Golok Kumala Hijau Bag 06 : Orang dalam peti dari dasar telaga

Bag 06 : Orang dalam peti dari dasar telaga

Tentu saja tampilannya saat ini jauh lebih menawan, jauh lebih mempesona dan jelas jauh lebih menarik daripada sewaktu ia berdandan sebagai lelaki.

Kalau dilihat dari gayanya, mungkin dia memang sengaja berdandan untuk diperlihatkan kepada Toan Giok. Siapa bilang perempuan bukan berdandan untuk dinikmati kaum lelaki?

Kalau ada yang menentang ungkapan ini, sudah pasti orang itu sangat tidak memahami jalan pikiran kaum wanita.

Kenyataan, setiap wanita pasti berdandan secantik mungkin karena ingin diperlihatkan kepada kaum lelaki yang menyukai dan mencintainya.

Tapi sayang Toan Giok justru tidak memandang ke arahnya, melirik sekejap pun tidak. Ia sedang mengamati peti itu.

Peti yang terbuat dari kayu jati kualitas tinggi, dilapisi tembaga kuning, kunci pun terbuat dari tembaga kuning.

Peti itu sangat kokoh, begitu juga dengan kuncinya, tampaknya tidak mudah bagi siapa pun untuk membukanya.

Toan Giok termenung sambil berpikir sejenak, lalu gumamnya, "Sebelum ini, pernahkah kau menyaksikan peti semacam ini?"

"Belum pernah!"

"Aku pernah melihatnya, peti semacam ini biasanya

dipakai keluarga kaya untuk menyimpan perhiasan, intan permata atau lukisan dan barang berharga lainnya."

Oh "

"Oleh karena itu biasanya peti semacam ini disimpan secara hati-hati dan penuh rahasia.

Mengapa sekarang bisa ditemukan di dasar telaga?"

Tiba-tiba Hoa Hoa-hong tertawa dingin, ejeknya, "Siapa tahu isi peti itu hanya sesosok mayat.

Lebih baik jangan bermimpi di siang hari bolong, mengharapkan harta-karun milik orang lain." Sudah berapa kali ia berjalan mondar-mandir di hadapan Toan Giok, namun jangankan kata- kata pujian, mendongakkan kepala untuk menengok sekejap ke arahnya pun tidak.

Ia betul-betul naik darah, marah bercampur mendongkol.

Dalam pada itu, setelah termenung beberapa saat Toan Giok kembali berkata sambil tertawa, "Betul juga perkataanmu. Bisa jadi isi peti ini benar-benar adalah manusia, tapi pasti manusia hidup, bukan orang mati."

"Hm, lagi-lagi kau sedang bermimpi," sekali lagi Hoa Hoa-hong mengejek sambil tertawa dingin.

Terdengar Toan Giok berkata lebih lanjut, "Dulu, aku pernah mendengar sebuah kisah yang amat menarik."

Tiba-tiba ia membungkam dan tidak berbicara lagi. Seandainya dia melanjutkan ceritanya, mungkin saja Hoa Hoa-hong tak akan mendengarkan, atau paling tidak akan berlagak tidak mendengarkan.

Tapi sekarang, setelah ia tidak melanjutkan kisahnya, Hoa Hoa-hong malah tak tahan, tanyanya, "Kisah apa?"

"Cerita yang berhubungan dengan peti." "Peti macam apa?"

"Peti yang bentuknya tak jauh berbeda dengan peti ini”

"Kalau akan diceritakan, cepat katakan," tak tahan Hoa HoaHoa hong berteriak.

Kini Toan Giok baru tertawa, ceritanya, "Konon dahulu ada seorang pemburu muda pintar dan pemberani, suatu hari dia berhasil menangkap seekor beruang dengan perangkapnya dan bersama rekan-tekannya mengikat beruang itu dengan tali

dan siap dibawa pulang ke rumah, tiba-tiba dari balik semak belukar dalam perjalanan pulangnya, menemukan sebuah peti besar."

"Apakah petinya seperti peti ini?" tanya Hoa Hoa-hong.

"Peti itu jauh lebih besar. Tentu saja pemburu muda itu keheranan, mengapa peti semacam ini bisa dibuang di tengah semak belukar?"

"Maka dia pun ingin membuka peti itu dan memeriksa isinya?" tanya Hoa Hoa-hong. "Betul."

"Apa isi peti itu?"

"Seorang wanita yang masih muda dan cantik sekali," jawab Toan Giok sambil tertawa.

Hoa Hoa-hong tertawa dingin, katanya menggeleng kepala, "Aku tak percaya, mana ada perempuan masuk ke dalam peti besar?"

"Sebetulnya pemburu itu pun heran, maka ditunggunya hingga nona itu tersadar kembali, dia pun segera bertanya."

"Apa jawaban nona itu?"

