Kuda Binal Kasmaran Bab 14

 
Bab 14

Dinding yang sudah terpukul bolong oleh tinju Siau Ma menjadi ambruk oleh tumbukan badan orang itu, sementara tubuh orang itu masih meluncur ke balik sana. Begitu kaki menutul lantai, sigap sekali Siau Ma menerobos ke balik dinding. Ruang di sebelah ternyata jauh lebih luas.

Seorang tampak duduk angker di belakang meja besar dalam jarak yang cukup jauh, rambut kepala orang tampak sudah beruban, sesaat Siau Ma berdiri diam memperhatikan, ternyata orang yang duduk di belakang meja bukan lain adalah orang tua bungkuk yang tadi menyapu kembang di kebun.

Sementara itu, orang yang kena jotosannya dan mencelat masuk ke sini, sudah melompat bangun lalu berlari keluar lewat dinding yang ambruk itu.

Orang tua penyapu kembang tertawa lucu, "Agaknya dia rikuh menemuimu."

"Kenapa?" tanya Siau Ma.

"Tadi dia membual, selama kau tidak memukul orang dari belakang, jangan harap dapat memukul dirinya, padahal dia cukup siaga dan waspada." Sorot mata orang tua ini bertambah terang, "Kau tidak menyergapnya dari belakang, kau patut dipuji."

"Soalnya dia juga tidak ingkar janji," ucap Siau Ma.

Orang tua penyapu kembang melenggong, namun ia mengerti apa maksud Siau Ma.

"Tadi dia bilang ingin dihajar, aku sudah menghajarnya."

Orang tua penyapu kembang bergelak tawa, "Bocah bagus, bukan saja pemberani, kau juga lucu."

"Aku bocah bagus, lalu kau ini apa?" "Aku adalah orang tua."

Siau Ma menatapnya tajam, "Orang tua saja atau Lo-thay- ya?"

"Lho, orang tua kan dipanggil Lo-thay-ya?" Bersinar mata Siau Ma, "Jadi engkau ini Cu Ngo Thay-ya?

Orang tua penyapu kembang tidak bicara, ia hanya tertawa saja.

Siau Ma tak bicara lagi, mendadak ia melompat, tinjunya menjotos hidung kakek penyapu kembang ini. Siau Ma tidak mau kehilangan harga diri, dia pantang menyerang orang dari belakang, tapi waktu melancarkan serangan, ia tidak memberi peringatan lebih dulu. Dia memang berharap orang tua penyapu kembang ini tidak siaga, tidak waspada menghadapi tinjunya.

Berkelahi seperti yang digunakan Siau Ma, tidak pantas dilakukan orang gagah, apalagi seorang pendekar, tindakannya boleh dianggap tidak tahu malu. Tapi Siau Ma ingin menjajal sampai dimana kemampuan orang tua ini. Biasanya menghadapi jotosan sederhana secepat kilat ini, tokoh lihai mana pun sukar menangkis atau berkelit, apalagi orang tua ini duduk membelakangi dinding, hakikatnya tiada jalan mundur untuk menyingkir.

Siau Ma terlalu yakin, setiap kali tinjunya menjotos pasti berhasil menghajar hidung orang, di luar dugaan, jotosan kali ini luput. Di saat tinjunya bergerak, tubuh kakek penyapu kembang tahu-tahu mumbul ke atas dinding, gerak-geriknya enteng lagi tangkas, seringan kapas yang tertiup angin, dengan ringan tubuhnya melayang ke atas dan lengket di atas dinding, sambil tersenyum lebar ia mengawasi Siau Ma.

Siau Ma berdiri melongo, lalu mundur beberapa langkah, ia meraih kursi, lalu duduk dengan tenang.

"Bagaimana?" tanya kakek penyapu kembang. "Bagus sekali," puji Siau Ma. "Siapa yang bagus?"

"Kau bagus dan aku jelek." "Dalam hal apa kau jelek?"

