Pukulan Si Kuda Binal Bagian 11 (Tamat)

 
Bagian 11 TAMAT

Teng Ting-hou tidak berani gegabah, Ting Si juga tak mau mengambil arak, Teng Ting-hou duduk diam, akhirnya ia berteriak pula tidak sabar, "He, ada orang tidak?"

Setelah ditunggu sekian lama tiada reaksi, akhirnya Teng Ting-hou ketagihan, dia memberanikan diri mencopot satu guci arak ukuran kecil, begitu sumbat dibuka, bau arak sedap merangsang hidung. Akhirnya Ting Si meniru perbuatan Teng Ting-hou, satu orang  satu  guci,  seperti berlomba mereka mengangkat guci dan mendongak, arak berpindah ke dalam perut mereka.

Lebih banyak arak masuk perut, sang waktu juga berlalu tanpa terasa.

Sejauh persoalan ini berkembang, Teng Ting-hou tidak merasa heran atau kaget, juga tidak merasa mendelu. Dia maklum dalam banyak hal dirinya memang ketinggalan jauh disbanding Ting Si.

Seorang bila sudah mengaku asor terhadap orang lain, pikiran dan perasaannya malah tenteram. Teng Ting-hou berpendapat, seharusnya Ting Si menghentikan minum dan berunding dengan dirinya, cara bagaimana harus menerjang ke dalam kamar di bagian belakang itu? Dengan cara kilat mereka harus menyelamatkan jiwa Ong-toasiocia.

Setiap aksi harus direncanakan secara cermat, jika tidak yakin berhasil, buat apa turun tangan. Di saat otaknya mulai menerawang itulah, mendadak Ting Si beraksi dengan kecepatan kilat, sekali tendang pintu kamar yang setengah rapuh itu jebol dan berantakan, tubuh Ting Si menerjang ke dalam.

Cara yang digunakan Ting Si paling manjur, langsung, sederhana tapi kilat. Sebetulnya cara yang digunakan itu cukup gegabah, terlalu memandang remeh musuh dan berbahaya.

Hakikatnya Ting Si tidak mempertimbangkan keselamatan dirinya, begitu yakin akan kemampuan sendiri, maka dia menggunakan cara yang mudah, cepat dan lekas selesai.

Dalam hati Teng Ting-hou menghela napas gegetun, di saat dia siap membantu. Begitu dirinya ikut menerjang ke dalam kamar. Dilihatnya Ong-toasiocia sudah duduk, Lo-shoa-tang menggeletak di lantai. Agaknya grebekan mereka sudah selesai, sukses dengan gemilang.

Maklum anak muda, dalam menunaikan tugas selalu diburu nafsu, dipermainkan emosi. Teng Ting-hou akhirnya tertawa getir. Akhirnya dia sadar dan maklum,  kalau anak muda  bekerja dengan caranya sendiri, ternyata hasilnya juga tidak keliru. Lalu disadari pula olehnya, bahwa kemampuan sendiri ternyata sudah mundur, jauh ketinggalan dibanding anak muda yang satu ini.

Teng Ting-hou dapat berpikir secara cermat, tanggap dalam menilai sesuatu, maka jiwanya tidak pernah luntur meski ditempa oleh keadaan yang paling buruk sekalipun, maka dirinya kuat bertahan hidup sampai hari tua. Sayang sekali, jarang ada manusia di Bulim yang punya kedudukan seperti dirinya, dapat berpikir secara terbuka.

Ganti berganti Ong-toasiocia mengawasi Teng Ting-hou lalu menatapTing Si. Akhirnya melotot kepada Lo-shoa-tang yang menggeletak di lantai. Padahal banyak persoalan ingin dibicarakan, namun sepatah kata pun tak keluar dari mulutnya. Hakikatnya Ong-toasiocia memang bingung, tidak tahu kepada siapa dia harus bertanya lebih dulu.

Ting Si juga bungkam, tidak berusaha memberi penjelasan.. Cepat atau lambat, toh akan tahu, mengapa harus buru-buru menjelaskan. Aksi mereka berakhir dengan sukses gemilang. Lalu bagaimana selanjutnya?

