Rahasia Hiolo Kumala Jilid 12

Jilid: 12

DITENGAH pertarungan, Hoa In-liong berpikir dihatinya, “Apa yang sebenarnya telah terjadi? Bukankah Kiu-im-kaucu telah berkata dengan jelas bahwa dia menghendaki aku dalam keadaan hidup? Kenapa perempuan ini malahan begitu bernafsu untuk membunuh aku? Kalau toh ingin membunuh aku, kenapa tidak ia gunakan pedang lemasnya?”

Sebuah telapak tangan yang kecil dan putih tiba-tiba mencengkeram ke arah dadanya, ini memaksa anak muda itu harus segera menarik kembali lamunannya, ia berjongkok kesamping, tangannya digetarkan keatas dan dengan kelima jari tangannya yang direntangkan bagaikan kuku garuda, dicengkeramnya urat nadi diatas pergelangan lawan.

Bwee Su-yok miring kesamping menghindarkan diri dari serangan Kim-liong-tam-jiau (naga emas mengunjukkan cakarnya) si anak muda itu, mendadak telapak tangannya ditekan kebawah dan membacok jalan darah cian-heng hiat dibahunya, sementara jari tangan kirinya setegang tombak menusuk jalan darah Hu-ciat-hiat dilambung.

Hu-ciat-hiat merupakan jalan darah pertemuan ditubuh manusia, apa bila tempat itu sampai tertotok, maka hawa darah akan membuyar kesamping, jiwapun otomatis terancam. Padahal serangan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, cukup dari desingan angin serangannya dapat diketahui bahwa ancaman tersebut benar- benar mengerikan.

Hoa In-liong sangat terkejut, buru buru ia memutar badannya kesamping untuk menghindarkan diri.

Tiba-tiba terdengar Coa Cong-gi berteriak keras, “Seng lo kui (setan tua), mau bunuh mau cincang aku orang she Coa tak nanti mengerutkan dahi, tani kalau engkau hendak mempermainkan diriku…..”

“Hmmm……! Jangan salahkan kalau aku orang she Coa akan mencaci maki dirimu…..”

Tongcu penerimaan anggota, Seng-Sin-sam tertawa seram. “Heeeh….. hee…… hee…… kaucu ada perintah untuk melayani sobat muda bermain sebanyak beberapa jurus, sedang akupun hanya melaksanakan perintah belaka, mau maki mau marah silahkan saja, yang pasti aku tak berani membunuh dirimu!”

Coa Cong-gi memang seorang laki laki yang berangasan, begitu terjun kedalam gelanggang dia lantas melancarkan serangkaian serangan yang meng getarkan hati. Dengan pukulan pukulannya yang serba keras dan penuh bertenaga, mula mula ancamannya itu mendatangkan juga hasil yang diinginkan, tapi lama kelamaan dengan usianya yang muda dan tenaga dalamnya yang serba terbatas puluhan jurus kemudian tenaga serangannya makin mengendor, akhirnya pukulan-pukulan yang di lancarkan juga makin lemah jadinya.

Seng-Sin-sam sendiri sebagai seorang Tongcu tentu saja memiliki ilmu silat yang tinggi, sudah puluhan tahun ia berkelana dalam dunia persilatan. Baik pengetahuan maupun pengalamannya boleh dibilang luas sekali, ditambah lagi dia adalah seorang manusia yang licik dan banyak akalnya. Sejak awal pertarungan, dia hanya bergerilya belaka memeras tenaga Coa Cong-gi, menanti jalannya pertarungan sudah dikuasahi, dia baru pukul sana hantam kemari seperti orang lagi mempermainkan musuhnya. Pada hal hakekatnya ia sedang mencari kesempatan untuk menyarangkan pukulannya ketubuh lawan. Sayang musuhnya ini berani mati. Ilmu silatnya juga istimewa, bertarung sekian lama dia belum berhasil juga untuk memenuhi harapannya.

Coa Cong-gi semakin berang, ketidak-sabarannya membuat mukanya sampai ketelinga jadi merah padam, napasnya ngos- ngosan seperti kerbau. Serangan yang dilancarkan juga semakin ngawur.

Hoa In-liong merasa amat terperanjat cepat teriaknya dengan suara lantang, “Tenang…..! Tenang…..! Saudara Cong-gi, Ja-

ngan keburu nafsu, bertempurlah pelan-pelan….”

Bagaikan bayangan setan, Bwee Su-yok menerjang maju kemuka, bentaknya dengan dingin, “Sudah, kamu tak usah campuri urusan orang lain, uruslah dirimu sendiri”

Telapak tangannya segera diayun kedepan menghajar batok kepala anak muda itu. Cukup keji serangan tersebut bahkan tenaganya bagaikan bukit Thay san yang memindah di atas kepala. Dalam kejutnya Hoa In-liong berusaha untuk berpaling sambil berkelit, tapi sayang ter-lambat, ia saksikan telapak tangan musuh yang putih bagaikan pualam itu tahu-tahu sudah berada beberapa inci diatas kepalanya.

Untunglah disaat yang amat kritis itu terdengar Kiu-im- kaucu membentak nyaring, “Aku menginginkan yang hidup!”

Bentakan tersebut penuh bernada kemarahan yang memuncak.

Bwee-Su-yok terperanjat, gerakan tangannya segera terhenti ditengah jalan. Menggunakan kesempatan itu Hoa In- liong menjejakkan kakinya dan mundur delapan depa ke belakang, dengan demikian loloslah dia dari ancaman tersebut.

Hoa In-liong memang jauh berbeda dengan manusia biasa, bila orang biasa yang baru lolos dari ancaman bahaya maut, niscaya nyalinya akan pecah dan peristiwa itu akan mengakibatkan kemarahan yang mendekati kalap. Sebaliknya Hoa In-liong tetap tenang, dipandangnya sekejap sekeliling arena pertarungan, kemudian sambil mengerahkan tenaga dalamnya dia membentak nyaring, “Tahan!”

Bentakan itu diutarakan dengan tenaga penuh, kerasnya bagaikan guntur yang membelah bumi di siang hari bolong, membuat jantung orang bukan saja berdebar keras, telingapun jadi sakit rasanya.

Jangan dibilang Coa Cong-gi yang memang keteter hebat, Si Nio berdua yang sedang bertarung melawan Kek Thian-tok pun berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan. Ketika mendengar bentakan tadi, semuanya terkejut dan serta merta juga pertarungan pun terhenti.

Paras muka Kiu-im-kaucu agak berubah, diam-diam pikirnya didalam hati kecil, “Hebat juga tenaga dalam yang dimiliki bocah itu, rasanya tidak berada dibawah kemampuan Hoa Thian-hong. Aku tak boleh terlalu memandang enteng orang ini!”

Sementara dihati kecil dia berpikir demikian, diluaran segera tegurnya dengan lantang, “Ada apa? Ada persoalan yang hendak kau ucapkan….?”

Hoa In-liong tidak menggubris pertanyaan itu, dia berpaling ke arah Si Nio yang masih berdiri dengan muka menyeringai dan serunya, “Kau boleh temani nonamu untuk, berlalu lebih dulu dari sini!”

Si Nio tertegun, kemudian serunya mendadak, “Dengan dasar apakah engkau memerintah aku….?”

“Persoalan yang sedang kami hadapi sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan diri kalian berdua maka kuanjurkan janganlah mencampuri urusan ini!”

Maksud dari ucapan anak muda itu cukup jelas, ia telah bersiap sedia melangsungkan pertempuran mati-matian, maka diharapkan orang yang tak ada sangkut pautnya dengan kejadian itu dipersilahkan untuk berlalu lebih dulu.

“Tidak….!” si nona baju hitam itu segera menampik, “Kalau mau pergi, kita harus pergi bersama-sama!”

“Nona tak usah kuatir” kembali Hoa In-liong membujuk, aku kan sudah berkata bahwa urusan ayahmu tak akan kucampuri? Pokoknya bila persoalan ditempai ini sudah selesai, aku pasti akan mencari nona untuk merundingkan lagi tentang persoalan ini”

“Huuuh……” Enak benar kalau bicara, bagaimana kalau seandainya kau mampus?” sela Si Nio dengan suara parau.

“Ngaco-belo!” bentak nona baju hitam dengan muka dingin, “Siapa yang suruh engkau mencam-puri urusan ini? Sana menyingkir jauh jauh dari sini”

“Aku tidak mengapa ada, semua perkataanku adalah sejujurnya. Andaikata dia sampai mati terbunuh Kiu-im-kaucu, bukankah kita akan menggigit jari?”

Tentu saja dibalik semua persoalan itu, sebetulnya terdapat suatu hubungan yang aneh sekali dan hubungan itu cukup membingungkan mereka mereka yang terlibat.

