Kuda Binal Kasmaran Bab 03

 
Bab 03

“Bagaimana?” tanya Siau Ma dari belakang pintu.

Lan Lan menghela napas, ujarnya, “Bagus, bagus sekali.” Sambil bergelak tertawa Siau Ma melangkah keluar,

serunya, “Gong-heng kau baik-baik saja?” Begitu Siau Ma keluar, wajah Thio-gongcu berubah jelek, seperti melihat setan di siang hari bolong, tanpa bicara segera dia putar tubuh hendak pergi.

Sudah tentu dia tidak bisa lari. Enam orang laki-laki yang memegang pentung sudah mencegat di depan pintu.

Terpaksa Thio-gongcu membalik badan, sambil mengawasi Siau Ma dia menghela napas, katanya dengan menyengir getir, “Aku tidak baik, tidak baik sekali.”

“Lho, kenapa tidak baik?” tanya Siau Ma.

“Siapa saja yang bertemu setan sialan macam dirimu, mana mungkin bisa baik-baik saja?”

Siau Ma bergelak tertawa sambil menghampiri, dengan kencang dia peluk pundak orang, kelihatannya mereka seperti sahabat lama, bahkan sahabat kental.

Seorang gelandangan seperti Siau Ma bersahabat dengan tukang sepatu? Maka asal-usul tukang sepatu ini patut dicurigai.

Tapi Lan Lan tidak mencari tahu asal-usulnya, satu hal yang paling ingin segera dia lakukan adalah segera berangkat, lewat Long-san dan tiba di tempat tujuan dengan selamat.

Lan Lan hanya bertanya, “Kenapa tidak kau tanya padanya, apakah dia mau berangkat bersama kami?”

“Dia pasti mau,” jawab Siau Ma tegas. “Bagaimana kau tahu?” “Kalau dia sudah bertemu dengan aku, kemana dia bisa menyingkir?”

Air muka Thio-gongcu makin jelek, segera dia memancing pertanyaan, “Kalian tidak mengajakku pergi ke Long-san bukan?”

“Siapa bilang bukan? Aku justru akan mengajakmu ke Long-san.”

Berubah pucat muka Thio-gongcu, mendadak dia memejamkan mata, lalu duduk mendeprok di lantai. Maksudnya hendak mogok jalan, bukan saja tidak mau ikut, dia pun tidak mau dengar bujukan siapa pun, peduli apa yang diucapkan, dia tidak akan mau menurut lagi.

Lan Lan mengawasi Siau Ma, Siau Ma tertawa, dia tarik tangan Thio-gongcu lalu mencoret-coret di telapak tangannya, seperti tabib yang menulis resep obat layaknya. Resep obat itu ternyata ces-pleng, amat manjur. Mendadak Thio-gongcu melompat berdiri, katanya sambil melotot kepada Siau Ma, “Apa aku harus menempuh perjalanan ini?”

Siau Ma manggut-manggut.

Berubah hijau muka Thio-gongcu, lalu menjadi pucat pula, akhirnya dia menghela napas, katanya, “Baiklah, aku ikut, tapi aku punya syarat.”

“Katakan.”

“Panggillah Lo-bi kemari, kalau mau basah, biarlah kita terjun bersama.”

Seketika bersinar mata Siau Ma, katanya, “Jadi Lo-bi juga ada di kota?” “Dia baru datang,” sahut Thio-gongcu. “Dia sedang minum arak di dapur rumahku.”

Lebih terang cahaya mata Siau Ma, seperti gelandangan yang mendadak menemukan mestika di tumpukan sampah, mestika yang tak ternilai harganya.

Lan Lan bertanya pula, “Siapakah Lo-bi itu?” “Lo-bi juga seorang tukang kulit.”

“Apa kemampuannya?”

“Tidak punya kemampuan apa-apa.” “Sedikit pun tidak punya?” “Setengah pun tidak punya.”

“Tidak punya kemampuan apa-apa?” Siau Ma mengangguk.

Lan Lan bekata, “Kalau orang itu tidak punya kemampuan apa-apa, untuk apa kau mengundangnya kemari?”

“Berapa banyak orang yang pernah kau lihat dari mereka yang tidak punya kemampuan apa-apa?”

Lan Lan berpikir sejenak, katanya kemudian, “Kurasa seorang pun tiada.”

