Kuda Binal Kasmaran Bab 07

 
Bab 07

Siau Ma tertawa, giliran dia berbicara, "Kejadian yang menguntungkan dia jelas tidak akan ditolaknya, kalau tidak, umpama betul dia yang melakukan, pasti dia akan mungkir mesti dihajar atau diancam mau dibunuh."

Thio-gongcu berkata, "Kalau bukan Lo-bi yang menyambitkan Am-gi, lalu siapa?"

Siau Ma sengaja bungkam, dia menungggu penjelasan Thio-gongcu lebih lanjut.

"Kenapa nona Lan Lan sengaja menjatuhkan vonisnya kepada Lo-bi, malah memberi hadiah kembang mutiara yang nilainya cukup untuk berfoya-foya beberapa bulan?" "Ya, jika tidak beberapa ratus tahil, pasti bernilai dua tiga ribu tahil."

"Kenapa dia berbuat demikian, apakah karena matanya lamur? Salah melihat orang?"

"Kutanggung matanya tidak lamur dan masih dapat melihat jarum yang jatuh dalam beberapa tombak jauhnya."

Thio-gongcu menghembuskan angin dari mulut, katanya, "Kalau demikian hanya ada satu penjelasan untuk peristiwa ini."

"Coba jelaskan."

"Sebetulnya dia sendiri yang menyambitkan Am-gi itu, tapi tidak ingin orang tahu bahwa dia juga seorang kosen, untuk menyembunyikan kemampuannya, maka ia rela mengorbankan kembang mutiara dan memberi pahala kepada Lo-bi."

"Tepat, masuk akal," puji Siau Ma.

Thio-gongcu berkata lebih lanjut, "Yang mengajarkan Kiam-hoat kedua nona taci beradik itu, kemungkinan besar juga dia."

"Ya, mungkin sekali."

"Kenapa dia menutupi diri sendiri? Pandai kungfu bukan suatu hal yang memalukan atau melanggar hukum."

Siau Ma memicingkan mata mengawasi sekian lama, akhirnya ia menarik napas, katanya, "Aku ingin tanya satu hal kepadamu." Thio-gongcu mengawasi mulutnya.

"Apa yang dia lakukan, ada sangkut-paut apa dengan kau?"

Tanpa menjawab sepatah kata pun, Thio-gongcu putar badan lalu pergi.

Terpaksa Siau Ma menoleh mengawasi Siang Bu-gi.

Muka Siang Bu-gi tetap kaku dingin, dia hanya mengucap sepatah kata, "Berangkat."

Malam makin larut.

Jalan pegunungan yang jarang dilewati manusia makin sukar ditempuh, keledai juga tak bisa digunakan lagi.

Hiang-hiang, kakak beradik Cen-cu selalu mengiringi tandu, Lo-bi selalu berputar kayun di kanan kiri atau depan belakang mereka, kelihatannya dia ingin cari kesempatan untuk bicara atau berkelakar dengan mereka.

Bahwasanya Lo-bi bukan terhitung laki-laki hidung belang, kalau mau dikata sebagai setan cabul, dia hanya termasuk setan cabul biasa saja.

Demikian juga Siau Ma, bukan dia tidak memikirkan Lan Lan, malah ingin menikmati lagi kehangatan badannya.

Apa yang dilakukan Lan Lan memang tiada sangkut-paut dengan Thio-gongcu, tapi sedikit banyak justru ada hubungan dengan dirinya.

Kenapa Lan Lan harus menyembunyikan diri, padahal dia mahir kungfu? Adiknya terjangkit penyakit apa? Kenapa tidak mau menampakkan diri?

Siau Ma tidak sempat memecahkan persoalan ini, karena mendadak dia melihat tiga orang muncul di depan dan berjalan ke arah mereka.

Malam larut, bulan purnama, di bawah cahaya rembulan, mereka masih bisa melihat keadaan sekeliling dalam jarak tertentu.