Tak bisa diragukan lagi, si nona baju hitam itu menaruh kesan yang sangat mendalam terhadap Hoa In-liong, akan tetapi diapun menguatirkan keselamatan ayahnya, karena itu perasaannya jadi serba salah, caranya berbicarapun jadi mengarah dua bagian.

Sebaliknya Si Nio amat setia kepada majikannya. Apa yang dikuatirkan cuma keselamatan majikan tuanya. Selain itu diapun kuatir majikan mudanya terjebak dalam jaring cinta, maka setiap saat dia berusaha menyakiti hati Hoa In-liong, sedang keputusan dan caranya berpandangan pun sangat tegas.

Hoa In-liong pribadi hakekatnya tidak mempunyai prasangka apa-apa. Dia mengira apa yang diu-capkan Si Nio adalah kata-kata yang sejujurnya dan tujuan si nona baju hitam membantu dirinya serta menguatirkan keselamatan jiwanya juga tak lain demi keselamatan ayahnya, sebab itu dia cuma tertawa ewa. “Sudah….. pergi!, pergi sana!” serunya sambil ulapkan tangan, “Aku yakin masih mempunyai kemampuan untuk menjaga diri, kalian tak usah menyia- nyiakan waktu bagi urusan yang tak penting lagi!”

Terdengar Bwee Su-yok mendengus dingin dengan bibir dicibirkan, sedangkan Siau Ciu yang se-lama ini hanya membungkam terus, sekarangpun berseru sambil tertawa seram, “Heeeh…. hee…… heee…… mau pergi? Aku rasa tak akan segampang itu!”

Hoa In-liong mengalihkan pandangan matanya kesekeliling gelanggang, lalu tersenyum. “Ooooh….! Rupanya saudara Siau juga terhitung salah seorang anggota Kiu-im-kau. Suatu kejadian yang sama sekali tak terduga bagiku!” ejeknya.

Lantaran soal Wan Hong-giok yang dicintainya Siau Ciu merasa benci sekali terhadap Hoa In-liong boleh dibilang rasa bencinya itu sudah merasuk kedalam tulang sumsum.

Mendengar itu, dia celingukan kesana kemari, kemudian katanya, “Hmmm! Engkau gemar bermain perempuan kesana kemari, berani menggaet juga sumoay aku orang she Siau…..”

Mendadak perkataannya terputus sampai ditengah jalan, dia menjura kepada Kiu-im-kaucu dan berkata, “Hamba minta ijin untuk turun ke gelanggang”

“Kau hendak beradu tenaga dengan Hoa siau-hiap?” tanya Kiu-im-kaucu dengan sangsi.

“Hamba minta ijin untuk menahan perempuan itu!” jawab Siau Ciu dengan hormat.

“Huuuh…. kamu itu manusia macam apa?” maki Hoa In- liong dengan suara mendongkol. Siau Ciu menengadah lalu menjawab, “Aku hendak menggunakan cara yang sama untuk menghadapi dirimu. Kau telah merampas pacarku, maka sekarang aku orang she Siau juga akan bunuh kekasihmu ini, akan kusuruh engkau bagaimana sengsaranya orang patah hati!”

Hoa In-liong betul-betul dibuat menangis tak bisa tertawapun tak dapat, tapi ia masih berusaha mengendalikan hawa amarahnya. Dalam keadaan begini ia betul-betul segan untuk memberi perjelasan. “Hmmmm…..! Bagus, bagus sekali” serunya sambil mendengus dingin “kalau engkau memang merasa bernyali, kenapa tidak bertempur saja melawan diriku?”

“Hmmm, engkau adalah milikku, kenapa musti cerewet?” tukas Bwee Su-yok dari samping dengan dingin “Kalau ingin turun tangan, ayolah kulayani keinginanmu itu!”

Telapak tangannya segera diayun kedepan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat segera meluncur kedepan.

Hoa In-liong miringkan badannya menghindarkan diri dari ancaman tersebut, kemudian hardik-nya, “Tunggu sebentar!”

Setelah berhenti sejenak, dengan sinar maita yang tajam tiba-tiba ia berpaling ke arah Kiu-im-kaucu, lanjutnya, “Sebelum terjadi peristiwa apa-apa, hendak kuperingatkan lebih dulu kepadamu, andaikata ada orang hendak menyusahkan Si Nio berdua, Heeh…. hee…. hee….. Kaucu! Jangan salahkan kalau aku akan bertindak kejam!”

Tiba-tiba nona berbaju hitam itu berseru, “Siapapun jangan harap bisa menyuruh aku tinggalkan tempat ini, kalau tidak…… Aduh!” Rupanya tanpa menimbulkan sedikit suarapun Si Nio menotok jalan darah kakunya. Begitu majikannya terkulai, dengan gerakan paling cepat disambarnya nona itu, lalu sambil mengempitnya dengan gerakan cepat perempuan jelek itu meluncur turun ke bawah bukit.

Siau-Ciu menggerakkan tubuhnya akan mengejar tapi Kiu im kaucu keburu berseru dengan lan-tang, “Kembali! Biarkan mereka pergi….”

Siau Ciu tak berani membangkang, terpaksa dia menghentikan gerakan tubuhnya dan melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan gemas.

Hoa In-liong sendiri pura pura tidak melihat, dia malah berpaling ke arah Cong-gi sambil berkata. “Saudara Cong-gi, engkau juga harus pergi dari sini!”

“Kenapa musti pergi?” teriak Cong-gi dengan mata melotot dan dan alis mata berkenyit, “Memangnya kau anggap aku adalah seorang pengecut yang takut mampus?”

Hoa In-liong tersenyum. “Tentu saja tidak!” sahutnya, “Kiu- im-kaucu hendak menangkap siaute. Sekalipun aku tak tahu apa maksud tujuannya, tentu saja siaute tak dapat menyerah dengan begitu saja, maka siaute akan bertempur mati matian melawan mereka!”

“Kalau memang begitu, ayolah kita kerjakan!” teriak Coa Cong-gi dengan lantang, “Sekalipun harus mampus, delapan belas tahun kemudian aku juga akan hidup lagi sebagai seorang laki-laki”

“Saudara Cong-gi, aku kagum sekali oleh kegagahanmu, akan tetapi sebagaimana pun juga…..” “Sudah, kau tak usah banyak bicara lagi, kalau mau bertempur ayoh kita lakukan sekarang juga!”

“Dengarkan dulu perkataanku” bujuk In-liong “Jika aku mati kaulah yang berkewajiban untuk membalaskan dendam bagiku, apalagi…. Yaa, harap saja saudara Cong-gi jangan tersinggung, hakekatnya ilmu silatmu bukan apa-apaku. Bila engkau turut campur bukannya membantu malah justru akan memecahkan perhatianku. Aku justru malahan tak bisa pusatkan perhatian untuk ber-tempur melawan mereka”

Perkataan semacam itu boleh dibilang sangat blak-blakan dan berterus terang, andaikata orang lain yang diucapi kata- kata seperti itu, sedikit banyak mereka akan berpikir dua kali. Apa mau di bilang Coa Cong-gi adalah pemuda yang setia kawan. Dia tak mau tahu soal lain kecuali tujuannya. Maka berbicara dengannya sama juga seperti tidak berbicara sama sekali.

Tampak sinar matanya berkilat, lalu dengan suara tak senang hati teriaknya, “Kenapa? Memangnya cuma kau saja yang boleh tunjukkan kebolehannya sedang orang lain tidak boleh? Kalau kau suruh aku kabur meninggalkan teman, lantas jadi apakah aku Coa Cong-gi dimata orang?”

Melihat kekerasan hati rekannya itu. Hoa In-liong jadi cemas, serunya lagi, “Tapi dalam soal ini bukan soal setia kawan atau tidak, situasi yang kita hadapi sekarang……”

“Sudah, tak usah banyak bicara lagi, aku tak mau mendengarkan!” tukas Coa Cong-gi tiba-tiba dengan suara keras.

Begitu selesai berteriak, dia lantas melompat ke depan Seng Sin-sam dan langsung mengayunkan kepalanya untuk menyerang. Setelah beristirahat sebentar, tenaga dalamnya telah pulih kembali seperti sedia kala, otomatis tenaga serangannya juga amat hebat pula.

Seng Sin-sam cepat berkelit kesamping menghindarkan diri dari serangan musuh yang lihay, kemudian sambil menerjang maju kedepan dia balas melancarkan serangan berantai.

Begitulah, pertarungan pun segera berkobar. Dua orang itu saling menyerang dengan gencarnya. Angin pukulan bayangan telapak tangan memenuhi seluruh angkasa, untuk sesaat mereka bertempur dalam keadaan seimbang dan sama kuat.

