Neraka Hitam Jilid 11

Jilid 11

“Hanya dua orang bocah cilikpun memiliki ilmu silat yang tidak lemah, hal ini menunjukkan kalau Hian-beng-kau memang benar-benar penuh dengan jago lihay”

Terdengar Yau Tiong-in berkata dengan hambar, “Aku belum lelah, kalian boleh pergi dulu karena kami ingin berhenti sebentar disini.”

Bocah yang ada disebelah kanan itu berkata, “Kalau memang begitu biar hamba menunggu perintah disini!”

“Aku tidak menghendaki pelayan orang, lebih baik kalian segera berlalu dari sini!”

Dua orang bocah berbaju hijau itu segera berpaling ke arah Tam Si-bin, kemudian serunya berbareng, Loya-cu… !”

Sambil mengelus jenggotnya Tam Si-bin tertawa, katanya, “Lohu adalah tulang orang miskin, tidak terbiasa mendapat pelayanan orang lain, jadi kalian lebih baik pergi saja dari sini!”

Tapi setiap enghiong yang turut serta dalam pertemuan besar ini……..

“Orang lain adalah orang lain, kami adalah kami, hayo cepat pergi!” bentaknya.

Kedua orang bocah berbaju hijau itu segera menunjukkan wajah serba salah, mereka saling berpandangan sekejap, namun tetap berdiri ditempat semula.

“Kenapa?” teriak Yau Tiong-in lagi semakin gusar, “jadi kalian hendak mengawasi gerak-gerik kami?”

“Persoalan apa sih yang telah menimbulkan rasa tak senang dihati Yau Ciangbun?”

Mendengar seruan tersebut, Tam Si-bin dan Yau Tiong-in segera berpaling, tapi dengan cepat mereka tercengang dengan wajah tertegun.

Ternyata dihadapan mereka telah berdiri seorang gadis cantik jelita berbaju putih, kecantikan gadis itu jarang sekali dijumpai dikolong langit, tapi bukan hal itu yang membuat mereka berdua terkejut, melainkan wajah gadis itu persis sekali dengan wajah ke dua orang putri Pek Siau-thian, bekas ketua dari Sin-ki-pang dimasa lalu.

Dengan cepat Tam Si-bin menjura kepada gadis itu, kemudian sapanya, “Nona memakai marga Bong? Ataukah marga Pek?”

Gadis cantik itu tertawa cekikikan. “Hei, apa yang terjadi? Heran benar, setiap kali bertemu orang, selalu pertanyaan itu yang diajukan kepadaku!”

Setelah berhenti sebentar, katanya, “Aku bernama Kok Gi - pek!”

Baik Tam Si-bin maupun Yau Tiong-in menjadi tertegun, dalam hati pikirnya, Heran, jika dilihat dari raut wajahnya, ia mirip sekali dengan wajah Pek si hujin, kenapa bisa bukan putri dari Bong Pay dan Pek Soh-gi??

Walaupun heran, Tam Si-bin berkata juga, “Kalau begitu nona adalah!………..

Tidak menunggu ia menyelesaikan kata-katanya, dengan cepat Kok Gi-pek menukas.

“Hian-beng-kaucu adalah guruku!”

Diam-diam Tang Si bin dan Yau Tiong-in merasa sayang dihati, gadis secantik bidadari ternyata adalah murid si gembong iblis, yaa……ibaratnya sekuntum bunga tumbuh diatas kotoran kerbau.

Dalam pada itu Kok Gi-pek telah berpaling ke arah dua orang bocah berbaju hijau itu, kemudian tegurnya dengan dingin, “Apakah kalian yang telah menggusarkan Yau tayhiap?”

Bocah berbaju hijau yang ada disebelah kiri itu menjadi gelagapan, serunya tergagap, “Adalah… adalah Yau tayhiap

sendiri.”

“Hmm! Setiap enghiong yang menghadiri pertemuan ini adalah manusia-manusia yang berjiwa besar” tukas Kok Gi-pek ketus, bila bukan kalian yang tak tahu sopan, masa dapat memancing ketidaksenangan Yau tayhiap? Kenapa tidak cepat mengaku salah?”

Sungguh tak terlukiskan perasaan Yau Tiong-in setelah mendengar perkataan itu, ia tertawa serak, lalu katanya, “Nona telah salah menegur, persoalan ini sama sekali tiada hubungannya dengan mereka berdua”

Kok Gi-pek mengerling sekejap dengan sepasang biji matanya yang jeli, kemudian sambil tersenyum ia berkata, “Aaah, kenapa Yau tayhiap berkata demikian? Kalau begini jadinya malah kami yang merasa tak enak sendiri!”

Lalu sambil menarik muka, katanya kepada dua orang bocah tersebut, “Kaucu toh telah berpesan jangan menyalahi tamu agung yang menghadiri pertemuan ini? Sekarang kalian telah melakukan kesalahan, hayo sana menghadap toa kongcu untuk menerima hukuman”

Sekujur tubuh bocah-bocah berbaju hijau itu gemetar keras, agaknya mereka merasa ketakutan setengah mati, namun tidak berani pula banyak bicara maka setelah memberi hormat, sahutnya, “Terima perintah!”

Ketika memutar tubuhnya hendak pergi, tak tahan lagi titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Yau Tiong-in yang menyaksikan kejadian itu menjadi tak tega, segera bentaknya, “Tunggu sebentar.”

Dua orang bocah berbaju hijau itu segera berhenti, kemudian berpaling kearah Kok Gi-pek.

Kalau memang Yau tayhiap ada perintah, tetua saja kalian harus berhenti” ujar Kok Gi-pek. Lalu sambil berpaling kearah Yau Tiong-in, ujarnya sambil tertawa, “Apakah Yau tayhiap merasa cara tersebut kurang dapat melampiaskan rasa gusarmu, sehingga ingin menghukum sendiri mereka berdua?”

“Tolong tanya, apakah kedua orang saudara cilik ini harus melaksanakan hukumannya?” tanya Yau Tiong-in dengan suara dalam.

Kok Gi-pek segera tertawa hambar.

“Aneh benar pertanyaan dari Yau tayhiap, memangnya perintah dari perkumpulan Hian-beng-kau kami hanya permainan belaka?”

Merah padam selembar wajah Yau Tiong-in karena jengah, kembali ia bertanya, “Entah hukuman apakah yang hendak dilaksanakannya?”

“Jika masuk ke ruang hukuman, berarti mereka harus mampus tapi jika mendapat pengampunan maka keputusan berada ditangan suheng kami, itupun paling enteng harus potong lengan”

Bergidik hati Tam Si-bin dan Yau Tiong-in setelah mendengar perkataan itu, kekejaman serta keketatan peraturan Hian-beng-kau boleh dibilang jarang ditemui didunia ini, sebab hanya dibilang melakukan kesalahan kecil pun hukumannya potong lengan, malah Kok Gi-pek mengucapkannya dengan begitu santai seolah-olah hukuman tersebut sudah merupakan suatu kejadian yang umum, hal mana cukup menggetarkan hati siapapun yang mendengar.

Yau Tiong-in segera memberi hormat, lalu katanya, “Aku orang she Yau ingin memohonkan pengampunan bagi mereka!” “Waaah, jika Yau tayhiap berkata demikian, hal ini malah justru akan menyusahkan kami!” kata Kok Gi-pek sambil mengerutkan dahinya.

Sebagai seorang jagoan dari golongan kaum pendekar, sudah barang tentu Yau Tiong-in merasa tak tega mengorbankan jiwa dua orang bocah cilik yang tak berdosa karena persoalannya, karena terpaksa maka diapun berkata, “Nona Kok dalam persoalan ini akulah yang sebetulnya tidak benar karena hatiku sedang gundah dan murung maka semua kemarahan telah kulampiaskan pada dua orang saudara cilik ini, sesungguhnya mereka tak bersalah, tentu saja tak pantas dijatuhi hukuman, bila ingin menyalahkan seharusnya akulah yang pantas disalahkan”

Kok Gi-pek berseru tertahan, lalu sambil pura-pura tercengang, serunya kembali, “Aaah, hal ini sama sekali tak masuk diakal” masa ada jago dari golongan lurus yang melampiaskan hawa amarahnya kepada orang lain”

Merah padam wajah Yau Tiong-in karena malu, diam-diam sumpahnya dalam hati, “Budak sialan, tajam benar lidahmu!”

