Bulu Merak (Badik Merak) Bab 5 TAMAT

Bab 5 Bukan (Penutup)

“Dia tahu kau pasti tidak akan tega melihat Shuang Shuang mati di depanmu, apakah benar perkataanku ini?”

Gao Li terjatuh ke tempat tidur, keringat dingin terus mengalir seperti air hujan.

Gao Li merasa selama 2 tahun ini, Qiu Feng Wu tampak lebih dewasa juga lebih sempurna jalan pikirannya. Dia sudah mempunyai wibawa dan sikap seorang Ketua Wisma Kong Que.

Tapi dia juga terlihat lebih dingin dan lebih kejam. Di antara mereka siapa yang tampak lebih bahagia?

Bahagia atau tidak, tidak semuanya benar. Tiba-tiba Gao Li berkata,

“Jika aku tidak memberi dia kesempatan untuk menaruh pedang di leher Shuang Shuang, bagaimana?”

Qiu Feng Wu tertawa dan berkata, “Sekarang kau sudah kembali menjadi Gao Li yang dulu.” Kata Gao Li,

“Aku tahu sekarang kau adalah tuan rumah Wisma Kong Que.”

Ucap Qiu Feng Wu, “Ayahku sudah meninggal.” Kata Gao Li,

“Karena itu aku ingin meminta pertolongan kepadamu.” Jawab Qiu Feng Wu,

“Katakanlah.” Kata Gao Li,

“Jika kau menolaknya, aku tidak akan marah.”

Qiu Feng Wu mendengarkan Gao Li yang bicara, tapi ekspresi wajahnya tiba-tiba menjadi sangat aneh, sepertinya dia sudah tahu apa yang diinginkan oleh Gao Li.

Kata Gao Li,

“Aku ingin meminjam Kong Que Ling.”

Qiu Feng Wu tidak bicara sepatah katapun. Dia hanya melihat tangannya terus. Gao Li juga tidak bicara lagi, dia juga melihat tangan Qiu Feng Wu, sepasang tangan dengan kuku yang digunting sangat rapi dan terawat. Sepasang tangan ini sudah bukan tangan dulu yang dipenuhi oleh tanah dan darah.

Apakah orang ini masih teman yang dulu, yang mau menyerahkan nyawa demi teman?

Di luar jendela, hari semakin malam. Di dalam rumah tidak dipasang lampu, Qiu Feng Wu dengan diam duduk di dalam kegelapan, jarinya pun tidak bergerak.

Gao Li tidak bisa melihat ekspresi wajahnya. Angin berhembus membuat daun-daun yang berada di pekarangan berguguran.

Musim gugur sudah tiba. Bulan sudah bergantung di atas pohon. Qiu Feng Wu tetap tidak bicara, juga tidak bergerak. Gao Li tidak mengatakan apa-apa, dia bangun dari tempat tidur dan mencari sepatu yang berada di bawah tempat tidur.

Qiu Feng Wu tetap tidak mengangkat kepalanya. Gao Li memakai sepatu, pelan-pelan lewat di sisi Qiu Feng Wu dan dengan pelan juga membuka pintu. Di luar cuaca dingin seperti air. Hari Gao Li juga terasa dingin, dia tidak menyalahkan Qiu Feng Wu karena dia tahu bahwa permintaannya terlalu mengada-ada. Dia tidak membalikkan kepala untuk melihat Qiu Feng Wu karena dia takut Qiu Feng Wu akan merasa sedih.

Pelan-pelan dia sudah berjalan melewati pekarangan, dia memungut selembar daun yang jatuh, melihatnya lalu menaruh lagi.

Kemudian dia merasa ada sebuah tangan memeluk pundaknya.

Sebuah tangan yang kuat dan mantap. Tangan seorang teman.

Dia memegang tangan ini, membalikkan kepala dan melihat Qiu Feng Wu. Matanya sudah bersimbah dengan air mata. Dia sudah terlalu banyak meminta. Tapi bagi teman sejati, apa pun yang dia minta, sepertinya tidak akan terlalu banyak.

Di jalan tidak ada suara. Semua suara tidak dapat menembus ke sini karena dihalangi oleh dinding setebal 1,5 meter. Sepertinya mereka sudah berjalan selama setengah jam. Gao Li tidak ingat sudah berapa belokan dan berapa kali naik tangga, dan sudah berapa kali melewati pintu besi. 

Dia hanya merasa seperti sudah masuk ke dalam sebuah kuburan raja kuno, lembab, seram, dan misterius.

Pintu yang terakhir terlihat lebih besar lagi dari pintu sebelumnya, pintu terbuat dari besi setebal 1,5 meter yang beratnya mencapai ribuan kilogram. Di pintu itu terpasang 13 buah kunci.

Qiu Feng Wu tepuk tangan, di jalan itu yang tadinya tidak terlihat ada seorang pun, tiba-tiba muncul 12 orang.

Mereka adalah orang tua, rambutnya sudah memutih, yang paling muda terlihat sudah berusia 50 tahun.

Sikap mereka begitu serius, langkah mereka sangat ringan. Sekali melihat mereka, sudah tahu bahwa mereka adalah 12 orang pesilat tangguh. Dari balik pakaian, mereka masing- masing mengeluarkan sebuah kunci dan masing-masing memasukkan ke dalam lubang kunci.

Kunci diikat dengan rantai besi di balik pakaian mereka. Kunci yang terakhir berada di balik pakaian Qiu Feng Wu.

Begitu Qiu Feng Wu membuka kunci yang terakhir, keduabelas orang ini sudah menghilang.

Apakah mereka itu manusia? Apakah mereka adalah setan yang keluar dari dalam tanah untuk menjaga tempat terlarang ini?

Pintu sudah terbuka.

Qiu Feng Wu entah menepuk ke bagian mana, pintu seberat ribuan kilogram ini seperti sihir, membuka sendiri. Angin yang berhembus terlihat seram dan dingin, segera menghembus keluar dari dalam ruangan itu.

Dari balik pintu ada sebuah ruangan yang terbuat dari batu. Di dinding penuh dengan lumpur dan masih terpasang 6 buah lampu.

Cahaya lampu terlihat sangat seram, seperti api setan. Di ruangan batu ini tersimpan bermacam-macam senjata aneh, ada juga senjata yang belum pernah dilihat oleh Gao Li.

Qiu Feng Wu mendorong batu besar, di dalam tersimpan sebuah peti besi. Mungkin Kong Que Ling tersimpan di dalam peti besi itu. Gao Li baru mengerti bahwa barang yang dimintanya tcrlalu mahal.

Walaupun terhadap teman baik, tapi permintaan ini terlalu banyak. Qiu Feng Wu membuka peti besi mengeluarkan sebuah tempat berbentuk silinder yang berkilauan. Wadah silinder ini sangat licin, dilihat sekilas seperti barang yang sangat biasa, hanya saja wadah ini terbuat dari emas murni.

Suatu benda bila semakin berharga, terlihat dari luar semakin biasa, karena hal seperti itu baru bisa menjaga kemisteriusannya.

Qiu Feng Wu membawa benda itu dengan kedua tangannya dan memberikannya kepada Gao Li. Wajah Qiu Feng Wu terlihat sangat serius, serius sekaligus sedih. Gao Li melihat dia, kemudian melihat Kong Que Ling yang dipegang oleh Qiu Feng Wu, hatinya pun merasa berat. Kecuali mereka berdua, tidak ada orang yang bisa tahu dari mana datangnya perasaan ini.

Setelah lama Gao Li baru berkata,

“Sebenarnya kau tidak perlu meminjamkannya kepadaku.” Kata Qiu Feng Wu,

“Tapi aku ingin meminjamkannya.” Kata Gao Li,

“Aku pasti akan mengembalikannya kepadamu.” Kata Qiu Feng Wu,

“Aku percaya kepadamu.â€

Akhirnya Gao Li mengulurkan tangannya.

Segera jarinya menyentuh senjata rahasia yang sangat misterius itu. Dalam saat itu juga, hatinya diselimuti oleh perasaan yang misterius yang tidak bisa dilukiskan, seperti orang yang terkena mantra. Mantra ini membuat dia diselimuti oleh tenaga yang misterius.

Kata Qiu Feng Wu,

“Di atasnya ada 2 buah tombol.” Kata Gao Li,

“Aku sudah melihatnya.” Kata Qiu Feng Wu;

“Bila menekan tombol yang pertama, maka rangka- rangkanya akan bergerak. Menekan tombol yang kedua, di dunia ini tidak akan ada orang yang bisa menolong Ma Feng.”

Gao Li menghembuskan nafas panjang, sepertinya dia sudah bisa melihat bayangan Ma Feng roboh ke bawah.

