yang amat dahsyat dalam dunia persilatan. Ingin kulihat bagaimanakah tindakannya untuk menyelesaikan persoalan itu”

“Yaa, meskipun demikian jalan pemikiranmu, tapi pada hakekatnya kau selalu melindungi ke-pentingan orang-orang Liok-soat-san-ceng, bukankah begitu….?” sambung Tiang- heng Tookoh sambil tertawa geli.

Warna merah yang menghiasi wajah Pui Che-giok makin membara. Tampaknya dia ingin membantah, tapi tak tahu apa yang harus diucapkan untuk membantah ucapan tersebut.

Tookoh tua yang selama ini hanya membungkam tiba-tiba menghela napas lirih dan menimbrung dari samping, “Aaaai…. Itulah dosa yang harus diterima oleh umat-ya. Kita sebagai perempuan satu kali terlibat dalam urusan cinta, maka selamanya tak akan terlupakan lagi. Heng tooyu, aku kuatir kalau dunia persilatan akan terlibat dalam banyak peristiwa besar lagi”.

“Apakah tooyu mempunyai pendapat lain?” tanya Tiang- heng tookoh sambal berpaling dengan wajah tercengang.

“Kenyataan telah membuktikan dengan jelas bahwa Suma tayhiap bukan manusia sembarangan. Sekalipun pinto juga tahu kalau hubungannya dengan pihak Liok-soat-san-ceng akrab sekali dan sekarang suami istri berdua itu mati bersama dibunuh orang, bukankah peristiwa ini sama artinya dengan suatu tantangan bertempur bagi keluarga Hoa dibukit Im- tiong-san? Sekarang Kiu-im kaucu telah muncul kembali dalam dunia persilatan, apalagi menurut pernyataan nona Pui tadi, tampaknya ada kelompok kekuatan lain yang bersekongkol dengan pihak Kiu-im kau….”

Sebelum tookoh itu menyelesaikan kata-katanya Pui Che- giok telah menyela dari samping, “Itulah perkumpulan Hian- beng-kauw! Dalam tahun tahun belakangan ini anak murid Hian-beng kau banyak yang berkeliaran dalam dunia persilatan. Pelbagai kejahatan mereka lakukan dan kebanyakan orang-orang itu berhati kejam dan berilmu silat tinggi. Menurut hasil pengamatan Che-giok secara diam-diam, telah kubuktikan bahwa ilmu silat yang dimiliki orang-orang itu tampaknya berasal dari sumber yang sama. Dari bertindak gelap-gelapan sekarang mereka sudah bertindak terus terang, malahan kian lama kian terang-terangan dan berani”

“Aaaah….! Siapakah yang menyelenggarakan perkumpulan Hian-beng-kauw itu?” seru Tiang-heng tookoh dengan perasaan terperanjat, hingga paras mukanya berubah. “Sampai kini ketua dari perkumpulan Hian-beng-kauw belum pernah menampakkan diri didepan umum tapi dia mempunyai anak buah yang semuanya mempunyai nama marga serta nama sebutan yang sama yaitu Ciu Hoa. Mereka saring menerbitkan keonaran dimana-mana. Malah, konon dalam pembunuhan yang menimpa diri Suma tayhiap, salah seorang Ciu Hoa turut terlibat dalam peristiwa itu”

“Beberapa puluh orang Ciu Hoa? Bukankah itu berarti mereka sengaja memusuhi Thian-hong?” seru Tiang-heng tookoh dengan penuh golakan emosi

“Memang begitulah keadaannya. Oleh sebab itu Che-giok merasa bahwa too-tiang harus bertemu dengan Hoa tayhtap atau paling sedikit menerangkan duduknya persoalan tentang hiolo kecil kumala hijau tersebut”

Agak lama Tiang-heng tookoh termenung sambil berpikir keras akhirnya ia menengadah dan menggeleng, “Tak perlu, jelas semua kejadian itu merupakan siasat busuk dari Kiu-im kaucu” katanya “Pinto tahu maksudnya mencuri lambang milik pinto tak lain adalah memancing diri pinto agar munculkan diri, kemudian dia akan menggunakan hubungan pinto dimasa lalu untuk berusaha mencelakai Thian-hong sekeluarga.

Andaikata pinto sampai berjumpa muka dengan Thian-hong, justru tindakanku ini sama artinya terjebak dalam perangkap busuknya. Apalagi pinto sekarang adalah seorang paderi. Aku tak mau terlibat lagi dalam urusan budi dendam dalam dunia persilatan. Biarlah mereka beradu kekuatan sendiri!”

Pui Che-giok sangat terperanjat sehabis mendengar perkataan itu, serunya dengan cemas, “Benarkah tootiang tak mau mencampuri urusan

Hoa tayhiap lagi….?” Tiba-tiba Tiang-heng tookoh menghela napas panjang. “Aaai…. Serat Sutera akan berhenti mengalir bila ulat suteranya telah mati. Api Hiolo baru padam bila lilin telah meleleh jadi kering! Che-giok, dirikanlah Cha-li-kau mu dan bantulah dia. Perasaan pinto sudah hambar dan tenagaku sudah musnah. Aku tidak berkemampuan apa-apa lagi sekarang”

“Tentang soal ini….” Pui Che-giok jadi gelagapan dan tergagap dibuatnya.

“Pergilah dari sini!” tukas Tiang-heng tookoh lebih jauh sambil ulapkan tangannya “Anggaplah dimasa lampau pinto sudah bertindak teledor, sehingga tidak kuketahui kalau engkaupun menanam bibit cinta terhadap Thian-hong dan sekarang setelah kupahami, sayang aku tidak berkemampuan spa apa lagi. Apa yang bisa pinto lakukan sekarang hanyalah membeli nasehat padamu, Cintailah siapa yang kau cintai, walaupun belum tentu akan peroleh hasil yang diharapkan.

Maafkanlah kegagahan dan keberanianmu sebagai seorang pendekar dimasa lampau, bangunlah suatu kejayaan dan kesuksesan oengan kemampuan yang kau miliki”

Sampai disitu, Hoa In-liong tak dapat membendung air matanya lagi. Ia bersandar ditepi jendela dengan air mata bercucuran, hampir saja kesadarannya punah.

Selang sesaat kemudian, Hoa Ngo menyusup ke sampingnya, lalu berbisik dengan ilmu menyampaikan suara, “Liong-ji, ayah kita pergi!”

Dengan terkejut Hoa In-liong sadar kembali dari lamunannya, ia merasa suasana dihadapannya telah berubah jadi gelap gulita. Lampu dalam ruangan telah dipadamkan, sedang Pui Che-giok dan muridnya entah sedari kapan telah mengundurkan diri dari situ. Perasaannya waktu itu adalah suatu perasaan yang kosong, murung dan penuh kesedihan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun ia mengikuti di belakang Hoa Ngo meninggalkan tookoan tersebut dan berlarian menuju ke arah bukit.

Diatas bukit terdapat sebuah gardu peneduh air hujan yang dibuat dari anyaman jerami. Dalam gardu itulah Hoa Ngo menghentikan gerakan tubuhnya.

Setelah suasana hening untuk sesaat, ia berpaling dan memandang sekejap ke arah Hoa In-liong, lalu bertanya, “Anak Liong, bagaimanakah perasaanmu pada saat ini?”

“Aaaai….!” Hoa In-liong menghela napas panjang, “Sungguh tak kusangka kalau Giok-teng hujin sebenarnya adalah manusia macam begitu….”

Hoa Ngo manggut-manggut. “Duduklah. Ngo-siok hendak bercakap-cakap dengan dirimu!”

Hoa In-Iiong duduk dibangku panjang, lalu bertanya, “Ngo- siok, banyakkah yang kau ketahui tentang masa lampau Giok- teng hujin?”

“Walaupun banyak yang ngo-siok ketahui, tapi kenyataan yang sesungguhnya tidaklah begitu jelas. Tapi setelah berjumpa dengan orangnya sendiri barusan, apalagi sesudah mendengarkan pembicaraan mereka, ngo-siok baru merasa bahwa cara berpikirku dimasa lampau sedikit picik dan berjiwa sempit”

“Ooh…. Jadi tempo dulu kaupun belum pernah bertemu muka dengan Giok Teng Hujin?” tanya Hoa In-liong dengan alis mata berkenyit. “Yaa, sampai sekarang baru kali ini kutemui diri Giok-teng hujin yang sebenarnya. Dahulu, kesan burukku terhadap Giok- teng hujin boleh dibilang sangat mendalam. Bila aku tahu kalau dia sebetulnya adalah manusia macam begini, tak nanti kuperintahkan dirimu untuk mengejar jejaknya sampai disini”

“Apa yang sebenarnya terjadi? Tampaknya dia selalu bersikap baik terhadap ayah!”