"Ternyata dia adalah putri seorang hartawan kaya, keluarganya dirampok habis-habisan oleh sekawanan begal, seluruh anggota keluarganya mati terbunuh."

"Lantas darimana ia bisa lobos dari terkaman mulut harimau?"

"Dia sendiri pun tidak lolos dari ancaman bahaya, ternyata pentolan begal itu ada dua orang, mereka adalah dua orang Hwesio. Kedua orang ini jatuh hati pada kecantikannya, maka sengaja mereka menyembunyikan nona itu ke dalam peti dan hendak dibawa pulang."

"Kalau memang mereka tidak bermaksud baik, mengapa pula meninggalkan peti itu di pinggir jalan?"

"Tempat itu sebetulnya hutan yang sepi dan jauh dari keramaian manusia. Untuk menghindari pengawasan orang banyak, sengaja peti itu disembunyikan di sana. Seandainya ada dua orang Hwesio menempuh perjalanan sambil menggotong sebuah peti besar, tingkah laku mereka pasti akan dicurigai orang banyak, bukan?"

"Oh, jadi mereka pun tidak menyangka bakal ada orang yang pergi ke tempat terpencil itu?" tanya Hoa Hoa-hong.

Toan Giok manggut-manggut. "Bagaimana kemudian?” tanya si nona.

"Tentu saja kawanan pemburu itu merasa terharu dan setelah mendengar cerita nona itu, maka mereka pun menolongnya keluar dari dalam peti dan memasukkan beruang yang baru saja ditangkap itu ke dalam peti."

Setelah tersenyum, lanjutnya, "Sudah kukatakan tadi, peti itu jauh lebih besar dari peti yang ada di hadapan kita sekarang."

Tak tahan Hoa Hoa-hong memperhatikan sekejap peti di hadapannya, kemudian berkata, "Peti ini pun tidak terhitung kecil”

"Memang tidak kecil, jika dipakai untuk memasukkan seseorang, rasanya hal ini pun tidak terlalu sulit."

"Kau belum menyelesaikan ceritamu," kata Hoa Hoa hong.

"Karena merasa berterima kasih kepada sang pemburu yang telah menyelamatkan jiwanya, nona kaya itu pun kawin dengannya."

"Ah, belum tentu begitu," sindir Hoa Hoa-hong sambil tertawa dingin. "Mungkin saja dia terpaksa kawin dengannya karena memang tak ada tempat lagi yang bisa dia tuju."

"Mungkin pendapatmu benar, aku hanya tahu dia benar-benar menikah dengan pemburu itu." "Bagaimana dengan kedua orang Hwesio itu?"

"Sejak itu mereka tak pernah melihat lagi kedua Hwesio iyu hanya saja dari dalam kota tersiar sebuah berita aneh."

"Berita aneh apa?"

"Hari itu di sebuah rumah penginapan terbesar di kota itu kedatangan dua orang tamu, mereka memakai baju baru, mengenakan topi baru, tapi anehnya kedua orang itu membawa sebuah peti yang besar sekali."

"Peti itu yang dibawa?"

Toan Giok tidak menjawab, hanya lanjutnya, "Mereka memesan kamar yang paling besar, minta hidangan paling lezat, kemudian mengunci pintu dari dalam. Sebelum itu mereka berpesan kepada para pelayan penginapan, meski mendengar suara apa pun, tak ada yang boleh pergi mengganggu mereka"

“Kedua orang Hwesio bajingan itu benar-benar bukan manusia baik-baik," sumpah Hoa Hoa- hong gemas.

"Kemudian, benar saja, para pelayan mendengar suara yang sangat aneh berkumandang dari dalam kamar, sekalipun mereka tak berani bertanya, namun tak urung ingin memeriksa juga apa gerangan yang telah terjadi."

"Apa yang mereka saksikan?"

"Tidak lama mereka menunggu, tahu-tahu terlihat ada seekor beruang besar menerjang keluar dari kamar, mulutnya masih dipenuhi noda darah. Menanti beruang itu kabur jauh, baru berani masuk ke kamar untuk memeriksa keadaan."

Setelah menghela napas, kembali lanjutnya, "Waktu itu keadaan ruangan porak-poranda tak keruan, bahkan terlihat kedua orang Hwesio itu mati secara mengenaskan dalam kamar itu.

Sewaktu mati, wajah mereka mengunjuk perasaan kaget, ngeri, seram dan ketakutan yang luar biasa." Hoa Hoa-hong tak tahan untuk tertawa geli, serunya "Tentu saja mimpi pun mereka tak menyangka kalau perempuan cantik dalam peti tiba-tiba berubah jadi beruang besar."

Toan Giok ikut tertawa.

"Buat orang lain, tentu mereka tak pernah bisa menduga mengapa ada seekor beruang bisa bersembunyi dalam peti besar Oleh karena itu peristiwa ini menjadi kasus besar yang diliputi misteri, hanya sepasang muda-mudi pemburu yang kini telah menjadi suami-istri yang tahu akan rahasia itu sebenarnya."

