Kuda Binal Kasmaran Bab 15

 
Bab 15

Mendadak Siau Ma berseru lantang, "Kenapa kau bersikap begini?"

"Begini bagaimana?" "Kau dapat mencegah mereka, mempertahankan mereka, tapi kau sengaja membiarkan mereka hancur, kau tahu mereka tak mampu mengalahkan aku."

Cu Ngo Thay-ya diam saja. Setelah Wanyan bersaudara gagal memukul Siau Ma dan malah tinju mereka beradu sendiri, bahwasanya ia sudah tahu bahwa kakak beradik raksasa ini hakikatnya bukan tandingan Siau Ma.

"Betul tidak, kau sengaja ingin menghancurkan mereka?"

Dingin suara Cu Ngo Thay-ya, "Mereka sudah tidak berguna, kenapa harus dipertahankan, biar hancur juga tidak jadi soal."

Gemas Siau Ma dibuatnya, ingin rasanya menerjang ke sana dan memukul ringsek hidungnya. Tapi Siau Ma sadar, meski hati panas, kepala tetap dingin, aksinya hari ini menanggung beban beberapa jiwa orang, kalau hanya dia seorang diri, Siau Ma berani berbuat apa saja mesti harus mempertaruhkan jiwa raga, tapi saat ini ia tidak boleh bertindak gegabah.

Cu Ngo Thay-ya berkata, "Tadi sebetulnya mereka mampu menghancurkan engkau."

Siau Ma tidak menyangkal.

"Perbedaan kalah menang hanya sekejap mata, terus terang tidak kuduga kau menggunakan cara yang berani dan jurus yang begitu berbahaya."

"Dalam keadaan kepepet demi mempertahankan hidup, seorang akan berusaha melakukan sesuatu yang berbahaya."

"Besar benar nyalimu." "Sudah biasa, nyaliku memang tidak kecil."

Lama Cu Ngo Thay-ya berdiam diri, di tengah keheningan itu berkumandang suaranya yang bergema, "Duduk!"

Maka Siau Ma duduk.

Waktu Siau Ma membalik dan duduk di kursinya, baru ia tahu Wanyan bersaudara entah sejak kapan sudah tidak kelihatan lagi, entah pergi kemana, noda darah yang berceceran di lantai juga sudah dibersihkan.

Anak buah Cu Ngo Thay-ya serba cekatan dan selalu beres melakukan tugas, mereka bekerja secara reflek, tanpa perintah tapi cepat.

Siau Ma menunggu cukup lama di tempat duduknya, terdengar Cu Ngo Thay-ya berkata lagi, "Kusuruh kau duduk lagi bukan karena perbuatanmu yang dulu terpuji, tetapi untuk menghargai sepasang tinjumu."

"Aku maklum."

"Kau boleh duduk di sini, belum tentu kau dapat mempertahankan hidupmu."

"Agaknya kau masih segan menerima sepasang tinjuku?" "Barusan sudah kusaksikan, sepasang tinjumu memang

gaman yang ampuh dan berguna untuk membunuh orang." "Terima kasih."

"Di medan laga, gaman untuk membunuh orang, jadi belum tentu gaman itu merupakan kawan setia," suaranya kalem, "air dapat membuat kapal terapung, tapi air juga bisa membuat kapal tenggelam. Kalau aku menyimpan gaman yang dapat membunuh orang, apalagi masih harus disangsikan apakah gaman itu setia dan tunduk padaku, apakah kehadirannya di sampingku tidak berbahaya?"

"Cekak-aos saja, apa kehendakmu? Cara bagaimana aku harus meyakinkan dirimu untuk percaya kepadaku?"

"Paling tidak aku perlu waktu untuk mempertimbangkannya."

"Sudah tak ada waktu lagi, tak usah kau pertimbangkan lagi."

"Kenapa tidak perlu pertimbangan?"

