Pukulan Si Kuda Binal Bagian 08

 
Bagian 08

"Lalu darimana kau tahu rahasia ini?" tanya Ong-toasiocia.

"Karena isteriku kebetulan juga dilahirkan di Bing-lam, anak keluarga persilatan yang terkenal di sana, salah satu pamannya dahulu berhubungan intim dengan Pek-li Tiang-ceng." Begitu menyinggung isterinya, entah sengaja atau tidak sengaja, dia melepaskan diri dari pegangan Ong-toasiocia yang memapahnya..

Lebih jauh Teng Ting-hou berkata, "Kebanyakan keluarga persilatan di Bing-lam masih kolot, mereka lebih menitik berat pada suku bangsanya, bahasa daerah mereka juga berbeda dengan Tionggoan, maka anak murid kaum persilatan di Bing-lam jarang ada yang berkelana di Tionggoan."

"Maka tak perlu heran bila jarang ada orang tahu, di waktu mudanya Pek-li Tiang-ceng pernah menetap di Bing-lam."

"Dalam suatu percakapan, pernah isteriku menyinggung tentang hal ini. Pamannya adalah sahabat karib Liau-tang Tayhiap, malah dia merasa bangga punya paman yang terkenal dan disegani. Oieh karena itu, dia pun tahu tanggal dan hari kelahiran Pek-ii Tiang-ceng dengan jelas."

"Ah, apa benar?" tanya Ong-toasiocia. "Darimana dia tahu?"

"Sudah tentu dari keterangan pamannya yang doyan bercerita itu. Hari ulang tahun Pek-li Tiang- ceng kebetulan sama dengan isteriku.."

"Bulan dan tanggal berapa kelahirannya?" "Tanggal 13 bulan 5."

* * * * *

Bintang bertaburan dan berkelap-kelip, mayapada dilingkupi keheningan, hembusan angin sepoi- sepoi, pucuk pohon menari gemulai, lembut dan indah laksana napas gadis ayu nan lembut dan wangi..

Mendadak Ting Si menyeletuk, "He, mengapa kalian diam saja?" Tiada reaksi.

"Kalian bungkam, apakah karena sudah yakin seratus persen bahwa Pek-li Tiang-ceng betul adalah pembunuh durjana itu?" Ong-toasiocia mendesis penuh kebencian, "Aku yakin, dialah pengkhianat busuk yang patut mampus itu."

Teng Ting-hou berkata, "Kalau perusahaan gabungan Piakiok kita sukses, kekuatan Ceng-liong- hwe dengan sendiri akan kena pengaruh, maka dia merasa perlu menjual rahasia kita  kepadamu."

"Betul, masuk akal," ucap Ting Si.

"Perbuatan rendah itu, bukan saja menjatuhkan pamor dan wibawa Ngo-hoa-coan-ki, dia pun menjadi nelayan yang memungut keuntungan."

"Betul."

"Tak pernah kuduga sebelum ini, bahwa Ting Si yang cerdik pandai juga bisa terjungkal. Bahwa rencana kali ini gagal, maka harus mencari akal lain untuk membekuk pembunuh itu."

"Ya, betul."

"Untung kekuatan Ceng-liong-hwe sudah ditanam dalam Ngo-hou-kang, secara kebetulan pihak Ngo-hou-kang juga menjadi pendukung serikat golongan hitam, maka dia berkeputusan untuk merangkul perkumpulan orang-orang jahat itu, dengan tujuan untuk mengadu domba supaya golongan hitam yang tergabung daiam perkumpulan ini saling cakar mencakar dengan Ngo-hoa- coan-ki."

"Ya, masuk akal," seru Ting Si.

"Sayang sekali sebelum rencana matang, terjadi perpecahan pendapat diantara para anggota Ngo-hou-kang. Ada sementara pihak yang tidak mau tunduk pada keputusan pimpinannya, kalau dia tidak sempat merangkul dan memperalat mereka, terpaksa dia membunuh orang-orang yang menentang kehendaknya."

"Betul."

"Langkah selanjutnya, kami yang dijadikan kambing hitam. Maksudnya supaya kau tidak berani pulang ke Ngo-hou-kang. Terhadap Ting Si yang cerdik pandai, sedikit banyak mereka masih jeri, agak takut."

"Kedengarannya memang benar."

"Tay-ong-Piaukiok menolak tegas bergabung dalam Ngo-hoa-coan-ki. Mungkin karena Ong- loyacu sudah tahu siapa dia. Dahulu waktu masih di Bing-lam, mereka adalah sahabat karib."

"Mungkin begitu."

"Konon asal mula berdirinya Ceng-liong-hwe timbul dari Bing-lam. Waktu mudanya dulu, bukan mustahil Ong-loyacu pernah menjadi anggota Ceng-liong-hwe."

"Ya, mungkin."

"Di saat Ceng-liong-hwe berusaha melebarkan sayap kekuasaannya dalam perusahaan pengawalan yang berkembang pesat di Tionggoan, mereka menuntut Ong-loya-cu untuk bergabung dengan Ceng-liong-hwe. Tapi waktu itu, Ong-loyacu sudah tahu muslihat dan wajah   asli mereka, meski dipaksa dan diancam, Ong-loyacu tetap pada pendiriannya, tidak terbujuk dan tidak mau tunduk. Supaya tidak menjadi bisul di kemudian hari, maka dia dibunuh secara kejam." "Sunguh menarik uraianmu," puji Ting Si.

Teng Ting-hou tertawa, katanya, "Sudah sembilan kali kau menyatakan akur terhadap ucapanku tadi, tentu kau anggap uraianku betul-betul masuk akal?"

Ting Si tertawa, ujarnya, "Harus kuakui bahwa setiap patah kata dan persoalan yang barusan kau kupas memang masuk akal, hanya sayang kau tidak punya bukti."

"Bukti macam apa yang kau inginkan?" "Terserah bukti apa yang bisa kau kemukakan."

"Kalau tiada bukti, maka tidak patut kita menuduh Pek-li Tiang-ceng sebagai pembunuh, begitu?" "Ya, tidak bisa."

"Pek-li Tiang-ceng adalah sahabat karib Ong-loyacu, waktu mudanya juga pernah di Bing-lam. Maka rahasia perjalanan barang hantaran kita juga hanya dia yang tahu jelas. Bukan saja ilmu silatnya tinggi, dia pernah meyakinkan Pek-hou-sin-kun, sampai gaman yang kau gunakan juga diketahuinya." Setelah menghela napas gegetun, dia melanjutkan, "Dari segala data yang kukemukakan tadi, hanya dia saja seorang yang patut dicurigai dan cocok dengan iatar belakangnya, apakah semua data itu belum cukup sebagai bukti?"

"Ya, belum cukup." "Mengapa tidak cukup?"

"Yang cocok dengan data-data yang kau kemukakan tadi, bukan hanya Pek-li Tiang-ceng seorang saja."

"Jadi masih ada orang lain?"

Ting Si tertawa menyengir, katanya, "Ya, orang itu adalah kau." "Aku?" .

"Bukankah kau teman baik Ong-loyacu? Tadi kau bi-lang isterimu kelahiran Bing-lam, itu berarti bahwa dulu kau juga pernah tinggal di daerah terpencil itu. Demikian pula tentang rahasia perusahaan, bukankah kau juga tahu jelas kegiatan Piaukiok itu?"

