Kuda Binal Kasmaran Bab 02

 
Bab 02

Banyak persoalan tidak bisa diterka, tak bisa dipikirkan, kalau dibayangkan, bukan saja jantung bisa berdebar-debar, muka merah, tubuh menjadi panas dan terangsang.

Akan tetapi, banyak pula persoalan yang tidak perlu diterka, juga tak usah dipikir, karena siapa saja sudah maklum dan bisa menduga dengan betul.

Siau Ma adalah jejaka, laki-laki tulen, pemuda sejati yang gagah perkasa. Gadis itu adalah cewek yang lagi mekar dan menanjak dewasa, perempuan bak mawar yang lagi berkembang.

Siau Ma tidak bodoh, dia bukan banci, bukan pendeta, bukan Nabi.

Umpama betul dia seorang dungu, pasti merasakan bahwa cewek ini sengaja merayu dan membangkitkan nafsu birahinya, oleh karena itu ....

* * *

Oleh karena itu, Siau Ma tak mampu bergerak lagi, sekujur badannya lemas lunglai, sedikit tenaga pun tak mampu dikerahkan.

Demikian pula napas si dia cukup lama terhenti, sekarang baru mulai bernapas dengan tersengal-sengal, katanya, “Ternyata kau memang bukan manusia baik.” “Memang aku bukan orang baik, terutama bila berhadapan dengan cewek sejenismu.”

“Kau tahu aku ini siapa?” “Entah, aku tidak perlu tahu.” “Sedikitpun kau tidak tahu.”

“Aku hanya tahu, kau bukan orang baik, malah lebih bejat dari aku, seratus persen lebih rusak.”

Gadis itu cekikikan, katanya, “Tapi aku sudah tahu siapa kau.”

“Tahu menyeluruh?”

“Kau bernama Siau Ma, orang menyebut kau si Kuda Binal, kuda yang suka mengamuk, karena watakmu jelek, suka emosi.”

“Betul.”

“Kau punya sahabat karib bernama Ting Si. Ting Si si cerdik pandai.”

“Tidak salah.”

“Kalian seperti saudara kandung, tidak pernah berpisah, dimana ada dia, di situ ada kau. Tapi sekarang dia sudah punya bini, dia sudah kawin, suami isteri hidup tenteram bahagia, sudah tentu tak enak kau campur dengan mereka, apalagi hidup dalam satu rumah.” Siau Ma tidak menjawab, tidak memberi reaksi, namun sorot matanya tampak menderita.

Gadis itu berkata lebih lanjut, “Kau sudah punya teman perempuan, cewek idaman hatimu, kau yakin dia akan kawin denganmu, dia sudah siap menjadi binimu, sayang sekali kau selalu membawa adat jelek dan kasar, dia gusar dan jengkel, saking tak tahan dia minggat. Sudah tiga bulan kau mencarinya tanpa hasil, bukan saja tidak menemukan jejaknya, bayangannya pun tidak kau lihat.”

Siau Ma bungkam. Terpaksa dia tutup mulut, karena dia takut. Dia takut dirinya menangis tergerung-gerung, berteriak- teriak. Dia takut dirinya berjingkrak bangun menumbukkan kepala ke dinding.

“Aku she Lan,” di luar dugaan gadis ini memperkenalkan diri, “Namaku Lan Lan.”

Siau Ma berkata, “Aku tidak tanya siapa she dan namamu.” Karena hati sedang risau, tentu ucapannya juga kasar dan tidak enak didengar.

Sedikitpun Lan Lan tidak marah, katanya pula, “Ayah bundaku sudah meninggal, namun aku mendapat warisan harta benda yang tak ternilai besarnya.”

Siau Ma berkata, “Aku tidak ingin tahu dan tidak tanya riwayat hidup dan silsilah keluargamu, aku tidak ingin kawin dengan bini yang banyak uang dan harta.”

“Tapi aku kebacut menceritakan dan kau sudah mendengar.”

“Aku tidak tuli.” “Kau sudah tahu siapa aku dan orang macam apa diriku, aku pun sudah tahu orang macam apa dirimu.”

“Hm,” Siau Ma bersuara dalam mulut. “Sekarang silakan kau pergi.”

Siau Ma berdiri, mengenakan pakaiannya lalu beranjak keluar.

Lan Lan tidak menahan atau memanggilnya, sikapnya menunjukkan bahwa dia tidak merasa kehilangan atau dirugikan meski ditinggal pergi.

Di ambang pintu Siau Ma berhenti lalu menoleh, tanyanya, “Kau pemilik gedung ini?”

“Ehm,” Lan Lan manggut.

