Kuda Binal Kasmaran Bab 16

 
Bab 16

Juragan Jik mundur beberapa langkah, katanya dengan menyengir lucu, "Tadi kau bilang tidak pernah membunuh anjing, kuyakin kau tidak akan melanggar pantangan sendiri." "Sebagai pembunuh, aku harus bekerja menurut gelagat, bila perlu dan terpaksa harus melanggar pantangan juga tidak menjadi soal."

Pucat muka juragan Jik, setelah menyurut mundur agak jauh, mendadak ia putar badan lalu menerjang keluar. Tapi sebelum tangannya menarik daun pintu, pedang di tangan Siang Bu-gi sudah disambitkan, pedang lemas sepanjang empai kaki itu meluncur laksana lembing, juragan Jik baru menegakkan badan sambil menarik daun pintu, tahu-tahu pedang lemas itu menusuk punggung tembus ke dada dan "Trap", suara ini tidak begitu keras, tapi nyata, tanpa menjerit tubuh juragan Jik terpantek di pintu.

Mungkin juragan ini mati penasaran, penasaran karena tidak pernah menyangka di tempat kekuasaan Cu Ngo Thay-ya ada orang luar berani membunuh orang, celakanya yang menjadi korban adalah dirinya.

Tanpa jeritan tiada keluhan, ujung pedang tajam lagi tipis itu menembus jantung, mengantar sukmanya ke alam baka.

Beberapa saat lamanya suasana amat hening dalam pendopo besar itu, agak lama kemudian baru berkumandang suara Cu Ngo Thay-ya, "Besar sekali nyalimu."

Sebelum Siang Bu-gi menjawab, Siau Ma bersuara lebih dulu, "Temanku ini memang bernyali besar."

"Berani kau membunuh orang di tempatku ini," kereng suara Cu Ngo Thay-ya.

"Meski besar nyalinya, sebetulnya ia tidak ingin membunuh orang di sini, tapi dia juga tidak mau melanggar aturannya sendiri," demikian Siau Ma menjelaskan. "Aturannya sendiri? Aturan apa?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

"Dia pantang ditipu orang, orang yang menipunya tidak ada yang diberi ampun, tidak ada orang yang menipunya bertahan hidup setengah jam."

"Kau tahu aturanku di sini?" tanya Cu Ngo Thay-ya. "Coba jelaskan," tanya Siau Ma.

"Hukuman mati bagi setiap pembunuh." "Aturanmu memang bagus."

"Sebagai orang yang berkuasa dan disegani, aku tidak ingin ada orang melanggar aturanku."

"Sebetulnya aku tidak suka melanggar aturan." "Bagus, sekarang kau mewakili aku membunuhnya."

"Boleh," sahut Siau Ma sambil membalik badan pelan-pelan berhadapan dengan Siang Bu-gi, "sejak lama aku sudah ingin mencobanya, apakah tinjuku lebih cepat atau pedangnya lebih lihai."

* * * * *

Waktu Siang Bu-gi mencabut pedang, darah menetes di ujung pedangnya.

Tinju Siau Ma sudah terkepal siap beraksi.

Wajah Siang Bu-gi membesi hijau, kaku dan dingin tidak menunjukan perasaan. Siau Ma berkata, "Bersihkan dulu noda darah di pedangmu."

"Kenapa harus dibersihkan?" tanya Siang Bu-gi.

"Kalau tinjuku tidak mampu membunuhmu, aku tidak suka mati di ujung pedang yang berlumuran darah anjing."

"Alasan bagus," ucap Siang Bu-gi sambil membalik badan, lalu ia membersihkan noda darah di ujung pedangnya dengan kulit harimau yang melapisi kursi empuk itu.

Mendadak Siau Ma membalik ke arah kerai mutiara, "Batalkan saja, mendadak aku sadar, hal ini tidak boleh kulakukan."

"Soal apa tidak boleh kau lakukan?" tanya Cu Ngo Thay-ya. "Aku tidak boleh membunuhnya," sahut Siau Ma lantang. "Kenapa?" desak Cu Ngo Thay-ya.