Qiu Feng Wu terdiam, kemudian pelan-pelan berkata, “Seharusnya aku menemanimu pulang, jika aku pergi Kong

Que Ling tidak akan bisa dipakai.”

Kata Gao Li, “Aku...aku...”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tahu maksudmu, kau tidak ingin tanganku menyentuh darah lagi dan tidak ingin aku mendapatkan kesulitan lagi.” Kata Gao Li,

“Karena identitasmu sekarang sudah berbeda dengan yang dulu.” Qiu Feng Wu mengangguk, dia tertawa kemudian berkata, “Aku lupa memberitahumu sesuatu, aku sudah mempunyai putra.”

Gao Li memegangnya dan berkata,

“Lain kali bila aku datang, aku akan menemuinya.” Kata Qiu Feng Wu,

“Kau harus melihat dia.” Kata Gao Li,

“Aku janji.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Kau harus berjanji satu hal kepadaku.” Kata Gao Li,

“Katakanlah!”

Sikap Qiu Feng Wu menjadi sangat serius dan berkata, “Kong Que Ling bukan alat untuk membunuh orang.” Gao Li menjadi aneh dan berkata,

“Apakah bukan?” Kata Qiu Feng Wu,

“Benar, senjata rahasia fungsinya juga sama seperti senjata biasa, senjata bukan untuk membunuh tapi untuk mencegah terjadinya pembunuhan.” Gao Li mengangguk.

Dia tidak begitu mengerti dengan kata-kata Qiu Feng Wu, dia merasa pikirannya dan Qiu Feng Wu sudah berbeda.

Tapi dia tidak mau mengakuinya. Kata Qiu Feng Wu, “Singkatnya tujuan pemakaian Kong Que Ling bukan untuk membunuh orang tapi untuk menolong orang karena itu...”

Dia memegang tangan Gao Li dan berkata,

“Aku minta kau berjanji, jika bukan karena terpaksa jangan gunakan Kong Que Ling.”

Gao Li menghembuskan nafas panjang. Sekarang dia sudah mengerti apa yang dimaksud oleh Qiu Feng Wu.

Paling sedikit dia sudah mengerti sedikit. Dia memegang tangan Qiu Feng Wu dan berkata, “Aku berjanji, kalau bukan karena terpaksa, aku tidak menggunakannya.” Gao Li menegakkan tubuh, lalu berjalan keluar. Langkah kakinya jauh lebih ringan dibanding pada waktu dia datang karena dia sudah tidak takut dan tidak merasa bimbang lagi.

Sekarang Kong Que Ling sudah berada di tangannya.

Nyawa Ma Feng pun sudah berada di tangannya. Dia tidak perlu merasa khawatir lagi, orang yang harus khawatir adalah Ma Feng.

0-0-0

Tiap rumah pasti ada kursi yang nyaman, biasanya kursi itu diduduki oleh tuan rumah.

Tuan rumah ini adalah Gao Li, tapi yang duduk dengan nyaman di kursi itu adalah Ma Feng. Dengan cara yang paling nyaman dia duduk dan melihat Shuang Shuang berdiri di hadapannya.

Dia berkata,

“Sudah 5 hari, suamimu sudah pergi selama 5 hari.” Shuang Shuang mengangguk.

Shuang Shuang merasa tidak nyaman. Ma Feng melihatnya dan bertanya, “Apakah kau tahu dia pergi ke mana?”

Jawab Shuang Shuang, “Tidak tahu,”

Tanya Ma Feng lagi, “Apakah dia akan segera pulang?” Jawab Shuang Shuang, “Tidak tahu.”

Tanya Ma Feng,

“Apakah semuanya kau tidak tahu?” Jawab Shuang Shuang, “Benar.” Tanya Ma Feng,

“Kau tidak bertanya kepadanya?” Jawab Shuang Shuang, “Tidak.” Kata Ma Feng,

“Tapi kau adalah istrinya.” Kata Shuang Shuang,

“Karena aku adalah istrinya maka aku tidak bertanya kepadanya.”

Tanya Ma Feng, “Mengapa?”

Jawab Shuang Shuang,

“Karena laki-laki paling tidak suka bila perempuan banyak tanya, jika aku banyak tanya, dia akan meninggalkan aku.”

Mata Ma Feng sudah mengeluarkan rasa marahnya.

Kata-kata seperti ini, sudah dia dengar selama beberapa kali. Dia menunggu perempuan ini merasa lelah, hancur, dan akan berkata jujur. Dia tidak memakai kekerasan karena dia takut perempuan ini tidak akan bisa bertahan. Dia juga tahu jika perempuan ini mati, bagi dia hanya ada rugi, tidak ada untung.

Sekarang dia merasa yang lelah bukan perempuan itu melainkan dirinya sendiri. Dia tidak habis pikir dengan tenaga apa perempuan cacat itu bisa bertahan sampai sekarang.

Tiba-tiba Shuang Shuang balik bertanya,

“Kau mengkhawatirkan apa? Khawatir dia mencari bala bantuan?”

Ma Feng tertawa dingin dan berkata,

“Dia tidak bisa mencari orang lain untuk membantunya karena dia sama seperti diriku tidak mempunyai teman.”

Kata Shuang Shuang,

“Kalau begitu, mengapa kau masih merasa khawatir?”

Ma Feng tidak menjawab, sebenarnya kata-kata ini seharusnya dia yang bertanya kepada dirinya sendiri.

Gao Li seperti seekor binatang yang sudah masuk ke dalam perangkap, hanya pasrah menunggu orang datang untuk menyembelihnya. Tapi dia sendiri juga tidak tahu, mengapa dia begitu merasa khawatir?

Setelah lama Ma Feng baru berkata,

“Entah dia pergi ke mana, dia pasti akan pulang.” Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau sedang menghibur diri sendiri?” Ucap Ma Feng,

“Oh!”

Kata Ma Feng lagi,

“Bila dia tidak kembali, kau yang akan mati.” Shuang Shuang menarik nafas dan berkata, “Aku tahu itu.” Kata Ma Feng,

“Dia pasti tidak akan tega meninggalkanmu.” Jawab Shuang Shuang,

“Belum tentu.” Tanya Ma Feng,

“Mengapa belum tentu?”

Jawab Shuang Shuang sambil menarik nafas,

“Kau bisa melihat, aku bukan perempuan yang bisa membuat seorang laki-laki bertekuk lutut di hadapanku.”

Wajah Ma Feng berubah dan berkata, “Tapi dia selalu baik kepadamu.” Ucap Shuang Shuang,

“Memang dia selalu baik kepadaku, jika sekarang dia meninggalkan aku, aku juga tidak akan menyalahkan dia.”

Wajah Shuang Shuang terlihat seperti sangat sedih, dengan pelan dia berkata lagi, “Jika dia kembali lagi, belum tentu karena aku, tapi demi dirimu.”

Tanya Ma Feng,

“Mengapa harus demi diriku?” Jawab Shuang Shuang, “Untuk membunuhmu!”

Tiba-tiba tangan Ma Feng menjadi kaku. Setelah lama dia baru bisa tertawa dingin dan berkata, “Apakah kau takut aku menyanderamu untuk mengancamnya?” Baru saja berkata berkata seperti itu, tiba-tiba Shuang Shuang tertawa dan berkata, “Kau mau mengancamnya?” Shuang Shuang tertawa, tertawa dengan sedih,

“Dia itu orang seperti apa? Kau bahkan lebih tahu daripada aku. Kau dan dia adalah orang yang sejenis, apakah kau mengira dia akan mengorbankan dirinya untuk menolongku?”

Wajah Ma Feng berubah lagi dan berkata, “Dia bukan aku.” Kata Shuang Shuang,

“Kau kira dia benar-benar baik kepadaku?” Kata Ma Feng,

“Aku bisa melihatnya.” Kata Shuang Shuang,

“Karena dia berpura-pura di depanmu.” Tanya Ma Feng,

“Mengapa?”

Jawab Shuang Shuang,

“Di depanmu dia berpura-pura baik kepadaku. Sengaja membuatmu percaya bahwa dia tidak akan tega meninggalkanku. Saat kau lengah, dia mempunyai kesempatan untuk kabur.”

Muka Shuang Shuang mengeluarkan sikap benci dan berkata, “Jika dia baik kepadaku, dia tidak akan pergi seorang diri.” Ma Feng terpaku, hatinya mulai merasa tenggelam.

Tiba-tiba Shuang Shuang berkata,

“Tapi dia tetap akan pulang untuk membunuhmu.”

