Bara Maharani Jilid 17 : Tujuh kupasan dari Ci-Yu

 
Jilid 17 : Tujuh kupasan dari Ci-Yu

“LOOCIANPWE, kuucapkan banyak terima kasih atas kasih sayangmu itu!” seru Hoa Thian-hong, setelah termenung beberapa saat ia melanjutkan, “Menurut pendapatku, pihak lawan tidak terlalu menaruh perhatian terhadap kekuatan siautit seorang, karena itu lebih baik untuk sementara waktu loo-cianpwe jangan unjukkan diri lebih dahulu, dari pada kita musti pukul rumput mengejutkan ular membuat pihak lawan mempertinggi kewaspadaannya terhadap kita.”

“Aaaai….! Kawanan bajingan itu masih menaruh beberapa bagian rasa jeri terhadap Hoa Hujien, sekalipun aku munculkan diri rasanya mereka tak akan menaruh perhatian terhadap diriku.”

Dari sikap kakek gemuk itu Hoa Thian-hong mengerti bahwa ia sedang mencari tahu keadaan ibunya, maka tidak menanti pihak lawan ajukan pertanyaan itu ia berkata lebih dahulu, “Dewasa ini ibuku juga sedang berkelana di dalam dunia persilatan, hanya dimanakah beliau pada saat ini siautit sendiripun kurang begitu jelas!!”

Karena melihat orang-orang itu sudah patah semangat, Hoa Thian-hong tidak ingin menceritakan keadaan ibunya yang sebenarnya dimana luka dalamnya belum sembuh dan tenaga dalamnya punah, ia takut bila hal ini diketahui mereka maka kemungkinan besar semangat mereka semakin merosot.

“Cu toa-ya,” tiba-tiba Hoa In menegur, “Kenapa kaupun bisa datang ke kota Wi-im?”

“Aku selalu mengikuti di belakang Siau Koan-jin mu ini,” sahut Cu Tong, sorot matanya berputar dan melanjutkan. “Hoa hiantit. apakah aku boleh ajukan satu permintaan?”

“Kalakan sajalah loocianpwee!”

Cu Tong menghela napas panjang. “Aku mempunyai seorang sahabat karib yang disebut ‘Pek-lek-sian’ atau disebut Dewa geledek oleh orang-orang Bulim, ia mempunyai seorang murid yang bernama Bong Pay, tahun ini berusia dua puluh satu tahun dan hidup terlantar di dalam dunia persiiatan. Sebetulnya aku ada maksud membawa dirinya disisiku, apa daya ia punya pandangan lain terhadap diriku, ia tak sudi berada didekatku”

“Siau Koan-jin,” sambung Hoa In dengan cepat, “si dewa geledek Chin jiya adalah sahabat karib serta saudara angkat dari Cu-Tau-ya, jadi orang jujur dan berjiwa pendekar, dengan loa-ya kitapun mempunyai hubungan yang intim”

“Kalau begitu Bong toako adalah saudaraku sendiri. Cu locianpwe, kini Bong toako berada dimana?” Cu Tong menghela napas panjang. “Selama ini ia hidup gelandangan di kota Wi Im, ketika aku hendak tengok dirinya tadi, kutemui bahwa ia sudah terperosok di dalam kuil Tiong-goan-koan”

“Kuil Tiong-goan-koan? Semestinya kuil dari pihak Thong-thian-kauw?”

Cu Tong mengangguk. “Diam-diam aku sudah menengok keadaannya, sekarang ia berada dalam keadaan sehat dan sebenarnya akan kuselamatkan jiwanya, tapi sayang pertama ia benci melihat tampangku dan kedua, aku tak tahu bagaimana musti mengatur dirinya. karena itu terpaksa aku harus mohon bantuan dari Hoa hiantit untuk melakukan pekerjaan ini”

“Ooo… kau orang tua tak usah sungkan-sungkan, siautit sebagai seorang anggota muda sudah memastikannya melakukan pekerjaan ini,” pemuda itu berpikir sebentar lalu melanjutkan, “menolong orang bagaikan menolong api, mari sekarang juga kita pergi menolong Bong toako….”

Tapi dengan cepat ingatan lain berkelebat dalam benaknya, teringat olehnya bahwa usia Bong Pay jauh lebih besar dari dia sendiri, bagaimana selanjutnya ia akan mengatur kehidupannya?

Sekembalinya ke dalam kota, terdengar Cu Tong menghela napas dan berkata kembali, “Watak Bong Pay selalu berangasan dan kasar, setelah ia punya pandangan lain terhadap diriku sulitlah bagiku untuk mendidik dirinya. Hoa hiantit. Kau masih muda dan gagah perkasa, mungkin ia bisa menaruh hormat kepadamu, Bila demikian adanya aku berharap agar kau suka mengingat pada hubungan angkatan yang lebih tua dan baik-baik merawat dirinya.”

“Locianpwee tak usah kuatir, siautit pasti akan berusaha dengan segenap tenaga.”

Rupanya Co Tong merasa amat lega hatinya, ia segera tersenyum. “Bila hiantit bisa baik-baik membimbing dirinya, kemungkinan besar bocah itu bisa unjukkan kegagahannya dan memupuk kembali nama baik perguruannya….!”

Melihat begitu besarnya perbatian jago tua itu terhadap keturunan sahabatnya, dalam hati Hoa Thian- hong segera berpikir, “Loocianpwee ini betul-betul memiliki jiwa yang besar dan hati yang lapang, begitu setia kawan ia terhadap sahabatnya sampai terhadap anak muridnyapun diperhatikan benar-benar bila Pek-lek- sian mengetahui akan hal ini dia tentu akan beristirahat dengan hati tenteram.”

Tiba-tiba Cu Tong ambil keluar sebuah bungkusan kecil terbuat dari kertas minyak, sambil diangsurkan ke depan katanya, “Hoa hiantit, bungkusan ini berisikan sebagian kecil dari kitab ilmu pukulan yang berhasil kutemukan dimasa yang silam, meskipun hanya terdiri dari tiga jurus dua gerakan, namun kehebatannya luar biasa sekali. Aku harap hiantit suka mempelajari lebih dahulu kemudian wariskanlah kepada Bong Pay” Hoa Thian-hong simpan baik-baik bungkusan kertas minyak itu ke dalam saku. lalu tanyanya, “Kenapa kitab ilmu pukulan ini tidak langsung diserahkan ke tangan Bong toako?”

“Aaaai….. dia tidak mengerti tulisan dan isi kitab itupun terdiri dari bahasa kuno yang sulit untuk dipahami, bila kau serahkan kitab itu kepadanya, dari mana ia bisa mempelajarinya?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung dihadapan mereka muncullah sebuah bangunan kuil yang indah dan megah, papan nama dengan tulisan ‘Tiong-goan-koan’ terbuat dari tinta emas nampak terpanjang diatap bangunan tersebut Cu Tong membawa kedua orang itu menuju ke kuil bagian belakang, setelah loncat masuk lewat tembok pekarangan mereka berputar-putar di halaman belakang, hingga akhirnya sampailah mereka diluar pintu sebuah kebun katanya, “Hiantit, masuklah ke dalam untuk menolong Bong Pay, sedang aku akan membantu secara diam-diam, dihadapan pemuda dogol itu jangan sekali2 kau sebut namaku”

Hoa Thian-hong mengiakan, ia segera masuk ke dalam kebun sambil pikirnya di dalam hati, “Bong toako itu benar-benar seorang manusia aneh. sampai Cu locianpwee yang menjadi cianpweenya malahan takut kepadanya ketika dia angkat kepala, pemuda itu segera berdiri tertegun.

Bangunan loteng tinggi yang berada dalam kebun itu mempunyai corak yang persis sama dengan kuil It-goan- koan di kota Cho-ciu, yang berbeda hanyalah di bawah undak undakan batu tertanam sebuah tonggak besi setinggi beberapa depa, pada tonggak tadi terbelenggu sebuah rantai baja sebesar telur itik yang panjangnya mencapai tujuh depa, pada ujung rantai tadi tampaklah seorang pria kekar yang berwajah hitam pekat bagaikan pantat kuali dan memakai baju compang-camping bagaikan pengemis sedang duduk terpekur.

Kalau di kuil bagian depan banyak sekali peziarah yang berdoa dan pasang hio suasana di kuil bagian belakang amat sunyi sekali seakan akan tak terdapat seorang manusiapun disitu.

Ketika mendengar suara langkah manusia, pria yang dirantai di atas tonggak itu segera membuka matanya dan berpaling.

Hoa Thian-hong berjalan menghampiri kehadapannya. di bawah sorot cahaya lentera ia lihat orang itu punya potongan wajah persegi empat, sepasang alisnya tebal dan meletik ke atas, matanya yang cekung memancarkan cahaya tajam, hidungnya mancung dan badannya kekar tak terasa dalam hati ia memuji.