"Mendadak aku ingat sesuatu." "Sesuatu apa?"

"Tadi kau bilang, aturanmu yang berlaku di sini adalah 'hukuman mati bagi pembunuh orang', betul tidak?"

"Ya, betul."

"Tapi temanku ini barusan tidak membunuh orang, dia membunuh seekor anjing." Seseorang setelah menyatakan diri sendiri adalah seekor anjing, kenapa orang lain harus menganggapnya sebagai manusia?

Siau Ma berkata lebih jauh, "Kukira tidak pernah ada aturan 'hukuman mati bagi pembunuh anjing' yang berlaku di tempatmu ini, benar tidak?"

Dimana pun tidak pernah ada aturan atau larangan demikian.

Mendadak Cu Ngo Thay-ya bergelak tawa, begitu keras dan tinggi nada tawanya hingga kerai mutiara bergoncang seperti ditiup angin puyuh, suaranya yang gemericik berpadu dengan bunyi tambur yang bertalu-talu.

Maka terpentanglah pintu besar di belakang mereka.

Terbuka pelan-pelan.

Empat orang memikul dua tandu beranjak masuk, dua orang lagi berjalan di belakang tandu. Dua orang yang berjalan di belakang bukan lain adalah Hiang-hiang dan Thio- gongcu. Sementara yang berada dalam tandu sudah pasti adalah Lan Lan dan adiknya yang sakit.

Cu Ngo Thay-ya berkata, "Memang tidak malu kalian menjadi sahabat baik, peduli apapun yang terjadi, adalah pantas kalau aku mempertemukan kalian terakhir kali."

"Memangnya kenapa kalau kami sudah bertemu lagi?" demikian tanya Siau Ma dalam hati, pertanyaan tidak ia ajukan secara terbuka. Soalnya ia merasa urusan yang dihadapinya cukup ruwet, faktor-faktor penentu amat banyak dan berbelit- belit, semua segi persoalan yang dihadapinya belum atau tidak terpikir olehnya sebelum mereka naik gunung, celakanya keadaan yang mereka hadapi selalu berubah setiap saat, semua perubahan yang terjadi juga di luar dugaan. Sekarang mereka sudah ada di atas gunung, dengan tekad dan keberanian yang tidak dimiliki orang lain, seolah-olah mereka telanjur duduk di punggung harimau, naik turun serba salah.

Tapi satu hal sudah jelas, kehadirannya bersama teman- teman yang lain atas dasar suka rela, oleh karena itu, dia dipaksa untuk tetap bercokol di punggung harimau, bertindak menurut perubahan yang akan terjadi, umpama akhirnya jiwa melayang dan badan dicaplok harimau juga menjadi suratan takdir.

Meski harus mati, tapi harus mati secara berharga, dengan gagah dan perkasa, mati pun takkan menyesal.

Demi teman dan untuk gadis yang dicintai, ia harus berusaha bertahan hidup, meski hanya sehari juga harus berjuang untuk keselamatannya.

Oleh karena itu, Siau Ma belum boleh mati, dia harus bertahan dan berjuang untuk membela dan melindungi mereka.

* * * * *

Hiang-hiang berjalan dengan lambat, agaknya kesehatannya belum pulih benar, kondisinya masih lemah.

Thio-gongcu mendampinginya, selangkah pun tidak berpisah, sorot matanya tidak pernah berpisah dengan wajah jelita sang gadis yang dipujanya. Tapi Hiang-hiang menunduk, melirik pun tidak, seakan-akan tiada orang di sampingnya.

Tapi Thio-gongcu tidak peduli, hidupnya hanya untuk Hiang- hiang, demi keselamatannya. Banyak ragam perasaan, banyak macam cinta di dunia ini, semua sukar dijelaskan secara terperinci, demikian cinta yang merasuk hati Thio-gongcu, cintanya terhadap Hiang-hiang merupakan salah satu ragam dari sekian banyak jenis cinta yang suci dan murni.