Yang datang dua perempuan satu laki-laki. Yang lelaki telanjang dada dan mengenakan sepatu rumput, rambutnya awut-awutan bagai sarang ayam, dari kejauhan terendus bau badannya yang apek berkeringat. Menurut pendapat Siau Ma, laki-laki ini sudah belasan hari tidak mandi. Tapi kedua gadis itu justru memeluk lengannya, mereka jalan bergandengan seperti kuatir laki-laki itu terlepas terbang. Mereka masih muda usia, yang lelaki kekar gagah, yang perempuan ramping, cantik lagi menggiurkan.

Mereka juga berpakaian sembarangan, berjubah panjang atau 'longdress' yang ketat dengan belahan tinggi mencapai pantat kanan kiri, bila kaki beranjak pakaiannya tersingkap, paha pun kelihatan. Paha mereka jenjang lagi mulus putih, kekar dan padat, jarang Siau Ma melihat paha semulus dan menggiurkan seperti milik gadis ini. Gadis yang lain bukan mengenakan 'Shanghai-dress' yang terbelah pahanya, tapi terbelah di bagian dadanya sehingga sepasang bukit mulus dan kenyal dapat diintip dari kejauhan.

Tingkah laku tiga muda mudi ini mirip 'hipis' zaman kini, seperti tidak peduli keadaan sekeliling, dunia adalah milik mereka bertiga, yang penting bisa hidup senang, peduli orang lain mau mati atau ingin hidup. Maklum di sini adalah Long-san. Tapi melihat tingkah mereka, seolah-olah lagi tamasya di taman firdaus, putar kayun di kebun rumah sendiri.

Saat Siau Ma mengawasi mereka, mereka juga sedang mengawasi Siau Ma. Terutama gadis yang memiliki paha panjang dan mulus itu, sepasang bola matanya terpaku di wajah Siau Ma.

Siau Ma tidak berani bertatap mata, lekas dia melengos. Siau Ma bukan laki-laki yang takut menghadapi urusan, dia bukan laki-laki jujur yang tidak mau menggoda perempuan, soalnya dia masih ingat dan tidak berani melupakan peringatan nenek tua di warung bobrok itu.

Di atas gunung ada serombongan muda-mudi yang dikenal sebagai serigala bebas atau tepatnya serigala sesat.

Kadang mereka membunuh orang, tapi juga sering menolong orang, asal kalian tidak mengganggu mereka, biasanya mereka tidak akan mengganggu.

Siau Ma tidak ingin mencari gara-gara. Tidak mau terlibat urusan yang tidak perlu. Ternyata mereka tidak mengganggu Siau Ma, terhadap orang lain jangan kata memandang, melirik pun tidak.

Sambil tangan bergandeng tangan, tiga muda-mudi ini terus beranjak ke sana memasuki hutan. Lo-bi masih terpesona mengawasi sepasang paha yang mulus itu. Pemuda itu mendadak menoleh dengan pandangan melotot kepadanya, dalam matanya seperti ada ujung pisau menusuk hati, tanpa sadar Lo-bi bergidik merinding. Sebaliknya gadis yang berpaha bagus itu menoleh sambil mengerling tajam, senyumnya menawan hati, Lo-bi hampir kelengar dan lutut pun goyah. Di saat ketiga muda mudi ini lenyap dalam hutan. Dari jalan pegunungan di depan sana, tepatnya dari kanan kiri jalan sekaligus muncul tiga puluhan orang berpakaian hitam.

Serigala malam telah datang.

Hanya muncul di malam hari, entah dia manusia atau binatang buas, entah makhluk apapun, bila dia muncul di malam gelap, siapa pun akan merasa seram dan munculnya dirasa mengandung misteri.

Kalau manusia hanya muncul di tengah malam, sedikit banyak pasti punya pantangan yang takut dilihat orang.

Demikian pula dengan rombongan serigala malam itu, mereka berpakaian hitam, sepatu hitam, dengan kedok muka hitam pula, setiap orang memiliki sepasang mata yang mencorong hijau dan buas mirip mata serigala, gerak-gerik mereka lincah serta cekatan. Yang muncul paling akhir ternyata seorang timpang.