“Sungguh kekar dan gagah orang ini, andaikata tubuhnya tidak dirantai mungkin ia kelihatan jauh lebih keren….!”

Dalam pada itu pria kekar itu sudah melotot ke arah Hoa Thian-hong berdua dengan pandangan tajam tiba- tiba tanyanya, “Kalian adalah pemuja dewa yang datang untuk pasang hio, ataukah kaki tangan anjing Thong- thian-kauw?” “Semuanya bukan,” sahut pemuda itu sambil menggeleng, “Aku bernama Hoa Thian-hong, kedatanganku kesini bukan lain adalah untuk mencari seorang kakakku yang bernama Bong Pay, apakah saudara tahu ia dikurung dimana?”

“OOH….! Kau yang bernama Hoa Thian-hong? jadi kau yang mengadakan Lari Racun di kota Cho-ciu?” seru pria kekar itu dengan mata melotot besar.

Hoa Thian Houg tersenyum dan mengangguk. “Tolong tanya siapakah nama saudara?”

“Akulah Bong Pay, ketika berada di pertemuan Pak- Beng-Hwee tempo dulu, aku sempat bertemu dengan bapakmu Hoa Goan-siu”

Tiba-tiba terdengar suara langkah manusia berkumandang datang, disusul seseorang menegur dengan suara berat, “Siapa yang sedang berbicara dengan Bong Pay?”

Hoa Thian-hong berpaling, dia lihat dari balik ruangan berjalan keluar seorang toosu muda, dengan cepat pemuda mengedip memberi tanda kepada Hoa In sedang ia sendiri sambil menggape serunya, “Siau sian-tiang, cepat datang kemari,! orang ini hendak memutuskan rantai untuk melarikan diri…..”

“Omong kosong,” jengek toosu muda itu sambil tertawa dingin, “kau anggap rantai besi itu adalah rantai biasa” Sambil mengomel ia berjalan menghampiri kedua orang itu, siapa tahu belum sempat ia berbuat sesuatu tiba-tiba Hoa In telah ayunkan telapaknya menotok jalan darah toosu muda itu.

Tanpa mengeluarkan sedikit suarapun, toosu itu segera menggeletak tak berkutik di atas tanah.

“Kepandaian silat yang bagus!” puji Bong Pay dengan sinar mata berkilat, “Eee, siapa namamu?”

“Aku bernama Hoa In, pengurus rumah tangga dari perkumpulan Liok Soat Sanceng!”

Melihat orang she-Bong itu bicara keras dan nyaring, Hoa Thian-hong kuatirkan lebih banyak musuh yang datang kesitu, buru-buru ia berjongkok sambil katanya, “Bong toako, mari biar siaute periksa rantai ini.”

Ujung rantai itu berada di atas leher Bong Pay, ketika Hoa Thian-hong sedang meraba benda tersebut, tiba-tiba pemuda she-Bong itu ayunkan telapaknya mengirim satu pukulan ke arah dadanya, Hoa Thian-hong terkejut, bila dibicarakan dari soal ilmu silat maka sekalipun orang yang menyerang adalah jago nomor satu ditolong langit, ia masih mampu untuk menandinginya selama beberapa saat, yang diandalkan hanya sebuah jurus pukulan ‘Kun- siu-ci-tauw’ belaka. berbicara tentang ilmu pukulan dan ilmu tendangan boleh dibilang pengetahuannya cetek sekali. Sekarang setelah dilihatnya serangan tersebut muncul secara mendadak, dalam keadaan kepepet tak sempat lagi baginya untuk menghindarkan diri, terpaksa ia gunakan telapak kirinya untuk menyambut datangnya serangan tersebut dengan keras lawan keras.

Tentang jurus telapak ini Hoa Thian-hong telah melatihnya hingga hapal diluar kepala.

Plooook! di tengah benturan nyaring, sepasang telapak saling membentur satu sama lainnya.

Pemuda itu segera merasakan telapak tangannya bergetar keras, namun tubuh mereka berdua tetap berdiri tegap tak berkutik, agaknya kekuatan mereka seimbang satu sama lainnya

Tampak Bong Pay tertawa lebar dan memuji, “Kau memang sangat lihay, dalam bentrokan ini telapak kiri yang telah kau pergunakan”

“Bong toako memang bukan orang bodoh,” batin Hoa Thian-hong, “Cuma wataknya terlalu berangasan dan ugal ugalan!”

Berpikir demikian, ia lantas mendekati tonggak besi itu dan menyambar rantai tersebut, kemudian dibetotnya sekuat tenaga,

Telapaknya terasa sakit dan panas, sedang rantai tersebut masih tetap utuh seperti sedia kala, ternyata betotannya itu tidak menghasilkan apa-apa “Hey sahabat, kalau kau mampu memutuskan rantai itu, aku Bong Pay pun sanggup melakukan hal itu,” ejek Bong Pay dengan suara lantang.

Hoa In segera maju ke depan, katanya, “Rantai ini bukan ditempa dari besi baja biasa, Siau Koan-jin menyingkirlah ke samping, biar budak yang coba membetot putus rantai ini.”

Hoa Thian-hong geleng kepala, pikirnya di dalam hati, “Bong toako terlalu jujur dan lugu, andaikata aku tidak unjukan sedikit kepandaian mungkin dia akan pandang rendah diriku, baiklah aku harus unjuk kelihaianku!”

Karena berpikir demikian, hawa murninya segera dihimpun ke dalam telapak, setelah pusatkan perhatiannya ke arah tongkat besi itu sekuat tenaga ia betot rantai tadi ke belakang.

Rantai baja itu benar-benar luar biasa

Criiing!” di tengah suara dentingan nyaring, rantai itu sama sekali tidak putus sebaliknya tongkat baja yang tertanam di bawah tanah terbetot patah jadi dua bagian oleh senjata hawa murni Hoa Thian-hong yang maha hebat itu.

Bentakan gusar bergema memecahkan kesunyian, sesosok bayangan manusia dengan kecepatan bagaikan kilat meluncur masuk ke dalam gelanggang Melihat orang itu adalah seorang toojin berusia pertengahan, Hoa In segera menyongsong kedatangannya.

Baru saja pihak lawan meloloskan pedang yang tersoren di bahunya untuk menghadapi segala kemungkinan, Hoa In telah bertindak lebih duluan, telapak tangannya bergerak cepat dan tahu-tahu jalan darah kakunya sudah tertotok

Sementara itu Hoa Thian In yang telah berhasil mematahkan tongkat baja segera merasakan telapaknya panas dan kaku, ia gosok-gosok telapaknya sambil berseru, “Bong toako, rantai besi ini benar-benar luar biasa sekali, bagaimana dengan rantai dilehermu?”

Belum habis dia berkata Bong Pay sudah loncat bangun dari atas tanah, telapaknya menyambar rantai tersebut kemudian…..

“Weees!” senjata itu dihajarkan ke atas punggung toojin setengah baya tadi.

Pemuda she-Bong ini bukan saja memiliki kekuatan yang luar biasa, bahkan gerak-geriknya lincah dan enteng, begitu rantai itu diayun toojin setengah baya tadi terhajar telak punggungnya.

Bisa dibayangkan betapa hebatnya akibat serangan itu yang ditujukan ke arah seseorang yang tertotok jalan darahnya, toojin itu mendengus berat, tulang punggungnya segera patah jadi dua bagian, sedang tulang dadanya patah lima batang. Baik Hoa Thian-hong maupun Hoa In sama-sama tertegun menyaksikan peristiwa yang sama sekali berada diluar dugaan ini, mereka tak sempat menghalangi perbuatannya itu lagi. terlihatlah toojin itu muntah darah segar dan jiwanya sukar dipertahankan lebih lanjut.

Rupanya Bong Pay sudah dipengaruhi oleh nafsu membunuh yang berkobar kobar, ia loncat ke muka dan rantainya kembali diayun menghajar toosu muda yang lain.

Hoa Thian-hong bertindak cepat tangan kirinya berkelebat mencengkeram pergelangannya sambil berseru, “Bong toako, buat apa kau musti?”

Desiran angin tajam menderu deru, mendadak Bong Pay ayunkan ujung rantainya itu menghantam ke atas kepala pemuda Hoa.

“Wataknya memang betul-betul berangasan” batin pemuda kita, tangan kanannya segera bergerak mencekal ujung rantai itu, tegurnya sambil tertawa, “Bong toako, masa siaute pun hendak kau hantam?”

Sinar mata Boag Pay berapi-api, dengan penuh kegusaran teriaknya, “Kalau tidak kau lepaskan rantai itu, aku akan menyumpahi dirimu!”

Hoa Thian-hong benar-benar takut orang kasar itu memaki dirinya dengan ucapan yang tak genah, cepat- cepat ia lepas tangan dan mundur selangkah ke belakang. Bong Pay berdiri agak tertegun. tapi akhirnya dia putar badan dan lari menuju ke ruang loteng.

