Neraka Hitam Jilid 05

Jilid 05

MAKA ia menarik kembali senyumannya dan pusatkan segenap perhatiannya untuk bersiap sedia menghadapi segala Kemungkinan yang tidak diinginkan.

Ho Kee sian hanya bisa gelengkan kepalanya berulang kali, dia tahu Kongsun Peng sudah dibikin marah oleh perbuatan gadis tersebut, pertarungan sudah pasti tak akan terhenti sampai disitu saja, terpaksa diapun harus memperhatikan jalannya pertarungan dengan lebih berhati-hati, sebab jika Kiong Gwat-lan sampai terluka maka akibatnya pasti akan memusingkan semua pihak.

Kiong Gwat hui juga berpikir dengan kening berkerut. “Adik bukan seorang yang tak pakai aturan, sekalipun ia

suka bergurau bukan berarti ia mau mencari menangnya

sendiri, tapi kenapa hari ini ia bersikap demikian?”

Tiba-tiba terdengar Kongsun Peng membentak keras, “Berhati-hatilah!”

Pedangnya segera diputar dan langsung menyerbu kedepan dengan cepat.

Pertarungan itu tak bisa dibandingkan dengan pertarungan sebelumnya, barusan Kong sun Peng masih mengalah tiga bagian kepada musuhnya, tapi setelah berulang kali disindir dan dicemooh, ia tidak sungkan sungkan lagi, begitu tiga jurus yang pertama sudah lewat, pedangnya diputar sedemikian rupa melancarkan serangkaian serangan maut yang benar- benar hebat.

Sekalipun Kiong Gwat-lan telah berusaha menangkis dengan sepenuh tenaga akan tetapi jelas terlihat bahwa ia sudah dipaksa dalam posisi yang kalah.

Sementara itu kawanan jago lihay yang ikut menonton jalannya pertarungan antara kedua orang itu, diam-diam manggutkan kepalanya, mereka merasa dengan usia mereka yang masih begitu muda, dapat memiliki kepandaian selihay itu sudah bukan terhitung suatu yang gampang.

Ratusan gerakan kemudian, bagaimanapun juga tenaga dalam yang dimiliki Kongsun Peng jauh lebih tinggi dari musuhnya, secara beruntun Kiong Gwat-lan sudah dua kali terancam bahaya maut, cuma untungnya meskipun Kongsun peng sedang diliputi kemarahan yang meluap, tapi perangainya makin lama semakin kendor, ia pun tidak menggunakan kesempatan yang ada untuk melukai lawannya.

Sebagai jago yang lihay, tentu saja Ho Kee sian dapat mengetahui juga kejadian tersebut, hatinya menjadi lega karena ia tahu bahwa tragedi tak akan sampai terjadi.

Tiba-tiba dari antara kerumunan manusia muncul empat orang pemuda yang ganteng dan gagah perkasa, mereka adalah Tan Kiat san, li Po-seng, Oh Keng bun serta Oh Keng bu.

Dengan suara lantang Tan Kiat kan segera berteriak, “Saudara Kongsun, Hoa kongcu berpesan kepada kita agar melerai semua pertikaian yang terjadi, mengapa kau malah bertarung sendiri melawan seorang gadis?” “Apa daya, siau-te-pun terpaksa harus berbuat demikian!”

Sementara berbicara demikian, permainan pedangnya juga ikut mengendor, rupanya dia bermaksud mengakhiri pertikaian tersebut.

Siapa tahu justru Kiong Gwat-lan telah manfaatkan kesempatan itu sebaik-baiknya

……Sreet! Sreet! Sreet! secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan berantai.

Tindakannya itu sangat tidak menyenangkan Kongsun Peng, otomatis permainan pedangnya ikut mengencang.

Mendadak terdengar gelak tertawa panjang bergema memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan tinggi ber kelebat menerjang lewat diantara kedua orang itu.

Para penonton hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, dan tahu-tahu Kiong Gwat-lan serta Kongsun Peng sudah berpisah dan masing masing mundur ke elakang sedangkan seorang pemuda tanpan berusia lima enam belas tahun telah berdiri diantara mereka.

Kemunculan pemuda tersebut sangat mengejutkan semua orang, siapapun tidak, kalau mengajak pemuda sekecil itu sudah memiliki ilmu ulet yang amat lihay.

Pemuda itu segera menjura ke arah mereka berdua, katanya, “Ilmu silat yang kalian berdua miliki sama-sama lihaynya, keadaanpun sama kuat, menurut pendapatku daripada pertarungan dilanjutkan lebih baik diselesaikan secara damai saja sampai disini, mau bukan?” Tentu saja Kongsun Peng ingin mengakhiri pertarungan sampai disitu saja…..

Berbeda dengan Kiong Gwat-lan, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru, “Hey siapa yang suruh kau campuri urusanku? Kau masih belum berhak untuk mencampuri persoalanku tahu?”

Sebenarnya pemuda itu mencampuri kejadian tersebut lantaran tidak tega membiarkan Kiong Gwat-lan terdesak dibawah angin, siapa tahu Kiong Gwat-lan tak sudi menerima kebaikan hatinya, ini membuat dia menjadi tertegun dan tak tahu musti maju atau mundur.

Tiba-tiba dari tepi gelanggang muncul seorang sastrawan berusia pertengahan yang berjubah biru, sambil menggoyangkan kipasnya ia berkata dengan Santai, “Lo te, kau tak usah banyak urusan lagi, kalau memang orang lain tidak suka kau mencampuri persoalannya lebih baik kembali saja kemari.”

Pemuda itu tertawa jengah, ia lantas putar badan dan berjalan kembali keluar kerumunan orang.

Pemuda tersebut rupanya baru pertama kali terjun ke dalam dunia persilatan, sehingga tindak tanduknya agak gegabah dan sama sekali tidak memakai perhitungan.

“Berhenti!” tiba-tiba Kiong Gwat-lan membentak.

Pemuda itu agak tertegun, lalu sambil memutar badannya ia bertanya, “Apakah dia adalah sahabatmu?” tanya Kiong Gwat-lan dengan wajah sedingin es sambil menuding sastrawan berusia setengah umur yang berdiri diluar arena.

“Betul!” pemuda itu manggut-manggut. Kontan saja Kiong Gwat-lan tertawa dingin.

“Heeehhh…..heeehh….heeehh…… sahabatnya Si-lu-kim- nong (kumbang emas bermain di putik) Ou See tiong sudah pasti bukan manusia baik-baik…… hei, rupanya kau juga merupakan komplotnya.”

Paras muka si anak muda itu berubah menjadi hijau membesi, rupanya ia masih belum paham apa yang dimaksukan.

Berbeda dengan sastrawan berusia setengah umur itu, paras mukanya agak berubah, lalu sambil berusaha menenangkan hatinya, ia menggoyangkan kipasnya dan berkata sambil tertawa, “Nona, jangan sembarangan memfitnah orang baik-baik, aku bukan manusia yang kau maksudkan, aku she yang dan bukan Ou See-tiong seperti apa yang kau katakan tadi!”

Berbicara sampai disitu, biji matanya lantas berputar kian kemari, agaknya ia sedang mengatur rencana untuk melarikan diri.

Tan Kiat kan, Li Po seng serta dua bersaudara On saling berpandangan sekejap, lalu mereka melompat ke depan dan secara ti ba-tiba mengurung sastrawan berusia setengah umur.

Suasana menjadi gempar, semua orang sama-sama menyingkir ke samping untuk memberi tempat.

Dengan berlangsungnya peristiwa tersebut, maka perhatian semua orang lantas di alihkan ke wajah sastrawan setengah umur berbaju biru itu. Secara otomatis pertarungan antara Kiong Gwat-lan melawan Kong sun ikut pula terhenti. Perlu diterangkan disini, bahwa Siau-lui-kim-hong (kumbang emas bermain di putik) Ou See-tiong adalah seorang penjahat cabul yang ulung dan dikutuk semua orang.

Orang ini bukan cuma jay-hoa (pemetik bunga artinya pemerkosa) saja, seringkali setelah korbannya digagahi dan dibunuh barangnya ikut dirampok habis-habisan, sedikitpun tidak memperdulikan peraturan yang berlaku dalam dunia persilatan.

Orang ini bukan cuma dibenci oleh setiap orang, bahkan orang-orang dari kalangan Liok-lim sendiripun mengincar jiwanya.

Akan tetapi ilmu silat yang dimiliki Orang ini cukup lihay, ilmu meringankan tubuhnya tinggi, selama melakukan perbuatan terkutuknya ia selalu mengerjakan dengan rapi, dan jejak yang amat rahasia, ditambah lagi orangnya pandai menyaru, hal ini membuat jarang sekali ada orang yang mengenali dirinya.

