Bara Maharani Jilid 16 : Kesetiaan Pelayan Setia

 
Jilid 16 : Kesetiaan Pelayan Setia

Hoa Thian-hong tertegun, pikirnya, “Cara menotok jalan darah belum pernah kujajal…tapi bagaimanakah faedahnya?” Pemuda itu segera menggeleng, katanya, “Biarkanlah aku lari seorang diri, kau boleh kembali naik kuda”

“Tidak, aku masih kuat untuk lari!”

Waktu itu tengah hari telah menjelang, sang surya memecahkan cahayanya dengan terang menyiarkan hawa panas yang menyengat badan, Hoa Thian-hong tidak tega membiarkan kakek tua itu ikut menderita lantaran dia, dengan alis berkerut segera serunya, “Hati licik manusia sukar diduga, setiap saat kemungkinan besar kita bakal diserang dan dibokong oleh orang, kau harus menjaga badan serta tenagamu baik-baik, hingga seandainya terjadi urusan kita tidak jadi kelabakan serta mandah dijagal oleh musuh”

Hoa In ragu-ragu sejenak, lalu menjawab, “Walaupun ucapan Siau Koan-jin benar, tapi selama Siau Koan-jin melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki, budak merasa tidak tenang untuk naik kuda seorang diri”

Hoa Thian-hong merasa amat terharu hingga tanpa terasa air mata jatuh berlinang, tapi dengan wajah serius dan pura-pura gusar ia menegur kembali, “Ayah telah mati, ibupun tak ada disini. masa kau tak mau mengerti perkataanku.”

Mendengar teguran itu Hoa In segera menghentikan larinya, buru-buru ia berseru, “Budak…budak….”

Sebelum ia sempat meneruskan kata-katanya, bagaikan hembusan angin puyuh Hoa Thian-hong sudah melampaui dirinya, dalam sekejap mata pemuda itu sudah berada puluhan tombak jauhnya di depan sana.

Sesaat kemudian Jin Hian sekalian telah menyusul kesitu, Hoa In segera loncat naik ke atas kudanya dan membawa kuda tunggangannya dari Hoa Thian-hong menyusul dari belakang.

Dalam pada itu Hoa Thian-hong yang sudah berada jauh di depan. tiba-tiba lari berbalik ke belakang, kemudian pulang pergi beberapa kali di sekitar rombongan itu, makin berlari kecepatannya semakin tinggi hingga akhirnya halnya tinggal setitik cahaya saja yang berkelebatan kesana kemari.

Ketika tengah hari sudah lewat dan sore menjelang tiba. Beberapa orang itu telah tiba di kota Ko-kee-ceng, sebelum mereka sempat beristirahat dari arah selatan terdengar suara derap kaki kuda yang ramai berkumandang datang. itulah suara dari rombongan dua puluh pengawal golok emas yang baru saja tinggalkan dusun itu untuk melanjutkan perjalanan.

Meskipun kota itu kecil, tapi karena merupakan jalan raya penting yang menghubungkan Utara dan Selatan, maka dalam kota itu terdapat lima buah rumah penginapan. Beberapa orang itu segera masuk ke dalam penginapan untuk beristirahat serta berjanji tengah malam nanti akan melanjutkan perjalanan kembali.

Sekujur badan Hoa Thian-hong basah kuyup oleh keringat, setibanya di rumah penginapan ia segera memerintahkan pelayan untuk siapkan air buat mandi..

Pada pelana setiap kuda tunggangan tersebut telah tersedia sebuah kantongan berisi uang serta air minum. Hoa In segera mengambil sekeping uang perak dan diserahkan kepada pelayan itu sambil pesannya, “Lihat baik-baik potongan badan sauya kami ini, belikan satu setel baju yang paling bagus dengan warna biru bersulamkan benang emas, berdasar warna kuning, bila tak ada yang cocok buatkan dengan segera, sebelum senja nanti pakaian itu harus sudah siap. Di samping itu carikan pula satu setel baju warna ungu bagiku.”

Pelayan itu menerima uang tersebut, setelah mengamati potongan badan kedua orang tetamunya ia baru berlalu.

“Eeei…. tunggu dulu pelayan!” tiba-tiba Hoa In berseru kembali, “Celana untuk sauya ini belikan dulu!”

“Hamba mengerti!”

Sepeninggalannya pelayan itu, Hoa Thian-hong sambil tertawa segera berkata, “Buat apa sih musti mencari pakaian yang mahal? Apalagi memilih warna biru dengan strip benang emas” “Selama Lo-ya masih hidup, sering kali ia berdandan seperti ini”

Bayangan tubuh ayahnya segera terlintas di dalam benaknya, rasa sedih segera menyerang hatinya, sambil tertawa paksa segera ujarnya, “Ilmu silat yang kau miliki telah mencapai puncak kesempurnaan. Aku pikir beberapa orang jago lihay itu masih belum bisa menandingi kekuatanmu!”

“Siau Koan-jin, mungkin kau lupa bahwa ilmu silat yang budak miliki adalah langsung dari Lo-thay-ya,” ujar Hoa In dengan mata berubah jadi merah, “Sewaktu toa- ya belajar silat, budakpun ikut berlatih!”

Melihat kakek tua itu menangis, buru-buru si anak muda itu berseru, “Ibu paling tidak suka melihat aku menangis, sekarang adalah saat bagiku untuk berkelana di dalam dunia persilatan. janganlah kau bangkitkan pula kesedihanku”

Dengan cepat Hoa In menyeka air mata yang membasahi pipinya. “Siau Koan-jin, ada urusan apa Cu- bo (majikan perempuan) pergi keluar perbatasan?

Mengapa beliau ijinkan dirimu berkelana seorang din?” tanyanya kemudian.

Hoa Thian-hong mengerling sekejap ke arah dinding ruangan sebelah kiri, lalu sambil tertawa jawabnya, “Aku pergi tanpa pamit, ibu sedang berkelana di empat penjuru mencari jejaknya” Hoa In tidak tahu perkataannya itu sungguhan atau tidak, ia lantas mengomel. “Aaai…! Siau Koan-jin benar- benar nakal, kau toh tahu bahwa musuh kita tersebar dimana mana, kenapa kau menahan bermain kesana kemari tiada arah tujuan?”

Hoa Thian-hong tersenyum, ia tidak menanggapi lagi ucapan tersebut. sambil alihkan pokok pembicaraan kesoal lain katanya, “Selama banyak tahun bagaimanakah kau lanjutkan hidupmu?”

“Setelah pertemuan Pak-Beng-Hwie, Cubo buru-buru pulang ke dalam perkampungan dan memerintahkan budak serta seluruh anggota perkampungan untuk mengungsi kelaut Tang-hay, waktu itu budak tidak ingin meninggalkan Siau Koan-jin, tapi akupun tak tahu Cubo telah menyembunyikan Siau Koan-jin dimana maka …” la berhenti sejenak, lalu bergumam, “Siau Koan-jin tentu mengetahui bukan bagaimani perangai cubo? . .

“Ibu memang lebih sukar diajak berbicara daripada ayahku, aku sendiripun tidak berani membangkang perintahnya”

“Benar. siapa yang berani membangkang perintah Cubo? Waktu itu keadaan amat mendesak dan situasi amat berbahaya, Cubo pulang dengan membawa luka dalam yang amat parah, budakpun tak tahu bagaimanakah keadaan Siau Koan-jin, terhadap perintah dari cubo ini dalam hati kecilku budak merasa amat tidak puas” “Ibuku mengatur demikian, tentu saja dia mempunyai alasan tertentu”

“Meskipun memang beralasan tapi caranya itu tidak bagus, keluarga Hoa hanya mempunyai keturunan Siau Koan-jin seorang, sedang budak yang mengerti sedikit ilmu silat ternyata bukannya di perintahkan untuk melindungi keselamatan Siau Koan-jin, sebaliknya malah disuruh mengungsi jauh kelaut Tanghay, bukankah tindakan ini hanya akan membuat hatiku merasa semakin tidak tenteram?”

