Kuda Binal Kasmaran Bab 13

 
Bab 13

Dingin jari-jari Siau Ma. "Obat apa?" tanyanya. "Yang terang obat itu adalah racun."

"Tapi racun juga banyak jenisnya."

Tawar suara sang duta, "Tanggal 15 menjelang fajar engkau harus sudah berada di sini, atau kau akan merasakan racun apa yang sudah kutaruh dalam tubuhmu."

* * * * *

Tanggal 13 bulan 9. Malam sudah larut, kabut pun makin tebal. Cahaya lampu masih menyala di balik jendela hotel Damai, di luar kabut amat tebal, dari kejauhan, cahaya lampu mirip sinar rembulan yang redup.

Suasana sepi, tiada orang lain dalam hotel itu, hanya terdengar suara tik-tak-tik-tak dari suipoa pemilik hotel yang sedang sibuk menghitung keuntungan hari ini, hari yang menggembirakan. Maklum selama membuka hotel dan selama hotel ini dibuka, belum pernah juragan yang satu ini merasa dirugikan, meski belum tentu satu minggu ada tamu yang menginap di hotelnya, tapi hari ini hotelnya laris, keuntungan hari ini jumlahnya lebih besar dibanding setengah tahun biasanya.

Dengan langkah gopoh Siau Ma menerobos ke dalam rumah, tanyanya lantang, "Mana mereka?"

Juragan Jik yang lagi asyik menghitung keuntungan itu tidak kaget, juga tidak heran, menoleh pun tidak.

"Siapa?" ia balas bertanya, tetap asyik dengan alat hitungnya.

"Teman-temanku itu," sahut Siau Ma keki. "Mereka sudah pergi."

"Kenapa mereka pergi?"

"Kenapa mereka pergi aku tidak tahu, yang pasti rekening hotel sudah dilunasi, cukup lama mereka berangkat, katanya harus buru-buru menempuh perjalanan."

Siau Ma menjublek. Bukan ia ingin menjual kawan, bahwa ia kembali sesuai janji karena memerlukan bantuan tenaga. Maklum dalam keadaan kepepet dan terdesak seperti Siau Ma, apalagi biasanya dia jarang menggunakan otak, maka setelah tersudut begini, dia kehabisan akal, kecuali mengulur waktu dan berunding dengan teman, tiada jalan lain yang bisa dia tempuh.

Cukup lama kemudian baru juragan Jik mengangkat kepala dan memandangnya sekejap, "Kau tidak menyusul mereka?"

"Kau tahu ke arah mana mereka pergi?"

"Aku tidak tahu," sahut juragan Jik menutup buku catatannya, setelah menghela napas, ia berkata, "Aku tidak peduli kemana mereka pergi, aku hanya tahu mereka menuju jalan kematian, umpama kau menyusul mereka juga tiada gunanya."

Siau Ma menggerung gusar, dengan melotot tiba-tiba ia renggut baju di dada orang, lalu menyeretnya keluar dari balik meja kasir.

Juragan Jik pucat ketakutan, badannya menggigil, tapi masih tertawa dipaksakan, "Aku bicara sejujurnya."

Siau Ma maklum apa yang dikatakan memang benar, karena orang bicara jujur maka hatinya mendelu, keki hingga emosinya berkobar, sekarang Siau Ma tidak bisa menipu diri sendiri. Sebetulnya ia segan menjual orang lain, mengorbankan orang lain demi keselamatan dan keutuhan Siau Lin, tapi ia pun pantang kehilangan Siau Lin, tidak boleh berpeluk tangan melihat Siau Lin berkorban percuma.

Menghadapi jalan buntu begini, makin keruh pikiran Siau Ma, kini tiada orang bisa membantu dirinya menyelesaikan persoalan pelik ini, lalu apa gunanya menyusul mereka? Juragan Jik memperhatikan perubahan rona mukanya, lalu katanya memancing, "Aku maklum kau menghadapi kesulitan, kecuali pelik persoalan ini juga menyudutkan dirimu."

Pucat muka Siau Ma.

