Pukulan Si Kuda Binal Bagian 05

 
Bagian 05

"Sebetulnya kau tidak perlu mengaku, karena. "

"Karena keenam pucuk surat ini kenyataan memang bukan kau yang menulis," Teng Ting-hou menambahkan.

Kui Tang-king malah bersikap heran, seperti di luar dugaan, katanya, "Darimana kalian tahu kalau bukan aku yang menulis?"

"Orang-orang yang tinggal di Ngo-hou-kang, kalau bukan perampok besar, tentu begal kecil, entah berapa orang yang saling bermusuhan di sana," ucap Ting Si.

Teng Ting-hou berkata, "Umpama betul orang-orang itu ingin berduel di bawah gunung, tak pantas mereka menyebarluaskan berita itu dengan membuang selebaran dimana-mana, sehingga khalayak ramai tahu."

Ting Si berkata, "Umpama mereka tidak takut ditangkap opas, juga harus berhati-hati terhadap musuh yang menuntut balas, jejak mereka amat dirahasiakan."

"Kali ini mereka justru menyebar selebaran secara terbuka, seolah takut orang lain tak tahu adanya duel itu."

"Coba kau terka, kenapa mereka berbuat demikan?"

Kui Tang-king berkata, "Aku bukan Ting Si yang cerdik, mana bisa menebak."

"Aku juga bukan Ting Si yang cerdik, tapi aku melihat adanya titik terang," demikian sanggah Teng Ting-hou.

"O? Coba kau jelaskan," ucap Kui Tang-king.

"Mereka berbuat begini, sengaja memberi peluang," demikian kata Teng Ting-hou. "Supaya kami leluasa naik ke Ngo-hou-kang membaca enam pucuk surat ini."

Kui Tang-king berkata, "Kau sudah melihat keenam surat ini bukan tulisanmu, maka pasti curiga terhadapku."

"Oleh karena itu aku akan menggenjot mulutmu dan merobek telingamu." "Jika demikian, umpama aku menyangkal, siapa mau percaya."

Ting Si menimbrung, "Pengkhianat yang sesungguhnya akan menonton dari pinggir sambil bertepuk tangan."

Kui Tang-king tidak paham, katanya, "Orang-orang gagah di Ngo-hou-kang, mengapa mau melakukan tugas itu untuk si pengkhianat?"

Ting Si menjawab, "Pengkhianatan orang ini terhadap kalian berarti keuntungan atau ada manfaatnya bagi mereka."

"Dan kau?" tanya Kui Tang-king. "Kau tidak tahu adanya kasus ini?"

Ting Si tertawa, katanya, "Ting Si yang cerdik, ada kalanya berlaku ceroboh, demikian pula kali ini, tanpa sadar aku diperalat orang lain."

Kui Tang-king tertawa, katanya, "Untung kau tidak ceroboh, tidak bodoh."

Teng Ting-hou berkata, "Oleh karena itu mulutmu tidak kugenjot, telingamu juga tidak putus."

Kui Tang-king menatapnya lekat, katanya tandas, "Bukankah kita sudah berteman beberapa tahun?"

"Ya, sudah banyak tahun," sahut Teng Ting-hou. "Sekarang kita tetap kawan sejawat."

"Tidak salah."

Kui Tang-king menuding Ting Si, katanya, "Bukankah bocah ini perampok yang membegal barang yang kita bekuk itu?"

Dengan tersenyum Teng Ting-hou mengangguk.

Kui Tang-king menghela napas, katanya tertawa kecut, "Tapi kelihatannya kalian adalah sahabat baik, kedudukanku justru terbalik seolah aku ini begal yang tertangkap."

Ting Si tertawa, katanya, "Kau pasti bukan begal." "O,bukan?"

"Umpama kau adalah begal, pasti begal besar." "Mengapa?"" "Begal kecil takut orang lain bilang dia gegabah atau bodoh, maka dia akan berusaha berbuat pintar. Sebaliknya begal besar takut kalau orang lain bilang dia pintar, maka dia senang pura- pura bodoh, hebatnya dia bermain secara lihai dan mirip sekali,"

Kui Tang-king tertawa lebar, katanya, "Ting Si memang menyenangkan, kau memang Ting Si yang dapat menghibur hati orang." Sambil tertawa dia berdiri, menepuk pundak Ting Si, "Kereta kuda ini kuberikan padamu, demikian pula arak dan isi kereta ini."

"Mengapa kau berikan padaku?"

"Setiap habis minum arak, aku senang memberi barang kepada orang, aku pun suka terhadapmu."

"Dan kau sendiri?"

"Kalau sudah jelas aku tidak tersangkut atau dicurigai dalam kasus ini, lebih baik aku menyingkir saja, kalian cari gara-gara, aku bisa pusing tujuh keliling," demikian kata Kui Tang-king. "Kalau  aku bukan pengkhianat, juga bukan Lo-teng, lalu siapa orang yang bersekongkol dengan pihak Ngo-hou-kang? Bagaimana bisa tahu permohonan kalian?" Setelah menggeleng kepala, sambil tertawa dia menyambung, "Semua persoalan memusingkan kepala, aku juga sering gegabah, malas dan bodoh, menghadapi persoalan yang memusingkan kepala, biasanya aku menyingkir paling dulu."

Dia benar-benar hengkang dari tempat itu.

Ting Si mengawasi Teng Ting-hou, Teng Ting-hou balas menatap Ting Si, kedua orang ini saling pandang, tak bisa menahannya.

Setelah melompat dari kereta, mendadak Kui Tang-king menoieh, katanya, "Ada satu persoalan ingin aku tanyakan padamu."

"Soal apa?" tanya Ting Si.

"Kalian sudah mencurigai aku sebagai pengkhianat, mengapa mendadak berubah haluan?" Ting Si tertawa, sahutnya, "Karena aku suka melihat moncongmu."

Kui Tang-king menatapnya, meraba mulut sendiri, lalu menggumam, "Alasanmu memang bagus, moncongku ini memang bagus." Dalam mengucap beberapa patah kata itu, mulutnya menggunakan empat mimik yang berbeda, lalu berlenggang pergi sambil terbahak-bahak. Pergi meninggalkan setumpuk pertanyaan yang memusingkan kepala Teng Ting-hou dan Ting Si.

Teng Ting-hou menghela napas, katanya tertawa getir, "Rezeki orang ini memang besar, ada sementara orang sejak dilahirkan selalu ketiban rezeki, tapi ada sementara orang yang harus hidup memeras otak."

"O, beg itu?"

"Persoalan sudah kau temukan, sekarang tak bisa tidak kau harus memeras otak, meski kepalamu menjadi pusing."

Ting Si setuju dengan pendapat ini.

"Yang tahu kami datang ke Ngo-hou-kang, kecuali kami berdua, hanya Pek-li Tiang-ceng, Kiang Sin, dan Se-bun Seng." "Betul."

"Menurutku, Sebun Seng adalah orang yang paling patut dicurigai." "Karena dia mendengar langsung rencana kita."

"Ya, karena dalam sembilan bagian keuntungan, dia hanya dapat satu bagian saja," demikian jawab Teng Ting-hou.