Ting Si tersenyum, katanya, "Tapi aku tahu kau bukan pembunuh keji itu, namun perlu aku peringatkan padamu, orang-orang yang mencocoki data-data yang kau kemukakan tadi, bukan mutlak sebagai pembunuh."

Teng Ting-hou mengawasinya beberapa kejap, mendadak dia tertawa, katanya, "Mungkin kau melupakan satu ha!?"

"Satu hal apa?"

"Semua data yang kupaparkan tadi tidak seluruhnya mencocoki diriku. Baru tadi malam aku tahu gaman apa yang kau pergunakan."

Ting Si tidak bisa menyangkal.

"Belakangan ini namamu memang menanjak, tapi kaum persilatan yang pernah melihatrnu menggunakan gaman jugajarang sekali."

Ting Si diam saja, dia tidak membantah. Dalam pertarungan sengit dan seru apapun, jarang dia menggunakan senjata, setiap kali menyelesaikan kesukaran, kecuali dengan kedua tangan dan panca inderanya, dia lebih seririg menggunakan otak, bukan main kekerasan.

Teng Ting-hou menatapnya lekat, mendadak ia berkata sambil tertawa, "Sebetulnya aku tahu, kau tidak bersekongkol dengan pembunuh itu,  hanya saja. "

"Hanya saja apa?"

"Aku berpendapat, kau juga kenal Pek-li Tiang-ceng." "Berdasar apa kau beranggapan demikian?"

"Sebab dia tahu seluk-belukmu, kau pun amat memperhatikan dirinya."

Mendadak Ong-toasiocia menyeletuk dengan nada dingin, "Bukan hanya memperhatikan, sejauh dia bicara, selalu membela kepentingan orang  itu, malahan. "

"Memangnya kalian berpendapat bahwa aku adalah putranya, begitu?"

"Peduli kau pernah apa dengannya, karena kau selalu membela dia, maka kau harus dapat mengemukakan bukti kebersihannya, bahwa dia tidak tersangkut dalam peristiwa ini," demikian bantah Ong-toasiocia.

"Oleh karena itu, aku harus ikut kalian ke Ngo-hou-kang, begitu?" olok Ting Si.

"Peduli tanggal 13 bulan 5 benar adalah kode Pek-li Tiang-ceng atau bukan, sekarang kita harus segera ke Ngo-hou-kang," Ong-toasiocia bicara dengan garang.

Ting Si menggeleng kepala, "Agaknya aku harus ikut kalian ke sana."

"Betul," akhirnya Ong-toasiocia mengaku. "Sekarang juga aku ingin kau pergi bersama kami." "Hahahaha," Ting Si bergelak tawa.

"Apa maksudmu?" tanya Ong-toasiocia khekhi.

"Artinya, apapun yang kau inginkan, aku tidak peduli, aku tidak mau ikut."

Ong-toasiocia melenggong mengawasi Teng Ting-hou, Teng Ting-hou juga hanya baias mengawasinya saja.

Ting Si berkata santai, "Kalian masih punya pendapat apalagi?"

Saking gugupnya Ong-toasiocia membanting kaki, matanya merah berkaca-kaca, mendadak dia berteriak, "Mengapa kau tidak tanya Siau Ma kepadaku?"

"Mengapa harus tanya?" bantah Ting Si dengan dingin, lalu menambahkan, "Dia sudah besar, bukan anak kecil, memangnya aku harus selalu menjaga dan membimbingnya, menyusui dan mencebokinya?"

Merah jengah wajah Ong-toasiocia, serunya  jengkel, "Tapi. tapi mereka sudah berangkat ke

Ngo-hou-kang, apa kau. kau tidak gelisah?" "Kapan mereka berangkat?" tanya Teng Ting-hou gugup.

"Waktu aku bicara dengan kalian di restoran, aku menyuruh mereka menunggu di hotel, siapa tahu. "

"Siapa tahu mereka berangkat lebih dulu?" ujar Teng Ting-hou.

Ong-toasiocia mengangguk sambil menggigit bibir, "Siau-lin memberitahu kepadaku, Siau Ma adalah lelaki gagah yang tidak takut tingginya langit dan tidak peduli tebalnya bumi, tapi dia hanya takut dan tunduk kepada Ting-toakonya yang mungil ini."

"Setelah dia tahu kau mencari Ting Si, mana mau dia menunggumu lagi.." Ting Si merengut, "Aku heran, mengapa dia harus takut kepadaku."

"Apapun yang terjadi, jelek-jelek Siau Ma adalah saudara seperjuanganmu, kalau Ngo-hou-kang menganggap kau sebagai pengkhianat, maka Siau Ma pasti akan mendapat kesulitan disana."

"Hm," Ting Si menggeram dalam mulut.

"Sebelum berangkat," demikian tutur Ong-toasiocia. "Mereka berpesan kepada kasir hotel, supaya disampaikan kepadaku, bahwa mereka akan berangkat ke Ngo-hou-kang, peduli apa akibatnya, mereka meninggalkan pesan kepada Lo-shoa-tang."

Teng Ting-hou berkata, "Dalam keadaan seperti ini, mereka pergi ke Ngo-hou-kang. Apa tidak mirip kambing  cilik yang masuk  ke mulut harimau, maka. "

"Maka kita harus lekas menyusuinya."

"Hm, huh," Ting Si menjengek dan mendengus, “Apa maksudmu itu?" tanya Ong-toasiocia dongkol.

"Artinya, aku tidak peduli. Kalau kalian ingin menyusul ke sana, silakan berangkat. Aku ingin tidur saja."

* * * * *

Kuda yang biasa dipakai menarik kereta urnumnya kuda jelek, tapi kereta pemberian Kui Tang- seng justru ditarik kuda-kuda gagah, kuda pilihan yang jempolan.  Sebelum  pergi  Ting  Si mengikat kuda itu di dahan pohon, walau tindak-tanduknya kasardan berangasan, setiap langkah kerjanya amat cermat dan hati-hati, sejak kecil dia dididik untuk merawat dan menjaga dirinya sendiri. Dia tidak peduli apakah orang mengikuti di belakangnya. Seorang diri dia masuk hutan,  dari bawah tempat duduk dalam kabin kereta, dia mengeluarkan seguci arak, sekaligus dia menenggaknya sampai puas, laiu melompat ke atap kereta, pelahan merebahkan diri sambil menjulurkan tangan. dan kaki untuk mengendorkan urat syarafnya.

Dapat memperoleh tempat tidur seenak dan senyaman ini, Ting Si amat puas.

Apa boleh buat, Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia ikut di belakangnya. Mereka mengumpulkan dahan-dahan pohon laiu membuat api unggun.

Walau di hutan ini mereka tidak takut diterkam binatang buas seperti macan atau ular, namun binatang berbisa yang lain tentu ada. Membuat api unggun memang lebih baik untuk menjaga segala kemungkinan. Sebagai kaum persilatan kawakan, Teng Ting-hou selalu bekerja cermat dan penuh perhitungan, maka perusahaan yang dipimpinnya bertambah maju dan bertahan hingga sekarang.