Sejak lama Thio-gongcu menjadi gelandangan di Kangouw, hidup sebatangkara, merana dan terlunta-lunta, kini usia menanjak tua. Thio-gongcu maklum dengan usianya yang sudah setengah baya, dirinya tidak cocok, tidak patut mempersunting gadis belia semuda Hiang-hiang. Akan tetapi, meskipun jelek dia adalah manusia, laki-laki lumrah, setelah meresapi arti kehidupan selama setengah abad dalam lingkaran hampa, dia mendambakan hiburan ketenteraman hidup, kehangatan keluarga dengan semangat baru yang tidak bergantung oleh keadaan.

Memang cinta kasih Thio-gongcu terhadap Hiang-hiang tidak seratus persen merupakan cinta seorang laki-laki terhadap perempuan umumnya, juga bukan cinta monopoli, bukan hak milik pribadi, tapi lebih tepat kalau cinta Thio- gongcu terhadap Hiang-hiang merupakan pujaan, sebagai pengorbanan.

Siau Ma paham dan menyelami perasaan hati temannya, di samping kagum, ia pun menghormati harga dirinya. Karena Siau Ma tahu hal itu merupakan kenyataan, yang ditelurkan secara nyata dan gamblang, secara murni, maka ia patut dihargai, pantas dihormati.

* * * * *

Empat orang pemikul tandu adalah laki-laki yang bertubuh kekar berotot, berbaju hitam bercelana putih, tampak kereng, gagah dan kuat, mereka bukan naik tandu semula yang dibawa Lan Lan dari bawah gunung. Ketika tandu diturunkan, Hiang-hiang mempercepat langkah memburu ke depan tandu lalu menyingkap kerai. Lan Lan segera beranjak turun sambil berpegang pada tangan Hiang-hiang.

Setelah mengalami perjalanan jauh beberapa hari yang melelahkan, mengalami banyak rintangan yang mengancam jiwa, nona jelita ini tidak kelihatan lesu atau lelah, wajahnya malah kelihatan cerah, cantik rupawan dan segar. Waktu tandu diusung ke tempat ini, ia sudah berdandan dan bersolek dalam tandu, maka keadaannya tetap kelihatan semangat dan segar. Gadis ini cukup cerdas, dalam menghadapi mara bahaya, senjata paling ampuh bagi seorang perempuan adalah wajah ayu dengan tubuh yang montok menggiurkan.

Selama mengenal Lan Lan, Siau Ma mengaguminya, tiada sesuatu pada gadis yang satu ini membuat hatinya kurang puas, semua serba baik dan sempurna, gadis ini memang pandai menempatkan dirinya dalam keadaan atau situasi yang paling buruk sekalipun.

Setelah turun dari tandu, hanya sekilas Lan Lan mengerling ke arah Siau Ma, lalu beranjak maju beberapa langkah menghadap kerai mutiara, dengan laku hormat dan gayanya yang lembut menarik ia membungkuk tubuh, serta bersuara dengan nada merdu mengasyikkan, "Lan Lan menyampaikan sembah sujud kepada Cu Ngo Thay-ya," suaranya lembut dan halus, gayanya juga mempesona.

Biar Cu Ngo Thay-ya sudah lanjut usia, betapapun beliau adalah laki-laki, Lan Lan percaya, asal dia laki-laki normal, peduli usia lanjut atau masih bocah, pasti tertarik pada dirinya. Memang daya tarik inilah senjata ampuh yang dimilikinya untuk menghadapi Cu Ngo Thay-ya. Cu Ngo Thay-ya tidak memberi reaksi.

"Aku hanya seorang perempuan lemah yang tak berguna, namun aku yakin suatu ketika akan datang saatnya dapat mendharma baktikan tenagaku untuk kepentingan kau orang tua, kapan saja cukup kau orang tua memberi perintah sepatah kata, pasti akan kulaksanakan," tutur katanya tidak menyolok, namun mengandung daya tarik nan romantis, setiap laki-laki akan maklum kemana arah maksud perkataannya.

Lan Lan yakin Cu Ngo Thay-ya tidak akan menolak permintaannya, ia terlalu yakin, urusan apapun bila dirinya yang mengajukan tentu ada harapan dan bisa terkabul.

