Kait Perpisahan Bab 8 : Kehendak langit bagai sebilah golok.

 
Bab 8 : Kehendak langit bagai sebilah golok.

Sinar matahari baru saja memancar ke empat penjuru, menyinari jalan setapak yang naik turun tak rata disepanjang hutan nan lebat, menyinari juga lorong panjang yang mewah dan lebar dalam gedung Bangsawan.

Hanya sinar matahari yang paling adil, dia tak perduli kau sudah hampir mati atau tidak, sinamya tetap memancar diatas tubuhmu,membiarkan tubuhmu merasakan kehangatan dari cahayanya

Ketika Nyo Cing berjalan dibawah sinar mentari, pada saat yang bersamaan Ti Cing Ling juga sedang berjalan dibawah cahaya sang surya.

Walaupun dia sudah bertempur semalaman suntuk, semangat serta tenaga nya masih tetap segar dan penuh, wajahnya terang bagai cahaya, kekuatan badannya masih cukup baginya untuk melakukan banyak pekerjaan

Tenaga mumi yang dia miliki seakan tiada habisnya, terutama disaat ia merasa amat puas terhadap diri sendiri.

Dia merasa sangat puas dengan tusukan pedang yang dilancarkan dari belakang punggung lng Bu Ok tadi.

Tusukan tersebut, baik dalam hal kecepatan, tenaga, sasaran maupun waktu semuanya dilakukan sangat tepat dan sempuma, bahkan boleh dibilang sudah mencapai titik puncak kesempumaan dari sebuah ilmu pedang.

Untuk mencapai taraf seperti itu, orang tak bisa tergantung pada untung untungan, dia harus membayar suatu harga yang maha besar dan luar biasa mahalnya sebelum mencapai ke situ. Kini, dia putuskan akan menikmati keberhasilan tersebut secara baik, karena memang hal semacam itu pantas diterimanya. Sebab lagi lagi dia peroleh kemenangan.

Kemenangan seakan-akan selalu berpihak kepadanya. Siau Cing juga telah menjadi miliknya.

Sewaktu datang berkunjung, Hoa Soya membawa serta perempuan itu, kini perempuan tersebut tentu sedang menanti kedatangannya dengan penuh gairah.

Membayangkan pinggul Siau Cing yang ramping bagai geliat seekor ular, wajahnya yang selalu menampilkan kehausan akan cinta dan napsu, Ti Cing Ling segera merasa timbulnya hawa panas yang merangsang di bawah pusarnya.

Keadaan seperti inilah baru dinamakan kenikmatan yang sesungguhnya.

Bagi Ti Cing Ling, kecuali perbedaan antara mati dan hidup, tak ada lagi kenikmatan lain di dunia ini yang lebih nyata daripada kenikmatan tersebut.

Membunuh orang bukan saja tidak membuatnya bertambah lemah dan lelah, sebaliknya membuat semangatnya lebih berkobar dan tenaganya makin nyata, begitulah kondisi badannya setiap kali selesai membunuh.

Mengapa wanita selalu seperti punya hubungan yang erat dengan kematian?

Dia selalu berpendapat diantara wanita dan kematian. seakan akan punya satu hubungan yang aneh dan misterius.

Tiba diujung serambi panjang, dia membuka sebuah pintu dan masuk ke dalam, Siau Cing dalam keadaan telanjang bulat segera menubruk ke dalam rangkulannya.

Gejolak napsu birahi yang membara membuat dia menerkam perempuan itu dengan ganas dan penuh napsu.

Sesaat kemudian perempuan itu berbaring lemas. Dia mampu menaklukan lelaki, mungkin karena setap kali dia selalu meninggalkan kesan kepada kaum pria bahwa dia benar benar telah ditaklukan oleh kejantanan pasangannya.

Tapi begitu Ti Cing Ling selesai membersihkan badan dan berjalan keluar, kegenitan perempuan itu sudah pulih kembali seperti sedia kola, bahkan telah siapkan arak hangat, berlutut dihadapannya dan mempersembahkan dengan kedua belah tangannya ke tepi bibirnya.

Tak ada orang menyuruh dia berbuat begitu, semua perbuatan itu dilakukan atas dasar kerelaan sendiri, dia suka melayani kaum lelaki, suka disiksa dan dipermainkan kaum lelaki.

Memang tak banyak perempuan macam begini di dunia ini, tapi justru perempuan semacam inilah yang bisa mendatangkan kesenangan dan kepuasan bagi kaum pria.

