Golok Kumala Hijau Bag 08 : Siasat pinjam golok membunuh orang

Bag 08 : Siasat pinjam golok membunuh orang

"Perkiraan mereka, Lu Kiu pasti akan membunuhmu untuk membalas dendam bagi kematian putranya tapi entah mengapa ternyata Lu Kiu sangat mempercayai dirimu”

"Karena dia tahu, aku bukan orang yang pandai bicara bohong," sambung Toan Giok. "Darimana dia bisa tahu? Dia tidak terlalu mengenali dirimu." Kembali Toan Giok tertawa.

"Tapi kami pernah main judi bersama, apakah kau tak pernah mendengar orang berkata, di meja judi paling gampang melihat watak seseorang?"

Hoa Hoa-hong ikut tertawa.

"Kalau begitu, punya duit banyak tampaknya bukannya sama sekali tak bermanfaat."

Toan Giok termenung dan berpikir sejenak, kemudian perlahan-lahan ujamya, "Di kolong langit memang tak ada persoalan yang seratus persen jelek, bukan begitu?"

"Aku tak tahu, belum pernah aku berpikir sebanyak kau."

Toan Giok tertawa getir.

"Hingga kini aku masih belum menemukan bagaimana caranya untuk membuktikan bahwa Thiat Sui lah pembunuh sebenarnya."

"Ai, masalah ini memang sulit sekali," Hoa Hoa-hong menghela napas panjang. "Karena masalahnya kita harus berhadapan dengan saksi orang mati."

"Tapi paling tidak aku harus membuktikan dulu kalau dia adalah anggota Cing-liong-hwe, membuktikan kalau dia bersekongkol dengan Hoa Ya-lay."

"Apakah kau telah berhasil menemukan cara terbaik?" "Belum."

"Sedemikian rapat dan tertutup Cing-liong-hwe. Bila kau ingin mencari orang lain untuk membuktikan bahwa mereka anggota Cing-liong-hwe, aku rasa hal ini pada hakikatnya mustahil."

"Aku pun pernah mendengar akan hal ini, rasanya dalam beberapa ratus tahun belakangan, belum pernah dalam dunia persilatan terdapat perkumpulan yang begini rahasia dan ketatnya."

"Oleh sebab itu walaupun tadi kita berhasil menahan Ciu Lim berdua, belum tentu is berani membocorkan rahasia tentang Thiat Sui."

"Maka aku sendiri pun sama sekali tak punya pikiran untuk berbuat begitu."

"Thiat Sui maupun Hoa Ya-lay sendiri pun semakin tak mungkin akan mengakuinya." "Ya, tidak mungkin."

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang.

"Jadi kau belum berhasil menemukan suatu cara terbaik?" tanyanya.

"Sekarang aku belum tahu " sahut Toan Giok sambil tertawa. "Yang kuketahui saat ini adalah

tak ada hal yang tidak mungkin di dunia ini."

"Apakah kau benar-benar tak pernah percaya kalau tiada persoalan yang tak bisa kau lakukan di dunia ini?"

"Ehm."

Hoa Hoa-hong memandang sekejap ke arahnya, tiba-tiba dia ikut tertawa lebar. "Apa yang kau tertawakan?" tegur Toan Giok.

"Menertawakan dirimu. Tampaknya walaupun kau benar benar dimasukkan orang ke dalam peti pun tak pernah akan putus-asa."

"Tepat sekali."

"Terkadang aku sendiri pun tak tahu, sebetulnya kau ini Iebih cerdas daripada orang lain? Atau justru lebih goblok?" "Aku sendiri pun tak tahu, tapi paling tidak aku tahu bahwa hidupku jauh lebih riang dan gembira daripada orang lain."

"Apa lagi yang kau ketahui?"

"Aku tahu juga, bila kita hanya duduk terus di tempat ini, tak bakal ada orang yang muncul sendiri di tempat ini dan mengakui dirinya sebagai seorang pembunuh."

"Lantas kau berniat pergi kemana?" "Pergi mencari Thiat Sui."

"Kau hendak mencarinya?" Hoa Hoa-hong menegas. "Masa hanya dia yang boleh mencari aku, sementara aku tak boleh pergi mencarinya?" "Kau benar-benar akan mengantar dirimu sendiri?"

"Selama hidup tak mungkin aku bersembunyi terus, tak berani bertemu orang," sahut Toan Giok sambil tertawa getir.

"Bersembunyi selama beberapa hari pun tak mau?" "Tidak!"

"Kenapa?"

"Karena sebelum bulan empat tanggal lima belas, aku harus sudah tiba di Po-cu-san-ceng." Mendadak Hoa Hoa-hong tidak bicara lagi.

Malam semakin kelam, suasana pun semakin hening, cahaya bintang yang redup rrtemancar masuk lewat jendela. Lamat-lamat hanya terlihat wajah cantik gadis itu serta sepasang matanya yang jeli.

Sinar mata yang terpancar seolah terselip perasaan yang sangat aneh.

"Bulan empat tanggal lima belas adalah hari ulang tahun Cu-jisiok," kembali Toan Giok berkata. "Cu-jisiok adalah saudara karib ayahku."

Hoa Hoa-hong mendongakkan kepala, menggunakan sepasang matanya yang jeli memelototi pemuda itu, kemudian bertanya, "Benarkah kau terburu-buru berangkat ke sana hanya untuk menyampaikan ucapan selamat panjang umur kepada Cu-jiya?"

