Pukulan Si Kuda Binal Bagian 03

 
Bagian 03

Coh Hou mengepal tinju, katanya, "Ya, sakit hati ini harus kubalas."

"Kalau begitu kau cari saja orang berpakaian biru tua yang duduk di sana itu," Kim-jio-ji menganjurkan.

Coh Hou berkata, "Bukan dia yang main pukul, mengapa kita harus membuat perhitungan dengan dia?" Tawar suara Kim-jio-ji, "Kalau kalian ingin mampus, lebih baik lekas mati, bila kalian cari perkara padanya, kutanggung kalian akan mati lebih cepat."

Tersirap darah  Coh Hou, tanyanya,  "Siapakah dia?"

Kim-jio-ji menyeringai dingin, "Dia bukan orang luar biasa, dia hanya seorang Piausu, pelindung barang hantaran, namanya Teng Ting-hou."

Berubah rona muka Coh Hou. Demikian pula air muka belasan orang itupun menjadi pucat.

Betapa tenar dan cemerlang nama julukan Sin-kun-siau-cu-kat, sudah tentu mereka pernah mengenal atau mendengarnya.

Beberapa tahun belakangan, nama besar Kay-hoa-ngo-coan-ki benar-benar menggetar dunia persilatan, kekuatan mereka berkembang dan melebar makin luas, kalau ada orang berani mengusik mereka, berarti menepuk lalat di kepala harimau. Maka kawanan orang-orang Kang- ouw yang kasar berangasan, petingkah dan menepuk dada tadi, kini kuncup nyalinya, semua berdiri lesu seperti balon yang kehabisan angin.

Jangan kata menoleh, melirik pun tidak, Kim-jio-ji tak menghiraukan mereka lagi, dia maju beberapa langkah menjura kepadaTeng Ting-hou.

Teng Ting-hou berkata, "Sekali berpisah, sekian tahun telah berlalu, sungguh tak nyana Ji-heng masih ingat padaku, hanya saja bila kelak ada orang ingin mati, jangan Ji-heng suruh mereka mencariku." Dengan tersenyum dia menambahkan, "Aku berani tanggung, bila seorang ingin lekas mati, daripada mencariku, lebih baik mencari dan minta tolong kepada dua saudara ini."

"Siapakah kedua saudara ini. " tanya Kim-jio-ji.

"Aku she Ting, bernama Si," Ting Si memperkenalkan diri.

Beberapa kali Kim-jio-ji mengawasinya dengan cermat, tanyanya, "Jadi kau inilah Ting Si yang menyenangkan orang itu."

Ting Si tertawa lebar, katanya, "Kadang kaia juga di namakan Ting Si yang menyebalkan."

"Kalau betul saudara adalan Ting Si, maka saudara ini tentu Siau Ma alias si Kuda Binal," sembari bicara dia menoleh ke arah Siau Ma, ternyata Siau Ma tidak peduli kepadanya.

Kecuali gadis yang minum teh itu, hakikatnya Siau Ma tidak peduii kepada orang lain. Seketika masam rona muka Kim-jio-ji.

Segera Teng Ting-hou berkata, "Kabarnya Ji-heng akan berduel dengan Pa-ong-jio di sini?" "Bukan aku yang menantang dia, tapi aku yang diundang kemari," sahut Kim-jio-ji.

Teng Ting-hou mengerut kening, katanya, "Dia menantangmu?"

Kim-jio-ji tertawa dingin, katanya, "Teng-heng mung-kin berpendapat aku tidak setimpal melawannya, aku tahu bukan tandingannya, tapi kalau dia menantangku, apakah aku harus menyerah tanpa bertanding?"

Rona mukanya menampilkan mimik ganjil, lalu melanjutkan, "Seorang jago yang bergaman tombak, bila dia mati di bawah Pa-ong-jio, bukankah hidupnya takkan sia-sia? Kurasa mati pun patut dibuat bangga."

"Bagus," seru Ting Si mengacungkan jempol. "Kau memang gagah."

Kim-jio-ji menatapnya lekat, pandangannya penuh selidik, lama kelamaan sinar matanya yang dingin berubah hangat, katanya pelahan, "Jago silat yang berkecimpung di kalangan Kangouw, adalah pantas kalau dia mati oleh golok, pedang atau tombak, mayatnya cukup dibungkus tikar, dikebumikan ala kadarnya."

Ting Si tersenyum, katanya pelahan, "Kelak bila aku mati, beruntung kalau ada orang mau membungkus mayatku dengan tikar. Untuk melakukan sesuatu yang menyenangkan banyak orang, umpama mayatku dibuang ke selokan untuk umpan anjing liar, di alam baka aku tidak akan mengomel." Mimik mukanya masih tersenyum, namun rasa duka terbayang dalam sinar matanya.

Gadis yang minum arak menoleh dan melirik ke arahnya, kerling matanya ternyata berubah lembut dan hangat.

Giliran Kim-jio-ji yang mengacungkan jempol, kata-nya, "Bagus, ksatria yang patut dipuji."

"Agaknya kau datang lebih dini dari lawanmu, mengapa tidak dudukdan minum dua cawan," Ting Si mengajak minum.

Kim-jio-ji berkata, "Kedatanganku  justru tidak dini lagi, aku terlambat setengah  jam, karena. "

Kembali wajahnya menampilkan perasaan ganjil, setelah menghela napas dia melanjutkan, "Karena masih ada beberapa pesanku yang terakhir perlu kubereskan, aku datang bersih, pergi pun harus bersih.."

Seorang kalau tahu dirinya akan mati, namun dia tetap menepati janji, keberaniannya takkan diselami dan dipahami oleh mereka yang hidup mewah. Syukur masih hidup, kalau mati dengan leher dihiasi lubang sebesar mulut cawan. Memangnya kematian begini patut dibuat takut?

Wajah Ting Si juga menampilkan perasaan ganjil, lama kemudian baru dia bertanya, "Mana Pa- ong-jio?"

"Entah, aku tidak tahu."

"Kau bermusuhan dengannya?" "Tidak."

"Sebelum ini pernah kau melihatnya?" "Selamanya aku tidak kenal  dia." "Tapi dia justru menantangmu duel."

"Mungkin karena aku bergaman tombak."

"Kecuali dia, memangnya orang lain dilarang menggunakan tombak?" "Bergaman tombak boleh, tapi tidak boleh terkenal."

Sorot mata Ting Si membayangkan kemarahan, kejadian ganjil dan tidak adil di dunia ini, paling getol dia memberantas dan menumpasnya. Kim-jio-ji berkata pula, "Aku heran, kalau dia berani menantangku kemari, mengapa sampai sekarang belum muncul?"

Belum habis dia bicara, suara dingin berkata di belakangnya, "Sejak tadi aku sudah menunggu di sini."

Nada suara yang dingin, namun nyaring dan merdu, enak didengar. Yang bicara ternyata seorang perempuan.