Dalam pada itu Kok Gi-pek telah ulapkan tangannya sambil berkata, “Kalau memang kalian menjemukan dan bodoh sekali sehingga tidak berkenan dihati Yau tayhiap, kenapa tidak cepat pergi dari sini? Berdiri melulu disitu hanya membikin jemu orang saja”

Bocah berbaju hijau itu segera memberi hormat seperti memperoleh pengampunan, buru-buru mereka kabur meninggalkan tempat itu.

Kok Gi-pek mengerling sekejap ke arah dua orang tamunya, lalu berkata kembali, “Para bocah pelayan itu memang bodoh dan tak tahu aturan, tentu saja sulit buat mereka untuk melayani orang pintar entah bagaimana kalau aku saja yang mengantar saudara berdua kembali ke tempat istirahat para tamu agung?”

Mana berani merepotkan nona?” seru Tam Si-bin. “Ah, tidak menjadi soal”

Tidak banyak berbicara lagi ia putar badan dan berlalu lebih dulu dari situ.

Terpaksa Tam Si-bin dan Yau Tiong-in mengikuti pula di belakangnya.

Kok Gi-pek membawa dua orang itu berjalan melewati sisi lapangan dan berbelok ke sebuah jalan tembus.

Dalam perjalanan, tiba-tiba Kok Gi-pek berkata sambil tertawa, “Yau tayhiap, apakah kau anggap perkumpulan kami terlampau miskin sehingga tak mampu menjamu tamu banyak?”

Pertanyaan tersebut segera membuat Yau Tiong-in menjadi tertegun, katanya, “Maaf aku tidak paham dengan apa yang nona maksudkan?”

Kok Gi-pek tertawa cekikikan.

“Aaah, masa Yau tayhiap tidak mengerti?”

Tam Si-bin ikut tertawa tergelak, timbrungnya, “Lebih baik nona jangan bermain teka-teki, apalah salahnya jika berbicara saja terus terang!” Kok Gi-pek tersenyum manis, katanya kemudian, “Yan tayhiap, susiokmu Tiang cong siang kiam, masa yang satu tinggal diruang kedua, yang lain tinggal di ruang ketiga, sementara suheng dan murid-muridmu malah menempati ruangan ke empat sampai ruang sembilan bukan saja tidak memakai nama asli, pun tidak menye-butkan asal perguruan asal mana, sungguh menyulitkan perkumpulan kami ataukah Yau tayhiap merasa malu karena membawa anggota perguruan yang terlalu besar jumlahnya, sehingga daripada ditolak masuk maka kalian gunakan taktik tersebut?”

Setelah berhenti sejenak, sambil tertawa ia melanjutkan, “Harap Yau ciangbun legakan hati sekalipun dari perguruan kalian ada seribu orang yang datang, perkumpulan kami masih sanggup untuk menjamunya apalagi cuma lima puluh orang”

Ucapan tersebut kontan saja membuat paras muka Yau Tiong-in berubah menjadi pucat sebentar merah sebentar, sungguh tak terlukiskan rasa kaget dan terkesiapnya.

Ternyata partai Tiam cong memang telah mengatur rencana untuk membalas dendam dengan mempergunakan kesempatan itu, maka segenap ke kuuatan mereka telah dikerahkan datang.

Akan tetapi karena kuatir kekuatan tersebut ketahuan Hian- beng-kau, maka kecuali Yau Tiong-in seorang, yang lain segera menyaru dan menyusup masuk dengan cara menyebarkan diri, rencana mereka bila upacara peresmian nanti diselenggarakan, maka mereka akan lancarkan serangan secara mendadak….

Siapa tahu jejak mereka justru telah diketahui oleh pihak Hian-beng-kau, malahan jumlahnya tak kurang seorangpun, ucapan dari Kok Gi-pek tersebut semakin menunjukkan bahwa gerak-gerik mereka memang selalu diawasi. Tam Si-bin yang menyaksikan kejadian itu segera kuatir kalau ia tak tahan diri, buru-buru menarik ujung bajunya lalu tertawa terbahak bahak.

“Haaahn…..haaah h…haaahhh… berita yang kalian

peroleh sungguh amat tajam, sungguh mengagumkan!”

Kok Gi-pek mengerdipkan biji matanya yang jeli, lalu katanya, “Tan cianpwe terlalu memuji partai kami……

Sambil tertawa Tam Si-bin segera menukas, Tiga orang suteku dan delapan orang keponakan muridku datang kemari secara berombongan, mungkin merekapun tidak menyebutkan nama yang sebenarnya, harap kalian suka memaafkan.

Mendengar perkataan itu, diam-diam Kok Gi-pek berpikir, Jago kawakan memang biasanya lebih cerdik dan cekatan………

Maka ujarnya sambil tersenyum, Ah, ucapan Tam cianpwe terlalu serius. Para jago dengan tidak mengecilkan partai kami sebagai partai sesat telah sudi berkunjung kemari, hal ini sudah amat mengharukan hati kami, orang lain sedang berbuat bagaimana lantas bagaimana, tentu perkumpulan kami tak berani banyak bicara, pertama jangan kuatir kalau pelayanan kami kurang baik, kedua kuatir jika ada kawanan manusia rendah yang memanfaatkan kesempatan ini untuk memancing diair keruh maka mau tak mau terpaksa kami harus bersiap lebih waspada”

Meskipun perkataan itu mengandung sindiran, namun kedua orang jago tersebut tak mampu menanggapi walaupun hanya sepatah kata pun. Sementara itu Kok Gik pek telah berkata lagi setelah berhenti sejenak, “Seandainya kali ini Jin tianglo dan Tiangsun tianglo dari perkumpulan kami tidak berhasil mengenali jago- jago lihay dari partai kalian berdua jika hal ini sampai tersiar dalam dunia persilatan, bukankah orang lain akan mentertawakan kami orang orang Hian-beng-kau sebagai manusia yang punya mata tak berbiji”

Tam Si-bin segera tertawa terbahak bahak. Haahh……haahh…..haaahh……aku pikir Jin tianglo serta

Tiangsun tianglo kalian pastilah jago-jago lihay dari dunia pesilatan.

“Tiangsun tianglo sudah lama mengasingkan diri dari keramaian dunia” kata Kok Gi-pek hambar, “dia merupakan keturunan langsung dari seng jiu lu pan (Lu Pan bertangan malaikat) yang telah membangun istana Kiu ci kiong dari coucu kami tempo hari, kali ini keturunannya kembali berkerjasama dengan perkumpulan kami untuk membangun istana kedua………”

“Apakah dia adalah Tiangsun Poh?” tanya Tam Si-bin dengan perasaan bergetar keras.

“Betul!” Kok Gi-pek manggut-manggut.

Setelah berhenti sejenak, ia berkata lebih jauh, “Sedangkan Jin tianglo, dia lebih termashur lagi, tentunya kalian berdua belum lupa bukan dengan Cong tausu dari perkumpulan Hong im hwee yang tersohor pada dua puluh tahun berselang?”

“Jin Hian maksudmu?” seru Yau Tiong-in kaget. Kok Gi-pek tertawa hambar. “Yaa, itulah Jin tianglo”

Sementara pembicaraan berlangsung sampai disitu, mereka bertiga telah tiba disebuah bangunan rumah yang dikelilingi pagar tembok tinggi.

Bangunan rumah disana bersusun-susun dengan serambi yang saling berhubungan, ada pohon yang rindang, kolam air yang jernih, gunung-gunungan yang indah dan taman bunga dengan aneka tumbuhan yang berbau harum, sungguh tempat itu merupakan sebuah pemandangan yang sangat indah…….

Sepanjang serambi ruangan kecuali para jago dari empat penjuru yang datang menghadiri upacara, terlihat pula banyak gadis cantik yang berjalan hilir mudik.

Sambil menghentikan langkahnya Kok Gi-pek lantas bertanya, “Kalian berdua ingin tinggal bersama orang-orang separtai, ataukah ingin tinggal secara terpisah?”

Tam Si-bin dan Yau Tiong-in saling berpandangan sekejap lalu diam-diam tertawa getir.

Baru saja mereka masuk ke wilayah Ui gou peng, sekalipun tahu kalau rekan-rekan seperguruannya telah masuk kedalam lembah tapi hingga kini belum mengadakan kontak, merekapun enggan menanyakan persoalan ini kepada pihak Hian-beng-kau, maka untuk sesaat menjadi bingung tidak memberi jawaban.

Kok Gi-pek segera tertawa cekikian, tiba-tiba ia bertepuk tangan pelan, segera muncul dua orang gadis cantik menghampirinya, setelah memberi hormat tanyanya, “Ada urusan apa nona?” Sambil menuding kedua orang itu, Kok Gi-pek berkata, “Persiapkan segera baik-baik tempat menginap dua orang tayhiap ini, jangan tertindak kurang sopan!”