Gerak-geriknya lamban lagi berat, setiap kali melangkah seperti mengeluarkan banyak tenaga, maka langkahnya amat lambat. Tapi begitu dia muncul, begitu dia tampil ke depan, seumpama golok tajam mengkilap yang sudah terhunus, orang akan merasakan datangnya hawa membunuh yang menyelimuti dirinya.

Siau Ma berada di depan barisan, Siang Bu-gi berada di ekor barisan, ruang lingkup mereka makin pendek dan menciut. Cen Cu kakak beradik siap memegang pedang.

Sedang bola mata Lo-bi berputar mengerling ke sekitarnya seperti siap melarikan diri bila keadaan betul-betul gawat. Laki-laki baju hitam yang timpang itu terus beranjak maju perlahan, dua kali dia batuk-batuk ringan, semua orang mengira dia sudah siap membuka suara. Tak nyana begitu batuk dua kali, berbagai gaman, entah golok pedang, tombak dan lain-lain, termasuk senjata rahasia, mendadak memberondong selebat hujan ke arah rombongan Siau Ma.

Kecuali ruyung, pisau dan panah serta ketapel besi, mereka menggunakan dupa pembius yang wangi baunya. Jadi berbagai senjata yang ada di Kangouw, entah yang biasa dipakai orang-orang gagah termasuk pendekar atau yang sering digunakan kawanan penjahat, berandal atau maling cabul, dalam sekejap serentak diboyong keluar untuk mengganyang mereka. Sasaran yang diincar juga termpat yang mematikan, paling ringan terluka parah dan sekarat.

Untung rombongan musuh tidak semuanya jago kosen, maka serangan gencar mereka juga tidak merupakan ancaman fatal bagi rombongan Siau Ma.

Cen Cu kakak beradik memutar sepasang pedang mereka, sebelah tangan Hiang-hiang menarik sambil menari, badannya berputar sekencang baling-baling, selembar sabuk sutra seketika ditarikan selincah bidadari menggulung mega di angkasa, sabuk sutra sepanjang setombak tujuh kaki itu ternyata mampu membendung senjata rahasia musuh yang memberondong tiba.

Ada dua yang menggunakan dupa wangi peranti membius orang, sigap sekali Siau Ma melompat ke depan, beruntun dua kali jotosan tangan kanan kirinya, hidung kedua orang ini seketika ringsek.

Siang Bu-gi ahli mengelupas kulit bergerak laksana bayangan setan, setiap orang yang kepergok, semua roboh terkapar dengan badan terkelupas kulitnya. Akan tetapi berbagai jenis senjata itu terus memberondong gencar secara bergelombang, satu gelombang demi satu gelombang tidak putus atau berhenti.

Pedang sudah tidak lagi gemerdep, gerakannya disertai hamburan darah, demikian pula sabuk sutra putih yang panjang itu sudah berwarna merah berlepotan darah, di bawah sinar bulan purnama kelihatan merah maron.

Betapapun mereka adalah perempuan, gadis muda yang lemah hati dan berperasaan, melihat sekian banyak korban mampus, hati tidak tega. Sudah tentu hal ini mempengaruhi gerak-gerik mereka yang makin lemah, apalagi napas memang sudah tersengal-sengal.

Lo-bi selalu menjerit dan berteriak, entah bergurau atau karena terluka. Syukurlah Siau Ma dan Thio-gongcu datang ikut mengadang di depan tandu Lan Lan dan adiknya yang sakit.

Empat laki-laki pemikul tandu meski berhasil mengepruk pecah beberapa batok kepala orang yang meluruk datang, tapi mereka sendiri juga terluka. Kalau bertempur lebih lama lagi jelas pihak mereka akan mati kelelahan karena kehabisan tenaga.

Thio-gongcu mendadak berseru, "Cara begini tidak boleh dilanjutkan."

"Duk," sekali genjot Siau Ma memukul hancur hidung seorang yang menyergap tiba, tanyanya, "Bagaimana menurut pendapatmu?"

"Menangkap maling harus membekuk pentolannya," demikian seru Thio-gongcu. Senjata yang digunakan adalah golok melengkung mirip bulan sabit, bentuknya mirip pisau yang biasa digunakan untuk mengiris dan membeset kulit. Sekali golok sabit terayun, sebuah lengan ditabasnya buntung.

