Kuda Binal Kasmaran Bab 10

 
Bab 10

Juragan Jik tertawa, "Cara yang nona pikir memang benar, namun harus dibuat sayang."

"Apa yang harus dibuat sayang?"

"Kau tak bisa bertemu dengan beliau. Di Long-san hanya enam orang yang tahu dimana sekarang beliau berada." "Kau tidak tahu dimana beliau sekarang?"

"Aku hanya pedagang kecil yang kerjanya cari untung, urusan lain aku tidak mau turut campur," demikian jawab juragan Jik.

Hidangan disuguhkan dengan arak yang masih mengepul hangat. Sepiring sayur goreng, sepiring lagi telur mata sapi, beberapa kue kering dan semangkok kuah daging sapi sayur asin, beberapa mangkok nasi dan setengah gentong arak.

Juragan Jik tertawa, "Untuk dahar pagi ini aku menghidangkan menu luar biasa, rekening seluruhnya hanya seribu lima ratus tahil perak."

Pemilik hotel ini tertawa riang, tawa lebar dan gembira, karena dia maklum berapa pun mahal tarip makanannya, meski menggorok leher sekalipun, tamu terpaksa harus membayar.

Siau Ma mengawasi Thio-gongcu, katanya, "Sejak kapan kau punya banyak duit? Berani kau membayar seribu lima ratus tahil perak?"

Thio-gongcu menyengir kuda, "Maksudku ingin menggebah keparat itu dari sini. Mana aku punya duit?"

Maksud sebenarnya adalah Thio-gongcu perlu ketenangan, dia harus merawat dan menjaga Hiang-hiang.

Syukur Siau Ma tidak menarik panjang persoalan. Siau Ma maklum tujuan Thio-gongcu itu, biasanya lelaki ini tidak gampang emosi, tidak mudah melimpahkan perasaannya di hadapan orang lain. Sekarang usianya sudah lanjut, seorang yang sudah lanjut usia bila kasmaran terhadap gadis muda, sering kali berani melakukan sesuatu yang berbahaya. Tapi Siau Ma tidak peduli, ia tidak mau mencampuri urusan orang. Maklum sebagai pemuda yang sudah meresapi pahitnya cinta, dia cukup tahu cara bagaimana menghargai dan menghormati perasaan orang lain, peduli perasaan macam apa, asal sesungguhnya maka dia patut dihargai, harus dihormati.

* * * * *

Hiang-hiang digotong ke dalam rumah, dibaringkan di kamar yang apek baunya. Keadaannya masih gawat, belum sadar.

Cen Cu dan Cen Cen pantasnya bantu merawat dan menjaganya, tapi mereka justru mendahului masuk kamar dan tidur pulas.

Thio-gongcu tidak bisa tidur, dengan telaten dan tekun ia menunggu dan duduk di ujung ranjang, dengan harap-harap cemas ia mengawasi wajah Hiang-hiang yang kelabu.

Pasien dalam tandu masih tetap dalam tandu, tandu itu langsung digotong masuk ke dalam kamar terbesar di sebelah timur.

Lan Lan berkata, "Adikku tidak boleh turun dari tandu, karena badannya tidak boleh kena angin."

Padahal kamar itu meski besar, kalau ditutup rapat pasti tidak ada angin.

Baru saja kepala Siau Ma mencium bantal, mendadak ia berjingkrak berdiri pula. Mendadak ia sadar banyak persoalan mengganjal dalam hatinya, ia perlu mencari teman untuk membicarakan beberapa kejanggalan itu. Thio-gongcu yang lagi merawat cewek jelas tidak punya minat untuk mengobrol. Maka Siau Ma mencari Siang Bu-gi.

Tukang pikul tandu bermalam di gudang rumput yang terletak di belakang rumah, beberapa orang tinggal di satu kamar, kamar yang dikelilingi papan kropos dan kotor, berdebu dan bergelegasi, dipan kayu cukup panjang dan lebar, dilembari tikar butut yang banyak tambalannya.

Siang Bu-gi tidur telentang dengan kedua telapak tangan sebagai bantal, matanya mengawasi Siau Ma tanpa berkedip. Ia tahu Siau Ma punya urusan maka mencari dirinya, tapi kalau orang tidak bicara ia tidak mau bertanya.