Sungguh tak pernah terpikir oleh Lan Lan, bahwa gaman terpercaya yang dimilikinya selama ini tidak manjur, karena tidak memperoleh reaksi yang diharapkan, Lan Lan bergerak maju ke depan.

Maka didengarnya Cu Ngo Thay-ya bersuara dengan nada dingin dan kaku, "Berhenti!"

Terpaksa Lan Lan berhenti, namun ia belum putus asa, katanya pula lebih halus, "Aku ingin melihat dan berhadapan langsung dengan kau orang tua, apakah sekedar permintaan ini pun tidak kau kabulkan?"

Kereng suara Cu Ngo Thay-ya, "Kau lihat undakan batu di depanmu itu?"

Undakan batu yang dimaksud tak jauh berada di depan Lan Lan, sudah tentu dilihatnya dengan jelas. Dua tombak jaraknya dari pintu besar, ada beberapa tingkat undakan batu yang mengkilap bersih seperti kaca. Suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang keras, "Siapa berani menginjak undakan batu kaca itu, meski hanya selangkah, tanpa pandang bulu, akan kupenggal kepalanya tanpa perkara."

Baris depan dari undakan batu itu jaraknya ada dua puluhan tombak dari kerai mutiara. Kenapa Cu Ngo Thay-ya mempertahankan jarak sejauh itu untuk berbicara dengan orang?

Lan Lan tidak bertanya, tidak berani bertanya. Gaman yang diandalkan sudah tidak berfungsi lagi, babak pertama adu keahlian sudah kalah total.

Setelah hening sesaat, suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang lagi, "Apa benar saudaramu sakit?"

Sebelum bicara, Lan Lan menghela napas, suaranya pun rawan, "Ya, sakit parah sekali, mohon sudilah kau orang tua

...."

Di saat Lan Lan bicara, diam-diam Thio-gongcu beranjak ke depan hampir mencapai undakan batu, tiada orang memperhatikan gerak-geriknya.

Lan Lan tidak sempat bicara habis, karena mendadak Cu Ngo Thay-ya menghardik dengan lantang, "Berhenti!" begitu keras suaranya sampai menggoncang kerai mutiara, tidak terkecuali Siau Ma, Siang Bu-gi dan Lan Lan merasa pekak oleh hardikan keras itu.

Tapi Thio-gongcu seorang tuli, bukan saja tidak terpengaruh oleh bentakan keras itu, malah menerjang ke depan seraya membentak juga, "Jangan kau menipu aku, kau

...." Biasanya Thio-gongcu bergerak lamban, malas-malasan, padahal Ginkangnya amat tinggi, belum habis ia bicara, tubuhnya meluncur belasan tombak ke depan.

Pada saat yang sama, dari belakang kerai mutiara yang bergoncang itu menyelinap keluar bayangan seorang, gerak- gerik bayangan ini mirip hantu, begitu berhadapan langsung menyergap dengan serangan keji lagi dahsyat. Siau Ma dan Siang Bu-gi belum sempat memperhatikan bentuk maupun wajahnya, tubuh penyergap yang terapung di udara menggerakkan kaki menendang dada Thio-gongcu.

Padahal kungfu Thio-gongcu tidak lemah, selama ini ia cukup disegani di Kangouw, ternyata menghadapi sergapan yang tidak terduga ini, ia tidak mampu menyelamatkan diri, kenyataan tendangan penyergap memang hebat luar biasa. Tubuh Thio-gongcu mencelat jungkir balik, waktu tubuhnya terbanting di undakan batu, terus berguling-guling ke bawah lalu berhenti di depan Siau Ma dan Siang Bu-gi.

Hiang-hiang menjerit kuatir, langsung ia menubruk maju serta memeluknya, suaranya memekik setengah kalap, "Kenapa kau berbuat begini?"

Thio-gongcu mengertak gigi menahan sakit, tulang dadanya tertendang remuk, isi perutnya hancur luluh, dipeluk Hiang-hiang rasa sakit yang terbayang di wajahnya seketika sirna, berubah menjadi perasaan lega dan damai, ingin berbicara, tapi begitu mulutnya terbuka, darah segar menyembur mengotori muka dan pakaian di dada Hiang- hiang.