"Seranganku tidak baik dan tidak terpuji, tidak bedanya aku menyergap orang dari belakang."

"Tapi kau turun tangan juga." "Ya, aku ingin menjajalmu." "Lalu apa hasilnya?"

"Jarang aku luput memukul orang, tapi hari ini tiga kali aku gagal merobohkan lawan."

"O? Lalu?"

"Pertama aku luput memukul Un Liang-giok, kedua luput juga memukul duta malaikat surya, dan ketiga luput memukulmu."

"Kedua orang yang kau sebut duluan memang jago kosen yang jarang ada tandingannya di Long-san."

"Tapi dibanding engkau orang tua, mereka masih jauh ketinggalan."

"Ah, masa iya?"

"Sejak kedatanganku di Long-san, hanya kaulah jago terkosen yang pernah kuhadapi." "O..."

"Padahal tinjuku amat terpuji." "Ya, amat terpuji."

"Aku juga berani adu jiwa." "Ehm, dapat kurasakan."

"Maka kalau kau mau menerima dua tinjuku ini, tinju ini akan berguna bagimu."

"Ya, tinju itu memang berguna." "Mau kau menerima tinjuku?"

"Aku ingin menerima, sayang tinjumu bukan kau serahkan kepadaku."

"Akan kuserahkan kepada Cu Ngo Thay-ya." "Betul, tadi sudah kau jelaskan."

"Kau adalah Cu Ngo Thay-ya, Cu Ngo Thay-ya adalah kau." Orang tua penyapu kembang tertawa lebar.

Pada saat itulah dari belakang rumah mendadak bergema bunyi tambur.

Kakek penyapu kembang tertawa, "Kali ini kau keliru melihat orang, tapi Cu Ngo Thay-ya bersedia menerima kedatanganmu." Siau Ma tertegun.

"Masih ada satu hal perlu kau perhatikan." Siau Ma mengangguk, dia mendengarkan.

"Aku bukan jago terkosen di Long-san, belum pernah ada peluang bagiku turun tangan di hadapan Cu Ngo Thay-ya."

Siau Ma tidak percaya bahwa ada orang lain memiliki kungfu lebih hebat dibanding kakek penyapu kembang, tapi kakek ini tidak mungkin membohongi dirinya, maka ia harus percaya.

Orang tua penyapu kembang berkata, "Di hadapan beliau jangan kau gegabah atau kurangajar, kalau kau abaikan peringatanku, jiwamu akan melayang percuma di tangannya."

Kakek ini bicara serius, dengan tekanan suara tegas, tapi ia tertawa sebelum melanjutkan perkataannya, "Di kolong langit, orang yang pernah melihat wajah aslinya tidak banyak, maka setelah kau masuk ke sana, peduli bisa bertahan hidup atau akhirnya gugur, tidak sia-sia kedatanganmu."

Di belakang masih ada sebuah pintu. Begitu suara tambur berbunyi, daun pintu yang besar dan lebar itu pelan-pelan terbuka.

Siau Ma berdiri melenggong di luar pintu.

Di hadapannya terbentang sebuah pendopo yang lebarnya tujuh kaki, panjang dua puluh tombak, waktu Siau Ma memasuki pagar bambu tadi, tidak pernah terbayang sebelumnya bahwa di dalam beberapa petak rumah kayu ini, ada kamar-kamar dan pendopo yang luas dan besar seperti ini. Pendopo ini kosong melompong, tiada satu pun benda yang menggeletak di sana, lantainya mengkilap, dinding pun berkapur bersih, di ujung pendopo yang jauhnya dua puluhan tombak itu terdapat sebuah pintu dengan kerai mutiara yang menjuntai turun menyentuh lantai menyenkat pendopo ini dengan sebuah kamar lain, di kamar yang berbentuk segi empat ini terdapat sebuah meja besar dengan sebuah kursi kebesaran yang berlapis kulit harimau, seorang duduk bertengger di kursi besar dan tinggi itu menghadap keluar, jarak cukup jauh, teraling oleh kerai mutiara lagi, Siau Ma tidak dapat melihat jelas bentuk wajah orang ini.