Melihat rekannya sudah bertempur, Hoa In-liong pun tak bisa berbuat apa-apa lagi, dia lantas berpikir, “Rasa setia kawannya setinggi langit, Yaa… aku harus kagum dan berterima kasih kepada dia”

lapun berpaling kepada Kiu-im-kaucu, lalu ujarnya dengan dingin, “Aku ingin mergisahkan semua cerita, bersediakah kaucu untuk mendengarkan?”

“Eeee… dalam keadaan semacam inipun kau masih berniat untuk bercerita?” tanya Kiu-im-kaucu keheranan.

“Ooooh….Ceritanya pendek sekali, tak akan makan waktu terlalu banyak untuk mengisahkan-nya!”

Kiu-im-kaucu tersenyum. “Kalau engkau memang punya kegembiraan untuk berbuat demikian, ceritakanlah, aku akan mendengarkannya dengan seksama!”

“Dulu, ketika raja Chu Pah-ong menderita kekalahan total disungai Wu-kang, Han Ko-cou yang cerdik dan bijaksana tiada bermaksud memaksa lawannya untuk bunuh diri. Dalam hati kecilnya dia hanya bermaksud untuk mendesaknya hingga tak ada jalan kabur lagi dan suruh dia menyerah kalah dan dipakai tenaganya”

Kiu-im-kaucu tertawa terbahak-bahak setelah mendengar cerita itu. ”Haaa….. haa….. haa….. Engkau memang pandai sekali memutar balikkan duduknya perkara, setelah mengalami kekalahan demi kekalahan ditangan Siang Yu, hakekatnya rasa benci Lau Pang kepadanya sudah mencapai taraf ingin mendahar dagingnya, menghirup darahnya, mana mungkin ia berniat untuk menerimanya sebagai pembantu? Apalagi setelah menderita kekalahan yang total Siang Yu toh akhirnya gorok diri dan mati? Cerita seperti itu bukan cerita lagi namanya, tapi merupakan catatan sejarah”

“Dalam sejarah hanya tercatat bagaimana akhir dari kejadian itu, padahal Chu Pah ong mempunyai kekuatan yang bisa mencabut bukit. Dia merupakan seorang jendral yang tangguh dalam usaha mempersatukan semua daratan Han-Ko cou membutuhkan manusia-manusia berbakat semacam itu, dari mana kaucu bisa mengatakan bahwa ia bermaksud untuk membunuhnya?”

Kiu-im-kau tertawa, sahutnya, “Lau pang tidak mempunyai kebijaksanaan untuk mengampuni musuh-musuhnya, setelah Siang-Yu mati, duniapun jadi aman, apa perlunya dia musti menerima jendral musuh sebagai panglimanya?”

Tiba-tiba seperti baru saja memahami sesuatu, ia berhenti sejenak, lalu sambil berpaling ke arah pemuda itu lanjutnya, “Apa maksudmu mengucapkan kata-kata semacam itu?

Apakah engkau telah mengambil keputusan hendak beradu jiwa denganku?”

“Haaah….. haa….. haa Akhirrnya kaucu mengerti juga

maksudku……! Seru Hoa In-liong sambil tersenyum. Setelah berhenti sejenak, dengan wajah bersungguh- sungguh ujarnya lebih jauh, “Keluarga Hoa cuma mempunyai anak cucu yang rela kehilangan kepala, tapi tak akan mempunyai keturunan yang sudi ditawan. Sekalipun aku sudah tersudut dan tak ada jalan pergi lagi, akan kugunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk melakukan perlawanan hingga titik darah peng habisan. Aku lebih rela mati konyol daripada ditawan dan dihina olehmu. Kalau toh kaucu sudah memahami perkataan itu, hal ini jauh lebih baik lagi. Tapi sebelumnya hendak kuterangkan dulu kepadamu, bila ada yang terluka atau sampai tewas, maka semuanya adalah tanggung jawab kaucu sendiri. Sebab setelah bertempur narti, aku tidak akan berlaku sungkan sungkan lagi.”

Mula-mula kiu im kaucu tertegun, menyusul kemudian diapun tersenyum geli. “Aaah… kamu ini selalu ada-ada saja!” tegurnya, “Urusan tak akan berubah jadi demikian seriusnya. Aku kan bukan Lau pang sedang engkau juga bukan Siang Yu dari kerajaan Chu. Tidak mungkin kau akan kudesak hingga kehilangan jalan mundur!”

“Hmm, ucapan semacam itu hanya perkataan yang sama sekali tak ada artinya” tukas Hoa In-liong “Demi dendam kematian Suma siok-yamu, juga dengan mencegah ambisi Kiu- im-kau kalian merajai dunia persilatan dan menciptakan badai pembunuhan, bagaimanapun juga harus mencampuri urusan ini. Tapi karena semenjak kecil aku sudah dididik ketat, aku tak ingin bertindak secara gegabah. Seandainya aku kalah maka aku pun akan berusaha untuk mengundurkan diri dari sini, jika kaucu bermaksud menangkap hidap-hidup diriku…. 

Heee… hee….. hee…… Lebih baik jangan bermimpi disiang hari bolong” “Hmm! Engkau ingin beradu jiwa?”, jengek Bwee Su-yok dengan dingin “Justru nona tak akan membiarkan engkau mampus!”

Hoa In-liong tersenyum, pelan-pelan dia alihkan pandangan matanya ke arah gadis itu, kemudian sahutnya, “Bukannya aku sengaja berbicara sombong, jika kalian hendak main kerubut maka untuk membunuh aku gampang, tapi mau menangkap aku….? Huuh, bukan urusan gampang”

“Seandainya aku turun tangan sendiri?” tanya Kiu-im-kaucu secara tiba-tiba.

“Kau maju sendiri juga sama saja!” jawab Hoa In-liong dingin, ucapannya sangat tegas.

Mendengar jawaban tersebut, paras muka Kiu-im-kaucu berubah hebat, ia tertawa dingin tiada hentinya.

Haruslah diketahui, Kiu-im-kaucu adalah seorang manusia yang berpandangan picik dan amat menitik beratkan soal dendam dan sakit hatinya. Tapi sikapnya selama ini terhadap Hoa In-liong bisa ramah hal ini dikarenakan pertama, usianya sudah makin lanjut, otomatis watak dan sikapnya juga jauh lebih ramah, kedua dimasa lalu dia mempunyai kesan yang baik terhadap ayah ibu Hoa In-liong, yakni rasa kagumnya terhadap Hoa Thian-hong dan rasa sayangnya terhadap Pek Kun-gi.

Hoa In-liong sangat mirip dengan ayah ibunya. Lagipula sebagai seorang angkatan yang lebih muda ditambah pemuda itu bukan sasaran dari gerakannya kali ini, maka untuk mempertahankan gengsinya sebagai seorang angkatan tua, dia berusaha untuk mengendalikan sifat ganasnya. Tapi sekarang sikap Hoa In-liong yang serius dan suaranya yang dingin telah menyinggung pera-saan serta gengsinya.

Sebagai seorang manusia yang berpandangan sempit tentu saja paras mukanya berubah hebat, karena gusarnya dia tertawa seram.

Hoa In-liong tetap berdiri tanpa perubahan, sementara hawa murninya diam-diam telah disiapkan, berjaga-jaga atas sergapan yang tiba-tiba akan dilakukan Kiu im kaucu.

Ditengah keheningan yang mencekam sekeliling puncak bukit itu, tiba-tiba terdengar suara seruan merdu berkumandang datang, “Disini….! Disini…..! Ibu, ayoh cepat sedikit….”

Suara itu berasal dari sisi kanan puncak bukit itu, tanpa sadar Hoa In-liong berpaling ke arah mana berasalnya suara tadi, terlihatlah sesosok bayangan merah melayang turun dari tengah udara. Di belakang bayangan merah tadi mengikuti seorang nyonya setengah baya yang memakai baju warna hijau.

Ketajaman mata Hoa In-liong luar biasa, meskipun ia berdiri dipuncak bukit enam-tujuh puluh kaki jauhnya dari bayangan itu, cukup dalam sekilas pandangan ia dapat melihat bahwa perempuan setengah baya itu sangat cantik dan berwajah agung, usianya antara empat puluhan. Sedangkan bayangan merah didepannya adalah seorang gadis muda yang berparas cantik jelita.

Keayuan nona itu menandingi kecantikan Bwee Su-yok, cuma dia lebih lincah dan penuh gairah hidup, jauh berbeda dengan Bwee Su-yok yang dingin kaku bagaikan salju.

Hoa In-liong yang romantis. Dalam keadaan begitu tidak bernafsu lagi untuk menikmati kecantikan paras mukanya, ia lebih terkesima oleh keindahan gerak tubuh yang didemontrasikan nona tadi.