"Kau perlu waktu mempertimbangkan, sebaliknya waktuku amat mendesak, kalau kau tak mau membantu, biar aku keluar saja."

"Apa kau bisa keluar dari sini?" "Akan kucoba."

Tiba-tiba Cu Ngo Thay-ya tertawa, "Kenapa tergesa-gesa, apa kau tidak perlu menunggu temanmu? Nah, tengoklah dulu keadaan temanmu, belum terlambat kalau kau ingin pergi."

Kaku dingin sekujur badan Siau Ma, perasaan pun membeku. Kawan-kawannya ada di sini?

Maka Siau Ma bertanya, "Siapa yang harus kulihat?" Tawar suara Cu Ngo Thay-ya, "Kecuali dirimu, ada seorang lain juga ingin menemui aku dengan maksud yang sama seperti engkau, ingin memberi kado kepadaku?"

"Siapa dia? Kado apa yang ingin diberikan kepadamu?" "Sebilah pedang."

"Siang Bu-gi maksudmu?" teriak Siau Ma. "Betul."

"Dia juga ada di sini?"

"Kedatangannya lebih dini darimu, tapi aku menerimamu lebih dulu, aku tahu kau tidak pandai membual."

Siau Ma melenggong.

"Duduk," kembali Cu Ngo Thay-ya menyuruhnya duduk.

Terpaksa Siau Ma duduk pula. Kalau Siang Bu-gi juga di tempat ini, mana boleh ia pergi? Mendadak Siau Ma sadar bahwa dirinya sudah tercengkeram di tangan orang, dalam posisi seperti dirinya, kecuali menyerah tiada jalan lain yang dapat ia pilih.

Ketika suara tabur berkumandang, pintu besar pelan-pelan terbuka.

Siang Bu-gi sudah berada di luar pintu, wajahnya berkeriput, kelihatan lebih tua sepuluh tahun.

Selama semalam ini entah apa yang dialaminya? Kesulitan apa yang dihadapinya? Betapa bahaya yang mengancam jiwanya? Dalam keadaan bahaya di tempat ini, mendadak melihat Siang Bu-gi, kawan seperjuangannya, Siau Ma bagai melihat sanak kadang yang sudah lama tidak bertemu di rantau, entah bagaimana perasaan hatinya?

Siau Ma menatapnya, hampir saja tak kuasa menahan linangan air mata.

Sebaliknya Siang Bu-gi tetap bersikap dingin, tak acuh, menyapa dengan suara tawar, "Kau pun di sini?"

"Ya, aku di sini," hambar suara Siau Ma. "Baik-baik saja kau?"

"Tetap segar."

Perlahan Siang Bu-gi beranjak masuk, setiba dalam pendopo ia mengancing rapat mulutnya, jangan kata bicara, melirik pun tidak kepada Siau Ma.

Terpaksa Siau Ma juga bungkam. Dia tahu watak Siang Bu- gi, temannya ini mirip batu bara, kelihatannya dingin, hitam dan keras, tetapi menyala dan membara, maka dia akan menyala dan berkobar lebih besar dan panas dibanding kayu atau arang, lebih hebat lagi, suhu panasnya dapat bertahan cukup lama.

Di saat dia menyala, cahayanya mungkin tidak seterang obor, tapi secara nyata, suhu panasnya dapat membuat orang yang kedinginan merasa hangat.

Kini Siang Bu-gi juga ada di sini, entah bagaimana dengan yang lain? Disekap dalam bahaya dan kedinginan atau dalam keadaan aman dan hangat? Siang Bu-gi berdiri menghadap ke arah kerai mutiara, dalam jarak tertentu ia berhenti dan tidak maju lagi, biasanya Siang Bu-gi memang lebih tabah daripada orang lain.

Orang yang bercokol di balik kerai itu tidak kelihatan bergerak, tetap duduk di tempatnya, seumpama patung malaikat yang dipuja orang dan membiarkan orang-orang yang memujanya berubah sujud kepadanya.

