Kait Perpisahan Bab 4 : Kuku berwarna merah.

 
Bab 4 : Kuku berwarna merah.

Cahaya golok berkilauan dibawah sinar bintang, anak panah sudah terpasang pada busur yang terpentang lebar.

Lu Siok Bun tidak tahu apa yang telah terjadi, karen tidak tahu maka ia bertambah ketakutan.

Dia ingin sekali membangunkan Nyo Cing, tapi dia pun tak ingin mengusik tidumya yang nyenyak.

Mengapa pada saat dan situasi seperti ini, dia justru jatuh sakit?

Tak ada orang yang berada diluar halaman menerjang masuk ke dalam ruangan, tapi ada orang mulai menggedor pintu rumah.

Lu Siok Bun ingin sekali membuka pintu, tapi dia tak berani berbuat begitu.

Suara gedoran pintu makin lama semakin nyaring, akhirnya Nyo Cing terjaga dari tidumya, mula mula dipandangnya dulu wajah Lu Siok Bun yang diliputi perasaan kaget dan ketakutan, kemudianbaru melihat cahaya golok di luar jendela.

Dia sendiri pun tak tahu peristiwa apa yang telah terjadi, buru-buru dia melompat bangun dari atas ranjang, tiba tiba dia jumpai kakinya agak lemas, pakaiannya sudah basah kuyup oleh keringat, tenaganya sama sekali telah hilang.

Biar pun begitu, dia tetap harus membukakan pintu.

Dua orang berdiri diluar pintu, orang pertama adalah seorang lelaki tinggi besar yang penuh bercambang, alis matanya amat tajam bagai dua bilah golok Leng Hong To, tampaknya dia adalah seseorang yang mempunyai kekuasaan sangat besar.

Orang ke dua kecil pendek dan mempunyai sepasang mata yang bersinar tajam, bukan saja dia nampak punya kuasa, bahkan amat cerdik dan cekatan.

Tentu saja Nyo Cing kenal dengan orang orang itu.

Mana m ungkin seorang anggota opas tidak kenal dengan kalangan sendiri? Apalagi dia termasuk orang yang paling ditakuti dikalangan hekto (aliran sesat) dan dikenal sebagai seorang opas yang ulet dan punya hubungan yang luas, si Cakar Elang Tio Ceng?

"Kakak Tio!" Nyo Ceng segera menegur, "ada urusan apa tengah malam buta begini datang mencariku? Apa yang sudah terjadi?"

Belum sempat Tio Ceng menjawab, seorang lelaki bercambang yang berdiri disisi nya sudah bicara lebih dulu.

"Tak nyana kau masih belum kabur, besar amat nyali mu" serunya sambil tertawa dingin. "Kenapa aku mesti kabur?"

Tiba tiba Tio Ceng menghela napas panjang, ditepuknya bahu Nyo Ceng berulang kali.

"Lote, kau sudah kena urusan" katanya sambil geleng kepala berulang kali, "Aku tidak sangka, kau yang selalu bersikap scbagai seorang hohan, kali ini berani melakukan perbuatan semacam ini?"

"Apa yang telah kulakukan?"

"Kau masih berlagak pilon?" lelaki bercambang itu tertawa dingin. Dia segera mengulapkan tangannya memberi tanda, dari luar halaman segera muncul empat orang yang menggotong sebuah peti besar terbuat dari kayu putih, peti itu tak lain adalah peti uang yang berhasil direbut kembali Nyo Cing dari tangan Ni Pat, dalam setiap peti berisi empat puluh hingga lima puluh tail goanpo.

Nyo Cing masih belum mengerti apa gerangan yang telah terjadi, mendadak lelaki bercambang itu kembali turun tangan, dia cabut keluar sebilah golok emas yang bersinar tajam kemudian membacok keatas peti uang tersebut, peti itu kontan terbelah jadi dua bagian.

Isi peti itu ternyata bukan goanpo, tapi batu kerikil dan besi rongsok.

Terdengar lelaki bercambang itu kembali menghardik, “Sejak kapan kau tukar semua uang itu?

Kau sembunyikan ke mana semua uang perak itu?"

Terkejut bercampur terperangah Nyo Cing berteriak gusar, “Isi sembilan ratus buah peti uang itu sudah ditukar isinya? Kau anggap aku yang telah melakukan kesemuanya itu?"

"Lote" kata Tio Ceng sambil menghela napas, "Kalau bukan kau lantas siapa lagi? Mana mungkin semua uang perak itu bisa berubah jadi barang rongsok dalam waktu sekejap?"