Siau Ma berkata, "Maksudmu harus kubekuk si timpang itu?" Thio-gongcu tidak sempat menjawab, dia hanya menganggukkan kepala.

Sejak tadi laki-laki timpang itu berdiri di luar sambil menonton dengan menggendong tangan, mendengar tanya jawab Siau Ma dengan Thio-gongcu, mendadak dia batuk dua kali lalu memberi aba-aba, "Mundur."

Begitu perintah dikeluarkan, orang-orang baju hitam yang belum roboh, termasuk mereka yang terluka tapi masih mampu menggerakkan kaki, segera mundur ke tempat gelap. Sudah tentu laki-laki timpang itu mendahului ngacir.

Di medan pertempuran terjadi penyembelihan dan pembantaian, mendadak keadaan menjadi tenang, hening lelap. Kalau tiada korban yang menggeletak tumpang tindih di tanah, seolah-olah tidak pernah terjadi pembunuhan dan pertempuran sengit di tempat itu.

Hiang-hiang dan Cen Cu kakak beradik duduk di tanah, duduk lemas dan lunglai, duduk di tengah ceceran darah, napas mereka tersengal-sengal. Demikian pula Lo-bi seperti orang yang sudah tidak punya tulang, bukan lagi duduk malah merebahkan diri.

Sesaat kemudian terdengar suara Lan Lan dari dalam tandu, "Mereka sudah pergi?"

"Ehm," Siau Ma bersuara dalam mulut.

"Berapa orang kita yang terluka?" tanya Lan Lan. "Tiga," sahut Siang Bu-gi.

Yang terluka adalah dua tukang pikul dan Cen Cen, Lo-bi meski menjerit-jerit, namun sedikitpun tidak terluka.

"Aku punya obat khusus untuk menyembuhkan luka-luka terbacok, ambillah dan tolong mereka." Sembari bicara Lan Lan mengulur sebelah tangannya keluar, tangannya memegang sebuah botol porselin kecil. Jari-jari tangannya lebih mulus dan putih dibanding botol porselin itu.

Siau Ma mengulur tangan menerima botol porselin itu, mendadak tangan Lan Lan menggenggam perlahan tangannya, umpama ada seribu patah kata juga takkan sejelas pernyataan dengan sekali genggam tangan, betapa besar makna genggaman yang perlahan ini. Serta timbul perasaan hangat dalam benak Siau Ma, perasaan hangat seperti yang pernah dia alami dalam dekapan sang dewi di atas ranjang, perasaan aneh yang tak mampu dia lukiskan dengan rangkaian kata-kata, yang terang, segala jerih payah, derita dan kesulitan yang pernah dialami selama perjalanan ini seperti tidak dirasakan sama sekali, semua bahaya yang pernah dialami juga seperti sudah memperoleh imbalan.

Seolah-olah Lan Lan juga menyelami perasaan Siau Ma.

Dia hanya berkata perlahan dari dalam tandu, "Tolong sampaikan pernyataan terima kasihku kepada teman- temanmu."

Lan Lan tidak berterima kasih kepada Siau Ma. Dia hanya minta supaya Siau Ma menyampaikan terima kasih kepada teman-temannya, karena terhadap Siau Ma tidak perlu mengucap terima kasih, karena mereka seperti sudah menjadi orang sendiri, dua orang laki perempuan yang sudah bersatu padu. Di saat menerima botol porselin, hati Siau Ma benar- benar hangat, manis dan bergairah. Seorang gelandangan yang hidup bebas, tidak punya tempat tinggal, tidak berakar di suatu tempat, bila memperoleh sekedar pengertian dari lawan jenisnya, sekedar kasih sayang atau cinta, maka selama hidupnya pasti takkan pernah dilupakan.

Akan tetapi di dunia ini diliputi banyak kesedihan dan kesengsaraan.

Bulan purnama yang hampir bulat masih bercokol di angkasa raya, sinar rembulan yang redup dan kalem menyinari arena pertempuran yang kotor dan menjijikan oleh darah dan mayat-mayat yang bergelimpangan.