Rupanya Hoa In merasa sangat tidak puas dengan sikap pemuda she-Bong itu, dengan alis berkerut omelnya, “Keparat cilik ini benar-benar goblok dan sembrono, dia adalah seorang jago pemberani yang tak berotak, di kemudian hari entah berapa banyak kesulitan yang bakal ia perbuat!”

Yang diperhitungkan serta dipikirkan oleh kakek tua she Hoa ini hanyalah untung rugi bagi majikan mudanya, ia merasa tak senang hati karena urusan Bong Pay ini, dalam anggapannya mencampuri urusan manusia sembrono itu hanya akan mendatangkan banyak kerepotan bagi majikan mudanya saja, oleh sebab itu dia ada maksud mengajak Hoa Thian-hong jangan mencampuri urusan itu lagi.

Tapi Hoa Thian-hong segera berkata, “Kita telah mengabulkan permintaan dari Cu Locianpwee, bagaimanapun juga janji yang telah kita ucapkan tak boleh disesali kembali!”

Habis berkata ia gerakkan badannya dan berkelebat menuju ke arah ruang loteng, terdengar teriakan- teriakan keras berkumandang datang, Bong Hay sambil membentak gusar memutar rantai besinya secara kalap. tiga orang toojin berusia pertengahan sambil putar pedangnya melakukan perlawanan selangkah demi selangkah terdesak keluar dari ruang loteng itu. “Sudah terjadi keributan begini lama, kenapa belum nampak juga seorang jago lumayan yang munculkan diri?” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

“Masa kuil Tiong-goan-koan yang begini besar, hanya dipimpin oleh beberapa orang itu saja?”

Ketika dia mendongak kembali, terlihatlah Bong Pay memutar rantai bajanya makin kencang, keberaniannya luar biasa sekali, sekalipun harus melawan tiga orang musuh sekaligus namun sedikitpun tidak menunjukkan tanda-tanda akan menderita kalah,

Ia segera mendekati toosu muda tadi dan membebaskan jalan darahnya, setelah itu tanyanya, “Siapakah hong-tiang dari kuil Tiong-goan-koan ini? Kenapa sampai sekarang belum juga unjukkan diri?”

Toosu muda ini tahu bahwa Hoa Thian-hong sangat lihay, terutama kehebatannya dalam membetot patah tiang tonggak besi itu. begitu totokannya di bebaskan ia segera putar badan dan kabur dari situ.

Hoa In yang berdiri disisinya segera ayun telapaknya mencengkeram bahu toosu muda itu, bentaknya, “Hidung kerbau cilik! Sudah kau dengar belum pertanyaan yang kami ajukan?”

“Aduuuh….!” toosu muda itu menjerit kesakitan, dengan badan terbongkok2 menahan rasa sakit ujarnya setengah merengek, “Apakah yang hendak sicu berdua tanyakan?” “Aku tanya siapakah ketua kalian? Kenapa tidak nampak dia unjukan diri?”

Agaknya semangat toosu itu bangkit kembali, sambil busungkan dada ia menjawab. “Ketua dari kuil kami adalah Thamcu sektor tengah sekte agama Thong-thian- kauw, gelarnya Hian Leng Cinjin! dia adalah seorang jago yang tersohor namanya di kolong langit”

“Tak usah banyak cerewet” bentak Hoa In gusar, “Sekarang dimana orangnya?”

Mendadak dari tempat kejauhan terdengar Bong Pay membentak keras, ketika semua orang berpaling tampaklah ia sedang ayun rantai besinya membentur ujung pedang seorang toojin, letupan bunga api diiringi suara gemerincing yang amat nyaring segera bergema, pedang dalam genggaman Toojin itu seketika terlepas dari genggamannya.

Melihat kesempatan yang sangat baik itu Bong Pay tak mau sia-siakan peluang itu, rantainya diayun dan langsung dibacok ke atas wajah orang tadi.

Dua orang toojin lainnya buru-buru ayunkan pedangnya berusaha untuk menolong jiwa rekannya itu, namun sayang gerakan mereka terlambat satu langkah, jeritan ngeri yang menyayat hati seketika berkumandang ke tengah udara, raut muka toojin tadi hancur berantakan dengan darah berceceran di atas lantai setelah termakan hantaman rantai itu, ia roboh ke atas tanah sekarat, rintihan ngeri mendirikan bulu roma… Setelah berhasil dengan serangannya, kembali Bong Pay membentak keras, sambil putar senjata rantainya ia menerjang ke arah dua orang toojin lainnya

Menyaksikan betapa dahsyat dan bengisnya pihak lawan pecahlah nyali kedua orang toojin tadi, pemainan pedang mereka kontan jadi kacau tak karuan, mereka berusaha untuk melarikan diri apa lacur permainan rantai itu sangat dahsyat, hal ini membuat mereka jadi kalang kabut dan berkaok-kaok minta ampun.

Sudah lama aku dengar para toojin dari sekte agama Tong Thian melakukan tindakan sewenang wenang terhadap rakyat biasa, dosa mereka sudah bertumpuk tumpuk, ditambah pula Bong toako ini sudah lama dikurung, disiksa dan dihina. rasa bencinya terhadap mereka sudah tak terlukiskan lagi dengan kata-kata bila ini hari aku tidak biarkan ia mengumbar hawa nafsunya, Orang itu pasti tak mau berdiam diri begitu saja”

Ia sendiri pernah mencicipi bagaimanakah tersiksanya bila seseorang dihina dan dipermainkan, ia dapat menyelami perasaan orang semacam ini, maka Hoa Thian-hong pun tidak menghalangi perbuatan Bong Pay untuk melampiaskan rasa sakit hatinya.

Kepada toosu muda itu kembali ia membentak, “Ayoh cepat menjawab, Hian Leng Toojin sekarang berada dimana?”

Dua orang toojin yang berhasil dilukai Bong Pay. seorang patah tulang punggungnya dan yang lain hancur wajahnya, mereka belum putus napasnya tapi berbaring disitu sambil merintih kesakitan.

Menyaksikan keadaan yang sangat mengerikan itu, toosu muda tersebut merasakan sukmanya seakan akan terbang tinggalkan raganya, dengan suara gemetar ia segera menjawab, “Kaucu kami telah menurunkan titah untuk memanggil seluruh anak murid perkumpulan kami berkumpul semua di markas besar, Koancu kami dengan membawa seluruh anak muridnya telah berangkat ke kota Leng-An fajar tadi!”

“Kalau ditinjau keadaan ini, rupanya kehadiran pasukan besar perkumpulan Hong-im-hwie menuju selatan telah diketahui pula oleh pihak sekte agama Thong-thian-kauw,” kata Hoa In!

Hoa Thian-hong mengangguk, “Ehmmm..,l Thong- thian-kauw bukanlah sebuah perkumpulan agama yang tidak terdapat orang pandai”

Jeritan ngeri berkumandang susul menyusul, permainan rantai baja Bong Pay dalam waktu singkat telah berhasil menghajar pula batok kepala kedua orang toojin itu sehingga pecah dan mengucurkan darah segar, dengan lengan putus kaki patah mereka roboh tak berkutik lagi di atas tanah.

Tanpa berpaling Bong Pay langsung menerjang masuk ke dalam bangunan loteng itu.

Menyaksikan tingkah laku orang itu, Hoa Thian-hong segera mengerutkan dahinya, dalam hati ia membatin, “Dia pasti sedang pergi mencari kunci untuk membuka borgol rantai yang membelenggu lehernya.

Kepada toosu muda itu ia segera bertanya, “Siapa saja yang masih berada di dalam loteng?”

“Hanya dua orang toosu cilik”

“Apakah disitu terdapat alat jebakan serta alat rahasia lain?” “Tidak ada!”

Melihat raut wajah toosu muda itu telah berubah jadi pucat pias bagaikan mayat dan ketakutan setengah mati, Hoa Thian-hong jadi tidak tega. segera ujarnya, “Cepatlah menyingkir jauh jauh dari sini, bila kau tidak bertobat dan baik-baik jadi manusia….. Hmmm! lain kali aku tak akan mengampuni jiwamu lagi.”

Toosu muda itu mengangguk tiada hentinya ketika Hoa In melepaskan cengkeramannya, toosu muda tadi segera kabur terbirit-birit dari situ.

Rintihan kesakitan yang memilukan hati bersahut sahutan memenuhi seluruh angkasa, suasana di sekitar tempat itu jadi mengerikan sekali. Lama kelamaan Hoa Thian-hong jadi tidak tega sendiri, kepada Hoa In dia lantas bertanya, “Apakah keempat orang ini masih ada harapan untuk ditolong?”

Hoa In tertegun lalu menggeleng. “Tiada harapan lagi untuk hidup, yang seorang di sebelah sana itu mungkin masih ada harapan untuk hidup. cuma sekalipun bisa lolos dari kematian dia bakal hidup sebagai seorang cacad!”