Siau Ma tampak bimbang, dengan resah ia duduk di kursi dekat dipan, akhirnya ia bersuara, "Aku menyeretmu ke dalam lumpur."

Siang Bu-gi bersuara dingin, "Menyeret orang ke dalam lumpur memang kemampuanmu yang paling khas."

Siau Ma tertawa getir, "Aku tahu kau tidak menyesal, tidak menyalahkan aku. Tapi aku justru menyesal."

"Kapan kau bisa menyesal?" jengek Siang Bu-gi.

Siau Ma manggut-manggut, "Kita sudah terjeblos dalam lumpur, padahal apa tugas dan yang telah kita lakukan aku tidak tahu."

"Bukankah kita melindungi pasien dalam tandu?"

"Tapi orang macam apa pasien itu? Kenapa tidak pernah muncul? Apa memang tidak boleh kena angin? Atau karena malu dilihat orang?" setelah menghela napas, Siau Ma menambahkan, "Mau tidak mau aku curiga, apa betul orang dalam tandu itu sakit?"

Siang Bu-gi menatapnya, "Sejak kapan kau curiga?" "Baru saja," ujar Siau Ma.

"Barusan?"

"Ya, waktu kau bertarung dengan Pok Can tadi, aku seperti melihat bayangan orang berkelebat di belakang tandu."

"Orang macam apa yang kau lihat?" tanya Siang Bu-gi. "Aku tidak melihat jelas," sahut Siau Ma kesal.

"Mau masuk atau keluar tandu?" "Sukar aku mengatakan."

"Sejak kapan matamu lamur?"

"Kedua mataku tak kalah dibanding ketajaman matamu, soalnya gerak bayangan itu teramat cepat, gerak-geriknya mirip setan."

"Mungkin yang kau lihat memang setan." "Oleh karena itu, aku ingin melihatnya lagi."

"Kau ingin membuktikan bahwa pasien yang ada dalam tandu betul adalah manusia?"

"Sekarang sudah larut malam, semua sudah tidur, hanya Lan Lan seorang mungkin berjaga di sana." "Umpama cewek itu di sana, cara bagaimana kau akan menyingkirkan dia?"

"Cara apapun dapat kugunakan, kalau perlu pakai kekerasan, yang penting kita singkap dahulu tandu itu dan lihat siapa yang ada di dalamnya."

Siang Bu-gi menatapnya lagi sekian lama, "Sekarang juga kau ingin membuktikan?"

"Kalau bukan sekarang memangnya tunggu kapan lagi?" omel Siau Ma.

Selincah tupai Siang Bu-gi mendadak mencelat berdiri, "Bagus! Watakmu ini memang sesuai seleraku."

* * * * *

Seluruhnya ada delapan kamar di hotel Damai itu, kamar yang terbesar berada di sebelah timur, ada jendela di tiga arah angin.

Saat itu jendela tertutup seluruhnya, tertutup rapat, setiap lubang atau celah-celah dinding papan di tempel kertas supaya tiada angin yang masuk.

Perlahan Siau Ma mengetuk jendela dari luar, setelah mengetuk beberapa kali dan ditunggu sekian lama, keadaan tetap sepi tiada reaksi apa-apa.

Siang Bu-gi memungut sebatang dahan kering, ujung dahan kecil itu dia basahi dengan ludah lalu dimasukkan ke celah-celah untuk mencopot segel kertas di sebelah dalam. Kalau kertas basah, bila jendela terbuka tentu tidak menimbulkan suara berisik, setelah palang jendela berhasil mereka singkirkan, tangkas sekali mereka melompat masuk. Orang macam Siang Bu-gi sudah sekian puluh tahun berkelana di Kangouw, ada-ada saja akalnya, orang tidak tahu bahwa kamarnya digerayangi tamu tak diundang. Maklum Siau Ma dan Siang Bu-gi memang bukan Kuncu.

Kamar ini masih dalam keadaan rapi dan bersih, ada kasur dengan seprei yang bersih dan selimut tebal. Tapi ranjang besar ini jelas belum ditiduri orang. Lan Lan tidak berada di kamar ini, tandu itu menggeletak di tengah kamar, dalam tandu tidak ada suara apa-apa.