Hiang-hiang menyeka noda darah di mukanya dengan lengan baju, sambil menyeka, tak tertahan air mata bercucuran, air matanya membasahi muka Thio-gongcu yang baru saja ia bersihkan. Napas Thio-gongcu tersengal-sengal, dengan hambar ia mengawasinya, batuk membuat dadanya sakit sekali, namun ia memaksakan diri tersenyum, beberapa kali ia meronta untuk berbicara, namun gagal, pelukan Hiang-hiang yang kencang menenteramkan gejolak hatinya, setelah napasnya agak teratur baru ia dapat bersuara gagap, "Sungguh tak nyana ... menjelang ada orang yang mau mencucurkan air mata untukku "

Siau Ma juga berjongkok di sampingnya, dengan lirih ia bertanya, "Kenapa kau berbuat senekad ini?"

Napas Thio-gongcu mendadak berpacu seperti kereta uap yang kehabisan air, pertanyaan Siau Ma membuatnya emosi, perasaannya bergolak, namun ia hanya sempat mengucap sepatah kata, "Karena " Lalu napas putus, jiwa pun

melayang.

Hiang-hiang menjerit sesambatan, isak tangisnya amat memilukan. Hiang-hiang maklum, betapa besar cinta Thio- gongcu terhadap dirinya, namun sebagai gadis remaja yang masih punya masa depan, Hiang-hiang tak berani memberi harapan secara nyata, maklum Thio-gongcu tidak lebih hanya seorang tua yang hidup sebatang kara, betapapun umur mereka berbeda cukup banyak, Hiang-hiang patut menjadi anaknya, Thio-gongcu hanya seorang tua tukang sepatu yang hidup serba kekurangan.

Kini baru Hiang-hiang sadar, untuk menerima cinta seseorang tidak tergantung pada kedudukan atau usia, tapi harus dinilai apakah cintanya suci dan murni. Sayang sekali Hiang-hiang sadar setelah terlambat, sadar setelah Thio- gongcu menemui ajal dalam pelukannya.

Siau Ma tidak menangis, Siang Bu-gi hanya menggreget saja. Dengan seksama mereka mengawasi seorang yang berdiri di luar kerai mutiara, orang yang barusan menyergap Thio-gongcu dengan tendangan mautnya.

Ternyata orang ini berperawakan cebol, meski bertubuh pendek dan kecil, tapi perawakannya cukup kekar, tegap lagi berotot, walau panjang kakinya tidak ada dua kaki, tapi besar dan kasar seperti dahan pohon.

Mendadak Siang Bu-gi mengejek dingin, "Hwi-hun-ga (tendangan mega terbang) yang lihai."

Orang cebol itu menyeringai, mulutnya terbuka lebar tapi suara tidak keluar dari mulutnya.

Suara Cu Ngo Thay-ya berkumandang dari belakang kerai, "Orang ini tidak bisa bicara, dia seorang gagu."

Siang Bu-gi berkata, "Di kalangan Kangouw konon ada dua orang gagu yang lihai kepandaiannya, julukannya adalah Say- pak-siang-gah."

"Betul," seru Cu Ngo Thay-ya.

"Orang ini adalah Bu-ci-thong-cu murid Thian-jan-te-coat dari Sing-siok-hay barat?"

"Luas juga pengalamanmu, patut dipuji."

"Thio-gongcu mampus di bawah kaki seorang ternama, kuharap dia tidak mati penasaran."

"Kan sudah kuperingatkan, siapa berani menginjak undakan batu kaca itu, hukumannya adalah mati."

"Kuingat tadi kau juga bilang sepatah kata." "Aku bilang apa?"

"Hukuman mati bagi pembunuh yang membunuh orang di sini."

"Hehe, agaknya kau ingin menuntut balas karena kematian temanmu?"

"Kan lumrah aku menuntut balas."