Siau Ma hanya melihat bentuk bayangan seseorang, sampai pakaian dan topi yang dipakai juga tidak jelas, namun terasa oleh Siau Ma, hawa dan wibawa orang ini, terasa adanya keangkeran di tubuh orang ini, bagai hawa pedang yang mampu membunuh orang.

Pintu di belakang Siau Ma tahu-tahu sudah tertutup, kakek penyapu kembang berada di luar pintu.

Baru saja Siau Ma bergerak hendak maju ke depan, mendadak terdengar bentakan nyaring, "Berhenti!" Suara perpaduan orang banyak yang berkumandang dari belakang dinding di empat penjuru pendopo panjang itu.

Siau Ma berdarah panas, tapi demi Siau Lin di sini, ia tidak berani berlaku gegabah, maka ia batal beranjak maju.

Sembilan jiwa orang tergenggam di tangan orang yang berkuasa di gunung ini, orang yang duduk di balik kerai mutiara itu, sudah tentu Siau Ma tidak berani mengumbar adat.

Begitu suara bentakan itu lenyap, suasana pendopo kembali sunyi dan sepi, Siau Ma juga tidak berani bergerak, agak lama kemudian lapat-lapat terdengar suara lirih di balik kerai.

Lalu berkumandanglah suara serak tapi kereng, "Kau tahu siapa aku?"

Siau Ma mengiakan. Siau Ma menduga kecuali Cu Ngo Thay-ya, siapa punya perbawa dan kekuasaan sebesar ini di Long-san? Siapa berani bercokol di tempat yang angker itu.

"Kau ingin bertemu denganku?" tanya Cu Ngo Thay-ya. Siau Ma mengiakan lagi.

"Kau she Ma?" "Ya."

"Si Kuda Binal yang suka mengumbar amarah?" "Betul."

"Apa betul kau bersama Ting Si mengobrak-abrik lalu menghancurkan Ngo-kian-kay-hoa, gabungan lima Piaukiok terbesar di Tionggoan itu?"

"Betul."

"Bagus, silakan duduk."

Dinding di sebelah kiri mendadak bergerak dan muncul sebuah pintu. Dua laki-laki bertubuh gede seperti raksasa beranjak keluar dengan menggotong sebuah kursi besar dan berat beralas kulit harimau, yang aneh adalah bentuk dan perawakan dua orang raksasa ini, kepalanya botak, pakai anting-anting gelang emas di kuping kanan dan kiri. "Duduklah," ujar Cu Ngo Thay-ya pula setelah kedua raksasa itu meletakkan kursi di belakang Siau Ma.

Siau Ma duduk, sementara dua laki-laki gede itu berdiri di kanan kirinya sambil memeluk dada. Agaknya mereka diperintah untuk berjaga-jaga di pendopo ini, sedang pintu di dinding kiri sudah tertutup rapat pula tanpa kelihatan bekasnya.

"Ngo-kian-kay-hoa malang melintang dan dikagumi serta disegani kawan maupun lawan kaum Bu-lim, terutama orang- orang gagah di dunia ini tiada yang tidak memuja mereka, tapi kalian berhasil mengobrak-abrik serikat itu, menghancurkan kekuatan dan wibawanya, karena keberhasilan itu maka hari ini kau boleh duduk di sini."

"Aku tahu," sahut Siau Ma memanggut.

"Aku juga tahu kau berani berkorban tanpa mempedulikan jiwa raga sendiri."

Siau Ma diam.

"Teman-temanmu terjebak, jiwa mereka terancam, kekasihmu jatuh di tangan duta malaikat surya, mereka yang kau kawal dan lindungi, tiada yang bisa kau antar lewat gunung ini."

