Rahasia Hiolo Kumala Jilid 02

Jilid 02

"SETELAH kepergianmu mengarungi dunia persilatan, maka segala sesuatunya tergantung pada kemampuanmu sendiri, ketahuilah sekalipun engkau menghadapi mara bahaya, belum tentu kami dapat menyelamatkan jiwamu"

"Liong-ji mengerti dan Liong-ji akan baik-baik menjaga diri"

Mendadak terdengar suara langkah kaki berkumandang dari luar ruangan, menyusul suara Hoa Si menggema memecahkan kesunyian:

"Lapor nenek, cucunda injin berjumpa"

"Ada urusan apa?" tanya Bun Taykun. Sambil tetap berdiri di depan pintu, sahut Hoa Si:

"Mendengar dari ucapan Ngo-moay (adik kelima), katanya Ji-te ada urusan akan pergi jauh, cucunda..."

"Urusan itu tak ada sangkut pautnya dengan dirimu, kau boleh segera mengundurkan diri" bentak Bun Taykun.

Hoa Si tampak agak tertegun, tapi dengan cepat sahutnya: "Yaa nenek" ia putar badan dan segera mengundurkan diri.

Sepeninggal Hoa Si, Bun Taykun tundukkan kepalanya dan berpikir lagi beberapa waktu, kemudian sambil menatap wajah Hoa In-liong katanya:

"Sekarang coba pikirlah dengan teliti, apakah masih ada hal-hal yang mencurigakan, bila sudah tak ada lagi, kau boleh segera berangkat"

Tanpa berpikir panjang, sianak muda itu menjawab: "Liong-ji masih ada satu hal yang merasa kurang begitu paham"

"Dalam hal apa?"

"Apakah diantara suma siok-ya dengan Giok teng hujin mempunyai perselisihan atau dendam sakit hati??"

Bun Taykun segera menggeleng.

"sama sekali tak ada perselisihan atau dendam sakit hati, malahan pada hakekatnya suma siok-ya mu justru berhutang budi kepada Giok-teng hujin."

"Liong-ji ingin sekali berjumpa dengan Jin kokoh, ingin kutanya lagi dirinya dengan lebih seksama."

"Tak usah" tukas Bun Taykun dengan cepat. "apa yang dia ketahui telah kau ketahui semuanya"

Mendengar jawaban tersebut Hoa In-liong lantas berpikir dihati:

"Aku lihat dalam masalah ini banyak terdapat hal-hal yang mencurigakan serta bagian-bagian yang tidak jelas, kalau toh nenek tak mau memberi penjelasan, terpaksa aku harus melakukan penyelidikan sendiri ditempat luaran." Berpikir sampai disini, diapun lantas memberi hormat seraya berkata: "Apabila nenek tiada petunjuk lain, Liong-ji ingin segera mohon diri.."

"Cita cita seorang pria sejati berada di empat penjuru, melakukan perjalanan dalam dunia persilatan bukanlah suatu peristiwa yang besar, baik-baiklah menjaga diri"

Hoa In-liong mengiakan berulang kali, kemudian jatuhkan diri berlutut dan menyembah tiga kali.

Bun Taykun mengangguk, ia berpaling kearah Hoa Thian- hong dan berkata: "Hantar dia sampai diluar lembah, tak usah membuang banyak waktu lagi"

Buru-buru Hoa Thian-hong bangkit berdiri, sementara dua orang ibunya juga sudah menghampiri pemuda itu.

Pek Kun-gi dengan air mata bercucuran mengikatkan pedang putranya, sementara Chin Wan-hong menyerahkan tiga buah botol porselen kepada pemuda itu yang mana segera disimpan baik-baik dalam sakunya. setelah itu ia baru pamitan kepada kedua orang ibunya kemudian berlalu dari ruangan itu dengan mengikuti dibelakang ayahnya.

Dibawah pelataran samping, pengurus perkampungan Tiong Liau telah menyiapkan seekor kuda jempolan berwarna merah membara, Hoa si, Hoa Wi serta saudara-saudara lainnya berdiri menghantar disitu selain itu terdapat pula seorang dayang yang montok dan berparas cantik.

Hoa Thian-hong tidak berhenti disana, ia langsung menuju keluar perkampungan, melihat itu semua orangpun dengan mulut membungkam ikut menuju keluar perkampungan.

Dayang montok yang berwajah cantik itu bernama Pek Giok. dia adalah dayang kepercayaan dari Pek Kun-gi menggunakan kesempatan yang ada diam-diam ia mendekati Hoa In-liong, kemudian sambil mengangsurkan kipas indah, bisiknya lirih:

"Dalam buntalan diatas kuda terdapat seuntai mutiara, ditaksir harganya mencapai tiga ribu tali emas, sewaktu bermalam dan bersantap harap siau koan-jin baik-baik menjaga diri"

Hoa-In-liong melirik sekejap kearah ayahnya yang berjalan di depan, lalu memberi tanda kepada Pek Giok untuk memperkecil bisiknya.

selang sesaat kemudian mereka sudah tiba diluar pintu perkampungan, waktu itu pelbagai pikiran sedang berkecamuk dalam benak Hoa Thian hong, ditambah pula menyaksikan gaya Hoa In liong yang mirip anak hartawan itu, sikapnya yang begitu acuh tak acuh membuat ia semakin murung.

Akhirnya sambil ulapkan tangannya, ia berseru: "Hayo naik kuda dan berangkat, aku tidak akan

menghantar engkau lebih jauh lagi"

Dalam perkiraan Hoa-In liong, sebelum berangkat ayahnya pasti akan melontarkan pelbagai nasehat dan peringatan yang kurang sedap didengar, apa mau dikata ternyata dugaan itu sama sekali meleset, bukan saja ayahnya tidak mengucapkan sesuatu, malahan menyuruh dia cepat-cepat berangkat. Tindakan ini membuat perasaan jauh lebih lega, cepat dia berpamitan kepada ayahnya, kemudian melompat naik ke atas kuda dan melarikannya cepat cepat...

Beberapa hari kemudian ketika senja baru tiba, Hoa In- liong, tuan muda nomor dua dari perkampungan Liok-soat- san-ceng telah muncul diluar pintu utara kota Lam-yang-hu.

Meskipun dandanan sianak muda itu amat sederhana, namun keserhanaan itu tak dapat menutupi ketampanan wajahnya. Pedang yang tersoren, kuda yang jempolan serta kipas yang mahal harganya membuat dandanan pemuda itu tak ubahnya seperti dandanan seorang putra pembesar atau seorang putra usahawan kaya raya, wajahnya sedikit pun tidak nampak letih walaupun baru saja menempuh perjalanan yang sangatjauh.

Waktu itu malam sudah menjelang tiba, lampu lentera yang terang benderang telah menghiasi setiap rumah dalam kota itu sambil menjalankan kudanya perlahan-lahan, pemuda itu menikmati keindahan malam yang sejuk dengan senyuman dikulum.

Ramai sekali manusia yang berlalu lalang dalam kota itu, sebagaimana tuannya, kuda itupUn berjalan dengan gagah perkasa, suara keleningan yang berbunyi tang-ting tang-ting mendatangkan suatu kewibawaan yang membuat orang tak berani beradu pandang dengan mereka.

selang sesaat kemudian, kuda merah yang tinggi besar itu berhenti didepan pintu gerbang sebuah rumah penginapan yang memakai merek "Ko-seng-kek" dengan dikerumuni oleh pelayan, Hoa ln-liongpun dipersilahkan untuk masuk kedalam.

Ko-seng-kek merupakan rumah penginapan mewah yang terbagus dan terindah di kota Lam-yang shia, setelah mendapat kamar dan cuci muka, hidanganpun telah datang.

sebelum pelayan tersebut mengundurkan diri dari kamarnya, tiba tiba Hoa In-liong menggape sembari berkata:

"Pelayan, jangan pergi dulu, aku hendak mengajukan satu pertanyaan kepadamu" Pelayan itu tertawa paksa, sambil menghampiri tanyanya: "Kongcu-ya ingin bertanya apa??"

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, ia teguk dulu isi cawannya satu tegukan, kemudian baru sahutnya: "Aku ingin mencari tahu tentang diri seseorang "

"0oooh siapa yang hendak kongcu-ya cari??" senyum

yang menghiasi wajah pelayan itu semakin dibuat buat.

" orang itu bukan manusia sembarangan, dia punya nama besar yang amat tersohor dikota ini, she-suma dan bernama Tiang-cing. "

"Kongcu-ya " mendadak pelayan itu berseru dengan tergagap. paras mukanya berubah hebat.

Hoa In-liong menunjukkan sikap yang keren kembali bentaknya dengan keras: "Gampangnya saja, katakan rumah kediaman dari suma wangwe?"

Pelayan itu agak tertegun, akhirnya ia berbisik dengan lirih: "Dijalan besar sebelah timur, keluar dari pintu berbelok

kekanan, jalanan ketiga itulah letaknya didepan rumahnya." " Cukup," tukas Hoa In-liong sambil ulapkan tangannya.