Hoa Ngo menghela napas panjang. “Justru lantaran dia menaruh perasaan cinta yang mendalam tarhadap ayahmu, maka Ngo-siok baru menaruh pandangan yang sempit terhadap karakternya. Aku selalu merasa bahwa pelimpahan rasa cinta harus dipusatkan pada satu titik. Setelah ayahmu berhubungan deogan kedua orang lbumu, tidaklah pantas baginya untuk berhubungan dengan perempuan-perempuan lain”

Rupanya Hoa In-liong tidak setuju dengan pandangan semacam itu, cepat bantahnya, “Aaaaai…. Aku rasa hal ini tergantung pada perempuan macam apakah yang dihubungi. Kalau perempuan itu macam Giok-teng hujin….”

“Haa…. haaa…. haa…. Begitu ayah, begitulah anaknya.

Dalam soal ini engkau banyak kemiripannya dengan ayahmu. Cuma bedanya, kalau ayahmu sedikit membatasi diri, maka kau menganggap setiap perempuan cantik yang ada di dunia ini kalau bisa jadi pacarmu semua, bukan begitu anak Liong?”

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karena jengah, sahutnya tersipu-sipu, “Baik laki-laki maupun perempuan semuanya kan manusia. Terhadap kaum laki-laki aku juga bersikap sama baiknya!”

Hoa-ngo tertawa. “Berbicara tentang soal ini, Ngo-siok hendak memperingatkan dirimu dengan suugguh-sungguh. Ketahuilah antara laki-laki dan perempuan itu ada batasnya. Banyak teman laki-laki itu baik dan menguntungkan tapi teman perempuan yang akrab lebih baik satu-dua orang saja sudah cukup. Bila engkau tak dapat membatasi diri sendiri, sampai waktunya untuk kawin nanti, orang lainlah yang akan kau buat menderita karena urusan cinta. Kejadian ini sangat merusak nama baikmu dan ngo-siok paling tidak setuju”

“Tak usah kuatir ngo-siok. Aku masih dapat membatasi diri dengan otak yang sadar” Jawab Hoa In-liong sambil mengerutkan dahi.

“Mau dirubah atau tidak terserah kepadamu sendiri. Bila kau suka bermain perempuan disana-sini, suatu ketika Ngo- siok tentu akan menghajar dirimu habis-habisan. Engkau harus menggunakan kejadian yang menimpa Giok-teng hujin sebagai suatu contoh, agar tindakanmu selanjutnya tidak ceroboh”’

“Sudah tahu…. Ngo-siok, Aku sudah tahu! Apa hanya persoalan ini yang hendak kau bicirakan denganku?” Hoa In- liong mulai tak sabaran dan membantah.

“Tentu saja ada persoalan lain yang hendak ku bicarakan denganmu!”

“Kalau begitu, bicarakan saja persoalan yang sesungguhnya, tak utah kuatir, pesanmu tak akan kulupakan untuk selamanya”

Waktu kecil Koa Ngo tidak binal dan licik, tapi sekarang setelah bertemu Hoa In-liong yang lebih binal, ia betul-betul mati kutunya, sama sekali tak mampu berbuat apa-apa.

Maka setelah tertegun beberapa saat lamanya ia pun menggelengkan kepalanya berulang kali. “Baiklah! Kita bicarakan masalah yang serius saja. Apakah surat wasiat dari Giok-teng hujin masih berada disakumu?”

“Eeeh….Ngo-siok. Kenapa secara tiba tiba kau singgung soal surat tersebut?”

“Sini, serahkan kepadaku!” perintah Hoa-Ngo sambil rentangkan tangan kanannya.

“Aneh, kenapa harus diberikan kepadamu?” tanya Hoa In- liong dengan wajah tercengang, “Waktu nenek serahkan surat itu padaku, beliau telah berpesan kecuali dikembalikan langsung kepada Giok-teng hujin pribadi, bilamana perlu surat itu harus dimusnahkan. Siapapun tak boleh melihatnya, tentu saja termasuk Ngo siok sendiri!”

“Yaa, soal itu aku tahu” sahut Hoa Ngo sambil manggut- manggut, “Tapi neneklah yang memerintahkan kepadaku untuk minta kembali surat wasiat tersebut”

“Oooh…. Jadi Ngo-siok sudah pulang ke gunung?” tanya anak muda itu sedikit curiga.

“Aku datang dari rumah!” “Apa yang dikatakan nenek?”

“Nenek rupanya sudah tahu kalau Giok-teng hujin belum meninggal dunia. Beliau kuatir surat itu bisa hilang kalau kau bawa terus kesana kemari, andaikata sampai ditemukan orang, waah…. kalau itu orang lain pasti akan menggunakan surat tersebut untuk memeras kita dan kejadian macam begitu bisa jadi akan merusak nama baik ayahmu”.

Tiba tiba ia merasa tidak semestinya membicarakan persoalan semacam itu dengan Hoa In Liong mendadak sontak ia menghentikan pembicaraannya, lalu dengan wajah berubah hebat bentaknya lagi , “Cepat berikan padaku. Nenek suruh aku membawa surat itu pulang kegunung”

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia termenung sejenak kemudian baru gelengkan kepalanya berulang kali. “Tidak bisa, Liong-ji tak dapat menyerahkan surat wasiat itu kepada ngo-siok!”

“Kenapa?” teriak Hoa-Ngo dengan mata melotot, rupanya jawaban tersebut sama sekali diluar dugaannya “Memangnya kau tidak percaya lagi dengan Ngo-siok mu?”

“Bukannya liong-ji tidak percaya dengan Ngo-siok tapi lantaran Liong ji menemui kesulitan untuk melakukannya!”

“Kesulitan? Kesulitan apa yang kau jumpai?” Hoa Ngo bertanya dengan wajah keheranan.

“Pertama, surat itu sudah dijahit didalam kaos kutang pelindung badan, sukar rasanya untuk mengambilnya keluar. Kedua, nenek sudah berpesan kepada Liong-ji, siapapun juga dilarang melihat isi surat wasiat itu, maka Liong-ji pikir biarkanlah surat itu berada ditempatnya semula sampai nanti kuserahkan kembali dihadapan nenek”

Hoa Ngo jadi tertegun, tapi sejenak kemudian sudah tertawa tergelak. “Haa…. haa…. haa…. Tak kunyana kalau kau begitu keras kepala! Bagaimana seandainya surat itu sampai hilang?”

“Tak mungkin hilang! Surat itu dijahit dalam kutang pelindung badan, dan kaos pelindung ba-dan itu kukenakan terus kemanapun kupergi. Bayangkan saja bagaimana mungkin bisa hilang? Andaikata sampai hilang, biar Liong-ji tanggung segala hubungannya dihadapan nenek!” Mungkin lantaran terlalu sayang dengan keponakannya yang satu ini, setelah pikir punya pikir Hoa-Ngo merasa cengli juga alasan tersebut, maka ia pun tertawa. “Yaa sudah, terserah padamu sendiri. Tapi waktu aku tiba di kota Kim-leng beberapa hari yang-lalu, aku dengar kau sudah ditangkap oleh Kiu-im kaucu. Bila kejadian macam begini berlangsung satu- dua kali lagi, jangan toh baru sehelai kaos kutang pelindung badan, mungkin kulit badanpun bisa disayat satu lapis. Lain kali kau musti lebih berhati-hati lagi!”

Merah padam selembar wajah Hoa In-liong karana jengah, jawabnya dengan tersipu-sipu, “Tak mungkin ada kedua kalinya, tak usah kuatir paman Ngo-siok!”

“Tak usah kita bicarakan persoalan itu lagi! Kisahkan saja semua pengalamanmu sejak kau tinggalkan gunung!”

Hoa In-liong berpikir sebentar untuk mengumpulkan kembali pengalamannya. Lalu diapun bercerita bagaimana sampai di kota Lok-yang. Bagaimana melakukan perjalanan Ke selatan, berkenalan dengan Kim-leng ngo-kongcu. Bagaimana berpesiar dengan Coa Cong-gi, bertemu dengan Kiu-im kaucu dibukit Ciong-san. Bagaimana dipecundangi Kiu-im kaucu, digantung terbalik oleh Bwee Su-yok dibatang pohon.

Bagaimana bertemu dengan tokoh sakti, mendapat pelajaran Bu-sang-sim-hoat aliran darah terbalik, lalu melepaskan diri dan belenggu Bwee Su-yok, kembali ke kota Kim-leng dan sebagainya…. dan sebagainya.