Dalam hati kecilnya Ti Cing Ling menghela napas panjang, dia sambut cawan arak itu, meneguk habis isinya den siap memeluknya sekali lagi.

Kali ini Siau Cing berkelit dari rangkulannya bagai seekor belut, dia berdiri jauh jauh dan memandangnya dengan pandangan sangat aneh.

Mendadak paras muka Ti Cing Ling yang pucat mulai mengejang keras, peluh dingin jatuh bercucuran membasahi seluruh wajahnya.

"Arak itu beracun!" suaranya amat parau, "kau yang mencampurkan racun ke dalam arakku?"

Rasa takut dan ngeri yang semula menghiasi wajah Sian Cing, seketika hilang lenyap tak berbekas, sekulum senyuman genit yang bisa bikin hati lelaki berdebar kembali menghiasi wajahnya.

"Kau adalah seorang lelaki yang hebat, .betulnya aku tak tega membuatmu mati, tapi sayang kau terlalu banyak mengetahui rahasia kami" Sian Cing tertawa genit, "selama kau masih hidup, tidak banyak manfaat yang kami peroleh, sebaliknya justru banyak kejelekan yang harus kami hadapi"

"Kalian? Kau juga anggota Cing Liong Pang?” seru Ti Cing Ling tertahan "Siapa bilang aku bukan?" tertawa Sian Cing makin manis. Ti Cing Ling berusaha mempertahankan diri.

"Uang kalian masih berada didalam gudangku, jika aku mati, bagaimana cara kalian mengangkutnya keluar?" teriaknya

"Uang rampokan memang seharusnya berada disini, karena kaulah otak dari pembegalan uang negara, demi menyingkap rahasiamu, aku tak segan mengorbankan kesucian tubuhku sehingga tabir rahasia ini terungkap. Demi membela diri, terpaksa aku menghabisi nyawamu" kata Siau Cing santai, "biarpun seorang raja muda, bila melanggar hukum maka hukumannya tak beda dengan rakyat biasa, kau memang seorang Siau Houya, sayang statusmu itu tak berguna"

"Tapi uang itu harus kalian serahkan kembali ke kas negara, kalian sendiri tak akan memperoleh apa apa"

"Sejak awal kami memang tak punya rencana untuk mengambil uang sebanyak seratus delapan puluh laksa tahil perak itu, sebab uang panas sangat berbahaya, bagi kami, asal bisa peroleh tiga bagian saja sudah merasa puas sekali"

"Tiga bagian?"

"Masa kau tidak tahu kalau pihak kerajaan telah mengumumkan hadiah bagi siapa saja yang bisa menemukan kembali uang hasil rampokan itu? Hadiahnya adalah tiga bagian (30%) dari jumlah keseluruhan" Siau Cing menerangkan, "tiga bagian berarti lima puluh empat laksa tahil, bukan satu jumlah yang sedikit, mereka memberi secara iklas dan kami pun menerima dengan perasaan tenteram, siapapun tak akan mendapat resiko apa apa, bukankah itu yang menjadi harapan kita semua? Sekalipun dikemudian hari mungkin ada orang yang tetap curiga, rasanya juga tak mungkin ada yang mau melakukan pengusutan lebih Ianjut"

"Bagaimana dengan Nyo Cing?"

"Padahal bocah dungu itu hanya kami pakai sebagai pembuka jalan, kami harus meyakinkan kau lebih dulu bahwa dialah yang hendak kami gunakan sebagai kambing hitam, dengan begitu kau baru gampang dijebak dan masuk perangkap"

Ti Cing Ling seakan masih ingin mengatakan sesuatu, namun tak sepatah kata pun yang terucap keluar, tenggorokannya seperti sedang dicekik oleh sepasang tangan raksasa yang tak berwujud hingga napasnya jadi sesak.

Siau Cing mengawasinya, dia seperti menaruh simpatik kepadanya.

"Padahal kau pun tak boleh salahkan kami kenapa bersikap begini terhadapmu" kembali perempuan itu berkata, "bukan saja kau mengetahui terlalu banyak, lagipula kau adalah seorang Siau Houya, sedikit banyak di dalam rumah milik seorang bangsawan kelas satu macam kau pasti terdapat banyak barang mestika warisan leluhur, nilainya bisa jadi diatas seratus delapan puluh laksa tahil perak, seandainya kau mampus, siapa tahu kami bisa peroleh bagian dari warisanmu itu"

Setelah tertawa cekikikan, lanjutnya,"Coba bicaralah dari liangsim mu yang jujur, mengagumkan tidak tindakan yang telah kami ambil dalam hal ini?"

