Kuda Binal Kasmaran Bab 01

 
Bab 01

Tanggal 11 bulan 9. Hari kedua setelah hari raya Cong- yang. Cuaca cerah ceria.

Hari ini bukan hari raya, bukan hari besar juga bukan hari istimewa. Tapi hari paling mujur bagi Siau Ma alias si Kuda Binal, hari paling mujur dalam jangka tiga bulan belakangan ini.

Hari ini Siau Ma hanya berkelahi tiga kali, tiga babak, tubuhnya hanya kena sekali bacokan golok. Luar biasanya adalah sampai saat ini masih belum mabuk.

Malam telah larut, Siau Ma masih berjalan tegap dan kuat dengan kedua kakinya, ini kejadian luar biasa, kalau tidak mau dikata keajaiban.

Bagi orang lain setelah minum arak sebanyak itu, terluka oleh bacokan golok lagi, apa yang dilakukan kecuali telentang di tanah merintih dan meregang jiwa menunggu ajal.

Bagi ukuran Siau Ma, bacokan golok itu tidak dirasa berat, padahal kalau bacokan golok itu ditujukan ke batang pohon sebesar paha, pasti pohon itu roboh terpotong jadi dua, coba bayangkan betapa parah luka yang diderita Siau Ma.

Serangan golok itu tidak cepat, namun pemilik golok itu mahir membelah seekor lalat yang sedang terbang di udara, malah bukan hanya seekor lalat yang berhasil dipotongnya.

Jikalau peristiwa ini terjadi tiga bulan kemudian, meski ada tiga atau lima batang golok membacok tubuhnya, Siau Ma dapat merampas satu dua batang, menendang satu dua batang di antaranya, sisanya yang sebatang dengan mudah dia patahkan jadi dua potong. Bahwa hari ini si Kuda Binal hanya terkena satu bacokan golok, bukan lantaran tidak mampu berkelit, tidak bisa menghindar, juga bukan karena dia mabuk.

Dia terbacok karena ingin merasakan bacokan golok lawan, ingin menikmati bagaimana rasa dan betapa nikmat bacokan golok Peng-lohou dari Ngo-hou-toan-bun-to yang terkenal lihai itu.

Bacokan itu tentu tidak enak, tidak nikmat, sampai sekarang, bacokan golok di tubuhnya itu masih mengalirkan darah.

Maklum, baja tajam yang beratnya empat puluh tiga kati, kalau membacok tubuh orang, orang itu pasti celaka. Manusia mana yang mau dibacok golok dengan percuma.

Tapi Siau Ma senang, dia gembira. Peng-lohou yang membacok dirinya malah celentang tak bergerak di tanah. Karena saat goloknya membacok Siau Ma, untuk sementara bocah ini bisa melupakan penderitaan lahir batin. Siau Ma memang sengaja menyiksa diri, supaya dirinya menderita. Dengan cara apa saja dia ingin melupakan derita batinnya.

Dia tidak takut mati, tidak takut miskin, biar dunia kiamat, langit ambruk menindih kepalanya juga tidak peduli. Akan tetapi derita batin yang satu ini, membuatnya sengsara.

* * *

Bulan purnama menyinari jalan raya nan sunyi hening, lampu sudah dipadamkan, penduduk sudah tidur lelap, kecuali Siau Ma seorang, di jalan raya tidak kelihatan bayangan manusia. Dari kejauhan, mencongklang datang sebuah kereta kuda yang besar. Kuda gagah dan tegap, kereta megah dan baru, kabin kereta kelihatan bersih mengkilap seperti kaca, tempat duduknya baru dan empuk. Enam laki-laki kekar duduk berdesakan di tempat kusir, yang memegang tali kendali mengayun cemeti panjang di tangannya, “Tar” suaranya menggelegar di udara malam nan lelap.