“Kau menyuruh mereka memanggilku kemari?” Lan Lan mengiakan.

“Kuhajar lima orangmu, dua botol arakmu kuhabiskan, main cinta denganmu ”

Lan Lan mengangkat tangan, tukasnya, “Aku tahu apa yang kau lakukan, tak usah kau ceritakan.”

“Kau berupaya dengan cara sembunyi-sembunyi memancing aku kemari, maksudmu supaya aku menghajar orangmu, minum arak dan main dengan kau?”

“Sudah tentu bukan.”

“Lalu apa tujuanmu mengundangku kemari?” “Semula memang ada keperluan.” “Dan sekarang?”

“Aku tidak ingin kau melakukannya.” “Kenapa?”

“Karena aku mulai tertarik kepadamu, tak tega aku menyuruh kau mengantar jiwa.”

“Mengantar jiwa? Mati maksudmu? Mati dimana?” “Di Long-san (gunung serigala).”

* * *

Namanya saja Long-san, sudah tentu banyak serigala di sana.

Berbagai jenis serigala, besar kecil, jantan maupun betina, yang hitam atau kelabu, berbagai jenis serigala yang ada di dunia semua ada di Long-san, serigala-serigala mengembara dan mencari makan ke seluruh pelosok dunia, bila ajal sudah menjelang, mereka akan pulang ke Long-san menunggu kematian.

Sudah tentu semua itu hanya dongeng. Memang tidak sedikit legenda di dunia ini yang mendekati dongeng, ada dongeng yang bagus, mengasyikan, misterius, ada juga dongeng yang menakutkan. Tapi tiada orang tahu apakah dongeng itu betul atau hanya isapan jempol belaka, susah orang menentukan bobot kebenarannya.

Orang hanya tahu satu hal. Sekarang seekor serigala pun tak ada lagi di Long-san.

Serigala di Long-san sudah punah. Dibunuh orang-orang yang bertempat tinggal di atas Long-san. Maka dapat kita simpulkan, bahwa manusia di atas Long-san tentu lebih menakutkan dibanding serigala. Kenyataan memang demikian, setiap manusia yang tinggal di Long-san memang jauh lebih menakutkan dibanding segala binatang buas, liar maupun beracun.

Maklum mereka bukan membunuh serigala saja, manusia juga mereka bantai. Manusia yang pernah mereka bunuh jauh lebih banyak dibanding serigala yang pernah ada di atas gunung itu.

Orang-orang Kangouw memberi julukan yang menggiriskan ‘Long-jin’, manusia serigala. Mereka senang menerima julukan ini. Mereka senang bila manusia takut terhadap mereka.

* * *

Setelah mendengar ‘Long-san’, Siau Ma tak jadi pergi, malah beranjak balik ke dekat ranjang, dengan tajam mengawasi Lan Lan.

“Kau tahu tempat apa Long-san itu?”

“Aku tidak tahu, kenapa aku harus mengantar kematian ke Long-san.”

“Karena kau harus melindungi kami ke sana.” “Kalian?”

“Kami yang kumaksud adalah aku dan adikku.” “Kalian ingin ke Long-san?” “Ya, harus ke sana.”

“Kapan kalian akan  berangkat?” “Begitu terang tanah lantas berangkat.”

Siau Ma duduk di pinggir ranjang, lama dia menatapnya, lalu berkata, “Kabarnya orang yang banyak duit sering kali punya pikiran yang tidak normal.”

“Duitku memang banyak, tapi aku seorang normal, gadis segar bugar.”

“Kalau kau orang normal, kenapa ingin pergi ke tempat celaka itu?”

“Karena Long-san adalah jalan pendek.” “Jalan pendek?”

“Kalau pergi ke Se-ek, lewat Long-san sedikitnya menghemat tujuh hari perjalanan.”

“Jadi kalian ingin lekas sampai di Se-ek?”

“Adikku sakit, sakitnya cukup parah, kalau dalam tiga hari tak bisa tiba di Se-ek, jiwanya takkan mungkin ditolong lagi.”

“Tapi kalau lewat Long-san, mungkin seumur hidup dia tak bisa tiba di Se-ek.”

“Aku tahu.” “Kau ingin bertaruh dengan nasib?” “Tiada jalan lain yang bisa kulakukan.”

“Ada orang Se-ek yang bisa menyembuhkan penyakit adikmu?”

“Ya, ada seorang.”

Siau Ma berdiri, lalu duduk lagi, agaknya dia kehabisan akal.

Lan Lan berkata, “Sebetulnya aku bisa mengundang Piausu terkenal, tapi urusan amat mendesak, aku hanya berhasil mengundang seorang.”