Tangan Ma Feng tiba-tiba memegang pedangnya dengan erat karena dia sudah mendengar ada langkah seseorang yang datang. Langkahnya ringan dan mantap. Semua orang bisa tahu, orang ini terdengar bersemangat dan keadaan emosinya sangat stabil. Jika tidak bisa mendengar pasti bisa melihat. Sekarang Gao Li sudah kembali dengan langkah yang mantap. Matanya bersinar dan penuh dengan semangat. Dua hari ini dia bisa tidur nyenyak, di dalam hatinya tidak ada rasa ketakutan. Ma Feng merasa kursi yang didudukinya menjadi tidak nyaman.

Gao Li sama sekali tidak melihat dia seakan-akan tidak ada Ma Feng di dalam rumahnya.

Shuang Shuang sudah bisa mendengar suara langkah Gao Li. Wajahnya segera

tersenyum dan dengan lembut berkata, “Kau sudah kembali?”

Jawab Gao Li,

“Ya, aku sudah kembali.” Tanya Shuang Shuang,

“Waktu makan malam segera tiba, kau ingin makan apa?” Jawab Gao Li,

“Apa pun boleh, aku merasa sangat lapar.” Shuang Shuang tertawa dan berkata,

“Sepertinya masih ada daging yang diasinkan, aku panaskan untukmu.”

Jawab Gao Li,

“Lebih baik ditambah sedikit bawang daun.”

Terlihat Gao Li seperti baru berkeliling sebentar dan pulang.

Meski lelah, tapi dia merasa senang karena itu dia terlihat sangat santai. Tadinya dia seperti seekor binatang yang masuk ke dalam perangkap. Sekarang dia seperti pemburu yang mengejar binatang buruannya. Pemburu yang penuh pengalaman, penuh tekad, dan rasa percaya diri.

Kekuatan apa yang mengubahnya menjadi seperti itu? Ma Feng tidak mengerti. Hatinya semakin takut menghadapi hal yang dia tidak mengerti atau tidak bisa dijelaskan, dia merasa semakin takut. Shuang Shuang lewat dari sisi Ma Feng dan masuk ke dapur.

Ma Feng tidak melarangnya.

Sebenarnya dia ingin menyandera Shuang Shuang untuk mengancam Gao Li tapi entah mengapa dia merasa cara ini tidak dewasa juga sangat memalukan. Dari dapur sudah keluar harum daging yang dimasak dengan bawang daun.

Tiba-tiba Gao Li tertawa dan berkata,

“Dia seorang perempuan yang jago masak.” Ma Feng mengangguk.

Dia tidak tahu maksud Gao Li, dia hanya bisa mengangguk. Kara Gao Li,

“Dia juga sangat mengerti suaminya.” Kata Ma Feng,

“Memang dia tidak bodoh.”

Gao Li tersenyum dan bertanya,

“Sebenarnya tadi kau ingin mehgatakan apa?” Ma Feng hanya diam.

Akhirnya Gao Li dengan pelan menjawab sendiri,

“Aku bilang jika tadi kau menyandera dia untuk mengancamku, mungkin bila kau menyuruhku supaya memotong kepalaku, aku akan melakukannya.” Mulut Ma Feng tersumbat, dia tidak bisa berkata apa-apa lagi.

Kata Gao Li,

“Sekarang sudah tidak ada waktu lagi.” Dengan wajah seram Gao Li berkata, “Sekarang jika kau mulai bergerak aku akan langsung membunuhmu. Aku membunuh orang tidak perlu menunggu hingga saat bulan pumama.” Suaranya tegas dan tenang, seperti seorang hakim yang menjatuhkan vonis kepada tersangka.

Ma Feng tertawa. Dia benar-benar tertawa, tapi dia sendiri juga merasa tawanya sangat dipaksakan.

Kata Gao Li,

“Sekarang kau boleh tertawa, karena aku akan membiarkanmu menunggu hingga bulan pumama.”

Kata Ma Feng,

“Karena itu kau tidak bisa tertawa.” Jawab Gao Li,

“Aku tidak bisa tertawa karena membunuh orang tidak boleh tertawa.”

Tanya Ma Feng,

“Dengan apa kau akan membunuh? Dengan paculmu?” Jawab Gao Li,

“Dengan pacul pun aku bisa membunuhmu.”

Ma Feng sudah tidak bisa tertawa lagi. Dia sudah mulai merasa kursi itu terlalu keras.

Di dapur terdengar suara Shuang Shuang,

“Nasi sudah dingin, kita buat nasi goreng bagaimana?” “Baiklah.”

“Mau masak berapa mangkuk?”

“Dua mangkuk saja, untuk kita berdua, masing-masing satu mangkuk.”

“Bagaimana dengan tamunya?” “Tidak perlu disiapkan, karena dia tidak akan bisa makan.” Memang Ma Feng tidak bisa makan.

Tanya Gao Li,

“Apakah kau ingin muntah?” Ma Feng balik bertanya, “Mengapa aku harus muntah?” Jawab Gao Li,

“Karena kau takut, aku pun mempunyai pengalaman seperti itu.”

Tanya Ma Feng,

“Kau kira aku takut kepadamu?” Jawab Gao Li,

“Karena kau pasti sudah tahu, kapan pun aku bisa membunuhmu. Sekarang kau masih bisa hidup karena aku belum ingin membunuhmu. Aku belum membunuhmu karena aku tidak terbiasa dengan perut kosong membunuh orang.” Ma Feng melihatnya, tiba-tiba dia sudah meloncat dan siap menusuk. Tusukan pedang cepat, tepat, dan kejam.

Tapi dia sudah melanggar peraturannya sendiri dalam membunuh orang. Dia membunuh orang selalu lambat. Tapi tusukan pedang ini tidak lambat, hanya terlihat kilauan pedang. Pedang sudah menusuk mengarah ke leher Gao Li. Gao Li masih dalam posisi duduk, tangannya berada di bawah meja. Dia duduk dan tidak bergerak. Tapi tombaknya sudah keluar dari bawah meja. Ujung pedang jaraknya hanya 3 inchi dari tenggorokan.

Dia tidak bergerak, karena tombak dia sudah menancap di perut Ma Feng. Ma Feng masih bergerak. Dia melihat Gao Li. Matanya penuh keheranan, takut dan banyak pertanyaan yang ingin ditanyakan. Dia berkata,

“Kau... kau benar-benar membunuhku?”

Jawab Gao Li, “Aku sudah bilang, aku akan membunuhmu!” Kata Ma Feng,

“Sebenarnya kau tidak bisa membunuhku.” Jawab Gao Li,

“Tapi aku sudah melakukannya.” Kata Ma Feng,

“Tapi aku tidak percaya.” Kata Gao Li,

“Kau harus percaya dengan semua ini.”

Sepertinya Ma Feng masih ingin mengatakan sesuatu tapi daging di tenggorokannya sudah membeku.

Kata Gao Li,

“Sebenarnya aku tidak yakin bisa membunuhmu, tapi sekarang aku sangat yakin.

Sekarang atau kapan pun aku bisa membunuhmu.” Ma Feng seperti bertanya,

“Mengapa?” Jawab Gao Li,

“Karena aku mempunyai seorang teman. Teman yang baik.”

Ma Feng akhirnya menarik nafas panjang.

Dia tidak mempunyai teman. Dia tidak memiliki apa-apa.

Gao Li membuka tangannya lebar-lebar. Shuang Shuang sudah masuk ke dalam pelukannya. Mereka saling peluk, semua bencana sudah lewat.

Sesudah melewati ujian ini, perasaan mereka akan lebih kokoh dan tegar. Mereka saling mengandalkan dan saling percaya. Di dunia ini tidak akan ada yang bisa memisahkan mereka. Tapi ini bukan akhir dari cerita ini. Sebenarnya cerita ini baru saja dimulai.

***
Di dunia ini banyak hal terjadi di luar dugaanmu.

Jika hal ini terjadi pada dirimu, begitu tahu hal ini benar- benar terjadi, kadang-kadang kau terlambat untuk menyadarinya.

Hari semakin malam.

Mereka tidak menyalakan lampu, mereka masih berpelukan di dalam kegelapan. Di dunia ini tidak ada yang lebih manis dan bahagia selain bisa berpelukan dalam kegelapan.

Kebahagiaan mereka baru saja dimulai.

Tapi sayang memulai sesuatu itu kadang-kadang adalah akhir dari sesuatu.

0-0-0

Hati Shuang Shuang penuh dengan rasa tenang dan bahagia, bumi dan langit seperti ikut merasakannya.

Angin masuk melalui jendela, membawa wangi padi. Waktu panen sudah tiba. Shuang Shuang mengusap-usap wajah Gao Li, dengan lembut dia berkata, “Kau menjadi kurus.”

Jawab Gao Li, “Aku akan cepat gemuk lagi.” Kata Shuang Shuang,

“Aku senang kau lebih berisi. Besok aku akan membuat tim ayam untukmu.”

