Rahasia Hiolo Kumala Jilid 10

Jilid  10

AYAM jago mulai berkokok kentongan lima telah menjelang dan fajarpun hampir menyingsing, akan tetapi dia masih berpikir dan berpikir terus menerus.

Ia berpikir pula tentang perempuan misterius yang datang ke pesanggrahan tabib, berpikir pula tentang hubungannya dengan Cia In. Andaikata perempuan itu tiada sangkut pautnya dengan Cia In, lantas siapakah dia? Apa tujuannya datang ke situ?

Walaupun pelbagai pikiran sudah berkecamuk dalam benaknya, akan tetapi pemuda itu masih gagal untuk mendapatkan suatu jawaban yang memuaskan hatinya, akhirnya anak muda itu kewalahan. Ia duduk bersila dan mengatur pernapasan, sesaat kemudian pikirannya jadi tenang kembali dan berada dalam keadaan lupa diri.

Entah berapa lama sudah lewat tiba-tiba ia merasa ada orang masuk ke dalam kamarnya, cepat dia membuka matanya. Tampaklah Coa Cong-gi sedang berjinjit-jinjit menutup kembali pintu kamarnya.

Hoa In-liong jadi terkejut bercampur keheranan, segera serunya, “Saudara Cong-gi…..”

Secepat kilat Coa Cong-gi putar badannya dan menempelkan jari telunjuknya keatas bibir tanpa jangan berbisik, setelah itu dengan suara lirih baru bisiknya, “Lote, ayoh ikut aku pergi dari sini! “

“Ada urusan apa?” Hoa In-liong makin kaget bercampur tercengang.

“Aaaah…… tak ada urusan apa-apa, sisirlah dulu rambutmu, tapi harus cepat dan jangan berisik aku akan menanti dirimu!”

“Aneh benar saudara Cong-gi ini” demikian Hoa In-liong berpikir, “kalau toh tak ada kejadian apa-apa, kenapa dia musti berlagak misterius, malahan aku musti cepat dan jangan berisik….?”

Sekalipun dalam hati berpikir demikian, diluaran dia berkerut kening, sambil bangun dan ber-pakaian kembali tanyanya, “Apakah saudara Siau-lam sekalian sudah bangun?”

“Aaaah kau tak usah perduli mereka, kita harus diam-

diam ngeloyor pergi dari sini!” bisik Cong-gi lagi. “Ngeloyor pergi secara diam-diam? Kenapa?”

“Kenapa? Kita pergi bermain, akan kuajak engkau untuk berpesiar ke tempat-tempat yang termasyhur disekitar kota ini”

“Tentang soal ini ” Hoa In-liong kelihatan agak sangsi

setelah mendengar perkataan itu.

Coa Cong-gi jadi sangat gelisah. “Ayoh cepatan sedikit” desaknya, “kalau kita tunggu sampai mereka sudah bangun, tentu kita tak akan jadi pergi!” Setelah berhenti sebentar, tiba-tiba sambungnya lebih jauh, “Tentunya kau tidak tahu bukan, disekitar kota Kim-leng banyak terdapat tempat-tempat indah yang tak terhitung jumlahnya, seperti bukit Cing liang-san, bukit Si-cu-san. bukit Ciong-san, pagoda Pak-kek-kek, kuil Ki-beng-si, puncak Yu- hoa-tay, pantai Yan-cu-ki…. bahkan masih ada lagi telaga Mo- ciu-ou dan telaga Hian-bu-ou. Pokoknya komplit ada semua disini!”

“Kalau toh kita akan bermain, tidak sepantasnya kalau kita ngeloyor pergi tanpa pamit, bagaimanapun juga…..”

“Bagaimanapun juga kenapa?” tukas Coa Cong-gi dengan cepat. “Jika kita minta ijin dulu kepada Yu pek-hu, niscaya kita tak akan jadi berangkat, apalagi kalau menunggu sampai mereka bangun semua, pastilah yang diributkan dan dipersoalkan hanya masalah Cia In belaka, bisa pusing kepala dibuatnya. Saudara Hoa, lantaran aku merasa cocok denganmu, maka diam-diam kuajak engkau bermain, tapi kalau engkau segan pergi yaa sudahlah, biar aku pergi sendirian!”

Pada dasarnya Hoa In-liong memang seorang pemuda yang gemar bermain, apalagi setelah Coa Cong-gi menyebutkan tempat rekreasi yang begitu banyak dan menawan hati, semenjak tadi ia sudah tertarik.

Maka ketika mendengar perkataan Coa Cong-gi yang terakhir ini, ia merasa kurang enak untuk menampik kebaikan orang. Walaupun begitu, tentu saja ia tak dapat ngeloyor pergi seenaknya sendiri, sementara orang lain ikut memikirkan persoalannya lagi pula pada saat ini dia menginap di rumah keluarga Yu, untuk sesaat dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dikatakan. Coa Cong-gi bukan orang bodoh, dari sikap rekannya yang seperti mau berbicara namun tak dapat mengucapkan sesuatu itu, dia lantas memahami kesulitannya, kembali ia berkata, “Kesempatan baik tak boleh dibuang dengan percuma. Disiang hari kita pergi bermain, malam nanti kutemani engkau lagi untuk berkunjung ke Gi-sim-wan dan mencari tahu jejak dari manusia she-Ciu itu, maka saat bermain dapat kita manfaatkan untuk bermain, saat bekerja kita bekerja dengan baik, bukankah itu sangat bagus sekali?”

Hoa In-liong merasa bahwa perkataan itu ada benarnya juga, maka setelah termenung sebentar sahutnya kemudian, “Kalau…. kalau….. memang begitu, le…… lebih baik tinggalkan saja surat disini”

Mendengar si anak muda itu mengabulkan ajakannya, air muka Coa Cong-gi segera berseri-seri, dia ulapkan tangannya seraya berseru lagi, “Kalau begitu pergilah cuci muka dan berpakaian biar aku yang menulis surat, ayoh cepatan dikit”

Dia berjalan menuju kemeja dan segera menulis surat. Terbacalah tulisan itu barbunyi demikian, “Siaute mengajak

In-liong pergi berpesiar, malam nanti baru pulang”.

Dan dibawah tulisan yang Sederhana itu dia di bubuhi pula dengan singkatan namanya yaitu “Gi”

Baru saja menulis surat tampaklah Hoa In-liong dengan senyum dikulum telah menanti dibelakangnya.

Coa Cong-gi jadi tertegun, dengan mata melotot segera serunya, “Eeeh….. bagaimana sih kami ini? Kenapa belum cuci muka……” “Aku hanya membasuh mukaku dengan kain kering, dengan begitu tindak tanduk kita tak akan mengganggu orang lain” jawab anak muda itu dengan tenangnya.

Mula-mula Coa Cong-gi agak tertegun, kemudian dia ingin tertawa tergelak, untunglah tiba-tiba ia teringat akan keadaan mereka, maka sambil acungkan jempolnya dia memuji, “Kau memang hebat! Itulah kalau dinamakan teman seia sekata, ayoh ikutilah aku!”

Ia lantas putar badan dan pelan-pelan membuka pintu lalu menyusup keluar.

Ketika itu fajar biru saja menyingsing. Beberapa orang pelayan keluarga Yu telah bangun membersihkan lantai. Dengan sembunyi-sembunyi mereka menuju ke halaman samping. Setelah memeriksa sekitar tempat itu dan yakin kalau di sekitarnya tak ada orang, kedua orang itu segera melompat keluar lewat dinding pekarangan dan keluar.

Sekejap kemudian mereka sudah beradu dua tiga li jauhnya dari pasanggrahan tabib. Ketika hampir tiba di kaki tembok kota, Hoa In-liong baru bertanya, “Saudara Cong-gi, apakah kita akan masuk dulu ke dalam kota Kim-leng?”

“Ehmm, kita masuk kota, sebab bukit Cing-liang-san, kuil Ki-beng-si dan pagoda Pak-khek-kek berada didalam kota semua!”

“Kalau begitu, kita akan berpesiar kemana dulu?”

“Bukit Cing-liang-san! Sebab kuil Ki-beng-si berada di atas bukit tersebut. Setelah mengisi perut dikuil Ki-beng-si, baru kita menuju puncak Yu-hoa-tay untuk memungut batu kerikil!” Hoa In-liong masih asing dengan keadaan disana, tentu saja dia tak mengerti apa yang dimak-sudkan “memungut batu kerikil di Yu-hoa-tay” dan tidak tahu juga kenapa musti mengisi perut di kuil Ki-beng-si. Tapi ketika dilihatnya Coa Cong-gi berlarian dengan kencangnya maka diapun segan untuk banyak bertanya. Dengan kencang diikutinya rekannya itu menuju ke dalam kota.

Setelah berada dalam kota Kim-leng, kedua orang itu langsung menuju ke kota sebelah barat. Sesaat kemudian mereka sudah tiba ditempai tujuan.

Yang dimaksudkan bukit Cing-liang-san pada hakekatnya tak lain adalah sebuah tanah perbukitan yang tak terlampau tinggi, luasnya kurang lebih dua puluh li dengan tinggi mencapai ratusan kaki. Meskipun demikian pepohonan tumbuh dengan rimbunnya disekitar tanah perbukitan tersebut.

Tiap kali musim panas menjelang tiba, bila ada angin yang berhembus lewat maka terdengarlah suara serangga berbunyi sahut bersahutan, mendatangkan rasa sejuk bagi mereka yang kepanasan disana, itulah sebabnya bukit itu dinamakan bukit kesegaran atau Cing-liang-san.