Kemudian ia serahkan sekeping perak kepada pelayan itu sambil menambahkan: "ltu, ambillah persen buatmu"

Betapa gembiranya pelayan itu menerima persenan, sambil mengucapkan banyak terima kasih dia mengundurkan diri dari situ.

sambil bersantap dan minum arak Hoa In-liong diam-diam memutar otak memikirkan persoalan itu, batinnya:

"Berita tentang terbunuhnya suma siok-ya sudah tersebar luas diseluruh kolong langit, tentu kejadian itu merupakan berita yang sangat menggemparkan kota Lam-yang-shia ini, aaai banyak manusia banyak ragam pula ceritanya, entah

siapa yang benar entah siapa yang salah, semua orang tak tahu siapakah pembunuh yang sebenarnya, tampaknya untuk menemukan siapa pembunuh yang sebenarnya bukanlah suatu pekerjaan yang terlalu gampang. "

Kentongan ketiga baru saja lewat, suara kentongan baru kedengaran berkumandang dari tengah jalan, Hoa-In-liong segera menggembel pedangnya dipunggung, menutup pintu kamarnya dan diam-diam menyelinap keluar dari penginapan tersebut menuju kejalan raya sebelah timur.

selang sesaat kemudian, ia sudah menemukan gedung tempat tinggal dari suma Thiang-cing, dengan gerakan yang enteng pemuda itu melayang masuk kedalam halaman rumahnya.

Gedung itu gelap gulita dan sunyi senyap tak kedengaran sedikit suarapun, begitu heningnya sehingga mendatangkan perasaan seram dan bergidik bagi siapapun yang mendekati gedung tersebut.

Hoa-In-liong berputar menuju ke bangunan sebelah belakang, setelah berputar satu lingkaran dan membuktikan kalau isi gedung itu benar-benar kosong, dia baru berputar kembali keruang depan dan membuka pintu.

Ruang dalam itu gelap gulita, bau minyak cati dan batu kapur yang tajam tersiar keluar dari ruangan tersebut, baunya tak enak dan sangat menusuk hidung.

Pemuda itu seakan-akan mencium bau kematian, bau elmaut yang menyeramkan, membuat sekujur tubuhnya bergidik dan bulu kuduknya pada bangun berdiri, serentak ia ambil keluar api dan memasang ober.

sinar terang memancar keempat penjuru, mengusir kegelapan yang mencekam ruangan tersebut, pandangannya yang pertama terbentur pada sebuah kain horden yang terkulai jatuh kebawah lantai, dibalik horden tersebut terbujurlah dua buah peti mati.

Didepan horden terletak sebuah meja sembahyangan disitu terletak papan nama dari suma Tiang-cing suami istri, disampingnya terletak sebuah lampu lentera, ketika lentera tersebut diamati ternyata minyaknya sudah kering, disisi lain terdapat tempat lilin, cuma lilinnya sudah habis dan tinggal dua gumpalan ampas lilin yang membeku.

Hoa In-liong berulang kali mengerutkan keningnya, dengan tatapan tajam ia menyapu kembali sekeliling tempat itu, dilantai ia temukan setumpuk uang kertas emas dan perak yang belum habis terbakar, maka dia lantas menyulut kertas- kertas itu dan membakarnya, cahaya api yang berkobar digunakan sebagai sinar penerangan.

suma Tian-cing bergelar Kiu-mia-kiam-kek (jago pedang berjiwa sembilan), semenjak masih muda sudah mempunyai nama yang amat tersohor, dia adalah saudara angkat dari kakek Hoa In-liong.

Diam-diam pemuda itu berpikir lagi: "Bagaimanapunjuga toh aku sudah sampai disini, sudah

sepantasnya kalau kusumbang dan ku hormati lelayon mereka"

Karena berpendapat begitu, maka diapun menjatuhkan diri berlutut didepan peti mati itu dan menyembahnya beberapa kali.

sianak muda itu ingin mengucapkan sepatah dua patah kata doa, tapi oleh karena kertas uang itu sudah habis dan apipun akan padam, cepat ia bangkit dan mengambil kertas uang lagi untuk membakarnya.

"Blaaang...," tiba-tiba berkumandang suara benturan keras, pintu ruangan terhembus angin hingga terpentang lebar, angin dingin yang sangat menggidikan berhembus masuk ke dalam ruangan mengobrak-abrik kertas uang yang akan dibakar itu hingga tersebar ke empat penjuru, kobaran apipun seketika menjadi padam.

Hoa-In-liong sangat terperanjat, timbul rasa bergidik dalam hati kecilnya, disaat abu kertas uang beterbangan d iempat penjuru dan jilatan api hampir padam, tiba-tiba ia menemukan sesuatu, hampir saja ia menjerit kaget.

sesosok bayangan manusia muncul dari balik kain horden, bayangan itu berwarna putih dan jelas seorang perempuan... dia berdiri kaku disamping peti mati tersebut.

Cepat Hoa In-liong menekan perasaan ngerinya, sambil berusaha untuk menenangkan diri dan menyeka keringat dingin pada telapak tangannya menegur: "siapa yang berada di belakang horden sana?" suasana hening sesaat, kemudian dari balik kain horden muncul suara jawaban, suara itu memilukan hati:

"Aku yang rendah adalah Yu-si, boleh aku tahu siapa nama kongcu?"

"Aku bernama Hoa Yang, berasal dari perkampungan Liok- soat-san-ceng..." sahut pemuda itu berkerut kening.

"oooh, kiranya ji-kongcu yang telah datang"

Cahaya api berkilat menerangi seluruh ruangan dari belakang kain horden itu perlahan-lahan muncul seorang nyonya berbaju kabung putih, mukanya murung dan penuh diliputi kesedihan.

Perempuan itu masih muda dan sedang mencapai usia mekar-mekarnya bunga, cantik jelita paras muka perempuan itu, meski memakai baju berkabung yang serba putih, namun tidak menutupi kecantikannya wajahnya yang menawan hati.

Waktu itu Hoa In-liong berdiri didepan meja sembahyangan, ketika ia menatap kemuka, tampaklah Yu-si berdiri dengan tangan kanan memegang lampu lentera, tangan kiri membopong sesosok makhluk seperti bayi, satu ingatan cepat melintas dalam benaknya:

"Nyonya yang mengaku she-Yu ini mengenakan pakaian berkabung yang lengkap. itu menunjukkan kalau dia masih sanak keluarga dari su ma siok-ya, lalu bayi siapa yang dibopongnya itu, apa bayinya suma siok-ya dengan perempuan ini?

sementara sianak muda itu masih termenung, Yu-si telah meletakkan lampu lentera itu, diatas meja kemudian perlahan- lahan memutar badan.

Hoa In-liong segera mengalihkan sorot matanya kearah "bayi" yang berada dalam pelukan nyoaya itu, tapi apa yang dia lihat? Hampir saja pemuda itu meloncat saking kaget.

Makhluk kecil yang dibopong nyonya Yu itu bukan bayi apa yang dia sangka, tapi makhluk ke cii itu tak lain adalah seekor kucing, seekor kucing berwarna hitam pekat.

Bulu kucing itu hitam gelap dan bersinar mengkilat begitu hitamnya sehingga boleh dibilang tak ada warna lainnya, dibawah sorot cahaya lampu, tampaklah sepasang biji matanya yang berwarna emas memandang kesana kemari dengan jelalatan. sementara itu Nyonya Yu sudah memberi hormat sambil menegur:

"Ji-kongcu, apakah kedatanganmu kemari adalah lantaran mendapat tugas dari orang tuamu?"

Hoa In-liong menenang kang perasaan hatinya yang kalut, kemudian balas menghormat.

"Betul, aku mendapat perintah dari ayahku untuk datang memberi hormat kepada lelayonnya suma siok-ya"

"Apakah nona kami juga sudah tiba diperkampungan Liok- soat-san-cung??"

Hoa In-liong mengangguk.

"suma kokoh sudah sampai disana, boleh aku tahu apa hubungan nyonya dengan suma siok-ya ku itu?"

Nyonya Yu menatap sekejap kearah pemuda itu lalu sambil menundukkan kepalanya ia menjawab: "Aku yang rendah adalah bini peliharaan dari lo-wangwe"

"ooooh Rupanya dia adalah gundiknya suma siok-ya." begitulah Hoi In-liong membatin,

"yaaa... memang tak bisa disalahkan kalau suma siok-ya pelihara gundik, habis dia sangat menginginkan anak laki, tapi istrinya melahirkan seorang putri dan kemudian tak punya anak lagi, siapa tahu dari gundiknya ini ia bisa beranak lagi..."

setelah mengetahui kalau nyonya itu adalah istri muda suma siok-yanya, kembali pemuda itu memberi hormat.

