Pukulan Si Kuda Binal Bagian 01

 
Bagian 01

Sore, menjelang magrib.

Cahaya surya menyinari bendera besar yang berkibar dihembus angin.

Ti-ang bendera hitam legam, demikian pula warna da-sar bendera, juga hitam, bendera itu bersulam se-kuntum kembang merah dilingkari lima ekor anjing warna putih.

Itulah Kay-hoa-ngo-coan-ki (bendera lima anjing bu-nga mekar) yang belakangan mulai cemerlang di kalangan Kangouw.

Ngo-coan-ki atau bendera lima anjing adalah bendera perusahaan jasa pengawalan.

Tiang-ceng Piaukiok yang berdomisili di Liu-tang bergabung dengan tiga Piaukiok besar di Tionggoan dan tercakup dalam 

satu perusahaan pengawalan yang belum pernah ada selama ini. Ngo-coan-ki adalah bendera lambang kebesaran me-reka.

Lima ekor anjing lambang lima orang, lima kekuatan.

Pemilik Tiang-ceng Piaukiok bernama Liau-tang Tay-hiap Pek-li Tiang-ceng. Pemilik Tin-wan Piaukiok bernama Sin-kun-siau-cu-kat Teng Ting-hou.

Pemilik Cin-wi Piaukiok bernama Hok-sing-ko-cau Kui Tang-kin. Pemilik Wi-kun Piaukiok bernama Giok-pau Kiang Sin.

Orang kelima adalah Cong-piauthau Cin-wi Piaukiok yang bergelar Kian-kun-pit Sebun Seng, Kian-kun-pit Se-bun Seng terkenal sebagai jago nomor satu dari kalangan Piaukiok di Tionggoan.

Sejak kelompok gabungan lima Piaukiok berdiri, usa-ha Ngo-coan-ki terus berkembang maju dengan kekuatan yang tiada bandingan, sebaliknya perusahaan pengawalan tanggung atau kecil lainnya semakin mundur dan akhirnya bangkrut.

Angin berhembus kencang, bendera itu berkibar de-ngan megah. Disinari cahaya matahari kelihatan mengki-lap.

Terutama kelima ekor anjing putih itu, seperti hidup dan melonjak-lonjak.

Ting Si sedang duduk di bawah sinar surya, menga-wasi bendera besar yang berkibar dari kejauhan, wajah-nya berseri.

Ting Si adalah  pemuda sembarangan,  anak bergajul, punya baju baru ia pakai, pakaian lusuh   dan kumal juga dipakai, ada arak ia minum ada hidangan lezat ia makan dengan lahap, kalau lagi tidak punya uang alias tongpes, meski kelaparan tiga hari tiga malam, ia masih tetap tertawa   lebar, jarang ada orang melihat ia bersungut, cem-berut, berkeluh kesah atau marah.

Ting Si senang tertawa, tertawa sembarangan, see-naknya, kadang tertawa sambil menarik hidung, tertawa sambil memicingkan mata, juga tertawa seperti gadis kecil, melelet lidah atau melucu dengan muka setan.

Senyum tawa yang tidak mengandung maksud jahat, apalagi cemoohan sinis.

Kapan saja dimana saja tertawa, tampangnya tidak pernah jelek, wajahnya selalu menarik rasa simpatik orang lain terhadapnya.

Mereka pasti bilang Ting Si adalah orang yang menyenangkan, laki-laki simpatik, tapi yang membenci juga tak sedikit, paling tidak ada lima orang, lima ekor anjing.

Siau Ma alias si kuda kecil, kuda kecil yang satu ini bukan seorang di antara kelima orang itu.

Siau Ma bernama Ko Cin, sedang berdiri di belakang Ting Si, bila melihat Ting Si, maka Siau Ma hampir selalu berdiri di belakangnya.

Siau Ma adalah teman Ting Si, hu-bungan mereka melebihi hubungan seorang ayah terha-dap anak.

Bola matanya terpentang lebar, wajahnya bersungut seperti amat penasaran, mengawasi orang seperti ingin mengajak berkelahi, setiap saat dia memang siap berke-lahi, maka orang memanggilnya si Kuda Binal.

Kelihatannya sedang marah, bola matanya melotot mengawasi bendera hitam yang berkibar itu, tinjunya me-ngepal erat, mulut menggerutu, “Sam-yo-kay-thay, Ngo-kau-kay-hoa, lima anjing berkembang apa, seperti melihat setan saja, mengapa cucu kura-kura itu tidak dinamakan lima anjing kentut bersama? Maknya.”

Ting Si tersenyum tanpa memberi komentar mende-ngar omelan kawannya.

Sudah sering dia mendengar Siau Ma mengomel, ka-lau tiap mengomel Siau Ma tidak bilang ‘Maknya’, baru Ting Si akan merasa heran.

“Tapi aku tidak mengerti,” Siau Ma melanjutkan sete-lah mencaci.

“Mengapa cucu kura-kura itu tidak mau men-jadi manusia, mereka justru senang menjadi anjing.”

Ting Si tersenyum, katanya, “Sejak zaman dulu an-jing adalah teman manusia yang paling setia, anjing bisa menjaga pintu, menunjukkan jalan.”

“Anjing kuning, anjing hitam, anjing kembang atau anjing kurap semua juga anjing, mengapa mereka justru membandingkan dirinya sebagai anjing putih?”“Putih melambangkan kebersihan dan keagungan, putih itu suci.”

“Cuh,” Siau Ma meludah dengan gregetan.

“Anjing te-tap anjing, anjing galak karena majikan, anjing menyalak karena menilai rendah manusia, kapan anjing tidak makan najis, anjing putih anjing hitam sama saja. ”Bukan hanya benci, agaknya Siau Ma amat dendam dan sengit tehadap kelima orang itu, maklum Siau Ma adalah begal besar, perampok mana yang tidak membenci Po-piau (pengawal barang), seolah hal ini sudah menjadi kodrat alam.

Siau Ma berkata, “Aku ini begal, perampok, tapi per-buatanku tidak tercela, tidak takut diketahui orang, Mak-nya, biar mati kelaparan, aku tak sudi menjadi anjing pen-jaga pintu pembesar korup atau buaya darat, apalagi me-lindungi harta mereka yang tidak halal.”

Ting Si menjawab, “Pekerjaan mereka memang patut dicela, tapi kelima orang ini tidak terlalu bejat, terutama Teng Ting-hou dari Tin-wan Piaukiok.”

“Bukankah dia yang menjadi pengawal kereta barang kali ini?” tanya Siau Ma. “Kurasa memang dia.”

“Konon barang kawalannya tidak pernah hilang di ja-lan.” “Sin-kun-siau-cu-kat memang tak bernama kosong.”

Siau Ma menyeringai, katanya, “Peduli Siau-cu-kat atau Toa-cu-kat, kali ini pasti terjungkal di tanganku.

”Yang ditunggangi Teng Ting-hou tentu kuda bagus, kalau minum pasti juga arak nomor satu. Kemahirannya menunggang kuda tak kalah lihai dibanding caranya mi-num arak.

