Pukulan Si Kuda Binal Bagian 09

 
Bagian 09

Teng Ting-hou tidak membantah.

"Dari segi mana saja, dapat kita simpulkan bahwa antara Ting Si dengan Pek-li Tiang-ceng punya hubungan khusus yang tidak diketahui orang."

"Hanya saja. "

"Aku tahu, mungkin dia bukan putra Pek-li Tiang-ceng, tapi apa tidak mungkin Ting Si adalah murid Pek-li Tiang-ceng?"

Teng Ting-hou menghela napas, katanya dengan tertawa getir, "Aku tidak begitu jelas, juga tidak berani menarik kesimpulan secepat ini. Tapi aku dapat memastikan satu hal"

"Memastikan soal apa?" Ong-toasiocia menegas.

"Apapun hubungan Ting Si dan Pek-li Tiang-ceng, entah anak atau murid,

aku yakin tak pernah dia membantu Pek-li Tiang-ceng dalam melakukan kejahatan."

Ong-toasiocia menatapnya, matanya yang indah mengandung cahaya pujian dan kagum. Setiap lelaki gagah dan perempuan pemberani pasti akan memberikan penghargaan kepadanya.

Malam gelap, bintang bertaburan di langit nan kelam. Lirikan mata Ong-toasiocia begitu lembut dan hangat.

Mendadak Teng Ting-hou merasa jantung mulai berdebar lagi, segera ia melangkah lebar ke depan, katanya lirih, "Mari kita cari tempat untuk tidur, besok pagi-pagi pasti ada berita dari Siau Ma." "Apa betul Siau Ma akan memberi kabar? Apakah keadaannya sekarang baik-baik saja? Apakah dia sudah tahu seluk beluk  tanggal 13 bulan 5? Apa betui tanggal 13  bulan 5 adalah kode  rahasia Pek-li Tiang-ceng?"

Beberapa pertanyaan ini belum terjawab secara tepat, untung hari ini akan berlalu, masih ada hari esok. Besok pagi tetap ada harapan.

"Mari pulang ke warung Lo-shoa-tang saja, di sana masih ada meja kosong." "Lho, bukankah di depan sana ada hotel?" seru Ong-toasiocia.

"Ya, menginap di hotel terlalu ramai, banyak mata kuping yang mungkin mengawasi gerak-gerik kita, lebih baik berlaku hati-hati."

Ong-toasiocia tertawa, "Kelihatannya kau mulai takut berduaan denganku di tempat yang sepi?"

Teng Ting-hou menyengir, "Ya, aku memang agak jeri padamu, untuk menyentuhmu saja, aku sudah kapok tujuh turunan."

Merah jengah selebar muka Ong-toasiocia. "Sebetulnya kau tidak perlu takut kepadaku," katanya kemudian.

"Sebab. " Kepalanya terangkat, lalu melanjutkan perkataannya, "Sebab aku hanya ingin

memperalatmu untuk membuat Ting Si cemburu dan marah, terus terang saja, apapun yang terjadi, aku masih menyukainya."

Teng Ting-hou terbelalak kaget dan heran karena gadis ini berani terang-terangan melimpahkan isi hatinya.

Namun tentang cinta Ong-toasiocia terhadap Ting Si memang sudah dalam dugaannya, maka dia berkata dengan tersenyum getir, "Kau memang gadis jujur dan pemberani."

Ong-toasiocia menjadi rikuh dan kikuk, katanya dengan muka merah, "Belakangan aku pun sadar dan berpikir, kau juga laki-laki yang luar  biasa, tapi. sayang kau sudah berkeluarga,

biarlah selanjutnya aku pandang kau sebagai engkoh saja." "Kau sedang menghiburku?"

Lebih jengah muka Ong-toasiocia, lama kemudian baru dia bersuara dengan menunduk, "Umpama aku tidak bertemu Ting Si,  jika kau. "

"Aku tahu apa maksudmu," tukas Teng Ting-hou dengan senyum ramah. "Bisa menjadi engkohmu, bukan saja bangga, aku boleh merasa lega dan senang."

Pelahan Ong-toasiocia menghela napas lega, selega bila dia berhasil membereskan sesuatu yang ruwet. "Aku mencintainya. Aku kuatir dia melakukan sesuatu yang memalukan."

"Yakinlah, dia takkan melakukan perbuatan tercela." "Demikianlah harapanku. Semoga doaku terkabul."

Mereka berdiri berhadapan dan saling tatap, senyum lebar menghias wajah mereka, perasaan pun menjadi lega longgar. Dengan langkah tegap dan lebar, mereka berjajar keluar dari lorong gelap itu. Sementara itu, malam sudah larut, hawa terasa dingin. Di luar tahu mereka, di suatu tempat yang gelap di atas sana, sepasang mata sejeli mata kucing tengah mengawasi gerak- gerik mereka. Bola mata siapakah itu? Apakah nasib itu? Apakah nasib mirip tambang iblis, bagai ular beracun membelit kencang badan manusia, meski punya kekuatan raksasa sekalipun, tenaga takkan mampu dikerahkan, mati kirtu.

Mungkin juga secara tiba-tiba, nasib akan merebut sesuatu yang paling berharga dalam kehidupan, demikian halnya, waktu Ting Si merebut Ngo-hoa-coan-ki dulu. Ada kalanya, nasib dapat membelenggu dua orang yang pada hakikatnya tidak punya sangkut-paut, meski meronta dan ingin berpisah pun tidak mungkin bebas lagi.

Rumah paling tinggi dan paling megah di kota kecil ini adalah Ban-siu-lau.

Saat itu, Ting Si rebah telentang berbantal dua ta-ngannya di atas wuwungan Ban-siu-lau. Rebah tenang dan diam  tak bersuara, juga tidak  bergerak, telentang mengawasi bintang-bintang  di langit.

Nasib seumpama tambang iblis membelenggu dirinya, sedemikian kencang sehingga dirinya tidak leluasa bergerak. Demikian pula perasaan hatinya saat itu, laksana tambang yang ruwet, tak bisa dibuka lagi.

Keruwetan apa yang bisa dilepas? Hanya keruwetan yang diikat sendiri dapat dibuka. Demikian pula keruwetan yang mengganjal dalam hati, sayang keruwetan yang satu ini bukan dia sendiri yang mengikatnya.

Masa kecilnya dulu dialami bagai mimpi buruk, riwayat hidupyang sengsara, mengenaskan.tapij uga penuh dilembari perjuangan yang gigih dan berat, meronta dalam kesengsaraan sudah menjadi modal hidupnya, bergelut dengan penderitaan adalah keahliannya. Kejadian masa lalu, pengalaman hidup yang penuh pahit getir, malu dibicarakan dengan orang lain.

Setiap persoalan tentu punya keruwetan yang berbeda. Kesepian yang tak berujung pangkal selalu menghinggapi sanubari, melembari kehidupannya. Kesepian adalah segi kehidupan yang mengerikan, membayangkan rasa sepi itu, mengkirik bulu kuduk Ting Si.

