Bara Maharani Jilid 27 : Menuju tamat I

  
Jilid 27 : Menuju tamat I

TUBUHNYA meluncur ke depan dan telapaknya segera diayun melancarkan sebuah pukulan.

Malaikat kedua Sim Ciu mengegos ke samping, telapaknya membacok pergelangan mu suh, kemudian mengirim satu tendangan kilat ke arah depan, Ciu It- bong berjungkir balik di udara melepaskan diri dari ancaman itu, telapaknya diayun dan manghantam ke arah malaikat pertama.

Suasana dalam gua gelap gulita, ketiga orang itu bertarung dengan andalkan desiran angin tajam, serangan telapak yang aneh da ri Ciu It-bong ini meluncur datang dengan kecepatan satu kali lipat dari keadaan biasa, merasa dirinya tak mampu untuk memunahkan datangnya ancaman tersebut, buru-buru malaikat pertama menjejakkan kakinya ke atas tanah dan meloncat mundur ke belakang.

Rupanya Ciu It-bong sudah tahu kalau serangan ini tak akan mampu melalui musuhnya, dan diapun telah menduga bahwa musuhnya pasti akan melompat mundur ke belakang menuju ke arah dalam gua, maka tubuhnya segera meluncur ke depan menghindari serangan dari malaikat kedua, dan untuk kedua kalinya dia menghantam malaikat pertama, Ketika malaikat pertama Sim Kim melihat bahwa Ciu It-bong hendak mendesak dirinya terjebur ke dalam liang beracun, diam-diam ia tertawa dingin, tubuhnya miring ke samping kemudian melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.

Ploook….! Sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya, kedua orang itu sama-sama terdesak mundur ke belakang.

Malaikat pertama Sim Kian yang melancarkan serangan secara tergesa-gesa segera terlempar ke belakang oleh bentrokan tersebut hingga punggungnya menumbuk di atas dinding gua, sedangkan Ciu It-bong sendiri pun terdesak sampai membentur dinding gua namun benturan itu sama sekali tidak menimbulkan suara, hal ini menunjukkan bahwa ia sudah bikin persiapan dan Sim Kian telah terpancing oleh siasatnya. Semua peristiwa ini berlangsung dalam sekejap mata, tahu-tahu angin pukulan yang dilancarkan malaikat kedua Sim Ciu sudah mener jang datang dari sayap kiri.

Pada waktu itu punggung Ciu It-bong telah menempel di atas dinding gua, dalam keadaan begitu ia segera mengeluarkan kebiasa annya seperti waktu berada ditelaga dingin tempo hari, tangannya diputar dan segera menerjang dengan jurus Kun-siu-ci-tauw.

Menyaksikan datangnya serangan yang sangat aneh dan tak tahu bagaimana dari tubuhnya yang bakal diserang, buru-buru malaikat kedua Sim Ciu tarik kembali serangannya dan loncat mundur ke belakang.

Sim Ciu malaikat kedua dari Liong-bun Siang-sat ini berwatak berangasan sekali, melihat Ciu It-bong berhasil menduduki posisi di atas angin, dari malu dia jadi gusar, segera bentaknya.

“Lo toa, urusan dinas lebih penting, lebih baik kita cepat-cepat lenyapkan manusia cacad ini dari muka bumi!”

Sim Kiam jauh lebih licik dari saudaranya, mendengar ucapan tersebut ia segera menggeleng dan menyabut dengan suara dingin, “Engkau tak usah keburu nafsu….”

Demikianlah, masing-masing pihak segera menghimpun tenaga dalamnya dengan maksud semakin mempertajam penglihatannya untuk mengawasi gerak- gerik pihak lawan. Tiba-tiba malaikat pertama Sim Kiaa sambil menyeringai seram berseru, “Ciu tua, masih ingat bukan dirimu dengan ilmu cakar Tay im sin jiau dari kami berdua?”

Ciu It Hong tertawa dingin.

“Sudah terlalu banyak ilmu silat yang kuingat, ilmu Tay im sin jiaumu itu cuma terhitung sebagai suatu ilmu cakar anjing bela ka….”

Sim Kian bukannya gusar malah tertawa, kembali dia berkata, “Ciu loji, ini hari engkau sedang bernasib sial, sehingga tak kau sadari harus berjumpa dengan kami Liong bun siang sat, bila engkau tahu diri ayoh cepat serahkan pedang emas dari Siang Tang Lay itu kepadaku, kami dua bersaudara berjanji akan melepaskan dirimu dalam keadaan hidup dan ikatan persahabatan diantara kitapun tak usah terancam punah”

“Heeehhh…. heeh…. heeehh…. pedang emas pedang perak semuanya berada dalam sakuku kalau engkau punya keberanian silahkan mengambil sendiri!”

Sim Ciu tidak sabaran lagi ia berseru keras.

“Lo-toa apa sih gunanya membuang banyak waktu? Bukankah pedang emas sudah beberapa kali berpindah tangan, engkau suruh manusia cacad ini bagai mana caranya untuk menyerahkan kepadamu?”

Mendengar dirinya berulang kali dipanggil sebagai manusia cacad, Ciu It-bong jad1 amat gusar dan mendendam malaikat kedua itu hingga merasuk ke dalam tulang sumsumnya, meskipun perasaan tersebut tidak sampai diperlihatkan di atas wajahnya, tapi diam- diam ia telah bersumpah untuk membasmi manusia usil tersebut dari muka bumi.

Sebenarnya tujuan Sim Kian mengungkap kembali persoalan pedang emas, tujuannya bukan lain adalah membuktikan apakah benda mustika itu masih berada disakunya atau tidak, sekarang setelah penyelidikannya tidak mendatangkan hasil ia segera mendengus, mereka berdua selangkah demi selangkah berjalan maju ke depan mendekati musuhnya.

Ilmu cakar maut Tay im sin jiau atau kepandaian yang paling diandalkan Liong bun siang sat selama ini, setelah menghimpun segenap kekuatan yang dimilikinya dan sang badan baru saja maju dua langkah ke depan, jari tangan mereka berdua tiba-tiba memanjang beberapa cun dari keadaan semula dan besarnyapun berlipat ganda, warnanya berubah jadi putih pusat sedikitpun tidak berwarna darah.

Sudah lama Ciu It-bong tahu akan kelihayan musuhnya, karena jiwanya terancam bahaya maka segenap tenaga dalam yang dimilikinya segera dihimpun di dalam telapak tunggalnya dan memandang gerak-gerik kedua orang itu dengan sorot mata berwarna biru.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua, walau tak mampu menyaksikan sesuatu apapun, tapi ia dapat menduga bahwa situasi yang terbentang pada saat itu pasti tegang sekali, teringat akan hubungannya dengan Ciu It-bong dimasa silam, tanpa sadar jantungnya berdebar keras dan ia merasa kuatir bagi keselamatan kakak cacad tersebut.

0000O0000

37

MENDADAK Ciu It-bong bersuit nyaring, sebelum Liong bun siang sat sempat mendekati tubuhnya ia telah melancarkan serangan lebih dahulu, tubuhnya dengan ganas menerjang ke arah malaikat kedua Sim Ciu.

Orang itu jadi amat terperanjat, sebelum serangan Tay im sin jiau nya sempat di lancarkan, segulung angin pukulan yang maha dahsyat ibaratnya gulungan ombak di tengah amukan badai dengan cepat menyelimuti tubuhnya dan menyeret badannya ke dalam amukan angin tajam itu.

“Loo-ji! cepat menyingkir kesamping!” teriak Sim Kian malaikat pertama keras-keras.

Sepasang telapaknya didorong ke depan, dengan menggunakan kekuatan sebesar duabelas bagian dia cengkeram punggung Ciu It-bong.

Begitu melihat serangan yang dilancarkan pihak musuh amat dahsyat, Sim Ciu tak berani menghadapi secara sembarangan, terpaksa ia menyingkir ke arah samping, kesepuluh jarinya dipentang dan menyergap bagian bawah iga Ciu It-bong. Sementara itu desiran angin tajam yang memekikkan telinga memancar keluar dari ujung jari Liong bun siang sat, Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua segera merasakan dadanya gemetar dan jantungnya berdebar keras karena ikut merasa tegang.

Dengan berat Ciu It-bong dengan cepat menggema memecahkan kesunyian, suara bentakan gusar dari Sim Ciu bergabung dalam benturan angin pukulan yang amat dahsyat menggeletar di dalam gua kuno yang gelap gulita.