Lekas Juragan Jik berkata pula, "Jelek-jelek kita sudah jadi sahabat, apa salahnya kubantu mengatasi kesulitanmu ini, di Long-san, siapa pun jika menghadapi kesulitan, jarang ada orang mampu membantunya."

"Kukira masih ada seorang membantuku," mendadak Siau Ma bersuara.

"Siapa?" tanya juragan Jik.

"Orang yang paling berkuasa di Long-san."

Juragan Jik tertawa kaku, "Ya, hanya sepatah kata diucapkan Cu Ngo Thay-ya, segala persoalan dapat dibereskan, sayang sekali...”

"Sayang aku tidak dapat menemukan dia?"

"Bukan hanya tidak bisa bertemu dengan dia, yang pasti tidak ada orang bisa bertemu dengan dia."

"Aku yakin ada seorang tahu dimana kini dia berada." "Siapa?"

"Siapa lagi kecuali engkau!"

Pucat muka juragan Jik, kemudian berubah hijau kelam, "Bukan aku, benar, aku tidak tahu " "Tunjukkan tempat tinggalnya, aku berjanji tidak akan membuatmu celaka, Cu Ngo Thay-ya juga tidak akan menyalahkan engkau, karena aku akan mengantar kado kepadanya."

"Mengantar kado? Kado apa?"

"Sepasang tinjuku," sahut Siau Ma sambil mengacungkan tinju di hidung juragan Jik. "Kalau kau tidak mengantarku, sepasang tinjuku ini biar kuberikan kepadamu."

Juragan Jik tidak kena gertak, membusung dada malah, "Umpama engkau bunuh, aku tidak mau membawamu."

"Aku tidak akan membunuhmu, orang mampus mana bisa menunjukkan jalan, tapi kalau hanya hidung ringsek kan masih bisajalan dan dapat menunjukkan tempatnya."

Keringat dingin menghias ujung hidung juragan Jik, katanya dengan cemberut, "Orang yang hidungnya ringsek juga takkan menemukan beliau."

"Bagaimana jika sebelah matanya dicolok keluar?" desis Siau Ma.

"Wah, itu ... itu "

"Mungkin mata buta sebelah juga tidak jadi soal, tapi laki- laki hanya ada satu yang tidak boleh hilang, karena hanya itulah modal utama setiap laki-laki tulen, hanya dengan itunya dia dapat menunjukan kejantanannya."

Bercucuran keringat di jidat juragan Jik, badan pun basah oleh keringat dingin, mulutnya megap-megap tidak mampu bicara. Dia ingin hidup normal, ingin menjadi pejantan di atas ranjang, alat vital adalah benda yang tidak boleh kurang. "Sekarang apakah sudah kau ingat dimana kira-kira aku dapat bertemu dengan beliau?" desak Siau Ma.

Juragan Jik tergagap, "Sudah, sudah ingat, tapi lepaskan dulu cekalanmu supaya aku dapat mengingat-ingat dengan lega."

"Berapa lama kamu mengingat?" tanya Siau Ma.

Sebelum juragan Jik buka suara, seorang sudah berkata di luar pintu dengan suara hambar, "Tiga tahun juga dia tidak akan bisa mengingatnya lagi."

Yang bicara adalah suara perempuan, namun berbeda dengan suara perempuan umumnya, suara perempuan yang satu ini gede dan rendah lagi berat, yang luar biasa adalah sepasang kaki perempuan yang satu ini gede sekali, lebih besar dari kaki laki-laki yang paling besar.

Setiap manusia punya kaki, demikian pula perempuan, namun kaki juga beraneka ragam bentuknya, ada yang elok, tapi ada juga yang jelek, ada yang halus juga tidak sedikit yang kasar, terutama kaki kaum petani yang setiap hari kerja di sawah ladang, bukan saja jelek, bentuknya mirip wortel yang sudah kering kepanasan.

Ajaib adalah sepasang kaki perempuan yang satu ini, bentuknya mirip dua buah kapal, kalau dia tidak memakai sepatu, umpama tidak tahan muat orang menyebrang sungai, sedikitnya dapat dibuat ayunan tidur seorang bocah.