"Masa aku bohong?"

Hoa Hoa-hong menundukkan kepala makin rendah, ditariknya ikat pinggang lalu diikatnya jari tangan sendiri kuat kuat. Setelah termenung lama sekali, baru berkata lagi, "Aku dengar Cu-jiya mempunyai seorang putri yang sangat cantik, benarkah dia amat cantik?"

"Aku tidak tahu, aku pun belum pemah menjumpainya."

"Konon tujuan Cu-jiya menyelenggarakan pesta ulang tahun kali ini adalah karena dia ingin memilih calon menantu?" Kembali dia mendongak, melotot sekejap ke arah Toan Giok dan serunya dingin, "Kelihatannya kau punya harapan besar terpilih menjadi calon menantunya!"

Toan Giok tertawa paksa, dia seperti ingin mengucapkan sesuatu tapi kemudian ditahan, ingin menatap wajahnya, apa mau dibilang dia tak berani bertatapan.

Angin berhembus sepoi menggoyang dedaunan, suara gemerisik mengiringi keheningan malam yang mencekam.

Tiba-tiba pemuda itu menghela napas panjang, bisiknya, "Kau seharusnya pulang." "Dan kau?" tanya Hoa Hoa-hong.

"Aku akan pergi mencari Thiat Sui."

"Hm, apakah hanya kau yang boleh pergi mencarinya, sedang aku tak boleh?" dengus Hoa Hoa-hong sambil tertawa dingin.

"Tapi persoalan ini sedikit pun tak ada sangkut-pautnya dengan dirimu." "Sebetulnya memang tak ada sangkut-pautnya, tapi sbl6rang sudah ada." Akhirnya Toan Giok tak tali an untuk berpaling dan menatap wajahnya lekat-lekat.

Gadis itu sama sekali tidak menghindari tatapan matanya.

Cahaya bintang menyinari matanya, sorot mata gadis itu seakan terselip perasaan sedih dan duka yang tak dapat diutarakan.

Biarpun dia tak mampu berkata-kata, namun matanya masih dapat melihat dengan jelas.

Toan Giok tak tahan untuk mengulurkan tangan, tiba-tiba sepasang tangan mereka saling genggam, saling berpegangan dengan kencang, kali ini siapa pun tak ingin menarik kembali tangan mereka.

Tangannya terasa begitu lembut, halus, tapi dingin. Malam semakin larut, semakin hening, cahaya bintang masih bertebaran di angkasa, angin musim semi terasa masih lembut dan hangat.

Seluruh langit dan bumi seakan ikut mencair di tengah cahaya musim semi yang indah ini.

Entah berapa lama sudah lewat, akhirnya Toan Giok berkata, "Aku akan pergi mencari Thiat Sui, karena aku sudah tiada jalan lain yang bisa ditempuh. Biarpun ayahku bisa menerima kenyataan seperti apa pun, tak nanti dia tahan bila orang lain menganggap diriku sebagai seorang pembunuh keji."

"Aku tahu."

"Oleh sebab itu walaupun aku tahu perbuatan ini sangat berbahaya dan amat goblok, namun mau tak mau aku harus melakukannya juga."

"Aku tahu."

"Padahal aku tidak memiliki keyakinan apa pun untu1 bisa menghadapinya." "Aku tahu," Hoa Hoa-hong mengangguk.

"Tapi kau masih bersikeras ingin mengikuti aku?"

"Sebetulnya bisa saja aku tak ikut pergi," ujar Hoa Hoa¬hong sambil menggigit bibir, "Tapi sekarang sudah tak mungkin lagi untuk tidak pergi, masa kau masih belum paham?"

Toan Giok menatap wajah gadis itu dengan lembut, akhirnya dia menghela napas panjang. "Aku paham, tentu saja aku paham."

Hoa Hoa-hong tersenyum manis, katanya dengan lembut, "Asal kau sudah memahami akan hal ini, sudah lebih dari cukup!"

"Apa yang harus kita lakukan agar dapat bertemu Thiat Sui?”

"Sebenarnya kau tak perlu pergi mencarinya." "Kenapa?"

"Karena asal ada orang melihat jejakmu, mereka segera akan melaporkan hal ini kepadanya dan dia sendiri langsung akan datang mencarimu."

"Sekarangjuga kita akan ke sana?" "Kenapa?"

"Sekarang bukan seat yang tepat."

"Memangnya kita harus rnenunggu di sini hingga terang tanah nanti?"

"Bila kau benar-benar percaya bahwa tiada ersoalan yang tak ak mungkin di dunia ini, sekarang tidurlah dulup dengan nyen

Toan Giok benar-benar tertidur.

Dia masih muda, seorang pemuda yang sudah kelelahan, dimana pun ia berada pasti ada tempat untuknya beristirahat, ada tempat tidur untuknya.

Apalagi dia berada di sisinya, tempat manakah di dunia ini yang lebih hangat, aman dan lebih tenteram daripada berada di sampingnya?

Bukankah pelukan seorang gadis yang begitu lembut dan menyenangkan sesungguhnya merupakan surga bagi kau lelaki?

Bahkan dalam mimpi pun terbawa kehangatan dan keindahan.

Sewaktu terbangun dari tidurnya tadi, ia menjumpai dirinya tertidur di atas paha Hoa Hoa- hong, di atas pahanya yang hangat.

Ia tidak ikut tidur, hanya mengawasi pemuda itu dengan perasaan lembut.

