Neraka Hitam Jilid 10

Jilid 10

“Ku Ing ing, berhenti!”

Sinar lampu segera menerangi empat penjuru, menyusul kemudian bayangan manusia yang entah berapa banyak jumlahnya bermunculan disekeliling hutan itu.

Diam-diam terkejut juga Coa Wi-wi mendengar seruan tadi, pikirnya, “Oooh…..rupanya bibi Ku yang sedang mereka hadang!”

Ketika berpaling, tampak olehnya Cia In pun sedang berada dalam keadaan tertegun dengan wajah kaget. Ia mencoba pula untuk mengawasi sekeliling sana diatas sebatang dahan pohon sepuluh kaki dihadapannya sana, berdirilah seorang tokoh berusia setengah umur yang cantik jelita, tokoh itu membawa sebuah Hud tim bergagang pualam di tangan kirinya.

Meski hanya memakai sebuah jubah pendeta yang berwarna hijau, namun tidak menyembunyikan kecantikan wajahnya yang mempesonakan hati itu.

Dan dia memang bukan lain adalah Giok teng Hujin Ku Ing ing yang kini bernama Tiang heng Tokoh.

Hanya sebentar terkejut, Tiang heng Tokoh segera dapat menenangkan kembali hatinya, dengan sepasang biji matanya yang jeli ia mengawasi sekejap sekeliling tempat itu….

Disebuah tanah lapang didepan sana, tampaklah Bwe Su- yok yang berwajah cantik tapi dingin itu berdiri angker sambil memegang tongkat kepala setannya, dikiri kanannya masing- masing berdiri Lei Kiu-it dan seorang kakek berbaju hitam yang bertubuh ceking sekali, sementara sayap kiri dan sayap kanan masing-masing berdiri dua baris anak buahnya.

Diarah kiri dan kanan masing-masing berdiri kawanan jago yang dipimpin Kek Thian tok, Seng Sin san dan Huan Tong untuk menghadang jalan mundur orang, kalau dilihat dari tampang-tampang kawanan jago dari Kiu-im-kau itu, bisa diketahui bahwa mereka bukan manusia manusia yang berilmu cetek.

Setelah menyaksikan keadaan tersebut, Tiang beng Tokoh baru merasa terkesiap pikirnya. “Celaka, kalau dilihat dari posisi yang terbentang didepan mata sekarang, rasanya untuk kabur dari sini jauh lebih sulit dari pada mendaki ke langit!”

“Ku Ing-ing!” kedengaran Lei Kui it membentak, “kenapa kau masih belum juga memberi hormat kepada Kiu-im- kaucu?”

Setelah mengasingkan diri selama belasan tahun, kemampuan Tiang heng Tokoh untuk mengendalikan perasaan sungguh mengagumkan sekali.

la tertawa-tawa, sambil melompat turun dari atas dahan, dan memberi hormat kepada bwe Su-yok sapanya.

Bwe Su-yok berlagak tidak melihat, ia berdiri angkuh disitu sementara sinar matanya berkilat tajam, tampaknya terjadi pergolakan hebat di dalam hati kecilnya.

00000O0000

49

Ku Ing Ing, apakah kau sudah lupa dengan asalmu?” kakek berjubah hitam yang bertubuh ceking itu kembali membentak dengan suara dingin.

Tiang heng Tokoh mengalihkan sorot matanya ke arah orang itu, lalu tanyanya, Siapa kau? maaf bila pintoi tidak mengenalinya!”

Lohu adalah Sik Bio Ciao pelinduag hukum dan kaucu angkatan kedua, sekalipun belum pernah berjumpa tentu pernah mendengar bukan?” kata kakek ceking berbaju hitam itu lagi dengan dingin. Terkesiap juga Tiang heng Tokoh sesudah mendengar nama tersebut, segera pikirnya, “Ooooh… rupanya dia!”

Ternyata Sik Ban-cian si kakek ceking berjubah hitam itu adalah salah satu diantara empat orang pelindung hukum dari Kiu-im-kaucu angkatan kedua, dimasa itu empat orang pelindung hukum dari Kiu-im-kaucu ini disebut orang persilatan sebagai Kiu im su-ciat (empat yang luar biasa dari Kiu-im-kau cu).

Berbicara tentang kesuksesan Kiu-im-kau dimasa lampau, ada separuh bagian diantaranya adalah berkat perjuangan keempat orang itu, coba kalau keempat orang itu tidak tersekap dibukit Wu san pada lima tahun berselang tak mungkin Kiu-im-kau bakal di paksa orang untuk kabur ketengah samudra dan hidup terombang ambing tanpa tujuan.

Tiang heng Tokoh menjadi murid Kiu-im-kau justru disaat Kiu-im-kau sedang mengalami masa runtuh, diapun kemudian mendapat tugas untuk menyusup ke tubuh Tong thian kau sambil menunggu saat yang baik untuk muncul kembali dalam dunia persilatan.

Karenanya ia belum pernah berjumpa dengan keempat orang itu, tapi pernah mendengar kelihayan mereka berempat.

Maka sambil menghela napas diam-diam berpikir, “Waah…….rupanya aku bakal mampus hari ini”

Tapi pertapaannya selama ini membuat hatinya setenang air, dengan sikap yang tenang ia memberi hormat kepada Sik Ban-ciau, la lu katanya, “Rupanya kau adalah cianpwe pinni, maafkanlah bila Tiang heng bersikap kurang hormat kepadamu” “Hmm, apa kau anggap setelah mengenakan jubah kependetaan maka urusan dimasa lalu bisa diselesaikan dengan begitu saja?”

Tiang heng tokoh tertawa hambar, sahutnya, Sudah lama pinni bukan anggota Kiu-im-kau lagi.

“Ku Ing ing, kau berani menghianati su-cou?” bentaknya.

Pinni bernama Tiang heng. Ku Ing Ing sudah mati semenjak dua puluh tahun berselang.

Sekalipun Ku Ing ing belum mati, tapi setelah menjalankan hukuman Im-hwe-lian-hun (api dingin melelehkan sukma) aku sudah bu kan terhitung anak murid Kiu-im-kau lagi.

Ucapan tersebut membuat Sik Ban-cian tertegun, ia lantas berpaling ke arah Bwe Su-yok.

“Yaa, memang ada kejadian tersebut!” Bwe Su-yok segera mengangguk tanda membenarkan.

Kiranya dalam peraturan Kiu-im-kau ada tercantum bahwa barang siapa telah menjalani hukuman Api dingin melelehkan sukma maka ia sudah bukan termasuk anggota Kiu-im-kau lagi.

Sebagaimana diketahui, siksaan Api dingin melelehkan sukma adalah siksaan paling kejam didunia ini, belum tentu setiap manusia bisa menahannya, barang siapa t lah menjalaninya selama tujuh hari tujuh malam tubuhnya akan berubah menjadi sesosok mayat kering.

Peraturano itu sebenarnya diujukan untuk anggota perkumpulan yang telah melakukan pelanggaran besar, agar setelah mati pun tak dapat menjadi murid Kiu-im-kau. Siapa tahu dikala Giok teng hujin menjalani siksaan di kota Cho ciu, Hoa Thian-hong telah datang tepat pada waktunya, karena menguatirkan ilmu silat Hoa Thian-hong yang lihay, terpaksa Kiu-im-kaucu membatalkan hukuman-nya ditengah jalan, sebab itulah Giok Teng hujin bisa hidup sampai sekarang.

Kenyataan mana segera membuat Sik Ban-cian menjadi serba salah, sebab menurut peraturan setelah Giok teng hujin tidak menjadi murid Kiu-im-kau, maka peraturanpun tidak berlaku lagi baginya, atau dengan perkataan lain diapun tidak berhak lagi untuk menuntutnya.

“Ku lng ing” mendadak Lei Kiu-it membentak dengan dingin, “hukuman api dingin melelehkan sukma yang semuanya berlangsung selama tujuh hari tujuh malam belum kau laksanakan hingga selesai, itu berarti kau masih belum terlepas dari ikatan peraturan perkumpulan kami”

Dengan langkah lebar ia lantas maju ke depan dan melepaskan sebuah pukulan ke arah Ku Ing ing, seraya membentak, “Akan kulihat sampai dimanakah kemajuan yang berhasil kau capai selama beberapa tahun ini?”

Ku Ing ing tersenyum, hud tim ditangan kanannya menggulung keatas..

Terdengar suara benturan seperti benda retak, hawa pukulan langsung membuyar keempat penjuru dan membuat kobaran api obor menjilat-jilat tiada hentinya.

suasana dalam hutan itupun menjadi mengerikan sekali seperti ada setan-setan yang sedang bergentayangan. Lei Kiu-it mundur selangkah dengan cepat sementara ujung baju Tiang-heng Tokoh berkibar keras terhembus angin.