Lewat beberapa saat kemudian, suasana di dalam gua perlahan-lahan pulih kembali dalam ketenangan, bayangan tubuh Ciu It-bong sudah lenyap entah kemana perginya, malaikat kedua Sim Ciu duduk bersila di atas tanah dengan mata terpejam dan dada berombak, sorot matanya memandang ke tempat ke jauhan.

Lama…. lama sekali, malaikat kedua Sim Ciu baru membuka matanya kembali sambil menghembuskan napas panjang, serunya dengan nada benci.

“Terlalu enak kita lepaskan manusia cacad itu, bila kita sampai bertemu lagi dilain waktu paling sedikit jiwa anjingnya musti kita cabut….!”

“Hmm! engkau terlalu pandang enteng Ciu loo ji,” sahut Sim Kian dengan suara dingin, dengan andalkan sebuah lenganpun dia bisa hidup sampai ini hari, hal tersebut membuktikan bukan manusia sembarangan” Malaikat kedua Sim Ciu mendengus, ia segera mendekati Pek Soh Gi dan ayunkan telapaknya untuk membebaskan jalan darahnya yang tertotok.

“Tunggu sebentar!” tiba-tiba Sim Kian berseru, “Malam yang panjang akan mendatangkan impian yang banyak, apa yang musti kita tunggu lagi?”

“Apa yang telah dikatakan Jin Hian?” seru Sim Kian sambil tertawa dingin….

Mula mula Sim Ciu tertegun, kemudian sambil berpaling ke dalam gua teriaknya keras-keras.

“Tio Sam-koh, ayoh keluar memberi jawaban!”

Hoa Thian-hong yang bersembunyi dibalik kabut hitam merasa tertegun sesudah mendengar bentakan itu, ia merasa jarak antara mereka berdua dengan dirinya bertiga terpaut sejauh beberapa tombak, tak mungkin mereka bisa tahu dengusan napas mereka apalagi kabut hitam itu tebal sekali dan amat beracun sehingga sejak tadi mereka semua telah menutup pernapasan, tentu saja dalam keadaan begini tak mungkin mereka bisa tahu jejak mereka yang ada di dalam gua lewat pernapasan.

Begitulah, seruan dari Sim Ciu dengan cepat membuat semua orang tertegun dan merasa sedikit diluar dugaan.

Tio Sam-koh tertegun lalu menyinggung lengan Hoa Thian-hong memberi tanda kepadanya agar tidak menggubris. Tiba-tiba terdengar Sim Kian berkata pula dengan nada dingin.

“Tio Sam-koh, kalau engkau tak mau unjukkan diri lagi, jangan salahkan kalau aku orang she Sim akan segera memasang api”

Terkejut hati Hoa Thian-hong mendengar ancaman tersebut, pikirnya, “Aku rasa sepasang malaikat itupun tahu kalau gua ini tak boleh bertemu dengan api apa daya sekarang?”

Sementara itu Sim Ciu telah berkala pula.

“Loo-toa, perduli amat di dalam gua ada manusia atau setan, kita lepaskan api saja untuk membakarnya, bukankah dengan cepat kita akan tahu disana ada setannya atau tidak”

Mendengar sampai disitu, Tio Sam-koh segera menarik tangan Hoa Thian-hong serta Hoa In dan meloncat mundur ke belakang. Hoa Thian-hong merasa terkejut bercampur curiga, buru-buru ia berkelebat kesisi ibunya.

Sepasang telapak Hoa Hujien masih menempel di atas tanah dan tubuhpun masih tetap duduk tak berkutik di tempat semula, pada saat itu ia membuka matanya dan berbisik.

“Kalian semua mundur ke belakang punggungku begitu melihat cahaya api segera lancarkan angin pukulan ke arah luar” Gua tersebut gelap gulita sulit melihat kelima jari tangan sendiri ketika Hoa Hujien membuka sepasang matanya maka terlihatlah cahaya tajam yang amat menyilaukan mata seakan-akan bintang yang gemerlapan di udara gelap memancar keluar dari balik matanya.

Hoa Thian-hong amat terperanjas, ia tak mengira kalau tenaga dalam yang dimiliki ibunya telah mencapai taraf yang begitu sempurnanya, untuk beberapa saat lamanya kerena pengaruh emosi ia tak mampu mengucapkan separah katapun.

Hoa In sendiri, dia diam-diam merasa terperanjat, mereka bertiga segera berdiri di belakang Hoa Hujien, hawa murni disalurkan ke dalam telapak dan setiap saat menantikan perubahan.

Jarak antara gua bagian dalam dan gua bagian luar terpaut belasan tombak jauhnya bila melancarkan serangan dari dasar gua maka tenaga pukulannya sukar untuk mencapai mulut gua, keistimewaan di dalam hal ini tidak diketahui oleh Hoa Thian-hong serta Hoa In, merekapun tak berani banyak bertanya karena musuh tangguh sedang berada di depan mata, terpaksa sambil salurkan hawa murni dengan tenang mereka nantikan munculnya cahaya api dari luar gua.

Rupanya Jin Hian telah menduga bahwa orang yang bersembunyi di dalam gua itu pastilah Hoa Hujien, hanya saja karena ia gentar atas kecemerlangan nama besar Hoa Hujien di masa lampau, ditambah pula nenek buta sudah menderita kekalahan maka akhirnya dia ambil keputusan untuk menyelesaikan semua persengketaan ini dalam pertemuan besar Kian ciau tay hwee.

Sungguh kebetulan ketika mereka kembali ke markas, Liong bun Siang sat baru tiba, mendengar kisah tersebut mereka merasa tidak puas dan bersikeras akan datang menyelidiki duduk perkara yang sebenarnya, walau pun begitu merekapun mengetahui akan kelihayan dari Hoa Hujien, maka kewaspadaan merekapun dipertingkat.

Sebagian besar orang persilatan mengetahui bahwa dalam gua kuno itu mengandung udara gas yang amat beracun dan tak bisa didiami oleh manusia, kini dengan suatu gerakan yang manis Hoa Hujien berhasil memaksa pancaran gas beracun itu langsung membumbung kedinding bukit sehingga membuat gua kuno itu terbagi jadi dua bagian kejadian tersebut boleh dibilang merupakan suatu hal yang sama sekali tak terduga.

Liong bun siang sat sendiripun menduga bahwa Hoa Hujien masih bersembunyi di dalam gua, tapi karena mereka tak tabu keadaan yang sebenarnya dari gua kuno itu, untuk beberapa waktu kedua orang itu tak berani bertindak secara gegabah.

Setelah menunggu beberapa saat lamanya dan baik gua masih belum juga nampak adanya suatu gejala, rasa was-was dalam hati dua bersaudara itu makin berkurang.

Malaikat kedua Sim Ciu segera membentak nyaring. “Nenek bangkotan she Tio, kalau engkau

menyembunyikan diri terus menerus seperti kura-kura ketakutan, jangan salahkan kalau aku orang she Sim akan menyumpal delapan keturunanmu!”

Kedudukan serta nama besar Hoa Hujien di dalam dunia persilatan amat tinggi dan di hormati semua orang, rupanya mereka segan untuk secara langsung mencari gara-gara dengan dirinya, maka yang dicari adalah Tio Sam-koh.

Bisa dibayangkan betapa gusarnya Tio Sam-koh mendengar teriakan tersebut dengan cepat ia gerakkan tubuhnya siap menerjang keluar dari gua itu, mendadak ia teringat bahwa Hoa Hujien pada saat ini sedang mencapai keadaan yang paling kritis, ia takut jika keadaan bertambah seru maka mereka terpaksa harus tinggalkan tempat itu, andai kata hawa murni sampai buyar, bukan saja susah payahnya selama ini akan menemui kegagalan bahkan kemungkinan besar akan mengalami jalan api menuju neraka.

Mengingat betapa besarnya akibat yang bakal ditimbulkan, terpaksa Tio Sam-koh menahan amarahnya dan menghentikan gerakan tubuh yang sudah mencapai tepi gua itu.

Hoa Thian-hong mengetahui bahwa nenek itu berwatak berangasan, melihat ia berhasil menguasai diri dalam hati kecilnya pemuda ini merasa amat berterima kasih, segera bisiknya, “Sam po, bersabarlah sebentar! cepat atau lambat Seng ji pasti akan bereskan manusia- manusia jahanam tersebut agar rasa dongkol sam po bisa terlampiaskan” Bluuum….! tiba-tiba kabut warna hitam yang amat tebal itu seakan-akan terhantam oleh segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menggulung ke dasar gua hingga jaraknya dengan dasar gua dimana mereka berada dekat sekali.