Kesepian berarti sebatangkara. Menyaksikan Ong-toasiocia dipeluk Teng Ting-hou di tempat gelap, melihat mereka  keluar dari lorong gelap sambil bertatap muka dengan senyum manis.  Rasa sepi kembali menggelitik sanubari Ting Si, rasa kesepian itu memang sudah berakar dalam lubuk hatinya sejak lama. Entah mengapa, dia merasa dirinya dicampakkan, dilupakan dan dikhianati. Dicampakkan atau dilupakan juga merupakan salah satu unsure yang mengandung kesepian, merupakan unsur yang sukar ditahan, membekas paling dalam.

Akan tetapi, Ting Si juga sadar, akibat dari semua ini adalah karena dia sendiri yang membuatnya. Sikapnya yang ketus, tutur kata yang dingin dan yang utama karena dia menolak permintaan nona itu, adalah logis kalau mereka sekarang melupakan dirinya.

Menyadari akan kesalahannya sendiri, Ting Si tidak  menyesal,  tidak  perlu mengomel juga tidak iri, sanubarinya hanya merasa bersyukur sekaligus memujikan, semoga mereka hidup akur   sampai hari tua. Rasa syukur yang suci lagi murni, namun dilandasi derita batin. Jika tahu betapa berat dan mendalam penderitaan batinnya, maka akan paham dan maklum, betapa menakutkannya 'salah paham' itu.

Waktu angin malam berhembus dari puncak gunung di kejauhan sana, suara kentongan pun berbunyi tiga kali. Mendadak Ting Si berjingkrak bangun, dengan kecepatan yang tidak terukur dia meluncur kepuncak gunung di kejauhan itu. Puncak gunung yang diliputi kegelapan terasa dingin dan berkabut tebal, lereng gunung yang semula hijau permai kini dibungkus kegelapan yang pekat tak berujung pangkal.

* * * * * Gelap tak pernah bertahan, habis gelap terbitlah terang. Fajar akhirnya menyingsing, lereng hijau itu bermandikan cahaya surya kuning emas, cahaya matahari benderang menyinari jagad raya.

Sinar surya yang hangat menyorot masuk lewat jendela, warung bakpao yang jorok dan kotor oleh hangus itu terasa lebih hangat, penuh hawa dan daya kehidupan.

Ong-toasiocia sedang sarapan pagi, bakpao sedang ia ialap dengan sayur asin. Bakpao masih hangat, ayam bakar sisa semalam, jadi sudah dingin, namun ia lahap dengan penuh nafsu, maklum rasanya yang lezat memang berbeda dengan sarapan pagi yang biasa dia nikmati.

Bakpao yang lebih besar dari tinju Teng Ting-hou ternyata mampu dia habiskan dua biji.

Dua hari belakangan ini, ia kurang tidur, namun sebe-lum matahari terbit, dia sudah bangun dan berdandan se-kadarnya, setelah mengunci diri di dapur laiu membersihkan badan secara diam- diam. Badan tersiram air, semangat pun menyala, sudah tentu selera makannya bertambah besar.

Betapapun Ong-toasiocia masih muda, penuh gairah hidup.

Berbeda dengan selera Teng Ting-hou, entah mengapa pagi ini dia justru tidak doyan makan. Lo- shoa-tang lebih payah lagi, semalam dia banyak minum, tidur tidak nyenyak, maka keadaannya amat lusuh dan loyo. Mulutnya menggerutu, "Ada hotel dengan ranjang empuk tidak mau  menginap di sana, malah tidur di mejaku yang kotor dan berminyak. Anak-anak muda zaman sekarang mungkin sudah sinting, aku jadi bingung, entah kalian ini mengidap penyakit apa?"

Ong-toasiocia tertawa lebar, "Badanku sehat bugar, tidak punya penyakit, mungkin dia yang sakit." Tangannya menuding Teng Ting-hou.

"Dia maksudmu?" tanya Lo-shoa-tang melirik Teng Ting-hou.

"Dia takut terhadapku, karena aku bukan. " sebelum habis mulutnya bicara, selebar mukanya

sudah merah malu.

Mata Lo-shoa-tang memicing, katanya tertawa, "Karena kau bukan kekasihnya, karena kau adalah milik Ting Si, begitu?"

Ong-toasiocia  tidak  menyangkal.  Kalau  dia  membantah  berarti   membenarkan. "Hahahaha. " Lo-shoa-tang tertawa lebar. "Ting Si bocah konyol itu memang serba pandai,

pandangannya tajam lagi tepat." Lalu dia beranjak ke lemari mencari arak, "Ini berita yang

menggembirakan, kita harus minum tiga cawan untuk merayakan."

Orang yang gemar minum arak seialu mencari alasan untuk minum lebih banyak. Teng Ting-hou ikut tertawa lebar.

Sementara itu, Lo-shoa-tang sudah mengeluarkan tiga cawan sedang, satu persatu dia isi penuh ketiga cawan itu dengan arak wangi.

"Hari ini, kita jangan minum terlalu banyak," Teng Ting-hou berujar..

Lo-shoa-tang mengerling tajam, "Tidak boleh banyak minum, memangnya kau senang minum cuka?"

"Umpama benar aku ingin minum cuka, aku lebih senang makan cuka kering." "Kalau begitu boleh lekas kau minum," Lo-shoa-tang berolok-olok. "Tapi hari ini. "

"Jangan kuatir, Oh-lo-ngd akan datang malam hari. Sun Gi akan makan ayam bakar setelah lewat tengah malam, kesukaannya juga ayam bakar masih segar dan panas."

Teng Ting-hou menghela napas, "Kalau kami harus duduk menunggu sehari penuh di warungmu ini, wah, rasanya lebih parah daripada disiksa dalam penjara."

"Jangan kuatir," seru Lo-shoa-tang. "Aku tanggung kau betah tinggal di warungku yang kotor ini, arak simpananku cukup untuk membuat kalian basah kuyup." Lalu dia menghabiskan lagi tiga cawan.

Tiba-tiba Ong-toasiocia menyeletuk, "Saat begini sudah minum arak, apakah tidak terlalu pagi?" "Mengapa terlalu pagi?" tanya Lo-shoa-tang mengerut kening.

"Karena. " Ong-toasiocia menghela napas. "Aku berusaha bersikap baik terhadapnya, tapi

malah. "

"Tapi bocah itu malah bersikap dingin dan kaku terhadapmu," sambung Lo-shoa-tang. "Dia sengaja bertingkah untuk membuatmu marah."

Ong-toasiocia menggigit bibir, katanya kemudian, "Ya, demikianlah kenyataannya."

Lo-shoa-tang tertawa lebar, "Dalam hal ini, kau memang masih hijau, tidak punya pengalaman, justru karena dia juga mencintaimu, maka dia sengaja bertingkah, berlagak dingin dan memancing amarahmu. Aku kan sudah bilang, bocah itu adalah makhluk aneh."

Tampak senang dan riang sorot mata Ong-toasiocia, dengan kedua tangannya dia mengangkat cawan arak, sekaligus dia habiskan secawan itu.