"Aaah... rupanya engkau adalah Ji-hujin (nyonya kedua), maaf bilamana boanpwe kurang hormat kepadamu"

"Aku yang rendah tak berani menerima penghormatan sebesar ini dari ji kongcu" Hoa-In-liong termenung dan berpikir sebentar kemudian tanyanya lagi: "Apakah dalam gedung ini hanya tinggal ji hujin seorang diri?"

Nyonya Yu menghela napas panjang, "Aaaai... sebelum nona meninggalkan rumah, semua dayang dan pelayan telah ia bubarkan, oleh karena aku yang rendah masih teringat oleh budi kebaikan dari lo-wangwe maka kuputuskan untuk tetap menjaga lelayonnya seorang diri"

Ji-hujin dapat mengingat kebaikan orang, sungguh hal ini merupakan suatu sikap yang baik, boanpwe merasa kagum sekali, kata pemuda itu makin menghormat.

Kembali Nyonya Yu menghela napas panjang, ia seperti hendak mengucapkan kata-kata merendah tapi niat tersebut akhirnya diurungkan, kepalanya ditundukkan rendah-rendah, lama sekali baru katanya lagi:

"Ji-kongcu, maksud kedatanganmu kemari kecuali untuk menghormati jenasah dari lo wangwe kami ini, apakah masih ada urusan yang lain"

"Boanpwe mendapat tugas dari ayahku untuk menyambangi jenasah suma siok-ya, selain itu juga hendak mencari tahu siapakah pembunuh yang telah menghabisi nyawa suma siok-ya kami itu"

"Jadi Hoa tayhiap tidak turun tangan sendiri untuk mengatasi peristiwa ini?" tanya nyonya Yu dengan dahi berkerut.

"Ayah telah serahkan tanggung jawab ini kepada boanpwe, jadi boanpwelah yang akan mewakili dia orang tua untuk mencari tahu siapa gerangan pembunuh sadis itu"

Suatu perobahan yang sangat aneh menghiasi paras muka nyonya Yu sehabis ia mendengar perkataan tersebut, tapi hanya sebentar saja sikap aneh itu sudah lenyap kembali tak berbekas, sebagai gantinya ia tunjukkan kembali wajah yang kesal dan murung.

Melihat itu Hoa In-liong berpikir dalam hati:

"la nampak murung sekali, pastilah dia anggap aku terlalu muda dan kepandaianku terbatas, maka tugas berat ini tak dapat kupikul "

sementara masih termenung, tiba tiba pemuda itu merasakan sesuatu yang aneh, ia merasa kucing hitam yang berada dalam pelukan nyonya Yusedaag mengawasi dirinya tajam-tajam, sinar mata berwarna keemas-emasan itu melotot kearahnya dengan penuh sikap permusuhan, hal ini lantas menggerakkan hatinya. Ia tertawa nyaring, kemudian menegur. "Rupanya nyonya suka dengan kucing?"

"Aaai... Rumah hancur manusia pada binasa, sekarang aku hidup sebatang kara, Hek-ji inilah satu satunya sahabat karibku"

"oooh... rupanya kucing hitam itupun punya nama benar- benar menarik hati..." pikir pemuda itu

Terdengar nyonya Yu berkata lebih jauh:

"Lo-wangwe kami adalah seorang pendekar besar yang kenamaan dalam dunia persilatan, meskipun ilmu silat yang dimilikinya belum setanding dengan kehebatan ayahmu, akan tetapi ia terhitung juga seorang tokoh silat kelas satu dalam dunia persilatan, itu berarti pula bahwa orang yang bisa membunuh wangwe kami pastilah bukan manusia sembarangan. sekarang, Hoa tayhiap tak sudi turun tangan sendiri melainkan hanya mengutus ji kongcu untuk menyelidiki persoalan ini, apakah hal ini..."

tampaknya perempuan itu tak ingin banyak bicara, belum selesai ucapan tersebut, tiba tiba dia menghela nafas dan membungkam...

Mendengar ucapan tersebut, Hoa In-liong segera tersenyum, katanya:

"Tentang soal ini nyonya tak perlu kuatir, kendatipun boanpwe bodoh dan tak berkemampuan apa-apa, akan kucoba untuk menggunakan segenap kemampuan yang kumiliki untuk memecahkan misteri ini, dan aku percaya tugas ini pasti dapat ku laksanakan dengan baik." 

"Aaai..." nyonya Yu menghela nafas lagi " Kalau toh ji- kongcu sudah mempunyai keyakinan setebal itu, aku yang rendahpun tidak akan banyak bicara lagi"

"Semoga nyonya suka memberi petunjuk kepadaku" "Hmmm Apa yang kuketahui terbatas sekali dan aku rasa

nona kamipun tentu sudah menceritakan segala sesuatunya kepadamu" sahut nyonya Yu dingin.

Hoa In liong dapat memaklumi keketusan orang ia berpikir: "Biasanya, kalau seseorang baru ketimpa bencana maka wataknya jadi lebih kasar dan berangasan demikian pula dengan nyonya Yu ini, maklum kalau ia begitu kasar dan dingin sikapnya padaku "

Karena berpikir begitu, maka diapun berkata. "Menurut apa yang berhasil boanpwe dengan katanya

sebab kematian yang menimpa suma siok ya adalah bekas gigitan yang berada pada tenggorokannya "

"Nyonyapun mengalami nasib yang sama." nyonya Yu menambahkan dengan cepat.

"Mumpung tutup peti mati belum dipaku, ingin sekali boanpwe periksa keadaan luka yang berada pada teng gorokan mereka"

"Silahkan" kata nyonya Yu hambar, "yang ada disebelah kiri adalah jenasah dari nyonya"

seraya berkata dia ambil kembali lampu lentera itu dari meja, kemudian menghampiri peti mati itu.

Hoa In Liong sendiripun tidak sungkan-sungkan ia menghampiri peti mati yang ada disebelah kiri, sepasang tangannya lantas mencengkeram tutup peti mati itu dan siap membukanya .

Ketika itu nyonya Yu berada disebelah kanan Han in-liong, tangan kirinya masih membopong Hek-ji kucing hitam itu, sedang lentera ditangan kanannya dipegang tinggi-tinggi.

Mendadak sianak muda itu membatalkan niatnya untuk membuka, sebab secara tiba-tiba ia mengendus sesuatu, mengendus bau harum pupur yang tipis tapi cukup menarik perhatiannya.

Pupur tersebut adalah sejenis pupur keraton yang mahal harganya, tidak sembarangan orang bisa memakai pupur seperti itu, dan lagi sekalipun punya uang banyak belum tentu orang bisa mendapatkannya.

Hoa In-liong berasal dari keluarga kenamaan, sejak kecil ia sudah romantis dan paling suka bermain dan bergaul dengan kaum hawa yang suka memakai pupur wangi seperti itu, maka dengan sendirinya diapun ahli sekali dalam soal jenis pupur yang sering dipakai kaum hawa.

Ia tampak agak tertegun, ketika coba diperiksa asal mula bau tersebut, segera ditemuinya bahwa bau itu berasal dari tubuh nyonya Yu, ini membuat anak muda kita diam diam tertawa geli, batinnya:

"Tak heran kalau nyonya Yu bisa menarik perhatian suma siok-ya sehingga akhirnya dikawini menjadi istri mudanya, memang perempuan ini memiliki kelebihan dari pada perempuan biasa "

sementara ia masih termenung, tiba-tiba nyonya Yu berkata lagi: "Ji-kongcu, kenapa engkau ragu ragu ?"

Hoa-In liong tertawa tawa, hawa murninya lantas disalurkan kedalam telapak tangan dan sekuat tenaga ia coba mengangkat tutup peti mati itu. Mendadak. satu ingatan

kembali melintas dalam benaknya:

"Aaai tidak benar gejala ini Kalau toh nyonya Yu benar-

benar berkabung oleh karena kematian suaminya, mengapa ia masih memakai pupur wangi. Padahal suma siok ya sudah mati belasan hari, sekalipun masih ada sisa baupupur dari tubuhnya, tak mungkin kalau bau tersebut seharum dan setajam ini jelas pupur itu belum lama dipakai pada

tubuhnya."

Menyusul kemudian ia berpikir lebih lanjut:

" Eehmm kalau kuteliti pula sikap serta gerak geriknya,

gejala ini makin tak beres, kalau toh perempuan ini benar- benar bersedih hati karena kematian suaminya, maka dia tak akan memusingkan masalah lain, jangankan memakai pupur, sisir rambutpun belum tentu berminat tapi sekarang, bukan

saja nyonya Yu mengenakan pupur wangi, diapun kesana kemari membopong kucing hitam, macam apakah itu??"

