Rahasia Hiolo Kumala Jilid 13

Jilid 13

“COA WI-WI segera mengernyitkan alis matanya lalu dengan bibir yang dicibirkan dia mengejek, “Hmmm….! Memang luar biasa…. memang luar biasa…. Akhirnya dia sendiri pun diculik orang. Hmmm…. sahabatmu memang hebat sekali!”

“Kau…. kau…. semuanya ini adalah gara-gara ulahmu!” Coa Cong-gi semakin mendongkol sehingga ia berteriak-

teriak keras, “Coba kalau bukan gara-gara kau sehingga perhatiannya bercabang, Hmm! Kiu-im Kaucu itu manusia macam apa? Dengan andalkan kepandaiannya tak nanti ia sanggup….”

“Tak dapat memusatkan perhatian untuk menghadapi musuh sudah merupakan pantangan yang paling besar lagi seorang jago silat. Sekalipun ilmu sifatnya maha dahsyat, tapi kalau pantangan tersebutpun tidak diperhatikan, lalu apa gunanya?” tukas Coa-wi-wi dengan suara yang tak kalah lantangnya.

Coa Cong-gi jadi semakin mendongkol sehingga untuk sesaat ia tak mampu berkata-kata. Selang sejenak kemudian ia menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, akan tetapi ibunya Swan Bun-sian yang lagi murung dan kesal jadi jengkel. Semua rasa murungnya segera dilampiaskan keluar dengan membentak keras, “Jangan ribut terus! Apa sangkut pautnya antara tinggi rendahnya ilmu silat orang lain dengan diri kita?”

Goan-cing Taysu segera tersenyum. “Anak Sian, kembali engkau keliru” katanya dengan lembut, “Hoa In-liong benar- benar seorang pemuda yang luar biasa. Bukan saja gagah perkasa dan berjiwa besar. Wataknya juga jujur, disiplin dan bijaksana, dia merupakan seorang laki-laki yang berani berbuat, berani pula bertanggung jawab. Ditambah lagi otaknya memang cerdik dan pandai menghadapi segala perubahan dengan cekatan, justru dialah yang dikemudian hari akan memikul tanggung jawab untuk membasmi siuman dari muka bumi serta menegakkan keadilan dan kebenaran bagi dunia persilatan kita semua”

Berbicara sampai disini, sinar matanya seperti sengaja tak sengaja melirik sekejap ke arah “Wi-ji”.

Coa Wi-wi segera merasa adanya satu ingatan melintas dalam benaknya, dia lantas berseru, “Kongkong, kalau engkaupun berani berkata demikian, bukankah itu berarti bahwa dia adalah seorang manusia yang betul-betul sempurna?”

Goan-cing Taysu mengangguk. “Yaa, tentu saja ada juga kejelekan-kejelekan, cuma kejelekan yang dimilikinya terlampau kecil sehingga sama sekali tidak mempengaruhi wibawanya untuk memimpin dunia persilatan dikemudian hari. Bila dikemudian hari ada kesempatan, lolap harap engkau dapat bersahabat dengan lebih akrab lagi dengannya” Kontan Coa Wi-wi mencibirkan bibirnya yang kecil. “Huuh! Siapa yang sudi bersahabat dengannya? Bila dikemudian hari ada kesempatan, justru anak Wi ingin menantang dia berkelahi. Ingin kubuktikan apakah ilmu silatnya benar-benar amat luar biasa atau tidak!”

Goan-cing taysu tersenyum ia tidak menanggapi kata kata dari gadis itu lagi, sambil berpaling ke arah Swan Bun-sian, dia pun berkata lebih lanjut, “Anak Sian, bagaimana pendapatmu? Lolap rasa apa yang diucapkan Siau Gi-ji memang sangat tepat, baik untuk menyelidiki jejak dari anak Hou ataukah melaksanakan kewajiban sebagai seorang yang pernah belajar silat. Engkau harus banyak melakukan perjalanan didunia luar. Mengurung diri dalam rumah tak akan mendatangkan keuntungan serta manfaat apa-apa bagimu!”

Swan Bun-sian tidak langsung menjawab, dia tampak termenung sejenak, kemudian baru sahutnya, “Pikiran dan perasaan anak Sian pada saat ini sedang kalut dan tidak tenang, aku tak bisa mengambil keputusan”

“Haaa…. haa…. haa…. Kalau memang begitu, demikian saja” kata Goan-cing Tay su setelah tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya, “Engkau berangkatlah ke barat dan temuilah Hoa Thian-hong serta ibunya. Hoa Thian-hong mempunyai kenalan yang tersebar diseantero jagad. Ini sangat membantu usahamu untuk mencari tahu jejak dari anak Hou. sedang lolap sendiri biarlah sementara waktu bersama anak Gi dan anak Wi pergi menolong nyawa Hoa In- liong”

“Aaaah…. Tidak mau, tidak mau. Wi-ji ingin bersama ibu saja…. Wi-ji tak mau ikut Kongkong” buru-buru Coa wi-wi berseru dengan nada amat gelisah. “Bukankah engkau hendak menantang Hoa In-liong untuk berduel….?” goda Goan Cing Taysu sambil tersenyum.

“Sekalipun aku pingin menantangnya untuk berduel, toh tidak musti dilakukan sekarang, lain kesempatan masih panjang” sahut Coa Wi-wi, “Wi ji tak tega membiarkan mama pergi jauh seorang diri, biarlah wi-ji menemani dia orang tua!”

Goan-cing Taysu segera mengangguk sambil memuji, “Ehmmm…. Sungguh tak kusangka kalau engkau sangat berbakti kepada ibumu, Nah! Kalau memang begitu, ikutlah ibumu pergi!”

Setelah perundingan berakhir, sekalipun Swan Bun-sian tidak berkenan dengan keputusan itu, akan tetapi diapun tidak membantah lebih jauh….

Selama ini Coa Cong-gi sendiri selalu menguatirkan keselamatan Hoa In- liong, ia jadi gelisah sekali. Dengan pelbagai cara serta perkataan ia mendesak ibunya agar cepat mengambil keputusan dibawah desakan putranya yang bertubi-tubi, akhirnya Swan Bun-sian kewalahan juga, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa dia mengangguk.

Maka cucu dan kakek berempat pun melakukan perjalanan dan menuruni bukit Ciong-san tersebut.

OOOOoooOOOO

Dalam pada itu, Kiu-im kaucu yang berhasil dengan sergapannya segera mengempit tubuh Hoa In-liong kabur ke dalam hutan. Dari situ dengan tergopoh-gopoh dia pimpin semua anak buahnya kabur kebukit Ciong-san sebelah barat dan menuju ketepi sungai Yang-cu-kang. Ditepi sungai berdirilah sebuah bangunan besar yang megah. Bukan saja gedung itu tersusun-susun memanjang ke dalam, bahkan bangunan tersebut tampak masih baru, seperti selesai dibangun belum lama berselang.

Tak usah diragukan lagi disinilah letak kantor cabang kota Kim-leng dari perkumpulan Kiu-im-kauw. Rombongan jago itu setibanya di tepi sungai segera memasuki gedung baru itu.

Sejak jalan darahnya tertotok tadi selama ini Hoa In-liong berada dalam keadaan tak sadar. Tentu saja terhadap segala yang terjadi diapun tidak tahu. Ketika mendusin kembali dari pingsannya, ia baru temukan kalau dirinya berada dalam sebuah ruangan yang besar, megah, indah dan sangat mewah.

9

Lampu keraton bergantungan disana-sini. Dinding yang berwarna kuning keemas-emasan me-mancarkan cahaya yang menyilaukan mata. Dengan senyuman dikulum Kiu-im kaucu duduk diatas kursi kebesarannya yang dilapisi kulit harimau.

Yu-beng-tiancu Bwee Su-yok yang berwajah kaku dan sedingin salju berdiri dibelakangnya, sementara Tiancu ruang penyiksaan dan para Tongcu lainnya berjajar dikedua belah sisinya, suasananya waktu itu amat serius dan penuh dengan kewibawaan.

Diam-diam Hoa In-liong mengerahkan tenaga dalamnya mengelilingi seluruh badan, ia merasa semua jalan darahnya sudah bebas semua, dan lagi sekujur badannya tidak menunjukkan tanda-tanda yang tak beres. Kenyataan ini membuat perasaannya jadi lebih tenang, otaknya lantas berputar keras untuk mencari jalan keluar dalam masalah tersebut. Sementara dia masih termenung, tiba-tiba terdengar olehnya Kiu-im Kaucu sedang berkata dengan suara lembut, “Hoa siau-hiap, dengan suatu sergapan yang tidak terdugalah aku baru berhasil membekuk diri mu, tentunya engkau tidak menyalahkan perbuatanku yang terlampau rendah dan tak tahu malu bukan?”