“Haruslah diketahui Hoa In adalah anggota keluarga Hoa, sedang Hoa Thian-hong adalah majikan dari keturunan keluarga Hoa sebaliknya majikan perempuannya berasal dari luar, dalam pandangan matanya majikan kecil itu merupakan keseluruh dari keluarga Hoa, kedudukkannya jauh lebih terhormat dan penting dari majikan perempuannya maka dari itu Hoa In merasa tidak puas pada saat ia dititahkan untuk mengungsi dan bukannya mendapat tugas untuk menyelamatkan majikan kecilnya.

Menyaksikan ketulusan hati serta kesetiaan pelayan tuanya ini, Hoa Thian-hong merasa amat terharu. Tapi iapun merasa tak enak untuk memberi penjelasan karena keputusan itu dilakukan oleh ibunya.

Dalam suasana yang serba kikuk itulah tiba-tiba pelayan datang membawa air panas menggunakan kesempatan itulah ia segera berseru, “Aku mau mandi dulu, sehabis mandi kita pergi bersantap!” Hoan in berpesan kepada pelayan untuk siapkan hidangan, kemudian menutup pintu dan siap membantu majikan mudanya untuk lepas pakaian.

“Kau duduk sajalah, aku akan kerjakan sendiri” tampik Hoa Thian-hong, setelah melepaskan pakaian ia bertanya kembali, “bagaimana kemudian? Apakah kau selalu berdiam di laut Tang-hay?”

Hoa In mengundurkan diri dan duduk di samping, lalu menjawab, “Cubo memerintahkan aku untuk meyakinkan ilmu ‘Sau-yang ceng-khie’ bila sudah berhasil maka aku dititahkan untuk kembali ke daratan Tionggoan dan mencari Siau Koan-jin. Dalam keadaan apa boleh buat terpaksa budak membawa seluruh anggota keluarga lainnya sebanyak lima orang mengungsi ke laut Tang- hay. Sungguh tak nyana ilmu ‘Sau-yang-ceng-khie’

benar-benar susah sekali untuk melatihnya, akupun tidak dapat memadahi kecerdikan Toa-ya dimana dalam usia dua puluh tujuh tahun kepandaian tersebut telah berhasil dikuasainya, selama perjalanan hingga tiba dilaut Tang- hay, hatiku benar-benar merasa amat sedih, aku menyedihkan kematian toa-ya, rindu pula terhadap Siau Koan-jin, terdesak oleh keadaan maka terpaksa setiap hari aku berlatih dengan giat. Sungguh tak nyana tujuh delapan tahun kemudian ilmu Ceng-kie tersebut akhirnya berhasil aku kuasai juga”

Hoa Thian-hong merasa amat girang bercampur terharu mendengar kabar itu, sambil tersenyum ujarnya, “Berlatih ilmu silat secara paksa memang merupakan suatu pekerjaan yang amat menderita, tapi setelah berhasil maka penderitaan itupun tidak terlalu sia-sia.” “Begitu kepandaian silatku berhasil kuyakini, hari itu juga budak berangkat menuju ke daratan Tionggoan, siapa tahu meskipun sudah kujelajahi utara maupun selatan, sudah kusambangi sahabat2 toa-ya dulu kabar berita mengenai soan-jin belum juga ketahuan, Selama tiga empat tahun belakangan ini budak benar-benar merasa amat menderita”

“Macam apa saja sih sahabat serta kenalan lama ayahku itu?” tanya Hoa Thian-hong sambil menghela napas ringan.

Hoa In gelengkan kepalanya dan menggerutu, “Mereka2 yang termasuk jago lihay sudah mati semua, di rumah hanya tertinggal perempuan2 tua istri belaka, ada pula sebagian yang masih hidup tetapi jejaknya tidak ketahuan, entah mereka telah menyembunyikan diri dimana?”

Hoa Thian-hong menghela napas panjang mendengar kabar itu. Selesai mandi kedua orang itupun bersantap di dalam kamar sambil membicarakan soal rumah tangga, kemudian Hoa In memaksa pemuda itu untuk naik pembaringan beristirahat sedang ia sendiri duduk bersemadi di dekat pintu.

Senja itu ketika Hoa Thian-hong mendusin dari tidurnya, pakaian baru telah siap, dibantu oleh Hoa In pemuda itu segera berdandan.

“Coba kau lihat, aku mirip dengan ayahku atau tidak?” ujar Hoa Thian-hong kemudian sambil tertawa. Hoa In mengamati wajahnya beberapa saat, kemudian menjawab, “Potongan badan serta raut wajahmu mirip dengan Toa-ya, alismu rada tebalan, mata serta hidung mirip pula, cuma bibir serta janggutmu lebih mirip majikan perempuan”

“Lalu bagaimana dengan perangaiku? lebih mirip ayahku ataukah ibuku?” Hoa In berpikir sebentar, lalu sahutnya, “Toa-ya ramah dan halus sedang Cubo keras lagi disiplin. sewaktu Siau Koan-jin masih kecil dulu nakal dan lincah mirip toa ya, entah kalau sekarang lebih mirip siapa ‘“

Hoa Thian-hong tersenyum. “Di dalam situasi yang serba kacau ini, lebih baik perangaiku lebih mirip dengan ibuku,” katanya.

Selesai bersantap hari sudah gelap, kedua orang itupun bercakap-cakap lagi di dalam kamar sambil minum teh. Suatu ketika mendadak Hoa In memperendah suaranya sambil berbisik, “Siau Koan-jin, aku telah berhasil mendapat keterangan yang amat jelas mengenai peristiwa berdarah yang menimpa toa-ya tempo dulu.

Dalam pertarungan yang terakhir toaya seorang diri dikerubuti oleh lima orang manusia jahanam, mereka adalah Thian Ek toosu siluman dari Thong-thian-kauw, Yan-san It-koay serta Liong-bun Siang-sat dari Hong-im- hwie serta seorang bajingan tua yang bernama Ciu It- bong.”

Hoa Thian mengangguk. “Sstt…. awas dinding bertelinga….” bisiknya.

“Ketiga orang pentolan bajingan dari Thong-thian- kauw, Hong-im-hwie serta Sin-kie-pang semuanya adalah manusia-manusia rendah yang tak tahu malu, mereka manusia yang tak bisa pegang janji dan omongannya

plin-plan. menurut pendapatku lebih baik kita berangkat sendiri saja untuk membunuh Thian Ek toosu bajingan itu guna balaskan dendam bagi toa-ya, melakukan perjalanan bersama-sama Jin Lo-ji itu pasti tak akan ada manfaatnya.”

“Ucapanmu memang benar, bukan saja kita harus menyelesaikan dendam pribadi, kitapun harus keras untuk membasmi ketiga buah perkumpulan besar hingga lenyap dari muka bumi.”

“Lalu apa yang musti kita lakukan?”

“Kita laksanakan saja tindakan kita menurut keadaan di depan, perlahan lahan apa yang kita harapkan pasti tercapai juga. Putra Jin Hian telah mati datanganku, cepat atau lambat dia pasti akan turun tangan kepadaku, berhati hatilah setiap saat!”

“Budak rasa lebih baik kita cepat-cepat temukan jejak Cubo, mungkin dia mempunyai cara yang baik untuk menyelesaikan persoalan ini,” usul Hoa In sambil mengerutkan dahinya.

Hoa Thian-hong segera menggeleng, bisiknya, “Ibuku tak dapat unjukan diri di depan umum luka dalam yang ia derita masih belum sembuh betul bila ia unjukan diri maka keadaan kita akan semakin berbahaya.”