Setelah berhenti sejenak, kembali terusnya, “Tentu saja Ni Pat termasuk orang yang pantas dicurigai, sayang dia sudah kau bunuh hingga tak bisa bersaksi"

Membunuh saksi untuk menghilangkan bukti, satu tuduhan yang teramat jahat dan keji. "Semua anggota opas yang kau ajak menangani kasus ini adalah saudara sealiranmu, bahkan

setiap prang mendapat bagian, tentu saja mereka tak ada yang mau mengaku" kembali Tio Ceng berkata, "Lo The dan Siau Hau Ji merupakan orang yang paling kau percaya, kau suruh mereka pulang duluan dengan membawa semua uang tersebut, karena kau percaya mereka tak bakal menghianatimu"

Setelah menarik napas dan berhenti sejenak, terusnya"Kedua orang itu, yang satu punya bini dan punya anak, sedang yang lain punya ibu di rumah, sekalipun ingin berhianat, belum tentu mereka berani melakukannya"

Dalam keadaan begini, tiba tiba Nyo Cing menjadi tenang kembali, apa pun tidak dia katakan, dia hanya berpaling dan ujarnya kepada Lu Siok Bun:

"Kau pulanglah dulu, sebentar aku akan menyusulmu"

Waktu itu, sekujur badan Lu Siok Bun sudah berubah jadi dingin dan menggigil kencang, dia tidak mengucapkan sepatah kata pun, dengan kepala terrunduk keluar dari bilik.

Tiba diluar, dia tak tahan untuk berpaling dan melihat lagi ke Nyo Cing, sorot matanya penuh rasa takut, kuatir dan perasaan yang luar biasa.

Dia tahu, tak mungkin kekasihnya melakukan perbuatan senista itu, tapi dia pun sadar, persoalan semacam ini tak gampang untuk diselesaikan, bahkan biar sudah mandi di sungai Huang Ho pun tak akan bisa bersih dari semua tuduhan.

Dia hanya menguatirkan keselamatan pemuda itu, sama sekali tidak memiikirkan keselamatan sendiri.

Karena waktu itu dia sendiri belum tahu kalau situasi dan dan kondisinya jauh lebih berbahaya ketimbang pemuda itu, dia masih belum tahu kalau sekarang sudah ada seseorang yang sedang menunggunya untuk mencabut selembar jiwanya.

Seorang manusia keji yang menganggap membunuh orang seperti memotong sayuran saja.

0-0-0

Si Botak selalu keji, selain buas juga dingin dan keji.

Dia adalah bawahan Hoa Suya, sekarang sudah mendapat perintah majikannya. sebelum fajar menyingsing harus pergi ke rumah bordil dan menghabisi nyawa Ji Giok, selesai membunuh dia diperintahkan kabur ke ujung langit, dalam lima tahun kemudian dilarang menampakkan diri disekitar tempat tersebut. Selain memberikan perintah itu, Hoa Suya menghadiahkan pula sepuluh laksa tahil perak sebagai upahnya, satu nilai uang yang cukup baginya untuk hidup makmur selama lima tahun.

Baginya, tugas semacam ini hanya sebuah urusan kecil.

la memberi jaminan kepada Hoa Suya:"Besok, sebelum fajar menyingsing, lonte busuk itu pasti sudah berbaring dalam peti mati"

0-0-0

Perasaan hati Nyo Cing amat sakit.

Dia mengerti Lu Siok Bun sangat menguatirkan keselamatan jiwanya, dia pun tahu perempuan itu merasa berat hati untuk meninggalkan tempat itu, tapi, bagaimanapun juga perempuan itu harus pergi dari situ.

Karena dia tahu, persoalan semacam ini tak gampang untuk diselesaikan.

Bila kau bisa bayangkan bagaimana perasaan seekor harimau yang terperosok ke dalam perangkap yang dipasang seorang pemburu, maka kau pasti dapat pula memahami bagaimana perasaan hatinya sekarang.

Kepada lelaki bercambang itu segera tegurnya:"Bukankah anda adalah congpiautau dari perusahaan ekspedisi Tionggoan Piaukiok, Po Be Kiem To (Kuda Mestika Golok Emas) Ong Ceng Hui?"

"Benar"

"Apakah anda yakin akulah yang melakukan penggelapan ini?" "Benar"

Nyo Cing termenung cukup lama, tiba tiba dia berpaling ke arah Tio Ceng dan menegaskan, “Termasuk kau pun tidak percaya kepadaku?"

Tio Ceng sekali lagi menghela napas panjang.

"Seratus delapan puluh laksa tahil perak bukan jumlah yang kecil, bagi kita yang bekerja sebagai opas, biar berjuang sampai seribu tahun pun jangan harap bisa peroleh uang sebanyak itu. Siapa sih manusia di dunia ini yang tidak kemaruk harta? Aku tahu, selama ini kau royal dan suka menolong orang, aku pun tahu nona yang tadi adalah nona paling top yang sangat berharga bagimu"

Nyo Cing hanya mendengarkan tanpa komentar, tapi setelah mendengar ucapan terakhir, dia tak sanggup menahan diri lagi, mendadak tubuhnya menerjang ke muka dan langsung menonjok mulut lawan.

Buru buru Tio Ceng melompat ke belakang, sementara Ong Ceng-hui buru buru putar goloknya membacok.

Dalam suasana kalut yang semakin mencekam itulah, kembali muncul seseorang dari luar pintu, dengan suara yang keras, nyaring dan penuh wibawa ia menghardik keras:"Semuanya hentikan serangan!"