Begitu membuka mata, Toan Giok langsung melihat wajahnya, melihat kehangatan dan kelembutan cinta yang pada saat biasa tersembunyi di balik sorot matanya.

Dalam waktu sekejap tiba-tiba ia merasa telah berubah menjadi seorang wanita sesungguhnya.

Bukan lagi gadis muda yang suka mencari cekcok dan adu mulut.

Ia menatapnya dan tertawa. Tawa mereka begitu riang, begitu polos dan bersungguh hati, tiada rasa malu lagi di antara mereka, tiada pula rasa menyesal atau permintaan maaf.

Biarpun ia bersandar di atas pahanya, namun semua itu dianggap hal yang lumrah, biasa dan tak ada yang aneh. Perasaan hati mereka saat ini secerah udara di luar jendela, begitu segar, bersih, penuh harapan dan cahaya terang. Sinar matahari di musim semi memang tak pernah membuat orang kecewa.

Mereka berjalan di bawah cahaya matahari.

Mereka telah bertemu banyak orang, mereka merasa setiap orang seakan sedang gembira.

Tentu saja ada banyak orang telah melihat mereka berdua dan merasakan juga kegembiraan sepasang muda-mudi ini.

Sesungguhnya mereka memang pasangan yang amat mengagumkan, tapi yang paling menarik perhatian orang bukanlah Toan Giok, melainkan Hoa Hoa-hong.

Memang tidak banyak perempuan berpakaian ketat yang berlalu-lalang di tengah jalan, apalagi perempuan dengan perawakan tubuh yang begitu indah, ramping dan padat berisi. "Semua orang memperhatikan dirimu," bisik Toan Giok.

"Kenapa mereka tidak memperhatikan aku?"

"Karena kau tidak semenarik aku," sahut Hoa Hoa-hong sambil tertawa cekikikan. "Tapi kepalaku bemilai lima ribu tahil perak."

Kini Hoa Hoa-hong baru sedikit keheranan.

Tadi dia masih belum terpikir sampai ke situ, di saat seorang gadis sedang menjadi pusat perhatian banyak orang, mungkinkah pikirannya dapat membayangkan persoalan yang lain?

"Mungkin saja orang yang telah melihatmu sekarang, secara kebetulan belum sempat melihat surat pengumuman yang disebar-luaskan Thiat Sui."

"Kau sempat melihatnya dimana?" "Dalam warung penjual teh."

Warung teh dimana pun di dunia ini biasanya merupakan tempat yang paling ramai. Walaupun sekarang hari masih pagi, namun kebanyakan warung teh sudah buka.

"Pagi kulit direndam air, sore air merendam kulit". Orang Hangciu yang paling mengerti mencari kenikmatan, tak mungkin akan mengendon di rumah pada pagi hari sambil menikmati bubur buatan bini.

Bakpao, kepiting goreng, soun Yang-ciu yang dijual di rumah makan kota Hangciu sama tersohornya seperti Cha-sau, Siomay yang dijual di rumah makan Kwangtung.

Anehnya, hampir semua orang yang berada dalam warung teh itu tak ada yang menaruh perhatian terhadapnya.

Sepasang mata mereka masih tetap mengawasi Hoa Hoa-hong tanpa berkedip.

Mungkinkah orang-orang itu semuanya setan perempuan dan tak satu pun yang tergoda oleh harta?

Dua lelaki kekar berjalan masuk ke dalam ruangan sambil membawa sangkar burung. Tempat yang mereka pilih kebetulan persis di bawah pengumuman berhadiah.

Orang itu sedang mendongakkan kepala memperhatikan wajah Toan Giok, lalu entah berbisik apa kepada sobatnya.

Toan Giok segera memberi kedipan mata kepada Hoa Hoa-hong, kemudian dengan langkah perlahan berjalan lewat, bahkan dengan gaya seakan tak sengaja berdiri di bawah pengumuman itu sambil mengamatinya.

Dua orang lelaki yang membawa sangkar burung itu memandangnya beberapa kejap, siapa tahu kembali mereka berpaling ke arah lain sambil berteriak kepada pelayan, "Siapkan dua porsi bakpao dan sepoci teh Liong-cing." Mungkinkah mereka lebih tertarik pada bakpao daripada uang hadiah sebesar lima ribu tahil perak?

Toan Giok berdehem beberapa kali, kemudian mulai membaca tulisan pada pengumuman itu dengan suara lantang, "Barang siapa mengetahui jejak orang ini dan datang memberi laporan, disediakan hadiah sebesar lima ribu tahil perak."

Di bawahnya sama sekali tak tercantum alamat yang jelas.

Toan Giok segera berlagak seolah baru sadar kalau orang yang sedang diburu adalah dirinya, segera ia memperlihatkan sikap ketakutan setengah mati.

Siapa tahu kedua orang itu masih tetap menganggapnya gadungan.

Tiba-tiba Toan Giok tertawa terhadap mereka, tegurnya, "Menurut kalian, mirip tidak lukisan di pengumuman itu dengan wajahku?"

"Sama sekali tak mirip."

Jawaban kedua orang itu tegas dan tuntas.

Toan Giok tertegun, sambil tertawa paksa ujarnya lagi, "Tapi mengapa aku makin melihat merasa semakin mirip dengan wajahku?"

Dua orang itu sudah mulai minum teh, jangankan menjawab, menggubris pun tidak.

Kalau boleh, Toan Giok ingin sekali menjewer telinga kedua orang itu, ingin bertanya kepada mereka sebetulnya orang buta? Atau orang goblok?