Siang Bu-gi melirik ke arah Siau Ma, Siau Ma juga tengah mengawasinya, serempak mereka melompat maju ke kanan kiri, secepat kilat pula tangan mereka meraih lalu menyingkap kerai tandu. Lalu kedua orang ini berdiri menjublek, kaki tangan menjadi kaku dingin.

Ternyata tandu itu kosong, bayangan seorang pun tidak kelihatan.

Mereka bertempur, berjuang mengadu jiwa, yang mereka lindungi hanya tandu kosong. Betapa penasaran dan keki hati mereka.

Kalau benar sejak awal tiada orang dalam tandu, lalu darimana datangnya suara batuk?

Umpama benar ada orang sakit dalam tandu ini, sekarang berada di sana?"

Membeku wajah Siang Bu-gi, desisnya geram, "Bayangan yang kau lihat tadi apakah bukan setan?"

Siau Ma mengepal tinju, mulutnya pun mendesis gusar, "Kita dikibuli setan perempuan itu." "Lan Lan maksudmu?" tanya Siang Bu-gi.

"Ya, tapi bukan perempuan, lebih tepat dinamakan setan perempuan," Siang Bu-gi diam, seolah-olah sependapat dengan apa yang dikatakan Siau Ma.

"Menurut pendapatmu, apa tujuannya berbuat demikian?" "Aku tidak dapat menerkanya."

"Ya, memang sukar dimengerti maksudnya."

"Hayolah balik dan tidur, pura-pura tidak tahu akan kejadian ini."

Suatu ketika setan akan menunjukkan bentuk aslinya.

Demikian pula siluman, akhirnya akan memperlihatkan ekornya.

Mereka mencari kertas lalu menempel pula celah-celah pintu dan jendela, demikian pula lubang di atas kertas jendela, lalu diam-diam mereka meninggalkan tempat itu kembali ke kamar masing-masing.

Setiap kali melakukan kerja seperti panca-longok begitu, mereka selalu hati-hati, mereka bukan Kuncu, juga bukan orang baik.

Syukur keadaan di luar sunyi senyap, tiada bayangan orang, dengan merunduk Siau Ma meringankan langkah menyelinap masuk ke dalam kamarnya. Tapi baru saja hendak menutup pintu, mendadak ia berdiri tertegun.

Seseorang berada dalam kamarnya, tidur di atas ranjangnya. Dipan yang semula hanya dilembari tikar bobrok dan butut entah sejak kapan ditukar dengan selimut kapas yang masih baru dan bersih, wangi lagi.

Lan Lan telentang di atas selimut mengawasi dirinya. Tubuh yang montok dan padat itu ternyata tidak ditutup selembar benang sedikitpun, tidur dengan gaya merangsang lagi. Pakaiannya tertumpuk di ujung ranjang. Kerlingan matanya tampak redup tapi jalang, yang pasti keadaannya membangkitkan rangsangan jantan seorang laki-laki normal.

Setelah tertegun sejenak, Siau Ma anggap di kamar itu tiada orang lain kecuali dirinya, bergegas ia menutup pintu lalu mencopot pakaian dan melompat ke atas ranjang.

Lan Lan langsung memeluknya hangat, kerlingan matanya memabukkan, dengan napas terengah ia berbisik, "Barusan kau kemana?"

"Tadi aku minum terlalu banyak," demikian ucap Siau Ma. "Perut kenyang dan mulas, terpaksa harus kubuang sebagian baru merasa segar."

"Lalu apa salahnya kalau kau keluarkan sedikit lagi bersamaku," desis Lan Lan lalu melumat bibirnya penuh nafsu.

Siau Ma tidak memberi reaksi, katanya sesaat kemudian, "Kau tidak tidur di kamarmu sendiri, kenapa berada di sini?"

"Seorang diri aku tidak bisa tidur," sahut Lan Lan. "Kalau berduaan aku tidak bisa tidur malah." "Agaknya kau sedang marah? Marah kepada siapa?" Siau Ma diam saja. "Apa kau takut Siang Bu-gi mengelupas kulitmu?" Siau Ma tetap diam.