Seorang lelaki berbaju biru berusia tiga puluh tahunan, dengan sepasang mata yang tajam bagai pisau melototi orang orang disitu, kemudian ancamnya lagi "Siapa pun jangan sembarangan bertindak!"

Tak ada yang berani bergerak lagi.

Siapa pun mengenali orang itu sebagai pejabat tertinggi di keresidenan itu, orang itu adalah seorang sarjana yang lulus ujian negara dan diangkat menjadi pembesar kota, rakyat memanggilnya Him Cing Thian" (Hakim Him berhati bersih) Him Siau Teng.

Dia adalah seorang pejabat eselon tujuh, selain berasal dari sarjana, juga termasuk seorang pejabat bersih yang suka menegakkan keadilan dan kebenaran. Dengan menembus kegelapan malam dia memburu ke situ karena dia memang menaruh rasa simpatik yang besar terhadap anak buahnya yang masih muda itu, hubungan persatuan tersebut tidak terbatas hubungan seorang atasan dengan bawahan saja.

"Aku percaya Nyo Cing tak bakal melakukan perbuatan itu" kata Him Siau Ting dengan suara bersungguh sungguh, jika komandan Tio kuatir tak bisa memberi laporan ke atasan, biarlah aku gunakan jabatanku sebagai pembesar eselon tujuh untuk menjamin dirinya"

"Him Tayjin bicara kelewat serius" buru buru Tio Ceng soja dalam-dalam.

Biarpun dia seorang petugas yang resmi dikirim pemerintah kerajaan, namun dia tak berani bersikap kurang hormat terhadap pembesar eselon tujuh yang tersohor karena tegas, jujur dan bersihnya itu.

“Biarpun aku tidak menaruh curiga kepada Nyo Cing, tapi tanggung jawab ini tetap harus terbeban diatas pundaknya" kembali Him tayjin berkata, sambil berpaling ke arah Nyo Cing, lanjutnya, "aku beri waktu sepuluh hari, jika kau tak dapat membongkar kasus tersebut dalam jangka waktu yang kuberikan, jangan salahkan kalau aku pun tak bisa menolong kau lagi untuk lolos dari persoalan ini"

Sepuluh hari, hanya sepuluh hari.

Tak ada saksi, tak ada jejak, juga tak ada titik terang apapun, mana mungkin dia bisa membongkar kasus itu hanya di dalam waktu sepuluh hari?

Hari belum lagi terang tanah, Nyo Cing seorang diri berbaring diatas pembaringan, dia merasa empat anggota badannya lamas, bibirnya kering merekah, kepalanya pening lagi berat, seakan ada tujuh delapan puluh kati sampah yang disusupkan ke dalam benaknya.

Dia benci diri sendiri, kenapa dalam saat seperti ini jatuh sakit.

Dia tak boleh membiarkan diri berbaring terus disitu, dia harus berontak, harus meronta untuk bangkit berdiri.

Tapi badannya yang panas menyengat tiba tiba berubah jadi dingin membeku, dingin hingga gemetar, menggigil tiada hentinya.

Dalam keadaan setengah sadar, dia seperti melihat Lian Koh berjalan masuk ke dalam kamar, menyelimuti tubuhnya, menyeka wajahnya, mengambil baskom dan menimba air di sumur, dia seperti pergi sangat lama dan tak balik lagi.

0-0-0

Lamat-lamat dia seperti mendengar jeritan ngeri yang memilukan hati, dia kenali suara itu berasal dan Lian Koh.

Sejak hari itu, dia tak pemah bersua lagi dengan gadis tersebut. Hari sudah terang tanah.

Walaupun semalaman si Botak tak tidur nyenyak, semangatnya masih segar dan berkobar, karena di kolong langit telah berkurang seseorang sementara dalam sakusya telah bertambah sepuluh laksa tahil perak.

Dia sudah bebenah, semua bekal telah dipersiapkan, pelana juga sudah berada di punggung kuda, mulai sekarang dia akan pergi jauh ke ujung langit menikmati penghidupan yang mewah dan penuh kenikmatan.

Belum sempat dia berangkat, tiba tiba Hoa Suya telah muncul disitu diiringi seorang kacung kecil, wajahnya yang gemuk masih kelihatan ramah, dia hanya bertanya,"Apakah kau sudah siap berangkat?" "Benar" si Botak tertawa, "Tugas yang Suya berikan hanya satu pekerjaan kecil lagi ringan, lebih gampang daripada makan bakmi kuah"

"Apakah sekarang Ji Giok sudah berada dalam peti mati?' "Dia tak ada di peti mati, dia ada di dalam sumur"

"Kemarin malam dia tidak berada di rumah bordil Gi Hong Wan, untung aku masih dapat menemukannya" dengan perasaan bangga si Botak bercerita, "kusir yang semalam menghantamya pergi adalah seorang setan arak, aku hanya mengundangnya minum dua cawan, dia sudah mau beritahu aku ke mana perempuan itu telah pergi,

Tak heran kalau aku berhasil menemukan jejaknya secara mudah"

"Ehmm, tampaknya kau memang punya kemampuan" puji Hoa Suya sambil tersenyum. Si Botak semakin bangga.