"Tetapi mereka justru diperalat Kui Tang-king untuk mengawal barangnya." "Nah, karena itu aku pusing kepala."

"Lalu bagaimana dengan Pek-li Tiang-ceng?" "Dua bulan lalu dia sudah pulang ke Kwan-tiong."

"Yang patut dicurigai sekarang hanya Giok-pau Kiang Sin."

"Kenyataan hanya dia saja yang patut dicurigai, tapi ketahuilah dia sudah enam bu!an berbaring  di ranjang, sakitnya parah, jangan kata berjalan, duduk saja tidak bisa," dengan tawa getir Teng Ting-hou melanjutkan. "Konon sakit kotor, keluarganya merahasiakan hal ini, siapa pun dilarang membocorkan rahasia ini."

Ting Si meienggong, "Dari ucapanmu ini bisa ditarik kesimpulan, tiada seorang pun yang patut dicurigai."

"Ya, maka kepalaku lebih pusing."

"Biar kuajarkan satu cara kepadamu," demikian kata Ting Si dengan senyum penuh arti. "Kutanggung kepalamu takkan pusing lagi."

Bangkit semangat Teng Ting-hou, "Cara apa?"

"Persoalan tidak bisa kau pecahkan, mengapa tidak kau tanyakan kepada orang lain?" Teng Ting-hou melirik sekilas, gumamnya dongkol, "Kukira cara apa."

"Ya, cara sederhana, tapi cara ini amat tepat," "Persoalan begini, pada siapa aku harus bertanya?" "Tanyalah pada Bu-kheng-put-jip Ban Thong." Bercahaya bola mata Teng Ting-hou.

"Duel yang terjadi di kebun keluarga Hi disebarkan secara besar-besaran, siapa lagi kalau bukan dia yang mengatur, orang yang bersekongkol dengan golonganmu, kuyakin juga pasti dia."

"Mungkin ada bagiannya sedikit."

"Nah, yakinlah bahwa dia tahu siapa yang membocorkan rahasia itu."

Teng Ting-hou berjingkrak berdiri, lalu menarik Ting Si, katanya dengan tersenyum lebar, "Kalau begitu, hayo kita berangkat." Ting Si malah merebahkan diri, katanya dengan tersenyum lebar, "Jangan lupa sekarang aku sudah memiliki kereta, mengapa harus jalan kaki?"

Tatkala mereka tiba di kebun keluarga Hi, Hi Kiu Thayya sedang menggendong tangan mondar- mandir di lapangan latihan yang luas.

Selama hidup sampai usia setua sekarang, ada tiga hal yang selalu membuatnya bangga, lapangan latihan ini adalah salah satu kebanggaannya..

Sejak pensiun, mengundurkan diri dari persilatan, di tempat itu dia berhasil membimbing angkatan muda yang berprestrasi tinggi, puluhan bahkan ratusan pemuda pemudi di sekitar kampung halamannya menjadi tunas-tunas muda yang berbadan tegap, sehat lagi kekar.

Sayang isteri tercinta sudah lama meninggal, putri tunggalnya sudah menikah dan tinggal di lain kota, lapangan latihan ini kini menjadi satu-satunya tempat yang dapat menghibur diri, tempat yang menjadi tumpuan harapan masa depan.

Mentari tepat tepat di atas kepala, tengah hari nan panas. Tengah hari pada tanggal enam bulan tujuh.

Lapangan luas yang ditaburi pasir halus ditimpa cahaya matahari tampak gemerdep, mengkilap seperti kepalanya yang plontos, kulit muka memerah gosong, menjadi pemandangan menyolok dibanding kemilau senjata yang diletakkan berjajar dipinggir lapangan.

Meski sudah lanjut usia, orang tua ini tetap sehat, gagah lagi kuat, penampilannya juga berwibawa, dari gerak-gerik, sikap dan tutur katanya, orang sukar menebak berapa usianya sekarang, umumnya lelaki seusia dirinya sudah banyak yang loyo, kalau tidak gemuk karena hidup makmur, tentu berpenyakitan.

Secara diam-diam Ting Si dan Teng Ting-hou memperhatikannya dengan cermat. Dalam hati diam-diam mereka mengharap kelak dalam usia setinggi orang ini, dirinya masih juga dikaruniai badan segar bugar.

Sambil menggoyang kipas lempitnya, Hi Kiu mengajak Ting Si dan Teng Ting-hou berjalan mengitari lapangan, rona mukanya menarapilkan rasa puas dan bangga, tanyanya, "Lapangan ini, bagaimana menurut kalian?"

"Bagus, bagus sekali," puji Teng Ting-hou, bukan basa-basi tapi pujian menurut hati nurani.

Hi Kiutertawa lebar, "Umpama lapangan ini kurang baik, tapi cukup luas dan lebar, tiga ratus orang sekaligus dapat berkumpul di tempat ini."

Teng Ting-hou maklum, mereka bertiga berjalan pelahan mengelilingi lapangan, kira-kira setanakan nasi iamanya.

"Kalau seorang kupungut biaya 10 tail, tiga ribu berarti tiga laksa, orang lain kerja mati-matian, di sini mereka cepat kaya."

"Sepertinya Cianpwe sudah tahu akan hal itu?" tanya Teng Ting-hou.

Hi Kiu bergelaktawa, "Mereka kira aku tidak tahu, dengan mengagulkanku dan mengumpak padaku, lantas diriku boleh diperalat begitu, padahal biar sudah tua aku belum pikun."

Teng Ting-hou memancing, "Kurasa Cianpwe punya maksud lain?" Hi Kiu tertawa senang, "Kalian lihat tempatku besar, megah lagi mewah, padahal dalamnya kosong, sering aku tombok karena pengeluarannya teramat besar."

"Ya, aku dengar, anak dari keluarga miskin yang latihan di sini, bukan saja gratis, makan minum juga tersedia cuma-cuma, tak jarang engkau juga membantu keperluan keluarga mereka."

HI Kiu memanggut, sorot  matanya menampilkan rona  nakal, "Ya, pengeluaran  tiap bulan memang teramat besar. Tapi kalau aku bisa dapat tiga laksa tail, kondisiku seperti sekarang bisa bertahan lagi tiga lima tahun."

Teng Ting-hou tertawa. Kini lebih jelas akan maksud tujuan Hi Kiu, orang tua ini tidak segan untuk hitam mencaplok hitam.

Dengan tatapan tajam Hi Kiu mengawasi dua pemuda di depannya, dengan tertawa ia bertanya, "Kalian tentu datang dari jauh, entah siapa nama kalian? Maaf, mungkin penyambutanku kurang normal"

"Tidak, cukup baik," sahut Teng Ting-hou.

Hi Kiu tertawa lebar, "Yang benar, aku sudah menebak siapa kalian sebenarnya." "Cianpwe mengenal kami?" tanya Teng Ting-hou.

"Tuan pasti Sin-kun-siau-cu-kat Teng Ting-hou, betul?" Teng Ting-hou melongo, "Darimana Cianpwe tahu?"