Kata Gao Li,

“Besok kita akan pergi dari sini.” Tanya Shuang Shuang,

“Ke mana?” Jawab Gao Li,

“Mencari Qiu Feng Wu.”

Wajah Shuang Shuang bercahaya,

“Kau mau membawaku pergi menemuinya?” Jawab Gao Li,

“Benar, aku membawamu untuk melihat putranya.” Shuang Shuang dengan gembira bertanya,

“Apa dia sudah mempunyai anak?”

Dengan lembut Gao Li menjawab, “Kita juga akan segera mempunyai anak.” Wajah Shuang Shuang memerah, tapi penuh dengan kebahagiaan. Kebahagiaan ini membuat dia serasa ingin melambung terbang.

Setelah terdiam lama Shuang Shuang bertanya, “Apakah kau sudah bertemu dengan istri Qiu Feng Wu?”

Jawab Gao Li,

“Belum, aku datang dan pergi dengan tergesa-gesa.” Kata Shuang Shuang,

“Aku yakin istrinya adalah perempuan yang baik, karena Qiu Feng Wu juga laki-laki yang baik.” Kata Gao Li,

“Dia suami yang baik juga teman yang baik.” Kata Gao Li lagi,

“Kecuali dia tidak akan ada orang yang memberi pinjam Kong Que Ling kepadaku.”

Tanya Shuang Shuang, “Apa yang Kong Que Ling?” Jawab Gao Li,

“Kong Que Ling (Bulu Merak) adalah senjata rahasia, tapi bisa juga disebut bukan senjata rahasia.”

Kata Shuang Shuang, “Aku tidak mengerti.” Kata Gao Li,

“Aku pun sulit untuk menjelaskannya. Intinya Kong Que Ling harganya lebih tinggi daripada semua senjata rahasia yang pernah ada. Siapa pun yang memilikinya, orang itu akan berubah menjadi pribadi lain.”

Kata Shuang Shuang, “Menjadi pribadi lain?”

Gao Li mengangguk dan menjawab, “Berubah menjadi lebih berwibawa dan lebih percaya diri.”

Gao Li tertawa dan berkata,

“Jika aku tidak memiliki Kong Que Long, mungkin aku tidak akan bisa mengalahkan Ma Feng.”

Kata Shuang Shuang, “Aku masih tidak mengerti.” Kata Gao Li,

“Selamanya kau pun tidak akan mengerti, aku sendiri pun tidak begitu mengerti yang Sebenarnya.”

Dengan ragu-ragu Shuang Shuang bertanya, “Apakah aku boleh meraba benda ini?” Gao Li tertawa dan menjawab,

“Pasti boleh, tapi kau jangan menekan 2 tombol itu, bila tidak...” Suaranya tiba-tiba berhenti, tawanya juga membeku. Sekujur tubuhnya terasa dingin dan beku seperti menjadi es, seperti terjatuh dari gunung dan masuk ke dalam sungai es.

Kong Que Ling hilang.

Shuang Shuang tidak bisa melihat wajahnya, tapi dia bisa merasakan tubuh Gao Li yang gemetar.

Seumur hidup dia belum pernah merasa begitu kaget dan takut, dia tidak menyangka hal ini akan terjadi pada dirinya.

Shuang Shuang pelan-pelan melepaskan diri dari pelukannya. Shuang Shuang tidak bertanya apa yang teiah terjadi karena dia sudah merasakannya dan bisa menebaknya.

Tapi dia belum tahu bahwa ini adalah masalah yang sangat berat, tidak ada yang tahu hal ini bisa menjadi suatu kesalahan fatal.

Gao Li duduk di dalam gelap, dia tidak bergerak, tubuhnya seperti terkubur di dalam tanah.

Tiba-tiba dia seperti orang gila berlari keluar rumah.

Shuang Shuang sudah ada di dalam gelapan  menunggunya. Shuang Shuang tahu Gao Li akan mencari ke kuburan Ma Feng, dia berharap bisa mendapatkan benda itu di sana.

Shuang Shuang hanya bisa berdoa, berharap jangan ada bencana yang menimpa mereka lagi.

Tapi aneh, di dalam hatinya dia bisa merasakan bencana yang akan datang menimpa mereka, Air mata Shuang Shuang sudah menetes.

Angin berhembus seperti sedang menangis tersedu. Akhirnya dia mendengar suara langkah Gao Li. Langkahnya pelan membuat hati Shuang Shuang mulai tenggelam.

Dia bertanya,

“Apakah kau menemukannya?” Jawab Gao Li,

“Belum.”

Suara Gao Li karena kaget dan takut menjadi serak. Suara ini terdengar oleh Shuang Shuang, seperti jarum menusuk ke dalam hati.

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau ingat kapan benda itu terjatuh?”

Gao Li marah kepada dirinya sendiri, dia ingin menggorok lehernya sendiri. Dia belum pernah begitu benci kepada dirinya sendiri. Shuang Shuang tidak menghibur dia karena dia tahu dengan cara apa pun tidak akan ada gunanya.

Dia hanya berusaha bertanya,

“Sewaktu kau pulang, apakah Kong Que Ling masih berada di tubuhmu?”

Jawab Gao Li, “Ya.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau pernah memegangnya?” Kata Gao Li,

“Tidak kusangka benda itu bisa terjatuh.”

Semua bencana juga terjadi pada waktu yang tidak terduga.

Tanya Shuang Shuang, “Apakah pada saat kau membunuh Ma Feng, Kong Que Ling itu sudah tidak ada?” Kata Gao Li, “Sepertinya sudah tidak ada, kalau tidak pastilah terjatuh di dekat sini.”

Kata Shuang Shuang,

“Kau tidak mempunyai Kong Que Ling juga tetap bisa membunuh dia.” Sekarang Gao Li baru mengerti tidak ada Kong Que Ling pun dia tetap bisa membunuh Ma Feng.

Tapi dia baru mengerti sekarang pun itu sudah terlambat. Tanya Shuang Shuang, “Terakhir dimana kau melihat benda itu?”

Jawab Gao Li,

“Di dalam kereta.”

Sewaktu di dalam kereta, dia masih menyentuh benda itu, benda yang licin dan kuat membuat dia gembira hingga tubuhnya menjadi panas. Kemudian dia merasa santai karena dia merasa tidak perlu takut lagi kepada apa pun di dunia ini.

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah terjatuh di dalam kereta?” Jawab Gao Li,

“Mungkin saja.”

Tanya Shuang Shuang, “Kereta yang mana?” Jawab Gao Li,

“Kereta itu sudah pergi.” Tanya Shuang Shuang,

“Di mana kau menyewa kereta itu?” Jawab Gao Li,

“Di tengah perjalanan.” Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kau kenal dengan kusirnya?”

Gao Li menunduk, kukunya sudah masuk ke dalam dagingnya karena kemarahan yang bergejolak pada dirinya sendiri.

Waktu itu dia terlalu bergembira, dia tidak memperhatikan orang lain atau hal yang lain.

Yang lebih celaka lagi, dia takut diikuti oleh orang. Di tengah perjalanan dia berganti kereta sebanyak dua kali.

Hati Shuang Shuang serasa tenggelam lagi, dia tahu Kong Que Ling tidak akan kembali selamanya.

Benda yang mahal jika sudah hilang biasanya sulit untuk kembali. Entah itu Kong Que Ling atau perasaan bila sudah hilang akan sulit didapat kembali.

Shuang Shuang menahan tangis dan bertanya, “Sekarang kau ingin melakukan apa?”

Jawab Gao Li, “Aku...aku tidak tahu.” Kata Shuang Shuang,

“Kau harus memberitahukannya kepada Qiu Feng Wu.” Kata Gao Li,

“Ya, itu pasti.”

Kata Shuang Shuang,

“Mungkin Qiu Feng Wu bisa memaafkanmu karena kesalahan yang tidak disengaja.”

Kata Gao Li,

“Pasti tidak, jika aku menjadi dia, aku juga tidak akan memaafkan dia.” Tanya Shuang Shuang, “Mengapa?”

Jawab Gao Li setelah menghela nafas yang panjang,

“Kong Que Ling bagi mereka adalah benda yang sangat penting.”

Tanya Shuang Shuang,

“Apakah kita tidak bisa menggantikannya?” Jawab Gao Li,

“Tidak bisa.”

Kata Gao Li kembali, “Mungkin ada sebuah cara.”

Tiba-tiba Shuang Shuang menjadi takut dan wajahnya berubah. Shuang Shuang sudah mengerti maksud perkataan Gao Li.

Jika seseorang sudah berbuat kesalahan yang tidak bisa dimaafkan, hanya ada satu cara untuk menebus dosanya yaitu ‘mati’.

Shuang Shuang memeluk erat Gao Li dan berkata, “Kau tidak boleh memilih jalan ini.”