Seorang pelayan teh sedang menuang air putih dalam poci tamunya, Toan Giok segera menarik tangan orang itu dan tanyanya dengan suara keras, "Coba kau perhatikan lukisan itu, mirip tidak dengan wajahku?"

Sekuat tenaga pelayan itu menggeleng, dia seakan baru bertemu orang gila, paras mukanya pucat-pias karena ketakutan. Untuk kesekian kalinya Toan Giok tertegun.

Sementara itu Hoa Hoa-hong berjalan menghampiri, diam-diam menarik ujung bajunya. Berputar biji mata Toan Giok, sengaja menggunakan suara yang bisa terdengar banyak orang,

teriaknya, "Gambar wajah di pengumuman itu jelas adalah aku. Aneh, sungguh aneh, kenapa tak seorang pun bisa melihat dan mengetahuinya?"

Sambil bicara, dia amati perubahan wajah orang lain.

Tapi seluruh tamu yang berada dalam warung teh itu seolah tiba-tiba berubah jadi setan kelaparan semua. Bukan saja tak ada yang mendongakkan kepala untuk mengamati dia, bahkan setiap orang menundukkan kepala sambil menghabiskan , sarapan mereka.

Toan Giok benar-benar mati kutu, dia merasa mau menangis tak bisa mau tertawa pun tak dapat!

Lima ribu tahil perak! Satu jumlah duit yang amat besar, mengapa justru tak ada yang mau menerimanya? Dia sama sekali tak habis mengerti.

Tampaknya Hoa Hoa-hong pun tidak habis pikir. Akhirnya ia menarik Toan Giok untuk diajak duduk, katanya sambil tertawa paksa, "Mungkin saja ada orang yang telah pergi memberi laporan, hanya saja mereka tak berani terlihat olehmu."

"Semoga saja begitu," sahut Toan Giok sambil menghela napas panjang.

Maka mereka pun mulai menunggu, untung bakpao serta soun masakan tempat itu cukup lezat.

Hingga seluruh bakpo dan dua mangkuk soun habis disantap, suasana tetap tenang dan sama sekali tidak terjadi apa pun.

Sekali lagi Toan Giok memperhatikan lukisan di atas dinding, lalu gumamnya, "Jangan-jangan lukisan itu memang sama sekali tak mirip aku?"

"Aneh kalau tak mirip," Hoa Hoa-hong menimpali. "Kalau memang mirip, mengapa mereka tak mau mencari tambahan uang sebesar lima ribu tahil? Sungguh aneh!"

"Betul, memang agak aneh."

Toan Giok menghela napas panjang, kembali ujarnya sambil tertawa getir,

"Ketika aku tak ingin dikenali orang lain, mungkin saat ini hampir semua orang yang hadir dalam ruangan ini telah mengenali diriku."

Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, katanya pula sambil, tertawa getir, "Memang banyak kejadian di dunia ini yang begitu keadaannya."

Belum selesai dia berkata, mendadak terlihat seseorang berjalan masuk ke dalam ruangan, kemudian satu per satu merobek semua pengumuman yang menempel di atas dinding.

Ternyata semua orang tamu yang berada dalam warung teh itu tak ada yang menaruh perhatian, bahkan sikap mereka seakan-akan tidak melihatnya sama sekali.

Tentu saja Toan Giok melihat kejadian ini.

Orang itu berwajah hitam pekat dengan sinar mata tajam, ternyata dia tak lain adalah Kiau- losam, orang yang suka mencampuri urusan orang lain.

Baru saja Toan Giok ingin menegurnya, mengapa dia begitu suka mencampuri urusan orang lain. Siapa tahu pada saat itu kembali terlihat seseorang yang dikenalnya berjalan masuk ke dalam ruangan.

Dia adalah seorang Tojin berlengan tunggal berwajah bersih tapi kurus.

Tidak menunggu disapa Toan Giok, ia sudah berjalan menghampiri dan menegur sambil tersenyum, "Wah, hari ini kalian berdua benar-benar amat santai, sepagi ini sudah keluar rumah untuk minum teh."

"Tojin pun tampak amat santai hari ini," balas Hoa Hoa hong dengan nada ketus. "Sepagi ini sudah keluar rumah minum teh."

Ku-tojin tertawa.

"Aku dengar ada seorang nona amat senang mencampuri urusan orang, mungkin kaulah orangnya."

"Tepat sekali," sahut Toan Giok sambil tertawa geli. Dengan gemas Hoa Hoa-hong melotot sekejap ke arahnya, tapi dia segera menahan diri dan tidak mencari gara-gara pada pemuda itu.

Karena pada saat itulah Kiau-losam telah berjalan mendekat, melemparkan setumpukan kertas pengumuman yang baru saja dirobeknya ke atas meja, lalu ujarnya sambil tertawa, "Inilah beberapa lembar yang terakhir, aku seorang diri telah menarik balik tiga ratusan lembar."

"Kenapa harus ditarik kembali?" tak tahan Toan Giok bertanya.

"Karena aku memang suka mencampuri urusan orang lain," jawab Kiau-losam.

Toan Giok menghela napas panjang, ia harus mengakui bahwa apa yang dikatakan memang kenyataan.

"Kalau memang senang mencampuri urusan orang, tolong sekarang tempelkan kembali semua pengumuman itu satu per satu," seru Hoa Hoa-hong sambil menarik muka.