“Ooooh…. Jadi engkau juga tahu toh kalau main sergap adalah suatu perbuatan yang rendah dan memalukan?” ejek Hoa In-liong dengan dahi berkerut.

Bwee Su-yok yang selama ini membungkam, tiba-tiba mendengus dingin. “Hmm….! Sebagai musuh yang sedang berhadapan muka, sudah jamak atau kalau masing-masing pihak berusaha adu tenaga maupun kecerdikan. Bila engkau tidak puas, ayolah! Kita beradu kepandaian lagi disini juga”

Mendengar ucapan tersebut, berkobarlah hawa amarah Hoa In-liong tapi ketika sinar matanya saling membentur dengan sepasang biji mata Bwee Su-yok yang jeli tapi dingin itu, tiba-tiba saja hawa amarahnya sirna dengan begitu saja, malah diapun berpikir lebih jauh, “Sebagai seorang lelaki sejati aku harus pandai menyesuaikan diri. Bila aku bersikeras mengumbar emosi saja, sudah pasti kerugianlah yang kuperoleh, aku harus mencari akal untuk berusaha meloloskan diri dari tempat ini”

Pemuda ini jadi orang bersikap terbuka dan tidak terlampau terikat oleh segala adat istiadat yang tetek bengek, apalagi setiap kali berjumpa dengan ancaman bahaya maut, dia selalu tenang dan menggunakan otaknya untuk menghadapi keadaan.

Tapi sekarang, setelah ia tertawan, otomatis jalan pemikirannya juga ikut mengalami perubahan itulah yang dinamakan orang: Siapa yang tahu gelagat dan keadaan, dialah seorang manusia yang cerdas. Dan rasanya Hoa In- liong memang cocok sekali dengan keadaan tersebut.

Padahal, berbicara yang sesungguhnya, selain alasan- alasan diatas masih ada lagi sebab musabab lain yang rasanya lebih cocok, yakni kecantikan Bwee Su-yok.

Tampaknya kecantikan wajah si nona itu sudah terlampau melekat dalam hatinya membuat pemuda yang pada dasarnya memang romantis ini tak mampu mengutarakan kemarahannya dihadapan gadis cantik itu, meski amarahnya sudah mencapai pada puncaknya.

Ketika pemuda itu teringat kembali tentang kegagahannya sebagai seorang pria, sepasang matanya yang tajam segera memandang wajah Bwee Su-yok lekat-lekat, sedikitpun tidak nampak berkedip.

Bagi pandangan orang lain, maka sorot mata tersebut dapat berarti dua perasaan.

Yang satu adalah perasaan tenang, hambar, seakan-akan perasaan hatinya setenang air, terhadap suasana yang serta menegangkan disekelilingnya sama sekali tidak terpengaruh.

Sedang perasaan kedua adalah suatu perasaan marah yang meluap, orang akan menganggap dia sedang marah dan tersinggung oleh perkataan Bwee Su-yok, tapi lantaran ia sudah tertawan, maka rasa gusarnya tak berani diutarakaan keluar.

Sebaliknya bagi pandangan Bwee Su-yok, sorot mata semacam itu justru mendatangkan perasaan yang lain daripada yang lain dengan rekan-rekannya. Walaupun wajah Bwee Su-yok dingin dan kaku tapi sorot mata dari Hoa In-liong itu justru merupakan kobaran api yang membara. Ketika mereka berdua saling berpandangan tanpa berkedip, maka lama kelamaan Bwee Su-yok merasakan suatu perasaan yang sangat aneh. Dia merasa tubuhnya bergetar keras, jantungnya berdebar lebih keras dari keadaan semula. Suatu perasaan yang belum pernah dialaminya selama ini dengan cepat menyelimuti seluruh benaknya dan tanpa diketahui sebabnya tiba-tiba saja mukanya jadi merah. Tapi hanya sejenak, dia segera mendengus dan melengos kesamping lain.

Setelah merah wajahnya kemudian mendengus pula, apa alasannya demikian? Tentu saja kecuali mereka berdua, orang lain tidak akan memahaminya.

Dalam pada itu, Kiu-im kaucu telah berkata lagi sambil tertawa seram, “Hoa siau-hiap, kalau berbicara tentang soal tingkat kedudukan, perbuatanku dengan cara menyergap menotok jalan darahmu tadi memang kurang pantas dan sedikit menurunkan gengsi sendiri. Tapi akupun mempunyai kesulitan yang memaksa diriku harus berbuat demikian. Coba bayangkan saja betapa sayangnya aku terhadap ibumu, padahal tujuanku turun gunung kali ini adalah untuk merebut tempat kedudukan yang terhormat dalam dunia persilatan.

Selama ibumu masih berada di bukit Im-tiong-san bagaimana mungkin aku dapat melanjutkan rencanaku untuk memusuhi keluarga Hoa kalian?”

Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang cerdik. Dari pembicaraan Kiu-im kaucu yang bolak balik tak menentu itu, dia segera mengetahui bahwa pihak musuhnya mempunyai tujuan dan maksud-maksud tertentu, maka diapun mengerling sekejap ke arah perempuan tua yang angker itu seraya berseru, “Huuuh! Kalau bicara saja enak kedengarannya, padahal siapa tahu bagaimanakah kesungguhannya? Benarkah kaucu benar-benar tidak bermaksud sesuatu?”

Kiu-im kaucu tidak tersinggung oleh perkataan tersebut, kembali ujarnya, “Bila kubicarakan secara blak-blakan, mungkin saja engkau tak akan mempercayainya, tahukah engkau bahwa didalam peristiwa pembunuhan berdarah atas diri Suma tayhiap beserta istrinya bukan saja aku ikut mengambil bagian. Pihak perkumpulan Hian-beng-kauw juga ikut ambil bagian bahkan Ku Ing-ing, si Giok-teng hujin itupun turut ambil bagian. Jika engkau hanya menaruh rasa benci dan dendam terhadap aku seorang, tidakkah kau merasa bahwa tindakanmu tersebut bukan saja tidak bijaksana bahkan merupakan suatu keputusan semena-mena yang tidak adil?”

Diam-diam Hoa In-Iiong merasa terperanjat sekali sehabis mendengar pekataan itu, pikirnya, “Dengan begitu terus terang dia mengemukakan latar belakang peristiwa berdarah itu kepadaku, sudah pasti ia memang mempunyai rencana untuk membinasakan diriku”

Meskipun dalam hati merasa kaget, diluaran dia tetap bersikap tenang, setelah mengerling sekejap katanya kemudian, “Dewasa ini Hoa In-liong sudah menjadi tawananmu, mau bunuh mau jagal terserah pada diri kaucu, buat apa kau ucapkan kata-kata seperti itu….?”

“Aku hanya suruh engkau percaya saja” sahut Kiu-im kaucu sambil tersenyum, “Aku tidak bermaksud apa-apa terhadap diri siauhiap”

“Hoa In-liong bukan anak kecil yang berusia tiga tahun, jangan harap bujuk rayu dan kata-kata manismu akan mendatangkan hasil bagimu” kata Hoa In-liong kemudian dengan tenang. “Maka kuanjurkan kepadamu lebih baik berbicaralah terus terang bila ingin mengutarakan sesuatu, asal aku Hoa In-liong mampu untuk menjawab, pertanyaan itu tentu akan kujawab, jika tak sanggup kujawab, sekalipun kau rantai badanku dengan borgol sebesar apapun jangan harap bisa memaksa aku untuk mengutarakan sepatah katapun juga”

Seng-Sin-sam yang kerdil dan menjabat sebagai Tongcu penerimaan anggota baru itu tiba-tiba menyela sambil tertawa seram, “Heeehh…. heehh…. hee…. Terus terang kuberitahukan kepadamu, pada hakekatnya kamipun tiada pertanyaan yang hendak diajukan kepadamu. Aku menjabat sebagai ketua ruang penerimaan anggota baru. Andaikata engkau berhasrat masuk menjadi anggota perkumpulan kami, asal aku mengutarakan beberapa patah kata yang indah dihadapan kaucu kami, tanggung engkau pati akan ke terima menjadi anggota kami” 

Berbicara menurut keadaan pada umumnya yang berlaku dalam dunia persilatan, peraturan dari tiap perguruan ataupun partai yang ada didunia ini rata-rata ketat dan disiplin.

Biasanya bilamana seorang kaucu hadir dalam suatu ruangan, maka sebagai anak buah tak seorangpun berani menyela atau menimbrung pembicaraan yang berlangsung sebelum diminta oleh ketuanya.

Tapi sekarang, bukan saja Tongcu she-Seng itu berani menyela suatu pembicaraan, bahkan berani pula mengemukaan sebuah usul, sementara Kiu-im kaucu sendiri sedikitpun tidak menunjukkan sikap kurang senang hati, dari sini dapatlah diketahui betapa terhormatnya kedudukan Seng Sin-sam dalam perkumpulan Kiu-im-kauw.