Kuil Ki-beng-si terletak dipuncak bukit Cing-liang-san, gedung bangunannya tidak terlampau besar tapi banyak sekali jemaah yang berkunjung kesana. Walau fajar baru menyingsing, namun sudah banyak kaum jemaah yang telah tiba dibukit itu untuk pasang hio bersembahyang.

Tentu saja hal ini ada alasannya. Pertama tanah perbukitan itu sangat tenang, sejuk dan udaranya segar. Penduduk kota selalu menggunakan kesempatan itu untuk mendaki bukit.

Bukan saja dapat pasang hio bersembahyang, mereka pun dapat berolahraga menyehatkan badan. Sebab itulah orang- orang selalu saling berebut mendekati bukit itu.

Kedua dikuil Ki-beng-si telah tersedia bubur dan beberapa macam sayur yang sengaja dimasak oleh kaum padri yang menghuni disana. Bukan saja hidangan itu lezat dan nikmat, yang penting adalah gratis. Tidak heran kalau kebanyakan orang setelah naik bukit dan bersembahyangan, mereka datang kekuil itu untuk mengisi perut.

Dan itulah sebabnya Coa Cong-gi mengajak rekannya untuk mengisi perut dikuil Ki-beng-si.

Setibanya dikaki bukit, dua orang itu segera memperlambat langkah kakinya dengan mencampurkan diri diantara para jemaah yang lain, pelan-pelan mereka mendaki ke puncak bukit tersebut.

Jalan yang mereka ambil sekarang adalah jalan setapak yang paling terpencil dan jarang dilalui orang. Sepanjang perjalanan tidak banyak yang mereka jumpai, akan tetapi setelah mereka tiba di pinggang bukit, dimana semua jemaah yang mendaki dari empat penjuru berkumpul jadi satu.

Jumlahnya jadi banyak sekali, kendati begitu diantara orang- orang itu tidak nampak ada orang-orang yang berdandan menyolok. Sekalipun ada, lantaran Hoa In-liong berdua tujuannya adalah berpesiar, mungkin merekapun tidak terlampau menaruh perhatian.

Suara pembacaan doa pagi berkumandang diudara pagi yang bersih, itulah para pendeta sedang menjalankan upacara sembahyangan mereka dipuncak bukit.

Suara ketukan bok-hi dan nyanyian liam-keng yang berpadu menjadi satu memberikan ketenangan dalam hati Hoa In-liong. Dalam suasana setenang dan secerah ini, anak muda itu hampir melupakan semua kemurungan dan kekesalan yang dialaminya kemarin malam. Tanpa terasa ia mempercepat langkah kakinya menuju ke puncak bukit dimana ketukan bok-hi dan nyanyiannya liam-keng berasal.

Dalam kuil Ki-beng-si hanya terdapat ruang tengah, sebuah ruang samping, sebuah ruang belakang dan ruang bersantap. Ruang tengah sebagai ruang sembahyang, ruang makan letaknya diruangan belakang, dibelakang ruang makan itu terdapat pula ruangan ruangan kecil disanalah terletak gudang dan dapur.

Waktu itu ada dua tiga puluh orang hweesio berkumpul di ruang depan sambil bersembahyang, semuanya memejamkan mata rapat-rapat dan pusatkan perhatiannya hanya untuk berdoa.

Agaknya Hoa In-liong sudah terpikat oleh suasana tenang disitu, dia langsung menuju ke ruang tengah dan mendengar pembacaan doa itu dengan penuh seksama.

Beberapa saat lewat dengan begitu saja. Lama kelamaan Coa Cong-gi tercengang juga oleh sikap rekannya itu, ia jadi habis kesabarannya, segera bisiknya, “Eeeh… lote, sebenarnya apa yang terjadi?”

Hoa In-liong tertegun lalu tersadar kembali dari lamunannya. Dia sendiripun dibuat kebingungan dan tak habis mengerti dengan kejadian yang baru saja berlangsung didepan matanya. Ia tak tahu kenapa suara liam-keng dan kekuatan bok-hi itu begitu memikat hatinya sampai hampir saja dia kehilangan kesadaran.

Dengan muka tersipu-sipu ia menggeleng, lalu sahutnya sambil tertawa jengah, “Oooh… Tidak apa-apa, tidak apa-apa. Mari kita berkunjung ke tempat lain!” Tanpa menantikan jawaban dari Coa Cong-gi lagi, dia putar badan dan pelan-pelan berjalan menuju ke ruang samping.

Tindak tanduk rekannya yang termangu-mangu seperti orang kehilangan kesadaran ini tentu saja sangat membingungkan Coa Cong-gi yang berada disampingnya. Ia benar-benar dibuat tak habis mengerti oleh sikap rekannya, tapi ada seseorang yang berdiri dikejauhan menganggukkan kepalanya berulang kali dengan senyum dikulum.

Orang itu adalah seorang hweesio kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang yang mukanya sudah penuh berkeriput, matanya setengah terpejam dan memelihara jenggot sepanjang dada.

Potongan badan maupun roman muka hweesio itu sederhana sekali dan sedikitpun tidak menyo-lek. Sebuah tasbeh bergantung didadanya, memakai jubah pendeta berwarna abu-abu yang kasar dengan sepatu rumput yang sederhana sekali.

Walaupun sederhana dandanannya, tapi ia sudah menguntil terus dibelakang Hoa In-liong semenjak pemuda itu mulai mendaki ke atas puncak bukit. Hanya tentu saja anak muda itu sama sekali tidak merasa kalau secara diam-diam ada orang yang menguntil terus dibelakangnya.

Setelah berpesiar disekitar halaman kuil, Coa Cong-gi dan Hoa In-liong menuju ke puncak sebelah tenggara, dari situ mereka nikmati keindahan kota Kim-leng.

Penduduk yang berdiam di kota Kim-leng sebelah tenggara benar-benar padat sekali, rumah yang berjejer-jejer jauh memanjang sampai ke depan sana, ramai sekali suasananya. Walaupun fajar baru saja menyingsing, namun sudah banyak orang yang berlalu lalang dijalan raya.

Daerah kota sebelah barat laut meski tidak sedikit jumlah rumah yang ada disitu, namun kebanyakan adalah gedung- gedung besar milik pembesar atau pedagang kaya. Suasana dijalan lorong dan jalan raya sekitar tempat itu masih sepi dan jarang ada orang yang berlalu lalang.

Tiba-tiba Hoa In-liong tertegun, sinar matanya yang tajam bagaikan sembilu itu menatap ke arah loteng tambur tanpa berkedip.

Kembali Coa Cong-gi dibikin tertegun oleh sikap rekannya itu. Dengan perasaan tidak habis mengerti segera tegurnya, “Eeeeh…. kenapa kamu? Adakah sesuatu yang tidak beres?”

Hoa In-liong segera menuding ke arah mana yang dipandangnya itu, lalu katanya, “Coba kau lihat, bukankah kereta kuda itu adalah kereta kuda milik Cia In?”

Mengikuti arah yang ditunjuk Coa Cong-gi segera memandang ke bawah. Benar juga, tampak seekor kereta kuda sedang dilarikan kencang kencang menuju bagian kota yang ramai.

Sayang ketajaman matanya tak dapat menandingi ketajaman mata Hoa In-liong. Sekalipun ia melihat adanya kereta yang sedang dilarikan kencang-kencang akan tetapi tak sempat dilihat bagaimanakah bentuk kereta kuda itu.

“Aaaah….kamu ini!” Serunya kemudian. “Di kota Kim-leng ini banyak sekali kereta kuda macam begitu! Darimana kau bisa tahu kalau kereta tersebut adalah keretanya Cia In?” “Memang, di kota Kim-leng mungkin terdapat banyak sekali kereta kuda, tapi modelnya toh tak mungkin sama antara yang satu dengan yang lain. Aku sangat hapal dengan model kereta milik Cia In dan aku rasa dugaanku tak mungkin keliru” kata Hoa In-liong dengan nada yang meyakinkan.

“Kalau memang kereta kuda itu adalah keretanya Cia In lantas kenapa? Eagkau ‘kan juga tahu kalau dia adalah seorang pelacur? Malam diundang orang, pagi baru pulang sudah merupakan suatu pekerjaan yang umum, apanya yang aneh?”

“Aaah………aku rasa tak mungkin begitu” Hoa In-liong tetap menggelengkan kepalanya berulang kali.

“Masa kau lupa? Kemarin Ciu Hoa ‘kan pergi kesana untuk mencari gara-gara. Jelas kedata-ngannya bukan untuk mengundangnya mencari kesenangan. Aku jadi ingin tahu bagaimana caranya ia meloloskan diri dari cengkeraman orang she-Ciu itu?”

“Kalau tak dapat meloloskan diri lantas kenapa?” seru Coa Cong-gi lagi dengan muka tertegun, “Eeeh… saudara Hoa sekalipun engkau merasa curiga dengan kejadian ini, aku rasa tak perlu kau pikirkan pada saat ini. Malam nanti kita berkunjung saja ke kamarnya, tanggung semua kecurigaanmu akan peroleh jawaban. Ayoh jalan kita pergi makan bubur.”

Tanpa menunggu jawaban lagi dia lantas menarik lengan Hoa In-liong dan diajak menuju ke ruang makan.

Coa Cong-gi memang terlalu polos dan kasar, selamanya dia tak mau berpikir secara baik-baik tiap kali merasa tak mampu untuk menjawab pertanyaan orang, maka digunakannya kekerasan. Menghadapi manusia semacam ini terpaksa Hoa In-liong harus bersabar dan mengikuti kehendak hatinya.