Siang Bu-gi berdiri diam dan tenang, sabar menunggu orang bicara.

Betul juga, mendadak Cu Ngo Thay-ya bertanya, "Kau dapat membunuh orang?"

"Bukan hanya membunuh, aku juga menguliti orang," mantap suara Siang Bu-gi.

"Orang macam apa yang kau bunuh?" tanya Cu Ngo Thay-

ya.

"Orang-orang yang tidak boleh dibunuh, aku bisa

membunuhnya, termasuk anak buahmu yang pembunuh itu." "Rasanya kau amat yakin pada kemampuanmu sendiri?" "Ya, aku yakin dapat menunaikan tugas dengan baik."

"Sayang sekali, seorang yang mempunyai lidah tajam juga dapat membunuh orang."

"Tetapi aku juga punya pedang." "Mana pedangmu?" "Kusimpan di tempat yang tidak mudah dilihat orang, tapi bila tiba saatnya aku harus membunuh, maka pedangku akan menusuk tenggorokan orang itu."

Lama Cu Ngo Thay-ya menepekur, akhirnya ia berteriak dengan suara kaku dan kereng, "Baiklah, duduk!"

Siau Ma duduk di kursi yang empuk. Yang dimaksud dengan kursi empuk di sini bukan kursi biasa, tapi juga bukan kursi kebesaran, namun kursi empuk ini keadaannya tidak banyak beda dengan kursi kebesaran yang diduduki oleh raja, atau seorang pemimpin besar. 

Kursi empuk umumnya besar dan lebar, di kanan kirinya ada gagang tangan, berukir dan antik serta nyaman, biasanya orang yang sudah duduk di kursi empuk ini akan merasa seperti duduk di tengah mega, tergantung di awang-awang.

Mega itu terbang, mega itu terapung di udara. Tidak demikian dengan kursi yang ini, kursi jenis apapun di dunia ini tidak ada yang terapung di udara.

Tapi kursi yang satu ini ternyata sedang terbang di udara, melayang masuk seperti segumpal mega yang terapung, tiada orang melihat ada orang membawa, menggotong atau memikulnya, tapi kenyataan kursi ini bergerak maju dan terapung di udara.

Ternyata kursi ini bergerak karena diangkat seorang, bukan orang biasa, tapi seorang kate, laki-laki cebol, perawakannya amat kecil, mirip anak-anak, orang hanya melihat kursi besar empuk berlapis kulit harimau itu bergerak, tapi tak melihat orang yang mengangkatnya. Yang mengangkat kursi ternyata dua orang, dua orang cebol, pinggang mereka tidak lebih besar dibanding kaki kursi empuk itu, perawakan mereka mirip anak-anak berusia tujuh tahun, karena wajah mereka sudah keriput, malah berjenggot.

Ada tiga jenis sabuk melingkar di pinggang kedua orang cebol ini, yang di atas sabuk warna kuning emas, yang di bawah sabuk perak, sabuk emas maupun sabuk perak mengkilap dan menyilaukan mata. Setelah kursi besar itu diletakkan di lantai, orang baru melihat jelas bentuk badan kedua pemikul kursi itu.

Cu Ngo Thay-ya berkata, "Pedang adalah gaman untuk melukai atau memhunuh orang."

"Betul," sahut Siang Bu-gi.

"Lebih panjang lebih kuat, makin pendek makin berbahaya."

"Betul."

"Sebatang pedang, apakah dia menakutkan tergantung dari panjang pendek bentuknya!"

"Tidak salah."

"Demikian juga manusia pemakainya."