Hoa In-liong yang binal tapi cerdik segera memutar otaknya, selang sesaat kemudian ia sudah mendapat akal bagus, maka pemuda itupun tertawa nyaring. “Haa…. haa…. haa…. Begitupun ada baiknya, setelah menjadi anggota Kiu- im-kauw, bukan saja aku Hoa Loji dapat menciptakan suatu pekerjaan yang besar, akupun setiap harinya bisa berkumpul dengan nona Bwee…. Haa…. haa…. haa…. Ada gadis cantik dalam rangkulan, masa depanku juga cemerlang, bukan saja aku Hoa Loji akan hidup penuh kebahagian, nama dan kedudukanku juga termashur…. Tentu saja ide ini bagus sekali!”

Merah padam wajah Bwee Su-yok karena jengahb cepat dia menghardik dengan nyaring, “Hey, apa yang kau ocehkan terus?”

“Hoa siauhiap!” Kiu-im kaucu yang selama ini membungkam tiba-tiba berkata “Andaikata engkau benar- benar berhasrat untuk membantu diriku, tentu saja dengan senang hati anak Yok akan kujodohkan kepadamu!”

Bwee Su-yok jadi sangat gelisah, cepat dia menyela, “Suhu…. Orang she-Hoa ini usil amat mulutnya, ia jahat dan tak bisa dipercaya. Anak Yok…. anak Yok….”

Tapi sebelum gadis cantik itu menyelesaikan kata-katanya, Kiu-im Kaucu telah mengulapkan tangannya seraya berkata, “Gurumu sudah mempunyai rencana yang sangat bagus, engkau tak usah menimbrung lagi!”

“Huuuh…. apa rencanamu itu?” Jengek Hoa In-liong cepat dengan wajah berubah serius, “Paling-paling juga menyelidiki jejak serta tindak tanduk orang tua dari aku orang she-Hoa atau menahan aku orang she-Hoa sebagai sandera. Hmm….! Mengulangi kembali siasat lama yang pernah dipraktekkan dua puluh tahun berselang, sayang rencanamu itu sama sekali tak berguna bagi diriku” Diam-diam Kiu-im kaucu merasa terkejut setelah mendengar perkataan itu, dengan dahi berkerut katanya, “Benarkan sama sekali tak berguna terhadap dirimu?”

Hoa In-liong mencibirkan bibirnya. “Huuh….! Aku orang she-Hoa tak bakal terpikat oleh cantiknya wajah perempuan, tak akan bertekuk lutut oleh kehebatan ilmu silat orang lain. Sekalipun kau mempunyai beribu macam akal muslihat, berjuta macam bentuk siksaan, jangan harap kau dapat memaksa aku orang she-Hoa tunduk pada perintahmu”

Betapa mendongkolnya Bwee Su-yok sehabis mendengar perkataan itu, dengan ketus dia lantas menimbrung, “Hmmm…. ! Bukankah tadi engkau selalu berteriak bahwa engkau lebih suka terbunuh daripada

tertawan? Sekarang toh engkau sudah menjadi tawananku, kenapa tidak berusaha untuk bunuh diri membereskan nyawamu sendiri?”

“Nona Bwe, apakah diantara kita terikat dendam sakit hati?” tiba-tiba Hoa In-liong berkata dengan lembut.

Sinar matanya yang terang bagaikan bintang fajar itu seperti senyum, tak senyum memandang wajah gadis itu lekat-lekat.

Ketika sorot mata Bwee Su-yok saling bersentuhan kembali dengan pandangan matanya, sekali lagi gadis itu merasakan jantungnya berdebar keras. Untuk sesaat, dia tertegun, tapi selanjutnya jawabnya dengan nada dingin, “Yaa, diantara kita ada ikatan dendam, suatu ikatan dendam yang lebih dalam dari samudra, kenapa?”

Kembali Hoa In-liong tertawa. “Sekalipun antara nona Bwe dengan aku ada ikatan dendam, caramu memanaskan hatiku tak bakal mendatangkan apa-apa. Ketahuilah aku Hoa loji jauh berbeda dengan orang lain. Tahukah engkau apa yang sedang kupikirkan sekarang?”

Seraya berkata kepalanya sengaja dimiringkan kesamping berlagak seperti seorang bocah yang pura-pura sok rahasia. Gayanya yang mengejek ini kontan saja menggemaskan Bwee Su-yok hingga membuat giginya saling bergermerutukan menahan emosi. Kalau bisa dia ingin menggigit pemuda itu untuk melampiaskan rasa dongkolnya.

Sambil menggigit bibir, dia lantas berseru dengan gemas, “Aku tak ambil perduli apa yang kau pikirkan pokoknya nonamu cuma tahu bahwa engkau harus mampus!”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. “Haaa…. haa…. haa…. Aku orang she Hoa mana boleh mati. Kalau aku sampai mati lebih duluan, bukankah engkau akan….”

Sebetulnya dia hendak mengatakan, “Bukankah engkau akan menjadi seorang janda kembang?”

Kata-kata itupun mengiringi ucapan Kiu-im kaucu yang hendak menjodohkan anak Yok-nya kepada dia.

Tapi bagaimanapun juga dia adalah keturunan seorang pemuda persilatan yang punya nama besar ketika ucapan tersebut sudah berada diujuag bibir, tiba-tiba dia merasa bahwa perkataan itu terlalu tengik dan kurang sopan.

Lantaran ia kuatir kalau ucapan tersebut sampai menyinggung perasaan halus Bwee Su-yok, maka tiba-tiba saja dia membungkam dan menelan kembali kata-kata tersebut ke dalam perutnya.

Perlu diketahui disini, walaupun Hoa In-liong termasuk seorang pemuda yang romantis, sekalipun dia binal dan nakal, tapi bukan berarti cabul atau tak tahu sopan santun. Apalagi kecantikan Bwee Su-yok dan keagungan gadis itu belum pernah dijumpai seumur hidup. Sekalipun dara itu bersikap angkuh dan dingin, lagipula mereka berhadapan sebagai musuh, tapi bila Hoa In-liong disuruh benar-benar melukai perasaan Bwee Su-yok, dengan watak yang dimiliki pemuda itu, belum tentu dia bersedia untuk melakukannya.

Kalau toh diapun begitu, tentu saja keadaan tersebut berlaku juga bagi diri Bwee Su-yok.

Orang bilang gadis yang cantik selalu menjaga gengsi.

Gengsi ini mencakup pula terhadap orang-orang yang melakukan hubungan dengannya. Keadaan tersebut tak ubahnya ibarat seorang hartawan yang kaya raya tak sudi berhubungan dengan kaum pengemis.

Seorang gadis yang betul-betul cantik, selain dia selalu menjaga gengsi, disamping itu diapun selalu berharap setiap orang yang berhubungan dengannya memiliki kecantikan atau keayuan yang setaraf dengan kecantikannya, terutama dengan lawan jenisnya, hal ini akan tampak semakin kentara.

Kebetulan sekali Hoa In-liong terhitung seorang pemuda yang gagah dan tampan, orangnya juga amat romantis.

Berbicara soal kegantengan maupun karakternya boleh dibilang setingkat lebih tinggi dari orang lain atau dengan perkataan lain pemuda tersebut benar-benar merupakan ssorang pemuda yang tampan.

Bwee Su-yok yang terhitung pula sebagai seorang gadis cantik. Bila dikatakan ia tidak tertarik oleh pemuda setampan dan segagah itu, maka hal tersebut merupakan kata-kata yang bohong dan tak bisa dipercaya. Ia tertarik juga merasakan pergolakan yang hebat, tapi sayang oleh karena pendidikan yang keliru membuat terciptanya suatu watak membenci kepada laki-laki tampan dalam hati sidara ayu ini ditambah lagi Hoa In-liong memang binal sukar diurus, yang kebetulan sekali merupakan watak yang paling dibenci olehnya dihari-hari biasa, apalagi Hoa In- liong menunjukkan sikap hambar dan seolah-olah sama sekali tidak tertarik oleh kecantikannya, kesemuanya ini membuat nona itu semakin berang hingga berulang kali mengatakan hendak membunuh dirinya dan bersumpah tak mau hidup berdampingan dengannya.

Padahal bila kita bahas keadaan tersebut dengan lebih mendetail, maka dapatlah kita ketahui bahwa tindakan tersebut disebabkan karena perasaan tak puas si nona itu terhadap lawannya, cuma gadis itu sendiripun tidak menyadari akan keadaan tersebut.

Sementara itu, sorot mata Bwee Su-yok sudah memancarkan sinar dingin yang menggidikkan hati. Kalau dilihat dari gayanya jelas gadis itu sudah siap akan melancarkan serangan.

Tapi lantaran perkataan dari Hoa In-liong tiba-tiba berhenti ditengah jalan, dimana tindakan semacam itu justru sama sekali berada diluar dugaannya, maka gadis itu jadi tertegun untuk sesaat lamanya. “Ayoh teruskan kata-katamu itu!” bentaknya kemudian “Kenapa tidak kau lanjutkan?”