Itulah sebabnya dengan begitu berani dia telah munculkan diri di kota Si ciu. Sayang akhirnya toh kedok tersebut berhasil dibongkar oleh Kiong Gwat-lan.

Ho Kee-sian sudah lama mengasingkan diri, ia kurang begitu tahu tentang manusia tersebut tapi ditinjau dari julukannya bisa diduga manusia macam apakah orang itu.

Song Yan segera melompat kemuka, lalu bentaknya, “Sobat, lebih baik terangkan asal-usulmu kalau tidak jika sampai mati penasaran jangan menyalahkan kami semua!” “Song tangkeh buat apa membentak-bentak aku dengan nada kasar dan keras seperti itu? Siapa tahu kalau nnona Kiong lagi-lagi sedang mengajak kalian untuk bergurau

Song Yan agak tertegun, dia lantas mengalihkan perhatiannya ke wajah Kiong Gwat hui, jelas meski tiada rasa marah atau tersinggung atas diri Kiong Gwat-lan, tak urung dia merasa ragu juga atas ulah si nona yang gemar mengacau itu.

Oleh sebab itu sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Kiong Gwat hui, sebab ia merasa bahwa nona ini jauh lebih dapat dipercaya,

Kiong Gwat hui termenung sebentar, kemudian katanya, “Aku sendiripun kurang begitu jelas!”

Setelah berhenti sejenak, dengan nada minta maaf ia melanjutkan, “Adikku seringkah keluar rumah, banyak diantara persoalannya yang tidak kuketahui, agaknya aku akan membuat kecewanya Song tangkeh”

“Aaah…….! Nona terlalu sungkan,” kata Song Yan sambil tertawa.

Diam-diam ia berpikir dihati, “Agaknya Kiong Gwat-lan lagi- lagi sedang mengumbar ulahnya yang tidak karuan!”

Tiba-tiba kedengaran pemuda tadi berkata pula, “Sudah lima hari aku melakukan perjalanan bersamanya, belum pernah selama ini kusaksikan ia melakukan perbuatan yang tidak genah, mungkin nona itu sudah salah menuduh orang.”

Mendengar perkataan itu, para jago yang hadir di sekitar situ makin mengira kalau Kiong Gwat-lan lagi-lagi sedang bergurau. Lega juga hati Ou See-tiong setelah menyaksikan keadaan tersebut, pikirnya cepat cepat, “Sekarang kalau tidak kabur, mau menunggu sampai kapan lagi?”

Maka sambil tertawa terbahak-bahak ia menutup kembali kipasnya dan memberi hormat, katanya, “Meskipun nona Kiong hanya salah menuduh, siaute merasa tak punya muka lagi untuk berdiam lebih lama disini.”

Selesai berkata ia lantas putar badan siap menanggalkan tempat itu.

Tiba-tiba bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu dengan pedang terhunus Kiong Gwat-lan telah menghadang jalan perginya.

“Hei, mau kabur dari sini?” ejeknya.

“Sialan betul budak busuk ini,” pikir Ou See tiong, “baik, ingat saja kau!

“Sekarang kau boleh mempermainkan aku tapi suatu saat Ou-ya mu pasti akan menikmati pula kehangatan tubuhmu………”

Dengan sikap sesopan mungkin ia lantas berkata, “Nona, tidak cukupkah gurauanmu itu?”

Sekalipun Kiong Gwat-lan pernah bertemu dengan Ou See tiong, tapi karena soal ini, orang tersebut telah bersalin rupa, sulit baginya untuk membongkar kedok orang secara terang terangan, meski begitu, dia yakin kalau penglihatannya tidak keliru. Pikirnya kemudian, “Jika aku mengaku terus terang atas alasan tuduhanku, orang lain pasti tidak akan percaya.”

Setelah berpikir sebentar, ia lantas berseru dengan ketus, “Beranikah kau membiarkan orang menggeledah sakumu? Aku tahu dalam sakumu saat ini pasti membawa alat-alat pemabuk yang biasanya kau bawa dalam melakukan setiap operasimu.”

Ou See tiong memang benar menggembol alat peraganya dalam saku, sudah barang tentu ia tak berani membiarkan orang lain menggeledah sakunya, dalam kejut dan paniknya ia pura-pura jadi marah.

“Aku orang she Kang adalah seorang lelaki setia, aku tidak akan menerima penghinaanmu ini dengan begini saja “ demikian teriakannya.

Semua orang merasa sependapat dengan alasan tersebut, suara bisik-bisik dan pembicaraan pun berkumandang memenuhi udara.

Kiong Gwat-lan menjadi Kehabisan daya pikirnya, “Jika aku turun tangan secara paksa, jelas tak ada orang yang akan membantuku, jika sergapanku meleset sehingga membiarkan ia kabur dari sini…..Wah! Bahaya…….”

Makin berpikir ia merasa hatinya makin bingung.

Mendadak kedengaran seseorang berseru dengan suara yang lembut dan bernada kekanak-kanakkan.

“Aku bisa membuktikan kalau dia adalah Ou See tiong.”

Bersama dengan berkumandangnya ucapan itu, tampak seorang bocah cilik yang berbaju bersih tapi bertangan kotor berlepotan lumpur menerobos keluar dari kerumunan orang banyak.

Tercekat perasaan Ou See tiong, tapi begitu mengetahui kalau orang itu adalah seorang bocah cilik, lega juga hatinya.

“Haahh…… haahh…….. haah….. bocah cilik, siapa yang memerintahkan kau mengaco-belo tidak karuan disini?” tegurnya sambil tertawa terbahak-bahak.

Satu ingatan segera melintas dalam benak Kiong Gwat-lan, sambil menggapai bocah itu katanya, “Saudara cilik, kemarilah! Darimana kau tahu kalau dia she Ou?”

Sambil tertawa cekikikan bocah itu menghampiri Kiong Gwat-lan lalu sambil menepuk dada sendiri ia berkata, “Sebab Si lui kim hong tersebut berada dalam sakuku, mana mungkin aku tidak tahu? ‘

Mendengar perkataan itu tergelaklah semua orang karena geli, mereka semua mengira bocah itu lagi ngaco-belo pula.

Kiong Gwat-lan sendiripun merasa agak kecewa, pikirnya, “Waah……gelagat tidak menguntungkan bagiku, agaknya hari ini si bajingan terkutuk itu kembali berhasil kabur dari cengkeramanku.”

Tampak bocoh cilik itu mengeluarkan secarik handuk kecil berwarna putih dari sakunya, lalu direntangkan lebar-lebar.

Sebagaian besar jago yang hadir di sekitar arena waktu itu adalah jago-jago berkepandaian tinggi, ketajaman mata mereka rata-rata cukup mengagumkan, begitu sapu tangan tadi dibentangkan maka tampaklah pada sudut kanannya tersulam sekuntum bunga botan, dimana pada putiknya terbang seekor kumbang emas. Sulaman itu sangat indah dan hidup, bukan saja diberi warna yang indah bahkan amat menyolok, pada sisi sulaman tadi terukirlah tiga huruf kecil yang mencantumkan kata-kata, “Ou See-tiong.”

Itulah lambang dari Ou See-tiong dalam melakukan operasinya, dan julukannya Si-lui kim-hong (kumbang emas bermain di putik) justru diperoleh dari lambangnya itu.

Sambil menuding ke arah Ou Soe-tiong, bocah itu berkata lagi, “Aku melihat sapu tangan itu jatuh dari sakunya, tulisan di atas sapu tangan tidak aku Siau-gou-ji pahami, tapi mendengar julukannya sebagai Si lui kim hong lalu dihubungkan dengan kuntum bunga serta kumbangnya, aku rasa ada hubungan juga dengan segala yang berbau roman………..

Karena perkataan bernada kocak, kembali memancing gelak tertawa geli dari orang banyak.

Paras maka Ou See-tiong berubah hebat tapi ia masih berusaha keras untuk mengendalikan perasaan tenangnya, katanya kemudian, “Hmm…! Rupanya ada orang sedang memfitnah diriku, cara yang dipergunakan ini sungguh licik, rendah dan tak tahu malu. …

Hmm… mana ada orang yang akan mempercayainya.

Dalam kaget dan gugupnya Ou See tiong mencoba untuk berkelit kesamping, sayang keadaan sudah terlambat.

“Breet …!” tahu-tahu sakunya sudah tersambar hingga robek amat besar, benda-benda berupa emas perak serta lainnya segera jatuh dan berhamburan dimana-mana. Diantara sekian banyak barang yang berserakan ditanah, tampak sebuah benda tersebut dari perak yang berbentuk burung bangau sedang mementangkan sayapnya. Itulah alat khusus yang biasanya dipergunakan untuk menghembuskan obat pemabuk bila hendak melakukan suatu operasi.

