Kait Perpisahan Bab 6 : Gubug Penderitaan.

 
Bab 6 : Gubug Penderitaan.

Koai To (Golok Cepat) telah terbangun dari tidurnya, ketika Nyo Cing mulai menggedor pintu rumahnya, dia telah mendusin.

Tapi dia tidak segera membukakan pintu.

Golok berada dibawah bantalnya, pelan-pelan dia pencet tombol pengunci pada sarung goloknya, pelan-pelan dia mencabut keluar senjatanya, dengan kaki telanjang dia melompat turun dari ranjang kemudian melesat keluar melalui daun jendela, melompati pagar dinding dibelakang rumah dan berputar ke pintu depan.

Seseorang yang belum pemah dijumpai sebelumnya sedang menggedor pintu rumahnya, sementara dibelakang sebatang pohon besar, belasan depa dari rumahnya bersembunyi seseorang.

Dia tak tahu apa maksud kedatangan ke dua orang itu, bila ingin berbuat sesuatu yang merugikan, tidak seharusnya dia gedor pintu sekeras itu.

Tentu saja teori ini sangat dipahami, namun dia tak mau ambil resiko.

Dia putuskan untuk menghadiahkan sebuah bacokan lebih dulu kepada orang itu, sekalipun salah membacok, paling tidak lebih baik ketimbang kena bacokan orang.

Memang begitulah jalan pikiran orang persilatan, karena mereka pun perlu untuk mempertahankan hidup.

Bukan peke jean yang mudah bagi orang persilatan untuk mempertahankan hidup.

Nyo Cing masih menggedor pintu, dia percaya mustahil penghuni rumah itu tidur seperti orang mati dia pun tahu si "Golok Cepat" adalah murid kesayangan Ban Tayhiap. Tapi bacokan dari Pui Seng kali ini meleset.

Baru saja cahaya golok berkilauan, Nyo Cing sudah berjumpalitan sambil melompat mundur dari situ.

Biar serangan golok itu cepat, reaksi Nyo Cing jauh lebih cepat, bahkan menggunakan cara tercepat dan paling langsung dia membuktikan identitas sendiri.

Dia keluarkan surat tugas yang dikeluarkan kantor pengadilan setempat yang ditujukan ke seluruh pejabat di seluruh propinsi.

Pui Seng tercengang bercampur kaget.

"Tak disangka kau benar seorang opas" katanya, "tak nyana diantara kuku garuda kerajaan masih terdapat seorang jagoan yang berilmu tinggi macam kau"

Nyo Cing tertawa getir."Coba kalau bacokanmu tadi mengenai batok kepalaku, apa jadinya?" "Pasti akan kugalikan sebuah liang untuk menguburmu" jawab Pui Seng jujur, "kemudian akan

sekalian kukubur temanmu yang masih bersembunyi di belakang pohon, siapa suruh kau menggedor pintu rumahku tengah malam buta begini"

Pui Seng seorang yang jujur den berterus terang, karena itu Nyo Cing pun memberitahu maksudnya secara terus terang:"Aku mencarimu karena ingin bertanya sesuatu, sebetulnya bagaimana kematian Ban Tayhiap?"

"Mungkin lantaran minum arak kelewat banyak" sahut Pui Seng sedih, "usianya sudah lanjut, kondisi badannya makin lemah, tapi dalam soal minum arak, dia tak pemah mau mengaku kalah"

"Konon dia meninggal sewaktu kencing? Kenapa kalian tak ada yang mengikuti dan mengawalnya?"

"Karena setiap kali minum terlalu banyak, dia pasti akan tumpah, dia tak mau orang lain melihatnya ketika tumpah"

"Dia selalu begitu?" "Yaa, selama puluhan tahun dia selalu begitu" kembali Pui Seng menghela napas panjang, "setiap kali membujuknya agar tidak banyak minum, dia akan mengumpat dan mencaci maki kami semua."

"Apakah banyak orang yang mengetahui kebiasaan itu?" "Ranya sih banyak"

"Banyak tidak tamu yang diundang Hoa Suya malam itu?"

"Biarpun tamunya banyak, tapi hanya beberapa orang yang diundang Hoa Suya pesta di kebun belakang"

"Siapa saja?"