“Aaai…! bagaimanapun akhirnya toh mati, lebih baik cepat-cepatlah menghantar keberangkatan mereka untuk pulang ke rumah neneknya!”

Hoa In mengangguk, dia segera berkelebat maju ke depan telapaknya diayun berulang kali, dalam sekejap mata keempat orang toojin yang menggeletak di atas tanah dalam keadaan terluka parah itu menghembuskan napas yang terakhir.

Tiba-tiba terdengar suara isak tangis kaum wanita yang amat ramai bergema datang dari balik ruangan loteng muncullah serombongan gadis-gadis muda yang menangis dengan penuh kesedihan, di belakangnya mereka menyusul pula serombongan pria yang jumlah keseluruhannya mencapai delapan puluh orang lebih.

Rombongan pria wanita itu semuanya berada dalam kondisi mengenaskan, tubuh mereka kurus ceking tinggal kulit pembungkus tulang, yang pria berwajah tampan sedang yang gadis berwajah cantik rupawan. Sekilas memandang bisa diketahui bahwa orang-orang itu sama sekali tidak mengerti akan ilmu silat.

Hoa In adalah seorang jago kawankan, meninjau keadaan tersebut dengan cepat ia bisa memahami apa yang sudah terjadi. Ketika dilihatnya rombongan pria dan wanita itu celingukan kesana kemari dengan wajah ketakutan, ia segera membentak keras, “Kalian semua ikutilah diriku!” Hoa Thian-hong tertegun dan dalam Waktu singkat iapun tahu apa yang telah terjadi, diapun lantas berkata, “Hoa In, coba carilah di ruang atas loteng apakah da sedikit harta benda yang berharga? Kalau ada, ambillah dan bagikan kepada mereka semua!”

“Kalian semua harap tunggu sebentar!” teriak Hoa In kemudian dengan suara keras. Ia segera putar badan dan berkelebat masuk ke dalam ruang loteng.

Cahaya api berkilauan memenuhi seluruh angkasa, di tengah kilatan cahaya terang tampaklah Bong Pay dengan membawa sebuah obor sedang membakar ruang loteng yang megah itu, dalam sekejap maka seluruh bangunan telah tenggelam dibalik amukan api yang berkobar-kobar.

Tiba-tiba Bong Pay menerjang keluar dari balik lautan api, dengan gerakan bagaikan kilat ia menerjang ke arah kuil bagian depan.

“Bong toako!” pemuda kita berteriak keras.

Namun Bong Pay sama sekali tidak menggubris panggilan itu, dalam sekejap mata bayangan tubuhnya sudah lenyap dibalik bangunan.

Melihat pemuda itu tak menggubris panggilannya, Hoa Thian-hong lantas berpikir di dalam hati, “Aaai, bagaimanapun di tempat ini toh tak ada jago lihay, biarlah dia berbuat sekehendak hatinya” Si anak muda she-Hoa ini merasa malu dan menyesal atas kejadian yang telah berlangsung di hadapannya ia tidak mengira kalau di dalam kuil kaum toosu ini terkurung begitu banyak gadis muda dan pria tampan ia semakin tak menduga kalau tempat suci semacam ini sebenarnya merupakan suatu tempat mesum yang menjijikkan, karena itu ia merasa tak enak untuk menghalangi perbuatan Bong Pay, sambil berdiri menjublak ia pandang jilatan api yang sedang membakar seluruh bangunan kuil itu.

“Siau Koan-jin, terimalah ini!” mendadak Hoa In berteriak dari atap loteng.

“Weess… weess…!” dua buah buntalan besar segera meluncur ke bawah loteng dengan cepatnya.

Hoa Thian-hong sambut buntalan tadi, ketika dibuka ternyata isinya berupa intan permata dan emas murni, buru-buru benda tersebut dibagi-bagikan kepada kaum gadis dan pria tampan yang mendapat celaka itu.

Jilatan api bergerak dengan cepatnya menyebar keempat penjuru, dalam waktu singkat ruang loteng bagian terbawahpun sudah menjadi lautan api, Hoa In tiba-tiba loncat turun dari atas loteng sambil membawa dua bungkusan besar berisi alat-alat yang terbuat dari emas dan perak, hardiknya dengan suara keras, “Jangan menangis, jangan dorong mendorong….”

Suasana di halaman belakang kacau balau penuh dengan jeritan serta tangisan, tiba-tiba dari bagian depan kuilpun terjadi kegaduhan, suara teriakan manusia makin ramai dan api berkobar memenuhi seluruh kompleks kuil Tiong-goan-koan tersebut.

“Rupanya cukup banyak siksaan serta penderitaan yang dirasakan bocah itu hingga dia jadi kalap” ujar Hoa In sambil tertawa.

“Bong toako adalah seorang lelaki yang berjiwa panas, melenyapkan kuil ini sama artinya dengan membasmi bibit penyakit bagi rakyat kecil daerah sekitar sini”

“Toosu-toosu siluman dari Thong-thian-kauw adalah manusia cabul yang suka main perempuan dan homoseks, aku rasa di setiap kuil di daerah kekuasaan sekte agama Thong-thian-kauw semuanya melakukan perbuatan-perbuatan terkutuk macam ini”

“Kalau demikian adanya, sekte agama Thong-thian- kauw adalah suatu perkumpulan kaum durjana,” seru Hoa Thian-hong dengan alis berkerut, “Mungkin kejahatan yang mereka lakukan jauh di atas perbuatan- perbuatan dari Sin-kie-pang maupun Hong-im-hwie”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, kedua orang itu telah selesai membagi bagikan emas perak serta intan permata itu kepada para korban, maka dipimpinlah orang-orang itu keluar dari halaman kebun dan menyuruh cepat-cepat bubar.

Dalam pada itu peristiwa terbakarnya kuil Tiong-goan- koan telah menggemparkan seluruh kota, banyak rakyat dari empat penjuru berduyun duyun datang ke sekitar situ menonton kebakaran, para Jemaah berusaha keras menolong api membuat suasana jadi kalut dan kacau tak karuan.

Menanti para korban yang berhasil ditolong telah bubar semua, Hoa Thian-hong berdua baru balik lagi untuk mencari jejak Bong Pay, seluruh ruangan kuil telah tenggelam di tengah amukan api, dengan gerakan tubuhnya yang cepat mereka berkelebat kesana kemari mencari jejak pemuda she-Bong tersebut

Ujung baju tersampok angin bergema tiba, empat sosok bayangan manusia dengan gerakkan cepat mendadak muncul dari arah depan, ketika kedua belah pihak saling berpapasan mereka semua pada tertegun dibuatnya.

Di bawah sorot cahaya api, terlihatlah keempat orang itu bukan lain adalah Ang Yap Toojin, Ngo Ing Toojin, Cing Si-cu serta Giok Teng Hujien dari perkumpulan Thong-thian-kauw…..

Setelah terjadi bentrokan fisik dengan rombongan Jin Hian, keempat orang itu secara diam-diam mengawasi terus gerak-gerik dari musuhnya itu, ketika baru saja tiba di kota Wi-im, tiba-tiba mereka temukan kuil Tiong-goan- koan kebakaran, keempat orang itu segera sadar bahwa suatu peristiwa yang tak diiginkan telah terjadi.

Buru-buru berangkatlah mereka menuju kesitu, siapa tahu kedatangan mereka justru telah berpapasan dengan Hoa Thian-hong berdua. Begitu bertemu dengan pemuda she-Hoa Ang Yap Toojin seketika naik darah. sambil tertawa seram teriaknya, “Kau yang bakar kuil Tiong-goan-koan ini?”

“Kalau benar mau apa?” sahut Hoa Thian-hong tawar. Giok Teng Hujien tertawa merdu.

“Eeei…. kenapa sih kau suka main gila? too-koan ini toh indah dan megah, kenapa musti dibakar habis?!”

“Hmmm, dalam kuil ini terjadi perbuatan mesum yang amat menjijikkan, kuil sebagai tempat pemujaan kaum dewata telah digunakan sebagai gudang untuk menyimpan gadis tak berdosa. Justru siaute merasa muak melihat tempat seperti ini maka sengaja kubakar sampai habis. Apa cici ada petunjuk lain?”

“Sudahlah…. kau tak usah berlagak sok di hadapanku!” seru Giok Teng Hujien sambil tertawa, “aku berani taruhan, api ini bukan kau yang lepaskan…..! bukan begitu?”

“Saudara Hoa, diantara kita toh pernah berjumpa beberapa kali,” ujar Ngo Ing Toojin pula. “Bolehkah pinto mengetahui siapa yang telah melepaskan api ini?”