Teng Ting-hou diam saja mengawasi dari samping, tidak mencegah juga tidak memberi komentar. Dia tahu bila nona judes ini ingin minum, kakek moyangnya juga takkan bisa mencegah keinginannya.

Di saat itu, secara tidak terduga, terdengar suara "Tak" yang keras. Padahal Lo-shoa-tang belum membuka warung, pintu masih tertutup rapat, namun di atas daun pintu bagian luar tertempel secarik kertas merah dengan dua baris huruf yang berbunyi: Pemilik warung sakit, istirahat tiga hari.

Tak berselang lama setelah suara "Tak" yang pertama tadi, menyusul terdengar suara "Blang"yang lebih keras. Daun pintu mendadak diterjang ambruk ke kanan kiri, begitu pintu terbuka, seorang tampak menerjang masuk dengan langkah sempoyongan. Begitu keras daya terjangnya, setelah mendobrak pintu masih menubruk meja, sehingga cawan di tangan Ong- toasiocia terlepas, arak membasahi muka dan pakaiannya. Tapi Ong-toasiocia tidak marah, karena orang yang menabrak pintu bukan lain adalah Oh-lo-ngo.

Lo-shoa-tang mengerut kening, omelnya aseran, "He, apa kau mabuk?"

Oh-lo-ngo sempoyongan, supaya tidak jatuh dia berpegang pinggir meja, pinggangnya tertekuk sembilan puluh derajat, napasnya menderu sekeras kipas tungku, namun keadaannya tidak mirip orang mabuk.

Lo-shoa-tang bertanya pula, "Apa Sun Gi menyuruhmu mengambil ayam bakar sepagi ini?" Oh-lo-ngo menggeleng kepala, tanpa bicara mendadak dia berlari keluar dengan langkah sempoyongan.

Ong-toasiocia mengawasi Teng Ting-hou, Teng Ting-hou menatap Lo-shoa-tang, katanya, "Apa yang terjadi?"

Lo-shoa-tang tertawa kecut, "Hanya Thian yang tahu apa yang telah terjadi. Si bungkuk ini memang makhluk aneh, sekarang. " Mulutnya ternganga, mata pun terbelalak mengawasi

meja. Ternyata dicelah-celah meja kayu yang jorok itu terselip segulung kertas tipis. Teng Ting-hou juga melihat gulungan kertas kecil itu.

Tadi Oh-lo-ngo berdiri lemas dengan tersengal-sengal bertopang pinggir meja. Kiranya dari jarak sejauh itu, dia memburu datang untuk mengirim berita yang tertulis di atas gulungan kertas tipis  ini.

Padahal Sun Gi tidak pernah menyuruhnya turun gunung membeli ayam bakar di waktu pagi. Bahwa dia memerlukan datang mengirim berita di pagi hari, maka dapat diduga bahwa kedatangannya dilakukan diam-diam. Sebagai orang tanpa daksa, menempuh perjalanan gunung sejauh ini, sudah tentu bukan tugas enteng, boleh dikata tugas berat ini menuntut pengorbanan  jiwa dan raganya.

Teng Ting-hou menghela napas, "Memang tidak malu orang ini dijuluki Oh-lo-ngo yang berani mempertaruhkan jiwa untuk kepentingan teman.dia memang berani mengadu jiwa."

Ong-toasiocia berkata, "Dia berani mempertaruhkan jiwa untuk mengantar berita, maka kabar yang dia bawa pasti amat penting."

Tanpa berjanji mereka mengulur tangan hendak mengambil gulungan kertas yang terselip di sela-sela lubang meja. Sudah tentu gerakan Teng Ting-hou paling cepat, ketika gulungan kertas itu dibeber di atas meja, tampak kertas kumal kecil tergulung itu hanya terdapat beberapa huruf yang berbunyi: Tepat tengah malam, Toa-po-tha.

Kertasnya kumal, kasar dan kotor, gaya tulisannya juga jelek tidak keruan mirip anak-anak yang baru belajar menulis.

"Apa maksudnya?" tanya Ong-toasiocia.

"Maksudnya ialah, nanti tengah malam, kita harus pergi ke Toa-po-tha," Teng Ting-hou menerangkan.

"Karena di sana akan terjadi sesuatu?"

"Ya, kejadian yang akan menjadi kunci untuk membongkar kedok pembunuh keji itu." "Toa-po-tha adalah nama suatu tempat?"

"Toa-po-tha adalah nama sebuah menara," Lo-shoa-tang menjawab. "Dimana letak menara itu?" tanya Ong-toasiocia.

"Di belakang San-sin-bio (biara penunggu gunung)." "San-sin-bio dimana?" tanya Teng Ting-hou pula. "Di depan Toa-po-tha," Lo-shoa-tang menjawab dengan sabar, "Bisa tidak kau jelaskan tempatnya."

"Tidak bisa." "Mengapa?"

Setelah menghabiskan arak dalam cawannya, Lo-shoa-tang menghela napas, "Orang dilarang pergi ke tempat itu." Tiba-tiba sikapnya berubah tegang dan serius, suaranya juga tertekan dan pelan, "Tempat itu keramat dan ditakuti orang, kabarnya orang yang pernah ke sana, tidak pernah ada yang pulang ke rumahnya lagi."

Ong-toasiocia tertawa kaku, "Apakah di menara itu ada setan atau dedemit?" "Entah aku tidak tahu," sahut Lo-shoa-tang gugup.

"Kau belum pernah ke sana?"

"Aku takut ke sana, maka sampai sekarang aku masih hidup." Sikapnya sungguh-sungguh, jelas bukan berkelakar atau pura-pura.

Ong-toasiocia mengawasi Teng Ting-hou, yang diawasi menyengir tawa, wajahnya kelihatan  kecut. Maklum lebih banyak persoalan yang dia pikir, sebagai kawakan Kangouw pikirannya lebih panjangdan iuasdalam menghadapi suatu masalah. Undangan ke Toa-po-tha itu bukan mustahil merupakan jebakan belaka, kalau ke sana berarti masuk perangkap musuh, namun keadaan memaksa mereka untuk ke tempat itu.

"Kalau betul di sini ada menara yang dinamakan Toa-po-tha, dimana pun letaknya pasti dapat kita temukan," ucap Teng Ting-hou.

Ong-toasiocia berjingkrak berdiri, serunya, "Hayolah sekarang juga kita cari." "Sekarang belum boleh pergi," buru-buru Teng Ting-hou mencegah. "Mengapa?" tanya Ong-toasiocia aseran.

"Kalau sekarang kita ketempat itu, mungkin diketahui orang-orang Ngo-hou-kang. Itu berarti menyingkap rumput mengejutkan ular."

"Betul, menghadapi persoalan ini, jangan gegabah."Lo-shoa-tang menyeletuk.

Ong-toasiocia mengomel, "Memangnya sepanjang hari ini kita hanya duduk makan minum dan tidur saja tanpa bekerja?"

Lo-shoa-tang tertawa, "Tinggal di warungku ini, kalian tidakakan kubiarkan dudukdan makan gratis. Rumahku serba kotor, mumpung ada tenaga, hayolah bantu aku membersihkan rumah."