"Tadi Siang Bu-gi bilang laki-laki tidak boleh menyentuh perempuan, tapi tak melarang menggoda laki-laki, oleh karena itu " tawanya genit dan merangsang, makin menggiurkan,

"Sekarang aku menggoda dan merayumu." Agaknya cewek ini sudah ketagihan.

Siau Ma adalah pemuda jantan yang berdarah panas, nafsunya juga sudah memuncak, maka kedua tangannya tidak tinggal diam, meremas dan menggelitik dengan nakal. Bibir Lan Lan makin panas, napasnya juga ngos-ngosan, rintihannya justru mengobarkan birahi Siau Ma, dengan kencang ia peluk tubuh yang mulus ini, payudaranya yang kenyal padat seperti pegas menekan dadanya, kini ganti dia yang melumat bibir Lan Lan.

Ditipu orang memang kejadian yang kurang menyenangkan, kalau tidak mau dikata penasaran. Sekarang tiba saatnya Siau Ma menuntut balas, melampiaskan penasarannya.

Berbeda cara menuntut balas kaum persilatan yang menggunakan pedang atau golok, luar biasa adalah cara yang digunakan Siau Ma, meski ia memacu dengan gencar, kerja secara keras, memeras keringat, mengundang dengus napas yang menderu seperti kereta yang sarat muatan di tanjakan, tapi Siau Ma tidak kenal lelah.

Bibir Lan Lan yang semula panas menjadi dingin, deru panas yang ngos-ngosan berubah menjadi rintihan, rintihan yang mengundang birahi laki-laki. Lan Lan memang cewek muda yang sudah matang, bagai buah yang sudah ranum, tubuhnya yang semampai dengan payudara yang montok kenyal adalah idaman tiap laki-laki. Cewek ini memang memiliki syarat-syarat utama bagi perempuan yang dapat memuaskan lawan jenisnya. Kalau dinilai keseluruhan, sebetulnya ia memiliki segala kebutuhan yang diperlukan oleh setiap laki-laki, malah miliknya jauh lebih istimewa, takkan pernah habis atau rusak meski sering dipakai.

Beberapa kali terjadi perubahan pada suhu badan dan bibirnya, panas dingin, dingin panas lagi.

Akhirnya napas Siau Ma menderu seperti babi yang akan disembelih. Rintihan Lan Lan juga menjadi keluhan panjang, keluhan nikmat.

Setelah badai mereda, mereka pun bermandi keringat, dengan napas masih tersengal Lan Lan berkata lirih, "Tak heran orang bilang kau sebagai keledai jantan, kenyataan memang demikian."

Perkataan ini harus dinilai kasar, apalagi diucapkan seorang perempuan, tapi dalam suasana dan keadaan seperti itu, diucapkan perempuan yang betul-betul puas dan nikmat, makna ucapan itu menambah romantis, menambah rangsangan birahi Siau Ma lagi.

Tapi Siau Ma sudah luluh, sudah lunglai. Maklum selama ini kondisinya kurang prima, untung Lan Lan tidak menjual dirinya. Padahal Lan Lan menerima barter yang diinginkan Long-kun-cu. Demikian halnya dalam main cinta, seratus persen dia memberi dan seratus persen menuntut. Maka yang terpikir dalam benak Siau Ma, kesannya terhadap cewek yang satu ini hanyalah kebaikannya, manfaatnya di saat dia memacu tenaga mencapai klimaksnya tadi. Kamar itu menjadi tenang dan damai, rasa tegang dan suasana romantis sudah mengendor, di saat seperti itulah gampang timbul kembali nafsu birahi yang memadu keinginan laki dan perempuan.

Mendadak Siau Ma bersuara, "Kenapa tandu di kamar itu kosong?"

Setelah melontarkan pertanyaan, Siau Ma amat menyesal, tapi pernyataan sudah dilontarkan, dijilat kembali juga tidak mungkin lagi.

Di luar dugaan, Lan Lan tidak kaget atau heran mendengar pertanyaannya, dia malah membalas bertanya, "Apa kau ingin berjumpa dengan adikku?"

"Sayang aku tidak boleh melihatnya," ucap Siau Ma menghela napas gegetun.