Jawab Gao Li,

“Aku tidak mempunyai jalan lain lagi.” Kata Shuang Shuang,

“Kita pergi ke tempat yang jauh, seumur hidup tidak akan bertemu dengan Qiu Feng Wu.”

Gao Li tiba-tiba mendorong Shuang Shuang. Ini pertama kalinya dia mendorong Shuang Shuang dari pelukannya. Tenaga Gao Li tidak begitu kuat tapi Shuang Shuang seperti terpental.

Shuang Shuang bertanya, “Kenapa dengan dirimu?” Jawab Gao Li,

“Aku tidak menyangka, kau menyuruhku melakukan hal seperti ini.”

Kata Shuang Shuang, “Tapi kau...”

Kata Gao Li,

“Aku membunuh orang, membunuh orang yang Sebenarnya tidak boleh dibunuh, juga melakukan hal yang tidak boleh dilakukan, tapi aku tidak pernah mengkhianati teman.”

Air mata Shuang Shuang menetes lagi. Dengan pelan Gao Li berkata, “Aku tahu aku tidak boleh mati, ini semua demi dirimu, demi kita aku tidak boleh mati, karena itu aku akan berusaha untuk bertahan hidup, tapi kali ini...”

Shuang Shuang berteriak dan berkata, “Kali ini apakah kau tidak bisa...”

Gao Li memotong kata-kata Shuang Shuang dan berkata,

“Kali ini tidak sama. Aku tahu bernilainya Kong Que Ling untuk mereka, aku juga tahu sewaktu berada dalam keadaan sulit dan berbahaya, dia memberikan Kong Que Ling kepadaku. Di dunia ini tidak ada orang yang begitu percaya kepadaku karena itu aku tidak boleh merugikan dia, hingga mati pun tidak boleh merugikan dia.”

Kata Shuang Shuang,

“Karena itu kau harus memberitahu hal ini kepadanya?” Jawab Gao Li, “Tepat.”

Suara Gao Li penuh tekad dan keberaniaan. Keberanian yang benar-benar ada di dalam hatinya.

Kata Shuang Shuang sambil memeluknya,

“Aku mengira demi diriku, kau bisa melakukan hal terbaik untukku.”

Kata Gao Li,

“Hal ini pengecualian.” Kata Shuang Shuang,

“Aku mengerti karena itu aku merasa sedih sekaligus gembira.”

Suara Shuang Shuang sangat tenang, dia berkata,

“Aku tidak salah menilaimu, kau adalah suamiku yang bisa aku banggakan.”

Akhirnya Gao Li membungkukkan badan dan memeluk dia lagi.

Gao Li memeluk dengan sedih,

“Kali ini aku tahu aku tidak akan melakukan kesalahan lagi. Aku tidak boleh salah lagi, hanya bila aku bersalah kepadamu..

.maafkan aku.”

Dengan lembut Shuang Shuang berkata,

“Kau tidak bersalah kepadaku, karena kita adalah satu.”

Gao Li tidak berkata apa-apa lagi, kata-kata ini sudah bisa mewakili semuanya.

Kau adalah aku, aku adalah kau.

Bencana seberat apapun harus dipikul bersama-sama. Jika kau mempunyai istri seperti ini, kau mau mengeluh apa lagi? Gelap tidak ada cahaya bintang juga cahaya bulan, gelap yang sangat menakutkan.

Mereka berpelukan di dalam kegelapan, menunggu hari terang. Seumur hidup mereka sepertinya hanya hidup di dalam kegelapan, tapi mereka merasa lebih berbahagia daripada orang lain.

Karena mereka mempunyai perasaan yang sungguh- sungguh, sebuah perasaan tidak dapat digantikan oleh apa pun.

Karena itu kehidupan mereka sangat berharga. Hal inilah yang paling penting.

0-0-0

Musim gugur sudah tiba.

Daun-daun mulai berguguran, tapi musim gugur tetap terlihat indah.

Keindahan yang menyedihkan, seperti arak.

Jika kau di sana, tidak perlu minum, kau sudah merasa mabuk. Gao Li berdiri di sana, berdiri di bawah pohon. Dia menunggu. Dia tidak berani bertemu dengan keluarga Qiu Feng Wu.

Setiap saat Qiu Feng Wu akan muncul, jika anak buahnya sudah memberitahu kepadanya.

Dua ekor merak sedang diam dengan paruhnya membereskan bulu-bulu mereka yang indah. Daun Feng mulai berubah warna menjadi merah. Gao Li menunggu dengan terbengong-bengong, juga dengan bengong melihat sekelilingnya, hatinya sakit, dia tidak tahu di depan Qiu Feng Wu nanti dia harus mengatakan apa. Dia tidak berani menunggu terus. Dari arah padang rumput terdengar suara langkah orang yang datang menuju tempatnya. Gao Li tidak berani berhadapan dengannya. Gao Li sudah merasa ada sebuah tangan memegang pundaknya.

Sebuah tangan penuh rasa persahabatan.

Suara yang mantap dan penuh rasa persahabatan.

“Kau sudah datang, aku tahu kau pasti akan cepat datang.” Akhirnya Gao Li membalikkan badan.

Dia harus membalikkan badan. Kemudian dia sudah melihat senyum Qiu Feng Wu, senyum yang hangat dan penuh persahabatan.

Hati Gao Li terasa lebih sakit lagi. Persahabatan yang tidak akan luntur selamanya, tiba-tiba seperti sebuah jarum, menusuk hatinya sampai keluar darah.

Dengan tersenyum Qiu Feng Wu berkata, “Kau terlihat sangat lelah.”

Gao Li mengangguk.

Dia lelah, juga hampir menjadi gila. Kata Qiu Feng Wu,

“Sebenarnya kau tidak perlu tergesa-gesa datang kemari.” Kata Gao Li,

“Aku...”

Dia ingin mengatakannya, tapi seperti ada tangan yang tidak terlihat mencekik lehernya.

Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah masalah itu sudah dibereskan?” Gao Li mengangguk.

Tanya Qiu Feng Wu, “Apakah kau menggunakan Kong Que Ling?” Gao Li menggelengkan kepala.

Qiu Feng Wu tertawa dan berkata,

“Aku sudah tahu, kau tidak perlu menggunakan Kong Que Ling pun bisa membunuh Ma Feng.”

Kata Gao Li, “Tapi aku...”

Qiu Feng Wu baru merasa sikap Gao Li yang aneh, segera dia bertanya, “Kau datang seorang diri, mana Shuang Shuang?”

Kata Gao Li, “Dia baik...baik.”

Qiu Feng Wu menghembuskan nafas dan berkata, “Mengapa dia tidak mau datang untuk menjenguk anakku?” Kata Gao Li,

“Dia...dia...”

Akhirnya Gao Li dengan sekuat tenaga berkata,

“Dia tidak datang karena dia tahu aku bersalah kepadamu.” Qiu Feng Wu mengerutkan dahi dan bertanya,

“Kau bersalah kepadaku? Mengapa bisa kau bersalah kepadaku?”

Jawab Gao Li,

“Karena Kong Que Ling yang kau pinjamkan kepadaku hilang dari tanganku.” Sesudah berbicara itu, dia seperti akan roboh. Tidak ada suara, tidak ada jawaban. Gao Li tidak berani melihat wajah Qiu Feng Wu sesudah dia mengucapkan kata- kata ini. Dia tidak berani melihat. Ada angin berhembus, daun kering berjatuhan, selembar, dua lembar, tiga lembar....

Qiu Feng Wu tetap tidak berbicara sepatah kata pun. Akhirnya Gao Li mengangkat kepala dan melihat dia. Qiu

Feng Wu seperti patung berdiri di sana, wajahya tidak ada ekspresi apa pun, wajahnya pucat seperti es yang berada di gunung yang jauh.

Qiu Feng Wu berdiri terus, sama sekali tidak bergerak. Daun jatuh ke kepala dan kakinya.

Dia tetap tidak bergerak.

Daun jatuh ke wajahnya dan mengenai wajahnya, dia tidak bergerak, mata pun tidak berkedip.

Matahari sudah terbenam, warna matahari merah seperti darah.

Taman Feng juga merah seperti darah.

Mata Qiu Feng Wu tidak ada cahaya, wajahnya pun demikian.  Dia tetap tidak bergerak juga tidak berbicara. Gao Li melihat dia, dia ingin menyobek dirinya, mencincang dirinya dan melemparkan dagingnya ini ke dalam angin, ke dalam tanah, ke dalam api dan dibakar hingga menjadi abu. Jika Qiu Feng Wu memarahinya dengan galak atau memukul dia atau bahkan membunuh dia, perasaannya akan lebih enak.

Pukulan yang begitu dasyat, kesedihan yang begitu berat, membuat dia seperti itu.