Pada dasarnya Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang aneh, kalau toh pada mulanya ia belum curiga maka segala sesuatunya tidak terpikir olehnya, tapi sekarang, setelah timbul kecurigaan dalam hati kecilnya, serta merta banyak hal yang tak beres ditemukan secara beruntun, dia merasa makin diperhatikan semakin banyak persoalan yang berlawanan dengan keadaan pada umumnya.

sementara itu nyonya Yu sudah berkata lagi sambil menghela nafas:

"Keadaan lo-wangwe menjelang saat ajalnya mengerikan sekali, lebih baik ji-kongcu tak usah melihatnya lagi"

"Benar Benar, perkataan nyonya memang sangat tepat" sahut Hoa In-liong sambil mengangguk berulang kali.

Tiba-tiba dia alihkan pokok pembicaraan kesoal lain katanya:

"sepantasnya kalau dalam ruangan sembahyangan ini diberi serentetan lampu lentera yang bersusun-susun, kenapa tak ada benda tersebut ditempat ini ?"

Mula-mula nyonya Yu agak tertegun, menyusul kemudian sambil menghela napas sedih sahutnya:

"setelah terjadinya peristiwa ini, aku yang rendah dibikin kalang kabut dan kebingungan sendiri, sampai segala sesuatunya jadi kelupakan., aaai maklumlah kalau orang lagi kesusahan"

"sekalipun kau lagi berpura-pura, sepantasnya kalau air matamu ikut perkuat sandiwaramu itu." pikir Hoa In-liong dihati, "masa bodoh sampai detik ini tak kulihat engkau mengucurkan air mata kan aneh toh kalau seorang istri

walaupun cuma istri muda tidak melelehkan air mata karena kematian suaminya "

Tiba-tiba ia membentak keras:

" Nyonya, hati-hatilah kau, boanpwe akan membuka peti mati ini" sekali disendat, tutup peti mati itu segera terangkat olehnya,

setelah tutup peti mati itu terbuka, bau kapur segera tersebar keempat penjuru diantara bau kapur yang tajam dan menusuk penciuman itu secara lapat-lapat terselip bau harum bunga yang tipis,

Perlu diketahui daya penciuman Hoa In-liong sangat tajam dan melebihi daya penciuman siapa pun, begitu tercium bau campur aduk yang aneh dan tak sedap itu, pikirannya lantas terbuka dan menjadi terang, cepat dia berteriak dengan logat yang aneh: "Aduuuuh mak. harum sungguh harum"

sengaja ia mengeryitkan hidungnya dan tarik napas panjang beberapa kali.

Nyonya Yu tertegun menyaksikan peristiwa itu dia heran mengapa hawa racun yang tersiar keluar dari balik peti mati itu tidak berhasil merobohkan pemuda tersebut

Dalam kagetnya telapak tangan kanannya segera ditekan kebawah, lalu menghantam batok kepala Hoa In-liong dengan lampu lentera, sementara kaki kirinya melancarkan sebuah tendangan kilat kearah pinggang sianak muda itu.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dia putar telapak tangan kanannya dan secara tiba-tiba mencengkeram lengan nyonya Yu, kemudian menyeret perempuan itu dan ditekannya kedalam peti mati tersebut.

sejak penutup peti mati itu dibaka, nyonya yu sudah menutup semua pernapasannya,

tapi sekarang oleh karena lengannya yang dicengkeram terasa amat sakit, dalam kaget dan cemasnya dia menjerit tertahan, serta merta hawa racun itu terkesiap masuk ke lubang hidungnya, kontan saja perempuan itu roboh tak sadarkan diri

semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata baru saja Hoa In liong menaklukkan nyonya yu, tiba-tiba terasa segulung desingan angin tajam menyergap punggungnya dari belakang.

Sungguh kaget dan tercekat hati Hoa-In-liong untung dalam gugUp dan cemasnya ia tak sampai gelagapan secepat kilat badannya msnyusup ke arah samping untuk menghindar.

"Breeet " kendatipun pemuda itu sudah menghindar

dengan cepat, tak urung robek juga sebagian baju yang dikenakannya.

sementara itu suasana dalam ruangan tengah jadi gelap gulita, sukar melihat kelima jari tangan sendiri, sebelum Hoa In liong sempat berdiri tegak. desingan angin tajam itu kembali menyergap dari belakang. Buru-buru sianak muda itu berkelit kesamping dengan manis ia menghindarkan diri dari sergapan maut itu.

sebagai keturunan jago kenamaan, Hoa-In-liong memang cukup mengagumkan, kendatipun harus bertarung ditengah kegelapan yang sukar untuk melihat kelima jari tangan sendiri, dia masih sanggup untuk melayani dengan sebaik-baiknya.

Detik itu juga, ia dapat mengetahui siapakah penyergapnya itu, ternyata "Dia" tak lain adalah "Hek-ji" kucing hitam yang berada dalam bopongan nyonya Yu tadi.

Rasa mangkel, jengkel dan geli bercampur aduk dalam hati pemuda itu, tatKala untuk ketiga kalinya kerlipan sinar tajam itu menyusup datang segera ia berkelit kesamping, lalu melancarkan sebuah tendangan kilat ketubuh kucing itu.

Kalau lawannya hanya kucing biasa, tendangan itu niscaya akan menghancur lumatkan tubuhnya tetapi kucing ini bukan kucing sembarangan, kucing hitam ini keluaran wilayah se-ih yang termasuk sejenis makhluk buas, karena sudah mendadak pendidikan yang lama, maka tubrukan serta sergapannya secepat kilat dan jarang meleset dari sasarannya.

Baru saja Hoa In liong melepaskan tendangan itu gagal mencapai sasaran, malahan sekarang kucing hitam itu menerjang paha kanannya.

si anak muda itu tertawa terbahak-bahak, "Haaahhh....haaahhh...haahhh binatang cilik hari ini saya

akan menangkapmu hidup-hidup "

Timbul kembali sifat kekanak kanakannya dalam hati kecil pemuda ini, tiba-tiba ia bertekuk lutut dan berjongkok kebawah, sementara tangan kirinya meraba pakaiannya yang robek tercakar tangan kanan yang menganggur secepat sambaran petir mencengkeram leher kucing hitam itu.

Tiba-tiba dari balik horden berkumandang suara suitan

tajam yang tinggi melengking.

suitan tajam itu sangat pendek tapi nyaring, begitu mendengar suitan tersebut, Hek-ji segera mendekam di tanah, lalu menyusup masuk kebalik horden.

"Bangsat mau kabur kemana?" bentak Hoa in liong. Ia menerkam kedepan, ekor Hek-ji lantas di sambarnya dengan cepat, apa mau dikata tiba-tiba Hek-ji putar badannya sambil menggigit.

Sianak muda itu jadi amat terperanjat sambil menjerit kaget ia tarik kembali tangannya kebelakang.

suara langkah kaki manusia bergema dari belakang bangunan, sekejap kemudian suasana pulih kembali dalam kesunyian.

secepat sambaran petir Hoa In-liong menerjang kedepan, ia temukan dibalik horden terdapat sebuah pintu kecil, dibalik pintu terdapat sebuah lorong yang panjang, ketika dia mengejar sampai kedalam lorong itu, bayangan musuh sudah lenyap tak berbekas, Hek-ji si kucing hitam-pun lenyap entah kemana perginya.

Kejadian ini membuat Hoa in-liong jadi terperangah, ia mencoba untuk memeriksa keadaan dl sekitar tempat itu namun tidak berhasil menemukan sesuatu, tiba-tiba teringat kembali akan perempuan " nyonya Yu" yang masih pingsan ditepi peti mati.

Cepat-cepat pemuda itu kabur kembali keruang tengah, setelah pasang lentera diperiksanya sekitar sana, namun apa yang dilihat hanya peti mati belaka, sedangkan nyonya Yu entah sedari kapan telah dibawa kabur oleh rekan-rekannya.

Tutup peti mati itu masih terbuka, bau kapur yang tajam bercampur harum bunga kui yang tipis menciptakan suatu campuran bau yang aneh memuakkan dan bikin orang pingin muntah.

sambil menutup pernafasannya Hoa in-liong mendekati peti mati itu dan melongok kedalam, jenasah suma Tiang-cing telah di make-up sehingga tidak nampak sesuatu yang aneh atau mencurigakan.

Ketika pemuda itu menyingkap bajunya, maka tampaklah pada tenggorokannya terdapat

sebuah lubang sebesar cawan arak. disekitar lubang itu tertera nyata bekas gigitan yang tajam dan rata, sudah pasti bekas gigitan dari sebangsa makhluk binatang buas, karena saluran pernafasannya telah tergigit putus, tentu saja korbannya mati sesak nafas.

"sreeeett..." tiba tiba muncul lagi sesosok bayangan manusia, bayangan itu keluar dari bawah kolong meja, dengan kecepatan seperti anak panah yang terlepas dari busurnya ia melayang ke udara kemudian kabur menuju keluar pintu, Hoa In-liong segera tertawa tergelak katanya: "Haaahhh..,.haaahhhh....haaahhh nyali kalian memang

benar-bsnar besar sekali, Hmm Apakah tindakanmu itu tidak kelewat pandang rendah jiwa mu?"