“Aaaah…. Lebih baik tak usah kulanjutkan lagi!”

Bwee Su-yok jadi makin mendongkol, teriaknya dengan nyaring, “Tidak! Bagaimanapun juga engkau harus mengatakan keluar, kalau tidak kau lanjutkan kata-katamu itu, lidahmu akan segera kupotong sampai kutung” “Baiklah!” ucap Hoa In-liong kemudian sambil mengangkat bahunya “Aku akan mengatakannya keluar. Aku sedang memikirkan bagaimana caranya meloloskan diri dari sini, percayakah kau?”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Bwee Su-yok kontan jadi terbelalak lebar, sedang kawanan jago lainnya tak dapat menahan rasa gelinya lagi, mereka tertawa terbahak- bahak.

Tak aneh kalau mereka tertawa geli, bayangkan saja bukannya ia sudah kena ditawan orang, bahkan berada pula dilingkungan musuh musuhnya yang tangguh tapi pemuda itu telah mengucapkan kata-kata yang tidak bersemangat, selain itu diapun malah bertanya apakah orang mau percaya dengan perkataan itu, bayangkan saja siapa yang tidak geli dibuatnya.

Bwee Su-yok sendiri pun diam-diam berpikir dihati, “Manusia macam apaan orang ini? Kalau dilihat dari wajahnya yang tampan dan tindak tanduknya yang gagah perkasa, sudah pasti dia terhitung seorang laki-laki yang tinggi hati.

Tapi mengapa mengucapkan kata-kata macam perkataan bocah cilik? Apakah…. Apakah dia merasa yakin sekali kalau dirinya memiliki kemampuan untuk meloloskan diri?”

Dalam pada itu, Hoa In-liong duduk dikursi tepat dihadapannya dengan senyuman dikulum, sikapnya amat tenang, tidak tampak sikap malu, atau menyesal, juga tidak menunjukkan tanda-tanda kalau ia merasa amat yakin.

Sikapnya yang begitu santai, begitu kalemnya mengingatkan orang bahwa dia seakan-akan berada dilingkungan sahabat- sahabat sendiri, kehambaran dan ketenangannya cukup membuat orang jadi tercengang.

Haruslah diketahui, keketusan dan kehambaran sikap Bwee Su-yok jauh berbeda dengan manusia biasa. Seringkali manusia dengan pendidikan yang kaku dan dingin semacam ini memiliki pandangan yang lebih agresif terhadap segala macam bentuk rasa sayang maupun rasa benci.

Waktu itu dia masih belum menemukan rasa cintanya terhadap Hoa In-Liong, maka ia merasa setiap gerak-gerik dari si anak muda itu mendatangkan rasa benci baginya. Menurut jalan pikirannya, andaikata manusia semacam ini dibiarkan lolos dari cengkeramannya, maka kejadian ini akan dianggapnya sebagai suatu penghinaan yang luar biasa besarnya, otomatis tak bisa disalahkan pula bila ia mempunyai cara berpikir yang bertolak belakang dengan orang biasa.

Seng Sin-sam, tongcu bagian penerimaan anggota baru yang kerdil pada hakekatnya adalah seorang manusia yang licik dan banyak tipu muslihatnya. Sambil tertawa tergelak tiada hentinya, dengan mata yang tajam dia mengawasi gerak-gerik Hoa In-liong, Kemudian ia berseru dengan nada dingin, “Lapor kaucu, aku lihat Hoa In-liong adalah seorang manusia kurcaci yang tak berguna. Ia tidak memiliki kegagahan dan kejantanan seperti Hoa Thian-hong. Menurut pendapat hamba, lebih baik kita tak usah membuang banyak tenaga dan pikir-an lagi”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, semua gelak tertawa terhenti dan sorot mata semua orang pun sama-sama dialihkan keatas wajah Hoa In-liong.

Si anak muda itu masih tetap duduk dengan sennyuman dikulum, Tubuhnya yang duduk sekokoh batu karang tampak begitu tenang dan kalemnya, seolah-olah tidak terpengaruh sama sekali oleh ancaman yang membahayakan jiwanya itu.

Huan Tong Si Tongcu bagian propaganda segera menyela dari samping ruangan, “Hamba juga mempunyai pendapat demikian, asal yang kecil kita jagal, tentu si kura-kura tua terpaksa harus menongolkan diri. Bagaimanapun jua kita toh hendak memimpin dunia persilatan dan bersikap musuhan dengan Hoa Thian-hong, nanti juga bentrok sekarang juga bentrok, kenapa tidak kita jagal saja bangsat cilik ini baru kemudian melakukan pertarungan besar dengan sepuas- puasnya”

Orang ini sangat suka mencari nama dan pahala. Dia paling tidak percaya kalau dikatakan Hoa Thian-hong itu lihay, maka dalam penbicaraanpun bukan saja sama sekali tidak menunjukkan perasaan jeri, bahkan penuh dengan semangat yang menyala-nyala.

Hoa In-liong tidak biasa dengan gayanya yang sok itu, cepat dia menimbrung sambil tertawa tergelak, “Haaa…. haa…. haaa…. Ayohlah kalau mau turun tangan! Aku orang she-Hoa kan duri dalam mata bagi kalian semua, kenapa tidak segera turun tangan?”

Lie Kiu-it, tiamcu dari ruang siksa menyahut dengan suara yang dingin dan tajam, “Cepat atau lambat kita pasti akan turun tangan. Asal kaucu ada perintah, pertama-tama akan kusuruh kau cicipi bagaimana rasanya kalau sekujur badan diselomoti dengan batang hio yang menyala!”

Lie Kiu-it yang menjabat sebagai ketua istana ruang penyiksaan ini memang memiliki tampang “kriminal”. Bukan saja kepalanya botak, tubuhnya tinggi besar, biji matanya yang putih lebih banyak daripada yang hitam. Malahan mata itu semu merah menyala. Tampang semacam ini tak bisa dibatalkan lagi kalau dikatakan sebagai tampang seorang manusia yang buas dan berjiwa kejam.

Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong lantas berpikir didalam hatinya, “Orang ini adalah seorang penjagal yang melanjutkan hidup dengan kerjanya menjagal manusia, tampang semacam ini persis dengan tampang pembantu Gwa- kong ku yang kejam itu. Biasanya manusia seperti itu bukan saja buas, juga tidak berperi kemanusian. Manusia macam begini tak dapat dibiarkan hidup lebih jauh. Bila sampai bertempur nanti, akan kucabut lebih dahulu se-lembar jiwanya”

Kek Thian-tok yang menjabat sebagai Tongcu bagian tata cara dan disiplin perkumpulan merupakan anggota Kiu-im- kauw yang paling tua, diapun paling paham dengan jalan pemikiran kaucunya. Ketika pendapat mulai diutarakan simpang siur, tiba-tiba dia melangkah keluar dari rombongan dan memberi hormat kepada kaucunya seraya berkata, “Hamba mengetahui betapa terkenangnya kaucu terhadap sahabat-sahabat lama, terutama kesan yang begitu mendalam terhadap sanak keluarganya Hoa In-liong. Sayang bocah she Hoa ini begitu

tak tahu diri dan menganggap dirinya sebagai sok jagoan hingga bersikap kurang sopan kepada kaucu. Menurut hamba, orang ini terlampu binal dan aneh. Rasanya untuk menundukkan perasaannya dengan mengenang kembali kesan dan hubungan persahabatan dimasa lampau, hal ini sukar untuk terpenuhi dengan mudah!”

Selama orang lain mengajukan usul dan pendapatnya yang beraneka ragam, Kiu-im kaucu selalu membungkam dalam seribu bahasa tanpa memberi komentar apa-apa, ini menunjukkan bahwa jalan pemikiran mereka tidak sesuai dengan jalan pemikirannya.

Tapi setelah Kek Thian-tok yang menjadi Tong cu bagian tata cara dan disiplin perkumpulan ini mengutarakan kata- katanya, pelan-pelan diapun mengangguk. Meskipun telah mengangguk, tapi mulutnya tetap membungkam, sementara otaknya masih berputar memikirkan sesuatu.

Haruslah diketahui, Kiu-im kaucu adalah seorang manusia yang cerdik dan banyak tipu muslihatnya, sekalipun wataknya agak keras pada hakekatnya dia adalah seorang manusia yang buas, ganas dan berbahaya.

Dimasa lampau, dia pernah menaruh kesan baik atas diri Pek Kun-gi sebagai muridnya, meski-pun pada akhirnya keinginan hatinya itu tak sampai keturutan, tapi bayangan dari Pek-Kun-gi masih selalu melekat dalam-dalam dihatinya.