"Bagaimana keadaan luka lenganmu?" tanya Ong-toasiocia. "Mending, sudah tidak sakit."

"Aku membawa Kim-jong-yok, biar kuurut dan bubuhi obat," mendadak Ong-toasiocia memperlihatkan kelembutan seorang perempuan.

Dengan penuh perhatian ia merobek lengan baju Teng Ting-hou, dengan arak yang sudah dihangatkan di api unggun,  hati-hati sekali ia membersihkan luka di siku Teng Ting-hou,  kemudian membubuhi obat mujarab buatan ayahnya. Dengan sobekan kain gaun bagian dalamnya, ia membalut lengan orang. Gerak-geriknya lembut penuh keibuan, sayang sekali Ting Si lagi asyik dengan impiannya di atap kereta, tidak menyaksikan adegan mesra ini.

Ting Si mencopot pakaian luarnya sebelum merebahkan diri, pakaian itu dia gulung dijadikan bantal, kini dia mendengkurdan pulas.

Ong-toasiocia bersikap tidak peduli dan menganggap Ting Si tidak berada di antara mereka,  namun akhirnya berkata dengan mendongkol, "Coba kau dengar, manusia yang satu ini sungguh mirip babi, di tempat terbuka yang dingin dan banyak nyamuknya begini, dia juga bisa tidur pulas, mendengkur lagi."

Teng Ting-hou tertawa, "Sejak kecil dia sudah biasa hidup terlunta-lunta, menjadi gelandangan dan telantar di Kangouw. Bila keadaan memaksa, sambil berdiri pun dia bisa tidur dengan santai."

Ong-toasiocia menggigit bibir, lama dia diam. Taktahan akhirnya ia bersuara pula, "Apakah selama ini dia tidak pernah menetap dirumah?"

"Rumah? Hahaha, kapan dia pernah punya rumah?

Sejak kecil dia sebatangkara, hidup terlunta-lunta, sengsara telah menggembleng dirinya menjadi manusia yang berguna, menjadi lelaki sejati, pendekar gagah."

Ong-toasiocia bungkam, seperti menekan gejolak hatinya, akhirnya dia ikut menenggak beberapa teguk arak.

Ternyata Teng Ting-hou juga melampiaskan perasaan gundahnya dengan air kata-kata. Malam makin dingindan berkabut tebal, arak justru dapat menghangatkan badan. Dalam keadaan biasa, mereka takkan kuat minum sebanyak itu, karena kelewat takaran, akhirnya mereka menggeletak dan pulas.

Fajarpun menyingsing, namun kabut masih cukup tebal, pelahan mentari menongol dari peraduan, sinar surya menembus celah-celan daun, memetakan pemandangan yang mempesona dalam hutan nan ramai dengan kicau burung.

Ong-toasiocia terjaga oleh kicau burung yang merdu itu, sejenak ia duduk sambil mengucek mata yang silau oleh sinar surya pagi, sesaat dia celingukan, keadaan sekelilingnya sepi lengang.

Beberapa kejap kemudian, Teng Ting-hou pun terjaga oleh ramainya kicau burung di pucuk  pohon. Bergegas dia melompat  berdiri dan langsung  menghampiri kereta, pelahan ia melongok ke kabin kereta, kosong, ternyata Ting Si sudah tidak kelihatan..Begitu dia menoleh ke depan kereta. Semula kereta itu ditarik empat ekor kuda besar dan gagah serta kuat, kini keempat kuda itu juga lenyap tak keruan parannya. Semalam kuda-kuda itu terikat di dahan pohon di sebelah depan, kuda-kuda itu jinak dan terlatih baik, meski ikatan talinya terlepas juga takkan minggat. Maka boleh ditarik satu kesimpulan, hilangnya kuda-kuda itu pasti dibawa pergi seorang.

Mungkinkah Ting Si yang melakukan? Teng Ting-hou menarik napas panjang, menghirup hawa pagi yang segar, seperti ingin mencuci dadanya yang sesak oleh rasa dongkol dan penasaran, terasa kepalanya masih agak pening karena semalam terlalu banyak minum arak. Sejenak ia menepekur, Ting Si pergi tanpa pamit dan tidak meninggalkan pesan.

"Apakah Ting Si telah pergi?" tanya Ong-toasiocia.

"Ya, Ting Si telah pergi, pergi membawa empat ekor kuda, kecuali itu dia juga membawa seguci arak. Di jok tempat duduk dalam kabin kereta, ternyata dia meninggalkan goresan dua huruf yang ditulis dengan gaya kasar, 'Sampai bertemu lagi'.

'Sampai bertemu lagi', dalam keadaan tertentu artinya juga 'selamat tinggal', selamat untuk tidak bertemu lagi selama-lamanya.

"Mengapa dia minggat? Mengapa tidak pamit? Apa kita memaksanya pergi ke Ngo-hou-kang?" demikian teriak Ong-toasiocia sengit, sekian saat dia menggigit bibir, lalu berkata pula, "Sungguh aku tidak habis mengerti, Ting Si ternyata laki-laki penakut, laki-laki pengecut."

"Pasti bukan," sela Teng Ting-hou. "Kalau dia pergi tanpa pamit, tentu punya alasan yang tidak mungkin dibicarakan dengan kita."

"Alasan apa? Kau tahu?"

"Mana aku tahu," Teng Ting-hou menghela napas. "Semula aku beranggapan, aku sudah menyelami pribadinya.."

"Kenyataan anggapanmu keliru."

"Ting Si memang pemuda yang susah dipahami, sukar orang menebak jalan pikirannya."

"Aku yakin dia kenal Pek-li Tiang-ceng,  malah bukan mustahil punya hubungan  erat dengan Pek- li Tiang-ceng."

"Dari sikapnya semalam, memang dapat disimpulkan demikian. Tapi mungkin juga dugaan kita keliru."

"Mengapa kau berkata demikian?"

"Usia mereka berbeda cukup jauh, tak pernah ada kesempatan untuk berdekatan." "Kalau teman jelas bukan. Tapi bukan mustahil Ting Si adalah putra Pek-li Tiang-ceng." Teng Ting-hou tertawa lebar.

"Kau kira tidak mungkin?" tanya Ong-toasiocia,

"Pek-li Tiang-ceng seorang aneh, selama hidup tidak pernah kawin. Sejak aku kenal dia belum pernah melihat atau mendengar dia bergaul dengan perempuan, bicara sepatah kata pun tidak pernah."

"Jadi dia membenci perempuan?"

"Mungkin, lantaran wataknya yang aneh itu, maka dia sukses dalam usaha," tiba-tiba Teng Ting- hou sadar bahwa omongannya dapat menusuk perasaan orang, segera dia menambahkan, "Aku kira, saat ini Ting Si tengah di perjalanan menuju ke Ngo-hou-kang."

"Mengapa dia tidak mengajak kita?"  "Pertama aku sudah terluka, kedua, kau. "

Ong-toasiocia merengut, "llmu silatku memang rendah, dia kuatir kita celaka, atau menjadi beban baginya, maka dia berangkat seorang diri."

"Ya, mungkin demikian."

"Kau masih menganggap dia setia kawan?" "Kau berpendapat sebaliknya?"