Setelah masuk ke ruang makan, tampaklah tamu yang bersantap disitu banyaknya bukan kepalang. Dua puluh buah meja yang tersedia hampir boleh dibilang sudah penuh diisi manusia.

Dalam ruangan bersantap ini tidak tersedia orang yang melayaninya, jadi bila ada orang yang hendak makan bubur, maka dia harus menyiapkan buat diri sendiri. Oleh sebab itu manusia yang berlalu lalang disitu amat banyak dan sangat tidak beraturan.

Hoa In-liong mencampurkan diri dengan para jemaah yang berkumpul disitu, mengikuti di belakang Coa Cong-gi mereka pergi mengambil bubur, lalu mencari tempat kosong dan duduk sambil bersantap.

Sayur yang tersedia disitu ada empat macam. Sepiring sayur putih dimasak cah, sepiring ayam masak kecap, sepiring tahu merah dan sepiring cah toge, empat macam sayur yang amat sederhana dan umum, akan tetapi rasanya nikmat sekali, jauh lebih nikmat dari masakan restoran.

Selesai makan bubur sampai kenyang, Coa Cong-gi baru berpaling ke arah temannya sambil berta-nya, “Eeeeh….. Hoa lo-te, bagaimana rasanya sayur dan bubur yang dihidangkan disini?”

“Ehmmm…… lezat! lezat sekali” sahut Hoa In-liong sambil angkat kepalanya dan tertawa.

Tiba-tiba dia membungkam, kata-kata selanjutnya tidak diteruskan bahkan senyuman yang menghiasi ujung bibirnya seketika lenyap, sinar matanya memandang kesatu arah dengan termangu.

Coa Cong-gi mengenyitkan sepasang alis matanya yang tebal, kemudian dengan perasaan tidak habis mengerti tanyanya, “Hey Hoa lo-te, kenapa hari ini……”

Tiba-tiba ia merasa sinar mata yang terpancar dari kelopak mata Hoa In-liong aneh sekali, tanpa sadar diapun menghentikan kata-katanya dam mengalihkan pula sinar matanya ke arah samping.

Ternyata di meja samping mereka duduklah seorang pemuda yang menyoren pedang dengan disampingnya duduk seorang gadis berkerudung hitam yang sedang bermain dengan seekor kucing hitam.

Memandang kucing hitam yang bermata merah menggidikkan hati itu, Coa Cong-gi kelihatan tertegun. Untuk sesaat diapun, tak mampu mengucapkan sepatah katapun.

Dalam pada itu, pemuda tersebut telah meletakkan sumpit dan mangkuknya keatas meja lalu menengadah. Kiranya orang itu tak lain adalah kakak seperguruannya Wan Hong- giok…. yaitu Siau Ciu adanya.

Coa Cong-gi tidak kenal dengan Siau Ciu, tapi dari Hoa In- liong, dia pernah mendengar tentang kisah si kucing hitam yang ganas.

Sementara itu Siau Ciu sendiripun tampak agak tertegun, menyusul kemudian ia bangkit dan tertawa seram. “Hee….. hee….. hee….. Hoa loji, sudah lama kita tak bertemu muka!”

Mendengar teguran tadi, perempuan berkerudung hitam yang duduk disampingnya ikut menengadah, akan tetapi setelah mengetahui siapakah pemuda yang berada dihadapannya, kontan sekujur badannya menggigil keras.

Sekalipun perempuan itu mengenakan kain kerudung warna hitam yang menutupi wajahnya atau mungkin tidak membawa serta kucing hitamnya, Hoa In-liong tetap dapat mengenali perempuan itu sebagai nyonya Yu “gundik” Suma liang-cing yang pernah ditemuinya menjaga di sisi layon siok- ya nya itu.

Tak heran Hoa In-liong segera tertegun, ketika secara tiba- tiba bertemu muka dengan pembunuh yang paling dicurigainya itu ditempat tersebut itu…..

Tampak nyonya Yu menarik ujung baju Siau Ciu, kemudian bisiknya dengan suara lirih, “Jangan mencari gara-gara disini mari kita pergi!”

“Heeh… heeeh… hee… mau pergi?” jengek Coa Cong-gi dengan suara dalam “Kalian mau kemana? jangan mimpi di siang hari bolong….”

“Biarlah mereka pergi” kata Hoa In-liong tiba-tiba dengan suara halus dan tenang. “Tempat ini adalah tempat beribadah yang sunyi, jangan sampai kita nodai tempai suci ini dengan bau anyirnya darah manusia!”

“Kenapa?” seru Coa Cong-gi dengan alis mata berkenyit, “Apakah orang itu bukan…..”

Sebelum pemuda itu menyelesaikan kata-katanya, Hoa In- liong telah mengangguk. “Benar, dialah nyonya Yu dan aku rasa tak mungkin bakal salah lagi!” “Hoa In-liong!” seru Siau Ciu kemudian setelah mendengus dingin, “Kongcumu akan menantikan kedatanganmu di bukit Ciong san, beranikah engkau pergi ke sana?”

“Baik, kita tetapkan dengan perkataanmu itu, sebentar aku pasti akan tiba di tempat itu!” sabut Hoa In-liong dengan sinar mata berkilat.

Setelah berhenti sebentar, ditatapnya nyonya Yu dengan pandangan tajam, kemudian lanjutnya, “Perjanjian ini dengan hujin sebagai pokok persoalan, aku ada persoalan hendak dibicarakan dengan hujin. Maka aku harap sampai waktunya hujin juga harus habis disitu”

“Aku…… aku….. aku turut perintah!” dengan terbata-bata nyonya Yu memberikan janjinya.

Hoa In-liong tersenyum, dia lantas bangkit berdiri. “Saudara Cong-gi, mari kiia pergi!” ajaknya.

Dengan langkah lebar dia berjalan lebih dahulu menuju ke pintu gerbang ruangan itu.

Dengan mulut membungkam Coa Cong-gi hanya mengekor dibelakang rekannya. Menanti mereka tiba dipinggang bukit, pemuda itu kehabisan sabar, dia lantas bertanya, “Hoa lo-te, benarkah kau percaya dengan ucapan nyonya Yu yang akan hadir dalam pertemuan itu?”

Hoa In-liong tersenyum, “Sekalipun dia merupakan satu- satunya titik petunjuk yang menguntungkan bagiku, hakekatnya perempuan itu bukan manusia penting, jadi mau datang atau tidak, sebenarnya tidaklah terlalu penting!” “Kalau…… kalau memang begitu, kenapa kau undang pula kehadirannya dalam pertemuan itu?” tanya Coa Cong-gi dengan wajah tercengang dan tidak habis mengerti.

Sekali lagi Hoa In-liong tersenyum. “Andaikata perempuan itu tidak pergi, ini membuktikan bahwa dia sudah melakukan suatu perbuatan salah kepada pihak kami. Dus berarti pula dia tersangkut dalam peristiwa berdarah yang menimpa Suma siok-ya ku itu. Bila suatu ketika aku betul-betul menghadapi jalan buntu, maka semua tenaga dan pikiranku dapat dipusatkan untuk mengejarnya dan akhirnya duduknya persoalan tentu akan ketahuan juga”

“Seandainya dia menghadiri pertemuan itu?” Cong-gi bertanya lebih lanjut.

“Bila kita tinjau keadaan yang terpapar dihadapan mataku sekarang, dengan posisi nyonya Yu yang tersangkut dalam peristiwa berdarah itu maka menurut dugaanku jika dia berani datang menghadiri pertemuan itu, tentu diapun akan membawa pula membantu pembantunya untuk mengerubuti aku dan keadaan semacam inilah yang memang sedang kunanti-nantikan”

Mula-mula Coa Cong-gi agak tertegun setelah mendengar perkataan itu, tapi menyusul kemudian ia sudah tertawa terbahak-bahak. “Haa… haa…. haa…. Aku mengerti, sekarang….. Aku mengerti…. Sungguh tak kusangka kau….”

Hoa In-liong segera menepuk bahunya pelan. “Kalau banyak bicara tentu lebih banyak gagalnya dari pada berhasil. Kalau sudah mengerti yaa sudahlah, mari percepat perjalanan kita”

Demikianlah, dua orang itu lantas bergandengan tangan dan buru-buru menuruni bukit Cing-liang san. Baru saja dua orang itu lenyap dari pandangan, nun jauh dibalik pepohonan yang rindang sana pelan-pelan muncul seorang hweesio tua yang kurus kering tinggal kulit pembungkus tulang. Memandang bayangan punggung Hoa In- liong yang menjauh, dia gelengkan kepalanya berulang kali, kemudian sambil memanggul kantungan kainnya pelan-pelan diapun menuruni bukit itu.

Bukit Ciong-san terletak kurang lebih lima puluh li disebelah timur kota Kim-leng.

Hoa In-liong dan Coa Cong-gi tidak langsung menuju ketempat tujuan. Mereka keluar kota lewat pintu sui-see-bun, mula-mula bermain dulu di Yu-hoa-tay setelah itu mereka baru mengerahkan ilmu meringankan tubuhnya menuju ke bukit Ciong-san.

Setibanya di kaki bukit, waktu menunjukkan antara pukul tujuh pagi. Angin berhembus sepoi-sepoi menyejukkan badan. Gunung itu cukup tinggi dan angker, orang menyebutnya pula bukil Ci-kim-san.

