Rahasia Hiolo Kumala Jilid 05

 
Jilid 05

SANG penyergap itu tampak agak tertegun, agaknya dia merasa tidak puas, sejenak kemudian sambil membentak. untuk kedua kalinya ia siap melancarkan serangan lagi. "Mundur, jangan gegabah" mendadak terdengar seseorang membentak dengan suara keras.

"sreeet..." Hoa In- liong merentangkan kembali kipasnya dan digoyangkan beberapa kali, lalu ujarnya sambil tertawa nyaring:

"sobat, aku lihat kelihayanmu juga tak seberapa gegabah atau tidak toh sama juga hasilnya."

orang ini berkata lagi dengan suara keras: "Bersilat lidah bukan perbuatan seorang laki-laki sejati, bila kau bisa lolos dari sini malam ini, kaulah seorang jago yang hebat".

sekarang Hoa In- liong baru tersenyum, perlahan-lahan ia memutar badannya seraya bertanya:

"Bila dugaan tidak keliru, tentunya engkau she Ciu bukan?" orang itu berdiri di balik pintu kecil di belakang ruangan di

balik pintu kecil adalah sebuah lorong karena cahaya suram maka raut wajah orang itu tak tertampak jelas, tapi jelas kelihatan ia agak tertegun sebelum akhirnya tertawa seram.

"Haaahhh haaahh haaahhh keturunan keluarga Hoa rata- rata memang hebat sayang engkau sudah masuk perangkap. jangan harap kau bisa hidup sampai fajar esok"

setelah berhenti sebentar, tiba-tiba bentaknya lagi: "Pasang obor, biar ia bisa mampus dengan hati yang jelas"

suara mengiakan mendengung, cahaya api segera memercik menembusi kegelapan, dalam sekejap mata suasana dalam ruangan itu jadi terang benderang bagaikan disiang hari. Hoa- In- liong memandang sekejap sekeliling tempat itu, ia lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu berdiri mengitari sekeliling ruangan dalam dua kaki antara yang satu dengan lainnya, mereka membawa obar di tangan kiri dan pedang ditangan kanan, sinar matanya rata-rata tajam, tubuh kekar dan kuat, usianya tiga puluh tahunan, jelas orang-orang itu bukan manusia sembarangan, atau paling sedikit memiliki dasar ilmu silat yang tangguh.

Ketika ia alihkan pandangannya kearah orang yang berdiri dibalik pintu rahasia, maka terlihatlah bahwa orang itu berusia dua puluh tahunan, bajunya pakaian ringkas berwarna hijau pupus, mantelnya juga berwarna hijau, sebilah pedang kuno tersoreng dipinggangnya, dandanan maupun potongan badannya persis seperti seorang busu.

Ia bermuka bengis, beralis tebal, bermuka lonjong dengan ujung bibir tersungging keatas, tampaknya menggemaskan sekali dan seakan-akan sejak dilahirkan memang bertampang kriminil, bila ia benar-benar she- Ciu (dendam) maka cocoklah nama dengan potongan badannya.

Hoa-In-liong tak berani gegabah setelah menyaksikan

.keadaan itu, kipasnya lantas dilipat dan memberi hormat katanya sambil tersenyum:

"Ciu kongcu, dari mana kau bisa tahu kalau aku bakal datang kemari? Tidakkah merasa kuatir bila jebakan yang kau atur bakal sia-sia belaka?"

" Datang atau tidak aku tak ambil peduli, tapi yang pasti detik ini kau berada dalam ruangan ini." sahut Ciu kongcu dengan ketus. Hoa In-liong menganggukkan kepalanya berulang kali.

" Kongcu, aku tidak merasa pernah berkenalan dengan kau, tapi apa sebabnya kongcu baru puas jika telah berhasil membinasakan diriku, di manakah letak alasannya?

Bersediakah engkau memberi penjelasan?"

"Hmm... sudah tahu pura-pura bertanya" dengus ciu kongcu dengan alis mata berkenyit. "oooh...jadi kalau begitu kongcu benar-benar adalah anggota perkumpulan Hian-beng-kau?"

Ciu kongcu tampak terkejut ia lantas berpikir dalam hati: "Bocah keparat ini benar-benar memiliki kemampuan yang

hebat, sampai asal usulku diketahui olehnya"

Meski dalam hati berpikir demikian, dimulut sahutnya dengan dingin:

"Tak lama kemudian, perkumpulan kami akan muncul dalam dunia persilatan secara resmi, dan kemudian akan menguasai seluruh jagad, rasanya tiada suatu kepentingan bagi kami untuk mengelabuhi hal ini kepadamu "

sekarang Hoa In- liong yang gantian merasa kaget, meski diluaran ia tetap berlagak tenang..

"Jadi kalau begitu, aku harus menagih dendam berdarah atas tewasnya majikan gedung ini kepada diri kongcu??"

"Benar."jawab Ciu kongcu dengan angkuh. " akulah otak pembunuhan ini, jika ingin membalas dendam, silahkan mencari aku"

"Bila aku hendak menuntut balas, tentu saja akan kuberi bagian untuk dirimu, justru aku kuatir kalau kongcu bukanlah otak dan pembunuhan ini"

" Kurang ajar" teriak Ciu kongcu dengan marah, sinar matanya berkilat, "engkau berani memandang hina diriku??" Hoa In- liong tersenyum.

"Kenyataannya toh demikian, apa gunanya kongcu berlagak sebagai seorang pahlawan??"

Tampaknya ucapan tersebut benar-benar membuat Ciu kongcu jadi mendongkol, teriaknya penasaran:

"Coba terangkan kenyataannya menurut pandanganmu" "Bukankah kongcu hanya seorang anak buah dari

perkumpulan Hian-beng-kau. Nah bila kuingin cari otak pembunuhnya yang sebenarnya, lebih pantas kalau kucari ketuamu"

Jawaban ini diluar dugaan ciu kongcu ia jadi tertegun, tapi sejenak kemudian ujarnya lagi dengan mendongkol: "Kongcu-ya mu adalah murid pertama dari kaucu, pembunuhan berdarah yang terjadi disini akulah yang menyusun rencana serta pelaksanaannya kenapa kau cerewet melulu dan bersikeras menuduh guruku yang melakukan pembunuhan ini, sebenarnya apa maksudmu?"

Diam-diam Hoa In- liong merasa geli, pikirnya "Bukan saja orang ini mempunyai napsu ingin menang yang amat besar, bahkan merupakan juga seorang laki-laki yang tak berakal panjang inilah kesempatan bagiku untuk mengorek keterangan kenapa tidak kumanfaatkan sebaik-baiknya?

Berpikir sampai disini, dia lantas menjura dan memberi hormat, kemudian tanyanya sambil tertawa:

"Bolehkah aku tahu siapa nama kongcu?" "Ciu Hoa"

"Ciu Hoa?" pikir Hoa In-liong dengan hati terperanjat, "bukankah Ciu Hoa artinya mendendam keluarga Hoa? Kalau begitu mereka memang sengaja memusuhi keluarga Hoa kami"

Cepat ia tertawa dan berkata lagi:

"selamat bertemu, selamat bertemu Bolehkah aku tahu siapa gurumu ?"

"Guruku adalah "

"Kongcu hati-hati kalau bicara" mendadak terdengar seorang laki-laki berbaju ungu memberi peringatan.

Agaknya Ciu Hoa segera mengetahui akan keteledorannya, cepat ia membungkam dan batal untuk berbicara, matanya kontan mendelik besar dan melototi wajah lawannya tanpa berkedip.

Hoa In-liong tertawa, katanya dengan santai:

"Kalau toh menyebut nama guru adalah suatu pantangan, lebih baik tak usah kau katakan"

Ciu Hoa menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niatnya itu kembali dibatalkan, agaknya ia cukup memahami betapa seriusnya masalah yang dihadapinya, maka nama gurunya tak berani diucapkan lagi. Melihat keadaannya itu, tahulah Hoa in-liong bahwa dibakar hatinyapun tak ada gunanya, maka dia alihkan kembali pokok pembicaraannya kesoal lain.

" Kongcu, tolong tanya apakah engkau yang telah memindahkan jenasah dari suma tayhiap dari tempat ini??"

sikap ciu Hoa kali ini hambar sekali, malahan ia tertawa dingin. "Heeeeh heeeeh heeeeh kalau benar kenapa? Kalau

tak benar lantas bagaimana??"

Jawaban ini mencengangkan hati Hoa In- liong sepasang alis matanya kontan berkenyit, pikirnya:

"sungguh aneh, orang ini tak berakal panjang, kenapa begini aneh jawabannya? Mungkinkah jenasah suma siok-ya memang bukan dia yang memindahkan??"

sementara ia masih keheranan dan tidak habis mengerti, Ciu Hoa telah melanjutkan kembali kata-katanya:

"Hampir saja kongcu- ya mu terjebak oleh pancinganmu, mulai sekarang aku tak akan menjawab pertanyaanmu lagi, kaupun tak usah putar biji mata sambil mencari akal busuk. sekarang cabut keluar pedangmu, kongcu-ya mu segera akan turun tangan."

"Sreeet " la cabut keluar pedang antiknya, lalu bergerak

ke depan dan melancarkan tubrukan.