Ketika melayang turun dari udara, tubuhnya lurus dan tidak bergeser barang sedikitpun ke samping. Keindahan dan kelincahannya melebihi bidadari dari kahyangan. Ini menunjukkan kalau ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan.

Usia nona itu baru enam tujuh belasan, tapi dengan usia semuda itu ilmu silatnya sudah mencapai puncak kesempurnaan. Siapa yang akan percaya dengan kejadian ini bila tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri?

Termangu-mangu Hoa In-liong melihat kelihayan orang, dalam hati dia lantas berpikir, “Murid siapakah gadis itu?

Sungguh tak kusangka dalam dunia persilatan masih terdapat kepandaian sakti yang jauh melebihi keampuhan keluarga Hoa kami!”

Ketika masih melayang diudara, tanpa mengurangi daya luncur badannya tiba-tiba saja nona itu berseru, “Ibu, coba lihatlah! Masa untuk melawan seorang tua bangka pun koko tak mampu untuk memenangkannya, betul-betul memalukan sekali! Sekembalinya disini dia musti dihukum berlutut selama tiga hari dan tak boleh makan!”

“Kau yang musti dihukum berlutut didepan altar selama tiga puluh hari tanpa boleh makan!” teriak Coa Cong-gi dengan geram.

Si-nona cantik itu tertawa cekikikan. “Siapa suruh kau tidak pulang semalaman, tapi lari kesini dan berkelahi dengan orang? Kau telah bikin susah diriku saja….. Mendingan kalau menang, Huuh! Mengalahkan pun tak mampu…… Kau musti dihukum untuk berlatih lebih tekun lagi” Setelah melayang keatas tanah, dua orang itu pelan-pelan maju ketengah gelanggang.

“Wi-ji, jangan ribut dulu” seru nyonya setengah baya itu, “Kita berlatih ilmu silat adalah untuk menguatkan badan. Ilmu silat bukan dipakai untuk cari nama atau ribut-ribut dengan orang”

Setelah berhenti sebentar, lanjutnya, “Anak Gi, cepat berhenti! Ayoh pulang!”

Coa Cong-gi tidak menguasai tenaga dalamnya secara sempurna, sejak pertama kali tadi sudah keteter hebat. Keadaannya pada saat ini mengenaskan sekali. Peluh membasahi sekujur badannya, untuk berbicara rasanya sulit sekali. Karena itu dia hanya membungkam belaka walau mendengar seruan dari ibu dan adiknya. Semua kekuatan dan pikirannya hanya terpusat untuk mematahkan serangan- serangan dahsyat dari lawannya.

Hoa In-liong hampir tak percaya dengan pendengaran sendiri, ditatapnya kedua orang perempuan itu dengan termangu-mangu, sementara dalam hati kecilnya merasa kaget sekali. “Yaa ampun, jadi perempuan itu adalah ibu dan adiknya saudara Cong-gi? Benar-benar diluar langit masih ada langit, diatas manusia masih ada manusia!”

Kiu-im-kaucu lebih-lebih terkejut lagi, diapun berpikir, “Jadi perempuan itu adalah ibunya bocah she Coa itu? Waah….. tampaknya apa yang kuharapkan sukar tercapai hari ini, aku harus mencari akal untuk mengatasi persoalan ini”

Perempuan ini licik dan berakal panjang, sebelum tujuannya tercapai dia segan untuk berhenti ditengah jalan. Sekalipun dia telah sadar bahwa tenaga dalam yang dimiliki pendatang itu lihay sekali dan mungkin ilmu silatnya bukan tandingan tapi ia tak sudi berhenti sampai disitu saja.

Diapun tahu perempuan itu adalah ibunya Coa Cong-gi, sedang Coa Cong-gi yang setia kawan adalah sahabat karib Hoa In-liong. Bila dia ingin menangkap Hoa In-liong, serta merta akan bentrok juga dengan ibu dan putrinya itu, padahal keyakinan untuk menang tak ada, dapat dibayangkan betapa kacaunya pikiran kaucu itu.

Kendati begitu, air mukanya tetap tenang dan kalem, sedikitpun tak nampak panik atau bingung dari sini semakin kentaralah bahwa watak Kiu-im-kaucu memang keras sekali.

Selang sesaat kemudian, diam-diam ia memberi tanda kepada anak buahnya dengan kode yang tidak dimengerti orang lain, serentak kawanan jago dari Kiu-im-kau itu bersiap- siap untuk mengundurkan diri dari tempat kejadian.

Dalam pada itu, Hoa In-liong masih belum merasa apa-apa, sedang Coa Cong-gi juga lagi bertempur dengan sungguh- sungguh.

Lama kelamaan nyonya setengah baya itu mulai merasa tak sabaran, dia melirik sekejap ke arah putrinya, kemudian berkata, “Anak Wi, pergi kesana dan gantikan engkoh-mu, tapi jangan lukai orang!”

Gadis cantik yang disebut anak Wi itu mengiakan, dengan langkah yang lembut ia masuk ke dalam arena.

Pada saat itulah, dengan suatu gerakan yang cepat bagaikan sambaran kilat Kiu-im-kaucu menerjang kedepan, jari tangannya langsung menotok jalan darah Ji-keng-hiat didada kiri Hoa In-liong. Mimpipun si anak muda itu tak menyangka kalau dia bakal disergap, tak ampun tubuhnya jadi lemas dan roboh ke tanah dalam keadaan tak sadar.

Kiu-Im-kaucu yang telah menyusun siasatnya, cepat mengempit tubuh si pemuda itu dan kabur ke depan, serunya, “Ayoh mundur!”

Dengan menutulkan ujung toyanya keatas permukaan tanah, ia kabur menuju hutan lebat disebelah kiri. Sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Melihat ketuanya sudah mengundurkan diri, kawanan jago dari Kiu-im-kau ikut berseru pula de-ngan nyaring, masing- masing segera menggerakkan tubuhnya ikut kabur juga dari sana.

Tak terkirakan rasa kaget Coa Cong-gi menyaksikan kejadian itu, segera bentaknya, “Eeeh….. mau lari kemana kalian? Tinggalkan dulu orang itu!”

Ujung kakinya segera menjejak permukaan tanah, dengan gerakan yang cepat dia ikut mengejar kedalam hutan.

Tapi baru beberapa kaki dia berlalu “Wi-ji” bagaikan bayangan sudah menyusul dihadapannya, sambil menghadang jalan pergi kakaknya dia berseru nyaring, “Eeeh… mau apa kamu? mau coba kabur yaa?”

“Minggir, minggir Aku harus menolong temanku itu…” teriak Coa Cong-gi dengan paniknya.

Dia menyusup kesamping dan mencoba untuk kabur lewat samping tubuh adiknya. Siapa tahu gerakan tubuh Wi-ji jauh lebih cepat dari padanya, baru saja badan pemuda itu bergerak, tahu-tahu nona itu sudah menghadang lagi dihadapannya. “Siapakah orang itu?”

“Siapakah orang itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kita” tukas nyonya setengah baya itu tiba-tiba “Anak Gi ayoh kembali!”

Mendengar panggilan dari ibunya itu, Coa Cong-gi tak berani membangkang, terpaksa dia menyahut, “Tapi…. Tapi…. Ibu, orang itu adalah putranya Hoa tayhjap, dia adalah sahabat karibku”

“Siapa sih Hoa tayhiap itu?” sela Wi-ji.

“Aaah….! Kamu anak perempuan, lebih baik jangan banyak bertanya” tukas Coa Cong-gi cepat apalagi dia sedang menguatirkan keselamatan rekannya. Jawaban tersebut kedengaran ketus sekali.

Kontan saja Wi-ji mengerutkan dahinya, “Eeeh….. eeehh…… Koko, kau berani galak yaa?” teriaknya dengan penasaran “Tak usah bertanya yaa tak usah bertanya, siapa yang pingin tahu?”

Dengan bibir dicibirkan dia lantas berdiri bertolak pinggang dan persis menghadang jalan perginya, tampaknya gadis itu berprinsip demikian, ‘Boleh saja aku tak usah banyak bertanya, tapi engkaupun jangan harap bisa lewat dari hadapanku.’

Rupanya Coa Cong-gi cukup mengetahui sifat binal dari adiknya ini, bukan saja dimanja ibunya ilmu silatnya berkali- kali lipat lebih lihay dari kepandaian sendiri, pemuda itu segera menyadari kekeliruan sendiri. Terpaksa dengan muka merengek katanya, “Oooh… adikku yang baik, koko sudah salah bicara, maafkanlah daku….. berilah jalan kepadaku agar aku bisa lewat. Ketahuilah orang itu adalah sahabat karib kokomu dan sekarang dia sudah ditangkap orang. Bila koko tidak berusaha untuk menyelamatkan jiwanya, tentulah aku akan dianggap sebagai manusia pengecut yang takut mati. Aku pasti akan dituduh orang bukan laki-laki yang setia kawan”

“Lalu apa sangkut pautnya dengan aku?” jengek Wi-ji dengan sinar mata tajam memancar ke luar dari matanya.