Cukup lama kemudian, mungkin setelah perasaannya agak tenang, Hiang-hiang menarik napas, katanya, "Bagaimanapun juga, kita berhasil memukul mereka."

"Kukira kejadian ini belum tentu berakhir," Thio-gongcu menanggapi.

"Belum tentu?" berubah air muka Hiang-hiang, "apa ... apakah mereka akan datang pula?"

Thio-gongcu tidak menjawab. Dia harap mereka betul- betul sudah pergi, sayang dia tahu bahwa serigala malam pasti dan tidak mudah dipukul mundur begitu saja.

Siang Bu-gi juga prihatin, katanya, "Lekas balut luka- lukanya, kita harus menerobos ke depan."

Cen Cen memprotes, "Tapi kita perlu istirahat." "Kalau ingin mampus, boleh kau istirahat di sini." Terpaksa Cen Cen tutup mulut.

Tukang pikul tandu sedang membalut luka-luka mereka, seorang di antaranya berkata, "Luka-luka Lo-ji cukup parah, umpama masih bisa berjalan, dia tidak kuat memikul tandu lagi."

"Orang yang tidak sakit tidak harus naik tandu," kata Siang Bu-gi.

"Harus naik tandu," Lan Lan memprotes. "Kau tidak punya kaki?" tanya Siang Bu-gi.

"Punya."

"Kenapa tidak mau jalan sendiri?"

"Karena kalau aku harus jalan, tandu ini tidak boleh ditinggal di sini."

Siang Bu-gi tidak bertanya lagi. Dia maklum tandu ini menyimpan suatu benda, entah apa yang tidak boleh dibuang, tapi juga tidak boleh dibawa secara terang-terangan, harus selalu disembunyikan.

Siau Ma berkata, "Sebetulnya memikul tandu tidak jadi persoalan. Asal manusia, siapa pun bisa memikul tandu."

Lo-bi segera bersuara, "Aku tidak bisa." "Kau bisa belajar," desak Siau Ma.

"Ya, kelak aku akan belajar."

"Kenapa harus kelak, sekarang kau harus belajar, aku berani tanggung sekali belajar, kau akan pandai." Lo bi berjingkrak sambil berteriak, "Kau suruh aku memikul tandu?"

"Kalau bukan kau, siapa yang memikul?" jengek Siau Ma. Lo-bi menatapnya lekat-lekat, mengawasi Thio-gongcu,

lalu menoleh ke arah Hiang-hiang dan Cen Cu kakak beradik. Terhadap Siang Bu-gi melirik pun tidak berani.

Dia sadar, di antara sekian orang yang hadir, seorang pun tiada yang bisa dia perintah, maka tugas memikul tandu memang hanya dirinya yang harus melakukan. Persoalan yang tidak boleh dirubah lagi, jika berusaha merubahnya, maka dia adalah orang pikun. Lo-bi bukan orang pikun. Maka segera dia berdiri, katanya dengan tertawa, "Baiklah, kau yang menyuruh, aku akan memikul tandu ini, siapa suruh aku menjadi teman lamamu."

Siau Ma juga tertawa, katanya, "Ada kalanya aku benar- benar merasakan, kau ini bukan saja pintar, kau juga mungil menyenangkan."

"Sayang sekali kau ini lelaki, kalau tidak " ucapannya

tidak selesai. Lo-bi bukan orang pikun, tapi dia berdiri menjublek karena kaget.

* * * * *

Di tengah kegelapan mendadak merubung datang serombongan orang berpakaian hitam, jumlahnya jauh lebih banyak dibanding yang tadi. Laki laki timpang baju hitam itu muncul, dia berdiri di bawah pohon besar di kejauhan sana.

Thio-gongcu berseru lantang, "Cayhe Thio-wan-to, berasal dari golongan yang sama, tuan " Laki-laki timpang itu seperti tuli kupingnya, hakikatnya tidak mendengar teriakannya, dia hanya batuk-batuk dua kali. Maka berbagai jenis senjata dan Am-gi selebat hujan deras kembali membrondong ke arah mereka. Kali ini jenis senjata yang digunakan lebih banyak ragamnya, serangan juga lebih keji, di antara mereka malah ada yang berkepandaian tinggi.