Memandang tanah perbukitan yang tinggi dan luas itu, Coa Cong-gi tampak agak tertegun, kemudian sambil menghembuskan napas panjang katanya, “Aaah….. Coba lihatlah bukit Ciong-san begini besar dan luasnya, kenapa tadi kita bisa lupa menanyakan tempat yang sebenarnya? Coba sekarang kemana kita musti menunggu?”

Hoa In-liong berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Untunglah waktu masih pagi. Mari kita mendaki dulu kepuncak bukit itu. Dari situ kita akan menyaksikan dengan jelas setiap orang yang mendatangi bukit ini” Oleh karena hanya itulah satu-satunya jalan yang bisa ditempuh, tentu saja Coa Cong-gi tak dapat berkata apa-apa lagi. Sekali lagi dua orang itu mengerahkan tenaga dalamnya untuk lari ke atas puncak.

Sesaat kemudian, mereka sudah mendekati puncak bukit tersebut, tiba-tiba terdengar seorang perempuan membentak dengan suara yang amat parau, “Berhenti! Kalau engkau berani maju selangkah lagi, jangan salahkan kalau kutebas kutung sepasang kaki anjingmu!”

Mendengar ancaman tersebut, Hoa In-liong merasa terkesiap, segera pikirnya, “Lhoo…. itu kan Si Nio? Kenapa dia bisa berada disini?.”

Baru saja pikiran itu melintas dalam benaknya, tiba-tiba terdengar suara pria lain menyahut sambil tertawa dingin, “Lengan belalang mau menahan kereta. Haa…. Haa…. Haa…. Kau si nenek jelek benar-benar manusia yang tak tahu diri, berani benar……”

Belum habis perkataan itu, tiba-tiba Hoa In-liong membentak dengan suara dalam, “Ayoh cepatan sedikit! Orang itu adalah Ciu Hoa”

Begitu selesai berkata, tubuhnya lantas melambung ke udara. Dari situ dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat menerjang ke atas puncak bukit.

Dalam waktu singkat kedua orang itu sudah tiba diatas puncak bukit itu. Tampaklah tempat tersebut adalah sebidang tanah berumput yang tidak rata, luasnya kurang lebih belasan kaki persegi. Sebelah timur dan barat merupakan hutan yang rimbun, sebelah timur laut merupakan sebuah jurang yang entah berapa dalamnya. Pada waktu itu kecuali arah tebing dengan jurang yang dalam itu tanpa penjagaan, boleh dibilang tiga arah disekitarnya sudah dikepung oleh enam belas orang laki-laki berbaju ringkas warna merah.

Ditengah tanah lapang berumput itu berdirilah seorang nona baju hitam yang berusia enam belas tahunan dengan pedang pendek terhunus. Mukanya diliputi kegusaran dan matanya melotot besar. Si Nio si perempuan bertampang jelek itu menghadang dihadapannya. Mukanya yang jelek itu kelihatan menyeringai seram, sepasang matanya berapi-api.

Kulit wajahnya mengejang kencang, sepasang tangannya yang hitam pekat bagaikan arang tampaknya sudah disaluri tenaga dalam yang sempurna, ini menunjukkan bahwa ia telah bersiap-siap hendak turun tangan.

Dihadapan perempuan jelek itu berdirilah Ciu Hoa dengan sikap acuh tak acuh. Sinar matanya memancarkan cahaya cabul, senyuman tengik tersungging di ujung bibirnya.

Kendatipun pihak lawan sudah bersiap sedia menerjang ke depan, akan tetapi dia sendiri tetap tenang-tenang saja, malahan selangkah demi selangkah maju semakin ke depan.

Dibelakang Ciu Hoa berdirilah seorang pemuda berbaju perlente yang usianya antara dua puluh tahunan. Kalau dilihat dari gerak geriknya, jelas dia berasal sealiran dengan Ciu Hoa.

Dari keadaan yang terpapar didepan mata sekarang, siapapun akan tahu bahwa pertarungan ini bukan disebabkan soal dendam, sebaliknya karena Ciu Hoa yang cabul dan suka main perempuan itu telah berhasrat untuk menangkap si nona baju hitam.

Coa Cong-gi adalah seorang pemuda yang berangasan, menyaksikan adegan tersebut, sontak bawa amarahnya berkobar dada, tiba-tiba membentak keras, “Berhenti! Mengganggu kaum perempuan yang lemah, Hmm! Terhitung manusia gagah macam apakah kau itu?”

Bentakan tersebut diucapkan dengan disertai tenaga dalam yang amat sempurna, begitu nyaring-nya bentakan tadi membuat telinga orang terasa jadi sakit.

Cia-Hoa sangat terkejut, tanpa terasa dia menghentikan langkah kakinya dan berpaling.

Rupanya si nona baju hitampun telah mengetahui siapa yang datang, dengan kegirangan segera teriaknya, “Hoa- kongcu!”

Ketika itu Ciu Hoa pun sudah melihat kedatangan Hoa-In liong. Dengan alis mata berkenyit segera tegurnya dengan, seram, “Heeh… heee…. heee… rupanya kita memang berjodoh! Tempo hari kau berdaya upaya menipu aku dengan, mengakui bernama Pek khi. Setelah itu melakukan perbuatan licik pula atas diriku. Heee….. heee… heee…… Hoa-loji, apakah kau tidak takut perbuatanmu melarikan perempuan pelacuran itu akan merusak nama baik keluarga Hoa-kalian?”

Mendengar perkataan itu, diam-diam Hoa In-liong merasa terkejut, segera pïkirnya, “Aaaah…. apa yang telah terjadi? Mungkinkah Cia In telah membongkar rahasiaku dihadapannya…..?”

Belum habis ingatan itu melintas dalam benaknya, terdengar nona baju hitam itu sudah menjerit kaget, “Oooh Thian! Kau…..”

Jeritan itu penuh mengandung nada kecewa, sekalipun tak diketahui dengan alasan apàkan ia menunjukan perasaan kecewanya itu. Belum sempat Hoa In-liong berpikir lebih jauh, Si Nio si perempuan jelek itu sudah menukas lebih dulu dengan suara dingin, “Nona, jangan lupa dengan tujuan kita yang sebenarnya. Biar dia mau menculik nona darimanapun, kesemuanya itu sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan kita!”

Dalam beberapa waktu singkat ini memang telah terjadi banyak sekali kejadian aneh. Seruan girang dari nona baju hitam itu disusul dengan jerit penuh kekecewaan, ditambah dengan ucapan Si Nio dan sindiran Ciu Hoa, kesemuanya itu membuat Coa Cong-gi semakin kebingungan di buatnya.

Tampak Hoa In-liong tarik napas panjang panjang, kemudian sambil menghampiri nona baju hitam itu katanya, “Nona! Kau jangan bersedih hati, duduk persoalan yang sebenarnya sudah berhasil kuselidiki sedikit demi sedikit dan terbukti sudah bahwa nona memang tidak tersangkut didalamnya. Mengenai persoalan ayahmu, dikemudian hari pasti akan kuusahakan bantuan sedapat mungkin, Nah, sekarang kau boleh tinggalkan tempat ini lebih dahulu…….”

Belum habis dia berkata, tiba-tiba terdengar Ciu Hoa tertawa terbahak-bahak, “Haa….. haa…. Haa… Orang she- Hoa, apakah engkau juga akan mencampuri urusan ini?” tegurnya.

Hoa In-liong sama sekali tidak menggubris perkataannya itu, dia berkata lebih jauh, “Nona, perkataanku ini benar-benar muncul dari hati sanubariku. Keturunan keluarga Hoa selamanya tidak akan menjilat kembali ludah yang lelah ditumpahkan. Percayalah dengan aku. Nah, ayolah pergi dulu! Urusan disini akan kubereskan untuk nona!”

Si Nona baju hitam itu hanya menangis terisak dan sama sekali tidak menjawab, sedangkan Si Nio berdiri dengan muka sedingin es. Diapun tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengundurkan diri diri tempat itu.

“Hmmm. kau akan menguruskan persoalan mereka itu?” tiba-tiba terdengar Ciu Hoa mengejek sambil mendengus dingin. “Hmmm! Engkau benar-benar manusia tak tahu diri, makin lama perbuatanmu semakin berani sehingga urusan orang lain pun baru kaucampuri!”

Sinar matanya lantas dialihkan ke arah pemuda perlente dibelakangnya, tambahnya, “Lo-ngo, ayoh serbu. Mati atau hidup tak usah dipersoalkan, lagi… pokoknya sikat beres”

Sebuah pukulan kencang langsung disodok ke tubuh Hoa In-liong yang berada dihadapannya.

Dengan satu kecepatan bagaikan kiiat Hoa In-liong mengegos kesamping. Setelah lolos dari pukulan dahsyat itu, bentaknya, “Eeeh…. tunggu sebentar! Aku masih ada perkataan yang hendak kutanyakan kepadamu!”

“Criiiiiiing….!”

Pemuda berbaju perlente itu mencabut keluar pedangnya lalu menghadang jalan pergi pemuda itu, sambil melancarkan sebuah bacokan ke arah pinggang serunya dengan ketus, “Dalam dunia akhirat bukan hanya kau seorang yang jadi setan kebingungan, kau tak usah banyak bicara lagi! Nih, rasakan sebuah bacokan mautku!”

Bukan saja perkataannya tajam, serangan pedang itupun cepatnya bagaikan sambaran kilat, lihaynya bukan kepalang.

