Neraka Hitam Jilid 19

Jilid 19

“Kau tidak tahu?” seru Coa Cong gi dengan mata melotot, “kalau begitu aku akan pergi juga, walaupun bagaimanapun juga” “Anak Gi, jangan ngaco belo! ” Coa hujin segera membentak dengan suara nyaring.

Dengan wajah serius Hoa In-liong segera menjura kepada Coa hujin, kemudian ujarnya, “Pek bo, maaf siautit memberanikan diri untuk berbicara, ada baiknya kalau dengan membawa saudara Cong gi dan adik Wi berangkat ke Lok yang untuk berjumpa dengan Pek hu.”

00000O00000

59

Padahal sedari tadi Coa hujin sudah ingin berangkat ke kota Lok yang untuk bertemu dengan suaminya, cuma saja dia rikuh untuk mengu-taerakannya keluar, maka setelah mendengar perkataan itu, dia lantas berpaling ke arah Goau cing taysu minta persetujuan.

Tampak Goan cing taysu termenung beberapa saat lamanya, kemudian berkata, “Liong ji, mungkin kau telah melupakan suatu hal”

“Apa lagi Kong kong?” seru Hoa In-liong setelah tertegun bebe-

rapa saat lamanya .

“Masalah Yu Siang tek suami istri!”

“Oooh……!.” Hoa In-liong berseru tertahan tanpa perdulikan sikapnya yang rada gugup, dia lantas berpaling ke arah Yu Siau lam dan berkata sambil tertawa, “Saudara Siau lam, kau juga harus berangkat ke kota Liok yang, urusan di Liau teng tak bisa kau ikuti”

“Kenapa?” tanya Yu Siau lam tertegun, bukankah membasmi iblis menegakkan kebenaran adalah kewajiban setiap orang?”

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak. “Haahhh…. haaahhh …haaahh. ..Pek hu dan Pek bo

sekarang berada di Lok yang, kau sebagai seorang putra yang berbakti sudah sewajarnya kalau berkumpul dengan mereka, apalagi ayah ibumu baru lolos dari bahaya”

Yu Siau lam menjadi gembira sekali sesudah mendengar berita itu, belakangan ini dia selalu menguatirkan keselamatan ayah ibunya, maka bisa dibayangkan betapa terharunya pemuda itu setelah mendapat kabar tersebut, sehingga untuk beberapa saat lamanya ia tak mampu mengu-capkan sepatah katapun.

“Hoa kongcu, sungguhkah ini?” seru Tam Si bin pula dengan cemas.

Tapi setelah perkataan itu diutarakan tiba-tiba ia merasa ucapannya itu kurang tepat, maka buru-buru tambahnya, “Sebab lohu…..”

Sambil tersenyum Hoa Ia liong menukas.

“Berhubung pihak Mo kau hendak membuat phi tok liong wan, oleh pihak Hian-beng-kau Yu pek hu dan pek bo telah diserahkan kepada orang-orang Mo kau, untunglah didalam pembuatan obat-obatan tersebut Yu pek hu telah berbuat cerdik dengan melakukan sabotase secara diam-diam, coba kalau bukan lantaran hal itu, tak akan segampang ini boanpwe berhasil menyelamatkan para jago yang tertawan, malah besar kemungkinan boanpwe tak bisa ikut menghadiri pertemuan besar yang diadakan oleh pihak Hian-beng-kau”

Tiba-tiba tanpa mengucapkan sepatah katapun Yu Siau lam membalikkan badan dan kabur meninggalkan tempat itu.

Ketika dilihatnya pemuda itu seperti terpengaruh oleh emosi, Hoa In-liong kuatir ia menjumpai hal-hal yang diluar dugaan, dengan cepat tubuhnya berkelebat kemuka dan mencengkeram urat nadi pada pergelangan tangan Yu Siau lam.

“Saudara Siau lam!” bentaknya, “harap tenangkan hatimu, pek bu dan pek bo berada dalam keadaan sehat wal’afiat”

Sesungguhnya Yu Siau lam adalah seorang pemuda yang pandai menguasai diri, sekalipun perasaannya agak tergolak sewaktu mendengar kabar tentang orang tuanya, tapi setelah mendengar perkataan dari Hoa In-liong itu perasaannya seketika menjadi tenang kembali.

Kepada Hoa In-liong katanya sambil tertawa rikuh: “Adik In liong, aku tidak apa-apa”

“Harap saudara Siau lam dapat mengendalikan diri, dengan begitu siaute pun bisa berlega hati” kata Hoa In-liong seraya melepaskan cengkeramannya,

Yu siau lam tertawa getir, serunya kemudian, “Hayo berangkat!”

Tiba-tiba ia membalikkan badan dan beranjak pergi. Tentu saja tindakannya itu membuat Hoa In-liong menjadi tertegun, dengan wajah melonggo dia menegur, “Saudara Siau Lam, mau apa kau?”

Tanpa berpaling Ya Siau lam berkata dangan tenang. “Dengan kepandaian berenangku, tanpa berhenti aku bisa

berenang sejauh sepuluh li, tentu saja aku harus menyumbangkan dulu tenagaku sebelum pergi menyambangi orang tua, kalau tidak demikian dia orang tua pasti akan mendamprat diriku sebagai egois”

Tiba-tiba Coa hujin menghela napas panjang dan ikut berkata, “Yu hiantit bisa mendahulukan kepentingan umum daripada kepentingan pribadi, hal mana sungguh membuat aku yang menjadi pek bo nya merasa malu sendiri”

Ia lantas berpaling kearah Goan cing taysu sambil katanya, “Sian ji bertekad untuk turut serta dalam rombongan menuju ke liau tang, nama cousu tak boleh ternoda oleh perbuatan Sian ji yang egois ini, soal Goan han, biarlah agak lambat sedikit juga tidak mengapa”

Goan cing taysu segera manggut-manggut.

“Kalau kau bisa berbuat demikian, hal ini memang lebih baik…….” katanya.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian itu segera tahu, bahwa dibujuk terus juga tak berguna, maka ketika dilihatnya dua bersau dara Kiong masih berada disana, sambil menarik muka, dia lantas menegur, “Kenapa kalian belum pulang ke gunung? Mau apa menunggu disini? Kalau terjadi sesuatu atas diri kalian, kau suruh aku bagai mana caranya bertemu dengan kakek kalian” “Ilmu berenang yang kami miliki secara dipaksakan masih bisa pula dipakai untuk menghadapi lawan” kata Kiong Gwat hui.

“Tidak bisa!”

Kiong Gwat hui segera menuding kearah Kongsun Peng seraya berteriak manja, “Dia kan belum tentu jauh lebih hebat dari pada diriku, kenapa ia boleh ikut? Hey, Kongsun sauhiap, bagaimana dengan ilmu berenangmu?”

Hoa In-liong segera berpaling ke arah Kongsun Peng sambil mengerdipkan matanya maksudnya dia minta Kongsun Peng sengaja menyombongkan ilmu berenangnya agar bisa menyumbat mulut kakak beradik dari keluarga Kiong itu.

Siapa tahu Kongsun Peng merasa gugup sekali sudah mendengar perkataan dari Kiong Gwat hui, hakekatnya ia sama sekali tidak memperhatikan kerdipan mata dari Hoa In- liong tersebut, dengan wajah merah padam seperti babi panggang dan suara tergagap dia berseru, “Aku sendiripun tak mampu, cuma…..

Tidak menanti ia menyelesailan kata-katanya, Kiong Gwat hui telah tertawa cekikikan karena geli.

Hoa jiko, sudah dengar belum kata katanya itu?” serunya.

Kalau budak ini ribut terus macam begini, entah sampai kapan selesainya… ?” pikir Hoa In-liong.

Maka diapun tidak memaksa mereka untuk pulang lagi.

Sementara itu Goan cing taysu telah berkata sambil tersenyum. “Baiklah! Siapa yang ingin ikut pergi, biarkan ikut perlu, Liong ji juga tak usah menghalangi niat mereka lagi”

Kiong Gwat hui merasa bangga sekali dengan ucapan itu, katanya sambil tertawa.

“Nah, sekarang apa yang hendak Kau katakan lagi?

Bagaimanapun juga Goan cing locianpwe memang lebih adil, sedangkan Hoa jiko jahat dan kurang ajar, hmm! Jangan kau anggap ilmu silatmu sudah melebihi orang lain, kalau ada waktu dilain saat, aku pasti akan menantangmu uatuk berada kepandaian”

Hoa In-liong benar-benar dibuat amat rikuh, tapi Goan cing taysu telah berkata demikian, maka diapun merasa tidak leluasa untuk banyak berbicara lagi.

Sementara itu dalam hati kecilnya dia mulai menyusun rencana, dia bermaksud hendak meminta pertolongan Goan cing taysu untuk memberi petunjuk ilmu silat kepada Kongsun Peng sekalian, selain itu diapun ingin minta bantuan dari orang-orang Cian li kau untuk mengawasi para jago yang agak cetek ilmu silatnya.