Siau Ma diam saja, apa yang diucapkan Cu Ngo Thay-ya memang kenyataan, maka ia tidak perlu banyak bicara.

Apalagi terhadap raja yang berkuasa di Long-san ini, mau tidak mau Siau Ma harus takluk dan tunduk. Semula Siau Ma mengira raja yang berkuasa di Long-san ini berwatak aneh dan eksentrik, hanya seorang tua renta yang dekat ajal dan bersimaharaja, mengasingkan diri di gunung serigala ini untuk menikmati kehidupan dewata, orang tua ini berpeluk tangan membiarkan anak buahnya bertindak sewenang-wenang, raja yang dikelabui dan dijadikan boneka.

Tapi sekarang Siau Ma sadar, orang tua yang satu ini adalah manusia yang benar-benar berkuasa di Long-san, ternyata setiap peristiwa yang terjadi dalam wilayah gunung serigala, meski hanya urusan kecil sekalipun, tidak terlepas dari pengawasannya, tiada persoalan yang dapat mengelabuinya.

Cu Ngo Thay-ya berkata, "Kini kau sadar setelah menghadapi jalan buntu, maka kau terpaksa mencari aku, kau ingin membarter jiwa belasan orang itu dengan sepasang tinjumu." Tiba-tiba nadanya berubah jadi seringai dingin, "Pernahkah kau saksikan seorang yang sembahyang dengan sebatang dupa wangi di depan patung malaikat pujaannya dalam kelenteng, dan berhasil menolong jiwa orang itu hingga mencapai kehidupan bahagia sepanjang hidupnya?"

"Belum pernah aku melihatnya," sahut Siau Ma.

"Dan aku adalah malaikat gunung yang berkuasa di sini." "Tapi sepasang tinjuku bukan sebatang dupa."

"Macam apa tinjumu itu?"

"Kawan setia, gaman yang ampuh untuk membunuh orang."

"O, apa benar begitu?"

"Aku yakin kau bukan malaikat tulen, kekuatan terbatas, betapapun besar kau diagungkan, kalau memperoleh seorang kawan setia, bertambah sebuah gaman yang dapat memberantas musuhmu, cepat atau lambat tentu amat berguna," Siau Ma membujuk dan meyakinkan kepercayaan orang terhadap dirinya, "orang mati jelas tidak berguna, sepuluh mayat jelas bukan tandingan sebatang golok kilat, tapi tinjuku lebih cepat dari golok kilat yang paling cepat di dunia ini."

"Agaknya kau tidak tahu bahwa di tempatku ini juga ada tinju yang lebih cepat, lebih keras dan lihai dari tinjumu?"

"Aku belum pernah melihatnya, aku perlu bukti." "Kau ingin bukti. "

"Ingin sekali."

"Coba kau menoleh ke belakang."

Siau Ma menoleh ke kiri kanan, matanya tertumbuk dua laki-laki gede yang berdiri memeluk dada di belakangnya, laki- laki kekar berotot dengan telanjang dada ini sedang melotot kepadanya. Perlahan kedua laki-laki gede ini meluruskan tangan, jari-jari mereka terkepal, tinju mereka mirip palu godam.

Cu Ngo Thay-ya berkata pula, "Yang berdiri di sebelah kirimu bernama Wanyan Tiat."

Perawakan orang ini sedikit pendek dibanding temannya, tapi ukuran badannya sembilan kaki lebih, kulit mukanya kasar mengkilap, dagingnya menonjol tak keruan, warnanya yang legam tak menunjukkan perubahan perasaan hatinya, anting- anting gelang emas sebesar mulut cangkir bergantung di telinga kirinya. "Wanyan Tiat meyakinkan Thong-cu-kang (ilmu weduk perjaka, kebal)," Cu Ngo Thay-ya menjelaskan lebih lanjut, "dia juga meyakinkan Cap-sha-thay-po. Tenaga pukulan tinju kirinya berbobot lima ratus kati, tenaga pukulan tinju kanan berbobot tujuh ratus kati."

