Neraka Hitam Jilid 01

Jilid 01

DALAM cerita yang berjudul Rahasia hiolo kumala, dikisahkan bahwa Hoa In-liong sedang bercakap cakap dengan Si Leng jin membicarakan rahasia yang meliputi perkumpulan Hian-beng kau, sebuah batu kecil disambit ke dalam jendela oleh seseorang.

Setelah dilakukan pengejaran yang amat ketat, akhirnya dapat diketahui bahwa orang itu adalah seorang kakek berbaju hijau.

Dalam suatu perdebatan sengit yang kemudian berlangsung, Hoa In-liong bersikeras untuk menantang kakek itu berduel.

Karena mendongkol dan jengkel setelah di desak terus menerus, akhirnya kakek berbaju hijau itu berkata sambil tertawa keras. “Bocah cilik! Tampaknya sebelum kau di beri penjelasan yang setimpal, kelatahanmu kini hari akan kian bertambah, baiklah! Akan kuterima tantanganmu itu.” Sinar keemasan emas tampak berkilauan di udara, tahu- tahu di dalam pergelanggan tangan si kakek berbaju hijau itu telah bertambah dengan dua buah gelang emas yang besarnya seperti mangkuk dengan permukaan luarnya rata, sedang permukaan dalamnya bergerigi.

Gelang itu tidak mirip gelang baja Liong hau kang-huan, juga tidak mirip dengan gelang pelindung tangan lu jiu huan, tapi yang jelas bentuk senjata tersebut merupakan suatu bentuk senjata yang aneh dan istimewa sekali.

Diam-diam Hoa In-liong berpikir setelah menyaksikan bentuk aneh senjata musuhnya

“Bila dilihat dari bentuk senjata itu tam pak gerigi dibalik gelang khusus dipergunakan untuk mengunci pedang musuh, Hmm… cuma kalau kau anggap ilmu pedang keluarga Hoa kami dapat diatasi dengan cara semacam itu, maka keliru besarlah penghitunganmu itu…..”

Terdengar si kakek berjubah hijau berkata lagi, “Jurus seranganku dalam mempergunakan senjata Jit gwat siang huan (sepasang gelang mata hari dan rembulan) ku ini mempunyai keistimewaan yang berbeda jauh dengan ke adaan pada umumnya kau musti lebih berhati-hati……”

“Tak usah kuatir, cuma akupun berharap agar kau lebih waspada pula sewaktu menghadapi ancaman pedangku.”

Sekalipun nafsu membunuhnya sudah jauh berkurang anak muda itu masih tidak sudi untuk melepaskan si kakek musuhnya dengan begitu saja, maka setelah berpikir sebentar, tubuhnya segera menubruk ke muka, pedang antiknya langsung membabat ke pinggang lawan. Jangan dianggap serangan itu amat sederhana dan biasa, hakekatnya dibalik kesederhanaan tersebut justru tersimpan suatu da ya kekuatan yang amat dahsyat.

Kakek berbaju hijau itu terperanjat, pikirnya, “Hebat betul tenaga dalam yang dimiliki orang ini, tak malu kalau menjadi putranya Thian cu kiam.”

Sementara otaknya berputar, dengan cekatan ia berkelit ke samping.

“Huuh…..semula kuanggap ilmu silatmu sudah lihay benar, tak tahunya cuma manusia yang pandai berkelit” ejek Hoa In- liong kemudian sambil tertawa.

Betapa gusarnya kakek berbaju hijau itu mendengar ejekan tersebut, diam-diam ia menyumpah, “Sialan betul kau si bocah latah, tampaknya aku harus memberi pelajaran yang setimpal kepadamu.”

Dalam hati ia berpikir demikian, diluar katanya, “Bagus sekali! Bukankah kau akan menjadi pemimpin umat persilatan? Ketahuilah jago-jago dalam Hian-beng-kau yang lebih li hay dari diriku banyaknya tak terhitung, jika tak mampu menangkan aku lebih baik enyah dari sini dan pulang saja ke perkampungan Liok-soat sanceng.”

Sambil berkata sinar emas berkilauan diangkasa, bagaikan sebuah bukit emas, kedua buah senjata itu langsung menghantam ke atas batok kepala si anak muda itu.

Terkejut juga Hoa In-liong menghadapi keganasan serangan itu, tapi bukan berarti dia takut, pedangnya segera diputar untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut. “Traang……! Traang….!” benturan-benturan nyaring menggelegar di udara menyebabkan percikan bunga api, secara beruntun Hoa In-liong mundur tiga langkah ke belakang, tangan kirinya menjadi kaku dan kesemutan, ini semua membuat hatinya tergetar.

Ketika ia coba menengadah, tampaklah kakek berjubah hijau itu sudah mundur beberapa tombak dengan wajah terkejut pula, dia lantas berpikir, “Hmm……rupanya diapun tidak berhasil mendapatkan apa-apa……

Sementara itu si kakek berjubah hijau ini sudah membentak nyaring dengan perasaan terkejut.

Beradunya gelang emas menimbulkan suara tajam yang memekikkan telinga, tiba-tiba maju lagi melancarkan tubrukan, dengan sepasang gelang emasnya yang satu digunakan untuk menyerang jalan darah Pen-hwe-hia sementara yang lain dipakai untuk menyerang lambung.

Hoa In-liong tetap tegak sekokoh batu karang, “Sreet…..!” secepat kilat dia tusuk dada musuh.

Kehebatan dari serangan ini justru terletak pada soal “kecepatan” sekalipun menyerang belakangan tapi tiba duluan sebelum ancaman dari kakek berjubah hijau itu mencapai sasarannya, pedang itu sudah tiba lebih dulu di depan dadanya.

Sungguh amat terperanjat kakek berjubah hijau itu pikirnya.

“Tak kusangka kalau ilmu pedang dari bocah ini sudah mencapai taraf setinggi ini.” Cepat dia tarik kembali serangannya dan bergeser ke sebelah kiri Hoa In-liong.

In-liong bergerak mengikuti arah pedang, sambil memantek gerak maju kakek itu dengan pedangnya kembali, ia berpikir, “Meskipun kemunculan kakek ini tidak mengandung maksud- maksud tertentu, tapi belum pernah kudengar kalau diantara rekan sealiran terdapat seorang jago yang menggunakan Jit- gwat-siang-huan sebagai senjatanya, daripada kehujanan lebih baik aku sedia payung sebelum hujan. Bila fajar telah menyingsing dan Limpek Ngo serta saudara Cong gi sekalian mengetahui aku telah hilang, pencarian secara besar besaran pasti akan dilakukan, aku musti menyelesaikan pertarungan ini secepat cepatnya.”

Sesudah mengambil keputusan, ia membentak keras lalu…….

“Sreet…..! sreet,…!” secara beruntun dia lancarkan dua buah serangan berantai yang amat dahsyat.

Kakek berjubah hijau itu memberi perlawanan yang gigih, sambil bertarung ia berpikir, “Bila dilihat dari sikapnya itu, jelas ia telah menganggapku sebagai musuh besar, perlu tidak kujelaskan asal usulku yang sebenarnya?”

Karena sangsi, posisinya segera didesak oleh Hoa In-liong sehingga kalang kabut.

Terdengar Hoa In-liong tertawa nyaring, secara beruntun ia lancarkan belasan buah serangan berantai, serangan itu amat dahsyat bagaikan gulungan air sungai yang susul menyusul.

Tenaga dalam yang di miliki kakek berjubah hijau ini cukup sempurna, terutama permainan sepasang gelang emasnya cukup menggetarkan sungai telaga, meski demikian untuk sesaat ia kerepotan juga untuk menangkis semua serangan yang tertuju ke arahnya, dalam keadaan begini tak mungkin lagi baginya untuk memecahkan perhatian soal lain kecuali pusatkan segenap kemampuannya untuk melawan musuh. Keadaan si kakek berjubah hijau ibaratnya orang yang terjerumus dalam kubangan lumpur, gerak kaki dan tangannya menjadi terbatas dan tak dapat berbuat leluasa.

Beberapa kali dia mencoba untuk memperbaiki posisinya, tapi setiap kali selalu terdesak kembali ke tempatnya semula.

Sebagai orang yang beradat tinggi, ia lebih-lebih segan untuk memberitahukan asal usulnya yang sesungguhnya setelah menghadapi keadaan semacam ini.

Akhirnya setelah pikir punya pikir dia putuskan untuk menyerempet bahaya dengan membuka sebuah titik kelemahan dalam pertahanannya………

Untuk pertarungan antar jago-jago lihay, suatu tindakan yang kurang berhati hati dapat mengakibatkan keadaan yang lebih fatal, hakekatnya perbuatan dari kakek berjubah hijau itu tak lain hanya menuruti emosi, padahal manfaat yang sesungguhnya kurang bisa dipertanggung jawabkan.

Tujuan Hoa In-liong dalam melakukan serangan itu tak lain adalah berusaha mengalahkan musuhnya, serta-merta dia keluarkan jurus Tay ho seng-sam (Bintang buyar di sungai besar) untuk menerobos ke dalam.