“Siapa?”

Lan Lan menghela napas, katanya, “Sayang sekali orang itu sudah tidak terhitung manusia lengkap.”

“Kenapa?”

“Karena kau sudah menghajarnya, ingin berdiri juga tidak mampu.”

“Lui-lohou?”

Lan Lan tertawa getir, katanya, “Semula kami beranggapan Ngo-hou-toan-bun-to yang diyakinkan cukup ampuh. Siapa tahu berhadapan dengan engkau, macan garang itu menjadi kucing penyakitan.”

“Lalu kau mengundangku.” “Aku tahu watakmu kasar, otakmu seperti kerbau, kalau kuundang secara pantas, kau pasti tak mau datang. Apalagi keadaanmu terakhir ini cukup menguatirkan.”

Siau Ma berdiri, matanya melotot, katanya dingin, “Kuharap kau ingat satu hal.”

Lan Lan diam, dia mendengarkan.

“Bagaimana keadaanku, menguatirkan atau tidak adalah urusanku, tiada sangkut pautnya dengan kau.”

“Baik, selalu kuingat.” “Bagus sekali.”

“Apa maksudnya bagus sekali?”

“Maksudnya bahwa sekarang kau sudah menemukan seorang yang akan melindungi dirimu.”

Lan Lan berjingkrak bangun, menatapnya dengan pandangan terbelalak girang, serunya, “Kau menerima permintaanku?”

“Kenapa aku tidak boleh menerima?”

“Kau tidak takut berhadapan dengan manusia serigala?” “Sedikit takut.”

“Tapi kau tidak takut mati?”

“Siapa tidak takut mati? Hanya orang pikun yang tidak takut mati.” “Lalu kenapa kau berani ke sana?” “Aku punya ciri khas.”

“Ya, ciri khasmu ada tiga ribu tujuh ratus delapan puluh tiga.”

“Tidak, tepatnya tiga ribu tujuh ratus delapan puluh empat.”

“Jadi sekarang tambah satu?”

“Ya, tambah satu yang paling fatal.” “Tambah satu apa?”

Mendadak Siau Ma memeluk serta membopongnya, katanya, “Satu yang begini.”

* * * Halimun masih menyelimuti mayapada.

Sinar surya sudah menyorot masuk lewat jendela, kulit badannya putih halus, semulus sutra.

Lan Lan mengawasinya. Siau Ma diam dan bungkam, hanya laki-laki sejenis dia, di kala hatinya risau, menderita, maka dia akan diam dan bungkam seribu basa.

Maka Lan Lan bertanya, “Apakah kau teringat kepadanya?

Teringat cewek yang minggat karena kau buat gusar itu?” Siau Ma diam. “Kau mau membantu aku, apakah lantaran aku dapat menghibur kau sehingga sementara kau dapat melupakan dia?”

Tiba-tiba Siau Ma balik menindih tubuhnya, jari-jarinya mencekik leher Lan Lan. Hampir saja Lan Lan tak bisa bernapas, tapi ia meronta sekuatnya, serunya, “Seumpama aku salah omong, tak perlu kau marah kepadaku?”

Siau Ma menatapnya, derita yang terpancar di rona matanya tambah mendalam, namun jari-jarinya mengendor, katanya keras, “Kalau kau salah omong, paling kuanggap kau sedang kentut, kenapa aku harus marah?” Dia marah, karena dia telah mengorek isi hatinya. Derita yang terukir di relung hatinya memang sukar dilupakan. Seumpama dapat melupakan meski hanya sekejap juga mendingan.

Dia suka tertawa latah, senang menangis, sering mabuk, tujuannya hanya ingin sekedar mencari pelarian di kala dirinya lupa daratan. Siau Ma tahu kenyataan ini susah dihindari, dia maklum bila dirinya sadar hanya akan menambah derita batinnya. Sayang dia tidak punya pilihan.

Waktu Lan Lan balas menatapnya lagi, kerlingan matanya sudah lebih lembut, welas asih, mengandung daya cinta kasih seorang ibunda yang simpati terhadap asuhannya. Kini dia sudah mulai mengenalnya, menyelami jiwanya.

Dia gagah perkasa, pongah dan kukuh, sekujur badannya seperti mempunyai kekuatan untuk berontak, tapi dia tidak lebih hanya seorang anak yang perlu dikasihani. Tak tertahan Lan Lan memeluknya, menciumnya. Tapi dia sadar hari sudah terang tanah, sinar mentari sudah menyorot ke dalam kamar. “Kita harus berangkat pagi-pagi,” ucap Lan Lan sambil duduk. “Di sini ada dua tiga puluh centeng, pernah meyakinkan Kungfu, kau boleh pilih beberapa di antaranya.”