Teng Ting-hou sedang bingung, maka ia bertanya, "Sekarang kita harus duduk makan bakpao dan minum arak? Atau tidur dalam kamar?"

"Sekarang juga kita harus naik gunung," kata Ting Si tegas.

Teng Ting-hou melenggong, "Lho, bukankah kau tadi bilang, kau tidak boleh naik gunung?" "Ting Si memang tidak boleh naik, tapi Lo-shoa-tang boleh mondar-mandir dengan leluasa, apalagi akan membawa dua orang tawanan, lebih cepat lebih baik. Hayolah bersiap-siap."

Akhirnya Teng Ting-hou mengerti rencana Ting Si, “Membawa dua tawanan, maksudmu aku dan Ong-toasiocia?"

Ting Si mengangguk.

"Dan kau yang menyamar sebagai Lo-shoa-tang?" Teng Ting-hou menegas.

Ting Si tertawa, katanya berolok-olok, "Setan tua cabul ini dapat menyamar sebagai Lo-shoa- tang, memangnya setan cilik macam diriku tidak mampu?"

"Apa kau mampu mengelabui banyak mata di atas gunung itu?" tanya Teng Ting-hou.

"Setiap manusia memiliki ciri-ciri tersendiri, sehingga orang bisa membedakan dan dibedakan," Ting Si menjelaskan lebih lanjut. "Untuk beda membedakan, satu hal yang terpenting adalah wajah orang, baru perawakan, sikap, gerak-gerik dan bau badannya."

"Bau badannya?"

"Setiap orang memiliki bau badan. Ada sementara orang sejak dilahirkan berbau wangi, tapi ada juga yang berbau apek."

"Soal bau tidak menjadi soal. Bau badan Lo-shoa-tang dari kaki sampai ujung rambutnya pasti berbau bak-pao dan ayam bakar."

Ting Si tertawa geli, "Tapi kalau aku hanya mengenakan pakaiannya saja, bau badanku tentu seperti ayam bakar."

"Perawakanmu memang mirip kalau tidak mau dibilang sepadan, bila perutmu dibalut kain tebai, lalu punggungmu diberi punuk sekedarnya, berjalan sambil terbungkuk-bungkuk tentu mirip."

"Sejak kecil aku sering mencuri bakpao di warung ini, sikap, tutur kata dan tirvdak tanduknya sudah sering ku-perhatikan, kuyakin dapat menirunya dengan persis."

Mendadak Ong-toasiocia menimbrung, "Kelihatannya kau memang pandai menjadi badut, selanjutnya bila kau mau bermain sebagai bintang panggung, kuyakin kau lekas terkenal,"

Tawar suara Ting Si, "Aku memang ingin merubah pekerjaanku, menjadi bintang panggung memang jauh lebih aman dan damai daripada berperan di bawah panggung."

"Kau ingin berperan di atas panggung?" tanya Ong-toasiocia.

"Bukankah kehidupan manusia mirip bermain sandiwara? Bukankah kita-kita ini sebagai pelakunya?"

Terkancing mulut Ong-toasiocia. Apa yang diucapkan Ting Si, selalu memaksa mulutnya bungkam.

"Tapi wajahmu. " Teng Ting-hou masih kuatir.

"Wajahku memang berbeda, tetapi bisa menjadi mirip dengan tata rias, walau ilmu tata rias yang kupelajari belum mahir benar. Untung tampang Lo-shoa-tang yang jelek itu tidak menarik perhatian banyak orang. Umpama orang harus memperhatikan dua kali, yang kedua tentu memandang dengan memicingkan mata atau meram, bukan mustahil orang sudah jijik untuk kedua kalinya memperhatikan wajahnya." Dengan menyengir kuda ia menambahkan, "Apalagi aku membawa tiga kado yang penting artinya, orang yang mengantar kado biasanya disambut dengan ramah dan gembira."

Teng Ting-hou mengangguk, "Aku dan Ong-toasiocia adalah kado yang akan kau bawa ke atas gunung."

"Ya, kalian termasuk dua di antara tiga kado yang kumaksud." "Jadi masih ada satu lagi? Apakah kado ketiga?"

"Ya, kado ketiga adalah ayam bakar."