Dua orang pelayan cantik itu segera mengiakan, setibanya dihadapan Tam Si-bin dan Yau Tiong-in mereka memberi hormat kemudian ujarnya bersama, “Menjumpai ya koan berdua!”

Sambil menuding dua orang pelayan cantik itu Kok Gi-pek kembali berkata, “Yang disebelah kiri bernama Kim Kwi khusus melayani Tam loy cu, Sedangkan yang di kanan Cui Huan anggap saja untuk Yau tayhiap”

Setelah berhenti sebentar ia melanjutkan, “Mulai sekarang, dua orang pelayan ini menjadi milik kalian berdua kecuali makan, hidup kalian berdua, mati hidup kedua orang pelayan inipun berada ditangan kalian, perkumpulan kami tidak akan berhak untuk menanyakan lagi, jika kalian memang setuju, selesai upacara nanti kedua orang pelayan itu boleh kalian bawa pergi”

Kontan saja Yau Tiong-in mencaci maki, “Hmm! Tidak bermaksud baik, rupanya kau hendak menjebak orang”

Kok Gi-pek tertawa cekikikan.

“Arak itu tidak memabukkan adalah orang yang mabuk dengan sendirinya, emas tulen tak kuatir dibakar dengan api, hanya jago-jago tulen yang tidak kuatir perpengaruh oleh arak, perempuan, har ta dan kedudukan. Apakah Yau tayhiap kuatir imannya kurang tebal dan tidak tahan godaan……

Sepasang alis mata Yau Tiong-in langsung berkenyit, serunya dengan angkuh, “Ako orang she Yau mana takut…..” Tiba-tiba Tam Si-bin mendeham pelan, kemudian dengan kening berkerut katanya, “Lohu adalah orang dari gunung yang terbiasa hidup bebas, jika dilayani orang malah rasanya kurang leluasa, nona Kok, biarlah maksud baikmu itu kuterima dalam hati saja”

Ketika mendengar perkataan itu, paras muka dua orang pelayan cantik itu segera berubah hebat.

Kok Gi-pek tersenyum, katanya, “Tam cianpwe, kau harus tahu, seandainya suhengku atau para thamcu yang melayani kedatangan kalian sekarang, maka dua orang pelayan ini mungkin sudah tergeletak tak bernyawa lagi!”

Yau Tiong-in mendengus marah, serunya.

“Aku orang she Yau merasa kagum sekali dengan ketatnya peraturan Hian-beng-kau, cuma…….hmm, apakah kalian tidak merasa kebangatan dengan tindakan semacam itu?”

“Yaa, kalau tidak begini, mana mungkin perkumpulan kami bisa menegakan disiplin dan memperketat peraturan?”

Tam Si-bin benar benar tak dapat mengendalikan perasaannya lagi. dengan dingin ia berseru.

“Perbuatan perkumpulan kalian memang luar biasa sekali, waah, dengan cara kalian yang kejam dan tidak kenal perasaan begini rasanya memang tidak sulit bila ingin menguasahi seluruh jagad.

Kok Gi-pek tidak membantah atau mendebat perkataan itu, pelan- pelan dia berjalan kehadapan dua orang pelayan itu, lalu setelah menghela nafas sedih ujarnya, “Kalian baik-baiklah bertugas, seperti yang diketahui, peraturan dari perkumpulan kita sangat ketat, jika sampai melanggar peraturan tersebut, bahkan akupun tak akan sanggup menyelamatkan jiwa kalian.”

Agak merah sepasang mata dua orang pelayan itu, mereka tundukkan kepalanya rendah-rendah.

Dengan suara lirih Cui Huan lanias berkata, “Terima kasih banyak atas kebaikan nona.”

Kok Gi-pek menghela nafas panjang, dia berpaling kearah lain dan berkata lagi dengan dingin, “Soal penyambut tamu agung sesungguhnya bukan urusanku, aku sampai berbuat demikian tak lebih karena ingin mengurangi jumlah kematian yang tak berguna, toh aku hanya bisa berbicara disini saja, untuk selanjutnya terserah pada kalian sendiri!”

Sambil putar badan ia bersiap meninggalkan tempat itu, tapi tiba-tiba ia berhenti.

Tam Si-bin dan Yau Tiong-in yang menyaksikan kejadian tersebut ikut berpaling.

Tampaklah dari tikungan jalan sebelah depan sana muncul tiga orang manusia, paling depan adalah seorang kakek berjenggot putih berwajah merah sedang dibelakangnya mengikuti seorang laki dan seorang perempuan yang jalan bersanding.

Kedua orang itu mirip suami istri, yang pria beralis tebal bermata besar dan bertubuh tegap, ia tampak gagah perkasa sedang yang perempuan berwajah cantik dan bersikap anggun, kedua-duanya ti dak membawa senjata.

Dalam sekilas pandangan saja Kok Gi-pek telah mengetahui siapakah kedua orang itu, ditatapnya perempuan cantik setengah umur itu sekejap, lalu pikirnya, “Yaa, tak salah lagi aku memang mirip sekali dengannya……”

Entah mengapa tiba-tiba muncul suatu perasaan aneh dalam hatinya, kalau bisa ia ingin sekali menubruk kedalam pangkuan perempuan cantik setengah umur itu.

Ketika sepasang suami istri itu berjumpa dengan Kok Gi- pek, merekapun kelihatan agak tertegun, empat buah mata sama-sama menatap wajahnya tanpa berkedip.

Setelah tertegun beberapa saat lamanya, tiba-tiba perempuan cantik berusia setengah umur itu berjalan menghampiri Kok Gi-pek kemudian sapanya, “Nona, bolehkah aku tahu siapa namamu?”

Keangkuhan Kok Gi-pek sama sekali lenyap tak berbekas, dengan amat sopan ia memberi hormat, lalu sahutnya.

“Boanpwe Kok Gi-pek!”

Mendengar perkataan itu, sang nyonya cantik itu tertawa kepada laki-laki kekar itu, ujarnya, “Toako, sudah kau dengar? Aku tebak yang di maksudkan pastilah moay moay”

Laki-laki kekar mendengus rendah, sikap sinis menghiasi wajahnya.

“Nona berasal darimana?” kembali nyonya cantik itu bertanya lagi.

Kok Gi-pek tidak menjawab, sebaliknya mala bertanya, “Apakah cianpwa adalah Cu sim siancu (Dewi berhati bajik)?”

Nyonya cantik setengah umur itu tersenyum. “Aaah, itu cuma sanjungan dari sahabat-sahabat persilatan, Pek Soh-gi mana pantas menerima julukan tersebut?”

Ternyata sepasang suami istri ini bukan lain adalah Bong Pay serta Pek Soh-gi.

Walaupun Pek Soh-gi adalah putri Pek Siau-thian, tapi sejak kecil dia ikut dengan ibunya Koa Hong bwe meninggalkan perkumpulan Sin-ki-pang dan tinggal dibukit Hoan keng san.

Sepanjang tahun dia makan makanan berpantang seperti ibunya dan tak pernah meninggalkan rumah barang selangkah pun, oleh sebab itu bukan saja tidak ternoda oleh kebiasaan orang-orang persilatan, kelembutan dan kehalusan budinya masih suci bersih, hingga siapapun yang berjumpa dengannya tentu menaruh simpati kepadanya.

Kemudian setelah menikah dengan Pek lek kun (pukulan geledek) Bong Pay, untuk menebus dosa ayahnya dan lebih- lebih atas dorongan suaminya untuk banyak beramal, kelembutan dan kebaikan hatinya merebut simpati banyak orang, sekalipun ada musuh yang berniat ja hat, hawa sesatnya segera terpunahkan setelah berjumpa dengannya, sebab itulah orang persilatan menghadiahkan julukan “Cu sim Siancu kepada-nya,

Bong Pay adalah murid Pek sian (Dewa geledek) dari Bu lim siang sian (sepasang dewa dari dunia persilatan) didalam pertemuan Pak beng-bwe, Pek lek sian menemui ajalnya dengan menanggung dendam, waktu itu ia masih muda dan hidup gelandangan dalam dunia persilatan, tapi untung dengan ketekunannya berlatih dan memperoleh bimbingan dari supeknya Siau yau sian (dewa yang suka keluyuran) Cu Thong serta Hoa Thian-hong, akhirnya ia berhasil juga mengangkat dirinya menjadi seorang pendekar besar yang menggemparkan dunia persilatan. Semenjak kawin dengan Pek Soh-gi yang lemah lembut, ia banyak sekali berbudi sosial dan menolong orang apa lagi didampingi istrinya yang lemah lembut, hal mana membuat kewelasan hatinya bukan aja bertambah tebal, bahkan sifat berangasannya dimasa lalupun sudah banyak berubah.