"Soalnya dia memang tidak berada di tandu yang kau lihat tadi," demikian kata Lan Lan dengan senyum penuh arti.

Agaknya dia sudah tahu apa yang dilakukan Siau Ma dan Siang Bu-gi di kamarnya tadi?

"Sekarang dimana adikmu?"

"Dalam tandu di kamarku. Sakitnya cukup parah, terpaksa aku harus hati-hati merawat dan menjaga kesehatannya."

Siau Ma menyeringai dingin.

"Kau tidak percaya?" Lan Lan penasaran. Siau Ma tetap bersikap dingin. Mendadak Lan Lan berjingkrak bangun. "Hayo ikut aku," serunya, "kuajak kau melihatnya."

* * * * *

Peduli setan perempuan atau siluman perempuan, kenyataan Lan Lan menariknya ke kamar dimana tandu itu berada.

Tandu yang berada di kamar Lan Lan adalah tandu yang selalu dinaikinya selama perjalanan. Kalau tandu yang tadi kosong, tandu yang ini ternyata memang berisi orang.

Perlahan, dengan laku hati-hati seperti takut membuat kaget orang yang sedang tidur, Lan Lan menyingkap kerai lalu membuka gorden. Siau Ma lantas melihat orang setengah rebah di dalam tandu.

Bulan sembilan adalah hari yang panas, hawa tidak pernah dingin meski berada di pegunungan.

Tandu itu dilapisi kulit harimau, umpama hari itu hawa amat dingin, bila orang tidur dalam tandu dengan dilapisi kulit harimau, tentu akan merasa hangat dan nyaman.

Tetapi orang dalam tandu sedang gemetar karena kedinginan. Orang ini masih muda, namun wajahnya pucat pias, seperti manusia yang kehabisan darah, keringat juga tidak mengucur keluar, meski sekujur tubuh dibungkus selimut tebal, badannya tampak gemetaran.

Siapa pun tahu meski hanya melihatnya sekilas, usia orang ini masih muda, baru belasan tahun, tapi rambut dan alisnya sudah rontok, deru napasnya lemah kalau tidak mau dikata kempas-kempis. Melihat keadaan pemuda ini, orang akan maklum bahwa dia sedang sakit cukup parah dan gawat. Kini Siau Ma sudah melihatnya, ia pun maklum akan keadaannya.

Ketika berhadapan dengan pemuda penyakitan ini, mimik Siau Ma mirip lelaki yang ketahuan mencuri bini orang, anehnya orang itu masih menganggap dirinya sebagai sahabat baik.

"Inilah adikku," Lan Lan memperkenalkan. "Dia bernama Lan Ki-hun."

Mengawasi wajah yang pucat pias, Siau Ma tertawa, namun kulit mukanya terasa kaku dan tebal.

Lan Lan berkata ke dalam tandu, "Inilah Siau Ma yang melindungi kita dengan mempertaruhkan jiwa raganya."

Perlahan terbuka mata Lan Ki-hun, sorot matanya mengandung rasa terima kasih, perlahan ia keluarkan sebelah tangan lalu diulur ke depan, lekas Siau Ma menjabat tangannya dengan kencang. "Terima kasih atas bantuanmu," suaranya lemah lagi lirih, seperti bisikan nyamuk. Demikian pula tangannya kurus putih lagi dingin, warna kulitnya mirip tangan orang yang sudah mati.

Setelah menggenggam tangan orang, perasaan Siau Ma makin tertekan, makin mendelu, mulutnya sudah terbuka namun sepatah kata pun tak kuasa diucapkan.

Pasien atau pemuda bernama Lan Ki-hun ini batuk-batuk, makin lama batuknya makin keras, makin gencar ia batuk, napasnya makin tersengal-sengal, akhirnya air mata pun meleleh keluar. Menyaksikan keadaan yang menyedihkan ini, air mata Siau Ma hampir ikut menetes, syukur Siau Ma dapat melontarkan beberapa patah kata, "Kau ... jagalah dirimu."

Setelah batuknya reda, dengan napas masih memburu Lan Ki-hun tersenyum kaku, mulut ingin bicara namun mata malah terpejam.