Hoa In-liong tetap berdiam diri, dari sikap musuhnya ia tahu bahwa banyak bertanya pun tak ada gunanya.

sebagai seorang pemuda yang sombong dan tinggi hati, ia bersedia merendahkan diri lantaran ingin mencari tahu duduk persoalan yang sebenarnya, dan sekarang ciu Hoa telah waspada dan tak mungkin bisa dimintai keterangan lagi, tentu saja diapun tak sudi merendahkan diri terus menerus, sambil tertawa tergelak segera ujarnya:

"Bila kau hendak menyelesaikan persoalan ini dengan suatu pertempuran kilat, silahkan saja turun tangan, kau tak usah menguatirkan untuk keselamatan jiwaku"

Sekilas pandangan, ciu Hoa tampaknya kasar dan berangasan, tapi metelah bersiap siaga untuk melancarkan serangan, ia dapat pusatkan perhatiannya dengan sempurna, dapat diketahui bahwa gurunya tentu lihay dan ilmu silat yang dimiliki si anak muda inipun bukan ilmu silat sembarangan.

Hoa In-liong tak berani gegabah, meski diluaran bicara seenaknya, hawa murninya diam-diam disalurkan ke dalam telapak tangan, dengan tenang ia menantikan tibanya serangan.

Ciu Hoa sudah berada beberapa kaki saja di-hadapan si anak muda itu, pedangnya telah digetarkan siap melakukan pembacokan, kembali dia berseru: "Hati-hatilah, aku akan melancarkan serangan"

Jurus serangan itu sekilas pandangan tampaknya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, tapi tempat yang dibacok ternyata luar biasa dan di luar dugaan, sebagai seorang ahli pedang sekilas pandangan saja Hoa in-liong telah menyadari bahwa ia sudah bertemu dengan musuh tangguh.

Terkejut juga pemuda kita menghadapi kejadian seperti ini, ia tak berani gegabah, kipasnya segera dikebaskan ke muka untuk menangkis ancaman, katanya:

"Ciu kongcu, silahkan menyerang dengan sepenuh tenaga, aku telah bersiap sedia menerima petunjukmu"

Dasar wataknya yang binal, kendatipun sedang berhadapan dengan musuh tangguh, ternyata wataknya itu tidak berubah, sambil maju ia totok pergelangan tangan ciu- Hoa, ketika serangan nya mencapai tengah jalan, tiba-tiba ia merendah ke bawah, sambil menempel pada ujung pedang orang itu badannya berputar setengah lingkaran, mendadak kaki kanannya dijulurkan ke muka sementara sikut kirinya langsung menyodok iga kanan pemuda she-ciu tersebut.

Keadaan ini bagaikan seorang bocah yang sedang bermain, tentu saja Ciu Hoa tidak menyangka sampai kesitu, bila tidak begitu asal gerakan pedangnya sedikit dipercepat saja, niscaya Hoa-In liong akan terpapas oleh pedangnya dan terluka parah.

Tapi Hoa- In- liong telah mempraktekkan caranya yang binal itu, bahkan sapuan kaki kanan dan sodokan sikut kirinya dilancarkan dengan menempelkan dibadan lawan dan kecepatan luar biasa. Dalam keadaan demikian, ciu- Hoa tak mampu untuk berkelit lagi, dia terdesak hebat sehingga harus meraung gusar dan berkelijit satu kaki ke-tengah udara.

Menyaksikan musuhnya berhasil didesak mundur, Hoa- In- liong tertawa nyaring dan mengejek:

" Kongcu-ya, aku lihat ilmu silatmu tidak begitu tinggi"

Dari malu Ciu Hoa jadi naik pitam, ia membentak keras lalu menerkam kedepan, pedang antiknya dikebaskan berulang kali... sreeeet sreeet

secara beruntun ia lepaskan tiga buah serangan berantai, yang mana seketika mengurung semua jalan darah penting di dada Hoa In-Liong.

Menghadapi serangan macam begini, Loji dari keluarga Hoa ini mengigos kesana berkelit kemari dengan seenaknya, tiba- tiba merentangkan senjata kipasnya kemudian menotok kebalik lapisan cahaya pedang yang berlapis-lapis itu, katanya sambil tertawa:

"Lumayan juga ketiga buah seranganmu barusan, tapi bila kau sanggup memaksa aku untuk lepas pedang itu baru terhitung jago kelas satu dalam dunia persilatan"

"Hmm Bila tidak kau lepas pedangmu itu berarti kau ingin mencari kematian buat diri sendiri jangan salahkan kalau kongcu mu bertindak telengas" bentak Ciu Hoa sambil mendengus dingin.

Tubuhnya bergerak kesamping, tiba-tiba permainan pedang nya berubah, tampaklah beratus-ratus berkas cahaya yang menyilaukan mata sebentar menyambar kekiri sebentar kekanan, semuanya bergerak dengan gerakan yang aneh lihay dan sukar diduga, pedang itu ibaratnya naga yang bermain diangkasa, berliuk-liuk tak menentu.

Itu masih mendingan, yang lebih hebat lagi ternyata dibalik gerakan pedang yang aneh dan sukar terduga itu terselip suatu hawa kebengisan yang mengerikan hati, membuat mereka yang menjumpainya jadi bingung dan ketakutan dengan sendirinya. Perlu diketahui, ilmu silat yang diandalkan oleh keluarga Hoa dari Im-tiong-san adalah ilmu Pedang, terlepas ketika Hoa Goan-Ciu yakni kakek Hoa in-liong masih hidup, sepeninggalnya ia telah mewariskan enam belas jurus pedang dan sebilah pedang baja untuk putranya, dan putranya yakni Hoa Thian-hong mengandalkan sebilah pedang baja malang melintang dalam dunia persilatan, suatu ketika ia berhasil mendapatkan kitab kiam keng san berhasil pula mempelajari inti sari pelajaran pedang kiam-keng-poh-khi, akhirnya terciptalah serangkaian ilmu pedang yang sakti dan Iihaynya luar biasa.

semenjak kecil Hoa in-liong sudah pintar, apalagi mendapat pendidikan langsung dari ayahnya, bukan saja ilmu silat jenis lain memiliki dasar yang kuat, terutama dalam ilmu pedang kecuali kalah tenaga dari ayahnya boleh, dibilang kelihayannya hampir seimbang.

Tapi sekarang setelah Ciu Hoa merubah gaya serangannya, bukan saja ia tak berhasil menebak asal mula dari ilmu pedang. tersebut, bahkan anak muda itu merasakan tubuhnya seolah-olah terjerumus dalam samudra pedang yang tak bertepian, sekarang ia baru kaget.

Tak heran kalau Ciu Hoa dengan usia yang masih muda berani bersikap angkuh dan jumawa, ternyata ilmu silat yang dimilikinya memang tak boleh dianggap enteng.

Lama kelamaan Hoa In-liong gelisah juga jadinya, tapi karena masih muda dan berdarah panas, lagipula sudah terlanjur ngomong besar, ia tak sudi mencabut pedangnya untuk melakukan perlawanan.

Terpaksa dengan mengandalkan gerak tubuhnya ia berkelit kesana kemari dengan seksama, bila menemukan kesempatan ia lantas melepaskan serangan balasan dengan kipas

Pertarungan macam begini memang besar sekali resikonya, sebab sedikit kurang hati-hati maka bisa mengakibatkan melayangnya selembar jiwa.

Lima puluh jurus sudah lewat, keadaannya kian lama kian bertambah gawat, sekarang Hoa- In- liong sudah terdesak hebat sehingga tiap saat jiwanya kemungkinan besar terancam.

Tampaklah cahaya pedang berkilauan, angin serangan menderu-deru, bayangan senjata berlapis-lapis dan mengurung sianak muda itu dalam kepungan, Hoa-in-liong telah berusaha untuk menerjang ke kiri menyapu kekanan, toh gagal untuk melepaskan diri dari ancaman tersebut, tampaknya selewat seratus gebrakan lagi dia akan terluka di ujung pedang Ciu- Hoa.

Tiba-tiba terdengar suara sorak sorai menggema memecahkan kesepian, seorang laki-laki berbaju ungu bersorak keras.

"Kongcu perketat serangan, bacok sampai mampus bocah keparat itu..,.."

"Hoa loji, buang pedangmu dan menyerah saja" teriak pula laki-laki yang lain, "kalau kau tidak menyerah sekarang juga, tak akan kau temui lagi kesempatan dilain waktu"

"Membuang pedang atau tidak toh sama saja" ejek pula laki-laki yang lain, "sampai sekarangkan kongcu kita masih belum melancarkan serangan-serangan mematikannya"

Ciu- Hoa sendiripun merasa bangga sekali setelah dilihatnya Hoa- In- liong berhasil dipaksa sehingga tak berkemampuan untuk melancarkan serangan balasan, ia berkata sambil tertawa nyaring

"Hoa-loji, ingatlah baik-baik Antara kau dan aku memang tak terikat hubungan dendam atau sakit hati, aku membunuh engkau lantaran membenci kau she Hoa, dan lantaran kau adalah putranya Hoa-Thian hong."

sambil berkata, pedang antiknya digetarkan semakin kencang, dengan jurus Teng liong kiu ci (naga membumbung bersalto sembilan kali) cahaya pedangnya membentuk sembilan titik bianglala putih dan meluncur ke depan dengan kecepatan luar biasa, sekejap kemudian sekujur badan Hoa-in- liong sudah terkurung rapat.

serangan ini benar-benar sangat lihay. bahwa pedang yang membentuk berbintik-bintik cahaya bianglala putih yang seperti air tapi rapat seakan akan tak berlubang, sekalipun Hoa In liong membawa pedang belum tentu bisa mengundurkan diri dengan selamat.