Coba kalau bukan demikian, setelah mendengar perkataan dari Pek Soh-gi tadi, niscaya ia sudah memaki Kok See-piau dengan beberapa patah kata yang tajam.

Sejak ia masuk kedalam keluarga Pek, sebenarnya kursi kebesaran sebagai seorang pangcu dari perkumpulan besar itu menjadi miliknya, tapi ia adalah seorang yang tak suka kebesaran dan kedudukan, malah perjuangannya terhitung paling besar ketika membubarkan Sin-ki-pang, atas perbuatannya itu banyak jago dari kalangan lurus yang kagum dan memuji dirinya.

Dengan pandangan kagum Kok Gi-pek memperhatikan wajah Pek Soh-gi lekat-lekat, meski usianya telah mencapai empat puluh tahunan, ternyata kelembutan dan kecantikannya masih tertera jelas.

Makin dilihat, gadis itu merasa semakin simpati, sehingga akhirnya ia berkata, “Aaah mana kecantikan cianpwe bagaikan bidadari, kelembutan hatinya bagaikan Buddha julukan Cu sim Siancu memang paling pantas untuk diri cianpwe”

“Soal itu tak usah dibicarakan lagi nona, apakah kau bersedia memberi tahukan kepadaku berasal dari mana?”

“Boanpwe berasal dari Cing-ciu!” “Aaah……!” Pek Soh-gi berseru tertahan, wajahnya segera diliputi oleh rasa kecewa yang mendalam sekali.

“Soh-gi, belum tentu dalam dunia ini terdapat kejadian yang begini kebetulan, sudahlah, lupakan saja!”

Tapi Pek Soh-gi segera gelengkan kepalanya berulang kali. “Aku tidak terlalu percaya!” katanya.

Tiba-tiba satu ingatan menggerakkan hati Kok Gi-pek, diam-diam pikirnya, “Kalau diresapi maksud dari ucapannya itu, apa dia telah menganggapku sebagai putrinya…”

Sementara ia masih melamun, Pek Soh-gi telah bertanya lagi, “Nona, apakah ayah ibumu masih sehat semua?”

Kok Gi-pek menggerakkan bibirnya hendak menjawab, tapi sebelum mengucapkan sesuatu, kakek berwajah merah berambut putih yang bukan lain adalah Toan bok Seeliang, Tamcu dari markas besar Hian-beng-kau telah manyela sambil mendehem ringan.

“Bong hujin, orang tua nona Kok tentu saja masih sehat wal’afiaat……”

Sebenarnya Bong Pay terhitung masuk anggota keluarga Pek, tapi berhubung Pek Soh-gi amat menghargai suaminya, dalam setiap persoalan Bong Pay yang mengatasi dan untuk meneruskan tali keturunan keluarga Bong, maka keturunannya semua memakai nama marga Bong, dan persoalan ini telah dirunding sebelumnya secara baik baik.

Pek Soh-gi sama sekali tidak memperdulikan jawaban kakek itu, kembali ia mengulangi pertanyaannya, “Apakah ayah ibumu masih hidup?” Kok Gi-pek manggut manggut

“Terima kasih atas perhatian cianpwe hingga kini orang tuaku masih segar bugar”

Pek Soh-gi amat kecewa, pikirnya, Betul-betul aneh sekali, masa kolong langit bisa terdapat seorang anak yang bukan keturunannya tapi mempunyai type wajah yang begitu mirip? Hal ini betul-betul mustahil!”

Dengan perasaan tergerak, ia bertanya lagi, “Bolehkah kami suami isteri berdua bertemu dengan orang tuamu?”

Tiba-tiba Toan See liang menyela kembali, “Bong hujin, ada pepatah mengatakan, jika tidak sepaham maka tak akan sekomplot, buat apa kalian musti berjumpa muka?”

Pek Soh-gi kembali pura-pura tidak mendengar.

“Aku pikir she Kok tersebut bukan nama warga nona yang sebetulnya, bolehkah aku tahu nona sebenarnya she apa?

Kenapa mengikuti she gurumu?

Percayalah bahwa aku bermaksud baik, maka akupun minta agar kau jangan berbohong”

Bong hujin!” tegur Toan bok See liang dengan kening berkerut, “cara menyelidiki urusan pribadi nona Kok dari perkumpulan kami sudah merupakan perbuatan yang melanggar pantangan besar”

Sehabis berkata ia lantas melangkah pergi dari situ.

Bong Pay mengernyitkan alis matanya yang tebal, tiba-tiba ia rentangkan tangannya untuk menghadang jalan pergi kakek itu kemudian sambil tertawa ujarnya, “Toan bok thamcu, terimalah salam hormat dari Bong Pay!”

Rentangan tangan itu memang kelihatan-nya sederhana dan tiada sesuatu yang aneh, padahal justru mengandung suatu kekuatan besar yang setiap saat siap dilontarkan bilamana Toan bok See liang nekad untuk menyerbu ke depan, maka serangan yang dahsyat dan mematikan itu segera akan meluncur keluar.

Sebagai seorang jago kawakan tentu saja Toan bok See liang cukup mengetahui kelihaiyan dari serangan tersebut, dengan wajah berubah ia segera berhenti, katanya dengan gusar, “Bong tayhiap, kalian suami istri berdua datang kemari sebagai tamu, kenapa sikap kalian begitu kelewat batas?”

“Istriku toh cuma mengajukan beberapa buah pertanyaan saja kepada nona ini, apakah perbuatan semacam ini termasuk kebangetan”

Paras muka Toan bok See liang segera berubah menjadi hijau membesi, katanya kemudian, “Baik, baik, apakah Bong tayhiap bermaksud untuk bertarung sekarang juga?”

“Oh, aku orang she Bong sebagai tamu pasti akan mengiringi keinginan tuan ramah!”

Kok Gi-pek yang melihat gelagat tak enak, dengan alis berkenyit segera menegur, “Empek Toan bok, kenapa sih kau ini”

Toan bok See liang berkerut kening, tiba-tiba sambil tertawa tergelak katanya, “Ternyata Bong tayhiap suami istri sangat memperhatikan murid sinkun perkumpulan kami, peristiwa ini betul-betul merupakan ke jadian yang baik, lohu merasa amat gembira” Pek Soh-gi tersenyum ia bertanya lagi, “Bagaimana pendapat nona?”

Pek Soh ikut tertawa.

“Cianpwe suami istri adalah jago-jago kenamaan dalam dunia persilatan, bila ada waktu, dengan senang hati orang tua kami pasti bersedia untuk bertemu dengan kalian”

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Aku mengikuti nama marga dari guruku, ini dikarenakan guruku telah mendapat persetujuan dari ayahku, semenjak kecil sudah demikian”

Dengan kecewa Pek Soh-gi menghela napas panjang, setelah fakta berbicara demikian terpaksa ia harus urungkan niatnya sampai disitu.

Dengan penuh kasih sayang Bong Pay membelai bahu istrinya dan menghibur dengan kata-kata yang manis.

Tapi Pek Soh-gi gelengkan kepalanya berulang kali, dengan mata berkaca- kaca, tiba-tiba ia berseru, “Ooh toako jika dia adalah putri kami, betapa senangnya aku!”

Kok Gi-pek merasakan hatinya bergetar keras, kalau bisa dia ingin menubruk ke dalam pangkuan Pek Soh-gi dan menghibur hatinya,

Perasaan semacam itu memang aneh sekali, bahkan ia sendiripun agak tercengang oleh perasaan demikian, sambil mengendalikan diri iapun berpiir, “Kalau diingat kembali, sebetulnya mereka dengan aku masih terhitung musuh besar tapi heran, kenapa kau bisa mempunyai perasaan semacam itu. Berpikir sampai disitu, ia lantas bungkukkan badan memberi hormat seraya ujarnya, “Boanpwe ingin mohon diri lebih dulu, semoga saja dikemudian hari bisa banyak peroleh petunjuk dari cianpwe berdua”

Diam-diam Toan bok See liang menghembuskan napas panjang, cepat ia berkata pula sambil tertawa.

“Saat upacara peresmian sudah makin dekat, tamu yang datang makin banyak, maaf jika lohu muski mohon diri lebih dulu karena masih banyak tugas yang harus ku selesaikan”

Setelah memberi hormat kepada Bong Pay suami istri, menyusul dibelakang Kok Gi-pek diapun berlalu dari situ.

Bong Pay segera menjura, Pek Soh-gi membalas hormat pula dengan memaksakan diri katanya.