Ti Cing Ling mengawasinya, tiba-tiba paras mukanya yang semula pucat pias berubah jadi hambar tanpa perasaan, sekulum senyuman sadis tersungging di ujung bibimya.

"Ada satu hal mestinya perlu kau tanyakan juga kepadaku" katanya. "Soal apa?"

"Seharusnya kau bertanya kepadaku, sesudah minum arak beracun penembus usus yang khusus kau ramu untukku, semestinya aku sudah tergeletak mampus saat ini, kenapa hingga sekarang aku masih segar bugar?"

Mendadak kulit wajah Sian Chug mengejang keras, senyuman manisnya berubah jadi berpuluh puluh kerutan yang amat menakutkan. Dalam waktu singkat, perempuan muda yang cantik jelita itu seakan telah berubah jadi lebih tua belasan tahun, dia seperti berubah sangat tua dan setiap saat bisa mampus.

"Masa kau bisa menduga rencana kami sejak awal?" dia bertanya

"Mungkin sedikit lebih awal ketimbang kebanyakan orang" Ti Cing Ling menyeringai seram. "Mengapa kau tidak bunuh aku?"

"Karena kau masih berguna" nada suara Ti Cing Ling tenang tapi sadis, "karena waktu itu aku masih bisa menggunakan kau"

Dari atas wajah Siau Cing yang cantik tiba tiba muncul berpuluh otot hijau yang menonjol keluar, seorang wanita yang cantik bagaikan bidadari dalam waktu sekejap telah berubah jadi seorang iblis yang menakutkan, tiba tiba dia cabut keluar sebuah jarum tajam sepanjang tujuh inci dari sanggulnya kemudian ditusukkan ke jantung Ti Cing Ling.

"Kau bukan manusia, kau bukan manusia!" jeritnya lengking, "kau lebih pantas jadi seekor binatang!"

Ti Cing Ling memandang gerakan tububnya dengan pandangan dingin, dia sama sekali tidak bergerak, hanya ujamya dengan suara menyeramkan:

"Bila seorang wanita sudah tak bisa membedakan mana manusia mana binatang, rasanya perempuan macam begini sudah tak ada gunanya"

0-0-0

Tio Ceng tinggal di sebuah rumah kecil persis di belakang kantor kejaksaan, rumah itu dibangun pihak kerajaan setelah dia naik pangkat jadi Komandan opas, biarpun jabatan itu tak terlalu tinggi namun mempunyai kekuasaan yang amat besar terhadap semua petugas kejaksaan, dia sudah belasan tahun memangku jabatan itu, sementara rumahnya juga sudah lama tidak diperbaiki hingga banyak tiang rumahnya keropos dimakan rayap.

Tapi dia seperti amat tenteram tinggal disitu.

Karena dia sudah mencapai usia mendekati pensiun, setelah pensiun dia tak perlu lagi tinggal di rumah bobrok itu.

Dia telah menggunakan beberapa nama alias untuk membeli beberapa rumah gedung yang megah dan mewah di pelbagai daerah, hampir semua persil tanah dan persawahan diseputar sana telah menjadi miliknya, harta kekayaan yang tersimpan lebih dari cukup baginya untuk menghidupi sisa umumya.

Semasa masih muda dulu, Tio Ceng pernah mempunyai seorang istri, tapi tak sampai setengah tahun, hanya gara gara menggunakan uang sebesar tiga tahil perak untuk membeli pupur dan gincu, perempuan itu dicerainya, tak lama setelah pulang ke rumah orang tua bininya gantung diri diatas tiang penglari dan menghabisi hidupnya.

Semenjak peristiwa itu, dia tak pemah menikah lagi, juga tak ada orang yang berani mengawinkan putrinya kepadanya.

Tapi dia tak pernah ambil perduli.

Ke manapun dia pergi, selalu ada dua tiga orang pelayan yang melayani segala kebutuhannya, ambilkan teh, rapikan ranjang bahkan sampai memijat dan mencucikan kaki.

Hari ini cuaca amat cerah, dia secara khusus mengundang seorang kakek pengasah pisau untuk mampir ke rumahnya, senjata golok andalannya, sebuah kampak dan tiga bilah pisau dapur perlu diasah agar tetap tajam seperti sedia kala.