“Bagaimana sih tak ada hubungannya dengan kau? bagaimanapun juga aku kan saudara kandungmu” seru Coa Cong-gi dengan gelisah.

Tiba-tiba hatinya agak bergerak, cepat ujarnya lagi, “Baiklah, kuberitahukan kepadamu semua yang kuketahui. Hoa tayhiap bernama Hoa Thian-hong orang menjulukinya sebagai Thian-cu-kiam. Ia berdiam di perkampungan Liok Soat Sanceng yang ada dibukit In-tiong-san dalam bilangan propinsi San-see. Dia adalah seorang pendekar besar yang bijaksana dan berbudi luhur. Sedang sahabat koko tadi bernama Hoa Yang alias In-liong. Dia dilahirkan pada tahun Jin-seng, bulan cia-gwee tanggal sembilan belas, tahun ini berusia delapan belas tahun, dia adalah putra nomor dua dari Hoa-tayhiap. Orangnya gagah, romantis dan supel menarik sekali dalam pergaulan…..”

Dasar berangasan dan lagi sedang cemas, Coa Cong-gi hanya tahunya berusaha untuk melepas-kan diri dari hadangan adiknya. Otomatis apa yang diucapkan juga sembarangan tanpa dipikir lebih jauh, bukan saja tanggal lahir Hoa In-liong disebut, malahan wataknya yang romantis juga disinggung. Pemuda itu tentu saja mengucapkan kata-kata itu tanpa disertai maksud tertentu, berbeda dengan ibunya. Amarahnya kontan memuncak sehabis mendengar perkataan tadi, sebelum putranya menyelesaikan kata-katanya itu dia sudah menukas, “Anak Gi, kau lagi ngaco belo apaan?”

“Aku tidak ngaco belo, semua perkataanku adalah kata kata yang sejujurnya” sahut Coa Cong-gi dengan mata terbelalak karena panik bercampur gelisah.

“Kalau tidak, kenapa tanggal lahir orang lain pun kau sebutkan dihadapan adikmu?”

“Apa salahnya? Hoa loji kan bukan orang luar. Dia dan aku adalah sahabat…..”

“Mengherankan! Benar-benar mengherankan!” tukas nyonya setengah baya itu dengan wajah be-rubah, “Dari dulu sampai sekarang, lagakmu selalu ketolol-tololan. Sampai kapan kecerdikanmu itu baru muncul?”

Sekali lagi Coa Cong-gi tertegun, setelah hening sejenak, tiba-tiba ia baru teringat bahwa ka anan jago dari Kiu-im-kau telah lenyap dari pandangan, sekarang dia baru gelisah.

Dalam keadaan seperti ini, si anak muda itu segan untuk mengurusi perkataan ibunya lagi, te-riaknya cepat, “Sudah….. Sudahlah, ibu tak usah mengurusinya lagi pelan-pelan toh aku bakal cerdik sendiri, yang penting sekarang adalah menyelamatkan jiwa orang!” 

Badannya lantas menyusup kesamping dan siap menerobos lewat dari sisi Wi-ji untuk kabur ke arah hutan. Kali ini Wi-ji tidak menghalanginya, tapi ibunya telah membentak dengan nyaring, “Berhenti!”

Mau tak mau Coa Cong-gi berhenti juga, serunya dengan wajah setengah merengek, “Mau apa lagi ibu? Sekarang aku harus pergi menolong temanku itu. Kalau gagal maka aku akan malu untuk berjumpa dengan teman-teman yang lain dan akupun jangan harap bisa tampilkan diri lagi didalam dunia persilatan!”

Menyaksikan tampang putranya yang mengenaskan itu, nyonya setengah baya tersebut akhirnya jadi tak tega, diam- diam dia menghela napas panjang.

“Aaaa…..! Bagaimanapun jua, dia toh sudah pergi jauh, sekalipun kau kejar juga tak ada gunanya. Kemarilah dulu, aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan dirimu”

Coa Cong-gi merasa perkataan itu ada benarnya juga, hutan itu lebat sekali. Sedang orang-orang Kiu-im-kau kabur dengan menerobosi hutan lebat itu. Dia tak tahu ke arah manakah mereka telah pergi?

Jelek- jelek Coa Cong-gi bukan seorang anak yang tidak berbakti. Sekalipun gelisah juga tak ada gunanya, terpaksa dengan uring-uringan dia menghampiri ibunya.

“Anak-Gi!” kata nyonya setengah baya itu kemudian dengan lembut, “Benarkah engkau sangat berhasrat untuk melakukan perjalanan didalam dunia persilatan?”

“Kakek moyang kita kan orang persilatan semua?” seru Cong-gi dengan cepat.

Nyonya itu mengangguk. “Sekalipun demikian, tapi diantara turun-temurun juga tinggal ibumu seorang yang masih hidup. Sejak kongcou mu meninggalkan pesan yang melarang anak cucunya melakukan perjalanan dalam dunia persilatan, sudah lima generasi yang menaatinya dengan sungguh-sungguh, apakah pesannya ini harus dilanggar olehmu saat ini?”

“Ananda mana berani melanggar pantangan dari kongcou. Akan tetapi aku selalu beranggapan bahwa sebagai keturunan orang persilatan, sepantasnya kalau kita gunakan ilmu silat yang miliki untuk melenyapkan kaum durjana dari muka bumi. Sepantasnya kita melakukan perbuatan mulia yang menguntungkan orang banyak, dengan demikian baru beranilah kehidupan kita sebagai anggota persilatan di dunia ini!”

Nyonya setengah baya itu tersenyum. “Janganlah kau anggap ibumu tidak mengerti dengan jalan pikiranmu itu….” katanya. “Tapi kaupun harus tahu, sebagai anggota persilatan maka kehidupan kita sepanjang hari adalah bergelimpangan diantara mayat dan darah. Sekali terlibat dendam sakit hati, jangan harap perselisihan itu bisa diakhiri dengan begitu saja. Kehidupan keluarga kita sekarang meski sederhana dan tidak mencampuri urusan orang, toh bagaimanapun juga keluarga kita terhitung sebagai keluarga pemuka persilatan yang cukup tersohor di kota Kim-leng. Asal kita menuruti selalu peringatan dari kongcoumu, orang tak akan menyusahkan diri kita, apa salahnya kalau kita hidup tenang?”

Coa Cong-gi menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi belum sempat ia berkata, Wi-ji yang cantik telah menimbrung dari samping, “Ibu! Kalau toh engkau telah membicarakan persoalan itu, maka akupun hendak mengucapkan pula sesuatu kepada ibu!”

Nyonya itu tersenyum. “Kalau ingin bicara, katakanlah cepat!” katanya. Dengan wajah bersungguh-sungguh Wi-ji lantas berkata, “Aku rasa Kongcou bisa meninggalkan pesan semacam itu, mungkin hal ini dikarenakan ada hubungannya dengan jumlah anggota keluarga kita bukan?”

“Sebenarnya apa yang hendak kau ucapkan? Kenapa musti berputar kayun? Mengapa tidak kau utarakan saja berterus terang?”

“Baik!” ucap Wi-ji setelah ragu-ragu sejenak, “Kalau ibu ingin aku bicara terus terang, biarlah aku bicara secara blak- blakan. Aku rasa keturunan ada sangkut pautnya dengan nasib, maka pesan dari kongcu ini kurang begitu sesuai rasanya!”

Mula-mula nyonya setengah baya itu agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, menyusul kemudian sambil tersenyum katanya, “Dihari-hari biasa engkau selalu menuruti perkataanku, selalu setuju dengan caraku berpikir. Sungguh tak kusangka rupanya dalam hati kecilmu kau mempunyai cara berpikir yang tak berbeda dengan kokomu”

“Tapi caraku berpikir kan masuk diakal” tukas Coa Cong-gi tidak terima.

Belum habis ia berkata, dengan sinar mata berkilat dan muka dingin menyeramkan nyonya beru-sia setengah baya itu telah menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu. Tapi sebelum ia sempat mengucapkan sepatah katapun, tiba-tiba terdengar seseorang berseru nyaring memuji keagungan Buddha.