Tidak menunggu sampai menutup kembali peti mati itu, ia lantas melompat keudara dan secepat kilat meluncur ke muka melakukan pengejaran.

Dibawah cahaya bintang, tampaklah bayangan itu mempunyai tubuh yang ramping menawan hati, ia mengenakan baju ketat warna hitam gelap. sebilah pedang pendek tersoren dipinggang, usianya masih amat muda, dari gadis ini berparas cantik.

Hoa In-liong melompat dia mengejar dengan cepatnya, dalam beberapa kali lompatan ia sudah mencapai disamping dara tersebut, sambil menepuk bahunya pemuda itu menegur: "Hey, kenapa tidak segera berhenti?^

Dengan langkah sempoyongan gadis itu maju beberapa langkah lagi kedepan hampir saja ia jatuh terjengkang keatas tanah, untungnya didepan sana adalah sebuah dinding pekarangan, cepat ia memegang dinding tersebut sehingga tubuhnya tak sampai jatuh tertelungkup.

Tiba-tiba ia mengambil keluar secarik sapu tangan dan menutupi bibirnya yang kecil, kemudian berbatuk-batuk keras sampai air matapun ikut jatuh berlinang.

Kiranya gadis itu bersembunyi di bawah meja sembahyangan sambil menutup napas, karena letaknya tertutup oleh kain, kolong meja sembahyangan memang merupakan tempat persembunyian yang sukar ditemukan orang. Tetapi karena terlalu lama menahan panas, dan lagi hawa racun yang tersebar keluar dari peti mati itu kian lama kian menebal, akhirnya gadis itu tak sanggup mengendalikan diri lagi, ia dipaksa untuk meninggalkan tempat persembunyiannya guna menghirup udara segar.

Dalam pada itu Hoa In liong telah mengawasi gadis baju hitam itu dengan pandangan tak ber kedip. diam diam ia membatin:

Dara ini punya pinggang yang ramping, tubuh yang tinggi semampai serta kulit yang putih halus eehm, memang tak

salah lagi kalau disebut gadis cantik bak bidadari dari kahyangan"

Meskipun dalam hati ia sedang berpikir, mulutnya tidak membungkam, tegurnya sambil tertawa:

"Eeh.... eeh , kenapa kok menangis? aku toh tidak sampai

melukai dirimu mau apa kau mengucurkan air mata?" semu merah selembar wajah dara baju hitam itu,

mendadak ia cabut keluar pedang pendeknya lalu berseru dengan suara dalam:

" Nona mu sama sekali tak ada hubungannya dengan kematian dari anggota keluarga suma, keadaan kita ibaratnya air sungai yang tidak melanggar air sumur, biarkanlah aku pergi dari sini."

"Haaahhh... haaahhh haaahhh kalau toh engkau tak ada

sangkut pautnya dengan peristiwa pembunuhan ini mau apa kau bersembunyi di bawah kolong meja sembahyangan?"

Gadis berbaju hitam itu mendengus dingin, ia melejit dan melayang kearah pintu gerbang.

sekali lagi Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. "Haaahh... haaah... haaaah kau toh belum menjelaskan

duduknya persoalan, mau apa buru buru pergi dari sini??" sekali melompat, ia sudah menghadang kembali jalan pergi

dari dara baju hitam itu.

Agaknya gadis berbaju hitam itu sudah menduga bahwa musuhnya bakal berbuat demikian, pedang pendek yang sudah diloloskan mendadak ditusuk kedepan, bersamaan itu pula sepasang kakinya menjejak tanah dan melayang keudara, kemudian meluncur melewati tembok pekarangan.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. ditengah gelak tertawa yang amat nyaring itu, ia melancarkan sebuah cengkeraman dan menangkap ujung pedang pendek itu.

Kilatan cahaya tajam memancar keluar dari balik pedang pendek itu, memang senjata itu merupakan sebilah pedang mustika yang tajam sekali, namun dalam cekalan Hoa In-liong seakan-akan pedang mustika itu bukan sebuah senjata yang tajam melainkan cuma pedang kayu yang tumpul.

Padahal waktu itu gadis baju hitam tadi sedang melambung diudara, karena merasa berat hati untuk membuang senjatanya, terpaksa dia tarik nafas panjang dan melayang kembali ketanah.

Karena gadis itu sudah melayang turun, maka Hoa in-liong pun melepaskan cengkeramannya ia tertawa lalu berkata: "Nona bolehkah aku tahu siapa nama nona?"

Kejut dan gelisah bercampur aduk dalam hati gadis baju hitam itu, bukan menjawab ia malah berseru dengan marah:

"Berulang kali aku kan sudah menerangkan bahwa aku sama sekali tak tersangkut dengan peristiwa pembunuhan atas keluarga suma, buat apa engkau musti banyak bertanya?"

Hoa In-liong tidak marah, meskipun nada gadis itu kasar malahan dengan senyum dikulum ujarnya:

"Selama hidup aku paling suka berhubungan dengan anak gadis, bila nona tidak memberi penjelasan seterang- terangnya, jangan harap bisa tinggalkan tempat ini dengan begitu saja"

Gadis berbaju hitam itu agak tertegun, lalu makinya: "Huuh, katanya saja keturunan dari keluarga kenamaan tak

tahunya cuma manusia tengik yang suka menggoda kaum lemah."

"Haaah haaah haah kalau kakakku. memang keturunan tulen dari keluarga kenamaan, sedangkan adikku Hoa Wijuga benar-benar seorang keturunan keluarga bernama besar, sedangkan aku sendiri...haaah...haaahh "

"Kenapa dengan kau?" seni gadis itu ketus. Dengan wajah bersungguh sungguh Hoa in-liong berkata:

"Aku tak pernah memperdulikan ocehan orang lain, watakku paling aneh dan aku paling suka berbuat sesuatu menurut suara hatiku sendiri, nona manis wahai nona

manis setelah kau terjatuh ketangan Hoa jiya, maka itu

sama artinya bahwa kau bakal sial"

Perkataan itu membuat gadis baju hitam tersebut jadi melengak. la lantas berpikir:

"orang she-Hoa ini memang kukoay dan anehnya luar biasa, ia berilmu silat tinggi, jelas aku bukan tandingannya, mau kabur juga tidak bisa bagaimana aku sekarang ? Apa

yang harus kulakukan??"

otaknya berputar keras dan berusaha untuk menemukan jalan untuk melarikan diri, Mendadak. satu perasaan aneh muncul dalam hati kecilnya, merah padam selembar wajahnya, dengan wajah kemalu-maluan ia tundukkan kepalanya rendah-rendah.

sebagaimana diketahui, Hoa In-liong adalah seorang pemuda yang sangat tampan, ketampanannya begitu menawan hati membuat setiap nona yang bertemu dengannya boleh dibilang lebih banyak terpikat daripada tidak.

Kebetulan dara berbaju hitam itu sudah mencapai usia dewasa, dan lagi semenjak kecil jarang bergaul dengan kaum lelaki lawan jenisnya, maka sewaktu ia merasa bahwa pihak lawannya adalah seorang pemuda yang sangat tampan, serta merta hatinya yang baru mekar jadi terpikat, kontan saja jantungnya berdebar keras, suatu perasaan jengah yang aneh muncul dari hati kecilnya.

Melihat keadaan sang dara itu, Hoa In-liong tertawa, dari sakunya dia mengeluarkan kipas bergagang emasnya, kemudian sambil menggoyang-goyangkan kipas itu tegurnya lagi: "Nona, siapa namamu?" Dara berbaju hitam itu menengadah dan memandang sekejap kearah sang pemuda kemudian sahutnya dengan lirih.

"Kita toh tidak saling mengenal, buat apa musti saling menyebutkan nama?"

"Haaahhh.... haaahhh haaahhh kalau memang nona

merasa keberatan untuk mengucapkan namamu, akupun tidak akan memaksa lebih jauh"

Tiba tiba ia simpan kembali kipasnya, kemudian sambil menunjukkan sikap mempersilahkan tamunya masuk. Ia menambahkan

"Mari nona, kita berbicara dalam ruang tengah situ saja" Gadis berbaju hitam itu agak tertegun, lalu menjawab:

"Dalam peti mati itu ada racun kejinya, sekalipun kongcu tidak takut dengan racun tersebut, siau li tak kuat untuk menahan diri,"

Kali ini nada perkataannya jauh lebih lunak lagi daripada ucapannya pertama kali tadi.

"Darimana kau bisa tahu kalau dalam peti mati itu ada racun kejinya ?" tiba-tiba pemuda itu balik bertanya.