Bergegas Kim-jio-ji membalik badan, pandangannya bentrok dengan sepasang bola mata yang mempercepat detak jantung setiap laki-laki, sepasang mata jeli dan bening mengawasi dirinya. Tangannya memegang cawan arak, tangan yang putih halus seperti tidak bertulang. Mungkinkah tangan yang halus dan lembut ini mampu mengangkat Pa-ong-jio yang beratnya tujuh puluh tiga setengah kati?

Kim-jio-ji mengerut alis, katanya, "Kuharap nona tidak berkelakar denganku?"

Gadis yang minum arak itu menarik muka, wajahnya dingin seperti dilapisi salju. Jelas dia tidak berkelakar.

Sejenak Kim-jio-ji mengawasi tombak besi yang tergeletak di atas meja itu, katanya, "Apakah kau. "

Gadis yang minum arak segera menukas perkataannya, "Aku inilah Pa-ong-jio."

Gadis jelita inikah Pa-ong-jio? Padahal tombak itu panjang satu tombak tiga kaki lebih, satu kali lipat lebih panjang dibanding tinggi badannya, beratnya tujuh puluh tiga kati, jelas lebih berat dibanding bobot badannya. Apa benar dia Pa-ong-jio?

Kim-jio-ji tidak percaya, Ting Si tidak percaya, Teng Ting-hou juga tidak percaya, siapa pun pasti tak percaya. Tapi mereka terpaksa harus percaya.

Kim-jio-ji memancing, "Nona she apa?" "She Ong."

"Nama harummu?" "Ong-toasiocia."

Kim-jio-ji tertawa, katanya, "Kurasa itu bukan nama aslimu?"

Masam muka gadis yang minum arak, katanya, "Tak usah kau tahu nama asliku, cukup ingat Pa- ong-jio Ong-toasiocia tujuh huruf saja."

"Tujuh huruf memang mudah diingat."

"Umpama sekarang kau tidak ingat, kelak kau pasti akan mengukirdalam hatimu." "O? Apa iya?"

"Bila lehermu bolong oleh tusukan tombak, yakin kau takkan melupakannya," "Kau menantang aku berduel, apakah agar aku ingat ketujuh huruf itu?"

"Bukan hanya supaya kau ingat, kaum persilatan biar tahu, bahwa Pa-ong-jio belum putusturunan." "Maha Ong-loyacu?"

Ong-toasiocia menggigit bibir, wajahnya tampak pucat, agaknya dia menekan emosi, cukup lama kemudian baru dia berkata, "Ayahku sudah meninggal, beliau tidak punya anak lelaki, akulah pewarisnya." Suaranya mirip orang berpekik.

Ucapannya bukan untuk didengar orang-orang dalam warung kecil itu, dia berteriak, berpekik karena dia ingin arwah ayahnya yang ada di alam baka mendengar suaranya. Akan dia buktikan bahwa anak perempuan tidak kalah atau lebih lemah dibanding anak laki-laki. Hari ini, di warung kecil ini, dia hendak membuktikan bahwa dirinya bukan perempuan lemah.

Apa betu It-jio-khing-thian Ong Ban-bu sudah me-ninggal?

Tokoh besar yang berwatak lebih keras dari batu, mengapa mendadak mati?

Teng Ting-hou menghela napas, lalu berkata, "Selama ini kudengar ayahmu sehat walafiat, mengapa mendadak meninggal?"

"Kau tidak usah turut campur," jengek Ong-toasiocia melotot.

Teng Ting-hou tertawa menyengir, katanya, "Cayhe Teng Ting-hou, aku adalah teman karib ayahmu."

"Aku tahu kau kenal beliau, tapi kau bukan temannya, waktu beliau meninggal, seorang teman pun dia tidak punya." Bola matanya yang jeli indah mendadak beriinang air mata, hatinya dirundung kesedihan, penasaran yang sukar dijelaskan kepada orang lain. Mengapa demikian? Mungkin kematian ayahnya tidak tenteram? Mati penasaran?

Mendadak Ting Si berkata, "Setelah Ong-loyacu meninggal, agaknya nona merasa perlu mengangkat nama menegakkan wibawa, nona tentu punya alasan untuk mengajak Ji-samya berduel."

"O, ada siapa lagi?"

"Mulai hari ini, aku akan terus melangkah ke depan, setiap insan persilatan yang bersenjata tombak akan kuajak duel."

Ting Si menyengir, katanya, "Kalau nona kalah?"

Tanpa pikir Ong-toasiocia menjawab lantang, "Biar aku mati disini."

"Hanya untuk mengejar nama kosong, Ong-toasiocia tidak segan mempertaruhkan jiwa, apa tidak sia-sia mempertaruhkannya dengan cara begini?"

Ong-toasiocia melotot gusar, serunya, "Aku senang berbuat demikian, peduli amat denganmu." Mendadak dia memutar tubuh beranjak ke sana mengangkat Pa-ong-jio dari meja.

Sepuluh jari tangannya yang runcing halus dan putih selembut salju, seperti tidak bertulang. Tapi tombak besar dan panjang berat itu dengan mudah diraih dan dijinjingnya. Bukan saja gerak- geriknya lincah dan wajar, gayanya indah, gemulai lagi.

"Bagus," tanpa terasa Kim-jio~ji memuji.

"Hayo keluar," seru Ong-toasiocia. Sekali menggeliat pinggang, segera dia mendahului beranjak keluar..

Sejenak Kim-jio-ji mengawasi punggung orang beranjak ke pekarangan, lalu menghela napas panjang.

"Menurut pendapatmu, bagaimana kemampuannya?" Tanya Ting Si. "Baik sekali," sahut Kim-jio-ji.

"Kau yakin dapat mengalahkannya?"

Kim-jio-ji menghela napas, katanya, "Aku hanya menyesal." "Soal apa yang membuatmu menyesal?"

"Tak perlu aku buru-buru memberi pesan terakhir kepada keluargaku."

Cahaya mentari terang benderang. Begitu mereka keluar, orang lain ikut keluar. Dalam rumah tinggal empat orang.

Siau Ma masih duduk kaku dan melamun di tempat-nya. Gadis yang minum ten masih menundukkan kepala, mukanya tampak merah jengah, seperti lupa di dunia ini masih ada orang lain.

Di belakang pjntu Teng Ting-hou menarik tangan Ting Si, katanya, "Tabiat Ong-lothau memang buruk, namun jiwanya tidak jahat."

"Aku tahu," ucap Ting Si.

"Apapun juga dia adalah temanku, sahabat lamaku." "Aku tahu."

"Oleh karena itu. "

"Maka kau tidak akan berpeluk tangan menyaksikan putrinya mati di sini."

Teng Ting-hou memanggut, katanya setelah menghela napas, "Ong-toasiocia bukan tandingan Kim-jio-ji. Aku tahu taraf kepandaian Kim-jio-ji, bukan saja luas pengalaman, latihannya juga sudah matang."

"Kurasa Ong-toasiocia juga tidak lemah." "Tapi dia masih muda,  masih  hijau." "Kau kira bila kalah dia pasti mati?"

"Aku memahami watak Ong-lothau, watak Ong-toa-siocia meniru ayahnya." "Ya, aku mengerti," ujarTing Siiertawa.