Kaum persilatan mengakui, Teng Ting-hou adalah salah seorang pengawal dari empat perusahaan penga-walan terbesar di Tionggoan yang senang hidup mewah, menikmati hidup bebas, otaknya terbuka, cerdik pandai, berdaya tahan dan ulet dalam pekerjaan.

Dialah orang yang mengembangkan usaha gabung-an lima Piaukiok itu, Siau-lim-sin-kun yang diyakinkannya sudah sembilan puluh persen sempurna, konon kemampu-an Teng Ting-hou sekarang tidak di bawah Si-toa-tiang-lo (empat sesepuh besar) Siau-lim-si.

Setelah Paukiok gabungan berdiri, nama besarnya makin cemerlang di kalangan Kangouw.

Istrinya cantik dan bijaksana, putra-putrinya pandai dan berbakti, semua ka-um hamba bersikap baik dan intim kepadanya.

Padahal usianya baru empat puluh empat tahun, menjelang puber kedua bagi setiap laki-laki yang menjalani kehidupan pe-nuh uji dan gemblengan, saatnya laki-laki berpikir matang dan sukses mencapai puncaknya.

Laki-laki serba sempur-na seperti dirinya, adakah sesuatu yang membuatnya ge-getun? Membuatnya menyesal?Ya, ada dua.

Empat Piaukiok besar mengembangkan usaha di wi-layah Tionggoan, Toa-ong Piaukiok adalah perusahaan pengawalan tertua, namun mereka tidak mau bergabung dalam perkongsian ini.

Ong-lo Thaycu pemilik Toa-ong Piaukiok adalah tua bangka yang kolot lagi kukuh, bahwa-sanya orang ini mirip batang tombak yang mengkilap dan keras, namun bobotnya justru amat berat.

Setelah Piaukiok gabungan berdiri dan mulai menja-lankan usahanya, dalam tiga bulan sudah berkembang luas dan membawa hasil yang tidak sedikit, terlihat nyata jerih payah mereka, dimana Ngo-coan-ki yang berbunga itu tiba, kawanan begal tidak ada yang berani bertindak, mereka hanya mengawasi iringan kereta itu lewat dengan menghela napas gregetan.

Dua bulan belakangan, barang kawalan Ngo-coan-ki dua kali dirampok orang di tengah jalan, pengawalan ga-gal, anak buah mereka banyak yang terluka, padahal me-reka Piausu berkepandaian tinggi dalam perusahaan ga-bungan itu.

Barang yang disikat rampok juga bernilai lak-saan tail, harta yang dimaksud di sini adalah perhiasan, mutu manikam, berlian atau mutiara yang lebih ringkas dan mudah disimpan atau dibawa kemana-mana.

Pemililk barang  yang besar jumlah maupun nilainya,biasanya mengirim barang lewat  pengawalan, umumnya barang-barang itu tidak halal maka kirim mengirim ini amat dirahasiakan, tidak jarang mereka yang punya uang ba-nyak menukar dengan barang mestika yang bentuknya le-bih kecil dan mudah disembunyikan.

Demikian bentuk kawalan Teng Ting-hou yang berni-lai ratusan laksa tail, barang gelap yang tidak mudah ter-lihat mata.

Dia mengawal belasan kereta yang memuat lima puluh peti uang perak. Sementara kiriman gelap itu berupa mutiara yang nilainya hampir sama.

Tugas dan tanggung jawab Teng Ting-hou tidak enteng, tapi jago tinju yang lihai ini tidak merasa berat.

Selama menjalankan pengawalan, Teng Ting-hou se-lalu yakin dan percaya pada kemampuan sendiri, demikian pula untuk mengawal barang gelap kali ini, ia yakin barang kawalannya akan sampai di tempat tujuan dengan sela-mat.

Maklum jalan yang ditempuh dan tempat dimana ba-rang gelap itu disimpan amat dirahasiakan.

Barang-barang yang digunakan memancing perhati-an kawanan begal, nilai maupun kondisinya memadai har-ga dirinya untuk mengawal sendiri pengawalan ini.

Kecuali beberapa orang yang tahu, hakikatnya tiada orang lain tahu bahwa di tengah barang kawalan sebanyak itu ter-sembunyi barang gelap, siapa pun sukar meraba atau tak-kan menduga dimana barang gelap disembunyikan.

Teng Ting-hou mendongak, sambil memiringkan ke-pala mengawasi bendera besar yang berkibar yang me-nancap di pinggir kereta terdepan.

Wajahnya tampak ber-seri dan cerah.

Bendera besar yang hitam gelap terbuat dari sutra, tiang bendera terbuat dari baja murni, barang gelap berupa mutiara yang bernilai ratusan laksa tail perak itu ternyata disimpan dalam tiang bendera itu.

Kecuali lima orang pimpinan perusahaan, tiada orang keenam tahu rahasia ini.

Roda kereta berderak, kuda meringkik, angin meng-hembus kencang dari arah datangnya cahaya matahari.

Benteng kota Po-ting sudah terlihat jauh di depan sana.

Lo-tio yang bertugas membawa bendera menghela napas lega, setelah berada di kota Po-ting nanti, berarti tugas mengawal barang selesai. Terbayang dalam hatinya betapa nikmat hidangan di restoran “Sorga Bahagia” yang punya simpanan gadis-gadis manis dengan paha yang mulus menggiurkan, hatinya seperti dirambati ribuan se-mut.”

“Bila besok pagi harus berangkat pulang, malam ini aku harus menghibur diri sepuasnya dengan gadis-gadis itu.”

Lo-tio menoleh sambil melirik ke arah temannya, Siau Go, keduanya tersenyum penuh arti, dia memandang ke depan pula, matanya memicing.

Di saat Lo-tio dibuai bayangan menggiurkan, terjadi musibah tak terduga diiringi suara gemuruh.

Tiba-tiba Lo-tio merasa pandangan gelap, tubuhnya seperti melayang ke dalam jurang, bersama kuda tunggangannya dia terje-blos ke dalam sebuah lubang besar, demikian pula kereta barang yang dikawalnya ikut terperosok  ke bawah, cela-kanya kereta  itu jatuh menindih badannya hingga ping-gang terjepit, tulang kaki patah, kudanya mampus seketi-ka.

“Tamatlah riwayatku,” demikian keluh Lo-tio dalam hati sambil meringkuk dalam lubang, sebelum menjerit, ra-sa sakit membuatnya semaput.

Pada saat yang sama, pohon-pohon di pinggir jalan serentak bertumbangan, roboh menindih kereta dan kuda, sudah tentu tak sedikit Piausu yang tertindih di bawahnya.

Barisan yang semula rapi dan berderet lurus itu mendadak porak-poranda, kereta ambruk kuda binasa.

Teng Ting-hou mengeprak kuda hendak menerjang ke depan untuk melindungi kereta dan merebut bendera, tiba-tiba dari rumpun pohon sebelah kanan melesat tiga ti-tik sinar dingin mengincar pantat kudanya.

Kuda putih mi-liknya itu adalah kuda pilihan yang terlatih baik dan pan-dai, namun tak kuat menahan rasa sakit di pantatnya yang tertimpuk senjata rahasia, sambil meringkik kuda itu me- lonjak berdiri.