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, “Andaikan kulakukan serangan dengan jurus ini kalau bukan mampus paling sedikit dia bakal terluka. Pemuda itu menjadi sangsi untuk melanjutkan serangannya, tanpa sadar gerak seranganpun ikut terhenti di tengah jalan.

Justru keadaan inilah yang sedang ditunggu tunggu kakek berjubah hijau itu, sambil tertawa nyaring gelang emasnya disodok ke depan dan menyerang secara bertubi-tubi, seketika itu juga Hoa In-liong kehilangan posisi baiknya.

Dibawah timpaan sinar sang surya, terlihat sekilas cahaya hijau bergerak kian kemari di tengah gulungan cahaya emas, sinar itu tajam menyilaukan sementara deruan angin tajam dari sapuan gelang emas dan bacokan pedang antik sangat memekikkan telinga.

Terkesiap juga Hoa In-liong menghadapi keadaan tersebut, pikirnya, “Tidak salah kalau orang mengatakan bahwa orang pintar di dunia ini lebih banyak dari pada ikan mujair di sungai, kakek ini belum pernah ku kenal namanya, tapi kepanduan yang dimilikinya sangat luar biasa.”

Tiba-tiba kedengaran kakek berjubah hijau itu menegur dengan suara dalam, “Hoa Yang, masih belum mau menyerah?”

“Huuuh … terlampau pagi perkataanmu itu!” jengek sang pemuda ketus.

“Traaang…….!” dalam pembicaraan tersebut pedang dan gelang emas saling membentur dengan nyaringnya, apalagi dalam senjata masing-masing disertai juga dengan tenaga yang tangguh, kontan saja kedua belah pihak sama-sama merasakan tangannya kesemutan.

Akibatnya pedang dalam genggaman Hoa In-liong tersampok ke samping hingga pertahanan bagian mukanya terbuka, sebaliknya gelang di tangan kakek berjubah hijau itu kena dipukul pula sampai mencelat.

Cahaya emas membumbung tinggi ke angkasa, kemudian sekilas pandangan lenyap tak berbekas.

Kakek berjubah hijau itu tak sempat untuk mencari kembali gelang emasnya, sambil tertawa terbahak-bahak, gelang emas di tangan kanannya ditancapkan ke depan menghantam lengan kiri pemuda itu.

Serangan itu dilancarkan dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Hoa In-liong sadar bahwa tak mungkin bisa menghindarkan diri lagi.

Maka tanpa menghindar ataupun berkelit, pedang antiknya bergerak dari kiri menuju ke kanan langsung menusuk ke pinggang kakek berjubah hijau itu dengan jurus Liong cian yu ya (Naga bertarung di tempat alas).

Tidak menunggu gelang emasnya menempel di ujung baju pemuda itu, si kakek berjubah hijau menarik kembali serangannya, keberhasilan ini boleh dianggap sebagai suatu kemenangan kecil baginya.

Meskipun begini, serangan musuh telah mencapai pula dihadapannya, kakek itu segera sadar bila ia tidak menarik diri, niscaya akan terjadi pertarungan adu jiwa, maka dalam keadaan apa boleh buat dia menarik kembali serangannya dan mundur dua kaki dari tengah arena.

Terdengar Hoa In-liong membentak keras, bagaikan bayangan ia menyusul dari belakang dengan ketat pedangnya mendadak ditusuk ke muka, begitu menempel pakaian, senjatanya ditarik kembali pula dan dimasukkan ke dalam sarung. “Maaf bila boanpwe bertindak lancang!” katanya kemudian sambil memberi hormat.

Dengan geram kakek berjubah hijau itu berkata, “Bocah nakal, bila serangan gelangku tadi dilanjutkan dengan gerakan yang sesungguhnya, sekarang kemungkinan besar kau sudah merintih di atas tanah…….”

Hoa In-liong tertawa.

“Buanpwe telah menduga kalau cianpwe adalah seorang angkatan tua yang terhormat, tentu saja serangan itu tak akan dilanjutkan untuk merobohkan aku.”

Kakek berjubah hijau itu tertegun “Kalau hendak mungkir?” serunya.

Kembali Hoa In-liong tersenyum. “Apalagi aku tahu kedatangan cianpwe hanya ingin mencoba kepandaian silat serta kecerdasan boanpwe dalam menghadapi musuh tangguh, bila aku yang muda terlalu bertindak ceroboh dan begitu saja, bukankah tindakanku ini justru malah akan membuat cianpwe tidak senang hati?”

“Sungguh pintar bocah ini!” pikir kakek berbaju hijau itu.

Sekalipun dalam hatinya memuji, diluar katanya dengan ketus, “Sebagai seorang pemuda yang diutamakan adalah kejujuran aku lihat bukan saja kau binal dan banyak tipu muslihatnya, jadi orang tak bisa dipercaya, manusia semacam kau mana bisa diberi pertanggungjawaban untuk memikul beban berat?

Sekarang Hoa In-liong semakin yakin kalau kakek berbaju hijau itu adalah seorang angkatan tuanya, cepat ia berkata, “Nasehat dari kau orang tua akan boanpwe camkan dengan sebaik baiknya, terima kasih banyak atas kematian cianpwe!”

Sambil berkata, ia benar-benar menjatuhkan diri berlutut.

Dengan cekatan kakek berbaju hijau itu berkelit ke samping.

“Aku pun tak berani menerima hormatmu!” katanya. “Locianpwe, boleh aku tahu siapa namamu……?” Hoa In-liong bertanya dengan wajah serius.

“Kau masih ingin menyayat kulit wajahku?” tukas si kakek berjubah hijau itu cepat.

Hoa In-liong segera tertawa hambar.

“Aaah, tidak, aku yang muda kuatir kehilangan hormat!” “Hmmm……semenjak tadi kau sudah kehilangan hormat”

kakek itu mendengus dingin.

“Tiba-tiba ucapannya terhenti dan sorot matanya dialihkan ke dalam hutan lebat di sebelah kanan sana.

“Yang datang sahabat sendiri,” bisik Hoa In-liong. Kakek itu tertawa dingin.

“Kaum wanita?” ia mengejek. Hoa In-liong mengangguk. “Sungguh amat sempurna tenaga dalam locianpwe masih sejauh itu pun sudah kau tangkap suara mereka!”

Paras muka kakek itu mendadak berubah membesi, katanya lagi, “Bagus sekali, dimana-mana sudah ada teman, mmmm…hmmm…..aku tidak percaya kalau kau adalah putranya Thian-cu-kian.”

Hoa In-liong merasakan hatinya bergetar keras tapi dengan cepat ia tertawa.

“Locianpwe……”

Tiba-tiba kakek berbaju hijau itu menggerakkan tubuhnya menerjang kemuka, setelah memungut kembali gelang emasnya yang mencuat, tanpa berhenti dia melanjutkan perjalanannya menuju ke timur.

“Ehh….. locianpwe, kau hendak kemana?” Hoa In-liong segera berteriak keras.

“Aku hendak berkunjung ke perkampungan Liok-soat sanceng,” jawab kakek berbaju hijau itu dari tempat kejauhan, “akan kusuruh ayahmu menyiapkan kayu yang paling besar untuk menghajar pantatmu!”

Berbareng dengan selesainya ucapan tadi, kakak itupun lenyap tak berbekas dari  pandangan mata, Hoa In-liong lantas berpikir, “Kalau dikatakan mau ke rumahku, seharusnya dia berangkat ke arah barat……ah, sudah pasti ucapan itu cuma gertak sambal belaka……”

Tiba-tiba seseorang menyapa dengan suara yang merdu, “Hoa Kongcu!” Hoa In-liong segera memutar tubuhnya, dari balik hutan sebelah kiri pelan-pelan muncul tiga orang gadis muda yang cantik jelita, sebagai pemimpinnya tak lain adalah murid kedua dari Pui Chi giok yang bernama Cia Sau-yan.

Sejak semula ia sudah mengetahui akan kedatangan ketiga orang itu, maka pemuda itu tidak nampak kaget ataupun tercengang, hanya katanya dengan hambar, “Apakah gurumu dan Ku locianpwe juga ikut datang?”

Cia Sau-yan tertawa cekikikan.

“Wah… tampak tampaknya Hoa kongcu tidak pandang

sebelah mata kepada kami? Masa melihat kedatangan kami, menyapapun tidak?”

Ucapan tersebut sungguh membuat Hoa In-liong tertawa tak bisa menangis pun sungkan, terpaksa ia memberi hormat.

“Aaah… aku memang kehilangan adat, apakah nona-nona

sekalian sehat semua?”

Dengan wajah yang serius Cia Sau-yan bertiga membalas hormat, kemudian sambil tertawa cekikikan mereka ikut bertanya, “Apakah Hoa kongcu juga baik baik?”

“Aaa… budak budak ini semuanya binal dan nakal, terlalu

membuang waktu untuk bertanya secara langsung kepada mereka… ” pikir Hoa In-liong dihati kecilnya.

Karena berpendapat demikian, sambil tersenyum dia pun bertanya, “Berapa orang dari perkumpulan kalian yang telah datang?”

Cia Sau-yan tertawa cekikikan. “Coba kau terka!”