Apalagi dimasa lalu dia mempunyai suatu cita-cita yang lain, yakni bila Pek Kun-gi dapat ia terima sebagai muridnya, otomatis Hoa Thian-hong akan tertarik juga untuk menjadi anggota Kiu-im-kauw. Asal orang-she-Hoa itu sudah tunduk dibawah perintahnya, dengan gampangnya pula tahta pemimpin dunia persilatan akan terjatuh ketangannya.

Meskipun kejadian itu sudah lewat banyak tahun, tapi sampai sekarang ambisinya itu belum pernah padam, tentu saja dalam gerakan turun gunungnya kali ini juga diselilingi dengan maksud-maksud tertentu.

Apa mau dikata ketika baru saja terjun ke dalam dunia persilatan, dia telah bertemu lebih dulu dengan putranya Pek Kun-gi. Sebagaimana diketahui Hoa In-liong mempunyai wajah yang mirip dengan ayah ibunya, maka dipakainya siasat yang bersifat lembut untuk menggaet perasaan simpatik dihati anak muda itu.

Pikirnya asal Hoa In-liong bisa ditarik kesan baiknya sehingga antara pihaknya dengan keluarga Hoa Thian-hong dapat terjalin hubungan, maka cita-citanya untuk menjagoi dunia persilatan tak akan terlampau sulit untuk dicapai.

Maka bila diteliti lebih mendalam, boleh dibilang ia memang sedarg mengulangi kembali sia-sat lamanya.

Tentu saja dibalik kesemuanya itu terdapat suatu alasan yang amat sensitif sifatnya, yaitu Kiu-im kaucu menaruh rasa jeri dan ngeri terhadap Hoa Thian-hong, ayahnya Hoa In- liong.

Tegasnya Kiu-im kaucu sampai sekarang masih tak dapat melupakan dendam sakit hatinya dimasa lampau, terutama keberhasilan Hoa Thian-hong memimpin dunia persilatan dan menghancurkan ambisinya untuk menguasai seluruh jagad. Sakit hati semacam ini tentu saja tak dapat dia lupakan untuk selamanya.

Betapa besarnya rasa dendam dan sakit hati Kiu-im kaucu terhadap diri Hoa Thian-hong dapat terlihat jelas misalnya saja dalam pembunuhan terhadap Suma Tiang-cing beserta istrinya Kwa Gi-hun dan tindakannya menciptakan Bwee Su-yok yang dingin dan kaku. Boleh dibilang kesemuanya itu dilakukan khusus untuk ditujukan buat keluarga Hoa.

Sekalipun demikian, Kiu-im kaucu termasuk juga seseorang yang lebih memperhatikan tercapainya tujuan daripada memikirkan cara pelaksanaannya. Ia merasa apalagi bisa menarik kesan baiknya Hoa In-liong sehingga antara pihaknya dengan pihak Hoa Thian-hong terjalin hubungan baik dan cita- citanya dapat tercapai tanpa harus terjadi kontak senjata, bukankah cara tersebut jauh lebih baik?

Walaupun dia adalah seorang ketua dari suatu perkumpulan besar, namun daripada itu diapun merasa tak mempunyai keyakinan untuk menangkan musuhnya maka kalau bisa dia berusaha ingin mencapai tujuan dengan cara yang halus dan baik-baik.

Sayang sekali perempuan tua itu sudah salah menafsirkan diri Hoa In-liong. Sekilas pandangan pemuda ini memang tampaknya acuh tak acuh dan tidak begitu menaruh perhatian terhadap setiap persoalan. Padahal justru dia merupakan seorang berotak encer, ditambah lagi kecerdikannya wataknya yang terbuka dan tidak terikat adat istiadat yang tetek bengek, serta pandai memutar kemudi mengikuti hembusan angin, kesemuanya itu membuat orang jadi sukar untuk meraba maksud tujuan serta jalan pemikiran yang sebenarnya.

Karena persoalan ini Kiu-im kaucu pernah merasakan kesulitan, bahkan nafsu membunuhnya pernah menyelimuti pula benaknya, terutama sewaktu berada dibukit Ciong-san, ia pernah dibuat marah oleh persoalan itu.

Sebagai seorang yang berhati kaku, dia enggan untuk merubah cara berpikirnya, tapi sekarang setelah diberi petunjuk oleh Kek Thian-tok, dan lagi apa yang diucapkan juga begitu luwes tanpa menyinggung gengsinya, maka setelak termenung sebentar dia alihkan pandangannya kewajah orang itu. “Bagaimana menurut pendapatmu?” tanyanya kemudian.

“Menurut pendapat hamba lebih baik untuk sementara waktu kita sekap saja pemuda ini. Sementara kabar tentang penangkapan ini kita siarkan luas diluaran. Coba kita lihat saja bagaimanakah reaksi dari ayah ibunya, selain itu kitapun mengirim kabar kepada Hian-beng kaucu agar segera datang ke suatu tempat yang kita janjikan untuk bersama sama merundingkan rencana besar kita selanjutnya dalam menghadapi Hoa Thian-hong. Bagaimanapun juga kita toh sudah keluar gunung, cepat atau lambat akhirnya kita pasti akan melangsungkan suatu pertarungan habis-habisan melawan Hoa Thian-hong dan konco-konconya. Maka menurut pendapat hamba, selama Hoa In-liong ini masih bisa dipakai kita pakai saja, tapi kalau sudah tak dapat kita pakai lagi, sampai waktunya kita lenyapkan saja bocah kunyuk ini dari muka bumi, urusan kan menjadi beres?”

Yang dimaksudkan sebagai “bisa dipakai” disini adalah digunakan sebagai sandera.

Sebelum Kiu-im kaucu sempat memberikan reaksinya, Hoa In-liong sudah tertawa terbahak-bahak. “Haaa…. haa…. haa…. Suatu ide yang sangat bagus! Suatu idee yang bagus sekali?

Kalau toh semua pihak akan berdatangan semua untuk menyelesaikan masalah ini, rasanya aku Hoa loji tak perlu repot-repot lari kesana kemari lagi!”

Habis berkata dia lantas bangkit berdiri dan berjalan menuju keruang belakang.

Dengan suatu gerakan yang sangat cepat Bwee Su-yok melayang kedepan dan menghadang jalan perginya, kemudian bentaknya keras-keras, “Hey, mau apa kamu?”

“Mau apa? Tentu saja pergi beristirahat! Bukankah kalian hendak menyekap diriku?” sahut Hoa In-liong dengan dahi berkerut.

Bwee Su-yok segera mendengus dingin. ““Hmmm….! Enak benar kalau berbicara, memangnya kasu anggap disekap itu enak yaa?”

Hoa In-liong mengangkat bahunya seraya tertawa. “Meskipun katanya saja disekap! Tentunya kau tidak akan memborgol tangan dan kakiku bukan macam buronan penjahat besar dalam penjara kota….?” Mengangkat bahu sambil tertawa sebenarnya merupakan suatu gerakan melucu, tapi lantaran orangnya memang tampan dan binal, maka gerakan melucunya ini justru mendatangkan suatu daya rangsangan yang lain dari pada yang lain.

Menyaksikan semua gerakannya itu, Bwee Su-yok merasa dirinya seakan-akan kena ditampar, makin dilihat semakin tak enak rasanya, tak kuasa lagi dia mendengus dingin berulang kali.

Ditengah dengusan tersebut tiba-tiba tubuhnya berputar menghadap ke arah Kiu-im kaucu, kemudian serunya, “Suhu, apakah engkau sudah mengambil keputusan yang tetap?”

Rupanya Kiu-im kaucu cukup memahami betapa marah dan mendongkolnya gadis itu. Dengan nada tercengang dia balik bertanya, “Mengambil keputusan tentang soal apa?”

“Menyekap orang she-Hoa ini disini!”

“Oooh….! Soal itu toh…. ada apa? Apakah engkau mempunyai pendapat lain?”

“Tidak ada, anak Yok cuma berharap bilamana suhu telah mengambil keputusan maka harap engkau orang tua suka menyerahkan orang she-Hoa itu kepadaku?”

Mendengar ucapan tersebut, tiba-tiba Hoa In-liong berteriak aneh, “Bagus…. Bagus sekali? Ada perempuan yang mau menemani aku, berarti rejeki yang amat besar bagi aku Hoa-loji…. haaa…. haa…. haa…. Syukurlah kalau nona memang demen sama aku!” Kiu-im kaucu tertawa dingin, sinar matanya segera dialihkan ke wajah muridnya dan berkata, “Kenapa harus kuserahkan kepadamu? Orang

ini aneh sekali dan banyak tipu muslihatnya”

“Aku tidak takut kebinalannya, juga tidak takut tipu muslihatnya, aku akan suruh dia merasa-kan pahit getirnya ditanganku”

Kiu-im Kaucu tidak langsung menyanggupi, dia berpikir sebentar kemudian baru menjawab, “Baiklah! Memang ada baiknya juga membiarkan dia merasakan sedikit kelihayanmu. Tapi kau musti hati-hati, jangan sampai membuat badannya menjadi cacad, sebab aku masih mempunyai kegunaan lainnya”

“Yaa suhu!” Bwee Su-yok mengiakan, dia lantas putar badan dan berseru lagi dengan dingin, “Ayoh jalan!”