Dlbalik kisah pengalaman tersebut, ada kejadian aneh, ada kejadian yang berbahaya dan mendebarkan hati, ada pula kejadian yang boleh dibilang melanggar adat kesopanan dan tata cara, tapi bagi pandangan Hoa Ngo, tingkah laku serta perbuatan keponakannya ini masih belum merusak nama baik keluarganya. Dapat menyelesaikan tugas dengan sebaik- baiknya juga termasuk suatu perbuatan yang sukar.

Pokoknya sembari mendengarkan penuturan tersebut, dia manggut-manggut tiada hentinya, kemudian pujinya. “Ehmm….! Besar amat keberanianmu, tingkah lakumu juga terlampau gegabah. Untung saja tak sampai mengakibatkan keadaan yang lebih gawat. Tapi, menurut pandangan Ngo- siok, ada kemungkinan Bwee Su-yok si tiancu dari ruang Yu- beng-tiam bakal mendatangkan banyak kesulitan bagimu dilain waktu”

“Kesulitan apa yang bisa ia berikan padaku?” Hoa In-liong tak mau mengakui, malahan kepalanya semakin didongakkan, “Kan Liong-ji tak ada hubungan apa-apa dengan dirinya. Jika ia pintar lebih baik tioggalkan Kiu-im kau secepat mungkin.

Bila tidak, seperti juga yang lain-lain akan Liong-ji sikat juga dirinya”

“Aaaah…. Kalau cuma ngomong memang gampang, tapi untuk melaksanakannya belum tentu segampang apa yang kau ucapkan sekarang!”

Hoa Ngo berbenti sebentar, lalu mengalihkan pembicaraan ke soal lain, katinya lebih jauh dengan wajah serius, “Liong-ji, soal melacaki jejak pembunuh keji itu boleh kita akhiri dulu sampai disini!”

“Kenapa?” tanya Hoa In-liong kurang paham, “Masa kita tak akan mencampuri lagi dendam berdarah dari Suma siok- ya?”

“Bukannya kita tak mau mencampuri lagi, tapi ditunda untuk sementara waktu. Hingga kini, boleh dibilang jejak pembunuh pembunuh keji itu sudah ketahuan identitasnya. Mengenai pelaksanaan pembalasan dendam itu sepantasnya kalau kau serahkan kembali kepada Jin kokoh- mu untuk melakukannya sendiri”

“Maksud Ngo-siok, Liong-ji harus pulang gunung?” bisik Hoa In-liong dengan perasaan berat hati.

“Oooh, kau sih tak usah pulang gunung. Apa yang kita saksikan malam ini, serta semua pengalaman yang kau alami selama ini biar Ngo-siok yang laporkan kepada nenek. Sedang kau boleh melanjutkan kelanamu dalam dunia persilatan.

Cuma harus kau pertingkat pula perjuanganmu untuk melenyapkan kaum durjana dari muka bumi serta menegakkan keadilan serta kebenaran dalam dunia persilatan kita!”

Tak terkirakan rasa gembira Hoa ln-liong setelah Ngo- sioknya memutuskan dia tak usah pulang kegunung. Sambil meloncat kegirangan serunya setengah bersorak, “Horeeee….! Bagus sekali, aku tak usah pulang kegunung!”

Tiba-tiba patas muka Hoa-Ngo terubah jadi serius, tukasnya, “Dengarkan dulu perkataanku lebih jauh. Ketahuilah tugasmu selanjutnya bukan bertambah enteng tapi justru sebaliknya. Tugas yang akan dibebankan kepadamu berlipat- lipat lebih berat dari sekarang, karenanya tak boleh sekali-kali kau buang sikap waspada dan seriusmu dalam menghadapi pelbagai situasi. Tugas berat ini, akulah yang mintakan bagimu dihadapan nenek jika kau lakukan. Jika kau lakukan tugas ini secara gegabah, merusak nama baik Ngo-siok sih urusan kecil, tapi nama baik keluarga Hoa kita akan tenggelam untuk selamanya, inilah pertaruhan untukmu!”

“Oooh….! Seserius itukah persoalannya?” Seru Hoa In-liong sangat terkejut. “Bukan serius saja, bahkan bencana yang mengancam diri kita semua kian hari kian bertambah dekat dan makin lama semakin berat!”

“Apakah Ngo-siok dapat menyinggung satu dua diantaranya sebagai contoh….” pinta Hoa In-liong berkerut dahi.

“Padahal seharusnya kau sudah dapat menduganya sendiri.

Pergolakan yang terjadi dalam dunia persilatan bukan baru berlangsung sehari

dua hari belaka. Hanya sekarang pergolakan itu semakin kentara saja, kepulangan Ngo-siok kegunung kali inipun….”

“Oooh…. Ngo-siok maksudkan masalah Kiu-im kau dan Hian-beng-kauw?” tukas Hoa In-liong tiba-tiba seperti baru saja memahami apa yang sebetulnya diartikan pamannya.

Hoa Ngo mendengus dingin. “Hmmm….! Coba lihatlah sikapmu yang acuh tak acuh, betul-betul keterlaluan”* tegurnya.

Dengan terkejut Hoa In-liong menjulurkan lidahnya, ia tak berani memberi komentar lagi.

Tiba-tiba Hoa Ngo menghela napas panjang lalu berkata, “Liong-ji, persoalan ini tidak seperti permainan kanak-kanak. Ketahuilah Kiu-im-kauw dan Hian-beng-kauw tidak lebih cuma dua buah kelompok kekuatan yang agak lebih besar saja.

Dibalik kesemuanya itu masih terdapat unsur-unsur iblis yang menggerakkan kekuatan tersebut. Memang keluarga Hoa kita disanjung dan dikagumi kaum pendekar, tapi justru merupakan duri dalam mata bagi pandangan orang-orang kaum sesat. Tak salah lagi kalau orang-orang itu sengaja mencari keonaran terhadap keluarga Hoa kita. Orang bilang manusia itu hidup untuk mencari nama, pohon hidup karena kulit. Soal nama memang kecil artinya, tapi bagaimanakah dengan keselamatan umat persilatan di dunia ini? Bila semua umat manusia terancam bahaya, habislah pamor keluarga Hoa kita dimata orang banyak”

“Liong-ji mengerti akan seriusnya persoalan ini. Liong-ji akan akan memperhatikannya dengan seksama” Kata Hoa In- liong kemudian dengan serius dia bangkit dan memberi hormat.

“Kalau sudah mengerti, itu lebih bagus lagi” sahut Hoa Ngo sambil ikut bangkit berdiri, “Aku pun tidak akan banyak berbicara lagi, segala sesuatunya boleh kau putuskan sendiri”

“Ngo-siok mau pergi?” buru-buru Hoa In-liong bertanya. “Ehmmmm….!” Hoa-Ngo mengangguk, “Aku harus pulang

ke gunung dengan sagera. Oya…. Beberapa waktu berselang kujumpai ada sekelompok orang-orang suku asing memasuki kota Kim-leng. Beberapa orang itu mencurigakan sekali tindak- tanduknya. Bila bertemu di lain waktu, berhati-hatilah sedikit”

Berbicara sampai disitu, dia lantas putar badan dan buru- buru turun gunung.

Memandang bayangan punggung Hoa Ngo yang menjauh, Hoa In-liong hanya bisa berdiri termangu-mangu. Untuk sesaat dia tak tahu apa yang harus dilakukan….

Kepergian Hoa-Ngo sangat tergesa-gesa. Ketergesaannya itu justru mendatangkah suatu tekanan batin yang besar bagi Hoa In-liong.

Sepsrti diketahui sejak kecil ia dibesarkan bersama Hoa- Ngo. Terhadap watak dan kebiasaan pamannya boleh dibilang sangat hapal. Dia tahu Hoa Ngo itu suka bicara blak-blakan dan cerdik, tak pernah ia serius menghadapi masalah macam apapun jua.

Setiap kali pulang dari bepergian, ia paling suka mengajak dirinya adu kecerdasan dan berde-bat dalam segala hal.

Meskipun tiap kali ia selalu kalah dan berada dibawah angin, tapi pemuda ini tak segan segannya untuk menghadapi terus pamannya.

Dan kali ini, Hoa In-liong dapat merasakan bahwa Hoa Ngo telah menyembunyikan perkata-an, rupanya ada sesuatu yang dirahasiakannya. Sikap yang berbeda dengan keadaan biasanya ini segera mendatangkan suatu tanda tanya besar di hati Hoa In-liong.