"Sewaktu tiba disitu, kebetulan dia baru keluar dari rumah untuk mengambil air di sumur, tidak heran bukan kalau ada orang terpeleset jatuh ke sumur di tengah malam buta? Maka dari itu akupun aku pun membantunya dengan mendorong tubuh perempuan itu ke dalam sumur, urusan pun beres dan tugas selesai"

"Bagus sekali cara kerjamu, sayang ada satu hal yang tidak bagus.” "Yang maas?"

"Kau salah membunuh"ujar Hoa Suya, "kemarin malam Ji Giok sudah balik ke rumah bordil Gi Hong, dia malah menemani aku minum dua cawan arak"

Si Botak tertegun.

Kembali Hoa Suya berkata sambil tertawa,"Padahal salah bunuh satu dua orang juga tak masalah"

Si Botak ikut tertawa.

“Tentu saja tak jadi soal, hari ini aku akan ke situ lagi, kujamin kali ini tak bakal salah membunuh"

“Kalau begitu, aku pun bisa berlega hati" kata Hoa Suya sambil tersenyum, kepada kacungnya yang berusia paling banter lima belas tahunan itu, perintahnya, "Siau Yap Cu, berikan seribu tail perak untuk toako ini"

Siau Yap Cu kecil tampan dan menyenangkan, apalagi sewaktu keluar uang untuk diberikan orang lain, tak ada yang tidak girang dibuatnya.

Berkilauan sepasang mata si Botak, serunya penuh rasa girang:"Engkoh cilik, tampan betul wajahmu!"

Dia tidak menyelesaikan perkataan tersebut, karena dia hanya memperhatikan tangan Siau Yap Cu yang menggenggam uang kertas.

Siau Yap Cu masih mempunyai sebuah tangan lagi, dalam genggaman tangan itu dia memegang sebilah pisau.

Biarpun pisau itu amat pendek, namun bila titik kematian orang yang tertusuk, sama saja tetap bisa mencabut nyawa seseorang.

Siau Yap Cu cukup menyodokkan pisau pendek itu dengan ringan, pinggang si Botak seketika tertusuk telak.

Pisau pendek itu menancap sangat dalam, yang tertinggal diluar hanya gagangnya saja. Kematian yang menimpa si Botak tak akan memancing perhatian siapa pun, karena dia memang tak pantas diperhatikan. Karena dia seorang pembunuh, seorang pembunuh bayaran.

Orang yang bekerja sebagai pembunuh, tak urung akan mampus juga di ujung pisau orang lain.

Biarpun kadangkala hanya pisau pendek yang berada ditangan seorang bocah, kadangkala berasal dari pisau pembunuh ditangan musuh, tapi situasi yang paling cocok biasanya adalah pisau yang berada di tangan seorang algojo. 0-0-0

Lian Koh telah mati, mati di dasar sumur.

Siapa pun tak ada yang menyangka, dia mati lantaran salah sasaran.

Dia tak punya musuh, terlebih mati lantaran dibantai musuhnya, jangankan orang lain, kedua orang tua nya pun mengira dia bunuh diri ke dalam sumur lantaran tak bisa menerima kenyataan.

Sudah barang tentu Yu Lo Sianseng dan bininya tak akan mengemukakan perkataan semacam itu di hadapan Nyo Cing.

Kini Nyo Cing sedang sakit, dia pun sudah ketimpa musibah dan masalah besar, ke dua orang suami istri tua ini tak ingin melukai perasaan hatinya lagi.

Mereka bahkan khusus mengundang tabib untuk mengobati sakitnya Nyo Cing, ketika obat telah selesai dimasak dan dihantar ke kamarnya, Nyo Cing sudah tak nampak lagi batang hidungnya, dia hanya tinggalkan dua keping uang perak serta selembar surat perpisahan.

"Uang itu untuk ongkos penguburan Lian Koh, anggap saja sebagai rasa duka citaku yang mendalam. Dalam dua hari ini mungkin iku akan pergi jauh, tapi aku janji akan segera kembali, kalian jangan kuatir"

Memegang uang dan surat itu sembari memandang suasana hening diluar halaman rumah, kedua orang suami istri itu terasa terharu dan amat murung.

Pelan pelan mereka berjalan keluar , lalu duduk di bangku batu dibawah pohon yang rindang. Memandang kuntum bunga yang berguguran, tiada air mata yang bercucuran diwajah mereka. Saat ini mereka teramat sedih, namun tiada air mata yang bisa bercucuran.

0-0-0

Hari sudah lama terang tanah, kakek Thio masih berbaring bermalas malasan diatas ranjang.

Dia tahu sudah saatnya untuk menyiapkan sayur asin dan bakpao. kalau tidak, mungkin ia tak dapat berjualan hari ini.

Kenapa tiap pagi dia mesti bangun pagi pagi? Kenapa hari hari dilewatkan dalam penderitaan dan kelelahan yang berkepanjangan? Hidup manusia begitu pendek waktunya, mengapa tak bisa tidur sesaat Iagi?