Hoa In-liong sama sekali tidak memikirkan ancaman lawan malahan dengaa sikap yang mengejek ia membuat gerakan mempersilahkan nona itu berjalan lebih dulu. “Silahkan nona manis! Harap engkau suka mem bawa jalan bagi diriku!” katanya sambil tertawa.

Bwee Su-yok mendengus dingin, tanpa mengucapkan sepatah katapun dia putar badan dan berjalan menuju ke arah pintu ruangan sebelah belakang.

Hoa In-liong segera menjura kepada diri Kiu-im kaucu, kemudian katanya, “Bila dari pihak ayah ibuku sudah ada kabar, tolong kaucu bersedia memberi kabar kepadaku, maaf tak dapat menemani terlampau lama….!” Dengan langkah lebar dan sikap yang amat santai dia lantas berlalu dari situ dan menuju ke ruang belakang mengikuti langkah Bwee Su-yok.

Menyaksikan sikap Hoa In-liong yang begitu santai dan sama sekali tidak merasa takut itu, Lie Kiu-it si tiamcu ruang penyiksaan dan para tong-cu lainnya sama-sama menunjukkan senyuman yang menyeringai. Agaknya mereka senang sekali karena musuhnya sudah dibawa pergi untuk disekap sementara waktu.

Hanya Kiu-im kaucu seorang yang mengerutkan dahiaya, dalam hati dia berpikir, “Bagaimanakah watak si bangsat itu yang sebenarnya? Benarkah dia tidak takut disiksa dan tak takut mati? Ataukah dia emang memiliki sesuatu kekuatan yang bisa diandalkan….”

Semakin dipikir hatinya semakin gundah, akhirnya dengan suara keras dia berseru, “Bubar! Kita laksanakan tugas masing-masing sesuai dengan rencana, Kek-tongcu! Bawalah orang dan segera mengadakan kontak dengan Hian-beng kaucu”

Begitu selesai berkata, dia lantas mengundurkan diri lebih dahulu dari tempat itu.

Tanpa mengucapkan sepatah kata pun Bwee Su-yok berjalan didepan menelusuri serambi yang pa jang dan menuju keruang belakang.

Hoa In-liong mengikuti tanpa berbicara juga, hanya bedanya kalau si nona berwajah dingin dan serius. Sementara si anak muda itu berjalan dengan wajah penuh senyuman.

Kendatipun demikian perbedaan sikap itu sama sekali tidak mengurangi ketampanan dan kecantikan wajah mereka berdua. Begitu menariknya raut wajah kedua orang itu sehingga mirip dewa-dewi yang baru turun dari kahyangan.

Setelah mencapai ujung serambi tersebut, mereka melewati sederetan bangunan rumah dan ak-hirnya tibalah disebuah halaman yang terpencil letaknya jauh dlbelakang sana.

Disinilah tempat tinggal Bwee Su-yok, letaknya disudut tenggara bangunan utama. Halaman itu bertengger persis dibawah tanah perbukitan Ciong-san. Didepan pintu membujur sebuah selokan kecil yang meliuk-liuk kesana-kemari, menciptakan suatu pemandangan yang sangat indah dan sedap dilihat.

Setelah memasuki halaman tersebut, seorang dayang kecil yang memakai baju berwarna hijau pupus menyambut kedatangan mereka.

Bwee Su-yok mendengus dingin, katanya kemudian dengan ketus, “Siapkan tali dan bawa kedalam ruangan!”

Tanpa menghentikan langkah kakinya dia langsung masuk kedalam sebuah bangunan yang mungil didepan sana.

Dengan langkah yang santai dan wajah diliputi senjuman Hoa In-liong mengikuti terus dibelakang gadis itu, ketika lewat disamping dayang cilik itu ia lantas menunjukkan muka setan.

Dayang itu agak tertegun melihat sikap tamunya, matanya jadi terbelalak lebar. Untuk sesaat dia jadi lupa untuk melaksanakan perintah majikannya.

“Kenapa berdiri melulu?” Bwee Su-yok membentak sambil putar badannya. “Sudah kau dengar belum perkataanku tadi?” Dengan rada kaget dayang itu buru-buru menyahut, “Sudah dengar…. Sudah dengar….”

Dengan langkah cepat dia lantas kabur dari situ. oooOOOOooo

S

ETIBANYA didalam ruangan, dengan gaya yang sok Bwee Su-yok duduk dikursi kebesaran dalam ruangan itu. Sedang Hoa In-liong masih berlagak santai, makanya celingukan kesana kemari mengamati bangunan tersebut.

Bangunan itu cukup megah, sekalipun tidak begitu besar tapi cukup mewah dan mentereng.

Ditengah-tengah bangunan merupakan sebuah ruangan tamu, kedua belah sisinya merupakan tempat tinggal Bwee

Su-yok, kamar baca dan ruangan untuk bersemedi. Dibelakang ruang semedi adalah tempat tidur dayang itu.

Semua perabot yang ada disana terbuat dari kayu jati pilihan. Modelnya bagus, bikinannya ju-ga halus. Lukisan- lukisan kenamaan tergantung dikedua sisi dinding ruangan dan semuanya berada dalam keadaan bersih. Ini menunjukkan kalau Bwee Su-yok adalah seorang gadis yang suka akan kebersihan.

Pada waktu itu senja lelah menjelang tiba, selang sesaat kemudian dayang tadi muncul sambil membawa baki berisi cawan air teh dan seutas tali besar.

Melihat itu. Bwee Su-yok langsung melototkan matanya lebar-lebar, bentaknya dengan gusar, “Siapa yang suruh kau hidangkan air teh?” “Kan ada tamu nona? Biarlah kesuluh lampu “ jawab dayang itu sok pintar.

Setelah meletakkan baki air teh dimeja dan meletakkan tali dilantai, ia putar badan siap meng-ambil api.

“Omong kosong! Siapa yang menjadi tamu kita?” Bentak Bwee Su-yok lagi dengan marah.

Dayang cilik itu jadi terbelalak makin tercengang, sebentar dia memandang ke arah Bwee Su-yok, sebentar memandang pula ke arah Hoa In-liong. Wajahnya jelas menunjukkan sikap kebingung

an dan tidak habis mengerti.

Dayang cilik itu berusia dua tiga belas tahunan, dia adalah seorang bocah perempuan yang cilik. Mukanya bulat dengan mata yang besa. Meskipun sifat kanak-kanaknya belum hilang dan polos sekali, dia terhitung seorang nona yang cerdik dan lincah. Dihari-hari biasa amat disayang oleh Bwee Su-yok hingga sikapnya juga jauh lebih akrab.

Sementara nona cilik itu masih termangu keheranan, tiba- tiba Hoa In-liong berkata sambil ter-tawa, “Aaah…. Jiwa nona memang terlampau sempit. Sekalipun aku bukan tamu, apalah artinya secawan air teh? Kenapa kau musti mengumbar hawa amarah terhadap seorang bocah cilik?”

Dengan pandangan yang dingin Bwee Su-yok melirik sekejap ke arahnya, kemudian kepada dayang cilik itu katanya lagi, “Peng-ji, kenapa kamu….? Ayoh panggil Siau-kian dan Siau-bi suruh kemari, kemudian baru memasang lampu!” Tampaknya Peng-ji masih merasa bingung dan tidak habis mengerti, apalagi dihari biasa selalu dimanja, bukannya melaksanakan perintah itu, dengan dahi berkerut dia malah membantah, “Kenapa musti panggil mereka? Peng-ji kan dapat melakukan semua perintah nona sendirian!”

“Suruh panggil mereka yaa, panggil mereka, kenapa musti cerewet melulu?” bentak Bwee Su-yok dengan muka berubah, “Memangnya kau sanggup untuk mengikat orang itu sendirian?”

Peog-ji semakin tertegun, segera pikirnya. “Aneh benar siocia kita ini. Kenapa orang itu harus diikat? Memangnya dia…. dia sudah menyalahi siocia?”

Sementara dia masih berpikir, Hoa In-liong telah berkata sambil tertawa nyaring, “Haa…. haa…. haa…. Kau anggap dengan seutas tali maka aku dapat terikat sehingga tak bisa berkutik?”

“Tak usah banyak bicara lagi, nanti toh kau akan tahu sendiri” jawab Bwee Su-yok dingin.

Hoa In liong tersenyum. ‘Sekalipun tali itu bisa membelenggu tubuhku, jika aku tak mau menyerahkan diri untuk diikat, sekalipun nona turun tangan sendiri rasanya keinginanmu itu belum tentu dapat keturutan!”