Kali ini Siang Bu-gi hanya mengiakan dalam mulut. "Dua orang ini cebol, sejak usia 10, mereka sudah

meyakinkan ilmu pedang, sekarang usia mereka sudah empat puluh satu tahun." Tiga puluh tahun meyakinkan ilmu pedang, berarti tiga puluh tahun pula mereka mengasah pedang, maka dapat dibayangkan bahwa pedang mereka adalah gaman yang tajam, lalu bagaimana kepandaian ilmu pedang orang yang telah belajar selama tiga puluh tahun?

"Aku kenal mereka," ucap Siang Bu-gi. "O, kau tahu?"

"Yan Lam-thian adalah jago pedang nomor satu di seluruh jagat raya ini, perawakannya satu tombak tujuh dim, meski bertubuh besar dan kekar, namun kelincahan dan kehebatan permainan ilmu pedangnya tiada tandingan di kolong langit."

Setiap insan persilatan tidak ada yang tidak kenal siapa itu Yan Lam-thian, tiada kaum persilatan yang tidak menaruh hormat dan segan kepadanya.

Seorang tokoh silat kalau bertahun-tahun difokuskan, dijadikan bahan cerita, sebagai bahan bicara seperti dalam dongeng atau legenda, maka segi kebenaran dari cerita atau dongeng itu lama kelamaan menjadi kabur dan lepas dari kenyataan. Demikian halnya dengan Yan Lam-thian, kenyataan dia tidak berperawakan setinggi satu tombak tujuh dim, tapi kebesaran jiwanya, kegagahan dan keperkasaannya, sepanjang sejarah persilatan tiada orang yang pernah menandinginya.

"Jago pedang yang paling kosen zaman ini, berjuluk Ki-bu- pa, tapi kiam-hoatnya ternyata bukan tandingan Pek Giok- seng."

"Ya, memang benar, tiga belas kali dia dikalahkan oleh Tiang-seng-kiam." "Tapi satu hal kau harus tahu. Jago pedang terkosen dan terbesar di zaman ini pasti bukan dia."

"Ya, aku tahu."

"Tapi di kalangan kangouw, orang cebol yang meyakinkan ilmu pedang pasti adalah Ling-liong-siang-kiam."

"Hm, agaknya tidak sedikit seluk-beluk dunia persilatan yang kau ketahui?"

"Kedua orang cebol ini adalah Ling-liong-siang-kiam, sedikitnya sudah seratus tujuh belas jago silat yang mati di bawah pedang mereka."

"Ya, kira-kira begitu."

"Sabuk mereka adalah pedang mereka. Ling-liong-siang- kiam merupakan perpaduan pedang emas dan pedang perak, panjang pedang emas tiga kaki tujuh dim, panjang pedang perak empat kaki satu dim. Orang pendek pedang panjang, menyerang secara terapung di udara, jarang ada lawan yang selamat dari rangsekan bersama pedang mereka."

"Ya, memang jarang ada lawan yang selamat."  "Hanya ada satu cara untuk mengalahkan ilmu pedang

mereka."

"Cara apa?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

Siang Bu-gi menjelaskan, "Diserang gencar sebelum mereka sempat mencabut pedang."

Seluruhnya Siang bu-gi mengucap delapan patah kata.

Kata pertama diucapkan, pedangnya terlolos, saat kata kedua terlontar dari mulutnya, pedang di tangannya sudah mengancam tenggorokan pedang emas. Demikianlah bolak- balik pedangnya bergerak, secara beruntun mengancam tenggorokan kedua orang cebol itu hingga kata yang ketujuh, ketika kata terakhir lepas dari bibir Siang Bu-gi, pedangnya sudah kembali ke sarungnya.

Ling-liong-siang-kiam berdiri melenggong. Pedang memang tidak sempat dicabut, umpama mereka nekat mencabut pedang, leher mereka tentu bolong dan jiwa pun melayang.

Padahal meski cebol, kedua orang ini bukan manusia sederhana, otaknya tidak tumpul, gerak-gerik mereka cekatan dan tangkas, Wanyan bersaudara merupakan contoh nyata bagi mereka, maka mereka pun pantang menjadi korban secara konyol, tidak mau mampus secara sia-sia dan penasaran. Keringat dingin membuat badan mereka basah.