Bukan saja tidak melihat, seolah-olah Siau Ma juga tidak mendengar datangnya kereta yang dicongklang cepat di jalan raya. Di luar dugaan, kereta besar itu mendadak berhenti tak jauh di depannya, enam laki-laki berpakaian hitam yang duduk di tempat kusir serentak melompat turun merubung sambil melotot, mendelik gusar, gerak-gerik mereka cukup gesit dan cekatan. Seorang yang berdiri paling depan bertanya sambil menatap tajam, “He, kau ini Siau Ma yang suka mengajak orang berkelahi itu?”

Siau Ma mengangguk, sahutnya, “Betul, kalau kalian ingin berkelahi, carilah diriku.”

Orang-orang itu mendengus ejek, jelas Siau Ma dianggap kucing yang sedang mengantuk dan tidak dipandang sebelah mata oleh mereka, katanya, “Sayang sekali, kedatangan kami bukan untuk berkelahi dengan kau.”

“O, bukan untuk berkelahi?” Siau Ma menegas. “Kami harap kau mau ikut kami sebentar,” kata salah

seorang.

Siau Ma menghela napas, kelihatannya dia amat kecewa.

Enam orang itu juga bersikap kecewa, seorang yang berdiri di kanan mengeluarkan selembar kain hitam, katanya, “Kau tahu kami bukan orang-orang yang takut berkelahi, soalnya majikan ingin bertemu dengan kau, tugas kami membawamu pulang dalam keadaan segar bugar, jikalau lenganmu putus atau pahamu buntung, majikan kami tentu kurang senang.”

“Siapa majikan kalian?” tanya Siau Ma.

“Setelah berhadapan, tentu kau tahu siapa beliau,” sahut seorang laki-laki.

“Kain hitam ini untuk apa?” tanya Siau Ma. “Kain hitam untuk menutup mata.” “Menutup mata siapa?” tanya Siau Ma pula. “Sudah tentu menutup matamu.”

“Supaya aku tidak tahu kemana kalian membawaku?” “Agaknya kau sudah pintar.”

“Kalau aku tidak mau ikut?”

Orang-orang itu menyeringai bersama, seorang di antaranya membalik tubuh, tinjunya menggenjot sebuah balok batu peranti mengikat kendali kuda di pinggir jalan. “Duk” balok batu sebesar paha itu dipukulnya patah menjadi dua.

“Wah, hebat, lihai sekali,” teriak Siau Ma.

Laki-laki itu mengelus tinjunya, katanya congkak, “Kalau kau tahu betapa lihai tinjuku, maka ikutlah kami pulang.”

“Tanganmu tidak sakit?” tanya Siau Ma. Sikapnya amat prihatin, sehingga laki-laki itu lebih bangga. Seorang laki-laki lain, mendadak mendekam, kaki pun menyapu, balok batu yang terpendam hampir dua kaki itu seperti dicabut dan dilempar begitu saja oleh kakinya yang menyapu dengan kuat.

Siau Ma lebih kaget, teriaknya, “Kakimu tidak sakit?”

Laki-laki itu berkata, “Kalau kau tidak mau ikut kami, kalau kaki tangan tidak patah, tubuhmu akan babak belur!”

“Bagus sekali,” seru Siau Ma.

“Apa maksudnya bagus sekali?” tanya laki-laki itu. “Maksudnya, sekarang aku akan ajak kalian berkelahi,”

sahut Siau Ma.

Baru saja mulut bicara, tinjunya lantas menggenjot hancur hidung seorang, sekali tampar pula dia bikin telinga seorang menjadi tuli, begitu sikutnya menyodok, lima tulang rusuk orang di belakangnya patah, sekali kaki menendang, seorang dibuatnya mencelat ke udara, seorang lagi selangkangannya kena sepak, kontan dia menungging sambil mendekap anunya, air mata, liur dan keringat dingin bertetesan, tubuhnya basah kuyup, celananya pun basah dan bau pesing.

Lima dari enam orang roboh tak berkutik hanya dalam segebrak, tinggal seorang saja yang berdiri di hadapannya, tubuh orang inipun basah oleh keringat dingin.

Siau Ma memandangnya kalem, katanya, “Sekarang kalian masih ingin memaksa aku ikut kalian?”