Kejadian itu segera membuat semua anggota Kiu-im-kau menjadi terperanjat, dalam bentrokan yang baru terjadi terbukti bahwa kepandaian yang dimilikinya memang hebat.

Padahal sebagai seorang jago dibawah ruangan Yu beng thiam, kepandaian silat yang dimiliknya masih berada di bawah dua istana dan tiga ruangan, tapi kenyataannya dia masih berada diatas kepandaian Lei Kiu-it.

Tiba tiba Bwe Su-yok menegur dengan dingin, Lei tiamcu, apakah aku menitahkan kepadamu untuk turun tangan?

Paras muka Lei Kiu-it agak bsrubah, buru-buru ia memberi hormat kepada Bwe Su-yok sambil menyahut, Hamba melakukannya karena buru-buru ingin menangkap penghianat tersebut.

“Mundur kau!” tukas Bwe Su-yok cepat.

Lei Kiu-it agak ragu-ragu sejenak, kemudian setelah sangsi beberapa waktu diapun mengundurkan diri dari sana.

Bwe Su-yok mendengus dingin, setelah melirik sekejap kearah Sik Ban-cian katanya, “Sik hu hoat, bagaimana menurut pendapatmu??”

Sik Ban-cian memberi hormat lalu sahutnya, Walaupun peraturan dalam perkumpulan kita memang berbunyi demikian, tapi menurut pendapat lohu, Ku Ing ing tak dapat dile paskan dengan begitu saja. “Kalau peraturan yang telah adapun tidak dipegang teguh, perkumpulan macam apakah perkumpulan kita ini? Dan bagaimana pula bisa merajai dunia persilatan?” tegurnya.

Mendengar itu diam-diam Sik Ban-cian berpikir, “Kalau didengar dari perkataannya itu, agaknya dia berniat untuk melindungi Ku Ing ing perempuan rendah itu, hmm! Orang bilang dia ada main dengan bocah muda dari keluarga Hoa, rupanya perkataan tersebut tak bakal keliru lagi.”

Berpikir demikian iapun lantas berkata, “Menurut peraturan perkumpulan, orang harus menjalani hukuman api dingin melelehkan sukma sukma tujuh hari tujuh malam, walaupun tidak dicantumkan keterangan lalu tapi artinya sudah jelas, harap kaucu bersedia untuk memahaminya”

Paras muka Bwe Su-yok mulai tampak agak sangsi, namun diapun tidak banyak berbicara lagi.

Diam-diam Tiang beng Tokoh berpikir kembali, “Aaai….” Keadaan telah berkembang menjadi begini, rasanya diapun tak akan mampu untuk membentak diriku lagi, janganlah lantaran persoalan membuat kewibawaannya dibadan anak buahnya merosot, semoga bocah ini dapat membawa perkumpulan Kiu-im-kau menuju ke jalan yang benar….”

Berpikir demikian, ia merasa enggan untuk menyulitkan Bwe Su-yok lagi dalam persoalan ini, ia lebih rela beradu iiwa daripada menyulitkan orang lain.

Maka sesudah berpikir sejenak, katanya sambil tersenyum, “Kaucu…..”

Setajam sembilu Bwe Su-yok berpaling, ketika dilihatnya paras muka Tiang heng Tokoh yang se-mula sedih kini berubah jadi cerah, dengan cepat ia dapat menebak suara hatinya, iapun lantas berpikir, “Bila membiarkan ia mati dihadapanku, jika sampai diketahui olehnya, niscaya dia akan membenciku setengah mati!”

Walaupun sikapnya yang istimewa dimasa dalam pertemuan yang pertama dengan Tiang beng Tokoh, ia telah menyebutnya sebagai cianpwe dan sikapnya menunjukan penuh kesopanan dan rasa hormat mempunyai penjelasan tertentu, namun kesemuanya ini dia lakukan jelas disebabkan oleh Hoa In-liong.

Kalau tidak demikian, mungkin sedari tadi ia telah menuduh Tiang heng Tokoh sebagai seorang penghianat.

Maka dari itu ketika dilihatnya Tiang heng Tokoh ada maksud untuk mengakui kesalahannya di hadapan umum, ia menjadi cemas bercampur gelisah, tiba-tiba bentaknya dengan keras, “Tutup mulut!”

Kemudian sambil berpaling kearah Sik tan cian, katanya lagi, “Sik Hu hoat, dalam usaha penghadangan terhadap Ku Ing ing ini, kaulah yang memimpin langsung semua penjagaan disini, apakah cukup rapat dan kuat penjagaan di sekeliling tempat ini?”

Coa Wi-wi yang mendengar sampai disitu hatinya lantas bergerak, pikirnya, “Jangan-jangan Bwe Su-yok memang bermaksud memancing ke-datanganku ke tempat ini”

Berpikir demikian, iapun melirik sekejap kearah Cia In, ketika empat mata saling bertemu, Cia In segera mengangguk, rupa nya mereka berdua mempunyai pendapat yang sama.

Sik Ban-cian agak tertegun setelah mendengar dibalik perkataan Bwe Su-yok masih ada perkataan lain, dengan tenaga dalam yang dimilikinya, asal memasang telinga baik baik maka tak sulit baginya untuk menemukan tempat persembunyian dari Cia ln serta dua bersaudara Kiong, maka sorot matanya lantas dialihkan ketempat persembunyian empat orang gadis itu kemudian tertawa panjang.

Sungguh amat sempurna tenaga dalam ysng di miliki Sik Ban-cian, gelak tertawanya melengking dan membelah keheningan malam hingga membuat Cia In dan dua bersaudara Kiong yang berada pada jarak agak jauhpun merasakan gendang telinganya menjadi amat sakit, kepalanya pusing tujuh keliling, hampir saja ia tak tahan.

Menyaksikan kejadian itu Coa Wi-wi menjadi amat gelisah, kontan saja ia membentak nyaring.

Dalami keadaan cemas dan gelisah bentakan tersebut telah disertai dengan tenaga dalam yang cu-kup empurna, bahkan saja berhasil mengimbangi gelak tertawa Sik Ban ciao, bahkan menusuk pendengaran lawan.

Bwe Su-yok maupun Lei Kiu-it yang sama sekali tidak bersiap sedia hampir saja merasakan dadanya bergolak keras apalagi murid-murid Kiu-im-kau lainnya, mereka merasa seperti disambar guntur, tubuhnya sampai bergoyang keras.

Dengan wajah tertegunn Sik Ban ciao tutup mulut tapi sejenak kemudian dengan suara dalam serunya, “Rupanya ada jago tangguh yang berada disini, bagaimana kalau tampilkan diri sebentar?”

Coa Wi-wi tahu bahwa kemungkinan besar ia tak dapat mengundurkan diri dari situ dengan aman pada malam ini, maka dengan suara setengah berbisik katanya, “Tiga orang saudaraku, jago-jago tangguh dari Kiu-im-kau telah berkumpul semua disini, kalian bukan tandingannya, maka jika sampai terjadi bentrokan nanti, lebih baik hindari jago-jago tangguh, cari saja para anak buahnya yang agak cetek kepandaian silatnya.

Sebetulnya ucapan semacam ini pantang di utarakan keluar, sekalipun merupakan suatu kenyataan, untung saja ketiga orang gadis itu berhati polos dan tidak menaruh perasaan tak senang atau perasaan lainnya, mendengar perkataan itu serentak mereka manggut manggut.

“Jangan kuatir!” kata Giong Gwat lan sambil tertawa “sebetulaya aku memang cuma ingin berpeluk tangan belaka, ingin kulihat sampai dimanakah kehebatan ilmu silat yang kau miliki itu”

Coa Wi-wi tersenyum, diapun berjalan keluar lebih dulu dari tempat persembunyian nya disusul ketiga orang lainnya.

Ketika Tiang heng Tokoh melihat Coa Wi-wi dari depan, dengan heran iaberseru.

“Anak Wi, rupanya kau!”

“Bibi Ku” kata Coa Wi-wi dcngsn manja, “aku harus berterima kacih kepada pihak Kiu-im-kau karena berhasil mengurung dirimu disini kali ini aku tak akan biarkan kau kabur dengan begitu saja”

Tiang heng Tokoh tersenyum, sinar matanya pelan-pelan dialihkan kewajah Cia In serta dua bersaudara Kiong, kemudian sambil menggape katanya, “Anak In, kau dan nona berdua dibelakangku saja”

Dalam sekilas pandangan saja, Sik Pan cian telah mengetahui bahwa kepandaian silat yang dimiliki keempat orang ini amat cetek, tapi setelah mengetahui bahwa orang yang membentak amat dahsyat tadi adalah seorang gadis belia yang cantik jelita, ia menjadi tercengang.

“Aaali…..!” serunya tertahan.