Akhirnya dia tetap bangun, karena tiba tiba dia teringat mungkin teman teman rudinnya yang saban hari akan makan bakmi di kedainya.

Tempat ini bukan saja murah, orang boleh berhutang, jika tak bisa makan di tempat itu, kemungkinan besar mereka akan kelaparan.

Kehidupan seorang manusia bukan hanya lantaran diri sendiri, banyak orang di dunia ini hidup demi orang lain, jika kau sudah memikul beban itu, janganlah ditinggalkan tanggung jawab tersebut begitu saja.

Dalam hati kecilnya kakek Thio hanya bisa mengeluh dan menghela napas panjang.

Barus saja dia membuka pintu kedai, dilihatnya Nyo Cing sudah menerjang masuk ke dalam, sorot matanya yang selama ini bersinar kini sudah memudar dan sangat layu, bahkan kentara sekali pucat pasi merah darahnya, dia kelihatan jelek dan sangat mengerikan.

"Kau sakit" teriak kakek Thio, "kenapa tidak tiduran di rumah saja dan beristirahat berapa hari?"

"Aku tak bisa beristirahat, karena ada berapa masalah harus kuselesaikan dengan segera"

Tentu saja kakek Thio memahami perkataan itu, gumamnya sambil menghela napas panjang,"Yaa, betul! Ada sementara orang memang selama hidup tak bisa beristirahat dengan tenang" Nyo Cing pergi ke dapur dan mengambil sendiri enam buah mangkuk besar kemudian dijajarkan diatas meja.

"Penuhi semua mangkuk itu dengan arak paling keras, aku minta arak keras yang bisa menyayat badan" katanya, "dengan minum arak macam begitu, tenaga ku baru akan pulih kembali"

Kakek Thio memandangnya dengan terkejut bercampur keheranan.

"Kau sedang sakit parah, kenapa malah minum arak keras? Kau pingin mampus?" tegumya. Nyo Cing tertawa getir.

"Jangan kuatir, aku tak bakal mati, karena sekarang aku belum boleh mati" Sekali lagi kakek Thio menghela napas panjang.

"Yaa, kau tak beleh mati, aku pun tak boleh mati, biarpun kita ingin mati juga tak boleh kesampaian"

Enam mangkuk besar arak keras Yau To Cu ditenggak Nyo Cing sekaligus hingga ludas, sekujur tubuhnya segera terasa panas bagai terbakar.

Angin diluaran berhembus sangat kencang, dia menerjang keluar sambil melawan angin, dibukanya baju bagian dadanya lebar lebar dan mengayunkan langkahnya dengan tegak, biar peluh membasahi tubuhnya dia tak perduli, angin dingin yang menerpa keringat di dadanya mendatangkan rasa yang amat menyayat, tapi dia pun tak perduli.

Suasana dalam kota sudah mulai ramai, banyak orang menyapa nya, dengan membusungkan dada dia hanya tersenyum dan mengangguk.

Mula mula dia datangi kantor bupati lalu bersujud tiga kali dihadapan Him Tayjin.

"Sekarang aku akan berangkat menelusuri kasus ini, dalam sepuluh hari aku pasti akan balik kemari, biar aku mati pun pasti ada orang yang menggotong balik jenasahku, aku hanya berharap Tayjin jangan susahkan saudara saudaraku yang lain"

Him Tayjin tidak menjawab, dia melengos ke arah lain agar bowahannya tak sempat menyaksikan sepasang metanya yang berkaca kaca dan nyaris air matanya jatuh berlinang, lewat lama kemudian dia baru berkata.

"Pergilah!"

Keluar dari kantor pemerintahan, Nyo Cing pergi ke rumah pegadaian dan menggadaikan sepasang anting mutiara dan sebatang tusuk konde emas peninggalan ibunya yang disiapkan sebagai uang mahar dengan nilai lima belas tahil lima rance uang perak.

Barang barang itu adalah barang pesalinan ibunya ketika nikah dengan keluarga Nyo, sebetulnya dia enggan menggunakan benda itu biar harus mati kelaparan sekalipun, tapi sekarang dia sudah kehabisan bekal, sisa uang tabungannya telah diserahkan keluarga Yu untuk biaya penguburan Lian Koh.

Dengan uang satu tahil perak dia beli dua guci arak dan sepotong daging babi lalu suruh orang mengirimnya ke dalam penjara, diberikan kepada saudara saudara seprofesinya yang ikut ditahan gara-gara kasus tersebut, kemudian dengan membagi dua sisa uang empat belasi tahil yang ada, dia serahkan kepada bini lo-The dan ibu Siau Hau Ji.

Dia tak tega bertemu dengan mereka, diapun tak berani ke situ, kuatir mereka akan menangis sejadinya bila saling bersua muka.

Kemudian dia gunakan sisa uang yang lima rence untuk membeIi empat puluh biji kueh keras serta sedikit sayur asin, dibungkusnya ransum itu ke dalam buntalan lalu diikat kencang di pinggangnya, sedang sisa uang yang tinggal tak seberapa digunakan untuk membeli arak yang paling murah. Sebenarnya dia tak ingin minum lagi, tapi pada saat itulah dia jumpai Tio Ceng dan Ong Ceng Hui sedang berdiri di muka rumah penginapan Gwe Ping dan bercakap-cakap dengan seorang kongcu muda berbaju putih.