Hoa In tidak ingin melihat majikan mudanya memikul dosa orang lain, dengan hati tak senang ia segera berkata, “Kami bukanlah manusia-manusia rendah yang suka menjual teman, kalau kamu semua ingin mencari orang yang melepaskan api, sana carilah sendiri!!….” Meskipun hanya dua tiga patah kata saja, tapi dengan cepat ia telah mencuci bersih segala tuduhan yang ditimpakan kepada mereka berdua.

Kembali Giok Teng Hujien tertawa ringan. “Too-yu sekalian, api ini pasti dilepaskan oleh musuh bebuyutan kita kaum cecunguk dari perkumpulan Hong-im-hwie, mari kita geledah sekeliling tempat ini mungkin jejaknya masih bisa tertangkap!” serunya.

“Bong Pay bukan tandingan dari beberapa orang ini,” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati, “sekarang aku telah menyanggupi Cu locianpwee untuk merawat serta melindungi dirinya, bagaimanapun juga aku harus menghadapi kejadian ini dengan tegas.”

Berpikir demikian, dengan suara lantang ia lantas berseru, “Cici, setelah kau temukan orang yang melepaskan api itu. apa yang hendak kalian lakukan?”

“Bocah bodoh!” sahut Giok Teng Hujien dengan alis berkerut, “Jin Hian bukanlah manusia baik-baik, kenapa sih musti bergaul dengan dirinya?”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Cici terus terang saja kukatakan, api ini bukanlah perbuatan dari Jin Hian”

“Tentu saja, Jin Hian adalah seorang pimpinan dari suatu perkumpulan besar, tentu saja dia tak akan turun tangan sendiri, Too-yu sekalian, ayoh berangkat!”

Menyaksikan sikap Giok Teng Hujien yang begitu hangat dan mesra terhadap diri Hoa Thian-hong, makin dilihat Ang Yap Toojin merasa semakin gusar, api cemburu membakar hatinya dan niat jahat segera muncul dalam benaknya, dengan suara keras dia segera membentak, “Hoa Thian-hong! ayoh ngaku terus terang, apakah api ini kau yang lepaskan?”

Hoa Thian-hong sendiripun naik darah melihat kekasaran musuhnya, ia menjawab dengan nada ketus, “Sedari tadi toh aku orang she-Hoa sudah mengatakan bahwa api itu akulah yang lepaskan, apa telingamu sudah tuli?”

Ketika terjadi persengketaan sewaktu berada di tengah jalan tempo dulu, Ang Yap Toojin pernah memaki Hoa Thian-hong sebagai orang yang tuli, maka sekarangpun si anak muda itu memaki telinganya telah tuli pula.

Ang Yap Toojin segera tertawa seram. “Too-yu bertiga, ini hari pinto bersumpah akan cabut selembar jiwa manusia she-Hoa ini, harap too-yu bertiga suka melayani pengurus perkampungan itu, urusan selanjutnya serahkan saja kepada pinto untuk dibereskan sendiri.”

Selesai berkata ia cabut keluar pedang mustika yang tersoren di atas bahunya. Berbicara sampai disana sorot mata semua orang tanpa terasa dialihkan ke atas wajah Giok Teng Hujien, jelas dalam peristiwa yang terjadi hari ini perempuan tersebut mempunyai peranan yang amat penting. Andaikata ia setuju dengan cara kerja Ang Yap Toojin, itu berarti posisi akan berubah jadi empat lawan dua, meskipun menang kalah masih sulit untuk ditentukan, namun pertarungan masih bisa dilangsungkan.

Sebaliknya kalau ia nampik dan sebaliknya akan membantu Hoa Thian-hong, maka posisinya akan menjadi tiga lawan tiga, jelas posisi di pihak Thong-thian- kauw amat lemah, apalagi Soat-ji rase salju dalam bopongannya masih belum masuk hitungan.

Giok Teng Hujien sama sekali tidak menanggapi pertanyaan itu, ia malahan menuding ke arah lain sambil berseru, “Coba kalian lihat, pohon dan bunga telah termakan api, sebentar lagi seluruh kuil akan tenggelam di tengah lautan api dan kita tak akan mendapatkan tempat berpijak lagi”

“Giok Teng Too-yu!” hardik Ang Yap Toojin dengan penuh kegusaran, “Pinto ingin bertanya kepadamu, dalam pertempuran yang akan terjadi pada malam ini Hujien akan berpihak kemana?’

“Aku berdiri di pihak perkumpulan Thong-thian-kauw,” sahut Giok Teng Hujien dengan wajah berubah, “Tetapi, Hoa Thian-hong adalah saudara angkatku, maka Soat-ji ku harus berdiri di pihaknya’“

Semua orang tertegun sehabis mendengar perkataan itu, siapapun tahu kelihayan Soat-ji makhluk aneh itu, kehebatannya cukup menandingi kelihayan seorang jago silat kelas satu. Bila Hoa Thian-hong berdua sampat mendapat bantuan Soat-ji, maka kekuatan mereka pasti akan bertambah lipat ganda. dan Giok Teng Hujien seandainya bekerja setengah tengah dan tidak menyerang dengan sepenuh tenaga, bukankah mereka bertiga orang toosu tua bakal mati konyol?

Kuil-kuil yang didirikan di tempat luaran di bawah kekuasaan perkumpulan Thong-thian-kauw memang amat banyak sekali, tapi struktur organisasinya lapuk dan tidak ketat. Hoa Thian-hong sendiripun tidak tahu kedudukan Giok Teng Hujien yang lebih tinggi atau Ang Yap Toojin yang lebih tinggi di dalam perkumpulan itu, tetapi setelah mengetahui bahwa perempuan itu secara terang terangan berpihak kepadanya, sedikit banyak ia merasa hatinya rada lega.

Sebaliknya Ang Yap Toojin makin cemburu dan naik darah setelah mendengar keputusannya itu, dengan sorot mata bengis ia segera berseru, “Hoa Thian-hong, seandainya kau menganggap dirimu seorang lelaki jantan pria sejati…. ayoh terimalah tantanganku untuk berduel!”

Hoa In teramat gusar, ia takut Hoa Thian-hong tak kuat menahan sindiran itu dan menerima tantangan lawan. Tanpa mengucapkan sepatah katapun sepasang telapaknya segera bekerja Cepat dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah depan.

Demi majikan mudanya. kakek tua she-Hoa ini tanpa berpikir panjang segera lancarkan sebuah pukulan dengan ilmu Sau-yang-Ceng-khie-nya yang lihay. Ang Yap Toojin sekalian tak pernah menyangka kalau ilmu maha sakti dari Hoa Goan-siu yang pernah menggemparkan seluruh kolong langit itu bisa muncul di tangan seorang pelayan tua, terkesiap hati mereka bertiga menjumpai serangan itu.

Rupanya Ang Yap Toojin sekalian menyadari akan kelihayan lawannya, melihat begitu dahsyat datangnya ancaman buru-buru pedangnya dipindahkan ke tangan kiri, telapak kanan diangkat ke depan dan serentak mereka bendung datangnya ancaman itu

Hoa Thian-hong naik pitam, ia tak sudi berpeluk tangan belaka. Melihat serangan dahsyat dari Hoa In telah dilancarkan iapun segera menggerakkan sepasang telapaknya menyerang Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu yang berdiri di dekatnya.

Tindakan yang dilakukan beberapa orang itu semuanya dilakukan dengan kecepatan laksana sambaran kilat…. Blaam! terjadi benturan keras bergeletar memenuhi angkasa, Hoa Thian-hong, Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu secara beruntun mundur beberapa langkah ke belakang.

Hoa In takut majikan mudanya cedera, dalam kerepotan telapak kirinya dimiringkan ke samping, separuh bagian tenaga serangannya segera dihantamkan ke arah tubuh Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu.

Kendati begitu Ang Yap Toojin masih belum mampu untuk menahan diri, termakan oleh pukulan yang sangat hebat itu badannya segera mencelat ke belakang darah kental mengucur keluar dari panca inderanya membuat keadaan toosu itu mengerikan sekali.

Dalam waktu singkat Ngo Ing Toojin serta Ceng Si-cu sama-sama menderita Iuka dalam yang parah darah panas bergolak dalam dada mereka membuat kedua orang itu buru-buru pejamkan mata dan mengatur pernapasan.

Keadaan Ang Yap Toojin paling parah. tubuhnya menggeletak di atas tanah dengan sepasang mata terpejam rapat, mukanya pucat pias bagaikan mayat, napasnya kempas-kempis dan lirih sekali.

Hoa Thian-hong sendiripun merasa jantungnya berdebar dan napasnya tersengal-sengal lama sekali ia baru berhasil menguasai diri.

Hoa In segera menghampiri ke sisi tubuhnya. “Siau Koan-jin, bagaimana keadaanmu?” tegurnya gelisah.