"sudah berulang kali kukunjungi tempat ini, sewaktu mereka mengatur jebakan tersebut, secara diam-diam dapat kulihat semuanya"

"Mau apa nona datang kesini??"

sekilas lasa sedih dan kesal melintas di wajah dara baju hitam itu, selang beberapa saat kemudian dia baru menjawab:

"siau-Ii msmpuayai kesulitan yang tak bisa di katakan kepada orang lain, pokoknya aku sama sekali tak ada sangkut pautnya dengan peristiwa pembunuhan di keluarga suma"

Hoa In-liong termenung dan berpikir sebentar kemudian katanya pula:

"Baiklah, akan kututup peti mati itu agar hawa racun tak sampai menyebar kemana-mana, ikutilah aku"

Pada hakekatnya pembunuhan atas diri suma Tiang-cing tidak meninggalkan jejak barang sedikitpun juga, bisa dibayangkan sudikah pemuda itu melepaskan dara baju hitam itu dengan begitu saja setelah ia berhasil menemukannya ? Begitu selesai berbicara, dia lantas masuk lebih dulu kedalam ruang tengah.

Ruangan itu gelap gulita, Hoa In-liong memasang api dan menutup kembali peti mati tersebut kemudian baru berseru lantang:

"Nona, sekarang engkau boleh masuk ke dalam"

Waktu itu nona baju hitam itu berdiri diluar ruangan, ia jadi tercengang bercampur keheranan ketika melihat pemuda itu bisa masuk keluar dalam ruangan itu sambil tertawa dan berbicara, sedikitpun tidak takut dengan hawa racun yang menyebar keluar dari balik peti mati tersebut.

Baru saja dia akan menggeserkan kakinya untuk melangkah masuk kedaiam ruangan itu, mendadak satu ingatan terlintas dalam benaknya, ia terkesiap. tiba-tiba sambil putar badan gadis itu kabur terbirit-birit dari situ Hoa ln-liang tertawa tergelak. ejeknya:

"Nona manis... wahai nona manis... aku toh sudah bilang, tak nanti kau bisa lolos dari tanganku, mengapa kau sengaja ingin melarikan diri.?"

Sekali menjejak kakinya keatas tanah, nona baju hitam itu sudah meloncat, keatas dinding pekarangan dengan enteng, tapi baru saja dia akan melompat turun, tiba-tiba pinggangnya jadi kencang dan tahu-tahu sudah dipeluk erat-erat oleh si anak muda itu. sambil tertawa terbahak-bahat pemuda Hoa mengejek katanya:

"Haaahh... haaahhh haaahhh jangan nona anggap aku

mau mencari untung dengan pelukan ini, siapa suruh nona tak pegang janji tak mau menuruti perkataanku sekarang,

janganlah menyalahkan diriku kalau terpaksa memakai cara ini."

Merah padam selembar wajah dara baju hitam itu karena jengah, tiba-tiba ia menarik muka dan berseru dengan dingin. "Hoa kongcu, ilmu silat siau-li memang terlampau cetek

dan bukan tandinganmu akupun bukan manusia yang tak tahu diri, harap kau segera lepas tangan." Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. la lantas melepaskan pelukan itu dan merangkap tangannya didepan dada, katanya dengan wajah bersungguh-sungguh:

"Harap nona jangan marah dan mengumbar kegusaran padaku, anggaplah siau-seng bertindak terlampau kasar, terimalah permohonan maaf ku ini janganlah memikirkan kejadian yang baru lewat ke dalam hati"

Berbicara sampai disitu dia benar-benar menjura dihadapan gadis itu, ini membuat dara baju hitam itu mau menangis tak bisa mau tertawapun sungkan, setelah istirahat sebentar, akhirnya ia baru berkata lagi dengan ketus.

"Tak usah banyak adat, bila kongcu tiada petunjuk lagi, aku yang rendah ingin mohon diri"

"Sudah terang gadis ini mempunyai asal usul yang mencurigakan" pikir Hoa-In-liong dihati, tapi lagaknya saja sok serius dan bersungguh sungguh, sudah pasti dibalik keseriusannya ini tersembunyi maksud maksud yang licik Berpikir sampai disitu, dia lantas berkata:

"Setelah Suma tayhiap mengalami musibah dan mati terbunuh, aku mendapat perintah dari ayahku untuk mencari tahu siapa gerangan pembunuh keji tersebut, sungguh beruntung aku telah bertemu dengan nona yang merupakan satu-satunya titik terang yang berhasil kutemukan, bayangkan, sendiri nona, apakah aku bersedia untuk melepaskan dirimu dengan begitu saja?"

Dara berbaiu hitam itu tertawa dingin. "Heeehhh...heeehhh...heeehhh tahulah aku sekarang,

rupanya kongcu menaruh curiga bahwa aku yang rendah termasuk komplotan dari pembunuh tersebut?" Hoa In-liong tersenyum.

"Aku cuma mengharapkan petunjuk dari nona, siapa bilang kutuduh nona berkomplot dengan para pembunuh? Aku tak akan mencelakai orang secara diam-diam, apalagi menfitnah orang baik-baik"

Pada mulanya pemuda itu mengatakan bahwa gadis baju hitam itu adalah "titik terang" yang berhasil ia peroleh, kemudian mengatakan pula bahwa dia adalah seorang baik baik, pada hakekatnya bicara pulang balik tujuannya cuma satu yakni dia hendak mengorek keterangan yang sebanyak- banyaknya dari mulut gadis ini.

Tentu saja gadis berbaju hitampun mengetahui akan tujuan lawan, sebab itulah dengan wajah yang dingin membesi ia menatap wajah pemuda itu tanpa berkedip, mukanya menunjukkan rasa marah dan tak senang hati.

sekalipun gadis itu berdiri dengan dahi berkerut dan muka cemberut, namun justru dibalik ke cemberutannya itu terpancar suatu daya pikat yang mempesonakan hati. Hoa In- Hong sama sekali tidak menggubris kelembutan , lawan, malahan dengan senyum dikulum ia menatap wajah gadis itu lekat-lekat, seakan-akan ia sedang manfaatkan kesempatan yang ada untuk menikmati keindahan dara tersebut.

Nona berbaju hitam itu jadi melongo, ketika dilihatnya pemuda itu tidak marah pun tidak menunjukkan tak senang hati, sebaliknya hanya tersenyum sambil memandang kearahnya, ia semakin dibikin apa boleh buat.

setelah berpikir sebentar, tiba-tiba dengan wajah serius dan nada bersungguh sungguh dia berkata:

"Hoa kongcu sungguhkah engkau ingin menyelidiki serta membekuk pembunuh darisuma tay-hiap?"

Cepat Hoa In- liong merangkap tangannya memberi hormat, dan menyahut:

"Aku mendapat tugas dari ayahku untuk menyelidiki serta membikin terang masalah pembunuhan berdarah ini, sebelum tugas tersebut berhasil kuselesaikan, tak mungkin aku bisa pulang kerumah untuk memberi pertanggungan jawab, oleh sebab itu aku mohon kepada nona agar bersedia untuk membantu usahaku ini"

Gadis berhaju hitam itu tertawa dingin, katanya kemudian. "Baik siau-li akan membantu usahamu ini..."

selesai memberikan kesediaannya, dia lantas-putar badan dan lari menuju keluar ruangan tersebut. Menyaksikan tindak tanduk gadis itu, Hoa In liong tercengang dan penuh diliputi kecurigaan tapi ia tahu bahwa gadis baju hitam ini meski bukan sekomplotan dengan para pembunuh, namun dia adalah seseorang yang sangat paham dengan duduknya persoalan ini, tidak sangsi lagi dia menyusul dibelakangnya dengan langkah lebar.

setelah keluar dari kota Lam-yang, mereka melakukan perjalanan cepat selama setengah jam dan akhirnya sampai disuatu tempat yang sepi dan penuh dengan semak belukar yang lebat.

Diantara semak belukar yang tumbuh dengan liarnya itu, tampak sebuah bangunan rumah gubuk bangunan itu berdiri sendiri dikelilingi alas yang lebat.

Empat penjuru penuh semak belukar hamparan pepohonan dan boleh dibilang tiada jalan tembus sebuahpun pemandangannya amat seram danpenuh diliputi hawa misteri yang tebal.

sambil menyingkirkan semak yang menghadang jalan majunya, gadis baju hitam itu berjalan menuju kedepan pintu gubuk tersebut lalu sambil mengetuk pintu katanya.

"si-nio, buka pintu" , Cahaya lentera memancar keluar dari gubuk tersebut, menyusul seseorang bertanya dengan suara yang parau: "Apakah nona diluar sana?"

"Tentu saja aku, kalau tidak siapa lagi?" sahut dara itu dengan nada ketus.

suasana hening untuk sesaat, kemudian terdengar suara parau itu berkumandang lagi:

"siapa rekan yang lain itu??"

"suruh kau buka pintu mengapa tidak cepat buka pintu ? Buat apa engkau banyak bertanya ? " teriak gadis baju hitam semakin marah.

semenjak tadi Hoa In-liong sudah mengetahui bahwa sipembicara dalam rumah gubuk itu sudah berdiri dibelakang pintu, nyatanya pintu kayu tersebut masih tertutup rapat, kendatipun berulang kali dara itu sudah berteriak. ini berarti bahwa orang itu memang tak berminat membukakan pintu bagi mereka.