Laki-laki yang masih utuh ini segera geleng kepala, geleng sekuatnya dan tidak berhenti kalau Siau Ma tidak segera bersuara lagi. “Bagus sekali,” ucap Siau Ma. Laki-laki itu tak berani bersuara.

“Kenapa tidak kau tanya apa maksud ‘bagus sekali’?” “Aku ... Siaujin ”

“Kau tidak berani bertanya?”

Laki-laki itu manggut-manggut, manggut-manggut ketakutan.

Siau Ma menarik muka, mata pun melotot, katanya, “Tidak berani tanya, kalau tidak tanya kuhajar kau.”

Laki-laki itu mengeraskan kepala, mulutnya tergagap, bibir gemetar, “Apa maksudnya bagus sekali?”

Siau Ma tertawa lebar, katanya riang, “Maksudnya aku mau ikut kalian.” Segera ia ulur tangan membuka pintu siap naik kereta, namun mendadak ia berpaling, “Bawa kemari.”

Laki-laki itu berjingkrak kaget, serunya,”Apa bawa apa?”

“Bawa kain hitam itu kemari, untuk menutup mataku.”

Tersipu laki-laki itu menutup matanya dengan kain hitam. “Bukan menutup matamu, menutup mataku,” seru Siau

Ma.

Laki-laki itu mengawasinya terbelalak, bingung tidak mengerti, apakah laki-laki ini edan atau sinting, sedang mabuk atau mengigau? Siau Ma tidak sabar, dia rebut kain hitam itu menutup mata sendiri, lalu melompat ke kabin kereta dan duduk di atas sofa yang empuk sambil menghela napas lega, katanya, “Menutup mata dengan kain hitam, ternyata lebih nyaman lagi nikmat.”

* * * Siau Ma tidak gila, juga tidak mabuk.

Kalau seorang memaksa dia melakukan sesuatu yang tak ingin dia lakukan, umpama menusuk bolong delapan lubang di badannya pun akan ditolaknya dengan tegas. Selama hidup, dia senang melakukan apa yang ingin dia lakukan, rela melakukan, tidak mau dipaksa.

Kalau dia mau naik kereta mewah ini, karena dia beranggapan, persoalan yang sedang dihadapinya bukan saja misterius, juga menarik hatinya.

Sekarang umpama ada orang berani melarang dia pergi, tidak boleh naik kereta, orang itu tentu dihajarnya juga.

Waktu kereta bergerak, Siau Ma sudah menggeros dalam kereta yang lebar dan empuk itu, begitu lelap dia tidur seperti babi layaknya. “Bila sudah sampai tujuan baru kau bangunkan aku, siapa menggangguku di tengah jalan, kepalanya akan kugencet biar remuk.”

Tiada orang berani mengganggu tidurnya, maka di kala dia terjaga, kereta sudah berhenti di sebuah pekarangan yang besar.

Siau Ma bukan laki-laki kampungan yang belum pernah melihat keramaian, bukan orang yang tidak luas pergaulannya, tapi seingatnya, selama hidup ini, belum pernah dia melihat tempat seindah, megah seperti ini, dia kira dirinya berada di kahyangan.

Tapi enam laki-laki itu membuka pintu, lalu berdiri berjajar di depan pintu menyambut dia turun dari kereta.

Siau Ma berkata, “Perlu tidak kain hitam ini menutup mataku lagi?”

Enam orang itu saling pandang tanpa berani buka suara.

Tanpa menunggu jawaban, Siau Ma menutup matanya lagi dengan kain hitam itu, karena dia merasa cara ini lebih mengejutkan, lebih misterius rasanya, malah diliputi khayalan.

Pernah Siau Ma mendengar dongeng, di zaman dulu ada sementara putri raja atau pembesar yang romantis, suka menculik pemuda gagah ganteng di tengah malam buta rata di tengah kraton, untuk menghibur dirinya.

Siau Ma tidak terhitung laki-laki tampan, tapi dia masih muda lagi gagah, perkasa dan pemberani, apalagi wajahnya tidak jelek.