Perlahan Lan Lan menurunkan gorden dan kerai, lalu Siau Ma mendahului keluar kamar, ingin rasanya mencari lubang untuk menyembunyikan diri.

Waktu Lan Lan keluar, bola matanya masih kelihatan merah. Mendadak Siau Ma berkata, "Aku bukan keledai, lebih benar aku ini babi dungu."

"Kau bukan babi," ucap Lan Lan dengan suara lembut. "Tidak, aku memang babi."

Lan Lan tersenyum lebar, "Kau tidak gembrot, tidak pendek, laki-Iaki jantan segagah kau mana mungkin menjadi babi."

"Aku ini babi kurus, babi jangkung," ucap Siau Ma sambil mengangkat tangan, agaknya ia siap menggampar muka sendiri dua kali.

Tapi Lan Lan memegang tangannya, perlahan ia menjatuhkan kepala di dada Siau Ma, katanya lembut, "Aku tahu perasaanmu, aku sendiri juga amat sedih, tapi "

Kepalanya mendongak, matanya menatap halus, "Asal kita bisa melindunginya dan selamat sampai di tempat tujuan, kita akan " Siau Ma menukas dengan suara lantang, "Kalau aku tak mampu menunaikan tugas, aku akan tumbukkan kepalaku di atas batu biar mampus."

Tangan Lan Lan mengelus pipinya, bibirnya juga mengecup bibir Siau Ma. Mendadak Siau Ma sadar, dirasakan tangan gadis ini dingin, demikian pula bibirnya, tubuhnya gemetar. Sekarang keadaan berbeda, tidak seperti tadi waktu dirasuk gejolak nafsu, kenapa tangan dan bibirnya menjadi dingin?

"Kau sedang marah?" tanya Siau Ma. "Ehm," Lan Lan hanya mendengus. "Marah kepadaku?" Siau Ma menegas.

"Aku memang marah, tapi bukan marah kepadamu." "Marah kepada siapa?"

"Aku sudah pesan wanti-wanti, mereka harus berjaga di sini, tapi bayangan mereka tidak kelihatan."

Siau Ma maklum apa yang dimaksud, dalam kamar hanya Lan Ki-hun sendirian dalam tandu, Cen Cen dan Cen Cu yang ditugaskan mendampinginya tidak kelihatan batang hidungnya. Di saat seperti ini seharusnya mereka tidak boleh meninggalkan tugas.

"Umpama ada urusan penting juga tidak boleh keluar dua- duanya."

"Mungkin hanya keluar sebentar, nanti juga mereka kembali," demikian bujuk Siau Ma. Kenyataan kakak beradik itu tidak pernah kembali lagi. Seluruh pelosok hotel Damai sudah mereka geledah, namun bayangan mereka tidak ditemukan. Celakanya bukan hanya dua kakak beradik ini yang hilang, Lo-bi juga tidak keruan parannya, entah minggat kemana.

* * * * *

Tanggal 14 bulan 9. Tepat lohor. Cuaca cerah, awan bergantung di angkasa.

Waktu terus berlalu, mentari pun merambat ke barat. Sinar surya masih memancarkan cahaya kemuning di balik gunung di kejauhan sana, menyorot masuk lewat jendela, menyinari wajah Siang Bu-gi yang pucat pasi dan dingin.

Thio-gongcu berdiri termangu di ambang jendela. Siau Ma dan Lan Lan duduk dalam rumah, mereka sedang melamun.

Dengan penuh kesabaran mereka masih menunggu, menunggu berita Lo-bi dan Cen Cu serta adiknya Cen Cen, namun sejak pagi buta mereka menunggu hingga sekarang, kabar berita atau bayangan mereka tidak kunjung tiba.

Akhirnya Siang Bu-gi memecah kesunyian, "Aku sudah bilang kurcaci itu bukan manusia."

Siau Ma tertawa getir, "Tapi aku berani tanggung, Cen Cen dan Cen Cu pergi bukan karena hasutannya. Malah bukan mustahil dia mengejar atau melindungi mereka."

"Berdasar apa kau bilang demikian?" tanya Siang Bu-gi. "Lo-bi bukan laki-laki iseng yang sudi berbuat kotor," Siau

Ma berdiri namun duduk kembali di tempatnya, mendadak ia balas bertanya, "Masih kau ingat gadis cantik berpaha jenjang itu?"