“Oleh karena itu orang seperti dia justru sukar ditemukan.” Lan Lan bingung, dia tidak mengerti. Siau Ma menjelaskan, “Sedikitpun tidak mampu berbuat apa-apa adalah kemahirannya, keahliannya yang utama, di seluruh kolong langit, yakin takkan bisa kau temukan seorang seperti dia.”

Lan Lan seperti maklum, tapi juga seperti belum paham betul. Di hadapan lelaki jarang dia bisa memahami suatu persoalan, umpama satu tambah satu sama dengan dua juga tidak mungkin dia pahami dengan cepat. Akan tetapi bila dikira dia dungu, dia tidak mengerti, maka adalah keliru, salah besar.

Siau Ma tidak melakukan kesalahan, maka dia tidak memberi penjelasan lebih lanjut. Dia hanya tanya kepada Thio-gongcu, “Berapa banyak kau simpan arakmu di dapur?”

“Kalau tidak empat pasti ada tiga kati,” sahut Thio-gongcu.

Siau Ma menghela napas, katanya, “Kalau begitu tentu dia sudah pergi, setelah minum tiga kati arak, dia pasti tak mau tinggal lebih lama di dapur orang lain.”

Thio-gongcu sependapat. Lan Lan malah bertanya, “Setelah minum tiga kati arak, apa yang akan dilakukan?”

Siau Ma tertawa kecut, katanya, “Hanya Thian yang tahu apa yang akan dia lakukan? Setelah minum tiga kati arak, malaikat atau dewa juga pasti takkan bisa menerka apa yang akan dia lakukan.” Sembari bicara dia mengawasi Thio-gongcu dengan harapan laki-laki tuli ini mendukung kebenaran pernyataannya.

Ternyata Thio-gongcu tidak pernah memperhatikan ucapannya, matanya tertuju keluar pintu, wajahnya menampilkan mimik yang aneh. Seorang laki-laki jikalau melihat cewek jelita, perempuan ayu yang benar-benar mengetuk hati dan menarik perhatiannya, baru wajahnya menampilkan mimik seperti yang diperlihatkan si tuli ini. Pandangan matanya ternyata tertuju ke arah Hiang-hiang.

Hiang-hiang sedang mendatangi dari pekarangan, langkahnya gopoh, wajahnya yang cantik kelihatan merah karena senang dan riang, sebelum masuk pintu mulutnya sudah berkaok, “Barusan aku dengar sebuah berita baik.”

Lan Lan menunggu penjelasan Hiang-hiang. Demikian pula Thio-gongcu juga sedang menanti, setelah melihat Hiang- hiang, kelihatannya dia menjadi lebih muda dua puluh tahun.

Sayang sekali mengerling pun Hiang-hiang tidak memandang padanya, katanya lebih lanjut, “Hari ini datang seorang luar biasa di kota, jikalau kita bisa mengundangnya kemari, segala persoalan pasti dapat dibereskan.”

“Siapa orang luar biasa yang kau maksud?” tanya Lan Lan. “Namanya Teng Ting-hou,” sahut Hiang-hiang.

“Teng Ting-hou yang berjuluk Tinju sakti?” tanya Lan Lan.

Tampak riang sinar mata Hiang-hiang, katanya, “Tadi Lo- sun pulang dari kota, dia memberitahu, Teng Ting-hou sedang minum arak di Thian-hok-lau, tamu-tamu diundang untuk menemani dia minum.”

Akhirnya Thio-gongcu menoleh ke arah Siau Ma, Siau Ma juga sedang mengawasinya. Kedua orang ini seperti ingin tertawa, tapi mereka tak dapat tertawa. “Kau atau aku yang pergi ke sana?” tanya Thio-gongcu. “Biar aku saja,” sahut Siau Ma.

“Mengundang Teng Ting-hou?” tanya Hiang-hiang.

“Tidak, mencari Bi Ku-cu (kera kulit), kera gendut yang mukanya lebih tebal dari tembok kota,” ujar Siau Ma dengan nada humor.

Hiang-hiang tidak paham. Lan Lan justru sudah paham, katanya, “Apakah Lo-bi menyamar jadi Teng Ting-hou?”

“Kalau bukan malah aneh,” kata Siau Ma.

Hiang-hiang berkata, “Teng Ting-hou adalah pendekar besar yang terkenal di kolong langit, siapa berani menyaru dia?”

“Lo-bi yang berani, setelah minum tiga kati arak, tiada persoalan di dunia ini yang tidak berani dia lakukan.”

Lan Lan protes, “Tadi kau bilang dia tidak punya kemampuan apa-apa, mana mungkin melakukan penyamaran?”