Setelah tertawa, kembali ujarnya, "Mereka menyimpan rahasia itu rapat-rapat dan hidup bahagia hingga hari tua bahkan kehidupan mereka amat kaya dan berkecukupan, sebab harta yang dirampok Hwesio itu disembunyikan juga dalam peti."

Tanpa terasa sekulum senyuman menghiasi wajah Hoa Hoa-hong, pujinya, "Ceritamu memang sangat menarik."

"Justru karena itu hingga sekarang aku tidak pernah melupakannya," sambung Toan Giok. "Apakah kau sangat mengagumi pengalaman yang dialami pemburu muda itu?" tanya Hoa Hoa-

hong sambil melirik sekejap ke arahnya.

"Ai, siapa tak iri dengan pengalaman yang dialaminya?" Toan Giok sambil menghela napas.

Mendadak paras muka Hoa Hoa-hong berubah hebat. Sambil cemberut, teriaknya ketus, "Jadi kau pun berharap isi peti itu pun seorang wanita cantik yang kaya-raya?"

Toan Giok tidak menjawab, dia hanya tertawa, tertawa sangat riang.

Kembali Hoa Hoa-hong melotot, katanya sambil tertawa dingin, "Darimana kau tahu kalau isi peti ini adalah perempuan cantik, bukannya beruang pemangsa manusia?"

"Karena hanya orang jahat yang akan memperoleh pcmbalasan yang setimpal. Ketika cerita ini disampaikan kepadau dulu, orang itu pun berharap agar aku tidak melakukan perbuatan jahat."

"Kau tak pernah melakukan perbuatan jahat?"

Toan Giok manggut-manggut sambil tertawa.

"Oleh sebab itulah isi peti ini sudah pasti bukan seekor beruang besar." "Dan tak mungkin seorang wanita cantik."

"Kenapa?" sengaja Toan Giok bertanya.

"Karena tak mungkin di dunia ini terdapat kejadian yang begitu kebetulan, lagi pula kisah itu hanya cerita karanganmu sendiri. Oleh karena baru saja kau menderita kerugian di tangan Hwesio, maka kau mengatakan Hwesio itu bandit."

"Kau keliru besar," kata Toan Giok serius. "Cerita ini tidak bohong, tapi tercantum dalam kumpulan cerita Se-yang-ca-cu buah karya Toan Seng-si. Inti cerita itu adalah siapa berbuat baik dia akan menuai kebaikan, siapa berbuat jahat dia akan menuai kejahatan. Oleh karena itu hidup sebagai manusia di dunia ini, lebih baik janganlah berbuat jahat."

Hoa Hoa-hong melotot sekejap ke arahnya, tapi tak tahan katanya juga sambil tertawa, "Terlepas apa pun yang akan kau katakan, aku tetap tak percaya kalau ada orang dimasukkan dalam peti "

Ucapan itu tidak dilanjutkan lebih jauh, karena pada saat itulah tiba-tiba dari dalam peti berkumandang semacam suara yang sangat aneh, seperti ada orang sedang merintih dari dalam peti besar itu.

Tak salah lagi, ternyata isi peti itu benar-benar seorang manusia, bahkan seorang manusia hidup.

Hoa Hoa-hong mengawasi peti itu dengan mata terbelalak lebar, seakan melihat setan di siang hari bolong, tertegun, terperangah dan ngeri.

Begitu juga Toan Giok, ia merasa amat terperanjat. Sekalipun dia percaya bahwa peristiwa semacam itu bisa terjadi di dunia ini, namun tak pernah menyangka dia akan mengalami sendiri kejadian seperti itu.

Beberapa saat kembali sudah lewat, namun suara itu masih berkumandang tiada hentinya. Tiba-tiba Hoa Hoa-hong berkata, "Kau yang menemukan peti itu, bukan?"

Terpaksa Toan Giok mengangguk.

"Jadi kaulah yang seharusnya membuka tutup peti itu," Hoa Hoa-hong menambahkan.

Toan Giok menghela napas panjang dan tertawa getir, jawabnya cepat, "Tentu saja aku tak akan membuangnya lagi ke dalam air."

"Mengapa hingga sekarang kau belum turun tangan?"

"Kunci ini sangat besar, belum tentu aku sanggup membukanya," kata Toan Giok sambil berkerut kening.

"Kau pasti bisa membukanya, aku tahu kepandaianmu luar biasa."

"Bagaimana dengan kau sendiri? Kalau memang ingin tahu, kenapa tidak turun tangan sendiri?" "Tentu saja tidak, aku kan seorang wanita."

Tampaknya hingga sekarang dia baru teringat kalau dirinya adalah seorang wanita.

Bila seorang wanita tak ingin melakukan suatu pekerjaan, biasanya dengan cepat dia akan teringat hal ini.