Sebuah kereta kuda yang sangat mewah berhenti di luar rumah penginapan, kongcu perlente iut seperti sudah siap naik ke kereta untuk pergi dari situ.

Sikapnya terhadap Tio Ceng maupun Ong Ceng Hui amat sungkan, tapi diatas selembar wajahnya yang anggun dan pucat itu seolah terlintas perasaan gundah serta tak sabaran, jelas dia tak pernah menganggap kedua orang itu sebagai sahabatnya.

Menyaksikan semua itu, Nyo Cing segera menenggak habis dua guci arak yang sebenamya tak ingin diminum itu.

Ti Cing Ling memang benar benar sudah habis kesabarannya, dia ingin ke dua orang itu segera mengakhiri pembicaraan agar dia bisa pergi dari situ.

Tapi rupanya Tio Ceng yang baru diperkenalkan Ong Ceng Hui kepada Ti Cing Ling masih mengoceh tiada habisnya, malah dia paksa tamunya mau tinggal sejenak lagi untuk makan bersama.

Pada saat itulah mendadak dari ujung jalan lain muncul seorang pemuda berbaju kusut yang penuh berbau arak, sambil menerjang datang dia menegur keras:

"Apa kau bernama Ti Cing Ling?"

Belem sempat dijawab, Tio Ceng sudah menghardik dengan suara nyaring:"Nyo Cing, berani amat kau bersikap kurang ajar terhadap Ti Siauhouya?"

“Terhadap siapa pun aku selalu bersikap begini" sahut Nyo Cing sambil tertawa, "kau minta aku bersikap bagaimana? Bersujud sambil menjilati kakinya?"

Berubah hebat paras muka Tio Ceng saking jengkelnya, tapi mengingat kedudukan serta jabatannya sekarang, dia merasa tidak leluasa untuk mengumbar hawa amarah.

Beda dengan Ong Ceng Hui, dia tak ambil perduli soal itu, katanya sambil tertawa dingin:"Komandan Nyo, bicara dari statusmu. rasanya kau belum pantas untuk bicara dengan Siauhoya, cepat gelinding pergi dari situ!"

"Aku tak pandai bergelinding"

"Tidak bisa pun tetap harus bergelinding, kalau tidak mampu, biar kuajari"

Kembali Nyo Cing tertawa, tiba tiba dia ayunkan telapak tangannya menampar wajah Ong Ceng Hui.

Menghadapi serangan tersebut, Ong Ceng Hui tertawa dingin, menggunakan gerakan Siau Ki Na Jiu Hoat (ilmu Cengkeraman) dia cekal pergelangan tangan Nyo Cing.

Di dalam bayangannya, lawan cuma seorang opas dusun, biar dihadapi dengan mata terpejampun sudah lebih dari cukup, maka dia berniat akan memberi sedikit pelajaran kepada lawannya agar tahu diri.

Siapa sangka belum sempat dia melepaskan cengkeraman kepalan kiri Nyo Cing sudah menghajar persis diatas lambungnya.

Sodokan itu sangat keras dan bersarang telak.

Saking sakitnya hampir saja Ong Ceng-hui tumpah tumpah karena mual, untung ilmu silatnya yang sudah dilatih belasan tahun bukan latihan yang sia sia, apalagi nama besarnya sebagai Po Be Kim To (Kuda Mestika Golok Emas) juga tidak diperoleh secara untung untungan, dia berhasil menahan diri. Dalam pada itu, Nyo Cing ingin gunakan kesempatan itu untuk meronta lepas dari cekalan lawan, sayang usahanya gaga!, tenaga cengkeram dari Ong Ceng Hui memang tak bisa dipandang enteng.

"Kau tahu, di dunia ini ada dua jenis manusia yang tak boleh dihajar" katanya, "pertama adalah orang yang memiliki kungfu lebih ampuh darimu, dan kedua adalah orang macam aku”

“Menghajar petugas negara bisa dituntut dimuka pengadilan"

"Hmm, manusia macam kau masih belum pantas untuk menuntutku di muka pengadilan" teriak Ong Ceng Hui teramat gusar.

Kini kekuatan tenaganya telah pulih kembali, setiap jurus ilmu "Jit Cap Ji Lok Sian Ki Na (72 jurus ilmu Cengkeraman Maut) yang dilancarkan hampir semuanya mengancam persendian serta jalan darah mematikan ditubuh lawan.

Nyo Cing tahu bahaya yang mengancam, namun dia tak ambil perduli. Dalam posisi seperti ini, dia masih sanggup untuk beradu jiwa.

Selama ini Ti Cing Ling hanya mengawasi terus tingkah laku ke dua orang itu dengan pandangan dingin, tiba tiba dia berkata sambil tertawa dingin"Akupun tak akan menggelinding, bila menggelinding itu asyik rasanya, Ong tong Piautau, lebih baik kau ajari aku"

Berubah paras muka Ong Ceng Hui, ditatapnya Ti Cing Ling dengan pandangan terkesiap, lalu teriaknya:"Siau Hoya, kau lupa, aku inilah sahabatmu?"