Buru-buru telapak kanannya ditempelkan ke atas punggung pemuda itu. segulung hawa murni segera menyusup masuk ke dalam tubuhnya

“Api sudah hampir menyumbat jalan keluar kita, mari kita undurkan diri lebih dahulu dari sini,” kata Hoa Thian- hong kemudian setelah berhasil menenangkan diri, sorot matanya segera melirik sekejap ke arah Giok Teng Hujien.

“Kau memang amat pandai bikin gara-gara,” omel perempuan itu sambil tertawa. “Coba kau lihat, sekarang apa yang musti cici sampaikan kepada kaucu nanti tentang peristiwa ini”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Cici, bila kau ada niat tinggalkan jalan sesat menuju ke jalan yang benar, seketika ini juga siaute akan cabut selembar jiwa Ang Yap Toojin untuk memotong jalan mundurmu.

“Kurang ajar! apa sih yang dimaksudkan tinggalkan jalan sesat menuju ke jalanan yang benar? Siapa yang bersih tetap bersih, siapa yang kotor tetap akan kotor cici yakin belum pernah melakukan perbuatan yang memalukan orang.”

“Aaai… kalau memang cici selalu berpikiran sesat dan tak mau mendusin dari kedosaan, siautepun tidak akan bicara lebih banyak lagi,” ia berpaling dan serunya, “Hoa In, ayoh kita pergi.”

Kedua orang itu putar badan dan segera berlalu, tiba- tiba disini mereka bertambah lagi dengan seseorang, dia bukan lain adalah Bong Pay yang sedang dicari.

Hoa Thian-hong jadi amat kegirangan dia tarik lengan pemuda itu dan diajak bersama-sama membelok ke sebelah kiri.

Dalam pada itu setiap ruangan dalam bangunan kuil itu telah termakan api, jalan maju ketiga orang itu segera tersumbat sama sekali, hawa begitu panas terasa menyengat badan membuat peluh mengucur keluar dengan derasnya, dengan susah payah akhirnya mereka bertiga berhasil juga mendekati tepi dinding pekarangan dari kuil itu.

Mendadak terdengar Jin Hian tertawa tergelak sambil serunya, “Hoa Loo-te, dimanakah cicimu serta ketiga orang toosu hidung kerbau itu?”

Pemuda kita segera mendongak, ia lihat di atas dinding pekarangan berdiri sederetan panjang jago-jago lihay dari perkumpulan Hong-im-hwie, kecuali Jin Hian, Cia Kim serta Cho Bun-kui, keempat puluh orang pengawal golok emas pun telah hadir semua di tempat itu.

Di bawah sorot cahaya api nampak kilatan senjata berkilauan, dalam keadaan siap siaga dengan senjata terhunus para jago dari perkumpulan Hong-im-hwie itu memblokir seluruh daerah yang tidak terjamah oleh api.

Hoa Thian-hong sama sekali tidak gentar menghadapi kejadian ini, dengan langkah yang tetap ia dekati dinding pekarangan tersebut, sekali enjot badan tubuhnya langsung melayang ke arah mana Jin Hian berada.

Dengan kencang Hoa In mengikuti di sisi majikan mudanya, hawa sakti Sau-yang-ceng khie dihimpun ke dalam sepasang telapak, asal Jin Hian menunjukkan tanda-tanda tidak beres, ia segera akan lancarkan serangan dengan sepenuh tenaga.

Terdengar ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie itu tertawa terbahak-bahak, kaki kanannya melangkah satu tindak ke samping memberikan sebuah tempat berpijak bagi lawannya, dengan cepat Hoa Thian-hong serta Bong Pay sekalian telah hinggap di atas tembok pekarangan itu.

Beberapa waktu kemudian. dari kejauhan tampaklah Ceng Si-cu memayang Ang Yap Toojin yang terluka parah dilindungi Giok Teng Hujien serta Ngo Ing Toojin di kedua belah sisinya muncul pula di tempat itu.

“Hoa Loo-te” Jin Hian segera berseru sambil tertawa, “Kalau bekerja janganlah kepalang tanggung, bagaimana kalau kita bekuk pula ketiga orang peria dan seorang perempuan itu agar tak bisa keluar dari tempat ini?”

Hoa Thian-hong tidak menjawab, ia tetap membungkam dalam seribu bahasa.

Sementara itu keempat puluh orang pengawal golok emas telah membentak keras, “Berhenti!”

Keempat sosok bayangan manusia itu segera menghentikan langkah kakinya, Ngo Ing Toojin dengan suara gusar menegur, “Jien Tang-kee, apa yang hendak kau lakukan?”

“Hmmm….. jalan sempit, kita selalu berjumpa, tentu saja aku hendak menahan kalian,” sorot matanya dialihkan ke samping dan melanjutkan, “bagaimana menurut pendapat Hoa Loo-te?”

Hoa Thian-hong tertawa lantang, pikirnya, “Memang lebih baik toosu-toosu siluman dari Thong-thian-kauw dibunuh habis oleh kaki tangannya, cuma bagaimana dengan cici yang tak kuketahui nama aslinya ini…..!”

Puluhan pasang mata para jago sama-sama dialihkan ke atas wajahnya, dalam keadaan begini tak sempat baginya untuk berpikir panjang lagi, segera sahutnya, “Pertikaian antara perkumpulan Hong-im-hwie dan Thong-thian-kauw tidak ingin kucampuri, bila Jien Tang- kee ada maksud menahan mereka silahkan turun tangan sendiri”

Bicara sampai disitu sorot matanya berkilat mengerling sekejap ke arah Giok Teng Hujien, maksudnya agar perempuan itu bisa menerjang ke arahnya.

Giok Teng Hujien adalah seorang gadis yang cerdas, menyaksikan keadaan itu dia segera berkata, “Setan cilik, seorang pria sejati berani berbuat berani bertanggung jawab, kalau kau punya keberanian lindungilah cicimu, kalau tidak lebih baik jangan turut campur, aku tidak ingin mengajak kau main pat-pat gulipat!”

Merah jengah selembar wajah si anak muda itu, setelah tertegun sejenak ia berkata kembali, “Selamanya siaute bekerja tampa menghendaki merusak nama baik orang lain, sekalipun aku bukan enghiong akupun tak ingin pura-pura jadi hohan, sekalipun hubungan pribadi kuperhatikan tetapi kepentingan umum akan kuutamakan lebih dulu”

la berhenti sejenak, kemudian dengan suara yang tegas ia melanjutkan, “Dalam peristiwa yang terjadi hari ini, siaute akan menjamin keselamatan dari cici untuk tinggalkan tempat ini dalam keadaan selamat, aku harap cici dapat menjaga diri baik-baik sehingga tidak menyia- nyiakan jerih payahku untuk melihat diri cici.”

Giok Teng Hujien tersenyum. “Seandainya pikiranku masih sesat dan bekerja lagi untuk pihak Thong-thian- kauw?”

“Mungkin orang yang akan membunuh cici adalah siaute sendiri”

“Kau berani?” seru perempuan itu sambil mencibirkan bibirnya. biji matanya yang jeli mengerling ke arah Ngo Ing Toojin dan memberi tanda agar bersiap sedia melakukan penerjangan.

“Tunggu sebentar?” tiba-tiba terdengar Jin Hian berseru, “Hoa Loo-te, bila cicimu berhasil lolos dari sini, bukankah urusan akan semakin berabe? Terbakarnya kuil Tiong-goan-koan pasti akan dikatakan olehnya sebagai hasil karya dari perkumpulan Hong-im-hwie”

“Haaah… haaah… antara perkumpulan Hong-im-hwie dengan Thong-thian-kauw toh sudah berhadapan sebagai musuh, kenapa Jien Tang-kee musti risaukan urusan sekecil ini?’

“Akulah yang membakar kuil Tiong-goan-koan!” tiba- tiba Bong Pay berteriak lantang, “Siapa yang tidak puas, carilah aku orang she Bong untuk dimintai pertanggungan jawabnya!” Semua orang segera alihkan sorot matanya ke arah pemuda itu, tetapi setelah diketahuinya bahwa orang yang barusan berteriak bukan lain adalah seorang pria dekil yang lehernya masih diborgol oleh rantai baja yang kasar dan panjang, tak tertahankan lagi semua orang segera mendongak dan tertawa terbahak bahak,

Watak Bong Pay amat berangasan dan kasar, melihat semua orang menertawakan dirinya, dengan penuh kegusaran ia segera berteriak, “Kalau mau tertawa tertawalah sekeras-kerasnya, kalau mau berkelahi, ayoh tunjukkan kepala kalian!”

Tentu saja semua orang tak memandang sebelah matapun terhadap dirinya, mendengar teriakan itu gelak tertawa para jago terdengar semakin keras

Hoa Thian-hong menyadari akan rendahnya ilmu silat yang dimiliki Bong Pay, dengan kepandaiannya yang cetek itu pemuda tadi masih belum mampu untuk berduel melawan salah seorangpun di antara para pengawal golok emas.