"Selain kami, rasanya hanya Congpiautau dari Tionggoan Piaukiok, Ong Ceng Hui serta Ti Cing Ling, Ti Siau Houya"

Setelah berhenti sejenak, tambahnya,"Yang lain aku kurang begitu jelas"

"Ketika Ban Tayhiap pergi ke kamar kecil, Ong Congpiautau dan Ti Siau Houya berada dimana?" "Ong Congpiautau masih ditempat, sedang Ti Siau Houya sudah memboyong ceweknya kembali

ke kamar"

Nyo Cing kembali merasakan detak jantungnya berdebur keras. tapi dia segera mengepal tinjunya untuk mengendalikan diri, kembali dia bertanya:"Apakah pernah terjadi perselisihan paham antara Ban Tayhiap dengan Ti Cing Ling?"

"Tidak pernah" jawab Pui Seng tanpa berpikir panjang, "bukan saja tak ada perselisihan paham, dia malah menaruh kesan yang sangat baik terhadapnya„ Ti Siau Houya telah menghadiahkan seekor kuda mestika yang mahal harganya kepada Ban Tayhiap"

"Setelah Ban Tayhiap meninggal, apakah Ti Siau Houya segera meninggalkan tempat itu bersama cewek cantiknya?"

"Keesokan harinya dia baru pergi"

"Selama berada di Pesanggrahan Botan Sanceng milik Hoa Suya, pemahkah ada orang yang menaksir cewek cantik itu?"

"Siapa yang berani menggoda ceweknya Ti Siau Houya?" jawab Pui Seng sejujumya, "sekalipun ada yang naksir, rasanya mereka tak akan berani bertindak"

Sebenarnya Nyo Cing merasa sudah tak ada pertanyaan lain yang bisa diajukan lagi, tapi pada saat itulah mendadak Pui Seng berkata."Bila kau menaruh curiga kalau guruku mati ditangan orang lain, maka dugaanmu itu keliru besar. Selama ini dia orang tua berjiwa besar dan tulus terhadap siapa pun, kecuali pernah sedikit berselisih paham dengan Cing Liong Pang, beliau tak pernah punya musuh lain"

Kelopak mata Nyo Cing segera menyusut kencang, sepasang kepalannya digenggam makin kencang.

"Sedikit berselisih paham? Pernah selisih paham soal apa?"

"Padahal bukan selisih paham yang kelewat besar, aku hanya secara kebetulan pernah dengar beliau berkata, Cing Liong Pang selalu ingin dia orang tua masuk menjadi anggotanya, tapi tawaran itu selalu dia tampik"

Setelah berhenti sejenak, kembali Pui Seng menambahkan:"Tapi selama ini pihak Cing Liong Pang belum pernah bentrok secara langsung dengan dia orang tua"

Nyo Cing berdiri termangu setengah harian lamanya disitu, kemudian Dia baru menjura seraya berkata,"Terima kasih, maaf, dan selamat tinggal"

"Apa maksudmu?” teriak Pui Seng sambil menghalangi jalan perginya.

"Terima kasih karena kau bersedia beritahu begitu banyak persoalan kepadaku, maaf karena aku telah mengganggu tidurmu, selamat tinggal artinya aku akan pergi dari sini"

"Kau tak boleh pergi! Sama sekali tak boleh!" tukas Pui Seng dengan wajah amat serius. "Kenapa?"

"Karena kau telah mengganggu tidurku, sekarang aku sudah tak bisa tidur lagi, bagaimana pun, kau harus temani aku minum dua cawan sebelum boleh pergi dari sini"

Nyo Cing menghela napas panjang.

"Hai, selama dua hari belakangan hampir tiap hari aku hanya makan sayur asin plus kueh keras, mulutku sudah pahit semua rasanya, terus terang aku memang ingin makan lebih enak"

Setelah menghela napas kembali terusnya,"Sayang ada orang yang pasti menampik" "Siapa yang menampik?"

"Orang yang bersembunyi di belakang pohon itu" "Kau takut dengannya?"