"Kau mengerti apa?" tanya Teng Ting-hou.

"Kau ingin membantunya, betapapun tangguh Kim-jio-ji, dia bukan tandingan Sin-kun-siau-cu- kat." Teng Ting-hou tertawa kecut, katanya, "Duel kali ini secara terbuka, orang luar jelas tak boleh turut campur? Menuruti watak Ong-toasiocia yang kaku, mati pun tidak rela orang lain membantunya."

"Jadi kau akan membantu secara diam-diam, membokong Kim-jio-ji namun tidak melukainya?" "Aku takkan berbuat demikian, karena. "

"Karena seorang yang punya kedudukan seperti dirimu, melakukan perbuatan apapun harus hati- hati, setiap langkahmu pantang mendatangkan cemoohan orang lain."

"Memang banyak  segi-segi  yang kukuatirkan, tetapi kau. "

"Kau ingin aku membokong Kim-jio-ji, begitu?" "Maksudku demikian, karena. "

"Karena aku begal, rampok kecil yang tidak berarti, perbuatan kotor dan hina sekalipun berani kulakukan."

"Terserah bagaimana pendapatmu, yang terang bila kau membantuku, kelakaku pun membantumu."

Ting Si mengawasinya, rona mukanya masih mengulum senyum yang khas, senyum yang menarik dan menawan hati, katanya pelahan, "Kuharap kau maklum akan dua hal."

"Coba jelaskan."

"Pertama, kalau aku meiakukan sesuatu, aku tidak mengharap imbalan orang lain. Kedua, walau aku perampok, tapi perbuatan kotor tak sudi kulakukan, biar kepalaku dipenggal juga tidak sudi kulakukan." Dengan tersenyum dia membalik badan melangkah lebar ke pekarangan.

Teng Ting-hou menjublek di tempat, cukup lama dia diam mematung, seolah sedang mencerna kata-kata yang diucapkan Ting Si tadi. Mendadak dia sadar, banyak temannya yang menepuk dada menganggap dirinya jago, pendekar besar atau Piausu terkenal, banyak segi kebaikan tak mungkin unggul dibanding rampok cilik ini.

Dalam rumah itu tinggal dua orang saja.

Gadis yang minum teh itu mengangkat kepala pelahan, dia celingukan sejenak, lalu berdiri, dengan langkah gopoh mendekati Siau Ma, suaranya setengah berteriak, "Siau Ma.." Suaranya wajar, mantap, seperti sejak ribuan tahun yang lalu sudah kenal dan intim dengan Siau Ma, seolah-olah sudah ribuan kali dia memanggil nama ini.

Ternyata Siau Ma tidak kaget. Biar seratus gadis cantik yang tidak dikenal berlari ke hadapannya, memanggil namanya, dia anggap kejadian itu jamak dan lumrah, kejadian yang wajar. Kedua  orang ini tidak merasa asing terhadap lawan jenisnya, mereka begitu akrab.

Gadis yang minum teh berkata, "Kudengar orang memanggil Siau Ma, maka aku pun memanggilmu Siau Ma."

Siau Ma menatapnya, katanya, "Aku bernama Ma Cin, siapa namamu?"

Gadis itu.menjawab, "Aku bernama Toh Yok-lin, engkohku memanggil aku Siau Lin, kau boleh memanggilku Siau Lin." Biasanya dia penakut dan pemalu, sebesar ini belum pernah ada pria yang dikenalnya, Entah mengapa dia berani menatap Siau Ma. Apakah itu perasaan cinta? Yang terang perasaan itu sesuatu yang gaib, sesuatu yang ganjil dan aneh, banyak ikatan perasaan antara dua insan yang serba ganjil dan tak mungkin dijelaskan dengan kata-kata. Sukar bagi manusia untuk menyelami dan  meresapi  perasaan  ini,  ada kalanya, sukar dipahami.

"Siau Lin......Siau Lin......Siau Lin. " pelahan Siau Ma mengulang namanya, pelahan pula

mengulur tangan menggenggam tangan Siau Lin.

Jari jemari yang halus runcing, lembut laksana tidak bertulang tampak gemetar digenggam telapak tangan yang kekar kuat itu, tapi dia tidak berusaha menarik atau melepas tangannya.

Siau Ma merasa dirinya seperti di alam mimpi, suaranya mendengung berkumandang seperti di alam gaib, "Aku hidup sebatangkara, sebelum mengenalmu, aku hanya punya seorang teman."

"Aku juga hanya punya seorang teman?" "Siapa?"

"Ong Seng-lan," ucap Siau Lin. "Hubungan kami melebihi kakak dan adik, kalau bukan dia yang mendampingi aku, mungkin aku sudah. "

Siau Ma tidak membiarkan dia meneruskan ucapannya, pelahan dia berkata, "Aku tahu maksudmu." Dia mengerti, tiada orang yang lebih mengerti dibanding Siau Ma. Karena demikian pula hubungan lahir batinnya dengan Ting si, seperti juga hubungan Siau Lin dengan Ong Seng- lan, hampir sama.

"Aku ingin mohon bantuanmu untuk melakukan sesuatu," pinta Siau Lin. "Boleh, jelaskan saja."

"Kuminta sudilah kau menolongnya." "Menolong temanmu?"

Siau Lin mengangguk, katanya, "Orang lain bilang dia bukan tandingan Kim-jio-ji, tapi dia pantang kalah dalam duel ini."

"Kau minta aku membantunya mengalahkan Kim-jio-ji?"

"Terserah dengan cara apa, demi diriku kuharap kau menolongnya." Dia menggenggam kencang tangan Siau Ma. "Aku tahu kau mampu dan mau melakukan."

Kejap lain mereka beranjak keluar, tangan bergandeng tangan.

Tadi tempat ini diliputi suasana riang dan damai, sekarang menjadi sunyi dan hampa. Kehidupan manusia di maya pada memang tiada yang abadi, tiada yang tidak pernah berubah, demikian   pula tiada kesenangan yang tidak berubah menjadi duka cita.

Ang-sin-hoa muncul dari belakang, dengan pandangan getirdia mengantar bayangan muda mudi ini, setelah menghela napas dia menggumam, "Aku rela kalian saling melibatkan diri dalam asmara, sama-sama serius  mencari kesulitan, aku tahu. "

Ada sementara orang memang mirip paku dan besi sembrani bila bertemu satu dengan yang lain akan lengket menjadi satu, tarik menarik takkan lepas. Demikian keadaan Siau Ma dan Siau Lin. Begitukah Ting Si dengan Ong-toa siocia?

Setelah menghela napas Ang-sin-hoa menggumam pula, "Siau Ma bakal celaka, kelak Ting Si juga bakal celaka, Akulah yang salah, seharusnya aku mencegah pertemuan ini, aku sudah tahu. "

Cahaya surya benderang. Tombak panjang mengkilap gemerdep ditimpa sinar surya. Cuaca cerah, langit biru dengan gumpaian mega putih menghias cakrawala, bunga mekardi atas paya- paya, kumbang dan kupu-kupu menari di rumpun kembang, angin sepoi-sepoi menyebar bibit kehidupan.