Kontan saja semua orang menjadi gempar.

Rupanya dengan suatu gerakan Giok Ii to sob (gadis suci memasukkan jarum) Kiong Gwat-lan melepaskan sebuah babatan pedang ke siku lawan, begitu serangannya berhasil dan, kedok Ou See tiong terbongkar, dengan perasaan lega dan senang ia lantas tertawa mengejek.

“Hei orang she Ou, demi menyelamatkan diri, she dari nenek moyangmu pun sampai kau tinggalkan, nah apa lagi yang bisa kau katakan sekarang?”

Setelah barang bukti tertera di depan mata, Ou See tiong tak bisa membantah lagi, pucat pias wajahnya, peluh dingin membasahi sekujur badannya sambil memegang kipasnya erat-erat dia mulai celingukan kesana-kemari berusaha mencari jalan keluar, sayang jalan untuk kabur telah tersumbat semua.

Kini semua orang sudah tidak ragu lagi, serentak mereka membentak keras dan maju kembali untuk melakukan pengepungan.

Rupanya Ou See tiong sadar bahwa ia tak akan sanggup melarikan diri dari kepungan, dalam ke-adaan demikian sebagai seorang penjahat ulung yang sudah kerap kali melakukan kejahatan bukan rasa menyesal yang timbul dalam putus asanya niat jahat malah timbul dalam hatinya. “Maknya…….“ demikian ia berpikir, “sekalipun aku bakat mampus, paling tidak modalku muski kuraih kembali, yang paling menjengkelkan terutama perempuan anjing she Kiong serta anak jadah kecil itu. Hmma….. Aku harus menyeret, mereka untuk berangkat bersama menghadap raja akhirat.”

Berpikir sampai disitu, tanpa mengucapkan sepatah-kata, tiba-tiba kipasnya disodokkan ke arah Kiong Gwat-lan dan Siau Gou ji.

Segenggam jarum-jarum lembut yang beracun bagaikan hujan gerimis segera menyambar ke muka membawa kilatan cahaya biru ketika bertimpa sinar mentari, dalam dekejap mata jerit kesakitan berkumandang dari sana-sini, ada tujuh delapan orang segera roboh sebagai korban.

Rupanya di balik senjata kipasnya itu telah disiapkan lima sampai enam puluh batang jarum jarum beracun yang lembutnya seperti bulu kerbau, bila jarum jarum itu dibidikkan dengan mengenakan semacam alat pegait maka wilayah seputar dua kaki persegi akan tercakup dibawah ancaman senjata rahasia itu.

Bukan cuma ganas dan mematikan, bahkan boleh dikata sama sekali diluar dugaan orang.

Akan tetapi, baik Kiong Gwat-lan maupun Si Gou-ji yang merupakan sasaran incarannya sama sekali tidak roboh terluka seperti apa yang diduganya semula.

Kiong Gwat-lan memang seorang gadis yang cerdik dengan otak yang encer, jauh sebelum serangan tu dilancarkan ia telah menduga kalau musuhnya bakal melancarkan serangan yang mematikan kepadanya. Oleh sebab itu begitu dilihatnya kipas tersebut disodokan ke arahnya, serta merta disambarnya tubuh Siau Gou ji dan diajak kabur sejauh beberapa kaki dari tempat semula.

Tapi dengan begitu, kasihan orang-orang yang berdiri dibelakang mereka, dalam suasana saling desak mendesak begini Sulit bagi orang-orang itu untuk menghindarkan diri, banyak diantara mereka yang terluka oleh serangan tersebut.

Bentakan bentakan nyaring menggelegar memecahkan kesunyian, Song Yang, Oh Keng bun, Oh Keng bu, Kongsun Peng serta Li Peng seng sekalian berlima serentak menubruk maju sambil melancarkan serangan.

Dengan geramnya, Song Yan melepaskan sebuah pukulan berat ke punggung Ou See tiong, sementara Kongsun Peng melancarkan sebuah tusukan kilat ke dada penjahat pemetik bunga ini.

Perasaan takut, ngeri dan gugup segera menyelimuti wajah Ou See tiong, ia merasa sukmanya bagaikan sudah melayang tinggalkan raganya, sudah barang tentu ancaman-ancaman itu tak sanggup ditangkis olehnya, kelihatannya ia bakal mampus di ujung pedang lawan…………

Sesosok bayangan manusia tiba-tiba berkelebat masuk ke dalam gelanggang, dengan jurus Kim si cian wan (serat emas membelenggu tangan) telapak tangan kanannya digunakan untuk mencengkeram pergelangan tangan kanan Kongsun Peng, sementara telapak tangan kirinya dilontarkan kemuka menyambut serangan yang dilepaskan Song Yan.

Song Yan merasakan telapak tangan kanan-nya bergetar keras, tanpa disadari tubuhnya sudah mundur selangkah. Kongsun Peng mengernyitkan alis matanya merasa datangnya ancaman, gerakan pedang itu lantas dirubah dengan jurus It sia cian Ji (sekali meleset seribu li) dibabatnya lengan kanan penyerang itu.

Orang itu tertawa angkuh, sepasang telapak tangan-nya di bacok ke muka secara beruntun, dengan pukulan demi pukulannya yang aneh tapi tangguh, seketika itu juga Kongsun Peng terdesak mundur ke belakang.

Siapa pun tidak menduga kalau ada orang akan menolong Ou See tiong, sebab penjahat pemetik bunga macam Ou See tiong adalah bajingan terkutuk yang dibenci oleh orang-orang golongan putih maupun orang-orang golongan hitam.

Setelah pertarungan berakhir, semua orang baru sempat mengamati raut wajah orang itu dia adalah seorang pemuda berbaju hijau yang mempunyai wajah tampan tapi diantara kerutan dahinya terpancar sinar sesat yang amat tebal.

Song Yan agak tertegun sejenak kemudian dengan gusar tegurnya, “Siapa kau? Tidakkah kau ketahui bahwa orang she Ou itu adalah seorang penjabat cabul yang dosanya dikutuk oleh semua orang?”

Pemuda berbaju hijau itu berdiri membelakangi Song Yan tanpa berpaling, sambutnya, “Kongcu mu bernama Ciu Hoa dae berurutan nomor delapan!”

Sesudah berhenti sejenak, dengan angkuh ia melanjutkan, “Soal turut campur? Hmm…..aku merasa tidak leluasa menyaksikan kalian manusia-manusia yang menganggap dirinya sebagai kaum ksatria melakukan pengeroyokan dengan mengandalkan jumlah banyak” “Hmm! Rupanya bajingan dari Hian-beng-kau, tak heran kalau tingkah lakunya sangat memuakkan!” teriak Kongsun Peng marah.

Sementara itu, Ou See-tiong yang nyaris terbunuh sekarang bisa berdiri sambil menghembuskan napas lega, manusia semacam ini selalu pandai mengikuti arah hembusan angin sambil memutar biji matanya dia lantas berpikir, “Waah, rupanya asal kudapat menggaet orang she Ciu itu agar berpihak kepadaku, niscaya jiwaku bisa selamat pada hari ini.”

Berpikir sampai kesitu, dia lantas memberi hormat kepada Ciu Hoa Lo-pat seraya ujarnya.

“Betapa terima kasihku atas budi pertolongan yang telah Ciu kongcu berikan kepadaku, selama hidup…,…….

Ciu Hoa lo-pat melirik sekejap ke arahnya dengan dingin, kemudian tukasnya, “Kau tak perlu berterima kasih kepadaku, akupun bukan bermaksud menolong jiwamu.”

Ou See-tiong tertegun, kemudian sahutnya, “Yaa, nyawa siaujin memang nyawa semut sudah barang tentu sama sekali tak ada harganya, sebaliknya kepandaian silat Ciu kong cu sangat lihay dan tiada tandingannya dikolong langit.”

“Cukup, cukup, sungguh menjijikkan!” tukas Kiong Gwat- lan dengan sinis dan muak setelah mendengar kata-kata umpakan tersebut, “huuuh! Betul-betul seekor anjing yang pandai menjilat pantat, nama keluarga Ou-pun kena kau cemarkan!”

Setebal-tebalnya wajah Ou See-tiong, merah padam juga saat itu karena malu, tapi ia berpura-pura tidak mendengar. Berbeda dengan Ciu Hoa lo-pat, dengan kurang sabar dia ulapkan tangannya berulang kali.

“Pergi, pergi! Pergi diri sini, kongcumu masih harus menjumpai manusia manusia tersebut”

Ou See tiong mengiakan dengan hormat buru-buru ia mundur tiga langkah dari gelanggang.

Sementara itu, Ho Kee sian telah tampil pula kedepan, tegurnya dengan suara menggeledek, “Ciu kongcu, apakah Hian-beng-kau berniat melindungi nyawa seorang penjahat cabul?”