"Sedikif' jawab Nyo Cing, "bahkan mungkin tidak sedikit "

"Kenapa kau takut dengannya? Dia itu apamu?" teriak Pui Seng tidak puas. "Dia bukan siapa siapa, hanya biniku"

Secara khusus dia menjelaskan lagi: "Bini artinya istri"

Gantian Pui Seng yang termangu sampai setengah harian lamanya, tiba tiba dia pun menjura seraya berkata, ”Terima kasih, maaf, selamat tinggal"

"Apa maksudmu?” Nyo Cing segera menegur.

"Terima kasih karena kau bersedia beritahu kepadaku tentang masalah yang memalukan ini, maaf karena aku lebih suka tak dapat tidur ketimbang memaksa orang yang takut bini menemani aku minum" Tak tahan Pui Seng tertawa tergelak, kemudian tambahnya, "selamat tinggal artinya persilahkan kau pergi dari sini!"

Nyo Cing ikut tertawa tergelak.

Selama berapa hari terakhir, baru kali ini dia tertawa lepas, tertawa yang muncul dari sanubarinya!

0-0-0

Malam sudah makin larut, suasana di Pesanggrahan Teng Gwe Siau Ciok masih amat riuh, karena satu gentong arak Li Ji Ang nyaris habis diminum orang orang itu.

Rencana berjalan sukses, seratus delapan puluh taksa tahil perak sudah tersimpan aman dalam gudang keluarga Ti, sementara Nyo Cing bakal mampus diujung pedang milik Lan Toa Sianseng.

Semua orang merasa sangat gembira.

Hanya Ti Cing Ling yang berbeda, seolah olah tak ada kejadian lain yang bisa merangsang den menggembirakan hatinya lagi di dunia ini.

Sebelum satu gentong arak habis ditenggak, kembali dia bertanya kepada Ong Ceng Hui,"Kau yakin Lan Toa Sianseng pasti dapat menemukan Nyo Cing?"

"Pasti"

"Darimana kau bisa mengetahui jejak Nyo Cing?"

"Karena aku telah berkunjung ke kantor kejaksaan den sudah membaca semua data pribadinya" setelah berhenti sejenak, kembali Ong Ceng Hui menambahkan, "si tua Tio yang membawaku ke situ"

Tak bisa disangkal Tio Ceng merupakan salah satu mata rantai dari rangkaian rantai itu, tak heran dia bisa beritahu Nyo Cing tentang jejak Ni Pat sementara dia sendiri tak pernah muncul di tempat kejadian dan sama sekali tidak berhasrat berebut jasa dengan Nyo Cing.

"Nyo Cing berasal dari dusun Toa Lim Can, sejak kecil hidup diluar hutan lebat di belakang dusun bersama ibunya yang telah menjanda, Ji Giok juga berasal dari dusun itu" Ong Ceng Hui menerangkan lebih jauh, "kali ini dia jalan bersama Ji Giok, tentu saja dalam usahanya melacak persoalan ini, tak mungkin dia selalu membawa serta seorang nona, jadi aku percaya dia pasti akan menghantar si nona itu tertebih dulu ke suatu tempat yang dianggapnya aman" Setelah berhenti sejenak, kembali lanjutnya:"Semua saudara sealirannya telah dikurung dalam penjara, sekarang dia sudah tak memiliki teman yang bisa dipercaya lagi, bahkan sama sekati tak punya tempat untuk dituju maka aku yakin dia pasti akan menghantar Ji Giok pulang ke dusunnya, karena jalan yang mereka tempuh adalah jalan menuju ke dusun Toa Lim Cung"

Perhitungannya memang tepat sekali.

Tentu saja jabatannya sebagai seorang Tongcu dari perkumpulan Cing Liong Pang bukan diperoleh karena untung-¬untungan, apalagi untuk menjadi seorang Congpiautau dari perusahan ekspedisi Tionggoan Piaukiok, jelas dibutuhkan kemampuan, kepandaian serta perjuangan yang luar biasa.

"Aku berani jamin, besok pada saat yang sama seperti sekarang, Nyo Cing pasti akan balik ke dusun Toa Lim Cung, dia pasti akan mampus diujung pedang Lan San Ku Kiam milik Lan It Ceng"

Benar saja, senja keesokan hatinya, Nyo Cing benar benar telah mengajak Ji Giok balik ke dusun tempat kelahiran mereka.