Jika orang belum pernah melihat perempuan yang satu ini, orang pasti bilang mimpi pun tidak mengira kalau di dunia ini ada sepasang kaki perempuan segede itu. Celakanya kaki segede itu justru tumbuh di badan seorang perempuan. Kini Siau Ma menyaksikan sendiri, meski sudah menyaksikan sepasang kaki perempuan segede itu, namun dia masih kucek-kucek mata segala, seperti tidak percaya apa yang dilihat matanya.

Maklum, perempuan yang gede kakinya ini bukan lain adalah Liu Kim-lian atau Liu-toaga, Liu si kaki gede.

Kenyataan bukan hanya sepasang kaki Liu Kim-lian saja yang gede, mulutnya juga besar dan lebar, bibirnya tebal seperti mulut ikan gurami, matanya yang bundar besar mengawasi Siau Ma dengan mendelik, seolah-olah Siau Ma ingin ditelannya bulat-bulat.

Melihat kaki, mulut dan tampang serta perawakan perempuan yang satu ini, Siau Ma ingin muntah.

Sambil bertolak pinggang, berlagak nyonya besar Liu Kim- lian mengawasi Siau Ma, dari kepala sampai ujung jari, seakan-akan sedang memilih telur bebek, beberapa kejap kemudian ia bersuara pula, "Kalau kamu ingin bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya, hanya ada satu orang dapat mengajakmu ke sana."

"Siapa?" tanya Siau Ma.

Liu Kim-lian mengangkat tangan, jarinya yang gede seperti lobak menuding hidung sendiri yang berbentuk terong. "Aku!" katanya tegas.

Diam-diam Siau Ma mengeluh, namun ia bertanya, "Kau mau membawaku?"

"Tapi kamu harus menerima satu syaratku," ucap Liu Kim- lian. "Apa syaratnya?"

"Tiang-tui telah kalian bunuh, maka selanjutnya kau harus jadi lakiku."

Sekali raih Siau Ma menjinjing juragan Jik, serunya gugup, "Orang ini pandai bicara, berbadan kuat dan 'burungnya' juga masih berfungsi, juragan hotel pintar cari duit, kalau dia menjadi lakimu adalah pilihan yang paling tepat."

Sebelum Siau Ma bicara habis, juragan Jik sudah menggeleng kepala dan meronta-ronta, "Aku tidak mau, aku tidak setimpal. "

Siau Ma tidak memberi kesempatan orang banyak bicara, sekali raih dia samber kain pembersih meja terus dijejalkan ke mulutnya, "Nah, kuserahkan dia kepadamu kau mau tidak?"

"Aku tidak mau," sahut Liu Kim-lian menjengek.

"Lho, dia juga laki-laki tulen, meski agak tua tapi belum menikah, lalu laki macam apa yang kau idamkan?"

"Aku menaksir kau," seru Liu Kim-lian, tahu-tahu tubuh yang genbrot itu menubruk Siau Ma. Bagai puncak gunung yang mendadak ambruk menindih turun ke bawah.

Jangan kira tubuhnya gembrot dan kaki gede, ternyata gerak-geriknya enteng lagi lincah, begitu mementang kedua lengan, seperti elang menubruk kelinci, jari-jarinya mencakar ke depan.

Untung Siau Ma bukan kelinci. Sebelum jari-jari tangan segede lobak itu meraih tubuhnya, sambil mengendap tubuh, tinju Siau Ma menjotos tumpukan daging di muka orang gemuk ini, tumpukan daging bundar yang mirip terong. Peduli benda apa daging gemuk bundar itu, bila jotosan Siau Ma memukulnya, siapa pun pasti tak kuat menahannya.

Sayang sekali Siau Ma melupakan satu hal. Dia lupa kecuali kakinya gede, mulut Liu Kim-lian juga besar dan lebar. Begitu tinjunya menjotos tiba, Liu Kim-lian membuka mulut, hingga tinju Siau Ma menerobos masuk ke mulutnya.