"Seharusnya dia sadar, biar dia berangkat lebih dulu, cepat atau lambat, kita kan bisa menyusulnya."

"Kita yang kau maksud adalah kau dan aku?" Teng Ting-hou menegas.

Ong-toasiocia menatapnya sekian saat, "Memangnya kau akan membiarkan aku pergi seorang diri?"

Teng Ting-hou tertawa getir. Selama ia berkelana, entah berapa banyak perempuan pernah menghibur dirinya, namun belum pernah ia belajar, cara bagaimana menolak permintaan perempuan. Mungkin lantaran kemahirannya bersandiwara, maka jarang ada perempuan yang menolak kehendaknya.

"Kau mau pulang atau ke Ngo-hou-kang?"

"Sudah tentu ke Ngo-hou-kang," ujar Teng Ting-hou dengan menyengir kecut, sambil mengawasi sepatunya yang bolong dan tipis alasnya, ia berkata lebih lanjut, "Belakangan ini perutku lebih gendut, aku perlu berolahraga, menempuh perjalanan jauh dengan berjalan kaki umpamanya."

"Bila kau tidak kuat berjalan, aku bersedia menggen-ongmu," demikian Ong-toasiocia berolok- olok.

"Apa kau maksudkan, bila kau tidak kuat jalan, aku pun boleh menggendongmu?"

"Jangan kurangajar. Apa kita harus mencari Lo-shoa-tang lebih dulu? Kau kenal Lo-shoa-tang?" "Entah, aku tidak mengenalnya."

"Kuharap Lo-shoa-tang belum terlalu tua. Aku tidak suka berhubungan dengan lelaki tua, apalagi yang sudah ompong."

"Lho, kau kira aku ini belum tua?"

"Kalau benar kau sudah tua, aku pun sudah menjadi nenek-nenek."

Dua orang menempuh perjalanan pasti tidak kesepian, mereka bisa ngobrol panjang lebar, tujuan yang harus mereka capai amat  jauh juga takkan terasa lagi.  Tanpa terasa, akhirnya mereka tiba  di Ngo-hou-kang.

Teng Ting-hou tidak gegabah untuk mengajak Ong-toasiocia langsung naik ke atas gunung, sementara itu luka di lengannya belum sembuh, Ong-toasiocia juga gadis yang pandai menggunakan otak, mereka tidak bergerak secara sembrono..

Tak jauh di bawah gunung, tepatnya di sebelah timur ada sebuah kota kecil, di kota kecil ini terdapat sebuah warung yang khusus menjual bakpao.

"Lo-shoa-tang dengan Toa-ban-thay (bakpao besar) buatannya memang terkenal di kota ini."

Ban-thay-tiam milik Lo-shoa-tang adalah merktua yang sudah terkenal. Papan nama yang tergantung di iuar, demikian pula meja kursi dalam warung serta dindingnya sudah hitam hangus oleh asap.

Pemilik warung bakpao juga adalah pelayan dan koki yang harus bekerja di dapur, sekaligus dirangkap oleh satu orang. Pemilik warung bakpao ini biasa dipanggii Lo-shoa-tang, padahai usianya belum begitu tua, namun karena setiap hari harus bekerja di dapur, wajahnya menjadi hangus karena asap api, kulit mukanya yang hitam itu menjadi berkeriput dan kelihatan lebih tua dari usia sesungguhnya, kalau dia tertawa, giginya yang masih utuh tampak putih seperti biji mentimun. Kecuali mahir membuat bakpao, Lo-shoa-tang juga ahli membuat ayam bakar ala Shoa-tang.

Bakpaonya besar dan enak, demikian pula ayam bakarnya lezat dan nikmat, dari pagi hingga malam, warungnya tidak pernah sepi. Setelah lewat saatnya makan malam, bakpaonya sudah terjual habis, baru Lo-shoa-tang bisa mandi dan istirahat melepas lelah, makan dua atau tiga bakpao dan cakar atau kepala ayam serta minum beberapa cawan arak sebagai makan malam.

* * * * *

Malam itu, Lo-shoa-tang sedang minum arak sendirian, sehari penuh dia sibuk bekerja, sekujur badan terasa lelah dan penat. Kini tiba saatnya dia beristirahat, bakpao pertama belum habis dia kunyah, pintu warungnya juga sudah tutup, namun masih juga ada tamu yang mengganggu ketenanganya, sudah tentu hatinya mendongkol dan kurang senang. Demikianlah perasaan Lo- shoa-tang saat itu..

Warung bakpao sudah tutup, namun Lo-shoa-tang biasa membuka pintu kecil di samping rumah untuk keluar masuk. Maka tanpa permisi Teng Ting-hou dan Ong-toa-siocia dapat masuk ke warung itu.

Lo-shoa-tang bersungut dan melotot pada dua tamu yang baru datang ini, seolah dirinya berhadapan dengan makhluk aneh.

Setelah berhadapan, Ong-toasiocia mengawasi pemilik warung ini penuh perhatian, dalam relung hatinya juga menganggap si muka hangus ini sebagai makhluk hidup yang lucu dan aneh. Selain itu, sebagai pedagang yang menjual makanan, melihat kedatangan pembeli bukannya senang malah melotot gusar. Bukankah hanya makhluk liar dan buas  saja  yang  bersikap  garang terhadap orang yang tidak dikenalinya?

"He, masih ada bakpao tidak? Aku ingin beli beberapa biji yang masih panas," demikian kata Ong-toasiocia kemudian.

"Yang panas sudah habis," terpaksa Lo-shoa-tang menjawab dengan tak acuh. "Sudah dingin juga tidak jadi soal, asal belum kering,"

"Yang dingin juga tidak ada."

Ong-toasiocia naik pitam, "Warung bakpao kan mestihya jual bakpao." Lo-shoa-tang meliriknya sekali, "Warung bakpao sudah tentu jual bakpao. Tapi warung yang  sudah tutup tidak melayani pembeli, peduli mau yang panas atau yang dingin, separoh juga tidak kujual."

Ong-toasiocia berjingkrak gusar, sebelum la bertindak, Teng Ting-hou keburu menariknya mundur, "Tapi kalau yang beli Siau Ma atau Ting Si, kau mau melayani tidak?"

"Apa, Ting Si?" Lo-shoa-tang menegas. "Ya, Ting Si yang menyenangkan itu." "Kau temannya?"

"Siau Ma juga sahabat karibku, Ting Si menyuruhku mampir diwarungmu ini."

Lo-shoa-tang melotot lagi sekian saat, akhirnya ia tertawa lebar, "Warung bakpao pasti menyediakan bakpao, yang panas maupun yang dingin selalu tersedia."

Teng Ting-hou tertawa senang, "Apakah masih ada sisa ayam panggang?"

"Hanya untuk teman Siau Ma dan Ting Si. Berapa yang kau inginkan, sebentar aku siapkan."

Ayam bakar karya Lo-shoa-tang rasanya memang luar biasa, terutama kaldu ayamnya yang sedap dan segar, rasanya asin-asin kecut, bila dihirup lalu mengganyang sekerat bakpao, rasanya sungguh nikmat,

Di meja yang berada di pinggir sana, Lo-shoa-tang juga sibuk menggerogoti beberapa batang cakar ayam, saban-saban dia mendongak melirik ke arah Teng Ting-hou dan Ong-toasiocia yang sedang makan bakpao dan ayam bakardengan lahap, melihat kedua tamunya makan dengan lahap, hatinya ikut senang dan bangga.