Barang siapa berani melindungi bajingan cabul macam Ou See-tiong, namanya pasti akan ikut tercemar dan dikutuk setiap orang. Tentu saja menghadapi resiko yang begitu besar, sekalipun Ciu-Hoa Lo pat angkuh dan jumawa, mau tak mau dia musti berpikir dulu tiga kali sebelum menjawab.

Sesudah sangsi sejenak, akhirnya secara diplomatis ia menjawab, “Kongcu mu turun tangan lantaran merasa tak leluasa menyaksikan kalian mengandalkan jumlah yang banyak mengerubuti seorang manusia soal lain aku tak mau turut campur”

“Tepat sekali ucapan Pat te!” mendadak seseorang menyambung dari luar arena dengan suara yang dingin menyeramkan, “barang siapa merasa tidak puas, silahknn mencari persoalan dengan kita bersaudara.”

Tampaklah serombongan pemuda dengan dandanan yang mirip Ciu Hoa lo pat serta seorang kakek berwajah merah melangkah masuk ke dalam arena. Tidak diragukan lagi, rombongan pemuda itu tak lain adalah Ciu Hoa sekalian, sedangkan kakek itu adalah Thamcu dari ruang Tee-ham, Tang Bong liang.

ooooooOooooo Bab 43

Tak terpikirkan rasa girang Ciu Hoa lo pat sesudah mendengar perkataan itu, senyumnya, “Kebetulan sekali kedatangan para suheng, kita bersaudara sudah sepantasnya memberi sedikit pelajaran kepada manusia-manusia itu agar mereka tahu sampai dimanakah lihaynya ilmu silat Kiu ci kiong kita.”

“Huuuh…… menyombongkan diri dengan kata-kata yang kosong, sungguh menggelikan ejek Kiong Gwat-lan.

Mendadak seseorang berseru pula dengan suaranya yang merdu bagaikan burung nuri sedang berkicau, Ciu Hoa, menurut pendapatku, lebih baik tak usahlah kalian mencampuri persoalan ini.”

Mendengar perkataan tersebut, tanpa terasa semua orang lantas berpaling ke arah mana berasal suara tadi.

Di atas dahan sebuah pohon waru berdiri seorang gadis cantik yang berwajah sedingin es, ia membawa sebuah tongkat berwarna hitam yang pada ujung toyanya berukirkan sembilan buah kepala setan.

Gadis itu mengenakan baju berwarna putih salju, berdiri dibawah hembusan sepoi-sepoi membuat ia tampak seperti bidadari yang turun dari kahyangan. Dibelakang gadis itu berdiri pula dua orang kakek berbaju hitam yang berwajah menyeramkan.

Mendadak sontak suasana di sekitar gelanggang menjadi sepi, semua orang dibikin kaget oleh kecantikan wajahnya.

Tapi setelah menyaksikan toya berkepala sembilan setan itu, mereka semua pun lantas mengerti siapa gerangan yang telah datang, karena dia tak laim adalah Bwe Su-Yok, kaucu baru dari perkumpulan Kui im kau.

Ho Kee sian cukup mengetahui bobot toya berkepala sembilan setan itu, apalagi setelah menyaksikan cara berdirinya di atas dahan pohon itu, ia semakin menyadari sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki gadis itu, segera pikirnya, “Tak heran kalau Liong sauya selalu memperingatkan agar jangan memandang enteng perempuan ini, ehmmm! Dia memang berwajah amat

cantik……”

Dihari hari biasa Kiong Gwat-lan selalu membanggakan kecantikan wajah sendiri, akan tetapi sekarang mau tak mau ia merasa rendah diri juga, entah mengapa tiba-tiba timbul rasa dengki dalam hatinya.

Berbeda dengan Kiong Gwat hui, ia hanya merasa sayang kenapa gadis secantik itu menjadi kaucu dari Kau im kau.

Dalam pada itu Bwe Su yok telah memandang sekejap sekeliling area, tiba-tiba tegurnya dengan suara dingin, “Entah bagaimanakah pendapat hian te sekalian?”

Seperti baru sadar dari lamunan, Ciu Hoa lo pat segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahhh……..hhaahh……haaahhh… aku tidak mengerti

akan maksud kata kaucu!”

Berkibat tajam sepasang mata Bwe Su yok, di tatapnya orang itu dengan pandangan dingin, namun ia tidak berkata apa apa.

Kembali Ciau Hoa lo pat berkata, “Bukankah Kiu im kau telah bersekutu dengan perkumpulan kami? Kini Bwe kaucu bukannya datang membantu, sebaliknya malah menentang usaha kami, entah apa maksudmu yang sebenarnya?”

Dihadapan umum bukan saja ia bicara tanpa tedeng aling- aling bahkan menyinggung pula soal persekutuan, kendatipun semua orang sudah mengetahui hal ini dari Hoa In-liong, tak urung toh kembali merasa terkejut.

Bwe Su yok hanya mendengus dan tidak menjawab, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Tong Bong liang, katanya, “Tang thamcu, anak murid Sinkun masih muda dan tak tahu urusan, kau sebagai seorang thamcu kenapa hanya berpeluk tangan belaka?”

Jangan melihat usianya masih muda, namun setiap perkataan yang diucapkan sangat berwibawa dan bernada teguran seorang kaucu terhadap anak buahnya.

Dalam keadaan demikian, walaupun Ciu Hoa sekalian merasa tidak puas, mereka toh tak berani juga membantah.

Buru-buru Tang Bong-liong memberi hormat, katanya, “Apa yang diucapkan kaucu memang benar, apa mau dikata, persoalan telah terjadi, aku rasa tak mungkin bisa diselesaikan dengan begitu saja……” Suasana menjadi hening, semua orang ingin tahu dengan cara apakah Bwee Su yok akan menyelesaikan masalah itu, sebab sebagai seorang kaucu dari suatu perkumpulan besar, apa yang diucapkan Bwe Su yok tentu akan di laksanakan.

Sebaliknya Tang Bong liang sekalian, jelas mempunyai maksud memandang enteng gadis itu sean-dainya kejadian ini sampai menggusarkan Bwe Su yok, sudah pasti persekutuan antara Kiu im kau dan Hian-beng-kau akan berantakan di tengah jalan, padahal memang itulah yang mereka harapkan selama ini.

Sekilas hawa nafsu membunuh sempat memancar keluar dari balik mata Bwe Su yok yang jeli, katanya dengan hambar, “Kalau toh kalian berani berpendapat demikian Hmm! Akupun tak akan ribut dengan kalian, urusan ini akan kubiarkan sendiri dengan Siakun kalian.”

Berbicara sampai disitu, sepasang matanya yang jeli dan tajam itu tiba-tiba dialihkan kewajah Ou See tiong.

Si lui kim hong (kumbang emas bermain di putik) Ou See tiong merasakan sepasang matanya itu tajam melebihi anak panah yang menembusi ulu hatinya, ia tercekat dan buru-buru menundukkan kepalanya.

“Tampaknya terpaksa aku musti turun tangan sendiri untuk mencabut nyawamu!” katanya.

Ou See tiong menjadi ketakutan, teriaknya “Kaucu…” Dua orang kakek berbaju hitam yang berdiri dibelakang

Bwe Su-yok itu tak lain adalah Lei Kiu it serta Ke Thian tok. Saat itu Lei Kiu it tiba-tiba berkata, “Untuk membereskan manusia bangsa celurut kenapa musti kaucu turun tangan sendiri, biar hamba yang melaksanakan tugas ini.

Bwe Su yok manggut-manggut, baru saja dia akan menitahkan anak buahnya untuk turun tangan.

“Hoa kongcu telah datang!” tiba-tiba dari kejauhan sana berkumandang teriakan keras.

Bwe Su yok merasa jantungnya berdenyut lebih cepat, tanpa terasa dia alihkan pandangan matanya mengikuti para jago lainnya berpaling ke arah pintu kota.

Sesosok bayangan manusia sedang bergerak menuju ketempat itu, gerakan tubuhnya amat cepat, baru saja ia berada dimulut kota, tahu-tahu dalam waktu singkat sudah berada di depan mata.

Sungguh mengagumkan sekali ilmu meringankan tubuh yang dimiliki pemuda itu, mungkin saking cepatnya dia bergerak, sampai ada sebagaian manusia yang cetek tenaga dalamnya tak sempat melihat jelas raut wajahnya……….

Mereka hanya merasakan bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu seorang pemuda tampan yang membawa kipas emas telah melayang turun dihadapan mereka.

Sebelum berjumpa dengan Hoa In-liong tadi, Bwe Su yok telah mengambil keputusan untuk memandangnya sebagai musuh besar, setelah saling berjumpa, kembali ia merasakan pikirannya amat kalut.