Sesaat lamanya, pendopo besar itu menjadi hening. Bukti di depan mata, maka Cu Ngo Thay-ya berkata,

"Bagus, ilmu pedang luar biasa."

Siang Bu-gi tidak sungkan, namun ia diam saja menerima pujian, dia bukan orang yang pandai bertata-krama.

Siau Ma juga tidak sungkan, maka ia buka suara, "Tinjuku juga tidak lambat, tidak kalah dibanding ilmu pedangnya."

"Lalu tinjumu lebih cepat atau pedangnya lebih lihai?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

"Entah," Siau Ma geleng kepala. "Kenapa kalian tidak mencobanya?" "Ya, suatu ketika kelak kami ingin mencobanya, tapi bukan sekarang "

"Kenapa kalau sekarang?"

"Sekarang aku sedang berusaha, berjuang untuk melindungi teman-teman lewat gunung ini dengan aman dan sampai ke tujuan dengan selamat."

"Jadi kalau teman-temanmu lewat gunung dan sampai tujuan dengan selamat, pedang dan sepasang tinju kalian akan menjadi milikku?"

Siau Ma menoleh dan mengawasi Siang Bu-gi. Siang Bu-gi lantas menjawab, "Ya, demikian."

Cu Ngo Thay-ya tertawa besar, "Bagus, sahabat baik, tidak malu kalian menjadi sahabat baik." Gelak tawanya berkumandang secara mendadak, tapi juga berhenti dan sirap secara mendadak. Waktu gelak tawanya bergema dalam pendopo, kerai mutiara tampak bergoncang seperti dihembus angin deras hingga gemerisik ramai, setelah gelak tawa berhenti, suara gemerisik kerai mutiara itu masih terdengar.

Siau Ma menoleh pula ke arah Siang Bu-gi, kemudian mereka manggut bersama. Mereka maklum Khi-kang raja Long-san sudah diyakinkan secara sempurna, mencapai taraf tertinggi dan mengejutkan. Umpama tinju Siau Ma dan pedang Siang Bu-gi menyerang serempak juga belum tentu dapat menandingi kepandaian orang.

Mendadak Cu Ngo Thay-ya bertanya pula, "Rombongan kalian berjumlah 9 orang, tiga di antaranya pergi ke danau Surya, kalian berdua di sini, lalu dimana empat teman kalian?" "Di suatu tempat yang aman," Siang Bu-gi menjawab tegas.

"Apa betul tempat itu aman?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

Terkancing mulut Siang Bu-gi, dia tidak yakin ada suatu tempat di gunung ini yang aman.

"Di seluruh wilayah Long-san, hanya ada satu tempat yang aman."

"Hotel Damai maksudmu?" tanya Siau Ma. Cu Ngo Thay-ya tertawa dingin.

"Kecuali hotel Damai, memangnya ada tempat lain yang aman di sini?" tanya Siau Ma.

"Ya, ada, di sini," tegas suara Cu Ngo Thay-ya. "Di seluruh kolong langit, tiada orang berani membuat onar atau perkara apapun di pendopo ini. Biar Ting Si atau Teng Ting-hou juga tidak berani kurangajar di tempat ini."

"Kecuali itu?" Siau Ma menegas.

"Kecuali kedua tempat ini, dimana pun mereka berada, setiap saat jiwanya dapat terancam bahaya."

Rasa kuatir terbayang pada mimik muka Siau Ma. Ia maklum Cu Ngo Thay-ya tidak main gertak, pengalaman juga sudah membuktikan warga gunung serigala yang serba liar ini memang ganas dan buas, maka Siau Ma berkata pada Siang Bu-gi, "Apa betul mereka aman?"