* * * * *

Rumah besar itu dibangun dengan balok kayu raksasa, dahan-dahan pohon besar, walau kelihatan kasar dan sederhana, namun membawa suasana purba yang liar dan asli, membawa kewibawaan, angker dan membuat orang jeri serta tunduk lahir batin.

Demikian pula tampang orang-orang itu, liar, perkasa, pemberani, mirip binatang buas di alam purba.

Hanya seorang terkecuali di antara sekian banyak hadirin di pendopo itu. Orang ini berpakaian serba hitam, wajahnya yang pucat dingin tidak memperlihatkan perasaan, namun sepasang matanya bersinar tajam. Kelihatannya orang ini tidak liar, tidak garang, namun lebih menakutkan dibanding orang-orang yang hadir.

Kalau orang sebanyak itu ibarat binatang liar, maka orang yang satu ini adalah pemburu binatang. Kalau orang tain bagai sebatang tongkat, maka dia adalah ujung tombak.

Orang ini bukan lain adalah Ngo-siansing.

Pek-li Tiang-ceng berdiri di tengah pendopo sambil bertolak pinggang. Menghadapi kawanan manusia liar seperti binatang buas, berhadapan langsurig dengan ujung tombak.

Hanya seorang diri Pek-li Tiang-ceng meluruk dan mengejar ke sarang binatang liar ini. Keadaannya tidak lebih lembut dibanding kawanan binatang liar itu, tidak lebih tumpul dibanding ujung tombak yang runcing lagi ganas itu.

Ngo-siansing menatapnya lalu menghela napas, katanya sinis, "Sepantasnya kau tidak berada di tempat ini, tidak boleh berada di sini."

Pek-li Tiang-ceng hanya menyeringai dingin.

"Seharusnya kau sudah mampus, mayatmu sudah kaku dingin, jika kau dan Teng Ting-hou mampus, bukankah dunia bakal aman sentosa?"

"Umpama kami berdua mampus, kan masih ada Ting Si," jengek Pek-li Tiang-ceng. "Ting Si bocah hijau itu tidak perlu dibuat takut."

"O? Mengapa?"

"Karena kau adalah pendekar besar, sebaliknya bocah itu hanya rampok cilik." "Satu hal mungkin tidak pernah kau pikir, ada kalanya pendekar besar juga bisa berubah menjadi rampok cilik."

"Aku yang kau maksud?" tanya Ngo-siansing. Pek-li Tiang-ceng diam saja.

"Kau sudah tahu siapa aku?" tanya Ngo-siansing.

"Sudah lama kau adalah kawan karib Pa-ong-jio,  sejak  muda, jadi sudah puluhan  tahun kau  kenal pribadinya, kau tahu seluruh seluk-beluk Piaukiok gabungan itu. Kau pun tahu bagaimana keadaan luar  dalamku. Biasanya kau  jarang  mempertunjukkan llmu silatmu di hadapan orang lain. Kau angkat Cong-piauthau perusahaanmu sebagai wakilmu, bekerja dalam perusahaan gabungan itu, maka kau tidak perlu terjun sendiri," demikian ucap Pek-li Tiang-ceng kalem sambil menatap tajam Ngo-siansing. "Berapa banyak orang macam dirimu dapat ditemukan di   Kangouw?"

"Ya, hanya aku seorang," ucap Ngo-siansing memanggut.. "Memang hanya kau saja yang kupikir sejak mula."

Ngo-siansing menghela napas, "Jadi sejak mula kau sudah tahu siapa aku sebenarnya, maka. "

"Kalau bukan kau yang mampus, biar aku yang gugur," tantang Pek-li Tiang-ceng dengan suara lantang.

Wajah Ngo-siansing kelihatan tetap kaku, namun sinar matanya seperti sedang tertawa. "Setiap hari kalian sibuk menyelesaikan urusan perusahaan, membereskan urusan besar kecil yang terjadi di Kangouw. Sebaliknya aku tekun memperdalam ilmu di rumah, aku punya banyakwaktu untuk belajar dan meniru gaya tulisan orang lain, mencari tahu rahasia orang lain."

"Kau sengaja membocorkan rahasia Piaukiok kepada Ting Si, karena kau tahu bocah itu adalah putra kandungku?" demikian tanya Pek-li Tiang-ceng.