"Kenapa harus menempelkan kembali semua kertas rongsok itu?" "Siapa bilang kertas itu rongsokan?"

"Aku."

"Masa kau tak menginginkan uang hadiah sebesar lima ribu tahil perak?" "Ingin, sayang tak ada orang yang mau member untukku," kata Kiau-losam. "Bukankah Thiat Sui sudah tak ingin menangkapnya lagi?"

"Oh, baru tahu sekarang?"

Hoa Hoa-hong seketika tertegun, begitu pula dengan Toan Giok. Lewat beberapa saat kemudian, tak tahan kembali Hoa Hoa-hong bertanya, "Kenapa secara tiba-tiba Thiat Sui berubah pikiran?"

Kiau-losam memandangnya sekejap, lalu memandang pula ke arah Toan Giok, setelah itu balik tanyanya, "Memangnya kalian belum tahu?"

"Kalau sudah tahu, buat apa aku mesti bertanya?" Kiau-losam menatapnya beberapa saat, kemudian sambil tertawa tergelak, ujarnya, "Mungkin saja karena dia secara tiba

tiba berubah jadi orang baik."

Kembali Hoa Hoa-hong tertegun, teriaknya keras, "Bagaimana pun juga, kami tetap akan pergi mencarinya."

"Kalian hendak mencarinya?" Kiau-losam seolah tertegun pula dibuatnya. Hoa Hoa-hong tertawa dingin.

"Memangnya hanya dia saja yang boleh mencari kami, sementara kami dilarang pergi mencarinya?"

Untuk kesekian kalinya Kiau-losam tertawa terbahak bahak.

"Hahaha, tentu saja kalian boleh mencarinya, bahkan pasti berhasil menemukannya."

Tawanya kelihatan sangat aneh, amat misterius.

"Darimana kau tahu kami pasti berhasil menemukannya?" tanya Hoa Hoa-hong.

"Karena aku bersedia mengantar kalian pergi ke sana." Benar saja, ia benar-benar membawa mereka pergi, bahkan dalam waktu singkat telah menemukan Thiat Sui

Temyata Thiat Sui benar-benar telah berubah menjadi orang yang sangat baik. Orang mati memang tak mungkin melakukan kejahatan lagi.

Oleh karena itu semua orang mati adalah orang baik. Thiat Sui telah menjadi orang mati.

Mimpi pun Toan Giok tidak menyangka kalau Thiat Sui secara tiba-tiba bisa mati, bahkan mati dalam keadaan yang sangat mengenaskan.

Orang pertama yang menemukan mayatnya adalah Kiau losam. "Kau temukan mayatnya dimana?"

"Di tengah jalan raya."

"Apa penyebab kematiannya?"

"Batok kepalanya dibacok orang hingga kutung, tubuhnya kepalanya sudah terkapar di tengah jalan, sementara batok mencelat sejauh satu tombak .”

"Kematiannya sungguh mengenaskan! membunuhnya?"

"Tak ada yang melihat. Aku hanya melihat golok yang dipakai untuk membunuhnya!" Golok itu berada di atas peti mati.

Peti mati itu disemayamkan dalam Hong-lin-si, sedang golok yang berada di atas peti mati adalah Bi-giok-jit-seng-to milik Toan Giok.

Petugas yang mengurusi lelayon dalam biara itu adalah Lu Kiu.

Orang penyakitan ini, di usianya yang uzur harus menyaksikan dua kali pembunuhan sadis dalam satu hari yang sama. Kematian mengerikan dari putranya dan kematian dari sahabat karibnya.

Kedua orang itu sama-sama menjadi korban keganasan sebilah golok, Bi-giok-jit-seng-to.

Cahaya matahari tampak berubah jadi suram setelah menembus ranting pohon Boddhi yang rimbun.

Cahaya yang redup itu menyinari dua buah peti mati yang berada di hadapannya, menyinari juga paras mukanya yang pucat, dia tampak menjadi tua beberapa tahun secara tiba tiba.

Menyaksikan semua itu, perasaan Hoa Hoa-hong ikut berubah jadi sangat berat.

Lu Kiu menggunakan sapu-tangannya menutupi mulut sendiri, kemudian batuk berulang kali. Kini sapu-tangan itu sudah kotor, namun dia seakan tak ambil peduli. Setelah termenung cukup lama, akhirnya Hoa Hoa-hong berkata, "Bukankah golok itu sebenarnya berada di tangan Thiat Sui?"

"Tapi dia tak pernah membawanya," jawab Ku-tojin. "Lalu ia simpan golok itu dimana?"

"Entahlah, aku hanya tahu di scat senja tadi, tiba-tiba golok itu lenyap."

"Aku berani menjamin, senja kemarin Toan Giok selalu ada bersama diriku," Hoa Hoa-hong menegaskan.

"0, ya?"

Kembali Hoa Hoa-hong berkata, "Selain aku, masih ada seorang lagi yang bisa dijadikan saksi." "Siapa?"

"Seseorang yang tidak kukenal."

“Kau tidak kenal orang itu, tapi orang itu bersedia berada bersama kalian?" kata Ku-tojin hambar.

"Betul, karena kami telah menolongnya dari dalam sebuah peti, bahkan ia menderita luka."

Ku-tojin memandang Kiau-losam sekejap, sementara Kiau-losam mendongakkan kepala mengawasi belandar rumah.

Mimik muka kedua orang itu sangat hambar tanpa perubahan apa pun.