0000O0000

“OMITOHUD, apa yang diucapkan Siau Gi-ji mungkin ada betulnya, biarkan dia melanjutkan kata-katanya itu!” Semua orang terkejut dan berpaling ke arah mana berasalnya suara itu. Didepan hutan sebelah kiri terlihatlah seorang hweesio tua yang berjenggot panjang berdiri tegap disitu dengan senyuman dikulum.

Hweesio itu sudah tua sekali, mukanya banyak keriput, badannya kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang. Bajunya warna abu-abu dengan sepatu terbuat dari rumput, dia tak lain adalah padri tua yang menguntil dibelakang Hoa In-liong dan Coa Cong-gi sejak berada di bukit Cing liang-an tadi.

Tampaknya nyonya setengah baya itu merasa kenal dengan padri tua itu, tapi lupa-lupa ingat. Ia tak tahu padri tersebut pernah ditemuinya di mana, untuk sesaat matanya jadi mendelong dan dia mengawasi padri itu dengan wajah termangu-mangu.

Pelan-pelan hweesio itu maju kedepan, lalu katanya sambil tertawa, “Sian-ji, sudah lupa dengan aku? Ketika Siau gi-ji berusia setahun tempo dulu, aku kan pernah pulang….”

Belum habis padri itu menyelesaikan kata-katanya, nyonya setengah baya itu sudah menubruk kehadapannya dan menjatuhkan diri berlutut. “Oooh….. kiranya engkau orang tua!” ia berseru dengan wajah kegirangan. “Oooh….. Tahukah kau bahwa anak Sian sudah amat kangen dengan engkau orang tua?”

“Haa…… haa…… haaa….. Bangun!” seru hweesio tua itu sambil terbahak-bahak, “Putriku sudah berusia setengah baya, kenapa tingkah lakumu masih seperti anak kecil? Jangan sampai perbuatanmu itu ditertawakan orang!” Serasa berkata lengannya lantas digape ke muka, nyonya setengah baya itu segera merasakan munculnya segulung tenaga kekuatan yang lembut menarik badannya secara paksa, mau tak mau badannya lantas meninggalkan permukaan tanah.

Dalam keadaan begini terpaksa nyonya itu harus bangkit dari atas tanah dan berdiri.

Coa Cong-gi dan adiknya yang menyaksikan kejadian itu merasa terkejut bercampur curiga, mereka lantas berpikir, “Padri lihay dari manakah orang ini? Agaknya dia adalah angkatan tua dari keluarga kita. Padahal ilmu silat yang dimiliki ibu sudah terhitung luar biasa hebatnya. Sungguh tak nyana tenaga dalam yang dimiliki padri ini jauh lebih hebat”

Sementara mereka masih termangu-mangu, nyonya setengah baya itu telah berpaling seraya berseru, “Ayoh cepat kemari semua, beri hormat kepada kongcou luar kalian!”

Coa Cong-gi tertegun karena kaget, bibirnya ternganga matanya terbelalak lebar, untuk sesaat….. Ia tak mampu mengucapkan sepatah katapun…..

Berbeda dengan Wi-ji yang lincah dan supel, setelah tertegun sejenak, ia lantas menerjang ke depan sambil teriaknya dengan penuh kegembiraan, “Hoore….. hoore….. Kiranya engkau adalah kongkong ku, eeeh….. Kongkong, kenapa kau jadi hweesio?”

“Wi-ji, makin hari engkau makin edan, tahu aturan tidak?” damprat ibunya dari samping.

Hweesio tua itu tertawa terbahak-bahak, “Haa…. haa…. haa…… Bagus, bagus sekali! Manusia adalah burung hong dimalam bulan purnama, hati yang bersih bagaikan cermin yang tak berdebu. Anak manis siapa namamu?”

Lengan kanannya segera merangkul pinggang Wi-ji dan menariknya kedalam pelukan, jelas te lihat kalau padri tua itu merasa gembira sekali dengan pertemuan tersebut.

Wi-ji sendiripun sangat gembira, dengan muka berseri ia mempermainkan jenggot kakeknya, lalu ujarnya sambil tertawa, “Aku bernama Wi Wi, ibu memanggil Wi-ji kepadaku!”

“Tahun ini Wi-ji umur berapa?” tanya hweesio tua itu lagi. “Enam belas tahun! Eeeh………Kenapa? Masa kongkong

tidak tahu umur wi-ji…..?”

Sambil mengerdipkan matanya yang jeli, gadis itu memandangi si hweesio tua itu dengan termangu-mangu. Tampangnya kelihatan sekali kalau ia sedang tercengang.

Meskipun pandangan itu penuh kecengangan, akan tetapi dalam pandangan padri tua itu terlihat kepolosan dan kemanjaan dari seorang bocah mungil, hal ini semakin menggirangkan hatinya.

Sambil menowel ujung hidungnya yang mancung itu, katanya dengan hati gembira, “Kongkong seringkali berkelana ke seluruh penjuru dunia, dari mana bisa mengingat begitu banyak persoalan?”

Coa Wi Wi gelengkan kepalanya berulang kali dia meronta dan melepaskan diri dari cekalan, kemudian dengan alis berkenyit keluhnya, “Aaai……! Kongkong mengapa kau musti berkelana terus diseluruh jagad…..?” “Kongkong kan seorang hweesio? Lebih baik jangan diteruskan saja kongkong….!” pinta Coa Wi-wi dengan bibir cemberut.

Mendengar permintaannya yang lucu itu, hweesio tua tersebut tak dapat menahan diri lagi, akhirnya dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya.

Coa Cong-gi yang selama ini hanya berdiri di samping dengan mulut membungkam, kini tak dapat menahan diri lagi, segera tegurnya, “Adik Wi, perkataan semacam itu tidak pantas kauucapkan, Huuh….. ngaco belo tak karuan!”

“Siapa yang suruh kau urusi aku?” teriak Coa Wi-wi sambil berpaling dengan mata mendelik, “Perkataanmu barulah perkataan yang ngaco belo!”

Melihat adiknya berang, Coa Cong-gi tersenyum. “Eeeh… Jangan galak-galak ah, cepat atau lambat engkau kan musti dicarikan jodoh, rasain nanti setelah kawin, akan kulihat kau bakal masih galak-galak atau tidak?” godanya.

Coa Wi-wi semakin mendongkol, ia tuding kakaknya lalu berteriak dengan suara lengking, “Engkaulah yang akan dicarikan jodoh! Kau yang akan dikawinkan! Kau…… kau yang akan di-carikan seorang kuntilanak!”

Makin berbicara semakin mendongkol, akhirnya seluruh wajahnya berubah jadi merah padam.

Melihat gadis itu marah-marah yang lain malahan tertawa tergelak, suara tertawa yang nyaring serasa membelah angkasa. Ditengah gelak tertawa itu nona setengah baya tersebut segera menegur lirih, “Wi-ji, ayoh turun! Jangan merecoki kongkongmu terus”

Coa wi-wi mencibirkan bibirnya tidak menurut sedang hweesio tua itu tiba-tiba berkata dengan muka sedih, “Omitohud! Lolap sudah menjadi murid Buddha tapi hakekatnya hubungan kekeluargaan masih belum dapat kuputuskan sama sekali. Aaaai…..! Itu namanya aku tidak terlalu memusatkan pikirannya pada pelajaran agama!”

Sambil berkata, pelan-pelan ia turunkan Coa Wi-wi dari dalam pelukannya.

Melihat hweesio tua itu tiba-tiba menghela napas, nyonya setengah baya itu jadi terperanjat, dengan ketakutan segera serunya, “Sian-ji pantas dihukum mati! Sian-ji telah salah berbicara, harap kau orang tua jangan murung”

Hweesio tua itu tertawa getir. “Kau tak usah menyesali dirimu. Lolap tak bisa memusatkan semua pikiranku untuk agama, itu berarti aku bukan murid Buddha yang sejati.

Aaai…! Manusia bukanlah malaikat, mana bisa melupakan hubungan kekeluargaan? Apalagi kalian adalah darah dagingku”

“Ajaran Buddha tak bertepian, kan tiada larangan yang mengharuskan seseorang untuk memu-tuskan semua hubungan kekeluargaan?” sela nyonya setengah baya itu dengan cepat, “Sekarang Sian-ji hidup menyendiri, apa salahnya kalau engkau orang tua melepaskan jubah pendeta itu, agar Sian-ji dapat menunaikan kewajiban kebaktianku untuk merawat kau orang tua hingga akhir tua nanti?”