* * * * *

Siau Ma dijuluki Kuda Binal, maksudnya kuda muda yang suka mengumbar amarah. Kuda yang suka marah, juga kuda yang suka berkelahi, demikian halnya dengan Siau Ma, lantaran sebab yang aneka ragam, dia sering berkelahi dengan berbagai corak manusia. Oleh karena itu, terhadap jurus silat dari perguruan atau partai mana pun di dunia ini, serangan yang aneh dan lucu sekali pun sudah dilihat dan dihadapinya langsung. Tapi tak pernah terbayang dalam benaknya bahwa Liu Kim-lian akan menghadapi pukulan tinjunya dengan akal yang sederhana tapi manjur.

Siau Ma merasa tinjunya menjotos setumpuk tanah liat yang busuk tapi panas. Celakanya tanah liat ini bergigi tajam, begitu tinju menyelonong masuk mulut, urat nadinya pun tergigit kencang. Sebelum Siau Ma mampu berkutik, lengan sebesar paha itu sudah memeluknya kencang, muka Siau Ma terbenam di tengah dua gumpal bukit bergantung yang besar hingga susah bernapas.

Baru sekarang Siau Ma sadar dan mengerti, persoalan apa yang paling mengerikan dibanding kematian. Dipeluk perempuan gembrot macam Liu Kim-lian, merupakan pengalaman yang mengerikan, kejadian yang lebih menakutkan daripada mati. Apalagi kalau dipaksa menjadi lakinya, wah, siapa pun takkan berani menanggung akibatnya. Sayang sekali dalam keadaan seperti ini, ingin mati juga tidak mungkin lagi.

Bila seseorang sedang mengulum benda dalam mulutnya, apakah orang itu masih bisa tertawa ngakak?

Liu Kim-lian bisa. Loroh tawanya dapat membuat pendengarnya menguras isi perutnya.

Celakanya lagi, jari-jari Liu Kim-lian segede lobak itu bergerak nakal, menggerayangi tubuh Siau Ma. Padahal muka Siau Ma terbenam di tengah gundukan daging kenyal lagi tebal di dada Liu Kim-lian, walau mata tidak bisa melihat, tapi dia merasa kalau Liu Kim-lian membopong dirinya ke kamar terbesar yang kemarin ditempati Lan-Lan, ranjang yang ada di kamar ini juga nomor satu.

Apa yang akan terjadi setelah Siau Ma dibopong masuk kamar? Anda dapat membayangkan sendiri. Untung nasib Siau Ma mujur, kejadian yang lebih fatal tidak menimpa dirinya, karena begitu melangkah masuk kamar, Liu Kim-lian terus roboh, bukan roboh di atas ranjang tapi ambruk di lantai.

Bagai segunduk tanah berbukit yang mendadak longsor, berbareng darah juga menyemprot dari urat nadi besar di belakang lehernya, menyiprat dinding, muncrat di atas ranjang. Fisik perempuan gembrot ini memang kuat luar biasa, meski sudah terluka parah dan ambruk di lantai, tapi dia  masih kuat meronta dan siap menubruk dengan raungannya yang keras, tapi sebelum sempat berdiri, ulu hatinya kembali terbacok bolong, bacokan yang parah dan fatal akibatnya.

Seperti diketahui, Siau Ma dipeluk kencang, kedua tangan pun tidak mampu digerakkan, apalagi tidak memegang senjata. Lalu siapa penyergap dan pembunuh Liu Kim-lian alias si kaki gede ini? ini. Siau Ma gelagapan, kaget oleh kejadian yang tidak terduga

"Akulah yang membunuhnya," orang itu berkata kalem, tangannya memegang sebilah benda lebar. Pisau besar dan lebar itu biasanya untuk merajang sayur di dapur. Hanya dengan pisau dapur mampu membunuh Liu Kim-lian, macam apakah pembunuh ini? Liu Kim-lian bukan jago lemah, kepandaiannya amat tinggi, tidak mudah seseorang menyerangnya roboh meski dengan menyergapnya, kalau orang itu tidak dicurigai atau sudah dikenalnya baik. Dan hanya seorang yang sudah dikenal baik, yang tidak diduga akan membokong saja yang mampu merobohkannya dari jarak dekat, apalagi Liu Kim-lian sudah kebelet, sudah dirangsang nafsu setelah memperoleh mangsa yang akan dapat melampiaskan birahinya. Maka pedagang atau pemilik hotel yang dianggap tidak berbahaya itu dengan mudah berhasil membokongnya.