Bwee Su-yok mendengus dingin. “Hmm, kecuali kalau engkau bukan seorang enghiong. Siau-kian dan Siau-bi hanya setahun lebih tua dari Peng-ji, boleh saja kalau ingin mencobanya”

Mendengar ucapan tersebut Hoa In-liong jadi tertegun, dia lantas berpikir pula didalam hati, “Waaah…. kalau begitu rada susah juga, masa aku harus berkelahi dengan bocah cilik? Tapi…. Tapi…. aku tak dapat menyerahkan diri dengan begitu saja”

Pikir punya pikir akhirnya sambil tersenyum dia berkata. “Aku benar-benar tak habis mengerti, kenapa nona begitu ngototnya ingin membelenggu tubuhku? Ketahuilah nona, pekerjaan semacam itu tak ada gunanya!”

“Hmmm….! Siapa bilang tak ada gunanya? Aku hendak mengikat tubuhmu kemudian menggantung engkau diatas pohon” sahut Bwee Su-yok dengan ketus.

“Kalau sudah digantung lantas bagaimana? Itukah yang kaumaksudkan sebagai siksaan bagiku?”

“Kalau digantung masih belum dapat menyiksa dirimu, maka aku akan menggantung tubuhmu dengan kepala dibawah. Selama tiga hari tiga malam tak akan kuberi makan maupun minum, coba lihat saja bagaimana rasanya nanti!”

Bagi seorang jago yang belajar silat, tidak makan selama tiga hari mungkin tak akan menda-tangkan penderitaan apa- apa. Tapi kalau selama tiga hari tiga malam digantung secara terbalik, dengan isi perut yang terbalik dan peredaran darah yang mengalir secara terbalik pula, siksaan dan penderitaan semacam itu boleh dibilang luar biasa sekali. Siksaan itu lambat sifatnya tapi cukup membuat orang jadi sinting karena menderitanya.

Diam-diam Hoa In-liong merasa terperanjat. Tanpa sadar sinar matanya dialihkan ke arah pohon besar yang tumbuh diluar pintu.

Berbanggalah hati Bwee Su-yok melihat rasa terkejut yang menyelimuti wajah si anak muda itu. Dia cibirkan bibirnya lalu berkata lebih jauh, “Aku lihat engkau tidak acuh yaa terhadap semua ancamanku? Baiklah, kalau memang engkau sudah siap menerima semua siksaan terse-but, kupersilahkan dirimu untuk merasakan bagaimana nikmatnya kalau digantung secara ter-balik selama tiga hari tiga malam!”

Berbicara sampai disitu dia lantas berpaling lagi ke arah Peng-ji seraya ujarnya, “Ayoh cepat lakukan! Mau apa kamu berdiri

melongo melulu ditempat itu?”

Melihat sikap si nona itu, Hoa In-liong segera tertawa getir. “Nona Bwee, sungguh tak kusangka kalau engkau adalah manusia macam begitu” katanya, “Aku Hoa Yang toh tiada permusuhan apa-apa dengan dirimu, sekalipun ada perselisihan, itupun perselisihan dari orang-orang setingkat lebih tinggi dari kita, mengapa kau berbuat begitu kejam dengan menyiksa aku memakai cara semacam itu, aku…. aku…. Benar-benar tidak habis mengerti dengan keputusanmu itu”

“Heeh…. heeh…. hee…. Bagaimana?” ejek Bwee Su-yok sambil tertawa dingin, “Jadi engkau juga mengerti tentang soal jeri dan ketakutan?”

Dengan cepat Hoa In-liong gelengkan kepalanya. “Nona keliru besar, aku Hoa Yang belum pernah kenal apa yang dimaksudkan jeri atau ketakutan. Orang bilang kalau berani adu jiwa maka tiada kesulitan yang akan dihadapi seseorang, kalau cuma kelaparan selama tiga hari atau digantung selama tiga hari sih masih belum terhitung penderitaan yang luar biasa. Cuma saja…. Cuma saja…. aaai….! Lebih baik tak usah kukatakan saja!”

Ia lantas membungkukkan badannya, memungut tali itu dari tanah, kemudian setelah ditimang-timang sesaat ujarnya sambil berpaling ke arah Peng-ji, “Siau Peng-ji, harap kemarilah sebentar!”

“Mau apa?” seru Peng-ji tertegun.

Hoa In-liong tertawa ewa. “Kalau memanggil orang lain tentu merepotkan sedang siocia kalian tak sudi turun tangan sendiri, maka aku minta agar engkau saja yang membelenggu tubuhku!”

Mendengar ucapan tersebut. Peng-ji semakin tertegun lagi dibuatnya, demukian pula halnya dengan Bwe-Su-yok. Ia tampak tercengang dan sedikit merasa diluar dugaan atas keputusan lawannya.

Didalam pemikiran Bwe-Su-yok, keadaan Hoa In-liong dianggapnya sudah terpojok dan tak bisa berkutik lagi, hingga sekalipun diejek lagi juga tak akan berani membangkang.

Dia justru ingin sekali menyaksikan keadaan Hoa In-Iiong yang mengenaskan karena dibuat serba salah dan tercemooh habis-habisan. Siapa tahu tiba-tiba saja Hoa In-liong merubah sikapnya, bahkan berubah jadi begitu penurut dan alimnya bukan saja pembicaraannya terputus sampai ditengah jalan bahkan juga tidak mamanggil orang untuk membelenggunya, sebaliknya suruh Peng-ji yang baru berusia dua tiga belas tahun itu melaksanakan tugasnya. Tindakan semacam ini tentu saja aneh sekali tampaknya dan siapapun tidak akan menduga sampai kesitu.

Dipandangnya wajah Hoa In-liong dengan termangu- mangu. Ia merasa pemuda itu bersikap sungguh-sungguh dan sama sekali tiada tanda-tanda mau main curang atau menggunakan tipu muslihat yang licin, tentu saja gadis itu makin keheranan. Tapi dia tak mau mempercayai keadaan tersebut dengan begitu saja, bagaimanapun juga “sedia payung sebelum hujan” memang ada baiknya. Maka dengan wajah yang masih diliputi rasa cengang bercampar curiga dia menegur, “Hmmm…. Rupanya engkau hendak menggunakan akal muslihat untuk menyergap Peng-ji?”

Tertawalah Hoa In-liong mendengar tuduhan tersebut. “Haa…. haa…. haa…. Nona memang terlalu banyak curiga. Keturunan keluarga Hoa bukan manusia munafik, setiap patah kata yang telah kuucapkan tak akan kubantah lagi untuk selamanya. Tadi, nona telah memuji aku Hoa Yang sebagai seorang Enghiong. Apabila aku Hoa Yang betul-betul tak tahu diri, bukankah perbuatanku ini akan membuat kecewanya hati nona?”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, wajah pemuda itu tetap santai, biasa dan sama sekali tidak mengandung nada sindiran atau ejekan. Kesemuanya ini segera mendatangkan suatu perasaan yang bergetar keras dalam hati Bwee Su-yok. Ia merasakan suatu perubahan perasaan yang aneh sekali. “Omong kosong, ngaco belo tak karuan!” bentaknya, “Siapa yang merasa kecewa….”

Tiba-tiba ia merasa makin berbicara makin tak genah, akhirnya tak bisa dicegah lagi merah pa-damlah pipinya karena jengah. Pembicaraanpun segera terhenti.

Hoa In-liong juga agak tertegun oleh keadaan tersebut, tapi dengan cepat dia menjura seraya berkata, “Harap nona jangan gusar, maksudku aku lebih rela menjadi seorang enghiong daripada melakukan perbuatan terkutuk yang memalukan dengan mencelakai jiwa Peng-ji. Karenanya harap engkau suka memerintahkan Peng-ji untuk datang mengikat tubuhku! Hanya saja….” Mendengar perkataan itu, air muka Bwee Su-yok berubah semakin merah, ia tertegun sejenak, kemudian serunya dengan suara dalam, “Tidak! Hanya kenapa….? Ayoh lanjutkan dulu perkataanmu itu….!”

“Dibicarakan juga tak ada gunanya, lebih baik tak usah dibicarakan saja!”

Kembali dia menggunakan kata-kata “lebih baik tak usah dibicarakan” untuk menampik kehendak nona itu, hal ini segera menggusarkan hati Bwee Su-yok, bentaknya dengan nyaring, “Tidak! Bagaimanapun juga harus kau lanjutkan kata- katamu itu, kalau tidak maka engkau akan kugantung selama tujuh hari tujuh malam lamanya!”

Hoa In-liong membetulkan letak tempat duduknya, kemudian ditatapnya wajah Bwee Su-yok dengan serius, setelah itu katanya lagi, “Jika nona memang ingin tahu, terpaksa aku harus mengatakannya secara terus terang”

“Jangan bicara sembarangan” tiba-tiba Peng-ji memperingatkan dengan suara nyaring, “Kalau bicara sembarangan, siocia kami pasti akan menjadi marah!”