Pikirannya mula bergolak. Ia merasa pelbagai persoalan seakan-akan berkecamuk menjadi satu dalam benaknya. “Apa yang telah terjadi?. Kiu-im-kauw tak lebih hanya suatu kelompok kekuatan yang merangkak bangun dari liang kuburnya, sedang Hian-beng-kauw juga tak lebih hanya suatu organisasi baru yang muncul belum lama berselang. Orang- orang dari kedua perkumpulan itu pernah kujumpai semua.

Merekapun tidak seseram apa yang kubayangkan sebelumnya. Aku tahu Ngo-siok bernyali besar, berotak cerdik dan tak pernah takut langit dan bumi. Sekalipun berada dihadapan nenek juga tak pernah tegang. Heran, kenapa kali ini dia pergi dengan tergesa-gesa? Masa karena urusan ini saja, dia akan mengganggu ketenangan nenek serta ayah ibuku….?”

Pemuda itu jauh berbeda bila dibandingkan denagan Hoa Thian-hong. Kalau ayahnya Hoa Thian-hong dibesarkan dalam suasana yang serba sulit dan penuh percobaan. Sepanjang hidupnya tak ada yang dijadikan pegangan dan kesuksesannya berhasil didapat karena perjuangannya yang betul-betul hebat, maka dalam setiap pembicaraan mau pun tindakannya selalu serius dan tegas. Maka dia dibesarkan dalam suasana yang menyenangkan serta cukup. Lagipula ada ayah bundanya sebagai pegangan yang kuat, sejak kecil tak pernah kenal arti takut. Sekalipun ada orang memberi peringatan kepadanya dan mengerti bahwa keadaan sangat gawat, namun ia tak pernah memperdulikannya.

Bagi anak muda ini berlaku sistim pukul dulu urusan belakangan.

Orang bilang keadaan alam gampang dirubah, watak manusia susah diganti. Begitulah keadaan pemuda itu, watak tak kenal tingginya langit dan tebalnya bumi sudah menempel sangat dalam-dalam tubuhnya.

Walaupun begitu, jelek-jelek diapun keturunan keluarga persilatan. Apalagi kecerdasannya lebih tinggi dari orang lain. Kewaspadaannya tidak hilang sama sekali karena wataknya itu. Sesudah berpikir sebentar diapun teringat kembali akan pesan dari Hoa Ngo.

Karenanya sambil berpikir, matanya celingukan kesana kemari, kemudian gumamnya seorang diri, “Aaah…. peduli amat, fajar sudah hampir menyingsing. Ada urusan pikirkan saja nanti setelah beristirahat, bagaimanapun jua berpikir melulu tak ada gunanya. Badai yang melanda dunia persilatan dan hawa iblis yang menyelimuti angkasa tak mungkin in bisa kuatasi hanya mengandalkah otak belaka….”

Karena berpikir demikian, dia lantas duduk bersandar tembok. Semua pikiran dibuang jauh- jauh dari benaknya dan perhatiannya dipusatkan untuk mengatur pernapasan. Siang itu, dengan pedang tersoren dipinggang buntalan menggembol dlpunggungm ia berkunjung kembali ke kota Kim-leng.

oooOOOooo

PEMUDA itu masuk kota lewat pintu Ki-bun dan menginap di rumah penginapan yang memakai merek Ban-liong.

Ia tidak langsang menuju ke pasanggrahan pertabiban, ini menunjukkan bahwa keputusan tersebut diambil setelah melalui pemikiran yang panjang dan seksama.

Selesai ganti pakaian dan bersantap, dengan mengenakan seperangkat baju sutera warna biru laut, sepatu indah, menyoren pedang antik dipinggang dan menyimpan tiga botol obat dan untaian mutiara kedalam sakunya, berpesanlah pemuda itu kepada pelayan bahwa ia akan pergi melancong. Kemudian pura-pura sebagai kaum pesiar pelan-pelan ia menyusuri jalanan dikota.

Menurut hasil analisanya, kota Kim-leng yang sekarang merupakan kumpulan dari para jago dari pelbagai golongan. Orang-orang dari Kiu-im-kauw ada disitu, orang orang Hian- beng-kauw ada pula disitu. Malahan menurut pesan Hoa Ngo, dia harus memperhatikan pula beberapa orang suku asing.

Seandainya beberapa suku asing inipun bermaksud membuat keonaran pula dalam dunia persilatan, berarti sudah ada tiga kelompok manusia hadir disana.

Bila ditambah lagi dengan kelompok Si Nio dan majikannya, Cia In dengan gurunya dan ia serta Kim-leng ngo kongcu, berarti pertemuan beberapa kelompok manusia itu sekaligus akan menerbitkan suatu kegoncangan yang luar biasa dalam dunia persilatan. Walau demikian, diapun mengerti, Kim-leng ngo-kongcu tidak berada dikota asalnya. Si Nio dan majikannya mungkin sudah kabur jauh-jauh bila mereka mau menuruti nasehatnya. Sedang Cia In dan gurunya, oleh sebab perkumpulan Cha-li- kau mereka belum dibuka secara resmi, tentu saja kelompok mereka tak akan tampilkan diri secara terus terang.

Sedangkan kelompok ‘beberapa orang Suku asing’ itu, hingga kini jejaknya belum ketahuan. Pihak Hian-beng-kauw juga baru tunjukkan kedua orang ‘Ciu-Hoa’ serta begundalnya. Itu berarti pertarungan tak mungkin berlangsung dalam waktu singkat. Sekalipun terjadi bentrokan kekerasaan kekuatan pihaknya juga tidak terhitung terlalu minim.

Walaupun ia memandang remeh setiap masalah yang dihadapinya, tidak berarti perbuatannya gegabah. Setelah mengalami suatu pemikiran yang serius dan mendalam, pemuda itu merasa bahwa ada beberapa persoalan harus dilaksanakan lebih dahulu.

Pertama, siapa gerangan manusia-manusia yang disebut sebagai ‘beberapa orang suku asing’ itu? Apa tujuan kedatangan mereka? Dimana mereka bercokol saat ini? Dan berapa banyak jumlah kekuatan mereka?

Kedua, jejak Coa Cong-gi harus berusaha dilacak sampai jelas. Seandainya ia sudah ditangkap oleh jago-jago Kiu-im- kauw, ia harus mengusahakan pertolongan lebih dahulu, kemudian baru berusaha untuk mengumpulkan kembali seluruh kekuatan dari Kim-leng ngo-koancu.

Ketiga, Masihkah Kiu-im kaucu bercokol dalam gedung megah itu? Setelah kepergiannya, tin-dakan apa yang dia lakukan? Ia pernah memerintahkan anak buahnya untuk menjalin kontak dengan orang-orang Hian-beng-kauw untuk bersama-sama menghadapi keluarga Hoa, bagaimanakah keadaan situasinya saat ini?

Keempat. Garis besarnya ia sudah memahami tentang latar belakang pembunuhan atas Suma Tiang-cing suami istri, tapi berhubung Giok-teng hujin tidak memberi perjelasan yang lebih mendalam dalam pembicaraannya, seperti misalnya bagaimana caranya sampai hiolo kecil kemala hijau itu bisa tercuri oleh Kiu-im kaucu, serta apa sebabnya Kiu-im kaucu sampai bersekongkol dengan orang-orang Hian-beng-kauw, maka hingga kinii ia masih belum menguasai penuh masalah tersebut.

Bila mana mungkin, dia ingin sekali bertemu dengan Giok- teng hujin, atau Cia In serta guru-nya untuk membicarakan persoalan ini dengan lebih terperinci.

Oleh sebab itulah, tindakan pemuda itu menginap dirumah penginapan, berpesiar dengan menyaru sebagai pelancong boleh dibilang mengandung dua maksud tertentu.

Pertama, dia tak ingin mendatangkan bibit bencana bagi pihak Kang lam Ji-gi.

Kedua dengan berbuat demikian maka jejaknya jadi cukup rahasia. Itu berarti ia dapat bergerak dengan lebih bebss lagi tanpa kuatir diawasi gerak-geriknya oleh lawan.

Disamping itu semua, pemuda itu pun menyusun jadwal tugas-tugas yang harus dilakukan lebih dulu dengan rapi dan teratur.

Menurut pandangan In-liong, menjumpai Giok-teng Hujin tak perlu dilakukan dengan terburu nafsu, sebab hal itu merupakan suatu perbuatan yang tak bisa diminta tapi harus menanti tibanya kesempatan baik. Untuk melakukan penyelidikan atas gerak-gerik pihak Kiu- im-kauw, waktu yang paling baik adalah malam, daripada nantinya perbuatan itu menimbulkan gejala ‘Memukul rumput mengejutkan ular’, mempertinggi kewaspadaan mereka.