Gao Li bertanya pada dirinya sendiri,

“Jika aku menjadi dia. aku akan melakukan apa?”

Dia tidak bisa berpikir. Berpikir sedikit pun tidak berani. Apakah Qiu Feng Wu juga sedang bertanya kepada dirinya harus bagaimana memperlakukan dia? Sekarang Gao Li hanya menunggu kata-kata Qiu Feng Wu. Qiu Feng Wu menyuruh dia mati, dia akan mati. Menyuruh dia segera mati, Gao Li tidak akan hidup dengan lama, tapi Qiu Feng Wu tidak berbicara apa-apa.

Malam hampir tiba.

Seorang pelayan tua menghampiri mereka dan berkata, “Ketua, makan malam sudah siap.”

Qiu Feng Wu tidak menjawab, karena dia tidak mendengar. Pelayan tua itu melihatnya, matanya bersorot khawatir,

akhirnya dia pergi.

Kegelapan seperti tangan raksasa yang hitam, mulai menutupi bumi ini.

Angin terasa lebih dingin lagi.

Biarpun Gao Li berusaha menahan rasa dingin ini, tapi dia tetap gemetar. Demi menebus dosa, dia bisa menahan penghinaan dan mengalami bermacam-macam siksaan, sampai mati pun dia akan tetap bertahan.

Tapi kesepian yang ini begitu menakutkan, bisa membuat dia menjadi gila.

Dia ingin menghancurkan dirinya sendiri, angin berhembus lagi. Tiba-tiba Qiu

Feng Wu mengangkat kepala dan berkata, “Hari ini ada angin.”

Dengan pelan Gao Li berkata, “Ya, hari ini ada angin.”

Kata Qiu Feng Wu, “Tiap hari ada angin.” Kata Gao Li, “Ya, tiap hari selalu ada angin.” Kata Qiu Feng Wu,

“Ada angin itu lebih baik.” Gao Li berteriak,

“Kau ingin bicara apa? Bicaralah!”

Sekarang Qiu Feng Wu baru membalikkan badan, melihat dia dengan lama. Dia menarik nafas dan berkata, “Kau adalah teman baik, aku harus percaya kepadamu.”

Kata Gao Li,

“Kau seharusnya tidak percaya kepadaku.”

Sepertinya Qiu Feng Wu tidak mendengar kata-kata Gao Li, dengan pelan dia berkata lagi, “Kau sudah berjanji menengok putraku.”

Gao Li terdiam lama, akhirnya dia menarik nafas panjang dan berkata, “Aku memang pernah berjanji.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sekarang putraku belum tidur.” Tanya Gao Li,

“Kau menyuruhku menengok dia?” Jawab Qiu Feng Wu,

“Aku akan membawamu ke sana.” Rumput sudah menguning.

Di musim semi, di tempat ini pasti adalah padang rumput yang hijau, musim gugur membuat orang merasa sedih.

Di tempat jauh ada lampu yang sudah terpasang.

Cahayanya seperti mata seorang kekasih, terang benderang, tapi Gao Li tidak bisa melihat. Di dapannya hanya ada kegelapan, hatinya juga penuh dengan kegelapan. Qiu Feng Wu pelan-pelan berjalan di depan, langkahnya terlihat berat. Gao Li mengikutinya dari belakang. Dia ingat kemarin lalu, pada saat dia mengikuti Qiu Feng Wu berjalan, jalannya lama juga sangat jauh. Waktu itu dia baru menolong Bai Li Chang Qing. Waktu itu dia tahu setiap saat akan ada orang yang mencari dia untuk membalas dendam, dan setiap saat dia bisa dibunuh, tapi hatinya tetap merasa gembira.

Karena dia sudah menolong satu orang, sudah membantu orang. Karena dia sudah mempunyai seorang teman.

Tapi sekarang?

Kesalahan yang tidak disengaja, kadang-kadang lebih menakutkan daripada kesalahan yang sengaja dibuat.

Mengapa bisa demikian?

Mengapa Tuhan menyuruh dia melakukan hal itu?

Kesalahan yang tidak bisa dimaafkan dan tidak tertolong lagi. Mengapa dia tidak hati-hati? Mengapa dia begitu ceroboh?

Begitu mengangkat kepala, dia sudah berada di tempat yang terang benderang. Seorang perempuan tua yang berambut putih sedang duduk di kursi, wajahnya ramah dan anggun.

“Dia adalah ibuku,” kata Qiu Feng Wu.

Seorang perempuan cantik dan lembut, cantik seperti bunga, umurnya juga seperti bunga yang baru mekar.

Mungkin hati penuh dengan rasa bahagia, menjadikan dia sangat ramah, apalagi terhadap teman suaminya.

“Ini adalah istriku.”

Seorang anak yang lucu, wajahnya merah, matanya besar, sehat dan lincah. Bagi Qiu Feng Wu, kehidupan baru saja dimulai, tapi seumur hidup dia pasti bahagia. Karena dia mempunyai keluarga yang baik, orangtua yang baik, dia ditakdirkan bisa menikmati kebahagiaan.

“Ini adalah putraku.”

Gao Li melihat, mendengar, wajahnya tersenyum penuh dengan rasa hormat.

“Ini adalah temanku, Gao Li, satu-satunya teman baik dalam hidupku.”

Hati Gao Li seperti ditusuk jarum, hatinya mulai mengeluarkan darah lagi.

Dia ingin kabur dari sini, dia malu kepada orang-orang yang berada di sini.  Jika mereka tahu dia yang menghilangkan Kong Que Ling, apakah mereka masih bersikap begitu ramah?

Nyonya Besar Qiu tersenyum dan berkata,

“Feng Wu sering membicarakanmu, kali ini kau harus menginap selama beberapa hari.”

Tenggorokan Gao Li tercekat, dengan sekuat tenaga dia baru bisa mengangguk. Istri yang cantik dan Qiu Feng Wu sedang menggendong putranya, dia berkata, “Panggillah paman, paman akan memberi permen kepadamu.” Putra Qiu Feng Wu baru berumur satu tahun, dia belum bisa memanggil Paman Gao, sebab dia belum mengerti pembicaraan orang dewasa.

Tapi dia bisa tertawa, dia melihat Gao Li langsung tertawa, membuat semua orang ikut tertawa.

Nyonya Besar Qiu dengan tertawa berkata,

“Anak ini suka kepada Paman Gao. Paman Gao akan banyak membawa rejeki untuk anak ini.”

Hati Gao Li serasa hancur.

Hanya dia sendiri yang tahu, yang dia bawa bukan rejeki tapi malapetaka. Untung Qiu Feng Wu tidak menyuruh dia lama-lama berada di sana. Qiu Feng Wu berkata, “Aku akan membawa dia melihat-lihat ke luar, karena dia baru datang, banyak tempat yang belum dia ketahui.”

Memang benar banyak tempat yang belum dilihat oleh Gao Li, sebenarnya dia belum pernah ke tempat yang begitu megah dan mewah.

Di bawah cahaya bulan, tempat itu lebih mirip dengan istana dalam dongeng-dongeng.

Kata Qiu Feng Wu,

“Di sini semua rumah jumlahnya ada 9 buah, kebanyakan dibangun 270 tahun yang lalu, sudah melewati 3 generasi, akhir-akhir ini baru kelihatan lebih teratur.” Sebenarnya tempat ini sudah bukan disebut teratur tapi sudah termasuk ‘wah’.

Kata Qiu Feng Wu,

“Tempat ini adalah sebuah mujizat, karena sudah mengalami 2 kali peperangan, tapi tempat ini masih tetap bisa berdiri dengan kokoh.”

Di belakang rumah, tergantung 12 buah lampu yang berwarna. Cahaya lampu menyinari sebuah lukisan yang sangat besar. Dalam lukisan itu ada 12 laki-laki yang terlihat sangat seram. Mereka memegang senjata beraneka macam, tapi mata mereka bersorot keheranan sekaligus ketakutan karena tangan seorang pelajar yang rapi sedang memegang wadah berbentuk tabung yang berwarna kuning. Wadah itu mengeluarkan cahaya berwama-warni.

Cahayanya lebih indah daripada pelangi. Kata Qiu Feng Wu,

“Lukisan ini menceritakan sebuah kisah seratus tahun yang lalu.”

Gao Li mendengarkan. Kata Qiu Feng Wu,

“Waktu itu dari golongan hitam ada 36 setan ingin memusnahkan tempat ini, mereka berkoalisi, bergabung menyerang. Ilmu silat ketiga puluh enam orang ini katanya sangat tinggi. Di dunia persilatan sudah tidak ada orang yang bisa menandingi mereka.”

Tanya Gao Li, “Lalu bagaimana?”