Kakek pincang pengasah pisau ini dari marga Ling, setiap hari dengan mendorong kereta rongsoknya keliling dusun menawarkan jasanya, asahan pisaunya amat teliti dan amat bagus, biarpun sebilah pisau tumpul yang telah berkarat asal sudah diasah kakek ini, bentuknya segera akan berubah. Tio Ceng perintahkan orang untuk siapkan bangku, sambil menikmati air teh dia duduk ditengah halaman sambil menonton kakek Ling mengasah pisau pisaunya.

Karena ditengah halaman ada orang, maka pintu gerbang dalam keadaan terbuka, itulah sebabnya tanpa mengetuk pinto Nyo Cing bisa langsung masuk ke dalam.

Tio Ceng nampak sedikit tertegun, tapi dia paksakan diri berdiri juga, sambil tertawa paksa tegurnya:"Aaah, kau memang tamu istimewa, tak disangka mau hadir disini, apakah ada kabar baik yang ingin disampaikan kepadaku?"

"Tidak, sama sekali tak ada berita baik" sahut Nyo Cing, "aku hanya ingin omong omong denganmu"

"Lote, masa kau lupa batas waktumu tinggal empat lima hari, tak nyana kau masih berminat untuk ngobrol disini?"

Nyo Cing tidak menggubris, dia langsung menuju ke ruang tengah dan menuju ke ruang tamu.

Dengan termangu Tio Ceng mengawasi bayangan punggungnya serta sebuah bungkusan panjang yang berada dalam genggamannya, setengah harian kemudian dia baru ikut masuk ke dalam, tiba tiba sikapnya berubah, senyuman kembali menghiasi wajahnya.

"Setelah datang kemari, tak ada salahnya makan dulu sebelum pergi, akan kusuruh orang menyiapkan arak"

"Tidak usah" tampik Nyo Cing sambil mengawasi sebuah lukisan yang tergantung diatas dinding, terusnya, "selesai mendengar apa yang hendak kukatakan, mungkin kau tak akan mengundangku minum arak"

"Sebenamya apa yang ingin kau katakan?" tegur Tio Ceng dengan kening berkerut.

Tiba tiba Nyo Cing membalikkan badan, sambil menampnya tajam ia berkata,

"Tiba tiba aku mempunyai satu pemikiran yang aneh, tiba tiba saja aku menemukan bahwa kau sesungguhnya adalah seorang manusia yang luar biasa"

"Oya?"

"Setelah membegal barang kawalan, jejak Ni pat selalu rahasia dan misterius, tapi kenyataan kau dapat mengetahui secara pasti. Bisa menangkap Ni Pat seorang tersangka kelas kakap merupakan sebuah keberhasilan yang luar biasa, pahalamu pasti sangat besar, tapi anehnya, kenapa kau serahkan pahala yang luar biasa ini kepada orang lain, kenapa kau justru beritahukan rahasia itu kepadaku dan sama sekali tidak menuntut pembagian jasa denganku?"

Setelah berhenti sejenak, terusnya dingin:"Tampaknya kau sepertt sudah tahu kalau hasil rampokan telah ditukar dengan barang lain? Sungguh luar biasa"

"Apa maksudmu?" berubah wajah Tio Ceng.

"Seharusnya kau lebih mengerti apa yang kumaksud" sahut Nyo Cing sambil tertawa dingin, "ada barang kawalan yang bernilai luar biasa kenapa Ong Ceng Hui tidak mengawalnya sendiri? Anehnya, begitu barang yang dibegal ketemu, malam itu juga dia sudah menampakkan diri, yang lebih aneh lagi, sewaktu hendak menangkap buronan, kau tidak nampak batang hidungnya, tapi begitu Ong Ceng Hui muncul, kau pun ikut muncul bahkan langsung tahu kalau barang kawalan sudah ditukar dengan barang lain, hebat! Sungguh hebat!"

Sesudah tertawa dingin berulang kali, terusnya,"Bukan pekerjaan yang gampang untuk menukar seluruh uang kawalan dengan barang rongsok, butuh waktu yang lama dan tenaga pekerja yang banyak pula. Setelah berpikir bolak balik, akhirnya kusimpulkan hanya ada satu orang yang punya kemampuan untuk melakukan semua tugas ini"

Hijau membesi paras muka Tio Ceng, tapi dia masih berlagak santai, tanyanya:"Ooh, kau maksudkan Ni Pat?" "Jika Ni Pat yang berubah, dia tak bakal beradu nyawa hanya untuk membelai barang rongsokan, dan jiwanya juga tak bakal melayang gara-gara urusan itu" jengek Nyo Cing ketus, "jika para piausu yang berubah, mereka pun tak bakalan hantar nyawa dengan percuma"

Tiba tiba dia menghela napas panjang, katanya lebih jauh:

"Tio loji, kau sudah kaya, punya gedung punya tanah, kenapa sih masih mau bersekongkol dengan Cing Liong Pang untuk melakukan perbuatan tercela itu? Memangnya kau kira aku belum tahu kalau Ong Ceng Hui adalah anggota Cing Liong Pang?"