"Masih ada paha ayam bakar tidak?" pinta Teng Ting-hou beberapa saat kemudian.

Lo-shoa-tang menggeleng kepala, dia menghela napas, "Paha ayam hanya untuk pembeli dan sudah kalian habiskan, sebaliknya penjual ayam bakar cukup menggares cakarnya saja."

"Lho, aneh, kau kan bisa makan paha atau jeroannya juga?" tanya Ong-toasiocia. Lo-shoa-tang menggeleng, "Sayang kalau harus kumakan sendiri."

"Wah, kalau demikian, tentu sekarang kau sudah kaya raya." "Apa aku mirip orang kaya?"

Bocah cilik pun bisa mengatakan Lo-shoa-tang tidak mirip orang kaya, sebab dari kaki hingga ujung rumputnya yang tidak terawat itu, orang akan menarik kesimpulan bahwa dia lebih mirip gelandangan yang lama tidak mandi dibanding orang kaya.

"Berdagang ayam bakar dan bakpao kan untungnya besar, lalu dimana uang simpananmu selama ini?" tanya Ong-toasiocia pula.

"Aku tidak pandai menyimpan uang. Keuntunganku semua habis di meja judi, lebih banyak lagi dikalahkan oleh Ting Si si bocah keparat dan nakal itu."

Semula Ong-toasiocia terbelalak, akhirnya ia cekikikan geli. Mata Lo-shoa-tang terbeliak, serunya dengan suara sengau, "Aku tahu kalian menganggapku sebagai makhluk aneh, sebetulnya. "

"Sebetulnya kau memang makhluk aneh."

Lo-shoa-tang tertawa lebar malah, "Kalau aku bukan makhluk aneh, mana mungkin menjadi sahabat baik Ting Si, bocah keparat itu?" tiba-tiba dia melirik penuh perhatian, dari kepala hingga kaki, Ong-toasiocia ditatapnya tajam, "Sekarang aku tidak sangsi lagi, aku percaya bahwa kalian memang teman baiknya, terutama engkau."

Merah muka Ong-toasiocia, tapi ia bertanya, "Dalam hal apa aku kelihatan ganjil?"

"Bila sedang marah, wah seram, watakmu yang buruk itu susah dilayani, kalau mencaci lebih  galak dibanding macan betina, waktu makan ayam bakar, lagakmu tidak kalah dibanding lelaki serakah yang kelaparan tujuh hari, terutama bila minum arak, kau lebih unggul dari lelaki penjudi. Tapi setelah lihat kanan dan periksa kiri, tengok atas dan ngintip bawah, terasa olehku bahwasanya kau tidak memperlihatkan pambek seorang laki-laki jantan, seratus persen kau  adalah perempuan. Betul tidak?" tanpa menunggu reaksi Ong-toasiocia, dia melanjutkan, "Kalau perempuan macam dirimu tidak dianggap aneh, perempuan macam apa yang harus dianggap istimewa?"

Merah selebar muka Ong-toasiocia, namun ia tertawa cekikikan. Mendadak ia sadar, laki-laki setengah baya yang mirip kakek peyot ini, sebetulnya memiliki sifat jenaka dan tingkah laku yang menyenangkan.

Setelah menghabiskan secawan arak lagi, Lo-shoa-tang berkata, "Nona cilik yang kemarih ikut Siau Ma, kelihatannya memang cantik, lemah lembut dan ramah, tapi kalau aku harus memilih seorang di antara kalian, aku akan memilih kau."

Kuatir lelaki hitam keriput ini terus mengoceh tanpa henti, segera Teng Ting-hou menimbrung, "Jadi Siau Ma sudah kemari?"

"Ya, malah mengganyang dua ekor ayam bakar dan belasan bakpaoku tanpa bayar," omel Lo- shoa-tang penasaran.

"Dimana mereka sekarang?" tanya Teng Ting-hou. "Sudah naik gunung,"  sahut  Lo-shoa-tang. "Adakah dia meninggalkan pesan untuk kami?"

"Ada. Dia minta seteiah kalian datang, aku harus segera memberitahu kepadanya. Eh, mengapa Ting Si bocah mungil itu tidak kelihatan?"

Ong-toasiocia menggigit bibir, bagi orang yang sudah lama mengenal pribadinya tentu tidak heran, bila sedang khekhi selalu menggigit bibir, suatu kebiasaan aneh, dan lebih aneh lagi bahwa bibirnya tidak pernah sobek meski dia menggigit sampai berdarah, mungkin giginya tumpul?

"Wah, sekarang kami sudah tiba di sini, dengan cara apa kau akan memberitahu kepada Siau Ma."

"Beberapa hari belakangan ini, situasi dan kondisi di atas gunung sudah berubah, ada beberapa teman yang mau menyampaikan kabarku." "Berapa banyak teman yang mau membantumu?"

Lo-shoa-tang menghela napas, "Terus terang saja, kalau tidak salah hitung, kini tinggal satu saja."

"Siapakah temanmu itu?"

"Oh Kang yang berani mengadu jiwa." "Oh-lo-ngo maksudmu?"

"Betul!" seru Lo-shoa-tang sambii bertepuk tangan. "Memang dia." Ong-toasiocia menyeletuk, "Orang macam apakah Oh-lo-ngo itu?"

Maka Teng Ting-hou menjelaskan, "Sebagai pemberani dan gagah, dahulu orang ini dijuluki Ho- say-siang-hiong (Sepasang pahlawan dari Ho-say) bersama Thi-tan (nyali besi) Sun Gi. Mereka terhitung orang gagah yang ternama dari golongan hitam."

"Ya, betul, memang dia, setiap malam dia pasti kemari," ucap Lo-shoa-tang. "Untuk apa dia kemari?"

"Membeli ayam bakar."

Ong-toasiocia tertawa, "Lho, lucu, sebagai orang gagah dari golongan hitam, apa setiap malam dia makan ayam bakar?"

Lq-shoa-tang tertawa sambii memicingkan mata, tawa yang aneh, "Betul, setiap malam dia pasti kemari membeli ayam bakar, tapi dia hanya makan cakarnya saja."

"O, jadi ayam bakar itu untuk bininya?" tanya Ong-toasiocia menahan geli. "Bukan bini, tapi sahabat lamanya."

"Thi-tan Sun Gi maksudmu?" "Betul."

"O, Thi-tan memang orang gagah dan perkasa, tapi juga teman yang baik."

Malam sudah larut jalan raya sudah sunyi lengang,dari kejauhan terdengar suara "tok, tok, tok, tok" yang nyaring dan beruntun.

"Nah, itu dia sudah datang," ucap Lo-shoa-tang. "Siapa yang datang?" tanya Ong-toasiocia.

"Oh-lo-ngo yang suka adu jiwa itu."

Ong-toasiocia tertawa geli, "Dia itu manusia atau kuda, mengapa berjalan kaki pakai tak tok segala."