Seorang mengulur sebatang tongkat ke tangannya lalu diseret ke depan, seperti orang buta saja dia ikut mereka beranjak ke depan. Naik turun, belak-belok, entah berapa jauh mereka berjalan, akhirnya memasuki sebuah rumah yang penuh bau harum.

Sukar Siau Ma membedakan bau harum itu, namun dia yakin bau harum semacam ini belum pernah dia menciumnya selama hidup. Cuma satu harapannya, bila kain yang menutup matanya ditanggalkan, dia bisa melihat dan berhadapan dengan seorang cewek ayu yang belum pernah dilihatnya selama ini.

Di saat pikiran melayang hati gembira itulah, mendadak dua jalur angin tajam datang dari depan dan belakang menusuk ke arah dirinya, betepa cepat serangan ini, belum pernah dia menghadapinya.

* * *

Sejak kecil Siau Ma suka berkelahi, kalau sehari tidak berkelahi, badan terasa pegal linu malah. Terutama tiga bulan belakangan ini, rekor berkelahinya boleh dikata lebih banyak tiga ratus kali lipat dibanding jago berkelahi selama hidupnya.

Dalam hal minum arak Siau Ma juga tidak terlalu rewel, arak apa saja, Mo-tai boleh, Ciu-yap-ceng juga baik, anggur atau arak juga tidak jadi soal, sampaipun tuak atau legen yang murah harganya juga dapat menghibur dirinya.

Demikian pula dalam berkelahi.

Kalau hati sedang risau, bila ada orang menantang dan mengajaknya berkelahi, peduli siapa lawannya juga pasti dihadapinya. Umpama lawannya anak raja juga akan dihajar lebih dahulu, perkara belakangan, umpama bukan tandingan lawan, meski adu jiwa juga akan dihadapinya dengan gagah berani.

Jago-jago kosen pernah dia hadapi, jarang ada tokoh besar, pendekar atau penjahat manapun yang bisa menandingi dirinya, punya pengalaman berkelahi seperti dirinya. Hanya mendengar sambaran angin tajam, Siau Ma tahu dua orang yang membokong dirinya adalah jago kosen kelas wahid di kalangan Kangouw, jurus serangan yang dilakukan bukan saja cepat lagi telak, juga keji dan telengas.

Walau dia menderita, tersiksa lahir batin, begitu besar rasa deritanya sehingga kalau bisa dilancarkan ingin menghajar diri sendiri tiga ratus kali tempelengan. Tapi dia belum ingin mati, apalagi mati secara konyol.

Siau Ma masih ingin hidup, masih ingin melihat orang- orang yang amat dia rindukan, tapi juga orang yang membuatnya menderita dan tersiksa selama hidup. Cewek ayu yang dingin, romantis tapi tega. Kenapa laki-laki sering menderita lantaran cewek yang dipujanya? Kenapa dia menderita karena cewek yang mestinya tidak pantas dia rindukan, tidak setimpal jadi bininya hingga dia harus tersiksa lahir batin?

* * *

Angin tajam dua ujung senjata runcing yang menderu di udara itu mengancam pinggang dan ulu hatinya. Serangan yang mematikan dengan senjata yang mematikan pula.

Mendadak Siau Ma menggembor, meraung seperti singa jantan yang mengamuk, di tengah raung kemurkaan itulah tubuhnya melejit ke udara. Bukan menghindari serangan dari belakang, senjata tajam yang dingin itu bukan menusuk pantatnya. Pantat bukan sasaran yang mematikan, hal ini dia tidak pedulikan. Tapi dia meluputkan diri dari serangan depan yang mengancam ulu hati, begitu tinjunya bekerja dengan telak dia menghajar muka orang.

Siau Ma tidak melihat jelas sasaran mana yang kena di muka lawan, hakikatnya dia tidak sempat menarik kain hitam yang menutup matanya. Tapi telinganya bekerja secara normal, suara tulang retak terpukul tinjunya, dia mendengar jelas sekali. Suara retak tulang karena kena jotosan jelas kurang menyenangkan kalau tidak mau dikata cukup menggiriskan, tapi suara itu justru menggembirakan Siau Ma.