“Nona Kok, semoga saja dalam waktu singkat kita bisa berjumpa kembali……”

“Semoga saja demikian, Boanpwe pun berharap bisa bertemu lagi”

Ketika sampai diujung jalan saja, gadis itu tak tahan telah berpaling kembali ketika dilihatnya Bong Pay suami istri menghantar kepergiannya, tiba-tiba iapun merasa agak berat hati untuk berpisah dengan mereka, setelah tertegun sejenak akhirnya ia baru beranjak dan pergi dari situ.

Menanti bayangan tubuh gadis itu sudah lenyap tak berbekas, Pek Sob gi baru berkata dengan sedih.

“Toako, bila Siau yu masih hidup, saat ini dia pun sudah dewasa seperti dia!” Bong Pay menghela napas panjang.

“Aaai…..tapi ia punya orang tua, sedang jenasah Siau yu pun hingga kini telah….”

Tapi melihat kesedian yang melimuti wajab istrinya, tiba- tiba ia berganti pembicaraan, katanya dengan lembut.

“Dalam dunia yang begini lebar, segala kemukjijatan bisa terjadi dimana-mana, wajah yang mirip bukannya suatu hal yang tak mungkin terjadi tapi bila Kok See-piau sengaja mencarinya, diapun belum tentu bisa menemukan”

Kiranya sejak kawin dengan Bang pay, Pek Soh-gi telah melahirkan dua orang putra dan seorang putri.

Putra sulungnya Cong beng tahun ini telah berusia dua puluh tahun, ia merupakan anak yang dipersiapkan untuk meneruskan generasi keluarga pek.

Putra bungsunya Giok heng, tahun ini berusia lima belas tahun, ia adalah anak yang dipersiapkan untuk meneruskan generasi keluarga Bong.

Hanya seorang anak perempuannya yang paling dimanja dengan nama kecil Siau yu, ketika belum genap berusia setahun, ketika dibopong pelayan bermain-main di bukit Tay pa san, kedua-duanya ternyata terjerumus ke dalam jurang dan mati.

Keesokan harinya Bong Pay suami istri telah melakukan pencarian diseluruh lembah, akhirnya tidak berhasil menemukan jenasah pelayan dan putrinya, hal mana tentu saja amat menyedihkan hati Pek Soh-gi, hampir setengah tahun lamanya ia bermuram durja dan murung sepanjang hari.

Kemudian lambat laun pun pikirannya terbuka kembali, ia merasa ayahnya memang banyak melakukan kejahatan dimasa lalu sehingga karmanya sekarang terkena pada cucu perempuannya.

Untuk mengatasi kesedihan tersebut, sepa sang suami istri ini pun mempergiat usaha sosialnya menolong orang orang lain.

Untuk menghilangkan kenangan tersebut peristiwa ini sama sekali tidak mereka wartakan kepada Hoa Thian-hong suami istri, sebab itu Hoa In-liong pun tak tahu kalau ia sebenarnya mempunyai seorang adik misan yang telah mati sebelum genap berusia satu tahun. 

Demikianlah, setelah peristiwanya berlangsung demikian, tak tahan lagi Tam Si-bin dan Yau Tiong-in maju ke depan menghampiri suami istri berdua.

“Bong tayhiap, masih ingatkah kau dengan si tua bangka dari bukit Thian tay?”

Bong Pay memutar badannya dan berpikir sebentar, kemudian sambil menjura ia berkata, “Oh, kiranya adalah Tam cianpwe, dalam pertemuan Pak beng hwee….”

“Dalam pertemuan Pak beng hwee, beruntung sekali lohu berhasil menyelamatkan diri, sejak itu aku mengasingkan diri dari keramaian dunia untuk mendalami ilmu kui goan sinkang dari partai kami, siapa tahu begitu berlatih puluhan tahun telah lewat, coba kalau suteku tidak minta kembali kitab pelajaran itu, entah sampai kapan aku baru munculkan diri, yaa…..sampai-sampai dalam pertemuan Kian Ciau tay-hwee pun aku tak sempat menyumbangkan tenaga, tindakan ini pasti telah mengecewakan banyak sobat lama.

Bong Pay tersenyum, kemudian berpaling ke arah Yau Tiong-in.

Buru-buru Yau Tiong-in menjura sambil berkata.

“Yau Tiong-in dari partai Thiam cong merasa beruntung sekali bisa berjumpa dengan Bong tayhiap suami istri”

Bong Pay merangkap tangannya membalas hormat, Pek Soh-gi sendiri meski hatinya agak tergetar, toh ia membalas hormat juga dengan sopan.

“Bong hujin!” Tam Si-bin berkata lagi sambil tertawa, “jika Kok Gi-pek berdiri bersanding denganmu, maka siapa pun akan menduga kalian berdua sebagai ibu dan anak”

Pek Soh-gi gelengkan kepalanya berulang kali, ujarnya. “Tam cianpwe, bagaimana tanggapanmu mengenai watak

nona Kok tersebut?”

Diam-diam Tam Si-bin berpikir dalam hati, “Kalau dilihat dari sikapnya yang begitu memperhatikan Kok Gi-pek, memang mirip sekali hubungan mereka seperti hubungan antara ibu dengan anaknya”

Dalam hati berbicara demikian, diluar ujarnya, Menurut pendapat lohu, meskipun nona itu tumbuh jadi dewasa dalam kalangan sesat tapi watak nya termasuk baik, cuma sayang rada angkuh dan mulutnya terlalu tajam” “Aku lihat ia begitu lembut, halus dan menawan hati” ujar Pek Soh-gi cepat dangan kening berkerut.

Itu kan terhadap hujin” sela Yau Tiong-in, “sikapnya kepada orang lain justru tidak demikian, terus terang ku beritahu kepada Bong hujin, sewaktu datang tadi aku orang she You telah merasakan sindirannya yang panas itu”

Ketika berbicara sampai disini, keempat orang itu segera merasakan hatinya agak bergerak, semua orang teringat dengan ucapan yang berbunyi, antara ibu dan anak mempunyai ikatan batin yang mendalam, hanya saja hal itu tak sampai diutarakan keluar.

Tiba-tiba Kim Kui, Cui Huan dan dua orang pelayan lainnya berjalan mendekat, lalu dipimpin oleh Kim Kui, kata mereka, “Waktu magrib telah menjelang tiba, santapan malam tayhiap sekalian telah disiapkan dalam pagoda air, apakah sekarang juga akan bersantap?”

Keempat orang itu saling berpandangan sekejap lalu tanpa banyak berbicara lagi mereka berjalan menuju ke pagoda air dengan mengikuti dibelakan pelayan-pelayan tersebut.

Jika Tam Si-bin dan Yau Tiong-in, yang satu adalah jago silat yang sudah lama mengasingkan diri, yang lain jarang bergaul dengan masyarakat, tidak banyak kenalan yang mereka punyai.

Berbeda dengan Bong Pay suami istri yang hampir mendekati dua puluh tahun lamanya dikenal orang sebagai jago silat yang termashur, sekalipun banyak yang tidak mereka kenal, tapi tak sedikit yang menyapa dan memberi salam kepada mereka. Sebab itulah meski jaraknya dekat, perjalanan ini memakan waktu yang cukup lama.

Selang beberapa saat kemudian, tibalah mereka disebuah pagoda air yang empat penjuru berjendela lebar, angin malam berhembus lewat membawa kesejukan, membuat ruangan yang terang benderang oleh sinar lampu itu terasa bertambah segar.

Dalam pagoda tiada orang lain, agaknya khusus disiapkan untuk mereka berempat, begitu keempat orang tersebut duduk, pelayan pun datang menghidangkan arak.

“Lebih baik kalian mengundurkan diri saja dari sini” tiba- tiba Bong Pay berkata.

Sementara para pelayan itu masih tertegun, sambil tersenyum Pek Soh-gi telah berkata, “Kami lebih suka makan minum sendiri secara bebas, nona sekalian boleh pergi beristirahat”

Cui Huan menjadi sangsi, bisiknya agak gelagapan. “Terima perintah, cuma… ”

“Bukankah nona sekalian ditugaskan kembali untuk melaksanakan perintah kami?” tukas Pek Soh-gi cepat, “inilah perintah kami!”

Pelayan-pelayan itu masih kelihatan agak sangsi tapi akhirnya mereka letakkan poci arak ke meja dan mengundurkan diri dari pagoda tersebut, sebelum keluar mereka sempat merapatkan pula pintu pagoda itu… ”

Pek Soh-gi melirik sekejap kearah suami nya, Bong Pay segera mengangguk, maka diapun bangkit dan berjalan ketepi jendela lalu balik kembali kemeja sekalian memadamkan api lentera.