"Bagus, tinju bagus," Siau Ma memuji berulang-ulang. "Yang berdiri di kanan bernama Wanyan Kang."

Sesuai namanya, perawakan Wanyan Kang lebih tinggi, kekar berotot, kulitnya mengkilap bagai baja, ukuran tubuhnya sepuluh kaki lebih, corak tampangnya tidak banyak beda dengan orang di sebelahnya, hanya saja anting-anting gelang emas sebesar mulut cangkir bergantung di telinga kanan.

Cu Ngo Thay-ya berkata, "Sejak kecil Wanyan Kang meyakinkan Thong-cu-kang, Kim-cong-coh dan Tiat-pou-san serta ilmu weduk lainnya, badannya kebal senjata, kerasnya laksana baja. Tenaga pukulan tinju kiri berbobot empat ratus lima puluh kati."

"Bagus, tinju bagus," Siau Ma memuji pula.

"Mereka dari suku minoritas, lugu lagi sederhana, tumpul tapi polos dan jujur."

"Ya, aku tahu."

"Bukan hanya tinju saja yang mereka serahkan padaku, jiwa raga mereka juga tergenggam di tanganku."

"Ya, aku maklum."

"Aku sudah punya mereka, kenapa harus menerimamu?" "Yang terang aku tidak jujur, tidak sederhana, aku punya otak cerdas, ada akal dan pandai bertindak menurut gelagat, aku lebih berguna dari mereka."

Cu Ngo Thay-ya berkata, "Hm, jangan sok, coba bayangkan, bagaimana kalau dua pasang tinju mereka sekaligus memukul tubuhmu?"

"Apa yang akan terjadi aku tidak tahu," sahut Siau Ma, ia memang tidak tahu, maklum bobot pukulan dua tinju mereka seluruhnya total dua ribu kati lebih, menghadapi dua lawan ini, Siau Ma tidak yakin dapat mengalahkan mereka. Tapi Siau Ma juga sadar bahwa dirinya tidak punya pilihan lagi kecuali menantang mereka untuk membuktikan kekuatan sendiri.

"Apa kau tidak ingin mencoba tinju mereka?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

"Wah, ingin sekali."

* * * * * Tanggal 14 bulan 9. Pagi cuaca cerah.

Pendopo besar itu tidak ada jendela, sinar matahari tidak kelihatan dari sini. Pendopo besar lagi panjang ini terlindung dinding panjang yang dikapur bersih, tapi sepanjang tahun tidak pernah ditingkah sinar matahari. Penerangan dalam pendopo ini hanya dari cahaya lampu yang redup temarang, namun darimana arah cahaya redup itu juga susah diketahui, yang pasti Siau Ma tidak melihat adanya pelita atau obor.

"Apa betul kau ingin menjajal mereka?" tanya Cu Ngo Thay-ya.

"Betul," sahut Siau Ma tegas. "Tidak menyesal akibatnya?"

"Apa yang sudah kuucapkan pantang kujilat kembali." "Bagus."

Lenyap suara pujian Cu Ngo Thay-ya, tinju Wanyan bersaudara lantas bergerak menggenjot dengan kencang, begitu tangan terayun, deru anginnya yang keras hampir memekak telinga Siau Ma.

Tinju kanan Wanyan Tiat mengincar rahang Siau Ma, berbareng tinju kiri Wanyan Kang menggenjot rusuk kanan Siau Ma. Ternyata Wanyan bersaudara hanya menyerang dengan sebelah tangan masing-masing. Tapi bobot atau kekuatan tinju mereka ada ribuan kati beratnya.

Siau Ma berlaku tenang, tidak bergerak.

Tinju kilat pasti berat, pukulan berat pasti cepat. Kalau tenaga kedua pukulan ini berbobot ribuan kati, maka kecepatannya tentu bagai kilat. Begitu tinju menjotos tenaga pun disalurkan, umpama kuda pingitan yang lepas dari kandang, atau panah yang terlepas dari busurnya, sukar ditarik kembali.