"Banyak kesempatan untuk menuntut balas, namun kalau kau berani menginjak undak-undakan batu di depanmu itu, aku dapat membuatmu mampus seketika dengan sekujur badan ditembus panah."

Peringatan Cu Ngo Thay-ya disertai munculnya dua baris jendela kecil yang memanjang di atas dinding kanan kiri kerai mutiara, ujung anak panah yang mengkilap tak terhitung jumlahnya terbidik ke arah Siang Bu-gi.

Kaku mengejang sekujur badan Siang Bu-gi. Pendopo besar yang kelihatan kosong melompong, ternyata menyembunyikan berbagai macam perangkap dengan alat- alat pembunuh yang kejam.

Lan Lan menghela napas, katanya lembut, "Thio-siansing terbunuh oleh seorang ternama, mati dengan tenteram dalam pelukan gadis yang dipujanya, kukira dia sudah memperoleh apa yang didambakan selama ini, mati pun takkan penasaran."

Mendadak Siau Ma bergelak tertawa, "Tepat sekali, aku pun berpendapat demikian." Nada tawa Siau Ma dapat membuat orang yang mendengar mengkritik merinding, nada tawanya lebih jelek dari isak tangis orang yang ditimpa musibah. Lan Lan berkata pula, "Orang mati takkan hidup kembali, bukankah setiap manusia di dunia ini akhirnya akan meninggal?"

Mendadak Siau Ma menghentikan gelak tawanya, raungan gusar terlontar dari mulutnya, "Kalau demikian, kenapa tidak adikmu saja yang mampus?"

"Karena dia adalah adikku," sahut Lan Lan, suaranya tenang, sedikitpun tidak gugup, "Justru aku mempercayaimu, maka aku serahkan nasib kami kepadamu, aku yakin kau dapat melindungi kami lewat gunung dan selamat sampai tujuan."

Akhirnya Siau Ma bungkam.

"Adikku adalah anak yang harus dikasihi, sejak kecil dihinggapi penyakit yang tak bisa diobati, sampai usianya sekarang, belum pernah merasakan hidup senang, tenteram dan bahagia, kalau dia harus mati, apalagi mati dirantau dengan cara yang tidak layak, sebagai tacinya yang mengasuh sejak kecil, bagaimana hatiku bisa tenteram, bagaimana aku tega membiarkan dia menderita lagi?" Sampai di sini suaranya mulai terisak, bola matanya yang selalu mengerling tajam mulai berkaca-kaca. Dengan laku hormat Lan Lan menjura ke arah kerai mutiara, suaranya agak sendu, "Kalau kau orang tua juga ingin menuntut jiwa adikku, semudah kau menginjak mati seekor semut, maka aku mohon sudilah kiranya membebaskan kami turun gunung, supaya jiwa adikku lekas tertolong."

Dingin suara Cu Ngo Thay-ya, “Sebetulnya aku boleh melepas dia pergi, namun satu hal kau lupakan, adikmu bukan semut, semut tidak akan duduk dalam tandu!" "Adikku memang harus sembunyi dalam tandu, penyakitnya tidak boleh kena angin, tidak boleh kena sinar matahari, terpaksa ia tidak bisa keluar menyampaikan sembah sujud kepadamu, jadi bukan karena alasan lain ia berani kurangajar terhadap kau orang tua."

"Hanya karena alasan itu dia tidak mau keluar?"

"Tapi dia memang tidak boleh kena angin, batuknya akan lebih parah."

"Apa dalam pendopo ini ada angin?" "Rasanya tidak ada."

"Kenapa adikmu tidak keluar?" "Karena ... di luar hawa lebih dingin."

Cu Ngo Thay-ya bergelak tawa, "Benar, alasan bagus." Mendadak gelak tawanya putus, suaranya berubah bengis, "Siaaap! Seret bocah itu keluar dari tandu, buktikan apakah dia mampus kalau kena angin."

Belum lenyap suara Cu Ngo Thay-ya, ada empat daun pintu menjeplak terbuka di dinding kanan kiri pendopo, dari empat pintu yang terbuka itu melompat keluar empat orang. Empat orang ini adalah Ling-liong-siang-kiam, Pok can dan orang tua penyapu kembang.