Dengan padamnya lampu maka suasana dalam pagoda itu hanya diterangi sinar rembulan yang memancar masuk lewat jendela pagoda, sekalipun agak lamat-lamat namun bukan halangan bagi beberapa orang jago tangguh tersebut.

Sambil mengangkat poci arak, Pek Soh-gi berkata sambil tertawa, “Malam ini bulan bersinar purnama, minum arak dalam pagoda air dalam suasana begini memang cukup romantis, marilah ku penuhi cawan arak kalian berdua sebagai tanda mohon maaf”

Sekalipun Tam Si-bin dan Yau Tiong-in merasa agak kesal, namun mereka pun tahu bahwa perbuatan mereka pasti mengandung maksud tertentu, oleh karena orang tidak berkata, tentu saja merekapun enggan bertanya.

Sambil bangkit berdiri, buru-buru serunya, “Aaah, mana berani menurunkan derajat hujin!”

Sambil tersenyum Pek Soh-gi memenuhi cawan arak, ternyata ada lima cawan yang dipenuhi olehnya, hal mana dengan cepat menyadarkan Tam Si-bin berdua bahwa mereka sedang menunggu kehadiran orang dan tanda rahasia baru saja dilepaskan.

Tiba-tiba Bong Pay berseru sambil tertawa, “Paman Ho, bahkan cawan arak bagimu pun sudah dipenuhi oleh Toa moay cu, hayo masuklah!”

Desingan angin berhembus lewat, dan tahu-tahu dalam pagoda telah bertambah besar, orang itu bukan lain adalah Boan thian jiu (si tangan sakti pembalik langit) Ho Kee-sian adanya. Sambil tertawa terbahak bahak ia berkata, “Koh-ya, tenaga dalammu makin lama makin mengejutkan, lohu masih berada pada jarak lima kaki, jejakku sudah kau ketahui!

Dengan langkah lebar ia menghampiri meja perjamuan dan duduk.

“Paman Ho, jangan buru-buru minum arak dulu, masih ada dua orang lain yang belum kau jumpai” kata Pek Soh-gi.

“Tidak usah!” sahut Ho Kee-sian sambil tertawa, “dua orang ini, yang satu pernah beradu pukulan denganku sewaktu ada dalam pertemuan Pak beng hwee tempo hari, sedang yang lain datang bersama seluruh anggota partainya, tapi kurang rapat dalam merahasiakan jejaknya, Hian-beng- kau saja sudah tahu, tentu saja akupun tahu”

Merah padam selembar wajah Yau Tiong-in karena jengah.

Sedangkan Tam Si-bin sambil tertawa terbahak-bahak segera berseru, “Saudara Ho, kapan aku baru ada kesempatan untuk mencoba pukulan sakti pembalik langitmu?”

“Aah, apa susahnya, aku si Ho tua……..

Tapi sebelum ucapan tersebut selesai diucapkan, Pek Soh- gi telah menyela lebih dulu.

“Paman Ho, bagaimana dengan persiapan kita? Apakah diketahui pihak Hian-beng-kau?”

“Masa masih ada persoalan?” jawab Ho Kee-sian sambil tertawa angkuh, “dari rekan-rekan lama siapakah yang tidak memiliki ilmu yang tinggi dan pengalaman yang luas? Sampai waktunya, mungkin Kok See-piau si anjing keparat itu masih ada dalam impian”

00000O0000

51

Diam-diam Tam Si-bin dan Yau Tiong-in merasa malu dengan sendirinya setelah mendengar perkataan itu.

Mereka tak menyangka kalau kedatangan Bong Pay suami istri kesitu telah disertai dengan suatu rencana yang matang, tidak seperti mereka berdua baru saja masuk kedalam lembah, rahasianya su dah diketahui oleh orang lain, Bong Pay  rupanya tidak setuju dengan kata-kata Ho Kee-sian, segera ujarnya, “Paman Ho, kau tak boleh terlalu gegabah, Kok See- piau yang sekarang bukan Kok See-piau yang dulu lagi, kelicikkan dan kehebatannya tak bisa disamakan dengan pretasinya dimasa lalu”

“Sekalipun demikian, toh ia pun tidak punya sesuatu yaag patut dibanggakan”

Bong Pay mengernyitkan sepasang alis matanya yang tebal, kemudian pelan-pelan berkata.

Tidak sedikit jumlah tokoh sakti yang bergabung dengan pihak Hian-beng-kau, yang telah menampakkan diri sampai sekarangpun rata-rata berilmu tinggi, apa lagi yang masih belum muncul hingga seka-rang, entah sampai dimana taraf kepandaian yang dimilikinya…..”

Tiba-tiba Yau Tiong-in menimbrung.

Bong tayhiap, taukah kau kalau Jin Hian serta Tiangsun Poh yang merencanakan penggalian atas harta pusaka dalam istana Kiu ci kiong telah menggabungkan diri dengan pihak Hian-beng-kau?”

Paras muka Bong Pay agak berubah, serunya dengan cepat, “Haah masa terjadi peristiwa semacam ini? Dari mana saudara Yau mendapat tahu?”

“Nona yang bernama Kok Gi-pek itulah yang memberitahukan hal ini kepada kami, sahut Tam Si-bin.

Aaaah, tidak mungkin!” kata Pek Soh-gi dengan kening berkerut, walaupun ada lima enam tahun paman Tiang-sun tak pernah berkunjung kebukit Tay pa-san, tapi dia adalah seorang laki-laki yang berjiwa lurus dan ksatria, mana ia sudi bertekuk lutut oleh ancaman?”

“Jin Hian adalah pentolannya Hong-im hwee dimasa lalu” kata Ho Kee-sian pula, “meski perkumpulan Hong im hwee nya sekarang sudah bubar, dan ia dipaksa untuk mengasingkan diri hingga mati hidupnya tak ketahuan, tapi dengan kedudukannya sebagal seorang jago kawakan dari dunia persilatan yang pernah menguasahi sepertiga dari dunia persilatan, aku rasa tak mungkin ia rela diperintah oleh seorang angkatan muda macam Kok See-piau”

Untuk sesaat suasana menjadi hening, mereka sama-sama merenungkan kembali ada berapa bagian kemungkinan yang memungkinkan Ji Hian dan Tiangsun poh diserap pihak Hian- beng-kau.

Dalam keheningan tersebut, tiba-tiba Ho Kee-sian berkata, Menurut dugaanku, ada delapan bagian Kok See-piau merasakan lemahnya kekuatan sendiri, maka sengaja ia tiupkan berita sensasi agar mengacaukan pikiran para jago, bahkan Jin Huan sendiri siapa tahu kalau justru berada pada posisi bermusuhan dengan mereka?” “Perkataan dari saudara Ho ini memang ada betulnya juga maka lebih baik jika kita selalu waspada sehingga tak sampai termakan oleh siasat busuk dari Kok See-piau”

“Tapi aku tidak percaya kalau paman Tiangsun bersedia membantu kaum durjana melakukan kejahatan” kata Pek Soh- gi.

“Tiangsun cianpwe pribadi mungkin saja ksatria dan seorang laki laki sejati” ucap Yau Tiong-in “tapi seandainya Kok See-piau menyandera istrinya atau anaknya, bukankah mau tak mau ia musti tunduk juga dibawah ancamannya?”

Ketika Pek Soh-gi merasa hal ini ada kemungkinannya juga, ia menghela nafas panjang.

“Sayang dalam perjalanan menuju kemari aku tidak mampir dulu kebukit Bu-gi, untuk menengok keadaan paman Tiangsun, kalau tidak niscaya kecurigaan dan keraguan ini dapat teratasi”

Tiba-tiba Bong Pay tertawa, ujarnya, “Besok adalah saat dilangsungkannya upacara peresmian, sampai dimana kekuatan sesungguhnya dari Hian-beng-kau, dengan sendirinya akan kita ketahui juga pada waktunya, buat apa kita musti main tebak secara ngawur dan membuang tenaga dengan percuma?”

Yau Tiong-in manggut-manggut.

Perkataan saudara Bong memang betul, lebih baik kita jangan gubris lagi persoalan itu. Sampai disini, Bong Pay pun tersenyum, lalu sambil mengalihkan pokok pembicaraan, serunya kepada Ho Kee- sian, Sekarang Liong-ji berada dimana?

Ho Kee-sian tertegun, lalu pikirnya, “Kalau aku bicara terus terang dengan mengatakan kalau dia dan Thian Ik-cu setelah kebukit Ho san tiada kabar beritanya, mereka pasti akan amat gelisah, lebih baik jangan kusinggung dulu untuk sementara waktu.”