Tapi Hoa-in-liong pada saat ini sudah dibikin gusar juga oleh keadaan yang dihadapinya, ditambah pula hatinya terbakar oleh ejekan lawan, serangan yang dilancarkan pun mendekati setengah kalap.

Terdengar ia membentak keras, telapak tangan kirinya tiba- tiba dilontarkan ke muka dengan jurus Kun-siu-ci-tau, sedangkan tangan kanannya berputar kencang, jari tengahnya ditegangkan dan menotok dada Ciu Hoa deagm ilmu menyerang sampai mati, suatu kepandaian pentilan diri ci-yu- ji-ciat.

Kedua buah serangan itu tak lain adalah senjata andalan ayahnya ketika masih berkelana dalam dunia persilatan dimasa mudanya, dalam gugup dan gelisahnya ia telah menyerang dengan tenaga serangan yang amat dahsyat, kehebatannya sedikitpun tak kalah dengan kehebatan ayahnya.

Dua buah serangan tersebut boleh dibilang merupakan jurus pertarungan untuk beradu jiwa, bilamana Ciu Hoa tak mau buyarkan serangannya, maka kendati Hoa In- liong bakal terluka diujung pedangnya, akan tetapi dia sendiripun akan terhajar oleh serangan lawan dan sedikit banyak dada nya akan berlubang tertembus oleh ilmu jari lawan yang maha dahsyat itu.

sudah tentu ia tak sudi terluka diujung telapak tangan musuhnya, disaat terakhir tubuhnya segera miring kesamping sana.

Pedangnya ditekan kebawah dan tubuhnya berkelebat kesamping, dengan demikian diapun lolos dari pukulan musuh.

Hoa- In- liong sendiri, meski baru saja terlepas dari mara bahaya, namun paras mukanya masih tetap tenang-tenang saja seakan-akan tak pernah terjadi suatu apapun, malahan sambil terbahak-bahak katanya: "Haaahhh haaaahhh haaahhh Ciu-Kongcu, apakah engkau masih mempunyai ilmu simpanan yang lain? Kenapa tidak sekalian kau keluarkan agar aku orang she-Hoa bisa merasakannya?"

Walaupun diluaran ia berkata seenaknya, tapi kali ini pedang mustikanya sudah diloloskan dari sarungnya.

Ciu-Hoa sendiri, sewaktu dilihatnya pihak lawan telah mencabut keluar pedangnya, tak kuasa lagi dia menengadah dan tertawa terbahak-bahak. suara tertawanya penuh mengandung nada sindiran, dan memandang hina.

Tentu saja Hoa-in-liong dapat merasakan pula gelak tertawa yang penuh dengan nada sindiran itu, akan tetapi ia tidak memperhatikan, malahan berkata dengan lantang:

"Ciu kongcu, aku telah merasakan kelihayan ilmu pedangmu, ketahuilah bahwa aku Hoa loji bukan seorang manusia yang tekebur dan suka berlagak sok. aku cukup mengetahui kemampuanku, aku sadar bila tidak kugunakan pedang untuk melawan dirimu lagi, sulitlah bagiku untuk menangkan engkau"

"Huuuh sekalipun kau gunakan pedang, apa yang bisa kau lakukan terhadap diriku?" jengek ciu Hoa sinis.

Paras muka Hoa In-liong seketika berubah jadi membesi, dengan serius ia berkata:

"Diantara kita tak terikat hubungan dendam ataupun sakit hati, dan kata-kata itu muncul dari mulutmu, maka akupun ingin memberi peringatan kepadamu, untuk menghadapi musuh yang tangguh janganlah terlalu tekebur dan terlalu yakin dengan kepandaian yang dimiliki sendiri..."

Mula-mula Ciu Hoa agak tertegun, menyusul kemudian tertawa terbahak-bahak.

"Haaahhh....haaahhh... haahh nasehat macam apakah

itu, Hoa loji lebih baik kau tak usah banyak bacot lagi" "Aku tahu bahwa ilmu pedangmu ganas dan sadis, akan

tetapi kurang mantap dan tak teguh, bila ingin digunakan untuk mencabut jiwaku maka tenaganya masih jauh berkurang, bila bertempur lagi nanti, aku harap kau bisa bertindak lebih berhati-hati lagi"

Pemuda ini, sudah terbiasa bersikap binal dan tidak bersungguh-sungguh, seakan-akan perkataan nya sama sekali tidak berbobot, akan tetapi setelah bersikap serius sekarang, terlihatlah keagungan serta kewibawaannya yang amat besar.

Ciu Hoa tertegun dan seketika itu juga merasa kejumawaannya tersapu lenyap hingga tak berbekas untuk sesaat anak muda itu hanya bisa berdiri terbelalak tanpa mengetahui bagaimana harus menjawab perkataan dari musuhnya ini. Tiba-tiba terdengar seorang laki-laki berbaju ungu berseru lantang:

"Kongcu, buat apa kita musti bersilat lidah terus dengan orang itu, mari kita atur barisan pedang saja, niscaya jiwanya tak akan lolos dari cengkeraman kita"

sekarang kejumawaan ciu Hoa sudah padam, maka setelah termenung sebentar dia pun mengangguk.

"Siapkan barisan" perintahnya sambil mengebaskan pedang antiknya.

Berbareng dengan diturunkannya perintah tersebut, bayangan manusia tampak berkelebat memenuhi angkasa, delapan orang laki-laki berbaju ungu itu sama-sama mengayunkan tangan kirinya dan menancapkan obor yang mereka bawa itu kedinding ruangan, kemudian ujung pedangnya disentakkan keatas dan disilangkan didepan dada, kemudian selangkah demi selangkah maju kedepan dan mengurung Hoa In-liong didalam kepungan-

Hoa In-liong tetap bersikap tenang, malahan sedikitpun tidak bergerak, dengan pandangan yang tajam ia menyapu sekejap barisan yang baru dibentuk oleh musuh-musuhnya.

Ia lihat delapan orang laki-laki berbaju ungu itu berdiri diposisi yang beraneka ragam, sepintas lalu posisi yang mereka duduki mirip dengan barisan pat-kwa, tapi bila ditinjau dari kehadiran ciu Hoa ditengah barisan yang tampaknya merupakan motor dari barisan tersebut, posisi barisannya jadi lebih mirip dengan suatu barisan Klu-kiong-tin- Hoa In-liong tidak begitu memahami soal ilmu barisan, maka dia hanya bisa mempertinggi kewaspadaannya belaka, dan diam-diam pemuda itu mengambil keputusan untuk menghadapinya dengan tenang.

Maka dengan dahi berkerut, bentaknya lantang: "ciu kongcu, ketahuilah bahwa golok dan pedang tak bermata, jika aku sampai melukai anak buahmu, jangan kau salahkan aku bersikap kejam padamu..."

Ciu Hoa mendengus dingin, ia tidak menjawab lagi, sambil menerjang kemuka pedangnya langsung melancarkan sebuah tusukan kilat, hebat sekali serangannya itu.

Hoa In-liong segera menggerakkan pedangnya keatas untuk menangkis, kemudian dengan mengincar datangnya sambaran pedang lawan, tiba-tiba ia mencukil keatas.

Dalam waktu singkat serangan musuh seolah-olah lenyap tak berbekas, diantara kilatan cahaya yang menyilaukan mata tercipta berlapis-lapis hawa pedang yang datang dari empat arah delapan penjuru.

Hoa In-liong terperanjat, buru-buru pedangnya ditegakkan sementara tubuhnya berputar kencang dan maju selangkah kedepan, lalu pedangnya ditarik kembali, ujung pedangnya yang tajam disembunyikan dibalik ketiaknya, menyusul kemudian dia lancarkan kembali sebuah tusukan kilat kearah belakang.

Pemuda itu mengambil keputusan untuk melakukan pertarungan yang tenang dan tidak berangasan lantaran dalam anggapannya kendati barisan pedang macam apapun yang sedang dihadapi maka motornya pastilah Ciu Hoa, asal Ciu Hoa berhasil diringkus niscaya barisan pedang itu akan buyar sendiri tanpa diserang.

oleh sebab itu tatapan matanya yang tajam selalu mengincar posisi dari Ciu Hoa, seperti pula serangannya yang terakhir, arah yang di tuju tak lain adalah tenggorokan Ciu Hoa.

Pendapatnya ini sedikitpun tak salah tapi justru karena Ciu Hoa merupakan motor penggerak dari barisan pedang itu, maka maju mundurnya delapan bilah peda ngpun bergerak dengan Ciu Hoa sebagai pusat penyergapan, satu sama lainnya mereka dapat bergerak bersahut-sahutan, seakan- akan otaknya satu dan mereka merupakan satu tubuh yang sama, dalam keadaan demikian tentu saja bukan pekerjaan yang gampang bagi si anak muda itu untuk membekuk Ciu Hoa.