Memang sekarang lagi musim bibit bersemi dan tumbuh subur, di musim seperti ini, tiada manusia yang memikirkan kematian. Sayang sekali kematian tak bisa dihindarkan.

Pelan Kim-jio-ji membuka buntalan kain yang  membungkus tombak emasnya,  sementara matanya menatap lawannya. Benaknya membayangkan 'kematian'. Jarang ada manusia yang meresapi 'kematian' dibanding dia, karena beberapa kali dia pernah mendekati kematian, makna kematian seperti sudah mengintai dirinya. Kalau bukan aku yang mati, kaulah yang gugur. Itulah prinsip hidupnya menghadapi kematian. Prinsip yang mudah dilakukan tapi kejam, manusia tidak diberi peluang untuk memilih.

Dua puluh tahun setejah berkecimpung di dunia persilatan, manusia mana pun akan tergembleng menjadi seorang kejam dan culas. Demikian pula keadaan Kim-jio-ji, oleh karena itu dia masih hidup sampai sekarang.

Kini musuh yang dihadapi masih muda, tegakah dirinya melihat gadis jelita ini terbunuh di ujung tombaknya?

Kalau bukan dia yang mati, akulah yang gugur.

Dia pantang kalah, memangnya aku tak boleh menang?

Kim-jio-ji menghela napas, dari dalam kantong kain dia melolos tombak emasnya.

Cahaya emas menguning gemerdep menyilaukan mata. Selama dua puluh tahun, entah berapa jiwa manusia menjadi korban tusukan tombak emasnya.

Tombak itu panjang dan runcing, bagian yang runcing tajam, gagang tombak rata dan mulus, tanpa lekukan, kalau dipegang akan menimbulkan perasaan giris dan buas, sejahat binatang liar atau ular berbisa.

"Tombak bagus," Ting Si memuji.

Teng Ting-hou sependapat, katanya, "Ya, tombak bagus."

"Kalau Pa-ong-jio dianggap singa atau harimaunya tombak, maka tombak emas ini patut dianggap ular beracun diantara tombak sejenis."

Teng Ting-hou berkata, "Kaum persilatan menamakan tombak emas ini tombak ular." "Konon tombak ini dibuat dari campuran emas murni dengan besi baja, ringan dan lincah

dibanding tombak besi umumnya, gagang tombaknya bisa ditekuk sesuka hati pemiliknya," Ting

Si menjelaskan.

"Oleh karena itu ilmu tombak yang dimainkan Kim-jio-ji mempunyai ciri khas sendiri, jauh berbeda dengan ilmu tombak umumnya." "Ya, aku pernah mendengar, ilmu tombak yang dia yakinkan dinamakan Coa-jek (patukan ular), ilmu tombak warisan keluarganya ada seratus delapan jurus, belakangan Kim-jio-ji mehambah empat puluh satu gerakan, lalu berubah menjadi tombak ular seratus empat puluh sembilan tusukan."

"Bagaimana dengan Pa-ong-jio?" tanya Ting Si.

"Pa-ong-jio hanya ada tiga belas jurus," sahut Teng Ting-hou.

Ting Si tertawa, katanya, "llmu yang berguna dan manjur, sejurus juga sudah cukup."

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas, katanya, "Sayang kau tidak pernah menyaksikan  waktu Ong Ban-bu mengembangkan Pa-ong-cay-sha-jek, betapa besarwibawa dan kekuatannya, kalau Pa-ong-jio berada di tangannya. Perbawanya memang pantas dinamakan Pa-ong-jio."

Ting Si tidak memberi tanggapan lagi, karena saat itu due! sudah dimulai.

Pekarangan yang benderang oleh sinar mendadak seperti menjadi guram oleh hawa membunuh. Dua tombak sudah kenyang bertempur, sama-sama gaman sakti yang telah membunuh banyak manusia, sehingga tombak itu membawa hawa yang membuat suasana menjadi seram.

Begitulah jiwa  raga Kim-jio-ji, seperti juga tombak di tangannya,  runcing tajam, keras dan  kuat lagi ganas. Sejak tadi matanya menatap lawan, dua tangan memeluk dada, tombak emas  dipegang miring ke bawah. Itulah gaya permulaan ilmu golok yang menyatakan sikap hormat kepada lawan, sekaligus memperlihatkan sikap kagum dan penghargaan tinggi terhadap Pa-ong- jio.

Ong-toasiocia memeluk tombak besar tegak di tanah, dalam hal gaya jelas dia bukan tandingan Kim-jio-ji. Duel antara dua jago kosen, menghormati musuh berarti menghargai diri sendiri.

Ujung muiut Kim-jio-ji mengulum senyum sinis, namun tetap berlaku hormat, katanya dengan nada kereng, "Waktu Ong-loyacu masih hidup, cayhe tidak sempat mohon petunjuk, patah tumbuh hilang berganti, orangnya mati tombaknya masih ada, terimalah sembah hormatku." Kaki kiri setengah ditekuk, dia betul-betul memberi hormat.

Ong-toasiocia hanya mengangguk kepala saja, suaranya tawar, "Aku mencarimu untuk membuat perkara, tak usah kau berlaku sungkan kepadaku."

Kim-jio-ji menarik muka, katanya, "Aku memberi hormat kepada tombak itu, bukan kau."

Ong-toasiocia tertawa dingin, katanya, "Selanjutnya kau harus ingat Pa-ong-jio adalah milikku, aku adalah Pa-ong-jio."

Kim-jio-ji juga berkata dingin, "Dalam pandanganku, setelah Ong-loyacu mangkat, Pa-ong-jio juga harus sudah lenyap dari muka bums."

"Kau tidak melihat tombak di tanganku ini?" teriak Ong-toasiocia gusar.

"Ong-toasiocia memang memegang tombak, tombak besi yang besar mengkilap."

Ong-toasiocia menggigit bibir, dia berusaha menguasai emosi. Dia tahu duel antara jago kosen, bila emosi tidak terkendali, dirinya bisa melakukan kekeliruan yang fatal akibatnya.

Kim-jio-ji menatapnya tajam, katanya pula, "Sebelum Cayhe kemari, Cayhe sudah memberi pesan terakhir kepada keluargaku." "Bagus sekali."

"Ong-toasiocia, apa kau juga sudah berpesan kepada orang lain untuk mengurus jazatmu bila kau mati nanti?"

Merah padam wajah Ong-toasiocia, katanya keras, "Kalau aku mati di sini, ada orang yang akan mengurus mayatku."

"Siapa?"

"Kau tak usah tahu," teriak Ong-toasiocia, sekali melintir pergelangan tangan, tombak besar panjang satu tombak tiga kaki itu ditarik dengan lincah sekencang kitiran menimbulkan deru  angin kencang, rumput, kembang yang ada di paya-paya seperti disapu angin puyuh, dahannya meliuk ke bawah seperti menunduk.

Tapi Kim-jio-ji tidak menunduk, sebat sekali dia bergerak, tahu-tahu tubuhnya menyelinap selincah belut ke lingkaran sinar tombak yang menyambar.