Kudanya melonjak karena kesakitan, Teng Ting-hou siap melompat turun, tapi karena kesakitan, kuda itu melompat ke depan secepat anak anah, melompati da-han pohon yang tumbang sejauh puluhan tombak.

Teng Ting-hou berhasil membebaskan kakinya dari belitan pedal perak kudanya, secepat kilat dia melompat balik ke sana.

Dari belakang pohon, mendadak meluncur seutas tambang panjang menjerat tiang bendera yang ter-tancap di kereta terdepan dalam lubang besar itu.

“Wut”, di tengah suara yang menderu keras, bendera hitam itu berkibar di udara dan meluncur tinggi oleh sen-dalan tambang panjang, melayang ke balik rumpun pohon.

Teng Ting-hou sempat melambungkan tubuh, namun perasaan hati menjadi perih dan kuatir.

Terdengar para Piausu yang mengawal kereta berteriak, “Lekas lindungi kereta, jangan tertipu muslihat musuh, tetap di tempat tu-gas kalian.

”Piausu-piausu itu sudah pengalaman, meski malu ka-rena bendera perusahaan hilang, lebih malu kalau kereta barang tercuri atau dirampas orang, akibatnya tentu lebih fatal, adalah jamak kalau mereka mengutamakan melin-dungi kereta, baru berusaha merebut bendera. Mengawasi betapa cekatan anak buahnya bekerja, darah dalam tubuh Teng Ting-hou seperti hampir tumpah dari mulutnya.

Bayangan orang tampak bergerak di balik rumpun pohon, sayup-sayup seperti ada orang tertawa riang dan puas.

Sebat sekali Teng Ting-hou melesat miring seperti burung walet menerobos hutan, Ginkangnya memang ti-dak rendah.

Umumnya murid Siau-lim tidak mengkhusus-kan diri belajar Ginkang, Ginkang juga bukan keistimewa-an pelajaran silat Siau-lim, tetapi Ginkang Teng Ting-hou termasuk kelas tinggi.

Namun setelah menubruk ke sana, bayangan orang tidak kelihatan.

Di dahan pohon terlihat secarik kertas ku-ning dipaku dengan sebatang jarum, tulisan arang terpam-pang berbunyi, “Siau-cu-kat (ahli pikir cilik) hari ini berubah menjadi Siau-cu-ko (engkoh babi cilik), sungguh menye-nangkan, sedaaap!”Senja berubah menjadi petang, sisa cahaya surya masih sempat mengintip di tegalan yang mulai ditelan ha-limun.

Nan jauh di sana terdengar suara orang tertawa le-bar, dari arah datangnya gelak tawa, samar- samar terlihat sebuah bendera besar hitam berkibar ditiup angin berge-rak ke arah timur.

Mengepal tinju Teng Ting-hou, dari kejauhan dia me-mandang, dari kejauhan dia mendengar, agak lama kemu-dian baru menghela napas gegetun, gumamnya sendiri, “Siapakah dia? Siapa punya kemampuan sebesar ini?”? ? ?Bendera berkibar, kembang merah itu seperti mekar semarak di antara lima ekor anjing yang galak dan gagah.

Dengan sebelah tangan Siau Ma mengangkat tinggi bendera besar itu, sebelah kakinya berdiritegak di pung-gung kuda, berdiri kokoh semantap gunung, bagai pemain akrobat yang beraksi di tengah arena.

Kuda itu kuda pi-lihan, kuda bagus yang terlatih, larinya cepat bagai panah meluncur ke depan.

Siau Ma mendongak sambil tertawa puas, serunya lantang, “Hari ini Siau-cu-kat berubah menjadi Siau-cu-ko, maknya, sungguh menyenangkan, sedaaap.”

Belum lenyap suara gelak tawa Siau Ma, dari bawah perut kuda mendadak menyelonong keluar sebuah tangan mencengkeram tumit kakinya terus disendal ke pinggir.

Tubuh Siau Ma terlempar ke pinggir dengan bersalto dua kali di udara, “Bluk” pantatnya berdentam di tanah, ben-dera di tangan entah kabur kemana.

Ternyata bendera itu berpindah ke tangan Ting Si, la-ri kuda menjadi lambat, Ting Si bertengger  di punggung kuda sambil tertawa geli mengawasi temannya.

Siau Ma mengusap hidung, katanya dengan tertawa getir, “Toako, apa-apaan, kau mempermainkanku?” Ting Si tersenyum, katanya, “Hanya sebuah peringat-an untukmu, jangan karena puas lantas lupa diri.”

Siau Ma melompat berdiri sambil membersihkan pan-tatnya, kepalanya tertunduk, ingin marah tapi tidak berani, mimiknya lucu seperti ingin menangis, mirip kuda kecil yang binal, tapi lebih mirip keledai cilik yang harus dika-sihani.

“Kau ingin menangis?” tanya Ting SiSiau Ma cemberut, tidak bersuara. “Orang yang menangis tidak akan diberi arak,” goda Ting Si tertawa.

Siau Ma menggigit bibir, akhirnya bertanya, “Kalau tidak menangis?”“Kalau tidak menangis boleh ikut ke Po-ting, kita mi-num sepuasnya.”

“Boleh minum berapa cawan?” “Hari ini kuberi kelonggaran, boleh minum sepuluh kati.”

Siau Ma berjingkrak senang, sambil memeluk kaki ia berjumpalitan tiga kali, tubuhnya melejit ke udara lalu ber-salto tiga kali.

Tangan Ting Si terulur untuk menangkap le-ngannya.

Kejap lain kedua orang ini sudah mencongklang kuda ke arah timur, terdengar gelak tawa mereka yang riang gembira, di punggung kuda mereka saling dorong dan ber-desakan, sambil tertawa lebar mereka berpelukan.

Kuda gagah itu dibedal kencang, gelak tawa mereka juga makin lirih dan jauh hingga tidak terdengar lagi, na-mun bendera besar itu masih berkibar ditiup angin.

Sinar surya remang-remang menyinari bendera hitam, tabir ma-lam mulai menyelimuti jagad raya.

Bendera besar hitam itupun ditelan kegelapan. Malam gelap.

Pelita dinyalakan.

Di dalam kamar yang besar itu tercium bau daging panggang dan arak wangi.

Belandar rumah itu cukup ting-gi, bendera Ngo-coan-kay-hoa tampak tertancap terbalik di atas belandar, bendera tampak melambai-lambai.

Padahal bendera itu berada di bawah atap, di dalam kamar yang tertutup, lalu darimana datangnya angin? Ter-nyata angin bertiup dari mulut Siau Ma.

Dia mendongak sambil setengah rebah di kursi, setiap menghirup seteguk arak, dia menghembus sekali, bendera melambai tertiup angin dari mulutnya, sudah setengah jam Siau Ma berma-in-main demikian, arak sudah habis satu guci.

Ting Si juga minum arak, duduk di depannya, me-nonton setengah jam lamanya, akhirnya tertawa, katanya, “Latihan pernapasanmu sudah cukup hebat.”

Hembusan angin dari mulut Siau Ma memang cukup padat dan kuat, tenaganya juga besar, namun di hadapan Ting Si, Siau Ma tidak berani mengumbar adatnya yang binal.