Maka ia putuskan untuk menyelidiki lebih dulu indentitas “beberapa orang suku asing” itu sekalian berpesiar di kota Kim-leng sambil menperhatikan apakah Kim-leng ngo-kongcu telah kembali ke kota asalnya atau belum, diantaranya termasuk juga Coa Cong-gi.

Susunan rencananya ini memang cukup cermat teliti dan sempurna seakan-akan dalam waktu setengah hari saja, ia telah kena digembleng sehingga jauh lebih matang.

Waktu itu dengan langkah yang santai Hoa In-liong berjalan menelusuri kota, matanya Celingukan kesana kemari memperlihatkan orang yang berlalu lalang, sehingga akhirnya tanpa terasa sampailah anak muda itu ditepi sungai.

Kota Kim-leng adalah kota niaga dijaman ahala Beng, juga merupakan bandar penting waktu itu, terutama dibagian kota pusat perdagangan, suasana amat ramai. Banyak kaum pedagang dan pelancong berlalu lalang disitu. Bukan saja banyak terdapat warung penjual barang, perusahaan pengawal juga banyak, rumah makan banyuk, warung teh juga tak terhitung jumlahnya

Wilayah pusat perdagangan ini tak kalah ramainya dengan sekitar Hu-cu-bio. Kalau didalam kota, kecuali kaum pedagang, kaum pelancong, tukang perahu, kuli kasar berkeliaran disana-sini. Banyak pula laki-laki berwajah bengis yang luntang-lantung kesana kemari. Percekcokan, perselisihan sudah sering terjadi disekitar sana, maka diapun terbiasa dengan situasi macam begitu. Hoa In-liong membaurkan diri dengan para pelancong lainnya berputar kesana kemari, ak-hirnya karena tidak menemukan orang-orang yang terasa menyolok dalam pandangan, diapun masuk kedalam sebuah warung teh untuk beristirahat.

Seorang pelayan menyambut kedatangannya dengan badan terbungkuk-bungkuk. “Silahkan masuk siau-ya!” katanya, “Diatas loteng masih tersedia tempat yang baik!”

Hoa In-lioog manggut-manggut, dia naik ke tingkat dua dan memilih sebuah tempat yang de-kat dengan jendela.

Buru-buru pelayan itu mempersilahkan tamunya duduk, setelah itu baru ujarnya, “Hee…. heee…. heee…. Jendela ini menghadap ke arah sungai Tiang-kang. Udara segar, pemandangan indah dan tempat dudukpun strategis letaknya. Tuan mau minum teh apa?”

“Sediakan saja teh Bu-oh!” sahut Hoa In-liong sekenanya. Pelayan itu segera tertawa paksa. “Hee…. hee…. hee….

Tentunya kau datang diri propinsi Im-lam bukan?” sapanya

seramah mungkin. “Heee…. hee…. Padahal teh Bu-oh kalah jika dibandingkan teh Bu-gi. Teh Bu-gi masih kalah kalau dibandingkan ten Kun-san. Daripada teh Kun-san lebih baik teh Liong-keng, dan Mao-cian dari teh Liong-keng merupakan teh nomor wahid didunia ini. Tuan, bagaimana kalau hamba sediakan sepoci teh Mao-cian untuk dicobanya lebih dulu?”

“Ehmm…. Tampaknya kau mendalam sekali pengetahuannya tentang soal air teh?” ujar Hoa In-liong sambil menengadah dan tertawa. Pelayan itu tertegun sejenak, lalu bungkukkan badannya berulang kali. “Tuan terlalu memuji, tuan terlalu memuji!”

“Aku minta teh Bu-oh!” seru Hoa In-liong ketus. Paras mukanya berubah serius.

Sekali lagi pelayan warung teh itu tertegun. “Tentang soal ini…. Tentang soal ini….”

“Apa ini itu?” seru Hoa In-liong sambil tertawa terbahak- bahak, “Bukankah teh Bu-oh langka dicari?”

“Yaa…. yaaa…. Benar, benar. Bu-oh memang teh yang langka, harap tuan suka memaafkan” Jawab pelayan itu sambil menjura tiada hentinya dengan jawaban gagap.

Hoa In-liong tertawa tergelak tiada hentinya…. “Haa…. haa…. haaa…. Kalau sudah tahu barang langka, buat apa kau banyak bicara lagi”? Hmm…. aku lihat kau menang lihay berdagang!”

Merah padam wajah pelayan itu karena jengah, kepalanya tertunduk rendah-rendah. “Orang budiman tidak akan lihat kesalahan siau-jin. Harap yaya sudi maafkan!”

“Sana pergi! Sediakan saja air teh apapun, aku doyan air teh dari jenis manapun juga!” kata Hoa In-liong kemudian sambil ulapkan tangannya.

Pelayan itu tak menyangga kalau urusan dapat selesai semudah itu. Ia menengadah dengan jawab tertegun, kemudian setelah memberi hormat, buru-buru turun dari loteng.

Seketika itu juga, perhatian semua tamu yang berada diloteng sama-sama dialihkannya ke arahnya. Pertama karena ia berpakaian ketat menyoren pedang dan bertubuh kekar. Sekilas pandangan orang mengetahui bahwa ia berilmu.

Kedua, karena memilih secawan air teh saja ia telah ribut dengan pelayan warung itu, orang lain mengira pemuda itu sengaja memang mencari gara-gara, maka perhatian orang pun lebih dipertingkat.

Haruslah diketahui, kebanyakan peminum, teh di pagi hari adalah kaum pelancong yarg tidak mempunyai pekerjaan tetap. Manusia bangsa begitu bukan saja gemar mencari urusan. Mereka paling suka mengagumi seorang enghiong membantu kaum yang lemah dan suka nonton keramaian.

Tapi kenyataannya sikap Hoa In-liong sangat ramah, diapun cuma tertawa ringan untuk menyudahi urusan, tak heran lalu banyak orang merasa kecewa atas tindakannya itu.

Hoa In-liong sendiripun tidak terlalu memperhatikan sikap orang. Ia memandang sekejap raut wajah orang-orang itu, kemudian alihkan pandangan matanya keluar jendela, sikapnya yang begitu santai ia sangat mencengangkan orang banyak.

“Ji-ko, tidak lemahkah kemampuan yang dimiliki orang itu?” tiba-tiba terdengar seseorang bertanya.

“Ehmm….! Orang ini tampan dan penuh bersemangat, jelas seorang jago silat yang berilmu tinggi” sahut yang lain.

“Bila kita bisa mendapat bantuannya, tentunya tak perlu diam-diam pulang untuk mencari bantuan lagi” Kata suara pertama dengan parau. “Eeeh…. Sam-te, kau sudah jadi bodoh atau gimana?” tegur orang pertama. “Kita kan tidak kenal dengan dia. Lagipula tidak tahu juga siapakah orang itu, darimana munculnya ingatan semacam itu dalam benakmu?”

Suara yang parau tadi menghela napas panjang. “Aaiiia….

Tapi menolong orang bagaikan menolong api, kita sudah membuang waktu selama satu hari”

Waktu itu meskipun Hoa In-liong sedang menikmati pemandangan alam di sungai, tapi ia memang datang kesitu dengan membawa tujuan tertentu. Sudah barang tentu pembicaraan kedua orang itu dapat didengar olehnya sangat jelas.

Sebagai majikan muda dari Im Tiong-san, Sejak kecil dia memang sudah dididik untuk ber-jiwa ksatria, sifat ingin menolong kaum yang tertindas selalu tertanam dalam jiwanya, maka ketika mendengar kata-kata “menolong orang bagaikan menolong api” mendadak sontak hatinya merasa bergetar keras.

Kebetulan pelayan datang menghidangkan sepoci arak wangi, ia pun berpaling sambil meneguk air tehnya.

Menggunakan kesempatan tersebut ia berpaling ke arah mana berasalnya suara itu.

Disudut loteng ruangan, tepat berada dihadapannya duduklah dua orang laki-laki berusia tiga puluh tahunan. Salah seorang diantaranya bercambang lebat dan bercodet pada keningnya. Orang kedua berperawakan jangkung dan kurus. Di antara alis matanya terdapat tahi lalat besar.

Mereka mengenakan pakaian ringkas yang sama bentuknya, menggembol senjata rahasia, tapi wajahnya ramah dan gagah. Hanya waktu itu terhias perasaan cemas dan tak tenang.