Siang Bu-gi menyeringai sadis, mendadak menepuk pinggang melolos pedang lemas yang menjadi sabuk celananya. Walau pedang lemas, sekali sendal menjadi lurus kaku, cahayanya juga mencorong benderang, hawa dingin merembes sehingga udara terasa lebih segar, tampak jelas sikap Siang Bu-gi, dia terpaksa dan dipaksa mengeluarkan senjatanya, sebetulnya dia tidak ingin gamannya diketahui orang lain. Tetapi sekarang dia sudah berkeputusan untuk menggunakan serangan keji, serangan yang mematikan.

Sudah tentu pertempuran kedua ini jauh lebih sengit, lebih berbahaya, lebih mengenaskan. Meski Kiam-hoat Cen Cu kakak ber-adik amat ganas, tapi kedua nona ini sudah terluka, tenaga juga tidak sekuat tadi.

Lo-bi juga terkena sekali bacokan. Bacokan yang cukup keras di punggung, luka-lukanya tidak ringan, tapi dia tidak lagi menjerit-jerit seperti tadi.

Golok sabit Thio-gongcu membabat miring ke atas, dimana goloknya berkelebat, setiap kali goloknya bergerak, darah pasti berhamburan, leher putus dada terbelah, kalau bukan kaki pasti tangan menjadi buntung.

Tetapi pedang Siang Bu-gi lebih menakutkan. Permainan pedangnya lebih mengerikan. Orang-orang baju hitam yang menyerbu tahu, betapapun lihai tinju dan pedang musuh, akhirnya takkan mampu menyelamatkan diri, akan tetapi tidak sedikit di antara mereka yang tahu-tahu roboh binasa tanpa sebab. Waktu mereka ambruk, sekujur badan tidak terluka, hanya setitik darah menghias wajah tepat di tengah kedua alis.

Tiada orang tahu, tiada yang melihat darimana datangnya senjata rahasia yang mematikan ini. Senjata rahasia yang merenggut nyawa mencabut sukma seperti datang dari neraka.

Laki-laki timpang yang berpakaian hitam berdiri di kejauhan menyaksikan dengan penuh perhatian, setelah dia saksikan dua laki-laki baju hitam yang paling perkasa dan lihai juga roboh tanpa bersuara karena senjata rahasia yang sama, baru dia mengulap tangan seraya memberi aba-aba, "Mundur."

* * * * *

Kawanan serigala hitam itu segera lenyap ditelan gelap, sinar bulan terasa lebih dingin, mayat bertumpuk lebih banyak di tanah.

Kali ini Lan Lan tidak bertanya, berapa yang terluka di pihaknya. Dia turun dari tandu, waktu menyingkap kerai dan mengintip dari dalam tandu, dia sudah tahu keadaan di luar, orang-orang pihaknya hampir seluruhnya terluka. Siau Ma pun terluka juga.

Padahal Siau Ma mengganyang musuh dengan adu jiwa, ternyata di antara kawanan serigala malam itu ada juga yang nekad dan berani adu jiwa. Hanya Siang Bu-gi yang tetap berdiri tegak di tempatnya, pakaiannya berlepotan darah, tapi bukan darahnya sendiri.

Bila kawanan serigala malam itu mengundurkan diri, pedang di tangannya sudah tidak kelihatan.

Hiang-hiang memegang pikulan tandu, sorot matanya menampilkan mimik yang aneh, mulutnya bergetar, tanyanya, "Mereka ... mereka akan datang lagi tidak?" Belum habis bicara tubuhnya ambruk tak sadarkan diri.

Thio-gongcu memburu maju, satu tangan menutuk Jin- tiong-hiat di atas bibir, tangan yang lain memegang urat nadi.

"Jangan gopoh," Siang Bu-gi berkata, "dia tidak mati, hanya terkena bius."

Thio-gongcu menghela napas lega, katanya, "Tadi aku menyaksikan sendiri Siau Ma sudah merobohkan orang yang memegang bumbung semprot dupa wangi, bumbung semprotannya sudah diinjaknya remuk, kenapa dia bisa terbius?"