Dia paling benci terhadap manusia rendah yang membokong, orang yang membunuh lawan secara gelap.

Padahal pantat kanannya tertusuk senjata lawan, tulang pantatnya seperti hampir patah oleh tusukan itu, sakitnya juga luar biasa, tapi Siau Ma tidak peduli. Begitu membalik tubuh, tinjunya juga terayun ke belakang dan telak memukul wajah pembokongnya, pukulannya jelas tidak enteng.

Pembokongnya ini adalah dua jago kosen yang sudah banyak pengalaman dan berkepandaian tinggi, namun mereka terpesona dan bergidik menghadapi perlawanan Siau Ma yang luar biasa ini. Bukan terpukul semaput, tapi terpesona karena kaget dan kagum.

Belum pernah mereka lihat atau menghadapi adu jiwa seperti yang dilakukan Siau Ma, mendengar juga belum pernah, umpama pernah dengar juga pasti tidak percaya. Oleh karena itu, bila Siau Ma meraung untuk kedua kalinya, kedua orang ini segera angkat langkah seribu, lebih cepat mereka melarikan diri dibanding dua ekor kelinci yang kena panah.

Siau Ma mendengar lambaian pakaian mereka di saat menerobos keluar jendela, tapi dia tidak mengejar. Dia sedang tertawa besar. Luka tusuk pedang kembali menghias tubuhnya, walau luka di pantatnya cukup dalam, tapi dia masih tertawa dengan riang gembira.

Kain hitam yang menutup matanya belum dia tanggalkan, Siau Ma tidak tahu apakah dalam rumah ada orang lain yang mengintai dirinya dan siap membokong lagi, dia tidak peduli, sedikitpun tidak peduli.

Bila dia ingin tertawa, dia akan tertawa bebas. Seorang kalau ingin tertawa tapi tidak bisa tertawa lalu apa makna hidupnya ini.

Kini Siau Ma berada di sebuah gedung yang mewah perabotnya, di kala matanya masih tertutup kain hitam, hakikatnya tidak pernah terpikir dalam benak Siau Ma bahwa rumah ini sedemikian besar lagi mentereng.

Kini dia sudah menarik kain hitam yang menutup matanya.

Dia tidak melihat bayangan seorang pun. Cewek paling ayu atau perempuan paling jelek tiada seorang pun yang kelihatan, sepi lengang, angin menghembus sepoi dari  jendela, membawa bau harum semerbak. Dari jendela besar di sebelah kanan itulah dua orang pembokong dirinya tadi melarikan diri. Di luar malam pekat, tak terdengar suara manusia.

Siau Ma berduduk. Karena tidak mengejar kedua orang pembokong dirinya, dia pun tidak ingin lari atau menyingkir dari tempat itu, namun dia memilih sebuah kursi besar yang paling empuk dan enak lalu duduk dengan santai.

Siapakah majikan orang-orang baju hitam itu? Kenapa mengundang dirinya kemari dengan cara yang luar biasa? Kenapa ada pembokong dirinya? Setelah gagal usaha pertama, apakah akan dilanjutkan usaha kedua?

Dengan cara keji apa pula mereka akan membokong dirinya? Semua hal ini tidak pernah Siau Ma risaukan. Karena itu ada sementara orang bilang, Siau Ma lebih suka menggerakkan tinju daripada menggunakan otaknya. Peduli apa aksi selanjutnya dari majikan yang terselubung dalam persoalan ini, cepat atau lambat pasti akan keluar, akan mengunjukkan diri. Kalau tinggal menunggu saatnya saja, kenapa Siau Ma harus merisaukan hal ini, lebih baik duduk di kursi empuk melepas lelah dengan santai, bukankah cara ini lebih melegakan.

Satu hal yang harus disesalkan adalah, walau kursi itu empuk dan nyaman, tapi pantatnya amat nyeri dan sakit. Tusukan pedang pembokong tadi sebetulnya memang tidak enteng.

Di saat dia celingukan mencari arak di rumah besar itu, di luar berkumandang percakapan orang.