Dan alasan itu, kebetulan merupakan alasan yang tak bisa disangkal lelaki mana pun. Oleh sebab itu terpaksa Toan Giok harus turun tangan sendiri membuka peti besar itu. Cepat Hoa Hoa-hong membalikkan tubuh memandang ke arah lain.

Bukan saja dia enggan membantu, melihat pun tak mau, seolah-olah takut bila makhluk yang melompat keluar dari dalam peti adalah setan hidup berwajah seram.

"Tring!", akhirnya Toan Giok berhasil mematahkan kunci tembaga dan membuka peti itu.

Hoa Hoa-hong menunggu beberapa saat lamanya, ketika mendengar sesuatu gerak-gerik, tak tahan tanyanya, "Apakah isi peti itu benar-benar manusia?"

"Ehm!"

"Manusia hidup?" "Ehm!"

"Tua atau muda?" tanya Hoa Hoa-hong lagi sambil menggigit bibir. "Muda."

Kembali Hoa Hoa-hong menggigit bibir, tapi akhirnya tak tahan ia bertanya lagi, "Laki-laki atau perempuan?"

"Laki-laki."

Kini Hoa Hoa-hong baru menghembuskan napas lega, sekulum senyuman segera menghiasi ujung bibirnya.

Dia lebih rela isi peti itu adalah seekor beruang besar daripada seorang gadis muda.

Ada orang bilang, binatang yang paling dibenci kaum wanita adalah ular. Ada juga yang mengatakan, binatang yang paling dibenci kaum wanita adalah tikus.

Padahal makhluk apakah yang sebenarnya paling dibenci kaum wanita? Wanita! Makhluk yang paling dibenci perempuan sesungguhnya adalah perempuan lain.

Apalagi wanita itu adalah seorang perempuan yang mungkin bisa menjadi musuh cintanya, terlebih seorang wanita yang jauh lebih cantik daripada diri sendiri.

Orang yang berada dalam peti itu bukan hanya masih muda, bahkan tampan. Hanya sayang paras mukanya pucat-pias menakutkan, pakaian yang dikenakan pun hanya pakaian dalam yang tipis sehingga tampang dan keadaannya terlihat sangat mengenaskan. Dia merintih tiada hentinya, sementara sepasang matanya masih terpejam rapat, agaknya belum sadar,

Baru saja Hoa Hoa-hong membalikkan badan, ia sudah mengendus bau arak yang kental, tak tahan serunya sambil berkerut kening, "Ternyata orang ini pun seorang setan arak."

"Tapi arak yang masuk ke dalam perutnya pasti tidak sebanyak arak yang tertuang di pakaiannya."

Benar saja, pakaian dalam yang dikenakan orang itu terendus bau arak yang sangat kuat. "Kalau dia tidak mabuk, mengapa belum juga sadar?" tanya Hoa Hoa-hong.

Toan Giok termenung sambil berpikir sejenak, lalu sahutnya, "Aku rasa dia sudah terkena bubuk pemabuk atau obat pelupa diri dan sebangsanya hingga tak sadarkan diri, bahkan kadar yang merasuk ke dalam tubuhnya tidak terhitung ringan."

"Maksudmu dia dibuat mabuk dan tak sadarkan diri lebih dulu sebelum dimasukkan ke dalam peti?"

"Siapa pun orangnya, tak mungkin ada yang bersedia dimasukkan ke dalam peti secara suka- rela."

Hoa Hoa-hong memperhatikan sekejap paras mukanya yang pucat-pias, tiba-tiba katanya sambil tertawa, "Jangan¬ jangan dua orang Nikoh yang memasukkan orang ini ke dalam peti?"

Toan Giok segera mengedipkan matanya berulang kali, balasnya, "Aku rasa dia pasti sudah kehilangan tempat tinggal dan tak tahu kemana harus pergi. Apa salahnya kalau kau ambil dia sebagai calon suami?"

Kontan saja paras muka Hoa Hoa-hong berubah jadi cemberut, teriaknya ketus, "Terima kasih banyak, idemu memang sangat bagus. Tak nyana kau bisa memikirkannya untukku."

Toan Giok kembali tertawa, tampaknya ia merasa sedikit lebih lega.

Dengan gemas, Hoa Hoa-hong melotot ke arahnya. Setelah tertawa dingin, kembali ujarnya, "Kau benar-benar takut aku tak mendapat jodoh?"

"Aneh, masa hanya boleh kau yang mengejek diriku, sementara aku tak boleh mengejekmu?" "Tidak, pokoknya kau tak boleh!"

"Ai " Toan Giok menghela napas panjang. "Padahal anak muda ini tampaknya lumayan juga,

belum tentu dia tak pantas mendampingimu."

"Ai " Hoa Hoa-hong ikut menghela napas, "Sayangnya orang ini pun berpenyakit persis

seperti kau." "Penyakit apa?" "Penyakit goblok!"