Begitu munculkan diri, dengan nada gembira Kiong Cian lan segera menyapa, “Hoa jiko!” Hoa In-liong berpaling kearannya sambil tertawa.

“Kiong ji-moay, rupanya kau sudah datang, oya, Kiong toa- moay juga datang, harap kalian tunggu sebentar, akan kuselesaikau dulu masalah disini.”

Tiba-tiba Bwe Su yok merasa hatinya sakit, hawa murninya buyar dan nyaris ia terjatuh dari atas dahan, buru-buru hawa murninya dihimpun kembali dan sekuat tenaga berusaha mempertahankan ke-seimbangan tubuhnya.

“Kenapa? Kenapa ia tidak memperdulikan aku?” demikian pikirnya.

Lei Kiu it maupun Ke Thian tot kedua-duanya berdiri dibelakang kaucunya, tentu saja mereka pun dapat menyaksikan perubahan yang sedang dialami gadis itu, meski demikian mereka hanya bisa saling berpandangan sekejap tanpa bisa berbuat apa apa.

Padahal begitu masuk ke dalam arena tadi, pertama-tama Hoa In-liong sudah melirik ke arahnya, kendatipun matanya tidak tertuju kepada Bwe Su yok, sekarang perhatiannya masih tertuju ke arahnya, maka waktu hawa murnii Bwe Su yok membuyar dan nyaris terjatuh dari atas dahan, iapun dapat mengetahui dengan jelasnya.

“Aaaai… .kau jangan menyalahkan aku,” pikirnya dihati, “setelah kau menerima jabatan Ku im kaucu, kedudukan kita ibaratnya musuh yang saling berhadapan tak urung kau musti teringat juga akan budi kebaikan gurumu bila bertemu entah bagaimana jadinya…….

Berpikir sampai disitu, dia lantas tertawa nyaring serta berkata, “Para enghiong yang terhormat, apa yang telah terjadi disini? Perlukah bantuan dari aku orang she Hoa?” “Soal lain tak perlu dibicarakan yang penting Si kui-kian hong Ou See liong musti dibunuh lebih dulu!”

Sambil berkata gadis itu lantas menuding ke arah penjahat cabul itu.

Song Yan ikut berseru pula dengan lantang, “Yaa, harap Hoa kongcu menegakkan keahlian dan kebenaran untuk kita semua. Pihak Hian-beng-kau telah berusaha melindungi nyawa sampah tua penyakit itu!”

Sebetulnya Li Po seng hendak menuturkan kejadian yang sesungguhnya, tapi cukup dalam sekali pandang, Hoa In-liong telah memahami duduknya persoalan, iapun tidak menggubris Ciu Hoa dan rombongan-nya lagi.

Dengan kening berkerut katanya kepada Ou See liong, “Rupanya kau yang bernama Kumbang emas bermain diputik Ou See tiong? Kalau begitu sembilan kasus perkosaan dan pembunuhan yang terjadi di Yan im tahun berselang juga merupakan hasil karyamu?”

“Soal ini…….” Ou See tiong menjadi gelagapan, peluh dingin membasahi sekujur tubuhnya.

“Aku lihat ada baiknya kau bunuh diri saja,” sela Hoa In- liong lebih lanjut, “tunjukkan kejantananmu sekarang, mati nanti mati sekarang juga sama saja, aku orang she Hoa pasti akan mengu-burkan jenasahmu secara baik baik dan akan ku cegah pula orang-orang yang menjadi korbanmu menggali kembali kuburanmu.”

“Hoa-ya,……” keluh Ou See tiong dengan suara gemetar. Ciu Hoa lo pat tidak tahan lagi, dengan gusar, segera bentaknya, “Hei manusia yang bernama Hoa Yang, jangan mentang-mentang ilmu silatmu lihay lantas hendak paksa orang untuk bunuh diri, ksatria macam apakah kau ini?”

Hoa ln-liong berlagak tidak mendengar perkataan itu, kembali ujarnya dengan suara tajam, “Bila kau enggan turun tangan sendiri, jangan salahkan jika aku orang she Hoa terpaksa akan turun tangan untuk melenyapkan bibit bencana bagi umat dunia.”

Betapa gusarnya Ciu Hoa Lo pat karena ucapannya tidak digubris, tiba-tiba ia menyerbu ke depan sambil melancarkan sebuah sergapan, disusul Ciu Hoa lo sam ikut terjun pula ke arena untuk melakukan pukulan.

Hampir bersamaan waktunya, On See liong putar badan dan mengambil langkah seribu.

Hoa In-liong berpekik nyaring, suaranya keras bagaikan lengkingan naga, tubuhnya melijit ke udara dan secepat kilat mener jang ke arah penjahat cabul itu.

Dengan melejit perginya sasaran, maka serangan dari Ciu Hoa Lo-pat dan Ciu Hoa lo-sam pun mengenahi tempat kosong.

Kebetulan Tang Bong liang dan Ciu Hoa lotoa berada disamping Ou See tiong, meski mereka tiada maksud untuk menolong penjahat cabul itu, niat untuk melukai Hoa In-liong justru berkobar-kobar.

Ketika menyaksikan Hoa In-liong menerjang ke arah mereka, tanpa mengucapkan sepatah katapun Tan Bong liang menyiapkan jari tangannya dan Ciu Hoa lotoa mempergunakan sepasang telapak tangannya untuk menyerang ke arah pemuda itu dengan sepenuh tenaga.

Serangan itu dilancarkan bukan saja dengan cara yang licik, lagipula dari jarak yang amat dekat.

Menyaksikan itu Lo Kee sian maupun Li Po seng sekalian membentak gusar, tapi untuk menghalangi jelas tak sempat lagi.

Sementara itu Hoa In-liong telah berada dua depa dibelakang Ou See liong, telapak tangannya segera didorong ke muka menghantam punggung penjahat cabul itu.

Ou See tiong menjerit kesakitan, darah kental muncrat keluar dari mulutnya, bersama dengan terlemparnya kipas keudara, tubuhnya segera roboh tak berkutik di tanah.

Semua orang tahu, pukulan tadi telah meremukkan isi perutnya, jelas jiwa bajingan itu tak ketolongan lagi.

Dalam pada itu serangan -erangan maut dari Tang Bong liang dan Ciu Hoa lotoa sudah mendapat punggung Hoa In- liong, tampaknya sulit buat anak muda itu untuk menghindarkan diri…..

Paras muka Bwe Su yok berubah hebat, hampir saja ia tahan dan ingin melancarkan serangan.

Tang Bong liang maupun Ciu Hoa lotoa tak dapat menyembunyikan rasa girangnya lagi-dalam perkiraan mereka Hoa In-liong pasti akan mampus di tangan mereka.

Siapa tahu…..pada detik terakhir yang amat kritis, mendadak Hoa In-liong menjejak-kan kaki kirinya ke tanah lalu putar badan secepat gasingan, tangan kanannya selincah ular berbisa langsung menerobos kedepan….

Dalam detik yang teramat singkat inilah, ketujuh gerakan dari ilmu Ci yu jit ciat (tujuh kupasan dari Ci yu) telah ia gunakan secara beruntun….

Sebagai mana diketahui, Ci yu jit ciat merupakan ilmu Sakti yang oleh Siau-yau sian (dewa yang suka kelayapan) Cu Thong diwariskan kepada Hoa Thian-hong.

waktu itu kepandaian tersebut sudah tidak seutuh sekarang, apa yang di wariskan pun tak lebih hanya “menyerang sampai mati” yang terdiri dari tiga jurus.

Akan tetapi oleh karena serangan tersebut terlampau ganas dan keji, maka selama pindah di tangan Hoa Thian-hong belum pernah kepadaian itu dipakai secara sempurna.

Kemudian setelah penggalian harta karun dibukit Kiu ci sau, dimana Bong Pay berhasil mendapatkan separuh bagian “Ci- yu-jit-ciat” yang hilang, kepandaian sakti itupun nenjadi utuh dan komplit kembali tentu saja ilmu sakti itupun selanjutnya diwariskan kepada Hoa In-liong.

Seperti diketahui, sejak penggalian harta dibukit liu ci san, suasana dalam dunia persilatan menjadi aman kembali, maka selama ini juga baik Hoa Thian-hong maupun Bong Pay tidak mendapat kesempatan untuk mencoba kehebatannya.

Tak tahunya ilmu sakti yang sudah lama lenyap itu akhirnya hari ini muncul kembali di depan umum.

Ketujuh jurus ilmu jari itu memiliki perubahan gerakan yang aneh tapi sakti dengan daya kekuatan yang luar biasa, kepandaian tersebut merupakan kepandaian yang sukar dicarikan tandingannya, apalagi kalau dipergunakan untuk melangsungkan pertarungan jarak dekat.