* * *

Ada dua pintu di rumah besar ini, di depan dan di belakang, suara percakapan berkumandang di balik pintu belakang itu.

Suara percakapan perempuan, dari suaranya yang merdu dapat dipastikan yang bicara adalah cewek-cewek jelita.

“Dalam almari kecil di pojok rumah itu ada arak, berbagai macam jenis arak ada disimpan di sana, tapi kuanjurkan jangan kau minum,” sebuah suara berkumandang di luar sana.

“Kenapa?” Siau Ma bertanya.

“Karena setiap botol arak yang tersedia dicampur racun, setiap arak bercampur jenis racun yang berbeda pula.”

Tanpa bicara Siau Ma berdiri lalu menghampiri almari di pojok sana serta membukanya. Dia ambil satu botol,  membuka tutup lalu menenggaknya penuh nikmat, lekas sekali satu botol arak berpindah ke dalam perutnya, bukan saja tidak kuatir, apakah dalam arak betul mengandung racun, bagaimana rasa arak itupun tidak dia rasakan sama sekali.

Seorang menghela napas di belakang pintu.

“Arak sebagus itu, diminum dengan cara demikian, sungguh mirip kura-kura melalap padi, rangsum berguna disia- siakan.”

“Bukan kura-kura makan padi, lebih tepat kalau dikata bulus makan nasi!” Siau Ma mengoreksi istilah yang diucapkan orang.

Cewek di luar cekikikan, tawanya semerdu kelintingan, “Ternyata kau bukan kura-kura, kau lebih tepat seekor bulus!”

Siau Ma juga tertawa, bahwasanya dia sendiri tidak bisa membedakan, dimana perbedaan kura-kura dan bulus. Entah kenapa tiba-tiba dia merasa tertarik pada cewek di luar itu.

Setelah bertemu dengan cewek yang menarik, kalau tidak minum arak, tak ubahnya seperti seorang yang bermain catur sendiri. Maka dia mengeluarkan lagi sebotol arak, tapi kali ini dia minum jauh lebih lambat.

Cewek di belakang pintu itu berkata lagi, “Di atas pintu ada lubang, aku sedang mandi di sini, kalau kau sudah mabuk, jangan kau mengintip ya.”

Siau Ma segera meletakkan botol arak di atas meja, lekas sekali dia sudah menemukan lubang di atas pintu. Laki-laki mana yang tidak menjadi gatal bila mendengar cewek sedang mandi, padahal ada lubang yang bisa digunakan untuk mengintip. Umpama tidak berhasil menemukan lubang juga akan berusaha membuat lubang, umpama harus menumbuk dinding dengan kepala sampai jebol juga akan dilakukan dengan senang hati.

Waktu Siau Ma mengintip dengan sebelah matanya, hanya sekali pandang, jantungnya hampir saja melonjak keluar.

Detak jantungnya mirip kereta api yang memburu waktu.

Di ruang belakang itu bukan hanya seorang cewek lagi mandi, tapi ada delapan gadis jelita sedang mandi. Delapan cewek ayu dan muda dengan tubuh montok kenyal sedang berendam di dalam sebuah bak mandi yang besar dengan air yang mengebul hangat, air nan jernih, ke sudut manapun menyembunyikan diri juga takkan bisa menutupi tubuh yang kelihatan mulus putih lagi menggiurkan.

Hanya satu gadis terkecuali.

Gadis ini tidak lebih ayu dibanding tujuh cewek yang lain, tapi Siau Ma justru tertarik pada gadis yang satu ini, meski dia tidak bisa melihat apa-apa, jangan kata paha, lengan pun tidak kelihatan.

Gadis ini mandi sambil mengenakan jubah panjang warna hitam, yang kelihatan hanya lehernya yang panjang, putih dan mulus. Kini mata Siau Ma sedang mengawasi lehernya yang mulus itu.

Karena tidak kelihatan, rasanya jadi lebih misterius, makin misterius makin merangsang, makin merangsang lebih ingin melihatnya, laki-laki mana di dunia ini yang tidak punya perasaan demikian terhadap perempuan.