Tiba-tiba terdengar Pek Soh gi berkata, “Liong ji, bukankah kau selalu memperhatikan Kok Gi pek, apakah selama in ia tak pernah munculkan diri?”

Hoa In-liong termenung dan berpikir sejenak, kemudian sahutnya”

“Para Ciu Hoa juga tak seorang pun yang menampakkan diri. Aku pikir hal ini tak perlu diherankan, sang kelinci pun mempunyai sarang paling tidak tiga buah, sudah pasti sarang Kok See-piau juga bukan sebuah istana Kiu ci piat kiong di bukit Ci san ini saja, aku tahu kalau ambisinya untuk menguasahi dunia persilatan amat besar, setelah menderita kekalahan jelas mereka akan dibawa kabur ke suatu tempat rahasia untuk menghimpun kekuatan lagi seraya menunggu saat yang baik guna muncul kembali didalam dunia persilatan”

“Aaai……! Tampaknya kecerdasan Kok See-piau satu tingkat jauh lebih dalam bila dibandingkan dengan kawanan iblis lainnya” keluh Cu Im taysu sambil menghela napas.

“Kalau Thian hong mau menuruti perkataanku dan sadari dulu menjagal si bajingan tengik yang cabul itu, sudah pasti dia tak akan berhasil seperti sekarang ini dan menjadi bibit penyakit untuk kita semua” kata Ciu Thian hau dengan suara dingin.

“Tapi sekarang toh masih belum terlalu terlambat” kata Hoa In-liong sambil tertawa paksa.

Sementara pembicaraan masih berlangsung, tiba-tiba ada orang yang datang menyerahkan pedang mestika milik Hoa In-liong yang terjatuh ke dalam lembah tadi beserta senjata

kaitan Pek giok kau milik Thia Siok-bi, buru-buru si anak muda itu mengucapkan terima kasih.

Hari itu udara dia atas lautan amat tenang, ombakpun tidak seberapa besar, sejauh pandangan ke depan, laut dan langit seakan-akan berhubungan antara yang satu dengan lainnya.

Berapa titik perahu layar sedang pelan-pelan bergerak menuju ketengah samudra yang seolah-olah tak pertepian itu.

Setelah bersembahyang untuk arwah Thian Ik-cu yang telah tiada, Hoa In-liong sekalipun berangkat menuju keutara dan menum•pang dalam sebuah perahu amat besar. Pek Siau-thian dan Thia Siok-bi ternyata tidak turut didalam rombongan tersebut.

Pada setiap tiang layar perahu-perahu pihak mereka, semuanya dikibarkan selembar panji hitam yang melukiskan seekor nasa emas yang sedang memantangkan kelima Jari cakarnya, itulah lambang perahu dari Mu Hay yu liang (naga sakti dari empat samudra).

Beng liong sin yang meraja lela sepanjang sungai Tiang sang ke utara, laut kuning laut utara dan sekitarnya.

Berbicara yang sebetulnya, Su Hay yu liong Beng Tiong sin susungguhuya berstatus setengah perampok, ia menarik pajak dari setiap perahu nelayan dan perahu saudagar yang melalui perairannya, cuma andaikata para nelayan itu menghadapi persoalan, merekapun bersedia memberi bantuan dengan melindungi nelayan-nelayan tersebut.

Adapun pajak yang harus dibayar adalah ditentukan oleh para nelayan itu sendiri, jumlahnya tidak terhitung terlampau tinggi dan masih boleh dibilang adil.

Sebaliknya jika terjadi perampokkan didaerah perairannya, maka dia akan menggunakan hitam makan hitam untuk menyikat barang rampasan perampok-perampok lain, sedang bila ada pembesar korup atau saudagar curang yang melalui tempat itu, diapun membegal mereka.

Untung saja sifat orang ini cukup bijaksana, selamanya dia hanya merampas harta, tidak melukai nyawa orang, dengan peraturan nya yang amat ketat, belum pernah anak buahnya melakukan sesuatu perbuatan yang melanggar hukum langit.

Justru karena sifatnya itu, maka para jago dari golongan pendekar pun tiada yang meng gubris perbuatannya itu. Kali ini Hoa In-liong telah mendatangi mereka untuk memohon bantuannya, sebagaimana diketahui, nama keluarga Hoa sudah amat tersohor dalam dunia persilatan waktu itu, apalagi Beng Tiong sin memang sudah menguasai penuh daerah perairan disekitiarnya maka begitu mendapat kunjungan Hoa jiya, buru-buru ia menyambut kedatangannya dengan segala kehormatan.

Ketika maksudnya dikemukakan, sambil menepuk dada, Beng Tiong sin langsung saja menyatakan kesanggupannya.

Bukan saja dia telah menyediakan lima buah perahu perang yang terbagus, bahkan turun tangan sendiri untuk mengiringi keberang katan mereka.

Sesungguhnya Hoa In-liong tidak bermaksud demikian, dia hanya ingin meminjam perahu dan seorang yang hapal dengan daerah pengairan dilaut utara saja hanya sebagai petunjuk jalan, dia tak ingin memaksa orang itu harus bermusuhan secara terbuka dengan pihak Kok See-piau, Bwe Su-yok serta Jin Hian sekalian.

Seng Tiong sio ternyata bersikeras untuk turut serta didalam pergerakan itu, sepintas lalu ia membantu seperti karena didorong nalurinya untuk ikut menegakkan keadilan, padahal sesungguhnya diapun memiliki suatu maksud pribadi.

Sebagaimana diketahui, Pek hay sam liong yang berpihak kepada Jin Hian juga malang melintang dilautan utara selama ini, belum pernah mereka memberi muka kepadanya, setiap kali anak buahnya ketanggor mereka, selalu dihajar sampai kocar kacir tak karuan. Beng Tiong sin cukup menyadari akan keterbatasan ilmu silatnya, maka selama ini dia hanya bisa menerima kenyataan tersebut deegan hati kecut.

Tapi skarang kesempatan baik untuk membalas dendam telah tiba, mungkinkah dia akan melepaskan peluang tersebut dengan begitu saja……?

Apalagi bisa bergaul dengan orang-orang keluarga Hoa merupakan sesuatu kejadian yang pantas dibanggakan dan bisa menambah pamornya di mata orang, sudah barang tentu dengan senang hati permintaan itu segera dikabulkan……

Berlayar diatas lautan sebagian besar adalah tergantung pada hembusan angin, beberapa hari belakangan ini ternyata angin ber- hembas sangat lemah sehingga perahupun berjalan sangat lambat.

Diam-diam Hoa In-liong gelisah sekali menyaksikan kenyataan itu, dia mulai menyesal mengapa harus melakukan pengejaran lewat lautan, coba kalau melalui daratan dengan mendahului didepan musuh, siapa tahu mereka masih memiliki sisa waktu untuk mengadakan persiapan di wilayah Liau tang.

Tapi berulang kali Beng Tiong sin menghibur hatinya, dia berkata bahwa rombongan Jin Hian dan dua perkumpulan lainnya juga tiba disana belum lama, hal tersebut sesungguhnya tak perlu dirisaukan.

Hoa In-liong juga tahu bahwa gelisahpun tak ada gunanya, maka ia pergunukan kesempitan selama beberapa hari ini untuk memperdalam ilmu silat sendiri.

Sementara Kongsun Peng, Yu Siau lam sekalian juga memohon petunjuk ilmu silat dari Coan cing taysu serta Ciu Thian hau sekalian. Dengan senang hati para angkatan tua itu memberi petunjuk sejauh mana mereka butuhkan.

Menjumpai Kesempatan yang demikian baiknya ini, sudah barang tentu para jago muda itu menjadi bersemangat untuk melatih diri, tiap hari mereka memohon petunjuk dan melatihnya siaang malam dengan tekun, tak heran dalam beberapa hari yang amat singkat ini kepandaian silat mereka telahh mendapatkan kemajuan yang amat pesat.

Dalam pada itu, Beng Tiong sin sedang menemani Hoa In- liong sekalian berdiri diujung geladak sambil memandang jauh ke depan.

Tiba-tiba Hoa Ngo berkata, “Liong ji, yakinkah kau bahwa Kok See-piau benar-benar sedang melakukan pengejaran terhadap Jin Hian dan rombongan?”

Mereka masuk kelautan lebih duluan, kita juga sudah mencari kabar sebelum, berangkat, apalagi ada orang yang menyaksikan pihak Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau telah berangkat berlayar menyusul rombongan dari Hong im hwe, masakah hal ini bisa salah lagi?”

Hoa Ngo segera menggelengkan kepalanya berulang kali, dia berkata.