Mendadak dari luar pintu terdengar suara langkah manusia, Hoa In segera bangkit sambil menegur, “Siapa disitu?”

Ketika pintu dibuka, terlihat orang itu bukan lain adalah komandan dari pasukan pengawal pribadi Jin Hian.

Orang itu she-Cho bernama Bun Kui dan merupakan komandan dari keempat puluh orang pengawal golok emas, ketika itu sambil melangkah masuk ke dalam ruangan katanya, “Tang-kee kami mempersilahkan Hoa kongcu meneruskan perjalanan kembali!…,”

Hoa Thian-hong mengangguk dan segera keluar dan kamar, Hoa In sambil membawa buntalan mengikuti dari belakangnya. Jin Hian serta Cia Kim-pun secara beruntun munculkan diri pula, setelah Cho Bun Kui membayar rekening berangkatlah kelima orang itu meneruskan perjalanannya menuju ke arah Selatan.

Keempat orang pengawal golok emas selalu berada di depan rombongan Jin Hian, setiap kali mereka beristirahat di rumah penginapan, rombongan pengawal itu tentu berangkat melanjutkan perjalanan kembali.

Sebaliknya Cu Goan-khek sekalian sejak berpisah di kota Cho ciu belum parnah bertemu kembali, rupanya orang- orang itu melakukan perjalanan lewat jalan kecil. Suatu tengah hari ketika racun teratai dalam tubuh Hoa Thian-hong kambuh kembali sebagai mana biasanya ia segera berlarian bolak balik mengitari rombongan itu, setelah lari sejauh beberapa li dia balik dan menyusul kembali rombongannya.

Mendadak…. dari tengah jalan muncul seorang tauto yang memelihara rambut menghadang jalan perginya, Padri berambut itu berusia enam tujuh puluh tahunan dengan raut wajah yang bersih dan kulit badan berwarna putih.

Ia mengenakan sebuah jubah padri berwarna putih, tangannya membawa senjata sekop berbentuk bulan sabit yang terbuat dari baja, sebuah tasbeh berwarna putih tergantung di lehernya. sedang pada keningnya terikat sebuah ikat kepala terbuat dari perak, di bawah sorot cahaya sang surya tampaklah orang itu begitu gagah bagaikan malaikat.

Hoa Thian-hong sudah tiga kali mengitari jalanan itu tapi selama ini belum pernah temukan jejak orang itu, sekarang melihat kemunculannya secara tiba-tiba ia jadi tercengang, sebelum ingatan kedua berkelebat dalam benaknya orang itu sudah berlari mendekati ke arahnya.

Dengan cepat kedua belah pihak saling berpapasan, mendadak padri itu menyilangkan senjata sekop bulan sabitnya ke tengah jalan sambil serunya, “Siau sicu, harap tunggu sebentar”

Hoa Thian-hong terkejut, terasa olehnya cahaya keperakan berkelebat lewat dan tahu-tahu ujung sekop sudah menghadang di depan dada. Dalam keadaan begini tak mungkin baginya untuk menahan gerakan tubuh lagi, karena gugup ia segera mencengkeram senjata lawan sambil didorong keluar.

Bayangan putih berkelebat lewat tauto tua itu mengitari tubuh Hoa Thian-hong satu lingkaran, sementara senjata sekop bulan sabit masih tetap menyilang di depan dada pemuda tersebut.

“Sungguh aneh gerakan tubuhnya,” pikir Hoa Thian- hong dengan hati terkesiap. cepat ia bergeser dua langkah ke belakang lalu berseru. “Toa suhu, harap suka memberi jalan lewat bagiku!”

“Ditinjau dari sikapmu yang tidak tenang dan langkahmu yang terburu-buru. apakah kau merasa amat tersiksa?”

“Benar! aku terkena racun aneh yang amat keji, sekujur tubuhku terasa sakit bagaikan tersiksa….”

“Masa dengan berlari lari begitu maka rasa sakit yang menyerang tubuhmu bisa dikurangi?”

“Ucapan toa suhu sedikitpun tidak salah” jawab si anak muda itu, karena tiada berminat untuk banyak bicara ia segera enjotkan badan dan lari kembali ke muka.

“Bocah muda, kau berani kurang-ajar!” bentak Tauto tua itu dengan suara nyaring senjata sekop bulan sabitnya segera dihantam ke atas batok kepala pemuda itu.

“Rupanya padri tua ini ada maksud mencari perkara… baiklah akan kucoba sampai dimanakah kelihaiannya,” pikir pemuda itu di dalam hati.

Mendengar datangnya desiran angin tajam yang mengancam batok kepalanya, ia segera putar badan sambil mengirim satu babatan ke tengah udara, serunya lagi, “Toa suhu maafkanlah daku!”

“Blaaam…!” pukulan Hoa Thian-hong secara telak bersarang di ujung senjata sekop tersebut membuat senjata itu mencelat sejauh empat lima depa ke tengah udara.

Oleh benturan keras tadi kedua belah pihak sama- sama merasakan lengannya jadi linu dan kaku, mereka merasa kaget dan kagum atas kelihaian lawannya, sambil membentak keras suatu pertempuran sengitpun segera terjadi.

Pertempuran belum berlangsung lama, tiba-tiba Hoa Thian-hong merasa daya tekanan yang dipancarkan lewat senjata sekop itu kian lama kian bertambah berat, bahkan tak pernah daya tekanan itu berkurang. Dalam waktu singkat tekanan yang datang dari empat penjuru itu berat laksana bukit, mengikuti gerakan perputaran senjata itu segulung demi segulung menggencet tubuhnya habis-habisan. Hoa Thian-hong merasakan sepasang matanya jadi silau terkena pantulan cahaya perak yang berkilauan, nampaknya ia semakin keteter dan tak mampu untuk mempertahankan diri lebih jauh.

Dalam keadaan begini, timbullah perasaan ingin menang di dalam hatinya, ia membentak keras.

Sepasang telapaknya dengan segenap tenaga segera disodok kemuka.

Tauto tua itu semakin melipat gandakan tenaga tekanannya setelah melihat keadaan musuhnya keteter hebat. tapi setelah merasakan datangnya perlawanan yang gigih, dengan alis berkerut ia segera berseru, “Aku akan turun tangan keji untuk membunuh orang, bocah cilik! Kalau kau tak merasa kuat menahan diri cepat- cepatlah buka suara untuk minta ampun!….”

“Aneh sekali,” pikir pemuda she-Hoa dalam hati, ”tauto ini mirip sekali dengan malaikat dalam lukisan, wajahnya tidak nampak seperti orang jahat, tetapi mengapa ia meneter diriku terus-menerus?”

Dengan suara lantang ia segera menegur, “Toa suhu, bagaimanakah sebutanmu?”

Tauto tua itu tidak menjawab, sebaliknya mengejek kembali, “Bocah cilik, perhatikan langkahmu. Aku lihat kau cukup tangguh juga untuk bertahan. Janganlah karena berbicara gerakanmu jadi kalut!”

Bacokan sekopnya bagaikan gulungan ombak di samudra menyerang ke depan tiada hentinya. Sekuat tenaga Hoa Thian-hong memberikan perlawanan yang gigih kembali ia berseru, “Toa suhu, aku toh tak pernah mengganggu atau menyakiti hatimu, apa sebabnya toa suhu mendesak diriku terus meneius, sebetulnya apa maksudmu?”

“Aku sedang mencari derma!”

“Mencari derma, masa beginilah cara seorang pendeta mencari derma,” batin pemuda itu, Dengan suara lantang segera serunya, “Toa suhu, kau tidak mirip dengan pendeta yang menyiksa diri, entah derma apa yang sedang kau cari?”