Hweesio tua itu segera menggelengkan kepalanya berulang kali. “Anak-Sian! Anak keturunan keluarga kita tidak subur. Keturunan kita sejak sembilan generasi yang lalu telah berakhir sampai disini. Bukan saja tinggal keturunan perempuan, keturunan laki-laki hampir musnah tak berbekas. Yaa… Keturunan nenek moyang kita hanya bisa dilanjutkan dengan bersandar dari keturunan perempuan belaka. Aaai…! Ketika lolap akan menjadi pendeta tempo hari, sebenarnya aku bermaksud hendak berbuat banyak amal sehingga bisa mendapat keturunan lelaki. Tapi sekarang setelah lama mengikuti ajaran Buddha, aku merasa semua pikiran dan perasaanku telah melebur menjadi satu dengan ajaran itu.

Kenapa aku harus memutuskannya ditengah jalan? Soal melepaskan jubah pendeta lebih baik tak usah kau singgung lagi!”

“Kalau begitu… Kalau begitu…. Sian-ji akan mendirikan sebuah kelenteng untuk kau orang tua agar kau orang tua…..” Kata-katanya itu penuh nada permohonan dan muncul dari hati sanubari yang jujur, siapapun dapat merasakan betapa mengharapnya nyonya itu agar permintaannya bisa terkabul.

Tapi sebelum perkataan itu selesai diucapkan, hweesio tua itu sudah menukas sambil tertawa nyaring, “Anak Sian, buat apa kau melakukan perbuatan bodoh? Aku datang menjumpaimu bukanlah suruh engkau dateng mengurusi aku!”

“Tapi Sian-ji hidup sebatang kara, tiada sanak tiada keluarga…” bisik nyonya itu sambil terisak.

“Engkau terlalu mengekang diri, terlalu mentaati pesan kongcou, tidak dapat melihat gelagat, tak dapat menyesuaikan diri dengan kenyataan, hidupmu yang terkekang itulah yang membuat engkau kesepian, hidup terpencil dan tiada sanak tiada keluarga” “Maksud kau orang tua….” nyonya setengah baya itu tampak agak tertegun.

“Maksud lolap, engkau harus perbanyak mengadakan hubungan persahabatan dengan orang lain perbanyak melakukan gerakan ditempat luaran dan tak ada halangannya melakukan sedikit per-buatan yang melindungi keadilan dan kebenaran bagi umat persilatan. Hanya dengan berbuat begi itulah kehidupanmu baru berarti, kegembiraanmu akan berlipat ganda, kau tak akan merasa kesepian, tak akan merasa tiada sanak tiada keluarga dan hidupmu akan lebih segar dengan aneka kenangan baru”

Tampaknya nyonya setengah baya itu merasa tercengang setelah mendengar wejangan tersebut, dengan mata terbelalak tercengang serunya, “Kenapa musti begitu?

Bukankah kau orang tua suruh Sian-ji memegang teguh pesan kongcou?”

Kembali hweesio tua itu tersenyum. “Pesan kongcoumu itu adalah menyangkut soal budi dendam yang seringkah terjadi dalam dunia persilatan. Kongcou bila keturunan kita akan terseret kedalam lembah kehancuran sehingga mengakibatkan mereka tak dapat melepaskan diri lagi, maka kongcou kuatir keturunannya akan mengalami banyak kesulitan. Tapi sekarang kalau kita pikir kembali, manusia toh hanya hidup puluhan tahun saja, apa artirya hidup jika kita mengekang diri terus-menerus? Apalagi hidup matinya manusia kan berada ditangan Thian. Siapa yang dapat menentang kekuasaannya? Maka aku rasa, hidup sebagai manusia sudah sepantasnya kalau kita melakukan perbuatan seperti apa yang dilakukan juga oleh manusia lainnya”

“Tapi ini…… Ini…….” saking gugupnya nyonya setengah baya itu jadi tergagap dan tak mampu melanjutkan kembali kata-katanya itu. Haruslah diketahui, pada jaman itu pesan dari kakek moyangnya merupakan kata-kata emas yang tak bisa diganggu gugat lagi, seakan-akan orang beranggapan bahwa, ‘Jika kaisar mati panglimanya musti mati, bila ayah suruh putranya mati, putranya mau tak mau musti mati juga.’

Orang menganggap bila pesan dari kakek moyangnya dilanggar, maka perbuatan itu adalah suatu perbuatan yang melanggar adat istiadat dan merupakan perbuatan orang yang tidak berbakti.

Padahal hweesio itu bukan saja adalah seorang pendeta, dia juga terhitung kakek luar dari “Sian ji”. Ditinjau dari hal inilah tak heran kalau nyonya setengah baya itu menjerit kaget sehabis men-dengar perkataan dari kakeknya.

“Hooree….” perkataan itu memang sangat beralasan!” sokong Coa Cong-gi kegirangan, “Mati hidup manusia memang ada ditangan Thian. Apa yang bisa manusia perbuat tentang mati hidupnya? Sejak dulu sampai sekarang kita adalah keturunan orang persilatan. Apa gunanya kita belajar silat kalau tidak digunakan untuk melakukan suatu usaha besar dalam dunia persilatan? Apa gunanya kalau tidak dipakai untuk menegakkan keadilan dan kebenaran”

Belum habis pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, nyonya setengah baya itu sudah berhasil menenangkan hatinya, dia lantas membentak nyaring, “Tidak tahu aturan, orang tua lagi bicara kau juga ikut menimbrung….. Hmm! Peraturan darimana itu?”

“Jangan maki dia, orang muda itu memang sepantasnya memiliki semangat untuk mengejar cita citanya!”sela hweesio tua itu lagi. Nyonya setengah baya itu berpaling, ditatapnya hweesio itu dengan alis berkerut, kemudian tanya-nya lagi, “Benarkah engkau orang tua mempunyai pikiran demikian?”

Hweesio itu tertawa hambar. “Lolap telah memikirkan masalah ini dalam-dalam, aku merasa kalau toh Buddha menurunkan firmannya bagi kehidupan manusia maka dia pasti mempunyai harapan pula bagi kesejahteraan hidup umatnya, maka aku berharap anak keturunanku bisa berjuang dan melakukan suatu usaha besar bagi kepentingan umat manusia lainnya sekalipun jalan pikirannya ini keliru. Sekalipun aku bakal diganjar masuk keneraka, aku juga rela untuk menerimanya”

Coa-wi-wi yang ada disampingnya segera berteriak, “Tidak mungkin! Kongkong tak mungkin diganjar masuk neraka, sebab melenyapkan kaum durjana dari muka bumi adalah suatu per-buatan mulia! Apalagi kongkong sebagai murid Budha mengutamakan keselamatan dan kesejahte raan umatnya…….”

“Wi-ji, jangan banyak bicara!” untuk kesekian kalinya nyonya setengah baya itu menukas.

“Sian-ji, apakah engkau merasa bahwa perbuatanku ini tidak pantas?” tiba-tiba hweesio tua itu berpaling seraya menegur.

Mendapat pertanyaan itu, sinyonya setengah baya tersebut jadi gelagapan. “Sian-ji tidak berani. Sian-ji cuma merasa bahwa pesan yang ditinggalkan Kongcou……”

“Engkau terlalu kolot Sian-ji” tukas sihweesio dengan cepat “Pikiranmu tidak terbuka dan ter-lampau kukuh pada satu pendirian. Aku lihat Siau Wi-ji adalah seorang gadis yang punya rejeki besar dan mempunyai anak cucu yang banyak. Sedang Siau gi-ji mempunyai bakat yang bagus, mempunyai garis-garis muka yang baik. Lolap berani memastikan bahwa soal keturunan sudah bukan menjadi masalah lagi. Kenapa engkau musti kuatir karena melanggar pesan kongcou?”

Setelah berhenti sejenak, tiba-tiba dia alihkan pembicaraan kesoal lain tanyanya, “Beberapa tahun belakangan ini apakah engkau sudah mendapat kabar berita tentang Hou-ji?”

Tiba-tiba sekujur badan nyonya setengah baya itu bergetar keras, mula-mula agak terkejut bercampur heran, menyusul kemudian titik-titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Melihat keadaan cucunya perempuannya itu, kembali si hweesio tua itu menghela napas panjang. “Aaaai…. Berbicara yang sesungguhnya, lolap tidak terhitung seorang pendeta sungguhan, karena semua urusan dalam keluarga selalu kupikirkan dan kukuatirkan”

Mendengar sampai di situ, nyonya setengah baya itu tak dapat menguasai rasa pedih didalam hatinya lagi, ia lantas mendekap mukanya sendiri dan menangis tersedu-sedu.

Kiranya orang yang disebut “Hoa-ji” tadi adalah suami nyonya setengah baya itu dia bernama Coa Goan-hou.

Pada lima tahun berselang, ketika suatu hari Coa Goan-hou pergi berkelana, ternyata sampai kini tiada kabar beritanya lagi, seakan-akan orang itu lenyap dengan begitu saja dari muka bumi.