Darah masih menetes di ujung pisau dapur itu. Pisau masih berada di tangan juragan Jik.

Siau Ma mengawasi pisau itu, mengawasi tangan juragan Jik. Sejak berada di hotel ini, sudah beberapa kali Siau Ma berhadapan dengan juragan hotel ini, namun hanya wajah orang yang selalu ia perhatikan, mimik tawa yang ramah serta tutur kata yang lemah lembut, pandai menarik perhatian dan simpati orang, tidak heran kalau berdagang di Long-san yang liar dan jarang dikunjungi orang luar ini, dia masih dapat bertahan hidup tanpa kekurangan.

Kali ini Siau Ma hanya memperhatikan tangan juragan Jik, tangan kanannya, tangan kanan yang satu ini berbeda dengan tangan orang kebanyakan, tangan kanan juragan Jik memiliki tujuh jari. Jari yang lima memegang kencang gagang golok, lima jari yang bentuknya sama dengan jari-jari manusia lainnya, tapi di punggung ibu jarinya itu tumbuh lagi dua jari lain yang bentuknya lebih kecil dan bundar, jadi mirip dahan pohon yang bercabang.

Siau Ma menarik napas lega, "Ternyata kau adanya." "Ya, aku," ucap juragan Jik pendek.

* * * * *

Tanggal 13 bulan 9, hari sudah larut malam, kentongan keempat sudah lewat.

Kabut amat tebal.

Di tengah kabut tebal itu, Siau Ma berjalan berendeng dengan juragan Jik. Kabut begitu tebal, dalam jarak tertentu mereka tidak bisa melihat keadaan sekelilingnya, maka Siau Ma takut ketinggalan, secara ketat ia mengikuti langkah juragan Jik yang menunjukkan jalan. Apalagi Siau Ma merasa pedagang yang memiliki hotel ini agak misterius, kiblatnya susah diduga.

Setelah sekian jauh mereka berjalan tanpa bicara, akhirnya juragan Jik buka suara, "Tahukah kau persoalan apa yang paling sial kualami selama hidup?"

"Sial karena nenek itu?"

Juragan Jik menghela napas panjang, lalu berkata dengan gegetun, "Ya, tapi nasibku menjadi baik lantaran aku mengenalnya."

"Lho, kok lucu?" "Tanpa bantuannya, mungkin sekarang aku berdagang di akhirat."

"Maka kau ingin membalas budi kepadanya."

"Ya, dan karena itu sampai sekarang aku masih hidup." Kalau tadi Siau Ma benar-benar dipaksa menjadi lakinya

Liu Kim-lian, kecuali menumbukkan kepalanya ke dinding hingga pecah, apa pula yang dapat ia lakukan? Walau dalam hati Siau Ma amat berterima kasih atas pertolongan orang, namun lahirnya dia tetap bersikap angkuh, tidak mau mengucap terima kasih.

Maka Siau Ma bertanya, "Jalan kemana yang sedang kita tempuh sekarang?"

"Terserah jalan apa yang kau inginkan?" "Terserah kepadaku?"

"Kalau jalanmu benar, arahnya tepat, jalan itu akan merupakan jalan hidup yang dapat kau tempuh di Long-san."

"Kalau aku salah jalan?"

"Maka kau akan terjun ke akhirat bersamaku, selaksa tahun juga takkan bisa menitis lagi."

Siau Ma maklum arti ucapan juragan Jik, tapi bertanya lagi, "Kecuali raja akhirat, siapa lagi yang bisa menyeret aku ke neraka."