"Aku malah tahu jelas apa yang pernah kau lakuklan bersama Ong-lothau di daerah Bing-lam dulu."

"Karena kau sudah menjadi anggota Ceng-liong-hwe sejak waktu itu."

"Ceng-liong-hwe memperalat diriku, aku pun memperalat mereka, jadi satu sama lain saling memperalat dan saling untung, tiada pihak yang dirugikan kecuali pihak ketiga."

"Aku hanya heran akan satu hal," ucap Pek-li Tiang-ceng. "Apa yang kau herankan?"

"Dengan kedudukan, nama besar dan kekayaan yang sudah kau miliki sekarang, mengapa kau masih tega melakukan perbuatan terkutuk ini?"

"Aku sering bilang, selama hayat masih dikandung badan, ada dua hal takkan pernah membuat aku cukup dan puas."

"Ya, harta dan perempuan."

"Betul,"seru Ngo-siansing sambil bertepuk tangan sekali. Mendadak seorang tertawa lebar di luar pendopo, serunya lantang, "Sekarang harta benda bertambah banyak, perempuan juga tambah satu lagi."

Pek-li Tiang-ceng menoleh ke arah datangnya suara, terlihat Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia terbelenggu tambang besar sedang digiring masuk oleh seorang setengah bungkuk dengan  wajah dan pakaian yang jelek dan kotor berminyak. Orang jelek yang menggiring Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia ini adalah Ting Si sebagai Lo-shoa-tang. Hanya saja Pek-li Tiang-ceng tidak tahu bahwa laki-laki tua buruk rupa dan kotor ini adalah samaran Ting Si, temyata di antara  sekian banyak hadirin termasuk Ngo-siansing juga tidak mengira bahwa Lo-shoa-tang yang menggiring tawanan ini adalah palsu.

Ngo-siansing tertawa lebar, serunya gembira, "Kau keliru, perempuan memang hanya bertambah satu. Tetapi harta bendaku sekaligus tambah empat bagian."

"Empat bagian?" seru Ting Si yang menyamar sebagai Lo-shoa-tang.

"Teng Ting-hou satu bagian, Ong-toasiocia satu bagian, milik Pek-li Tiang-ceng satu bagian, ditambah keuntungan mereka dalam perusahaan, bukankah seluruhnya ada empat bagian?".

Ting Si yang menyamar Lo-shoa-tang ikut bertepuk tangan dan berseru gembira, "Mungkin bukan hanya empat bagian saja."

"O?" meninggi suara Ngo-siansing. "Masih bisa tambah bagian lagi?"

"Kiang Sin sudah berpenyakitan, Sebun Seng di bawah perintahmu, mereka sudah jatuh ke dalam cengkeramanmu, di kolong langit ini siapa berani dan mampu menandingimu. Seluruh harta benda kaum persilatan, bukankah bakal jatuh menjadi milikmu?"

Ngo-siansing tertawa lebar, "Jangan lupa, julukanku adalah Hok-sing-ko-cau," sembari bicara Ngo-siansing berbangkit lalu turun undakan, maju ke depan Ting Si serta menepuk pundaknya. "Sudah pasti aku tidak akan melupakan bantuan para saudara yang berjasa."

Ting Si tertawa gembira, "Aku tahu kau memang baik hati, mengerti isi hati anak buahmu, kau tidak pernah lupa memberi imbalan kepada anak buahmu yang berjasa besar. Hanya saja kau selalu makan daging, sebaliknya kami justru menelan tulang saja."

Waktu Ting Si mengucap 'daging', Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia yang semula terbelenggu tambang besar, mendadak terlepas lalu menubruk maju. Ting Si sendiri juga turun tangan, belum habis dia mengucap "tulang", maka tulang dada Ngo-siansing patah tiga belas batang.