Lo-shoa-tang diam saja. Sementara itu suara tak tok seperti tapal kuda menyentuh jalan itu makin nyaring dan dekat, akhirnya tampak seorang melangkah masuk dengan membungkuk badan. Membungkuk bukan karena memberi hormat kepada orang-orang di dalam rumah, tapi karena dia seorang bungkuk, berjalan pun tertatih-tatih dengan tongkai,

Sebenarnya usia orang ini belum tua, namun tam-pangnya mirip kakek buyutan yang sudah berusia delapafi puluh tahun, Rambut kepala beruban, kulit muka penuh codet, bekas luka golok atau pedang, mata kirinya dibalut kain hitarn, tangan kanan memegang tongkat, begitu  melangkah masuk, terdengar napasnya ngos-ngosan seperti babi gemuk yang berlari jauh.

Karena napasnya sesak, dia terbatuk-batuk dengan menungging,

Mengawasi orang ini, Ong-toasiocia melongo sekian saat, menjublek dengan pandangan terlongong.

Dibantu tongkat bambu, Oh-lo-ngo beranjak maju dengan tubuh bergoyang ke hadapan Lo-shoa- tang. Jangan kata menoleh, melirik pun tidak kepada Ong-toasiocia dan Teng Ting-hou.

Lo-shoa-tang tak menegur atau bertanya kepadanya, begitu orang sudah dekat di depannya, baru ia mengambil sebuah bungkusan kertas minyakdari bawah meja, setelah bungkusan itu selesai dia ikat dengan tali, lalu diserahkan kepada si bungkuk.

Tanpa bicara Oh-lo-ngo menerima bungkusan itu, pe-lahan-lahan ia memutar tubuh lalu beranjak keluar. Tongkatnya berbunyi tak tok lagi dengan irama yang pasti. Ter-nyata sepatah kata pun mereka tidak bicara.

Setelah Oh-lo-ngo pergi, akhirnya Ong-toasiocia bertanya, "Si bungkuk itukah yang dinamakan Oh-lo-ngo?"

"Ya, betul, dialah Oh-lo-ngo yang berani adu jiwa."

"Orang macam itukah yang disuruh Siau Ma menyampaikan berita?" "Tidak salah."

"Padahal sepatah kata pun kalian tidak bicara." "Kami tidak perlu bicara."

"Melihat ikatan tali di buntalan kertas minyak tadi, Siau Ma akan tahu kalau kami sudah datang, yang datang dua orang," demikian Teng Ting-hou menjelaskan.

"Agaknya kau tidak bodoh," ujar Lo-shoa-tang.

Ong-toasiocia menimbrung, "Berita apa yang dikirim Siau Ma dari atas gunung, coba jelaskan kepada kami."

"Untuk sementara ini, dia bilang dirinya selamat dan tidak kurang suatu apa di sana. Hubungannya masih cukup baik dengan Sun Gi, bila dia memberi kabar, Oh-lo-ngo akan membawanya kemari."

Ong-toasiocia memanggut, katanya setelah menghela napas panjang, "Sungguh aku heran, mengapa Oh-lo-ngo yang berani adu jiwa ternyata seorang cacad yang jelek begitu."

Setelah nnenghabiskan araknya yang terakhir, Lo-shoa-tang berdiri, sorot matanya tiba-tiba memancarkan perasaan duka nestapa, agak lama kemudian baru dia berkata lirih, "Justru karena Oh-lo-ngo berani adu jiwa, maka dia berubah menjadi begitu."

* * * * * Jalan raya sunyi lengang, bulan sabit bercokol memancarkan cahayanya yang guram. Tanpa bersuara Teng Ting-hou berjalan pelahan, dengan langkah lembut Ong-toasiocia ikut di belakangnya, sinar bulan menarik panjang bayangan badan mereka ke belakang.

Lo-shoa-tang sudah tidur dan menggeros. Dua meja digandeng menjadi satu, itulah ranjangnya setiap malam.

"Membelok ke kiri setelah tiba di ujung jalan raya ini, di pojok sana ada hotel, dengan lima ketip uang perak orang bisa tidur nyenyak semalam suntuk," demikian Lo-shoa-tang menerangkan sebelum tidur.

Hotel yang dimaksud kecil, letaknya dijepit gang yang sempit, keadaannya serba jorok dan semrawut.

"Orang-orang yang akan pergi ke Ngo-hou-kang, sering kali mencari nona cantik untuk menghibur diri di hotel itu, kalian harus hati-hati," itulah pesan Lo-shoa-tang sebelum mereka keluar.

Ong-toasiocia tidak membawa Pa-ong-jio, maklum dia tidak mau dirinya dijadikan sasaran, sedikit lena salah-salah jiwanya melayang karena dibokong musuh.

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas, "Menjadi perampok  ternyata  tidak  mudah.  Kalau tidak berani mempertaruhkan jiwa, kau tidak akan terkenal, sebaliknya bila kau berani adu jiwa, entah bagaimana nasibnya? Yang pasti sekujur badan penuh luka-luka entah bacokan golok atau tusukan pedang dan tombak, memangnya imbalan apa yang bisa diperolehnya?"

"Memangnya orang-orang yang menjadi Piausu tidak demikian pula keadaannya?" Ong-toasiocia berseloroh.

Teng Ting-hou menyengir kecut, "Setiap insan persilatan yang berkecimpung di Kangouw, kurasa nasibnya takkan jauh berbeda. Hanya ada sementara orang bernasib mujur, tapi tidak jarang ada yang bernasib jelek. Setelah berusia lanjut, demi mempertahankan hidup, terpaksa harus berjualan atau mencari nafkah dengan cara apa saja yang halal."

"Jadi waktu mudanya, Lo-shoa-tang dulu juga berkecimpung di Kangouw?"

"Kukira demikian, maka sebelum ajal, penyakit umum bagi setiap kaum persilatan yang diidapnya takkan bisa disembuhkan."

"Penyakit umum apa?" tanya Ong-toasiocia tidak mengerti.

"Hari ini ada arak, hari ini mabuk. Urusan besok pagi, pikirkan besok saja."

Ong-toasiocia tertawa sendu, "Ya, sekarang aku mengerti. Ting Si dianggap pintar, tentu karena dia tidak mau diadu, tidak mau mempertaruhkan jiwa raganya untuk kepentingan orang lain."

Teng Ting-hou mengerut kening, "Kejadian ini memang aneh. Kalau dia betul-betul tidak kemari, berarti aku salah menilai dirinya."

"Kukira tidak salah," demikian desis Ong-toasiocia dingin. "Aku malah berani bertaruh seribu tail, dia takkan datang."

Lama Teng Ting-hou menepekur, katanya kemudian, "Ada satu hal yang mengherankan." "Tentang apa?" tanya Ong-toasiocia. "Orang-orang Ngo-hou-kang tahu Siau Ma adalah ka-wan Ting Si, saudara seperjuangan, kenyataan kedatangannya tidak mengalami kesulitan, tidak disakiti. Apakah mereka hendak memancing kedatangan Ting Si dengan Siau Ma sebagai sandera?"

"Tapi Ting Si bukan ikan, dia lebih licin dari seekor rase."