Siang Bu-gi berkata dingin, "Kenapa tidak kau tanya kepada yang bersangkutan."

Sudah tentu Thio-gongcu tidak mampu bertanya. Bukan saja Hiang-hiang tak sadarkan diri, rona mukanya sudah berubah kelabu.

Rona muka Thio-gongcu amat jelek, tanyanya kuatir, "Siapa yang tahu bius jenis apa yang mengenai dia?"

"Dupa wangi yang tiada obat penawarnya," sahut Siau Ma dengan tawa dipaksakan, lalu dia menghibur Thio-gongcu, "Untung dia tidak banyak menghirup dupa wangi itu, maka jiwanya takkan berbahaya." Tiba-tiba Siang Bu-gi menyeletuk, "Tapi kalau orang-orang itu datang lagi, maka jiwanya sukar diselamatkan." Walau perkataannya menusuk pendengaran, tapi dia bicara secara nyata.

Jikalau kawanan serigala malam itu meluruk lagi, mereka pasti menyerbu lebih sengit dan menyerang lebih nekad, lebih kejam dan culas, untuk menghadapi musuh dan mempertahankan diri, mereka cukup sibuk, mana sempat melindungi Hiang-hiang.

Lo-bi cemberut, katanya, "Kalau kawanan serigala itu datang lagi, bukan Hiang-hiang saja yang akan mati, kita juga bakal mampus semua."

Siau Ma berkata, "Tapi mereka pasti mati lebih banyak." Dia sudah menghitung, korban yang jatuh dari kawanan serigala malam itu seluruhnya ada lima puluhan.

Cen Cen rebah di tanah, suaranya gemetar, namun dia menghibur diri, "Mungkin pihak mereka sudah hampir mampus seluruhnya, mana berani datang lagi."

"Ya, mungkin."

"Mungkin mereka segera datang," Lo-bi menyelentuk.

Siau Ma mendelik padanya, katanya, "Kenapa kau selalu bicara secara tengik, menyebalkan saja."

"Tanpa aku bicara, orang lain juga sebal kepadaku."

Mengawasi orang yang berlepotan darah, lemas lunglai kehabisan tenaga, Lan Lan menghela napas panjang, katanya rawan, "Sekarang baru kutahu, Long-san memang daerah yang menakutkan."

Yang benar keadaan di Long-san tidak cukup dilukis hanya dengan "menakutkan" saja.

Siau Ma mendadak berkata lantang, "Aku justru tidak menemukan dimana letak menakutkan di daerah maknya ini."

'Maknya' adalah kata seru yang selalu diucapkan oleh Siau Ma, setiap membuka dan menutup mulut tidak jarang dia melontarkan caci makinya, belakangan sudah banyak berubah, hari ini lantaran marah tanpa sadar dia mencaci pula dengan kata seru yang sudah menjadi kebiasaannya.

"Kau tidak melihat dimana tempat menakutkan di daerah ini?" tanya Lan Lan.

"Aku hanya tahu dan jelas kulihat bahwa mereka akan mampus seluruhnya. Sebaliknya kita masih hidup segar bugar."

Asal dada masih bernapas, bila tenaga belum habis, tak pernah si Kuda Binal putus asa, tak pernah dia patah semangat. Siapa pun asal dia tidak patah semangat, maka harapan masih menanti, masih ada harapan.

Lan Lan mengawasinya, sorot matanya juga mulai bercahaya, bukan saja tak pernah tunduk, tak pernah patah semangat, pambeknya akan membangkitkan harapan orang lain.

Tapi keadaan mereka sekarang memang serba sulit, posisi mereka terjepit. Masih cukup lama menunggu datangnya fajar, setiap saat kawanan serigala itu masih mampu mengerahkan tenaga, mengumpulkan bala bantuan untuk menyerbu dengan serangan lebih ganas dan gencar.

Apalagi setelah fajar menyingsing, masih ada jenis serigala lain yang harus mereka hadapi, paling tidak Kun-cu-long adalah ancaman utama. Konon Kun-cu-long jauh lebih menakutkan dibanding kawanan serigala malam.