“Seberapa orang itu yang satu jauh lebih licik daripada yang lain tanpa suatu ke yakinan yang kuat, tak mungkin mereka akan masuk kelautan, siapa tahu kalau mereka henya pura-pura berlayar, lalu setelah sampai ditengah jalan secara diam-diam merapat kembali kedaratan……?”

Hoa In liang termenung sebentar lalu jawabnya. “Jin Hian sudah tiada jalan lain yang bisa di tempuh lagi kecuali jalan ini, dia pasti tak akan kembali kedaratan Tionggoan secara diam-diam, sebab hal itu justru akan membahayakan jiwanya. Dalam pertemuan besar Toan wu hwee, seandainya Jin Hian tidak menjegal kaki Kok See-piau dari belakang, usaha Hian-beng-kau untuk menjebak semua jago yang hadir dalam pertemuan itu pasti telah berhasil dengan sukses, dunia persilatanpun mungkin sudah terjatuh ketangannya. Tapi gara-gara Jin Hian semua harapannya buyar seperti terhembus angin, dendam sakit hati sebesar ini tak mungkin bisa dilupakan oleh Kok See-piau, malah mungkin dia belum akan puas sebelum mencincang dagingnya dan menghirup darahnya, coba di pikirlah sendiri, masa dia akan melepaskan musuh besarnya itu dengan begitu saja?”

Setelah berhenti sejenak, dia menambahkan.

“Apalagi bertarung diatas lautan, pihak mereka jauh lebih beruntung posisinya daripada orang lain”

“Kalau memang demikian, mengapa setelah kita kejar selama beberapa hari, masih belum tampak juga jejak mereka?” seru Hoa Ngo dengan mata melotot.

Bong Pay segera tertawa, selanya, “Ngo te apakah kau tidak merasa terlalu terburu napsu?”

Mendadak Hoa In-liong berteriak keras, “Lihat! Didepan sana ada perahu!”

“Yaa, besar kemungkinan perahu itu adalah perahu orang- orang Hian-beng-kau serta Kiu-im-kau.

Beng Tiong sin setengah percaya setengah tidak ketika mendengar seruan itu sebab ia belum mendapat laporan dari petugasnya yang berada diatas tiang, bisiknya kemudian” “Aaai, benarkah itu?”

Cepat dia mengeluarkan sebuah teropong dan memeriksa keadaan didepan sana, “betul juga, diujung laut sebelah depan sana kelihatan ada beberapa titik hitam yang bergerak- gerak seperti perahu.

Hal mana segera mengejutkan hatinya, pikirnya kemudian, “Heran, padahal jarak dari sini sampai ke situ masih jauh sekali, mengapa dengan mata telanjang mereka bisa menangkap titik se kecil itu? Pada hal aku yang melihat dengan teropongpun memakan waktu yang cukup lama?”

Sifat kekanak-kanakan Coa Wi-wi belum hilang, ketika dilihatnya Beng Tiong sin menempelkan matanya pada sebuah benda lonjong untuk memandang ke tempat kejauhan, tanpa terasa dia bertanya”.

“Eeeh. ….benda apa sih itu? Bolehkah meminjamkannya kepadaku sebentar…..?”

Beng Tiong sin tentu saja tak berani menampik, sambil menyerahkan teropong itu sahutnya sambil tertawa, “Benda ini bernama Cian li king (teropong seribu li) datang dari Persia, kegunaannya bisa mendekatkan benda yang berada ditempat kejauhan, bila nona suka dengan benda itu, ambil saja, aku masih memiliki beberapa buah lagi”

“Ooh…sesuatu yang luar biasa, coba aku lihat kata Coa Wi- wi tertawa.

Dia lantas menempelkan matanya pada ujung teropong dan melongok ke depan, mendadak jeritnya, “Enci In, Enci Lian, enci Hui, kalian cepat kemari, betul juga, kita bisa melihat benda didepan sana dengan jelas. Sesudah berhenti sejenak, katanya lagi.

“Haah, betul juga! Didepan situ ada perahunya, satu, dua, tiga…..semuanya berjumlah delapan, diatas tiang bendera berkibar sebuah panji dengan sulaman……”

“Haahhh…..haaahhhh….haaahhh…..pasti sulaman kepala setan” sambung Hoa In-liong.

“Betul!” sahut Coa Wi-wi sambil manggut-manggut. “enci In, aai….kheki betul aku, sudah dipanggil-panggil

kenapa belum datang juga?”

Menyaksikan kepolosan dan kelincahan si nona yang cantik dan menarik itu, semua orang merasa hatinya lega dan nyaman, tanpa terasa semua orang ikut tersenyum.

Beng Tiong sin diam-diam merasa keheranan lagi, dengan teropong tersebut dia cuma bisa mengenali titik-titik hitam tersebut sebagai perahu, kenapa gadis itu bisa melihat lambang diatas panji perahu depan?

Sesungguhnya ia sudah memandang Coa Wi-wi terlalu rendah, ia tidak percaya kalau gadis secantik ini memiliki ilmu silat yang amat luar biasa, apalagi memiliki ketajaman mata yang berlipat kali lebih tajam dari manusia biasa.

Tiba-tiba terdengar kelasi yang berada di atas tiang berteriak keras, “Sebelah utara condong ketimur delapan derajat ada perahu, kurang lebih….. “

Ngo can, tak usah berbicara lagi!” bentak Beng liong sin keras-keras. Orang yang berada diatas tiang itu segera tutup mulut dengan ketakutan bercampur keheranan, ia tak habis mengerti kenapa Beng liong sin gusar kepadanya.

Terdengar Beng Tiong sin berguman lagi setengah menggerutu, “Goblok! Orang lain sudah melihat dengan jelas, kau masih cerewet melulu. …”

Tiba-tiba Coa Wi-wi menyodorkan teropong Tian li cing tersebut kepada Hoa In-liong, kataanya, “Jiko, kau juga lihatlah dengan benda ini”

“Haaahh…..haaahh……haahh……tidak usah” sahut Hoa In- liong sambil tertawa terbahak-bahak, “ketika aku ulang tahun yang kesepuluh, ada orang menghadiahkan sebuah teropong cian li cing tersebut untuk ku, waktu itu aku membawanya setiap hari untuk bermain, tapi akhirnya aku menjadi jemu sendiri”

“Huuh, tidak mau melihat yaa sudah” seru Coa Wi-wi sambil mencibirkan bibirnya yang kecil.

Dia lantas berpaling, ketika dilihatnya Cia In sekalian sedang keluar dari ruang perahu, ia lantas berteriak, “Enci In, cepat kau lihat!”

Cia In tak tega untuk menampik maksud hatinya, maka diapun menerima teropong itu dan melihat sebentar, kemudian katanya hambar, “Ehmm, betul juga!”

Dia lantas sodorkan ke tangan Kiong Gwat hui, setelah melirik sekejap ke arah Hoa In-liong, diapun berjalan menuju ke buritan kapal. Sementara itu gadis lainnya sedang saling berebut untuk melihat sambil tertawa cekikikan, suara pembicaraan mereka yang ribut membuat suasana bertambah ramai.

Coa Wi-wi malah sebaliknya, tidak tertarik lagi, dia mengejar ke mana Cia In pergi.

Hoa In-liong melirik sekejap ke arahnya dengan mulut membungkam, dihati kecilnya diam-diam ia menghela napas.

Mendadak ia tidak menjumpai Kiong Gwat hui hadir disitu, segera pikirnya dalam hati, “Keramaian apapun pasti diikuti budak ini, mengapa kali ini terkecuali?”

Sesudah termenung sejenak, ia lantas memburu ke sisi perahu untuk mencari jejaknya, disuau tempat yang tertutup akhirnya ia menjumpai Kiong Gwat hui dan Kongsun Peng sedang duduk berdampingan dan bercakap-cakap dengan suara lirih, sikap mereka kelihatan amat mesra.

Dia-diam ia merasa girang sekali setelah menyaksikan keadaan itu, ia tidak mengganggu mereka berdua dan cepat kembali ke geladak, kepada Beng Tiong sin katanya, “Beng tangkah, tahukah kau sampai kapan kita baru berhasil menyusul perahu dari pihak Kiu-im-kau itu?”

Beng Tiong sin berpaling dan memeriksa sejenak, kemudian sahutnya.

“Paling tidak juga satu hari lagi!” Mendengar itu Hoa In-liong lantas berpikir.

“Cuma jarak perjalanan sedekat inipun membutuhkan waktu yang begini lama, betul-betul bikin hati orang menjadi jemu rasanya “Hoa Kongu!” terdengar Beng Tiong sin berkata lagi, “meskipun perahu musuh sudah kelihatan, tapi jarak kita paling tidak juga masih lima enam puluh li, bila ada angin dalam tiga empat jam kita sudah bisa menyusul mereka, tapi tanpa angin seperti sekarang ini, seharipun belum tentu bisa menyusul mereka, itu menurut perhitungan dengan perahu milik aku orang she Beng, coba kalau perahu biasa, hal ini tak mungkin bisa dilakukan”

“Aku juga tahu kalau perjalanan di laut tidak sama dengan perjalanan didarat” kata Hoa In-liong sambil tertawa, “aku mah belum sampai sebodoh itu”

Tiba-tiba angin sejuk berhembus lewat, membuat orang merasa lega dan semua kemangkelan serasa lenyap tak berbekas.