Hoa In dengan cepat bertindak, dia lancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Sau yang ceng ki untuk memaksa kabut hitam itu meluncur kembali ke tempat semula.

Sementara itu Sim Ciu jadi semakin berani setelah dilihatnya angin pukulan yang dia lancarkan sama sekali tidak menunjukkan perubahan apapun juga, katanya, “Mungkin saja mereka telah berlalu dari tempat ini!”

Dengan langkah lebar ia berjalan maju ke depan hingga tiba di depan gumpalan asap warna hitam itu, telapaknya diayun dan kembali dia lancarkan sebuah pukulan dahsyat kemuka.

Blaaam…. segulung angin pukulan yang amat dahsyat dengan cepatnya menerobos masuk melewati kabut hitam dan langsung menerjang ke dalam gua.

Tapi dari balik gua sama sekali tidak memperlihatkan reaksi apapun juga, tanpa terasa Sim Ciu mengerutkan dahinya.

“Loo toa!” ia berseru, “rupanya gua ini kosong tak berpenghuni, biar aku masuk ke dalam untuk memeriksa keadaan disitu!” “Tak usah diperiksa lagi,” tukas malaikat pertama Sim Kian dengan nada dingin, “sudah lama kudengar bahwa kabut hitam itu segera akan terbakar bila terkena api, kita coba saja melepaskan api kedalam”

Habis berkata dia mengempit tubuh Pek Soh Gi yang masih tertotok jalan darahnya dan mengundurkan diri keluar gua.

Malaikat kedua Sim Ciu termenung sebentar, akhirnya dia mengundurkan diri sejauh dua tombak lebih dari tempat semula lalu mengambil api untuk kemudian dilemparkan kedalam.

“Blamm…. ketika cahaya api bertemu dengan udara gas berwarna hitam itu terjadilah ledakan keras yang disertai percikan cahaya api yang menerangi seluruh gua tersebut.

Hoa Thian-hong yang bersembunyi di dalam gua, segera merasakan sengatan hawa panas yang luar biasa dahsyatnya, dalam keadaan demikian masing-masing orang segera melancarkan sebuah pukulan ke arah depan.

Ilmu Sau yang ceng ki dari Hoa In merupakan kepandaian tenaga dalam yang sangat ampuh, tenaga dalam Tio Sam-koh yang mencapai enam puluh tahun hasil latihan serta tenaga dalam Hoa Thian-hong berkat kerja teratai racun empedu api bisa di bayangkan betapa mengerikannya tenaga gabungan dari ketiga orang tokoh sakti terse but. Baru saja cahaya api meletus di angkasa, angin pukulan yang amat dahsyat itu sudah menerjang keluar membawa percikan api yang menyengat badan keluar dari mulut gua.

Malaikat kedua Sim Ciu amat terperanjat, dengan ketakutan ia loncat keluar dari gua tersebut.

Dalam waktu singkat cahaya api segera padam dan suasana disekeliling tempat itupun putih kembali dalam kegelapan, bau gas yang amat tebal dan menusuk penciuman tersebar disekeliling tempat itu.

Sepasang malaikat dari perguruan naga adalah gembong iblis yang berpengalaman luas, tentu saja mereka pun tahu bahwa pancaran api yang muncul keluar gua adalah berkat hasil pukulan dari Hoa Thian- hong sekalian yang bersembunyi dalam gua.

Sekarang dua orang bersaudara itu baru mengetahui bahwa di dalam gua masih terdapat sebuah ruang lain yang aman, dan Tio Sam-koh sekalian menyembunyikan diri disitu.

Sepasang malaikat dari perguruan naga saling bertukar pandangan sekejap, sorot mata mereka berdua sama-sama memancarkan sikap ke ragu-raguan.

Haruslah diketahui baik Tio Sam-koh mau pun Hoa In sama-sama merupakan jago lihay yang berkepandaian tinggi, sekalipun sepasang malaikat dari perguruan naga merasa yakin dapat menangkan mereka berdua, namun selisih kepandaian diantara mereka boleh dibilang tipis sekali, kendatipun kemenangan masih berada dipihaknya, itupun harus diperjuangkan secara mati- matian.

Andaikata Hoa Hujien benar-benar berada di dalam goa, dengan dua lawan tiga maka keadaan mereka dua bersaudara akan runyam.

Keadaan mereka pada saat ini boleh dibilang ibaratnya menunggang di atas punggung harimau, mau turun tak berani mau tetap duduk disitupun sungkan…. sementara mereka masih berdiri dengan wajah kebingungan, tiba- tiba dari jembatan seberang berkumandang datang suara langkah manusia yang amat lirih.

Liong bun siang sat sama-sama tertegun dan segera berpaling ke belakang, tampaklah belasan sosok bayangan manusia dengan kece patan bagaikan sambaran kilat sedang bergerak mendekat.

Dalam waktu singkat seorang kekek berbadan tinggi kurus telah tiba lebih dahulu di tempat itu, dia bukan lain adalah Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie, di sampingnya mengikuti seorang jago pula dan dia adalah salah seorang tulang punggung perkumpulan Hong-im- hwie yang bukan lain adalah Yan-san It-koay.

Diam-diam Liong bun siang sat merasa kegirangan melihat kehadiran jago-jago lihay tersebut, Sim Kian segera melemparkan tu buh Pek Soh Gi ke depan sambil serunya diiringi gelak tertawa berat, “Sungguh kebetulan sekali kedatangan Cong Tang-kee di tempat ini, dialah putri sulung dari Pek Siau-thian, coba periksalah benarkah dia adalah pembunuh yang telah membinasakan Bong ji?”

Ketika tubuh gadis itu dilontarkan ke depan, jalan darahnya telah ditotok bebas, Jin Hian segera menangkapnya dan membentak dengan wajah menyeringai seram, “Pasang obor!”

Dalam waktu sekejap, delapan orang pengawal golok emas yang dibawa serta oleh Jin Hian telah memasang obor dan menggangkat tinggi-tinggi, suasana disekeliling gua kuno pun menjadi terang benderangbagaikan berada disiang hari.

Dengan sorot mata yang tajam bagaikan sambaran kilat, Jin Hian menatap wajah Pek Soh-gie tanpa berkedip, di dalam ketajaman matanya terpancar keluar cahaya seram yang menggidikan hati, seakan-akan ia hendak menembusi isi hati gadis itu.

Pek Soh-gie tetap tenang dan air mukanya sedikitpun tidak beruba, mukanya yang cantik dengan biji matanya yang bening dan jeli memandang wajah Jin Hian penuh kehalusan dan ketenangan, begitu halus dan tenang keadaannya sehingga mengherankan semua orang yang hadir disitu.

Beberapa waktu kemudian, tangan Jin Hian yang mencengkeram bahu Pek Soh-gie nampak gemetar keras, cahaya matanya yang bengis bagaikan iblis kian lama kian bertambah kalut dan kacau tak karuan, mukanya berkerut kencang…. akhirnya dia menundukan kepala, menghela napas dan berdiri termangu-mangu, lama sekali tak mengucapkan sepatah katapun jua.

Tiba-tiba terdengar Yan sat It koay berseru, “Pek Soh- gie masih gadis psrawan, sedang Bong ji dengan pembunuh itu pernah melakukan hubungan badan…. aku rasa urusan ini agak sedikit tidak beres….”

Walaupun Pek Soh-gie berwajah cantik jelita bagaikan bidadari yang baru turun dari kahyangan, namun dandanannya sederhana dan biasa sekali, dari tubuhnya terpancar pula kehalusan budi serta keramah tamahan yang begitu meyakinkan, membuat barang siapa pun yang melihat tentu tak akan percaya kalau dia adalah seorang pembunuh.

Jin Hian berpengalaman luas dan berpandangan luas, tentu diapun mengetahui bahwa Pek Soh-gie masih perawan suci, atau dengan perkataan lain tak mungkin dia adalah pembunuh yang membunuh putranya serta mencuri barang berharga.

Dengan sepasang alis berkerut Sim kian segera berseru, “Aku lihat di dalam persoalan ini tentu ada orang yang sengaja membolak balikkan duduk perkara….”

Tiba-tiba terdengar Pek Soh Gi berkata, “Apakah engkau adalah Jin locianpwee?”

Jin Hian melototkan matanya bulat-bulat, setelah menenangkan hatinya dia mengangguk. “Sedikirpun tidak salah, akulah Jin Hian engkau ada perkataan apa yang hendak disampaikan?”