Main bersama, menangkap ikan dengan kaki telanjang, membuat orang orangan dan salju, berlarian sambil bergandengan tangan di hutan yang lebar.

Semuanya merupakan kenangan masa kanak kanak yang sangat indah! Kenangan masa kecil yang penuh kehangatan!

Seperti dalam impian mereka kembali ke tempat itu sambil bergandeng tangan, dusun masih seperti sedia kala tapi bagaimana dengan manusianya?

Mereka tidak kembali ke dalam dusun tapi berputar dari sisi perkampungan lain menuju ke hutan lebat di belakang dusun

Hujan musim gugur baru saja berhenti, tanah dalam hutan lembab lagi basah, siang tak nampak matahari malam tak nampak bintang, biarpun orang dusun disekitar tempat itupun tak berani memasuki hutan kelewat dalam, karena asal tersesat maka sulitlah untuk keluar lagi dan tempat itu.

Nyo Cing tidak kuatir tersesat.

Sejak kecil dia sudah gemar berkeliaran dalam hutan itu, ketika berusia 8-9 tahun., hampir setiap hari dia akan berdiam hampir satu dua jam Iamanya didalam hutan itu, malah kadangkala malam haripun sering berada di hutan itu seorang diri.

Tak ada yang tahu apa yang sedang dia lakukan dalam hutan itu, tak pemah dia ijinkan siapa pun ikut bersamanya, termasuk Lu Siok Bun.

Baru pertama kali ini dia mengajak perempuan itu ke sana.

Dia mengajak perempuan itu berbelok kiri berputar kanan dalam hutan yang lebat itu, setengah jam kemudian tibalah mereka ditepi sebuah mata air, jauh di dalam hutan sana, disitu mereka jumpai sebuah rumah papan kecil yang sudah reyot dan amat sederhana.

Biarpun Lu Siok Bun dilahirkan dalam dusun itu, belum pernah dia berkunjung ke tempat tersebut

Pintu rumah berada dalam keadaan tergembok, sebuah kunci gembokan yang telah berkarat terpasang di engsel pintu, dalam bilik hanya terdapat sebuah ranjang, sebuah meja, sebuah kursi, sebuah mangkuk besar, sebuah lentera minyak serta sebuah bangku kecil.

Samua barang telah berdebu, sarang laba Iaba menyelimuti setiap sudut ruang, lumut hijau melapisi Iantai didepan pintu, semua ini menunjukkan kalau sudah lama tempat itu tak dijamah manusia

Ketika dulu ada orang tinggai disitu, penghidupannya tentu amat sederhana, kesepian dan penuh penderitaan. MeIihat kesemuanya ini tak tahan Lu Siok Bun bertanya,"Tempat apa ini? Darimana kau bisa menemukan tempat seperti ini?"

"Karena dulu hampir setiap hari aku datang kemari, kadangkala dalam sehari bisa datang kemari dua kali"

"Mau apa kemari?" "Menjenguk seseorang!" "Siapa?"

Nyo Cing termenung sampai lama sekali, tiba tiba diatas wajahnya terIintas perasaan hormat dan perasaan menderita yang mendalam, lewat lama kemudian sepatah demi sepata ia berkata,"Aku datang menjenguk ayahku" Nyo Cing memukul pelan lumut didepan jendela, "setahun sebelum kematiannya, hampir setiap hari dia berdiri di depan jendeIa, menunggu aku datang menjenguknya"

Sekali lagi Lu Siok Bun terkesiap.

Sejak Nyo Cing masih bayi, ayahnya telah kabur ke dalam hutan, ibunya selalu hidup menjanda, mencucikan pakaian tetangga atau menjahitkan baju orang untuk melanjutkan hidup dan memeIihara putranya, Lu Siok Bun tak pernah tahu kalau Nyo Cing punya ayah, dia ingin bertanya, kenapa ayahnya bersembunyi di dalam hutan dan tak mau bertemu siapa pun.

Tapi dia tidak bertanya.

Pengalaman yang ditimba nya selama bertahun tahun membuat dia sudah pandai berpikir untuk orang lain, menyimpan rahasia orang lain , tak pernah menyeiidiki rahasia orang dan tidak bertanya persoalan yang tak ingin dijawab orang lain.