Ternyata bendera itu sudah berganti tiang bambu yang lebih pendek, sementara tiang bendera yang asli ter-buat dari kuningan tergeletak di atas meja.

Ting Si mengelus tiang bendera itu dengan lembut, tiang bendera mengkilap itu sehalus sutra, mengkilap ge-lap dan mulus, mendadak dia bertanya, “Tahukah kau apa yang tersimpan di dalam tiang bendera ini?”Siau Ma menggeleng kepala.

Ting Si berkata, “Kau juga tidak mengerti mengapa aku menyuruhmu merebut tiang bendera ini?”Siau Ma menggeleng kepala pula. Maklum tak sem-pat bicara, karena mulutnya sedang meniup dan meniup. Ting Si menghela napas.

Katanya pula, “Bisa kau hentikan ulahmu itu, gunakan otakmu untuk berpikir.”

“Bisa saja,” sahut Siau Ma sambil menegakkan tu-buh, dia berhenti meniup ke atas. “Toako, soal apa yang harus kupikirkan?” tanyanya mengusap hidung.

“Setiap persoalan boleh kau pikir, setelah paham bo-leh kau kerjakan.”

“Buat apa aku berpikir, Toako menyuruhku melaku-kan apa, segera kukerjakan, beres.”

Ting Si mengawasinya sejenak, mendadak raut wa-jahnya membeku, bila hatinya terharu, begitulah mimik mukanya, ia tak bisa tertawa lagi.

Siau Ma mengawasi tiang bendera di atas meja, bola matanya berkedip beberapa kali, lalu berkata, “Aku tidak habis mengerti..”

“Hal apa yang tidak kau mengerti?” “Tiang bendera ini biasa saja, tidak berbeda dengan tiang bendera kebanyakan, sama besar dan ukurannya, aku tidak tahu, betapa banyak nilai mestika yang bisa disembunyikan di dalamnya.”

Ting Si tertawa, sikapnya wajar, pelahan ia memutar bola baja di pucuk tiang bendera, ketika   tiang bendera itu diangkat terbalik, menggelindinglah tujuh puluh dua butir mutiara sebesar kelengkeng, semua bersinar, bentuknya sama, besarnya pun sama, dengan rentetan suara yang ramai, tujuh puluh dua butir mutiara itu berjatuhan dan menggelinding di atas meja.

Siau Ma terbelalak.

Siau Ma bukan manusia yang melihat duit lantas merah matanya, namun menghadapi mutiara besar sebanyak itu, dia menjublek kaku seperti kehilangan sukma.

Maklum Siau Ma belum pernah melihat mutiara sebesar, sebagus, seindah dan semolek ini.

Yang membuat Siau Ma heran, kaget dan haru bukan nilai dari mutiara besar sebanyak itu, tapi pesona karena keindahan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata.

Ting Si menjemput sebutir mutiara, sorot matanya ju-ga menampilkan rasa haru, gumamnya, “Untuk mencari mutiara sebesar ini mungkin tidak sukar, tapi tujuh puluh dua butir yang sama…”

Dia menghela napas lalu me-nyambung, “Meski Tam To seorang kejam, bertangan ga-pah, dia memiliki kemampuan yang tak dimiliki orang lain.”

“Tam To?” Siau Ma menegas.

“Maksudmu Tam To pembesar anjing yang suka menguliti orang itu?”“Ehm, siapa lagi kalau  bukan dia?”“Jadi mutiara sebanyak ini dia beli sebagai kado un-tuk menyogok tulang punggungnya yang merayakan ulang tahun di kotaraja?” mendadak mata Siau Ma membulat, berjingkrak gusar sambil menggebrak meja, serunya ge-mas, “Kura-kura tua, sudah lama aku ingin mengganyang-nya, makanya Teng Ting-hou yang menepuk dada seba-gai ksatria ternyata mau menjadi antek anjing kura-kura itu.”

Ting Si berkata dengan tawar, “Sebagai pengawal barang hanya dua jenis manusia dalam pandangan mere-ka. Pertama adalah langganan, kedua adalah perampok alias begal. Rampok harus diganyang, langganan selalu benar dan harus dilindungi.”

Siau Ma marah, “Umpama langganan itu kura-kura atau kuntilanak, apa mereka benar?”“Peduli rampok itu jenis apa dan apa tujuannya me-rampok, dalam anggapan mereka, rampok harus diga-nyang dan diberantas,” mimik wajah Ting Si mengulum se-nyum, tapi sorot matanya menampilkan rasa gusar dan duka.

Tiada orang menjuluki pemuda yang satu ini sebagai Ting Si kecil yang suka marah, tapi sebagai manusia bi-asa, dia pun pemuda yang suka marah dan mengumbar adat bila tidak kuasa  menahan emosi, ingin menumpas dan memberantas kejahatan dan kejadian tidak adil di du-nia  ini.

Demikianlah anak muda, generasi mendatang, beta-pa indah dan muluk cita-cita atau keinginan mereka, beta-pa indah kehidupan ini.

Ting Si menjemput sebutir mutiara lagi, katanya, “Me-nurut pendapatmu, berapa nilai mutiara ini?” “Apa mutiara ini tulen?” “Aku tidak tahu.”

Ada sementara orang tidak punya angan-angan un-tuk memiliki uang, tidak mampu menilai sesuatu benda, Siau Ma adalah pemuda sederhana yang suka berpikir se-cara sederhana pula.

“Seratus laksa tail perak.”

“Apa, seratus laksa tail perak?”Ting Si mengangguk, katanya, “Ya, tetapi kalau kita jual mutiara ini, nilainya harus dipotong empat puluh per-sen.”

“Apa perlu buru-buru menjualnya?”“Bukan saja harus segera dijual, malah harus terima uang kontan.”

“Lho, mengapa?” “Tujuh saudara keluarga Soa di Loan-ciok-kang mati di tangan orang-orang Ngo-coan-ki, janda dan anak yatim mereka cukup banyak jumlahnya, kini mereka hidup seng- sara.

Demikian pula saudara-saudara dari Ceng-hong-san di Say-ho, meski patut memperoleh hukuman yang setim-pal, namun anak bini mereka tidak berdosa, mereka punya hak untuk mempertahankan hidup, mereka perlu sandang dan pangan, mereka butuh uang.

”Siau Ma tahu dan maklum akan hal ini.

Memang tidak sedikit jumlah anak yatim piatu di kalangan Kangouw.

Ke-cuali Ting Si, adakah manusia lain yang memikirkan nasib mereka?Siau Ma mengedipkan mata, katanya, “Seratus laksa tail perak kalau harus dikorting empat puluh persen, bu-kankah jumlahnya tinggal enam puluh laksa tail perak sa-ja?”Ting Si menghela napas, katanya memanggut, “Ter-nyata kau juga pandai menghitung.”

“Uang perak sebanyak enam puluh laksa tail, kalau diangkut sepeti demi sepeti, setengah hari juga takkan ha-bis, tokoh mana di dunia persilatan yang sekaligus mampu membayar kontan sebanyak itu? Apalagi membeli barang tidak halal?” Ting Si tidak segera menjawab, dia menenggak habis araknya, lalu menggares sekerat daging, katanya kalem, “Kota Po-ting cukup besar dan makmur, pusat perdagang-an lagi, Cin-wi Piaukiok bukankah dipusatkan di kota Po- ting? Di dalam maupun di luar kota bukan mustahil ada mata kuping mereka.”