"Ya, pasti." Bukan Siang Bu-gi yang menjawab pertanyaan Siau Ma, tapi raja yang berkuasa di Long-san, Cu Ngo Thay-ya.

Membeku perasaan Siau Ma.

Ujung jari Siang Bu-gi juga kelihatan gemetar, telapak tangan dan kaki berkeringat dingin. Biasanya tangannya itu memegang gagang pedang, mantap lagi tenang, meski sering kali berkeringat, namun tidak pernah goyah atau gemetar.

Gelagatnya ia tidak kuasa mengendalikan gejolak perasaan setelah mendengar pernyataan Cu Ngo Thay-ya, Siang Bu-gi juga maklum apa arti ucapan Cu Ngo Thay-ya.

Sudah tentu Siau Ma juga maklum. Kalau hanya di hotel Damai dan di pendopo ini saja tempat yang paling aman di seluruh wilayah Long-san, apalagi sebagai orang yang berkuasa di sini, Cu Ngo Thay-ya sudah memberi pernyataan secara terbuka, maka itu berarti bahwa keselamatan Thio- gongcu, Hiang-hiang, Lan Lan dan adiknya tidak perlu dikuatirkan lagi. Padahal mereka jelas sudah meninggalkan hotel Damai, maka tempat satu-satunya yang aman dan dapat menyelamatkan jiwa mereka tentu di pendopo ini. Jadi Lan Lan berempat kini juga sudah berada di tempat ini.

Agak lama kemudian Siau Ma menghembus napas lega, "Bagaimana mereka bisa berada di sini?"

"Aku yang membawa mereka kemari."

Siang Bu-gi tidak buka suara, Cu Ngo Thay-ya juga tidak bicara, tapi daun pintu terbuka perlahan, seorang menyelinap masuk lalu melangkah dengan enteng, orang ini bukan lain adalah juragan Jik. Terkepal kencang tinju Siau Ma, "Agaknya kau memperoleh keuntungan besar dalam usahamu yang lihai ini."

Juragan Jik menyengir getir, "Sebagai pedagang, aku selalu mencari dan mendapat obyek, tapi obyekku kali ini mengundang rugi yang tidak sedikit. Memang aku tidak perlu keluar modal, tapi tenaga yang harus kucurahkan tidak setimpal dengan hasil yang kudapatkan."

"Masa dagang yang merugikan juga mau kau lakukan?" jengek Siau Ma.

"Selama aku berdagang tidak pernah rugi, hanya sekali ini, yakin lain kali tidak akan terjadi lagi," demikian oceh juragan Jik sambil menghela napas. "Mereka adalah tamu-tamuku yang baik, betapapun tidak tega aku melihat mereka menjadi korban secara konyol dalam gua itu."

"Gua apa?" tanya Siau Ma.

"Yang mana lagi? Gua yang terletak di belakang Hwi-hun- cwan itu."

"Bagaimana kau tahu kalau mereka berada di sana?" "Siang-siansing ini menganggap gua itu aman, terlindung

dan juga tersembunyi, padahal dia orang luar, di luar tahunya

orang-orang yang masuk ke gua itu justru akan mampus secara konyol dan tak bakal memperoleh liang kubur yang layak," setelah menghela napas ia menambahkan, "setiap warga Long-san tahu dan kenal tempat itu, mulut gua memang tersumbat atau tertutup oleh air terjun, Batu berlumut amat licin, orang tidak mudah menyerbu masuk ke sana, tapi gua itu buntu, tak mungkin orang lari lewat pintu belakang, kalau musuh berkepandaian tinggi dan berhasil menyerbu ke dalam, mana mungkin mereka menyelamatkan diri?"

Membesi hijau selebar wajah Siang Bu-gi.

Siau Ma bertanya, "Tempat itu tersembunyi, kau dapat menemukannya, hebat juga kau ini." Siau Ma memuji Siang Bu-gi.