Sebaliknya paras muka Hoa Hoa-hong sedikit berubah merah karena gelisah. Dia pun tahu, perkataannya memang sukar untuk membuat orang lain percaya.

Sekarang, sekalipun ia masih dapat menemukan orang itu pun sama sekali tak ada. gunanya.

Siapa yang mau percaya perkataan seorang asing?

Tiba-tiba Ku-tojin bertanya, "Kemarin malam kalian berada dimana?" "Kami berada dalam rumah Thiat Sui."

"Apakah di sana ada orang?"

"Bukan saja tak ada orang, bahkan semua barang dalam rumah pun telah dipindah." "Dan kalian berdua berada di dalam rumah kosong itu semalam suntuk?"

Paras muka Hoa Hoa-hong berubah semakin merah.

Persoalan ini pun sama saja sukar membuat orang lain mempercayainya.

Tiba-tiba Ku-tojin menghela napas panjang, katanya, "Thiat Sui bukanlah sahabatku." "Juga bukan temanku," sambung Kiau-losam.

Ku-tojin segera mendongakkan kepala memandang Toan Giok, tambahnya, "Tapi kau adalah sahabat kami."

Toan Giok mengangguk perlahan, namun ia tak berkata apa-apa, dia memang tak mampu berkata apa-apa.

"Walaupun kita adalah sahabat, namun apabila sekarang kau ingin pergi, aku pasti tak akan menahanmu," kembali Ku-tojin berkata.

Toan Giok sangat terharu dan berterima kasih.

Tentu saja dia memahami maksud baik Ku-tojin. Pendeta itu sedang membujuknya agar secepatnya pergi meninggalkantempat penuh gara-gara ini.

Tiba-tiba Lu Kiu menghela napas panjang dan ikut berkata, "Kau memang seharusnya pergi dari sini."

"Aku "

"Inilah golok milikmu, sekarang boleh kau bawa pergi," kembali Lu Kiu berkata.

Ia memandang sekejap golok yang berada di atas peti mati, kemudian perlahan-lahan melanjutkan, "Karena aku pun pernah berkata, kau adalah sahabatku, lagi pula aku percaya padamu. Setibanya di Po-cu-san-ceng, tolong sampaikan permintaan maafku kepada Cu-jiya, katakan katakan kalau kami ayah dan anak tak bisa pergi menyampaikan ucapan selamat kepadanya."

Toan Giok mengertak gigi, tidak membiarkan air atanya berlinang. Sambil menggigit bibir, sepatah demi sepatah ujarnya,

"Tapi aku tak ingin pergi dari sini."

"Kenapa?" tanya Lu Kiu dengan kening berkerut. "Karena aku memang tak dapat pergi."

"Thiat Sui sudah mati, sekarang tiada seorang pun yang bisa mempersulit di rimu." "Aku tahu."

"Lantas kenapa kau tak mau pergi?"

"Karena kalau sekarang juga aku pergi, selama hidup aku akan selalu dicurigai orang sebagai pembunuh."

"Tapi kami semua percaya penuh kepadamu, apakah kepercayaan ini masih belum cukup?" sela Ku-tojin.

"Kalian percaya padaku karena kalian adalah sahabatku, tapi masih banyak orang di dunia ini yang bukan sahabatku."

Ditatapnya golok yang berada di atas peti mati lekat-lekat, kemudian perlahan melanjutkan, "Apalagi golok itu memang benar-benar golok keluarga Toan kami. Siapa pun yang telah menggunakan golok keluarga Toan untuk membunuh orang, peristiwa ini jelas ada hubungannya dengan keluarga Toan."

"Jadi kau ingin menemukan pembunuh sebenamya?"

Toan Giok manggut-manggut.

"Dan Kau sudah menemukan titik terang?" tanya pendeta itu lagi. "Hanya ada seekor."

"Seekor apa?"

"Seekor naga, naga hijau."

"Naga hijau? Maksudmu perkumpulan Naga hijau?" berubah paras muka Ku-tojin. "Betul, Cing-liong-hwe."

Begitu mendengar "Cing-liong-hwe" disinggung, paras muka semua orang tampak berubah.

Selama ratusan tahun belakangan, di dunia persilatan memang belum pernah terdapat sebuah organisasi yang begitu misterius dan menakutkan seperti Cing-liong-hwe.

Organisasi ini betul-betul bagaikan seekor naga, seekor naga beracun seperti dalam dongeng.

Walaupun setiap orang pemah mendengar tentang kehadirannya, bahkan percaya akan keberadaannya, namun belum pernah ada yang benar-benar

melihatnya, juga tak ada yang tahu macam apakah bentuk organisasi itu dan seberapa besar daya pengaruhnya.

Semua orang hanya tahu, dimana pun kau berada, rasanya hampir setiap pelosok dunia telah berada dalam lingkaran pengaruhnya. Setiap saat, kemungkinan besar dia akan muncul di hadapanmu.

Bahkan ada sementara orang selalu merasa bahwa setiap waktu dirinya hidup dalam pengaruh ancamannya, begitu terhimpit hingga untuk bernapas pun susah.

Lewat lama kemudian Ku-tojin baru menghembuskan napas panjang, katanya, "Jadi menurut kau, persoalan ini ada sangkut-pautnya dengan Cing-liong-hwe?"

Toan Giok mengangguk.

"Aku tiba di sini pada tanggal sembilan." "Berarti dua hari berselang?" "Betul, aku bertemu Hoa Ya-lay pada senja dua hari berselang."