Ting Si menghela napas, katanya, "Tampaknya Ong-toasiocia masih hijau, belum berpengalaman, seharusnya dia tahu Ji-samya sengaja memancing amarahnya."

Teng Ting-hou tertawa, katanya, "Mungkin langkah Ji-samya yang keliru." "Mengapa keliru?"

"Pa-ong-jio biasanya dimainkan laki-laki, permainannya perlu dilandasi kekuatan raksasa, tapi Ong-toasiocia adalah gadis muda yang lemah, titik keiemahannya terletak pada kelemahannya itu."

Ting Si sependapat.

"Tapi setelah dia dibakar emosi, keadaan sudah berbeda." "O.ya."

"Aku berani bertaruh, warisan watak bapaknya jauh lebih berat dibanding warisan ilmu tombak leluhurnya."

Sekejap percakapan mereka, Ong-toasiocia sudah melancarkan tiga puluh jurus serangan dengan Pa-ong-jio. Walau permainan tombaknya hanya terdiri tiga belas jurus, tapi begitu permainan berkembang, kuncinya berada di tombak, manfaatnya justru mengikuti gerak perubahan dan kembangan yang tak habis-habisnya.

Ditengah perubahan jurus permainan, meski tombaknya tidak selincah dan seenteng patukan ular, namun deru angin tusukan tombak yang tajam justru dapat menambal kekurangan gerak perubahan itu.

Siapa pun takkan percaya kalau tidak menyaksikan, gadis yang lemah lembut ini mampu mengembangkan permainan ilmu tombak seganas dan sekeras itu, tombak besar dan berat itu diputar lincah dan enteng.

Tombak panjang adalah gaman utama jendral peranc zaman dulu, berduel di punggung kuda dengan musuh da lam jarak jauh, kalau digunakan bertanding silat, di tengal arena seperti ini, tombak ini terlalu panjang dan berat. Akar tetapi, permainan tombak Ong-toasiocia sekaligus menamba kelemahan ini. Entah ujung tombak, gagang tombak atai badan tombak, bagian mana saja mampu membuat lawar mampus, dimana angin tombak melanda, lawan sukai mendekati dirinya. Tiga puluh jurus Pa-ong-jio menyerang Kim-jio-ji hanya balas menyerang enam jurus.

Ting Si mengerut kening, katanya, "Kelihatannya Ji-samya sedang menunggu kesempatan sambil menguras tenaga lawan."

Teng Ting-hou tertawa, katanya, "Kalau Ji-samya berpikir demikian, kembali dia keliru." "Mengapa keliru?"

"Bobot Pa-ong-jio memang berat, bila permainan sudah dikembangkan, tombak berat itu menimbulkan arus tenaga besar yang tersembunyi, dia dapat meminjam arus tenaga itu, tenaga sendiri tidak perlu banyak atau besar, asal dia mahir menguasai permainan.

Hal ini seperti kereta dorong, di saat kereta mulai bergerak ke depan, kereta berat itu membawa arus tenaga yang besar, pendorong kereta akhirnya merasa dirinya ditarik oleh kereta itu..

"Justru karena bobot tombak itu berat, tenaga yang dikerahkan juga harus besar, untuk bermain lincah jelas sukar, tapi pihak yang bertahan atau menangkis serangan juga harus memiliki tenaga lebih besar." Dengan tertawa Teng Ting-hou melanjutkan, "Banyak orang punya pengertian yang sama dengan Kim-jio-ji, menunggu " kesempatan untuk memancing di air keruh, maka akhirnya dikalahkan Pa-ong-jio, faktor yang sukar diselami ini, kalau akhirnya Ong-lothaucu tidak memberi tahu kepadaku, aku pun tak mengerti."

"Yang tahu rahasia yang besar artinya ini, sudah tentu tidak banyak jumlahnya."

"Kecuali aku dengan Pek-li Tiang-ceng, kurasa Ong-lothaucu tidak pernah memberitahu kepada orang lain."

"Karena kalian adalah temannya?" "Temannya memang tidak banyak."

"Dia temanmu, aku bukan, mengapa rahasia ini kau beritahu kepadaku?"

Teng Ting-hou tertawa penuh arti, katanya, "Karena aku suka memberitahu kepadamu." Ting Si tertawa.

Sementara itu Ong-toasiocia sudah menyerang tujuh puluh jurus, maju selangkah juga sukar, bila tombak lawan melintang, maka rangsekannya tertolak mundur. Akhirnya Kim-jio-ji sadar tombak yang menakutkan bukan pada ujungnya yang runcing, tapi setiap jengkal tombak itu menakutkan untuk membunuh.

Hadirin menyaksikan dia terdesak di bawah angin. Hanya satu orang tidak tahu.

Sekonyong-konyong seorang membentak keras, dengan tangan kosong orang ini menerjang kedalam lingkaran sinar tombak yang seru itu. Orang ini adalah Siau Ma. Siau Ma sudah mabuk. Kalau masih segar, tentu dia bisa melihat gelagat, sadar bahwa sambaran tombak yang berlaga  itu amat berbahaya, mampu menamatkan jiwa orang. Bocah ini memang mirip Kuda Binal, kuda mengamuk, lebih tepat kalau dikatakan kuda cilik yang berani mati. Sambii menerjang dia mengangkat kedua tangan seraya berteriak, "Berhenti! Lekas berhenti!"

Tenggelam perasaan Ting Si. Dia tahu Ong-toasiocia pasti tak mau berhenti, gerak tombaknya tidak  mungkin berhenti,  arus tenaga yang  timbul karena Pa-ong-jio hakikatnya tidak terkendali lagi olehnya. Di bawah tekanan besar, sudah selayaknya kalau Kim-jio-ji juga menguras seluruh tenaganya. Seorang jago silat jika sudah mengerahkan setakar tenaganya, serangan dilontarkan, jarang ada yang mampu menariknya balik.

Pada saat yang sama, dua ujung tombak berlomba menusuk ke tubuh Siau Ma. Seperti bola yang dilempar pegas, mendadak tubuh Siau Ma mencelat mumbul ke udara, darah segar berhamburan.

Kedua batang tombak itu belum juga berhenti, Mereka tidak mampu mengendalikan diri, tak bisa berhenti, tombak siapa berhenti tombak lawan akan menusuk telak, akibatnya jiwa melayang.

Sudah tentu kedua orang ini tak berani menyerempet bahaya, tidak mau mempertaruhkan jiwa sendiri.

"Orang gila. Mengapa mau bunuh diri?" di tengah jeritan orang banyak, tubuh Siau Ma melayang ke udara dan dibiarkan terbanting jatuh. Untung tubuh Siau Ma melayang jauh keluar lingkaran, kalau jatuh lagi ke tengah arena, jiwanya pasti melayang.

Pada saat gawat itulah, dari paya-paya kembang di pinggir rumpun bambu, meluncur seutas tambang membelit pinggang Siau Ma. Tampak tambang panjang itu menyendal ke atas, tubuh Siau Ma ikut terangkat naik lebih tinggi lalu ditarik turun ke sana. Tubuhnya tidak melayang ke tengah arena pertempuran, tapi jatuh dalam pelukan Ting Si.