Ketika ia mengawasi kedua orang itu, kebetulan dua orang itupun sedang mengawasi ke arahnya. Maka ketika mata saling bertemu, Hoa In-liong segera berkata sambil tersenyum. “Saudara berdua, bila kalian tidak keberatan bagaimana kalau pindah ke mejaku untuk bercakap cakap?”

Ucapan tersebut terdorong oleh jiwa pendekarnya, tapi ia sudah melupakan tujuan kedatangannya yang sebenarnya. Bukan saja tidak berusaha untuk menjaga diri, dia malah menyapa orang lain lebih dahulu.

Dua orang laki laki itu tampak ragu-ragu sebentar, akhirnya mereka bangkit dan pindah tempat.

Sambil menjura dan memberi hormat, laki-laki jangkung kurus itu memperkenalkan diri: ‘“Aku bernama Liat Ceng-poh, sedang dia adalah sam-te ku bernama Be Si-kiat….”

Hoa In-liong segera balas memberi hormat, katanya pula dengan wajah serius, “Aku bernama Pek-Khi, silahkan duduk!”

Diam-diam ia telah mengambil keputusan, sebelum mengetahui jelas identitas orang yang di-jumpainya, untuk sementara waktu dia akan menggunakan nama palsu.

“Oooh…. kiranya Pek-heng, selamat berjumpa muka, selamat berjumpa muka….” kata Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat hampir bersamaan waktunya, masing-masingpun ambil tempat duduk disisinya.

Begitu kedua orang itu sudah duduk, Hoa In-liong pun bertanya secara langsung dengan berterus terang: Dari pembicaraan saudara berdua, barusan dapat kudengar bahwa: Menolong orang bagaikan menolong api: Boleh aku tahu siapa yang mendapat kesulitan? Kesulitan apa pula yang sedang dihadapi? Bila tidak keberatan, aku bersedia untuk mendengarkannya”

Setelah ucapan tersebut diutarakan, Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat segera saling berpandangan tanpa menjawab, untuk sesaat mereka agak tertegun.

Hoa In-liong tersenyum, kembali ujarnya, “Aaah…. Aku memang terlalu gegabah. Semestinya kalau kujelaskan dulu sikapku, agar kalian tidak sampai menaruh curiga lebih jauh terhadap maksud baikku!”

“Apa yang sebenarnya telah terjadi?” pikir Liat Ceng-poh dihati “Bila dilihat dari tenaga dalamnya yang begitu sempurna, semestinya dia adalah seorang jago sakti yang berilmu tinggi. Tapi mengapa sikapnya begitu polos dan blak- blakan. Seakan-akan seorang jago yang sama sekali tidak berpengalaman sampai berbicara pun tidak dipikirkan lebih dahulu….?”

Be Si-kiat adalah seorang lelaki yang berangasan, dengan cepat dia menyambung? “Aaah…. mana, mana, sungguh tak sangka. Pembicaraan kami yang lirih dapat didengar oleh Pek- heng. Ketertegunan kami tadipun lantaran kejadian tersebut sedikit diluar dugaan. Harap Pek-heng jangan menaruh curiga kepada kami!”

Hoa In-liong mengangguk, “Kalau toh demikian, apa salah kalau Bo-heng terangkan secara langsung latar belakang persoalan yang membebani benak kalian? Asal tidak melanggar soal kebenaran dan keadilan, bilamana memerlukan tenagaku, dengan senang hati aku bersedia membantunya” Kembali suatu pembicaraan yang menunjukkan bahwa pengalamannya masih kurang, sebab walaupun latar belakang persoalan diketahuipun tidak sepantasnya mengucapkan kata- kata seperti itu.

Dalam hati kecilnya Liat Ceng-poh menggerutu, tapi diluaran dia manggut berulang kali. “Yaa…. Yaa…. Kami berdua memang sangat mengharapkan bantuan dari saudara Pek”

Sesudah berhenti sebentar, ujarnya kembali, “Beginilah duduk persolan yang sebenarnya. Beberapa hari berselang, kami tiga bersaudara dengan mengikuti seorang sahabat berangkat ke arah barat karena ada persoalan. Tak nyana sewaktu tiba disekitar kota Mong-yang telah berjumpa dengan serombongan manusia-manusia yang berdandan aneh….”

Penbicaraan yang bertele-tele itu segera membuat Hoa In- liong jadi tak sabar, dahinya berkerut. ‘Saudara Liat, bersediakah engkau untuk bercerita seringkasnya saja….?”

Liat Ceng-poh jadi tersipu sipu. Dengan wajah merah ia tergagap tak mampu berbicara.

Be Si-kiat yang ada disampingnya segera menyela, “Jiko, biar aku saja yang teruskan”. Sambil berpaling ke arah Hoa In-liong dan menatapnya lekat-lekat, ia melanjutkan, “Sebenarnya tujuan kami adalah mencari seseorang. Siapa tahu walau sudah sampai di kota Hong-

yang pun tak ada kabar beritanya, sahabat kami itu pun mulai gelisah. Kebetulan dari arah depan muncul serombongan manusia, maka diapun maju sambil numpang tanya. Siapa tahu tatkala rombongan itu mendengar nama dari orang yang hendak kami cari, tanpa banyak bicara lagi segera menyerang kami dengan kejinya. Suatu pertarungan sengitpun tak bisa dihindari….”

Selama pembicaraan berlangsung dia hanya menggunakan istilah, “sahabat” serta “orang yang dicari”. Sekalipun mengulanginya sampai beberapa kali tak pernah ia sebut nama sebenarnya dari kedua orang tersebut.

Tentu saja Hoa In-liong dibikin tidak habis mengerti, akhirnya dia menyela, “Sebenarnya siapakah sahabat kalian itu? Dan siapakah pula yang hendak kalian cari?”

Mendengar pertanyaan tersebut, Be Si-kiat tertegun, lalu ia menengadah dan celingukan kesana kemari dengan perasaan tidak tenang.

Rupanya Hoa In-liong cukup memahami perasaan orang, dengan suara setengah berbisik kata-nya, “Begini saja, tulislah nama itu diatas meja dengan menggunakan air teh…. .!”

Lian Ceng-poh ada maksud untuk menghalangi rekannya, tapi Be Si-kiat sudah terlanjur manggut. Setelah celupkan jeriji tangannya ke air teh, diapun menulis tiga huruf diatas meja….Hoa In-liong.

Agak terkejut Hoa In liong sewaktu dilihat namanya tertulis dimeja, tapi sebelum ingatan selanjutnya melintas didalam benak, Be Si-kiat telah menulis lagi tiga huruf…. Yu Siau-lam.

Bagaikan disambar geledek ditengah hari bolong, Hoa In- liong menjerit tertahan, “Apa? Yu….”

Tiba-tiba ia sadar bahwa dinding ada telinganya, maka sampai ditengah jalan ia telah mentahkan ucapannya itu. Bersamaan waktunya juga Be Si-kiat maupur Liat Ceng-poh menjerit kaget. “Kau….”

Menyaksikan suara terkejut dari dua orang itu, Hoa In-liong tahu bahwa mereka sudah salah paham. Diapun tertawa lirih. “Harap saudara berdua jangan meayalahkan diriku. Pada hakekatnya akulah sebenarnya Hoa In-liong yang kalian cari”

Be Si-kiat dan Liat Ceng-poh agak tertegun, lalu saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun. Agaknya mereka tidak percaya dengan pengakuan tersebut.

Terpaksa Hoa In-liong memberi keterangan lebih jauh, “Sebetulnya aku diculik oleh Kiu-im kaucu, tapi kemarin malam berhasil meloloskan diri dari mara bahaya. Telah kujumpai pula Yu locianpwee. Pengakuanku dengan nama palsu tadipun kulakukan lantaran keadaan yang terpaksa”

Setelah diberi penjelasan demikian, percayanya kedua orang itu memang sudah percaya. Sayang tenaga dalam yang mereka miliki sangat terbatas sehingga tak mampu untuk mengutarakan isi hati mereka dengan ilmu menyampaikan suara.

Maka setelah berhubungan untuk sesaat lamanya, Liat Ceng-poh ambil keputusan untuk me-ngutarakan isi hatinya dengan menulis dipermukaaan meja. Terbacalah ia menulis demikian, “Yu kongcu ditawan orang. Tujuannya adalah menyelidiki jejakmu. Kemarin saja mereka masih berada di- kuil Ceng-si-koan sebelah barat kota Hong-yang. Bagaimana keadaannya sekarang, agaknya tak usah dijelaskan lagi”

Hoa In-liong jadi amat cemas, dengan ilmu menyampaikan suara serunya kemudian. “Kalau begitu, ayoh. kita segera berangkat!” Liat Ceng-poh gelengkan kepalanya berulang kali. “Toako sedang masuk kota cari bantuan. Bila bantuan telah tiba kita baru berangkat”

“Apakah minta bantuan dari Yu locianpwe?” tanya Hoa In- liong dengan wajah murung.