Kembali Ti Cing Ling tertawa hambar.

"Kau bukan sahabatku" nada suaranya amat datar, "kalian berdua semuanya bukan sahabatku" Tiba tiba dia menarik tangan Nyo Cing dan menambahkan:"Ada urusan apa kau mencariku?

Mari kita bicara dalam keretaku saja"

Waktu itu, sebenamya pergelangan tangan Nyo Cing telah dikunci oleh ilmu Ki Na hu yang dilancarkan Ong Ceng Hui, tapi begitu Ti Cing Ling turun tangan, tidak nampak gerakan apapun yang dilakukan, tahu tahu Ong Ceng Hui sudah mundur tiga Iangkah dengan sempoyongan, cekalannya langsung terlepas.

Kejadian ini bukan saja mengejutkan hatinya, dia pun dibuat tertegun, keheranan bercampur takut, hingga kereta kuda itu lenyap dari pandangan, dia baru bertanya kepada Tio Ceng dengan perasaan bingung:"Kenapa dia bersikap begitu terhadapku?"

"Tentu saja dia boleh bersikap begitu, apa pun sikapnya kita harus bisa menerimanya, bukan terhadap kau saja, terhadap aku pun dia bisa berbuat begitu" kata Tio Ceng dengan suara dingin, "karena bukan cuma kungfu nya yang lebih hebat ketimbang kita berdua, dia adalah seorang bangsawan kelas satu, keturunan bangsawan termashur"

"Memangnya kita tak mampu menghadapinya?" "Tentu saja mampu"

"Tapi bagaimana caranya?"

"Tuduh dia dan gigit dia kuat kuat!"

0-0-0

Kereta kuda bergerak ke depan, nyaman legi tenang. Menggunakan sorot mata yang halus dan lembut Ti Cing ling sedang mengawasi Nyo Cing.

"Aku pernah mendengar tentangmu, aku tahu kau adalah seorang lelaki ulet berhati baja" kata Ti Siau Hoya, "tapi aku belum pernah melihat caramu turun tangan, demi menghajar orang tersebut, ternyata kau tak segan membiarkan jalan darah pentingmu tercekal"

"Kau belum pemah melihat gerakan tersebut?" "Sama sekali tak pernah" "Aku pun tak pernah menjumpai" kata Nyo Cing, "baru pertama kali ini kugunakan jurus tersebut, karena gerakan itu muncul disaat itu, memang kungfu macam begitulah yang kulatih selama ini"

"Kungfu macam begitu kadangkala memang sangat berguna" kata Ti Cing Ling sambil tersenyum.

"Darimana kau pernah mendengar tentang aku? Dari Si Si?" tiba tiba Nyo Cing bertanya, "Yaa, dari dia!"

"Di mana orangnya sekarang?"

“Sudah pergi” nada ucapan Ti Cing Ling mengandung perasaan sayang yang amat dalam, "bila seorang wanita ingin pergi, keadaannya persis seperti hujan yang turun secara tiba tiba, siapa pun tak bisa menghalanginya"

"Kau tahu, dia pergi dengan siapa? Tahu ke mana dia pergi?"

Ti Cing Ling menggeleng.

"Sampai hari ini aku sama sekali tak tahu apa apa, perasaan wanita memang sulit diraba kaum lelaki" katanya sambil tertawa hambar, "seperti juga perasaan kaum lelaki, perempuan pun tak bisa merabanya"

Nyo Cing termenung sambil berpikir lama sekali, tiba tiba serunya"Aku pun harus pergi, selamat tinggal"

Dia benar-benar pergi dari situ, begitu selesai bicara, dia buka pintu kereta dan melompat keluar.

Kereta kuda masih bergerak dengan kecepatan sedang menuju ke depan. Ti Cing Ling duduk tenang dalam ruang kereta, wajahnya yang memang jarang berubah kini muncul suatu perubahan mimik muka yang sangat aneh.

Pada saat itulah dari bawah ruang kereta tiba tiba menyusup masuk seseorang dengan gerakan yang lincah, dia langsung menerobos masuk lewat jendela kereta itu.

Orang itu mengenakan jubah berwarna abu abu, tangannya menggenggam sebuah tongkat terbuat dari bambu hijau, dia tak lain alalah Ku Bok Sin Kiam (Padang Sakti Mata Buta) lng Bu Ok.

Walaupun menyaksikan orang itu menerobos masuk ke dalam mang kereta secara tiba tiba, Ti Cing Ling sama sekali tidak tercengang atau keheranan, dia seolah sudah tahu akan kehadirannya, dia hanya menegur."Apakah Lan Toa Sianseng sudah mati diujung pedangmu?"

'Belum" jawab lng Bu Ok, "aku sama sekali belum bertarung melawannya" "Kenepa?"

"Gara-gara orang tadi"

"Nyo Cing?" Ti Cing Ling mengerutkan dahi, "bila kau ingin membunuh, masa seorang opas macam dia dapat menghalangi?"