Karena takut ia turun ke gelanggang secara gegabah hingga mencari Kesulitan bagi diri sediri, sambil mencekal pergelangannya ia lantas berseru, “Bong toako, jangan gubris urusan tetek bengek yang sama sekali tak berguna itu.”

Kemudian ia menoleh dan berkata kembali, “Ngo Ing Tootiang, harap sampaikan kepada kaucu kalian, katakanlah untuk peristiwa kebakaran ini ia boleh catat atas namaku!” “Pinto akan mengingatnya!”

Hoa Thian-hong segera berpaling ke arah Jin Hian dan menantikan keputusannya. Ketua dari perkumpulan Hong-im-hwiee ini bukanlah seorang manusia bodoh, dalam hati ia segera berpikir, “Kenapa aku musti repot2 untuk turun tangan sendiri? Kalau dilihat keadaan Ang Yap toosu hidung kerbau itu, jelas ia terluka parah di tangan pemuda itu. Baiklah aku akan biarkan dia tetap hidup di kolong langit agar di kemudian hari bisa merupakan bibit bencana bagi bangsat cilik itu”

Berpikir begitu ia lantas tertawa terbahak-bahak dan berkata, “Haaah…. haaah…. haaah kalian anggap aku she-Jin adalah manusia macam apa? Sebelum berjumpa muka dengan Thian Ek si toosu tua itu aku tak sudi ribut- ribut dengan anak buahnya”

Diam-diam Hoa Thian-hong geli juga melihat sikapnya itu, ia segera menyingkir ke samping dan berseru, “Cici, baik-baiklah menjaga diri. kita berjumpa lagi di kota Leng An nanti”

“Aku takut sebelum tiba di kota Leng An kau sudah mati terlebih dahulu oleh serangan bokongan dari Jien Tang-kee” kata Giok Teng Hujien sambil tertawa.

Rasa benci malaikat berlengan delapan Cia Kim terhadap Giok Teng Hujien maupun terhadap Hoa Thian- hong adalah sama-sama mendalamnya, hanya sayang ia tak berani melanggar perintah Jin Hian maka selama ini ia tak sempat mencelakai kedua orang itu. Sekarang setelah mendengar sindiran tersebut, ia segera tertawa dingin serunya dengan marah, “Hujien, lebih baik cepat-cepatlah pulang ke kota Leng An, bila kau berani berlagak tengik lagi dihadapanku… Hmmm, hati-hati1ah bila serangan bokongan dari perkumpulan Hong-im-hwie segera akan unjukkan kehebatannya….”

Giok Teng Hujien tertawa ewa, ia ulapkan tangannya ke arah Ngo Ing Toojin berdua, maka berkelebatlah tubuh ketiga orang itu lewat disisi Hoa Thian-hong….

Pemuda she-Hoa itu melirik sekejap ke arah Ang Yap Toojin dalam dukungan Ceng Si-cu, ia lihat sepasang mata toosu tua itu terpejam rapat-rapat, giginya mengatap satu sama lainnya, wajahnya kuning pucat dan mengerikan sekali keadaannya, dalam hati ia lantas berpikir, “Begitu lihaynya ilmu Sau-yang-ceng-khie seharusnya aku melatih ilmu tersebut sedari dulu…,dulu….”

Dalam waktu setingkat beberapa orang dan sekte agama Tong Jin Kau itu sudah lenyap dari pandangan.

Jin Hian segera ulapkan tangannya dan berseru, “Hoa Loo-te, persoalan di tempat ini telah selesai, mari kita kembali ke penginapan!”

“Silahkan Jien Tang-kee!”

Jin Hian melompat turun terlebih dahulu dari atas tembok pekarangan, Cho Bun-kui memberi tanda kepada para pengawal golok emas dan secara beruntun keempat puluh orang jago itu melayang turun pula dari atas tembok dan membentuk barisan berbanjar empat, dengan rapi dan teratur mereka mengikuti di belakang komandannya.

Hoa Thian-hong sambil menggandeng tangan Bong Pay menyusul di belakang rombongan jago-jago dari perkumpulan Hong-im-hwie, katanya di tengah jalan, “Bong toako, aku dengar katanya kau hidup sebatang kara tanpa sanak tanpa tempat tinggal, bagaimana kalau kita bersahabat dan mengembara di dunia persilatan bersama-sama?”

Bong Pay tertegun mendengar ucapan itu, kemudian nyeletuk, “Kepandaian silatmu hebat sedang ilmu silatku cetek sekali, mana mungkin kita bisa melakukan perjalanan bersama-sama?”

“Sahabat bisa berkumpul bila saling setia kawan, asal tujuan dan cita-cita kita sama apa bedanya antara ilmu silat yang .tinggi dan ilmu silat yang rendah”

Tapi Bong Pay tetap menggeleng. “Kepandaian silatku kecil tapi watakku terlalu besar, bila jalan bersama dirimu maka tentu banyak kerepotan yang akan kutimbulkan untukmu!”

“Ehmmm…. bocah ini rupanya tahu diri juga,” pikir Hoa In di dalam hati, “Kalau begitu hanya perangainya saja yang kasar dan berangasan. sedang otaknya sama sekali tidak tumpul” Tanpa terasa sikap serta pandangannya terhadap pemuda itu berubah lebih baik beberapa bagian.

Memandang raut wajah Bong Pay yang dipenuhi oleh garis-garis kekesalan dan kemurungan, Hoa Thian-hong pun berpikir di dalam hati, “Ketika diadakan pertemuan Pek Beng Hwee, ayahku mati dalam medan pertempuran sedang ibuku dalam keadaan terluka parah berhasil lolos dari kepungan kesemuanya adalah berkat bantuan dari para sahabat karib, aku lihat Bong toakopun seorang keturunan dari golongan ksatria, aku tak boleh memandang rendah dirinya karena ilmu silat yang ia miliki terlalu rendah!”

Ia lantas menggenggam tangan Bong Pay dan berseru, “Bong toako, kau maupun aku adalah keturunan dari kaum ksatria, marilah kita angkat saudara dan hidup bersama mati berbareng, mari kita bekerja sama membangun suatu pekerjaan besar yang berguna bagi seluruh umat dunia….!”

Bong Pay merasa amat terharu mendengar perkataan itu. tetapi setelah tertegun beberapa saat lamanya kembali ia menggeleng. “Kalau berbuat begitu, aku pikir rada kurang baik”

“Kenapa?” tanya Hoa Thian-hong tidak habis mengerti. “Usiaku tebih tua tapi kepandaianku kecil, sedang kau

usia muda kepandaian lihay, bila kita harus angkat saudara maka akulah sang kakak dan kau sang adik, kepandaianku tak mampu melampaui dirimu, mana mungkin aku bisa memberi petunjuk kepadamu…” “Sungguh tak nyana Bong toako meskipun kasar orangnya cermat otaknya…..” pikir Hoa Thian-hong.

Dengan wajah serius ia lantas berkata, “Siaute toh sudah pikir sejak tadi, persahabatan hanya didasarkan oleh rasa setia kawan dan hubungan batin yang cocok, asal tujuan dari cita-cita kita sama perduli amat dengan kepandaian yang lebih lihay atau kepandaian yang lebih lemah”

Untuk kesekian kalinya Bong Pay menggeleng. “Yang aku maksudkan kepandaian bukan hanya

terbatas dalam hal ilmu silat belaka,” katanya.

“Lalu apa yang dimaksudkan Bong Toako?”

Rupanya Bong Pay tidak tahu bagaimana musti menjawab pertanyaan itu, setelah termenung senjenak ia berkata, “Usiamu masih sangat muda, sekalipun ilmu silatmu lihay tak mungkin kelihayannya mencapai setinggi langit. tetapi bukti menunjukkan bahwa orang- orang dari pihak Hong-im-hwie berlaku sungkan kepadamu, para toosu siluman dan Thong-thian-kauw juga jeri kepadamu, menurut penglihatanku inilah baru yang dinamakan kepandaian sesungguhnya.”

“Tentu saja begitu,” batin Hoa Thian-hong. “Mau tundukan hati orang, tidak dapat hanya mengandalkan ilmu silat saja.” Dalam hati berpikir begitu, diluaran ia segera menjawab, “Ooo…! Kiranya kau maksudkan tentang soal itu. Siaute mendapat perlindungan dari pengurus perkampunganku yang sangat lihay dalam ilmu silat, berkat kelihayannya itulah tak ada orang yang berani menganiaya diri siaute.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, sampailah beberapa orang itu di depan penginapan. Jin Hian sekalian segera masuk ke dalam kamar sedang sepuluh orang pengawa golok emas yang tinggal disana ikut masuk pula ke dalam penginapan, sisanya setelah menghantar pulang ketua mereka segera berlalu dari situ.

“Bong toako” ujar Hoa Thian-hong kemudian, “Urusan tentang angkat saudara kita bicarakan lagi kemudian hari saja, kita berteman dulu untuk sementara waktu, bagaimana menurut pendapatmu?”