“Ooooh…. Kami tak akan berani mengganggu ketenangan Yu locianpwe. Sebetulnya kami bersaudara adalah tamu-tamu dari keluarga Yu. Rasanya tidak enak kalau mengganggu ketenangan mereka, maka toako mencari bantuan dari rekan- rekan persilatan lainnya, tak lama lagi mereka pasti sudah sampai disini”

Hoa In-liong mengerutkan dahinya semakin rapat sehabis mendengar ucapan tersebut, “Perpisahan dalam sehari, mungkin akan terjadi perubahan yang tak terhitung banyaknya. Aku pikir lebih baik Liat heng melukiskan saja bentuk badan dan dandanan mereka. Aku akan segera berangkat. Daripada kalau terlalu lama akan mengakibatkan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.”

Liat Ceng-poh berpikir sebentar, maka diapun menulis diatas mejanya dengan air teh: ‘“Musuh berjumlah empat orang. Seorang gadis baju merah, seorang laki-laki berdandan pelajar, dua orang bersanggul tinggi berbaju imam warna kuning dengan lengan baju sebatas sikut. Sekilas pandang seperti jubah pendeta, tapi kopiahnya bundar dengan bagian dadanya terbuka, kaus putih setinggi lutut, sepatu bot kulit, tidak mirip dengan orang Tionggoan, usianya antara….”

Hoa In-liong tak sabar untuk membaca lebih jauh, setelah membuang sekeping hancuran uang perak ke meja, ia berseru, “Sampai jumpa didepan sana!” Dengan langkah tergesa-gesa, ia menuruni anak tangga dan berlalu dari sana.

Liat Ceng-poh dan Be Si-kiat saling berpandangan dengan wajah tertegun, selang sesaat kemudian dia baru menghela napas panjang. “Aaai…. Sungguh tak malu menjadi putranya Hoa tayhiap!”

Dalam pada itu Hoa In-liong sudah kabur ke arah dermaga.

Dengan menumpang perahu peryeberang ia mendarat di dermaga Bu-ko. Setelah mencari tahu jalan menuju ke Hong- yang, tanpa mengindahkan rasa kaget khalayak ramai, ia kabur menuju ke kota tersebut dengan mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya.

Begitulah kalau orang selang diliputi kegelisahan, banyak tugas yang harus diselesaikan ditinggalkan dengan begitu saja. Siang malam dia melakukan perjalanan cepat untuk menolong orang, padahal apakah orang itu masih berada dikuil tak tahu.

Berbicara sesungguhnya, hal ini tak dapat salahkan dia kalau begitu terburu-buru. Lantaran dia Yu Siau-lam melakukan perjalanan jauh. Lan taran diapun pemuda itu tertawan musuh. Sebagai seorang pendekar sejati, dalam keadaan demikian walaupun nyawa harus dikorbankan, pertolongan tetap harus diusahakan, mesti dia berada dimanapun.

Perjalanan sejauh enam ratus li ditempuh olehnya dalam waktu setengah hari satu malam. Ak-hirnya menjelang fajar tibalah anak muda itu di tempat tujuan.

Selesai bersemedi untuk pulihkan kembali kekuatannya, kebetulan saja kuil Ceng-si-koan baru saja buka pintu. Maka berpura-pura sebagai pelancong ia masuk kedalam ruangan kuil itu.

“Selamat pagi!” sapanya kepada imam penjaga pintu. “Selamat pagi!” sahut toosu tersebut sambil balas memberi

hormat.

Baru saja Hoa In-liong hendak menggunakan kesempatan tersebut untuk menanyakan apakah ada sekelompok manusia asing menginap di kuil tersebut, tiba-tiba disudut ruangan kuil itu ia saksikan berkelebatnya sesosok bayangan merah yang lenyap dalam sekejap mata.

Dia masih ingat, diantara penculik Yu Siau-lam terdapat seorang perempuan berbaju merah. Maka tanpa berpikir panjang lagi ia menjejakkan kakinya ke tanah dan menyusup ke depan.

Mereka menerobos masuk lewat pintu berbentuk bulan, dibalik pintu adalah sebuah halaman, semuanya berbentuk bulan, ketika ia tiba di pintu pertama, bayangan merah itu lenyap dibalik pintu kedua.

Sekarang ia sudah melihat jelas bayangan punggung bayangan merah itu. Bayangan tersebut memang bayangan seorang perempuan, bahkan ia mengenal dengan potongan badan orang itu.

Setelah berpikir sejenak, tiba tiba gumamnya seorang diri, “Aneh, kenapa bisa dia….?”

Ternyata dara berbaju merah itu bukan lain adalah Giok- kou-niocu si perempuan kaitan kema-la Wan Hong-giok adanya. Wan Hong-giok pernah menaruh rasa cinta terhadapnya, bahkan sikapnya begitu hangat dan mesranya. Malahan sewaktu berpisah dia tunjakan sikap berat hati.

Tapi sekarang, bukan saja perempuan itu tidak menemuinya, bahkan kalau bisa berusaha untuk menghindarkan diri jauh-jauh.

Pelbagai kecurigaan lantas melintas dalam benaknya.

Dengan cepat ia menerobos masuk ke halaman samping dan menelusuri serambi panjang.

Kebetulan dari arah depan situ muncul seorang tosu berusia pertengahan. Dengan cepat Hoa In-liong membuang semua pikirannya yang kalut. Sambil maju ke muka dan memberi hormat katanya seraya tertawa, “Tolong tanya totiang, apakah belakangan ini ada orang yang menumpang disini?”

Mendengar pertanyaan tersebut, paras muka tosu berusia pertengahan itu berubah hebat, tanpa sadar ia mundur selangkah ke belakang.

“Sicu…. sicu….” Ucapannya tergagap tak jelas, sepatah katapun tak mampu dilanjutkan.

Mengamati perubahan wajah orang, Hoa In-liong lantas mengerti apa yang dipikir orang, de-ngan suara lirih, “Totiang tak usah takut. Aku menjumpai seorang sahabat yang diculik oleh beberapa orang itu. Aku datang kemari untuk menolong jiwanya….”

Agak tenang perasaan imam setengah baya itu setelah mendengar perkataan tadi. Diamatinya sekejap anak muda itu dengan tajam, kemudian bertanya, “Apakah sicu dari marga Hoa?” “Yaa, aku adalah Hoa Yang”

Sekali lagi paras muka imam setengah baya itu berubah hebat, serunya dengan cemas, “Cepat pergi dari sini sicu. Beberapa orang itu justru sedang mencari dirimu!”

Tampaknya kebijaksanaan dan kemuliaan Hoat Thian-hong telah diketahui oleh setiap orang sampai-sampai pendeta yang tidak mengerti ilmu silatpun menaruh hormat kepadanya. Tak heran kalau Hoa In-liong terharu sekali dibuatnya oleh ketulusan imam tersebut.

Ia tertawa ewa, “Terima kasih banyak atas perhatian totiang. Aku tak dapat pergi dengan begitu saja dari sini”

Imam setengah baya itu semakin gelisah. Ia mulai mendorong pemuda itu dengan paksa.

“Ayoh, cepat pergi dari sini!. Beberapa orang itu mempunyai ilmu siluman yang lihay. Ilmu hitam mereka tak mungkin ditandingi dengan ilmu silat. Bila ingin menolong orang datanglah malam nanti. Mungkin pinto dapat usahakan suatu bantuan bagi diri sicu”

“Maksud baik tootiang biar kuterima dalam hati saja” tampik Hoa In-liong sambil minggeleng “Aku percaya masih sanggup untuk menjaga diri. Beritahu saja kepadaku tootiang dimana beberap orang itu tinggal. Aku percaya mempunyai akal untuk menyelamatkan jiwanya”

Ketika imam setengah baya itu tak berdaya mendorong tubuhnya, sekali lagi ia awasi pemuda itu dengan tajam, tiba tiba ia menghela napas panjang. “Aaai…. Jika sicu bersikeras, tentu saja pinto tak dapat memaksa lebih jauh. Harap sicu bersedia ingat baik-baik saja beberapa persoalan. Yang terutama adalah kau harus berjanji kepada pinto agar segera mengundurkan diri bila beberapa orang itu mulai menggotong keluar sebuah hiolo darahnya”

Hoa In-liong tersenyum, “Baik, aku kuturuti permintaanmu itu.”