Jawab Qiu Feng Wu,

“Di dalam pertarungan itu, di antara 36 orang itu tidak ada seorang pun yang bisa keluar hidup-hidup dari tempat ini.”

Dia berkata lagi,

“Semenjak pertarungan itu, orang dunia persilatan tidak ada yang berani menyerang Wisma Kong Que, karena itu nama Kong Que Ling mulai terkenal dan menyebar luas.”

Lampu semakin sedikit.

Rumah ini terlihat sangat seram dan sedih, cahaya lampu pun seperti menjadi hijau.

Mereka melewati hutan yang kering, melewati jembatan, baru bisa sampai di tempat itu.

Di sini seperti berada dunia yang lain, seperti berada di langit dan bumi yang lain.

Rumah tinggi dan besar, seram dan dingin.

Di dalam rumah ini terdapat ratusan lampu yang belum pernah dipadamkan, lampu yang suram seperti api setan.

Di depan sebuah lampu terdapat sebuah batu nisan. Nisan yang pertama dilihat oleh Gao Li adalah nisan ‘Ketua Tai Hang, propinsi Shan Xi, Jan Sun Fu’. Masih ada nisan ‘Pendeta Kong Dong, Shan Feng’. Gao Li pernah mendengar kedua nama ini, mereka adalah orang yang terhebat di dunia persilatan. Qiu Feng Wu melihat baris-baris nisan-nisan ini, mukanya lebih serius lagi dan berkata, “Mereka mati di bawah Kong Que Ling.” Tiga ratus tahun ini yang mati di bawah Kong Que Ling tidak lebih dari 300 orang, berarti Kong Que Ling tidak dapat sembarangan dipakai. Biasanya yang mati di bawah Kong Que Ling adalah ketua-ketua kumpulan atau pesilat tangguh.

Kata Qiu Feng Wu,

“Nenek moyang kami takut keturunan mereka akan mendapat dosa yang berat, karena itu orang yang telah terbunuh di sini terpasang nisan-nisan mereka agar dendam ini tidak akan ada terus menerus, menyembahyangi roh-roh mereka yang sudah meninggal.”

Kata Qiu Feng Wu sambil menarik nafas,

“Tapi sayang turunan mereka masih banyak yang ingin membalas dendam kepada kami.”

Gap Li tidak berbicara. Dalam hati dia sedang memikirkan satu hal. Hal yang aneh dan juga menakutkan.

Dia seperti melihat namanya dipasang di tempat ini.

0-0-0

Jalan panjang dan berliku-liku.

Tempat ini sudah pernah didatangi oleh Gao Li, pada saat dia datang untuk mengambil Kong Que Ling. Kenapa Qiu Feng Wu membawa dia ke sini lagi? Gao Li tidak bertanya.

Biarpun Qiu Feng Wu membawa dia ke mana pun, dia tidak akan bertanya, apa yang akan terjadi nanti dia siap menerimanya. Terdengar suara tepukan tangan. Di jalan itu muncul 12 orang seperti roh setan. Dua belas kunci membuka 12 lubang.

Kemudian mereka berdua masuk lagi. Ruangan yang misterius, seram, dan gelap, seperti masuk ke sebuah kuburan.

Di ruangan batu itu ada 2 buah tungku batu yang berat, di atas kursi banyak debu dan lumut.

Kata Qiu Feng Wu, “Duduklah!”

Gao Li segera duduk.

Qiu Feng Wu membalikkan badan, dari sela-sela batu dia mengambil seguci kecil arak. Arak ini sudah ditutup rapat oleh tanah liat.

Dia pecahkan tanah liat, segera tercium wangi arak ini. Kata Qiu Feng Wu, “Arak ini sudah berumur ratusan tahun.”

Kata Gao Li, “Arak yang bagus.”

Gelas arak juga terbuatdari batu, berat dan jelek. Qiu Feng Wu duduk dan gelas diisi penuh oleh arak itu, dia berkata, “Arak yang bagus, harus diminum.” Gao Li sekaligus meminumnya. Qiu Feng Wu melihat dia dan berkata, “Sudah lama kita tidak minum.”

Jawab Gao Li, “Benar, sudah lama.” Kata Qiu Feng Wu,

“Beberapa tahun ini banyak hal yang sudah berubah.”

Gao Li memenuhi gelasnya dengan arak lagi dan diteguknya sampai habis.

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku tidak mempunyai saudara laki-laki, kau adalah saudara laki-lakiku.” Gao Li memegang erat gelas arak. Jika gelas bukan terbuat dari batu, mungkin sudah dipegangnya hingga pecah.

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena itu aku akan memberitahumu satu patah kata.” Gao Li berkata,

“Aku sedang mendengarkan.” Kata Qiu Feng Wu,

“Kau sudah menghilangkan Kong Que Ling, dalam hati, kau pasti sedih dan kesal, mungkin perasaan ini lebih dari perasaanku.”

Gao Li menunduk, diisinya gelas itu dengan arak dan dihabiskan.

Arak yang wangi tiba-tiba terasa pahit. Kata Qiu Feng Wu, “Aku tahu perasaanmu, jika aku menjadi dirimu, aku tidak

akan berani kesini lagi.”

Wajah Gao Li mengeluarkan kesedihan dan berkata, “Aku harus datang, karena kau sudah percaya kepadaku.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Tidak semua orang mempunyai keberanian, aku mempunyai teman sepertimu, aku benar-benar bangga.”

Kata Gao Li, “Tapi aku...”

Qiu Feng Wu memotong kata-katanya dan berkata, “Kau harus mempercayaiku seperti aku mempercayaimu.”

Gao Li mengangguk.

Wajah Qiu Feng Wu menjadi aneh dan berkata, “Apakah kau percaya bahwa Kong Que Ling yang kau bawa itu adalah yang asli?”

Gao Li berteriak, “Apakah itu bukan yang asli?” Kata Qiu Feng Wu, “Bukan.” Terdengar suara gelas terjatuh.

Tiba-tiba Gao Li seperti ikan yang mati di dalam es, tidak ada orang yang bisa melukiskan bagaimana pikiran dia sekarang, juga tidak ada orang yang bisa melukiskan ekspresi wajahnya.

Dia melihat Qiu Feng Wu seperti matahari, tiba-tiba terbenam sepertinya pada saat itu juga bumi terbelah menjadi dua.

Kemudian dia merasa lumpuh dan terduduk ke kursi batu itu, dia betul-betul merasa sudah hancur luluh.

Bukan hancur karena putus asa tapi kegembiraan yang membuat dia hancur, air mata mulai menetes.

Ini bukan air mata karena sedih. Seumur hidup dia belum pernah merasa begitu gembira. Keadaan ini seperti tersangka yang dihukum mati, tiba-tiba mendapat suatu keajaiban.

Qiu Feng Wu melihat dia, di mata Qiu Feng Wu malah terlihat kesedihan. Setelah lama dia berkata, “Aku memberitahumu ini karena aku tidak mau karena hal ini kau menjadi sedih.”

Gao Li terus mengangguk, hatinya penuh rasa berterima kasih.

Tapi dia tetap bertanya,

“Kong Que Ling yang asli berada di mana?” Jawab Qiu Feng Wu,

“Tidak ada yang asli.” Gao Li terkejut lagi,

“Apakah benar tidak ada yang asli?” Jawab Qiu Feng Wu, “Benar, sama sekali tidak ada.”

Qiu Feng Wu menarik nafas dan tertawa kecut, dia berkata, “Kong Que Ling yang asli tertinggal di Gunung Tai.”

Kata Gao Li,

“Apakah sudah lama?”

Qiu Feng Wu mengangguk dan berkata,

“Benar, setelah ayahku bertarung dengan Jin Kai Jia.” Tanya Gao Li,

“Tapi orang persilatan tidak ada yang tahu bukan?” Jawab Qiu Feng Wu,

“Pasti tidak ada.” Tanya Gao Li, “Mengapa?”

Kata Qiu Feng Wu,

“Karena tidak ada yang tahu, aku juga tidak tahu.” Kata Gao Li,

“Tapi kau...”

Kata Qiu Feng Wu,

“Sebelum ayah meninggal, beliau baru memberitahu kepadaku.”

Kata Gao Li,

“Hanya memberitahu kepada kau sendiri?” Jawab Qiu Feng Wu,

“Benar, hanya aku seorang diri.” “Kau...”

Qiu Feng Wu melihat dia dan berkata,

“Kau adalah orang ketiga yang tahu hal ini.”

Mata Qiu Feng Wu terlihat lebih sedih lagi dan berkata, “Waktu ayah mengatakan rahasia ini, pernah menyuruhku

untuk bersumpah. Rahasia ini harus dijaga sampai aku akan

mati, baru memberitahu kepada putraku.” Wajah Gao Li berubah lagi, dan berkata, “Tapi kau memberitahukannya kepadaku.”