Tang Bong liang maupun Ciu Hoa tidak menyangka akan menghadapi ilmu silat yang maha sakti tersebut, dalam kejut dan paniknya mereka mencoba untuk berkelit, sayang tak sempat lagi, terpaksa mereka bulatkan tekadnya dan meneruskan serangan itu dengan jurus yang tak berubah, dengan harapan bisa sama-sama terluka.

Tiba-tiba Tang Bong liang mendengus tertahan, jari telunjuk dan jari tengah tangan kanannya tahu-tahu sudah patah menjadi dua bagian, sementara sepasang pergelangan tangan Ciu Hoa lotoa masing masing termakan sebuah totokan, di tengah jeritan kesakitan yang memilukan hati, ia mundur sambil menggigit bibir, sepasang lengannya terkulai lemas kebawah, jelas sudah cacad oleh pukulan itu.

Tdak sedikit jago berkepandaian tinggi yang menyaksikan jalannya pertarungan, mereka semua merasakan pula betapa gawatnya situasi ketika itu, akan tetapi setelah menyaksikan hasil dari pertarungan tersebut, tak urung mereka menghela napas juga karena kaget.

“Bocah keparat!” gumam Lei Kiu it, “tak disangka ilmu silatnya secepat itu bisa memperoleh kemajuan, coba tahu begini, sungguh menyesal nyawanya tak jadi direnggut sewaktu terjatuh ke tangan kauucu tempo hari…….”

Mendengar perkataan itu Bwe Su yok melirik sekejap ke arahnya dengan biji matanya yang jeli, tampaknya ia bermaksud hendak menegur.

Sesungguunya perasaan sang gadis waktu itu sungguh amat susah dilukiskan dengan kata-kata, jalan pikirannya hampir boleh dibilang saling bertentangan. Padahal semakin tinggi ilmu silat Hoa In-liong seharusnya semakin besar niatnya untuk melenyapkan orang itu, tapi kenyataannya sekarang ia malah agak sukar untuk mengendalikan rasa gembiranya.

Sebagian besar jago yang hadir di kota Si ciu waktu itu rata-rata tahu kalau Hoa In-liong adalah putranya Thian-cu- kiam merekapun tahu kalau ilmu silatnya sangat tinggi, tapi siapapun tidak mengira kalau kesempurnaan ilmu silatnya Sudah mencapai taraf demikian tingginya.

Dengan hambar Hoa In-liong memandang sekejap ke arah Ciu Hoa sekalian, lalu kepada Li Po-seng katanya, “Saudara Po-seng, tolong belikan sebuah peti mati dan kawallah jenazah Ou See ti ong untuk dikubur di tempat kuburan, jangan sampai mengganggu ketenteraman rakyat di sekitar sini.

Li Po-seng mengiakan, dia lantas berlalu dari situ.

Kiong Gwat-lan tampak kurang senang hati, sambil mencibirkan bibirnya ia berseru, “Kenapa musti repot repot? Beli saja sebuah tikar bobrok untuk membuang bangkai anjing itu, aku rasa tikar pun sudah lebih dari cukup baginya!

Dipihak lain, Tang Beng liong sedang berdiri dengan wajah hijau membesi, diam-diam pikirnya.

“Pesat benar kemajuan yang dicapai bangsat ini dalam hal ilmu silat, kalau dibiarkan hidup terus menerus, sepuluh tahun lagi pasti akan sulit ditemukan orang yang bisa menaklukannya, aku musti akan melaporkan kejadian ini kepada Sinkun agar ia cepat-cepat disingkir kan dari muka bumi….,” Berpikir sampai disitu dengan suara keras ia lantas membentak.

“Hoa Yang, meskipun aku tidak puas, lain kali aku pasti akan minta petunjuk lagi. Sekarang kalau tak ada urusan lain, aku hendak pergi duluan.”

Hoa In-liong mendengus dingin.

“Berbicara dari tenaga dalam, sesungguhnya dalam seratus jurus belum tentu aku bisa melukaimu maka jika kau tidak puas akupun telah menduganya, cuma kaupun musti tahu setiap serangan yang dilancarkan dengan Ci yu jit ciat akan menyebabkan korbannya pasti mati, oleh sebab ayahku menganggap ilmu itu terlalu keji, disana-sini telah mengalami perubahan, coba kalau kugunakan jurus aslinya…..Hmm, aku pikir kau tak dapat pergi dari sini dengan selamat”

“Baik! aku telah mengetahuinya, masih ada pesan lain?” seru Tang Bong-liang sambilt mengigit bibir.

Dengar serius Hoa In-liong berkata, “Tolong sampaikan kepada sindun, jika dia masih tak ingin melangsungkan pertarungan terbuka, tolong awasi baik-baik anak buahnya.”

“Aku akan mengingatnya, sahut Tang Bang Iiang.

Kemudian ia memberi tanda dan bersama Ciu Hoi sekalian berlalu meninggalkan tempat itu.

Sebenarnya semua orang Bong liang serta Ciu Hoa sekalian disana, tapi ketika Hoa In-liong membiarkan mereka pergi dengan begitu saja, maka merekapun tidak banyak berbicara lagi. Setelah Tang Bong liang dan Ciu Hoa sekalian pergi, sinar mata semua orangpun kini sama-sama dialihkan ke arah Bwe Su yok yang berada di atas dahan pohon waru.

Pelan-pelan Kiong Gwat-lan mendekati Hoa In-liong, kemudian bisiknya lirih, “Hei jiko, coba lihatlah budak she Bwe itu, sungguh cantik menawan, apakah kau pernah bermesraan dengannya?”

“Ala…..kau cuma pura-pura sok serius!” katanya.

Hoa In-liong tersenyum, dia lantas memberi hormat kepada Bwe Su yok sambil menyapa, “Bwe kaucu, baik-baikkah kau?” Bwe Su yok menundukkan kepalanya, kembali ia berpikir, “Gadis itu begitu akrab dengannya, jangan jangan dia adalah gadis simpanannya.”

Setelah membungkam sesaat, Bwe Su yok kembal mendongakan kepalanya memandang sekejap ke arah Hoa In- liong.

Waktu itu semua perhatian para jago tertuju kepadanya seorang, semua orang segera dapat merasakan bahwa dibalik tatapan matanya yang jeli sama sekali tidak terpancar lagi sinar keketusan, sebaliknya malah lamat-lamat menunjukkan sikap sedih dan murung, hal ini membuat semua orang menjadi tercengang.

Tiba-tiba Bwe Su yok menghela nafas panjang, tanpa mengucapkan sepatah-katapun ia berlalu dari situ.

Ke Thian-tok maupun Lei ciu it sama-sama tertegun, kemudian setelah melotot sekejap ke arah Hoa In-liong dengan gemas, mereka pun memutar badannya dan berlalu dari situ. Sekali lagi semua orang dibuat tertegun oleh kejadian tersebut, siapapun tidak menyangka kalau Kiu im kaucu bakal berlalu dari situ tanpa meninggalkan pesan sepatah kata pun.

Kecuali termenung, ada pula diantara mereka yang diam- diam merasa kecewa karena Kiu im kaucu yang dikatakan berwajah dingin dan tidak berperasaan itu ternyata malah berbuat sebaliknya.

Tentu saja Hoa In-liong dapat meresapi maksud hatinya, diam-diam ia menghela napas, kepada dua bersaudara Kiong segera katanya, “Adik berdua baru saja tiba di kota Si ciu, tentunya kalian belum ada tempat untuk menginap bukan?

Bagaimana kalau untuk sementara waktu tinggal digedung kami?”

“Tentunya akan mengganggu Hoa jiko,” kata Kiong Gwat- lan Sambil tertawa dan manggut-manggut.

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak. “Haaahh…………

aaahh………haaahh… padahal aku sendiripun meminjam

gedung itu dari orang lain, mengangkangkan yang sewenang- wenang atas rumah itu, membuat akupun secara terpaksa menjadi pula tuan rumah disitu.”

Tiba-tiba pemuda yang pernah melerai pertarungan antara Kiong Gwat-lan melawan Kongsun Peng tadi maju menghampiri Hoa In-liong, lalu sapanya dengan suara lirih, “Hoa jiko!”

Hoa In-liong berpaling kemudian serunya dengan tercengang, “Hei saudaraku, kaupun datang kemari? Dimana sutemu?”

“Semalam kami sudah datang, kini sute masih menunggu di rumah penginapan… ” Tiba-tiba Kiong Gwat-lan menyela sambil tertawa dingin, “Hoa jiko, siapakah orang ini? Dia pasti bukan manusia baik- baik, kau tahu, dia berjalan bersama Ou See tiong.”