“Budak ini bernama Coa Wi-wi, keturunan dari Bu seng (malaikat ilmu silat)!” demikian Bwe Su-yok berkata dingin.

Paras muka Sik Ban-cian berubah hebat, serunya dengan suara lantang, “Wahai budak she Coa, ape hubungan mu dongan Coan cing si keledai tua gundul?”

Tak terkirakan rasa gusar Coa Wi-wi mendengar orang itu mengejek kakeknya, biji mata yang jeli berputar-putar, lalu sahutnya dingin, “Setan tua, apa yang kau ngaco belokan?”

“Budak sialan!” teriak Sik Ban-cian penuh kegusaran, selanglah demi selangkah ia maju ke depan.

Coa Wi-wi tidak berani bertindak gegabah, diam-diam ia menge rahkan tenaga dalamnya untuk bersiap sedia menghadapi segala kemungkinan, sementara Thian heng Tokoh mempersiapkan senjata Hud timnya untuk melancarkan Serangan.

“Setan tua, lihat toya saktiku!” mendadak seseorang berseru dengan suara lantang.

Belum lagi ucapan tersebut selesai diucapkan, sesosok bayangan hitam dengan membawa desingan angin tajam langsung menerjang kearah Sik Ban-cian.

Melihat datangnya ancaman, Sik Ban-cian memutar telapak tangan-nya melancarkan serangan balasan, tiba-tiba ia merasa keadaan tidak betul, bawa murninya segera ditarik kembali lalu dari pukulan merubahnya menjadi cengkeraman, ia cakar punggung bayangan hitam tersebut.

Benar juga ternyata orang itu adalah anggota Kiu-im-kau yang dilemparkan orang ke arahnya.

“Sik lo ku!, kau memang hebat” suara itu memuji lantang, “untung matamu cukup jeli sehingga nyawa seorang anak buahmu berhasil diselamatkan

Habis sudah kesabaran Sik Ban-cian, karena gusarnya ia tertawa terbahak-bahak, lalu menerjang ke atas sebatang pohon besar yang rimbun lebih kurang sepuluh kaki dihadapannya sana, bentaknya penuh kegusaran, “Kawanan tikus darimana yang telah datang? Hayo cepat meng-gelinding keluar dari tempat persembunyianmu!”

Belum lagi tubuhnya menerjang tiba, sepasang telapak tangannya telah dilontarkan ke depan, gulungan angin pukulan yang maha dahsyat segera menyambar tubuh lawan,

“Blaaaar… !” getaran keras yang memekik-kan telinga

berkumandang memecahkan keheningan, batang pohon yang lima kaki tingginya itu segera terhantam telak sehingga patah menjadi dua dan roboh ketanah.

Diantara daun-daun dan ranting-ranting yang beterbangan diudara, terdengar gelak tertawa pan-jang yang memekikkan telinga berkumandang memecahkan keheningan, sesosok bayangan hitam melompat keudara lalu berseru sambil tertawa, Sungguh suatu tenaga pukulan yang amat hebat, cuma sayang hanya bisa dilampiaskan pada batang pohon.

Sik Ban ciat makin marah, teriaknya keras-keras, “Manusia sialan, jangan kabur kau!” Dia melompat keudara dan meluncur ke depan melakukan pengejaran..

Semua orang telah dapat melihat bahwa orang yang mengejek Sik Ban-cian itu memiliki ilmu silat yang maha hebat, sudah jelas kepergian Sik Ban-cian kali ini tak pasti akan berhasil menyusul lawan.

Diam-diam Tang heng Tokoh berpikir, “Walaupun Sik Ban- cian berhasil dipancing pergi, tapi ketiga orang Thamcu dari Kin im kau serta Bwe Su-yok masih ada di sini, belum tentu anak Wi sanggup menghadapinya, lebih baik mumpung masih ada kesempatan aku kabur saja lebih dulu.

Satelah mengambil keputusan, iapun berbisik, “Anak Wi, buka jalan! Nona berdua dan anak In ditengah, mari kita berangkat!”

Coa Wi-wi mengangguk, ia bersiap-siap untuk berangkat mening-galkan tempat itu.

Mendadak terdengar suara pujian kepada sang Buddha berkumandang diudara, seorang, tauto (hwesio yang memelihara rambut) dengan rambut yang terurai sepundak, berwajah pualam dan berikat kepala perak, dengan memakai jubah pendata warna abu-abu dan membawa sebuah senjata sekop dari perak melayang turun ketengah arena.

“Siapa sebutanmu taysu?” tanyanya. “Pinceng adalah Cu Im!” jawab si Tauto.

Kemudin sambil berpaling kearah Tiang heng Tokoh, katanya, “Nona Ku, apakah masih kenal dengan pinceng?”

Tiang heng Tokoh tertawa getir. Budi kebaikan taysu dan suma tayhap yang jauh-jauh datang memberi bantuan tak akan Tiang heng lupakan untuk selamanya, mana mungkin pinceng lupa dengan taysu?!!

Tiba-tiba paras muka Cu Im taysu berubah menjadi amat sedih, dia berkata memuji keagunggan sang Buddha.

“Omintahud!” Kini Suma loce telah berpulang kelangit barat sementara pinceng masih kelayappan dialam semesta.

Aai..Kejadian dalam dunia memang berubah dengan cepatnya. Semuanya itu akan menambah kenanggan dan kepedihan dihati orang saja.

Tiba tiba Lei Kiu-it berkata dengan dingin.

“Cu Im tauto, tempat ini bukan tempat bagi kalian untuk mengenang kembali kejadian-kejadian dimasa silam, aku pikir bila kau sudah bersiap mencampuri urusan ini, tak berguna banyak bicara lagi, mari kitalangsung saja beradu kekuatan.

Cu Im taysu tertawa-tawa.

“Lei sicu, cukup tajam perkataanmu itu, pinceng kagum sekali, cuma berilah kesempatan lebih dulu kepada pinceng untuk bercakap cakap dengan kaucu kalian”

“Taysu hendak membicarakan soal apa?” tanya Bwe Su- yok.

Cu Im taysu lantas berpaling, diawasinya sekejap wajah Bwe Su-yok, kemudian sambil merangkap tangannya didepan dada ia berkata, “Bwe kaucu adalah seorang perempuan yang pintar dengan hati yang bijaksana, masa jaya Kiu-im-kau tak lama lagi pasti akan tiba, pinceng akan menyampaikan selamat lebih dahulu” Bwe Su-yok terpaksa membungkukkan badan membalas hormat.

“Aku tak berani menerima ucapan selamat dari taysu” cepat sahutnya.

Cu Im taysu menghela napas panjang, katanya, “Bwe kaucu, dua puluh tahun berselang nona Ku sudah melaksanakan hukuman im hwe lian nun (api dingin melelehkan sukma) selama sehari dua malam, keadaannya mengerikan sekali…….”

“Taysu!” tukas Bwe Su-yok, “jika ingin mengucapkan sesuatu, katakan saja berterus terang, aku pikir kau tak perlu berbelok-belok lagi dalam pembicaraan”

“Pinceng hanya ingin berkata bahwa menurut peraturan, semestinya Kiu-im-kau sudah tidak berhak lagi untuk mencampuri urusan nona Ku, sebab nona Ku telah menjalankan siksaan tersebut”

Bwe Su-yok tertawa dingin. “Heeehh…..heeeh….heeeh…..hebat betul taysu, rupanya

kau pandai mengupas masalah peraturan dari pertarungan kami.

“Maksud Bwe kaucu…..” Cu Im Taysu mengernyitkan sepasang alis matanya.

Tidak menanti ia menyelesaikan kata-katanya, dengau dingin Bwe Su-yok telah berkata, “Semua persoalan tentang perkumpulan kami, tak akan mengijinkan orang lain untuk mencampurinya. Setelah kejadian berkembang jadi dingin, demi menjaga nama baik serta martabat Kiu-im-kau, terpaksa ia tak dapat mundur dengan begitu saja, padahal hati kecilnya merasa salah, coba kalau tidak terikat oleh budi kebaikan dari gurunya, ia sudah tinggalkan kedudukannya sebagai kaucu dan mengasingkan diri ditempat yang terpencil.

Ketika mendengar perkataan itu, Lei Kiu-it sekalian segera merasakan semangatnya berkobar kembali, rasa antipati yang timbul dalam hati merekapun segera tersapu lenyap.

Tiba-riba terdengar suara parau berkumandang memecahkan kesunyian.

“Hei hwesio tua, sekalipun kau berhati baik, sayang sekali si keras kepala enggan menganggukkan kepala, lebih baik simpan saja hati baikmu dan mengangkat senjata.”

“Siapa disitu?” bentak Lei Kiu-it.

“Ciu Thian-hau dan gunung Hong-san” jawab orang itu dingin.