“Sekarang juga aku sudah pilih satu.” “Siapa?”

“Hiang-hiang.”

“Kenapa harus membawa dia?”

“Karena dia harum, benar-benar harum.” “Memangnya kenapa kalau harum?”

“Aku senang orang yang harum baunya, kan lebih baik dari yang berbau apek.”

* * * Cahaya mentari cerlang-cemerlang.

27 laki-laki berdiri berjajar di bawah sinar matahari, ada yang telanjang dada, kepala plontos, dengan kulit muka coklat mengkilap berminyak.

“Aku she Cui bernama Thong,” laki-laki pertama memperkenalkan diri. “Yang kuyakinkan adalah Toa-ang-kun.”

Toa-ang-kun adalah kungfu yang amat populer di kalangan Kangouw, ilmu silat yang umum diyakinkan oleh orang-orang yang suka cari duit, tapi Cui Thong dapat bermain dengan bagus, gerak tangan dan kakinya menderu penuh tenaga.

“Bagaimana?” tanya Lan Lan. “Bagus sekali.” “Maksudmu ”

Siau Ma manukas, “Bagus sekali yang kumaksud adalah dia boleh beristirahat di rumah.”

Orang kedua bernama Ong Ping, murid preman Siau-lim-si, ternyata mahir memainkan Hu-hou-lo-han-kun.

“Bagus sekali,” kembali Siau Ma memberi komentar dengan nada datar. Sebelum Lan Lan bertanya, dia sudah menjelaskan, “Maksudku adalah supaya dia memukulku sekali.”

Ong Ping bukan laki-laki yang suka bermuka-muka, laki- laki kasar yang berangasan. Sejak pertama kedatangan Siau Ma, dia sudah merasa sebal dan dengki. Umpama Siau Ma suruh dia memukul sepuluh kali juga pasti dilaksanakan tanpa sungkan.

Disuruh memukul, tinjunya lantas menghantam, jurus tinjunya menggunakan gerakan berat dari Siau-lik-lo-han-kun, “Blang” dengan telak dada Siau Ma dipukulnya. Begitu tinju mengenai dada, seorang seketika melolong kesakitan. Yang menjerit bukan Siau Ma, tapi Ong Ping sendiri malah.

Orang yang dipukul tidak mengeluh, si pemukul malah menjerit kesakitan, maklum tinjunya seperti menggenjot batu cadas. Siapa saja, betapapun keras tinjunya kalau memukul batu, tentu tinju sendiri akan merasa sakit, yakin dapat dihitung jumlah orang yang memiliki tinju lebih keras dari batu di dunia ini.

“Bagaimana?” tanya Siau Ma mengawasi Lan Lan. Lan Lan menyingkir getir, katanya, “Kurasa dia juga harus menemani Cui Thong istirahat di rumah.”

Siau Ma berkata, “27 orang-orangmu ini kurasa biar istirahat saja di rumah.”

“Lho, seorang pun tidak kau bawa?” “Aku tidak ingin mengantar kematian.” “Lalu kau ingin mengajak siapa?”

“Akan kubawa dua orang yang hari ini tidak muncul.” “Siapa yang tidak muncul hari ini?”

“Hari ini memang tidak muncul, tapi semalam mereka menyergap aku, seorang malah menusuk pantatku.”

“Kau pun telah menghajar mereka setiap orang satu pukulan, memangnya kau masih penasaran? Kau masih ingin mengumbar marah kepada mereka?”

“Sebetulnya aku benci terhadap orang yng membokong secara gelap. Tapi untuk menghadapi manusia serigala, manusia jenis mereka justru paling berguna.”

Lan Lan menghela napas, katanya, “Kenapa yang kau pilih semuanya anak perempuan?”

Siau Ma melengak, tanyanya, “Jadi mereka perempuan?”

Lan Lan tertawa, ujarnya, “Bukan saja perempuan, mereka juga harum sekali.” Siau Ma tertawa lebar, katanya, “Bagus sekali, baiklah, maksudku kali ini ialah baik sekali.”

“Hanya satu hal yang tidak baik.” “Hal apa tidak baik?”

“Wajah mereka bengkak oleh pukulanmu, walau orangnya masih harum, tapi wajah mereka mirip congor babi.”

Sebetulnya kedua gadis itu tidak mirip congor (moncong) babi. Seorang gadis berusia tujuh belas berwajah cantik,  meski mukanya dipukul bengkak, bagaimana juga tampangnya takkan mirip congor babi.