Tio Ceng tidak menyangkal, temyata dia berani mengakui, balik tanyanya:"Terus kau ingin aku berbuat apa?"

"Katakan dimana Ong Ceng Hui saat ini, kemudian serahkan diri ke kantor kejaksaan dan akui semua dosa mu"

"Baik, bisa saja aku berbuat begitu" Tin Ceng segera menyanggupi, "sayangnya, walaupun sudah kuberitahu keberadaan Ong Ceng Hui saat ini, rasanya kau pun tak bisa berbuat apa apa terhadapnya"

"Kenapa?"

"Gedung bangsawan ibarat kedung naga, masa kau berani menerobos ke dalam untuk menangkap orang?" sengaja Tio Ceng menghela napas panjang.

Ti Cing Ling, bangsawan Ti. Sebenamya semua persoalan seakan sama sekali tak ada hubungan dengan dirinya, karena dia selamanya berada jauh di atas. Noda lumpur yang dipercikan dari sungai talaga, mana mungkin bisa menodai baju putihnya yang bersih dan rapi?

Tapi kini, semua kunci permasalahan seakan sudah terhimpun dan terkumpul pada dirinya seorang.

Tiba tiba Nyo Cing teringat dengan sepatah kata yang pernah diucapkan almarhum ayahnya ketika masih hidup dulu.

Ada sementara orang hidup bagai laba-laba, tiap hari tiap saat tiada hentinya menyulam jaring dan menunggu orang lain terperosok ke dalam jaringnya, tapi orang pertama yang bakal terperangkap dalam jaring itu seringkali justru diri sendiri.

Ada sementara orang menganggap laba-laba itu bodoh, kemungkinan besar si laba-laba pun tahu, tapi dia tak bisa tidak harus berbuat begitu, karena jaring yang disebarkan itu bukan saja merupakan sumber makanannya, juga merupakan satu satunya hiburan yang dimiliki, tanpa membuat jaring berarti dia tak mampu untuk mempertahankan hidup.

"Aku bisa saja menyerahkan diri" kembali Tio Ceng berkata, "siapapun tahu kalau aku sama sekali berbeda dengan orang orang itu, yang kumakan adalah ransum kerajaan, yang kuemban juga tugas kerajaan, peraturan rumah tangga kerajaan sudah mengakar dalam hatiku, aku tahu mana yang boleh dan mana yang tidak, kau anggap aku berani melakukan perbuatan yang melanggar hukum?"

Setelah tertawa paksa, kembali terusnya:"Apalagi, walaupun aku memang pernah berkomplot dengan mereka, tapi aku tak pernah melakukan perbuatan yang menakutkan, seandainya menyerahkan diri, dosaku tidak akan terlalu berat, sebaliknya kau?"

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya:"Kau benar benar akan ke gedung bangsawan Ti untuk menangkap orang?"

"Yaa, sekarang juga aku akan berangkat!" jawaban Nyo Cing sangat tegas, sangat dingin tapi tenang.

"Kalau begitu mari kuantar kau kesana, tapi setibanya di situ, kau mesti lebih berhati hati" Nyo Cing tidak bicara apa pun, setelah urusan berkembang jadi begini, bicara lebih banyak pun tak ada gunanya.

Dia berjalan keluar dari situ.

Tanya bicara sepatah kata pun mereka berjalan melewati halaman kecil, kakek pengasah pisau masih mengasah pisau dengan kepala tertunduk, dia seperti tidak melihat apapun, tidak mendengar apapun, karena seluruh konsentrasi dan perhatiannya sedang tertuju diatas sebilah pisau yang sebetulnya tak ada nilainya.

Sebilah golok yang biasa digunakan para opas telah selesai terasah, mata golok yang tajam memancarkan cahaya berkilau dibawah sinar matahari.