Kebetulan angin pegunungan berhembus, membawa hawa segardan sayup-sayup terdengar ringkik kuda be-serta suara kelintingan yang nyaring di kejauhan. Waktu mereka mendengar ringkik kuda, suaranya masih cukup jauh, namun baru maju beberapa langkah, kelintingan kuda itu ternyata sudah dekat. Sungguh kencang lari kuda yang satu ini.

Ong-toasiocia baru membelok di ujung jaian, pandangannya sudah tertuju ke papan nama yang sudah keropos di depan rumah, papan dengan cat dasar kuning itu bertulis empat huruf berbunyi An-gia-khek-can (hotel aman tenteram), di kiri kanan papan bergantung juga dua buah lampion cukup besar dengan sinarnya yang redup menyinari huruf-huruf hitam yang sudah buram itu.

Mendadak Teng Ting-hou meraih lengan Ong-toasio-cia, lalu menariknya ke pinggir dan menyeretnya lagi ke gang gelap di pinggir sana. Kejadian amat mendadak dan tidak terduga, tanpa aba-aba lagi, Ong-toasiocia terseret sempoyongan, maka tubuhnya ambruk ke dalam pelukan Teng Ting-hou, dadanya terasa padat kenyal dan hangat, jantung pun berdegup lebih keras.

Ternyata  jantung Teng Ting-hou juga berdetak tak kalah kerasnya, Ong-toasiocia kaget, heran  dan tidak mengerti, tangan Teng Ting-hou sudah mendekap mulutnya, suaranya terbenam dalam tenggorokan. Padahal lengan yang mendekap mulutnya itu belum sembuh oleh pukulan si baju hitam, ternyata lengannya masih cukup kuat.

Kejadian amat mendadak dan mengejutkan, Ong-toasiocia menjadi panik dan takut. Demi mempertahankan diri secara tak sengaja dia mengangkat kaki, dengan lutut dia menyerang alat vital di selangkangan Teng Ting-hou. Serangannya bukan menggunakan jurus silat, namun merupakan reaksi yang manjur bagi setiap perempuan di saat dirinya terancam bahaya.

Cukup keras lutut Ong-toasiocia menggempur alat vital Teng Ting-hou, saking kesakitan Teng Ting-hou menungging sambil memeluk perut, keringat dingin menetes di jidat, tapi mulutnya tetap terkancing rapat, mengerang  kesakitan pun tidak,  malah dengan suara lirih dan menahan sakit  dia berkata, "Jangan bersuara, jangan sampai dirimu terlihat orang itu."

Baru saja Ong-toasiocia menghela napas lega dan belum paham apa arti perkataan Teng Ting- hou. Dua ekor kuda dilarikan kencang di jalan raya, seekor diantaranya memakai kelintingan di leher, suaranya amat nyaring.

"Blang", mendadak sebuah jendela dan salah satu kamar di rumah petak di pinggir hotel sana   jebol tersapu angin pukulan, menyusul sebuah kursi dilempar  keluar,  menyusul  bayangan seorang melayang keluar. Ginkang orang ini tidak lemah, di saat tubuhnya terapung di udara, tangannya terulur meraih payon rumah, sekali tarik dan sendal tubuhnya lantas mencelat bersalto ke atas wuwungan.

Penunggang kuda yang mengenakan kelintingan di leher kudanya, mendadak menyeringai seram. Tangan kanan terangkat di atas kepala lalu diayun ke depan, seutas tambang panjang meluncur jauh ke depan seperti naga mengejar mutiara, ternyata gerak tambangnya lebih cepat dari luncuran anak panah.

Tahu dirinya diserang, bayangan orang di atas wuwungan itu melompat ke pinggir, jelas kelihatan dia berhasil menyelamatkan diri. Tapi tali tambang itu seperti ular hidup layaknya, ujung tambang mendadak menyabet balik lalu berputar dua lingkar, entah bagaimana kejadiannya, tahu-tahu bayangan hitam itu sudah terjirat kencang oleh ujung tambang panjang itu. Sekali sendal dan tarik, penunggang kuda itu menarik balik tambangnya, tawanannya ikut meluncur.

Sementara itu, penunggang kuda yang ada di belakangnya sudah menyiapkan karung goni yang terbuka mulutnya. Sungguh lihai penunggang kuda di depan itu me-mainkan tali lasonya, yang jelas tawanan itu tepat meluncur ke dalam karung.

Padahal lari kedua ekor kuda itu bukan saja tidak berhenti, malah melaju lebih cepat. Hanya sekejap kedua penunggang kuda itu sudah membelok ke jurusan lain dan lenyap ditelan kegelapan, hanya bunyi kelintingan kuda saja yang masih terdengar di kejauhan.

* * * * *

Kedua penunggang kuda itu muncul mendadak, pergi juga teramat cepat, seolah dua rasul yang diutus raja akhirat untuk membekuk setan gentayangan yang melarikan diri dari penjara.

Ong-toasiocia menjublek kaku. Kepandaian main tali laso seperti yang dilakukan penunggang kuda tadi, belum pernah dia saksikan.

Beberapa kejap kemudian, rasa sakitnya sudah berkurang, baru Teng Ting-hou menegakkan badan, lalu menarik napas panjang, katanya lirih, "Sungguh lihai."

Ong-toasiocia juga menghela napas panjang, "Yang digunakan orang tadi, tambang tulen atau ilmu sihir?"

Menjirat leher dengan tali laso sebetulnya bukan kepandaian khusus, setiap gembala di padang rumput mahir menggunakan tali laso, seperti yang dilakukan penunggang kuda tadi.

Tapi tambang yang digunakan penunggang kuda itu memang lihai dan luar biasa, di samping menakutkan, seolah tambang itu merupakan iblis jahat yang selalu merenggut jiwa manusia.

Teng Ting-hou menepekur, katanya lirih, "Gerakan tambang semahir itu, apakah pernah kau saksikan sebelum ini?"

Bersinar bola mata Ong-toasiocia. Dia pernah melihatnya sekali. Waktu itu Ting Si menyelamatkan Siau Ma dari tusukan tombaknya waktu berduel dengan si raja tombak perak. Kalau tidak salah, gerakan Ting Si waktu itu juga semahir gerakan penunggang kuda tadi.

Sebaliknya Teng Ting-hou sudah dua kali menyaksikan permainan laso yang lihai itu. Kui-hoa- ngo-coan-ki yang tertancap di depan kereta, dulu juga mencelat terbang oleh tambang panjang kedalam hutan, gerakan tambang panjang itu selincah ular sakti.

Ong-toasiocia bertanya, "Apakah penunggang kuda tadi Ting Si adanya?" "Bukan," sahut Teng Ting-hou.

"Kau tahu siapa dia?" tanya Ong-toasiocia.

"Penunggang kuda itu berjuluk Koan-sat-koan-me Pau-hiong-ciong."

Ong-toasiocia meringis getir, "Nama yang aneh, nama yang menakutkan." "Memang orangnya amat menakutkan."

"Kaum persilatan suka menggunakan julukan yang aneh dan menggiriskan, namun baru pertama ini aku mendengar gelar yang menakutkan ini, akan kuukir dalam sanubariku." "Jadi kau belum pernah mendengarnya?" "Ya, belum pernah."