Juragan Jik manggut-manggut, "Warga gunung ini sukar menemukan tempat itu kalau tidak ditunjukkan orang yang tahu tempatnya. Apalagi orang luar, tapi temanmu ini dapat menemukan gua itu, dia memang patut dipuji."

"Lalu siapakah yang menunjukkan tempat itu?" tanya Siau Ma.

Siang Bu-gi anggap tidak mendengar pertanyaan Siau Ma. "Mungkin anjing pemburu," ucap juragan Jik kalem. "Anjing pemburu?"

"Pemburu biasanya melepas seekor anjing untuk memancing harimau ke tempat dimana perangkap sudah diatur, maka dengan mudah harimau itu tertangkap, di sini anjing itu dinamakan anjing pemburu."

"Tahukah kau siapa anjing pemburu itu?" "Sudah tentu aku tahu."

"Siapa?" sengit suara Siau Ma. "Aku," sahut juragan Jik tertawa. Di luar dugaan, tinju Siau Ma yang sudah terkepal kencang pelan-pelan diturunkan. Tinju Siau Ma hanya untuk memukul orang, bukan untuk menghajar anjing. Juragan Jik memang pantas menjadi anjing, kalau dinilai, dia malah lebih rendah dibanding anjing.

Dasar anjing, juragan Jik masih juga berani mengoceh, "Aku pernah berjanji kepada nenek peyot itu untuk membalas budinya sekali saja, tapi aku juga pernah berjanji kepada Cu Ngo Thay-ya, selama aku hidup dan mencari nafkah di gunung serigala, mutlak aku tunduk dan patuh pada perintahnya, sekarang kedua-duanya sudah kulaksanakan dengan baik."

"O?" Siau Ma bersuara pendek dalam mulut.

"Kalian sendiri minta kepadaku supaya kubawa kalian menemui Cu Ngo Thay-ya, sekarang aku sudah memenuhi harapan kalian, secara kebetulan Cu Ngo Thay-ya juga minta padaku supaya membawa kalian menemui beliau. Jadi secara tuntas sudah kubalas kebaikan nenek peyot itu kepadaku, dengan tanpa melanggar pantangan Cu Ngo Thay-ya," setelah menghela napas lega, juragan Jik menyambung dengan tertawa, "maklum, aku ini pedagang yang selalu mencari untung dan tidak mau rugi, untuk mencapai sukses supaya dagangan laris, kepada kedua pihak aku harus mencari muka, menanam kepercayaan, terhadap siapa pun aku tidak boleh berbuat salah."

"Kalau begitu kenapa kau membunuh Liu Kim-lian?" tanya Siau Ma.

"Bukan aku ingin membunuh dia," sahut juragan Jik. "Lalu siapa yang menyuruh kau membunuhnya?" "Hanya Cu Ngo Thay-ya yang bisa memerintah aku membunuh orang di sini."

"Liu Kim-lian berbuat dosa terhadapnya?"

"Tadi sudah kujelaskan, aku orang dagang yang selalu mencari untung, urusan tetek-bengek aku tidak mau tahu."

"Membunuh orang juga termasuk dagang?"

"Ya, tapi bukan dagang biasa, membunuh orang adalah dagang luar biasa, bayarannya cukup tinggi."

Mendadak Siang Bu-gi menyeletuk, "Dagang yang kau maksud juga sering kulakukan."

Juragan Jik tertawa, "Ya, aku tahu, sebagai pembunuh bayaran kau sering membunuh orang."

"Ya, aku sering membunuh orang, tapi belum pernah membunuh anjing," ujar Siang Bu-gi ketus.

Mengejang raut muka juragan Jik, ia merasa adanya sindiran serius dari ucapan Siang Bu-gi, maka suaranya berubah sengau, "Di daerah pegunungan ini belum pernah ada anjing, yang ada hanya serigala."

"Serigala memang banyak, tapi anjing hanya seekor," suara Siang Bu-gi mendesis datar.