Nyo Cing berjalan lewat dari sisinya, Tio Ceng juga ikut lewat, tiba tiba dia membalikkan badan sambil menyambar golok itu kemudian langsung dibacokkan ke belakang tengkuk pemuda itu

Dalam anggapannya, bacokan itu paling tidak bisa memenggal batok kepala Nyo Cing, karena dia yakin bacokan itu tak bakal meleset.

Sayang serangannya kali ini meleset.

Rupanya Nyo Cing sudah memperhitungkan kejadian tersebut tiba tiba dia bungkukkan pinggang sambil melancarkan serangan balasan, dengan menggunakan senjata Kaitnya yang masih terbungkus dibalik kain kumal, dia hajar tulang iga ke empat dan ke tujuh di dada kanannya.

Diiringi suara tulang iga yang retak, golok itu rontok ke atas tanah.

Paras muka Tio Ceng mengejang keras karena kaget bercampur rasa sakit yang luar biasa, menyusul kemudian badannya kaku dan roboh terjungkal ke tanah, sejak itu wajahnya yang mengejang tak pernah pulih kembali seperti sedia kala.

Karena itulah dikemudian hari rekan narapidana yang berada satu sel dengannya memberi sebuah julukan kepada orang itu, semua orang memanggilnya "Koaybin" si Muka Aneh.

Mengawasi tubuh lawannya yang perot, Nyo Cing menghela napas panjang, katanya:"Sebetulnya aku sangat berharap kau bisa melakukan apa yang telah kau janjikan, sayangnya, akupun tahu kalau kau tak akan berbuat begitu, kau sudah terjerumus kelewat dalam"

Kakek pengasah pisau yang selama ini hanya mengasah pisau sambil tundukkan kepalanya, tiba-tiba ikut menghela napas panjang, menyusul kemudian diapun mengucapkan perkataan yang tak pernah disangka siapapun.

Tiba tiba orang itu berkata, "Putra Nyo Heng memang tak malu menjadi putra Nyo Hang"

Dengan perasaan terkesiap Nyo Cing membalikkan badan, lalu ditatapnya kakek kurus kering pengasah pisau itu dengan pandangan heran.

"Darimana kau bisa tahu kalau aku adalah putranya?"

"Karena tampangmu saat ini persis sama seperti apa yang pernah kusaksikan dahulu, bahkan watak dan perangai nya pun persis"

"Kapan kau pernah beoemu dengannya?"

"Peristiwa itu sudah berlangsung sangat lama, lama sekali" kata kakek pengasah pisau itu, "waktu itu usianya jauh lebih muda ketimbang umurmu sekarang, dia sedang belajar pedang, belajar menggunakan pedang dan belajar membuat pedang, gurunya Sau Kong Yu meskipun tidak memiliki ilmu pedang yang hebat, namun

kepandaiannya menempa pedang tak ada tandingannya dikoiong langit"

Setelah menghela napas panjang, lanjutnya:"Sayang konsentrasi ayahmu tidak pada membuat pedang sehingga kepandaian membuat pedang dari Sau suhu hilang lenyap dari dunia ini"

Nyo Cing segera menjura dalam dalam, katanya:"Ayahku sudah lama meninggal, semasa hidupnya dulu, beliau sering menyesalkan hal ini, dia sering berkata kepadaku, bila yang dia pelajari dari gurunya wakta itu adalah cara membuat pedang, penghidupan kami pasti akan lebih bahagia dan senang" Kakek itu menghela napas panjang.

"Waktu berjalan tanpa berhenti, benda bergeser manusia berpulang, tiap insan punya nasib, siapa pun tak bisa paksakan kehendak, seperti juga sebilah pedang"

Nyo Cing termangu, dia seperti tak paham, melihat itu kakek segera menjelaskan:"Pedang pun mempunyai nasib pedang, bahkan persis seperti manusia, ada keberuntungan ada pula kesialan, sewaktu aku mengunjungi Sau taysu saat itu, sebenarnya tujuanku adalah untuk meramalkan nasib pedang Leng Khong yang baru saja berhasil ditempanya.”

"Leng Khong?" sera Nyo Cing, "kenapa aku belum pemah dengar nama itu?"

"Karena pedang tersebut adalah sebuah pedang pembawa hawa sesat, guratan yang ada ditubuh pedang kacau bagai serat kutu, ujung pedang memancarkan cahaya yang merah bagai api, jelas sebuah pedang pembawa sial. Barang siapa menggembol pedang itu pasti akan terkena bencana besar, bahkan bisa mengalami rumah tangga hancur, nyawa melayang, itulah sebabnya Sau taysu berniat untuk memusnahkan pedang itu, lalu dengan menggunakan sisa pedang yang ada, akan ditempanya menjadi sebilah pedang yang tipis bagai kertas"

"Di mana pedang itu sekarang?"