"Konon waktu itu kau sedang minum arak di rumah makan Sam-ya-wan?"

"Jejak Hoa Ya-lay selama ini amat rahasia, karena dia tahu banyak orang sedang mencarinya. Bila seseorang berusaha menghindari kejaran orang lain, dia tak nanti akan mendatangi tempat seperti rumah makan Sam-ya-wan, tapi buktinya hari itu

dia justru menampakkan diri di sana."

Setelah tertawa, kembali lanjutnya, "Bahkan dia seolah kuatir orang lain tidak melihat kehadirannya, maka sengaja dia duduk di samping jendela, bahkan sengaja menggulung tinggi tirai bambunya dan membuka daun jendela lebar-lebar."

"Rasanya keadaan seperti ini memang kurang sesuai dengan kenyataan yang sedang dia hadapi," kata Ku-tojin setelah termenung sebentar.

"Kemudian anak buah Thiat Sui secara kebetulan dating mencarinya pada saat itu, kebetulan juga menemukan dirinya persis di hadapanku!" kata Toan Giok lebih jauh.

"Jadi menurut kau, semua kejadian ini memang sudah dirancang dan direncanakan sebelumnya?"

"Aku tidak percaya di dunia ini benar-benar terdapat banyak kejadian yang begitu kebetulan." "Kalau begitu, antara Thiat Sui dan Hoa Ya-lay sudah terjalin persekongkolan jauh

sebelumnya?" tanya Ku-tojin setelah berpikir sejenak.

Toan Giok manggut-manggut.

"Aku yakin mereka telah memperhatikan gerak-gerik serta jejakku sejak awal. Begitu tahu aku datang, mereka pun menyiapkan sandiwara itu dan memperagakan di depanku."

"Seandainya waktu itu kau tidak ikut campur dalam peristiwa itu?" tanya Ku-tojin.

Toan Giok menghela napas, sahutnya sambil tertawa getir, "Mereka pasti sudah memperhitungkan kalau aku tak bakal berpeluk tangan."

Mendadak Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, selanya setelah mendengus dingin, "Seorang lelaki muda yang berdarah panas, menganggap dirinya hebat. Baru selesai meneguk sedikit arak, bila melihat seorang gadis cantik dianiaya segerombolan

Hwesio jahat, mana dia akan berpeluk tangan melepas kesempatan emas untuk menyelamatkan si cantik?"

Toan Giok tertawa getir, sahutnya, "Sekalipun waktu itu aku tidak turun tangan, memangnya kau anggap mereka akan menyudahi persoalan begitu saja?"

Hoa Hoa-hong mengerling sekejap ke arah pemuda itu, katanya cepat, "Untungnya Toan- kongcu kita adalah seorang Enghiong Hohan yang tak tahan melihat ketidak-adilan, sehingga mereka pun tak perlu membuang banyak tenaga dan pikiran untuk menjebaknya."

Bila seorang wanita melihat ada kesempatan untuk mengumbar rasa cemburunya, dia pasti tak akan melepaskan peluang itu begitu saja.

Ku-tojin segera berkerut kening, tanyanya, "Lalu apa maksud tujuan mereka berbuat begitu?" "Pertama, mereka memang ingin membunuh Lu Siau-hun dan melimpahkan kesalahan itu

kepadaku."

"Mereka menyangka Lu-kiuya pasti akan membalas dendam atas kematian Lu-kongcu," kata Ku-tojin.

"Benar, inilah yang dinamakan siasat sekali timpuk mendapat dua ekor burung, meminjam golok membunuh orang."

"Bagaimana dengan untaian mutiara dan Giok-pay milik Lu-kongcu? Apakah Hoa Ya-lay sengaja menghadiahkan padamu?" "Bukan! Kalau dia sengaja menghadiahkan untukku, sudah pasti aku tak akan menerimanya," sahut Toan Giok.

Kemudian setelah menghela napas, katanya lagi sambil tertawa getir, "Cara yang dia gunakan sangat hebat dan luar biasa, sampai aku sendiri pun tertipu olehnya."

Baru sekarang dia menyadari, ternyata Hoa Ya-lay tidak segoblok apa yang dia bayangkan semula.

Ternyata dia sengaja mencuri uang kertas dan golok Bi giok-to milik Toan Giok, sengaja menyembunyikan di dasar pot bunga, sengaja membiarkan Toan Giok melihatnya.

Kemudian dia baru sengaja berlagak tidur, agar Toan Giok mencuri balik semua barang miliknya.

Tentu saja dia pun telah memperhitungkan. Begitu berhasil, Toan Giok pasti akan kabur secara diam-diam.

Dalam keadaan terburu-buru, tentu saja Toan Giok tak akan menyangka kalau barang yang diambilnya telah ketambahan benda lain, apalagi semua barang itu memang diletakkan pada satu kantung yang sama.

Menanti Toan Giok menyadari barangnya kelebihan dan ingin mengembalikan kepadanya, perempuan itu pasti sudah tak berada di sana lagi. Sejak saat itu, Toan Giok pasti tak akan berhasil menemukan dirinya lagi.

Oleh karena itu Toan Giok pun akan kehabisan daya untuk menemukan seseorang yang bisa membuktikan kalau malam itu dia berada di sana.

Apalagi setiap orang tahu bahwa Lu Siau-hun adalah musuhnya yang paling tangguh. Seseorang demi memperistri perempuan kaya dan cantik, memang tak aneh bila secara diam-

diam dia membunuh saingannya lebih dahulu.