“Boanpwee belum pernah menyeberangi sungai Huang-ho menuju keutara, dan akupun belum pernah membunuh orang….”

Jin Hian menggertak giginya kencang-kencang sehingga berbunyi gemerutukan, tiba-tiba ia berpaling ke arah gua kuno itu sambil bentaknya keras-keras, “Hoa Thian-hong! Kalau engkau tak menunjukkan diri lagi, janganlah salahkan kalau aku akan bertindak kasar kepadamu!”

Rupanya pikiran jago tua ini sedang kacau sekali, selesai mengucapkan kata-kata tersebut dia segera ulapkan tangannya kepada seorang pengawal golok emas yang berada disisinya sambil membentak.

“Lepaskan anak panah!”

Kiranya kawanan pengawal golok emas itu kecuali menyoren sebilah golok bergagang emas yang besar, pada pinggang masing-masing menyandang pula gendewa serta anak panah yang berujung bulat telur, sekilas memandang siapapun tahu kalau anak panah yang mereka siapkan adalah panah-panah berapi.

Setelah mendapat perintah dari Jin Hian, buru-buru pengawal golok emas itu menyiapkan gendewa dan mengambil anak panah, setelah membakar ujungnya panah tersebut segera dibidikkan ke dalam gua, Sreeet….! Serentetan cahaya api dengan cepat meluncur masuk ke dalam gua yang gelap itu.

Gelak tertawa berkumandang memecahkan kesunyian, sambil menjepit batang anak panah itu dengan ketiga jari tangannya, perlahan-lahan Hoa Thian-hong munculkan diri dari dalam gua diiringi Tio Sam-koh serta Hoa In dibelakangnya.

Pepatah mengatakan: Budha harus memakai emas dan manusia harus memakai pakaian, kemarin baju yang dikenakan Hoa Thian-hong tidak komplit dan keadaannya mengenaskan sekali, sebaliknya hari ini dengan pakaian yang baru serta pedang baja tersoren di atas pinggang, keadaannya nampak begitu gagah dan mengagumkan.

Liong bun siang sat baru pertama kali ini bertemu dengan Hoa Thian-hong, menyaksikan sikapnya yang gagah tanpa terasa mereka mendengus dingin.

Pek Soh Gi segera mementang matanya yang jeli ketika menyaksikan kemunculan Hoa Thian-hong dari dalam gua, dengan hati kejut bercampur girang serunya, “Oooh….! ternyata Hoa toako benar-benar terlepas dari mara bahaya, ketika Ciu locianpwee mengatakan hal itu kepadaku, aku masih tidak berani untuk mempercayainya!”

Hoa Thian-hong tertawa dengan wajah minta maaf, ujarnya, “Aku tak mampu menyelamatkan jiwa nona, kalau diingat benar-benar menyesal sekali!”

“Hoa toako tak usah sungkan-sungkan” Hoa Thian-hong segera memberi hormat kepada Jin Hian, lalu bertanya.

“Ketua Jin, kau memanggil diriku keluar entah ada urusan apa?”

Jin Hian tertawa seram.

“Heeeh…. heeeh…. heeeh…. harap Hoa Lo te suka menyampaikan kepada ibumu, katakanlah kalau aku ada urusan hendak bertemu dengan dirinya”

“Ketua Jin sebagai pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sudah sepantasnya kalau ibuku menemui dirimu dengan segala kehormatan,” kata Hoa Thian-hong dengan wajah serius…. sayang sekali dia orang tua sedang berlatih suatu ilmu dan tak mungkin untuk keluar dari gua, karena itu aku mohon ketua Jin bisa memakluminya dan boanpwee mewakili ibuku minta maaf yang sebesar-besarnya”

Mendengar perkataan itu, Jin Hian segera berpikir di dalam hati, “Jadi kalau begitu, orang yang bersembunyi di dalam gua benar-benar adalah bininya Hoa Goan Sin….!”

Berpikir sampai disini, sorot matanya segera menyapu sekejap ke arah Pek Soh Gi dan berkata kembali, “Nasib aku orang she Jin memang benar-benar buruk, sudah begini tua harus kehilangan satu-satunya putera tunggalku…. aaai! Sampai sekarangpun aku masih belum mengetahui macam apakah pembunuhnya, apakah dia laki atau perempuan, cantik atau jelek…. kecuali Hoa loo te, tak ada orang lain yang, mengetahui lagi”

Hoa Thian-hong termenung dan membayangkan kembali keadaan pada saat terjadinya peristiwa itu, kemudian ia menjawab, “Aku rasa pembunuh itu sudah mempunyai susunan rencana yang amat masak, pergi datangnya bukan saja menutupi raut wajah dengan kain hitam bahkan diapun minta kepada putramu untuk melarang semua orang melakukan pengintaian, dari sini memang bisa ditarik kesimpulan bahwa cuma aku seorang yang pernah mengetahui raut wajah aslinya”

Ia berhenti sebentar, sesudah termenung, sambungnya lebih jauh, “Aaaai….! Meskipun aku pernah bertemu dengan raut wajah sang pembunuh, tapi kalau dipikir lebih seksama maka aku rasa belum tentu yang kusaksikan adalah raut wajahnya yang sebenarnya”

“Hmmm! apakah engkau punya mata tak berbiji?” sindir Sim Gui malaikat kedua dari Liong bun siang sat dengan nada dingin.

Air muka Hoa Thian-hong berubah membesi, tegurnya, “Aku rasa engkau tentulah malaikat kedua dari Liong-bun bukan? Huuh….! Sebagai seorang angkatan tua dari dunia persilatan, kalau bicara mengapa tak tahu adat dan sopan santun? Munekinkah engkau tak pernah mendapat pendidikan?”

“Hmmm! Kalau engkau menganggap aku tak tahu adat, panggil saja ibumu suruh dia yang menuntut kepadaku….” Hoa Thian-hong tertawa dingin.

“Engkau anggap aku tak mampu untuk menuntut dirimu?” ejeknya.

Baik Liong bun siang sat maupun Yan-san It-koay semuanya merupakan jago-jago lihay yang mengerubuti Hoa Goan Sin ketika dilangsungkan pertemuan besar Pak beng Hwee, atau dengan perkataan lain mereka adalah musuh besar pembunuh ayahnya dari Hoa Thian-hong. 

Walaupun pemuda itu tetap memegang teguh pesan ibunya yang mengharuskan dia mengesampingkan masalah pribadi lebih dahulu, akan tetapi setelah berjumpa dengan musuh besarnya tak urung hawa kegusaran bergelora juga di dalam dadanya.

Malaikat kedua Sim Kian sebagai seorang jago yang amat lihay tentu saja tidak pandang sebelah matapun terhadap diri Hoa Thian-hong, dengan sorot mata berkilat serunya sambil tertawa seram.

“Bajingan cilik yang tak tahu diri, akan kutangkap dirimu lebih dahulu…. akan kulihat ibumu akan unjukkan diri atau tidak?”

Sambil berkata ia menerjang maju ke depan, kelima jari tangannya bagaikan cakar garu dan segera mencengkeram dadanya. Hoa In yang berada dibelakang, pemuda ini segera mendengus dingin, sambil ayun telapaknya melancarkan serangan ia segera menerjang maju ke depan.

“Hey, tua bangka! apakah engkau adalah Hoa In?” bentak Sim Ciu dengan alis berkerut.

Tubuhnya menerjang maju ke depan, dan diapun mengirim satu pukulan pula kemuka.

“Hmm! Kalau benar, ada apa?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung kedua orang itu sudah saling membentur satu sama lainnya untuk kemudian berpisah kembali, dalam benturan itu tubuh Sim Ciu terdesak mundur kembali ke belakang, sedangkan Hoa In tetap menghadang dimulut gua, sepasang kakinya terpantek di atas tanah dan sedikitpun tak bergeser.

Dalam pada itu, Jin Hian telah berpikir di dalam hati. “Pek Soh Gi tidak mirip pembunuh yang melakukan

pembunuhan berdarah tersebut, dan Bong ji sudah pasti bukan mati ditangannya…. kalau tidak urusan tentu tak akan beres-beres….”

Berpikir sampai disini, kepada Yan-san It-koay serta Sim Kian segera ujarnya, “Aku harap lo koko berdua suka membayangi diriku dari samping arena, aku hendak bertempur beberapa gebrakan melawan Hoa loo-te tersebut” “Cong Tang-kee, mengapa kau harus turun tangan sendiri?” seru Sim Kian dengan cepat…. biarlah aku orang she Sim yang mewakili dirimu!”