* * * * *

Cuaca mulai gelap.

Luka lengan Teng Ting-hou sudah diganti obat dan dibalut lagi secara rapi. Tanpa bersuara dia sedang sibuk membersihkan sekantong Thi-lian-ou (biji teratai besi) dengan secarik kain kering. Pelahan dia membersihkan butir demi sebutir, tekun dan amat hati-hati, penuh pertiatian, setiap biji teratai besi dibersihkan sampai mengkilap. Gaman Teng Ting-hou yang terkenal ampuh adalah sepasang tinjunya, hampir tiada orang persilatan yang tahu bahwa dia juga mahir menggunakan Am-gi (senjata raha-sia). Sekantong teratai besi itu sudah lamatidak pernah digunakan.

Pernah terjadi ketika dia berduel dengan seorang musuh tangguh, dengan biji teratai besi itu dia menyerang musuh yang bersenjata golok besar. Bukan saja lawan tidak berhasil dirobohkan, malah biji teratai besi timpukannya berhasil disampuk mencelat oleh golok lawan yang tebal dan berat, hingga melukai seorang teman yang menonton di pinggir arena. Sejak kejadian itu dia merasa malu dan tidak menggunakan senjata rahasianya lagi, peristiwa ini sudah belasan tahun yang lalu, waktu dirinya masih muda, belum punya nama di dunia persilatan. Tapi sekarang keadaan memaksa dia menggunakan senjata rahasia lagi. Kadang kala seorang dipaksa oleh keadaan untuk melakukan sesuatu yang sebetulnya tidak ingin dia lakukan.

Teng Ting-hou menghela napas, biji teratai besi terakhir yang dibersihkan dia masukan ke dalam kantong asalnya, kantong kulit itu dia gantung di pinggang.

Sejak tadi Ong-toasiocia memperhatikan gerak-gerik-nya, baru sekarang ia bertanya, "Sekarang apakah sudah saatnya kita berangkat?"

Teng Ting-hou mengangguk sekali, dia tenggak dulu secawan arak. Arak dapat membuat gerak orang Iamban dan kaku, salah dalam menentukan langkah kerja, tapi dapat menambah keberanian dan semangat.

Begitulah kejadian di dunia ini, ada yang baik tapi juga ada yang jelek. Kalau sering berpikir ke arah yang baik, maka akan hidup gembira dan tenteram.

Ong-toasiocia juga menghabiskan secawan arak, lalu berdiri, katanya tertawa kepada Lo-shoa- tang, "Terima kasih atassuguhan arak, ayam bakardan bakpaomu."

Lo-shoa-tang mengangkat kepala, matanya terbelalak, lama dia menatap gadis ini, mendadak dia bertanya, "Kau mau ikut?"

"Ya, aku harus ikut. Memangnya aku harus menjaga rumahmu?" tegas suara Ong-toasiocia.

"Tadi sudah kujelaskan, orang yang ke sana banyakyang tidak kembali. Kau masih berani pergi ke sana?"

Ong-toasiocia tertawa, "Dapat pulang atau tidak, tidak penting, yang penting adalah kami bisa ke sana."

Teng Ting-hou hanya menyengir saja.

Lo-shoa-tang berkata puia, "Watakmu memang patut dipuji, bila kaujngin melakukan sesuatu, sebelum terlaksana dan tercapai, kemana juga kau pasti meluruknya?"

Teng Ting-hou tertawa, "Sebetulnya bukan aku mesti pergi ke sana soalnya aku juga takut mati. Tapi kalau aku tidak ke sana, maka hidupku selanjutnya mungkin tidak tenteram, selalu dibayangi ketakutan."

"Bagus, pendapat bagus," seru Lo-shoa-tang, mendadak dia berdiri, "Hayolah kita berangkat." Teng Ting-hou melengak, tanyanya heran, "Kita?"

Lo-shoa-tang tertawa, "Kalau tidak kutunjukkan jaian-nya, kemana kalian akan menemukan tempat itu?" "Terangkan saja letaknya, biar kami pergi sendiri," pinta Ong-toasiocia. "Tidak bisa," sahut Lo-shoa-tang tegas.

"Mengapa tidak bisa?" desak Ong-toasiocia. "Karena aku juga ingin ke sana."

"Tadi kau bilang,' kalau ke sana mungkin tidak bisa pulang."

"Setelah kujelaskan kalian masih bertekad mau pergi, kalau kalian boleh pergi, mengapa aku tidak boleh?"

"Soalnya ada persoalan yang harus kami bereskan di sana." "Tapi aku juga punya alasan, aku ingin melihat tontonan."

"Alasanmu kurang baik. Ingat melihat tontonan jangan mempertaruhkan jiwa."

"Bagi diriku, alasanku cukup setimpal," ujar Lo-shoa-tang tertawa. "Kalian masih muda, masih remaja, masadepan riiasih terbentang luas di depan mata. Demikian juga dia, namanya tersohor, punya duit dan berkuasa. Sebaliknya aku? Aku sudah tua, sebatangkara lagi, aku punya apa?"

"Kau......kau. " Ong-toasiocia tergagap, tidak dapat mendebatnya.

"Usiaku sudah lanjut, tubuhku sudah reyot. Orang yang sudah siap masuk kubur," tukas Lo-shoa- tang. "Aku tidak punya bini tiada anak, tidak punya harta tiada sawah ladang,  setiap malam  kerjaku hanya minum dan minum sampai mabuk, keuntungan yang kuperoleh dari warung ini  selalu habis di meja judi, lalu apa bedanya kehidupanku ini dengan bangkai? Kalau kalian berani mempertaruhkan jiwa ragademi menoiong kawan, berjuang demi kesejahteraan kaum persilatan, mengapa aku tidak boleh?" Makin bicara makin emosi, otot di lehemya sampai merongkol.

Lo-shoa-tang berkata pula, "Umpama kalian tidak sudi memandangku sebagai teman, sebaliknya aku senang bergaul dengan kalian, aku  adalah sahabat  Siau Ma,  senang bergaul  dengan Ting Si, maka aku pun ingin ikut ke sana."

Ong-toasiocia menatap Teng Ting-h'ou. Yang ditatap menghirup secawan arak pula, katanya kemudian, "Hayolah berangkat."

"Maksudmu kita bertiga?"tanya Ong-toasiocia melotot. "Ya, mari kita berangkat," ujar Teng Ting-hou.

* * * * *

Angin berhembus dingin dari puncak gunung di kejauhan sana, tabir malam sudah membuat alam semesta gelap gulita.

Ketiga orang itu beranjak keluar dari rumah dengan langkah tegap. Lo-shoa-tang malah membusungkan dada, berjalan paling depan. Begitu melangkah ke depan, dia tidak pernah menoleh ke belakang lagi.

"Kau tidak menutup dan mengunci pintu rumahmu?" tanya Ong-toasiocia beberapa kejap kemudian.

"Kalian berani mempertaruhkan jiwa, mati hidup sudah tidak dipikir lagi, mengapa aku harus sibuk memikirkan warung bakpao yang tidak seberapa nilainya."