Dengan sorot mata yang tajan Hoa In-liong memperhatikan sekejap beberapa orang gadis itu, lalu sambil tertawa katanya, “Aku terka cuma ada dua orang yang kabur di luar pergerakan orang……. betul bukan?”

“Ngaco belo! Semuanya telah datang……” seru Cia San yan dengan wajah cemberut.

“Semua telah datang?” Hoa In-liong membelalakkan matanya lebar lebar.

“Bukan begitu……bukan begitu maksudku, yang ku aturkan adalah semua kekuatan inti dari perkumpulan kami telah berkumpul semua di kota Si ciu.”

“Cia Yu cong bukan orang mampus, masa gerombolan orang-orang yang begini menyolok mata tidak diketahui olehnya?” gumam Hoa In-liong kemudian.

Tiba-tiba si nona berbaju kuning itu tertawa cekikikan. “Hoa kongcu, kau jangan percaya dengan obrolan ji suci

kami, sekalipun segenap kekuatan inti dari perkumpulan kami telah berangkat ke utara, namun baru kami berdua yang tiba paling dulu di kota Si-ciu ini.”

Cia Sau-yan kontan saja mengerutkan alis matanya, lalu sambil berpaling makinya, “Budak sialan, besar amat nyalimu, begitu berani bermusuhan denganku?”

Hoa In-liong mendongakkan kepalanya dan tertawa terbahak-bahak. “Haaah…..haaahhh…..haaahhh…….” kalau begitu, aku mohon diri lebih dahulu,” katanya sambil menjura.

“Hoa kongcu! Harap tunggu sebentar……” tiba-tiba nona berbaju merah itu berseru.

Terpaksa Hoa In-liong menghentikan langkahnya, “Apakah nona masih ada petunjuk lain?” tegurnya sambil

tertawa.

“Hoa kongcu, kau begitu terburu-buru hendak pergi meninggalkan tempat ini apakah tidak sudi menggubris diri kami lagi?” omel nona berbaju merah itu manja.

Hoa In-liong tertawa getir.

“Aaaah…. siapa bilang begitu? Aku toh tak pernah memandang rendah siapa pun juga!” katanya.

“Hoa kongcu, sekalipun kau berkata demikian, tapi kami rasa tentunya kongcu belum tahu bukan siapa nama kami… ”

Hoa In-liong tertawa merdu.

“Daya ingatku memang sangat jelek dan memalukan sekali, seringkali apa yang telah kualami akan terlupakan kembali dengan begitu saja.”

“Nah, betul bukan perkataanku?” langsung saja si nona berbaju merah itu berseru sambil tertawa.

“Tapi hanya nama nama bunga kenamaan di dunia ini yang tak pernah kulupakan,” lanjut Hoa In-liong dengan cepat, “seperti bunga anggrek, bunga botan, bunga sedap malam……semua nama-nama itu, asal sudah masuk ketelingaku maka selama hidup jangan harap bisa terlupakan lagi.”

Tiba-tiba nona berbaju kuning itu tertawa cekikikan.

“Kalau didengar dari ucapanmu itu, tampak-tampaknya kau seperti tahu dengan pasti, coba katakan, siapa namaku?”

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, “Haahaehh…….haaahh…..haaahh,…..tak bisa diragukan lagi kalau nona semua sama-sama memakai nama marga Cia.”

Sambil menunjuk ke arah nona berbaju kuning itu serunya, “Nona mempunyai sebuah nama yang tunggal di belakang huruf Cin yakni Wan jadi lengkapnya nama Cin Wan!”

Kemudian Sambil menuding si nona berbaju merah tambahnya, “Sedang nona ini bernama Cin Lam-yan, tidak salah bukan?”

Tiga orang nona itu segera tertawa cekikikan dengan gembiranya, Hoa In-liong ikut tertawa pula.

Selang sesaat kemudian, Cia Sau-yan baru berkata, “Sumoay berdua jangan bergurau, kita harus menyelesaikan dulu masalah yang sesungguhnya.”

Tertawa geli Hoa In-liong mendengar perkataan itu, pikirnya, “Huuuhhh…tak disangka kalau kalian juga tahu kalau urusan penting harus didahulukan. Hmm bergurau dulu dengan kalian baru membicarakan masalah yang sesungguhnya. Perbuatan ini pada hakikatnya tak tahu membedakan mana yang benar dan mana yang enteng…. Sementara itu Cia Sau-yan telah berkata, “Hoa kongcu, tahukah kau, apa sebabnya kekuatan inti dari perkumpulan kami berangkat semua ke utara?”

“Apa lagi yang muski ditanyakan?” pikir Hoa In-liong, “bibi Ku mempunyai hubungan persahabatan yang erat sekali dengan keluarga Hoa kami, sudah barang tentu kedatangannya adalah untuk membantu diriku.”

Tentu saja apa yang dipikirkan tak sampai diutarakan keluar, katanya sambil tertawa, “Rencana bagus dari perkumpulan kalian tentu diatur secara cermat dan rajin, dari mana kau bisa tahu?”

“Hmm…….akupun sudah tahu, bila kau sanggup untuk menebaknya kata Cia Sau-yan sambil tertawa merdu.

Setelah berhenti sebentar terusnya, “Ketika guruku mendapat kabar bahwa kau sedang mencatut nama ayah mu untuk berbuat onar di kota Si cin……

“Eeehh…..aku bukan lagi menerbitkan keonaran, aku sedang melaksanakan tugas yang sungguh-sungguh amat serius” tukas Hoa In-liong sambil tertawa lebar.

Cia Sau-yan mencibirkan bibirnya dan ikut tertawa. “Guru pun segera mengumpulkan kami semua sambil

berkata, ,Bocah keparat yang binal dan nakal itu sedang menerbitkan kekacauan dalam masyarakat, coba menurut pendapat kalian apa yang musti kita lakukan?’ Maka akupun menjawab, ‘Apa sukarnya? Biar dia mau mampus atau mau hidup, apa sangkut pautnya dengan kita?’”

“Ohooh…..betapa kejinya hati nona!” pekik Hoa In-liong sambil tertawa lebar. Cia Wan atau si nona berbaju kuning itu tertawa cekikikan.

“Jangan keburu mendamprat dulu, ada yang lebih keji lagi!” serunya.

“Siapakah dia?” tanya Hoa In-liong melebar sepasang matanya dan tertawa.

“Siapa lagi? Tentu saja aku!” “Bagaimana pula dengan kau?”

Cia Sau-yan ikut tertawa cekikikan, katanya pula, “Kau tanya tentang dia? Dia berkata begini caranya terlalu keenakan dia, kalau dia memang ingin memancing terjadinya badai pertarungan dalam dunia persilatan, lebih baik kita bantu dia untuk menuntun keluar semua gembong gembong iblis yang ada di empat penjuru dunia, agar dia membereskan mereka satu per satu dan mengangkat dirinya menjadi tersohor”

“Suatu ide yang sangat bagus!” seru Hoa In-liong sambil tertawa, “cuma kuatirnya, sekalipup nama besar bisa didapat, apa mau dibilang umurnya malah pendek”

“Huuuh………malah mengucapkan kata-kata yang bernada tak baik,” omel Cia Sau-yan.

Tiba-tiba wajahnya berubah amat serius, katanya lebih jauh, “Meskipun perkataan dari ji sumoay bernada gurauan, tapi memang demikianlah kenyataannya Hoa kongcu, suhuku benar-benar mengandung maksud untuk membantumu.” “Apakah tidak kalian pikirkan, sanggupkah kau untuk menerima semua percobaan ini?” kata Hoa In-liong dengan dahi berkerut.

“Hoa kongcu toh bakal mendapat bantuan dari banyak orang, apa lagi yang musti dirisaukan? Bukankah di kota Si ciu sudah berkumpul sangat banyak kawan sealiran yaug siap membantumu?”

“Sekalipun kawan sealiran yang berkumpul disini tak sedikit jumlahnya tapi sebagian besar merupakan mereka-mereka yang berilmu silat amat rendah”

Setelah berhenti sebentar katanya lagi sambil tertawa, “Mungkin saja sobat sobat karib ayahku menganggap aku terlampau tak becus sehingga enggan untuk memberikan bantuannya.”

Cia Sau-yan tertawa cekikikan.

“Ilmu silat yang kami miliki juga termasuk golongan kaum lemah, mungkin kurang mendapat sambutan dihati Hoa kongcu?”

“Aaaa…..siapa bilang, aku akan menyambut kalian dengan senang hati….” sahut Hoa In-liong dengan wajah berseri, “boleh aku tahu saat ini nona sekalian tinggal di mana?”

Tiba-tiba Cia Lam yan menimbrung sambil tertawa, “Pokoknya dari tempat kami menginap masih sempat menyaksikan kasak-kusuk antara Hoa kongcu dengan si nona berbaju hitam itu.”

Mendengar jawaban tersebut Hoa In-liong tertegun, segera pikirnya, “Bicara menurut tenaga dalam yang mereka miliki tak mungkin aku tak merasakan jejak mereka bila mendekati diriku ……”

Anak muda itu lantas termenung dan berpikir sejenak, akhirnya ia menduga bahwa gadis-gadis tersebut tentunya menginap dimuka rumah penginapan Oug-keh, mungkin karena ia terlampau teledor waktu itu sehingga lupa untuk memperhatikan keadaan disana.