Habis berkata ia segera berjalan menuju kemulut gua.

Pada saat itu Hoa Thian-hong sekalian masih berdiri berjejer di depan mulut gua, meskipun pertarungan antara Hoa In melawan Sim Ciu berlangsung dengan serunya, namun tak seorangpun yang bersedia tinggalkan tempat kedudukan mereka, kalau ditinjau keadaan tersebut jelas membuktikan bahwa beberapa orang itu hendak mempertahankan mulut gua itu mati- matian dan tidak memberi kesempatan pada musuhnya untuk masuk ke dalam gua.

Ketika menyaksikan Sim Kian berjalan menghampiri Hoa Thian-hong, tiba-tiba Tio Sam-koh menyikut si anak muda itu sambil membentak keras, “Seng ji, mundur selangkah ke belakang!”

Luka yang diderita Hoa Thian-hong belum sembuh, ia tak berani secara gegabah menggunakan tenaga murni, lagipula pemuda itupun menyadari bahwa kekuatannya masih belum mampu menandingi Sim Kian, maka tanpa banyak bicara lagi ia mundur selangkah ke belakang dan bersembunyi di belakang Hoa In serta Tio Sam-koh.

Sementara itu perempuan she Tio yang berangasan ini tidak menunggu Sim Kian turun tangan lebih dahulu, ia segera putar sen jata toyanya dan disapu ke arah depan. Permainan toyanya benar-benar dahsyat, ibarat harimau yang gila, desiran angin tajam menderu-deru memenuhi angkasa, ujung toya de ngan cepatnya meluncur keuepan dan menghantam dada Sim Kian.

Menyaksikan datangnya serangan yang begitu dahsyat, buru-buru orang she Sim itu meluncur ke samping dengan ilmu Tay im sin jiau ia balas melancarkan sebuah serangan.

Dalam waktu singkat Liong bun siang sat, Tio Sam-koh serta Hoa In terlibat dalam dua pertarungan yang amat seru, masing-masing pihak berusaha merebut posisi di atas angin dan merobohkan musuhnya dengan cepat, angin pukulan menderu-deru bayangan telapak berlapis- lapis, ilmu Tay im sin jiau dari Liong bun Siang sat menimbulkan desiran tajam yang memekikkan telinga, masing-masing pihak mengeluarkan kepandaiannya yang terampuh untuk merobohkan lawannya.

Hoa Thian-hong yang berdiri dimuka gua hanya terpaut tiga lima langkah dari keempat orang itu, sementara pandangan matanya terasa kabur dan memusingkan kepala…. tiba-tiba terdengar desiran angin tajam meluncur datang ke arahnya, tahu-tahu sebatang anak panah berapi telah melurcur di depan mata….Anak panah berapi itu meluncur datang dengan kecepatan bagaikan sambaran kilat, Hoa Thian-hong merasa amat terkejut dan buru-buru menyingkir setengah depa ke samping, tangannya dengan cekatan berkelebat kemuka menangkap gagang panah tersebut. Sreeet….! Sreeet….! desingan tajam kembali berkumandang memecahkan kesunyian, puluhan batang anak panah berapi pada saat yang bersamaan meluncur datang, sekilas memandang terlihatlah panah-panah itu bagaikan bintang api yang meletus di udara membuat sekeliling tempat itu segera berubah jadi merah.

Hoa Thian-hong segera menggerakkan panah yang berada di dalam genggamannya untuk memukul rontok anak panah berapi yang berhamburan bagaikan hujan gerimis itu.

Ketika ia menengok ke arah depan, tampaklah para pengawal golok emas telah menancapkan obornya ke atas tanah, saat itu mereka semua sedang mementang gendewa dan membidikkan anak panah ke arahnya.

Haruslah diketahui para pengawal golok emas itu adalah jago-jago lihay yang sempurna di dalam hal tenaga dalam, dalam melepaskan bidikan anak panahnya itu mereka telah sertakan pula hawa murni yang amat besar.

Hoa Thian-hong berjaga dimulut gua dan sama sekali tak berani bergeser dari tempat semula, dengan sendirinya ia harus berusaha menyampok rontok setiap anak panah yang melurcur ke arahnya, pekerjaan semacam ini boleh dikata payah dan banyak memakan tenaga. 

Jin Hian memberikan perintahnya dari samping, ketika menyaksikan semua panah yang dibidikan ke arah gua berhasil dipukul rontok semua, tiba-tiba ia meminta gendewa itu dari seorang anak buahnya dan langsung membidikkan sebatang anak panah ke arah si anak muda itu.

Sreeet….! cahaya api berkilat diiringi desiran angin tajam, kepala panah dengan cepat menyambarnya lewat dari depan dada Hoa Thian-hong tidak lebih satu dua cun di atas tubuhnya.

Si anak muda itu berseru kaget, panah di tangannya segera digetarkan kemuka dan sekuat tenaga menangkis datangnya ancaman tersebut.

Kraaak….! di tengah benturan keras, dua batang anak panah itu segera tergetar patah jadi puluhan bagian yang kecil dan berceceran di atas tanah.

Sreet! Sreet! di tengah berhamburannya hujan panah, Jin Hian kembali melepaskan pula dua bidikan ke dalam gua.

Cukup didengar dari desiran angin yang jauh lebih tajam dari panah-panah lain, Hoa Thian-hong mengetahui bahwa dua batang anak panah tersebut dibidikkan sendiri oleh Jin Hian, dalam gugupnya ia segera menyambar dua batang panah musuh yang sedang meluncur datang dan sekuat tenaga disambitkan ke arah panah-panah yang dilancarkan Jin Hian itu.

Traaang….! empat batang anak panah kembali patah jadi beberapa bagian yang kecil. Tiba-tiba…. sreet! Sepasang panah berapi yang amat tajam meluncur datang melewati atas kepala Hoa Thian- hong dan langsung meluncur masuk ke dalam gua….

Anak panah tersebut dibidik sendiri oleh Jin Hian, Hoa Thian-hong yang sedang ayun sepasang telapaknya untuk menyampok datangnya hujan panah sama sekali tak mampu menghadang datangnya desiian panah berapi yang sedang meluncur ke dalam gua itu.

“Blaaam….!” ledakan keras menggetarkan seluruh bumi, ketika hawa yang mengandung gas racun itu bertemu dengan jilatan api, se ketika terciptalah serentetan cahaya api yang menyelimuti seluruh angkasa.

Hoa Thian-hong terkejut bercampur gelisah, ketika ia sedang menguatirkan keselamatan dari ibunya, tiba-tiba dari dalam gua berkumandang keluar suara dari Hoa Hujien yang dingin dan berat, “Minggir semua!”

Hoa Hujien adalah orang yang paling dihormati oleh Tio Sam-koh, Hoa Thian-hong serta Hoa In tentu saja tak usah dikatakan lagi, mendengar perkataan itu tanpa berpikir panjang lagi ketiga orang itu segera tinggalkan musuh-musuhnya dan meloncat ke samping.

Blaaaam…. ledakan dahsyat bagaikan meletusnya gunung api menggeletar di angkasa, hembusan udara panas yang bercampur dengan jilatan api segera meluncur keluar dari balik gua. Liong bun siang sat sendiri meskipun mendengar seruan dari Hoa Hujien, namun ia tak pernah menyangka kalau dari balik gua bakal menyembur keluar cahaya api yang begitu panas dan dahsyat, dalam kejutnya, sekuat tenaga ia loncat mundur ke belakang.

Untung kepandaian silat yang dimiliki kedua orang ini sangat lihay dan luar biasa sekali, hingga badannya tidak sampai terjilat oleh hembusan api yang amat keras itu.

Dalam waktu singkat jilatan api yang berada di dalam gua itu sudah padam dan lenyap tak berbekas, akan tetapi rumput serta ilalang yang tumbuh diluar gua segera terjilat api dan terjadilah kebakaran besar.

Hoa Thian-hong serta Tio Sam-koh sekalian saling berpandangan dengan mulut melongo, meskipun mereka tahu bahwa kebakaran yang terjadi di sekitar tempat itu akan mengakibatkan kebakaran hutan yang hebat, tapi karena musuh tangguh ada di depan mata sementara angin gunungpun berhembus kencang, maka sekalipun ada maksud memadamkan kebakaran itu sudah tak bakal sempat lagi….