Sementara ia masih termenung, Pek Soh-gi telah bertanya lagi dengan gelisah, “paman Ho, apakah keselamatan Liong ji terancam?”

Buru-buru Ho Kee-sian tertawa.

“Memangnya nona tidak kenal dengan tabiat Liong sauya?” ucapnya, “kepergiannya begitu tiba-tiba, sampai lohu sendiripun tidak begitu jelas kemana ia telah pergi”

Hmm, bocah ini memang terlalu binal, masa menghadapi masalah besarpun sikapnya masih acuh tak acuh…..

“Sifat binalnya memang belum hilang, tapi mungkin juga ada sedikit persoalan yang hendak diselesaikannyaa sendiri, siapa tahu kalau ia menang bermaksud membuat surprise?” kata Pek Soh-gi lagi sambil tersenyum.

Tam Si-bin cepat menyambung pula sambil tertawa.

Hoa jin kongcu terkenal karena kecerdikan serta keberaniannya, tindakan yang ia lakukan pasti mengandung maksud tertentu, cuma ia memang gemar tertawa haha hihi dalam mengerjakan tiap persoalan, sikapnya yang santai tersebut memang cukup dikenal oleh setiap orang” Bong Pay tersenyum.

Tam locianpwe terlalu menyanjung keponakanku itu, ia masih muda, pengalamannya masih cetek, mana sanggup menanggung tanggung jawab sebesar ini?”

“Lohu bukannya memuji dan menyanjung dia lantaran dia adalah putra Thian cu kiam, tidak! Aku berbicara demikian karena setiap umat persilatan merasa berpendapat demikian” kata Tam Si-bin dengan wajah bersungguh-sungguh.

Hubungan Bong Pay dengan Hoa Thian-hong boleh dibilang melebihi saudara sendiri, Pek Soh-gi pun kakak dari Pek Kun gi, ibu Hoa In-liong, jadi hubungannya dengan keluarga Hoa boleh dibilang erat sekali.

Dengan eratnya hubungan ini, maka boleh dibilang mereka seringkali berkunjung ke perkampungan Liok soat san cong, sementara angkatan muda dari keluarga Hoa pun setiap waktu berkunjung ke tempat mereka, sebab itu pula dalam soal hubungan keluarga maupun dalam hal pelajaran silat, kedua keluarga ini berkaitan satu sama lain dengan eratnya, itulah sebabnya empat jurus terakhir dari ilmu Ci yu jit Ciat dapat berpindah pula ke dalam keluarga Hoa.

Jadi dalam anggapan Bong Pay suami istri, Hoa In-liong sama pula dengan anak kandung mereka sendiri.

Justru lantaran itu Bong Pay suami istri berdua amat risau menyaksikan watak Hoa In Hong yang suka bermain perempuan disana sini dengan tabiatnya yang binal sukar diurus, tapi ketika mengeta hui kalau diapun dipuji serta dikagumi umat persilatan, hatinya kembali terasa lega dan nyaman. “Orang yang terlalu pintar dan suka bersikap acuh biasanya kurang baik dalam melakukan pekerjaan!” kata Pek Soh-gi tertawa.

Tiba-tiba dari kejauhan sana lamat-lamat kedengaran suara pertarungan yang tampaknya sedang berlangsung amat seru.

Dengan wajah tercengang Yau Tiong-in lantas berseru, “Heran, siapa yang telah membuatr keonaran di dalam markas besar Hian-beng-kau?”

Ia bangkit berdiri dan berjalan menuju ke tepi jendela, beberapa orang lain pun ikut pula berpaling.

Sekeliling pagoda air itu merupakan jendela besar, jadi tanpa meninggalkan tempat duduk pun bisa melihat ke tempat kejauhan.”

Terlihatlah pada sudut barat daya dari lembah itu berkobar cahaya merah yang membumbung tinggi keangkasa, suara pertarungan tersebut berlangsung dari tempat itu.

Dari balik bangunan bangunan lainpun segera bermunculan bayangan manusia yang pada menengok keluar jendela, tapi mereka hanya terbatas menengok belaka tanpa mendatangi tempat kejadian tersebut, hal ini pertama untuk menghindari kecurigaan orang, kedua suasana disekitar tempat kebakaran itu pasti kalut, salah-salah mereka bisa menerima serangan lawan malah……….

Pek Soh-gi segera berpaling kearah Ho Kee-sian, kemudian tanyanya, Paman Ho, mungkinkah ulah dari rekan-rekan bekas seperkumpulanmu?

Pasti bukan rekan-rekan kami, sudah lohu pesankan kepada mereka agar menyembunyikan diri diempat penjuru, sebelum melihat tanda rahasia, mereka tak akan bertindak sewenang-wenang.

Pek Soh-gi termenung sejenak, lalu katanya.

“Walaupun tiga perkumpulan besar telah berserikat, namun sesungguhnya mereka tidak akur satu sama lainnya walaupun begitu aku pikir kedua belah pihak lainnya tak mungkin akan menimbulkan kesulitan bagi Hian-beng-kau sebelum berlangsungnya upacara peresmian esok pagi”

Itu berarti dari pihak kaum luruslah yang bermaksud hendak melenyapkan kaum besar dari muka bumi” sambung Bong Pay, kita sebagai seorang manusia yang hidup didunia ini hanya akan bertindak secara terus terang dan terbuka, tak mungkin kaum hiap khek bersedia membakar rumah atau menimbulkan kekalutan dengan cara demikian.

Pek Soh-gi berpikir sebentar, lalu ujarnya lagi, “Jangan- jangan perbuatan dari Ngote atau anak Liong?”

Bong Pay kembali berpikir.

“Yaa, Hoa Ngo dan Liong ji memang memiliki sifat suka mengaco orang, lagipula wataknya memang binal, kemungkinan sekali mereka memang ada niat untuk membuat malu Hian-beng-kau dihadapan para jago dari seluruh kolong langit.

Ketika makin dipikir ia merasa makin benar, sambil melompat bangun segera serunya, “Biar kutengok sebentar keadaan disana!”

Bagaikan seekor burung rajawali, secepat anak panah yang terlepas dari busurnya ia meluncur ke luar jendela, kemudian dengan meminjam daun teratai sebagai tempat berpijak, dalam dua tiga lompatan saja tubuhnya sudah lenyap dari pandangan.

Pek Soh-gi mau menghalangi kepergian suaminya, tapi tak sempat, maka iapun cuma berdiam diri saja.

Menyusul kepergian Bong Pay, dari balik pagoda-pagoda air lainnya segera bermunculan pula bayangan-bayangan hitam lainnya, dalam waktu singkat ada dua tiga puluh orang yang telah pergi.

Tiba-tiba terdengar Yau Tiong-in bergumam.

“Aaah, bukankah itu adalah Suto susiok serta Ong dan Ko sute berdua… ”

Buru-buru ia terpaling sambil berseru, “Akupun akan ikut kesitu!”

Sekali berkelebat ia telah menyusul kawanan jago lainnya yang sedang memburu tempat kejadian itu.

Menyaksikan kesemuanya itu. Tam Si-bin tertawa terbahak- bahak, “Haaahh….. haaahh………. haahh betul betul

sangat ramai, begini banyak orang telah menyusul kesana, suasana pasti bertambah kalut, tak bisa disangkal lagi kepergian mereka tentu akan membantu si pelepas api tersebut”

“Apakah locianpwe juga ingin menonton keramaian?” tanya Pek Soh-gi sambil tersenyum.

Tam Si-bin segera tertawa terbahak-bahak. Haaahh………Haahh……haaahh……kenapa musti kesana untuk menonton keramaian? Menyaksikan dari tempat inipun tak mengurangi kegembiraan hatiku”

Pek Soh-gi tersenyum ia lantas berkata ke pada Ho Kee- sian, “Setelah terjadinya peristiwa ini, pihak Hian-beng-kau pasti akan memperketat penjagaannya, orang-orang yang kita atur dalam lembah tampaknya sukar dipertahankan lebih jauh”

Ho Kee-sian berpikir sebentar, lalu kata nya, “Persoalan ini memang cakup merisaukan cuma mereka semua rata-rata adalah jago kawakan yang sudah berpengalaman selama puluhan tahun semestinya merekapun tahu gelagat, siapa tahu kalau telah mengundurkan diri keluar lembah…..

Sementara itu, kobaran api yang membumbung ke udara tadi sudah padam dengan cepat, suara pertarungan yang sedang berlangsungpun kini sudah tak kedengaran lagi.