Paras muka semua jago dari Kiu-im-kau segera berubah hebat, sebab keadaan yang terbentang didepan mata mereka sama sekali diluar dugaan siapapun.

Kepandaian Giok teng Hujin sudah tidak seperti kepandaian yang dulu, ilmu silat Coa Wi-wi tiada tandingannya dan pernah dibuktikan sendiri oleh para jago Kiu-im-kau, kini Sik Ban-cian dipancing orang dan belum kembari, ditambah Ciu Thian-hau dan Cu Im taysu telah muncul dipihak lawan, sudah bisa dipastikan Kiu-im-kau berada dalam keadaan kalah.

Dalam pada itu, Kek Thian tok, Seng Sim san dan Huan Tong yang menyaksikan kepungan mereka tak mungkin mendatangkan hasil, dengan cepat mereka mundur ke samping Bwe Su-yok.

“Ciu Thian hau!” bentak Huan Tong dengan gusar “jelek- jelek kau juga punya nama, kenapa tidak segera menampilkan diri? Memangnya malu untuk bertemu orang?”

Ciu Thian hau mendengus dingin.

“Hmm…..! Hanya kawanan setan gentayangan yang ada disitu, lohu malas untuk bertemu dengan kalian”

Menggunaakan kesempatan ketika Huan tong sedang bertanya jawab dengan Ciu Thian hau, Bwe Su-yok berpaling ke arah Kek Thian tok sambil bertanya dengan suara lirih, “Bagaimana pendapat Kek tongcu?”

“Hamba rasa tiada berharga buat kita untuk beradu kekerasan” bisik Kek Thian tok. “lebih baik kita tunggu saja sampai saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau, waktu itu sekalian kita turun tangan membasmi kawanan musuh besar kita ini*

“Bagaimana dengan pendapat kalian?” Bwe Su-yok berpaling ke arah para jago lainnya.

Seng Sim sam menghela napas, katanya, “Padahal rencana kita diatur sangat rahasia, entah kenapa mereka dapat mengetahui rahasia ini sehingga pada berdatangan kemari, kalau tahu begini keempat huhoat kita diajak kemari semua dengan kekuatan yang tangguh kita tak usah takut pada mereka lagi, yaa, apa boleh buat, terpaksa kita harus berbuat demikian”

Bwe Su-yok tersenyum, tiba-tiba ia maju lima langkah ke depan, dengan sorot mata yang tajam ia menatap sekejap wajah Tiang beng Tokoh, kemudian katanya, “Ku….. Tiang heng Tokoh, jika kita langsungkan pertarungan, yakinkah kau dapat menangkan pertarungan ini?”

Tiang heng Tokoh agak tertegun, lalu pikirnya, “Kek Thian tok merekapun bermaksud lepas tangan, kenapa kau malah tak mau mengundurkan diri?”

Dalam hati berpikir demiktar, diluar hati ujarnya sambil tersenyum, “Masakah pinto dapat menandinggi kehebatan Kui im kaucu, tentu saja aku yang bakal kalah”

“Coa Wi-wi yang berada disisinya lantas berpikir, “Jika bibi Ku sampai bertarung dengan Bwe Su-yok, dan karena tak beruntun sampai kalah, nama baiknya pasti akan ikut ternoda, hal ini sangat tidak berharga baginya”

Berpikir demikian, diapun menampilkan diri, seraya berkata, “Bwe Su-yok, mana mungkin bibi Ku mau bertarung dengan seorang boanbwe seperti kau, kalau ingin bertarung, hayo kita saja yang bertarung”

Bwe Su-yok pura-pura tidak mendengar, kembali ujarnya, “Sebelum pertarungan dilangsungkan, sukar untuk menentukan menang kalahnya, tapi berbicara menurut pendapat umum aku lebih banyak bera-da dipihak yang kalah dari pada menang”

Setelah berhenti sejenak, katanya kembali, “Dalam pertarungan ini, bila kau dapat menang, sejak hari ini Kiu-im- kau tak akan mencarimu lagi, tapi jika aku yang menang, maka terpaksa aku harus membawamu pergi”

Tiang heng Tokoh tidak langsung menjawab, diam-diam pikirnya kembali; “Terhitung lumayan juga ia bisa berpikir sampai kesitu, cuma jelas aku tak boleh kalah, padahal sebagai seorang kaucu tak mungkin akan membiarkan dirinya sampai kalah”……..

Berpikir sampai disitu, diapun melirik sekejap kearah Cu Im taysu, ia berharap paderi itu bisa membantunya berbicara.

Cu Im taysu mengernyitkan, alis matanya, lalu berkata, “Bwe kaucu!”

Bwe Su-yok tertawa angkuh, katanya, “Apakah taysu bermaksud untuk memberi petunjuk kepadaku?” Cu Im taysu tertawa.

“Pinceng sudah tua, enggan rasanya aku untuk bermain kekerasan, apalagi melangsungkan pertarungan dengan orang muda”

Setelah berhenti sebentar, ia berkata lebih jauh, “Menurut pendapat pinceng, mumpung saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau tinggal beberapa hari, lebih baik kita selesaikan masalah ini dihadapan para enghiong hohan dari kolong langit, bukankah hal ini jauh lebih baik?”

Bwe Su-yok termenung dan tidak berbicara padahal memang itulah yang diharapkan, segera pikirnya, “Dalam peresmian perkumpulan Hian-beng-kau nanti, seluruh jago dari pelbagai tempat bakal berkumpul semua disitu, keadaan nya pasti kacau balau tak karuan, bila ingin membereskan pertikaian dalam ke adaan seperti ini, jelas hal ini bukan suatu pekerjaan yang gampang…..

Baru saja berpikir sampai disitu, tiba-tiba berkumandang suara pekikan nyaring yang memmbelah udara, Sik Bon cian bagaikan seekor burung raksasa melayang masuk ke dalam gelanggang.

Di bawah cahaya api, tampak wajarnya berubah menjadi hijau membesi, ujung baju sebelah kanannya terpapas kutung sebagian.

Ia melirik sekejap kearah Cu Im taysu kemudian sambil tertawa seram bentaknya.

“Cu Im, siau pwe darimanakah itu?”

“Haputule!” jawab Cu Im taysu dengan kening berkerut.

“Belum pernah kudengar nama orang itu, siapa gurunya?” “Aku rasa kau pasti telah merasakan pedang mestika itu,

pedang emas tersebut merupakan pedang paling tajam dikolong langit, rasa nya tidak sulit bukan bagimu untuk menebak asal perguruannya.

“Lohu tidak menyangka bakal…..”tapi sampai ditengah jalan, Sik Ban-cian telah mengalihkan pembicaraannya ke soal lain “apakah dia muridnya It kiam kay tionggoan (Pedang sakti yang menyelimuti daratan Tionggoan) Siang Tang lay, si setan tua itu?”

“Huh, sungguh tak tahu malu” ejek Coa Wi-wi sambil tertawa dingin, “tak mampu mengalahkan orang, berkaok- kaok juga ditempat ini, kau pamerkan kepada siapa lagakmu itu?”

Kegusaran Sik Ban-cian ketika itu sedang mencapai pada puncaknya, mendengar perkataan itu ibaratnya minyak yang bertemu api, kontan saja ii menyeringai seram. “Budak sialan!” teriaknya menahan geram, Coa Wi-wi sama sekali tidak menghindar atau pun berkelit, tetapi tangannya segera digetarkan dan langsung menyambut nya tubrukan lawan.

Kedua orang itu asma sama maagandalkan tenaga pukulan dingin yang bersifat lembut, apalagi serangannya sama-sama dilancarkan tanpa menimbulkan sedikit suarapun, maka ketika dua kekuatan saling bertemu………”Blaar!” pancaran hawa sakti menyebar ke empat penjuru.

Cu Im taysu yang berada didekat sana segera merasakan tenaga tekanan yang maha kuat menghantam dadanya, dengan hati terkejut ia awasi Coa Wi-wi beberapa kejap, kemudian pikirnya, “Dengan tubuh yang begitu ramping dan lemah lembut ternyata memiliki tenaga dalam sehebat itu, sungguh merupakan suatu kejadian yang sama sekali diluar dugaan”

Dalam pada itu, Sik Ban-cian mendengus gusar, lengan kanannya diangkat, siap melancarkan serangan lagi, tapi ia segera berubah ingatan, pelan-pelan dihampirinya Bwe Su- yok, lalu bibirnya berke mak-kemik entah apa yang diucapkan, sebab ia mengirim suaranya dengan ilmu menyampaikan suara.

Mendengar bisikan tersebut paras muka Bwe Su-yok berubah hebat, dengan cepat ia menengadah sambil berkata, Jika taysu memang berpendapat demikian, baiklah persoalan ini kita undur sampai diselengarakannya peresmian perkumpulan Hian-beng-kau nanti.