Ketika serangan yang kedua kembali mengenai sasaran yang kosong, sepasang mata Hoa In-liong berkilat tajam ia saksikan betapa rapat dan ketatnya lapisan cahaya pedang yang memancar datang dari empat penjuru, serangan tersebut ibaratnya cahaya yang menggulung datang tiada habisnya, baik maju maupun mundur semuanya di lakukan dengan kecepatan ya luar biasa.

Lapisan pedang yang berlapis-lapis itu bukan saja sukar untuk dipecahkan, bahkan tubuh Ciu Hoa pun terkurung dengan sendirinya hingga lenyap tak membekas, dalam keadaan apa boleh buat terpaksa anak muda itu lebih mementingkan diri sendiri, sepasang kakinya menjejak permukaan tanah kemudian mengegos ke samping.

Belum sempat badannya berdiri tegak, mendadak ia merasakan tibanya beberapa gulung desingan angin dingin yang menyergap jalan darah penting diatas punggungnya, cepat ia menekuk pinggang sambil melepaskan pukulan, gerakan yang di pakai adalah jurus Kun-siu-ci-tau (perlawanan terakhir dari binatang yang terjebak), seketika itu juga desingan angin dingin itu berhasil disingkirkan satu depa lebih kesamping.

Setelah nyaris termakan sergapan maut, Hoa In-liong mengigos kesamping dan mundur dengan hati teperanjat, segera pikirnya dalam hati:

"Benar-benar tak kusangka sebuah barisan pedang sedemikian kecilpun ternyata memiliki daya kekuatan yang luar biasa besarnya, bila aku tak tega untuk turun tangan keji, niscaya aku sendirilah yang bakal mendapat kerugian" Belum habis dia berpikir, tiba-tiba ciu Hoa telah munculkan dirinya kembali, buru-buru ia menggerakan pedangnya untuk membacok musuhnya itu.

Baru saja dia melepaskan bacokan, mendadak cahaya pedang berkilauan, dari sampingpun muncul pula sebuah tusukan kilat yang tertuju ke atas tubuhnya, bila ia lanjutkan niatnya untuk melukai Ciu Hoa, niscaya iga sendiripun akan berlubang tertusuk pedang musuh, dalam keadaan begini terpaksa ia tekan pergelangan tangannya kebawah, kemudian menangkis dengan pedangnya.

Tak terkirakan sungguh dahsyat tenaga serangan musuh, ketika sepasang pedang saling beradu "Traaang" diantara

dentingan nyaring, Hoa In-liong terdesak mundur selangkah ke belakang, sedangkan tusukan pedang tadi telah lenyap tak berbekas.

Ilmu silat yang dimiliki Hoa In-liong memang sudah mencapai pada puncaknya, setelah bergebrak beberapa jurus, ia telah mengetahui bahwa kedelapan orang laki-laki berbaju ungu itu rata-rata memiliki dasar ilmu pedang yang sangat kuat ilmu silat mereka lihay dan andaikata bertempur seorang lawan seorangpun bukan sembarangan orang dapat menandinginya, apalagi mereka bergabung menjadi satu dan membentuk sebuah barisan pedang tak heran kalau kelihayannya berlipat ganda.

sekarang ia tak berani bergerak secara sembarangan lagi, pedang mustika ditangan konannya berusaha melakukan pertahanan, sementara tangan kirinya dengan disertai tenaga dalam yang sempurna kerapkali melancarkan pukulan-pukulan gencar dengan jurus Kun-shi-ci-tau yang maha sakti itu, dengan begini untuk sementara waktu keadaanpun bisa diimbangi sekalipun dengan susah payah.

Dalam pertarungan tersebut, tiba-tiba delapan bilah pedang bersatu padu, cahaya pedang seakan-akan tercipta menjadi satu gumpalan cahaya besar yang menyilaukan mata, makin lama pertempuran itu berlangsung, getaran yang terpancar dari barisan pun bertambah cepat perputarannya, kedahsyatan yang kemudian terpancar keluar sungguh di luar dugaan Hoa- In- liong, meski begitu ia tidak bingung atau kalut, pertahanannya masih tetap kokoh dan tangguh, sementara matanya masih saja mengincar tubuh Ciu-Hoa, bilamana ada kesempatan dia akan segera membekuk musuhnya itu.

seperminum teh kemudian, peluh teh membasahi jidat Hoa- In-lloag, ini menunjukkan betapa sengitnya pertarungan yang sedang berlangsung. Tiba-tiba terdengar ciu Hoa berteriak keras:

"Hoa loji, bila kau bersedia melepaskan pedang dan menyerah kalah, kongcu mu bersedia pula untuk memberi kematian yang utuh kepadamu" Hoa In liong mendengus dingin, ia tidak memberi tanggapan atas ucapan lawan.

Terdengar Ciu Hoa berkata lagi:

" Ketahuilah wahai Hoa loji, barisan prdang ku ini bernama kiu coan liong si( memutar lidah naga sembilan kali), kendati bapakmu sendiri belum tentu bisa memecahkan, bila engkau tak tahu diri sekali "lidah naga" telah menggulung maka tubuhmu niscaya akan hancur berkeping-keping."

Belum habis ia berkata, mendadak sesosok bayangan manusia menerjang kedepan, pedangnya ditegakkan keatas dan langsung menusuk dada serta lambungnya.

Perlu diketahui, berhubung barisan pedang itu bergerak sangat cepat sekalipun Hoa In-liong telah mengerahkan ketajaman mata untuk mengamati, gagal juga baginya untuk menembusi ketajaman sinar pedang yang berkilauan itu, otomatis sukar juga baginya untuk menduga dimanakah letak posisi Ciu Hoa dewasa ini, tapi begitu Ciu Hong buka suara, Hoa In-liong segera mengetahui tempat kedudukannya dan serta merta dia lantas mengejar kesitu.

Dalam keadaan yang tak terduga ini, Ciu Hoa tak sempat untuk menghindarkan diri lagi, terpaksa dia harus menggerakan pedangnya untuk menangkis datangnya ancaman itu. "Traang. " suatu bentrokan nyaring menggema

memecahkan kesunyian, Ciu Hoa segera merasakan lengan kanannya jadi kesemutan dan kaku, pedang antiknya hampir saja teriepas dari cekalan cepat ia mundur dua langkah ke belakang.

Tentu saja Hoa In-liong tak sudi melepaskan musuhnya dengan begitu saja, setelah berhenti sebentar, ia maju lagi ke depan, pedangnya secepat kilat melancarkan pula serangan mematikan-

Dilnar dugaan, ternyata Ciu Hoa dibuat kelabakan dan kalang kabut dengan sendirinya, ia tak berani menyambut serangan tersebut dengan kekerasan, malahan tergopoh- gopoh tubuhnya lantas menyelinap ke samping.

Dengan susah payah Hoa In-liong berhasil melepaskan diri dari kurungan barisan pedang musuh dan menemukan sasarannya, tentu saja ia tak ingin membiarkan Ciu Hoa menyelinap kembali ke dalam barisannya, melihat dia hendak kabur, segera bentaknya: "Mau kabur kemana?"

Bagaikan bayangan menempel badan, secepat kilat dia mengejar ke arah depan.

Tiba-tiba terdengar bentakan nyaring berkumandang saling susul menyusul, delapan bilah pedang diputar berbareng menghadang jalan perginya.

Hoa In-liong marah sekali, terutama ketika jalan perginya dihadang, ia meraung keras: "Bangsat Kalian sudah bosan hidup semua rupanya"

Hawa murninya segera disalurkan ke dalam tangan, pedangnya diputar dan dia lantas mainkan ilmu pedang Ciong- kiam (pedang berat)

sreet sreet sreet serangan dilancarkan tiada hentinya, dalam sekejap mata ia sudah meneter ke delapan orang itu habis habisan.

Perlu diketahui, ke enam belas jurus ilmu pedang yang ditinggalkan Hoa Goan-siu ini tidak lihay dalam jurus serangan, tidak lihay pula dalam kesempurnaan tenaga dalam, melainkan terletak pada kegagahan serta kewibawaan sang pembawa serangan tersebut, jika seseorang dapat mainkan jurus pedang itu dengan gagah dan berwibawa maka serta merta terciptalah suatu kekuatan lain daripada yang lain yang jauh lebih mengerikan daripada hal-hal lainnya.

sejak Hoa Thian-hong berhasil mendapatkan kitab Kiam- keng dan Kiam-keng-kui-boh, ia telah menyisipkan pula intisari ilmu pedang di balik jurus-jurus pedang peninggalan orang tuanya, ketika diwariskan kembali kepada putra-putrinya, ilmu pedang itu sudah dirubah namanya menjadi Hoa-si- ciong- kiam- cap- lak-sin-cau (enam belas jurus sakti ilmu pedang berat keluarga Hoa). itu pun sudah berbeda dengan keadaan aslinya, kalau dahulu permainan pedang itu harus menggunakan pedang baja yang berat, maka sekarang cukup menggunakan pedang kayu atau pedang bambu tanpa mengurangi kelihayannya.