Dengan sepasang biji matanya yang jeli dan penuh dengan daya pikat itu Cia Sau-yan mengawasi Hoa In-liong beberapa saat lamanya, kemudian sambil ketawa genit ia berkata, “Hoa kongcu, aku pengen tahu tempo hari apa yang kau lakukan di dalam kamar gelap bersama gadis itu?”

“Sungguh besar nyali budak ini,” batin Hoa In-liong, sampai-sampai perkataan semacam inipun berani dikatakan.

Ia lantas tersenyum dan menjawab, “Dalam kamar aku memegang sebuah lentera, masa nona tidak melihatnya…?”

Tapi itu kan terjadi setelah kamar berada dalam keadaan gelap cukup lamaa kata Cia Sau-yan sam-bil tertawa,

Hoa In-liong tidak berminat berdebat terus dengan mereka, maka ujarnya kemudian, “Aku hendak pulang ke rumah penginapan, soal ini kita bicarakan nanti bila aku berkunjung ke penginapan kalian, setuju?”

“Kitapun mau pulang ke kota, bagaimana kalau kita jalan bersama? Hoa kongcu tentunya tidak keberatan bukan?” pinta Cia Wan sambil tertawa lebar.

“Haaahh.. .haaahh…..haaahh….” Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, “aku paling suka kalau ditemani cewek cewek cantik, kenapa muski keberatan?” Begituah, merekapun pulang berempat ke kota secara bersama-sama.

Dalam perjalanan pulang, Hoa In-liong menggunakan ilmu meringankan tubuhnya sebesar tiga empat bagian, rupanya itupun su dah cukup membuat Cia Sau-yan bertiga kepayahan, makin lama mereka tertinggal makin jauh.

Akhirnya Cia Wan tidak tahan, ia berteriak dengan suara lantang, “Hei, kalau kau kabur terus macam dikejar anjing gila, jangan salahkan kalau aku mulai mencaci maki.”

Sesudah didamprat, Hoa In-liong baru berpaling, sekarang ia baru tahu kalau ketiga orang nona itu sudah ketinggalan sejauh tujuh delapan tombak lebih, terpaksa dia memperlambat larinya sedemikian rupa sehingga tiga orang itu berhasil menyusulnya.

Dengan susah payah perjalanan dilanjutkan.

Akhirnya kota Si-ciu muncul di depan mata, serentak mereka memperlambat larinya dan masuk kota lewat pintu utara.

Tiga orang nona cantik melakukan perjalanan bersama- sama seorang pemuda ganteng, inilah suatu pemandangan yang sangat menyolok, apalagi yang pria begitu ganteng dan gagah, sedang yang perempuan bak bidadari dari kahyangan, siapakah yang tidak melayangkan pandangan ke arah mereka?

Suasana dalam kota ketika itu ramai banyak orang yang berlalu lalang disitu, mereka berjalan sambil berdesak desak, akan tetapi dikala ke empat orang muda itu munculkan diri, serentak semua orang menyingkir ke samping memberi jalan, tentu saja hal ini disebabkan karena Hoa In-liong sudah menjadi orang yang termashur dalam kota Si- ciu.

Tiba di depan penginapan yang memakai merek “Ong keh” Cia Sau-yan menyapu sekejap sekeliling tempat itu dengan sepasang biji matanya yang jeli, kemudian katanya sambil tertawa, “Waaah… bisa melakukan perjalanan bersama-

sama Hoa-ya, nilai dari siau-li sekalian benar-benar mengalami kenaikan beratus-ratus kali lipat… ”

Hoa In Hong melirik sekejap gedung bangunan itu, ia lihat pepohonan yang rimbun tumbuh di sekeliling bangunan, suatu tempat penginapan yang tenang dan segar.

Dia lantas berpaling, lalu katanya sambil tertawa, “Benar- benar tenang dan nyaman tempat tinggal kalian, aku jadi kepingin untuk pindah pula kemari!”

“Silahkan!” seru Cia Lam-yan, “suatu kejutan bila Hoa-ya sudi pindah kemari.”

Hoa In-liong tersenyum.

“Hanya kalian bertigakah dari perkumpulan kalian yang datang kemari?” tiba-tiba ia bertanya.

Cia Sau-yan tahu bahwa pemuda itu menguatirkan kekuatan mereka yang terlalu minin, maka cepat katanya, “Kau tak usah kuatir, sebelum pihak Hian-beng-kau, Kiu im kau dan Mo kau membereskan dirimu, aku rasa tak mungkin mereka sudi mengganggu kami manusia-manusia kecil yang tak ada artinya.”

Hoa In-liong segera berpikir sesudah mendengar perkataan itu, “Bila didengar dari nada ucapannya, seakan-akan keluarga Hoa kena dirobohkan, niscaya dari pihak golongan lurus tak ada manusia lain yang bisa diandalkan lagi.

Sementara dia masih termenung, sambil tertawa, Cia Wan telah berkata lagi, “Agaknya dari pihak perkumpulan kami tiada jago-jago tangguh yang bisa diandalkan, rata-rata kepandaian silat mereka cetek dan tak becus seperti juga kami-kami ini.”

Hoa In-liong tidak bicara lagi, sambil tertawa dia memberi hormat dan berlalu. Baru beberapa langkah dia berjalan, tiba- tiba terdengar suara langkah berkumandang dari arah belakang, ketika ia berpaling maka tampaklah Cia Sau-yan sedang menyusul dirinya.

“Hoa Kongcu!” terdengar nona itu berseru.

“Ada urusan apa nona yan?” Hoa In-liong berpaling sambil bertanya.

Cia Sau-yan menggetarkan bibirnya seperti hendak mengucapkan sesuatu, tapi niat itu kemudian diurungkan.

Tindak tanduknya yang sangat aneh ini sangat mencengangkan Hoa In-liong, pikirnya kemudian, “Mungkinkah mereka masih ada persoalan yang sulit untuk diutarakan keluar?”

Sementara itu Cia Sau-yan beberapa saat kemudian dengan wajah serius katanya, “Hoa kongcu toa Suci kami titip pesan dan menyuruh aku untuk menyampaikan kepadamu.”

“Oooya? Apa pesannya?” “tanya pemuda itu sambil tersenyum. Ketika ia mendongakkan kepalanya, kebetulan pemuda itu lihat seorang laki-laki setengah umur sedang menyembunyikan diri ke belakang kerumunan orang banyak dengan sikap yang mencurigakan.

Hoa In-liong mempunyai daya ingatan yang cukup baik hanya sebentar ia merenung, segera teringat olehnya bahwa orang itu mirip sekali seperti dengan salah seorang anggota Hian-beng-kau…..

Kontan saja ia bergerak cepat dengan menerjang ke arahnya lalu sekali tangannya berkelebat tahu-tahu bahu laki- laki setengah umur itu sudah kena cengkeram olehnya.

Laki-laki setengah umur itu hanya merasakan pandangan matanya menjadi kabur, tahu-tahu tubuhnya sudah kena tangkap.

Dalam kejut dan takutnya, ia meronta dengan sekuat tenaga untuk melepaskan diri dari cengkeraman orang………..

Sayang, kemampuan Hoa In-liong dalam mencengkeram bahunya memiliki kelebihan dari siapapun, semakin keras ia meronta, semakin kencang cengkeraman tersebut, ia merasa bahunya seperti dicengkeram dengan jepitan besi yang amat kuat, sakitnya sampai merasuk ke tulang sumsum.

“Hayo jawab!” bentak Hoa In-liong kemudian, “siapa saja dari perkumpulan kalian yang telah datang?”

Peluh sebesar kacang kedelai sudah membasahi seluruh jidat laki-laki setengah umur itu, saking kesakitannya ia cuma bisa menggertak gigi menahan diri, tentu saja sepatah katapun tak mampu diucapkan. Terpaksa Hoa In-liong melepaskan cengkeramannya, lalu berkata lagi, “Hayo bicara dulu, kau pasti akan kulepas!”

Laki-laki setengah umur itu tetap membungkam diam seribu bahasa, mendadak telapak tangannya disodok ke depan menghantam dada Hoa In-liong………..

Hoa In-liong tertawa terbahak-bahak, dengan cekatan ia cengkeram urat nadi pada pergetangan tangan laki-laki itu, kemudian sambil menggencetnya keras-keras, ia membentak, “Hayo cepat jawab!”

Mungkin saking kerasnya tenaga gencetan tersebut, laki- laki setengah umur itu tak kuat menahan diri, aliran darahnya menjadi tersumbat dan ia menjerit melengking karena kesakitan, tak ampun pingsanlah orang itu,…….

“Tak kusangka kalau orang ini macam gentong nasi, tak ada gunanya!” keluh Hoa In-liong sambil menggelengkan kepalanya berulang kali.