Bong Pay mengangguk “Baiklah, bila kau merasa bosan dengan tampangku, aku segera pergi dari sini. Hoa Thian-hong tersenyum, masuklah ketiga orang itu ke dalam kamar.

Setelah berada di tempat kebakaran beberapa waktu lamanya Semua orang merasa haus, pemuda she Hoa pun ambil dua cawan air teh dan sebuah diantaranya diserahkan ke tangan Bong Pay, katanya, “Bong toako, silahkan minum air teh”

Waktu itu adalah bulan tujuh musim panas, teh dingin merupakan minuman yang paling segar untuk keadaan demikian. Bong Pay segera menerima cawan air teh itu dan sekali teguk menghabiskan isinya.

Hoa Thian-hong yang minum secucupan dengan cepat merasakan lidahnya jadi kaku dan pedas, rasanya aneh sekali, ia jadi terperanjat.

Melihat Bong Pay hendak penuhi pula cawannya dengan air teh tangannya segera berkelebat ke muka menahan cawan itu.

Dalam pada itu Hoa In sedang keluar pintu untuk mencari cawan. melihat gerak-gerik Hoa Thian-hong sangat aneh, buru-buru tegurnya, “Siau Koan-jin, apakah air teh itu tidak bersih?”

“Masih mendingan” sahut sang pemuda sambil tersenyum, “katakanlah kepada Jien Tang-kee bahwa aku terlalu rakus hingga perutku terasa mules, mintakan dua biji obat sakit perut darinya.”

“Obat pemberian dari Jin Hian mana boleh diminum!” seru Hoa In dengan alis berkerut, “biarlah kucarikan seorang tabib saja…..”

Habis berkata ia lantas melangkah keluar dari kamar. “Eeei… eee… kenapa musti pergi terlalu jauh? Cari

saja Jien Tang-kee!” kembali pemuda itu berseru sambil tertawa.

Hoa In melongo kemudian sambil menghela napas ia geleng kepala dan menuju ke kamar Jin Hian. Hoa Thian-hong perhatikan sekejap cawan air teh itu, sewaktu tidak menemukan sesuatu tanda ia menoleh pula ke arah Bong Pay ditemuinya sorot mata pemuda itu tetap jeli dan sama sekali tak berubah, segera diambilnya cawan air teh pemuda itu dan dicicipi sedikit, ternyata rasanya kaku dan pedas, sama sekali tak enak diminum.

Sementara itu Bong Pay sendiri telah merasakan pula gejala yang tidak beres, matanya segera melotot dan ia berseru, “Apakah Jien loo-ji telah main gila dengan air teh kita?”

“Bagaimana rasanya teh dalam cawan Bong toako itu?”

“Air teh, yaah air teh, sedikitpun tidak ada rasanya!”

Hoa Thian-hong tersenyum, ia ambil poci teh itu dan dihisapnya satu tegukan, ternyata air teh disana rasanya biasa saja sedikitpun tiada pertanda yang mencurigakan, maka sadarlah dia apa yang telah terjadi.

“Ooooh…! rupanya bubuk racun itu dipoleskan dalam cawan air teh itu hingga air teh dalam poci sama sekali tidak terganggu, kalau ditinjau dari lambatnya daya kerja racun itu, jelas bukanlah racun dari jenis yang terlalu lihay, Sebagai seorang pemuda yang kebal terhadap racun, perduli racun yang jahat dari jenis apapun asal masuk ke dalam mulutnya ia segera akan merasa pedas dan kaku, pengalaman yang lain membuktikan bahwa pertanda itu tak mungkin salah lagi. SESAAT kemudian Hoa In muncul kembali di dalam kamar sambil membawa dua pil, ujarnya, “Siau Koan-jin, Jin Hian telah memberi dua buah pil untukmu, aku lihat pil ini sama sekali tak berbeda dengan obat yang diberikan kepada Chin Giok-liong tempo dulu”

Setelah kupecahkan siasat busuknya, mungkin lain kali ia tak akan berani main gila lagi kepadaku!” pikir Hoa Thian-hong.

Meskipun dalam hati berpikir begitu, untuk menghindari siasat buruk berantai dari orang she-Jien itu. ia segera ambil sebutir obat diantaranya dan di kunyah dalam mulut, setelah dirasakan obat itu sama sekali tidak mengandung rasa kaku atau pedas seperti halnya gejala keracunan, ia baru serahkan obat penawar yang lain ke tangan Bong Pay.

“Bong toako!” ia berkata, “telanlah obat penawar ini!” Bong Pay amat percaya terhadap ucapan pemuda ini,

tanpa banyak curiga ia terima obat itu dan segera ditelan

ke dalam mulut kemudian ia baru mengomel dengan suara jengkel, “Jin Hian tua bangka itu benar-benar licik, sungguh memalukan manusia macam itu bisa, dianggap sebagai seorang pimpinan dari suatu perkumpulan besar”

“Siau Koan-jin” ujar Hoa In pula dengan wajah murung, “serangan secara blak-blakan bisa dihindari, serangan bokongan sukar dilewatkan. lebih baik kita berpisah saja dari rombongan merek” Hoa Thian-hong termenung sejenak, lalu menggeleng. “Aku pikir lebih aman bagi kita untuk tetap menggabungkan diri dengan rombongan mereka, sebab dengan begitu kita hanya perlu berjaga jaga terhadap serangan bokongannya dia seorang, sebaliknya kalau perjalanan kita lakukan secara berpisah maka bukan saja kita musti waspada terhadap mereka, kitapun harus was- was terhadap bokongan dari orang-orang Thong-thian- kauw

“Ucapan dari Hoa kongcu sedikitpun tidak salah,” sahut Bong Pay dengan alis berkerut, “Aku orang she- Bong akan menuntun kuda bagimu. mari kita genjot Hian Loo-ji sampai keok.”

Begitu nyaring dan keras ucapan itu sehingga hampir semua tamu yang menginap dalam rumah penginapan itu dapat mendengar ucapannya, “Bong toako kalau kau tidak merasa direndahkan, itulah bagus sekali,” ujar Hoa Thian-hong sambil tertawa, “hanya sikapmu terlalu sungkan justru membuat hubungan kita serasa lebih renggang.”

Sembari berkata ia hancurkan dua buah cawan yang beracun itu dan dihuang keluar jendela.

Hingga saat itu di atas leher Bong Pay masih terborgol sebuah rantai besi panjang tujuh depa, Hoa Thian-hong serta Hoa In harus bekerja keras beberapa waktu lamanya sebelum rantai tersebut berhasil dicopot dan dilepaskan dari leher orang. Bertiga mereka bersantap di dalam kamar kemudian Boan Pay pindah ke kamar sebelah untuk mandi dan tidur. sedang Hoa In sambil membawa rantai itu berkata, “Siau Koan-jin, beristirahatlah dulu aku ingin jalan2 sebentar diluaran”

“Tengah malam buta begini, mau apa kau keluar kamar?”

“Aku lihat rantai ini kuat dari aneh, aku ingin mencari tukang besi untuk menempa rantai ini jadi sebilah pedang”

Hoa Thian-hong pikir benar juga ucapan itu, maka ia mengangguk. Sepeninggalnya Hoa In ia tutup pintu dan ambil keluar bungkusan kertas minyak untuk yang diserahkan Cu Tong kepadanya itu.

Ketika dibuka ternyata isinya berupa setengah jilid kitab yang isinya cuma lima enam lembar, kertasnya warnanya kuning dan agak kumala, sepintas dilihat sudah bisa diketahui bahwa buku itu sudah berusia lama sekali.

Pada halaman pertama buku itu terlihatlah empat huruf kuno yang berbunyi, “Ci-Yu-Jit-Ciat” atau Tujuh kupasan dari Ci-Yu.

Hoa Thian-hong merasa semangatnya bangkit, ia duduk di dekat meja memasang lampu lentera dan membuka halaman berikutnya. Pada ujung halaman tertera tulisan “Bab pertama menyerang menyebabkan mati”, di bawah judul itu tertulis tulisan kecil yang rapat dan penuh semuanya membicarakan tentang bagaimana cara-cara mengendalikan serangan secara jitu dan tepat.

Halaman berikutnya merupakan gambar-gambar manusia yang disertai dengan keterangan lengkap

Hoa Thian-hong yang memeriksa sepintas lalu segera menemukan bahwa isi kitab itu hanya terdiri dari tiga jurus serangan belaka, semuanya merupakan jurus-jurus serangan yang dilakukan baik ada kesempatan maupun tidak ada kesempatan, baik menyerang secara halus maupun kekerasan, tetapi yang diarah semuanya merupakan tempat-tempat penting di tubuh manusia, serangan tidak terbatas pada kepalan belaka, tapi mencakup pula menyerang dengan telapak, dengan bacokan maupun dengan totokan jari.