Beng Tiong sin menjadi kegirangan serunya cepat, “Bila hembusan angin ini tidak berhenti, tak sampai setengah harian, kita sudah akan berhasil menyusul mereka”

Selama beberapa bari belakangan ini hanya saat sekarang merupakan saat yang paling menggembirakan, Siau yau sian Cu Thong yang baru sembuh dari lukanya merasa kesal setelah mengurung diri selama beberapa hari dalam ruangan, saat itu diapun sudah keluar dari ruangan dan bercakap-cakap dengan Cia Thian hau serta Cu Im taysu sekalian diatas loteng perahu.

Sementara itu Coa Wi-wi yang menyusul Cia In berhasil menemukan gadis itu ada disisi kiri perahu sambil bermuram durja, waktu itu ia sedang memandang hutan nan hijau dikejauhan sana sambil termangu-mangu.

Dengan kening berkerut segera sapanya, “Enci In! Cia In terkejut dan segera berpaling, “Adik wi, kau sedang memanggil aku?” tegurnya.

Aaaii ….! Coa Wi-wi menghela napas panjang sambil menghampirinya, kenapa sih enci In begitu murung? Sungguh membuat aku ikut merasa sedih dan kesal!”

Cia In mersa amat terharu sekali, sambil membenahi rambutnya yang kacau terhembus angin, ia menghela napas, katanya, “Perhatian adik Wi sangat mengharukan hatiku, cuma…..aaai! Darimana kau bisa mengetahui isi hatiku”

“Tidak, aku tahu, enci In tentunya disebabkan….. “Gadis ini terlalu pintar”

Cia In segera berpikir, lebih baik jangan kuucapkan kata- kata yang susah dihadap…..

Berpikir demikian, sambil tertawa dia lantas menukas, “Isi hatiku adalah ingin melihat kau dan jiko kawin serta hidup secara berbahagia sepanjang waktu, dengan begitu aku pun bisa berlega hati”

Merah padam selembar wajah Coa Wi-wi karena jengah, katanya, “Akupun tahu kalau enci In sangat baik kepadaku, cuma isi hati enci In sudah jelas bukan…”

“Apa yang barusan kukatakan, sesungguhnya memang benar-benar merupakan isi hati enci In, cuma,… aku

memang masih ada isi hati lain yang belum diucapkan” “Lantas apakah isi hatimu itu?” “Enci In sudah mulai jemu dan muak menghadapi dendam dan saling bunuh membunuh yang terjadi didalam dunia ini, enci bertekad untuk cukur rambut menjadi pendeta, tapi budi kebaikan guruku yang telah mendidik aku selama ini lebih tebal dari langit, bagaimanapun juga aku merasa tak tega untuk mengutarakannya keluar”

Coa Wi-wi menjadi tertegun sehabis mendengar perkataan itu, tiba-tiba ia mendongakkan kepalanya seraya berseru, “Bibi Ku, bibi Pui, ucapan enci In toh sudah kalian dengar, mengapa kalian berdua tidak munculkan diri untuk membujuknya?”

Baru saja Cia In tertegun, tampak Tiang heng Tokoh dan Pui Che-giok telah melayang datang.

Pui Che-giok segera menghela napas panjang, katanya, “In ji, jadi kau tak mau meneruskan warisan perguruan kita ini?”

Tiba-tiba Cia In menjatuhkan diri berlutut, dengan air mata bercucuran katanya.

“Harap suhu bersedia mengampuni dosa tecu, tecu benar- benar ingin mengikuti supek untuk belajar agama”

Dengan kening berkerut Tiang heng tokoh berkata, “Bertapa bukan sesuatu yang boleh dianggap sebagai bahan permainan, belum tentu kau bisa tahan untuk hidup terpencil dan jauh dari keramaian dunia, buat apa sih kau musti menyiksa diri?”

“In ji pasti bisa menerima semua penderitaan tersebut, harap supek mau mengabulkan permintaanku ini” rengek Cia In sedih. “Untuk dibicarakan memang gampang, tapi sukar untuk dilaksanakan. Kau bangunlah lebih dulu, persoalan ini bisa kita rundingkan kembali dikemudian hari”

Tapi Cia In tetap berlutut diatas tanah. “Supek, kumohon kau orang tua bersedia memenuhi keinginan In ji ini”  pintanya. Tiang heng Tokoh mengerutkan dahinya, tapi setelah berpikir sebentar, tiba-tiba ia tersenyum, sambil membangunkan gadis itu katanya, “Keinginanmu itu supek tak mungkin bisa memenuhinya, tapi kalau keinginanmu yang lain, mungkin juga supek bisa mengusahakan agar berhasil…….”

Mula-mula Cia In agak tertegun, kemudian merah padam selembar wajahnya karena jengah, dia ingin membantah tapi kuatir semakin dibantah keadaannya semakin runyam, setelah gelagapan sendiri, akhirnya sambil mendepakkan kaki ke lantai, dia menyelinap masuk kedalam ruangan.

Menyaksikan kesemuanya itu, Pui Che-giok gelengkan kepalanya berulang kali sambil bergumam dengan suara lirih.

“Aaai…..!Siapa yang terlalu romantis, akhirnya pasti akan menanggung kekecewaan, tapi…..berapa orang didunia ini yang bisa terlepas dari soal cinta?”

Tiba-tiba terdengar suara dari Goan cing taysu bergema datang.

“Buddna maha pengasih datang kedunia dengan membawa kasih dan cinta, tak mungkin dunia ini kehilangan cinta, bila tak mampu dilakukan, janganlah terlalu memaksakan, sesuatu yang terlalu dipaksakan akan berakibat kurang nenyenangkan, mengerti kah kalian Heng toyu, dan Pui kaucu……?” Dengan terkejut kedua orang itu berkerling, entah sedari kapan tahu-tahu Goan cing taysu telah berdiri dibelakang mereka.

Tiang heng Tokoh menggerakkan bibirnya seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian niat tersebut diurungkan.

Sedangkan Pui Che-giok hanya berdiri tertegun seperti tak tahu apa yang mesti dikatakan.

Coa Wi-wi pun berdiri tertegun seperti mengerti seperti juga tidak, untuk sesaat suasana menjadi amat hening., Setelah melakukan pengejaran hampir satu jam lamanya, Hoa In-liong sekalian menjumpai lebih kurang dua tiga puluh li didepan barisan perahu-perahu Kiu im kiu terdapat rombongan perahu lain, mungkin itulah perahu yang ditumpangi Jin Hian sekalian.

Menjelang tengah hari, perahu yang di tumpangi Hoa In- liong sudah berada hanya sebelas dua belas li dari perahu- perahu Kiu-im-kau, sebaliknya perahu yang ditumpangi Jin Hian sekalian tinggal sepuluh li dari perahu utama dari pihak Kiu-im-kau.

Jauh diujung depan sana, diwilayah sebelah utara tampak daratan nan hijau telah terbentang didepan mata, ternyata kejar mengejar yang berlangsung selama beberapa hari ini telah membawa ketiga pihak rombongan itu semakin mendekati wilayah Lian tang.

Ditengah samudra yang luas, para jago dari ketiga belah pihak mulai dapat menyaksikan gerak-gerik musuh diatas perahu masing-masing. “Diatas kelima buah perahu besar milik Beng Tiong sin dilengkapi pula dengan meriam-meriam besar, empat diperahu utama dan dua diperahu lainya.

Pada waktu itu belasan lelaki kekar yang bertubuh tegap sedang menggosok meriam, mengangkut musiu, mengisi meriam dan sibuk bekerja tampak peluh telah membasahi tubuh orang-orang itu.

Tiba-tiba Hoa In-liong menjumpai pada setiap buritan perahu perahu Kiu-im-kau juga dilengkapi dengan sebuah meriam, dua orang lelaki berbaju hitam yang membawa obor berdiri serius disisi meriam tersebut.

Menyaksikan ketenangan orang-orang itu serta bentuk meriam yang jauh lebih besar dan menyeramkan itu, satu ingatan segera melintas dalam benak anak muda itu, pikirnya, “Agaknya gelagat tidak menguntungkan bila dilihat dari keadaan mereka, rupanya pihak Kiu-im-kau telah mempunyai rencana yang cukup matang, jauh berbeda dari pihak kami yang menjadi repot setelah persoalan menjelang didepan mata …”

Berpikir demikian, dia lantas bertanya kepada Beng Tiong sin, “Beng tangkeh, meriam-meriam mu itu bisa mencapai jarak berapa jauh…..?