“Aku hendak menderma dirimu, samudra penderitaan tiada bertepi, berpalinglah ke arah daratan. bila kau mengerti gelagat sekarang juga ikutilah aku berlalu dari sini”

“Toa suhu, ucapanmu ini mengandung maksud yang sangat mendalam maafkanlah aku yang muda tak sanggup menangkap arti dari perkataanmu itu”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, daya tekanan yang tergencar keluar dari ujung senjata itu kian berkurang, Hoa Thian-hong secara paksakan diri masih dapat mempertahankan diri.

Terdengar Tauto tua itu berkata kembali, “Dari sini menuju ke arah selatan adalah samudra penderitaan yang tak bertepi bila kau tidak segera berpaling maka kau akan tenggelam dalam samudra penderitaan itu. Sekalipun ada nelayan bermurah hati yang muncul, belum tentu dapat menghantar kau naik ke atas daratan, ucapan ini cukup sederhana, aku rasa kau tentu bisa menangkap maksudnya bukan?”

Hoa Thian-hong cerdik dan berotak encer, dengan cepat ia berhasil menangkap maksud yang sebenarnya dari ucapan itu. Dia tahu Tauto itu sedang memberitahukan kepadanya bahwa perjalanannya menuju ke kota Leng An serta menceburkan diri ke dalam pertikaian tiga besar sama artinya begaikan tenggelam di tengah samudra penderitaan, ia dianjurkan segera berlangsung dan jangan menceburkan diri dalam persengketaan itu.

Meskipun dalam hati ia mengerti, sayang pemuda ini tak mau menerima nasehat tersebut, Setelah berpikir sebentar ia lantas berkata, “Terima kasih atas maksud baik taysu, sayang aku pernah bersumpah di hadapan kuburan mendiang ayahku, sekalipun badan harus hancur dan jiwa musti melayang, aku harus menyelesaikan dahulu pesan dari mendiang ayahku ini”

“Takdir telah menentukan begini, kau melakukan tindakan tersebut hanya akan tinggalkan penyesalan belaka. usaha apa yang bisa kau lakukan?….”

“Maksud Thian sukar diduga manusia, siapa tahu bagaimana yang dimaksudkan sebagai takdir? Bagiku hanya ada jalan maju tanpa jalan mundur, meskipun harus mati juga tak akan menyesal!”

Rupanya Tauto tua itu dibikin gusar oleh ucapan tersebut, dengan suara berat ia berkata, “Kau terlalu keras kepala dan teguh dalam pendirian kalau memang kau tak sudi mendengarkan nasehatku, akupun tidak ingin banyak berbicara lagi. Kau harus layani dahulu serangan-serangan gencarku, bila aku menang kau harus pergi dari sini mengikuti diriku, sebaliknya kalau kau yang menang maka aku akan menghaturkan sisa hidupku ini untuk selamanya mengikuti serta mendampingi dirimu kendati kau hendak pergi keu jung langit atau dasar samudrapun”

Berdebar hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, ia tahu ilmu silat yang dimiliki Tauto tua itu jauh berada diatasnya, Karena itu ia tak berani memberikan komentar setelah tenangkan hati dengan mulut membangkam ia lakukan perlawanan secara gigih dan waspada, ia berusaha agar kemenangan bisa diraih olehnya.

Dalam waktu singkat pertarungan berlangsung semakin sengit. angin pukulan yang kuat menyambar silih berganti. sambaran senjata sekop bulan sabit berkelebat memancarkan cahaya perak yang menyilaukan mata, seluruh tubuh si anak muda itu terkurung dalam kepungannya, Sesaat kemudian, Hoa Thian-hong mulai kepayahan, napasnya tersengal-sengal dan dengusan hidungnya kedengaran makin nyata.

Disaat yang amat kritis itulah, tiba-tiba terdengar suara bentakan gusar Hoa In bergema datang dari kejauhan. “Hey, siapa itu? Cepat tahan!”

Ketika mengucapkan bentakan itu tubuhnya masih berada ratusan tombak jauhnya, tapi bersamaan dengan berakhirnya ucapan terakhir, sesosok bayangan manusia telah menerjang masuk ke dalam gelanggang.

“Jangan bertindak bodoh!” seru Hoa Thian-hong memperingatkan.

Hoa In yang harus menderita dua belas tahun lamanya sebelum berhasil menemui majikan mudanya kembali dalam keadaan selamat. tentu saja tak ingin membiarkan dirinya menempuh bahaya, bersamaan dengan datangnya terjangan itu. sepasang telapak dengan mengerahkan ilmu ‘Sau-yang-ceng-khie’ segera menyambar ke arah senjata sekop bulan sabit lawan.

Terdengar Hoa In membentak nyaring serentetan suara pekikan naga yang nyaring bergema memecahkan kesunyian, tauto tua itu cepat-cepat loncat mundur dan melayang keluar dari gelanggang, dalam waktu singkat tubuhnya sudah berada beberapa ratus tombak jauhnya dari tempat semula dan kabur menuju ke arah utara.

Memandang bayangan punggung Tauto tua itu hingga lenyap dari pandangan, Hoa Thian-hong baru berpaling dan menegur, “Bagaimana? Kau tidak sampai terluka bukan?”

Sambil memegang tangan kanannya dengan telapak kiri, Hoa In menggeleng. “Untung aku tidak terluka, Tauto tua itu sungguh lihay!”

“Aku lihat kedatangannya tidak bermaksud jelek, diapun tak mau sebutkan namanya atau mungkin dia adalah salah satu rekan ayahku dalam pertemuan Pek- Beng-hwee tempo dulu?”

Hoa In termenung sebentar lalu menggeleng. “Dandanan dari Tauto tua itu istimewa sekali, bila dia adalah seorang jago kenamaan aku pasti tak akan lupa terhadap dirinya. Tapi aku merasa tak pernah berjumpa dengan manusia seperti itu”

“Mungkin baru2 ini dia baru berdandan macam begini?”

Hoa In mengangguk, tiba-tiba serunya, “Di depan sana telah terjadi persoalan beberapa orang hidung kerbau dari perkumpulan Thong-thian-kauw telah menghadang jalan pergi Jin Hian serta Cia Kim.

“Pihak lawan terdiri dari berapa orang? Mari cepat kita kesana!” seru pemuda itu dengan alis berkerut.

Hoa In segera menarik lengannya sambil berkata, “Dari pihak Thong-thian-kauw terdiri dari tiga orang toosu tua dan seorang perempuan, pertempuran itu pasti akan berlangsung beberapa waktu lamanya, Siau Koan- jin tak usah terburu-buru.”

“Aku ingin menonton jalannya pertarungan ini!” “Apa sih yang baik untuk dilihat? Ketiga orang toosu

tua dari Thong-thian-kauw itu adalah Ngo Ing cinjin, Ceng Si-cu serta Ang Yap Toojin, sedang yang perempuan bernama Giok Teng Hujien!” “Ehmm. Giok Teng Hujien adalah seorang sahabat karibku, lumayan juga wataknya bahkan aku sebut dia sebagai cici,” kata Hoa Thian-hong sambil tertawa.

Perkataan ini segera meneguhkan hati Hoa In.

“Siau Koan-jin mengapa kau berhubungan dengan perempuan macam itu?” serunya, “Bila Cubo tahu akan kejadian ini, dia pasti tak akan senang hati”

Pemuda itu segera menggeleng, katanya dengan wajah serius, “Siapa saja yang bisa kukenali aku akan berhubungan dengan dirinya, orang? yang tergabung dalam tiga kelompok besar terlalu banyak, bagi kita mau bertarungpun tak akan ada habis-habisnya, mau bunuhpun tak akan ada selesainya, bila kita bisa menasehati beberapa orang diantaranya hingga bertobat dan berpihak pada kita, bukankah kejadian itu sangat baik sekali?”