Sungguh di luar dugaan bahwa pembokong yang menyerang secara keji dengan ilmu pedang gabungan yang telengas, pelakunya adalah nona-nona cilik berusia tujuh belasan. Mereka adalah kakak beradik. Sang taci bernama Cen Cen, adiknya bernama Cen Cu, bola mata kedua nona jelita ini memang mirip mutiara.

Setelah melihat wajah mereka, Siau Ma amat menyesal, menyesal bahwa tinju yang bersarang di wajah kedua nona ini dilontarkan terlalu keras.

Waktu Cen Cen berdua berhadapan dengan Siau Ma sorot matanya menampilkan rasa gusar dan penasaran. Tapi berbeda dengan sikap sang adik, walau wajahnya bengkak, dia masih selalu tertawa, senyumannya masih manis menggiurkan.

Setelah kedua orang ini mengundurkan diri, Siau Ma bertanya, “Bagaimana kau mengundang kakak beradik ini?” “Kau saja dapat kucari dan kuundang kemari, apalagi mereka,” sahut Lan Lan tertawa.

“Mereka murid aliran mana?” tanya Siau Ma.

“Apa mereka juga tanya kau murid dari aliran mana?” “Tidak.”

“Kalau tidak, kenapa kau ingin tahu mereka darimana?

Siau Ma mengawasinya sejenak, mendadak terasa olehnya gadis ini makin misterius, jauh lebih misterius dari gadis-gadis mana pun yang pernah dia lihat.

Lan Lan bertanya pula, “Kecuali mereka kakak beradik dan Hiang-hiang, siapa lagi yang ingin kau ajak?”

“Pertama, aku ingin mengajak seorang yang punya telinga tajam.”

“Kemana kau akan mencarinya?”

“Aku tahu di kota ada satu, orang ini dapat mendengar seorang berbisik dalam jarak tiga puluh tombak.”

“Siapa dia?”

“Orang ini bernama Thio-gongcu, Thio-gongcu si tukang tambal sepatu di kota itu.”

Lan Lan mengira telinganya kurang jelas mendengar, tanyanya, “Kau bilang siapa namanya?”

“Namanya Thio-gongcu (Thio si tuli).” “Kuharap dia tidak benar-benar tuli.” “Justru tuli seratus persen.”

Lan Lan berjingkrak, serunya, “Kau bilang orang yang punya telinga paling tajam pendengarannya justru seorang tuli?”

“Tapi aku berani bertaruh, setiap patah katamu dapat dia dengar dengan betul.”

Lan Lan menghela napas, katanya, “Kelihatannya kau ini abnormal, kalau tidak tentu gila.”

Siau Ma tertawa, tawa penuh arti, katanya, “Kalau kau tidak percaya, kenapa tidak kau panggil kemari, silakan coba sendiri.”

* * *

Thio-gongcu juga bernama Thio-bi-kang. Kerja Thio-bi- kang adalah menambal atau mereparasi sepatu, kalau ada orang mengundangnya untuk memperbaiki sepatu, Thio-bi- kang pasti segera datang.

Demikian pula hari ini. Thio-bi-kang datang lebih cepat dari yang diduga semula.

Waktu dia melangkah masuk, di belakang pintu bersembunyi enam orang yang siap dengan gembreng besar, begitu kaki Thio-bikang melangkah masuk, enam gembreng ditabuh serentak dengan suaranya yang gaduh dan ramai.

Dapat bayangkan, betapa pekak telinga seorang kalau mendadak enam gembreng sekaligus ditabuh di depannya, seorang tuli juga akan semaput dibuatnya. Akan tetapi Thio-gongcu tetap tenang tanpa reaksi, mengedip mata pun tidak. Dia memang benar-benar seorang tuli. Tuli seratus persen.

Pendopo itu luas lagi panjang. Lan Lan duduk di pojok yang paling jauh, jaraknya dari pintu sedikitnya ada dua puluh tombak. Begitu masuk pintu Thio-gongcu lantas berdiri tegak.

Lan Lan mengawasinya, tanyanya dengan suara merdu, “Kau bisa memperbaiki sepatu?”

Thio-gongcu manggut-manggut.

“Kau she apa?” tanya Lan Lan, “darimana? Siapa keluargamu?”

Thio-gongcu lantas menjawab, “Aku she Thio, asal Holam, istri sudah mati, putri sudah menikah, di rumah tinggal seorang diri.”

Lan Lan terbeliak di tempat duduknya. Suaranya lirih, jarak mereka ada 20 tombak, tapi setiap patah pertanyaan terdengar oleh Thio si tuli dan dijawab dengan betul.