setelah lama bertempur tanpa mendatangkan hasil, lama kelamaan Hoa In-liong jadi sadar, apalagi setelah dilihatnya Ciu Hoa hampir menyelinap ke dalam barisan pedangnya lagi, dalam mendongkol dan marahnya dia lantas menyerang dengan gencar, malahan Hoa-si- ciong-kiam- cap- lak-sin-cau yang maha dahsyat pun dikeluarkan, sekalipun kematangannya menggunakan jurus-jurus sakti itu belum sempurna, tapi kedelapan orang laki laki berbaju ungu itu sudah tak sanggup mempertahankan diri

Dalam sekejap mata, serangan dan pertahanan saling bertautan, delapan orang laki-laki berbaju ungu itu didesak sampai mundur berulang kali, tanpa bertindak lebih jauh barisan pedang itu bobol dengan sendirinya, dari satu barisan pedang yang tangguh sekarang telah berubah jadi suatu perlawanan bersama atas serangan musuh yang gencar.

sementara itu Ciu Hoa telah menyingkir kesamping, ketika dilihatnya barisan pedang yang diandalkan sudah tak berwujud lagi, sedangkan kegagahan dan kehebatan Hoa-In- liong sukar dibendung lagi, ia lantas berminat untuk ikut terjun pula kedalam arena pertarungan serta berusaha untuk memulihkan kembali keutuhan barisan pedangnya. Tapi Hoa-In-liong memang terlampau dahsyat, ia menyerang dan mengejar terus dengan ketatnya, dimana serangannya tiba delapan orang laki laki berbaju ungu itu harus mundur untuk menyingkir, dalam posisi seperti ini sulitlah baginya untuk ikut terjun kedalam gelanggang.

Hal ini sangat meng gelisahnya hatinya, saking marah dan mendongkolnya ia sampai mendepak- depakkan kakinya berulang kali keatas tanah.

Dari sikap tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa ciu Hoa adalah seorang laki-laki yang berangasan, begitu melihat posisi rekan-rekannya terdesak dibawah angin, sedangkan ia tak sanggup untuk memberikan bantuannya, timbulah niat jahat dalam hati kecilnya.

Mendadak ia membentak gusar, tangannya lantas diayun kedepan melemparkan sebuah benda hitam keatas batok kepala Hoa-In-liong.

sepanjang pertarungan berlangsung, Hoa In-li ong selalu memasang telinga dan matanya tajam-tajam, begitu menangkap tibanya sambaran benda hitam yang disertai desingan angin tajam, ia segera mengetahui bahwa ia sedang disergap oleh sejenis senjata rahasia. 

secepat kilat telapak tangan kanannya diayun kedepan, .Ia menyampok senjata rahasia itu dengan bacokan pedang, sementara lengan kirinya dibabat kedepan menghajar mundur seorang laki-laki hingga terdesak sejauh tiga depa.

"Blaaang. " sebercak cahaya api berwarna biru mendadak

memancar keempat penjuru dan mengejar tubuhnya.

Menghadapi ancaman tersebut, Hoa In-liong sangat terperanjat, buru-buru ia menyusup ke samping dengan menempel diatas permukaan tanah, maksudnya ia hendak meloloskan diri dari gumpalan cahaya api itu.

Kendati reaksi yang diberikan cukup cepat, namun setitik cahaya api sempat juga menetes diatas punggungnya, Hoa In- liong segera merasakan punggungnya jadi panas, jilatan api segera merembet sampai diatas dan membakar pakaian yang dikenakan. "Anak Liong Jatuhkan diri dan bergelinding" disaat paling kritis mendadak seseorang berseru dengan suara yang serak tapi keras.

Bersamaan dengan munculnya suara peringatan itu, sesosok manusia menyambar masuk ke dalam ruangan, seketika itu juga Ciu Hoa beserta delapan orang laki-laki berbaju ungunya melepaskan senjatanya dan berdiri kaku seperti patung arca, agaknya jalan darah mereka telah tertotok semua.

Dalam pada itu Hoa In-liong telah bergelinding di atas tanah dan memadamkan lobaran api yang menjilat-jilat baju bagian punggungnya, tiba-tiba ia merasa kaki kanannya kaku dan susah digerakkan ketika diperiksa ternyata bagian lututnya telah tertancap sebatang jarum perak yang berwarna biru, jarum itu sudah menembusi kulitnya hingga tinggal ekornya saja masih tertinggal, dari warna biru yang berkilauan dapat diketahui bahwa jarum itu mengandung racun yang jahat sekali.

Ayahnya Hoa Thian-hong tidak mempan terhadap serangan pelbagai jenis racun ini disebabkan karena ia pernah makan racun teratai empedu api, dan dia sebagai keturunan dari ayahnya mengalir pula darah murni yang mengandung serum penolak racun tersebut, dengan keistimewaan yang dimilikinya itu, tancapan sebatang jarum beracun tidak berpengaruh banyak atas dirinya.

Meski demikian, Hoa In-liong naik pitam dan merasa dendam sekali, sebab Ciu Hoa telah berbuat keji dan melepaskan senjata rahasia sangat beracun itu tanpa memberi peringatan apapun, ini menunjukkan bahwa hatinya busuk sekali.

Demikianlah, setelah jarum beracun itu dicabut keluar, ia lantas bangkit berdiri, kemudian sambil mendengus dingin katanya:

"Manusia she-ciu, kau keji dan berhati busuk Hoa loji tak dapat mengampuni selembar jiwamu" Dengan mata merah membara dan muka meringis menyeramkan, selangkah demi selangkah ia mendekati musuhnya itu.

sekarang Hoa ln- liong sudah dipengaruhi oleh hawa napsu membunuh yang amat tebal, melihat keadaan lawannya itu Ciu Hoa jadi bergidik dan pecah nyalinya, apa daya jalan darahnya tertotok mulut tak bisa berbicara badan tak mampu bergerak, dalam keadaan sepsrti ini terpaksa dia hanya bisa pasrah dan menunggu saat ajalnya.

Mendadak sesosok bayangan manusia kembali berkelebat lewat, seorang kakek tua berjubah ungu tahu-tahu sudah menghadang jalan perginya.

" Liong- ji" kata orang itu dengan lantang " apakah engkau hendak membunuh seseorang yang telah kehilangan daya perlawanannya?"

orang itu berperawakan tinggi besar dan kekar, rambut, jenggot maupun alis matanya telah berwarna putih, usianya enam puluh tahunan, meski demikian ia tampak masih segar bugar dan tak nampak tua.

siapakah orang ini? Dia adalah Pek Siau-thian bekas ketua perkumpulan sin-kipang yang tersohor di masa lampau, atau kakek dari Hoa In-liong sendiri

Tak heran kalau dalam sekali gebrakan sembilan orang jago tangguh tersebut dapat dirobohkan semua olehnya, sebab Pek siau-thian memang berilmu sangat lihay.

setelah mengetahui kalau kakek tua itu tak lain adalah Gwa-kong (kakek luar) nya, mula-mula Hoa In- liong agak tertegun, menyusul kemudian dengan wajah berseru dia jatuhkan diri berlutut, serunya dengan penuh kegembiraan:

"Liong-ji memberi salam buat Gwa-kong."

"Bangun, cepat bangun" seru Pek-siau-thian sambil ulapkan tangannya, "gwa-kong ingin bertanya padamu, bagaimana caranya kau selesaikan beberapa orang ini?" sambil bangkit diri Hoa-In-liong menjawab:

"Mereka adalah anak buah perkumpulan Hian beng-kau, berhati busuk dan berniat keji, Liong-ji pikir. . . " Tatkala sinar matanya menyapu sekejap ke arah Ciu-Hoa sekalian, ia baru tahu kalau jalan darah mereka sudah tertotok semua, maka kata-kata selanjutnya tidak jadi dilanjutkan.

Pek-siau-thian memandang sekejap ke arah cucunya, kemudian berkata lagi:

"Ketika ayahmu berkelana dalam dunia persilatan tempo hari, ilmu silat yang dimilikinya tidak beberapa lihay, tapi sampai-sampai Gwa-kong sendiripun tak berani memandang enteng dirinya, tahukah kau apa sebabnya bisa begitu?"

Dihari-hari biasa, Pek-siau-thian amat sayang dan memanjakan cucu luarnya ini. tapi sekarang agaknya ia berniat untuk memberi pendidikan terhadap cucunya ini, bukan saja keren wajahnya bahkan nada pembicaraanpun tegas dan bersungguh-sungguh.

Hoa-In-liong yang menengadah dan menyaksikan keadaan kakeknya ini, kontan merasa tercekat hatinya, ia sendiripun merasa sedikit di luar dugaan.. Pek-siau-thian anggukkan kepalanya, dan melanjutkan kembali kata-katanya:

"Ayahmu berjiwa besar, berwatak sabar tapi bersikap tegas, masalah kecil tidak selalu dipikirkan dalam hati, masalah besarpun bersikap luwes, sekalipun berhadapan dengan musuh besar pembunuh ayahnya, diapun tidak bersikap angkuh, sepanjang hidup tak pernah melukai mereka yang sudah tak mampu bergerak, apalagi membunuh mereka yang sudah kehilangan daya perlawanannya,sebab itu kendatipun musuh bebuyutannya juga menaruh tiga bagian rasa hormat kepadanya."

Ketika mendengar sampai disana, Hoa- ln- liong telah mengetahui apa yang dimaksudkan Gwa-kong nya, cepat ia memberi hormat seraya berkata: "Liong ji tak tahu kalau beberapa orang ini sudah tertotok jalan darahnya."