Darah segar mengalir deras, saking kesakitan Siau Ma meringkuk, wajahnya berkerut, tubuhnya basah oleh keringat dingin. Tapi sorot matanya tidak menampilkan rasa sakit, tapi menampilkan rasa senang, puasdan bahagia.

Sebaliknya Ting Si membanting kaki, "Mengapa kau lakukan perbuatan bodoh ini?"

Siau Ma tidak menjawab. Walau berada dalam pelukan Ting Si, sorot matanya menatap orang lain. "Siau Lin...... Siau Lin.......Siau Lin. " walau kesakitan dan tidak mampu mengeluarkan

suara, namun hatinya berteriak memanggil nama kecil itu.

Air mata meleleh di pipi Siau Lin, entah air mata kesedihan, pilu atau haru dan terima kasih.

Akhirnya Ting Si melihatnya juga, katanya, "Karena dia? Dia menyuruhmu bertindak sebodoh ini?"

Siau Ma memanggut, lalu menggeleng kepala pula. Jelas dia rela melakukan, kalau tidak rela, tidak ada orang yang bisa memaksanya.

Entah kekuatan apa yang dimiliki gadis ini, ia mampu mengendalikan Siau Ma untuk melakukan perbuatan bodoh itu? Arak keluar menjadi keringat dan darah, setelah mabuk hilang, pikiran jernih, setelah sadar rasa sakit justru menyiksa dirinya, lebih hebat dan sukar ditahan.

Kalau bisa semaput, penderitaannyatentu lebih ringan. Tapi Siau Ma meronta dan berusaha kedua matanya tidak terpejam. Dia ingin menyaksikan akhir pertarungan ini.

Siau Lin menatapnya, dia merasakan betapa Siau Ma menderita, betapa besar limpahan rasa kasihnya, tak tahan dia menahan perasaan sendiri, memburu maju, di bawah tatapan puluhan pasang mata dia menubruk tubuh Siau Ma. Sungguh mimpi pun tak pernah terpikir oleh Siau Lin, bahwa dirinya mempunyai nyali sebesar ini, berani melakukan perbuatan manantang maut itu.

Dalam sekejap, boleh dikata dia tidak peduli segalanya.

Ting Si menurunkan Siau Ma, merebahkan di atas tanah berumput hijau yang subur bak permadani, biar mereka berpelukan, biar mereka menangis dan melimpahkan isi hatinya, pernyataan hati tanpa diungkapkan dengan kata-kata.

Air mata bercucuran menetes di muka Siau Ma, tetes air mata itu, seolah mengandung khasiat ajaib, memiliki kekuatan iblis. Seakan derita Siau Ma menjadi ringan, tiba-tiba dia berkata, "Apakah kau juga menganggap aku berbuat bodoh?"

Siau Lin mengangguk, tapi menggeleng pula.

Siau Ma tertawa dipaksakan, katanya, "Aku harus bertindak demikian, aku tak punya cara lain." "Aku tahu. " Siau Ma tak kuasa meneruskan perkataannya, mendadak tangisnya pecah, air

mata tak terbendung lagi.

"Mengapa kau menangis? Apa mereka belum berhenti berkelahi?" "Belum."

"Temanmu tidak mati?" "Tidak.".

"Bukankah aku sudah melakukan apa yang kau ingin aku lakukan?" "I. ya."

Siau Ma menarik napas lega, dia tertawa puas, katanya, "Kalau begitu boleh kau beritahu kepada kawan kita, bahwa perbuatanku tidak salah, tidak bodoh."  Di  tengah  senyumnya  dia memejamkan mata. Akhirnya dia pingsan.

Pemuda ini menderita namun lega serta terhibur hatinya, Ting Si juga meresapi perasaannya. Siau Ma adalah temannya, saudaranya pula, ibarat ayahnya.

Angin masih menghembus, cahaya surya tidak menjadi suram karenanya, dua batang tombak itu masih berlaga dengan sengit di tengah sambaran sinarnya yang gemerdep.

Pelahan Ting Si membalik badan, pelahan pula dia menghampiri arena pertempuran sengit yang tak kenal kasihan terhadap siapa saja yang berani maju.

"He, apa yang kau lakukan?" teriak Teng Ting-hou kaget. Ting Si tertawa, langkahnya tidak berhenti..

Teng Ting-hou berseru, "Apa kau ingin melakukan ; perbuatan bodoh?"

Ting Si tertawa. Tiada orang bisa menyelami hubungan lahir batin Ting Si dan Siau Ma, Teng Ting-hou pun tidak bisa.

Mendadak tubuhnya mencelat bagai terbang, seperti yang dilakukan Siau Ma tadi, dia terjun ke tengah dua tombak yang lagi berlaga. Seolah-olah lupa jago lihai manapun bisa mampus didera tusukan tombak runcing itu, arwahnya bisa melayang seketika.

Desir tajam yang ditimbulkan ujung tombak terasa dingin mengiris kulit. Ada orang tahu, perasaan sesuatu yang teramat dingin dan teramat pahas adalah sama bagi setiap manusia, kalau tidak mau dikatakan mirip.

Ting Si juga tahu. Begitu terjun ke tengah dua tombak yang berlaga, seolah dirinya terjun ke dalam tungku.

Perasaan Teng Ting-hou menjadibeku.sebeku air yang menetes di permukaan salju. Betapapun Ting Si tak boleh mati. Dia harus menunjukkan dimana enam mayat dan enam pucuk surat itu berada, dia bersumpah akan menemukan pengkhianat yang membocorkan rahasia itu.

Akan tetapi Teng Ting-hou juga tahu, Ong-toasiocia dan Kim-jio-ji takkan berhenti dan tidak bisa berhenti. Terpaksa dengan mendelong dia mengawasi Ting Si terjun ke dalam tungku yang membara, dia saksikan Ting Si terlempar ke udara oleh ujung tombak yang merobek badannya.

Maka terdengar bentakan nyaring dan keluhan rendah, sebuah benda mencelat ke udara. Yang terlempar ternyata bukan Ting Si, tapi tombak emas Kim-jio-ji.

Duel antara dua jago kosen, mati pun pantang gaman di tangan terlepas, bagaimana mungkin tombak emas Kim-jio-ji terlepas dari pegangannya. Ternyata Kim-jio-ji sendiri tidak tahu bagaimana hal itu terjadi.

Sekejap sebelum tombak emasnya terpental lepas dari tangannya, Kim-jio-ji melihat dan sekaligus merasakan seorang terjun ke tengah putaran tombaknya dan tombak Ong-toasiocia, maka dua ujung tombak sekaligus menusuk ke badan orang ini. Tusukan tombak yang tidak mungkin dihentikan.

Pada detik gawat itulah, dengan tangkas orang itu membuang diri sambil berputar, tahu-tahu tubuhnya menerobos ke bawah ujung tombak, sebelah tangan memegang tombak, tangan yang lain merogoh dan menggentak pelahan pinggangnya.