“Justru karena dia tidak punya kemampuan, maka perbuatan apapun berani dia lakukan, itulah keahliannya.”

* * *

Lo-bi tidak gendut, sudah tentu tidak mirip kera. Dia berpakaian wajar, wajah tampan tubuh tegap, siapa melihat dia akan merasa wajahnya memang mirip Teng Ting-hou dibanding Teng Ting-hou yang asli. Tapi waktu melihat Siau Ma muncul di restoran itu, sikapnya berubah seperti tikus melihat kucing, Siau Ma suruh dia ke timur, dia pasti tak berani lari ke barat.

Siau Ma berkata, “Hayo kita pergi ke Long-san.”

Dia langsung setuju, “Baik, kita berangkat ke Long-san.” “Kau tidak takut?” tanya Siau Ma.

Lo-bi menepuk dada, katanya, “Berkorban demi kawan tidak pernah kutakuti, apalagi pergi ke Long-san.”

Siau Ma tertawa, katanya, “Sekarang kau mengerti bukan?”

Lan Lan tertawa lebar. Dia sudah mengerti, orang ini memang seratus persen mirip kera gendut. Hanya satu yang belum dia pahami, “Kenapa kalian bilang dia tukang kulit?”

“Dia memang tukang kulit,” sahut Siau Ma. “Tapi kelihatannya dia tidak mirip tukang kulit.”

Thio-gongcu segera menjelaskan, “Soalnya tukang kulit yang satu ini berbeda dengan tukang kulit seperti diriku.”

“Dalam hal apa dia berbeda dengan kau?” tanya Lan Lan.

Thio-gongcu menjelaskan pula, “Aku adalah tukang tambal kulit.”

“Dan dia tukang apa?”

“Kalau dia kulit malas, kulit tebal.” Lo-bi tidak marah karena olok-olok itu, dengan tertawa dia berkata, “Kalau dua tukang kulit busuk seperti kami kumpul bersama, meski belum mampu mengalahkan Cukat Liang, tapi menandingi Co Coh, kami yakin cukup berlebihan.”

* * *

Siau Ma berangkat membawa dua tukang kulit, tiga nona cilik melindungi seorang gadis lemah yang takut ditiup angin dan seorang pemuda yang empas-empis karena sakit parah. Hari itu juga mereka berangkat, menempuh perjalanan ke arah selatan.

Kalau orang tahu mereka akan pergi ke Long-san yang lebih berbahaya dibanding sarang naga atau gua harimau, siapa pun akan bergidik dan mencucurkan keringat dingin. Akan tetapi Siau Ma justru tidak peduli.

Yang sakit duduk dalam tandu, tandu yang ditutup rapat, angin pun tak mungkin meniup masuk, bagaimana tampang dan keadaan orang yang sakit, Siau Ma tidak pernah melihatnya, namun dia rela mempertaruhkan jiwa untuk melindunginya.

Orang lain pasti berpendapat Siau Ma adalah orang bodoh, tapi dia tidak peduli pendapat orang lain. Asal dia senang, bila dia mau, urusan apapun boleh dia lakukan, perbuatan apapun berani dia lakukan, soal lain dia tidak peduli.

* * *

Langit membiru, cerah ceria, tiada mega di angkasa.

Dua buah tandu, tiga ekor keledai, keluar dari pintu barat kota. Mirip satu keluarga yang hendak bertamasya ke suatu tempat sejuk dan menyenangkan. Dengan membusungkan dada, langkah lebar dan tegap, Lo-bi berjalan paling depan, seolah-olah dialah yang menjadi pimpinan rombongan, tiga nona cilik itu semua mengenakan cadar untuk menutup muka mereka, semua menunggang keledai, sang ayah dan ibu duduk dalam tandu, sementara Siau Ma dan Thio-gongcu adalah kacung atau pesuruh mereka. Satu kacung cilik dan satu kacung tua, berpakaian lebih butut dibanding tukang pikul tandu.

Lan Lan bertanya kepada Siau Ma, kenapa dia tidak mau ganti pakaian baru, Siau Ma menjawab secara cekak, "Aku tidak mau ganti pakaian."

Kalau Siau Ma tidak mau melakukan, umpama dipenggal kepalanya, juga dia tetap menolak bertukar pakaian.