Pek-siau-thian ulapkan tangannya mencegah anak muda itu bicara lebih lanjut, tukasnya:

"Kau tak usah bicara lebih jauh, untuk hidup sebagai seorang manusia engkau harus bertindak teliti, sebab dikala perasaan hatimu mulai bergerak maka yang benar tetap akan benar, dan yang salah tetap akan salah, benar atau tidaknya harus kau bedakan disaat itu. bila kau tidak meninjau dulu keadaannya tapi bertindak menurut emosi, coba bayangkan saja seandainya gwa-kong tidak datang tepat pada waktunya, bagaimanakah akibatnya sekarang..."

Hoa In-liong tak dapat berbicara lagi, dia hanya bisa mengiakan berulang kali. Terdengar Pek siau-thian berkata lebih lanjut:

"Gwa-kong sedari tadi sudah tiba disini, dan apa yang terjadi dapat kusaksikan semua dengan jelas, akupun menyaksikan bagaimanakah dengan menempuh bahaya kau mencari kesempatan yang baik untuk mengorek keterangan dari mulut lawan, sekalipun kegagahanmu lumayan juga namun masih selisih jauh bila dibandingkan dengan ayahmu. Aaaai Aku benar-benar merasa tidak habis mengerti mengapa nenekmu begitu tega untuk melepaskan kau berkelana seorang diri?"

Kendati maksud ucapannya adalah memberi pendidikan dan pelajaran yang keras untuk cucu luarnya ini, tapi rasa sayang dan manjanya terhadap cucu lakinya ini kentara sekali diantara pancaran wajah maupun nada pembicaraannya.

sebagai bocah yang binal, begitu Hoi In-liong menangkap kalau nada suara gwa-kongnya menjadi lunak kembali, ia lantas menengadah, dengan alis mata berkenyit katanya:

"Gwa-kong masa kau tidak tahu? Liong-ji bisa berkelana diluaran sekarang ini adalah atas perintah dari nenek."

"Tentang soal ini kita bicarakan nanti saja" tukas Pek siau- thian sambil ulapkan tangannya, "sekarang kau harus putuskan dulu, dengan cara apa engkau hendak selesaikan beberapa orang ini?"

"Lepaskan saja mereka semua" sahut Hoa In-liong sekenanya. Pek siau-thian tersenyum.

"Bukankah engkau hendak menyelidiki latar belakang tentang perkumpulan Hian-beng-kau?"

" Liong-ji telah mengerti, bahwa pengetahuan dari seorang ketua regu sangatlah terbatas sekali" "Bukankah dia adalah murid tertua dari ketua perkumpulan Hian-beng-kau ?"

"Murid tertua juga sama saja. sampai kini Hian-beng kaucu tetap menyembunyikan diri seperti kura-kura, ia cuma mengutus anak buahnya melakukan keonaran dai penganiayaan, masakan rahasia besar rencananya akan dibeberkan dihadapan mereka? Malahan yakin bahwa ia sudah memperingatkan anak buahnya untuk menjaga rahasia dengan siksaan keji sebagai imbalannya bila mereka telah membocorkan rahasia tersebut, maka aku pikir tak ada gunanya kita paksa mereka untuk memberi keterangan, Liong- ji akan berusaha untuk mencari keterangan sendiri dengan usaha yang kumiliki"

Mendengar jawaban tersebut, Pek siau-thian tertawa terbahak-bahak sanbil mengelus jenggotnya ia berkata. "Haahh..haaaahhh..haaahhh.. sungguh tak kusangka engkau berotak cermat dan mempunyai semangat yang

menyala-nyala, baiklah Gwa-kong akah membantu dirimu untuk melepaskan orang-orang ini"

Dia lantas putar badannya, diantara sentilan jari tangannya, sembilan orang jago yang tertotok jalan darahnya segera bebas dari pengaruh totokan tersebut.

"Sebera tinggalkan kota Lok-yang" hardiknya dengan lantang, "kalau berani mengulur waktu lagi, Hmm Bila terjatuh ketangan lohu lagi, jangan harap kamu semua bisa dibebaskan seperti hari ini, Hayo cepat pergi..."

Dari pembicaraan yang baru saja berlangsung ciu Hoa sudah mengetahui akan asal usul kakek berjubah ungu itu. tentu saja ia tak berani berdiam lebih lama lagi disana.

Begitu jalan darahnya bebas, mereka lantas memungut kembali senjatanya, kemudian setelah melotot sekejap kearah Hoa In- liong dengan penuh kebencian, mereka lari terbirit- birit tinggalkan ruangan itu, dalam sekejap mata bayangan tubuh mereka sudah lenyap tak berbekas.

Setelah beberapa orang itu berlalu Hoa In-liong baru berpaling, ujarnya sambil tertawa cecikikan: "Huhh..hiihh..hiihh..sekarang aku sudah paham"

"Apa yang kaupahami?" tanya Pek siau-thian tercengang. "Tentu Gwa-kong yang sudah memindahkan jenasah dari

suma siok-ya dari tempat ini"

Pek siau-thian tersenyum, ia membelai rambut cucunya dengan penuh kasih sayang, kemudian sahutnya:

"Bocah manis, kau memang cerdik, memang benar gwa- kong yang sudah memindahkan jenasah dari suma-tayhiap suami istri dari sini, sekarang jenasah mereka bersemayan di kuil Pek-ma-si diluar kota sana, dan dirawat oleh Cu-hong- taysu."

"siapakah Cu-hong Taysu itu?" tanya Hoa-In-liong keheranan-

"Tentunya kau kenal bukan siapakah Cu-in-taysu itu?" "Kenal" sahut si anak muda itu sambil mengangguk. "dia

adalah sahabat karib ayahku"

" Cu-hong taysu adalah kakak seperguruan Cu-in taysu, dia adalah sobat karib Gwakong"

Kiranya sejak pertempuran di bukit Cu-bu-kok dimana perkumpulan sin- kapang mengalami kekalahan besar, kemudian dalam penggalian harta dibukit Kiu-ci-san iapun harus banyak mengandalkan bantuan Hoa-Thian-hong, setelah itu putri sulungnya kawin dengan Bong-Pay, putri keduanya kawin dengan Hoa-Thian-hong, dimana kedua orang menantunya adalah jago-jago dari golongan lurus, ditambah pula istrinya Kho-hong-bwe selalu menasehati suaminya agar bertobat.

Dalam putus asa dan kecewanya Pek-siau-thian sering kali belajar agama Budha dari istri nya sering pula berhubungan dengan orang-orang luar maka pada mulanya ia setelah dapat melepaskan cita-citanya untuk menjagoi kolong langit, tapi akhirnya iapun sadar bahwa jalan pikirannya itu keliru besar.

Maka akhirnya bukan saja ia sering berhubungan dengan Bun Tay-kun sekalian anak famili dari golongan lurus, perangainya pun banyak berubah yang berbudi luhur, dengan Cu-hong, cu-in taysu sekalian pun menjadi sahabat karib. Kalau bukan lantaran perangainya sudah banyak berubah, dengan perbuatan dari Ciu Hoa sekalian tadi, tak nanti ia akan lepaskan mereka dalam keadaan hidup.

setelah mendengar asal usul Cu-hong taysu dari Gwa-kong nya, Hoa In- liong merasakan hati nya jadi lega, diapun berkata:

"oooh.,.. kira nya dia adalah suhengnya Tau-to yaya, sepantarnya kalau Liong ji pergi menyambanginya "

"sedari kapan kau pandai menjalankan adat kesopanan?" goda Pek siau-thian sambil tersenyum.

Merah padam selembar wajah anak muda itu karena jengah, serunya manja.

" Gwa-kong, masa kau anggap Liong-ji selamanya tak dapat tumbuh jadi dewasa?"

"Haaahhh....haaahhh....haaahhh bagus Bagus Kau

memang sudah  dewasa,  kau  memang  sudah  dewasa Cuma Gwa-kong selalu berharap agar selamanya kau jangan

dewasa" setelah berhenti sebentar, dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain, tanyanya lagi:

"Menurut pengamatanku, tampaknya kau datang dengan membawa tugas, tugas apakah kau diperintahkan untuk menyelidiki kasus pembunuhan berdarah atas diri suma tayhiap?"

"Benar dari mana Gwa-kong bisa tahu?" tanya Hoa ln- liong tercengang, agaknya ia tak menduga kalau kakeknya bisa menduga sampai kesitu. Pek siau-thian tertawa.

"Tentu saja Gwa-kong mengetahui kejadian ini secara kebetulan saja, dalam perjalanan melewati kota Lok-yang, aku baru tiba disini menjelang senja, sebenarnya tujuanku adalah mengunjungi sobat-sobat lama sambil kongkou, siapa tahu suma siok-ya mu telah menjadi almarhum, ketika kutemukan rumahnya terbengkalai, dalam peti mati tersiar bau obat beracun, dan diantara debu yang melapisi permukaan lantai kutemukan juga bekas-bekas pertarungan setelah itu kutemukan juga bekas gigitan diantara tenggorokan suma- Tayhiap suami istri, aku lantas sadar bahwa setelah mereka mati, pihak musuh telah menggunakan jenasah mereka sebagai jebakan untuk memancing orang-orang yang melayat kemari masuk perangkap, untuk menghindari segala kemungkinan yang tak diinginkan maka jenasah mereka aku pindahkan dari sini."