"Anak muda yang baru berusia tiga puluhan, kecuali Sin-kun-siau-cu-kat, mana ada yang punya pamor sebagus ini?" sorot matanya kembali menampilkan rona nakal dan licik. "Apalagi,  beberapa tahun lalu, aku pernah melihat wajahmu, kalau tidak, tentu tak bisa aku mengenalmu."

Teng Ting-hou hanya menyengir. Kini ia merasakan sifat jenaka orang tua ini, bukan saja tidak menyebalkan, rasanya malah patut menjadi sahabat.

Hi Kiu berputar menghadapi Ting Si. "Anak muda ini," katanya tegas. "Masih asing rasanya." "Cayhe she Ting," sahut. Ting Si tersenyum. "Ting Si."

"Oho, Ting Si si cerdik pandai itu?" seru Hi Kiu. "Cianpwe suka berkelakar," sahut Ting Si.

Dari atas ke bawah Ting Si dipandangnya dengan cermat. "Bagus," puji Hi Kiu. "Memang pandai, simpatik dan menyenangkan."

D.i tengah senyum lebarnya, mendadak tangannya bergerak menyerang, lima jarinya terkembang, secepat kilat mencengkeram pergelangan tangan Ting Si. Gerak tipunya ini adalah ilmu pukulan yang ia banggakan sejak muda dulu, yaitu Sha-cap-lak-lok-tay-kim-na-jiu. Gerakannya bukan saja sigap dan cekatan, tapi tepat lagi kencang, mengandung perubahan isi kosong yang banyak ragamnya.

Setelah pergelangan tangan tercengkeram, Ting Si baru beraksi, hanya sedikit membalik pergelangan tangan, entah bagaimana tangannya meluncur lepas selicin belut.

Hi Kiu si tua keladi seketika berubah rona mukanya. Selama tiga puluh tahun belakangan, belum pernah ada tokoh silat segagah apapun yang lolos dari cengkeraman jari bajanya.

Mengawasi jari jemari sendiri Hi Kiu tertawa lebar, "Bagus, ksatria memang muncul dari angkatan muda, kurasa aku memang sudah tua."

Ting Si tersenyum lebar, "Aku yakin sepasang tangan Ciangpwe belum tua, usia tua jiwa masih muda,"

Hi Kiu tergelak, menepuk pundak Ting Si, "Anak bagus, kapan jika berhasil merampas barang, jangan lupa sisakan padaku, antar kemari, aku  butuh duit. "

"Bukankah kemarin Cianpwe sudah untung tiga laksa tail?" "Ah, siapa bilang, satu tail pun aku tidak untung."

"Duel antara Jit-goat-siang-jio melawan Pa-ong-jio. Apa tidak ada penonton yang datang?" "Yang datang banyak, tapi duel batal."

"Mengapa?"

"Karena Ong-toasiocia tidak datang." Ting Si melenggong.

Teng Ting-hou bertanya, "Lalu orang-orang gagah  dari Ngo-ho.u-kang?" . .

"Mereka mendengar Ong-toasiocia berduel dengan Kim-jio-ji, lalu beramai-ramai memburu datang ke Sin-hoa-jun."

Teng Ting-hou membungkuk badan, "Mohon pamit." "Kalian juga akan pergi ke Sin-hoa-jun?" tanya Hi Kiu. Teng Ting-hou mengangguk.

Untuk ketiga kalinya sorot mata orang tua ini menampilkan rona nakal lagi licik, "Setiba di sana, jangan lupa sampaikan salamku kepada Ang-sin-hoa si kembang harum. Katakan aku belum menganggapnya tua, sampai sekarang aku masih tetap menunggu kedatangannya."

* * * * *

Kereta itu berlari kencang, Hi Kiu berdiri di luar pintu, dengan senyum lebar melambai tangan memberi salam selamat jalan.

"Sebetulnya dulu aku pernah melihatnya," demikian ucap Teng Ting-hou. "Cuma malas aku bercengkerama dengannya."

"Mengapa?" tanya Ting Si.

"Selama ini kuanggap orang  itu bebal, angkuh dan menyebalkan.tak nyana. "

"Tak nyana adalah seekor rase tua."

"Ya, seekor rase tua yang menyenangkan." Ting Si mengangkat kedua kakinya, selonjor di antara tempat duduk didepannya yang kosong, mendadak seorang diri ia tertawa, makin keras, malah terpingkal-pingkal.

"Hal apa yang membuatmu geli?"

"Mendadak kuingat satu kejadian yang lucu menggelikan." "Kejadian apa?"

"Kalau aku bisa menjodohkan bangkotan tua itu dengan Ang-sin-hoa, bukankah kejadian ini patut dibuat senang?"

"Kalau kau mampu merujuk perjodohan dua orang ini, akan kutraktir lima ratus meja perjamuan untukmu."

"Ah, yang benar," seru Ting Si menegakkan badan.

"Kalau nenek.tua itu betul pergi mencari si tua bangkotan itu, anggaplah aku yang kalah." "Setuju."

"Baik, aku juga setuju," seru Teng Ting-hou, mestinya dalam hati ia maklum, Ting Si mampu memancing pertemuan kedua orang tua itu, Teng Ting-hou memang rela kalah. Karena selama ini belum pemah melihat 'anak muda' seperti Hi Kiu dan Ang-sin-hoa yang sudah bangkotan.

Orang tua seperti mereka, berapa pun usianya,  hati nuraninya akan  tetap 'muda' sepanjang masa. Maka adalah hak dan kewajiban mereka untuk menikmati hidup tenteram, bahagia dan senang. Hakikatnya dalam hati kedua pemuda ini memang mengharap kedua orang tua itu dapat rukun dan bahagia di hari tua. Teng Ting-hou maklum, di dunia ini kalau ada orang yang mampu membakar amarah cewek tua bawel unluk melabrak si rase tua,  orang itu bukan lain pasti Ting   Si.

* * * * *

Mendadak Ang-sin-hoa berjingkrak dari kursi rotan, lompatannya hampir satu tombak tingginya, waktu badannya meluncur turun, tangannya sudah meraih baju-Ting Si, teriaknya keras, "Apa? Apa katamu?"

Ting Si menyengir tawa, "Bukan aku yang bilang, aku meniru ucapan si rase tua itu."

Melotot bola mata Ang-sin-hoa, "Betul dia bilang aku takut padanya? Tak berani masuk ke kebunnya." Dengan sikap penasaran seperti ingin membela Ang-sin-hoa, suaranya meninggi, "Lebih menjengkelkan, berulangkali dia bilang selama. ini kau ingin menjadi bininya, tapi dia tolak."

Ang-sin-hoa berjingkrak pula, "Coba jelaskan, dia yang tidak mau atau aku yang menolak dia?" "Ya, tentu kau yang menolak dia," seru Ting Si.

"Berapa duit kau bertaruh dengannya?" tanya Ang-sin-hoa. "Aku tidak bertaruh."

"Lho, mengapa?"

Ting Si menghela napas, "Karena aku mengerti urusan yang tiada bukti tanpa saksi begini, selamanya tidak mungkin dibikin jelas, maka kubiarkan saja dia menghibur diri, yang pasti aku sendiri tidak dirugikan."