Tapi Nyo Cing menerangkan sendiri.

"Watak ayahku sangat kasar dan gampang naik darah, musuh besarnya tersebar di seantero jagad, karena itulah sejak kelahiranku, dia orang tua minta ibuku membawa aku bersembunyi didalam hutan" jelas Nyo Cing sedih, "ketika aku berusia delapan tahun, dia orang tua menderita luka dalam yang amat parah dan ikut bersembunyi di sini untuk merawat Iukanya, saat itulah aku baru bertemu dengannya"

"Luka dalamnya tak berhasil disembuhkan?"

Dengan sedih Nyo Cing menggeleng.

"Semenjak dia bersembunyi disini, musuh musuh besarnya telah mencari dia diseantero jagad tapi gagal menemukan jejaknya, karena itulah aku sengaja membawamu kemari, karena sepeninggalku nanti, tak bakal ada orang lain yang bisa temukan jejakmu disini"

Tiba tiba Lu Siok bun merasakan bibimya berubah jadi dingin kaku bahkan gemetar keras, tapi dia masih berusaha untuk mengendalikan diri.

Dia adalah seorang wanita yang sangat mengerti urusan, dia tahu perkataan Nyo Cing tadi pasti beralasan kuat, kalau tidak kenapa dia bilang mau pergi?

Padahal dia pemah berjanji, biar sampai mati pun dia tak akan meninggalkan dirinya.

Hari semakin gelap, minyak dalam lentera telah mengering, dalam kegelapan malam yang mencekam Lu Siok Bun mencoba untuk mengenali situasi dalam bilik tersebut.

Waktu itu Nyo Cing sedang menyingkirkan sebuah papan kayu dari atas permukaan tanah, dari bawah papan, dalam sebuah liang, dia keluarkan sebuah peti besi yang telah berkarat.

Temyata dalam peti besi itu tersedia korek api.

Begitu cahaya api memancar dalam ruangan, Lu Siok Bun segera menjumpai sebuah senjata yang belum pemah dilihat sebelumnya.

0-0-0 Sebuah ruangan kamar yang lebar lagi luas, empat dinding berwarna putih salju tanpa berdebu, lantai terbuat dari ubin keramik yang licin, begitu bening bagaikan sebuah cermin.

Dalam ruangan tak ada barang apa apa kecuali dua buah alas duduk dari kain.

lng Bu Ok bersila diatas salah satu alas duduk itu, diatas lututnya tergeletak sebuah tongkat bambu yang berisi pedang ular berbisa, dia duduk bagai seorang pendeta yang sedang bersamadi.

Ti Cing Ling duduk bersila diatas alas duduk yang lain, mereka berdua duduk saling berhadapan, entah sudah berapa lama mereka duduk dalam posisi demikian.

Langit di luar jendela semakin gelap, tiba tiba Ti Cing Ling bertanya kepada lng Bu Ok,"Kau pemah bertemu dengan Nyo Heng?"

"Pernah bertemu satu kali, pada delapan belas tahun berselang" sahut Ing Bu Ok, "waktu itu dengan mata kepala sendiri kulihat dia menggantol putus batok kepala Beng Hui Cu dari Bu Tong Jit Cu (Tujuh Pendekar Bu Tong) hanya dalam sekali gebrakan saja, mungkin lantaran dia anggap aku buta dan tidak melihat apa apa maka jiwaku terselamatkan, kalau tidak, mungkin aku tak dapat hidup hingga sekarang"

"Benarkah ilmu kungfu nya begitu menakutkan?"

"Iimu silatnya persis seperti orangnya, ganas, telengas dan cepat, senjata yang digunakan juga senjata yang menyimpang dari kebiasaan, sama sekali berbeda dengan senjata yang biasa digunakan berbagai partai atau perguruan dalam dunia persilatan, aku rasa belum pernah ada orang persilatan yang pernah menggunakan senjata tajam macam itu"

"Senjata macam apa sih yang digunakan?"

"Sebuah senjata kaitan, tapi tidak seratus persen mirip sebuah kaitan" kata Ing Bu Ok, "sebab senjata ini semestinya termasuk sebilah pedang, malah berasal satu jenis dengan pedang yang digunakan Lan It Ceng"

"Kenapa?"