Mendengar keterangan tersebut, tanpa terasa lagi Hoa-In- liong lantas berpikir:

"Aaaai bagaimanapun juga pengetahuan serta

pengalaman Gwa-kong jauh lebih hebat daripadaku, sampai sekarang aku baru mencurigai sampai kesitu sebaliknya cukup dalam sekali tatapan saja dia orang tua sudah menebak maksud busuk musuh dan segera melakukan segala tindakan penanggulangan, dari sini menunjukkan bahwa aku masih belum bisa untuk berbuat apa-apa"

sementara dia masih melamun, Pek siau thian-telah bertanya lagi. "Liong-ji, sudah berapa lama kau tiba di kota Lok-yang?"

"Kemarin baru sampai"

"Berhasil menemukan sesuatu tanda terang yang patut dicurigai?"

"Sudah, dan titik terang itu adalah Ciu Hoa tadi"

"Kalau begitu bukankah titik terang itu kembali sudah

terputus ?" kata Pek siau-thian dengan dahi berkerut.

"Aaaah, tak jadi soal, Liong-ji toh bisa mencarinya lagi" sahut Hoa In-liong dengan santainya.

sepintas lalu ucapan itu memang kedengarannya biasa dan tak ada sesuatu keistimewaannya, bahkan malahan lebih mendekati jawaban yang se-enaknya, tapi bagi pendengaran Pek siau-thian justru berbeda jauh, dia malahan merasakan betapa gagah dan terbukanya pikiran cucunya ini, bahkan dibalik kelembutan sebetulnya tersembunyi suatu kekuatan yang dapat membuat orang jadi takluk dan kagum.. Tak terasa lagi ia tersenyum, sambil mengelus jenggotnya dia berpikir:

"Bocah ini betul-betul berhati sekeras baja, berjiwa besar, berotak cerdik dan pandai menyelami perasaan orang, bila dididik secara betul dan terpimpin, niscaya dikemudian hari akan menjadi seorang pemimpin dunia persilatan yang patut diandal kan"

ooooooooooo

KARENA berpendapat begitu, Pek-siau-thian merasa hatinya jaun lebih lega katanya kemudian dengan lantang:

"Liong-ji hayo berangkat Ikut Gwa-kong ke- kuil Peks-ma-

si"

"Waaah, tidak bisa" sahut Hoa-In-liong setelah sangsi

sebentar, "kuda dan bekalku masih ada di rumah penginapan"

Pek siau thian berpikir sejenak. kemudian sambil ulapkan tangannya ia berkata lagi: "Baiklah, kalau begitu mari kita berkumpul dirumah penginapan"

Hoa In liong tidak mengerti apa sebabnya Gwa kong mendadak jadi gembira sekali, tapi berhubung ia sudah lama berpisah dengan kakeknya dan lagi iapun sudah amat rindu dengan engkongnya ini tanpa berpikir panjang lagi ia maju ke muka dan sambil menggandeng tangan si kakek tua itu berlalu dari ruangan.

sekembalinya dirumah penginapan, Hoa In- liong memerintahkan pelayan untuk siapkan sayur dan arak. selesai membersihkan badan kakek dan cucu berduapun bersantap sambil bercerita.

Tampaknya Pek siau-thian memang mempunyai maksud tertentu, ia berniat untuk melatih Hoa In liong sehingga lebih perkasa dan lebih luas pengetahuannya. Mula-mula ia menanyakan kisah Hoa In- liong ketika mendapat perintah untuk meninggalkan rumah, kemudian menanyakan pula semua kejadlan dan peristiwa yang dijumpainya selama berada di kota Lok-yang.

Dengan tak Jemu-jemunya Hoa In- liong segera menjawab semua pertanyaan kakeknya dengan jelas. Pek siau-thian sendiripun lantas mendengarkan penuturan dari cucunya sambil tersenyum. selesai bercerita, Hoa In- liong mendadak membuka telapak tangan kirinya dan disodorkan ke-depan, kemudian katanya:

" Gwa- kong, semua persoalan tidak Liong-ji pikirkan, tapi ada satu hal yang tidak berkenan di hati Liong-ji, yakni ukiran huruf "benci" yang dibuat ibu ditanganku, apakah Gwa-kong tahu apa maksudnya mengukir huruf tersebut?" Pek siau-thian melirik sekejap telapak tangan kirinya, kemudian ia balik bertanya: "Apakah engkau merasa tidak senang hati, dengan kejadian itu?"

"Bukannya Lion-ji tak senang hati cuma Liong-ji merasa bahwa tindakan ini sebenar nya sama sekali tak berarti "

"Nenekmu adalah seorang pendekar wanita uang berjiwa besar dan berotak cerdas." tukas Pek siau-thian dengan cepat, "jangankan orang lain, aku sendiripun amat mengaguminya, aku percaya semua .perbuatan yang ia perintahkan pasti mempunyai arti dan maksud yang mendalam, hanya engkau belum berhasil menangkap artinya"

"Lalu apa maksudnya?" seru Hoa In-liong sambil menatap Gwa-kong nya tajam-tajam, "ibu dan nenek semuanya bilang bahwa mereka tidak membenci aku, tapi aku tak dapat memecahkan maksud dan arti di balik kesemuanya ini, kadangkala aku tak tahan dan memikirkan persoalan ini, namun sekalipun aku sudah putar otak memeras keringat, toh akhirnya masih tetap merupakan suatu persoalan simpul mati"

Pek-siau-thian tersenyum setelah mendengar perkataan itu ujarnya:

"Bila ingin menjadi seorang yang besar dan terkenal, pikiran dan jiwamu harus lapang, persoalan sepele dan masalah kecil jangan selalu dipikirkan dihati, bukan saja kejadian itu bisa menutupi kecerdasan otakmu bahkan amat mengganggu kesehatan badan, bila tak berhasil dipecahkan lebih baik tak usah dipikirkan-"

"Aaaai Gwa-kong, ucapanmu ini persis seperti perkataan nenek" gerutu sang pemuda dengan wajah murung, "cobalah bayangkan, Liong-ji harus memikul tugas yang sangat berat ini, masakah aku tak boleh menyelidiki tiap persoalan yang sedang kuhadapi? sebelum berangkat, ibu telah mengukir huruf "benci" itu di atas telapak tangan Liong-ji apakah liong-ji harus berdiam diri belaka." Pek-siau thian mengelus jenggotnya dan tersenyum.

"Lalu bagaimana menurut jalan pikiranmu? Apakah tulisan itu ada hubungan yang erat dengan peristiwa pembunuhan berdarah ini?"

"Tentu saja" jawab pemuda itu cepat, " kalau tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa berdarah itu, mengapa sewaktu mengukir huruf tersebut nenek bersikap amat serius. Gwa-kong, tahukah kau bahwa pada waktu itu ibu merasa tak tega, tapi nenek yang memaksa terus untuk mengukir huruf itu ditangan Liong-ji"

" Liong- ji, kau tak boleh bicara sembarangan" mendadak Pek-siau-thian menukas dengan wajah serius, " nenekmu adalah ksatria sejati diantara kaum perempuan, baik kecerdasan otak maupun pengetahuannya jauh lebih hebat dari siapapun, kalau ia memaksa untuk berbuat demikian, itu berarti ia mempunyai maksud tertentu ketahuilah menyalahkan angkatan yang lebih tua adalah "

Kata selanjutnya tak lain adalah kata-kata nasehat yang setumpuk bukit, dengan watak Hoa ln liong yang binal, ia segan untuk mendengarkan " nasehat" tersebut, tapi iapun mengerti betapa sayangnya pek siau thian terhadap dirinya, maka ia berkata kemudian:

"Apa alasannya? Kalau tidak diterangkan bukankah itu berarti bahwa Liong ji selalu harus memikirkan soal" " benci", "Benci" pada langit "Benci" pada bumi dan mungkin harus "benci" terhadap setiap manusia yang ada di kolong Langit?"

"Ngaco belo" bentak- Pek siau-thian dengan keras.

Mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, tanpa terasa kakek tua itu jadi tertegun dan berdiri termangu- mangu.

Hoa-In-liong sendiripun agak tertegun menyaksikan keadaan gwa-kong nya itu, dengan tercengang ia lantas berseru: "Gwa-kong, kenapa kau? Apakah berhasil menemukan alasannya?"

"Jangan berisik dulu" sela Pek-siau-thian sambil ulapkan tangannya, "biar kupikirkan persoalan ini dengan seksama" Hoa-In-liong mengerdipkan matanya, lalu berpikir:

"Benar, Gwa-kong dimasa lalu adalah seorang pemimpin dunia persilatan yang tersohor dan mempunyai kedudukan tinggi, ia pasti mengetahui banyak tentang Giok teng hujin, apa salahnya kalau kugunakan kesempatan ini untuk mencari tahu tentang dirinya?"

Baru saja ingatan tersebut melintas dalam benaknya, Pek siau Thian telah menatap tajam cucunya sambil bertanya:

" Liong-ji, pernah kau dengar tentang seorang jago lihay dimasa lampau yang bernama Kiu-im kaucu?"