“Siau Koan-jin. caramu bekerja tidak mirip dengan toa- ya. tidak mirip pula dengan Cuba, sungguh bikin orang jadi cemas dan tidak tenteram”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Keadaan mereka adalah empat lawan dua, Soat-jie milik Giok Teng Hujien pun merupakan jago yang sangat lihay, menurut pendapatmu apa yang bakal dilakukan oleh Jin Hian?”

“Buat Jin Hian sih tak jadi soal. bila tak bisa menang masih mampu untuk melarikan diri. Sebaliknya luka yang diderita Cia Kim belum sembuh betul, mungkin sulit baginya untuk meloloskan diri dalam keadaan selamat….” Hoa Thian-hong segera berpikir dalam hati kecilnya, “Bila aku tiba disitu, pihak mana yang musti kubantu? Suatu masalah yang cukup pelik” Setelah berpikir sebentar, akhirnya dia ambil keputusan untuk memburu ke gelanggang itu, segera katanya, “Situasi pertempuran setiap saat bisa terjadi perubahan besar, lebih baik kita cepat ke situ.”

Tidak menunggu jawaban lagi, ia percepat langkahnya meninggalkan tempat itu.

ooooOooo

“SIAU KOAN-JIN, tunggu sebentar!” teriak Hoa In sambil menyusul dari belakang, “kita tunggu saja sampai salah satu pihak menangkan pertarungan itu, kita baru menyerang pihak yang menang”

“Itu namanya siasat menusuk harimau dengan hati gegabah” seru Hoa Thian-hong sambil tertawa, “Sayang Jin Hian adalah seorang manusia licik, sedang para toojin dari Thong-thian-kauw juga siluman2 yang punya otak encer. mereka tak akan tertipu mentah oleh siasat macam begitu!,”

Dengan kecepatan gerak kedua orang itu sementara pembicaraan masih berlangsung gelanggang pertarungan sudah muncul di depan mata.

Tampaklah Soat-ji makhluk aneh itu dengan ganasnya sedang menerjang Cie Kim habis habisan. sejak sebuah lengan kirinya dikutungi Ciong Tian kek hingga peristiwa itu mulut lukanya belum sembuh benar-benar, hal ini membuat keadaannya ibarat harimau yang masuk dusun digonggongi anjing, ia didesak oleh makhluk aneh tersebut hingga kalang kabut dan keteter hebat, diantara beberapa orang itu posisinya yang paling kritis.

Giok Teng Hujien sambil putar senjata Hud timnya melayani serangan-serangan gencar dari Cho Bun Kui komandan pengawal Golok Emasnya Jin Hian, dengan sebilah golok besar gagang emasnya orang she Cho itu pertunjukkan suatu pemainan ilmu golok yang mantap dan lihai, hal ini jauh diluar dugaan Hoa Thian-hong.

Ditinjau dari situasi ketika itu, agaknya bila Giok Teng Hujien tidak mengeluarkan ilmu simpanannya Hiat sat sinkang, sulit bagi perempuan itu untuk menangkan lawannya. Di pihak lain, tiga orang toosu tua dengan andalkan tiga bilah pedang mustika sedang mengerubuti Jiu Hian seorang, diantara tiga kelompok pertarungan itu boleh dibilang kelompok inilah yang bertarung paling seru dan menarik.

Ngo Ing Tojin mempermainkan pedang mustikanya dengan amat hebat, setiap kali melancarkan serangan dari tubuh pedang itu segera menyiarkan pula irama2 yang aneh.

Kadangkala suara yang dipantulkan amat gemuruh bagaikan gulungan ombak yang menghantam pantai, kadangkala mendebar bagaikan aliran air di sungai, kadangkala dalam melancarkan tusukan disertai dengan lengking bagaikan gelak tertawa seorang gadis, kadangkala pula dalam melancarkan babatannya ia sertai suara desiran bagaikan rintihan seorang gadis yang lemah.

Sebaliknya Cing Si-cu mempermainkan pedang tipis Liu-yap-po-kiamnya dengan enteng dan lincah, serangannya rapat seperti dinding terbuat dari baja, meskipun nampaknya lemah lembut tak bertenaga namun dalam kenyataannya mengandung daya kekuatan yang sangat hebat.,

Ang Yap Toojin sendiri lebih mengutamakan permainan ilmu pedang aliran sesat, setiap jurus serangannya merupakan ancaman maut dan jauh berbeda dengan ilmu pedang biasa, sepintas lalu memandang siapapun akan melihatnya bahwa permainan pedangnya amat ganas, keji dan penuh dengan tipu tipu muslihat, membuat orang yang menyaksikan merasa jeri, takut dan muak!

Ketiga bilah pedang mustika itu rata-rata merupakan pedang tajam yang luar biasa, bayangan pedang yang berlapis lapis mengurung ketat di sekitar tubuh Jin Hian, maju atau mundur semua serangan diatur secara bagus dan sempurna.

Jin Hian adalah seorang pimpinan dari suatu perkumpulan, ilmu silat yang ia miliki sangat lihai dan tak dapat dibandingkan dengan kepandaian dari Cu Goan- khek sekalian.

Tampaklah sepasang telapaknya menari kesana kemari dengan amat lincah, ketiga bilah pedang mustika itu dilawan dengan mantap, setiap jurus dipecahkan dengan jurus, setiap ada peluang segera melontarkan serangan balasan, sikapnya tidak gugup dan gerakannya enteng bagaikan mega. Hawa murni yang terkandung dalam telapaknya amat hebat sekali, barang siapa terkena niscaya bakal terluka parah.

Makin bertarung suasana makin seru dan ramai tujuh manusia seekor binatang mengerahkan segenap kemampuannya untuk berusaha merobohkan lawannya, kecuali Cia Kim yang jelas terdesak hebat dan terjerumus dalam posisi yang amat berbahaya, yang lain masih sulit untuk menentukan menang kalahnya dalam waktu singkat.

Sementara itu Hoa Thian-hong yang telah tiba disisi gelanggang pertama-tama alihkan sinar matanya lebih dahulu ke arah kelompok Jin Hian yang melawan tiga orang toosu tua itu, terutama sekali irama merdu yang dipancarkan keluar dari pedang Ngo Ing Too-jin, terasa olehnya suara itu merdu dan memabukkan.

“Siau Koan-jin” ujar Hoa In secara tiba-tiba, “Apakah racun teratai yang mengeram dalam tubuhmu telah hilang?”

“Sekarang sudah tak menjadi soal lagi,” jawab pemuda itu sambil mengangguk.

Sejak kemunculan dua orang itu ditepi gelanggang, secara diam-diam semua orang menaruh perhatian kepada mereka berdua. Sebab posisi kedua belah pihak ketika itu adalah seimbang, bila dua orang itu membantu salah satu pihak saja niscaya pihak yang lain akan menderita kekalahan total.

Untuk keadaannya waktu itu aneh sekali, Jin Hian tahu bahwa Hoa Thian-hong mempunyai hubungan dengan Thong-thian-kauw terutama sekali hubungannya dengan Giok Teng Hujien amat akrab, sebaliknya pihak Thong- thian-kauw yang melihat pemuda itu berjalan bersama Jin Hian, hal ini jelas menunjukkan bahwa ia telah bekerja sama dengan pihak Hong-im-hwie.

Karena persoalan inilah kedua belah pihak sama-sama tidak tahu kemanakah pemuda itu akan bercondong, Jin Hian serta ketiga orang toosu tua itu menyadari akan posisi sendiri karena takut urusan jadi berabe maka tak seorangpun diantara mereka yang buka suara

Yang lebih aneh lagi adalah Giok Teng Hujien sendiri, perempuan itu tetap berlagak pilon dan seolah olah tidak tahu kalau Hoa Thian-hong telah hadir disitu.