Gadis yang mandi pakai jubah terdengar menghela napas, katanya, “Kalau kau ingin mengintip, aku memang tak bisa melarang, tapi jangan kau menerobos kemari, pintu itu tidak dikunci juga tidak dipalang, asal kau dorong pasti terbuka.” Siau Ma tidak perlu mendorongnya, sekuat tenaga dia menerjang masuk. Pintu menjeplak terbuka dengan mudah. “Byuur”, Siau Ma langsung terjun ke dalam bak mandi. Mandi bersama delapan cewek ayu dalam satu bak yang sama, yakin bukan setiap laki-laki bisa melakukan.

Cewek-cewek itu tidak menjerit kaget atau menyingkir malu, mereka juga tidak bersikap takut atau marah. Kejadian seperti ini seolah-olah sudah sering kali mereka alami.

Namun ada juga yang memprotes, “Kau laki-laki kotor dan bau begini, kenapa ikut mandi di sini?”

“Justru karena aku bau dan kotor, maka aku harus mandi,” Siau Ma memang pandai bicara, “kalau kalian bisa mandi di sini, selayaknya aku pun boleh mandi di sini.”

“Kalau mau mandi kenapa tidak kau copot pakaianmu?” “Kalau dia boleh mandi berpakaian, kenapa aku tidak

boleh?”

Gadis mandi berpakaian geleng kepala, katanya setelah menghela napas, “Melihat keadaanmu memang pantas kau mandi, tapi seharusnya kau mencopot dulu sepatumu.”

Siau Ma berkata, “Kenapa harus sepatu, sepatu dicuci sekalian, bukankah lebih leluasa?”

Gadis yang mandi pakai baju mengawasinya, katanya dengan menyengir getir, “Tugas yang orang lain minta kau kerjakan, kau justru menolaknya. Kalau kau tidak disuruh melakukan kau justru berbuat tidak keruan, apakah kau orang normal?” “Siapa bilang aku tidak normal?” sahut Siau Ma tertawa lebar.

Gadis yang mandi pakai baju mengedipkan mata, katanya, “Peduli kau ini normal atau tidak, air yang sudah kita pakai untuk mandi, jangan kau meminumnya.”

“Baiklah, aku pasti takkan mencicipinya.” “Kotoran anjing kau pun tak boleh memakannya.” “Baik, aku pasti tidak makan.”

Gadis itu tertawa cekikikan, katanya, “Agaknya kau tidak bodoh, semula kukira kau ini seekor keledai dungu.”

“Siapa bilang aku keledai dungu, aku adalah serigala yang lagi birahi, seratus persen laki-laki yang ketagihan sex.” Lalu dia berlagak sebagai laki-laki hidung belang, bila berhadapan dengan cewek merangsang. Gadis yang mandi pakai baju seketika mengunjuk sikap takut, lalu bersembunyi di belakang seorang gadis yang semula berada di sampingnya, tanyanya, “Bagaimana cewek ini menurut pandanganmu?”

“Bagus sekali,” sahut Siau Ma.

Gadis ini memang ayu lagi montok, serba bagus, senyumannya pun manis merangsang, tubuh semampai dan padat dengan paha yang jenjang mulus.

Gadis yang mandi dengan berpakaian menghela napas lega, katanya, “Dia bernama Hiang-hiang, kalau kau mau, boleh kusuruh dia menemani kau.”

“Aku tidak mau,” sahut Siau Ma. Gadis yang pakai baju berkata pula, “Tahun ini dia berusia enam belas, badannya benar-benar harum sesuai namanya.”

“Aku tahu,” sahut Siau Ma. “Kau masih tidak mau?” “Tidak mau.”

Gadis yang mandi pakai baju tertawa cekikikan, katanya, “Ternyata kau bukan laki-laki hidung belang.”

“Siapa bilang? Aku laki-laki mata keranjang tulen.”

Gadis yang mandi berpakaian mulai tegang, serunya, “Apa kau ingin memilih yang lain?”

“Ya. Aku ingin yang lain.”