Menyaksikan serangan yang amat lihay itu, si nona baju hitam menjerit kaget, sepasang matanya terbelalak lebar- lebar. Hoa In-liong sama sekali tak keder menghadapi serangan maut itu. Tangan kirinya segera disodok ke muka melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang membentur ujung pedang itu, bentaknya, “Siapa kau?. Kalau ingin bertempur, ayoh terangkan dulu namamu…. aku paling tak sudi berkelahi dengan manusia tak bernama!”

Setelah serangan telapak tangannya mengenai sasaran yang kosong tadi, Ciu Hoa telah meloloskan pedangnya. Dengan jurus Cian-li-yang huan (mengembangkan layar menempuh seribu li) dia tusuk pergelangan tangan musuh.

“Dia bernama Ciu Hoa, sudah jelas?” sahutnya dengan lantang.

Ciu Hoa pemuda berbaju perlente inipun bernama Ciu Hoa? Ini berarti sudah ada tiga orang yang mengaku bernama Ciu Hoa!

Hoa In-liong merasakan hatinya amat terperanjat, nyaris iga kirinya termakan oleh tusukan pe-dang itu.

Melihat rekannya terancam bahaya, Coa Cong-gi sangat gelisah dia siap menerjang kedepan untuk memberi bantuannya.

Tiba-tiba terdengar nona baju hitam itu berteriak lengking, “Hoa kongcu, sambutlah pedangku ini”

Serentetan cahaya tajam menembusi udara, pedang pendek yang panjangnya hanya beberapa depa itu secepat kilat meluncur ke arah punggung Ciu Hoa. Merasakan datangnya maut dari belakang, Ciu Hoa tak berani melanjutkan serangannya, cepat dia menarik kembali pedangnya sambil menyingkir kesamping.

Agak lega Coa Cong-gi menyaksikan kesemuanya itu. Diam- diam ia berpikir dihati, “Aku lihat perempuan itu mempunyai satu ganjalan terhadap Hoa In-liong namun rupanya dia pun menaruh rasa cinta, itulah yang dinamakan orang tidak cinta sebenarnya cinta!”

Sementara hatinya berpikir demikian, sepasang matanya dengan tajam mengikuti jalannya pertarungan ditengah gelanggang.

Tampaklah pedang pendek itu dengan membawa desingan angin tajam masih meluncur terus ke depan. Tampaknya Hoa In-liong tak dapat menyambut senjata tersebut. Dalam gugupnya lengan kanannya cepat dijulurkan ke depan dan tahu-tahu entah dengan cara apa, pedang pendek yang bersinar tajam itu sudah terjepit diantara jari tengah dan jari telunjuknya.

Setelah memegang pedang, maka keadaan Hoa In-liong ibaratnya harimau yang tumbuh sayap. Tampaklah pedang pendek itu berkelebat kian ke mari dengan cepatnya. Dengan serangkaian serangan berantai yang maha dahsyat dia serang dua orang Ciu Hoa itu habis-habisan sehingga kedua orang itu terdesak mundur terus tiada hentinya.

Sementara melancarkan serangan berantainya, diam-diam Hoa In-liong berpikir pula didalam hati, “Aneh benar dari mana munculnya begitu banyak Ciu Hoa dalam dunia persilatan.

Pemuda berbaju perlente itu disebut Lo-ngo, pria bermuka kuda dulu disebut Lo-sam… Entah ada berapa orang Ciu Hoa lagi yang bakal kujumpai? Kenapa tidak kugunakan siasat untuk memancing mareka? Asal jalannya ilmu silat mereka dapat kuraba, tentu untuk menebak asal usul mereka….’

Berpikir sampai disini, dia lantas menunjukkan sikap seakan-akan tenaga dalamnya sudah lemah, sehingga permainan pedangnya ikut melambat pula….”

Pertarungan antara jago-jago lihay, seringkali menang kalah hanya tergantung dalam waktu sedetik.

Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki dua orang Ciu Hoa itu sudah mencapai pada puncaknya. Tapi oleh karena mereka menyerang secara gegabah, mengakibatkan posisi mereka selalu berada di bawah angin.

Dan sekarang, ketika secara tiba-tiba dilihatnya serangan pedang dari Hoa In-liong melambat, serta-merta mereka manfaatkan kesempatan baik yang sama sekali tak diduganya itu sebaik mungkin.

Dengan wajah berseri-seri, kedua orang itu segera memperketat serangan pedang.

“Sreeet….! Sreeet…..! Sreeet!”

Secara beruntun mereka lancarkan tiga buah serangan berantai untuk memperbaiki kembali posisi mereka.

Perlu diketahui, oleh karena kedudukan mereka berada dibawah angin, maka ilmu pedang mereka tak bisa dikembangkan sebaik-baiknya dan sekarang setelah posisinya berhasil diperbaiki, dua bilah pedang mereka bagaikan ikan yang bertemu air, segera melancarkan serangan lagi dengan jauh lebih lincah dan ganas. Ilmu pedang yang dimiliki kedua orang itu betul-betul ganas, lihay dan berbahaya, bukan saja kerjasamanya sangat tapat, langkah dan permainan pedang kedua orang itupun jauh lebih mantap dan berbobot. Lebih banyak jurus-jurus serangan aneh yang digunakan dari pada tipu muslihat, bahkan kelihayannya tidak jauh berbeda dengan ilmu pedang yang dimainkan Ciu Hoa ketika mereka bertarung di kota Lok- yang tempo hari.

Setelah mencoba dua puluh jurus lebih, Hoa In-liong mulai berpikir dalam hatinya, “Kalau ditinjau dari gerakan jurus ilmu pedang mereka, tampak-tampaknya jurus pedang itu berasal dari satu perguruan yang sama. Itu berarti pula bahwa mereka berasal dari satu perguruan yang sama pula, entah berapa sebenarnya jumlah manusia yang memakai nama Ciu Hoa itu?. Aku perlu menyelidikinya sampai jelas!”

Tiba-tiba pedangnya digetarkan kencang-kencang, lalu secepat kilat membacok tubuh Ciu Hoa yang berbaju perlente itu, bentaknya dengan nyaring, “Ayoh bicara! Apakah kalian semua adalah anak murid dari perkumpulan Hian-beng-kau?”

Serangan itu datangnya seperti bianglala dari angkasa, bukan saja sangat tajam bahkan disertai tenaga desingan yang memekikkan telinga.

Ciu Hoa yang berbaju pelente itu amat terkejut. Ia tak berani menyambut ancaman tersebut dengan kekerasan. Tanpa sadar kakinya melangkah mundur setindak kebelakang.

Ciu Hoa yang bermuka potongan kuda itu cepat menyergap maju ke depan. Ujung pedangnya menciptakan selapis cahaya tajam yang menggidikkan hati, tanpa memperdulikan keselamatan jiwanya. Secara beruntun dia totok tiga buah jalan darah penting dipunggung Hoa In-liong, tentu saja tujuan dan serangannya ini adalah untuk menyelamatkan jiwa laki-laki berbaju perlente yang bernama Ciu Hoa itu.

Serangan itu lihaynya memang lihay. Sayang Ciu Hoa bermuka kuda itu telah melupakan sesuatu. Dia lupa bila seseorang akan menyerang dengan satu jurus mengadu jiwa, maka pertahanan atas tubuhnya sendiri akan terbuka.

Baru saja dia menerkam kemuka, dengan satu gerakan manis Hoa In-liong sudah putar badannya sambil membabatkan pedang pendeknya ke depan. Seketika itu juga ia merasa kepalanya jadi dingin dan sakit. Rasa kaget dan takutnya bukan alang kepalang.

Hoa In-liong tertawa, sambil mundur kebelakang tegurnya, “Coba aku mau bertanya, apabila serangan pedangku tadi kulancarkan tiga inci lebih kebawah maka apa akibatnya?”

Apa akibatnya? Tentu saja tak usah ditanyapun orang akan mengetahui dengan sendirinya.

Berdiri semua bulu kuduk Ciu Hua bermuka potongan kuda itu, peluh dingin membasahi tu-buhnya, diam-diam ia menarik napas panjang dengan jantung berdebar keras.

Hoa In-liong tersenyum kembali ujarnya, “Tolong tanya, dalam perguruanmu ada berapa yang menggunakan nama dan she sebagai Ciu Hoa?”

“Delapan orang!” jawab Ciu Hua bermuka potongan kuda itu seperti kena hipnotis.

“Delapan orang menggunakan nama yang sama bukankah itu berarti bahwa kalian memang sengaja memusuhi keluarga Hoa kami!” bentak Hoa In-liong dengan muka sedingin es. “Hmmm! Ayoh jawab permusuhan apakah yang sebenarnya terikat antara gurumu dengan keluarga Hoa kami?”

Tiba-tiba Ciu Hoa bermuka potongan kuda itu tertegun. Ia baru sadar bahwa barusan dia telah kesalahan berbicara, kontan paras mukanya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat. Saking kaget dan gugupnya dia jadi gelagapan dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Tiba-tiba Ciu Hoa yang berbaju pelente itu menimbrung dari samping arena, “Lo-sam sepatah kata juga bicara, delapan sepuluh patah kata juga telah berbicara. Kalau toh sudah berbicara, aku rasa apa yang telah kita ketahui katakan saja semuanya secara blak-blakan!”

Hoa In-liong mengerutkan alisnya rapat-rapat dalam hati diam-diam pikirnya, “Kakak beradik seperguruan ini mempunyai usia yang hampir sebaya, mempunyai nama yang sama dan saling memuji tapi mengindahkan mana yang lebih besar mana lebih kecil. Ditinjau dari sikap mereka, tentulah guru mereka pun berwatak seperti itu.”