Tampaknya kemarahan nona baju hitam itu sudah mencapai pada puncaknya, untuk kesekian kalinya ia menghardik: "Kurang ajar, rupanya kau sudah bosan hidup?." Dengan sepenuh tenaga telapak tangannya ditolak ke depan.

"Kraaaak. " ternyata pintu itu tidak terkunci, tatkala

didorong otomatis pintu itu membuka dengan sendirinya, Redup sekali cahaya lentera yang menyinari rumah gubuk itu, dibalik pintu adalah sebuah ruangan kecil, dalam ruangan itu hanya terdapat sebuah meja kayu yang sudah bobrok serta dua buah kursi barabu, peralatan lain tidak nampak.

Waktu itu tak seorangpun berada dalam ruangan, dengan penuh kegusaran gadis baju hitam itu menerjang masuk kedalam rumah, kemudian teriaknya dengan marah: "si-nio, kau "

"Nona tak usah mencari lagi, si Nio yang kau cari sudah berada disini,." tukas Hoa In- liong.

seseorang mendengus dingin, kemudian menjawab: "Benar, aku memang berada disini, tajam amat

pendengaran serta penglihatanmu"

Berbareng dengan selesainya perkataan itu, sesosok bayangan manusia muncul dari balik pintu dan menghadang arah pandangan Hoa In-liong ke ruang sebelah dalam.

Masih mendingan kalau sianak muda itu tidak memandang tampang perempuan yang bernama si Nio itu, begitu sinar matanya beradu tatap dengan orang tersebut, kontan sekujur badannya gemetar keras, hawa bergidik yang dingin muncul dari alas kaki mencapai keatas dada, ia bersin beberapa kali sementara bulu kuduknya pada bangun berdiri

Pemuda itu kaget bukan lantaran dia pernah kenal dengan perempuan yang bernama si Nio itu adalah oleh karena tampang si Nio benar-benar mengerikan sekali, ibaratnya setan alas yang tiba tiba muncul dihadapan matanya.

Usia si Nio belum mencapai empat puluh tahu saja, rambutnya masih ber warna hitam pekat dan kulit tubuhnya tampak putih bersih, sayang raut wajahnya penuh dengan bekas-bekas luka yang mengerikan.

Berpuluh-puluh buah bekas bacokan yang melekuk ke dalam dan berwarna merah karena kelihatan daging dalamnya tersebar di sana sini, seakan-akan mukanya itu pernah dicincang dengan senjata hingga hancur mumur, mengerikan sekali bagi siapapun yang memandang. 

Waktu itu si Nio berdiri di hadapan Hoa In liong dengan sorot mata penuh tanda tanya, sementara mulutnya masih tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Dalam pada itu, dara baju hitam itu sudah keluar dari ruang dalam, dia lantas membentak:

"si-Nio benarkah engkau sudah bosan hidup ? Mau apa kau berdiri mematung di sana? Hayo cepat mengundurkan diri dan hidangkan air teh untuk tamu kita ini"

si- Nio sama sekali tidak berpaling, setelah memandang lagi wajah Hoa ln liong dengan termangu-mangu, ia baru beranjak dan menuju ke ruang dapur di belakang sana.

ooooooooooooo

BAB 3

SETELAH berhasil menguasahi perasaannya, diam-diam Hoa In liong memperhatikan cara si Nio berjalan, ia lihat sepasang kaki perempuan itu menempel tanah dan sama sekali tak berbeda dengan manusia biasa, diapun tidak menunjukkan gerakan seakan-akan sedang mengerahkan ilmu meringankan tubuh, walau begitu langkah kakinya sama sekali tak bersuara, seolah-olah perempuan itu memang sama sekali tak berbobot.

Hoa- In- liong memang pemberani dan berilmu tinggi, tapi berada dalam keadaan seperti sekarang tak urung tercekat juga hatinya, peluh dingin serasa membasahi seluruh tubuhnya. " Hoa- kongcu, silahkan duduk" terdengar nona baju hitam itu berkata dengan dingin.

Cepat Hoa- In- liong mendusin kembali dari lamunannya, ia tertawa menyengir dan menjawab.

"oooh, silahkan duduk, silahkan duduk, nonapun duduklah".

Dua orang muda mudi itu mengambil tempat duduknya masing-masing, lalu gadis itu berkata lagi dengan serius.

"Hoa kongcu, pernahkah engkau tahu tentang Masalah sin ki pang, Hong im-hwe dan Tong-thian kau tiga buah kekuatan besar dalam dunia persilatan dimasa lalu?"

"Aaah... itu toh kejadian pada dua puluh tahun berselang" sahut Hoa In liong sambil berkerut kening. "Aku dengar, dahulu dalam dunia persilatan terdapat perkumpulan sin-ki pang, Hong-im hwe dan Tong-thian kau, masing-masing pihak berdiri di suatu daerah dan menguasahi suatu wilayah yang besar,"

"sebagai keturunan keluarga persilatan tentunya kongcu mengetahui sangat jelas bukan dengan peristiwa yang pernah terjadi dimasa lampau?"

Hoa In- liong tersenyum.

"Perkumpulan Hong-in hwe serta Tong-thian kau sudah lama musnah dari muka bumi, sedangkan perkumpulan sin-ki pang juga telah membubarkan diri apa sebabnya secara tiba- tiba nona menyinggung kembali peristiwa lama yang sudah berlangsung pada dua puluh tahun berselang??"

"Apakah kongcu juga mengetahui tentang perkumpulan Kiu-im-kau?" bukan menjawab gadis itu malahan bertanya lagi.

"Aku memang pernah mendengar orang menyinggung soal perkumpulan itu. cuma kemudian aku dengar perkumpulan itu sudah bubar dan tercerai berai setelah berulang kali mengalami kekalahan" Dara berbaju hitam itu mendengus dingin.

"Hmm Baru-baru ini dalam dunia persilatan telah muncul pula sebuah perkumpulan baru yang bernama Hian-beng-kau pernah kongcu dengar tentang perkumpulan ini?" "Perkumpulan Hian-beng-kau ? Belum pernah kudengar tentang nama perkumpulan ini " sahut Hoa In- liong dengan hati terperanjat

"Aku sendiripun baru-baru ini mendengar dari mulut orang lain" kata gadis itu dengan hambar.

"Apakah nona bersedia menerangkan kepadaku..." pinta sang dara seraya menjura.

"Suatu hari, tanpa sengaja aku telah menemukan satu rombongan manusia yang sangat mencurigakan, oleh karena terdorong rasa ingin tahu, diam-diam kuintil kelompok manusia-manusia tersebut dari belakang."

Hoa In liong pusatkan semua perhatiannya untuk mendengarkan penuturan dari gadis itu, tiba-tiba dari dalam hati kecilnya muncul perasaan was-was, cepat la berpaling ke belakang, entah sedari kapan si Nio yang berwajah penuh codet itu telah berdiri di belakangnya dengan membawa sebuah baki, di atas baki itu terletak dua buah cawan berisi air teh.

Ketika si nio melihat si anak muda itu berpaling, Ia lantas meneruskan langkahnya dan meletakkan kedua cawan air teh itu ke atas meja.

Diam-diam Hoa In-liong merasa amat gusar dia angkat tangan kanannya hendak mencengkeramp ergelangan tangan si nio, tapi ingatan lain lantas melintas dalam benaknya ia berpikir:

"Bagaimanapun juga aku adalah tamu dan dia adalah tuan rumah, jika aku bertindak lebih dahulu maka tindakanku ini terasa kasar dan kurang sopan."

Karena berpikir begitu, diapun membatalkan niatnya dan tetap tak berkutik ditempat semula.

Dengan tatapan dingin dara baju hitam itu melirik sekejap ke arah si Nio, kemudian seraya ulapkan tangannya dia berseru: "Mundurlah dari sini"

Wajah si Nio yang mengerikan itu berkerut kencang bahkan agak gemetar, tiba-tiba ia berkata:

"Hoa kongcu, silahkan minum teh" " Cerewet amat kamu ini, hayo cepat mundur dari sini" bentak gadis itu dengan marah.

Hoa In- liong yang mengikuti perkembangan ditempat itu, dalam hati kecilnya lantas membatin.

"Rumah gubuk ini benar-benar penuh diliputi hawa setan, kalau tidak kutunjukkan sedikit kelihaian, rupanya susah untuk memaksa mereka masuk ke dalam kekuasaanku...".

Berpikir sampai di situ, tiba-tiba ia menengadah dan tertawa keras, lalu sambil angkat cawan katanya:

"Silahkan nona melanjutkan kisah penuturanmu akan kudengarkan semuanya dengan penuh perhatian"

Ia tempelkan cawan itu di bibir dan menghirup teh panas itu satu tegukan.