Ang-sin-hoa mendelik, mendadak tangannya melayang menggampar pipi Ting Si, sekali raih ia banting sebuah poci arak, lalu menerjang keluar seperti kucing kesakitan karena ekornya terinjak.

Ting Si meraba pipi yang merah kena gambar, mulut menggumam, "Kurasakan, kali ini dia betul marah."

"Kau melihat dia marah?" tanya Teng Ting-hou.

"Ya, aku yakin dia marah, hampir seratus kali aku kena gamparannya, tapi gamparan kali ini paling keras."

"Hanya karena menggampar lebih keras, bukti bahwa dia menaruh hati pada rase tua itu. Maklum dengan usianya yang sudah renta, kan malu kalau naik tandu pengantin."

"Komentarmu tepat," seru Ting Si. "Patut diberi hadiah."

Teng Ting-hou menghela napas, "Awalnya kuanggap cara yang kau gunakan tidak manjur, kenyataan akalmu sungguh jitu."

"Jadi kau menyesal telah bertaruh denganku?"

Teng Ting-hou menyeringai, "Kau kira aku sudah kalah dalam pertaruhan?" "Kau kira belum kalah?"

"Kau tahu dan bisa buktikan kalau cewek pesolek.itu meluruk ke kebun Hi Kiu?" "Sudah tentu aku tahu."

"Bekal tidak bawa, tanpa pesan tiada duit, mana berani dia pergi?"

"Ya, kalau tidak mau pergi, dibakar rumahnya pun ia akan tetap duduk di dalam sampai mampus hangus."

Sejak tadi Siau Ma setengah duduk di pinggir ranjang, tiba-tiba ia menimbrung, "Kalau cewek tua itu ingin pergi ke suatu tempat, umpama harus telanjang pun dia langsung berangkat."

"Rupanya kau sudah kenal betul tabiatnya," ujar Teng Ting-hou menahan geli.

"Betul. Dia tahu kalau aku tidak mau istirahat dalam tempo yang lama meski lukaku membusuk dan berulat sekalipun," demikian gerutu Siau Ma, padahal sekujur badannya terbalut perban, kondisinya mirip kado yang dibungkus rapi siap dikirim kepada sang kekasih.

Teng Ting-hou tertawa lebar, "Untung selama ini kau tunduk dan patuh padanya, kalau lukamu betul busuk dan keluar belatung, rasanya lebih tersiksa daripada dipaksa tidur di ranjang."

Mengawasi Siau Ma yang terbungkus perban, sorot mata Ting Si seperti kolektor barang antik menikmati benda kuno, tapi sikapnya tampak serius, lalu dengan sikap aneh mendadak bertanya, "Gak Ling dan Ban Thong, mengapa belum tiba disini?"

Siau Ma heran, "Apa mereka juga akan datang?"

Ting Si mengangguk pelahan, pandangannya menjelajah sekitarnya, mirip anjing pelacak memburu buronannya. "Apa yang kau cari?" tanya Siau Ma. "Rase," sahut Ting Si.

Siau Ma bergelak tawa.tapi karena lukanya terasa sakit, tawanya ditahan, mimik mukanya menjadi lucu.

"Ada rase di dalam rumah ini?" tanya Teng Ting-hou. "Mungkin," sahut Ting Si.

"Bukankah rase tua berada di kebun keluarga Hi," kata Teng Ting-hou. "Rase muda mungkin ada di sini," sahut Ting Si.

"Rasejantan atau betina?" tanya Teng Ting-hou. "Sudah tentu betina."

Teng Ting-hou tertawa lebar.

"Brak, krompiang", pada saat itulah suara gaduh berkumandang, seperti seorang sekaligus membanting piring, mangkukdan cawan.

Kamar ini adalah kamar tidur pribadi Ang-sin-hoa, bagian depan adalah kedai dimana ia menjual arak.

Siau Ma mengerut alis,  "Mungkin pelayan berlaku ceroboh,  membuat tamu marah. " Pelayan

yang dimaksud adalah lelaki tua setengah tuli yang sudah renta, kalau ada kesempatan sering mencuri arak.

"Blarr, klontang", suara gaduh kembali berkumandang di bagian luar, poci arak, piring dan mangkuk kembali dibanting hancur.

Teng Ting-hou mengerut kening, "Tabiat tamu ini kelihatannya memang buruk."

"Ya, tabiat Gak-lotoa biasanya memang berangasan, entah apakah dia yang datang?"

Belum habis bicara, Ting Si mendahului menerjang keluar. Teng Ting-hou menyusul di belakangnya.

Mengawasi dua rekannya menerobos keluar pintu, Siau Ma hanya mengawasi, tiba-tiba menghela napas lega, seperti bebas dari himpitan yang berat.

Kejap lain seorang terdengar berkata di luar pintu, "Lho, kau ternyata belum pergi?" Suaranya serak rendah, yang bicara adalah Jit-gwat-siang-jio Gak Ling adanya.

Seorang yang lain ikut berkata, "Saking gelisah kami hampir sakit karena menunggumu, ternyata malah bersembunyi di sini minum arak."

Suara orang ini melengking tinggi, berbeda jauh dengan suara Gak Ling, siapa iagi kalau bukan, Hwe-tan-ping Tan Cun.

Bila Hwe-tan-ping dan Lik-te-hun-kim berkumpul ibarat bayangan mengikuti bentuknya, mereka berada di sini, maka Tio Tay-ping pasti juga ada di tempat itu. "Mana Ban Thong?"

Itulah suara  Ting Si.

Ban Thong bernyali kecil, senang berkumpul dan tak mau ketinggalan, kalau tiga serangkai itu sudah datang, tak mungkin dia mau ditinggal.

"Kau mencarinya?" tanya Gak Ling. "Ya," sahut Ting Si.

Dingin suara Gak Ling, "Agaknya dia juga ingin mencarimu." "Sekarang dia dimana?" tanya Ting Si.

"Tak jauh, di sekitar sini," sahut Tan Cun.

"Kapan ada waktu, kami siap mengantarmu mencarinya," ujarTio Tay-ping.

Nada bicara tiga orang ini kedengaran ganjil, seperti menyembunyikan rahasia, entah ada muslihat apa.

Betulkah mereka bermaksud jahat terhadap Ting Si?

Siau Ma mengerut kening, dengan susah payah akhirnya ia merangkak berdiri, dari belakang sebuah tangan menahan pundaknya.

Jelas di rumah itu tiada orang lain, darimana datangnya tangan orang ini? Mungkin keluar dari lemari pakaian di belakangnya?

Kelihatannya Siau Ma tahu kalau dalam lemari pakaian di kamar itu bersembunyi seorang, maka sedikitpun ia tidak merasa heran atau kaget, malah dengan suara lirih berkata, "Lekas sembunyi, sebentar mereka pasti kembali."

"Tak mungkin," suara orang itu juga lirih, kepalanya dekat di pinggir telinga Siau Ma. "Ting Si ingin mencari Ban Thong, pasti pergi bersama mereka."