Liong bun siang sat sendiripun merasa terkejut bercampur curiga, dari pancaran api yang memantul keluar gua diiringi desiran angin tajam, mereka tahu bahwa hal ini pastilah disebabkan oleh dorongan tenaga pukulan seseorang yang amat keras, seandainya angin pukulan itu dilancarkan oleh Hoa Hujien maka dapat dibayangkan sampai dimanakah kelihayan perempuan itu, kendatipun Liong bun siang sat merasa yakin akan kemampuannya tak urung mereka merasa bergidik juga. Jin Hian jauh lebih terperanjat lagi, teringat akan keadaan nenek buta yang terhantam sampai pingsan ketika nenek memasuki gua pagi tadi, diam-diam ia merasa bergidik dan rasa was-waspun semakin dipertebal.

Tetapi bagaimanapun juga dia adalah seorang pemimpin dari suatu perkumpulan besar, sebelum bertemu dengan Hoa Hujien dan mengetahui keadaan yang sebenarnya tentu saja ia tak mau mundur dengan begitu saja.

Setelah berpikir sebentar, ia segera memberi hormat ke arah gua dan berkata dengan suara lantang, “Jin Hian dari perkumpulan Hong-im-hwie sengaja datang berkunjung, Hoa Hujien….”

Hoa Thian-hong sendiripun merasa terkejut bercampur curiga, ia tak tahu dengan cara apakah ibunya memaksa keluar jilatan api yang berkobar di dalam gua tersebut, dia ingin sekali masuk ke dalam gua untuk mengetahui keadaan yang sebenarnya, maka ketika Jin Hian mengucapkan kata-kata itu, dia segera menukas, “Sekarang ibuku masih bertapa, jika ketua Jin Hian bertemu harap tunggu sebentar, aku akan segera memberi laporan”

“Kalau begitu merepotkan,” ujar Jin Hian dingin.

Hoa Thian-hong segera masuk ke dalam gua, di tengah hembusan hawa gas yang menusuk hidung buru- buru ia terjang masuk ke tempat ibunya bertapa. Kabut hitam yang menyelimuti ruang gua membuat suasana bertambah gelap, sekalipun diluar gua suasana terang benderang tapi keadaan digua tetap gelap gulita sehingga lima jari sendiripun tak dapat dilihat.

Hoa Thian-hong segera jatuhkan diri berlutut disisi ibunya, lalu menegur dengan suara lirih.

“Ibu, bagaimana keadaanmu? tidak apa-apa bukan?” Hoa Hujien geleng kepala.

“Aku sudah paksakan diri untuk menggunakan hawa murni, sekarang harus segera bersemedi untuk memulihkan kembali tenagaku, kalau tidak maka aku akan mengalami jalan api menuju neraka,” katanya serak.

Setelah berhenti sebentar dia menengok sekejap keluar gua dan menyambung lebih jauh”

“Kebakaran telah melanda luar gua, hal itu akan memancing datangnya para jago dari perkumpulan Sin- kie-pang serta Thong-thian-kauw, engkau berusahalah untuk mengulur waktu beberapa jam lagi, aku rasa sampai tengah malam nanti keadaan ku akan tidak berbahaya lagi”

Hoa Thian HoDg mengiakan berulang kali, tiba-tiba ia temukan kabut putih mengepul keluar dari atas ubun- ubun ibunya, keringat membasahi seluruh tubuhnya, cepat-cepat ia menyeka keringat ibunya dengan ujung pakaian kemudian muncul kembali dari balik gua, Ketika dilihatnya Hoa Thian-hong muncul kembali di mulut gua, dengan sepasang mata yang tajam Jin Hian menatap wajahnya tanpa berkedip.

Secara tiba-tiba pemuda itu merasakan pandangan mata orang ini buas bagaikan srigala dan sangat tak sedap dirasakan dalam hati, diapun segera menyadari bahwa Jin Hian adalah seorang manusia yang sangat berbahaya dan licik sekali, ancaman terhadap dirinya sama sekali tidak berada di bawah Thong-thian Kaucu .

Terdengar Jin Hian tertawa dan berkata.

“Hoa loo te, ibumu pasti masih mendendam kepada kami karena peristiwa di pertemuan Pak Beng hwee tempo dulu, sehingga sekarang tidak bersedia menjumpai kami manusia-manusia kasar dari dunia persilatan”

Dengan pandangan yang tajam Hoa Thian-hong melirik sekejap ke arah bukit karang di sekelilingnya, ketika dilihatnya di bawah kobaran cahaya api tak nampak sesosok bayangan manusiapun yang muncul disitu, dengan wajah serius segera ujarnya.

“Ketua Jin harap maklum, sebenarnya ibuku akan keluar dari gua untuk menyambut sendiri kedatanganmu, tapi berhubung saat ini beliau sedang berlatih ilmu maka maafkanlah bila ibuku tak bisa menemui kalian”

Bicara sampai disini ia segera memberi hormat dan melanjutkan, “Ibuku memerintahkan aku untuk mewakili beliau menyambut kedatangan ketua Jin, harap ketua Jin suka masuk ke dalam gua, tapi karena tempat kami terlalu sempit dan tak bisa menyambut pula saudara- saudara yang lain, harap para enghiong lainnya suka memaafkan”

Begitu ucapan tersebut diutarakan keluar, Tio Sam- koh dan Hoa In segera berdiri tertegun.

Mereka tidak habis mengerti, sekarang Hoa Hujien toh sedang berlatih ilmu kenapa Jin Hian dipersilahkan masuk kedalam? Karena kebingungan dan tak habis mengerti, maka sorot mata yang tajam segera dialihkan ke arah si anak muda itu.

Hoa Thian-hong tetap berlagak pilon dan sama sekali tidak menggubris kedua orang rekannya, malahan dengan tenang ia menantikan Jin Hian untuk masuk ke dalam gua, Kendatipun Jin Hian adalah seorang jago kawakan yang banyak pengalaman, berada dalam keadaan begini diapun jadi ragu-ragu dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Diam-diam ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie ini segera berpikir.

“Perempuan itu tersohor karena kekerasan hatinya, ketegasan tindakannya serta tingkah lakunya yang sukar diduga. Hmm! Hmm! ditinjau dari sikapnya siang hari tadi ketika dia memerintah bangsat ini untuk membokong nenek buta, tindakan tersebut sudah melanggar semangat jantan seorang pendekar ditambah pula ketika turun tangan membokong nenek buta yang merupakan tindakan melanggar peraturan Bulim…. sekarang ia hendak gunakan akal licik untuk mencelakai pula dirimu….Hmm….Hmm…. aku adalah manusia macam apa? tidak mungkin aku akan bersedia masuk perangkapmu”

Berpikir sampai disini sirnalah niatnya untuk memasuki gua, tetapi karena dia sendirinya yang bermaksud untuk menemui Hoa Hujien, bila tak berani masuk ke dalam gua tentu akan dipandang remeh orang, maka dalam keadaan yang serba salah ia segera berpaling ke arah Yan-san It-koay serta Liong bun Siang sat.

Kedudukan ketiga orang itu dalam perkumpulan bagaikan seorang tiongloo dalam perguruan. kedudukannya tinggi dan sangat terhormat melebihi jabatan Jin Hian sendiri.

Sekarang ketika dilihatnya Jin Hian berpaling ke arah mereka dengan maksud bertanya, sorot mata dengan cepat saling bertukar pandangan cuma tiada sesuatu jalanpun yang berhasil mereka dapatkan.

Malaikat kedua Sim Ciu adalah seorang yang jumawa dan bengis, melihat Jin Hian dibikin serba salah dia jadi naik pitam dan kebuasannya menyelimuti seluruh wajah, dengan kepala diangkat ke atas ia maju ke arah mulut gua dan serunya dengan dingin, “Sudah banyak manusia aneh dan pendekar sakti yang kutemui, Hujien ini benar- benar tidak pandang sebetah matapun terhadap kita semua” Tio Sam-koh berjaga-jaga di depan Hoa In, melihat orang itu maju ke depan ia segera mengetahui banwa pihak lawan ada maksud hendak masuk ke dalam gua, dengan gusar ia lantas menatap wajah orang itu sementara suara tertawa dingin bergema tiada hentinya, bila Sim Ciu berani berjalan makin dekat maka segera dia akan turun tangan.

Hoa Thian-hong sebenarnya sedang menjalankan siasat untuk menakut-nakuti musuhnya, kendatipun Jin Hian berani menerima undangannya, dengan seorang diripun belum tentu ia ijinkan musuhnya masuk kedalam, apa lagi setelah dilihatnya orang yang mendekati gua adalah Sun Ciu, diam-diam hawa murninya dihimpun ke dalam telapak dan siap menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan.