Pemuda she-Hoa itu sendiri sambil berpeluk tangan hanya menonton jalannya pertarungan dari sisi kalangan mendadak ia merasa bahwa dari ujung pedang milik Ngo Ing Toojin memancar keluar suara aneh yang bisa membuyarkan perhatian orang, hal ini mencengangkan hatinya di samping merasa makin kagum atas kehebatan ilmu silat yang dimiliki Jin Hian.

Suatu ketika Ang Yap Too jin mendadak berkata, “Jien Tang-kee, betulkah kau menenggelamkan sampan membuang kapak?” dalam pergerakanmu itu hanya ada maju dan tak ada mundur?” “Dalam perkumpulan Thong-thian-kauw, aku orang she jin hanya kenal Thian Ek-cu seorang, lebih baik kalian undang dia keluar untuk berbicara,” jawab Jin Hian ketus.

Ang Yap Toojin jadi amat gusar. “Kaucu kami toh jauh berada di kota Leng-An”

Tidak menanti ia menyelesaikan katanya, Jin Hian telah menukas dengan suara dingin, “Sekarang juga aku orang she-Jin sedang berangkat menuju ke kota Leng An!”

“Jien Tang-kee. kau benar-benar tidak pandang sebelah matapun terhadap orang lain, kalau memang begitu jangan salahkan kalau pinto akan berlaku kurangajar kepadamu!”

Pedangnya digetarkan, secara beruntun ia lancarkan tiga jurus serangan berantai, bentaknya, “Saudara- saudara sekalian, ayoh perketat serangan kita bereskan dulu ketiga orang jagoan itu!”

“Bagus sekali!” seru Giok Teng Hujien pula sambil tertawa nyaring, “Ini hari aku akan membuka pantangan membunuh”

Ujung baju sebelah kirinya dikebaskan segera tampaklah telapak tangannya yang putih bersih menghantam dada Cho Bun Kai Komandan dari pengawal golok emas itu membentak keras, goloknya dibabat kemuka balas melancarkan pula sebuah bacokan, bersama dengan gerakan itu pula ia bergeser satu langkah ke samping.

Giok Teng Hujien segera menerjang kemuka, bibirnya bersuit nyaring memperdengarkan jeritan yang sangat aneh. Mendeagarkan jeritan aneh itu, Soat-ji makhluk aneh tersebut segera memperhebat terjangannya, sambil bercuit gusar binatang itu loncat ke angkasa dan menerjang tubuh Cia Kim dengan ganas.

Dalam waktu singkat Cia Kim serta Cho Bun Kui segera terjerumus dalam posisi yang amat berbahaya, setiap saat jiwa mereka mungkin akan punah di tangan musuh.

“Hmm!” dengan gusar Jin Hian mendengus, “setelah dunia persilatan aman selama sepuluh tahun, binatangpun berani unjuk kebuasan terhadap manusia!”

Sambil berseru, sepasang telapaknya didorong ke depan secara berbareng, tubuhnya bergeser beberapa langkah ke samping, dengan manis sekali ia melepaskan diri dari kepungan ketiga bilah pedang pusaka itu, kemudian telapak sebelah menyerang Giok Teng Hujien, telapak yang lain menghantam tubuh Soat-jie rase salju itu.

Bentakan keras berkumandang memecahkan kesunyian, Ang Yap Toojin serta Cing Si-cu menggerakkan pedangnya menyusul ke depan, secara berbareng mereka tusuk2 bagian belakang Jin Hian. Ngo Ing Toojin loncat pula ke tengah udara Sreeet! pedangnya diiringi dengungan nyaring membacok lengan kiri orang she Jin itu.

Dengan lincah Jin Hian berkelit ke samping, setelah terlepas dari ancaman ketiga bilah pedang itu maka posisinya dengan Cia Kim serta Cho Bun Kui-pun terbentuk jadi posisi segi tiga, dalam keadaan begini setiap saat ia dapat memberikan pertolongan kepada pihak yang lemah.

Mendengar sampai disitu, Hoa Thian-hong segera berpikir di dalam hati, “llmu silat yang dimiliki Jin Hian sangat lihay, sekalipun ia tak mampu untuk melawan setiap saat masih sanggup untuk melarikan diri, sedang Giok Teng Hujien agaknya memiliki ilmu silat yang sukar diukur kelihaiannya, tapi ia tak mau menyerang dengan sepenuh tenaga. Pertarungan yang terjadi pada hari ini jelas merupakan suatu keadaan yang tak terselesaikan…!”

Hoa In yang berada di sisinya jadi amat kuatir bila pemuda itu ikut campur tangan dalam pertarungan itu, apalagi setelah dilihatnya pemuda itu tersenyum dengan sorot mata berkilat, buru-buru katanya, “Kedua bilah pihak sama-sama belum membongkar isi peti masing- masing, rasanya tak perlu bagi kita untuk mencampuri urusan mereka.

Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba berkata, “Harap saudara-saudara sekalian berhenti bertempur, bagai mana kalau dengarkan dulu sepatah dua patahku?” Ucapan itu nyaring dan lantang, setiap patah kata dapat terdengar oleh semua orang dengan cepat. Maka orang-orang itupun segera tarik kembali serangannya sambil meloncat mundur ke belakang.

Sambil membopong rase saljunya, Giok Teng Hujien mengundurkan diri kesisi kalangan, serunya sambil tertawa, “Apa yang hendak kau katakan?”

Hoa Thian-hong tertawa, ia menjura dan menyapa, “Cici. Baik-baikkah kau? tootiang bertiga, baik-baikkah kalian semua?”

Giok Teng Hujien tertawa makin merdu. “Oooh….aku mengira kau sudah tidak kenal lagi dengan aku yang menjadi cicimu”

“Siaute masih tetap seperti sedia kala, siapapun tak kupandang dengan rendah” sorot matanya menyapu sekejap keseluruh wajah para jago, kemudian lanjutnya, “Baik Thong-thian-kauw maupun Hong-im-hwie sama- sama merupakan perkumpulan besar dalam Bulim, Jien Tang-kee-pun mempunyai hubungan yang erat dengan Thian Ek kaucu, bagaimana kalau pertarungan pada hari ini kalian sudahi sampai kisini saja?”

Giok Teng Hujien tertawa cekikikan. ujarnya, “Siapapun mengira hanya kaulah yang tidak menyukai kolong langit jadi kacau, tak tahu caramu bekerja ternyata jauh lebih hebat. Itulah yang dikatakan setiap orang pandai bermain sulap. hanya caranya saja masing- masing berbeda.” Hoa Thian-hong tersenyum, kepada Jin Hian sembari menjura katanya kembali, “Jien Tang-kee, lebih baik kita seleaikan saja urusan kesalahpahaman ini langsung dengan Thian Ek kaucu, ayoh kita pergi saja dari sini!”

“Bocah. pandai amat kau!” pikir orang she-Jin itu di dalam hati.

Cho Bun Kui serta Hoa In yang mendengar mereka mau berangkat segera menuntun kudanya masing- masing untuk diserahkan kepada majikan mereka Jin Hian serta Hoa Thian-hong segera menerima tali les kuda itu dan loncat naik ke atas pelana.

“Saudara Hoa,” terdengar Giok Teng Hujien berseru sambil tertawa merdu, “Andaikata kami bersikeras akan menahan Jien Tang-kee di tempat ini, kau bakal membantu pihak Hong-im-hwie ataukah membantu Thong-thian-kauw kami?”

Jin Hian segera mengerutkan dahinya dengan mata melotot, ia mendengus dingin dan bibirnya bergerak seperti mau mengucapkan sesuatu, namun akhirnya niat itu dibatalkan kembali.