Nyonya setengah baya ini berwatak halus dan setia, bukan saja pada waktu itu harus menuruti pesan kongcou-nya, ketika itupun dia sedang menyusui anaknya. Maka sekalipun tiap hari mengharapkan suaminya kembali, namun rasa rindunya itu hanya selalu disimpan didalam hati.

Tapi sekarang, secara tiba-tiba hweesio tua itu menyinggung kembali persoalan itu, sontak perta-nyaan tadi menyentuh luka dalam hatinya. Untuk sesaat ia tak dapat menguasai perasaan hatinya lagi, dan meledaklah isak tangisnya yang memilukan hati.

Nyonya setengah baya ini bernama Swan Bun-Sian.

Ayahnya bernama Swan Tiong-siang dan ibunya bernama Su Beng-wan. Hweesio tua ini bukan lain adalah ayahnya Su Beng-wan, Sebe-lum jadi padri dulu bernama Su Tiong-kian, sedang setelah jadi pendeta bergelar Goan-cin. Istrinya Cin Wan-kun adalah keturunan dari Ko Hoa seorang pemuka persilatan dari kota Kim-leng pada tiga ratus tahun berselang.

Putri tunggal dari Ko Hoa bernama Ko Cing dengan nama kecil Bun-ji. Ia menikah dengan ahli waris dari Pak-to-kiam (pedang bintang utara) Thio Cu-hun yang bernama Bu-seng (malaikat silat) In Ceng.

Malaikat silat In Ceng sendiri mempunyai dua orang istri dan melahirkan seorang putra dan seorang putri. Putranya mati sewaktu masih muda sedang putrinya dilahirkan oleh Ko hujin Ko Cing.

Sejak itulah turun temurun anak cucunya diwariskan dari putrinya itu, hingga keturunan yang ketujuh Cing Tong Ti adalah ayah mertua dari Su Tiong kian atau si padri tua itu.

Putra tunggal dari Su Tiong-kian sendiri mati ketika sedang melerai suatu pertikaian dunia persilatan. Dalam sedihnya itulah Cing Tong Ti lantas menurunkan larangannya bagi anak cucunya untuk berkelana dalam dunia persilatan. Karena peristiwa itu Su Tiong-kian lantas keluar dari rumah itu dan mencakur rambut jadi pendeta.

Padri berusia lanjut itu….Goan-sing Taysu kendatipun sudah bertahun-tahun hidup sebagai pen-deta, namun cara berpikir orang awam masih amat jelas melekat dalam benaknya. Sehingga terhadap pelajaran agama Buddha yang pernah diterimanya, ia mempunyai sistim pengetrapan yang jauh berbeda dengan orang lain.

Ketika dilihatnya cucu kesayangannya merasa begitu sedih dan murungnya, tak kuasa lagi ia menghela napas panjang. “Anak Sian, tak usah menangis lagi!” hiburnya, “Anak Hou bukan termasuk orang yang berusia pendek. Sekalipun ia sudah lenyap selama lima belas tahun, lolap percaya sampai saat inipun dia masih hidup segar bugar didunia. Apalagi serangkaian ilmu silat yang dimilikinya mendapat pendidikan langsung dari keluarganya. Soal keselamatan jiwanya lolap rasa bukan merupakan hal yang perlu kita kuatirkan” 

Tapi sebelum kata-kata tersebut sempat diselesaikan, nyonya setengah baya itu…. Swan Bun-si-an telah berseru dengan hati terperanjat dan nada sesenggukan menahan isak tangisnya, “Apa maksud kau orang tua dengan ucapan tersebut? Ataukah Goan-hou benar-benar sudah disekap seseorang?”

“Sekilas pandangan, selama puluhan tahun belakangan ini dunia persilatan memang tampaknya terang dan aman.

Aaai……! Padahal dalam kenyataan telah terjadi pergolakan yang maha dahsyat. Suasana perebutan kekuasaan dan pengaruh selalu melanda dalam dunia persilatan ini. Yaa, anak Hou memiliki ilmu silat yang sangat lihay, itulah sasaran yang terutama dari kawanan jago yang ingin mengangkat diri menjadi seorang pemimpin. Padahal semenjak kecil anak Hou sudah dididik untuk berbakti kepada orang tua, menjunjung tinggi keadilan dan kebenaran. Lolap yakin dia tak akan berani menghianati pelajaran keluarga yang pernah diterimanya.

Siapa tahu lantaran pembangkangnya ini maka dia disekap orang selama belasan tahun? Aaaaai…..! Pada hakekatnya apapun memang bisa terjadi dalam dunia ini”.

“Kalau….. Kalau dia disekap orang, lantas dia……. Dia….

Telah disekap dimana?” Swan Bun-sian berpekik dengan nada yang memilukan hati.

Selama ini Coa Wi Wi hanya mengikuti jalannya pembicaraan dengan mulut membungkam, tapi sekarang, ia tak dapat mengendalikan pergolakan hatinya lagi, cepat dia menyela, “Mama! Engkau harus berusaha untuk mententeramkan hatimu. Perkataan kongkong tak bakal salah. Ilmu silat ayah memang lihay sekali, selembar jiwanya tak mungkin akan terancam marabahaya!”

Coa Cong-gi yang berangasan tak dapat menerima perkataan itu, dia lantas membantah, “Apa gunanya mententeramkan hati dan berlagak tenang? Kalau ayah kita memang betul-betul disekap orang, sudah menjadi kewajiban kita untuk mencari jejaknya sampai ketemu Hoa Tayhiap yang berdiam dibukit Im-tiong-San adalah seorang tokoh silat yang bijaksana dan suka menolong kaum yang lemah. Dia adalah seorang pendekar besar yang disanjung dan dihormati setiap umat persilatan. Asal kita bersekongkol dengan keluarga Hoa, apa susahnya menemukan kembali jejak ayah kita?”

Teka teki yang menyelimuti soal mati hidup suaminya ini untuk sesaat membuat Swan Bun-siao kehilangan akal dan pikirannya, dia cuma bisa memandang sekejap ke arah putranya tanpa mengucapkan sepatah jua. “Ehmm… Apa yang dikatakan Siau Gi-ji memang benar,” Goan-cin Taysu membenarkan sambil mengangguk, “Menurut pengamatan lolap secara diam-diam, memang kenyataan membuktikan bahwa dewasa ini hanya keluarga Hoa dari bukit Im-tiong-san yang tetap menjaga keadilan dan kebenaran dengan sebaik-baiknya. Hanya merekalah yang tetap bersikap bijaksana dan mulia kepada setiap orang. Aaai…..! Tahukah kalian semua, heboh tentang munculnya tokoh-tokoh silat dipelbagai tempat sebenarnya bertujuan satu yakni memusuhi keluarga Hoa mereka? Karena itu, perduli tindakan kita ini demi mencari tahu jejak anak Hou yang lenyap, ataukah demi melindungi pelajaran nenek moyang kita yang menyuruh kita mengutamakan keadilan serta kebenaran, sudah menjadi kewajiban bagi kita untuk bekerja sama dengan keluarga Hoa, sebab hanya tindakan inilah merupakan tindakan yang paling tepat untuk mengatasi masalah tersebut”

Berserilah air muka Coa Cong-gi setelah Goan cing Taysu menyetujui usulnya itu. “Yaa, memang begitulah!” serunya pula, “Sekalipun ananda belum pernah bertemu muka dengan Hoa Thian-hong tayhap, tapi ji-kongcu dari Hoa Tayhiap Hoa In-liong adalah sahabat karibku. Bukan saja romantis, jadi orangpun gagah perkasa dan suka menolong kaum yang lemah. Dia pun berjiwa besar, periang dan berwatak terbuka, diantara kami Kim-leng-ngo-kongcu, tak seorangpun yang dapat menandingi kegagahannya”.

“Yang kau maksudkan sebagai Hoa-ji-kongcu itu apakah pemuda yang kena diculik pergi tadi?” sebelum ia menyelesaikan kata-katanya, Coa-wi-wi telah menukas.

“Huuuh…..Semuanya ini adalah gara-gara kau!” omel Coa Cong-gi setengah mendongkol, “Coba kalau kau tidak menghalangi diriku, belum tentu Hoa loji kena diculik orang!” “Eeee….eeeh….kok jadinya aku yang diomeli?” seru Coa-wi- wi dengan dahi berkerut, “Kan ilmu silatnya yang tidak becus, kenapa aku yang kau salahkan?”

“Apa kau bilang? Ilmu silatmu tak becus?” Coa Cong-gi melototkan matanya bulat-bulat, “Hmmm! Jangan kau anggap ilmu silatmu luar biasa sekali. Sekalipun ada tiga orang Coa Wi-wi, belum tentu bisa menandingi seorang Hoa In-liong!”