Sebagai ahli tinju, bukan Siau Ma tidak tahu arti kekuatan tinju lawan. Tapi Siau Ma adalah pemuda sederhana, otoknya cerdik tapi berpikir secara sederhana, ditunjang pengalaman segudang, maka menghadapi serangan lawan, ia tetap berlaku tenang.

Melihat Siau Ma tidak bergerak, lebih bernafsu Wanyan bersaudara mengayunkan tinjunya, namun sedetik sebelum tinju Wanyan bersaudara yang sebesar kelapa itu mengenai tubuhnya, mendadak Siau Ma bergerak, selicin belut dan selincah tupai ia menyelinap ke bawah terus melejit ke pinggir, padahal angin pukulan lawan sudah membuat mukanya perih. Memang beginilah kebiasaan Siau Ma, detik-detik gawat beginilah yang dia nantikan, saat yang menentukan kalah menang hanya dalam segebrak saja. Siau Ma memang suka membuat kejutan, bila jiwanya terancam bahaya baru ia memberi reaksi, kecuali pengalaman segudang, Siau Ma memang ditunjang ketahanan dan keberanian.

"Blang", di luar dugaan, bukan tubuh Siau Ma yang terhajar oleh kedua tinju Wanyan bersaudara, tapi tinju kanan Wanyan Tiat beradu dengan tinju kiri Wanyan Kang malah.

Tiada orang bisa melukiskan betapa mengerikan suara benturan kedua tinju gede bagai godam ini. Kecuali kerasnya benturan dua tinju yang mengerikan, disertai juga suara tulang patah dan remuk.

Dapat dibayangkan betapa sakit kedua tangan Wanyan bersaudara yang remuk ini, tapi dua raksasa ini ternyata bungkam tak mengeluh atau menjerit. Seperti tidak merasa apa-apa, mereka tetap berdiri sekokoh gunung di tempatnya, hanya raut muka mereka saja yang kelihatan bergetar dan berkeringat, berkerut-merut menahan sakit.

Begitu menyelinap keluar, sebat sekali Siau Ma membalik tubuh, secepat kilat tinjunya menjotos tulang rusuk kanan Wanyan Tiat. Hebat memang laki-laki raksasa ini, meski tulang rusuk terpukul patah, Wanyan Tiat ternyata tidak roboh, tubuhnya hanya sedikit tergeliat, namun secepat kilat pula tinjunya yang utuh balas menghajar perut Siau Ma.

Menghadapi serangan balasan lawan, Siau Ma tidak menyingkir atau merubah gerakan, sebagai pemuda berdarah panas, ia suka membereskan perkara secara singkat dan cepat, dan Siau Ma bukan pesilat yang menggunakan tinju dengan ngawur.

"Blang", dua tinju beradu, tinju berhantam dengan tinju, suara benturan adu tinju ini mengerikan, yang mendengar pasti mengkirik dan berdiri bulu romanya, akibatnya ternyata lebih mengenaskan lagi.

Siau Ma mencelat mumbul ke atas oleh benturan tinju yang keras itu, di udara ia bersalto dua kali baru meluncur turun. Wanyan Tiat tetap berdiri di tempatnya, namua sedetik kemudian mendadak ia terjengkang mundur lalu meringkuk di lantai. Saking menahan sakit, mulutnya meringis, tubuhnya mengejang dan gemetar, mukanya basah oleh keringat dingin.

Kedua lengannya lunglai dan lemas tak mampu digerakkan, tulang jari-jarinya remuk. Betapa sakitnya, namun ternyata merintih pun tidak. Mungkin ajal pun ia tidak akan mengeluh, karena mengeluh dianggap memalukan.

Di hadapan sang majikan, meski kedua lengannya lumpuh, ia pantang menyerah, sambil mengertak gigi ia meronta bangun, biar jiwa melayang seketika juga akan ia hadapi dengan badan berdiri.