Hoa Thian-hong tersenyum dan segera menjawab, “Dengan andalkan kemampuan cici serta Tootiang bertiga, aku rasa masih belum sanggup untuk menahan Jien Tang-kee, kalau tidak perkumpulan Hong-im-hwie tak akan hidup hingga hari ini…..”

“Pintar juga kau si bocah cilik,” batin Jin Hian di dalam hati. Sementara itu Giok Teng Hujien sudah tertawa mengejek, katanya lagi, “Andaikata kami tak mau tahu diri dan memaksa untuk tahan orang itu? Apa yang akan kau lakukan?”

“Itu mamanya mencari penyakit buat diri sendiri,” batin Hoa Thian-hong, diluaran ia tertawa nyaring dan menjawab, “Aku akan berpeluk tangan belaka, kedua belah pihak tiada yang akan kubantu!”

“Seandainya cici bukan tandingan lawan dan jiwaku terancam mara bahaya?”

“Tentu saja aku akan turun tangan untuk memberi pertolongan” sahut si anak muda itu setelah berpikir sebentar.

Giok Teng Hujien segera tertawa cekikikan. “Waaah…. jadi kalau begitu, kau masih tetap membantu pihak Thong-thian-kauw?”

Hoa Thian-hong pun tersenyum, sambil menjura segera serunya, “Perjumpaan kita sampai disini saja, sampai ketemu lain waktu.”

Ia cemplak kudanya dan segera berlalu dari sana…… Tiba-tiba Ang Yap Toojin gerakan tubuhnya

menghadang di depan kuda, hardiknya dengan suara keras, “Apakah Hoa Kongcu juga akan ikut ke kota Leng- An untuk menyambangi Kaucu kami?” Sebelum pemuda itu sempat menjawab, Jin Hian larikan kudanya maju ke depan, serunya sambil tertawa dingin, “Ang Yap, kalau kau hanya mencari Satroni dengan aku orang she-Jin, itu masih mendingan, kalau kau berani mengganggu Hoa kongcu. Hmm…….

Hmm……. aku tanggung kau pasti akan berbaring di tempat ini dan sejak kini tak mampu untuk pulang ke kota Leng An lagi”

“Eeei…. eeei ,…. orang ini benar-benar sangat lihay” pikir Hoa Thian-hong dalam hati, “Belum sampai aku mengadu domba mereka berdua, tak tahunya ia sudah mendahului diriku lebih dulu…. sunggub hebat!”

Sambil tertawa terbahak-bahak segera serunya, “Jien Tang-kee, kau terlalu pandang tinggi diriku.”

Dalam pada itu Ang Yap Toojin merasa semakin gusar, dengan mata melotot serunya, “Saudara cilik, sudah kau dengar tidak pertanyaan yang pinto ajukan? Atau mungkin kau sudah tuli?”

Hoa Thian-hong mengerutkan dahinya mendengar makian itu. segera pikirnya kembali, “Orang goblok! rupanya kau memang seorang manusia tolol yang tak punya otak!”

Tiba-tiba tampak sesosok bayangan manusia berkelebat lewat, tahu-tahu Hoa In sudah muncul disitu sambil membentak, “Siapa yang sedang kau maki?” Telapak tangannya diayun, ia kirim satu pukulan ke depan. Dalam serangan ini meskipun ia tidak menggunakan ilmu ‘Sau-yang-ceng-khie’ nya, namun kecepatan gerakan tangannya serta kemantapan dari tenaga pukulannya cukup mengejutkan hati orang.

Ang Yap Toojiu segera enjotkan kakinya loncat mundur lima depa ke belakang, cring….! pedang mustikanya kembali diloloskan dari sarung, serunya sambil menyeringai seram, “Maaf bila pinto tidak sempat mengenali dirimu, siapa sih namamu?”

“Kau bukan tak sempat kenal, goblok dan pelupa,” sahut Hoa in sambil tertawa dingin, “Aku adalah Hoa In dari perkampungan Liok Soat Sanceng, pada sepuluh tahun berselang bukankah kita pernah berjumpa muka?”

Mula-mula Ang Yap Toojin nampak agak tertegun, diikuti ia segera tertawa seram ejeknya, “Menurut kabar yang tersiar dalam dunia persilatan, aku dengar majikan dari perkampungan Liok Soat Sanceng adalah seorang she-Jin, hey orang yang bernama Hoa In, kenapa kaupun mengatakan orang yang berasal dari perkampungan Liok Soat Sanceng?”

Jin Hian yang berada di samping segera tertawa terbahak-bahak, selanya dari damping, “Dulu karena aku lihat perkampungan Liok Soat Sanceng indah dan tak berpenghuni, aku merasa sayang untuk membiarkan bangunan itu rusak dimakan tahun, maka sengaja kudiami beberapa tahun lamanya. Siapa tahu tempat yang penuh rejeki macam itu ternyata tidak cocok bagi orang kasar seperti aku, dimana akhirnya selembar jiwa putera kesayangankupun lenyap disana. Aai kini aku sudah menyadari akan kesalahanku pada masa yang silam, perkampungan tadi sudah kuserahkan kembali kepada Hoa kong cu”

Ang Yap Toojin tertawa dingin. pada dasarnya diapun seorang siluman tua yang licik, ia tahu bila dirinya memusuhi Hoa Thian-hong maka dialah yang akan menderita kerugiannya.

Tapi apa lacur ia sudah kesesem terhadap kecantikan Giok Teng Hujien sayang orang yang diidamkan itu tidak menaruh perhatian kepadanya, ditambah pula setelah menyaksikan tingkah laku Giok Teng Hujien yang begitu mesra terbadap diri Hoa Thian-hong, hal ini membuat rasa cemburunya makin berkobar, tanpa sadar ia telah anggap Hoa Thian-hong sebagai paku di depan mata, ia seialu berusaha keras untuk mencabutnya dari depan mata.

Jin Hian adalah seorang manusia yang licik, ia pandai mendalami perasaan orang, melihat keadaan Ang Yap Toojin sudah mengenaskan sekali, ia jadi kegirangan, Sambil tertawa tergelak serunya, “Hoa Loo-te, waktu sudah tidak pagi-pagi ayoh kita lanjutkan perjalanan…-!”

Ia cemplak kudanya dan berlalu lebih dahulu dari situ.

Ngo Ing Toojin sendiri dapat memahami sampai dimanakh kelihayan dari ilmu silat yang dimiliki Hoa In, dia takut keadaan Ang Yap toojin bertambah runyam, sambil memburu maju ke depan seraya serunya, “Ang Yap Too-heng, baiknya kita sudahi saja persoalan pada hari ini sampai disini saja, mari kitapun harus segera melanjutkan perjalanan” Waktu itu matahari bersinar dengan teriknya, siapapun tidak tahan untuk berdiam terlalu lama disitu, Hoa Thian- hong sendiri setelah ‘lari racun’ sekujur badannya basah kuyup oleh air peluh, sambil meneguk air dalam botol yang tersedia di atas pelana kudanya, ia beri tangan kepada Giok Teng Hujien dan segera berlalu dari Sana.

Ang Yap Toojin yang ditinggalkan begitu saja, dari mulanya jadi gusar, dengan mata melotot diawasinya kelima orang jago itu berlalu dari sana, giginya bergemerutukan menahan gusar seluruh rasa benci dan dongkolnya segera ditimpakan ke atas tubuh Hoa Thian- hong seorang, ia banci pemuda itu hingga terasa merasuk ke dalam tulang sumsumnya.”

Sore itu rombongan Jin Hian sekalian beristirahat disebuah rumah penginapan dalam dusun yang kecil. tengah malam perjalanan kembali dilanjutkan.