"Sekarang kita masih mampu maju ke depan?" tanya Lan Lan.

"Kenapa tidak mampu?" tanya Siau Ma. "Kaki kita tidak buntung, siapa bilang tidak mampu berjalan lagi."

Lo-bi tergagap, "Tapi aku "

"Aku tahu kau terluka, kau tidak bisa memikul tandu, biar aku yang pikul."

Walau Siau Ma juga terluka, luka-lukanya mungkin tidak lebih ringan dibanding Lo-bi, tapi dadanya masih membusung, tubuhnya masih tegap.

Ada sementara orang, meski mengalami derita dan siksa, dia pasti tidak pernah minta ampun atau tunduk oleh keadaan. Siau Ma identik dengan manusia jenis ini. Bukan saja memiliki keberanian yang takkan pernah melempem, seolah-olah dia memiliki kekuatan terpendam yang tidak pernah habis digunakan.

* * * * *

Maka rombongan mereka maju ke depan. Walau mereka terluka tidak ringan, walau semua sudah merasa lelah, tetapi melihat Siau Ma, semangat mereka pun menyala, semua menggelorakan tekad dan mengerahkan seluruh tenaga. Hiang-hiang masih belum sadar, maka Lan Lan turun dan berjalan kaki, ganti Hiang-hiang yang naik tandu.

Sepanjang jalan Lo-bi berkeluh kesah, saking jengkelnya, Siau Ma mengancam, "Berani kau cerewet lagi, bukan saja kubikin ringsek hidungmu, biar kau memikul tandu."

Luka-luka di tubuh Cen Cu kakak beradik juga tidak ringan, tapi obat luka-luka yang dibubuhkan Lan Lan memang mujarab, rasa sakit hilang, darah pun berhenti keluar, maklum mereka masih muda, ketahanan fisik mereka lebih kuat.

Waktu mendengar ucapan Siau Ma, meski menahan derita, namun tak tertahan mereka tertawa cekikikan.

Bila seorang masih bisa tertawa, itu berarti dia masih punya harapan.

Kali ini mereka mampu menempuh jarak yang cukup jauh.

Betapapun jauh jarak yang telah mereka tempuh, mereka tetap belum mampu keluar dari tabir kegelapan.

Malam masih gfelap.

Sambil memikul tandu, langkah Siau Ma masih enteng, setengah berlari malah, Lan Lan terus mendampinginya. Bukan hanya mendampingi saja, matanya selalu mengawasinya pula, sorot matanya menampilkan rasa kagum, hormat dan cinta.

Yang paling diperhatikan oleh Thio-gongcu hanya seorang, tak jarang dia mendekati tandu, pasang kuping mendengarkan pernapasan Hiang-hiang. Ternyata Hiang-hiang belum menunjukkan perubahan. Sementara pasien di tandu yang lain juga tidak batuk lagi, mungkin sedang tidur nyenyak. Lan Lan berkata perlahan, "Kelihatannya mereka tidak datang lagi."

"Ehm, semoga," ucap Siau Ma.

"Tapi kita harus mencari tempat untuk istirahat, kalau begini terus, akhirnya kita tak kuat bertahan," mendadak Lan Lan tertawa lebar dan manis, "Sudah tentu kau dikecualikan, kau ini manusia berotot kawat tulang besi."

Siau Ma sedang menyeka keringat. Dia bukan manusia besi, manusia robot. Siau Ma sendiri maklum akan datang saatnya dia akan ambruk. Tapi dia tidak mengutarakan isi hatinya, dia pantang bicara.

Lan Lan bimbang, mendadak dia bertanya, "Kalau aku jadi binimu, mau tidak?"

Siau Ma membungkam.

Lan Lan berkata pula, "Apakah kau masih merindukan dia?

Perempuan macam apakah dia sebetulnya?"

Berubah air muka Siau Ma. Bukan seratus persen dikarenakan perkataan Lan Lan, hingga terjadi perubahan air mukanya, tapi karena matanya menangkap munculnya bayangan seorang. Dia melihat laki-laki baju hitam yang timpang itu.

* * * * *