Tanpa berpikir panjang Beng Tiong sin segera menjawab, “Kurang lebih tiga li, paling jauh pun bisa mencapai empat li”

“Lantas berapa jauh jarak yang bisa dicapai oleh meriam- meriam pihak Kiu-im-kau? Apakah Beng tangkeh bisa memberi ancer-ancernya?” Beng Tiong sin segera mengeluarkan teropongnya dan memeriksa sebentar, dia ia merasa amat terkejut tadi diluar, jawabnya, “Meriam diatas perahu ku ini termasuk meriam kelas satu, aku pikir belum tentu meriam- meriam Kiu-im-kau bisa menandingi kami”

Hoa In-liong segera tersenyum, ujarnya kemudian, “Aku lihat ada baiknya kita jangan beradu meriam dengan mereka, cari saja akal lain untuk beradu kekuatan dengan mereka, entah bagaimana menurut pendapat Beng tangkeh?”

“Tidak usah” jawab Beng Tiong sin dengan angkuh, “sekalipun harus berduel mati-matian, aku percaya meriam kita tak akan kalah dari meriam-meriam lawan”

Sejak terjun ke dalam dunia persilatan, pengalaman yang dimiliki Hoa In-liong sudah memperoleh kemajuan yang pesat, melihat keyakinan orang ini, dia lantas tahu jika pembicaraan dilanjutkan, bisa jadi orang akan salah mengira dirinya memandang hina, oleh sebab itu dia cuma tertawa hambar dan tidak berbicara lagi.

Sebenarnya perahu-perahu dari ketiga belah pihak berlayar dengan cara beriring, akan tetapi setelah menemukan jejak musuh mereka segera memerintahkan perahu di belakang untuk menyusul ke depan dan berganti formasi menjadi berlayar berjajar.

Hoa In-liong memperhatikan perahu-perahu di pihak Jin Hian sana, ia menyaksikan Jin Hian telah muncul dari ruang perahunya untuk memeriksa keadaan, tapi tidak nampak Bwe Su-yok maupun Kok See-piau muncul dari ruang perahunya.

Melihat itu, pemuda kita lantas berpikir.

“Berada dalam keadaan seperti ini, Kiu-im-kau terpaksa akan menghadapi dua arena pertarungan sekaligus, kenapa Bwe Su-yok begitu gegabah tanpa munculkan diri untuk melakukan pemeriksaan?” Bukankah tindakan ini kurang cerdas?”

Baru selesai berpikir, tiba-tiba dari buritan sebuah perahu Kiu-im-kau berjalan keluar seorang gadis berwajah dingin yang membawa sebuah tongkat berkepala setan, orang itu tak lain adalah Kiu in kaucu Bwe Su-yok.

Disampingnya mengikuti pula Un yong ciau, Kek tian tok sekalian. Menyusul kemudian dari perahu sebelah kiri kanannya segera bermunculan pula Kok See-piau, Che Thian hua, Gi Tang cuan sekalian jago-jago dari Hian-beng-kau.

Dengan sepasang biji matanya yang Jeli, Bwe Su-yok memperhatikan sekejap perahu yang ditumpangi Hoa In-liong kemudian sambil tertawa dingin katanya, Hoa In-liong kenapa kau bukan datang seorang diri, tapi mengajak begitu banyak orang untuk mengiringi kematianmu bersama?

“Menang kalah belum ditentukan, lebih baik kau jangan keburu bersenang hati lebih dahulu” sahut Hoa In-liong hambar.

Setelah berhenti Sejenak, tambahnya, “Bagaimana dengan Si Leng jin dan pelayannya?”

Tiba-tiba muncul perasaan dengki dalam hati Bwe Su-yok, dengan dingin, ia menjawab, “Budak itu terlalu keras kepala, tak menuruti perkataanku, karena marah aku telah membuang mereka ke dalam lautan sebagai umpan ikan”

Meskipun tidak percaya, agak tergetar juga perasaan Hoa In-liong setelah mendengar perkataan itu, bentaknya segera, “Sungguhkah perkataanmu itu?”

“Tentu saja sungguh!” Diam-diam Hoa In-liong segera berpikir kembali.

“Makin lama budak ini semakin sok lagaknya, aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepadanya, sialan!”

Tiba-tiba terdengar Kok See-piau terseru sambil tertawa, “Bwe kaucu buat apa kau musti banyak bicara dengan kawanan manusia yang sudah hampir mampus itu? Lebih baik cepat-cepat dihantar pulang ke langit barat saja kan beres”

“Hmm, tidak akan semudah itu kawan!” teriak Beng tiong Jin dengan suara lantang.

Dalam pada itu, perahu masing-masing sudah berada pada jarak lima enam li dari perahu lawan.

Buat jago-jago lihay seperti Hoa In-liong, Kok See-piau dan sekalian jago lainnya berbicara dalam jarak sejauh ini masih bukan menjadi persoalan, tapi Beng Tiong sin harus mengerahkan tenaga yang cukup besar untuk mengutarakan kata-kata tersebut, itupun sebagian besar diantaranya buyar terhembus angin, sehingga apa yang dia ka takan hakekatnya tidak terlalu jelas.

Agaknya Bwe Su-yok maupun Kok See-piau berdua juga bisa menduga kedudukannya dalam perahu, kedua orang itu hanya menjengek sinis dan sama sekali tidak menggubris.

Tiba-tiba Lei Kiu-it dari Kiu-im-kau berseru lantang, “Seng Tiong sin, kau tak lebih cuma seorang perampok, berani betul berlagak sok dengan mengandalkan keluarga Hoa, Hmm!

Sebentar akan kubekuk dirimu dan suruh kau merasakan bagaimana enaknya disiksa oleh pun thamcu, agar kolong langit tahu bagaimana akibatnya jika ada orang berani bermusuhan dengan Kui im kaucu” Setelah Beng Tiong sin mendengar ancaman lei Kiu-it yang menyeramkan itu, apalagi membayangkan kalau musuhnya adalah seorang gembong iblis, andaikata pihak pendekar membiarkan musuh terlepas seorang saja, itu berarti dirinya akan tewas tanpa tempat kubur, tanpa sadar ia menjadi bersin berulang kali dan membungkam dalam seribu bahasa.

Ketika para gadis dari Cian li kau menyaksikan orang itu terbungkam setelah bersikap sok gagah menjadi geli dan sama-sama tertawa.

Hoa In-liong segera melotot sekejap ke arah mereka, kemudian seraya berpaling katanya lantang, “Beng Tongkeh bersedia meminjamkan perahunya lantaran atas permintaan dari aku orang she Hoa, Kiu-im-kau dan Hian-beng-kau adalah kumpulan orang gagah, mereka pasti tak akan membuat susahnya dirimu, selama keluarga Hoa masih utuh, pokoknya partai-partai tersebut tak akan menganggu seujung rambut Beng tongkeh, bila Lei tiamcu ada persoalan, silahkan diutarakan secara langsung kepadaku”

Mendengar ucapan tersebut, dengan perasaan berterima kasih, Beng Tiong sin melirik sekejap kearah Hoa In-liong.

Kok See-piau segera tertawa dingin, ujarnya, “Orang she Hoa, kau ini ibaratnya patung dewa terbuat dari lumpur yang ingin menyeberangi sungai, untuk melindungi diri sendiri saja sudah sulit, apa gunanya kau musti cabangkan pikiran untuk menguasahi keselamatan orang lain”

Sementara pembicaraan berlangsung, selisih jarak kedua belah pihak lebih mendekati hampir satu li lagi.

Tiba-tiba Bwe Su-yok tertawa dingin, tangannya lantas diulapkan memberi tanda. Seorang lelaki kekar yang berada disisinya segera mengeluarkan terompet keong dan meniupnya bertaut-taut.

Pekikan panjang yang berat dan kasar berkumandang membelah angkasa, suara tersebut begitu keras hingga tersiar sampai ditempat kejauhan.

Belum lagi suara terompet itu selesai berbunyi, tiba-tiba dari atas perahu Kiu-im-kau melintas cahaya api, menyusul kemudian terdengar bunyi menggelegar yang amat memekikkan telinga.

“Celaka…bunyi meriam!” pekik semua orang dihati.

Ketika ledakan dahsyat itu menggelegar, peluru meriam yang ditembakkan dari perahu lawan segera meluncur ke depan dan meledak diatas air, suatu gelombang dahsyat segera terjadi, butiran air memancar setinggi tiang dan menyebar sampai empat lima kaki jauhnya, banyak orang yang basah kuyup bajunya akibat kejadian itu.