Siapa tahu Sim Ciu pun sedang berpikir di dalam hati, “Perempuan itu bersembunyi di dalam gua entah permainan setan apakah yang sedang ia persiapkan?

Nama besarku didapat dengan susah payah dan harus berjuang selama setengah abad lamanya, buat apa aku musti menempuh mara bahaya yang sama sekali tak ada gunanya itu? Bila bangsat cilik itu berhasil kutangkap, bukankah tidak sukar untuk memaksa dia untuk mengaku….?”

Berpikir sampai disini, ia segera mendekati Hoa Thian- hong, tiba-tiba sambil tertawa seram dengan ilmu Tay im sin jiau ia lancarkan sebuah cengkeraman kilat kemuka.

Hoa Thian-hong tertawa dingin, ia mengegos ke samping meloloskan diri dari cengkeraman Sim Ciu, kemudian jari tangan kanannya dikeraskan bagaikan tombak dan balas menyerang ke depan.

Inilah jurus ‘menyerang sampai mati’ dari ilmu tujuh kupasan dari Ci yu, bukan saja lihay dalam serangan, hebat pula dalam tenaga.

Bagi kedua orang yang sama-sama mempunyai maksud tertentu, serangan yang dilancarkan bagaikan guntur membelah bumi di siang hari bolong ini masih belum terasa seberapa lain keadaannya dengan para penonton yang berada disisi arena, mereka jadi amat terperanjat sehingga air mukanya berubah hebat.

Di tengah desingan suara tajam, Hoa Thian-hong serta Sim Ciu bersama-sama loncat mundur ke belakang, kendatipun tidak sampai terluka, namun jantung mereka berdua sama-sama berdebar keras karena emosi.

Dengan cepat Hoa In loncat ke depan Hoa Thian-hong sambil tegurnya dengan suara gelisah, “Siau Koan-jin, kenapa kau?”

“Aku tidak apa-apa!”

Sambil berkata, empat buah mata bersama-sama melirik ke arah pinggangnya, di atas jubah warna biru yane baru kini sudah bertambah dengan tiga buah bekas cakar tangan yang nyata.

Sedari tadi Hoa In sudah terkesiap sehingga keringat dingin mengucur keluar membasahi seluruh tubuhnya, kini setelah rasa kagetnya agak berkurang dengan hawa amarahnya yang berkobar, ia membentak keras, “Setan tua she Sim, kalau punya kepandaian ayoh adu kekuatan dengan diriku akan kusuruh engkau rasakan sampai dimanakah kelihayan dari ilmu silat perkampungan Liong soat Sanceng!”

“Huuuh….! engkau situa bangka bangkotan punya kepandaian apa?” ejek Sim Ciu dengan nada menghina, berani benar engkau menantang diriku untuk bertarung, rupanya engkau sudah bosan hidup?”

Hoa In mendengus dengan gusarnya, sepasang telapak diayun ke depan sementara tubuhnya menerjang dengan hebatnya.

Diluaran Sim Ciu bicara dengan enteng dan seenaknya, padahal ia tak berani bertindak gegabah, setelah mengenos dari serangan lawan tubuhnya berebut maju ke depan dan sekuat tenaga mendahului musuhnya dengan satu sodokan maut, dalam waktu singkat terjadilah suatu pertempuran yang amat seru, masing- masing pihak mengeluarkan segenap kemampuannya untuk berusaha merobohkan lawannya secepat mungkin.

Setelah mengikuti jalannya pertarungan itu beberapa saat, Hoa In Hong mengetahui bahwa pertarungan itu tak akan berakhir dalam satu dua ratus jurus, sinar matanya segera dialihkan ke arah yang lain, ia lihat fajar telah menyingsing di ufuk sebelah Timur, segera pikirnya, “Ibu memerintahkan aku untuk mengulur waktu, sekarang fajar sudah hampir menyingsing, semoga saja dalam tiga jam terakhir jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak diinginkan lagi” Baru saja ingatan tersebut berkelebat lewat dalam benaknya, tiba-tiba dari tepi seberang muncul kembali belasan sosok bayangan manusia yang mana dengan cepatnya berlari mendekat.

Dalam pada itu kobaran api telah membakar rumput ilalang yang lebat dan tingginya mencapai sedada manusia, jilatan api yang amat besar menyebar keempat penjuru menimbulkan kebakaran yang amat besar, sepanjang pandangan mata yang terlihat hanya tanah gersang yang berwarna hitam karena hangus….

Dalam waktu singkat belaian orang yang munculkan diri itu sudah berada di depan mata, ternyara mereka adalah para jago lihay perkumpulan Sin-kie-pang.

Orang pertama yang memimpin rombongan para jago itu bukan lain adalah kunsu atau juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang yakni Cukat beracun yau sut, dibelakangnya mengikuti dua belas orang jago yang semuanya terdiri dari para pelindung hukum perkumpulan.

Bsgitu tiba di tempat tujuan, dengan pandangan yang tajam Cukat beracun Yau Sut menyapu sekejap suasana disekeliling arena tersebut, kemudian sorot matanya yang tajam dialihkan ke atas tubuh Pek Soh-gie.

Begitu melihat hadirnya Yau Sut di tempat itu Hoa Thian-hong segera teringat kembali pengalamannya sewaktu berada ditepi sungai Huang-ho tempo hari, orang inilah yang telah menusuk tubuhnya dengan jarum pengunci sukma Soh hun sin ciam, dan ia pula yang memaksa dirinya menelan teratai racun empedu api untuk melakukan bunuh diri. Tanpa terasa pikirnya di dalam hati.

Keadaan dari manusia berhati racun ini masih juga seperti sediakala, sayang tubuhku masih terluka…. kalau tidak aku ingin se kali memberi pelajaran kepadanya!”

Dalam pada itu, Cukat racun Sut telah memberi hormat dan menyapa sambil tertawa nyaring, “Ketua Jin, baik-baik-baikah engkau? Sudah lama kita tak pernah berjumpa”

“Yau heng, selamat bertemu,” sahut Jin Hian sambil balas memberi hormat. Sinar mata Cukat beracun Yau Sut menyapu sekejap wajah Yan-san It-koay serta Sim Kian, tapi ketika dilihatnya kedua orang itu sama sekali tidak menggubris dirinya bahkan malah menonton jalannya pertarungan antara Sim Ciu dengan Hoa In, maka diapun tidak menyapa kedua orang itu sebaliknya alihkan kembali sorot matanya ke arah Hoa Thian-hong,

Sambil tertawa ia memberi hormat dan tegurnya. “Hoa kongcu, sejak berpisah apakah engkau berada

dalam keadaan baik-baik saja? Apakah masih ingat dengan aku orang she Yau?”

“Aku tak berani melupakan dirimu!” jawab Hoa Thian- hong sambil tertawa hambar. Air muka Cukat beracun Yau Sut segera berubah amat serius, tiba-tiba ujarnya, “Apakah nona ini adalah nona Pek Soh Gi dari perkumpulan kami?”

“Sedikitpun tidak salah” sahut Pek Soh Gi sambil membentangkan biji matanya yang jeli, “keponakan bukan lain adalah Pek Soh Gi, siapa paman? Apakah engkau adalah Cukat beracun?”

Melihat gadis itu mendadak membungkam, Cukat beracun Yau Sut segera tertawa nyaring.

“Benar, aku adalah Cukat beracun Yau Sut, sudah lama aku mengabdi pada pangcu dan nona Gi dibesarkan oleh kami!”

“Oooh…. rupanya paman Yau, maaf kalau tit-li kurang hormat” sambil berkata Pek Soh Gi hendak maju ke depan, tapi pergelangannya terasa mengencang ketika ia berpaling maka terlihatlah orang yang mencekal pergelangannya bukan lain adalah Jin Hian.

Bentak-bentakan gusar berkumandang dari arah belakang, belasan orang jago yang berada di belakang Yau Sut dengan amat gusarnya siap melakukan terjangan ke arah depan.

Cukat beracun Yau Sut sendiri tetap tenang, dia melintangkan tangannya menghadang anak buahnya melakukan penyergapan.

Sejak ia tiba disitu situasi yang terbentang sudah terlihat olehnya, ia tahu Pek Soh Gi berada tidak jauh dari Jin Hian, asal dirinya turun tangan maka pihak lawan pasti akan mendahului dirinya, maka setelah menyaksikan pergelangan Pek Soh Gi sudah di cengkeram Jin Hian, ia semakin tak berani turun tangan secara gegabah.