"Umpama benar mau mencari orang," ucap Siau Ma. "Pasti balik dulu memberitahu kepadaku." "Kurasa tidak mungkin," kata orang itu.

"Mengapa tidak mungkin?" tanya Siau Ma.

"Karena dia takut orang lain ikut masuk kemari, dia tak ingin orang lain melihat keadaanmu sekarang."

Belum Siau Ma menjawab, suara tinggi di luar berkata dengan nada tinggi, "Baiklah." "Kereta kuda di luar itu apakah milikmu?" tanya Gak Ling.

"Ya, pemberian seorang teman," sahut Ting Si.

"Wah, teman barumu berkantong tebal, makanya kami dilupakan," Tan Cun menyindir dengan nada dingin. "Punya teman berkantong tebal kan menguntungkan," sela Tio Tay-ping. "Sedikit banyak kita bisa pamer."

Sindir menyindir antar teman sudah jamak, yang pasti mereka pergi bersama Ting Si. Ternyata tiga orang itu tiada yang bertanya siapa Teng Ting-hou. Nama besar Sin-kun-siau-cu-kat   memang terkenal, tapi kawanan begal atau para perampok jarang mengenalnya, apalagi pernah bertemu, tidak banyak jumlahnya.

Langkah orang banyak lekas sekali pergi jauh, di luar kini hanya pelayan tua tuli lagi renta itu, terdengar ia bergumam seorang diri, "Kawanan berandal seperti mereka memang suka bertingkah, piring mangkuk dibanting seenaknya, memangnya tidak beli? Kurcaci, dirodok."

Kejap lain suara kereta bergerak, ringkik kuda makin jauh.

Siau Ma menggenggam kencang tangan halus yang menahan pundaknya, sepertinya mereka tak mau berpisah, segan berpisah.

Tujuh orang duduk dalam kabin kereta rasanya masih longgar, tapi Teng Ting-hou terdesak di pojok. Karena dua orang yang duduk di sisinya bertubuh tambun, kepala besar, terutama yang bergaman kampak, pahanya segede pohon, bobotnya pasti lebih berat dari tubuh Tan Cun.

Dapat diduga bahwa orang ini pasti Tay-lik-sin. Kelihatannya Teng Ting-hou sudah tertidur, padahal diam-diam ia mengamati orang-orang dalam kereta. Terutama Gak Ling, seorang kalau diagulkan sebagai 'Lo-toa', atau ketua, tentu ada sebabnya.

Perawakan Gak-lotoa memang tidak tinggi gede, tapi pundaknya lebar, perutnya tidak gendut, maka pinggangnya kencang, kaki tangan tumbuh normal namun bertenaga, tiap kali  menggerakkan tangan, kulit daging di balik bajunya kelihatan menonjol dan bergerak turun naik. Wajahnya kaku, kulit badan coklat legam, alls tebal, hidung besar, matanya justru sipit, bola matanya berkilau. Pandangan matanya penuh selidik lagi berwibawa, begitu naik kereta tak   pernah beruiah, namun sikapnya kelihatan selalu siaga, siap adu pukulan dan tendangan dengan musuh. Bukan saja buas lagi beringas, kelihatan orang ini punya kekuatan luar biasa. Teng Ting- hou memperhatikan tom-bak di tangan orang. Telapak tangannya lebar,  jarijemari besar lagi  kasar. Sejakdudukdi kereta, dua tangan ditaruh di atas lutut, kecuali jari kelingking, kuku jari- jarinya dipotong rapi, setelah diperhatikan baru terlihat kukunya pendek karena selalu digigit dan digigit.

"Lahirnya orang ini dingin kaku, hatinya amat tenang dan tabah," demikian penilaian Teng Ting- hou, ia tahu seorang yang selalu menggigit kuku pasti punya pikiran ruwet, hati gundah dan tidak tenteram.

Sepasang tombak matahari dan rembulan ternyata tidak berada di tangannya, dua tombak itu dibungkus kantong sutra dihawa seorang yang menjadi pengikutnya. Pembawa tombak ini juga seorang lelaki berbadan kekar, tampangnya kelihatan lebih garang dari Tay-lik-sin, orang ini  duduk di depan Gak Ling, dengan rajin memegang sepasang tombak, kepala menunduk, pandangan matanya tidak pernah beraiih ke tempat lain.

Yang bernama Tan Cun ternyata lelaki bertubuh kurus kecil, tampangnya mirip pedagang keliling yang kurang makan dan selalu kehabisan modal. Tak usah tertawa, orang melihatnya seperti tertawa.

Ting Si duduk di tengah diapit empat orang, pandangan mereka tak lepas dari gerak-gerik Ting Si. Teng Ting-hou yang duduk di sebelahnya malah tidak diperhatikan.

Ting Si merasa tidak periu memperkenalkan mereka. Dengan senyum lebar ia berkata, "Kalian bukan ingin ke Sin-hoa-jun untuk minum arak, bukan?" Gak Ling menarik muka, "Kalau bukan ingin minum arak? Memangnya ingin kencan dengan nenek tua bangka itu?"

Ingin minum arak, tiada arak, jelas amarah bangkit, hati jengkel.

Dengan tertawa Ting Si membuka tutup sebuah peti di bawah tempat duduk, dari kotak kayu ia keluarkan seguci arak, setelah tutup guci dibuka, bau arak semerbak.

"Arak bagus," Tan Cun bersorak senang.

"Ting cilik memang makin royal,"seruTioTay-ping. "Arak simpanannya dari Kanglam, seguci sepuluh tail perak, luar biasa."

Tan Cun tertawa, "Siapa tahu arak ini pemberian entah Siocia darimana yang menaksir padanya."

"Peduli amat arak ini darimana," suara Tay-lik-sin yang serak basah. "Yang pasti dia mau keluarkan seguci untuk kita minum, sudahlah, tak usah menyindimya."

"Betui," seru Gak Ling. "Hayo minum." Guci direbut, arak dituang ke dalam mulut dengan lahap.

Tan Cun menghela napas, "Araksebagus ini kapan bisa kita nikmati, Ban Thong pasti tak bisa mencicipi, bocah itu tak punya rezeki."

"Betul," kata Ting Si. "Aku sedang heran, mengapa hari ini dia tidak bersama kalian?" "Waktu berangkat, dia masih tidur," Tan Cun menjelaskan.

"Dimana?"

"Di kelenteng Nikoh tak jauh di depan sana," Tan Cun menjelaskan. "Kelenteng Nikoh?" tanya Ting Si heran. "Mengapa tidur di kelenteng Nikoh?" "Sebab Nikoh di kelenteng itu muda-muda, satu lebih cantikdari yang lain.."

"Nikoh juga dijadikan sasaran?" tanya Ting Si dengan menatap tajam muka Tan Cun.

"Memangnya kau lupa apa julukannya?" desis Tan Cun. "Bu-khong-put-jip tiada lubang yang tidak masuk, seorang mungkin salah memilih nama, tapi julukan pasti tepat dan tidak akan salah."