Perahu yang berada disebalah barat terkena tembakan yang mengakibatkan tiang layar mereka terjilat api, penumpangnya menjadi panik dan bekerja keras untuk memadamkan kebakaran yang lebih membesar, dengan susah payah api berhasil dipadamkan, tapi dengan patahya tiang layang utama, perahu itu menjadi melambat, untung saja yang terkena bukan lambung perahu sehingga keselamatannya tak sampai terancam.

Beng Tiong sin marah sekali setelah menyaksi kan kejadian itu dia segera turunkan perintah untuk balas melancarkan serangan dengan meriamnya, sayang waktu itu jaraknya masih ada empat li lebih, sehingga peluru-peluru yang ditembakkan segera terjatuh keair ketika tiba beberapa kaki dibelakang sasaran, sekalipun gagal menghajar perahu musuh, tapi akibatnya cukup membuat tim bulnya gelombang yang amat dahsyat.

Pihak Kiu-im-kau kembali melancarkan tembakan meriam, kali ini sasarannya adalah perahu di sayap kiri Beng Tiong sin, perahu tersebut terkena tembakan dan meledak, tubuh perahu merekah dan muncul sebuah lubang besar, air laut segera masuk kedasar ruangan, ini membuat penumpangnya harus menolong segera tergesa-gesa, sayang lubang bekas tembakan itu terlalu besar, sekalipun disumbat dengan kain selimut, toh akhirnya tertembus juga oleh arus air

Beng Tiong sin betul-betul merasa gusar, ia merampas sebatang obor dan menyulut sendiri api meriamnya, kali ini tembakan tersebut menghajar di sisi perahu Kiu-im-kau yang mengakibatkan tubuh perahu lawan retak, tapi lubang itu segera bisa disumbat untuk melanjutkan perjalanan.

Hoa ln liong yang menyaksikan kejadian ini segera berkerut kening, dia tahu jika pertempuran diteruskan, kendatipun beberapa buah perahu lawan berhasil ditenggelamkan, paling tidak pihak mereka akan tertumpas semua, yang berilmu tinggi mungkin saja masih bisa selamat, tapi mereka yang rendah ilmu silatnya sudah pasti akan tenggelam berikut perahu yang mereka tumpangi.

Maka buru-buru dia berseru, Turunkan layar utama, kurangi kecepatan!”

Beng Tiong sin segera memerintahkan anak buahnya untuk melaksanakan perintah itu, sebab perkataan dari Hoa In-liong sama seperti perintah pribadinya, maka tak ada seorang kelasipun yang berani membangkang, cepat-cepat mereka bekerja keras dan menurunkan layar utama. Dengan diturunkannya layar layar utama tersebut, gerak laju ke empat perahu itupun semakin berkurang.

Pihak Kiu-im-kau rupanya belum puas dengan hasil yang dicapai, tembakan-tembakan meriam mereka masih berlangsung dengan gencar, bunyi menggelegar yang memekakkan telinga serta muncratan air laut setinggi bukit membuat pemandangan disana bertambah menyeramkan.

Tiba-tiba sebuah tembakan meriam ditujukan ke arah ujung perahu yang ditumpangi oleh Hoa In-liong sekalian.

Sambaran peluru meriam itu cepatnya sukar dilukisan dengan kata-kata, untung saja Hoa In-liong memiliki tenaga dalam yang cukup sempurna, tangannya segera digetarkan, sekeping uang perak segera disambit kearah depan dan tepat mengena diatas peluru meriam tersebut lebih kurang tujuh kaki dari sasaran.

Suatu ledakan dahsyat yang amat memekikkan telinga menggelegar di udara, para kelasi tersebut sama-sama roboh terjengkang keatas geladak, meskipun peluru meriam itu meledak ditengah jalan, tapi ledakan tersebut cukup mengakibatkan timbulnya pecahan baja yang menyebar ke empat penjuru dengan kekuatan dahsyat.

Goan cing taysu cepat bertindak dengan mergebaskan ujung bajunya, menyusul kemudian Ciu Thian hua, Cu Im taysu dan Cu thong sama-sama membentak keras, enam buah telapak tangan mereka bersama- sama diayunkan ke depan melepaskan sebuah pukulan dahsyat yang luar biasa sekali.

Dalam waktu singkat pecahan baja akibat dari ledakan peluru meriam itu berhasil dihantam sehingga terpental ke depan dan jatuh ke dalam lautan. Anak buah Beng Tiong sin belum pernah menyaksikannya, sekarang dalam kejut dan tertegunnya mereka semakin menaruh hormat ke pada Hoa In-liong sekalian yang kini dipandangangnya melebihi malaikat.

Sementara itu, Kok See-piau yang menyaksikan kejadian itu diam-diam berpekik sayang sedangkan Cho Thian hau segera bereru sambil tertawa terbahak-bahak, “!Haaah….haaah……haaahh….bocah dari keluarga Hoa, Goan cing, untung saja lohu tak jadi kehilangan dua orang lawan tangguh seperti kalian!”

Bwe Su-yok sendiripun diam-diam mengucurkan peluh dingin karena kaget, diam-diam ia merasa gusar sekali, pikirnya, “Aku hanya menitahkan kepada mereka untuk menembaki ke empat perahu yang berada di kiri kanannya, siapa yang begitu bernyali berani melanggar perintahku?”

Bibirnya baru saja bergetar hendak menegar, tiba-tiba satu ingatan lain melintas pula dalam benaknya, “Melepaskan tembakan meriam dari atas perahu bukan sesuatu yang gampang, dan lagi perahunya juga turut bergerak kian kemari, tak bisa disangkal kalau suatu kesalahan mungkin bisa terjadi, lebih baik aku tak usah berkaok-kaok, kalau sampai semua orang tahu akan hal ini, urusan malah bertambah runyam!”

Berpikir demikian dia lantas menahan diri untuk tidak berteriak lagi.

Dalam waktu singkat, selisih jarak perahu-perahu ke dua belah pihak telah terpisah sejauh lima enam li, dalam keadaan begini peluru peluru meriam tak bisa menjangkau.

Dalam pada itu perahu yang terkena tembakan tadi sekarang sudah tenggelam separuh, sekalipun belum tenggelam meluruhnya namun para penumpang perahu itu memandang perahu mereka melebihi nyawa sendiri, sebelum mendapat perintah dari Beng Tiong sin untuk meniggalkan perahu, mereka tidak berani bertindak ssembarangan, orang- orang diperahu itu kelihatan masih sibuk berusaha menyelamakan perahunya.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian segera berkata, “Beng tangkeh, turunkan perintah agar orang-orang diperahu itu segera menyelamatkan diri!”

Agaknya Beng Tiong sin juga merasakan bshwa perahu tersebut tak bisa diselamatkan lagi, terpaksa dia berteriak, “Semuanya, cepat tinggalkan perahu untuk mencari selamat, gunakan perahu-perahu penyelamat untuk berpindah perahu, beritahu kepada Li Tiong, tak menjadi soal biar perahu mereka untuk bergerak pelan-pelan di belakang sana.

Dari atas perahu itu kedengaran ada orang yang mengiakan, menyusul kemudian sampan-sampan penyelamat diturunkan ke air, para penumpang perahu pun bersama-sama turun ke sampan kecil itu untuk menyelamatkan diri.

Baru saja mereka selesai bekerja, perahu yang terkena tembakan itu sudah makin tenggelam, kini tinggal tiga jengkal saja dari permukaan air.

Menanti sampai sampan kecil itu mulai mereka dayung pergi, perahu pertang yang besar itu tiba-tiba tenggelam ke dasar laut dengan menimbulkan gelombang yang cukup besar, andaikata terlambat satu detik saja niscaya sampan-sampan kecil itu berikut orangnya akan turut tenggelam kedasar laut.

Begitu tegang dan berbahayanya suasana waktu itu, membuat para jago yang menyaksikan turut mengucurkan peluh dingin. Tiba-tiba bunyi tembakan meriam dari armada perahu lawan mulai berdentuman lagi, percikan api dan muncratan air tampak berhamburan jauh di muka sana, rupanya dari pihak Kiu-im-kau dengan pihak Hong im hwe telah terlibat dalam suatu duel meriam pula.

Sementara itu sampan-sampan penyelamat tadi secara terpisah bergerak menuju ketiga buah perahu besar lainya, buru-buru Beng Tiong sin memerintahkan untuk menurunkan tangga tali agar orang-orang didalam sampan kecil itu bisa naik keatas perahu.

Menyaksikan kejadian tersebut, semua orang hanya bisa mengeluh, dari lima buah perahu yang berangkat, sebuah tertembak hingga tenggelam, yang sebuah terkocar-kacir sampai keadaannya tertinggal jauh. Beng Tiong sin yang melihat hal ini amat gemas dan mendendam.

Hoa In-liong segera menghibur hatinya yang risau itu, “Beng tangkeh, buat apa kau musti marah, biarpun dalam pertarungan babak pertama pihak mereka yang menang, toh akhirnya siapa yang bakal menang siapa yang bakal kalah masih belum tahu, pokoknya kalau terjadi kerugian aku semua yang mengganti”

Mendengar itu Beng Tiong sin segera tertawa terbahak- bahak.