"Kali ini kau salah menilai orang, Nyo Cing bukan orang yang sederhana seperti apa yang kau bayangkan"

"Oya?"

"Sekalipun jurus serangannya semrawut tak pakai aturan, tapi dia memiliki dasar tenaga dalam yang amat bagus, pasti bukan manusia tanpa asal usul yang jelas" kata lng Bu Ok sambil tersenyum, “Aku pernah bertarung melawannya, dia tak bisa mengelabuhi aku"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya, "Ketika Lan It ceng ingin menerimanya sebagai murid, temyata dia tolak mentah mentah tawaran itu, coba pikirlah, mengapa dia harus menolak?"

Ti Cing Ling termenung sampai lama sekali, kemudian baru jawabnya"Apakah lantaran ilmu silat alirannya tidak berada dibawah ilmu pedang Lan Toa Sianseng?"

"Benar!"

"Kenapa dia tak pernah gunakan ilmu silat perguruannya?" "Karen dia tak ingin orang lain mengetahui anal usulnya"

"Menurut pendapatmu, darimana asal usulnya?"

Sekali lagi Ing Bu Olu termenung, lama kemudian baru sahutnym"Sejak pandangan pertama aku sudah merasa dia mirip sekali dengan seseorang"

"Pandangan pertama"? mana mungkin orang buta bisa melihat seseorang? Biarpun hatinya bermata, mustahil dia dapat melihat jelas wajah seseorang.

Kejadian ini memang sangat aneh, tapi tidak aneh bagi Ti Cing Ling, tak tahan tanyanya"Dia mirip siapa?"

"Mirip sekali dengan Nyo Heng, watak, wajah maupun tingkah lakunya mirip sekali"

"Nyo Heng?" seru Ti Cing Ling, "kau maksudkan si Perampok ulung Nyo Heng yang pernah malang melintang dalam rimba hijau dan membunuh orang seperti membabat rumput itu?'

"Benar"

Kelopak mata Ti Cing Ling segera berkerut kencang.

"Jadi kau mengira dia besar kemungkinan adalah keturunan dari Nyo Heng?" "Besar kemungkinan begitu"

lng Bu Ok memutar matanya sambil membalik putih matanya ke atas, tiba tiba muncullah mata yang bentuknya jauh lebih kecil dari orang biasa, namun memancarkan cahaya yang amat tajam.

Ternyata dia tidak buta.

Ku Bok Sin Kiam si pedang sakti bermata buta lng Bu Ok ternyata bukan seorang buta.

Inilah rahasia terbesamya sepanjang hidup, dia berhasil membohongi hampir seantero manusia di bumi ini, tapi die gagal membohongi Ti Cing Ling.

Mengapa dia biarkan Ti Cing Ling mengetahui rahasia itu?

Apa hubungan yang terjalin antara seorang jago pedang yang selalu mengembara di kolong langit dengan seorang bangsawan kaya yang lahir dari keluarga kenamaan?

Sepasang tangan Ti Cing Ling menggenggam kencang, waktu dia sudah memegang pisau tipisnya yang dapat membunuh orang tanpa bersuara itu.

lng Bu Ok menatapnya tajam, lama kemudian dia baru bertanya, sepatah demi sepatah, “Apakah perempuan yang bemama Si Si itu sudah mati? Kau telah menghabisi nyawanya?”

Ti Cing Ling menolak untuk menjawab.

Ing Bu Ok menghela napas panjang, kembali biji matanya membalik, sorot mata yang tajam bagai sayatan pisau itu kembali lenyap tak berbekas, dia berubah jadi orang buta lagi.

"Bila kau telah membunuh perempuan itu, lebih baik bunuh juga Nyo Cing" kata Ing Bu Ok kemudian, "sebab selama dia masih hidup, kau tak akan dilepaskan begitu saja, cepat atau lambat rahasia itu pasti akan terbongkar juga"

Setelah berhenti sejenak, lanjutnya dingin:"Dalam menghadapai persoalan seperti ini, kau tak bisa mengandalkan orang lain untuk melakukannya bagimu"

Kembali Ti Cing Ling termenung sampai lama sekali, tiba tiba dia berteriak kepada si kusir kereta:"Kita segera balik"

Kusir itu belum lama disewanya.

Sebab kusir yang lama ditemukan mati tenggelam di telaga Tay beng Ouw gara gara mabuk berat, itu terjadi setelah hilangnya Si Si.

0-0-0

Pikiran Lu Siok Bun amat kacau.

Seorang wanita kesepian yang telah berusia tiga puluh tahun, pikiran dan perasaan hatinya kerap akan kacau secara mendadak tiap kali senja menjelang tiba. Disaat pikirannya paling kalut itulah mendadak Nyo Cing muncul disitu, kata pertama yang diucapkan adalah:"Aku ingin tunjukkan sebuah benda padamu, coba lihatlah benda itu milik siapa?"

Nyo Cing membuka kepalan tangannya, dalam genggaman itu terletak sebuah potongan kuku jari tangan manusia.

Kuku berwama merah

0-0-0