Tidak menunggu jawaban dari Cu Im taysu lagi, tongkat kepala setannya segera digetarkan lalu mengundurkan diri dari situ. Sik Ban-cian serta Kek Thiann tok sekalian menyusul dibelakangnya, sementara para jago dari Kiu-im-kau sama- sama memadamkan obor dan mundur ke dalam hutan, sekejap kemudian tak seorangpun yang tertinggal disitu.

Dengan keheranan Coa Wi-wi lantas berkata, “Mereka mundur dengan begitu tergesa gesa, jangan-jangan Kiu-im- kau telah tertimpa suatu musibah?”

Cu Im taysu gelengkan kepalanya berulang kali “Entahlah pinceng sendiripun kurang jelas” Kemudian sambil berpaling dengan wajah lembut katanya, “Nona Coa……”

“Panggil aku anak Wi!” sela Coa Wi-wi manja.

Cu Im taysu tersenyum, ujarnya, “Baiklah, tiga puluh tahun berselang, pinceng pernah bertemu dengan kakekmu dan ayahmu sewaktu berpesiar ke kota Kiui leng, aku memang pantas memanggilmu sebagaia anak Wi!”

“Kenapa kau tak pernah mendengar ibuku membicarakan persoalan ini….?” tanya Coa Wi-wi sambil membelalakkan matanya yang jeli.

Cu Im taysu tertawa.

“Waktu itu usia ayahmu maupun aku masih amat muda, ketika kakekmu mengetahui bahwa pinceng adalah orang persilatan, beliau enggan bersahabat lebih akrab denganku, Cuma saja lantaran ayahmu begitu dimerahasiakan dirinya, maka hingga kini pinceng baru tahu bahwa keluargamu adalah keturunan dari Bu seng,.

Coa Wi-wi menggerakkan bibirnya hendak menjelaskan pesan dari Kakek moyangnya yang melarang anak keturunan- nya berkelana dalam dunia persilatan. Tapi ia sebelum ia sempat berbicara, tiba-tiba terdengar Tiang-heng Tokoh bertanya.

“Kenapa Ciu tayhiap masin belum juga munculkan diri?” Cu Im taysu memandang sekejap sekeliling tempat itu,

kemudian sambil menghela nafas panjang, sahutnya, “Karena kematian suma lote, ia telah bersumpah tak akan berjumpa dengan sahabat-sahabat lamanya sebelum pembunuh itu berhasil ditemukan dan lehernya digorok untuk membalas dendam”

Thiang heng Tokoh lantas berpaling ke arah hutan, kemudian serunya, “Ciu tayhiap bisa begitu setia kawan, hal ini sungguh membuat Thiang heng merasa kagum, cuma saja tindakan semacam ini apakah tidak terlalu… ”

“Percuma banyak bicara, mungkin ia sudah pergi meninggalkan tempat ini” sela Cu Im taysu dari samping.

“Cu pekya malahan merasa tak senang hati lantaran Ciu pekya enggan turun gunung!” sela Coa W i wi dengan manja.

Sementara itu Thian heng Tokoh sedang berpikir.

“Jika tidak pergi meninggalkan tempat ini, aku akan sulit untuk kabur setelah direcoki budak tersebut.”

Selama banyak tahun belakangan ini, dia selalu berusaha untuk menghindarkan diri dari pertemuan dengan sanak keluarga, maka ketika kemunculan Ciu Thian-hau justru mencocoki selera hatinya, maka sambil tersenyum katanya, “Kalian bicaralah pelan-pelan disini, karena masih ada sedikit urusan, pinto harus mohon diri lebih dulu” Lalu sambil berpaling kearah Cia In, katanya lagi, “Anak In, guruku telah berangkat ke utara lebih dulu untuk menyelidiki gerak-gerik dari tiga perkumpulan besar, sepanjang jalan, ia meninggalkan tanda rahasia, pergi susullah dia, kalau bisa bergabung saja dengan gurumu!

Cu Im taysu bukan orang bodoh, segera dia pun berpikir, “Setelah kepergiannya, sudah pasti jejaknya akan semakin rahasia, selanjutnya kemana aku harus pergi untuk mencarinya?”

Berpikir demikian, buru-buru ia berkata, “Nona ku, harap tunggu sebentar, Haputule dari See ih ingin bercakap-cakap denganmu”

“Lain kali saja!” jawab Thiang heng Tokoh.

Setelah berhenti sebentar, ia melanjutkan, “Pinto bernama Thiang heng, jika taysu masih juga memanggil nama ku dulu, maaf jika pinto tak akan menggubris lagi.”

Haputule dan Hoa Thian-hong berhubungan lebih akrab dari saudara sendiri, sudah tentu ia lebih-lebih tak ingin berjumpa de ngannya, belum lagi kata-katanya selesai dia ucapkan, senjata Hud timnya telah dikebaskan siap meninggalkan tempat itu.

“Omintohud!” Cu Im taysu berseru memuji keagunggan sang Buddha, senjata sekopnya langsung dilintangkan di depan dada, sepasang kakinya menjejak ketanah dan melayang turun bersamaan waktunya dihadapan Thiang heng Tokoh, sehingga jalan perginya segara terhadang.

Melihat itu, Thiang heng Tokoh mengerutkan dahinya, lalu berseru dengan nada yang tenang. “Apakah taysu melarang pinto pergi dari sini?”

“Ah, mana pinceng, berani?” buru-buru Cu Im taysu menjawab.

“Kalau begitu, minggirlah dari situ!”

Pelbagai ingatan berkecamuk dalam benak Cu Im taysu, untuk sesaat ia tak berhasil menemukan cara yang baik untuk menahan Thiang heng Tokoh disitu……

Tiba tiba Cia In berseru lantang.

“Oh supek! Bukankah kau telah berjanji dengan pihak Kiu- im-kau untuk menyelesaikan pertikaian ini pada saat peresmian perkumpulan Hian-beng-kau….? Jika kau orang tua pergi, bukankah Cu Im taysu yang membuat perjanjian ini akan kehilangan kepercayannya?”

“Perkotaan sutit memang benar” cepat-cepat Cu Im taysu berseru dengan gembira, “harap nona Ku jangan menyusahkan pinceng.

Ia masih tetap memanggil Tiang heng Tokoh dengan sebutan “nona Ku” maksudnya dia hendak menginggatkan Giok teng hujin Ku lng ing bahwa hubungannya dengan keluarga Hoa sesungguhnya erat sekali.

Diam-diam Thiang heng Tokoh merasa marah sekali, segera serunya.

“Budak sialan, kau berani barsekongkol dengan mereka untuk menghadapi aku?” Cia In segera bertekuk lutut dan menjatuhkan diri berlutut dihadapan supeknya lalu sambil menengadah katanya dengan suara gemetar.

“Ooh supek, kenapa kau orang tua musti bersusah payah berbuat demikian?

Keponakan murid rela dijauhi hukuman mati asal kau orang tua bersedia untuk bertemu dengan Hoa tayahiap!”

Dua bersaudara Kiong saling berpandangan sejejap, kemudian bersama-sama memberi hormat kepada Tiang heng Tokoh.

Kata Kiong Gwat hui.

“Kiong Gwat hui dan Gwat lan dari perguruan MHa san memberi hormat buat cianpwe”

“Tidak berani” jawab Thiang heng Tokoh sambil tersenyum, “baik baikkah kakekmu?”

“Dia orang tua ada dalam keadaan baik-baik dan boleh dibilang sehat walafiat”

Berbicara sempai disini, ia lantas mengedipkan matanya memberi tanda kepada Gwat lan untuk berbicara.

Semenjak tadi Kiong Gwat lan telah berniat untuk berbicara, melibat itu buru-buru ia menyam-bung.

“Ku locianpwe, kejadianmu dimasa lalu yang penuh kegembiraan maupun kesedihan telah banyak kami dengar, hanya sayang boanpwe sekalian tak sempat menjumpaimu, sungguh beruntung malam ini kami bisa berjumpa muka….” “Tak usah mengumpak” tukas Thiang heng Tokoh sambil tertawa, apa yang kau ucapkan katakan saja terus terang!”

Maaf cianpwe, apakah kau tidak merasa terlalu manja sekali?”

Kiong Gwat lan dengan wajah serius.

“Aaah, kalian anak kecil cuma tahu satu tak tahu dua, apa yang hendak kalian bicarakan?” dengan gusar Thiang heng Tokoh berseru.