Setelah tertawa nyengir, tambahnya, "Kalau dia tidak mengidap penyakit goblok, kenapa bisa dimasukkan orang ke da lam peti!"

Untuk kesekian kalinya Toan Giok menghela napas panjang. Kali ini dia benar-benar menghela napas.

Sekarang dia memang mempunyai perasaan begitu, merasa seolah dia sendiri yang dimasukkan ke dalam peti, bahkan dengan cepatnya peti itu tenggelam ke dasar telaga.

Yang paling menyakitkan adalah hingga sekarang dia masih belum tahu siapakah orang yang telah memasukkan dirinya ke dalam peti itu.

Berputar sepasang biji mata Hoa Hoa-hong. Sesaat kemudian kembali ujarnya, "Menurut kau, kenapa ia bisa dimasukkan ke dalam peti?"

Toan Giok hanya bisa menghela napas, ia menggeleng kepala berulang kali.

"Entah apakah dia sama seperti dirimu? Apa pun yang dikatakan orang lain, ia tetap tak percaya," kata Hoa Hoa-hong lagi. Toan Giok hanya tertawa getir, tidak menjawab. "Tampaknya pasti ada orang ingin merampas hartanya

dan menghilangkan nyawanya," ujar Hoa Hoa-hong lebih jauh. "0, ya?"

"Setelah merampas hartanya dan mencabut nyawanya, kemudian ingin melenyapkan semua bukti."

"Kalau dilihat dari pakaian dalam yang dikenakan orang ini, tampaknya dia memang berasal dari keluarga kaya, tidak sembarangan orang bisa mengenakan pakaian semacam itu."

"Ai, sungguh tak disangka di seputar telaga Se-ouw pun terdapat bandit seganas ini. Setelah dia sadar nanti, kita harus bertanya kepadanya, ada dimana bandit-bandit jahanam itu."

Hoa Hoa-hong tak perlu menunggu terlalu lama, orang itu telah tersadar kembali.

Ketika secara tiba-tiba menyaksikan dirinya berada di suatu tempat yang amat asing, ia tampak kaget dan terperangah.

Dengan cepat orang itu berhasil menenangkan hatinya.

Bila berganti orang lain, tatkala tersadar kembali dalam keadaan seperti ini, pasti ada banyak pertanyaan yang akan dia ajukan kepada Toan Giok berdua.

Tapi orang itu tidak buka suara, sepatah kata pertanyaan pun tidak diajukan, bahkan ungkapan rasa "terima kasih" pun tak ada.

Orang lain telah menyelamatkan jiwanya, tapi dia malah menganggap orang lain terlalu banyak urusan.

Hoa Hoa-hong tak bisa menahan sabar lagi, segera tegurnya, "Tahukah kau kenapa bisa sampai di tempat ini?"

Orang itu memandangnya sekejap, lalu menggeleng kepala berulang kali.

"Kau berhasil kami keluarkan dari dalam sebuah peti, sebelumnya peti itu berada di dasar telaga."

Bila berganti orang lain yang mengetahui dirinya berada dalam sebuah peti, ia pasti akan sangat terperanjat.

Tapi orang itu sama sekali tak bereaksi, mengedipkan matanya pun tidak.

"Kenapa kau bisa dimasukkan ke dalam peti? Apakah ada orang ingin mencelakaimu?" desak Hoa Hoa-hong.

Orang itu masih tetap tutup mulut, tapi kali ini sinar matanya dialihkan ke wajah Toan Giok. "Orang yang sedang kau pandang saat ini she Toan bernama Giok," kembali Hoa Hoa-hong berkata. "Dia adalah seorang jagoan berilmu tinggi. Bila kau beritahu kepadanya siapa yang telah

mencelakaimu, pasti dia akan membantumu membalas dendam."

Bukan saja orang itu tetap rnenutup mulut, bahkan wpasang matanya ikut dipejamkan.

"He, apa kau bisu?" tak tahan Hoa Hoa-hong berteriak. Orang ini bukan saja mirip orang bisu, bahkan tuli pula. Hoa Hoa-hong benar-benar kehabisan daya. Sambil menghela napas dia berpaling ke arah Toan Giok, lalu ujarnya sambil tertawa getir, "Ternyata kita keliru."

"Bagian mana yang keliru?"

"Kelihatannya orang itu seperti secara sukarela masuk ke dalam peti itu. Buat apa kita mesti membuang banyak pikiran dan tenaga untuk menyelamatkan jiwanya?"

"Seandainya aku sendiri yang baru dikeluarkan dari dalam sebuah peti, mungkin aku pun tak berminat untuk banyak bicara,” sahut Toan Giok sambil tertawa.

"Tapi kalau apa pun tak mau dia ucapkan, mana mungkin kita bisa membantunya membalas dendam?" "Ada sejenis orang, bila ingin menuntut balas kepada seseorang, dia akan pergi sendiri dan tak sudi minta bantuan orang lain."