"Masih ada satu raja, raja yang berkuasa di Long-san," sudah jelas dan gamblang maksud ucapan juragan Jik, namun Siau Ma ingin tahu lebih jelas, "Siapakah raja yang berkuasa di sini?"

"Raja gunung serigala," sahut juragan Jik, waktu bicara nadanya menaruh rasa hormat dan segan, "Kecuali raja akhirat, di daerah Long-san kekuasaannya lebih besar dibanding raja akhirat."

* * * * *

Setiap jalan tentu ada ujung dan pangkalnya. Ujung jalan ini ternyata berada di puncak gunung. Kabut tebal di bawah kaki, bila Siau Ma mendongak ke atas, yang terlihat adalah langit biru, sang surya sedang memancarkan cahayanya di ufuk timur. Cahaya benderang menyinari jagat raya.

Berdebar jantung Siau Ma, "Tanggal berapa hari ini?" "Tanggal empat belas," sahut juragan Jik.

Siau Ma menengadah, "Tempat apa di depan itu?" "Itulah istana raja gunung serigala."

Kini Siau Ma sudah percaya juragan Jik, seratus persen akan bantuannya, tapi apa yang dia lihat di depan sana, hakikatnya tidak mirip istana raja atau keraton segala.

Di puncak gunung setinggi ini, ternyata juga tumbuh aneka ragam jenis kembang. Kembang kecil-kecil yang berwarna- warni, kelompok demi kelompok, berjajar dan berpetak-petak membelakangi pagar bambu, di balik pagar bambu yang rapat dan tinggi itu kelihatan ada bangunan gubuk kayu.

Seorang tua yang timpang dan bungkuk, dengan rambut, jenggot dan alis yang sudah ubanan tengah sibuk menyapu di halaman, menyapu kelopak kembang yang rontok di jalanan kecil itu.

Saat itu musimnya bunga berguguran, jalan kecil berliku  itu berbatu krikil, tapi juga penuh ditaburi kelopak-kelopak bunga, Siau Ma berdua beranjak di tengah taburan bunga- bunga yang rontok itu terus maju ke depan. Dalam jarak belasan tombak, juragan Jik sudah menghentikan langkah, lalu menjura, katanya pada Siau Ma, "Sampai di sini aku mengantar kau."

"Apa di tempat ini aku dapat bertemu dengan beliau?" tanya Siau Ma.

"Juga belum tentu," sahut juragan Jik, lalu dengan menyengir tawa dia menambahkan, "Di dunia tiada sesuatu persoalan yang mutlak dapat dibereskan, mutlak berhasil dan sukses, aku sudah bekerja sekuat tenaga membantumu, apakah kau dapat bertemu dengan beliau, tergantung peruntunganmu."

Siau Ma memaksakan diri untuk tertawa, "Aku mengerti, kalau aku tidak berhasil menemui beliau, mungkin di sinilah tempat kuburku."

Angin menghembus lalu membawa harumnya bau kembang dan dedaunan yang mengering. Di bawah langit terbentang gunung-gemunung yang menghijau permai. Kalau seseorang mati dan dapat dikebumikan di tempat seindah ini, maka kedatangannya di sini tidak terhitung percuma.

Tapi bagaimana dengan Siau Lin?

Juragan Jik menatap sesaat lamanya, lalu dengan merendahkan suara ia berbisik, "Satu hal perlu kubocorkan rahasia ini padamu." Siau Ma pasang kuping, siap mendengar penuh perhatian.

"Kalau ingin berjumpa dengan Cu Ngo Thay-ya, bersikaplah hormat, sopan dan mengalah kepada orang tua bungkuk yang lagi menyapu kembang itu."

Siau Ma mengangguk tanpa bicara, ia jabat tangan juragan Jik serta menggenggamnya erat. Tangan kanan juragan Jik yang berjari tujuh itu terasa dingin dan berkeringat.

"Kudoakan kau akan berhasil," demikian kata juragan Jik lirih.

"Semoga bertambah maju usahamu."

Kakek tua itu terus menyapu, bekerja penuh perhatian, tidak peduli keadaan sekelilingnya, tidak pernah mengangkat kepala atau menoleh.