“Betul, kaki tangan mereka memang banyak dan  ter-sebar  luas di daerah ini.”

“Coba kau pikir, mengapa tidak pergi ke tempat lain, aku justru mengajak kau ke kota Po-ting ini?” “Ya, aku tidak mengerti.”

“Apa betul kau tidak mengerti?” Siau Ma mengusap hidung, katanya tertawa, “Toako sudah mengerti, mengapa menyuruhku berpikir?” “Karena aku ingin membetot dan mencabut tulang- mu, akan kuobati penyakitmu.”

Tiada orang lain yang pa-ham tentang watak dan mendalami jiwa Siau Ma kecuali Ting Si.

Dia tahu persoalan bukan tidak pernah diperhati-kan oleh Siau Ma, namun si Kuda Binal ini memang malas menggunakan otak.

“Apa kau kenal orang yang bernama Thio Kim-keng?” Kali ini Siau Ma tidak menggeleng kepala.

Maklum ia pernah tinggal di Po-ting, orang yang pernah tinggal di Po-ting, tak mungkin tidak kenal nama besar Thio Kim-keng.

Thio Kim-keng adalah hartawan nomor satu di kota Po-ting, seorang arif bijaksana dan dermawan nomor satu di kota kuno ini, kekayaannya mungkin tidak kalah diban-ding kekayaan negara, sosial dan berjiwa besar.

“Tahukah kau apa modal Thio Kim-keng untuk mem-bangun dinasti keluarga dan memperkaya dirinya?”Siau Ma menggeleng kepala.

“Ada sementara orang, tidak perlu turun tangan sen-diri, namun hatinya lebih kejam dan jahat melebihi ular berbisa, barang milik orang hasil dari mempertaruhkan ji-wa raga, dia beli dengan harga yang ditekan serendah-rendahnya, namun dalam sekejap mata dia jual lagi de-ngan harga puluhan kali lipat.”

“Hm, jadi yang kau maksud adalah Thio Kim-keng tu-kang tadah itu?”Ting Si mengangguk, katanya, “Thio Kim-keng me-mang tukang tadah.”

Siau Ma terlongong “Sebagai tukang tadah, semula memang kecil-kecil-an, tapi sekarang seleranya lebih besar, jual beli dalam ni-lai kecil tidak terpandang lagi olehnya.”

“Jadi kami ke Po-ting untuk menemuinya?” “Ehm, betul.”

Mendadak Siau Ma berjingkrak berdiri, serunya ke-ras, “Orang seperti itu hakikatnya bukan manusia, menga-pa Toako malah mencarinya?” Ting Si belum bersuara, dari luar pintu seorang su-dah berkata dengan tertawa lebar, ”Yang dia cari bukan manusia seperti diriku, tapi uang perak milikku.”

Thio Kim-keng sesuai namanya, perawakan buntak bundar mirip guci, namun bukan guci sembarang guci, tapi guci emas.

Kepalanya mengenakan mahkota yang terbuat dari emas bertahta mutu manikam, sabuknya yang besar dan panjang serta lebar juga terbuat dari emas murni, pa-kaiannya jubah berkembang emas, kesepuluh jarinya me-ngenakan sepuluh bentuk cincin yang berbeda corak dan ragamnya.

Sabuk pinggang yang dikenakan dilapisi emas, maklum perutnya yang gendut tidak kalah besar dibanding perut seekor kerbau betina yang lagi bunting.

Waktu Siau Ma membuka pintu, orang gendut ini ber-diri tenang dan mantap di ambang pintu, seolah-olah me-miliki tiga kaki.

Dua orang mengawal di belakangnya, pakaian ketat bersulam kembang di depan dada dengan pinggiran war-na biru muda, topinya miring, dandanannya mirip Piausu kelas rendah atau pemain wayang yang biasa main di atas panggung.

“Kau ini yang bernama Thio Kim-keng?” tanya Siau Ma.

Thio Kim-keng balas bertanya, “Apa kau ini yang bernama Kuda Binal itu?”Ternyata tidak kecil nama Siau Ma Si Kuda Binal di kalangan Kangouw, manusia seperti Thio Kim-keng juga pernah dengar dan tahu namanya.

Siau Ma melotot, dari perut yang bundar pandangan-nya beralih ke wajahnya, bentaknya bengis, “Cara bagai-mana aku harus membuktikan bahwa kau ini Thio Kim-keng tulen?”Thio Kim-keng berkata, ”Kau tidak perlu curiga, kecu-ali Thio Kim-keng, siapa yang memiliki badan dengan da- ging segumpal ini?”Siau Ma menyeringai dingin, “Dari mana kau mem-peroleh daging segumpal ini?”Thio Kim-keng tertawa lebar, katanya, “Sudah tentu kuperoleh dari orang-orang seperti  kalian.”

Waktu tertawa tidak terlihat kulit daging wajahnya bergerak, bukan lan-taran daging di mukanya terlalu gemuk, tapi karena muka-nya terlalu tebal, hidungnya yang pendek hampir tidak ke- lihatan.

Saking gemasnya Siau Ma ingin menjotos hidungnya biar pecah atau remuk.

Thio Kim-keng berkata, “Jangan kurang ajar, Toako-mu mengundangku kemari untuk urusan dagang, jika kau memukulku, berarti kau menampar Toakomu sendiri.”

Tinju Siau Ma sudah teracung tinggi, namun batal menjotos.

Thio Kim-keng menarik napas lega, katanya terse-nyum, “Apa kami boleh masuk?”“Ingin masuk boleh, tapi hanya kau seorang saja.”

“Kalian dua orang, dalam melakukan jual beli, aku selalu didampingi dua pengawalku ini, jangan kuatir, aku terbuka dan selalu berlaku adil.”

“Kau tidak mendengar apa yang kukatakan?” “Aku mendengar, tapi aku ini manusia, bukankah kau sendiri yang bilang demikian?” Saking gusarnya Siau Ma berdiri menjublek.

Ting Si justru tertawa riang, dengan tertawa dia menghampiri lalu menarik Siau Ma ke pinggir, katanya, “Kalau Thio-laupan (juragan Thio) tidak menganggap dirinya manusia, menga-pa kau marah?” Akhirnya Siau Ma tertawa geli malah, katanya, “Aku hanya heran, mengapa ada manusia di dunia ini yang tak suka menjadi manusia?” Thio Kim-keng mengawasinya dengan memicingkan mata, katanya, “Karena zaman sudah berubah, di zaman ini orang sukar menjadi manusia, peduli mau menjadi babi, kerbau atau anjing, yang pasti jauh lebih mudah daripada menjadi manusia biasa.”

Melihat tujuh puluh dua butir mutiara di atas meja itu, mata Thio Kim-keng yang semula memicing mendadak terbuka lebar,  pelahan dia menghembuskan angin dari  mulutnya, “Mutiara ini yang akan kau jual kepadaku?”“Kalau bukan barang mahal atau tulen seperti ini, mana berani kami membikin susah Thio-laupan kemari?” “Berapa harganya?” “Seratus laksa tail.”