“Haaahh…….haaahh……haaahh……Hoa kongcu terlalu pandang rendah diriku” serunya, “betu1 aku orang she Beng bukan orang kaya, tapi kalau cuma beberapa buah perahu sih belum ku pandang sebelah mata pun, yang menjadi persoalan sekarang adalah rasa mangkelku yang tak tertahan rasanya”

Bong Pay segera tertawa, katanya, “Kalah menang adalah suatu kejadian yang lumrah dalam setiap pertempuran, apa lagi bukan kepandaian asli yang diadu, kenapa kau musti risaukan ataupun murung, cuma kau memang bertindak terlalu gegabah sedikit, coba kalau kau turuti perkataan Liong ji, mungkin tidak begini akibatnya”

Beng Tiong sin segera menghela napas panjang.

“Aaai ….! Betul juga perkataan itu, padahal Hoa kongcu telah memperingatkan aku, adalah aku orang she Beng sendiri yang terlalu keras kepala sehinnga mengakibatkan terjadinya keadaan ini, setelah Bong tayhiap menyinggungnya, aku menjadi bertambah malu rasanya”

Hoa Ngo memandang sekejap pertempuran meriam yang sedang berlangsung antara Kiu-im-kau dengan Hong im hwe didepan sana, kemudian katanya dengan suara dalam, “Tampaknya Bwe Su-yok hendak membereskan Jin Hian lebih dahulu kemudian baru menghadapi kita, masakah kita hanya akan berpeluk tangan menonton keramaian belaka?”

“Sekalipun kita sudah terkena tembakan dari pihak Kiu-im- kau sehinga satu perahu kita tenggelam dan sebuah perahu rusak berat, tapi tak seorang jago pun yang menderita luka, kekuatan kita masih belum berkurang, hanya aku pikir bila mendekatkan perahu kita dengan mereka, hal ini kurang menguntungkan”

“Aaahh…,omong kosong!” seru Hoa Ngo ketus.

“Kita toh tak bisa menunggu sampai pihak Kiu-im-kau datang menyerang kita” seru Cu Thong pula.

Hoa In-liong segera tersenyum katanya, “Tentu saja, maka dari itu kita harus mencari akal lain, menurut pendapat boan pwe, harap cianpwe sekalian dengan menumpang sampan secara terang-terangan menye rang musuh, sedangkan siautit dengan jalan berenang akan melakukan sergapan, entah bagaimana menurut pendapat para cianpwe sekalian?”

“Jiko, apakah kali memiliki kemampuan untuk berenang sejauh itu?” seru Coa Wi-wi kuatir.

Hoa ln liong kembali tertawa. “Aku rasa tidak menjadi soal!” sahutnya. Dalam perundingan itu, semua orang merasa rencana penyergapan tersebut terhitung juga sebagai suatu cara yang bisa dilaksanakan, maka merekapun tidak sangsi lagi untuk segera melaksanakamya.

Dalam pada itu pertempuran diatas laut antara Kiu-im-kau melawan Hong im hwe telah diketahui siapa pemenangnya dalam waktu singkat.

Bunyi tembakan meriam sudah kian bertambah jarang, tapi jilatan api yang membumbung tinggi ke angkasa terjadi di depan sana, keenam buah perahu Hong im hwe yang terlibat dalam pertempuran itu, ada ju ga diantaranya yang sudah terkena tembakan yang mengakibatkan terjadinya kebakaran hebat.

Para penumpangnya menjadi panik dan sama-sama berebut naik ke atas sampan penyelamat untuk menyelamatkan diri, bahkan ada pula yang saking gugupnya sampai tercebur ke laut, tapi dalam suasana begini siapapu tak mau tahu urusan orang Lain.

Dari pihak Kiu-im-kau sendiri ada dua buah perahu yang terkena tembakan dan pelan-pelan tenggelam, tapi anggota Kiu-im-kau sudah terbiasa dalam pertempuran laut, dengan teratur dan sama sekali tidak kacau balau, mereka bersama menyelamatkan diri ke atas perahu lainnya. Hasil dari perrempuran laut antara Hong im hwe melawan Kiu-im-kau ini adalah tiga perahu ditukar dengan dua buah, cukup besar kerugian yang dideritanya, dibandingkan dengan pihak pendekar, keadaan mereka jauh lebih parah, tapi Jin Hian kuatir musuhnya mengejar lebih ke depan, dengan kepandaian dari Cho Thian hua jelas mereka akan kalah hebat, karenanya tanpa memperdulikan keselamatan anak buahnya, dia berlayar terus untuk kabur ke depan.

Bwe Su-yok yang menyaksikan kejadian itu hanya tertawa sinis,ternyata ia tidak melakukan pergejaran, tangan kanannya segera diulapkan. Bunyi terompet keong, tiga pendek dua panjang segera berkumandang di udara.

Mendengar suara terompet tersebut, keenam buah perahu itu pelan-pelan memutar haluan dan bergerak dengan membelah ombak, ternyata mereka membentuk formasi setengah busur diatas permukaan laut.

Kok See-piau menjadi tertegun menyaksikan hal itu, serunya dengan lantang.

“Bwe kaucu, mengapa tidak kita basmi dulu Jin Hian dan rombongan kemudian baru menghadapi keluarga Hoa?”

“Orang she Jin itu tak bakal lolos dari cengkeraman kita, harap sinkun legakan hati” jawab Bwe Su-yok hambar.

Kok See-piau adalah seorang yang teliti dan cerdik, terkesiap hatinya sesudah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Bwe Su-yok berani berkata demikian, itu berarti didepan sana masih ada jebakan, siapa tahu pihak kamipun sudah termasuk dalam perhitungan mereka, hmm! Tiap hari memburu burung manyar, masa aku akan membiarkan burung manyar mematuk-matukku?” Tiba-tiba terdengar Go Tong cuan berbisik dengan ilmu menyampaikan suara.

Apakah sinkun menjumpai Bwe Su-yok seperti menyimpan suatu rencana besar?”

Kok See-piau mengangguk, sahutnya pula dengan ilmu menyampaikan suara.

“Tampaknya pendapat kita sama, jadi Go hu kaucu juga merasakannya? Andaikata diatas daratan Kiu-im-kau jelas bukan tandingannya kita, tapi selama berada diatas lautan hal ini benar-benar amat menjemukan”

Go Tang cuan melirik sekejap kearah para anggota Kiu-im- kau yang berada disekeliling tempat itu kemudian katanya, “Begitu melihat gelagat tidak baik, kita segera turun tangan untuk menguasahi Bwe Su-yok, dengan begitu maka kita pun tak usah kuatir orang-orang Kiu-im-kau main gila lagi.

“Tepat sekali sahut Kok See-piau sambil mengangguk, “cuma jangan terlalu terburu napsu, setelah kita bereskan keluarga Hoa, entah dia bermaksud jahat atau tidak, kita tetap turun tangan antuk membekuknya”

Tiba-tiba terdengar bunyi tembakan meriam dari Kiu-im- kau kembali menggelegar diudara, pembicaraan mereka segera terputus sampai ditengah jalan.

Ketika mereka alihkan pandangan matanya ketengah lautan, tampaklah peluru-peluru meriam saling berledakan di atas air, sementara ada belasan buah sampan kecil bergerak mendekat dengan kecepatan tinggi, ternyata sampan-sampan itu sama sekali tidak terpengaruh oleh tembakan-tembakan meriam yang gencar itu. Orang-orang Hian-beng-kau dan Kiu-im-kau menjadi amat terperanjat, ketika mereka amati dengan lebih seksama, maka tampaklah diatas setiap sampan tersebut masing-masing duduk dua orang, satu orang memegang kemudi satu orang memegang dayung, hanya sekali mendayung sampan telah meluncur sejauh beberapa tombak, kece patannya bagaikan sambaran anak panah.

Ternyata penumpang-penumpang sampan itu semuanya adalah jago-jago lihay kelas satu dari dunia persilatan, bukan saja pengalamannya sangat luas, ketajaman mata merekapun luar biasa, mereka cukup mengetahui akan kelihayan tembakan meriam orang-orang Kiu-im-kau, maka sepanjang jalan mereka selalu memperhatikan arah dari moncong meriam itu.

Kebanyakan arah sasaran dari tembakan meriam itu bisa diduga sebe1umnya, ini disebabkan gerakan meriam itu lamban sedang sampan- sampan tersebut bisa bergerak lebih lincah untuk berkelit ke sana ke mari, akibatnya tembakan- tembakan meriam dari Kiu-im-kau sama sekali tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Sungguh amat cepat gerak laju sarapan-sampan tersebut, dalam waktu singkat, jarak mereka sudah tinggal beberapa puluh kaki lagi.