Dengan langkah lebar Siau Ma menghampirinya, lalu menjura hormat, sapanya, "Selamat bertemu pak tua, aku yang rendah Siau Ma, kedatanganku mohon bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya."

Kakek bungkuk itu tetap asyik bekerja, menyapu penuh perhatian, entah tuli atau sengaja pura-pura tidak mendengar.

"Aku datang dengan maksud baik, jelasnya mengantar kado," demikian Siau Ma menjelaskan.

Orang itu tetap tidak peduli, sapu di tangannya terus bergerak, sesaat kemudian mendadak ia bersuara kereng, "Bicaralah dengan berlutut lalu masuklah dengan merangkak." Siau Ma tak berani melalaikan pesan juragan Jik, meski dongkol ia berlaku sabar dan ramah terhadap orang tua bungkuk ini. Kalau menuruti adat Siau Ma biasanya, orang tua ini sudah dihajarnya sampai sekarat, tapi kali ini ia masih bisa berlaku tenang dan wajar. "Siapa yang kau suruh berlutut?" tanyanya melengak.

"Kecuali dirimu, masih ada orang lain di sini?" tanya orang tua itu.

Mendadak Siau Ma meraung gusar, "Kentut makmu busuk."

Siau Ma sudah siap menerjang ke dalam tanpa peduli akibatnya, tinjunya sudah teracung di atas kepala.

Tak terduga kakek tua beruban dan bungkuk itu mendadak tertawa geli malah, perlahan mengangkat kepala, sorot matanya yang redup seperti amat lelah, sesaat ia mengawasi dengan pandangan seperti menertawakan pula.

Sudah tentu Siau Ma tidak tega menggerakkan tinjunya, sesaat ia berdiri tertegun.

Orang tua itu menekuk jari seperti menghitung, "Sudah lima puluh tahun aku tidak pernah mendengar orang bilang 'kentut makmu busuk', kini kudengar dari mulutmu, apa tidak pantas aku merasa geli dan lucu."

Jengah muka Siau Ma. Usia orang tua ini pantas menjadi kakeknya, terhadap orang tua memang tidak pantas dirinya berlaku kasar dan kurang ajar.

Orang tua itu berkata pula, "Masuklah lurus lalu belok ke kiri, di sana kau akan dihadang sebuah pintu, ketuklah tiga kali lalu dorong daun pintu dan masuklah." Habis bicara orang tua ini menggerakkan sapu dan bekerja lagi dengan asyik. Padahal pohon kembang di sini amat banyak dan luas, di musim rontok begini, sapu di sini rontok di sana, sehari penuh bekerja juga takkan disapunya habis kelopak-kelopak kembang itu.

Ingin Siau Ma bicara lebih jauh, namun sepatah kata pun tidak terucapkan olehnya. Sesuai petunjuk orang tua, ia menyusuri pagar bambu dan masuk ke dalam, ketika ia menoleh lagi ke belakang, bayangan orang tua itu sudah tidak kelihatan.

Pintu kecil yang dimaksud ternyata berada di tengah kerumunan kembang juga. Siau Ma mengetuk tiga kali lalu mendorong daun pintu dan melangkah masuk.

Gubuk kayu ini tidak besar dipandang dari luar, namun keadaannya amat bersih dan terawat baik, begitu berada dalam gubuk, terlihat oleh Siau Ma seorang duduk di bawah jendela membelakangi dirinya, tampaknya orang ini sedang asyik memperhatikan segulung lukisan.

Setelah menjura hormat, Siau Ma menyapa, "Cu Ngo Thay- ya?"

Orang itu diam saja, tidak mengaku juga tidak menyangkal, sesaat kemudian malah balas bertanya, "Untuk apa kau ke sini?"

"Mengantar kado," sahut Siau Ma. "Kado? Macam apa kadomu?" "Ini, sepasang tinju."

"Tinjumu?" "Betul."

"Apa gunanya sepasang tinju itu?"