Terpaksa ia melepaskan cengkeramannya, kemudian sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu, katanya pula, “Masih adakah sahabat-sahabat dari Hian-beng-kau yang berada di sekitar tempat ini? Silahkan menggotong pergi sobat ini, aku menjamin tak akan membikin susah”

Tapi orang-orang yang berada di sekitarnya cuma saling berpandang pandangan, tak seorang manusiapun yang tampilkan diri, dan tak ada pula yang pergi meninggalkan tempatnya, rupanya mereka kuatir kalau dicurigai sebagai anggota Hian-beng-kau.

Tunggu punya tunggu tak seorangpun yang munculkan diri, akhirnya Hoa In-liong mengejek dengan sinis, “Huuuh… tak kusangka kalau anggota Hian-beng-kau adalah manusia- manusia yang tak punya kesetiaan kawan…..”

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, “Baiklah aku orang she Hoa menjamin tak akan mengirim orang untuk melakukan pengejaran, tentunya sudah berani bukan untuk tampilkan diri…….?”

Setelah mendapat jaminan, maka muncullah seorang laki- laki dari kerumunan orang banyak, tanpa mengucapkan sepatah katapun ia membungkukkan badan membopong laki- laki setengah umur yang pingsan itu kemudian siap meninggalkan tempat itu.

“Tunggu sebentar! tiba-tiba Hoa In-liong membentak.

Dengan perasaan tercekat laki- laki itu menghentikan langkahnya, kemudian memutar badan dan memandang ke arah Hoa In-liong dengan sinar mata terperanjat.

“Beritahu kepada majikan kalian,” demikian Hoa In-liong berkata dengan suara dalam. “lebih baik lain kali jangan mengirim orang yang begini tak becus untuk memata-mataiku, bukan saja bikin malu, akupun ikut merasa malu baginya.”

Sewaktu mengucapkan kata-kata tersebut, gayanya amat sok dan seakan akan sedang memberi perintah pada anak buahnya sendiri, bahkan begitu selesai mengucapkan kata tersebut, dia mengulapkan tangan.

“Nah, sekarang pergilah!” ia berseru Laki-laki itu tak berani banyak berbicara lagi, bagaikan mendapat ampunan, cepat- cepat ia kabur dari situ.

Tiba-tiba Cia Sau-yan memberi tanda kepada dua orang sumoaynya, Cia wan manggut-manggut seperti memahami maksudnya. Sementara itu Hoa In-liong tanpa berpaling telah berkata sambil tertawa lebar.

“Nona Yan, lebih baik tak usah membuang tenaga dengan percuma!”

Masa kau sudah mengutus orang untuk membuntutinya? bisiknya.

Hoa In-liong kembali tertawa, dia putar badan berlalu dari sana seraya berkata, “Bila air ludah sudah disemburkan keluar tak nanti akan kujilat kembali ludahku itu, masa aku akan mengutus orang untuk mengikuti jejaknya?

Cuma…….sekalipun aku tidak berbicara, pasti ada orang yang melakukan tugas itu buat kita.

Kontan saja Cia Sau-yan tertawa cekikikan. Kau betul-betul seorang manusia yang licik, kalau begitu lain hari aku musti berhati-hati daripada kena jebak…..

“Apa pesan Moa suci kalian?” tanya Hoa In-liong.

Cia Sau-yan melirik sekejap sekeliling tempat itu, lalu dengan alis berkenyit ia menjawab, “Aku rasa kita bicarakan dilain hari saja!”

Hoa In-liong tidak terlampau bernafsu untuk mengetahui pesan apa yang hendak disampaikan kepadanya, maka merekapun lantas berpisah.

Ketika Cia Sau-yan bertiga sudah masuk ke dalam gedung, diapun berkunjung ke rumah penginapan Ong-keh, tapi disitu tak ada yang dijumpainya, Si Leng-jin dan Si Nio telah, pergi tanpa meninggalkan pesan. Kenyataan ini membuat anak muda itu merasa amat menyesal, disamping perasaan gelisah, tapi apa boleh buat, nasi telah menjadi, bubur, terpaksa ia pulang lebih dulu ke rumah penginapan.

Baru melangkah masuk, dari pintu gerbang, Coa Cong gi yang sedang berjalan mondar-mandir di ruang depan segera menyerbu kehadapannya sambil berseru nyaring, “Hei, kemana saja kau semalam? Tahukah kau kalau Hian-beng kaucu telah meninggalkan surat untukmu?”

Sungguh terkejut Hoa In-liong sesudah mendengar perkataan itu. serunya tanpa terasa, “Apa?”

Dengan dahi berkerut kata Coa Cong gi, “Pagi-pagi tadi, baru saja fajar menyingsing, telah datang seorang tua bangka She Beng yang mengganggu nyenyaknya orang tidur, ia membawa sepucuk surat dari hian-beng kaucu yang mengundangmu untuk melakukan suatu pertemuan, katanya pertemuan tersebut tanpa diembel-embeli dengan maksud jahat. Lantaran kau tidak ditemukan, maka untuk sementara waktu diterima oleh Ngo locianpwe, sekarang mereka sedang berkumpul di ruang muka sambil merundingkan persoalan ini, aku segan ikut dalam rapat, ini maka seorang diri kunantikan kedatanganmu.

“Tanpa menimbulkan gerak-gerik yang mencurigakan, Hian-beng kaucu telah melakukan persiapan di kota Si-ciu ini, cukup ditinjau dari hal ini sudah dapat diketahui bahwa dia memang manusia yang luar biasa,” pikir Hoa In-liong dalam hati.

Undangan dari Hian-beng-kaucu ini sangat di luar dugaan siapapun termasuk pula pemuda itu sendiri, untuk sesaat dia jadi kebingungan dan tak tahu apa yang musti dilakukan untuk menghadapi kejadian tersebut. Dengan gelisah Coa Cong-gi segara berkata: “Hayo kita cepat masuk, mungkin keadaan mereka sudah ibaratnya semut-semut di atas kuali panas.”

Dengan langkah cepat mereka berdua kembali ke ruang belakang, waktu itu Hoa Keh-sian, Yu Siaw lam dan kawan jago lainnya sedang duduk mengelilingi meja, ketika melihat anak muda itu munculkan diri, serentak mereka bangkit dan menyambut.

Hoa In-liong tak ada waktu untuk bersungkan-sungkan, langsung lagi di sambarnya surat di atas meja dan membaca dengan seksama.

Surat itu berbunyi begini,

“Ditujukan untuk Ji-kongcu dari keluarga Hoa.

Magrib nanti kunantikan kedatangan anda untuk membicarakan situasi dalam dunia persilatan dewasa ini, memandang atas kegagahan kongcu, jangan kuatir kalau kami bernit jelek kepadamu, tertanda:

Hiang beng kaucu.”

Selesai membaca isi surat itu, Hoa In-liong segera mendongakkan kepalanya sambil berkata, “Apa pendapat saudara sekalian tentang persoalan ini?”

Kata Ho Keh-sian dengan dahi berkerut, “Nada surat itu mengandung siasat memanaskan hatimu, sama sekali tiada kata-kata jaminan yang menyebutkan bahwa jiwa mu sama sekali tidak akan diganggu.” “Tapi bukankah orang she Beng itu mengatakan bahwa mereka tidak mengandung maksud jahat?” sela Ko Siong- peng.

Ho Keh-sian segera tertawa.

“Orang she Beg itu bukan seorang pentolan, masa perkataannya dapat dipercayai?

“Perduli amat apa yang hendak mereka lakukan seru Coa Cong gi dengan luapan emosi, mari kita pergi bersama, mau minum arak kita minum sepuasnya, mau berkelahi………hmm, siapa yang takut kepada mereka?”

Hoa In-liong tersenyum.

“Sampai di dimanakah kekuatan yang dimiliki Hian-beng- kau, hingga kini masih merupakan suatu tanda tanya besar, yang bisa kita ketahui bahwa Hian-beng-kau dapat menjadi pemimpin kaum iblis, hal ini berarti kepandaian silat yang mereka miliki lihay sekali, ditambah lagi dengan anak buahnya yang amat banyak, kendatipun jago- jago tua sekalipun ikut terjun dalam pertarungan ini, aku kuatir kilau kerugian masih tetap berada dipihak kita.”

Kecuali Ho Keh-sian, sudah ada tiga orang jago bekas anggota Sin-ki-pang tempo hari yang hadir disitu, mereka semua membungkam diri dalam seribu bahasa.

Di tengah keheningan inilah, tiba-tiba seorang kakek bertampang buruk buka suara, katanya, “Siapakah Hian-beng- kaucu itu? Kenapa Liong Siuya memandang begitu tinggi akan dirinya?”

Orang ini bernama Si Jin kiu, dengan ilmu pek kut cui sim ciang (pukulan tulang putih penembus hati)nya ia pernah mengalahkan si malaikat pertama dari Liong bun siang sat yang tersohor akan keganasannya dulu, dia merupakan salah seorang diantara jago-jago andalan perkumpulan Sio ki-pang.

“Aku sendiripun kurang begitu jelas siapa gerangan nama sesungguhnya dari gembong iblis itu,” kata Hoa In-liong.