Hoa In-liong ingin cepat-cepat menjawab, sambil mengangguk segera sahutnya:

"Menurut apa yang Liong-ji dengar, Kiu-im kaucu adalah seorang perempuan berilmu tinggi, orang itu licik, banyak akal busuknya dan kejam..."

"Ehmm" Pek Siau thian mengangguk. "Suma Siok-cu-bo mu dulunya adalah tiamcu dari istana neraka, dengan suma siok- ya mu "

"Apa?" tukas Hoa In- liong tercengang "bukankah perkumpulan Kiu-im-kau adalah perkumpulan kaum sesat?" Pek siau-thian mengangguk.

"Perkumpulan Kiu im-kau memang suatu perkumpulan kaum sesat, Tiancu istana neraka itu pernah bertarung melawan suma siok-ya mu, berhubung usia mereka sebaya dan ilmu silatnya seimbang, sejak terjadinya pertarungan itu mereka selalu memikirkan pihak lawannya. Kemudian saat suma siok-ya mu sedang berpesiar, diatas bukit Lak-siau-san mereka berjumpa untuk kedua kalinya, waktu itu mereka berpesiar selama beberapa hari mengunjungi tempat kenamaan, ketika hubungan mereka kian lama terasa kian bertambah cocok. akhirnya Yu-beng tiamcu ini melepaskan diri dari perkumpulan Kiu-im-kau dan menemani suma siok-ya mu berkunjung kedaratan Tionggoan dimana, akhirnya atas persetujuan dari nenekmu, merekapun menikah menjadi suami istri"

"Aaah, kiranya siok cubo melepaskan diri secara diam-diam dari perkumpulan Kiu-im-kau" pikir Hoa In- liong dalam hati, "tak aneh kalau sepanjang tahun jarang keluar pintu gerbang, bahkan berkunjung kerumahpun hampir tak pernah". Meski dalam hati berpikir demikian, di luaran ia berkata:

"Jadi maksud gwa-kong, otak dari pembunuhan berdarah atas diri suma siok-ya dan siok cubo ini tak lain adalah Kiu-im kaucu?"

"Benar atau tidak kita harus melakukan penyelidikan lebih jauh, tapi bagaimanapun juga kita tak boleh melepaskan titik terang dengan begitu saja" Hoa-In-liong berpikir sebentar, lalu menyambung:

"Aah aku rasa belum tentu begitu. Menurut kisikan dari nenek. agaknya beliau menaruh curiga bahwa persoalan ini ada hubungannya dengan Giok-teng Hujin, sebab tanda pengenal yang ditinggalkan pembunuh itu tak lain adalah sebuah hiolo kecil berwarna ungu kemala"

"Aku bisa menduga sampai kesitu justru karena secara tiba- tiba teringat akan diri Giok Teng hujin ini"

"oooh... kiranya dugaan kalian ada kemiripannya antara yang ^itu dengan yang lain" seru Hoa-In liong seperti baru sadar, "Gwa-kong, cepatlah terangkan, bagaimana dengan Giok-teng hujin itu?"

"Aku sendiripun mendengar cerita ini dari cu-in taysu.

Katanya di masa lalu ayahmu, entio-mu, dansuma siok ya mu pernah menerima budi kebaikan dari Giok-teng- hujin, kemudian sewaktu Giok-teng- hujin mendapat musibah, ayahmu dan suma-siokya mu bersama-sama datang ke kota Cho ciu untuk memberi pertolongan, menurut keterangan cu in taysu, pada waktu itu Giok teng hujin sedang menjalankan siksaan lm hwe lee hun (api dingin melelehkan sukma), siksaan itu amat keji dan melanggar peri kemanusiaan, ketika menyaksikan keadaan tersebut ayahmu amat sedih dan gusar sehingga mendekati kalap. apa yang dipikirkan olehnya waktu itu hanyalah membunuh manusia sebanyak-banyaknya." (untuk jelasnya silahkan membaca: Bara Maharani oleh penyadur yang sama).

Ketika mendengar kisah tersebut, Hoa In-liong segera mengerutkan dahinya dan berpikir dihati.

"Siksaan api dingin melelehkan sukma memang merupakan suatu siksaan yang keji dikolong langit, sekalipun aku yang temui kejadian juga akan naik darah, apalagi ayah pernah mendapat budi dari Giok-teng hujin, tentu saja kemarahannya mendekati kekalapan setelah menjumpai kejadian itu, tapi apa sangkut pautnya antara kejadian itu dengan kematian suma siok-ya serta ukiran huruf " benci" diatas telapak tanganku ini?"

Pek siau thian sudah sering bergaul dengan cucunya ini semenjak masih bayi, sekilas memandang tampang cucunya, ia lantas dapat menebak apa yang dipikirkannya, maka ujarnya lagi:

"Liong-ji, apakah engkau menganggap ayahmu ingin membunuh orang hanya disebabkan oleh dorongan emosi dan kemarahan saja.?"

"Apakah dibalik kejadian ini masih terdapat sebab sebab lain ?" Hoa In-liong balik bertanya setelah tertegun sejenak.

"Tentu saja, Ayahmu sudah kenyang mengalami penderitaan, watak dan keteguhan imannya jauh berbeda dengan manusia biasa, padahal dalam dunia persilatan banyak terdapat kejadian-kejadian yang gampang membuat orang naik darah bila setiap kali marah dia lantas ingin membunuh orang, berapa banyak sudah manusia yang akan terbunuh oleh ayahmu? Dan darimana mungkin ia bisa melakukan pekerjaan besar?"

"Lalu sebenarnya mengapa ia sampai berbuat demikian?" desak sianak muda itu cepat.

Pertanyaan ini diajukan dengan hati yang gelisah seakan- akan sudah tak sabar untuk menanti lebih lama lagi, melihat keadaan cucunya ini Pek siau chian kembali berpikir: "Bun Tay-kun amat ketat mendidik keturunannya sedang persoalan, ini menyangkut soal muda mudi seng-ji (Hoa Thian- hong) dimasa mudanya, aku harus mengelabuhi beberapa bagian yang tak perlu dihadapan Liong-ji, tapi bagaimana aku harus mulai dengan jawabanku ?"

setelah termenung beberapa saat lamanya, Pek siau-thian menghela napas panjang dan menjawab.

"Dahulunya Giok-teng hujin juga merupakan anakbuah dari Kiu-im- kau, ketika itu ia sangat sayang terhadap ayahmu, hubungan mereka lebih akrab dari kakak beradik, sejak perkumpulan Kiu im-kau secara resmi munculkan diri lagi dalam selat Cu-bu-kok, ia selalu memusuhi ayahmu dan berusaha merampas pedang baja ayahmu."

sebagai seorang pemuda yang cerdas, tentu saja Hoa In- liong dapat menangkap maksud lain dibalik ucapan tersebut, ia lantas menyela..

"Tentang peristiwa perebutan pedang baja itu- Liong-ji sudah pernah tahu, pedang itu direbutkan karena dalam pedang tersebut disimpan sejilid kitab Kiam-keng yang lihay. Jadi kalau begitu tujuan Kiu-im kaucu melakukan penyiksaan Api dingin melelehkan sukma adalah untuk memaksa ayah untuk menyerah?" Pek siau thian mengangguk tanda membenarkan.

"Padahal pada waktu itu ayahmu sudah berhasil mendapatkan kitab Kiam-keng, sebagai seorang pendekar yang mengutamakan budi, dalam perkiraan Kiu-im kaucu jika ia gunakan siksaan yang keji untuk menyiksa Giok-teng hujin, maka bila ayahmu bertekuk lutut "

"Aaaah, sekarang, aku sudah paham" tiba-tiba Hoa In-liong berseru lantang, "tentunya ayahmu tak sudi menyerahkan pedang baja itu, maka Giok-teng hujin mendendam persoalan itu dalam hati kecilnya karena "

siapa tahu Pek siau thian gelengkan kepalanya sambil menukas:

" Keliru, keliru besar? Giok-teng hujin bukan perempuan biasa, cinta kasihnya terhadap ayahmu boleh diibaratkan tingginya langit dan tebalnya bumi, ia rela menderita siksaan yang lebih hebat sepuluh kali lipat lagi daripada menyaksikan ayah mu terhina dan tercela namanya"

Hoa In- liong jadi tertegun.

"Aaah... kalau memang begitu, kebanyakan "otak" dari pembunuhan berdarah itu adalah Kiu-im kaucu"

Pek siau-thian mengerutkan dahinya.

" Liong-ji, untuk menyelidiki siapakah otak dari pembunuhan berdarah ini, kau tak boleh memecahkannya berdasarkan dugaan, dengarkan dahulu penjelasanku lebih jauh"

sekali lagi Hoa In- liong tertegun- dengan wajah tercengang bercamcur curiga dia amati kakeknya.

setelah menghela nafas panjang, Pek siau-thian berkata lebih jauh:

"Menurut keterangan dari Cu-in Taysu, sebelum seseorang menjalankan siksaan api dingin melelehkan sukma, maka diulas dada sang korban akan ditaburi dulu dengan sejenis racun yang dinamakan Miat- ciat- im- leng (bubuk phospor pelenyap keturunan) , kemudian dengan menggunakan