Menanti Lu Kiu menemukan bahwa untaian mutiara serta Giok-pay milik putranya berada di tangan Toan Giok, dia pasti akan menuduh anak muda itu sebagai pembunuhnya.

Ku-tojin menghela napas panjang, katanya, "Sebetulnya siasat ini sangat hebat dan sama sekali tanpa cela."

"Sayangnya mereka tetap salah memperhitungkan satu hal," sambung Toan Giok. "0, ya?"

"Mereka tidak menyangka Lu-kiuya kenal aku lebih dulu di meja judi, bahkan telah menganggap aku sebagai sahabatnya."

Selama ini Lu Kiu hanya mendengarkan dengan wajah serius dan penuh penderitaan, mendadak selanya, "Sebenarnya Thiat Sui pun sahabatku."

"Aku tabu”

"Semasa masih kecil dulu, dia adalah tetanggaku, masuk biara Siau-lim di usia dua belas tahun."

Padahal Thiat Sui adalah putra seorang pembantu di rumah keluarganya. Justru karena dia merasa status social sendiri teramat rendah, maka timbullah sifatnya yang sombong, ambisius dan ingin menang sendiri.

Orang yang rendah diri dan tak percaya diri, terkadang sengaja berlagak sok hebat dan jumawa.

Untuk melindungi titik kelemahan sendiri, terkadang manusia dapat melakukan tindakan dan perbuatan aneh.

"Dia tak segan menjadi Hwesio karena ingin mempelajari ilmu silat biara Siau-lim dan menjadi orang terkenal," kata Lu Kiu.

"Oleh sebab itu, di saat berlatih silat di biara Siau-lim, dia berlatih paling tekun dan serius." "Karena itulah dia berhasil memiliki kepandaian silat yang hebat," Toan Giok manggut-manggut. "Selama ini aku sangat memahami wataknya dan percaya dia tak akan bersekongkol dengan perempuan semacam Hoa Ya¬lay."

"Kau pasti sudah lama tak bertemu lagi dengannya," sela Toan Giok cepat. Lu Kiu menghela napas panjang.

"Ai, aku memang sudah lama tak pernah berjumpa dengannya. Oleh sebab itu ketika dia mengundangku bertemu di sini, aku sendiri pun merasa sedikit di luar dugaan."

"Setelah lewat banyak tahun, terkadang watak dan tabiat seseorang bisa mengalami perubahan sangat besar."

"Sekalipun dia telah berubah, namun biara Siau-limmengutamakan disiplin, peraturan yang berlaku di sana amat ketat. Sementara dia sudah dua puluh tahun mengendon dalam biara Siau- lim, terjun ke dunia persilatan pun belum lama berselang. Bagaimana mungkin dia bisa kenal bandit perempuan

macam Hoa Ya-lay?"

"Dengan tabiatnya, tentu saja dia tak akan bersekongkol dengan Hoa Ya-lay," kata Toan Giok setelah berpikir sebentar.

"Benar, memang tak mungkin," Lu Kiu mengangguk. "Sebetulnya dia bukan bersekongkol dengan Hoa Ya-lay, melainkan dengan Cing-liong-hwe," Toan Giok menerangkan.

" Cing-liong-hwe?" tanya Lu Kiu dengan kening berkerut.

"Ketika meninggalkan biara Siau-lim, dalam keadaan gusar, alasan utamanya adalah karena ia sadar posisinya dalam biara Siau-lim sudah mentok dan tak mungkin bisa lebih menonjol lagi, maka dia ingin pergi keluar dan melakukan perbuatan yang bisa menggemparkan kolong langit."

"Tapi dia sebatangkara, tak punya teman, tak punya komplotan, apalagi sudah lama hidup sebagai pendeta. Terhadap masalah persilatan maupun jago dalam Kangouw pasti terasa asing, untuk bisa melakukan satu pekerjaan besar, dia harus menemukan seorang pembantu yang handal dan memiliki kekuatan sangat besar."

Setelah termenung sejenak, akhirnya Lu Kiu manggut manggut, dia seakan telah memahami sebagian duduknya persoalan.

Kembali Toan Giok berkata, "Tampaknya Cing-liong-hwe memanfaatkan kelemahan itu untuk menariknya bergabung dengan mereka."

"Dengan tabiatnya, mana mungkin ia rela diperalat orang begitu saja?"

"Aku rasa dia pun ingin memperalat kekuatan'Cing-liong hwe untuk memperluas pengetahuan serta kenalannya, jadi bisa jadi persekongkolan ini merupakan sebuah bentuk kerja sama yang saling menguntungkan."

Setelah menghela napas, lanjutnya, "Cing-liong-hwe adalah sebuah organisasi yang luar biasa, mau orang segera ada orang, mau duit segera ada duit. Bagi siapa pun, kehadiran mereka jelas merupakan sebuah daya tank luar biasa, apalagi pada dasarnya dia memang seorang temperamen yang bertindak menurut suara hati sendiri."

Lu Kiu terbungkam, dia tidak bicara lagi.

Dia pun tahu, apa yang diucapkan Toan Giok bukan saja tak salah, bahkan sudah disampaikan dengan perkataan yang paling sopan.

Setelah perjumpaannya dengan Thiat Sui, dia pun merasa sepak-terjang Thiat Sui kelewat berlebihan, terkadang apa yang dia lakukan membuat orang lain susah untuk menerimanya.