Aku tak ambil perduli soal satu atau dua, seru Coa Wi-wi dengan capat, Pokoknya kau musti berjumpa dengan empek Hoa, kalau tidak tinggalkan alamatmu, aku pikir empek Hoa pasti akan berkunjung kesitu untuk minta maaf”

Melihat gelagat tak baik, Tiang beng Tokoh segera berpikir, Wah, mereka pada mengerubuti aku seorang, kalau begini terus caranya, tidak memakai sedikit akal jelas aku tak bakal bisa loloskan diri dari sini.

Berpikir demikian, diapun berkata, “In jin, hayo bangun!

Supek tak akan menyalahkan kamu lagi”

Cia In menyembah beberapa kaki kemudian baru bangkit berdiri, wajahnya kelihatan sedih, ia seperti mau mengucapkan sesuatu namun maksud tersebut kemudian diurungkan.

Diam-diam Thiang heng Tokoh menghela napas panjang sambil berpaling ke arah Cu Im taysu, katanya, “Taysu, persoalan antara Kiu-im-kau dengan pinto biarlah diselesaikan saja pada ucapacara peresmian Hian-beng-kau nanti, kalau toh demikian untuk sementara waktu, bagaimana kalau jangan kita bicarakan lagi?” “Apakah sampai waktunya, nona Ku pasti akan tiba?” Cu Im taysu masih kelihatan sangsi.

“Yaa, sampai waktunya Ku Ing ing pasti akan datang!”

Begitu selesai berkata, ia lantas melejit ke udara dan melayang pergi dari situ.

Cu Im tsysu masih juga agak sangsi tapi terbayang bahwa orang persilatan selalu memegang janji yang telah diucapkan, apalagi Tiang beng Tokoh pun telah berjanji akan datang, maka dia tidak menghalangi lagi jalan perginya.

Sebab bagaimanapun juga cukup mengerti, apa bila ia sampai mengucapkan kata-kata yang ber-nada tak percaya akibatnya bisa terjalin perselisihan paham, karena itulah ia selalu tak berani mengucapkan kata-kata yang bermaksud menghalangi niatnya.

Setelah berjalan sejauh beberapa li, mendadak Tiang hen tokoh merasa gelagat tak benar, tiba-tiba ia berpaling kebelakang, maka tampaklah Coa Wi-wi dengan senyuman dikulum sedang mengikuti di belakangnya, jelas ia sudah cukup lama membuntuti disana.

Ketika Coa Wi-wi menjumpai jejaknya ketahuan, kontan saja ia tertawa cekikikan.

“Bibi Ku, aku ingin mengikutimu! Tiang heng Tokoh segera terhenti, serunya, “Budak cilik,, kau berani tak pacaya dengan perkataanku?”

Coa Wi-wi tertawa cekikikan, serunya, “Hei, apa yang kau katakan?” “Aku bilang…” mendadak ia terbungkam. Kembali Coa Wi-wi tertawa.

Biar aku saja yang mengatakannya untuk bibi Ku, waktu itu Bibi ku berkata bahwa Ku Ing ing pasti akan datang, padahal bibi Ku pernah berkata bahwa kau sudah bukan Giok teng hujin Ku Ing ing lagi, kalau memang demikian, itu berarti sudah tiada hubungannya lagi dengan Tiang heng Tokoh, sampai waktunya asal kau mengirim orang yang mengabarkan bahwa Giok teng hujin sudah tiada lagi, otomatis Thiang heng Tokoh tak perlu memenuhi janji tersebut. Yaa, taysu itu terlampau jujur, tentu saja ia tak da-pat menangkap rencanamu itu”

Padahal memang begitulah rencana Tiang heng Tokoh, setelah rahasianya ketahuan, ia pun tak sanggup tertawa lagi.

“Anak Wi, kau memang pintar, tapi setiap orang mempunyai jalan pemikiran yang berbeda, buat apa kau memaksa terus……”

“Maka dari itu, aku sudah bertekad untuk mengikuti terus bibi Ku!” sambungnya.

Tiang hieng Tokoh agak tertegun, tiba-tiba wajahnya berubah mem besi, kemudian serunya, “Bila kau mengejar diriku lari, hati-hati kalau kuanggap dirimu sebagai musuh besarku.”

Sepasang mala Coa Wi-wi berubah menjadi merah, katanya, “Pukullah aku, pokoknya aku tak akan pergi!”

Karena gadis itu sudah tersengguh hendak menangis, buru- buru Tiang heng Tokoh mengendorkan sikap kerasnya, sambil tertawa ia berkata, “Ah, ucapan bibi Ku memang kelewat berat, anak Wi. Kenapa musti kau msukkan kedalam hati”

”Kalau bibi Ku mengijinkan aku mengikutimu” kata Coi Wi wi lagi sambil lertawa.

Tingkah polahnya yang tak menentu itu sungguh membuat Tiang heng Tokoh kehabisan akal, apa lagi Coa Wi-wi pada dasarnya memang polos dan lembut ibarat bidadari dari kahyangan, siapapun yang bertemu dengan nya lantas akan merasa cocok dan senang sekali untuk bergaul dengannya.

Betulkah, dengan perasaan apa boleh buat, Tiang heng Tokoh berkata sambil tertawa, “Siapa yang berani melarangku?”

Tiba-tiba terdengar suara Haputule berseru, “Setelah ada nona Coa yang mengiringi perjalanan, siaute akan mohon diri sampai disini saja!”

Sesosok bayangan hitam menerjang keluar dari balik hutan, lalu seperti seekor burung elang me-luncur ke arah barat laut.

Tiang heng tokoh agak tertegun, kemudian serunya dengan lantang, “Bagus sekal”, hei Haputule! Kau berani bermain gila dengan pinto”

“Harap nona Ku suka memaafkan kesalahanku ini” jawaban dari Haputule datang dari kejauhan, “siaute……”

Mungkin lantaran sudah amat jauh, suara selanjutnya tak dapat terdengari lagi dengan jelas.

Melihat itu, Tiang heng Tokoh pun bergumam, “Tampaknya ilmu silat yang di miliki sudah berhasil menyusul kehebatan gurunya ketika mengetarkan daratan Tionggoan tempo hari” Lalu sambil berpaling ke arah Coa Wi-wi, katanya lagi sambil tertawa.

“Hei, budak cilik bukankah semenjak tadi kau sudah tahu kalau ia sedang menguntil di belakang ku?”

Coa Wi-wi tertawa cekikikkan.

“Masa kau tak bisa menangkap nada ucapannya? Muugkin sudah banyak waktu ia menguntil dibelakangmu, hanya saja kau tidak merasakan hal itu, kalau tidak kenapa Cu Im taysu dan Ciu tayhiap, bisa berdatangan kemari secara kebetulan”

Thiang heng tokoh gelengkan kepalanya sambil tertawa getir, katanya kemudian, “Hayo kita berangkat!”

oooOooo

Upacara perkumpulan Hian-beng-kau di selenggarakan ditebung Ui gou peng diatas bukit Gi san.

Nama Ui gou peng tersebut tak akan di kenal orang lain, sekalipun bertanya pada orang sedesa pun, rupanya nama tersebut diberikan sendiri oleh orang-orang Hian-beng-kau.

Menurut keterangan dari orang-orang Hian-beng-kau, letaknya berada disebelah selatan bukit Gi san, ditengah lekukan bukit yang bersusun dan menghadap ke arah bukit Mong-san, jaraknya kira-kira seratus li dari kota Gi sui shin.

Kira-kira mendekati akhir bulan empat, semua rumah penginapan yang berada dikota-kota sekitar bukit Gi mong san, seperti kota Gi sui shia, Leng hou shia, An khu shia, Mong im shia, hampir boleh dibilang penuh oleh tamu. Setelah mengalami masa tenang selama banyak waktu dengan keluarga Hoa saja yang paling menonjol dalam dunia persilatan, sebagai besar umat persilatan merasa gembira sekali menyambut ter-jadinya peristiwa besar ini, berbondong- bondong mereka berdatang dari segala penjuru tempat untuk ikut meramaikan suasana.

Ketika bulan lima tanggal satu, orang sudah mulai mendaki bukit, sepanjang jalan tentu saja orang-orang Hian-beng-kau sibuk menyiapian tempat penginapan dan hidangan untuk menjamu tamu-tamunya itu.

Hari ini adalah bulan lima tanggal empat, sebagian besar tamu sudah naik gunung ketika mende-kati senja, kembali ada sekelompok orang yang berdatangan.

Setelah menembusi sebuah jalan usus kambing yang dihimpit dua buah bukit karang menjulang ke langit, didepan sana adalah sebuah tempat terbuka yarg dikelilingi bukit dengan bentuk seperti kerbau, itulah sebabnya tempat itu dinamakan Ui gou peng.

Dikeliling puncak bukit terdapat sebuah tanah lapang yang bertumbuh pohon siang, kicauan burung berbunyi memeriahkan suasana, keadaan terasa nyaman sekali.