Merah padam selembar wajah pemuda itu saking cemasnya, buru-buru dia membantah, “Aku bernama Demor, datang dari See-ih, ………aku… aku bukan orang

jahat… ”

Dengan bahasa yang kurang lancar, dihari-hari bisa ia masih dapat menggunakan secara baik, tetapi sekarang lantaran cemas dan panik,ia menjadi gelagapan dan tak mampu berbicara.

Hoa In-liong segera tertawa. “Kiong ji moay, kau jangan salah paham,” katanya, “dia adalah muridnya suhuku yang ada di wilayah see ih, adik seperguruannya bernama Tehan, mungkin lantaran masih muda dan tak ada pengalaman, mereka kena dibohongi orang.”

“Betul, cepat-cepat Demor menerangkan, “kami bertemu dengan orang she Ou itu di kota koy-hong, karena sama-sama mau ke si ciu maka kami melakukan perjalanan bersama, siapa tahu kalau dia adalah seorang penjahat cabul”

Hoa In-liong termenung sebentar, kemudian tanyanya lagi, “Jika kalian semua pergi, siapa, yang menjaga rumah?”

Dirumah masih ada beberapa orang pelayan, mereka pernah dididik suhu dengan ilmu silat, kemampuan mereka tidak selisih banyak dari aku serta sute, aku rasa mereka masih sanggup untuk menjaga rumah baik-baik!”

Hoa In-liong lantas mendengus. Setelah sampai di Si-ciu, kenapa kalian belum mencari aku malah keluyuran sendiri? Kau anggap aku tak tahu maksud kalian? Baiklah, akupun segan banyak bicara, nanti akan kuselesaikan sendiri dengan paman.

Haputule amat ketat mengajari muridnya, kedatangan Demor dan Tehan kedaratan Tionggoan kali inipun diluar pengetahuan gurunya, tentu saja mereka tak berani menjumpainya.

Sesudah tergagap sekian lama, akhirnya Demor berkata, “Jiko, kau berangkatlah duluan, aku dan sute segera akan menyusul kesitu!”

Paman memberitahukan kepadamu bahwa kalian ditinggal dirumah agar berlatih silat lebih tekun,” kata Hoa In-liong dengan wajah membesi, tak bisa diragukan lagi, kedatangan kalian berdua ke kota Si ciu adalah diluar pengetahuan gurumu.

“Kami cuma keluar untuk bermain-main sebentar, lalu segera kembali ke See-ih” ujar Demor ketakutan.

Secara diam-diam bermain ke Tionggoan memang bukan urusan besar, tapi berkumpul dengan manusia Ou See tiong adalah suatu kejadian yang tak boleh diampuni, untung ketahuan lebih awal, coba kalau sampai tercebur kelembah kenistaan, mungkin waktu itu kalianpun masih berada dalam impian. Hmm Kini kau berani pula menghindari perjumpaan dengan gurumu, jangan harap kalian bisa kabur lagi, hayo cepat ikut aku menghadap paman agar diberi hukuman yang setimpal”

Dulu pernah Demor menyaksikan Hoa In-liong menegurnya dengan wajah sekeren sekarang, sedikit banyak ia sudah rada takut apalagi sekarang setelah mengetahui bahwa Hoa In- liong akan mengajaknya menjumupai gurunya, ia menjadi ketakutan setengah mati.

Dalam pada itu para penontonpun sudah mulai bubaran karena melihat Hoa In-liong sedang bercakap-cakap dengan Demor serta dua bersaudara dari keluarga Kiong.

Dengan demikian, disitu hanya tinggal Tim kiat kian, Ho See sian, dua bersaudara Oh dan Kongsun Peng, sedang Siau Gou ji seorang berjongkok sambil bermain burung bangau perak peninggalan Ou See tiong.

Mayat Ou Soe tiong tergeletak dipinggir jalan dalam keadaan yang mengerikan, darah masih bercucuran dengan derasnya, tapi setiap orang yang lewat disampingnya dengan penuh rasa benci dan menghina sama-sama melukahi tubuhnya.

Tiba-tiba kedengaran Kiong Gwat-lan berseru, “Jalan raya bukan tempat untuk memberi pelajaran kepada seseorang, lagi pula dengan kedudu-kanmu masih belum pantas menasehati saudara cilik ini, hayo kita pergi saja!”

Gadis itu baru berusia tujuh delapan belas tahun usianya dengan Demor pun cuma selisih sedikit tapi dengan gayanya dia telah membasahi orang dengan saudara cilik, ini membuat Lim kiat kau se kalian diam-diam merasa geli.

Demor tidak merasakan hal itu, karena kelihatannya Kiong Gwat-lan membantunya berbicara, dengan penuh rasa terima kasih ia melirik sekejap ke arahnya.

Kiong Gwat-lan merasa lebih bahagia lagi sambil tertawa merdu ujarnya lebih jauh, “Saudara cilik, kau jangan gelisah, meskipun aku belum berhak untuk ikut ambil bicara dihadapan gurumu, tapi aku rasa beberapa orang cianpwe pasti bersedia membantumu, tak pasti mereka akan membiarkan kau didamprat gurumu.”

Kemudian sambil melirik ke arah Ho Kee sian dia berkata, “Ho locianpwe, bersediakah kau?”

Ho Kee sian agak tertegun, lalu jawabnya, “Aku kuatir tak punya muka sebesar itu!”

“Aku lihat kau orang tua sudah berusia setengah abad lebih, masa tidak punya?” kata Kiong Gwat-lan sambil cemberut, “yaa, aku tahu, kau pasti enggan memberi bantu- an makanya berkata demikian, pokoknya bagaimanapuu juga kau musti mengabulkan permintaanku ini!”

Kiong Gwat hui yang menyaksikan kejadian itu segera menarik ujung baju adiknya sambil berbisik, “Adiku, jangan kelewat berandal”

Tapi Kiong Gwat-lan sama sekali tidak menggubris, malah matanya memperhatikan Ho Kee sian tanpa berkedip.

Melihat itu Ho Kee sian lantas berpikir, “Agaknya dalam menghadapi persoalan apapun nona ini merasa tak enak jika belum ikut ambil bagian, bila aku menyanggupinya mungkin dia akan mendesakku terus menerus…”

Berpikir demikian, sambil tertawa diapun berkata, “Kalau cuma mengucapkan beberapa patah kata sih gampang, aku cuma kuatir tak ada gunanya.”

Sementara itu Hoa In-liong juga sedang berpikir, “Menghadapi setiap persoalan tampaknya budak ini cuma tahu mengumbar nafsu, melihat aku mendamprat Demor lantas dianggapnya hal ini tak adil, mana dia tahu kalau aku berbuat demikian lantaran mempunyai maksud tertentu.” Setelah berpikir sejenak, sambil tertawa nyaring segera ujarnya, “Gara gara kau seorang nona binal, kota Si cui sudah menjadi ramai setengah harian, Kiong ji moy! Dalam perjalananmu masuk ke kota nanti jangan menimbulkan gara- gara lagi lho!

Merah jengah selembar wajah Kiong Giok lan.

“Kau dibilang membuat gara-gara, perbuatanmu di kota Si ciu ini baru cocok disebut suatu pengacauan secara besar- besaran, membuat seluruh dunia persilatan menjadi kalut tak karuan, hmm! Aku sih masih ketinggalan jauh”

Berbicara sampai di situ, sorot matanya lantas dialihkan ke wajah Hoa In-liong yang cerdik segera dapat menduga beberapa bagian atas duduknya persoalan, ia lantas tertawa tergelak.

“Haaahhh… haaahhh……haahhh……

Kiong ji-moay kau toh sudah menyalahi saudara Kongsun, hayo cepat minta maaf!”

“Hoa kongcu, akulah yang telah mencari gara-gara dengan nona Kiong!” cepat cepat kongsun Peng berbisik dengan nada tersipu.

Hoa In-liong gelengkan kepalanya sambil tertawa, “Saudara Kongsun tak usah banyak bicara lagi,” katanya, “sampai di manakah tabiatnya sudah siau-te pahami benar-benar, bagaimapun juga hari ini dia musti minta maaf kepada saudara Kongsun.”

“Jangan mimpi!” sela Kiong Gwat-lan sambil berkerut kening. Hoa In-liong tersenyum kembali katanya, “Kalau sudah menyalahi orang, punya kepandaian lagi, tidak minta maaf bukan persoalan, tapi kalau sudah tak punya kepandaian lagi, tidak minta maaf lagi, itu baru tak boleh”

“Lantas apa yang musti kulakukan baru bisa di katakan punya kepandaian….?”

Hoi In-liong menutar biji matanya, lalu sahutnya sambil tertawa, “Akan kubuat sebuah lingkaran di dalam dan sebuah lingkaran di luar, lingkaran dalam luasnya dua depa lingkaran luar luasnya empat kaki, aku akan berdiri dalam lingkaran dalam dan kau boleh berkelit dilingkaran luar, jika dalam seperempat jam kau bisa menghindari tangkapanku, maka kau akan kuanggap punya kepandaian.”