Puncak gunung di kejauhan itu keiihatan amat jauh dan terselubung kabut dan tabir malam, tapi betapapun jauh letak gunung itu, akhirnya akan tercapai juga. Dalam pelukan gunung belukar ini, deru angin malam terasa mengiris badan, suaranya yang ribut membisingkan telinga, denging suaranya berbeda-beda, kadang kaia berubah rendah sumbang mirip seorang menghela napas rawan. Entah untuk siapa dia menghela napas? Mungkin karena manusia beriaku kejam dan bodoh?

Entah mengapa manusia harus saiing tipu, celaka-mencelakai, saling bunuh lagi?

Sinar lampu berkelap-kelip di kota bawah sana, keiihatan jauh, mirip bintang yang bertaburan di angkasa, iebih jauh dibanding bayangan gunung waktu dilihat dari bawah tadi.

Di bawah penerangan cahaya bintang, keadaan pegunungan remang-remang, samar-samar kelihatan di atas lereng bukti sana ada bayangan sebuah kuil kecil.

Teng Ting-hou bertanya dengan menekan suaranya, "Apakah bayangan gelap itu San-sin-bio?" "Ehm," Lo-shoa-tang menjawab dalam mulut.

"Toa-po-tha berada di belakang San-sin-bio itu?" "Ehm."

Giliran Ong-toasiocia bertanya, "Mengapa aku tidak meiihat bayangan menara?" "Mungkin matamu lamur," sahut Lo-shoa-tang.

"Matamu masih tajam, apa kau sudah melihatnya?" "Ehm."

"Dimana?" desak Ong-toasiocia.

Sekenanya Lo-shoa-tang menuding ke depan. Yang dituding adalah sebentuk bayangan gelap, lebih tinggi dari San-sin-bio, dilihat dari bawah, ujung atas bayangan gelap itu keiihatan muncul dan Iebih tinggi sedikit dari wuwungan San-sin-bio, rata persegi seperti puncak gunung digergaji pucuknya, bentuknya mirip bukit rendah atau panggung batu. Bentuk bayangan gelap itu boleh dikata mirip apa saja, tapi pasti tidak mirip sebuah menara.

"Maksudmu bayangan hitam itu adalah Toa-po-tha?" tanya Ong-toasiocia. "Ehm."

"Berbagai macam menara pernah kulihat, meski bentuknya berbeda-beda, besar kecil atau tinggi rendah, tapi menara yang satu ini. aneh."

Mendadak Lo-shoa-tang menukas, "Aku kan tidak mengatakan bayangan itu sebuah menara." "Kau tidak mengatakan?"

"Bahwasanya, bayangan itu memang bukan menara," ujar Lo-shoa-tang.

Ong-toasiocia bingung, Teng Ting-hou juga heran tanyanya kemudian, "Bayangan apakah itu?" "Bayangan gelap itu adalah menara buntung." "Apa?" Teng Ting-hou menegas.

"Menara mana ada yang buntung," bantah Ong-toasiocia.

"Ayam panggang bisa diparoh, demikian pula bakpao bisa diiris, mengapa menara tidak boleh buntung?" debat Lo-shoa-tang.

"Ayam bakar dan bakpao semua utuh, merijadi separoh karena dimakan orang, betul tidak?" "Betul."

"Lalu mengapa menara itu menjadi buntung. Dimana sisa yang buntung?" "Sudah ambruk."

"Lho, mengapa ambruk?"

"Karena menara itu terlalu tinggi," bola mata Lo-shoa-tang seperti bersinardi malam gelap. "Menara seperti juga manusia, kalau terlalu tinggi manusia merayap ke atas, bukankah lebih mudah terjungkal jatuh?"

Teng Ting-hou tidak bertanya lagi, namun menghela napas panjang. Makna yang diterangkan Lo-shoa-tang, mungkin tidak ada orang yang bisa menjiwainya seperti dirinya. Makin banyak persoalan yang dipahami, makin sedikit orang buka suara.

"Semula menara itu dibangun tiga belas tingkat," tutur Lo-shoa-tang. "Konon untuk membangun tiga belas tingkat menara itu, memakan waktu delapan tahun lamanya."

"Dan sekarang?" tanya Ong-toasiocia.

Bersinar mata Lo-shoa-tang, "Waktu tujuh tingkat ba-gian atas menara itu ambruk, kebetulan banyak orang sedang bersembahyang di San-sin-bio."

"Wah, kan jatuh banyak korban yang meninggal?" seru Ong-toasiocia kuatir. "Banyak sih tidak, konon yang meninggal hanya tiga belas orang."

Kaki tangan Ong-toasiocia berkeringat dingin.

Suara Lo-shoa-tang berubah tawar, "Kalau manusia mati penasaran, arwahnya akan gentayangan, maka tiga belas orang yang mati itu menjadi tiga belas setan gentayangan."

Kebetulan angin gunung berhembus, tanpaterasa Ong-toasiocia bergidik merinding, "Dalam keadaan begini, kuharap kau tidak asal mengoceh saja."

"Boleh saja," ujar Lo:shoa-tang.

Pada saat itu, tampak cahaya api dari sebuah lentera menyala di atas menara yang putus dan papak itu. Sinar lampu yang redup mirip mata setan.

Ong-toasiocia menahan napas, tanyanya kepada Lo-shoa-tang. "Lho, di atas itu ada orang?" Lo-shoa-tang terkekeh, "Apa yang kukatakan?" Ong-toasiocia menggigit bibir, katanya sambil membanting kaki, "Peduli manusia atau setan di atas menara itu, aku ingin naik ke sana memeriksanya."

Cepat Teng Ting-hou menariknya, "Tak usah kau naik ke sana, aku tanggung dia pasti manusia, hanya saja ada kalanya manusia lebih menakutkan dibanding setan atau iblis."

Terbayang betapa kejam dan telengas perbuatan orang itu, Ong-toasiocia menjadi mengkirik dan merinding. Padahal hatinya takut, lahirnya saja dia masih berlaku bandel, "Tapi kalau kita tidak berani melihat ke sana, buat apa kita datang kemari?"

"Sudah tentu harus melihat ke sana," ujar Teng Ting-hou. "Kita bertiga maksudmu?" tanya Ong-toasiocia.

Teng Ting-hou geleng kepala, "Aku sendiri yang akan naik ke sana. Kalian tunggu aku di sini." Hampir menjerit suara Ong-toasiocia, "Tunggu di sini melihat apa?"

Teng Ting-hou menjelaskan, "Kalian mengawasi keadaan sekitar sini, ikut menjaga keamanan. Jika aku gagal, sedikit banyak kalian bisa memberi pertolongan padaku."

"Tapi aku. "

"Tiga orang bergerak, bisa menarik perhatian, kalau seorang kan lebih menguntungkan?" Ong-toasiocia mengangguk, alasan Teng Ting-hou memangbenar.

"Kalau jejak kita bertiga diketahui, itu berarti kita sudah terjebak oleh perangkap musuh." Terpaksa Ong-toasiocia bungkam, kalau bungkam selalu dia menggigit bibir.