Ketika Bwe Su-yok menyaksikan tembakan meriam sama sekali tidak mendatangkan hasil, dia lantas berteriak dengan kening berkerut, “Lepaskan anak panah!”

Menyusul perintah itu, hujan panah berhamburan dari mana-mana, dengan amat dahsyatnya panah-panah tersebut menyambar ke arah para jago yang berada diatas sampan kecil. Pada hakekatnya ilmu silat yang dimiliki para jago diatas sampan itu luar biasa lihaynya, mereka bisa memegang kemudi dengan kaki sementara sepasang tangannya diayunkan kesana kemari merontokkan panah-panah yang tertuju ke arah mereka, sedangkan pendayungnya sama sekali tidak ambil pusing, seakan akan mereka tidak menganggap serangan panah dari orang-orang Kiu-im-kau itu sebagai suatu ancaman yang serius.

Cho Thian hua yang menyaksikan kejadian itu merasa tangannya menjadi gatal, kebetulan ia menyaksikan disisinya ada sebuah sampan, maka ia sambar sampan itu kemudian diceburkan ke dalam laut, sementara tubuhnya sendiri bagaikan sambaran kilat meluncur turun ke atas sampan itu, sambil tertawa terbahak-bahak dia mengebaskan ujung bajunya dan menggerakkan perahunya menyongsong sampan-sampan yang ditumpangi para pendekar.

Kebetulan sampan yang sedang ia terjang adalah sampan yang ditumpangi oleh Hoa Ngo serta Tam Si bin, sambil tertawa tergelak Cho Thian hua melepaskan sebuah pukulan dahsyat ke depan.

Hoa Ngo serta Tam Si bin cepat-cepat mengayunkan pula keempat buah telapak tangan mereka dengan menggunakan tenaga sebesar dua belas bagian.

Kelihayan ilmu silat yang dimiliki Cho Thian hua telah diketahui oleh setiap orang, Hoa Ngo cukup cerdik, dia enggan melakukan serangan beradu kekerasan, begitu serangan telah dilepaskan, kakinya segera menekan ke belakang sehingga sampan tersebut secara tiba-tiba bergerak muudur ke belakang.

Kendatipun begitu, ketika ke dua gulung tenaga pukulan itu saling membentur satu sama lainnya, terjadilah suatu benturan keras yang mengakibatkan olengnya sampan, ombak menggulung-gulung dahsyat, sampan kecil itupun oleng ke sebelah kiri terpukul oleh ombak, sampan segera terbalik dan kedua orang perempuannya tercebur ke dalam air.

Goan cing taysu segera mendayung sampannya menyongsong ke arah Cho Thian hua.

Sambil tertawa terbahak-bahak Cho Thian hua mengebaskan ujung baju kanannya dan segera menyongsong kedatangannya itu.

Sementara itu pihak Kiu-im-kau telah menghentikan hujan panah mereka setelah melihat cara itu tidak mendatangkan hasil, jago-jago dari tingkat Tiamcu dan Tongcu serentak turun ke air bersama jago- jago dari Hian-beng-kau, kemudian sampan mereka di gerakkan untuk menyongsong perahu- perahu para pendekar.

Ketika perahu sudah hampir dekat, para jago dari Kiu-im- kau segera terjun kedalam air, jelas mereka berniat untuk menghancurkan sampan musuh dari bawah air.

Dalam waktu singkat, suatu pertarungan sengit telah terjadi diatas permukaan laut, bunyi bentakan dan bentrokan senjata berkumandang sampai ditempat kejahuan.

Goan cing taysu maupun Cho Thian hua yang sudah bertarung belasan jurus mulai merasakan sulitnya untuk bertarung diatas air, sebab kekuatan mereka tak bisa digunakan sepenuhnya, tanpa disadari perahu mereka telah bergerak maju meninggalkan rekan-rekan lainnya.

Mendadak Hua Ngo munculkan diri dari permukaan air, kemudian bentaknya keras-keras. “Setan tua she Cho!”

Telapak tangan kanannya ditabok ke depan, segulung pancuran air menyambar kewajah Cho Thian hau.

Cepat-cepat Cho Thian hua mengayunkan tangannya untuk menyampok semburan air itu, dengan air memancar keempat penjuru dan membasahi seluruh pakaiannya, ini membuat naik darah dan segera melancarkan sebuah serangan dahsyat.

Tapi dengan cepat Hoa Ngo telah menyelam kembali ke dalam air dan lenyap tak berbekas.

Dari pihak pendekar, meskipun jumlahnya lebih sedikit, ternyata kebanyakan adalah jago-jago kelas satu, yang pandai pula ilmu dalam air, karena itu meski sudah bertarung sekian lama mereka masih tetap mempertahankan posisi masing- masing.

Kiu-im-kau berusaha menenggelamkan sampan-sampan lawan, tapi begitu merasakan sesuatu gerakan di air, para jago segera menyerang dengan senjata rahasia, ia membuat para jago dari Kiu-im-kau tak berani banyak berkutik.

“Selain itu para jago dari pihak golongan putih juga mempunyai kerja sama yang cukup erat, bila sampan mereka tengelam maka mereka lantas melompat ke atas sampan lain, dengan begitu untuk sesaat usaha mereka tidak mendatangkan hasil apa-apa.

Bwe Su-yok dengan biji matanya yang jeli berusaha mencari Hoa In-liong di antara jago-jago yang sedang bertarung, ketika ia tidak menemukan anak muda itu dan sedang tercengang, tiba-tiba terdengar bunyi air yang memisah kesamping, menyusul munculnya sesosok bayangan manusia secepat kilat. Ia menjadi amat terkejut, belum sampai menghindarkan diri, tahu- tahu pergelangan tangannya sudah dicengkeram oleh Hoa In-liong.

Padahal Kiu im su ciat berada disekeliling Bwe Su-yok, tapi serangan dari Hoa In-liong terlalu cepat sehingga waktu mereka berempat hendak memberi pertolongan, keadaan sudah terlambat dan Bwe Su-yok sudah terjatuh ketangan lawan.

Un Yong ciau berdiri paling dekat, ia lantas berpekik nyaring seraya menerjang ke depan, ruyung lemas berserat emas ditangannya berputar kencang bagaikan seekor naga sakti, dengan cepatnya sebuah sergapan dilancarkan.

Dengan cepat Hoa In-liong berputar ke samping sambil menarik tubuh Bwe Su-yok memutar setengah lingkaran, dia biarkan ruyung lemas berserat emas itu menyambar lewat dari sisi telinganya, kemudian tangan kanannya menyambar ke depan mencengkeram ujung ruyung tersebut dan membetotnya keras-keras.

Un Yong ciau amat terkejut, sekuat tenaga dia berusaha untuk membetotnya kembali, tapi segulung tenaga bentakan keras membuat ruyung lemas ini terlepas dari cengkeramannya, bahkan tubuhnya ikut maju pula dengan sempoyongan.

Tiba-tiba desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang, sik Ban-cian dengan ilmu penotok jalan darahnya menyergap tiba dengan kecepatan luar biasa.

Kiong lan tertawa seram pula, dengan jurus Ngo lui liat leng (panca geledek menyambar puncak) dia menyerang punggung orang secepat kilat, sedangkan Tu Cu yu dengan pedang nya yang menciptakan lima enam kuntum bunga pedang langsung menyerang jalan darah penting di pinggang dan iga Hoa In-liong.

Sudah puluhan tahun lamanya Kiu im suciat turun tangan bersama, boleh, dibilang mereka sudah mempunyai hubungan batin yang erat, begitu turun tangan kerja sama mereka amat rapat dan sempurna, hampir tiada titik kelemahan yang bisa ditemukan.

Tapi ketiga orang itupun tahu akan kelihayan Hoa In-liong, mereka sadar serangan tersebut sulit untuk melakukannya, tapi paling tidak mereka berusaha untuk memaksanya agar melepaskan Bwe Su-yok dari cengkeraman lawan.

Hoa In-liong tertawa nyaring, “Sreeet!” tiba-tiba ruyungnya berputar menggulung senjata penotok jalan darah dari Sik Ban-cian, sementara gagang ruyungnya lepas tangan dan ditimpuk ke arah Tu Cu yu.

Menyaksikan datangnya serangan tersebut, Sik Ban cuan tahu kalau dia tak akan sanggup untuk menahan serangan itu, buru-buru tubuhnya melompat lima depa kesamping untuk menghindarkan diri.

Tu Cu yu mendengus dingin, pedangnya disambar ke atas ruyung lemas itu, siapa tahu dari atas ruyung itu tiba-tiba memancar ke luar segulung tenaga yang berat bagaikan bukit karang, “Cring!” pedangnya segera patah menjadi dua bagian, sementara ruyung le masnya itu dengan membawa desingan angin tajam menyambar keatas tubuhnya.