Di antara lebatnya pepohonan di kejauhan sana tampak wuwungan sebuah kelenteng, cepat sekali kereta sudah berada di halaman depan kelenteng, tiga huruf berukir emas, 'Kwan-im-am', jelas kelenteng ini mengutamakan pemujaan Dewi Kwan Im.

Bila melanglang buana, dimana pun berada, di setiap pelosok pasti menemukan kuil Kwan Im yang dinamakan Kwan-im-am, demikian pula dimana saja bisa ditemukan kedai arak yang bernama Sin-hoa-jun.

Yang membuka pintu Kwan-im-am seorang Nikoh, tapi Nikoh yang membuka pintu bukan lagi muda apalagi jelita, karena Nikoh yang satu ini kelihatan lebih tua dibanding Ang-sin-hoa.

Maklum, seorang dewi rembulan, kalau usianya sudah kepala tujuh, pasti tidak cantik lagi. Sekilas Ting Si melirik ke arah Tan Cun, lalu tertawa. Tan Cun juga tertawa, suaranya direndahkan, "Aku bilang yang satu lebih muda dari yang lain, yang muda lebih cantik dari yang tua, yang satu ini paling tua paling jelek, maka tugasnya membuka pintu."

"Yang paling muda macam apa?" tanya Ting Si.

"Yang paling muda tentu berada di kamar bersama Ban Thong." "Sekarang masih di sana?"

Wajahnya menampilkan mimik lucu, "Umpama ada orang mengusirnya dengan pukulan sapu, aku yakin dia tidak mau pergi."

Setelah menelusuri lorong panjang, kini mereka berada di pekarangan belakang, di sana tumbuh pohon beringin besar lagi rindang, di bawah pohon besar itu sebuah kamar keci! tertutup rapat pintunya, keadaan di sini sunyi lelap.

"Apa Ban Thong ada di sini?" "Ya, pasti."

"Kukira dia masih tidur nyenyak, seperti tak sadarkan diri saja." "Ya, mirip orang mati."

Nikoh pengantar itu berjalan paling depan, pelahan ia mengetuk pintu, di balik pintu muncul seorang Nikoh dengan dua telapak tangan terangkap di depan dada, pelahan ia beranjak keluar. Nikoh yang baru keluar memang lebih muda, paling sedikit delapan tahun Lebih muda dari Nikoh pembuka pintu. Tapi Nikoh pembuka pintu usianya mungkin sudah Lebih tujuh puluh tahun.

"Nikoh ini yang paling muda?" tanya Ting Si.

"Kelihatannya dia yang paling muda," sahut Tan Cun menyengir. Ting Si tertawa lucu

Tan Cun menjelaskan, "Kauanggap usianya sudah tua, tidak demikian buat Ban Thong." "Lho, begitu?"

"Bagi Ban Thong, tua muda tiada beda, yang penting perempuan." "Aneh?"

"Karena. " Tan Cun tidak rnelanjutkan omongannya, karena Ting Si sudah melihat Ban Thong.

Ban Thong sudah mati.

* * * * *

Cahaya dalam gubuk guram, sebuah peti mati ditaruh di bawah jendela, Ban Thong rebah dalam peti mati. Baju yang dipakai, jubah warna biru dari kain sutra. Baju sutra masih kelihatan bersih, tiada noda darah, badan juga tidak teriuka, tapi jiwanya melayang, mati cukup lama, kulit   mukanya tampak kering menguning, raganya sudah kaku dingin.

Ting Si menarik napas panjang, katanya, "Kapan dia menghembuskan napas terakhir?" "Kemarin malam," Gak Ling menjawab. "Mati karena apa?" tanya Ting Si.

"Kau sendiri tidak bisa melihatnya?" "Ya, aku tidak tahu."

Gak Ling menyeringai dingin, "Coba kau periksa dengan teliti lalu perhatikan dengan seksama." Tan Cun menimbrung, "Coba kau buka pakaiannya dan periksa badannya."

Ting Si bimbang sejenak, lalu mendorong daun jendela. Cahaya terang menyinari mayat dalam peti mati. Tampak oleh Ting Si, jubah di depan dada Ban Thong wamanya berubah dari wam.a aslinya yang biru tua, warna menguning mirip daun kering di musim kemarau yang rontok, layu dan membusuk.

"Masih belum kau temukan penyebab kematiannya?" tanya Gak Ling dingin. Ting Si menggeieng kepala.

Sambil tertawa dingin tangan Gak Ling mendadak bergerak, menyusul segulung angin kencang menerpa, jubah biru di depan dada Ban Thong seperti diterjang angin terbang berhamburan, tampak dadanya yang kuning kering seperti dicap oleh besi yang membara, itulah luka pukuian yang mematikan. Luka itu berwarna merah gosong, tiada darah, kulitnya juga tidak pecah atau mengelupas.

Ting Si menarik napas panjang, "Kelihatannya ini pukuian tinju." "Syukur kau sudah melihat jelas," jengek Gak Ling dingin.

"Sekaii pukul mematikan," demikian ucap Ting Si. "Luar biasa pukuian tinju orang ini."

"Tenaga besartak berguna," sela Tan Cun sinis. "Pukuian ini dilandasi kepandaian khusus yang hebat."

Ting Si mengangguk tanda setuju.

"Kau pernah melihat ilmu pukuian apa itu?" tanya Tan Cun. • "Menurutmu?" Ting Si ragu-ragu.

"Pukuian tinju dari goiongan mana saja, yang sekaii pukul mematikan, bekas pukulannya tidak akan menjadi merah gosong."

"Ya,betul,"ujarTingSi.

"Di kolong langit, hanya ada satu pukuian terkecuali," Tan Cun berlagak. "Pukuian macam apa?" tanya Ting Si sinis..

"Siau-lim-sin-kun (pukuian sakti Siau-lim)," desis Tan Cun sambil menatapTing Si. "Tanpa dijelaskan, kuyakin kau pasti tahu." Lalu Tan Cun menambahkan dengan suara dingin, "Coba kau periksa lebih teliti, apakah tulang dada Ban Thong patah?"'

"Tidak perlu kuperiksa, tulang dada Ban Thong tidak patah," sahut Ting Si. "Badannya terluka?" "Juga tidak."

"Seorang terpukul mati, tulang tidak patah, kulit badan tidak luka, coba jelaskan, pukulan apa yang digunakan pembunuh itu?"

"Siau-lim-sin-kun," sahut Ting Si pelahan.

"Banyak orang pernah meyakinkan Siau-lim-sin-kun, berapa banyak yang mampu melatih diri hingga tingkat setinggi itu?"

"Ya, hanya beberapa gelintir saja." "Berapa yang kau maksud?"

"Mungkin. kurasa kurang dari lima orang."

"Siau-lim Hong-tiang jelas termasuk seorang di antaranya." Ting Si memanggut.

"Ciangbunjin Siau-lim sekte selatan, juga termasuk di antaranya." Ting Si memanggut lagi.

"Dua Tiang-lo pelindung kuil Siong-san Siau-lim termasuk tidak?" "Ya, masuk hitungan."

"Ada seorang lagi, siapa menurut pendapatmu?" Ting Si bungkam.