Berpikir demikian, ia lantas berkata, “Kukagumi engkau sebagai seorang laki-laki sobat. Nah! Tolong tanya markas besar perkumpulan Hian-beng-kau kalian terletak dimana? Apakah aku boleh mengetahuinya?”

“Perkumpulan kami belum dibuka secara resmi” jawab Ciu Hoa berbaju parlente itu dengan nya-ring, “Kau tak usah kuatir, disaat perkumpulan kami akan diresmikan nanti, kartu undangan pasti akan kami bagi ke seluruh dunia persilatan, termasuk juga keluarga Hoa kalian! “

Hoa In-liong mengangguk tanda puas dengan jawabannya, “Benarkah Suma tayhiap suami istri yang berdiam di kota Lok- yang terbunuh oleh orang-orang yang kalian utus?” “Benar!” jawab Ciu Coa berbaju perlente.

“Bukan!” sanbung Ciu Hoa bermuka potongan kuda. “Eeeh….. Kalau mau menjawab yang betul, sebetulnya ya

atau tidak?” bentak Hoa In-liong dengan sinar mata berkilat.

“Kami berdua ‘kan sudah mengakuinya secara terus terang?” seru Ciu Hoa bermuka kuda dengan ketus.

Hoa In-liong mengerutkan dahinya kencang-kencang. “Jadi sebetulnya ya atau tidak?” kembali tegurnya.

“Ya juga tidak, semuanya benar! Apa susahnya mengartikan perkataan yang sangat sederhana itu? Cerewet amat kamu ini”.

Hawa amarah sontak mencekam seluruh benak Hoa In- liong. Hampir saja amarahnya itu akan dilampiaskan keluar, untunglah ia masih mampu mengendalikan perasaannya. “Hmm….. Baik…. Baik, rupanya sebelum kuberikan suatu demontrasi kekuatan, kalian tak akan mengakuinya secara berterus-terang. Kalau memang begitu lihat saja kelihayanku ini!” ancamnya.

Ciu Hoa berbaju perlente itu melototkan sepasang matanya lebar-lebar, bibirnya bergerak seperti hendak mengucapkan sesuatu. Tapi sebelum ia sempat berbicara, tiba-tiba terdengar suara sese-orang yang serak tua tapi lantang berkumandang memecahkan kesunyian, “Eeeh bocah cilik, kalau engkau

ingin tahu segala sesuatunya hingga jelas, tanyakan saja langsung kepadaku!” Ucapan tersebut datangnya sangat mendadak dan sama sekali tak terduga. Hoa In-liong merasa amat terperanjat, cepat-cepat dia berpaling kebelakang.

Entah sejak kapan, dari arah selatan telah muncul empat orang kakek yang telah berusia lanjut didampingi nyonya Yu yang masih menggendong kucing hitamnya dan Siau Ciu yang berbaju ringkas dengan sebilah pedang tersoren dipinggangnya.

Kedatangan beberapa orang itu sama sekali tidak berisik ataupun menimbulkan suara. Malahan Siau Ciu dan nyonya Yu juga bisa muncul dengan entengnya, ini menunjukkan bahwa ilmu meringankan tubah yang mereka miliki telah peroleh kemajuan yang pesat.

Memandang beberapa orang yang berdiri dihadapinya, Hoa In-liong merasa terkejut, tanpa terasa pikirnya dalam hati, “Entah siapakah beberapa orang kakek itu? Kalau didengar dari nada pembicaraannya mereka, rupanya orang-orang itu mengetahui jelas tentang peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma dan tampaknya pula mereka mempunyai rasa dendam dan sakit hati yang amat mendalam dengan keluarga Hoa kami. Jangan-jangan…. jangan-jangan mereka memang sengaja hendak memusuhi keluarga Hoa?”

OOOOOoooOOOOO

BELUM habis ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Coa Cong-gi yang berangasan telah melompat kedepan kemudian dengan muka dingin serunya lantang, “Eeeh….. Kalian toh orang-orang yang sudah punya umur kenapa kalau berbicara begitu tak tahu sopan santun? Bocah….. Bocah….. Siapa yang kau sebut bocah? Kalau kita panggil tua bangka kepada kalian, coba bayangkan saja bagaimana perasaan kalian?. Hmmm! Betul-betul kurang ajar!” Beberapa patah katanya itu diucapkan dengan suara yang tajam bagaikan pisau, seketika itu juga empat orang kakek itu dibikin tertegun.

Salah seorang diantara empat kakek yang berbadan kurus jangkung segera tampil kemuka, dengan wajah agak berubah bentaknya nyaring, “Bocah keparat, engkau benar-benar menggemaskan hati, ayoh bicara. Siapa namamu?”

Coa Cong-gi sama sekali tidak jeri meskipuna harus berhadapan muka dengan kakek yang berwajah bengis, jawabnya, “Aku bernama Coa Cong-gi, salah seorang dan Kim- leng ngo-kongcu, ada apa?”

Sikapnya yang sombong dan jumawa itu semakin menggusarkan kakek jangkung yang kurus itu. Sinar matanya berkilat tajam, agaknya dia akan mengumbar hawa amarahnya.

Saat itulah, kakek bermuka bengis yang berada ditengah- tengah menghalangi tindakan rekannya. “Huan heng, harap tunggu sebentar!” katanya, “Buat apa kita musti ribut-ribut dengan seorang bocah ingusan yang masih berbau tetek?

Sudahlah jangan gubris bocah itu!”

Tiba-tiba entah apa sebabnya, Hoa In-liong merasa hatinya jadi tegang. Menurut pengamatannya secara diam-diam, ia merasa bahwa beberapa orang kakek yang berada dihadapannya tak dapat disangsikan lagi tersangkut dalam peristiwa berdarah yang menimpa keluarga Suma. Pemuda itu merasa bila kesempatan yang sangat baik ini dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya, maka tak sulit baginya dikemudian hari untuk menyelidiki latar belakang dari peristiwa berdarah itu. Tentu saja diapun tahu, kalau dapat bentrokan secara kekerasan harus dihindari, penyelidikan baru mendatangkan hasil jika itu berlangsung dalam suasana yang tenang dan ramah-tamah.

Oleh sebab itulah, begitu sikakek bengis tadi menyelesaikan kata-katanya, cepat dia maju kedepan dan menjura kepada kakek itu. “Aku adalah Hoa In-liong, boleh kuketahui siapakah nama lotiang?”

Perkataannya ini tidak terlampau angkuh juga tidak terlalu merendahkan diri sendiri. Nadanya besar dan tidak mirip bocah yang masih ingusan. Siapapun akan mengira bahwa pemuda ini sudah lama berkelana dalam dunia persilatan.

Ketika mendengar perkataan tersebut, pada mulanya kakek bermuka bengis itu tampak tertegun, menyusul kemudian dengan alis mata berkenyit sahutnya dengan dingin, “Pernahkah engkau dengar tentang perkumpulan Kiu-im-kau dari mulut orang persilatan?”

Dalam hati Hoa In-liong merasa tercekat, akan tetapi diluarnya dia tetap tersenyum ewa. “Pernah sih pernah!” sahutnya, “Aku dengar perkumpulan Kiu-im-kau berulang kali mengalami kekalahan, malahan tempo dulu……”

“Tempo dulu kami sudah munculkan diri sebanyak dua kali di wilayah selatan” Tukas kakek bermuka bengis itu sambil mendengus. “Dan sekarang kami munculkan diri untuk ketiga kalinya. Dalam pemunculan kali ini kali ini kami khusus akan menyatroni keluarga Hoa kalian dan akan kami tandingi siapa gerangan yang sebenarnya lebih pantas menguasai jagad”

Mendengar perkataan itu, Hoa In-liong merasa sangat terperanjat. Diam-diam ia berseru tertahan. “Aaaah…. Tak salah lagi. Mereka memang khusus memusuhi keluarga Hoa kami ternyata memang perbuatan biadab dari orang-orang perkumpulan Kiu-im-kau. Aaai….. Kakek ini tidak berani bicara secara blak-blakan, itu berarti ada sesuatu yang dia takuti.

Dus berarti issue yang mengatakan bahwa dunia persilatan bakal terjadi perubahan besar, tampaknya bukan berita isapan jempol belaka yang tak dapat dipertanggung jawabkan”

Sekalipun dihatinya merasa terkejut bercampur curiga, namun diluaran si pemuda itu tetap tenang. Ia kalem seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun, malahan dia tertawa hambar. “Lotiang, perkataanmu terlalu berlebihan!” serunya. “Kami keluarga Hoa sedari sian-cou sampai sekarang selalu mengekang diri dengan ketat dan bersikap seramah-ramahnya kepada orang lain. Sampai sekarang keadaan tersebut telah berlangsung selama tiga generasi. Selama tiga generasi ini kendatipun kami tak berani mengatakan telah melakukan kebajikan dan keadilan bagi khalayak ramai, akan tetapi kami pun yakin selama ini tak pernah berhasrat untuk mencari

gara-gara atau berebut nama dan kedudukan dengan orang lain. Soal ini… yaaa, soal ini lebih baik tak usah dibicarakan lebih jauh. Tolong tanya tujuan Lotiang datang kemari adalah…..”

Ditengah pembicaraan bukan saja secara tiba-tiba ia telah mengalihkan pokok pembicaraan ke soal lain, bahkan tiba-tiba saja perkataan tersebut dipotong ditengah jalan. Dengan senyuman dikulum ditatapnya wajah kakek itu dan menantikan jawaban lawan.