"Selama hidup Lan It Ceng paling suka dengan pedang, waktu itu dia masih belum memperoleh pedang Lan San Ku Kiam yang digunakannya sekarang, dalam satu kesempatan yang tidak terduga, dia menemukan sebuah biang baja yang disebut orang sebagai Tong Hong Kim Tint Ci Eng (inti baja emas dari timur jauh). Waktu itu, tak banyak orang persilatan yang bisa mengolah sebuah biang baja manjadi sebuah pedang yang tajam.

Lan It Ceng mencari bertahun tahun lamanya sebelum berhasil menjumpai seorang empu pedang yang sudah lama mengundurkan diri dari percaturan dunia, dalam sekilas pandangan orang itu segera tahu kalau biang baja itu luar biasa, bahkan mengaku sanggup mengubahnya menjadi sebilah senjata tajam yang bisa memapas putus sehelai rambut pun.

Dia tidak membual, hanya dalam tujuh hari dia berhasil menempa sebilah baja hitam yang luar biasa dari dalam biang baja itu.

Untuk menempanya menjadi sebilah pedang harus ditunggu lagi paling tidak selama tiga bulan.

Lan It Ceng tak bisa menunggu terlalu lama, sebab dia telah berjanji dengan Pa San Kiam Kek (jago pedang dari bukit Pa-san) untuk bertanding pedang di puncak gunung Hoa San.

Waktu itu dia sudah menaruh kepercayaan penuh terhadap empu pedang tersebut, maka ditinggalkan biang baja miliknya itu untuk pergi memenuhi janji. Saat itu dia belum tahu kalau empu pedang tersebut terpaksa mengundurkan diri lantaran menderita panyakit ayan, penyakit itu sering kambuh terutama disaat dia sedang tegang atau panik.

Saat yang paling tegang dan paling penting ketika menempa sebilah pedang adalah disaat api sudah mencapai titik tertentu, Saat seperti itu biasanya berlangsung amat singkat, berhasil atau gagalnya sebilah pedang mestika justru ditentukan pada saat yang teramat singkat.”

Ketika Ing Bu Ok bercerita sampai disitu, Ti Cing Ling sudah dapat menduga kalau si empu pedang telah gagal membuat sebilah pedang mestika.

"Kali ini dia telah menempa biang baja itu menjadi sebilah senjata yang aneh sekali bentuknya, bentuk golok bukan golok, pedang bukan pedang, walaupun ujung pedang melengkung bagaikan sebuah kait, namun tidak mirip dengan sebuah senjata kaitan" "Kemudian?"

"Dalam gusamya, Lan It Ceng paksa empu pedang itu bunuh diri menggunakan senjata aneh yang telah ditempanya itu" lanjut Ing Bu Ok, "kemudian dengan membawa rasa dendam dia pergi dari situ, akhimya senjata kait aneh itu jatuh ke tangan seorang pemuda rudin yang sering masakkan air teh untuk empu pembuat pedang itu, tak nyana dengan menggunakan senjata pengait aneh itu dia berhasil menciptakan sebuah ilmu silat yang sangat aneh, maka dengan senjata itu pula dia berhasil membantai puluhan orang jago pedang termashur di kolong langit.”

"Pemuda rudin itu adalah Nyo Heng?"

"Benar" jawab lng Bu Ok hambar, "jika sejak awal Lan It Ceng tahu bakal terjadi peristiwa semacam ini mungkin dia sudah lempar pedang aneh beserta empu pembuat pedang itu ke dalam tungku api"

Malam telah menjelang tiba, dua puluh enam orang bocah berbaju putih dengan membawa tujuh puluh dua batang tempat lilin yang terbuat dari tembaga pelan pelan berjalan masuk ke dalam ruangan, setelah meletakkan tempat lilin itu di empat penjuru ruangan, mereka kembali mengundurkan diri dari sana.