Didepan sana terbentang sebuah jalan batu yang lebar, dihadapannya berdiri sebuah tugu kumala putih yang bertulisan “Kun leng thian he” (Aku merajai kolong langit) empat huruf besar yang terbuat dan emas.

Tertimpa sinar senja, huruf-huruf itu memantulkan sinar emas yang amat menyilaukan mata.

Tiba-tiba salah seorang kakek berjubah hijau mendengus dingin, kemudian gumamnya, “Hmm, takabur amat!” “Tam tayhiap, persoalan apa yang membuatmu merasa kurang puas?” seseorang menegur menda-dak.”

Ketika semua orang alihkan sinar matanya, tampaklah seorang kakek berjenggot cabang tiga de-ngan sinar mata yang tajam dan mengenakan jubah hitam berdiri disisi jalan.

Kakek berbaju hijau itu tampak agak terkejut, lalu pikirnya, Padahal aku sudah banyak tahun tak pernah muncul dalam dunia persilatan, tapi orang itu dapat segera menyebut namaku, Hian-beng-kau benar-benar bukan suatu perkumpulan yang boleh dianggap remeh. 

Ternyata kakek berbaju hijau itu shi Tam bernama Si bin berasal dari perguruan Thian tay-pay dan terhitung kakak seperguruan dari Kanglam Sin-ih Yu Siang-tek, ilmu silatnya jauh melebihi adik seperguruannya.

Kalau Kanglam Sin-ih (tabib sakti dan Kanglam) lebih menitik beratkan perhatian-nya untuk memperdalam ilmu pertabiban-nya sehingga dalam ilmu silat ia ketinggalan jauh, maka Tam Si-bin menetap terus di Thian tay sambil berlatih ilmu dengan tekun.

Ketika Kanglam Sin-ih Yu Siang-tek diculik orang, seluruh partai Thian tay-pay menjadi gempar, sebagai orang yang berilmu paling tinggi dalam partai Thian tay, sudah barang tentu ia tak dapat berpeluk tangan belaka, maka di pimpinnya beberapa orang murid untuk turun gunung.

Kebetulan mereka menjumpai perayaan tersebut, maka kesempatan baik ini pun segera dimanfaatkan, mereka bermaksud menyelidiki markas besar Hian-beng-kau, sebab dengan kedudukannya sekarang, jelas sulit akan dikenali orang lain.

Siapa tahu, baru saja sampai di tengah jalan, indentitasnya sudah diketahui orang.

Dengan perasaan bergetar keras, dia pun bertanya, “Siapa kau?”

“Aku bernama Cui Heng, menjabat kedudukan seorang Thamcu dari ruangan Tee it tham!”

Satu ingatan dengan cepat melintas dalam benak Tam Si- bin, segera ia menjura, lalu katanya, “Oooh… rupanya kau

adalah It pit kon hua (pit sakti penggaet sukma) dari wilayah tian liong yang termashur karena ketujuh puluh dua jurus ilmu Poan koan pit Kui seng tiam goan, maaf… maaf!”

Pit sakti pengaet sukma Cui Heng segera menjura, katanya pula, “Mana, mana, cukup memandang ilmu Kui goan sinkang dari Tam heng yang sudah beratus tahun lenyap dari peredaran dunia bisa disimpulkan bahwa partai Thian tay bakal merajai kembali dunia persilatan”

Semakin terkesiap Tam Si-bin setelah mendengar perkataan itu, pikirnya, “Aku sudah tiga puluh tahun lamanya mengundurkan diri dari dunia persilatan untuk melatih ilmu sakti tersebut, bahkan anak muridku pun tak, kenapa Hian- beng-kau sudah bisa menyelidiki persoalan ini begitu jelasnya?”

Terdengar Cui Heng berkata lagi, “Saudara Tam, bolehkah aku tahu, apakah pelayanan dari perkumpulan kami sepanjang jalan kurang sempurna sehingga tak berkenan dihatimu, harap saudara Tam katakan padaku dengan terus terang, siaute pasti akan menghukum berat mereka yang bersalah” Tam Si-bin segera tertewa terbahak-bahak.

“Haaahh…..haaahh….haahh….pelayanan dari perkumpulan kalian cukup baik dan menyenangkan, masa siaute tidak merasa puas”

“Kalau begitu tolong tanya karena persoalan apakah saudara Tam tak senang hati?”

“Sialan betul orang ini” maki Tam Si-bin dalam bati, “sudah tahupun pura-pura tidak mengerti, sialan!”

Maka sambil menuding huruf “Kun leng thian he” yang tercantum diatas tugu, ia tertawa terbabak-bahak, kemudian katanya, “Siaute memang bodoh sekali, apakah Cui thamcu bersedia menjelaskan arti daripada ke empat huruf tersebut?”

0000000O0000000

50

Ciu Heng memutar sekejap matanya, lalu tertawa-tawa. “Oooh, jadi saudara Tam tak senang hati karena persoalan

itu” katanya.

Jika sekarang saudara Tam masih tak paham, maka selesai upacara nanti kau akan mengerti dengan sendirinya.

Sudah jelas arti lain dari perkataan itu adalah, sejak kini perkumpulan Hian-beng-kau bakal menguasahi seluruh kolong langit! Tam Si-bin tertawa dingin, tiba-tiba sambil menjura ia berkata!, “Dalam penemuan nanti siaute ingin mo hon petunjuk dari saudara Cui!”

“Siaute pasti akan melayaninya!” jawabnya.

Setelah memberi hormat, ia lantas putar badan dan berjalan menelusuri jalan kecil itu, sekejap kemudian bayangan tubuhnya sudah lenyap tak berbekas.

Tiba-tiba terdengar seseorang berkata sambil tertawa, “Tam cianpwe, kionghi! kionghi! Rupanya ilmu sakti partaimu telah berhasil di kembangkan kembali!”

Ketika Tam Si-bin berpaling, maka tampaklah seorang laki- laki setengah umur yang berwajah bersih dan berdandan seorang sastrawan, dengan tangan kirinya membawa sebuah kipas yang terbuat dari baja, sedang berjalan menghampirinya.

Ia merasa teramat asing dengan orang itu, maka setelah ter-menung subentar, katanya sambil tertawa, “Lote ini adalah… ”

“Tam locianpwe, masih ingatkah kau dengan Yau Tiang li dari partai Tian cong?” sapanya.

Tam Si-bin baru teringat kembali, segera pikirnya, “Ooohhhh… rupanya dia!”

“Tiba-tiba paras mukanya menjadi dingin.

“Oh, ternyata adalah Yau lote, konon pada sepuluh tahun berselang kau telah menjadi seorang ketua dari suatu perguruan, ke jadian ini patut diberi selamat” Lalu satelah memberi hormat, ia menambahkan, “Disini banyak orang dan tidak leluasa untuk berbicara, maaf……”

Tak mau banyak berhubungan dengan orang ini, maka dengan membawa anak buah, segera melanjutkan kembali perjalanan menuju ke depan.

Bila sewaktu Tam Si-bin berbicara dengan Cui Heng tadi, sebagian besar jago pada ikut berhenti dan menonton keramaian, maka setelah berbisik-bisik sejenak, merekapun melanjutkan kembali perjalanan menuju ke dalam lembah, suasana pulih kembali dalam keheningan.

Kiranya partai Cian cong terhitung pula aliran kaum pemdekar, tiga puluh tahun berselang ketika mereka kekurangan orang berbakat, tiba-tiba diumumkan bahwa perguruan menutup pintu dan tak mengadakan hubungan lagi dengan dunia persilatan, walaupun ketika itu hawa jahat menyelimuti angkasa, kejahatan merajalela bahkan pertemuan besar Pak beng hwe maupun Kian-ciau tay-hwee, tidak hadir pula. Karenanya Tam Si-bin memandang sinis orang tersebut.

Tiba tiba Yau Tiong-in berteriak kembali, “Tam locianpwe, harap tunggu sebentar, silaukan kau dengarkan dulu perkataan dari aku Yau Tiong-in”

Tam Si-bin pura-pura tidak mendengar dan meneruskan perjalanannya menuju ke depan.

Melihat itu, Yau Tiong-in mengerutkan dahinya, kemudian berseru dengan lantang, “Tam locianpwe, masakah sepatah katapun tak kau ijinkan kami Tiam cong pay memberi penjelasan?” Setelah berkata demikian, tentu saja Tam Si-bin tak bisa berpura-pura lagi, ia putar badan dan berkata dengan hambar, “Apa lagi yang hendak kau katakan?”

Yau Tiong-in maju tiga langkah ke depan, ia saksikan hanya terpaut sedikit waktu saja mereka berdua telah tertinggal sejauh beberapa kaki dari rombongan lainnya.