"Tinju untuk memukul orang, menghajar orang yang harus dipukul."

"Setiap manusia punya tinju, tinju siapa saja dapat memukul orang, kenapa aku harus menggunakan tinjumu?"

"Tinju bukan sembarang tinju, pukulan juga pukulan luar biasa, pukulanku lebih tepat dan telak dibanding pukulan orang lain."

"Baiklah, aku ingin membuktikan, boleh kau pukul dua kali kepadaku."

"Baik," sahut Siau Ma, tanpa pikir ia melompat maju lalu melayangkan tinjunya, terlebih dulu Siau Ma melompat ke muka orang lalu membalik dan menggenjot hidung orang.

Bukan Siau Ma suka memukul hidung orang, soalnya orang ini membelakangi dirinya, dia tidak mau menyerang orang dari belakang. Setelah lompat ke depan orang, lalu melontarkan serangan, sudah tentu gerak-geriknya agak lamban.

Pukulan Siau Ma luput. Begitu tinju Siau Ma menjotos, tubuh orang itu melambung tinggi ke atas lalu melayang turun beberapa meter ke sana dengan enteng.

"He, kau?" teriak Siau Ma kaget. Dia kenal orang tua ini bukan Cu Ngo Thay-ya, tapi Pok Can, serigala tua Pok Can.

Pok Can mengawasinya dengan pandangan ramah dan geli, "Kau tidak pernah menyerang orang dari belakang?" "Ya, tidak pernah."

"Bagus, laki-laki jantan," puji Pok Can sambil angkat jempol, mendadak ia menuding daun pintu di belakangnya, "Ketuklah lima kali, dorong daun pintu lalu melangkah masuk."

Bentuk bangunan di belakang pintu lebih lebar memanjang. Di pojok rumah ada sebuah dipan rendah, di atas dipan tidur miring seorang, dia juga membelakangi pintu, entah sedang tidur atau hanya bermalas-malasan saja.

Siau Ma menjura baru menyapa, "Cu Ngo Thay-ya?" "Bukan," orang itu bersuara pendek.

"Siapa kau?" tanya Siau Ma. "Seorang yang ingin dihajar."

"Jadi kalau aku ingin bertemu dengan Cu Ngo Thay-ya, aku harus menghajarmu dulu?"

"Betul," orang itu tetap berbaring miring membelakangi Siau Ma. "Terserah tempat mana di tubuhku yang kau incar, boleh pukul sesuka hatimu."

"Baik," seru Siau Ma, dengan mengepal tinju ia menerjang.

Sebetulnya Siau Ma dapat memukul punggung atau tengkuk orang, entah pinggang atau pantat juga bisa. Di setiap sasaran itu Hiat-to atau urat nadi yang berbahaya di tubuh manusia, dengan berbaring miring begitu, tempat-tempat penting itu terbuka lebar, bila terkena jotosannya, tanggung orang ini tak bisa bangun lagi. Tapi tempat-tempat itu bukan sasaran utama Siau Ma. Kali ini Siau Ma memukul dinding, tembok di depan orang yang berbaring ini. Begitu tinjunya menjotos, dinding yang terbuat dari papan itu menjadi bolong dan tembus, pecahan kayu muncrat dan membalik mengincar muka orang yang berbaring itu.

Terpaksa orang ini melompat menyingkir, setangkas tupai tubuhnya melejit ke atas lalu terapung di udara. Siau Ma juga menjejak kaki melompat ke atas, di tengah udara, pukulan dilontarkan menghajar muka orang. Yang diincar kali ini bukan hidung, maklum dalam keadaan terapung dan susah mengerahkan tenaga, Siau Ma tidak yakin genjotannya dapat menghajar hidung orang dengan telak, tapi wajah orang merupakan sasaran yang gampang diincar, jadi sekenanya saja asal muka orang dapat dipukulnya penyok.

Posisi orang itu juga amat kritis karena tubuhnya juga terapung di udara, jadi susah berkelit juga kehabisan tenaga, maka "Blang" tubuhnya terpukul mencelat dan "Blum" menumbuk dinding.