“Siapa yang kau pilih? Boleh kau pilih satu di antara cewek-cewek yang ada di sini.”

“Satu pun aku tidak mau.”

“Satu tidak mau, pilih dua atau tiga juga boleh.” “Mereka tiada yang menarik seleraku.”

“Lho, memangnya siapa yang kau pilih?”

“Aku memilih kau,” sahut Siau Ma, habis bicara mendadak dia melompat maju.

Gadis yang mandi pakai baju melompat mundur sambil mendorong Hiang-hiang ke dalam pelukan Siau Ma, selincah tupai dia melompat keluar dari bak mandi. Seorang gadis telanjang bulat dengan tubuh padat montok lagi merangsang berada dalam pelukan, jarang ada laki-laki yang tidak tergoda hatinya. Tapi Siau Ma tidak ambil perhatian, sedikitpun tidak tergoda hatinya. Dia dorong Hiang- hiang ke pinggir lalu melompat naik keluar bak mandi.

Gadis yang mandi pakai baju berlari mengitari bak mandi, serunya dengan napas tersengal, “Mereka adalah nona-nona cilik, aku sudah nenek-nenek, kenapa kau justru mengejar aku?”

Siau Ma berkata, “Aku justru tertarik pada nenek seperti dirimu.”

Sudah tentu gadis ayu yang mandi mengenakan pakaian ini bukan nenek-nenek. Usia memang lebih tua sedikit dibanding gadis yang lain, tapi dia memang kelihatan lebih matang, lebih padat dan menggiurkan. Letak daya tariknya mungkin karena dia mengenakan pakaian.

Dia lari di depan, Siau Ma mengejar di belakang, gadis itu lari dengan cepat, Siau Ma mengejar tanpa gugup. Karena dia tahu gadis ini takkan lolos dari tangannya.

Kenyataan gadis itu memang tidak mampu melarikan diri. Di belakang masih ada sebuah pintu, baru saja dia menerobos ke balik pintu, Siau Ma sudah berhasil menjangkaunya.

Kebetulan di balik pintu ada sebuah ranjang, ranjang yang besar dan lebar, begitu dia roboh, Siau Ma kebetulan menindih di atas badannya, mereka bertumpang tindih di atas ranjang.

Gadis itu megap-megap, napasnya seperti hampir putus, dengan kencang dia pegang tangan Siau Ma, katanya, “Tunggu dulu, tunggu sebentar.” Siau Ma sengaja menyeringai sambil menunjukkan taring giginya, katanya, “Masih tunggu apa lagi?” Tangannya yang nakal terus bergerak, sekuat tenaga gadis itu mendorong tubuhnya.

“Umpama betul kau sudah kepingin, sedikitnya kita bicara dulu secara santai, ngobrol dengan romantis.”

“Dalam keadaan seperti ini, aku tidak mau ngobrol.” “Apa kau tidak ingin tahu kenapa aku mencari dan

mengundangmu kemari?” “Sekarang tidak perlu tahu.”

Walau sekuat tenaga dia mendorong, tapi dekapan lengan Siau Ma betul-betul sekeras tanggem, gadis itu tak kuat melawan. Mendadak tangannya seperti luluh, tubuhnya lunglai, dia tidak mendorong lagi.

Waktu mandi dia kelihatan seperti tamu yang hendak keluar pintu, pergi ke tempat yang jauh, mengenakan pakaian yang rapi dan molek, sekarang dia pun seperti sedang mandi.

Dengan ujung hidungnya, Siau Ma menahan ujung hidung sang gadis, matanya menatap tajam, desisnya kalem, “Kau menyerah tidak?”

Gadis itu masih megap-megap, sekuatnya dia menggigit bibir, sahutnya, “Tidak mau menyerah.”

“Kalau menyerah akan kuampuni kau.”

Tapi gadis itu menggeleng kepala, serunya, “Aku tidak mau menyerah, kau bisa berbuat apa terhadapku?” Dalam keadaan seperti itu, apa yang bisa dilakukan seorang laki-laki terhadap perempuan? Silakan menerkanya?

* * *