Sudah tentu Siang Bu-gi ingat. Paha mulus dan sebagus itu tidak setiap lelaki dapat melihatnya sembarang waktu, bila ada kesempatan. biar lelaki tulen, laki-laki normal, siapa pun sukar membendung hasrat untuk melihatnya.

Siau Ma berkata pula, "Masih kau ingat apa yang dikatakannya? Asal kita mau mencari, setiap saat mereka akan menyambut kedatangan kita."

Waktu gadis cantik itu memberi pernyataan, kebetulan angin berhembus kencang sehingga pakaiannya yang terbelah tinggi di bagian bawah tersingkap, pahanya yang jenjang mulus terpampang di depan mata orang banyak, seolah-olah menyatakan secara terbuka bahwa dirinya dengan senang menyambut kedatangan setiap lelaki yang ingin merasakan kemulusan tubuhnya.

Lan Lan menghela napas, "Perempuan itu mungkin jelmaan siluman iblis. Jika aku seorang laki-laki, mungkin hatiku tak kuat menahan gelora keinginan untuk mencarinya."

Dia masih ingat dan dapat membayangkan bagaimana rona dan mimik muka Lo-bi waktu melihat sepasang paha jenjang yang indah itu, dia juga masih ingat apa yang diucapkan gadis jelita yang terbuka dadanya itu kepada Cen Cen dan Cen Cu kakak beradik.

Mereka tidak suka main kekerasan kalau tidak terpaksa atau bila tidak dipancing kemarahannya, akan tetapi daya tarik yang menyesatkan dengan cara yang paling liar justru jauh lebih menakutkan dibanding cara kekerasan yang paling sadis sekalipun. Siau Ma menghela napas, katahya gegetun, "Seharusnya aku maklum dan tahu, bahwa gadis semuda mereka takkan kuat menahan gejolak hati oleh daya pikat liar yang menyesatkan itu."

"Aku hanya tahu yang satu saja," ucap Siang Bu-gi. "Yang satu apa?" tanya Siau Ma.

"Kehadiran mereka di sini tidak menambah jumlah, kepergian mereka juga tidak mengurangi tenaga dan kekuatan kita. Lalu apa pula yang harus ditunggu."

"Maksudmu kita harus meninggalkan mereka, tak peduli mati hidup mereka?"

"Memangnya kau ingin mencari mereka?" "Ya, ingin sekali," tegas suara Siau Ma.

"Tugas kita belum selesai, kita harus lewat gunung bukan?"

Siau Ma menarik napas sambil memejamkan mata, mulutnya bungkam.

Tengah mereka bersitegang leher, mendadak seorang gadis belia beranjak masuk dengan tertawa cekikikan, langkahnya gontai dan lunglai, bukan mabuk karena minum arak, keadaannya lebih mirip orang yang terbius. Gadis ini masih muda, baru belasan tahun, wajahnya bulat telur, cantik juga, pakaiannya dari karung rami segiempat dan hanya dibuat lubang di tengah dan kanan kiri untuk kepala dan kedua tangan, bagian lubang di tengah tampak sobek turun ke bawah hampir mencapai perut, separohh bagian dada sebelah kanan dari baju karung rami yang dipakainya kelihatan berlepotan darah, darah segar yang masih menetes di lantai. Gadis ini seperti tidak merasa sakit sedikitpun, wajahnya berseri tawa dan riang, seolah badannya tidak terluka sedikitpun.

Sambil melambaikan tangan, gadis ini menyapa ramah kepada semua orang yang ada di rumah itu, senyum yang menggiurkan dengan tingkah laku yang lucu dan jenaka, seperti bertemu dengan teman lama saja, sikap dan tingkah lakunya jelas menunjukkan bahwa gadis ini tidak bermaksud jahat terhadap siapa pun.

Diam-diam Siau Ma menghela napas. Gadis ini adalah serigala betina, serigala yang masih muda, serigala betina yang sudah kehilangan kesadaran dan daya pikir yang normal, katakanlah gadis ini sudah terbius dan tenggelam dalam dunia khayalnya.