Kontan Hoa Hoa-hong tertawa dingin.

"Hm, aku tahu, memang banyak lelaki yang mempunyai watak bau seperti itu," jengeknya.

Mendadak orang itu membuka mata, memandang gadis itu sekejap dan akhirnya buka suara, "Terima kasih!"

Hingga kini dia hanya mengucapkan dua patah kata itu, seakan bukan berterima kasih karena Toan Giok yang telah menyelamatkan jiwanya, melainkan karena pemuda itu telah mengungkap suara hatinya.

Bcgitu selesai mengucapkan perkataan itu, dia pun segera berdiri dan siap beranjak pergi. "Sekarang juga kau akan pergi?" tegur Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut.

Orang itu manggut-manggut, tapi baru berjalan selangkah, tiba-tiba wajahnya menunjukkan rasa sakit yang luar biasa, seolah-olah tubuhnya tertusuk jarum tajam secara tiba¬tiba.

Menyusul tubuhnya roboh terjungkal ke tanah.

Kini Toan Giok baru tahu kalau bahu belakangnya basah oleh darah.

"Kau terluka?' jerit Hoa Hoa-hong.

Orang itu tidak menjawab, kembali dia meronta untuk bangkit, tapi sekali lagi roboh terungkal.

Begitu roboh kali ini, dia tak sadarkan diri.

Ternyata tubuhnya memang terluka.

Mulut luka berada di bahu bagian belakang, besarnya hanya semata jarum, tapi seluruh bahu sudah berubah hijau kehitam-hitaman dan membengkak. Jelas ia sudah terkena senjata rahasia beracun yang lembut dan tajam, kemungkinan besar ia dibokong dari belakang.

"Wah, tampaknya senjata rahasia itu beracun," seru Hoa Hoa-hong dengan kening berkerut. "Bukan hanya beracun, bahkan racunnya sangat lihai."

"Apakah masih ada harapan untuk ditolong?"

Toan Giok tertawa.

"Walaupun aku tidak ahli dalam urusan membunuh, tapi menolong orang adalah ahlinya." Sambil tersenyum dia menggulung lengan baju sendiri, kemudian ujarnya lebih jauh, "Kau cukup membantu aku memanaskan sepoci arak kualitas baik, kujamin akan kubuat dia menjadi

manusia hidup lagi."

Hoa Hoa-hong melirik sekejap ke arahnya dengan sorot mata ragu dan penuh curiga, gumamnya, "Jangan-jangan orang ini sedang menipu arakku?"

Ternyata Toan Giok tidak sedang menipu araknya, dia pun tidak mengibul atau omong besar, anak muda ini benar¬benar memiliki kepandaian yang luar biasa.

Mula-mula dia menghirup arak seteguk, lalu arak itu disemburkan ke atas mulut luka orang itu, setelah itu dari dalam sakunya dia mengeluarkan Bi-giok-to yang berwarna hijau pupus itu dan mulai mengorek daging busuk di sekeliling mulut luka.

Menanti darah hitam yang meleleh keluar dari mulut luka itu berubah merah segar, ia baru mencampur bubuk obat ke dalam arak panas kemudian dibubuhkan di seputar luka.

Selesai semua itu, dia menghembuskan napas panjang dan berkata sambil tertawa, "Sekarang kau tentu percaya bukan bahwa aku bukan sedang mengibul?"

"Tidak kusangka ternyata kau memang mempunyai kepandaian hebat," sahut Hoa Hoa-hong sambil tersenyum.

"Bukan hanya itu saja kepandaianku, sesungguhnya aku masih memiliki kemampuan lain." "Kau benar-benar dapat mengobati berbagai macam penyakit?”

"Hanya satu macam penyakit yang tak dapat kuobati." "Penyakit apa?" "Penyakit lapar." Setelah menghela napas, lanjutnya sambil tertawa getir,

"Boleh tahu, di tempatmu ini apakah tersedia obat mujarab yang bisa dipakai untuk mengobati penyakit laparku?"

"Kau ingin makan apa?" tanya Hoa Hoa-hong sambil tertawa. "Kau punya apa saja di sini?"

"Tempat ini hanya sebuah rumah kosong, mana mungkin tersedia aneka makanan?" "Jadi seorang manusia pun tak ada?"

"Tak ada!"

"Kau sendiri tak bisa menanak nasi?" " Tidak, tapi aku bisa pergi membeli."

Kali ini ia pun tidak omong besar, nona itu membuktikan dia memang pandai berbelanja. Baru saja Toan Giok merebahkan orang sakit itu di dalam rumah, tak selang berapa lama Hoa

Hoa-hong telah pulang membeli aneka macam bungkusan, ada bungkusan besar, ada pula bungkusan kecil.

Ketika bungkusan pertama dibuka, ternyata isinya adalah udang bago masak saus tiram.