Kongsun peng menggerakkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu tapi niat itu kemudian dibatalkan, pikirnya, “Tampaknya kedua orang itu sudah terbiasa bergurau, buat apa aku musti banyak bicara?”

Karena berpikir demikian, maka diapun membungkam dalam seribu bahasa.

“Yaa, aku tahu ilmu meringankan tubuh dari keluarga Hoa memang sangat lihay dan diketahui semua orang di dunia, dengan mengandalkan tenaga dalam yang kau miliki tidak sulit untuk berganti, tiga empat gerakan di tengah udara, aku tahu bukan tandinganmu, aku tak sudi kau tipu kecuali kalau kau tak boleh melewati garis lingkaran.”

Waktu itu Kongsun Peng, Ho Kee sian dan lainya berpendapat demikian pula, sebab menurut jalan pemikiran mereka kecuali berbuat demikian, tak mungkin Hoa In-liong bisa menangkap Kiong Gwat-lan dari dalam lingkaran. Lain halnya dengan Hoa In-liong, dia lantas berpikir.

“Nah, bagaimanapun juga kau memang sudah terjebak dalam siasatku… tinggal sekarang pelaksanaannya!

Meskipun demikian, dia pura-pura menunjukkan wajah keberatan, serunya, “Aku toh bukan dewa, kalau ilmu meringankan tubuh pun tak boleh dipergunakan, jangankan menangkapmu, untuk menjawil ujung bajumu pun bukan suatu pekerjaan yang gampang.”

Dengan bangga Kiong Gwat-lan tertawa cekikikan. “Huuuh… begitupun masih mengakunya seorang

enghiong, heran kau pingin ribut dengan aku seorang gadis,

lebih baik lain kali tak usah berlagak sok”

Hoa In-liong segera tertawa terbahak-bahak. “Haaahh….haaahh…haaahh……baiklah, akan kuturuti

perkata-anmu itu, mari kita buat garis lingkarannya.”

“Biar aku saja yang membuatnya!” cepat Kiong Gwat-lan menyela.

Tanpa menanti persetujuan orang, dia lantas bungkukkan badan dan membuat dua buah lingkaran dengan pedang.

Bagi para jago yang terbiasa belajar silat pada umumnya bisa mengukur jarak dengan pas, siapapun mengetahui bahwa secara curang gadis itu telah menambah luas lingkaran luar dengan dua tiga depa, sebaliknya lingkaran dalam hanya satu depa lebih lima enam. Cuma saja lantaran Hoa In-liong tidak berbicara apa-apa, maka semua orang pun tidak berbicara apa-apa.

Untung daerah di sekitar situ memang merupakan tempat yang sepi dan jarang dilewati orang, kendatipun demikian berkenyit juga sepasang alis mata Kiong Gwat hui, ia merasa adiknya sebagai seorang gadis perawan tidak sepantasnya melakukan perbuatan semacam itu, tapi karena dilihatnya gadis itu amat gembira, ia merasa kurang enak untuk mencegahnya, maka dengan sorot mata mengandung teguran ia melirik sekejap ke arah Hoa In-liong.

Setelan berdiri tegap dalam lingkarannya yang kecil, sambil putar badan Hoa In-liong berkata, “Kiong ji moay, ayo cepetan dikit!”

Ketika dilihatnya pemuda itu begitu mantap dan menyakinkan, Kiong Gwat-lan sedikit banyak merasa agak ragu juga, pikirnya, “Jangan-jangan aku sudah terperangkap dalam siasatnya? Aku musti lebih berhati-hati….”

Tapi pikiran lain segera melintas dalam benaknya, ia merasa selihay-lihaynya pemuda itu, tak nanti ia bisa ditangkap dengan mudah.

“Hati-hati kata Hoa In-liong kemudian sambil tertawa, “aku hendak mempergunakan tiga macam kepandaianku untuk menangkapmu dalam keadaann hidup-hidup”

Kipasnya lantas dialihkan ketangan lain, kemudian telapak tangan kanannya diayun kedepan dan dua titik hitam segera meluncur ke arah tubuh gadis tersebut.

Daya luncur kedua titik hitam itu tidak begitu cepat, Kiong Gwat-lan dapat memperhatikan arah datangnya ancaman dan berkelit secara jitu, serunya, “Satu macam kepandaian!” Tapi baru selesai perkataan itu, mendadak desingan angin tajam menyambar lewat dari belakang, tanpa berpikir panjang lagi ia ber kelit tiga depa kesamping, meski demikian jaraknya dengan Hoa In Hong masih cukup jauh.

Tapi belum lagi kakinya berdiri tegak, kembali terasa ada semacam benda menyergap tubuhnya, dengan perasaan apa boleh buat terpaksa ia melompat maju delapan depa lagi, pikirnya, “Jarakku denganmu masih terpaut satu kaki sampai dimanapun lihaynya ilmu Hwee hong jiu-hoat (cengkeraman angin berpusing), sia-sialah akhirnya jerih payahmu.”

Tapi pikiran itu baru habis melintas lewat, Hoa In-liong telah tertawa terbahak-bahak.

Seketika itu juga Kiong Gwat-lan merasa munculnya segulung tenaga hisapan yang menyedot tubuhnya ke belakang.

Berada di tengah udara, gadis itu masih berusaha menahan badannya dengan ilmu bobot seribu, sayang tersambit, di tengah jeritan lengkingannya tahu-tahu ia sudah terhisap kekuatan itu dan melayang ke arah Hoa ln Hong berdiri.

Pukulan itu bernama Hu Im sin ciang, dulu nama aslinya adalah Kun siu-ci-tau (perlawanan bi-natang terkurung) yang merupakan ciptaan dari Ciu it bong.

Kemudian setelah kepandaian tersebut terjatuh ke tangan Hoa Thian-hong, apalagi setelah ia berhasil mempelajari ilmu Kiam keng boh kui yang merupakan peninggalan dari Kiam seng (malaikat pedang) Gi Ko, semua sifat asli ilmu pukulan tersebut baik dalam hal keras lembutnya, cepat lambatnya dan tipuan atau aslinya telah mengalami perubahan besar. Jangankan Kiong Gwat-lan sekarang yang bertenaga masih lemah, kendatipun Pia Leng cu, se-orang tokoh Thong thian kau yang pernah tersohor dimasa lalupun tak sanggnp berkutik apa-apa di tangan Hoa Thian-hong waktu terjadi peristiwa di sungai Huang ho dulu. 

Padahal tenaga dalam yang dimiliki Hoa In-liong sekarang belum tentu dibawah tenaga dalam ayahnya di waktu itu namun semenjak ia berhasil memperoleh warisan Khi khek teng heng sim boat dari Goa cing taysu yang kemudian digabungkan dengan sim boat keluarga Hoa-nya, hawa murni ditubuhnya malah mengalir lurus dan terbalik secara tidak beraturan, ini menyebabkan tenaga pukulan yang dilancarkan pun bisa dilontarkan bisa pula dihisap kembali.

Padahal waktu itu dia hanya bermaksud mencoba-coba, tapi hasil yang kemudian tercapai ternyata diluar dugaannya, sudah barang tentu orang lain lebih terperanjat lagi dibuatnya.

Hoa In-liong menjulurkan tangan kanannya dan segera merangkul pinggang Kiong Gwot lan, katanya sambil tertawa terbahak-bahak, “Haaahh….haaah…….haaah…..bagaimana?

Kau cuma menggunakan dua macam kepandaian!” Dirangkul oleh seorang pemuda dihadapan orang banyak,

sedikit banyak malu juga Kiong Gwat-lan dibuatnya, pipinya kontan saja menjadi merah padam, sambil meronta serunya manja, “Lepaskan aku!”

Sambil tersenyum Hoa In-liong melepaskan gadis itu, katanya kemudian, “Sekalipun permainan ini cuma termasuk guruan belaka, toh bagaimanapun jua kau sudah kalah, hayo cepat minta maaf kepada saudara Kongsun!” Tiba-tiba Kiong Gwat-lan melompat ke Luar dari lingkaran tersebut. Seraya serunya sambil tertawa, “Sekarang aku masih berada dilingkaran luar, kau kan tidak berhasil menangkapku?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Kalau kau tetap mungkir, yaa, apa boleh buat lagi?”

Dalam hati ia berpikir lagi, “Dengan tenaga dalamnya sekarang, meskipun ia berada di atas permukaan dan jaraknya mencapai satu kaki lebih lima depa, seandainya kucoba kepandaianku lagi, rasanya dia tak akan mampu mempertahankan diri

Tiba-tiba terdengar Kongsun Peng berseru,