Mendadak Tan Cun bergelak tertawa, pelahan badannya berputar ke arah Teng Ting-hou. "Persoalan ini tidak kutanya kepadanya, aku tahu kau lebih jelas dari dia."

"Lebih jelas tentang apa?" tanya Teng Ting-hou..

"Kau tahu, kecuali empat Hwesio yang kusebut tadi, masih ada seorang lagi, siapa dia?" "Mengapa aku harus tahu?" Teng Ting-hou balas bertanya.

Tan Cun menyengir lebar, "Karena kau adalah orang kelima itu."

Tio Tay-ping menyela, "Kecuali keempat padri agung Siau-lim itu, orang yang memiliki pukulan setaraf ini, jelas adalah Sin-kun-bu-tek Teng Ting-hou."

Tan Cun memanggut, "Karena itu kita menarik kesimpulan, bahwa pembunuh Ban Thong tak lain adalah Teng Ting-hou."

Gak Ling menatap muka Ting Si, suaranya rendah, "Sekarang ingin kutanya kepadamu, bukankah temanmu ini bernama Teng Ting-hou?"

Ting Si menghela napas gegetun, suaranya getir, "Tanya langsung kepadanya, dia jauh lebih tahu dariku."

"Ada satu hal aku justru tidak tahu," ucap Teng Ting-hou. "Coba katakan," sahut Gak Ling.

"Mengapa aku harus membunuh Ban Thong?" "Justru kami yang harus bertanya kepadamu." ''Aku tidak bisa menjawab."

"Aku pun tidak bisa memberi keterangan."

Teng Ting-hou menyeringai pahit, "Aku tidak habis mengerti, aku tidak punya alasan, mengapa harus membunuhnya."

"Tetapi kau sudah membunuhnya, maka kau harus mampus," Gak Ling mengancam dengan mengepal tinju.

Teng Ting-hou bersikap tenang, "Mengapa tidak kau pikir, mungkin bukan aku yang membunuhnya?"

"Tidak pernah, tidak perlu," jengek Gak Ling.

Teng Ting-hou menghela napas, "Rupanya kau orang dungu yang tidak tahu aturan?"

"Kalau aku selalu pakai aturan, entah berapa kali aku mampus di tangan orang lain," Gak Ling berputar ke arah Ting Si, pertanyaannya bernada tinggi, "Bukankah seiama ini aku memandangmu sebagai saudaraku sendiri?"

Ting Si mengangguk kepala.

"Kalau kau minum arak, selalu kubagi separoh untukmu. Bila dalam kantongku ada sepuluh tail perak, tentu kubagi lima tail perak untukmu, betul tidak?"

Ting Si mengangguk lagi.

Gak Ling melotot beringas, semprotnya, "Lalu sekarang kau berpihak kepada siapa? Coba katakan."

Ting Si rnenghela napas, ia tahu Gak Ling sudah memberi garis pilihan kepadanya. Kalau bukan lawan tentu kawan, kalau bukan kau yang mampus, biaraku yang mati.

Manusia yang punya pekerjaan seperti mereka, mirip hewan yang hidup di tanah tegalan, selalu memiliki semboyan hidup yang khas dan sederhana.

Gak Ling tertawa dingin, "Kalau kau ingin berpihak kepada musuh, banfulah dia membunuhku, aku tidak akan menyalahkanmu, aku tahu tidak sedikit di dunia ini manusia yang menjual teman karib sendiri demi kesenangan hidupnya, aku yakin bukan hanya kau saja yang pernah berbuat demikian."

Ting Si menatap Gak Ling sesaat lamanya, lalu berpaling ke arah Teng Ting-hou, "Apakah begini saja, kami iantas membunuhnya?"

"Kalau dia berani kemari, tentu dia berani mati," sahut Gak Ling tegas. "Mengapa kalian tidak memberi kesempatan padanya untuk membela diri, biarlah dia menjelaskan?"

"Sejak kecil kau bergaul dengan kita, kapan kita pernah memberi kesempatan kepada lawan, peluang sedikitpun tidak akan kami berikan."

"Ya, aku tahu, karena kesempatan membela diri sering kali dimanfaatkan untuk melarikan diri." "Tepat, agaknya kau belum pikun," jengek Gak Ling.

"Hanya saja, bagaimana kalau kita keliru membunuh orang yang tidak bersalah?" "Tidakjarang kita salah membunuh, bukan sekali ini kau membunuh orang?"

"Oleh karena itu, bila terfitnah dalam kasus ini, apa Iantas dia menerima kematiannya?" "Tidak salah."

Ting Si tertawa lebar, dia berputar ke arah Teng Ting-hou, suaranya tenang dan kalem, "Gelagatnya, kau harus menyerah, menerima kematianmu."

Teng Ting-hou hanya tertawa getir.

"Sayang kau meyakinkan pukulan sakti Siau-lim-pay, lebih baik kalau kau tidak bernama Teng Ting-hou."

"Hanya karena kebetulan, maka aku harus disalahkan?" "Ya, salah besar."

"Maka aku harus mati di tangan mereka?"

"Cara apa yang kau pilih untuk berangkat ke alam baka?" "Bagaimana menurut pendapatmu?"

Ting Si tertawa, "Menurut pendapatku, lebih baik kau beli bantal besar lalu benturkan kepalamu biar pecah dan mampus seketika." Sebelum habis mulutnya bicara, mendadak ia turun tangan, dengan pinggir telapak tangannya menebas leher Teng Ting-hou.

Itulah serangan mematikan, cara yang digunakan untuk menyerang ternyata mirip binatang buas, ganas, keji,  dan telak,  lawan tidak diberi kesempatan bertindak.  Menyapa lalu turun tangan, dalam pandangan orang-orang seperti Gak Ling, cara ini sudah terlalu basi, permainan anak-  anak, lucu dan terlalu rendah.

Kalau bukan kau yang mati, biar aku yang mampus. Setiap orang hanya mati sekali. Betapa cepat dan telak serangan yang dilancarkan Ting Si, ternyata Teng Ting-hou tak sampai berkelit. Telapak tangan Ting Si sudah hampir menyentuh leher Teng Ting-hou, sorot mata Gak Ling sudah memantulkan rasa puas dan lega.

Bila suatu perkara dibereskan secara cepat dan mudah, jauh di luar dugaan, peduli kasus apa saja, bila dapat menyelesaikannya dengan cara yang tepat dan benar, tentu perkara itu dapat dibereskan dengan mudah dan lancar.

Di saat Gak Ling merasa puas melihat tindakan Ting Si, telapak tangan Ting Si mendadak berputar arah, kelima jarinya ditarik mundur, berbareng sikutnya menyodok ke belakang, dengan telak Hiat-to di tengah tulang rusuk Gak Ling disodoknya. Sergapan yang sigap lagi tepat, Gak Ling tidak pernah siaga atau sempat melawan, badannya langsung roboh tak berkutik.

Pengawal Gak Ling yang raksasa itu menggerung murka, badannya yang segede kerbau itu menerjang maju seperti banteng mengamuk, sekali gentak ia robek kantong pembungkus tombak sambil merangsek dengan raungan  keras. Sementara Tan Gun dan  Tio Tay-ping tanpa  janji sudah melesat ke arah pintu hendak melarikan diri.