Rombongan ini menempuh perjalanan, menarik perhatian orang-orang di pinggir jalan, diam-diam mereka juga memperhatikan orang lain. Setiap orang yang mereka jumpai pasti diperhatikan. Lan Lan juga sering menyingkap kerai mengintip keluar, memperhatikan orang-orang yang hilir mudik di jalan raya. Kenyataan orang-orang yang hilir mudik di jalan raya tiada seorang pun yang perlu diperhatikan secara khusus, karena tempat ini masih jauh dari Long-san.

Saat itu mereka berada di Liong-bun. Liong-bun adalah sebuah kota kecil, namun kota satu-satunya dimana harus singgah sebelum mencapai Long-san.

Seorang yang berotak sehat dan normal, pasti tidak mau pergi ke Long-san. Umpama di tengah malam bermimpi buruk juga takkan bermimpi pergi ke Long-san.

Maka orang berkesimpulan, mereka yang lewat kota kecil ini, kalau bukan orang gila, pasti otaknya tidak normal, pikirannya miring, kalau bukan gelandangan miskin, pasti buaya darat atau bajingan gede. Oleh karena itu, kota kecil yang jauh terpencil keadaannya serba jorok dan bobrok.

Penduduk kota bukan tidak ingin pindah ke tempat lain, tiada orang yang tidak ingin mencari nafkah lebih baik, tapi mereka tidak bisa dan tidak berani pindah atau keluar dari kota itu.

Maka mereka yang tidak bisa keluar atau pindah dari kota kecil ini, kalau bukan terlalu miskin, tentu usianya sudah terlalu lanjut.

* * * * *

Seorang nenek reyot yang sudah ompong, membuka sebuah warung nasi dengan wajan yang sudah bolong untuk menggoreng telur. Di atas dinding ditempel kertas yang bertuliskan nama-nama menu yang tersedia di warung itu, masakan dan arak, anehnya menu yang tercantum di sini tidak kalah banyak ragamnya dibanding menu masakan restoran besar ternama di kota-kota basar.

Sebetulnya selera makan dapat dipenuhi, kecuali orang yang hampir gila karena sudah terlalu miskin, siapa pun takkan mau makan di tempat ini. Anehnya warung itu dikunjungi delapan tamu. Selintas pandang, bukan saja tidak miskin, dandanan dan sikap mereka kelihatan gagah, lagaknya cukup punya asal-usul.

Delapan orang ini seperti sudah ada janji, menjelang tengah hari satu per satu mereka datang dari arah yang berbeda, kelihatannya mereka menempuh perjalanan dengan tergesa-gesa, namun satu dengan yang lain jelas belum saling kenal sebelum ini.

Delapan orang duduk berpencar dalam warung setengah reyot ini, kursi dan meja yang tersedia di warung juga sudah miring dan tak kuat diduduki satu pantat manusia sekalipun, lucunya delapan orang itu saling tatap dengan pandangan melotot, semua membawa gaman, ada golok dan pedang atau senjata lainya, sorot mata mereka jelas mengandung makna permusuhan.

Anehnya lagi, delapan orang ini minta semangkok mi tite (kaki babi), setengah kati arak kuning, maklum kecuali kedua macam hidangan ini, warung kecil ini tidak mampu menyajikan hidangan yang lain.

Mi sudah berada di atas meja di depannya, demikian pula sepoci arak dengan sebuah cangkir di meja, tapi tiada seorang pun diantara mereka yang menggerakkan sumpit melalap bakmi. Karena kuah bakmi dalam mangkuk kelihatan jorok, lebih kotor dibanding air cuci pakaian, demikian pula bau araknya lebih kecut dibanding cuka.

Sementara nenek reyot yang ompong itu sudah tidak kelihatan batang hidungnya. Agaknya dia tidak peduli apakah para tamu mau makan atau tidak hidangan yang dia siapkan, karena permintaan sudah bayar lunas lebih dulu.

Nenek reyot itu ternyata tidak bodoh. Maklum, siapa saja setelah hidup setua dia, dalam kota yang serba kekurangan lagi, pengalaman hidup akan memojokkan dirinya menghalalkan cara, hanya orang jujur dan bodoh yang selalu diapusi orang dan terima hidup menderita dan dihina orang pula.

Agaknya dia sudah menduga kedatangan orang-orang ini pasti disengaja dan bukan bermaksud makan dan minum di warungnya. Lalu untuk apa orang-orang ini datang kemari? Dia sukar menerka, dia tidak peduli, juga tidak mau turut campur, walau dia sudah tua, rudin lagi peyot, tapi dia masih ingin hidup beberapa tahun lagi.

* * * * *