Mendadak Ti Cing Ling bangkit berdiri, kemudian setelah bersujud penuh rasa hormat di hadapan Ing Bu Ok, katanya dengan sopan:"Tecu Ti Cing-ling untuk ke sebelas kalinya mencoba pedang, mohon suhu mau menghadiahkan jurus serangan"

0-0-0

Ketika cahaya api memancar dalam ruangan, tampaklah dalam peti besi berkarat itu tersimpan sebilah senjata yang aneh sekali bentuknya, senjata itu memancarkan cahaya dingin yang sangat menggidikkan hati, memaksa Lu Siok Bun ikut merasa menggigil keras.

Tak tahan dia bersin berulang kali, lalu tanyanya keheranan:"Barang apa itu?' "Sejenis senjata, senjata yang digunakan ayahku semasa hidupnya dulu"

Dengan wajah amat sedih Nyo Cing menghela napas panjang, lanjutnya:"Itulah satu satunya barang peninggalan dari ayahku, tapi dia orang tua berulang kali peringatkan aku, kalau bukan terdesak hingga jiwaku terancam, bukan saja tak boleh menyentuh benda itu, untuk dibicarakan pun tidak boleh"

"Sudah banyak orang persilatan yang kujumpai, berbagai - jenis dan bentuk senjata tajam juga pernah kusaksikan, tapi belum pernah kusaksikan senjata berbentuk begitu aneh" kata Lu Siok Bun.

"Tentu saja kau tak pernah melihatnya, karena senjata itu adalah senjata langka, dari dulu hingga sekarang hanya ada satu saja, yaitu senjata tersebut"

"Itu pedang atau kaitan?"

"Sebetulnya sebilah pedang tapi ayahku telah memberi sebuah nama istimewa untuk senjatanya, dia menyebutnya sebagai Kait Perpisahan"

"Kalau memang sebuah senjata pengait, seharusnya dinamakan Pengait, kenapa mesti ditambah dengan kata Perpisahan?"

"Karena apa saja yang terkait oleh senjata pengait ini bakal terjadi perpisahan, jika dia berhasil mengait tanganmu maka tanganmu akan berpisah dengan pangkal lengan, jika kakimu yang terkait maka kakimu akan berpisah dengan badan"

"Jika tenggorokanku yang terkait. apakah aku akan berpisah dengan dunia ini?" tanya Lu Siok Bun.

"Benar!"

"Kenapa kau mesti gunakan senjata sadis seperti itu?" "Karena aku tak mau berpisah" ditatapnya wajah Lu Siok Bun lekat lekat, kemudian Nyo Cing menambahkan, "aka tak ingin berpisah denganmu"

Ungkapan tersebut diutarakan dengan nada mesra yang mendekati suatu penderitaan, “Aku terpaksa gunakan senjata kait perpisahan karena aku ingin selalu berkumpul denganmu, sepanjang masa berkumpul denganmu, selama hidup tak pernah akan berpisah.”

Lu Siok Bun sangat paham maksud hatinya, diapun paham perasaan cintanya yang begitu mendalam terhadap dirinya, bahkan paham sekali.

Tapi air matanya tetap tidak terbendung, tak tahan butiran air matanya janth bercucuran.

Untung cahaya api saat itu telah padam, Nyo Cing tak dapat melihat jelas wajahnya, terlebih tak sempat melihat air matanya yang sedang bercucuran.

Cahaya tajam yang terpancar keluar dari senjata Kait perpisahan, seolah olah ikut lenyap dibalik kegelapan.

Betapa indahnya jika benda tersebut betul betul telah lenyap tak berbekas.

Lu Siok-bun sangat berharap senjata itu benar benar-benar lenyap, lenyap untuk selamanya, sepanjang masa tak pemah ada lagi senjata Kait Perpisahan, selamanya tak akan pernah berpisah lagi.

Kalau selamanya tak ada pembunuhan, tak ada dendam kesumat maka selamanya mereka berdua dapat hidup bersama dengan penuh ketenangan dan kedamaian, biarpun sedang berada dalam kegelapan, mereka tetap bisa melewatinya dengan manis dan penuh kemesrahan.

Entah berapa saat kembali berlalu, mendadak terdengar Nyo Cing berbisik, "Kenapa kau tidak bicara?"

"Kau mina aku bicara apa?"