Lo-shoa-tang seperti mendapat angin, katanya, "Di belakang San-sin-bio ada sepucuk pohon mangga yang tumbuh besar dan tinggi, letak pohon itu tidak jauh dari menara buntung itu, Rami akan bersembunyi di atas pohon mangga yang rimbun itu, kami siap membantu bila kau memerlukan bantuan kami."

MendadakOng-toasiocia bertanya, "Pohon mangga itu berbuah tidak?" "Kau ingin makan mangga?" tanya Lo-shoa-tang.

Ong-toasiocia jengkel, "Aku tidak ingin makan mangga, aku ingin menyumbat mulutmu dengan mangga." .

* * * * *

Menara buntung itu hanya enam tingkat, namun masih Sebih tinggi dibanding kuli kecil di depannya, makin dekat terasa betapa tinggi menara buntung bertingkat enam itu.

Demikian puia manusia, setelah bergaui dekat baru tahu betapa tinggi budi pekertinya, betapa agung jiwanya.

Kalau berdiri di bawah menara dan mendongak ke atas, cuma kegelapan saja yang terlihat, sinar Iampu di pucuk menara itu pun tidak kelihatan. Hembusan angin gunung terasa berat, seberat orang menghela napas rawan, sekeliling sunyi senyap.

Gerak-gerikTeng Ting-hou amat enteng, lincah dan gesit. Biasanya dia memang bangga pada Ginkangnya sendiri, ia percaya seekor kucing yang merunduk mangsanya juga takkan selincah gerak-geriknya sekarang. Apalagi tabirmalam seperti membungkus bayangannya, dia yakin entah manusia atau setan yang menyalakan Iampu di pucuk menara itu, lawan takkan mudah menemukan jejaknya.

Pada saat Teng Ting-hou tiba di bawah menara, dari atas menara justru berkumandang suara orang mengejek, "Bagus sekali, ternyata kau datang tepat waktunya."

Teng Ting-hou berjingkat, sukar dia meraba kepada siapa perkataan itu ditujukan.

Terdengar suara itu berkata pula, "Kau sudah berani datang, mengapa tidak segera naik kemari?"

Teng Ting-hou menghela napas, kali ini Sebih jeias, ucapan itu ditujukan kepada dirinya. Meski gerak-geriknya selincah kucing, namun pendengaran dan perasaan lawan ternyata lebih tajam dari anjing pelacak, mungkin juga dirinya sudah dimata-matai sejak tadi. Maka Teng Ting-hou membusung dada sambil mengepal tinju, suaranya dibuat rendah dan tenang, "Aku berani kemari, sudah tentu aku akan naik ke atas."

Setiap tingkat dari menara enam susun itu terdapat payon yang menjorok keluar, tingkat demi tingkat"payon itu makin kecil dibanding payon di bawahnya. Dengan Gin-kang Teng Ting-hou,  tidak sukar meiompat ke atas, apa-lagi tinggi setiap payon itu dapat dicapai dengan sekali lompatan Ginkangnya yang tinggi. Tapi untuk naik ke atas menara ini, dia justru memilih anaktangga, Teng Ting-hou cukup cerdik menerawang keadaan, dia tidak mau dirinya dijadikan sasarar  bidikan senjata  rahasia musuh di kala dirinya terapung di udara.  Dia pun tidak mengharap dirinya ditendang jatuh dari atas dan terbanting marnpus di tanah seperti anjing yang dibanting tukang jagal.

Biar pelan dan membuang tenaga, tapi selamat, maka Teng Ting-hou memilih anak tangga. Peduli betapa gelap keadaan dalam menara, betapa sempit anaktangga dan ruang geraknya, ia tetap memilih anak tangga. Umpama .ada musuh siap membokong dirinya, kalau kakinya beranjak mantap dengan penuh kepercayaan, rasanya tak perlu kuatir.

Selangkah demi selangkah Teng Ting-hou naik ke atas, biar lambat asal selamat sampai tujuan. Anehnya bukan saja dirinya tidak dibokong, ternyata menara ini kosong melompong.

Kertas jendela sudah banyak yang koyak dan kotor, bila angin berhembus kencang, kertas jendela itu mengeluarkan suara berisik. Makin tinggi, hembusan angin makin kencang, makin ribut dan gaduh. Demikian pula jantung Teng Ting-hou makin berdebar.

Sejak tingkat bawah, menara ini tidak terjaga, juga tiada perangkap apa-apa. Apakah seluruh kekuatan yang terpendam di menara ini terpusatkan di puncaktertinggi? Teng Ting-hou insyaf, bila dirinya tiba di atas, mungkin takkan bisa turun lagi, mengapa dirinya harus ikut campur urusan orang lain dan mencari kesulitan?

Telapak tangannya basah oleh keringat dingin, keringat juga membasahi ujung hidungnya. Bukan karena takut, tapi lantaran tegang.

Siapakah pengkhianat itu? Siapa pula pembunuh durjana itu? Teka teki akan segera terbongkar. Dalam menghadapi saat-saat yang menentukan ini, perasaan siapa yang tidak merasa tegang?

* * * * *

Kalau ada lampu menyala, tentu ada orang di pucuk menara. Satu lampu menerangi dua orang. Sebuah lampion kertas kuning digantung miring dengan galah bambu yang tertancap di tembok, lampion itu bergoyang-gontai dihembus angin.

Di bawah lampion ada orang. Seorang tanpa daksa, orang bungkuk yang bertubuh kurus, wajahnya yang hitam jelek dihiasi codet bekas bacokan senjata tajam.

Orang bungkuk ini bukan lain adalah Oh-lo-ngo, Oh-lo-ngo yang berani adu jiwa. Saat itu dia bukan mengadu jiwa, tapi sedang mengisi arak ke dalam cawan.

Cawan di atas meja, meja di bawah lampion, cawan itu berada di depan seorang berperawakan tinggi kekar. Di kanan kiri meja, berhadapan dua kursi kosong. Salah satu kursi sudah diduduki seorang berpakaian hitam. Orang ini duduk membelakangi anaktangga.

Begitu Teng Ting-hou tiba di puncak tertinggi, matanya hanya melihat bayangan punggung orang ini, walau hanya duduk, namun bayangannya kelihatan tinggi. Telinganya tentu mendengar  langkah kaki Teng Ting-hou yang sudah berada di belakangnya, namun dia tidak bergerak, tidak menoleh, hanya mengulur tangan menuding kursi di depannya. "Silakan duduk," katanya.

Teng Ting-hou beranjak ke sana dan duduk di kursi yang ditunjuk. Setelah pantatnya menyentuh kursi baru dia mengangkat kepala. Tanpa berkedip ia mengawasi orang di depannya dengan seksama.

Orang itupun menatap dirinya tak kalah tajam, begitu pandangan mereka beradu, laksana dua golok tajam yang beradu, memercikkan api. Wajah mereka tampak serius dan tegang.

Teng Ting-hou mengenal orang ini, pernah melihatnya beberapa kali. Pertama kali melihat orang ini di Koan-gwa, di padang rumput luas yang membentang di kaki gunung Tiang-pek, tepatnya di kantor Tiang-ceng Piaukiok.