Melihat itu, sambil tertawa Tam Si-bin berkata, “Kepandaian si orang yang melepaskan api memang luar biasa sekali, dalam waktu singkat ia dapat menimbulkan kebakaran sebesar ini, mungkin yang digunakan adalah apotas dan belerang sehingga begitu kena api lantas meledak. Cara Hian- beng-kau memadamkan api pun tak kalah cepatnya, entah si pelepas api itu berhasil ditangkap atau berhasil meloloskan diri?”

“Diatas bukit disebelah kiri lembah ini terdapat sebuah telaga besar kata Ho Kee-sian, “asal air itu dialirkan ke bawah maka tidak sulit untuk memadamkan api yang berkobar, anggap saja nasib mereka masih mujur…….”

Mendadak tampak sesosok bayangan manusia secepat kilat bergerak menuju ke gedung penerima tamu, Pek Soh-gi yang bermata tajam segera mengenali siapa gerangan orang itu, serunya tiba-tiba, “Ngo te!”

Sebenarnya bayangan manusia itu hendak bergerak menuju kesamping pagoda, tapi setelah mendengar panggilan itu, tanpa ragu-ragu lagi ia berubah arah dan menyusup masuk kedalam.

Tampaklah orang itu berkulit hitam pekat dengan rambut yang kusut dan pakaian yang tak rapi, sepintas lalu usianya tampak baru tiga puluh tahunan, ia menggendong seorang pemuda berpakaian ringkas yang berwajah pucat dan memejamkan matanya rapat-rapat, noda darah mengotori ujung bibirnya, bila dilihat dari keadaannya jelas isi perutnya telah menderita luka yang cukup parah.

Napasnya tersongkal-songkal jelas suatu pertempuran sengit baru saja berlangsung, begitu masuk kedalam pagoda meskipun melihat ada Ho Kee-sian dan Tam Si-bin berada disitu, diapun tidak menyapa.

Dengan langkah tergesa-gesa ia baringkan pemuda itu disebuah pembaringan bambu didekat jendela sana, lalu serunya, “Enso, cepat kau periksa keadaan, apakah luka yang diderita pemuda ini masih bisa ditolong?”

Pek Soh-gi sangat tenang, pelan-pelan ia berjalan mendekati pembaringan dan memeriksa denyutan nadinya, lalu kepada laki-laki itu katanya, “Kau masih saja bertingkah seperti dulu saja, hayo cepat beristirahat dulu, minumlah secawam dua cawan arak untuk menghilangkano rasa kaget, serahkan pemuda ini kepadaku!”

Tiba-tiba Tam Si-bin berjalan mendekat seraya berkata, “Pemuda ini bernama Yu Siau lam, dia adalah keponakan muridku, entah kenapa bisa menderita luka disini, mari biar lohu saja yang memeriksa keadaan lukanya?”

Dengan mata mendelik laki-laki setengah umur itu segera berseru.

“Sekalipun kau adalah supeknya, aku Hoa Ngo tidak percaya kalau ilmu pertabibanmu jauh lebih hebat dari kepandaian ensoku, sudahlah tak usah banyak urusan! Jangan karena sopan santun mengakibatkan nyawa orang melayang!”

Waktu itu Pek Soh-gi sedang memeriksa denyutan nadi pemuda tersebut, ketika mendengar ucapan itu, ia lantas menengadah sambil menegur, “Ngo te, jangan kurang ajar, dia adalah Tam Si-bin locianpwe dari bukit Thian tay!”

“Kalau memang dari Thian tay lantas kenapa? Aku hanya membicarakan tentang persoalan bukan soal manusianya, aku rasa ia memang sedikit tak tahu keadaan”

Pek Soh-gi tidak menyangka kalau makin bicara ia makin tak karuan, dengan menarik wajahnya, ia berseru, “Ngo te, kau terlalu kasar, apakah kau memang tidak memandang sebelah matapun kepada enso-mu?”

“Siau te mana berani!” jawab Hoa Ngo cepat-cepat dengan wajah agak takut.

“Kalau memang tidak berani, buat apa kau musti berdiri terus disitu…?”

Hoa Ngo ragu-ragu sejenak, akhirnya ia menjura kepada Tam Si-bin, bibirnya bergetar seperti hendak mengucapkan sesuatu, agaknya ia hendak minta maaf tapi tak tahu bagaimana musti berbicara. Seperti diketahui sebenarnya dia adalah seorang anak yatim piatu yang hidup gelandangan dalam kota Lok-yang, sejak kecil ia sudah hidup sengsara dan sering kali merasa kelaparan dan kedinginan.

Suatu kali ia berjumpa dengan Hoa Thian-hong serta kedua orang hujinnya, karena merasa kasihan maka bocah itupun mereka bawa pulang keperkampungan liok soat san ceng.

Betul, sejak itu dia dididik membaca, menulis dan belajar silat, tapi wataknya yang binal sukar dikendalikan.

Hanya Pek Soh-gi seorang yang seringkali bersikap tegas dan keras kepadanya, sebab itulah Hoa Ngo tidak begitu takut kepada Bun Tay-kun sebaliknya malah takut dengan Pek Soh- gi yang halus dan lembut, kalau di bicarakan kembali, hal ini memang lucu sekali.

Diam-diam Pek Soh-gi berpikir, “Dengan tabiat Ngo te, untuk memberi hormat saja sudah sulitnya bukan kepalang apalagi disuruh mengucapkan kata-kata minta maaf, tak heran kalau ia tak sanggup memberi jawaban”

Harap Tam cianpwe suka memaafkan kesalahan ngote ku ini, maklum dia memang agak berangasan dan kasar.

Untung imam Tam Si-bin cukup tebal, sekalipun merasa agak susah juga, terpaksa iapun harus bersikap terbuka.

Maka sambil tertawa terbahak-bahak dan mengelus jenggotnya ia berkata, Hoa ngo hiap memang jujur dan bersikap terbuka, tak heran kalau semua yang ingin diucapkan segera diutarakan, memang ucapannya tak salah, ilmu bertabiban Bong hujin memang tiada tandingannya didunia ini” Pek Soh-gi tersenyum.

Sedikit ilmu pertabiban yang tak seberapa hebat ini berhasil kupelajari dari enci Chin, tentu saja dalam pandangan orang lain kepandaianku ini masih jauh ketinggalan bila dibandingkan dengan enci Wan hong”

Sebagaimana diketahui, Pek Soh-gi amat gemar menolong orang, ia merasa kebanyakan orang miskin didunia ini menderita akibat terserang oleh aneka macam penyakit yang parah sebab itu ia merasa sangat tidak leluasa jika tidak mengerti tentang ilmu pertabiban.

Untuk mewujudkan cita citanya untuk mengobati orang itulah, maka ia belajar ilmu pertabiban dan ilmu tusuk jarum dari Chin si hujin.

Dengan otaknya yang pintar, kemauannya yang besar ditambah lagi ilmu pertabiban dari Chin si hujin memang nomer satu didunia, tak heran kalau ilmu pertabiban yang berhasil dipelajarinya terhitung hebat pula dalam dunia persilatan dewasa ini.

Berhubung Pek Soh-gi suami istri sepanjang tahun berkelana dan menolong orang, lambat laun namanya menjadi jauh lebih tersohor daripada nama besar Chin si hujin, rata- rata para jago memuji kehebatan ilmu pertabibannya, sekalipun dalam kenyataan memang masih kalah dengan Chin wan hong, toh selisihnya tidak seberapa lagi.

Demikianlah, sambil berbicara ia lanjutkan pemeriksaannya atas nadi pemuda itu, ketika hasilnya telah diketahui, diam- diam iapun berkerut kening. Tam Si-bin yang menyaksikan kejadian tersebut menjadi amat cemas katanya, “Bong hujin, apakah keponakan muridku masih bisa ditolong?”

“Bisa ditolong sih bisa” sahut Pek Soh-gi sambil tertawa, “cuma kalau ditinjau dari keadaan lukanya, jelas memperlihatkan bahwa ia sudah lama menyimpan rasa pedih, hati dan paru parunya mengalami luka parah, ditambah lagi dalam adu tenaga tadi, Tay yang hui keng dan Cui im sim pau kengnya tadi, masih mendingan kalau ia muntahkan darahnya, justru sikapnya menahan muntahan darah tersebut semakin menambah parahnya luka yang diderita”

Kemudian sambil berpaling kearah Hoa Ngo, ujarnya lagi, “Ngo te, ketika kau menolong dirinya tadi apakah kau telah menotok jalan darah im bun dan tiang hu niatnya untuk mencegah penjalaran luka yang dideritanya?”