Kemudian setelah berpikir sebentar, apa yang diketahui tentang Hian-beng-kaucu pun segera dibeberkan secara terperinci, secara sambil lalu diapun mengungkapkan soal yang menimpa Si Leng jin serta nona berbaju putih”

Selesai mendengarkan penuturan itu, tiba-tiba Ho Keh-sian bertanya, “Liong siauya, kau pernah mengatakan Si Leng jin memiliki sebilah pedang pendek yang tajamnya luar biasa, apakah dapat kau lukiskan bentuk senjata tersebut dengan lebih terperinci?”

Hoa In-liong lantas berpikir, “Mungkin dari senjata tersebut dapat diduga asal usul Si Leng jin……

Maka sesudah termenung dan berpikir sebentar, diapun menerangkan: “Pedang pendek itu panjangnya dua depa, bentuknya istimewa, pada gagangnya terdapat sebuah pelindung tangan, sedang dipegangannya seperti tampak ukiran dua huruf……”

Setelah berhenti sejenak untuk berpikir sebentar, dia melanjutkan sambil tertawa, “Tampaknya tulisan itu adalah huruf ‘Hong-im’, cuma benar atau tidak aku tak berani terlalu memastikan.”

Hoa Keh-sian mengernyitkan sepasang alis matanya. “Liong sau ya, sungguhkah dia she Si?” desaknya. Hoa In-liong jadi tertegun. “Apakah ada sesuatu yang tak beres? Aku rasa tak bakal salah lagi nama itu,” katanya.

Dengan suara dalam Hoa Keh-sian lantas berkata, “Dua puluh tahun yang lalu, pentolan dari Hong im-hwe yang bernama Jin Hian pernah juga menggunakan pedang pendek itu.”

Ia lantas berpaling dan memandang sekejap ke arah rekan- rekannya. Si Jin kui bertiga segera manggut-manggut tanda membenarkan.

Hoa Keh-sian berpaling kembali ke arah Hoa In-liong sambil berkata lebih lanjut, “Gadis itu mengandung maksud-maksud yang sukar ditebak, harap liong sau-ya suka bertindak lebih waspada lagi terhadap dirinya.”

Hoa In-liong merasa tidak senang dengan perkataan itu, namun ia tak mau banyak membantah, pokok pembicaraan pun segera dialihkan ke persoalan lain.

“Bagaimana pendapat kalian tentang undangan dari Hian- beng kaucu ini……?” katanya.

Ho Keh-sian mengira Hoa In-liong merasa kasian dan tak tega terhadap gadis itu, diam-diam ia lantas berpikir, “Jika watak romantis dari Liong sauya tidak mengalami perubahan, di kemudian hari ia bisa menderita kerugian di tengah kaum wanita…..”

Hal ini membuat jago lihay dari Sin-ki pang tersebut makin lama semakin merasa kuatir.

“Bagaimana pula pendapat adik In-liong sendiri?” tanya Yu Siau-lam. “Undangan tersebut tentu saja harus dipenuhi, bahkan aku punya rencana untuk memenuhi undangan tersebut seorang diri.”

Li poh-seng termenung sebentar, lalu katanya pula, “Yaa, dari pada dianggap orang penakut, undanngan ini memang harus dipenuhi!”

“Apakah kita harus mementangkan mata untuk menderita kerugian di tangan si cucu kura kura?” teriak Coa Cong-gi.

Hoa In-liong segera tertawa. “Tentu saja tidak, meskipun Han-beng kaucu yang menjuluki diri sebagai Kiu-ci Sinkun tersebut mempunyai dendam kusumat yang amat dalam dengan keluargaku, hakekatnya tujuan yang sesungguhnya tak lain adalah ambisinya untuk merajai seluruh jagad, untuk mencapai cita cita tersebut, mau tak mau dia mesti menjaga martabat dan gengsinya, maka menurut pendapat siau-te, kesempatan untuk berkelahi amat kecil.

Tiba-tiba dari luar pintu menongol sebuah kepala kecil yang memanggil dengan lirih, “Hoa…..toako…..!”

Melihat orang itu adalah Siau-gou-ji, Hoa In-liong menghampirinya sambil tertawa. “Ada urusan apa saudaraku??”

00000O00000

Bab 40

ADA seorang nona…..ehmm, cantik dan baik sekali, mengenakan sebuah gaun berwarna putih mulus sedang menantimu di rumah makan seberang jalan sana. “Masa dia yang datang?” Hoa In-liong segera berpikir, “kita berhadapan sebagai musuh, mau apa dia datang kemari?” Sambil tertawa segera tanyanya, “Siapa namanya??”

Siau gou ji menjadi terbelalak gugup.

“Aku….aku tidak tahu… ” katanya. Tapi sesudah berhenti

sebentar tambahnya, “Dia bilang toako pasti tahu seolah melihat potongan tubuhnya!”

“Ehmm, aku sudah tahu!” Hoa In-liong manggut-manggut.

Kemudian sambil tersenyum katanya lagi, “Lain kali kau musti bertindak lebih cekatan dan pintar, jangan disebabkan menerima kebaikan dari orang maka kau memuji orang sebagai orang baik, coba lihat matamu sampai keblinger hingga siapa kawan siapa lawanpun tak bisa dibedakan.”

Merah padam wajah Siau gou ji menerima dampratan itu, katanya agak jengah, “Sudah terlampau banyak orang baik dan jahat yang pernah kujumpai, siapapun jangan harap bisa membodohi sepasang mataku.”

Lalu sambil memutar sepasang biji matanya yang jeli ia bertanya pula, “Masakah dia adalah musuh?”

Kembali Hoa In-liong tertawa. “Secara pribadi dia adalah sahabatku, tapi secara umum dia adalah musuhku!”

Secerdik cerdiknya Siau gou ji, usianya masih terlampau muda, ia masih kurang begitu memahami persolan tentang budi dendam, musuh dan sahabat, apalagi sejak kecil ia dibesarkan dalam lingkungan yang berbeda, soal dendam dan budi boleh dikata merupakan suatu hal yang masih asing. Maka setelah mendengar perkataan itu, dengan keheranan dan tidak habis mengerti, kembali tanyanya, “Sesungguhnya dia adalah sahabat kita atau musuh kita??”

Tiba-tiba Coa Cong gi berteriak keras, “Hei, ngomong terus tak ada habisnya, sesungguhnya kalian bisa berhenti berbicara atau tidak?”

Hoa In-liong lantas berkata, “Pokoknya, kalau kau anggap dia sebagai seorang sahabat, maka perbuatanmu ini tak bakal salah lagi……”

Berbicara sampai disitu dia lantas putar badan dan berjalan balik keruang tengah, katanya lagi, “Empek berempat, saudara berempat aku hendak keluar sebentar, ada seorang teman mengundangku untuk berjumpa di rumah makan seberang jalan sana.”

“Kenapa tidak undang dia kemari saja?” tanya Coa Cong-gi dengan wajah tercengang.

Hoa In-liong tertawa.

Dia adalah seorang nona, lagipula berasal dari pihak musuh, rasanya kurang leluasa untuk mengundangnya kemari.

“Apakah kau tidak beristirahat dulu?” tanya Yu Siau-lam, “bagaimana pula dengan undangan dari Hiang-beng kaucu?”

Ho In-liong termenung sebentar, kemudian sahutnya sambil tertawa.

“Bagai manapun juga undangan tersebut harus dipenuhi, aku pikir semakin persoalan ini dipikirkan semakin merisaukan hati kita, lebih baik tak usah dibicarakan lagi, setelah beristirahat sebentar, aku rasa tenagaku dapat pulih kembali seperti sedia kala.”

Ketika Ho Keh-sian berempat orang tua mengetahui bahwa nona itu berasal dari pihak lawan, kontan saja mereka mengerutkan dahinya, apalagi setelah menyaksikan sikapnya yang begitu santai meskipun musuh telah berada di ambang pintu, hati mereka lebih-lebih murung lagi.

Tapi mereka cukup mengenali tabiat dari Hoa In-liong, mereka tahu sekalipun dinasehati juga tak ada gunanya, maka mereka cuma berpesan beberapa patah kata saja.

Tentu saja Hoa In-liong cuma mengiakan belaka semua pesan itu, cepat-cepat dia memberi hormat lalu keluar dari penginapan itu.

Baru masuk ke pintu gerbang rumah makan, seorang pelayan telah menyambut kedatangannya sambil berkata, “Hoa-ya, silahkan naik ke atas loteng.”

Hoa In-liong manggut-manggut dan naik ke loteng dengan langkah lebar, sinar matanya yang tajam menyapu kesana kemari.

Baru saja dia hendak menanyakan kepada sang pelayan, dalam ruang manakah nona berbaju putih itu menunggunya tiba-tiba dari sebuah bilik dekat jendela sana berkumandang suara dari si nona berbaju putih itu, “Aku ada disini!”

Hoa In-liong segera membatin.

“Kalau didengar suaramu, seakan akan hendak ajak berkelahi,…uuuh, kasar benar…” Dengan langkah lebar ia lantas menuju ke ruangan tersebut, buru-buru pelayan tadi menyingkapkan kain gorden.

Terlihatlah nona berbaju putih itu berdiri dekat jendela, ia sedang bergendong tangan sambil menatap ke arah jalan raya dengan termangu, meskipun tahu kalau pemuda itu telah datang, ternyata ber paling pun tidak.