“Seratus laksa tail perak?” Siau Ma berjingkrak sambil merenggut baju di depan dada Thio Kim- keng, bentaknya gusar, “Kau sedang bica-ra atau sedang kentut?” Thio Kim-keng tenang-tenang saja, wajahnya mengu-lum senyum jenaka, “Aku sedang berdagang, jual beli kan pantas kalau tawar menawar, kalau harga cocok boleh ba-yar kontan, begitulah cara orang berdagang.”

“Aku bukan pedagang,” bentak Siau Ma. “Akulah pedagangnya,” ujar Ting Si.

Siau Ma melenggong, pelahan dia melepas tangan lalu mundur.

Ting Si tersenyum, “Kalau Thio-laupan suka mena-war, akan aku layani.”

Thio Kim-keng berkata, “Paling banyak aku hanya berani bayar dua puluh laksa saja.” “Sembilan puluh laksa.”

“Berat, tiga puluh laksa.”

“Masih jauh, delapan puluh laksa.”

“Baiklah, kutambah sedikit, empat puluh laksa.” “Jadi, kuserahkan, bayar kontan.”

Siau Ma mendelik, Thio Kim-keng juga melongo, tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa hari ini dia akan berhadapan dengan orang yang memandang uang perak seperti besi rongsok, dengan akurnya jual beli semurah ini, berarti dirinya ketiban rezeki besar.

Ting Si tersenyum, katanya, “Aku ini tahu diri dan gampang merasa puas, tahu diri pasti hidup senang dan tenteram.”

Tujuh puluh dua butir mutiara itu berada di tengah lingkaran empat batang sumpit gading.

Ting Si menjemput salah satu sumpit, mutiara itu lantas menggelinding ke da-lam bumbung tiang bendera.

Thio Kim-keng mengawasi diam, setelah mutiara itu seluruhnya  tersimpan  baru  berkata, “Tahukah kau, tawar-anku empat puluh laksa tail, empat puluh laksa apa?” “Apakah bukan empat puluh laksa tail perak?” “Sudah tentu bukan.”

“Lalu apa?” “Empat puluh laksa keping tembaga.”

Siau Ma mendelik kaget dan gusar, seolah-olah dia tidak kenal manusia buntak bundar seperti bola ini.

Tanpa pikir Ting Si justru menjawab, “Jangankan kau bayar empat puluh laksa keping tembaga, umpama tidak kau bayar juga kuberikan kepadamu.”

Jawaban Ting Si lebih mengejutkan Siau Ma, teriak-nya, “Taoko mau menyerahkan, aku tidak rela.”

Ting Si berkata, “Kalau Toako mau menjual, kau pun harus pasrah.”

“Mengapa?” pekik Siau Ma, biasanya dia tunduk dan patuh terhadap Ting Si, baru sekarang dia bertanya “me-ngapa” kepada Ting Si.

Maklum dia heran dan penasaran.

“Kau ingin tanya mengapa aku menjualnya semurah itu?” tanya Ting Si. “Ya mengapa?” Siau Ma mengulang. Ting Si menghela napas, katanya, “Karena aku takut dan tidak mau berkelahi.”

Melotot bundar bola mata Siau Ma,  dengan jarinya dia menuding hidung Thio Kim-keng, “Kau  takut berkelahi dengan orang ini?” Sesaat lamanya Ting Si mengawasi Thio Kim-keng dari kepala hingga ujung kaki, “Kalau manusia seperti Thio Kim-keng, umpama sekaligus ada delapan ratus orang ju-ga akan kulayani berkelahi.”

“Memangnya kau takut berkelahi dengan siapa?”“Kau tidak tahu atau pura-pura pikun?”“Aku melihat apa? Perut buntak ini?”Laki-laki yang berdandan seperti pemain sandiwara di belakang Thio Kim-keng mendadak tertawa sambil me-ngangkat kepala, “Aku bisa melihatnya.”

“Kau?” pekik Siau Ma.

“Maknya, kau melihat apa?”“Sedikitnya aku melihat satu hal,” ujar orang itu. “Coba jelaskan,” desak Siau Ma.

“Ting Si yang selalu menyenangkan orang memang tidak malu dijuluki Ti-to-sing (kecerdikannya diumpamakan bintang yang bertaburan di angkasa), tapi Siau Ma si Kuda Binal ternyata adalah babi dungu.”

Siau Ma berjingkrak gusar, makinya sambil menu-ding, “Kau ini barang apa?” “Memangnya kau belum tahu?” tanya orang itu.

“Aku tahu kau bukan barang atau manusia, kau ada-lah anjing kurap yang dilahirkan maknya.”

Orang itu tertawa lebar, sambil tertawa satu persatu dia mencopot jubah ketat, menurunkan topi, lalu mengu-sap muka dengan jubah kembang yang barusan dia pakai.

Pemain sandiwara yang bertampang jenaka, mendadak berubah menjadi Piaukek besar kelas satu yang kenama-an di Kangouw.

Kalau dinilai, tokoh kosen Bulim yang setimpal seba-gai Piaukek besar kelas satu, pada zaman ini tidak lebih sepuluh orang saja, Sin-kun-siau-cu-kat Teng Ting-hou pasti satu di antaranya..

Siau Ma menyeringai, “Jadi kaulah babi cilik yang mungil itu?”Teng Ting-hou tersenyum lebar, “Agaknya aku salah menilai dirimu, kau bukan saja babi goblok, bukan manu-sia merang, paling tinggi nilaimu setingkat dengan keledai cilik yang dungu.”

Siau Ma sudah bergerak maju, namun sepasang tin-junya ditahan oleh Ting Si. “Apa betul kau takut berkelahi?” teriak Siau Ma pena-saran.

“Sebetulnya aku takut, tapi harus dibuat sayang, hari ini terpaksa aku harus berkelahi,” demikian ujar Ting Si.

“Lalu mengapa kau tarik aku?” “Karena belum tiba saatnya kau berkelahi.”

“Tunggu apa lagi?” “Sabar, setelah Sebun Toa-piauthau mencopot pakai-annya, boleh kau berkelahi.”

Orang kedua yang berdiri di belakang Thio Kim-keng terpaksa bersuara dingin, “Bagus, ternyata kau sudah me-ngenalku.”

Ting Si mengawasi bagian menonjol di balik jubah kembang yang membungkus ketat tubuh orang ini, wa-jahnya mengulum senyum, “Sebetulnya aku tidak menge-nalmu, aku hanya melihat sepasang Kian-kun-pit di tubuh-mu.”

Kian-kun-pit (potlot maya pada) terbuat dari baja mur-ni, sepasang potlot itu terselip miring di balik jubah Sebun Seng.

Perawakan orang ini mirip sepasang gamannya, ku-rus lencir, panjang dan runcing, sudah gemblengan hingga lebih keras dari besi yang ditempa ratusan kali.

Di antara lima tokoh Ngo-coan-ki berbunga, dinilai kecerdikan dan daya muslihat serta pertimbangan yang tepat, Liau-tang Tayhiap Pek-li Tiang-ceng termasuk no-mor satu.