Kalau kita perhatikan perkataannya barusan, maka dapat kita dengar sekalipun nada pembica-raannya lunak dan enak didengar, hakekatnya mengandung suatu ketegasan yang membuat orang tak dapat mengganggu gugatnya kembali.

Mendengar ucapan tersebut, kakek bermuka bengis itu segera alihkan pandangan matanya ke atas wajah Hoa In- liong, kemudian ditatapnya anak muka tajam-tajam. Selang sesaat kemudian ia ba-ru tertawa terbahak-bahak dengan nyaringnya. “Haaa… haa….. haa….. Bagus! Bagus sekali! Anak keturunan keluarga Hoa memang jauh berbeda dengan orang- orang yang lain…..Bagus! Bagus!”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan kembali, “Aku she-Le bernama Kiu it, tiancu ruang siksa dari perkumpulan Kiu-im-kau. Dua puluh tahun berselang aku pernah mendapat hadiah sebuah pukulan dari ayahmu!”

“Bagus….. Bagus! rupanya kau sedang menagih hutang kepada Hoa lote yaaa? Rupanya kau ku-rang terima hanya mendapat hadiah sebuah pukulan belaka?” tiba-tiba Coa Cong-gi berteriak dengan suara lantang.

Hoa In-liong merasa gelisah sekali, cepat-cepat dia berpaling kesamping seraya tegurnya, “Saudara Cong-gi, jangan berteriak sembarangan lebih dulu. Bagaimanapun juga kita tak boleh lupa akan kata kesopanan!”

“Tata kesopanan?” Coa Cong-gi melotot bulat-bulat, “Kenapa kita musti membicarakan soal tata kesopanan dengan mereka? Tahukah engkau, apa maksud dan tujuan mereka datang kemari?”

“Tentu saja. Siaute juga tahu apa maksud dan tujuan mereka datang kesini, cuma…..”

“Nah, kalau sudah tahu itu lebih baik lagi” tukas Cong-gi tidak memberi kesempatan bagi rekannya untuk bicara lebih jauh. “Mari kita selesaikan persoalan ini dengan pertarungan kilat, jangan beri peluang bagi mereka untuk mencari keuntungan di air keruh” Hoa In-liong benar-benar dibikin serba salah oleh perkataan rekannya. Mau marah bagaimana, tidak marah bagaimana.

Akhirnya dia memutuskan untuk tidak memberi tanggapan terhadap ucapan rekannya.

Pelan-pelan anak muda itu berpaling, ditatapnya Tiancu ruang siksa dengan sinar mata tajam, ke-mudian katanya lagi, “Aku rasa apa yang barusan dikatakan Coa heng memang benar. Tampaknya kedatangan Le Tiancu adalah untuk menuntut balas terhadap sebuah pukulan yang pernah dihadiahkan ayahku padamu, serta menguasai dunia persilatan dibawah kekuasaanmu, Hmmm. Kalau toh memang itu tujuan kalian, baik untuk kepentingan umum maupun untuk kepentingan pribadi, cari saja langsung kepadaku pasti akan kuselesaikan semua persoalan sebaik-baiknya dan aku rasa satu-satunya cara yang bisa digunakan adalah bertarung sampai salah satu diantara kita menang.”

Baru saja ia menyelesaikan kata-katanya, kakek kurus jangkung itu sudah tertawa seram dan menimbrung dari samping. “Eeeh….. Anak muda, besar amat lagak bicaramu!. Untuk kepentingan umum dan kepentingan pribadi?. Heeh…. hee…. hee….. Rupa-rupanya kau hendak mengandalkan kekuatanmu seorang untuk menghalang-halangi usaha perkumpulan kami yaa?”

Hoa In-liong tidak memberi tanggapan, sinar matanya lantas dialihkan ke wajah kakek kurus itu lalu tegurnya, “Tolong tanya siapa nama lotiang? Dan apa kedudukanmu dalam perkumpulan Kiu-im-kau?”

“Aku bernama Huan Tong, menjabat sebagai Tongcu bagian propaganda dalam perkumpulan Kiu-im-kau” sahut kakek itu angkuh. Air muka Hoa In-liong segera berubah jadi serius. Dengan wajah bersungguh-sungguh katanya lagi, “Bagus sekali, Huan- tongcu! Tolong tanya bagaimana dengan hutang ayahku?”

Kakek kurus yang bernama Huan Tong itu agak tertegun, menyusul kemudian sahutnya, “Kenapa? Hutang sang ayah, anaklah yang musti bayar! Kenapa kau musti banyak bertanya lagi?”

Hoa In-liong mengangguk. “Benar, ayah yang berhutang putranya yang wajib membayar. Le-tiancu merasa pernah berhutang sebuah pukulan dari ayahku, maka aku Hoa loji sebagai putra ayahku, apakah tidak berkewajiban untuk menerima pembayaran sebuah pukulan itu?”

Huan Tong tertegun, untuk sesaat ia tak mampu berkata- kata. Ia cuma bisa memandangi lawan-nya dengan mulut melongo.

Hoa In-liong tidak berdiam sampai disitu saja, kembali ujarnya lebih jauh, “Huan tongcu, ada satu persoalan hendak kuberitahukan pula kepadamu, yaitu setiap orang dari perkampungan Liok-soat-san-ceng dibukit In-tiong san selalu menitik beratkan semua kekuatan dan perhatiannya untuk menjaga keamanan serta kestabilan situasi dalam dunia persilatan. Perduli siapapun jika berani menerbitkan keonaran atau ingin mendatangkan hujan badai dalam dunia kangouw, maka anak cucu keluarga Hoa bersumpah akan memusuhinya sampai titik darah penghabisan, tidak terkecuali pula terhadap perkumpulan Kiu-im-kau. Nah, Huan tongcu! Percuma kau berlagak garang dihadapanku, sebab toh sikap garangmu itu tidak nanti akan mempengaruhi sikap maupun pendirian dalam hatiku!”

Kiranya pemuda itu sengaja berbicara kesana kemari, tujuan yang sebenarnya tak lain hanya hanya satu yakni mengutarakan pendirian dan sikapnya dalam persoalan tersebut.

Tak terkirakan rasa gusar dan mendongkol yang berkobar dalam dada Huan Tong sehabis mendengar perkataan itu.

Untuk sesaat ia berdiri tertegun kemudian sambil tertawa seram serunya, “Haa…. haa…. haa…. Bocah keparat kau memang bernyali! Kau memang benar-benar bernyali!”

Seraya berkata selangkah demi selangkah dia maju menghampiri lawannya. Ditinjau dari sikapnya yang garang dan menyeramkan itu dapat diketahui bahwa ia sudah tak sabar lagi dan kini bersiap-siap untuk melakukan serangan maut.

Coa Cong-gi yang menyaksikan kemarahan orang, bukannya jadi jeri, dia malahan semakin gembira, sambil bertepuk tangan bersorak sorai serunya lantang, “Puas…. Puas! Sungguh memuaskan! Lo-te, biar aku yang layani kakek ceking ini”

Dengan langkah lebar dia maju ke muka dan siap menyongsong kedatangan Huan Tong.

Siapa tahu, baru selangkah dia maju, dengan kecepatan bagaikan kilat Hoa In-liong telah menarik tangannya. “Saudara Cong-gi, tunggu sebentar…. Tunggu sebentar!” Serunya kemudian, “Jangan terburu-buru turun tangan, sebab siaute masih ada persoalan yang hendak dibicarakan dulu dengan orang ini”

Pelan-pelan Huan Tong maju menghampiri si anak muda itu, langkahnya sama sekali tidak berhenti, serunya pula dengan suara yang dingin dan menggidikkan hati, “Kau tak usah banyak berbicara lagi, ingin ber bicara maka lebih baik kita berbicara dalam gerakan tangan dan kaki saja…. ayoh! siapkan dirimu untuk menyambut seranganku ini”

Hoa In-liong kualir Coa Cong-gi tak dapat menahan sabarnya, dia maju ke depan dan menghadang dihadapannya, lalu dengan suara dalam serunya, “Huan tongcu, harap engkau sedikit tahu diri. Aku sama sekali tidak takut untuk bertarung melawan engkau. Tapi sebelum itu ada beberapa persoalan ingin kutanyakan lebih dulu, masa kau tak berani menjawabnya….?”

“Aku mengerti jelas sekali, bahkan terlampau jelas bagiku” sahut Huan Tong sambil mendengus dingin, “Bila selesai kujajal dirimu, otomatis aku akan lebih jelas lagi…..”

Belum habis perkataan itu, ketika tiba-tiba seorang nyonya tua menanggapi perkataannya itu dengan dingin, “Huan Tong, ayoh mundur, kau terlalu congkak terlalu jumawa sekali dalam setiap pembicaraan!”

Huan Tong terperanjat, cepat-cepat dia berpaling, lalu tergopoh-gopoh memberi hormat. “Yaa kaucu, Huan Tong menghunjuk hormat buat kaucu!”

Dalam waktu singkat seruan “menghunjuk hormat buat kaucu” berkumandang silih berganti, Le Kiu-it sekalian bertiga memberi hormat dengan sikap yang bersungguh-sungguh lalu mengundurkan diri kesamping. Sedangkan Siau Ciu dan nyonya Yu bertekuk lutut dan menyembah ke atas tanah.