Berkilat mata Toan Giok, serunya sambil tertawa, "Wah, udang besar ini pasti udang masakan rumah makan Thay-hap¬ lau!"

Bungkusan kedua berisi baikut panggang.

"Kalau masakan baikut ini pasti berasal dari rumah makan Gui-goan-koan!"

Bungkusan ketiga adalah bakpao.

"Apakah bakpao ini adalah bakpao daging bikinan rumah makan Yu-it-cun?" seru Toan Giok.

Bungkusan keempat berisi potongan daging panggang, setiap potong paling tidak tiga inci tebalnya.

Sambil membasahi bibirnya dengan ludah, kata Toan Giok seraya tertawa senang, "Kalau ini daging panggang dari rumah makan Ong-heng-seng di lorong Cing-hap-hong."

Bungkusan kelima berisi hi-wan, bakso yang terbuat dari daging ikan segar.

Kembali Toan Giok memuji, "Bakso ikan buatan Gwe-lau memang terkenal akan kegurihan dan kekenyalannya."

Bungkusan keenam berisi ca rebung.

"Ehm, kalau ini ca rebung!" seru Toan Giok.

Mendengar ocehan pemuda itu, Hoa Hoa-hong tertawa tergelak, pujinya, "Tak kusangka ternyata kau memang ahli makan."

"Ah, sekalipun belum pernah mencicipi daging babi, paling tidak aku pernah melihat babi berjalan."

Padahal semua hidangan itu jangankan dicicipi, melihat pun belum pernah, dia hanya pernah mendengar orang bercerita akan hal ini.

Ca rebung dari telaga Se-ouw memang amat tersohor di seantero kolong langit.

Bungkusan terakhir berisi ayam goreng dari gang Thay peng serta sebotol arak Tiok-yap-cing dari dusun Sin-hoa- cun.

Kecuali berada di telaga Se-ouw, mungkin hanya sewaktu bermimpi kau baru bisa mencicipi semua hidangan itu. Kenyataan, rumah makan Gwe-goan-koan, Ong-huan-ji, Tek-gwe-lau dan lain-lain merupakan tempat-tempat yang sering diimpikan setiap orang.

Sementara Toan Giok masih menikmati semua hidangan itu dengan santai, mendadak Hoa Hoa- hong mengeluarkan selembar kertas dari dalam keranjang belanjanya, lalu dengan mengulum senyuman yang misterius tanyanya, "Tahukah kau siapa orang yang berada dalam lukisan ini?" Di atas kertas itu terlukis wajah seseorang, seorang pemuda tampan dengan senyuman yang manis.

Di bawah lukisan itu, tertera sederet tulisan dengan huruf benar, "Dicari: hadiah lima ribu tahil perak".

Orang yang dikenal Toan Giok memang tidak terlalu banyak, tapi dengan lukisan orang itu, dia sangat mengenalnya. Karena orang itu tak lain adalah dirinya sendiri.

Ditatapnya lukisan di atas kertas itu, lalu meraba wajah sendiri, setelah tertawa getir gumamnya, "Lukisan ini tidak terlalu mirip, gambar ini jauh lebih tampan ketimbang wajah asliku."

"Mungkin kau sendiri pun tidak menyangka bukan kalau dirimu masih laku dijual lima ribu tahil perak," ejek Hoa Hoa¬ hong sambil tertawa.

Toan Giok menghela napas panjang.

"Ai, entah siapa yang rela mengeluarkan uang sebesar lima ribu tahil perak hanya untuk mencari diriku?"

"Masa tak bisa kau duga?" "Maksudmu Thiat Sui?"

"Tepat sekali!"

"Dengan orang ini aku tak punya dendam, tak punya permusuhan, aku benar-benar tak habis mengerti, mengapa dia bermusuhan dengan aku?"

"Tampaknya dia memang enggan melepas dirimu begitu saja. Pengumuman semacam ini paling tidak telah tersebar ribuan lembar di setiap pelosok kota, mungkin dalam setiap rumah makan maupun rumah penginapan telah tertempel beberapa lembar."

Kemudian setelah tertawa, kembali gadis itu melanjutkan, "Aku yakin dalam kota Hangciu saat ini, sedikit sekali orang yang tidak mengenali wajahmu lagi."

"Ehm, lima ribu tahil perak memang tidak terhitung sedikit."

"Tentu saja tidak sedikit, demi uang lima ribu tahil perak, ada sementara orang yang rela menjual nama baik leluhurnya."

"Oleh sebab itu aku sudah tak bisa berpikir lagi cara mengatasinya."

"Sekarang pada hakikatnya kau sudah tak dapat pergi kemana pun. Sekalipun tak ada iming iming hadiah sebesar lima ribu tahil perak, pembunuh yang telah menghabisi nyawa seseorang merupakan musuh masyarakat yang dibenci setiap orang. Begitu kau keluar selangkah dari tempat ini, pasti ada orang yang segera melaporkan kemunculanmu itu kepada Thiat Sui."