Teng Ting-hou pembuka jalan terang, daya pikir dan tahan ujinya boleh diagulkan nomor satu dibanding empat rekannya.

Kui Tang-kin juga seorang jenius, tapi tingkah laku dan tutur katanya seperti orang bodoh, yang dipikir hanyalah Hok-sing-ko-cau (rezeki nomplok) melulu, maka dia merupakan tokoh persilatan terkaya di Tiong-goan.

Giok-pau Kiang Sin gagah, kuat dan pemberani, tiada la-wan yang pernah ditakuti.

Bicara tentang ilmu silat, jago kosen nomor satu dari kalangan Piaukiok di Tionggoan Kian-kun- pit Sebun Seng adalah orang yang paling ditonjolkan.

Ilmu totok Hiat-to, am-gi (senjata rahasia) dan Bian-kun dari aliran Lwekeh, selama ini belum pernah menemukan tandingan.

Beberapa tahun belakangan ini, jarang ada kaum persilatan yang menantangnya berkelahi. Tapi Siau Ma yang tidak kenal takut justru ingin men-jajalnya.

Setiap kali ingin berhantam, peduli apa gaman la-wan, kuat atau lemah, Siau Ma tidak pernah gentar.

“Jadi kau ini Sebun Seng?”Sebun Seng memanggut.

“Sekarang sudah saatnya berkelahi, bukan?”Sebun Seng menyeringai dingin.

Siau Ma menepuk tangan, “Katakan dengan cara apa kita berkelahi?”“Kukira berkelahi hanya ada satu cara.”

“Cara apa?”“Adu tinju sampai lawan roboh terkulai dan tak mam-pu merangkak bangun lagi.” “Bagus,” seru Siau Ma.

“Caramu memang mencocoki seleraku.

”Mendadak Ting Si tertawa, “Tapi cara itu justru tidak memenuhi selera Toako.” "Bukan kau yang kutantang," kata Sebun Seng.

"Menurut pengetahuanku, berkelahi ada dua macam. Pertama berkelahi secara pertunjukan, kedua berkelahi dengan kekerasan.”

"Jadi kau ingin berkelahi secara pertunjukan?"Ting Si tersenyum, "Sebun Toa-piauthau punya kedu-dukan dan terpandang, mamangnya kau ingin berkelahi seperti anjing berebuttulang?""Baiklah, bagaimana kalau bertanding secara pertunjukan?""Kalau  kujelaskan, kau pasti setUju? "Sebun Seng tertawa dingin, "Menghadapi orang se-pertimu, berkelahi dengan cara apapun sama saja.”

Agak-nya dia amat yakin, selama beberapa tahun Kian-kun-pit di tangannya sudah bertempur ratusan kali, belum pernah kalah.

Ting Si tertawa, "Baiklah, kita berkelahi dengan cara itu saja.”

Seiring dengan kata 'saja', mendadaktinjunya meng-genjot perut Thio Kim-Keng yang gembrot.

Sudah tentu perut Thio Kim-Keng tidak sekeras gentong, kulitnya juga tidak setebal kulit kerbau, seketika dia menjerit kesakitan, air masam keluardari mulutnya, air mata juga berlomba keluar, demikian pula air kencing membasahi celana.

Sebun Seng murka, "He, rnengapa kau memukulnya?" "Beginilah caraku bertanding," ucapTing Si.

“Hayolah kau boleh mulai, siapa dapat merobohkan Thio-laupan, dialah yang menang, tapi hanya boleh menggunakan tinju saja.”

Di akhir kata-katanya, kembali tinjunya mendarat di pinggang Thio Kim-keng. "Mana ada berkelahi cara begini?" seru Sebun Seng.

"Tadi kau bilang, cara apapun yang kuajukan, kau pasti setuju, kalau kau tidak ingin kalah, hayolah pukul, genjot dia sampai roboh.”

Berbareng dengan ucapan "roboh', tinjunya kembali mendarat ditulang rusuk Thio Kim-keng.

Tinju Ting Si memang tidak sekeras batu, pukulannya cukup berat, namun tulang rusuk Thio Kim- keng patah.

Siapa saja meski punya tenaga raksasa, hendak memukul patah tulang yang tersembunyi di balik daging setebal satu kaki lebih, jelas bukan pekerjaan yang gampang.

Tulang rusuk memang tidak patah, namun celana ba-sah, bau pesing merangsang hidung, umpama Thio Kim-keng adalah gentong besi, juga tak kuat didera pukulan-pukulan berat seperti itu.

Sebun Seng adalah tokoh besar, sudah tentu ia pan-tang kalah.

Wajahnya kaku dingin, orang sukar meraba perasaan hatinya, tanpa bayangan tidak menimbulkan su-ara, mendadak tinjunya menggenjot ke depan, tinjunya te-lak menggenjot pinggang Thio Kim-keng.

Thio Kim-keng meraung keras, tubuhnya ambruk, roboh dengan cepat.

Kelihatan orang ini lebih dungu daripada kerbau, padahal amat licin, sepuluh kali lipat lebih cerdik dari rase bangkotan.

Sebun Seng menatapThio Kim-keng, "Kau masih kuat merangkak bangun?" Thio Kim-keng menggeleng, napasnya ngos-ngosan.

Sebun Seng mengangkat kepala, senyum kemenangan menghiasi wajahnya, "Dia tidak mampu bangun, kau mengaku kalah?"Umpama dua orang bersandiwara, sekongkol menje-bak orang. Padahal Ting Si dikenal sebagai pemuda cerdik pandai, bagaimana mungkin dia tertipu. Saking murka, muka Siau Ma merah padam, tidak dinyana justru Ting Si tertawa lebar.   Sebun Seng menegas, "Kau tak mau mengaku kalah?" "Aku mengaku kalah," sahut Ting Si. "Aku siap mengaku kalah.”

"Sudah kalah mengapa masih tertawa?""Karena aku memukul gratis tiga tinju di tubuh kura-kura gemuk ini, rasa jengkelku sudah terlampiaskan separoh.

"Sudah jelas dia akan kalah tetapi sengaja memukul Thio Kim-keng tiga kali, pantasnya yang tertipu bukan dirinya, tapi Thio Kim-keng.

Thio-laupan jelas dirugikan da-lam jual beli ini.

Teng Ting-hou menonton di samping sambil berpeluk tangan, ujung muiutnya mengulum senyum lebar.

Siau Ma justru berjingkrak, "Apa betul kau mengaku kalah?""Ya,"sahutTing Si. "Mengapa?" Siau Ma menegas.

Ting Si tertawa lebar, "Setiap kali bertempur kapan Sebun Seng pernah kalah? Tinju sakti Teng Ting-hou tiada tandingan, dengan kekuatanmu dan aku, jelas bukan tandingan mereka.”

"Tapi bila ada kesempatan meski hanya sekejap, aku akan….” "Apalagi," tukas Ting Si.

"Seumpama kau dapat me-ngalahkan mereka, manfaat apa yang kau dapatkan, umpama muka tidak benjut, kepala tidak bocor, akhirnya pasti kehabisan tenaga, memangnya kau kuat menghadapi ke-royokan orang-orang di luar itu?" Dengan senyum lebar Ting Si meneruskan, "Oleh karena itu, terpaksa kita harus berupaya biar kalah namun dengan cara terhormat.”