“Ambil semua hidangan di meja dan ganti yang baru!” perintahnya kemudian dengan suara datar.

“Nona, arak dan hidangan masih hangat!” kata sang pelayan keheranan.

Tiba-tiba nona berbaju putih itu berpaling seraya berseru dengan penuh kemarahan, “Cerewet amat kau? Disuruh ganti cepat ganti, kau anggap aku tak mampu membayarnya?”

Hoa In-liong melirik sekejap ke arah hidangan di meja, benar juga masih kelihatan asap putih dari hidangan itu, segera pikirnya, “Jelas ia lagi mendongkol kepadaku lantaran harus menunggu terlalu lama, maka dicarinya alasan lain untuk melampiaskan rasa marahnya.”

Berpikir sampai disitu sambil tertawa nyaring dia lantas ulapkan tangannya untuk mengundurkan pelayan itu, kemudian sambil memberi hormat, katanya, “Terima kasih banyak atas perhatian nona, maafkanlah aku jika…….

“Kau adalah seorang toa enghiong, aku pikir tak mungkin bukan lantaran ingin mencari tahu kea-daan Hian-kongbeng yang sebenarnya maka kau gunakan kesempatan ini untuk mendesak seorang gadis seperti aku?”

Mula mula Hoa In-liong menggeleng kemudian mengangguk pula. “Hei, apa maksudmu?” seru gadis berbaju putih itu keheranan.

Hoa In-liong tertawa.

“Aku bukan seorang toa-enghiong, aku hanya kuatir bila sampai menyinggung perasaan nona sekarang, maka banyak kesulitan yang akan kuhadapi dalam perjamuan malam nanti.”

Nona berbaju putih itu menutup bibirnya dan tertawa cekikikan, tiba-tiba ia menundukkan kepalanya dan menghela napas sedih.

Dalam sekilas pandangan, Hoa In-liong dapat menyaksikan bahwa sikapnya sekarang jauh berbeda dengan sikap tempo hari, dalam hati dia lantas berpikir, “Besar amat nyali gadis ini untuk melanggar perintah gurunya dan bersahabat dengan orang-orang dari keluarga Hoa.”

Setelah mereka ambil tempat duduk, Hoa In-liong baru mengangkat cawan araknya seraya berkata, “Aku dengar antara gurumu dengan keluarga Hoa terikat dendam kematian gurunya?”

“Bukan itu saja, bahkan terhitung suatu dendam kesumat yang sangat mendalam!” sahut gadis itu dengan wajah murung.

Hoa In-liong tertawa.

“Boleh aku tahu nama gurumu… ”

Dengan cepat gadis itu gelengkan kepalanya. “Dalam perjamuan malam nanti, guruku pasti akan memberitahukan hal tersebut kepadamu, apa gunanya kau bertanya kepadaku?”

Hoa In-liong termenung dan berpikir sebentar, tiba-tiba katanya, “Apakah gurumu bernama Si Biau?”

Ketika mengucapkan kata “Si Biau”, sengaja ia membacanya dengan nada sengau….

Kontan saja si gadis berbaju putih itu membelalakkan sepasang matanya.

“Dari mana kau bisa tahu?” serunya.

Hoa In-liong tidak langsung menjawab, kembali pikirnya, “Hian-beng kaucu yang menyebut dirinya Kiu-ci siukun bernama Si Biau, padahal dalam dunia persilatan belum pernah ada orang yang bernama itu………ah betul… sudah

tentu namanya mempunyai bunyi yang hampir sama dengan huruf Si Biau tersebut… ”

Tiba-tiba satu ingatan melintas dalam benaknya, dengan cepat ia menyadari akan sesuatu, sambil menengadah pemuda itu tertawa terbahak-bahak.

“Haaahhh…….haahhhhaaa… nona Kok, rupanya gurumu

She Kok… !”

Kok Gi pek atau si nona berbaju putih itu mula-mula agak tertegun, selanjutnya dia baru tahu kalau pemuda itu sesungguhnya belumn tahu nama gurunya.

Merasa dirinya kena dijebak, gadis itu merasa jengkel bercampur mangkel, serunya, “Hmm! Kau tak usah berbangga hati, terus terang kuberitahukan kepadamu, semakin cepat Kau mengetahui soal ini semakin cepat pula ajalmu akan tiba.”

Hoa In-liong tersenyum, sekarang ia sudah tahu Hian-beng- kaucu yang menamakan dirinya Koa ci Sinkun itu tidak lain adalah bekas muridnya Bu liang Sinkun dimasa lalu yang bernama Kok See pian.

Tentang persoalan yang menyangkut diri Kok See-piau, selain ia pernah mendapat keterangan dari ibunya, Pek Kun gi, pemuda ini pun pernah mendapat keterangan yang lebih terperinci dari ayahnya Hoa Thian-hong.

Tepo dulu ketika Kok See-piau mendapat perintah dari gurunya, Bu liang Sinkun untuk membuat perhitungan dengan keluarga Chin si hijin, di kota Cin ciu, Hoa Thian-hong mendapat perintah dari ibunya untuk membalas budi kepada keluaran Chin.

Pertemuan kedua orang ini menyebabkan terjadinya pertarungan antara Kok See-piau melawan Hoa Thi hong

Ketika itu Hoa Thian-hong masih bernama Hong-po Seng, ilmu silatnya amat cetek dan masih bukan tadingan Kok See- piau, sebuah pukulan Kiu pit sin ciang dari Kok See-piau nyaris merenggut selembar jiwanya .. .

Kemudian dikala Hoa Thian-hong melakukan jari racun di kota Cho-ciu, Pek Kun ci melepaskan rasa permusuhannya dan berubah menjadi sahabat, tindikan tersebut menyebababkan Kok See-piau menjadi cemburu, ia datang mencari Hoa Thian- hong untuk mengajarnya, siapa tahu dia dikalahkan hingga terpaksa harus pulang kebukit Bu liang san.

Dalam pertemuan besar Kian ciau Tay hwte di lembah Cu bu kok, Bu Liang Sinkun berhasil di bunuh oleh Bun Tay kun, dengan menahan rasa dendamnya, Kok See-piau melarikan diri kemudian ia menggabungkan diri dengan perguruan Seng sut-pay dengan mengangkat Tang kwik Sia sebagai gurunya.

Tapi kemudian dalam penggalian harta karun dibukit Kiu ci san, komplotan dari Tang kwik Siu kena dihajar kocar kacir sehingga musti melarikan diri terbirit-birit, semenjak itulah jejak tentang Kok See-piau lenyap tak berbekas….

(Untuk mengetahui kisah cinta segitiga antara Kok See- piau, Hoa Thian-hong dan Pek Kun-gi, silahkan membaca BARA MAHARANI.)

Diam-diam Hoa In-liong lantas berpikir, “Sungguh tak kusangka Kok See-piau telah menjadi Kiu-ci Sinkun, lebih-lebih tak kusangka kalau dia akan menerbitkan kembali badai darah dalam dunia persilatan, untung keluarga Hoa kami masih berdiri tegak, jangan harap kau bisa berbuat onar seenaknya dengan begitu saja!”

Sementara itu si nona baju putih atau Kok Gi-pek menjadi sedih lantaran pemuda itu lama sekali tidak berbicara, dia mengira anak muda itu menjadi tak senang hati karena ucapannya tadi.

“Malam ini, lebih baik kau jangan pergi memenuhi undangan tersebut……!”

“Perjamuan itu diselenggarakan oleh guru mu, kenapa nona melarang aku pergi memenuhinya?” kata Hoa In-liong dengan kening berkerut.

Dengan dingin Kok Gi pek berkata, “Sekarang kau telah mengetahui siapakah guruku, apakah tidak kau ketahui dengan jelas bahwa guruku mempunyai dendam sedalam lautan dengan keluarga Hoa kalian? Bila kau berani memenuhi undangannya, maka jangan harap kau bisa pulang dengan selamat”

Hoa In-liong tersenyum, diangkatnya cawan arak itu dan dicicipinya setegukan, tiba-tiba ia merasa lidahnya sakit seperti ditusuk tusuk jarum tajam, pemuda itu segera mengetahui bahwa dalam arak telah dicampuri dengan racun jahat yang mematikan.

Kejadian itu amat menggusarkan hatinya, ia berpikir, “Bagus sekali! Tak kusangka kaudapat menggunakan cara serendah ini untuk mencelakaiku.”

Sekalipun dalam hati kecilnya ia berpikir demikian, air mukanya sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun.

Cawan itu segera diangsurkan ke hadapan Kok-Gi pek, kemudian sambil tersenyum katanya, “Nona, bagaimana kalau kaupun mencicipi arak ini barang setegukan… ?”

Paras muka Kok Gi-pek kontan berubah menjadi merah padam, ia melompat bangun dan berseru dengan gusar, “Kau menganggap aku sebagai manusia macam apa?”

Tapi sebentar kemudian ia telah menghela napas sedih, katanya lebih jauh, “Baiklah, kalau toh kau menyuruh aku minum arak ini, baiklah akan kuminum setegukan untukmu!”