Bu-ci-thong-cu yang berdiri di depan kerai mutiara mendahului melompat ke udara, tubuhnya menerjang lebih dulu.

Siang Bu-gi sudah siap siaga dan menunggu serbuan musuh, begitu Bu-ci-thong-cu melayang lewat undakan batu kaca, langsung ia memapak ke depan dengan sabetan pedang lemasnya, dimana sinar perak berkelebat, leher orang diincarnya. Gerak pedang di tangannya aneh lagi menakjubkan, permainannya menyimpang dari ilmu pedang umumnya, tidak saja cepat tapi ganas.

Ternyata murid Siang-siok-hay juga memiliki kungfu luar biasa, kungfu Siang-siok-pay berbeda dengan ilmu silat yang berkembang di Tionggoan, di tengah udara Bu-ci-thong-cu mampu menggeliatkan pinggang sehingga tubuhnya mengendap turun lalu menyelinap pergi.

Keruan tusukan pedang Siang Bu-gi luput, sementara tendangan mega terbang Bu-thong-cu mengancam dadanya. Dalam sekejap dua orang saling serang belasan jurus, jurus demi jurus lebih lihai dan mematikan. Dalam hati kedua lawan ini sama maklum, setelah mereka terlibat dalam pertarungan sengit, sebelum salah satu gugur, pertempuran ini tidak akan berakhir begitu saja.

Siau Ma menyongsong orang tua penyapu kembang.

Begitu berhadapan, orang tua itu berkata, "Kau memang laki-laki jantan, aku tidak ingin membunuhmu."

"Terima kasih."

"Sebetulnya aku tidak tega membunuhmu." "Ah, kenapa sungkan."

"Lho, kenapa kau bilang begitu?"

"Setiap pagi kerjamu menyapu kembang, lalu apa kerjamu di waktu malam?" "Coba kau terka, apa kerjaku kalau malam?"

"Kerjamu membunuh orang," tawar suara Siau Ma, "mungkin kau tidak turun tangan, tapi kau senang melihat orang lain saling bunuh."

Waktu serigala malam meluruk datang, rombongan mereka terkepung rapat, seorang timpang berdiri di atas batu cadas, berpeluk tangan menyaksikan pertarungan adu jiwa itu.

Siau Ma berkata, "Pagi hari kau menyapu kembang, kalau malam membantai orang, hidup cara begitu apa tak terlalu repot? Apa kau tidak pernah merasa lelah?"

"Tidak, sudah terbiasa. Sebaliknya apa kerjamu selama ini?" tanya orang tua penyapu kembang.

"Aku suka menghajar hidung orang, sekali pukul tidak kena, kupukul lagi sampai lawan roboh terkapar, umpama harus memukul tiga ribu enam ratus kali juga akan kulakukan, aku tidak pernah lelah kalau menghajar hidung orang."

Belum habis mulutnya bicara, kedua tinjunya sudah memukul delapan kali. Setelah delapan kali tinjunya memukul, baru Siau Ma menyadari kepandaian kakek tua ini memang amat hebat, gerakannya selincah tupai, selicin belut, untuk memukul ringsek hidungnya jelas bukan pekerjaan yang mudah.

Tapi Siau Ma tidak mudah putus asa, tidak pernah merasa lelah, sebelum tugas dan maksudnya tercapai, dia jarang berhenti di tengah jalan. Memukul hidung orang adalah salah satu hobinya selama ini, namun dalam situasi dan kondisi seperti ini, ia tahu dirinya tidak boleh terlalu mengumbar nafsu, lawan tangguh, padahal dia harus memperhatikan juga keselamatan Lan Lan dan adiknya, melindungi mereka menjadi kewajibannya.

Meski Siau Ma lebih banyak menyerang si kakek, tapi untuk melepaskan diri bukan soal gampang, padahal ujung matanya menangkap gerakan Ling-liong-siang-kiam yang mendekati tandu. Serigala tua Pok Can menonton saja sambil berpeluk tangan, meski gelisah, Siau Ma tidak dapat berbuat apa-apa, apalagi dua baris panah siap membidik mereka.