Sejak pertemuan pertama dulu, setiap berhadapan dengan orang ini, sanubarinya selalu diliputi rasa hormat dan senang. Hormat karena dia menghargai pribadi dan karirnya, senang karena orang ini ramah dan bajik, hubungan mereka pun makin dekat dan intim. Tapi setelah sekian lama berpisah, sejak kasus pengkhianatan dan pembunuhan itu terjadi, baru hari ini mereka bertatap muka kembali. Tampak oleh Teng Ting-hou, sorot mata maupun mimik wajahnya menampilkan rasa derita dan penasaran, amarah yang membakar sanubarinya. Dia bukan lain adalah Pek-li Tiang-ceng.  Ternyata memang  dia, Pek-li Tiang-ceng. Mengapa kau lakukan

perbuatan terkutuk itu? Dalam hati Teng Ting-hou menjerit, namun mulutnya berkata tawar, "Kau baik-baik saja?"

Kelam muka Pek-li Tiang-ceng, katanya dingin, "Aku tidak baik, buruk sekali." "Kau tidak menduga aku akan datang kemari?"

"Hm," Pek-li Tiang-ceng hanya mendengus.

Teng Ting-hou menghela napas, "Sudah lama aku menduga akan dirimu. "

Teng Ting-hou tidak meneruskan ucapannya, karena dilihatnya Pek-li Tiang-ceng mengerut kening. Agaknya ada yang ingin dibicarakan, Pek-li Tiang-ceng tidak sabar mendengar.

Teng Ting-hou tidak mau bicara bila orang yang diajak bicara tidak suka mendengar, apalagi semua rahasia yang selama ini menjadi teka-teki akan segera terbongkar, dua sahabat karib yang saling hormat menghormati, sekarang berhadapan sebagai musuh, seorang di antara mereka harus roboh atau gugur bersama, banyak omong sudah tidak diperlukan lagi..

Betapapun sempurna seorang mengatur rencana suatu muslihat, betapapun pandai seorang melakukan kejahatan, suatu ketika perbuatannya pasti terbongkar. Demikiah pula halnya sebuah gunung yang tinggi dan angker, tiada gunung yang sempurna tanpa lubang atau cacat dengan jurang dan ngarai.

Entah lewat lubang jendela yang mana, angin berhembus kencang ke dalam. Hembusan angin di tempat tinggi terasa lebih tajam, makin tinggi makin dingin, rasanya seperti terpencil di awang- awang, seperti sebatangkara. Dalam keadaan  terpencil di  tempat dingin, orang  akan teringat pada arak yang dapat menghangatkan badan. Kebetulan di depannya ada cawan, Oh-lo-ngo segera mengisi cawannya, Teng Ting-hou langsung menenggak habis. Dia percaya tokoh selihai Pek-li Tiang-ceng dengan kedudukannya yang tinggi dan disegani kawan maupun lawan, tidak akan berlaku rendah menaruh racun di dalam arak yang disuguhkan.

Setelah cawan diangkat, lalu diacungkan ke hadapan Pek-li Tiang-ceng. Mungkin sebagai tanda, untuk terakhir kali ini aku memberi hormat dan ucapan selamat kepada sahabat lama.

Sejak kedatangan Teng Ting-hou dan melihat wajahnya, rona mata Pek-li Tiang-ceng diliputi derita. Mungkin terjadi perang batin dalam sanubarinya, menyesali perbuatan yang pernah dilakukan selama ini. Tapi kejahatan sudah telanjur dilakukan, apa boleh buat, menyesal juga sudah kasip.

Sekali tenggak Teng Ting-hou habiskan cawan araknya. Arak terasa pahit dan getir. Pek-li Tiang- ceng juga mengangkat cawan dan arak pun ditenggaknya  habis.  Tiba-tiba  ia  berkata, "Sebetulnya kita adalah sahabat karib, betul tidak?"

Teng Ting-hou mengangguk sebagai jawaban.

"Apa yang kita lakukan sebetulnya tidak salah," ucap Pek-li Tiang-ceng lagi. Teng Ting-hou sependapat.

"Sayang sekali, ada sementara pekerjaan yang tidak tepat kita lakukan dan akibatnya terjadilah peristiwa seperti hari ini."

Teng Ting-hou menghela napas, "Ya, memang harus dibuat sayang, memang terlalu." "Celakanya, aku harus berada di sini, dan kau pun muncul disini."

"Kau kira aku tidak pantas berada di sini?"

"Ya, entah aku atau kau, sebetulnya tidak pantas datang kemari." "Mengapa?"

"Karena sebetulnya aku tidak ingin membunuhmu." "Dan sekarang?"

"Seorang di antara kita ada yang takkan pulang," tegas dan tenang suara Pek-li Tiang-ceng, penuh keyakinan.

Mendadak Teng Ting-hou tertawa lebar. Sebetulnya dia agak jeri terhadap Pek-ii Tiang-ceng, namun kemarahan telah mengobarkan semangatnya, membangkitkan keberanian dan kekuatannya yang terpendam. Meiawan penindasan adalah salah satu cara melampiaskan amarah, ha! ini sudah terjadi sejak zaman purba. Karena manusia dibekali kekuatan terpendam yang akan bangkit mana kala amarah itu berkobar, oleh karena itu, manusia bisa bertahan hidup dan abadi, hidup turun temurun.. Teng Ting-hou tertawa, katanya kalem, "Kau yakin seorang di antara kita yang hidup dan pulang adalah kau?"

Pek-li Tiang-ceng tidak bersuara, diam berarti membenarkan.

Pelahan-iahan Teng Ting-hou berdiri dengan senyum menghias wajahnya, dia keringkan pula arak dalam cawannya. Dia habiskan sendiri araknya tanpa mengajak Pek-li Tiang-ceng minum, lalu katanya tawar, "Silakan."

Pek-li Tiang-ceng mengawasi jari-jari tangan Teng Ting-hou yang meletakkan cawan di atas meja. "Tanganmu terluka?" tanyanya prihatin.

"Tidak jadi soal."

"Tangan adalah gamanmu selama ini."

"Ya, aku tahu, dengan kedua tanganku ini, aku takkan mampu mengalahkanmu." "Lalu gaman apa yang kau gunakan untuk menghadapiku?"

"Kekuatan, dengan kekuatan aku yakin dapat mengalahkanmu."

Pek-li Tiang-ceng menyeringai dingin. Dia tidak bertanya kekuatan apa yang dikatakan Teng Ting-hou, Teng Ting-hou juga tidak menjelaskan, namun dalam hati dia rnemberi peringatan kepada diri sendiri. "Sesat tidak akan mengalahkan kebenaran, untuk memperoleh kebenaran memang pahit getir, namun kebenaran itu takkan punah untuk seiamanya, maka buah dari kebenaran itu akhirnya pasti manis."

Deru angin makin kencang dan ribut. Apakah angin ribut ini bisa mendorong semangat orang? Mendorong semangat siapa?