Kebetulan lampu lentera yang menerangi ruangan tersebut berada disampingnya, ketika mengambil cawan, sengaja ujung bajunya dikebaskan agak kencang, dikala api lampu lentera itu bergoncang terhembus angin, pemuda itu segera manfaatkan kesempatan yang ada untuk bermain gila.

sedikit jari kelingkingnya menyentil ke depan, sebutir pil yang amat kecil telah dimasukan ke dalam cawan teh yang lain, gerakan itu dilakukan dengan cepat dan tidak menyolok. ternyata baik si-Nio maupun dara baju hitam itu sama-sama tidak merasa.

semua kejadian ini berlangsung dalam sekejap mata, sementara itu dara baju hitam itu sudah mengalihkan kembali sorot matanya ke arah cawan teh yang berada di hadapan pemuda itu, kemudian melanjutkan kembali kata-katanya:

"Diam-diam aku ku kuntit perjalanan rombongan itu, ketika kulihat mereka memasuki gedung kediaman suma-tayhiap. akupun menyusup masuk ke dalam ruangan. Di sana kulihat mereka membuka tutup peti mati dan menyebarkan sejenis bubuk putih ke dalam peti mati itu, kemudian menutup kembali tutup peti mati itu, aku lihat dengan wajah berseri mereka lantas menyembunyikan diri dan siap menangkap mangsanya." sementara dara itu bercerita, Hoa In- liong telah mencoba air teh itu, dia ia telah membuktikan bahwa dalam air yang bersih itu benar-benar telah dicampuri dengan obar bius.

sekalipun begitu, paras mukanya sama sekali tidak berubah, dia mengangkat kembali cawan air teh itu dan meneguk lagi satu tegukan, katanya sambil tersenyum:

"Apakah perempuan yang menyebut dirinya she Yu itu juga merupakan anggota perkumpulan Hian-beng-kau?"

Dara baju hitam itu mengangguk. "Akupun tahu dari mulut beberapa orang itu" katanya.

"Apakah nyonya Yu adalah ketuanya?" kembali si anak muda itu tersenyum, dia angkat cawan dan meneguk kembali air teh itu dengan nikmat.

"Hmm Mimpi " sahut nona itu dengan dingin, " nyonya

she Yu itu tak lebih cuma seorang prajurit yang menurut urutan menempati posisi paling buncit, rombongan itu semuanya berjumlah belasan orang, sekalipun ketua rombonganpun tidak lebih cuma seorang kepala regu yang rendah sekali kedudukannya dalam perkumpulan Hian-beng- kau" Hoa ln- liong pura-pura terperanjat setelah mendengar perkataan itu, serunya:

"Aaah pernahkah nona berjumpa dengan pemimpin

rombongan itu? Berapa usia orang itu? Dia seorang laki-laki ataukah seorang perempuan?" kembali ia meneguk isi isi cawan itu hingga habis.

"Sudah beberapa kali kulakukan penyelidikan, namun selalu gagal untuk bertemu dengan pemimpin rombongan tapi menurut apa yang berhasil kudengar, orang itu katanya she- ciu ( dendam ) dan mereka memanggil ciu kongcu kepadanya."

" Kalau toh orang itu disebut kongcu, aku pikir tentu usianya tidak seberapa besar"

"Kalau kutinjau dari ciri mereka berbicara serta apa yang mereka bicarakan, aku dapat menarik kesimpulan kalau Ciu kongcu itu bukan saja pemimpin rombongan, bahkan dia pula otak dari pembunuhan atas diri suma Tiang- cing. Kini orang tersebut masih berada di kota Lan- yang, aku rasa sampai sekarangpun belum pergi." Tiba tiba Hoa in-liong menengadah dan tertawa terbahak bahak.

"Haaah haaaahh haaaahh sungguh menarik. sungguh menarik Hoa loji bakal bertempur sengit melawan ciu kongcu"

"Huuh, apanya yang perlu kau banggakan?" ejek dara baju hitam itu dengan sinis, "toh Ciu kongcu hanya seorang anggota perkumpulan Hian beng-kau yang berkedudukan rendah, mendingan kalau dia adalah ketuanya perkumpulan itu"

Hoa In- liong tak menggubris ucapan dara itu dia masih mengoceh terus dengan wajah berseri-seri:

"Haaah haaaahh haaaaahh Hoa loji bakal menghancur lumatkan perkumpulan Hian-beng-kau itulah baru mengagumkan namaku pasti akan tersohor dan dikenal oleh setiap orang"

Dara baju hitam itu tertawa dingin, bibirnya bergetar seperti mau mengucapkan sesuatu, namun niat itu kemudian dibatalkan.

selama ini si-Nio selalu berdiri di belakang Hoa-In-liong, ia tidak pergi tinggalkan tempat itu seperti apa yang diperintahkan kepadanya, ketika dengar ocehan si anak muda itu, tiba-tiba dia angkat sepasang telapak tangannya, dengan sepuluh jari yang dipentangkan lebar-lebar perempuan itu siap melakukan tubrukan.

Belum sempat serangan itu dilancarkan tiba tiba Hoa In- liong berputar badan seraya berteriak.

"Si-Nio"

si- Nio terperanjat dan menarik diri kebelakang sementara dara baju hitam itupun menunjukkan perubahan wajah yang sangat hebat.

Hoa-In-liong tertawa tergelak. sambil mengangkat cawan air tehnya ia berkata. "si-Nio, aku dahaga sekali, tolong ambilkan secawan air teh lagi.."

si- Nio tertegun, dengan ragu-ragu dia menerima cawan itu, kemudian mengundurkan diri dari sana: "si-Nio" tiba-tiba Hoa-ln-liong memanggil lagi.

sekujur badan si-Nio gemetar keras, tapi ia berhenti juga seraya berpaling. sambil tersenyum anak muda itu menambahkan:

"Daun teh kalian memang terlalu bagus dan enak diminum, tolong berilah yang agak kental sedikit"

Wajah si Nio yang jelek dan tak sedap dilihat itu agak gemetar, tapi ia mengangguk juga dan buru-buru menuju kedapur.

Kiranya si Nio- telah mencampurkan sejenis bahan obat dalam air teh yang disuguhkan kepada tamunya itu, obat tersebut sangat lihay, kendatipun seseorang memiliki ilmu silat yang sangat lihay, setelah minum air teh itu niscaya akan roboh tak sadarkan diri

siapa sangka, ketika air teh berobat itu masuk kedalam perut Hoa In-liong, bukan saja sama sekali tidak menunjukkan reaksi apa apa, bahkan seakan-akan bagaikan tenggelam didasar samudra yang dalam, bukan begitu saja malahan setelah habis secawan dia minta secawan lagi dan memuji daun tehnya yang wangi dan minta diberi lebih banyak. tidaklah heran kalau perempuan jelek itu jadi tercengang, dia hampir saja tidak percaya dengan apa yang terpapar didepan mata.

Dara berbaju hitampun diam-diam murung bercampur gelisah pikirnya didalam hati:

"Hoa In-liong terlalu licik dan banyak tipu daya, setelah obat pemabok gagal untuk merobohkan dia, tampaknya aku harus pertaruhkan nyawa untuk bertarung melawannya"

sementara dia masih termenung, si nio sudah muncul kembali sambil membawa secawan teh panas dengan sorot mata memandang tanah, ia letakkan cawan itu dihadapan tamunya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Tampaknya Hoa In- liong memang haus sekali sehingga sukar ditahan, cepat dia angkat cawannya dan menghirup satu tegukan, kemudian sambil tertawa baru berkata: "Jika kudengar dari nada pembicaraan nona, agaknya perkumpulan Hian-bEng kau adalah suatu organisasi yang sangat rahasia sekali, banyak jumlah anggotanya dan keji dalam perbuatan serta tindak tanduknya, benarkah perkumpulan ini adalah suatu perkumpulan sesat?"

"Aku rasa begitulah keadaannya" sahut dara itu ketus. Hoa In- liong tertawa, kembali ia berkata:

" Kalau memang begitu, bukanlah dunia persilatan yang sudah menjadi tenang selama dua puluh tahun, sekarang mulai bergerak lagi memasuki masa kekalutan?"

seperti menyesali keadaan yang sedang dipikir, kembali pemuda itu angkat cawan dan menghirup air teh.

Betapa kesal dan mendongkolnya gadis berbaju hitam itu, apa lagi terhadap sikap sang tamu yang begitu santai seolah- olah acuh terhadap obat pemabuk yang dicampurkan dalam air teh itu.

Karena murung, tanpa terasa gadis itu mengangkat pula cawan air teh yang berada dihadapannya dan siap untuk diteguk. katanya dengan dingin "siau-li tetap beranggapan bahwa dunia persilatan sedang mengalami suatu masa pancaroba, suatu masa perubahan dari keadaan yang tenang menjadi keadaan yang kacau, kematian dari suma Tiang-cing tidak lebih hanya suatu tanda permulaan dari kekalutan itu, dan kematiannya boleh juga dikatakan sebagai korban demi kepentingan orang lain"

" Kenapa?" Hoa-In-liong pura-pura tercengang bercampur tidak mengerti.