Toan Giok tertawa getir sambil menggeleng kepala berulang kali, gumamnya, "Pembunuh, aku sendiri pun tak habis pikir, kenapa secara tiba-tiba aku bisa berubah jadi pembunuh? Jangan- jangan ini pun termasuk nasibku?"

"Kau benar tak habis berpikir?" tanya Hoa Hoa-hong.

Toan Giok menuang secawan arak, meneguknya hingga habis.

Terdengar Hoa Hoa-hong berkata lagi, "Coba kau pikir, paling baik lagi bila dibayangkan sejak awal."

Kembali Toan Giok memenuhi cawan araknya, setelah itu baru berkata, "Waktu itu, ketika pertama kali kau melihat diriku, baru saja aku tiba di sini."

"Kemudian?"

"Kemudian secara kebetulan aku melihat kejadian itu, Hoa Ya-lay pun secara kebetulan muncul."

"Kemudian kau pun mengikuti dia masuk ke kamar tidumya," sambung Hoa Hoa-hong cepat.

"Ketika aku muncul kembali dari rumah itu, secara kebetulan aku bertemu Kiau-losam yang suka mencampuri urusan orang." "Betul, dan dia minta kau datang ke Hong-lin-si untuk mencari Tosu bermarga Ku." Toan Giok manggut-manggut.

"Sebenarnya belum tentu aku bisa menemukan tempat itu, tapi secara kebetulan bertemu dirimu."

"Ya, karena secara kebetulan aku tabu dimana letak Hong lin-si."

"Ternyata dalam biara Hong-lin-si memang terdapat seorang yang bernama Ku-tojin. Bukan saja telah bertemu dengan dirinya, bahkan berkenalan pula dengan dua orang teman baru dan berhasil menangkan puluhan laksa tahil perak, kusangka nasibku memang sedang mujur."

"Kebetulan mereka pun mengetahui kejadian ini, maka minta kepadamu untuk pergi mencari Hoa Ya-lay," sambung Hoa Hoa-hong.

Toan Giok menghela napas panjang.

"Ya, karena itu secara tiba-tiba aku berubah menjadi seorang pembunuh, secara kebetulan golok yang ditemukan di tubuh sang korban adalah golok milikku."

"Kau anggap di dunia ini benar-benar terdapat kejadian yang begitu kebetulan?"

"Aku rasa hal semacam ini tak mungkin terjadi, tapi apa mau dikata, aku justru telah menjumpainya," sahut Toan Giok tertawa getir.

Hoa Hoa-hong ikut menghela napas panjang.

"Kejadian ini pada hakikatnya seperti kejatuhan segepok Goanpo dari tengah udara sewaktu kau berjalan di tengah jalan dan Goanpo itu menimpa di atas kepalamu."

"Tapi justru merasa seolah tubuhku saat ini sudah dimasukkan ke dalam sebuah peti besar, bahkan peti itu adalah sebuah peti mati yang sangat rapat dan tak tembus udara."

"Siapa yang memasukkan dirimu ke dalam peti? Hoa Ya lay atau Thiat Sui?" "Aku tak bisa menjawab."

"Masa kau tak pernah berpikir, mungkin saja kau sendiri yang telah memasukkan dirimu ke dalam peti itu?"

"Sudah pasti bukan diriku sendiri, tentu ada seseorang lain dan orang itu entah mengapa berniat mencelakai diriku. Mungkin jauh sebelum aku tiba di sini, dia telah menyiapkan sebuah liang perangkap di tempat ini dan menanti aku terjerumus ke dalamnya."

Selesai meneguk cawan arak keempat, sepatah demi sepatah dia menambahkan, "Tapi kau tak usah kuatir! Cepat atau lambat aku pasti berhasil menyeret keluar orang itu."

Hoa Hoa-hong menghela napas panjang, katanya, "Aku hanya kuatir sebelum kau berhasil menyeretnya keluar, dirimu sudah terkubur lebih dulu di balik lumpur di dasar telaga."

Ia memenuhi cawan sendiri dengan arak, kemudian menuangkan pula untuk Toan Giok.

Sekarang Toan Giok merasa seakan tak mampu lagi menghabiskan arak itu, ia merasa arak yang diminum kini rasanya amat getir.

Dia sama sekali tidak menyadari, ada seseorang telah berjalan menghampiri mereka secara diam-diam, kemudian mengawasi kertas pengumuman yang tergeletak di atas meja.

Orang itu mempunyai paras muka yang lebih putih daripada kertas, namun memiliki sepasang mata yang tajam sekali.

Bila seseorang pernah dimasukkan ke dalam peti, tanpa memiliki nasib yang istimewa, rasanya sulit untuk berjalan keluar lagi dari dalam peti dalam keadaan hidup.