Kim-jio-ji sempoyongan delapan kaki seperti ditumbuk kuda, tombak di tangannya  terpental  lepas. Kim-jio-ji hanya mengawasi dengan terbelalak, separoh badannya terasa linu kesemutan, tenaga tak mampu dikerahkan.

Selama dua puluhan tahun, pertempuran besar kecil sudah ratusan kali dialami, selama itu belum pernah kalah, apalagi kalah sefatal ini. Mimpi pun tidak pernah terpikir olehnya ada orang mampu membuat tombaknya lepas hanya segebrak saja, tak terduga pula bahwa orang yang mampu melucuti senjatanya adalah Ting Si.

Dengan tombak emas di tangan, dalam sekejap Ting Si melancarkan tiga jurus serangan, cepat, ganas dan tepat. Berubah pucat wajah Kim jio-ji, tiga jurus serangan yang dilancarkan Ting Si itu adaiah jurus Coa-jek (patuk ular) dari ilmu tombak tunggal yang dimilikinya.

Dengan jurus yang sama Ting Si menghadapi Pa-ong-jio dengan leluasa. Padahal dirinya sudah melancarkan seluruh jurus Coa-jek yang terkenal culas dan keji itu, tapi susah dikembangkan, gerakannya terbendung dan selalu patah di tengah jalan, hakikatnya sukar mengembangkan wibawa ilmu tombaknya yang sejati.

Ting Si hanya melancarkan tiga jurus dan mampu mematahkan permainan Pa-ong-jio, mendadak ujung tombak menyendal ke atas disertai hardikan nyaring, "Lepas."

"Wut", Pa-ong-jio yang beratnya tujuh puluh tiga kati itu disonteknya mumbul ke udara dengan deru angin kencang.

Ong-toa siocia sempoyongan mundur delapan langkah.

Sigap sekali Ting Si melejit ke udara laiu bersalto sekali, dengan sebelah tangan dia menangkap Pa-ong-jio, sementara tangan yang lain melemparkan tombak emas, ke arah Ji-sam.

Terpaksa Ji-sam mengulur tangan menangkap tombak sendiri. Ketika tombak sudah terpegang baru dia sadar, tubuhnya tidak kesemutan lagi, tenaga telah pulih seperti sedia kala.

Ting Si mengawasinya dengan tersenyum.

$ Kim-jio-ji mengertak gigi, pergelangan tangan berputar, mendadak tombaknya mematuk, dalam sekejap dia menyerang tiga jurus. Tiga jurus yang barusan digunakan Ting Si untuk mematahkan permainan Pa-ong-jio, yaitu Tok-coa-jut-hiat (ular beracun keluarlubang), Ban-coa-toh-sin (ular melingkar menjulurkan lidah) dan Coa-bwe-jio (tombak buntut ular), tiga  jurus  Coa-jek  yang paling ganas dan mematikan.

Sedikitnya sudah tiga puluh tahun Kim-jio-ji mengembangkan diri dalam permainan ilmu tombaknya, dia yakin tiga jurus yang dilancarkan ini tidak kalah lihai dan mahir dibanding permainan Ting Si. Kalau dengan tiga jurus yang sama Ting Si mampu menyelinap ke lubang Pa- ong-jio yang terlemah, mengapa dirinya tidak? Tapi kenyataan dia tidak mampu. Begitu tiga jurus tombak itu dilancarkan seketika dia sadar bahwa diri-nya  sudah  terbelenggu  oleh  kekuatan besar. Kalau tombaknya ganas laksana ular beracun, maka Pa-ong-jio  di  tangan   Ting   Si   adalah   batu    raksasa yang  laksaan kati beratnya. Batu besar dan berat  ini menindih kepala sang ular hingga tak mampu berkutik lagi.

Terdengar Ting Si menghardik lantang, "Lepas!"

Segulung tenaga bak air bah melanda tak terbendung, Kim-jio-ji hampir tak bisa bernapas oleh kekuatan yang menindih ini, sekujur tubuh seperti tertindih gepeng, tahu-tahu tombak di tangannya lepas dari pegangannya. Hanya dalam beberapa kejap, dua kali tombaknya lepas, dua kali dilucuti lawan.

Sinar gemerdep meluncur di angkasa, "Jlep", tombak itu menancap tak jauh di samping Ji Sam.. Dia tidak bergerak, tidak buka suara.

Pa-ong-jio juga menancap di samping Ong-toasiocia, gagang tombak bergetar mengeluarkan suara mendengung.. Ong-toasiocia juga tidak bergerak, tidak bersuara, wajahnya yang semula pucat tampak merah padam, bibir yang semula merah justru kelihatan pucat.

Dengan tertawa Ting Si mengawasi Ong-toasiocia lalu menoleh mengawasi Ji Sam, "Dengan ilmu tombak yang kalian miliki sekarang, apalagi yang harus diperebutkan? Ingin menang atau ingin menjadi juara?" demikian kata Ting Si.

Dengan Coa-jek Kim-jio-ji dia mengalahkan Pa-ong-jio, dengan Pa-ong-jio milik Ong-toasiocia dia mengalahkan Kim-jio-ji. Ini kenyataan. Setiap hadirin melihat kenyataan ini, mengapa dia harus banyak bicara lagi? Maka Ting Si hanya tertawa, tawa lembut, ramah dan bersahabat, tawa yang menyejukkan hati, yang menarik simpati orang.

Tapi Ong-toasiocia justru menganggap tawa itu bagai bisa ular, lebih jahat dari ular, lebih runcing dari jarum. Bola matanya yang jeli bening itu tampak berkaca-kaca. Mendadak dia membanting kaki, Pa-ong-jio dicabutnya lalu berlari pergi sambil menyeret tombaknya, sekali  tarik dia  menyeret Toh Yok-lin.

Toh Yok-iin mandah saja diseret. Dia tidak ingin pergi, tapi tak berani menolak, tak berani meronta, beberapa langkah kemudian, dia menoleh ke belakang. Ketika dia melengos, air mata meleleh di pipinya.

Kim-jio-ji masih menjublek, melongo mengawasi tombak di depannya. Tombak ini adalah simbol kebesarannya, simbol kebanggaan jiwa raganya, tapi sekarang, tombak ini telah mendatangkan hina dan aib. Rona mukanya tidak memperlihatkan perasaan apa-apa, bagaimana rasa hatinya, hanya dia saja yang tahu.

Derita dan duka lara, seperti juga payudara perempuan, bukan untuk dipertontonkan kepada orang lain. Makin besar derita, makin harus disembunyikan. Bukankah demikian pula dengan payudara? Mendadak Kim-jio-ji tertawa, pelahan dia mengangkat kepala berhadapan dengan Ting Si, katanya, "Banyak terima kasih padamu."

"Terima kasih kepadaku? Mengapa terima kasih kepadaku?" "Karena kau telah membantu aku menyelesaikan persoalan pelik." "Persoalan pelik apa?"

Pandangan Kim-jio-ji tertuju ke pegunungan hijau nan jauh di sana, sorot matanya tampak lembut dan hangat, suaranya kalem, "Di bawah gunung sana aku membeli beberapa petak sawah, kubangun petak rumah, di belakang rumah ada ratusan pucuk bambu, di depan rumah kutanam puluhan pohon sakura, di tengah lekuk liku hutan bambu dan sakura, terdapat aliran sungai kecil yang bening airnya.."