Hoa In-liong sangat terperanjat, cepat dia menengadah dan alihkan pandangan matanya kedepan, tampaklah pada sudut sebelah selatan dari tanah berumput itu telah berdiri seorang nyonya tua yang berwajah potongan rembulan didampingi seorang gadis cantik yang bertubuh ramping, tinggi semampai dengan rambut sepanjang bahu. Nyonya tua bermuka bulat rembulan itu mempunyai perawakan tubuh yang tinggi besar. Ia me-ngenakan jubah lebar berwarna hitam. Rambutnya yang berwarna keperak- perakan berkibar terurai di bahu. Tangan kanannya memegang sebuah toya baja berwarna hitam. Di ujung toya baja itu terukirlah sebuah kepala setan perempuan sebanyak sembilan buah. Kesemuanya diukir dengan muka bengis. Gigi taring mencuat keluar dan rambut panjang awut-awutan, mengerikan sekali tampangnya.

Ketika kepala setan itu diamati lebih seksama, ternyata roman mukanya persis seperti tampang nyonya tua itu. Hanya saja perempuan tua itu kecuali bermuka pucat seperti mayat dan sama sekali tidak ada warna merahnya. Sepasang matanya bersinar tajam menggidikkan hati, membuat siapa pun yang melihatnya merasa seram dan ketakutan.

“Dialah ketua dari perkumpulan Kiu-im-kau?” diam-diam Hoa In-liong berpikir, “Yaa, kalau dia yang datang, itu lebih baik lagi, sebab dengan begitu akupun tak usah jauh-jauh pergi ke Lam-huang untuk mencari jejaknya.”

Berpikir sampai disini, sinar matanya lantas dialihkan kebelakang nenek itu dan menatap tajam dara cantik berambut panjang yang berada di belakang Kiu-im-kaucu. Menyaksikan tampangnya yang ayu dan menawan hati itu tiba-tiba saja anak muda itu tertegun.

Yaa, gadis itu memang cantik sekali. Kecantikan wajahnya melebihi bidadari dari kahyangan. Rasanya sekalipun Siang-go atau Si-see lahir kembali pun kecantikan mereka juga begitu saja.

Usia nona itu masih muda sekali. Mukanya potongan kwaci dengan sepasang alis mata yang lentik. Matanya jeli bagaikan bintang timur. Hidungnya mancung. Bibirnya kecil mungil bagaikan delima merekah. Kulitnya halus dan putih, seputih susu. Pinggangnya ramping dan pinggul yang padat berisi. Tertutup oleh gaun bajunya yang putih salju itu tampaklah perawakan badannya yang ramping dan menawan hati. Rasa- rasanya didunia ini sukar untuk temukan perempuan kedua yang memiliki kecantikan melebihi gadis tersebut.

Sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda romantis. Manusia macam dia pa-ling pantang bertemu dengan gadis-gadis cantik. Ketika memandang untuk kejapan yang pertama tadi, anak muda itu masih merasakan keadaan yang wajar. Akan tetapi semakin dilihat dia merasa semakin tertarik. Makin dipandang ia merasa keayuan dan kerampingan nona itu semakin memi-kat hatinya dan akhirnya perasaan tersebut tak dapat dikuasahi lagi. Dari kagum ia jadi tertarik dan karena tertarik timbullah hasratnya untuk memiliki gadis itu.

Tanpa sadar uatuk sesaat anak muda itu berdiri terbelalak dengan mulut melongo, nyaris dia lupa berada dimanakah saat itu.

Untuk sesaat suasana diarena pertarungan itu jadi sunyi, sepi dan tak kedengaran sedikit suara pun, Ciu Hoa berdua beserta para begundalnya telah berkumpul jadi satu. Si Nio yang jelek berdiri bersama majikannya dibelakang Hoa In- liong. Hampir semua perhatian dan sinar mata orang-orang yang hadir di sana tertuju kesatu arah, yakni wajah kaucu serta gadis cantik itu.

Selang sesaat kemudian, dengan sinar mata setajam sembilu Kiu-im-kaucu menyapu pandang sekejap ke arah orang-orangnya yang berdiri disekeliling tempat itu, kemudian sambil mengulapkan tangan kirinya dia menghardik keras, “Kalian semua tak perlu banyak adat!” Empat orang kakek itu mengiakan, mereka lantas luruskan badan dan mundur kebelakang. Se-mentara Siau Ciu dan nyonya Yu selesai menyembah tiga kali mengundurkan diri dari situ.

Hoa In-liong baru tersadar dari lamunannya sesudah mendengar bentakan itu, mukanya jadi merah padam karena jengah, sorot matanya cepat-cepat dialihkan ke arah wajah Kiu-im-kaucu.

Ketua dari perkumpulan Kiu-im-kau itu sedang mengetuk tanah dengan tongkat kepala setannya, lalu terdengar ia menegur, “Huan tongcu, apakah engkau tahu salah?”

“Hamba….. hamba…. hamba……” Huan Tong tergagap dan buru-buru membungkukkan badannya.

Kembali Kiu-im-kaucu mendengus dingin. “Coba jawab! Bagaimanakah pesan dan perintahku kepada kalian tadi? Terbayang kegagahan dan kebesaran Hoa Thian-hong, aku sendiripun mena-ruh tiga bagian rasa kagum kepadanya.

Apalagi kau Hmmm! Watakmu terlampau berangasan. Apalagi mulutmu kurang tajam untuk bersilat lidah, sudah tahu kelemahan sendiri ternyata berani juga bercekcok dengan keturunan keluarga Hoa…. Huuh…! Perbuatanmu itu benar- benar bikin hatiku merasa sangat kecewa!”

“Lapor kaucu!” ujar Huan Tong dengan sikap yang sangat terhormat “Bocah cilik dari keluarga Hoa ini takabur dan sombongnya bukan kepalang. Mulutnya terlampau tajam dan bicaranya tidak kira-kira. Oleh karena dia bersumbar akan menentang perbuatan perkumpulan kita, maka hamba…..”

“Sudah kau tak usah banyak bicara lagi!” tiba-tiba Kiu-im- kaucu menukas sambil mengulapkan tangannya “Memang demikianlah pelajaran yang diwariskan keluarga Hoa mereka terhadap setiap keturunannya!”

Tiba-tiba ia menghela napas panjang setelah berhenti sebentar sambungnya lagi, “Atau dengan lebih tegasnya saja, dengan mengandalkan keberhasilan ilmu silat yang dimiliki keluarga Hoa, mereka mempunyai hak untuk mengucapkan kata-kata semacam itu”

“Hamba tidak percaya” teriak Huan Tong dengan gelisah setelah mendengar perkataan itu.

Setajam sembilu sorot mata Kiu-im-kaucu tiba-tiba ditatapnya anak buahnya itu tanpa berkedip lalu bentaknya dengan suara berat dan dalam. “Tutup mulutmu! Engkau tidak percaya dengan kemampuan ilmu silat yang dimiliki keluarga Hoa ataukah engkau sudah tidak percaya lagi dengan perkataanku?”

Dengan ketakutan cepat-cepat Huan Tong membungkukkan badannya memberi hormat. “Hamba tidak berani! Hamba hanya mempunyai kesetiaan sampai mati dan sepanjang masa hanya mendengarkan perintah serta perkataan kaucu seorang!”

Ditinjau dari sikapnya itu, dapat diketahui betapa takut dan jerihnya kakek itu terhadap ketuanya. Hormatnya boleh dibilang sudah mendekati suatu penjilatan. Suatu sikap munduk-munduk yang cuma terdapat dalam hubungan antara seorang majikan dengan budak beliannya.

Lama sekali Kiu-im-kaucu menatap anak buahnya itu, tiba- tiba ia menghela napas panjang. “Aaaai….! Dalam kejadian ini, aku memang tak dapat menyalahkan engkau. Sudah sekian lama kau menetap diluar perbatasan dan lagi jarang sekali bergerak di daratan Tionggoan, maklumlah kau tak memahami seluk beluknya dunia persilatan dewasa ini. Yaa, berbeda tentunya keadaan sekarang dengan keadaan pada lima belas tahun berselang. Waktu itu engkau merupakan seorang anggota perkumpulan yang aktif dan selalu berada disampingku dalam menangani setiap kejadian dalam dunia persilatan. Kini setelah lama mengasingkan diri, apalagi tidak menyaksikan dengan mata kepala sendiri, tentu saja tak dapat disalahkan kalau kau tak akan percaya dengan apa yang baru saja kukatakan”

Baru selesai ia berkata, Huan Tong telah bungkukkan badannya dan memberi hormat lagi. “Yaa kaucu, semoga kaucu dapat memaklumi keadaan dari hamba.” bisiknya lirih.

Kiu-im-kaucu segera ulapkan tangannya lagi. “Kau tak usah merasa menyesal atau merasa rendah diri, dikemudian hari aku masih banyak membutuhkan tenagamu untuk kejayaan perkumpulan kami” ucapnya. “Atau tegasnya, selama berada dalam perkumpulanlah yang patut dijunjung tinggi dan dinomor satukan daripada persoalan lain. Disamping itu, harus kita akui bahwa Hoa Thian-hong betul-betul seorang pendekar besar yang berjiwa ksatria, berbudi luhur dan mengutamakan kebaikan serta kesetiaan kawan. Kendatipun dia adalah musuh nomor satu dari perkumpulan kita, tidak sepatutnya kalau kita pandang enteng atau memandang cemooh ke-padanya, aku harap soal ini dapat kau ingat selalu didalam hati”

Setelah keadaan berubah menjadi begini, kendatipun dihati kecilnya Huan Tong merasa sangat tak puas dengan ucapan tersebut, toh terpaksa juga dia harus manggut-manggut sambil mengiakan berulang kali.