"Konon sudah ditukar Ing Bu Ok dengan menggunakan sebuah rahasia ilmu pedang Ku lin Kiam Boh"

Berubah hebat pares muka Nyo Cing, tiba tiba dia seperti teringat kembali dengan sebuah kejadian yang misterius, aneh dan sangat menakutkan.

"Konon kitab ilmu pedang itu terbakar sisi kirinya sehingga setiap jurus serangan yang tertera dalam kiam-boh itu tinggal setengah jurus dan pada hakekatnya tak mungkin bisa terwujud menjadi sebuah ilmu pedang yang sempurna, sayang aku belum pernah melihat ilmu pedang itu dan tidak tabu dimana sekarang berada"

"Aku tahu!" seru Nyo Cing mendadak.

"Darimana kau bisa tahu?' tanya kakek pengasah pisau itu dengan wajah heran bercampur tercengang.

"Karena kiam-boh itu berada ditangan ayahku, ilmu silat yang dimiliki ayahku justru dilatih dari kitab tersebut"

"Aku memang tahu, dikemudian hari Nyo Heng berhasil malang melintang di dalam dunia persilatan dengan andalkan sebilah senjata kaitan"ujar kakek itu makin tercengang, "aneh, masa dari sebuah kitab Kiam-boh yang tak utuh, dia berhasil melatih suatu ilmu silat yang tiada tandingannya di kolong langit?"

"Justru karena jurus serangan yang tercantum dalam kitab Kiam-boh itu tak utuh, walaupun tak mungkin bisa melatih sebuah ilmu pedang, tapi jika diterapkan pada sebilah senjata pedang yang telah berubah bentuk jadi sebuah kaitan, jurus serangannya justru sangat pas dan tepat, bahkan merupakan jurus serangan yang belum pernah ada sebelumnya, hampir semua gerak jurusnya menyimpang dari kondisi yang wajar, setiap ancaman tak bisa terduga oleh siapa pun, jangan heran kalau jarang sekali ada yang bisa lolos dari ancamannya.”

"Pedang cacad yang telah berubah bentuk? Apa senjata yang gagal dibentuk dari inti baja milik Lan Toa Sianseng itu? Gara-gara senjata itu pula dia kehilangan selembar nyawanya"

"Benar"

Kakek itu menghela napas panjang.

"Dengan cacad mengimbangi kecacadan, dengan kekurangan menutupi kekurangan, justru karena ada kitab Kiam-boh yang tak utuh, baru terciptalah sebuah jurus serangan yang cocok untuk senjata cacad. Aaai, mungkinkah semuanya ini kehendak Thian?"

Nyo Cing tak sanggup menjawab, pertanyaan ini memang sulit dijawab siapa pun.

Tiba tiba dari sorot mata kakek itu memancar keluar sinar yang aneh, dia seperti telah melihat sesuatu persoalan yang tidak terlihat orang lain. "Mungkin ini bukan kehendak Thian, bisa jadi merupakan keinginan dari Cau taysu sendiri" "Bagaimana mungkin merupakan keinginannya?"

"Karena dia sudah memiliki kitab pedang Kiam-boh yang tak utuh, maka dengan sengaja ditempalah sebilah senjata pedang yang cacad dan tak sempuma agar bisa diwariskan kepada satu satunya murid yang dia miliki"

Setelah menghela napes panjang, lanjutnya:"Dengan kemampuan ilmu pedangnya yang tak sempuma, temyata mampu mempunyai seorang murid yang nama besamya malang melintang dalam sungai telaga, jelas kejadian ini sangat membanggakan hatinya, membuat dia tak menyesal walau harus mengorbankan nyawa sendiri, itulah sebabnya dia tak segan memilih bunuh diri"

Tiba-tiba Nyo Cing merasa bergidik, hawa dingin serasa merasuk hingga ke tulang sumsumnya, sampai lama kemudian dia baru berkata."Aku juga tahu golok tipis itu berada ditangan siapa,

"Di tangan siapa?"

"Pasti di tangan satu-satunya murid dari Ing Bu Ok" "Siapa muridnya?"

"Ti Cing Ling, bangsawan kelas satu di kerajaan ini" "Darimana kau bisa tahu?"