Teng Ting-hou menyobek pakaiannya lalu dibagi empat pula, dengan kalem ia mengikat kencang lengan baju dan ceiananya. Dari pinggir Oh-lo-ngo mengawasi dengan melongo, sorot matanya tampak ganjil, seperti iba, tapi juga seperti mencemooh atau menghina. Tetapi Teng Ting-hou tak peduli, tak memperhatikan. Dia tidak ingin memperoleh julukan Teng Ting-hou ahli adu jiwa, dia paham akan watak sendiri, tapi dia juga memahami kekuatan iawannya.

Di kalangan Kangouw sukar dicari lawan setangguh ini, lawan yang menakutkan seperti Pek-li Tiang-ceng.

Bukan dia kuatir biia Oh-lo-ngo yang menonton di pinggir memandang dirinya penakut. Karena keberanian sejati banyak macamnya. Hati-hati, waspada dan kesabaran adalah satu diantaranya. Mungkin Oh-lo-ngo tidak paham liku-liku ini, tapi dia tahu Pek-li Tiang-ceng pasti mengerti. Walau dia hanya berdiri seenaknya, seenak orang yang menunggu kekasih, namun sorot matanya tidak menampilkan perasaan hina atau memandang.rendah, sebaliknya  menunjukkan  kewaspadaan dan rasa hormat.

Semua makhluk di dunia, entah manusia atau binatang, dia punya hak untuk mempertahankan hidup, mernpertahankan jiwanya. Untuk mempertaruhkan haknya itu, peduli perbuatan apapun yang dilakukan, dia patut dihormati, harus dihargai.

Teng Ting-hou mulai membusungkan dada, seluruh kekuatan, semangat dan perhatian dipusatkan menghadapi Pek-li Tiang-ceng.

Mendadak Pek-li Tiang-ceng berkata, "Selama beberapa buian ini, kulihat ilmu silatmu memperoleh banyak kemajuan." "O?"

"Paling tidak kau sudah menyelami, tepatnya menjiwai dua jurus, kalau ingin mengalahkan musuh tangguh, dua jurus ini tidak boleh diabaikan."

"Dua jurus yang mana?" "Sabar dan tenang."

Teng Ting-hou menatapnya pula, rasa hormat terpancar pula pada sorot matanya. Lawan adalah sahabat yang patut dihargai, namun lawannya ini harus diperhatikan.

Pek-li Tiang-ceng menatapnya lekat, katanya, "Adakah sesuatu urusan yang belum sempat kau bereskan?"

Teng Ting-hou termenung sebentar, "Aku punya sedikit simpanan, apa yang kutinggalkan cukup untuk hidup isteri dan anak-anakku sampai tua, kurasa tiada perlu kukuatirkan."

"Bagus sekali."

"Kalau aku gugur di medan laga, kuharap kau dapat melakukan satu hal untukku." "Katakan."

"Jangan ganggu Ong Seng-lan dan Ting Si, biar mereka menikah dan punya anak, pilihkan satu yang paling bodoh sebagai ahli warisku, semoga keluarga Teng tidak putus turunan ditanganku."

Terunjuk lagi rasa derita dan serba bertentangan di mata Pek-li Tiang-ceng, lama sekali baru dia berseru, "Mengapa kau pilih yang paling bodoh?"

Teng Ting-hou tertawa ewa, "Orang bodoh biasanya hidup bahagia, sederhana dan banyak rezeki, kuharap dia dapat hidup damai hingga hari tua." Tawa yang ewa, permintaan yang sederhana, namun menyentuh duka lara setiap manusi yang punya perasaan.

Duka laranya sendiri, juga duka lara Pek-li Tiang-ceng

Ternyata Pek-li Tiang-ceng juga mengajukan permohonan kepadanya, "Bila aku gugur, kuminta kau mencari seorang perempuan bernama Kang Hun-sin, serahkan seluruh harta peninggalanku kepadanya."

Teng Ting-hou tertarik, "Mengapa?" tanyanya heran.

"Sebab. " Pek-li Tiang-ceng bimbang sejenak. "Aku tahu dia memberi aku seorang keturunan."

Mereka tidak bicara lagi, hanya saling pandang dengan lekat. Mereka tahu bahwa lawan akan melaksanakan permintaannya, karena dalam hati mereka sudah terbenam kepercayaan pada musuhnya. Lalu mereka pun bertarung, hampir bersamaan mereka turun tangan.

Serangan Teng Ting-hou kuat lagi ganas, keras juga keji. Dia insyaf, kalah atau menang dalam duel sengit ini, aka membawa pengalaman yang pahit dan getir. Dia harap pengalaman pahit getir ini berlangsung dalam waktu yang singkat saja. Maka setiap jurus serangannya menggunakan tipu-tipu yang mematikan, serangan dilontarkan dengan seluruh kekuatan yang dimiliki. Siau-lim-sin-kun memang mengutamakan keras dan kuat, bila gaya permainan dikembangkan, setiap gerak kaki dan tangan membawa deru angin keras bagai harimau mengamuk, mengundang angin ribut yang dapat menggoncang pohon. Padahal ruang kosong di atas menara tingkat keenam itu tidak lebar, beberapa kali terjadi, Pek-li Tiang-ceng suda terdesak hampir terjungkal ke bawah. Tapi di saat yang gawat,  entah  bagaimana mendadak tubuhnya berkisar, tahu-tahu sudah menempatkan diri pada posisi yang bebas.

Empat puluh jurus kemudian, hati Teng Ting-hou mulai  mencelos,  perasaannya  makin tenggelam. Di saat-saat yang gawat begini, entah mengapa, mendadak dia teringat kejadian tiga puluh tahun yang lalu. Dalam biara yang kuno itu, waktu dirinya masih belajar di Siau-lim-si, gurunya pernah memberi wejangan kepadanya, 'Lunak dapat mengalahkan keras, lemah dapat menundukkan yang kuat. Golok baja memang keras, tapi air yang mengalir meski hanya segaris juga takkan bisa dibacoknya putus,  demikian pula angin  yang menghembus sepoi-sepoi itu lemah, .namun dapat melunakkan amukan geiombang pasang. Kau harus selalu ingat satu hal, kelihatannya kau memang ramah dan lembut, padahal watakmu keras dan ketus. Aku percaya kelak kau bisa ternama, dengan bekal watak dan bakatmu, kau dapat mengembang luaskan tinju sakti Siau-lim kita, tapi kalau kau lupa akan wejanganku ini, di saat kau berhadapan dengan  musuh tangguh, maka kau akan kalah secara konyol'.

Di bawah cuaca yang remang-remang, di belakang kuil yang berlapis-lapis, padri tua beralis putih itu duduk bersimpuh memberi wejangan panjang lebar  kepada  pemuda  yang  berlutut didepannya.

Dalam detik-detik yang gawat ini, bayangan masa lalu mendadak terpeta dalam benaknya. Petuah-petuah bak mutiara kata yang tulen dan sejati, laksana baja yang ditempa, kembali terngiang di telinganya, Sayang sekali, sejak lama Teng Ting-hou melupakan wejangan gurunya itu, di saat keadaan sudah gawat baru dia teringat, tapi sudah terlambat.