Siau Ma menggigit bibir, "Kau mau mengaku kalah, aku justru tidak mau kalah.” Belum habis muiutnya bicara, secepat kilat tinjunya menjotos ke muka Sebun Seng. Yang diincar adalah hidung Sebun Seng.

Siau Ma merasa muak melihat tampang Sebun Seng yang masam dan dingin.

Tapi baru saja tinjunya menjotos, mendadak bayangan orang berkelebat di depan Sebun Seng, tahu-tahu seo-rang mengadang di depannya.

Wajah nan cakap, sikap yang sopan dan lembut, kelihatan amat menarik dan simpati.

Tinju Siau Ma yang menjotos ternyata mampu dihen-tikan dan ditarik mundur di tengah jalan, "Minggir kau, bukan kau yang akan kuhajar.”

Pengadang itu adalah Teng Ting-hou, "Sekarang tiba giliranku, mau atau tidak tinjumu akan kulawan dengan sepasang tinjuku.”

Tinju Teng Ting-hou menjotos dulu ba-ru bicara, "Aku tidak biasa memakai senjata, biar tinju lawan tinju.”

Siau Ma adalah saudara Ting Si yang paling baik, sahabat kental, namun wataknya justru berbeda dengan Ting Si.

Biasanya Siau Ma segan menggunakan otak, memi-kirkan persoalan dengan otak, melihat gelagat dengan mata dan mendengar persoalan pelik dengan kuping dianggap pekerjaan yang memusingkan.

Siau Ma selalu me-nyelesaikan perkara dengan tinju, apalagi berhadapan dengan lawan yang tidak pernah memakai senjata, selama ini jarang ketemu lawan yang memiliki tinju sekeras tinjunya, sayang hari ini dia justru berhadapan dengan Teng Ting-hou.

Teng Ting-hou berjuluk Sin-kun (tinju sakti), di belakang tinju sakti diberi embel-embel Siau-cu- kat, betapa hebat kepandaian tinjunya, kecuali bagustentu lihai.

Kenyataan membuktikan, di antara sekian banyak murid preman Siau-lim-pay, ilmu silat Teng Ting-hou terhitung nomorsatu.

Siau-lim-sin-kun memang mengutamakan pu-kulan keras dengan landasan tenaga raksasa, kalau ilmu pukdlan ini mengutamakan kelincahan gerak dengan se-rangan yang banyak kembangannya, taraf kepandaiannya malah menurun.

Oleh karena itu, setiap kali melontarkan jurus serangan, permainannya pasti tulen, sungguh- sungguh, tanpa kembangan.

Umumnya murid Siau-lim-pay senang bermain secara murni dan sejati. Demikian pula permainan tinju Siau Ma.

Tinjunya cepat lagi deras, serangan telak merobohkan lawan, bila lawan terpukul berartitujuantercapai, lawan pasti roboh.

Bagaimana resiko serangan itu atas diri sendiri sama sekali tidak terpikir olehnya, hakikatnya dia tidak pernah menguatirkan keselamatan diri sendiri.

Begitu duajago tinju saling hantam, meja kursi dan isi kamar porak poranda, mangkuk piring, cawan dan perabot lainnya menjadi korban, suara menjadi gaduh, meja kursi ikut beterbangan.

Paling celaka dan mengenaskan adalah Thio Kim-keng yang menggeletak di lantai, orang lain dapat menyingkir, dia justru tidak fnampu bergerak, rasa sakit benar-benar membuatnya lunglai, bernapas pun terasa sesak dadanya.

Orang yang berbaku hantam belum tentu kena pukul-an, laki-laki gembrot yang menggeletak di lantai ini justru menderita lebih banyak dari dua jago yang berlaga, entah meja kursi, cawan mangkuk dan piring seperti sengaja mampir ketubuhnya.

Ting Si tertawa lebar, Sebun Seng mengerut kening.

Sebagai Piauthau kenamaan, dia menyesali kelakuan re-kannya, apalagi kepandaiannya tidak rendah, tidak pantas Teng Ting-hou berkelahi dengan cara kasar seperti ini.

Hakikatnya baku hantam ini tidak mirip pertandingan jago kosen dunia persilatan, tapi lebih mirip perkelahian bajingan pasar yang berebut hasil curian, atau bajingan yang duel merejDut cinta perempuan jalanan. "Blang," mendadak berkumandang suara gedubrakan disertai bentakan keras, dua bayangan orang menceiat mundur, seorang menabrak tembok, yang lain bersalto di udara, lalu melorotturun dengan enteng.

Yang menumbuk dinding adalah Teng Ting-hou.

Begitu melorot tumn dia berdiri lemas menggelendot di dinding dengan napas tersengal-sengal. Siau Ma seba-iknya berdiri tegak tenang, matanya mendelik kepada lawan.

Be-tu!kah si Kuda Binal mampu mengalahkan Sin-kun-siau-cu-katyang sudah terkenal sejak lama?Sambil tersengal-sengal mendadak Teng Ting-hou bergelaktawa, "Bagus! Sungguh menyenangkan. Tiga pu-luh tahun, belum pernah aku berhantam sebagus hari ini, hatiku sungguh riang dan puas.”

Lama Siau Ma menatapnya lekat.

"Bagus, orang tua muda, kau memang hebat," demikian desisnya pelahan. "Kau mengaku kalah?" tanya Teng Ting-hou.

Siau Ma mengertakgigi, bibimya bergerak, namun begitu dia membuka mulut, darah segar menyembur keluar.

Tapi dia masih berdiri tegak dan kokoh, bola matanya melotot dan bundar, seolah-olah bertekad, mati pun tidak mau ambruk.

Teng Ting-hou menghela napas gegetun, "Bocah ini kena dua pukulanku, tulang rusuknya patah tiga, namun masih kuat berdiri tegak, agaknya aku yang harus tunduk kepadanya.”

Siau Ma menarik napas sambil menyeka darah di ujung mulutnya, tiga kali dia menarik napas dalam-dalam untuk menghentikan gejolak darah di rongga dadanya, "Tak perlu kau bermuka- muka di hadapan umum, aku memang bukan tandinganmu.”

"Bagus," puji Teng Ting-hou.

"Bukan tandingan lawan bukanlah kejadian yang memalukan, berani mengaku kalah justcu sikap yang terpuji.”

"Tapi akan datang suatu hari aku akan memukulmu roboh dan merangkak di tanah," Siau Ma mengucapkan sumpahnya sambil mengacungkan tinju.

"Baik, akan kutunggu," ujar Teng Ting-hou.

"Sekarang apa kehendakmu?""Kuminta kalian berangkat bersamaku.” "Boleh, kemana? Hayo berangkat.”

Mau pergi lantas berangkat, umpama kepala dipenggal juga Siau Ma tidak mengerut alis, apalagi hanya pergi?"Apa kalian tidak ingin tahu, kemana aku akan mem-bawa kalian?" tanya Teng Ting- hou.

Ting Si tertawa, "Kami sudah berjanji untuk kalian, kemana saja, terjun ke lautan api juga tidak menjadi soal, buat apa bertanya lagi?"