"Karena aku tahu dia telah membunuh seseorang dengan menggunakan golok tersebut, bila membunuh dengan memakai golok seperti itu, asal gerak serangannya cepat, bukan saja tak akan meninggalkan bekas luka di badan, darah pun tak akan mengalir keluar, tapi orang yang terbunuh pasti akan segera merenggang nyawa karena kehabisan darah"

"Tahukah kau ,siapa yang telah dia bunuh?"

"Yang dibunuh adalah Ban Kun Bu, oleh karena tak ada yang bisa melihat mulut luka penyebab kematiannya, maka siapa pun tak tahu sebab kematian yang menimpa pendekar Ban"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya:

"Tapi aku tahu, karena ayahku pernah beritahu kepadaku, di dunia ini memang benar benar terdapat sebilah golok yang tipisnya melebihi selembar kertas"

Mendadak paras muka kakek pengasah pisau itu berubah pucat pias, persis sepetti wajah Nyo Cing tadi, serunya tertahan,

"Tahukah kau, siapa yang minta Cau taysu melatih senjata Leng Khong itu?" "Siapa?"

"Dia adalah Ban Kun Bu. Waktu itu dia masih muda dan sangat kuat, ilmu goloknya sudah amat hebat tapi masih ingin belajar ilmu pedang, ketika tahu bahwa Cau taysu telah musnahkan pedang itu, diapun tidak berkata apa apa karena diapun percaya kalau pedang tersebut sebuah pedang pembawa sial, bahkan waktu itu dia sudah memiliki sebilah golok emas bersisik ikan yang sangat ampuh"

"Tapi dia tentunya tak tahu bukan kalau Cau taysu telah membuat sebilah golok tipis dengan menggunakan rongsokan pedang Leng Khong?"

"Tentu saja dia lebih tak menyangka kalau akhirnya dia sendiri yang bakal tewas diujung golok tipis itu, apakah ini yang disebut kehendak Thian?"

"Aku tidak tahu" Nyo Cing menggeleng, "aku hanya tahu apa yang hendak kulakukan sekarang merupakan perbuatan yang sama sekali tak diduga oleh Ing Bu Ok"

"Apa yang hendak kau lakukan?"

"Aku hendak membunuh Ti Cing Ling, menggunakan jurus serangan yang tercantum dalam Kiam-boh hasil barter Ing Bu Ok dengan golok tipis itu dan membunuh satu satunya murid yang dia miliki"

"Ini disebut kebetulan? Atau kehendak Thian?" tanyanya kepada si kakek setelah berhenti sejenak.

Kakek itu tidak menjawab, dia mendongakkan kepalanya memandang awan di angkasa, langit masih nampak biru. Sekilas perasaan ngeri, bingung, terenyuh bercampur baur dalam hatinya.

"Ini disebut kebetulan atau kehendak Thian? Kebetulan seringkali memang merupakan kehendak Thian... Kehendak Thian lah yang meminjam tangan manusia untuk melakukannnya"

Kehendak Thian tidak sering terjadi, kehendak Thian sukar diduga, Kehendak Thian juga susah dipercaya, tapi siapa pula manusia di dunia ini yang sama sekali tak percaya?

0-0-0

Dalam ruangan masih nampak bersih, putih bagaikan salju, tab ada debu, talc ada anyir darah, bahkan setitik debu pun tidal, nampak.

Ti Cing Ling dengan pakaiannya putih bersih bagai salju sedang duduk bersila diatas sebuah alas duduk, dihadapannya terdapat pule sebuah alas duduk, diatas alas itu masih tersisa hawa badan trig Bu Ok, tapi manusia yang bemama Ing Bu Ok sudah menguap dari dunia ini, lenyap untuk selamanya.

Jasadnya sama sekali tidak meninggallcan ruangan itu, tapi sekarang dia sudah lenyap untuk selamanya.

Bila Ti Cing ling ingin melenyapkan seseorang, dia pasti dapat menemukan sebuah cara yang paling sederhana, paling langsung dan paling mujur.

Suara langkah kaki manusia mulai bergema tiba dari luar pintu, suara langkah tiga manusia.

Suara langkahnya amat ringan, tapi tidak kelewat mantap, ini membuktikan kalau perasaan hati merekapun sedang tidak tenang.

Sekulum senyuman sadis masih tersungging diujung bibir Ti Cing ling, Jika ketiga orang yang ada diluar ruangan itu dapat melihat mimik wajahnya saat itu, sudah pasti mereka tak akan berani masuk ke dalam ruangan.

Sayang mereka tak dapat melihat.

0-0-0