Setelah pemuda itu memberi kesanggupannya, imam setengah baya itu baru mengerling ke belakang sambil berbisik, “Telusuri saja serambi ini, sampai diujung sana belok kekiri. Disana ada halaman lagi. Sobatmu disekap dalam salah satu ruangan tersebut. Sedang beberapa orang itu berada dikedua belah sisi ruangan tahanan. Hati-hati sicu, jangan gegabah”

Habis berkata imam itu berlalu dengan langkah tergesa- gesa, seakan akan dia kuatir kalau perbuatannya diketuhui oleh orang-orang tersebut.

Hoa In-liong mententeramkan dulu hatinya. kemudian dengan langkah lebar maju kedepan menelusuri serambi tadi.

Benar juga, diujung serambi itu terdapat sebuah bangunan yang berdiri terpencil dengan dikelilingi sebuah lapangan luas. Dibelakangnya merupakan sebaris kamar kaum toosu, semuanya berjumlah belasan buah. Mungkin tempat itu biasanya disediakan buat tamu-tamu yang berziarah kesana….

Waktu itu, semua pintu ruangan tertutup rapat. Rupanya beberapa orang itu belum bangun dari tidurnya.

Berdiri ditengah lapangan kosong, Hoa In-liong termenung beberapa ssat lamanya, lalu denga suara lantang ia mulai berteriak, “Saudara Siau-lam….! Saudara Siau-lam….! Kau ada dimana?” Cara ini memang suatu cara yang paling tepat. Bila Yu Siau-lam masih bisa mendengar, maka pemuda itu akan tahu bahwa dia sehat-wal’afiat. Asal lukanya tidak parah, Yu Siau- lam-pun akan berusaha untuk menunjukkan kamar sekapannya. Dengan demikian lebih gampang bagi In-liong untuk memberikan pertolongannya.

Sebaliknya jika luka yang diderita Yu Siau-lam parah sekali atau jalan darahnya tertotok, diapun bisa segera merubah taktiknya untuk memberi pertolongan.

Selain itu, Hoa In-liong bermaksud pula untuk mengundang munculnya beberapa orang itu.

Ketika tiada jawaban yang terdengar, Hoa In-liong merasa hatinya semakin tegang, sekali lagi ia berteriak, “Saudara Siau-lam, engkau ada dima….?”

Sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara yang aneh. “Bangsat dari mana yang berkaok-kaok macam gonggongan anjing?”

Berbareng dengan suara bentakan itu, pintu kamar terbuka lebar, menyusul kemudian muncullah tiga orang manusia aneh.

Dua orang yang berada dipaling depan mengenakan jubah warna kuning dengan rambut digu-lung menjadi satu. Usianya antara tiga puluh tahunan, hidungnya besar seperti singa, bibirnya tebal, tampangnya menyeramkan sekali.

Dibelakang kedua orang itu adalah seorang laki-laki berusia dua puluh lima enam tahun. Berjubah pelajar dengan ikat kepala hijau. Alis matanya melentik keatas. Panca inderanya sempurna cuma sayang wajahnya agak pucat, matanya licik. Sekilas pandangan dapat diketahui bahwa dia adalah seorang manusia yang lebih banyak menggunakan akal busuk.

Dengan kerlingan tajam Hoa In-liong mengawasi beberapa orang itu, lalu seraya menjura kata-nya dengan lantang, “Aku bernama Pek-khi. Konon seorang sahabatku telah terjatuh ke tangan saudara sekalian. Karenanya sengaja aku datang kemari mohon kerelaan hati saudara sekalian untuk melepaskan temanku itu. Untuk bantuan serta perhatian kalian, aku akan merasa berterima kasih sekali”

Manusia berjubah kuning yang berada dipaling depan itu segera tertawa seram. “Hee…. hee…. hee…. Enak benar kalau berbicara, apa yang kau andalkan untuk mengajukan pemohonan tersebut?”

Imam jubah kuning yang berada di belakangnya segera menanggapi dengan alis berkerut dan dengusan dingin. “Hmmm….! Orang ini berkaok-kaok macan orang edan, sampai-sampai tidurku juga ikut terganggu, lebih baik dimusnahkan saja daripada banyak ribut”

Tapi sebelum mereka sempat melakukan sesuatu tindakan, laki-laki berdandan pelajar itu telah menyela, “Lapor susiok, orang ini usianya masih sangat muda tapi tampangnya cukup keren dan gagah.

Aku duga asal usulnya tentu luar biasa. Biar keponakan bertanya kepadanya sebelum susiok meng ambil tindakan lebih lanjut….”

Orang yang ada dibelakang itu memutar biji matanya, kemudian mendengus dingin. “Hmmm….! Coba tanya kepadanya, anaknya Hoa Thian-hong berada dimana….?” Sementara dua orang itu bertanya jawab sendiri, Hoa In- liong diam-diam menganalisa pula keadaan disekitar tempat itu, kemudian pikirnya di dalam hati, “Sorot mata kedua orang ini aneh sekali, tampangnya juga jelek tak senang dilihatnya, tabiatnya juga jelek dan garang. Mungkin merekakah yang dimaksudkan Nyo-siok sebagai suku-suku asing? Kalau dilihat dari sikap mereka yang begitu ngotot menyelidiki jejakku, sudah pasti orang-orang itu datang kemari dengan tujuan jelek”

Sementara dia masih termenung, laki-laki berdandan pelajar itu sudah raaju kedepan seraya berkata, “Pek-heng, boleh aku tahu saudara berasal dari perguruan mana? Apa hubungannya dengan Yu Siau-lam? Bila engkau bersedia mengakui secara berterus terang, akupun bisa saja berunding dengan susiokku untuk segera melepaskan orang, sebaliknya kalau tidak…. hee…. hee…. Apa yang diucapkan susiokku barusan tentu sudah saudara Pek dengar bukan?”

Dalam hati kecilnya Hoa In-liong mendengus dingin, ia segera berpikir dihati, “Hmmmm….! Gertak sambal juga mau digunakan terhadap diriku, huuh…. Percuma! Bila aku Hoa loji begitu tak becusnya, tak nanti tugas berat ini akan kuterima!”

Sementara ia dihati berpikir demikian, sorot matanya sekali lagi menyapu sekejap ke arah dua orang laki-laki berjubah kuning itu, kemudian menegur, “Siapakah nama saudara?”

“Tak usah saling menyebut nama, jawab saja pertanyaan yang kuajukan, lebih cepat akan lebih baik”

“Hoa In-liong tersenyum. “Aku lihat gerak-gerik maupun nada bicara saudara amat halus dan sopan santun, lagi-pula mempunyai hubungan yang sangat akrab dengan suku asing. Bila dugaanku tak keliru, tentunya saudara adalah seorang tokoh silat yang berpengalaman luas dan berilmu tinggi. Sungguh beruntung aku bisa bertemu dengan saudara. Bila sekarang saudara menampik untuk memberitahukan nama anda, ooh…. betapa menyesalnya aku!”

Berserilah air muka laki-laki pelajar itu sehabis mendengar kata-kata pujian tersebut, tanpa disadari ia berkata, “Terima kasih banyak atas pujianmu, aku adalah Siau Khi-gi….”

Menggunakan kesempatan baik itu, Hoa In-liong bertanya lebih jauh, “Dan susiokmu?”

Karena bangga Siau Khi-gi telah lupa akan segala-galanya, spontan ia menjawab, “Susiokku bernama Hong-Seng, dia berasal dari Seng….”

Tiba-tiba sadarlah laki-laki pelajar itu bahwa ia sudah tertipu oleh siasat Hoa In-liong.

kontan hawa amarahnya berkobar sampai dalam benak, dengan suara keras teriaknya, “Bajingan cilik….”

“Saudara Siau keliru besar, aku bernama Pek-khi!” tukas Hoa In-liong dengan senyum dikulum.

Siau Khi-gi betul-betul naik darah, setengah kalap ia menjerit sekeras-kerasnya, “Anak murid siapa? Ayoh jawab!”

Air muka Hoa In-liong berubah semakin keren, dengan angkuh ujarnya kembali, “Lagakmu soknya bukan kepalang, dianggapnya dengan mengandalkan ilmu silat Seng sut-pay aliran Mo-kao lantas bisa malang melintang tanpa tandingan?”

Hoa In liong memang cerdiknya luar biasa, sekalipun ia hanya mendengar kata” Seng” belaka, tapi oleh karena sewaktu masih dirumah ia sudah sering mendengar kisah tentang penggalian harta karun di bukit Kiu-ci-san dimana kaucu….