0000O0000

38

SETELAH termenung sebentar Yau Sut segera mengerling sekejap ke arah kakek baju hijau yang berada disampingnya, kakek baju hijau itu mengangguk, dari sakunya dia ambil keluar sebuah bom udara dan segera dilepaskan ke udara.

Sreet…. blaam! Serentetan cahaya merah membumbung tinggi ke angkasa dan meledak dengan kerasnya, serentetan bintang berwarna emas dengan cepat memancar keluar dan membentuk sebuah panji besar, perlahan kerlipan cahaya itu melayang ke bawah dan lama sekali baru lenyap.

Dalam sekejap mata dari tempat kejauhan berdentuman pula beberapa puluh ledakan bunga api yang berbentuk sama.

Sim Ciu yang sedang melakukan pertarungan tiba-tiba membentak keras, dia lancarkan dua pukulan dahsyat menggetar mundur musuhnya, kemudian diapun meloncat mundur pula ke belakang. Hoa In tarik kembali serangannya dan segera menegur dengan suara dingin, “Setan tua she Sim, menang kalah toh belum berhasil ditetapkan, kenapa kau mengundurkan diri di tengah jalan?”

Sim Ciu menyeringai seram, “Tua bangka bangkotan, hanya mengandalkan beberapa jurus silat kasaranpun berani pentang bacot dihadapanku, suatu ketika akan suruh engkau merasakan kelihaianku”

Sorot matanya dialihkan ke atas wajah Cukat beracun Yau Sut, kemudian menambahkan, “Engkaukah juru pikir dari perkumpulan Sin-kie-pang yang disebut orang Cukat beracun Yau Sut?”

Cukat beracun tersenyum.

“Mana nama…. aku memang bernama Yau Sut, kata beracun secara dipaksakan masih dapat kupakai, kalau kata Cukat sih tak berani kugunakan”

Ketika Hoa Thian-hong melihat Sim Ciu melepaskan Hoa In dan mencari gara-gara dengan Yau Sut, hatinya jidi amat girang, pikirnya, “Andaikata kedua kekuatan besar itu saling bentrok dan bertempur sehingga waktu bisa terulur lebih lama lagi, ibu pasti akan berhasil melepaskan diri dari mara bahaya”

Tiba-tiba terdengar suara Sim Ciu berseru sambil tertawa seram.

“Yau Sut, kami Liong bun siang sat akan bernama kosong jika tindakan kami kalah beracunnya kalau dibandingkan dengan diri mu, aku ingin menjajal apakah engkau benar-benar beracun tidak?”

Mendengar perkataan tersebut semua orang merasa tercengang, mereka tak tahu dengan cara apakah Sim Ciu akau menjajal kepandaian Yau Sut, kecuali beberapa orang kepercayaan yang merasa kuatir atas kejadian ini, semua orang diam-diam merasa girang sekali dengan terjadinya peristiwa itu, sebab mereka ingin melihat Yau Sut dibikin malu.

Tapi Cukat beracun Yau Sut benar-benar lihay dan tidak malu menjabat kedudukan sebagai Kun su, orang lain tak dapat menebak maksud hati Sim Ciu sebaliknya ia sudah dapat menduga apa yang hendak dilakukan lawannya.

Tampak sepasang alisnya berkerut kencang dengan wajah murung serunya, “Engkaupun merupakan seorang jago lihay yang amat tersohor di dalam dunia persilatan, kalau beraninya hanya melukai angkatan muda apakah engkau tak takut akan ditertawakan oleh para enghiong hoohan di kolong langit?”

Sim Ciu tertawa terbahak-bahak, dengan langkah lebar ia berjalan mendekati kesisi Pek Soh Gi, kemudian sambil menempelkan telapaknya di atas punggung gadis itu, serunya sambil tertawa seram.

“Yau Sut! aku perintahkan engkau untuk turun tangan membekuk batang leher bangsat cilik she Hoa itu di dalam seratus jurus, andaikata perintah ini dapat kau penuhi maka aku akan bertukar tawanan dengan dirimu, sebaliknya kalau engkau tak mampu, maka sekali bacok akan kubunuh mati budak ini sehingga Pek loo ji akan bikin perhitungan dengan dirimu….”

“Sim Ciu!” bentak Hoa Thian-hong dengan alis berkerut, “aku orang she Hoa toh berada disini, mengapa kau tak berani turun tangan sendiri?”

Tio Sam-koh takut suasana jadi bertambah kacau, mendengar ucapan tersebut dengan nada dingin ia segera berseru, “Siapa yang akan turun tangan toh sama saja, apakah kalau Pek Siau-thian kematian putrinya maka engkau yang harus mengganti nyawanya?”

Hoa Thian-hong segera alihkan sorot matanya ke arah Pek Soh Gi, diam-diam ia menghela napas dan berpikir, “Aaai…. nona itu berbudi luhur dan lemah lembut, tak tahunya bencana yang menimpa dirinya ternyata beruntun…. ia benar-benar patut dikasihani….”

Walaupun berada dalam keadaan bahaya, sikap Pek Soh Gi masih tetap tenang sekali, air matanya sama sekali tidak berubah, sesudah berpikir sebentar tiba-tiba ia bertanya, “Paman Yau, sekarang ayahku berada dimana?”

Pada saat itu Cukat beracun Yau Sut sedang putar otak mencari akal untuk mengatasi persoalan itu, mendengar pertanyaan tersebut segera menjawab, “Pangcu mendengar engkau sudah terjerumus ke dalam kuil It-goan-koan, sekarang ia pergi mencari Thian Ik-cu untuk minta orang, menurut Thian Ik-cu engkau sudah di culik oleh Ciu It-bong, maka setelah bertempur sebentar kami berpisah untuk mencari diri mu….”

Karena kehabisan akal maka ia mengambil keputusan untuk mengulur waktu sambil menunggu datangnya bala bantuan, maka setelah berhenti sebentar Cukat racun Yau Sut segera mendehem ringan sambil berkata, “Untuk menghindari siasat licik dari Thian Ik-cu, sekarang pangcu sedang melakukan pemeriksaan langsung ke dalam setiap too koan milik perkumpulan Thong-thian- kauw, sedangkan orang-orang dari pihak Thong-thian- kauw sedang mencari jejak dari Ciu It-bong, sebenarnya Thian Ik-cu akan mengejar ke arah sini, tapi disebabkan mereka berhasil menemukan jejak Ciu It-bong di tengah jalan, sekarang telah mengajar ke arah lain”

Mendengar perkataan itu Pek Soh-gie menghela napas panjang, gumamnya seorang diri.

“Aaaai….! Untuk pertama kali keluar rumah, aku telah mendatang-kan banyak kerepotan bagi semua orang sehingga membuat ayah jadi gelisah bercampur cemas, aku benar-benar seorang anak yang tak berbakti!”

“Perubahan situasi dalam dunia persilatan bagaikan awan di tengah angkasa setiap perubahan yang berlangsung sukar diramalkan sebelumnya, di dalam peristiwa ini engkau sama sekali tak salah” sambung Cukat Racun dengan cepat.

Tiba-tiba terdengar malaikat kedua Sim Ciu menegur dengan suara dingin, “Yan Sut apakah pembicaraan soal rumah tangga sudah selesai? Kalau engkau tidak turun tangan lagi, jangan salahkan kalau tela pakku akan kudorong ke depan, waktu itu engkau tak usah menyesal yaa!”

“Kurang ajar orang ini, benar-benar memaksa aku untuk bertindak” pikir Yau Sut di dalam hati, “dia anggap dari keluarga Hoa adalah seorang manusia yang gampang ditaklukkan? Hemm…. hemm…. kalau gampang sekali, akupun tidak nanti sudi menggunakan cara yang begini rendah untuk mengulur waktu….”

Meskipun Cukat racun Yau Sut adalah seorang manusia cerdik dengan akal muslihat yang banyak, namun saat itu dia dibikin kelabakan juga sehingga tak tahu apa yang musti dilakukan.

Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa ia keluar dari barisan dan perlahan-lahan berjalan menuju ke depan gua.

“Paman Yau!” tiba-tiba Pek Soh-gie berseru lantang, “jangan sekali-kali kau turun tangan secara gegabah, ketahuilah Hoa toako adalah sahabat karib dari adik Kun- gie, keponakan bersedia mengorbankan jiwaku dari pada musti menyusahkan Hoa toako!”