Qiu Feng Wu menarik nafas panjang dan berkata,

“Karena kau adalah sahabatku. Aku tidak mau demi hal ini kau merasa menyesal seumur hidup.”

Ini adalah sahabat yang mulia. Apakah di dunia ini ada hal yang lebih bahagia daripada mempunyai sahabat yang semulia ini?

Gao Li menundukkan kepala.

Lebih baik Qiu Feng Wu tidak memberitahu kepada dia rahasia ini, dia merasa tanggung jawab dia lebih berat lagi.

Kata Qiu Feng Wu,

“Sewaktu kau membunuh Ma Feng, juga tidak memakai Kong Que Ling.”

Kata Gao Li,

“Waktu itu Kong Que Ling sudah hilang.” Kata Qiu Feng Wu,

“Aku sudah tahu, kau tidak membutukan Kong Que Ling dan tetap bisa membunuh Ma Feng.” “Apakah kau sudah tahu?” Qiu Feng Wu menjawab,

“Aku tahu kemampuan ilmu silatmu, juga tahu bagaimana sifatmu.”

Gao Li mengakuinya, dia harus mengakuinya. Kata Qiu Feng Wu,

“Ilmu silatmu sudah tinggi. Di dunia persilatan jarang ada yang bisa mengalahkanmu, tapi kau sendiri kurang percaya diri, karena itu...”

Kata Gao Li,

“Karena itu kau memberi pinjam Kong Que Ling yang palsu.”

Jawab Qiu Feng Wu, “Benar.”

Kata Gao Li,

“Karena itu kau terus berpesan kepadaku, jika bukan terpaksa jangan menggunakannya.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Aku sudah tahu kau tidak membutuhkannya.” Wajah Qiu Feng Wu mulai serius lagi dan berkata,

“Kong Que Ling bukan senjata, tapi dia adalah sumber kekuatan.”

Kata Gao Li,

“Aku pernah dengar dulu kau pernah mengatakannya.” Kata Qiu Feng Wu, “Jika ada Kong Que Ling, biarpun hidupmu hanya sampai saat itu, di dunia persilatan tidak akan ada yang berani menyerang wisma ini, apakah kau mengerti?” “Aku mengerti.”

Kata Qiu Feng Wu,

“Nama Wisma Kong Que Ling yang sudah berusia 300 tahun, tanah dan rumah yang luasnya 8.0 kilometer, 500 nyawa, sebenarnya terbangun karena Kong Que Ling yang kecil ini.”

Qiu Feng Wu lebih serius lagi.

“Jika Kong Que Ling hilang, Wisma Kong Que juga akan musnah.”

300 tahun, 80 kilometer luas rumah, 500 nyawa semua akan musnah. Gao Li tiba-tiba mengerti mengapa Qiu Feng Wu membawa dia bertemu dengan keluarganya juga membawa dia melihat nisan-nisan orang yang mati karena Kong Que Ling.

Anak cucu orang-orang yang mati karena Kong Que Ling, jika tahu Kong Que Ling sudah hilang, mereka tidak akan melepaskan keluarga besar Qiu Feng Wu. Dendam orang persilatan selalu dan selama-lamanya tidak akan bisa dibereskan.

Qiu Feng Wu menarik nafas dan berkata,

“Sebenarnya aku tidak mau menerima tanggung jawab ini, aku menganggap nama baik nenek moyangku tidak ada hubungan dengan anak cucunya.”

Tanya Gao Li,

“Jika sekarang bagaimana?”

Tiba-tiba Qiu Feng Wu tertawa dengan sedih dan berkata, “Sekarang aku bara tahu, aku turunan dari Qiu, aku harus memikul tanggung jawab yang berat ini, tidak boleh menolaknya, juga tidak boleh melarikan diri.”

Kata Gao Li dengan pelan,

“Beban ini biarpun berat tapi juga mulia.”

Sebenarnya bukan hanya mulia, juga tanggung jawab dan kewajiban yang mulia. “Anak cucu Wisma Kong Que asalkan dia masih hidup, dia akan bertanggungjawab dan berjuang hingga akhir.”

Ini adalah tujuan mereka hidup. Mereka tidak bisa memilih.

Qiu Feng Wu melihat Gao Li lagi, dan pelan-pelan berkata,

“Karena itu, aku tidak menginginkan Wisma Kong Que hancur di tanganku.” Sikap Gao Li menjadi sangat tenang, sepertinya sudah mengambil keputusan, tapi bibir Qiu Feng Wu malah pucat, dia berkata, “Karena aku tidak akan membiarkan orang lain mengetahui rahasia ini.”

Gao Li mengangguk dan berkata, “Aku mengerti.” Tanya Qiu Feng Wu,

“Apakah kau benar-benar sudah mengerti?” Jawab Gao Li,

“Benar-benar mengerti.”

Tiba-tiba Qiu Feng Wu tidak berkata apa-apa lagi, dia juga tidak berani melihat Gao Li lagi.

Matanya penuh dengan kesedihan dan rasa sakit. Rasa sakit dan kesedihan yang tidak bisa dipecahkan.

Mengapa manusia selalu melakukan hal yang dia tidak ingin lakukan? Apakah ini adalah kesedihan dan rasa sakit dari manusia? Tidak ada angin tapi udara terasa lebih dingin lagi. Lampu yang seram seperti sudah padam, beku, hati orang seperti sudah membeku.

“Aku akan membuat kehidupan Shuang Shuang lebih baik.” “Pasti.”

Arak terasa pahit, sangat pahit.

Arak sudah berada di dalam gelas sepahit apa pun tetap akan diminum. Entah itu arak pahit atau arak beracun kau tetap haras meminumnya. Dengan pelan Qiu Feng Wu berdiri, dan membalikkan badan. Dia tidak berkata apa-apa, tapi begitu dia keluar dari pintu, dia membalikkan kepala dan berkata, “Masih ada satu hal lagi yang harus kuberitahu kepadamu.” Gao Li mendengarkannya.

Kata Qiu Feng Wu,

“Kantor-kantor Biao yang di 6 propinsi sudah bergabung, ketuanya adalah Bai Li Chang Qing.”

Mata Gao Li yang tadinya berwarna abu dan gelap, mengeluarkan cahaya, cahaya yang berkilau.

Qiu Feng Wu sudah keluar. Setelah lama Gao Li bara berkata,

“Terima kasih kau sudah memberitahuku mengenai hal itu.” Gao Li benar-benar berterima kasih karena dalam seumur hidupnya dia merasa hidupnya lebih berarti, dia sudah merasa puas. Dia pernah mencintai dan juga pernah dicintai. Dia sudah melakukan hal yang berarti dan hal yang berharga, hidup yang dia jalani selama ini tidak akan sia-sia.

Qiu Feng Wu tidak pernah menyentuh araknya. Gao Li segera meminum arak milik Qiu Feng Wu. Entah itu arak pahit atau arak beracun, Gao Li tetap harus meminumnya. Ini adalah sebuah kehidupan! Dalam sebuah kehidupan, kadang-kadang banyak hal terjadi, biarpun kau mau atau tidak mau, tapi kau tetap harus melakukannya.

Jika seseorang bisa mati dengan tenang, hidup dengan tenang rasanya akan lebih sulit.

0-0-0

Malam sudah larut, tidak ada bintang juga tidak ada bulan.

Angin berhembus sangat dingin.

Qiu Feng Wu dengan pelan-pelan keluar ke pekarangan. Daun beringin sedang berguguran, selembar demi selembar berjatuhan.

Dia berdiri lama di pekarangan, dia tidak merasa bahwa istrinya sudah berada di sisinya.

Istrinya mendekatinya, dalam hatinya, di langit dan bumi ini selalu terlihat begitu bahagia dan tenang.

Karena itu dia juga berharap orang lain bisa sama bahagianya dengan dirinya.

Setelah lama dia baru bertanya,”Mana temanmu?” “Sudah pergi.”

“Mengapa harus pergi?”

Qiu Feng Wu tidak menjawab, tapi dia mengambil sehelai daun yang jatuh. Dia memandang daun yang jatuh, matanya bersorot penuh dengan kesedihan dan rasa pedih.

Apakah daun-daun ingin dihembus dan berjatuhan oleh angin musim gugur?

Nyawa seseorang kadang-kadang juga seperti daun yang berjatuhan ini. Cerita ini mengajarkan kepada kita bahwa kemenangan didapat bukan karena kedahsyatan sebuah senjata melainkan karena kepercayaan diri, biarpun senjata yang sangat dasyat, tidak akan bisa mengalahkan kepercayaan diri manusia. Karena itu adalah senjata yang kedua, bukan Kong Que Ling tapi adalah kepercayaan diri.

TAMAT