Melihat betapa tabah dan kuat fisik orang ini, tak urung Siau Ma berseru memuji, "Laki-laki gagah!"

Melotot gusar mata Wanyan Kang, selangkah demi selangkah dia menghampiri. Wanyan Kang masih ada tinju, dengan sisa tinju yang satu ini dia masih mampu mengadu jiwa, meski ia tahu tinjunya itu ibarat telur menghadapi batu, namun sebelum bertempur sampai titik darah terakhir, dia pantang mundur, tidak mau menyerah. Wanyan bersaudara memang berhati baja, berani dan tabah, lebih penting lagi, mereka setia terhadap sang junjungan, loyalitas mereka teruji di saat mereka menghadapi saat-saat kritis seperti ini.

Siau Ma menghela napas. Siau Ma berjiwa luhur, bajik dan cinta kasih terhadap sesama, ia paling menghargai manusia jantan, laki-laki sejati, sayang sekali lawan yang terpuji ini harus dihadapinya di medan laga, terdesak oleh keadaan, tiada pilihan lain, maka ia harus bertindak tanpa kenal kasihan. Keadaan menuntut Siau Ma mengadu jiwa, kalau bukan aku yang mati kaulah yang mampus, bertarung sampai babak terakhir dan bertempur hingga ada pihak yang kalah dan menang.

Kali ini Siau Ma tidak sabar lagi, sebelum Wanyan Kang melabraknya, ia bertindak lebih dulu. Tinjunya menjotos lurus ke depan, lurus seperti tombak menusuk, tinjunya bukan memukul tinju Wanyan Kang, tapi memukul hidungnya.

Padahal untuk memukul hidung orang yang berperawakan lebih tinggi dan dilindungi tinju raksasa itu, sungguh sukar dan berbahaya.

Tapi Siau Ma berani menyerempet bahaya, bukan karena Siau Ma sengaja mengincar hidung orang, tapi dia menghargai kesetiaan orang ini, loyalitasnya patut dihargai, maka Siau Ma tidak menghancurkan tinju orang, melainkan menghajar hidungnya.

"Duk", darah muncrat dan meleleh di muka Wanyan Kang, hidungnya pecah dan ringsek, walau mata berkunang-kunang, lawan tidak terlihat, tapi dia menggerung kalap sambil menyerang serabutan, dia masih ingin mengadu jiwa.

Siau Ma tidak memberi kesempatan pada lawannya, Siau Ma tidak ingin menghancurkan karir orang hanya karena dia mengabdi kepada kepentingan orang lain, berkorban secara sia-sia. Waktu Siau Ma melompat sambil berputar, tinjunya menghajar Thay-yang-hiat di pelipis Wanyan Kang dengan telak.

Wanyan Kang ambruk seperti pohon tumbang, Wanyan Tiat masih berdiri diam, mengawasi saudaranya roboh tanpa dapat berbuat apa-apa, mukanya basah entah karena keringat atau air mata.

Air mata kesedihan, air mata putus asa, karir mereka dapat dipertahankan kalau bekal masih utuh, kini kekalahan sudah nyata, daripada mendapat malu lebih baik mati. Wanyan Tiat sudah bertekad untuk mati, tapi Cu Ngo Thay-ya, sang majikan tidak sependapat, kalau sang raja tidak ingin mereka mati, maka mereka harus bertahan hidup, maka ia hanya berdiri terlongong tanpa bertindak lebih jauh. Meresapi kekalahan ini dengan rasa sedih dan pilu, dalam hati ia mengharap Siau Ma juga menghajar dirinya biar roboh semaput daripada menanggung malu.

Pelan-pelan Siau Ma membalik tubuh ke arah orang yang bercokol di kursi di kejauhan itu. Dengan seksama ia mengawasi tanpa berkedip, kelihatannya orang itu tidak bergeming sedikit pun, namun dari kejauhan masih kelihatan angker dan agung.