Maka sambil maju menghampiri Tam Si-bin dengan serius dia berkata, “Ketidakhadiran kami dalam penemuan Pak beng hwe, maupun Kiau ciau tay hwe bukau disebabkan karena takut mati, tapi sesungguhnya guru kami……”

Agaknya ia merasa sukar nntuk meneruskan perkataan itu tapi setelah berheeti sejenak, ia pun melanjutkan, “Sesungguhnya guru kami telah dikalahkan oleh Bu liang Sinkun, oleh sebab itu partai kami harus menepati janji dengan menutup diri selama puluhan tahun lamanya”

Berkenyit sepasang alis mata Tam Si-bin setelah mendengar perkataan itu, cepat dia berseru.

“Oooh, kiranya begitu! Cuma pegang janjipun harus dibedakan atas urusan yang serius dan urunan yang tidak serius, jika persoalan su- dah menyangkut mati hidupnya dunia persilatan, tidak betul kalau partai Kalian hanya berpeluk tangan belaka, untung ada Hoa tayhiap dan ibunya coba kalau tidak demikian, entah bagaimanakah keadaan dunia persilatan dewasa ini…..”

“Perkataan locianpwe memang benar!” tukas Yau Tiong-in sambil tertawa getir, “sebenarnya suhu pun hendak berbuat demikian, beliau rela mengingkari janji dan ditertawakan orang, dari pada tidak turut serta dalam usaha melenyapkan hawa sesat dari dunia persilatan……” Sesudah menghembuskan napas panjang, ia melanjutkan, “Cuma saja, pada waktu itulah tiba-tiba kami temukan bahwa kecuali sebagian kecil anggota perguruan, hampir seluruhnya telah terkena racun jahat yang membuat kami kehilangan tenaga dan tak mampu bertarung lagi dengan orang lain”

Setelah mendengar sampai disini, dengan nada minta maaf buru-buru Tam Si-bin berseru, “Oooh, selama ini lohu tak tahu duduk perkara yang sesungguhnya, jika telah melakukan kesalahan, harap Lote sudi memaafkan!”

“Partai kami tak pernah mengungkapkan persoalan yang sesungguhnya, tak heran kalau menimbulkan kesalahpahaman semua orang!”

Agaknya ia merasa amat murung dan sedih, setelah menghela napas panjang katanya lebih jauh, “Akhirnya suhu kami nanti dengan membawa duka nestapa, sebelum meninggal beliau berpesan agar kami balaskan dendam sakit hati ini, tiga puluh tahun kemudian partai kami dapat muncul kembali dalam dunia persilatan, sesungguhnya dendam sakit hati ini hendak kami tuntut balas, tapi Bu Liang loji sudah keburu mampus ditangan Bun Tay-kun, partai kami tiada kesempatan lagi untuk membalas dendam, tak tahunya murid dari setan tua itu, Kok See-piau berani menyebar undangan untuk mendirikan perkumpulan disini, maka kehadiran partai kami kali ini pasti akan membalas dendam sakit hati itu dihadapan para enghiong hohan”

“Semoga saja usahamu itu berhasil!” kata Tam Si-bun sambil menghela napas panjang.

Sesudah berhenti sebentar, ia menambahkan.

“Sudah tahukah kalian, siapa yang melepaskan racun keji itu sehingga membuat sengsara semua partai?” Yau Tiong-in menggeretakan giginya kencang-kencang menahan luapan emosi, katanya, “Sudah bisa dipastikan tak akan terlepas dari Bu-liang si bajingan tua itu!”.

Diam-diam Tam Si-bin lantas berpikir, “Dendam sakit hati sedalam ini sudah pasti akan dituntun balas oleh semua kekuatan dari Thiam cong pay, itu berarti pertumpahan darah pasti akan menghiasi seluruh pertemuan ini”

Setelah berpikir sebentar, ia merasa tidak baik jika berhenti terlalu lama disitu, maka sambil berjalan ke depan, ia bertanya lagi, “Berapa banyak jago yang telah kau bawa kali ini?”

Angkatan mudanya tidak dihitung, dari angkatanku saja ada sembilan orang, ditambah lagi dengan kedua orang susiokku!”

Mencorong sinar tajam dari balik mata Tam Si-bin, serunya dengan cepat, “Asal Thiam cong siang kiam (sepasang pedang dari Thian cong) maka kekuatan kita untuk menumpas hawa sesatpun akan bertambah tangguh!”

Rupanya cianpwe terlalu tinggi menilai Hian-beng-kau!” Tampak Si bin menghela napas panjang.

Aaaai… pada mulanya lohu pun berpendapat demikian, sebagai seorang angkatan muda seberapa besar yang bisa dimiliki Kok See-piau dengan ilmu silatnya, tapi sekarang hatiku betul-betul amat murung. Ternyata kehebatan Kok See- piau jauh melebihi Kiu ci sin-kan dimasa lalu, bahkan lebih sulit dihadapi kami kalau Hoa tayhip hadir, aaai……! andaikata ada Hoa jikongcu, paling tidak keadaanpun rada mendingan, sayangnya iapun tidak diketahui kemana perginya!” Kiu Tiong in segera menunjukkan rasa tidak puasnya, ia berkata, “Ilmu silat Hoa tayhiap tiada keduanya dikolong langit, hal mana sudah jelas diketahui setiap orang tapi Hoa ji kongcu masih muda, apakah locianpwe tidak menilai dirinya terlalu tinggi?”

Tam Si-bin tersenyum.

“Tidak, sama sekali tidak, kecerdasan Hoa ji kongcu tiada duanya didunia ini berbicara soal ilmu silat, secara diam-diam lohu pun pernah menjajalnya ketika hendak menghormati secawan arak kepadanya…….”

“Sekalipun Hoa ji kongcu berasal dari keluarga persilatan yang termashur, masakah ia sanggup menandingi kehebatan cianpwe?” tukas Yau Tiong-in tidak percaya

Tim Si bin gelengkan kepalanya berulang kali sambil tertawa, Sekalipun sepintas lalu orang mengira kekuatan kita seimbang, padahal lohu tahu bahwa tenaga dalam yang dimiliki Hoa ji kongcu jauh diatas kemampuanku”

Yau Tiong-in menjadi tertegun, segera pikirnya, “Telaga dalamnya ini tergantung dari hasil latihan, usia Hoa yang paling banter berusia dua puluh tahunan, masa dia dapat menandingi mu, sudah tentu kau ingin memopulerkan namanya saja…….”

Sementara itu mereka berdua telah tiba di ujung jalan berbatu itu, setelah melewati dinding tinggi, mereka pun menjadi tertegun.

Kiranya setelan melewati dinding tinggi maka semua pemandangan dalam lembah dapat terlihat dengan jelas. Kiranya dihadapanya terbentang sebuah lapangan yang amat luas dengan ubin putih yang amat indah sebagai alasnya.

Sebuah bangunan istana yang bersusun-susun tertera nyata nun jauh didepan, pada pintu istana terukir empat buah huruf besar terbuat dari emas berbunyi “Kiu ci-piat-kiong”

Tempat ditengah tanah lapang, dibangun sebuah panggung tiga tingkat yang sangat besar, sebuah permadani berwarna merah darah menghiasi permukaan lantai dari pintu istana hingga bawah panggung tersebut, sementara dikiri kanannya masing-masing berdiri sebuah barak besar, sekalipun dibangun dengan tergesa-gesa namun tidak berkurang keindahanya.

Pada saat itu baik panggung upacara maupun barak besar tak nampak seorang menusia pun, di-tengah tanah lapang yang luaspun hanya ada belasan orang jago Hian-beng-kau yang berlalu lalang sehingga suasana terasa begitu lenggang.

Diam-diam kedua orang itu merasa terperanjat, mereka tidak mengira kalau Hian-beng-kau bisa membangun istana seindah ini ditengah bukit yang gersang, cukup melibat arsitek bangunan, bisa diketahui betapa besar biaya dan tenaga yang telah mereka hamburkan. 

Tam Si-bin mencoba untuk memeriksa keadaan disekeliling tempat Itu, tiba-tiba ia menemukan bahwa dalam tebing Ui gou beng tersebut hampir boleh dibilang tiada jalan tembus lain kecuali jalan usus kambing tersebut, sekeliling lembah hanya ada dinding-dinding bukit yang terjal dan menjulang keudara. Dengan hati terkesiap diam-diam dia pun berpikir, Seandainya terjadi pertarungan nanti, asal pihak Hian-beng- kau menutup mulut lembah, sekalipun kita punya sayap juga tak mungkin bisa kabur dari sini dengan selamat.

Sementara mereka berdua masih mengamati keadaan, mendadak muncul dua orang bocah berbaju hijau yang menghampiri mereka.

Melihat langkah kaki kedua orang bocah berbaju hijau yang ringan itu, Tam Si-bin menjadi tertegun, kemudian pikirnya,