"Kau sudah tahu aku akan pergi, sudah tahu akan membawa Kait Perpisahan untuk berpisah denganmu, biarpun aku berbuat begini lantaran ingin berkumpul selalu denganmu, tapi setelah perpisahan ini mungkin juga tak ada kesempatan lagi buat kita untuk berjumpa , kau tahu bukan, musuh yang harus kuhadapi adalah seorang musuh yang benar benar sangat menakutkan"

Keheningan mencekam hutan lebat itu, jangankan suara manusia, suara pepohonan yang diterpa angin pun tak kedengaran, karena angin pun tak dapat menembusi tempat itu.

Suasana di dalam bilik amat hening, entah berapa lama sudah lewat, akhimya Lu Siok Bun menghela napas panjang„

"Bila umurku sepuluh tahun lebih muda, aku tentu akan bicara begini kepadamu, aku akan berupaya menahanmu. memohon kepadamu untuk membuang semua pikiran dan keinginan, memintamu untuk hidup tenteram bersamaku di tempat seperti sarang setan ini"

Bila seandainya dia benar-benar berbuat begitu, perasaan Nyo Cing mungkin akan jauh lebih enakan.

Tapi dia sangat dingin, sikap dinginnya amat menghancurkan perasaan hatinya, bahkan nyaris membuatnya jadi gila.

Berapa banyak penderitaan dan siksaan batin lagi yang mesti dibayar untuk bisa memperoleh sikap dingin seperti itu?

Nyo Cing sakit hati! Temyata perempuan itu lebih suka tinggal seorang diri di tempat macam sarang setan ini sambil menanti kembalinya dia dengan putus asa, ketimbang memaksanya untuk tetap tinggal disitu.

Karena dia tahu apa yang hendak dilakukan pemuda itu merupakan satu tindakan yang mesti dia lakukan, bila dia memaksa pemuda itu untuk tidak melakukan, sepanjang hidup dia pasti akan menderita, menyesal dan tersiksa batinnya. Oleh sebab itu Lu Siok-bun lebih suka menerima penderitaan itu di dalam hati daripada mencegah lelakinya untuk tidak melakukan perbuatan yang seharusnya dia lakukan.

Dibutuhkan berapa besar keberanian bagi seorang wanita untuk mengambil keputusan itu?

Udara malam terasa dingin bagaikan salju, tiba tiba Nyo Cing merasa ada sebuah tubuh yang halus lembut dan hangat pelan-pelan bersandar ditubuhnya, kemudian memelukkan erat.

Mereka tidak berbicara lagi.

Kini mereka sudah tenggelam dalam kegembiraan serta pelampiasan kepuasan, baru pertama kali ini mereka berbuat intim, tapi mungkin juga merupakan yang terakhir kalinya.

Angin dingin berhembus masuk melalui jendela, terasa ada angin lembut yang mulai berhembus lewat.

Lu Siok Bun seorang diri berbaring tenang diatas pembaringan, tubuhnya masik dapat merasakan kehangatan serta kemesraan yang diperolehnya semalam, sementara perasaan hatinya penuh diliputi kesedihan serta keputus asaan.

Nyo Cing telah pergi dari situ, diam diam berlalu.

Dia tahu kapan pemuda itu pergi, tapi dia pura pura tertidur nyenyak, dia pun tidak membangunkan tidumya.

Karena mereka sudah tak sanggup menahan penderitaan yang menyayat dikala berpisah...

Diatas meja terdapat sebuah buntalan warna biru, sisa ransum yang masih ada dia tinggalkan semua untuk perempuan itu, sudah cukup untuk mempertahankan hidup perempuan itu hingga saatnya datang menjemput nanti.

Batas waktu yang tersisa tinggal tujuh hari, dalam tujuh hari ini dia pasti harus kembali. Tapi bagaimana kalau dia tak kembali setelah tujuh hari kemudian?

Lu Siok Bun tak berani berpikir, dia harus berupaya untuk menghimpun semua pikirannya, tiada hentinya dia beritahu diri sendiri,"Bila kami sudah menikmati kebahagiaan dikala berkumpul, kenapa tak boleh menderita dikala berpisah? Bila tak pernah merasalcan penderitaan dikala berpisah, darimana bisa menikmati kebahagiaan dikala berkumpul?"

0-0-0