"Di perbatasan memang jarang kaum persilatan yang mendengar nama julukan yang menggiriskan ini."

"Apakah orang itu selalu menetap di luar perbatasan?"

"Namanya memang seram dan menakutkan, tapi pribadinya justru tidak sejahat yang diduga   orang banyak, dia bukan gembong penjahat yang sering melakukan kekejaman," demikian tutur Teng Ting-hou. "Setiap korban yang dia bunuh pasti penjahat besar atau orang hukuman yang pantas menerima ganjaran. Bila seorang pernah melakukan perbuatan jahat dan kotor, namun selama ini masih hidup bebas dan bergerak seenaknya, maka akan tiba saatnya, orang ini akan muncul di depannya."

"O, begitu lihaikah dia?" tanya Ong-toasiocia..

"Bila dia sudah mengayunkan laso dan menjirat sang korban, temannya sudah siap membuka mulut karung dan membawanya pergi, maka selanjutnya orang itu akan lenyap dari percaturan dunia persilatan."

Bercahaya bola mata Ong-toasiocia, "Mungkin korbannya itu tidak dibunuh, tapi dikurung di sarangnya untuk dijadikan kaki tangannya."

Teng Ting-hou memanggut, "Ya, mungkin begitu."

"Orang yang kelewat jahat pasti berani melakukan segala macam kejahatan. Untuk menyatakan terima kasih dan untuk menebus dosa-dosanya, untuk membalas budi karena dirinya tidak dibunuh, maka dia akan tunduk lahir batin kepada orang yang telah membebaskan dirinya dari jurang kenistaan. Apalagi dia tahu ilmu silatnya bukan tandingan lawan, kecuali tunduk lahir   batin, tak segan-segan dia rela berkorban dan menjual jiwa raganya."

Kembali Teng Ting-hou mengangguk.

"Secara diam-diam dia menggaruk kawanan penjahat dan menyusun kekuatan. Dalam pandangan masyarakat luas, entah dari kaum persilatan atau rakyat awam umumnya, dia akan dipuji sebagai pendekar besar berhati Iuhur, pemberantas kejahatan. Berarti sekali tepuk dia mendapatkan dua lalat."

Teng Ting-hou menyeringai, mulai berpikir ke arah itu.

"Bukankah pembunuh berbakat itu selalu memperoleh dua keuntungan setiap kali beraksi," ujar Ong-toa-siocia.

"Betul," jawabTeng Ting-hou.

Lebih terang cahaya bola mata Ong-toasiocia, "Pernah tidak kau berpikir, Koan-sat-koan-me Pau-hiong-ciong adalah anggota Ceng-liong-hwe?"

"Ehm, ya, mungkin saja."

"Kalau seorang dapat berpikir secara normal, yakin dia tidak akan menggunakan nama Pau- hiong-ciong (ditanggung sampai ajar), oleh  karena itu. "

"Kau kira nama itu nama palsu?" "Menurut pendapatmu, siapakah dia sebenarnya?"

"Terus terang saja, aku curiga bahwa dia adalah Pek-li Tiang-ceng."

Ong-toasiocia mengedipkan mata, tanyanya, "Memberantas kejahatan adalah pekerjaan mulia yang patut mendapat pujian, mengapa dia justru menggunakan nama palsu?"

"Karena dia  seorang Piau-khek,  pendekar besar, kedudukannya dalam pandangan khalayak ramai jelas berbeda dengan orang gagah lainnya di kalangan Kangouw, sedikit banyak tentu ada hal-hal yang dia kuatirkan."

"Masih ada segi yang lain?"

"Jelas perbuatannya ada segi yang memalukan untuk dilihat orang, maka banyak hal yang harus disembunyikan."

"Dia takut bila suatu ketika kedoknya terbongkar, maka menyiapkan jalan mundur untuk menyelamatkandiri."

"Agaknya dia seorang teliti, cermat dan hati-hati dalam melaksanakan pekerjaannya."

"Makanya Tiang-ceng Piaukiokdi bawah pimpinannya merupakan perusahaan pengawalan yang paling sukses dan disegani di antara perusahaan sejenis."

"Pek-li Tiang-ceng memang seorang pengusaha sukses, kerja apapun kalau sudah dia tangani, pasti berhasil dan sukses, belum pernah gagal."

"Agaknya dugaan dan pandangan kita sama dan..sepaham."

"Jejak Koan-sat-koan-me selalu di luar perbatasari, Pek-li Tiang-ceng juga tidak ada di sini, mengapa dia tahu-tahu muncul di sini?"

"Dari pemikiranku ini dapat kita simpulkan, bahwa kedua orang itu sebetulnya adalah satu."

"Yang dijirat dan digondol pergi tadi, mungkin salah seorang anggota Ngo-hou-kang karena tidak mau ditekan dan diperalat, dia berusaha membebaskan diri dari cengkeramannya, sungguh tak nyana akhirnya dia mati di tangannya juga."

"Tadi Lo-shoa-tang bilang, di sini sering hilir mudik orang-orang Ngo-hou-kang, karena kuatir perbuatannya diketahui orang banyak, maka dia menggunakan nama Pau-hiong-ciong sebagai kedok untuk mengelabui orang.'"

"Meminjam golok membunuh orang, memfitnah adalah keahliannya." "Tapi yang paling menakutkan bukan hanya itu saja."

"O, masih ada yang lebih menakutkan?" tanya Ong-toasiocia.

Teng Ting-hou lantas menjelaskan, "Aliran perguruan silat di dunia ini amat banyak, nama dan geraktipu permainan silat satu dengan yang lain sering berbeda, tapi dasar dan sumber pelajarannya  kurasa sama, umpamanya. "

"Seumpama orang menulis. "

"Betul, mirip orang menulis." Jenis tulisan dan gayanya memang berbeda dan banyak ragamnya, tapi pelaksanaannya dalam menulis sama saja, lalu merangkai huruf-huruf itu menjadi kata dan kalimat."

"Begitu juga bagi seorang yang sudah mahir dan menyelami dasar pelajaran silat," demikian kata Teng Ting-hou. "Meski ilmu silat dari aliran dan golongan mana pun asal pemah dilihat apalagi dipelajarinya, ditunjang bakatnya yang luar biasa, bukan mustahil kemampuannya bisa melebihi orang lain, demikian pula misalnya. "

"Misalnya anak kecil yang belajar jalan, untuk belajar merangkak tentu jauh lebih mudah."

Teng Ting-hou mengangguk sambil tersenyum lebar, sorot matanya memancarkan rasa kagum dan memuji, sungguh perempuan yang berotak encer.

Ong-toasiocia berkata, "Teori ini kupahami. Aku mengerti, mengapa hanya menyaksikan permainan ilmu tombakku, Ting Si mampu mengalahkanku."

Teng Ting-hou bungkam. Agaknya dia sengaja mengelak setiap Ong-toasiocia berbicara tentang Ting Si.

Ong-toasiocia menghela napas, katanya gemas, "Aku tahu kau tidak ingin mencurigai dirinya, Ting Si adalah teman baikmu, tadi kau bilang, permainan laso yang pemah dilakukan Ting Si waktu merebut bendera perusahaanmu, mirip sekali dengan permainan Pek-li Tiang-ceng,"