Meski posisi agak terjepit, Siau Ma yang tidak takut mati, tidak gentar atau gugup, Siau Ma tahu musuh yang benar- benar harus ditakuti bukan kakek tua yang dihadapinya ini, juga Pok Can atau Ling-liong-siang-kiam, barisan panah itu pun tidak akan membuatnya jeri. Musuh yang menakutkan hanya seorang, yaitu Cu Ngo Thay-ya yang belum pernah menampakkan hidungnya. Orang di belakang layar ini amat berkuasa, setiap patah katanya adalah perintah, perkataannya adalah kekuasaan, selama hidup dan mengembara di Kangouw, Siau Ma mengakui hanya Cu Ngo Thay-ya saja seorang yang memiliki Lwekang sehebat itu, getaran suaranya saja mampu membuat kerai mutiara bergoncang seperti tertimpa gempa.

Khikang orang ini amat menakutkan, hal ini terbukti dari gemericiknya kerai mutiara dengan gema suaranya yang memekak telinga, juga ketenangan dan keculasan orang ini perlu dipikirkan.

"Kalian adalah sahabat baik, apapun yang akan terjadi, ingin kupertemukan kalian untuk yang terakhir kali."

Sekarang Siau Ma paham apa makna perkataannya itu. Memangnya kenapa setelah mereka bertemu terakhir kali? MATI!

Mati banyak caranya, tapi yang dipilih adalah cara yang paling menakutkan, paling kejam dan mengerikan.

Sejak biji catur mulai melangkah, hakikatnya orang ini tidak pernah mau menerima tinju Siau Ma, juga tidak ingin memiliki pedang Siang Bu-gi.

Sejak persoalan ini berkembang, Cu Ngo Thay-ya sudah memperhitungkan takkan memberi peluang, tak akan membiarkan orang-orang ini lolos, pergi dengan hidup. Kalau orang sudah mampus mana bisa pergi.

* * * * *

Adik Lan Lan yang sakit masih berada dalam tandu, Lan Lan berjaga di pinggir tandu, selangkah pun tidak pernah meninggalkannya. Dengan nanar ia mengawasi Ling-liong- siang-kiam menghampiri tandu di sampingnya.

Siau Ma sedang bergelut dengan kepalannya, Siang Bu-gi juga sedang mengadu jiwa dengan pedangnya, dua orang ini sedang berduel mempertahankan hidup mereka, membela kakak dan adik. Tapi Lan Lan seperti tidak peduli, apakah nasib mereka jelek atau baik, seolah-olah tidak melihat keadaan mereka.

Dalam situasi setegang ini, Lan Lan masih tersenyum menggiurkan, suaranya juga merdu merayu, "Adik-adik cilik, berapa usia kalian tahun ini?" Lan Lan tahu Ling-liong-siang- kiam tidak akan menjawab pertanyaannya, orang cebol umumnya tidak senang ada orang bertanya berapa usia mereka, sudah tentu mereka juga tidak akan menjelaskan. Titik berat pertanyaan Lan Lan memang bukan pada tempatnya. Maka sebelum memperoleh jawaban, ia bertanya pula, "Pernahkah kalian melihat perempuan cantik? Apalagi gadis montok yang bugil?"

Dalam usia setua mereka, mesti cebol, ia yakin Ling-liong- siang-kiam pernah main perempuan, adalah logis kalau mereka pernah melihat perempuan bugil, namun hanya perempuan berparas lumayan saja yang mau melayani mereka, kapan mereka pernah berhadapan dengan gadis secantik Lan Lan, sebagai laki-laki normal, siapa pun dia kalau tiba-tiba berhadapan dengan perempuan cantik telanjang di hadapannya, pasti laki-laki itu akan berdiri melongo, napas memburu dan lutut goyah.

"Hiang-hiang," seru Lan Lan dengan kalem.

Hiang-hiang masih terisak memeluk jenazah Thio-gongcu, namun ia mengiakan.