Hoa In-liong tersenyum kepadanya sebagai tanda terima kasih, kemudian seraya berpaling ujarnya dengan wajah bersungguh sungguh, “Kecantikan nona melebihi kecantikan siapapun yang ada didunia ini. Dewi dari kahyanganpun belum tentu secantik wajah nona. Memang banyak sudah gadis cantik yang pernah kujumpai. Tapi bila mereka dibandingkan dengan nona, maka selisihnya ibaratnya langit dan bumi”

“Cantik atau tidak tiada sangkut pautnya dengan dirimu” tukas Bwee Su-yok sebelum pemuda itu menyelesaikan kata- katanya, “Nona benci mendengar kata-kata sanjunganmu yang manis itu” “Nona jangan salah sangka, aku berkata demikian bukan bertujuan untuk merayu nona atau mencari pujian dan sanjungan dari nona. Apa yang kuucapkan sesungguhnya merupakan kata-kata yang betul-betul muncul dari hati sanubariku sendiri” kata Hoa In-liong dengan wajah serius, “Terus terang saja kukatakan, sejak berjumpa dengan nona hatiku sudah merasa terpikat, siapa tahu…. Aaaiaa…. Siapa tahu nona….”

“Ngaco belo melulu, apa yang kau omelkan te rus menerus?” tukas Bwee Su-yok sambil membentak marah.

“Tidak….! Dia tidak ngaco belo! Nona memang cantik jelita membuat siapapun yang melihat jadi terpikat….” Sela Peng-ji dari samping dengan suara melengking.

Tiba-tiba Bwee Su-yok bangun berdiri dengan marah, bentaknya penuh kegusaran, “Oooh…. Jadi engkau membantu dia untuk mengerubuti nonamu….?”

“Tidak, tidak…. Peng-ji tidak membantu dia, Peng-ji hanya bicara sejujurnya” sahut Peng-ji ketakutan.

Hoa In-liong ikut bangkit berdiri, lalu selanya, “Peng-ji adalah dayang kepercayaanmu sendiri, masa dia mau membantu aku untuk mengerubuti dirimu? Sayang meski nona cantik jelita bak bidadari dari kahyangan, tapi wataknya terlalu dingin kaku dan kejam, terutama sikapnya terhadap diriku”

Setajam sembilu sorot mata Bwee Su-yok, jelas perasaannya waktu itu yaa marah yaa mendongkol, dia sendiripun tidak begitu jelas. Sebelum Hoa In-liong menyelesaikan kata-katanya, kembali dia menukas, “Bagaimana sikapku terhadap dirimu? Hmm….! Jangan dianggap lantaran kau tampan dan gagah maka nona bersikap baik kepadamu! Peng-ji, ikat dia!”

Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan tegas dan nyata, sama sekali tidak dibuat buat atau lain dengan jalan pikirannya. Jelaslah sudah bahwa keputusannya sudah bulat dan tak bisa diganggu gugat lagi.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya berulang kali seraya berguman seorang diri, “Yaa…. Kalau memang begitu, kenapa kau paksa aku untuk berterus terang? Peng-ji, terpaksa aku harus merepotkan dirimu. Lakukan saja apa yang diperintahkan nonamu itu, dan ikatlah badanku lebih erat lagi!”

Seraya berkata dia menghampiri Peng-ji seraya mengangsurkan tali tersebut ke tangannya.

Peng-ji menerima tali itu dengan wajah kebingungan, dia sama sekali tidak melakukan apa yang diminta.

“Ayoh kerjakan!” hardik Bwee Su-yok kemudian “Apa yang kau nantikan lagi?”

Dengan perasaan apa boleh buat terpaksa Peng-ji berjalan ke belakang punggung Hoa In-liong, mula-mula dia ikat dulu pergelangan tangannya.

Dayang itu bertubuh kecil dan pendek sedang Hoa In-liong tinggi besar, terpaksa pemuda itu harus berjongkok kebawah agar dayang tersebut bisa membelenggu lengannya.

Setelah kedua lengannya diikat dibelakang badan, tubuh Hoa In-liong bagian ataspun jadi kaku dan hilanglah kebebasan geraknya. Rupanya Bwee Su-yok merasa sangat tidak puas bila cuma lengannya saja yang dibelenggu, dengan nada yang berat dan dalam kembali dia mengomel, “Sebetulnya kau bisa membelenggu orang atau tidak? Kalau cuma lengannya saja yang diikat, kakinya kan bisa dipakai untuk berjalan kesana kemari?”

“Nona, lebih baik jalan darahku kau totok saja lebih dulu” seru Hoa In-liong dari samping “Sebab kalau tidak begitu, bila aku sudah tak tahan lagi, tali-tali yang mengikat badanku itu bisa kugetarkan sampai putus semua”

“Kalau membayangkan memang rasanya mudah dan semuanya bisa berjalan lancar memangnya kau itu seorang yang goblok atau memang tak takut sakit….? Hmmm….! Lihat saja pohon yang ada diluar itu, tingginya sembilan kaki. Jika kau tidak takut terbanting sampai mampus, silahkan saja tali- tali itu kau getarkan sampai putus semua!”

Diam-diam Hoa In-liong menghela napas panjang.

Sepasang matanya segera dipejamkan rapat rapat dan diapun tidak banyak berbicara lagi.

Selang sesaat kemudian, ketika lampu sudah mulai menerangi seluruh ruangan Hoa In-liong telah digantung diatas dahan pohon dengan kepala dibawah kaki diatas.

Waktu itu Bwee Su-yok masih duduk diruang tengah. Dua orang bocah perempuan yang berdandan sebagai dayang berdiri dikedua belah sisinya, sedangkan Peng-ji berdiri dihadapannya sambil mencibirkan bibir, jelas dayang cilik itu sedang merasa tak senang hati. 

Tapi Bwee Su-yok berlagak tidak melihat keadaannya itu. Pandangan matanya yang memancar kedepan tampak kosong dan hambar. Dia seperti lagi memikirkan sesuatu, tapi mirip juga seperti tidak lagi memikirkan apa apa, dengan wajah yang dingin dan kaku dia duduk membungkam dalam seribu basa.

Lewat beberapa saat lagi, dayang cilik yang ada disebelah kanan itu mulai tidak sabaran lagi, dengan suara yang rada takut-takut dia menegur, “Siau-cia, kami semua sudah lapar!”

“Sstt….! Jangan berisik” cegah dayang yang ada disebelah kiri dengan suara setengah berisik, “Siau-bi, nona kita sudah capai seharian penuh, sekarang perlu beristirahat dulu!”

“Sekalipun capai, masa makanpun segan? Toh orang itu sudah digantung dipohon, mau apa lagi kita berdiri termangu disini macam orang yang kehilangan ingatan?”

“Huuuh…. siapa yang tahu!” sambung Peng-ji dengan wajah cemberut karena kheki, “Orang itu kan nona sendiri yang suruh diikat dan digantung. Sekarang setelah digantung mukanya jadi masam seperti orang kehilangan semangat, duduk tak bergerak, disuruh makan juga menolak…. aaaah, lagi ngambek barangkali!”

Rupanya Bwee Su-yok mendengar omelan tersebut, sinar matanya lantas dialihkan kesamping dan melirik sekejap ke arah tiga orang dayangnya, kemudian dengan suara hambar katanya, “Kalian jangan berisik melulu disini, ayoh sana pergi semua. Aku akan tetap berada disini untuk menjaga orang she-Hoa itu!”

“Huuuh…. apa toh bagusnya? Kenapa musti dijaga?” seru Peng-ji dengan bibir yang dicibirkan

Bwee Su-yok semakin mangkel, teriaknya lagi, “Aaaah…. kamu ini memang cerewet sekali!. Siapa yang bilang aku cuma ingin memandanginya belaka? Aku sedang mengawasi dirinya? Ayoh cepat pergi semua”

Diantara ketiga orang dayang itu, usia Siau-kian yang paling tua, melihat paras muka Bwee Su-yok yang tak menentu, cepat-cepat dia ulapkan tangannya seraya berseru, “Mari kita pergi saja! Siocia kita sedang merasa kesal, ayoh kira makan duluan”

Selesai berkata ia memberi hormat lalu dengan membawa Siau-bi dan Peng-ji buru-buru mengundurkan diri dari ruangan itu.

Ketika bayangan tubuh mereka lenyap dari ruangan, dari pintu luar masih kedengaran suara Peng-ji yang sedang berbisik lirih, “Eeeh…. Sebetulnya apa yang telah terjadi?

Tampaknya siocia kita telah berubah….”

Benarkah telah berubah? Tentu saja hanya Bwee Su-yok sendiri yang mengarti akan hal ini.

Sementara itu, Hoa In-liong yang digantung terbalik diatas pohon betul-betul merasakan suatu siksaan dan penderitaan yang luar biasa tak enaknya.