Sayang sekali gerak-gerik mereka tidak selincah lawannya, Ting Si dan Teng Ting-hou bergerak mendahului mereka, apalagi kepandaian mereka memang lebih tinggi, hanya tujuh jurus saja, empat orang itu sudah dibereskan seluruhnya.

Teng Ting-hou menarik napas panjang, senyum terkulum di ujung mulutnya, "Agaknya aku tidak salah menilai dirimu."

"Kau tahu kalau aku tidak akan membunuhmu?" Teng Ting-hou memanggut.

"Kalau kau salah menilai diriku?"

"Kalau penilaianku salah, tentu sekarang aku sudah mampus."

"Ya, aku kagum kepadamu, kau memang tabah." Gak Ling menggeletak di tanah, Hiat-tonya tertotok, badannya tidak berkutik, namun bola matanya melotot gusar menatap mereka, sorot matanya memancarkan rasa dendam dan benci.

Ting Si tersenyum lebar, "Tak usah kau marah, bukan hanya aku seorang, banyak orang yang menjual kawan untuk kepentingan sendiri."

"Ya, betul, juga bukan yang terakhir," Teng Ting-hou berolok-olok.

"Kalian harus paham," demikian kata Ting Si kepada Gak Ling dan kawan-kawannya yang bergelimpangan di tanah. "Terpaksa aku harus berbuat demikian, karena aku tahu, Sin-kun-siau- cu-kat Teng Tng-hou bukan pembunuh Ban Thong, sejak kemarin sore  dia berada di   sampingku."

Teng Ting-hou menimbrung, "Memang aku pernah meyakinkan Siau-lim-sin-kun, tetapi aku tidak punya ilmu membagi tubuh, dari tempat jauh membunuh orang di sini." "Sungguh sayang kalian tidak mau mendengar dan percaya penjelasanku, apa boleh buat terpaksa kalian istirahat di sini. Setelah aku berhasil melacak pembunuh Ban Thong, akan kubawa arak bagus untuk minta maaf dan pengampunan kepada kalian," Ting Si merasa risi ditatap sorot mata yang melotot gusar seperti itu, maka habis bicara ia tarik Teng Ting-hou meninggalkan tempat itu.

"Sekarang kita kemana?" tanya Teng Ting-hou setelah berada di luar. "Mencari orang."

"Mencari Nikoh (biarawati) maksudmu?"

Tawar suara Ting Si, "Biasanya seleraku tinggi terhadap Nikoh, peduli Nikoh gede atau cilik, tua atau muda, sama saja."

* * * * * Kedua Nikoh tadi masih berdiri di pekarangan, melihat mereka keluar, bergegas kedua Nikoh ini menyingkir, tapi sudah terlambat. Sekali lompat Ting Si sudah berada di belakang mereka, sekali raih ia tangkap mereka satu tangan satu orang.

Nikoh yang lebih tua menjadi lemas dan pucat saking kaget dan takut, suaranya gemetar, "Usiaku sudah tujuh puluh tiga, kau. mengajak dia, usianya lebih muda, lebih pantas."

Ting Si tertawa lebar, "Ternyata Nikoh juga mau menjual Nikoh."

"Nikoh juga manusia, malahan perempuan," dengan senyum lebarTeng Ting-hou menepuk pundak Nikoh muda. "Kau tidak usah takut, orang ini tidak akan melakukan perbuatan menakutkan,  paling banyak hanya. "

Kuatir orang bicara tak senonoh, lekas Ting Si menukas, "Paling banyak aku hanya tanya beberapa patah kata kepadamu."

Akhirnya Nikoh yang lebih muda ini mengangkat kepala melirik sekejap pada Ting Si, siapa pun sukar meraba, apa arti lirikannya, lega, beruntung atau kecewa?

Ting Si pura-pura tidak memperhatikan, setelah batuk dua kali, lalu menarik muka, suaranya kaku, "Kapan orang dalam rumah itu kemari?"

"Kemarin tengah malam," sahut Nikoh yang lebih muda. "Berapa orang yang kemari?"

Nikoh itu mengangkat kelima jari tangannya, jari-jarinya tampak gemetar. Ting Si berkata, "Empat orang hidup dan satu mayat?"

"Tidak, lima orang hidup," sahut Nikoh yang muda itu.

Nikoh usia lanjut menambahkan, "Tapi waktu mereka keluar, kulihat hanya empat orang saja." Bersinar bola mata Ting Si, "Jadi masih ada seorang lagi, dimana dia?"

"Entahlah," sahut Nikoh tua.

"Apa betul kau tidak tahu?" gertak Ting Si.

"Aku tahu, semalam mereka pergi ke Tok-te-bio yang berada di belakang sana," sahut Nikoh tua. "Siapa yang tinggal di sana?" tanya Ting Si.

"Tiada orang tinggal di sana, hanya ada sebuah kamar di bawah tanah," Nikoh tua menerangkan..

Bersinar bola mata Teng Ting-hou, "Apa kau tahu, siapa orang yang tidak ikut keluar itu?" Ting Si berkata, "Pasti Siau-so-cin So Siau-poh."

"Orang macam apa dia?" tanya Teng Ting-hou.

"Seorang cerewet," sahut Ting Si. "Kalau kau ingin dia menyimpan rahasia, cara satu-satunya hanyalah. " "Membunuhnya?" sambung Teng Ting-hou.

Ting Si tertawa, "Tapi kalau kau saudara iparnya, lalu apa yang kau lakukan terhadapnya?"

"Sudah tentu aku tidak akan membunuhnya, membunuh dia berarti membuat adik sendiri menjadi janda."

"Karena itu kau tidak membunuhnya?"

"Ya, terpaksa hanya menyekapnya di kamar bawah tanah."

"Siau-cu-kat memang tidak malu diagulkan sebagai Siau-cu-kat (si cerdik pandai)." "Tapi Siau-cu-kat bukan saudara iparnya."

"Ya, tapi Gak Ling adalah saudara iparnya."

Teng Ting-hou menghela napas, "Jika adik Gak Ling atau bininya berwatak seperti engkohnya, maka So Siau-poh pasti tidak bisa hidup tenteram, lebih baik mati saja daripada tersiksa."

Ting Si mengerut alis, "Kau bukan iparnya, pembunuh itu jelas juga bukan." "Oleh karena itu, setiap saat mungkin saja dia dibunuh supaya tidak cerewet."

"Jika kita masih ingin mendapat keterangan dari So Siau-poh, lekas berangkat ke To-te-bio di belakang sana."

Mengapa To-ie-bio dibangun di belakang Ni-koh-am? Mengapa pula dalam To-te-bio ada kamar bawah tanah?

Mata Ting Si menyelidik, dengan seksama ia meneliti keadaan sekitarnya, tidak ketinggalan papan batu di bawah altar pun diperiksanya, mulutnya menggumam pula, "Ni-koh-am ini dahulu dihuni seorang Nikoh muda cantik yang cabul, untuk melampiaskan nafsunya sengaja membangun To-te-bio ini."

* * * * *