"Tempat bagus," puji Ting Si.

"Aku sudah membuat rencana setelah cuci tangan dan mengasingkan diri, di sana aku akan hidup tenteram dan bersahaja menghabiskan hari tuaku."

"Tekad yang bagus, patut dipuji," ujarTing Si.

Kim-jio-ji menghela napas, katanya, "Sayang sekali nama kosong membuat orang sengsara, selama ini aku susah mengambil keputusan, entah sampai kapan aku bisa menurunkan beban berat ini."

Ting Si juga menghela napas, ujamya, "Nama kosong membuat orang sengsara, memangnya berapa gelintir manusia di dunia ini yang bisa menurunkan beban tak kelihatan itu?"

"Untung aku bertemu denganmu, karena kau, aku berkeputusan, aku bertekad." "Bertekad menurunkan beban itu?"

Kim-jio-ji menganggukkan kepala.

"Tekadmu baik, kapan kau akan menurunkan bebanmu?"

"Sekarang juga," Kim-jio-ji tertawa, tertawa riang dan enteng, tawa gembira, sekarang dia sudah menurunkan beban, membuang nama kosong. Dia tidak punya tekad atau keinginan memperebutkan nama dan kemenangan, dia tidak rela mempertaruhkan jiwa hanya untuk merebut nama kosong, mengadu jiwa dengan orang lain.

Untuk membuka bundel tidak mudah, pantas kalau dia merasa enteng dan gembira. Apa betul hatinya lapang dan sudah membuka seluruh bundel itu? Apakah dia tidak merasa hambar, getirdan kehilangan? Sudah tentu hanya dia yang tahu, dia sendiri yang meresapi.

"Kalau ada tempo, boleh kau ke sana mencariku."

"Baik, akan kucatat dalam hati, di belakang rumah ada pohon bambu, di depan rumah ada pohon sakura."

"Dalam rumah ada arak."

"Baiklah, selama hayat masih di kandung badan, kelak aku pasti datang." "Bagus, selama aku masih hidup, aku menunggu kedatanganmu." Kim-jio-ji betul-betul tenang lahir batin, kelitiatan bebas dan merdeka. Seprang meski kalah, kalau kalah secara jantan, pergi dengan bebas, apa salahnya kalah? Kemana pun diaboleh pergi?

Sang surya belum terbenam, bayangan Kim-jio-ji sudah tidak kelihatan lagi.

Mendadak Teng Ting-hou menghela napas, ujarnya, "Kelihatannya orang itu termasuk orang gagah, laki-laki sejati."

"Ya, dia patut disebut pendekar."

"Agaknya menilai orang adalah keahlianmu," "Ya, aku memang ahli dalam bidang ini."

"Aku pun pandai membereskan persoalan pelik yang tak bisa diselesaikan orang lain." "Aku pun dapat menyelesaikan persoalan pelik itu."

"Terus terang aku tidak tahu bagaimana melerai duel Kim-jio-ji dengan Ong-toasiocia, tetapi kau berhasil menghentikan duel mereka."

"Caraku selalu manjur."

"Peduli caramu itu betul atau salah? Baik atau buruk, yang benar memang manjur." "Oleh karena itu orang memanggilku Ting Si si cerdik pandai."

Teng Ting-hou tertawa.

"Tahukah kau, diriku ini masih memiliki kebaikan lain yang lebih besar?" Teng Ting-hou menggeleng kepala.

"Kebaikanku yang paling besar, yaitu tidak setia kawan." "Tidak setia kawan?"

"Teman baik satu-satunya yang selama ini mendam-pingiku sekarang sedang rebah di.tanah, aku membiarkan orang yang menusuknya pergi, malah mengobrol tidak habis-habisnya denganmu."

* * * * *

Siau Ma rebah di atas ranjang. Ranjang Ang-sin-hoa tentunya.

Orang gemuk suka tidur di ranjang yang keras, demikian pula anak-anak muda, suka tidur di ranjang yang keras juga. Ang-sin-hoa tidak gemuk, usianya sudah lanjut, maka ranjangnya empuk, lagi besar.

Ang-sin-hoa menghela napas, katanya, "Setelah aku berusia tujuh puluh tahun, baru biasa tidur seorang diri."

Teng Ting-hou bertanya, "Tahun ini kau sudah berusia tujuh puluh?"

Ang-sin-hoa melotot, katanya, "Siapa bilang usiaku tujuh puluh, tahun ini aku baru berusia enam puluh tujuh."

Teng Ting-hou ingin tertawa, namun tidak berani tertawa, karena melihat Siau Ma membuka mata.

Begitu membuka matanya, segera Siau Ma bertanya, "Mana Siau Lin?" "Siau Lin?"

"Siau Lin adalah gadis yang kau lihat tadi."

Ting Si mengawasinya, mimik mukanya tampak dingin, mimik tawa tak terbayang di wajahnya. Siau Ma berkata pula, "Dia adalah gadis yang baik, gadis yang ayu."

Ting Si diam saja.

"Dia penurut, gadis jujur dan setia." Ting Si tetap diam.

"Aku tahu dan merasakan, dia baik terhadapku."

Tawar suara Ting Si, "Kau terluka parah lantaran dia, tapi dia justru tinggal pergi."

Siau Ma menggigit bibir, agak lama kemudian bam berkata pelahan, "Dia pergi, tentu ada alasan."

"Dia punya alasan untuk  tinggal di sini." "Kau. apakah kau tidak suka kepadanya?"

"Aku hanya ingin memberi peringatan kepadamu." Siau Ma mendengarkan:

"Dia sudah pergi, kelak kau tidak akan bertemu lagi dengannya, maka. "

"Maka bagaimana?"

"Lebih baik kau lupakan dia."

Gemeratak gigi Siau Ma, lama dia diam saja, mendadak dengan keras dia meninju sisi ranjang, katanya keras, "Lupakan, ya lupakan, memangnya urusan sepele begini harus dibuat pikiran, maknya."

Ting Si tersenyum, katanya, "Aku sedarig heran, mengapa kau tidak memaki 'maknya', kukira kura-kura cilik sepertimu ini sudah berubah sifat."

Siau Ma tertawa, dengan meronta berusaha duduk. "Apa  yang hendak kau lakukan?"tanya Ting Si. "Aku ikut kau."

"Kau bisa ikut aku?" "Selama aku masih bemapas, kemanapun kura-kura tua pergi, umpama harus merangkak juga aku harus ikut."

Ting Si tertawa lebar, serunya, "Bagus, mau ikut juga boleh."

Ang-sin-hoa mengawasinya dengan tersenyum geli, katanya, "Kalian kura-kura cilik ini memang teman baik, maknya, teman baik yang setia kawan, maknya." Belum habis berbicara mendadak dia berjingkrak sambil melayangkan telapak tangannya, "plak", dengan keras dia gampar pipi  Ting Si.

Ting Si tertegun.