Hanya sekejap saja, Kui Tang-kin yang berjuluk Rezeki Selalu Nomplok, mendadak berubah menjadi Petaka Merubah Nasib. Perubahan terjadi begitu cepat dan tidak terduga, bak perubahan cuaca yang sukar diramaikan sebelumnya. Demikian pula nasib manusia sukar ditebak. Itulah kehidupan manusia, hanya saja perubahan yang terjadi kali ini memang teramat cepat, mendadak lagi. Seorang yang selalu unggul dan berada di atas angin, mendadak jatuh dan roboh tak mampu merangkak. Perubahan yang begitu cepat, bukan saja Pek-li Tiang-ceng tidak menduga, Teng Ting-hou juga tidak habis mengerti, tidak dapat meresapi hikmah dari semua kejadian di depan matanya.

Kini semuanya sudah selesai. Mereka sudah mengundurkan diri dari sarang penyamun itu, keluar membawa Siau Ma dan Ton Siau-lin. Menangkap perampok meang harus membekuk kepalanya. Setelah Kui Tang-kin roboh tidak berdaya, anak buahnya meski liar dan kuat, tidak perlu ditakuti lagi, mereka pun tidak berani turun tangan, umpama nekad melayani juga mudah diganyang. Di tengah jalan Teng Ting-hou tidak kuat menahan diri, tanyanya kepada Ting Si, "Kau selalu bilang persoalan ini amat pelik, terlalu sukar dan berbahaya. Mengapa justru mudah dibereskan?"

Ting Si tertawa tawar, suaranya juga tawar, "Justru urusan ini amat pelik, terlalu sukar dan bahaya, maka Kui Tang-kin tidak menduga ada orang berani menyerempet bahaya."

"Hanya lantaran dia tidak menduga, maka kau berhasil dan sukses?"

Ting Si tertawa, kini lebih cerah, "Bukan hanya dia seorang yang tidak menduga, aku sendiri juga tidak menduga, urusan bisa beres semudah ini."

Akan tetapi, sekarang mereka mengerti, manusia bila berani menyerempet bahaya, maka tiada persoalan pelik atau bahaya apapun yang tidak bisa dibereskan. Di zaman dahulu Kan Cau dan Thio Se, seorang diri berani menempuh bahaya, karena mereka mempunyai keberanian luar  biasa. Pahlawan gagah atau enghiong sejak zaman dulu kala hingga sekarang, tidak sedikit yang mampu menciptakan suatu prestasi besar dengan sukses gemilang, karena dia memiliki 'keberanian'. Tapi keberanian itu tidak datang sendiri atau jatuh dari langit, tapi berani karena adanya cinta.  Cinta antara ayah dan anak,  cinta antara dua teman  atau keakraban dari dua  insan, cinta asmara antara laki dan perempuan, cinta kasih terhadap sesama manusia. Sayang terhadap jiwa raga, setia pada nusa dan bangsa. Semua itu karena dilandasi cinta, kalau tiada cinta, entah apa yang akan terjadi di dunia ini, dunia entah berubah menjadi apa.

Ting Si melangkah lebar, dia berjalan di depan. Ong-toasiocia berjalan cepat-cepat memburu di belakangnya. Cukup lama dan jauh mereka menempuh perjalanan, yang satu di depan, yang lain terus mengikut di belakang, entah berapa puluh li sudah mereka tempuh, tiada tegur sapa, tiada pembicaraan. Tiada orang tahu kemana akan pergi?

Tiada orang tahu apa dan kemana tujuan Ting Si? Tiada orang tahu kecuali Ong-toasiocia sendiri, sampai kapan dia akan menguntit dan membuntuti Ting Si.

Betapapun keras hati seorang laki-laki, apalagi laki-laki seperti Ting Si akhirnya lunak menghadapi kebandelan cewek yang satu ini. Apalagi cewek ini sudah bertekad menyerahkan diri, ke ujung langit pun akan selalu ikut dan menempel Ting Si.

Akhirnya Ting Si tidaktahan, ia berhenti dan menoleh, "Mengapa sejak tadi kau mengikuti aku?" Tegas dan tandas jawaban Ong-toasiocia, "Karena aku senang ikut kau."

Apa boleh buat, Ting Si membalik badan, melangkah pula ke depan. Tapi langkahnya tidak selebar dan secepat tadi, berjalan santai saja, seperti sepasang kekasih lagi berjalan-jalan mencari angin sambil menikmati keindahan alam di pagi hari.

T A M A T