Dia lantas ulurkan tangannya untuk menerima cawan tersebut dan mendekatkannya ke tepi bibir.

Hoa In-liong dapat menyaksikan bahwa rasa sedih dan murung yang tercermin di wajah gadis itu bukan seperti berpura-pura, rasa sangsi segera menyelimuti benaknya, ia berpikir, “Tampaknya bukan dia yang mencampurkan racun itu dalam arak minumanku, tapi tempat ini tak ada orang lain… ”

Ketika dilihatnya gadis itu sudah siap minum arak tersebut, dengan cepat cawan itu direbut kembali, kemudian katanya sambil tertawa tawa.

“Ternyata rumah makan ini dibuka oleh orang-orang dari perkumpulan kalian, jadi akulah yang bertindak kurang hati hati!”

Cawan tadi diletakkan kembali ke atas meja. Kok Gi-pek bukan seorang yang bodoh, sebagai gadis cerdik ia lantas menduga kalau dalam arak tentu ada sesuatu yang tak beres. Kontan saja alis matanya berkenyit.

“Siau Kui!” tiba-tiba teriaknya dengan suara lantang.

Dalam marahnya teriakan-teriakan tersebut disertai tenaga dalam yang amat sempurna, bukan saja seluruh ruangan mendengung nyaring, bahkan setiap orang yang berada dibawah loteng dapat mendengar teriakan tersebut dengan amat jelasnya.

Hoa In-liong berpura-pura tidak melihat, dengan sikap yang santai seperti tak pernah terjadi sesuatu apapun pikirnya, “Tenaga dalam yang dimilikinya sungguh amat sempurna, tampaknya jauh lebih hebat bila dibandingkan dengan beberapa orang suhengnya!”

Beberapa saat kemudian terdengar suara langkah manusia yang ramai berkumandang memecahkan kesunyian, menyusul kemudian tirai disingkap orang dan muncullah seorang laki-laki berusia lima puluh tahunan yang berdandan sebagai seorang pedagang. Begitu masuk ke dalam ruangan, dengan ketakutan ia lantas memberi hormat, katanya ragu-ragu, “Persoalan apakah yang membuat nona menjadi marah?”

Kok Gi pek tertawa dingin.

“Haahaa…..haahhhh……… kau juga tahu kalau akupun bisa marah?”

“Hamba….hamba…..”Laki-laki tua yang bernama Siau Kui itu menjadi gelagapan.

Hoa In-liong yang menyaksikan kejadian tersebut diam- diam berpikir kembali.

“Tak kusangka gadis yang tampaknya lemah lembut terutama ketika ia harus menahan rasa penasarannya tadi, ternyata setiap jago dari Hian-beng-kau begitu takut kepadanya.”

Sementara itu Kok Gi pek sambi mengernyitkan alis matanya, telah berkata dengan suara dingin, “Huu…..aku tahu tak nanti kau begitu bernyali berani melakukan perbuatan tersebut, hayo katakan siapa yang telah menitahkan kau berbuat demikian?”

Untuk sesaat Siau Kui menjadi gelagapan ia tak tahu bagaimana musti menjawab pertanyaan tersebut.

Kok Gi pek semakin marah, teriaknya dengan gemas, “Baik,”

Secepat sambaran kilat ia sambar cawan berisi arak racun itu lalu tangannya diayun ke depan menyiramkan isi cawan tersebut ke arah Siau Kui. Hoa In-liong yang selama ini hanya berdiam diri, tiba-tiba mengayunkan telapak tangan kanannya, segulung angin pukulan yang lembut segera menghantam isi cawan tersebut dan membuat hujan arak memuncrat ke atas lantai serta membasahi permukaan seluas tiga empat depa persegi.

Sungguh lihay racun dalam arak itu, begitu menempel di atas permukaan tanah…..”Ceesss…..!, seketika itu juga separuh bagian lantai itu menjadi terbakar dan hangus.

Sungguh tak terkirakan rasa kaget dan ngeri perasaan Siau Kui setelah menyaksikan kejadian itu, peluh dingin membasahi hampir sekujur badannya…..

Hoa In-liong mengerutkan dahinya menyaksikan kejadian itu, sedang Kok Gi pek rupanya tak pernah menyangka kalau racun tersebut sejahat itu, setelah tertegun sesaat hawa amarahnya makin memuncak, ia tertawa seram……..

Baru saja dia hendak mendamprat, tiba-tiba dari luar ruangan berkumandang suara teguran seseorang dengan nada yang serak tapi lantang, “Harap nona jangan marah, peristiwa ini tiada sangkut pautnya dengan Siau kui, akulah yang bertanggungjawab atas kejadian ini!”

Menyusul perkataan itu, muncullah seorang kakek bermuka merah bertubuh tinggi kekar dari luar pintu.

Begitu menjumpai kakek tersebut, Kok Gi pek segera mengernyitkan sepasang alis matanya, kemudian berkata dengan dingin, “Kalau toh empek Tang yang memerintahkan Siau Kui melakukan perbuatan ini, gengsi seorang yang berkekuasaan tinggi tentu saja keponakan tak dapat berkata- kata lagi.” Rupanya kakek She Tang itu tidak mengira kalau Kok Gi pek bakal mendampratnya di depan orang, ia tertawa terbahak-bahak untuk menutupi rasa malunya. Kemudian sambil memberi hormat kepada Hoa In-liong katanya, “Aku rasa saudara ini tentulah Ji kongcu dari Hoa tayhiap, aku Tang Bong liang menyampaikan hormat.

Ketika tangannya menjura itulah segunung tenaga pukulan berhawa dingin tetapi menimbulkan sedikit suara, langsung menyergap ke atas dada Hoa In-liong.

Diam-diam anak muda itu mendengus, dengan cepat dia pun merangkap tangannya membalas hormat.

“Ah, aku orang she Hoa masih muda, mana berani untuk menerima salam hormatmu itu.”

Menggunakan gerakan itulah diapun melepaskan segulung angin pukulan untuk menyongsong datangnya ancaman tersebut.

Mereka berdua berdiri dihalangi oleh sebuah meja, dengan cepatnya dua gulung tenaga pukulan itu bertemu tepat di atas meja perjamuan.

Dalam perkiraan Kok Gi-pek semula, adu tenaga antara kedua orang itu pasi akan mengakibatkan mangkuk cawan beterbangan di udara, siapa tahu tiada sesuatu yang istimewa terjadi, tiada pula angin badai yang memancar kemana-mana, yang ada cuma segulung angin lirih yang menggoyangkan kain tirai belaka.

Menyaksikan kejadian ini, gadis itupun berpikir, “Tampaknya tenaga dalam yang dimilik1 kedua orang ini sudah mencapai taraf sempurna yang bisa dikendalikan oleh perasaan. Sorot matanya segera dialihkan ke tengah arena, ia saksikan sepasang bahu Hoa In-liong sedikit bergetar, sebaliknya tubuh Tang Bong liang tergetar sampai mundur tiga langkah, papan lantai yang diinjak sampai berbunyi gemerincingan saking beratnya menahan tekanan.”

Ia cukup menyadari sampai dimanakah taraf tenaga dalam yang dimiliki Tang Bong liang, tapi dia tak mengira kalau tenaga dalam dari Hoa In-liong telah mencapai taraf yang sedemikian rupa, kembali pikirnya, “Kalau toh tenaga dalamnya telah mencapai taraf sedemikian tingginya, suhu lebih lebih tak mungkin akan membiarkan dia tetap hidup di dunia ini….”

Makin dipikir gadis itu semakin sedih, sehingga wajahnya jauh lebih murung.

Tang Bong liang sendiripun amat terperanjat menghadapi Kenyataan tersebut, sambil tertawa segera katanya, “Sudah lama aku dengar orang berkata bahwa Hoa kongcu bukan saja memiliki tenaga Iwekang yang sangat sempurna, kaupun memiliki kepandaian istimewa untuk menolak racun, sebab kurang percaya maka sengaja aku telah mencobanya dengan mencampurkan racun di dalam arak, sebagai seorang pemuda yang berjiwa besar, tentunya Hoa kongcu tidak akan marah kepadaku bukan??”

“Aaah..! Belum tentu….” jawab Hoa In-liong sambil tertawa, “apabila ada orang berniat mencelakai jiwaku, terpaksa aku harus bertindak kejam pula kepadanya.

Kok Gi-pek yang berada di sampingnya tiba-tiba berkata, “Empek Tang, begitukah perbuatanmu? Apakah kau tak sudi memberi muka kepada keponakanmu?” “Kalau nona berkata demikian, aku menjadi tak tahu apa yang musti dilakukan,” jawab Tang Bong-liang dengan dahi berkerut.

“Hmm… ! Sepantasnya keponakanlah yang tak tahu apa

yang musti dilakukan.”

Ucapan tersebut bukan saja bernada ketus bahkan sangat menyudutkan posisi orang itu, tentu saja hal ini membuat Tang Bong liang menjadi serba salah.

Siau Kui yang berada disampingnya lebih lebih tak berani berkutik, ia menyurut mundur ke sudut ruangan dan membungkam diri dalam seribu basa disana.