Hoa Thian-hong yang tak dapat melupakan peristiwa pertarungan dengan Tauto tua itu sepanjang perjalanan selalu berjalan dipaling belakang, dia berharap bisa berjumpa kembali dengan orang itu. Siapa tahu Tauto tua berambut putih itu tak pernah muncul kembali dihadapan mukanya.

Keesokan harinya, ketika sore menjelang tiba sampailah mereka di kota Wi-im, kota itu merupakan sebuah kota yang terpenting di wilayah utara dengan pelabuhan yang ramai pula, keempat puluh orang pengawal golok emas itu masih berada di dalam kota dan belum berlalu dari situ. Setelah mencari rumah penginapan, Hoa Thian-hong duduk dikamar minum teh sambil menunggu air untuk mandi, tiba-tiba Cho-Bun Kui masuk ke dalam kamar sambil berkata, “Cong Tang-kee memerintahkan aku untuk memberi tahu kepada kongcu, bahwa seluruh rombongan akan beristirahat selama satu hari di kota Wi- im, besok malam perjalanan baru akan dilanjutkan kembali”

Dari sakunya dia ambil keluar serenteng mutiara serta dua keping emas murni, sambil diserahkan ke tangan Hoa In sambungnya lebih jauh, “Cong Tang-kee berkata bahwa kota Wi-im adalah sebuah kota yang ramai dan makmur, bila Hoa kongcu ada kesenangan untuk berjalan jalan, silahkan pengurus tua membawa sedikit emas dan mutiara ini sebagai persiapan untuk dipergunakan oleh kongcu”

Hoa Thian-hong ingin menampik tapi Hoa In keburu sudah menerimanya sambil menyahut, “Sampaikan kepada Tang-kee kalian, anggap saja dua keping emas serta satu renteng mutiara ini sebagai beaya menyewa perkampungan kami selama ini, hutang piutang kita hapus sampai disini saja”

Cho Bun Kui mengiakan sebisanya, setelah memberi hormat kepada pemuda she-Hoa itu dia segera mengundurkan diri dari kamar. Pelayan datang membawa air, selesai mandi dan bersantap Hoa Thian- hong segera naik ke atas pembaringan untuk beristirahat, Hoa In yang menyanjung serta menyayang majikan kecilnya bagaikan burung hong membuat pemuda itu tidur dengan nyenyak dan tenang.

Senja itu Hoa Thian-hong setelah bangun dari tidurnya segera bersantap di dalam kamar bersama pelayan tuanya, terdengar Hoa In bertanya, “Siau Koan-jin, apa kau ingin berjalan2 cari angin di dalam kota?”

“Emmm….sepanjang jalan kita sibuk terus untuk melakukan perjalanan, hingga kesempatan untuk berbicarapun tak ada, malam ini lebih baik kita cari kesenangan dengan membicarakan soal ilmu silat saja, apa gunanya berkeliaran di tempat luar?”

“Ilmu silat setiap saat dapat dibicarakan Toa-ya pun pernah berkata daripada membaca selaksa jilid kitab lebih baik melakukan perjalanan selaksa li. Siau Koan-jin! bukankah kau baru pertama kali ini datang ke wilayah selatan, mari kita berjalan jalan diluar sambil cari kesenangan!”

Hoa Thian-hong adalah seorang jago yang masih muda, hatinya segera tergerak oleh ucapan itu, setelah menutup pintu berangkatlah kedua orang itu berjalan jalan mencari angin.

Kota Wi-Im meskipun merupakan kota penting yang menghubungkan utara dan selatan serta ramai dengan toko dan perdagangan, namun disitu tak ada tempat rekreasi yang baik, setelah berjalan jalan beberapa saat lamanya Hoa Thian-hong merasa bosan dan kesal, tanpa terasa ia teringat akan ibunya, bayangan Chin Wan-hong pun terlintas pula dalam benaknya, banyak persoalan berkecamuk dalam benaknya membuat kegembiraannya hilang sama sekali. Akhirnya kepada Hoa In dia berseru, “Badanku terasa amat lelah, mari kita pulang ke penginapan untuk beristirahat!”

“Siau Koan-jin, apakah badanmu merasa tak enak?”

Hoa Thian-hong geleng kepala, maka berangkatlah kedua orang itu kembali ke rumah penginapan. Tiba-tiba dari hadapan mereka menyongsong datang seseorang, sambil jalan mendekati ia bersenandung dengan suara lantang:

“Angin dan rembulan tiap malam muncul. Manusia durjana kian lama kian menumpuk. Ada orang bertanya bagaimana urusan?

Samudra manusia amat luas, angin dan ombak setiap saat bakal muncul….”

Ketika Hoa Thian-hong melihat orang yang bersenandung itu adalah seorang kakek gemuk pendek yang membawa sebuah kipas bundar, hatinya segera tergerak. Teringat olehnya bahwa orang yang telah melarikan Chin Giok-liong dari rumah makan Li-Ing loo di kota Cho-ciu tempo dulu bukan lain adalah orang yang berada dihadapannya sekarang.

Sejak kakek tua itu mempermainkan Giok Teng Hujien dengan sindiran syairnya Hoa Thian-hong telah mengetahui bahwa orang itu adalah seorang pendekar aneh, kini setelah berjumpa muka tentu saja ia tak mau membuang kesempatan baik ini dengan begilu saja, sambil menjura teriaknya, “Locianpwee…”

Namua kakek gemuk pendek itu pura-pura berlagak pilon, sambil bersenandung ia tetap lanjutkan langkahnya ketika berpapasan dengan mereka berdua. Tanpa berpikir panjang Hoa Thian-hong segera melakukan pengejaran bisiknya, “Hoa In, kenal tidak dengan kakek tua itu.”

Hoa In termenung dan berpikir sebentar, kemudian sahutnya, “Kalau dilihat dari potongan badannya aku seperti mengenali dirinya. Cuma aku lupa siapakah orang itu!”

Ia berhenti sejenak. kemudian sambil mengamati bayangan punggung kakek gemuk pendek itu ujarnya lagi, “Pada sepuluh tahun berselang, hampir semua jago kenamaan yang tersohor namanya di kolong langi pernah kujumpai, yang tak pernah kutemui sedikit sekali jumlahnya hingga bisa dihitung dengan jari.”

“Mungkinkah kakek itu adalah seorang jago kenamaan yang belum lama muncul dalam dunia persilatan?” pikir anak muda itu.

Langkahnya dipercepat, dengan langkah lebar ia segera menyusul ke depan. Hoa In dengan kencang mengikuti disisi majikan mudanya, ia lihat ilmu meringankan tubuh yang dimiliki kakek gemuk itu lihai sekali. dalam setiap loncatannya beberapa tombak berhasil dilalui dengan enteng. la segera berteriak lantang, “Hey! Sahabat dari manakah itu? Kongcu kami ingin berjumpa dengan dirimu!”

Kakek gemuk pendek itu tidak menjawab, hanya senandungnya kembali:

“Jangan takabur jangan berlagak latah bibit bencana sukar diduga.

Lok Hau bukan perwira budiman, ia membawa Ki-pang menuju bencana.

Pertempuran kerbau api hampir binasa, ingin mengejar tak mungkin terkena”

Mendengar senandung itu Hoa In segera melototkan matanya bulat bulat, serunya, “Siau Koan-jin, kakek tua itu sedang menyindir kita, ia telah samakan aku Hoa In seperti Lok Hau, dia bilang aku tidak becus dan tak mampu melindungi Siau Koan-jin”

Hoa Thian-hong tersenyum. “Ia sedang menyanyikan sebuah bait syair dari Ma Bi Wan, bila syair itu dinyanyikan dalam keadaan begini memang persis seperti maksud hati Tauto berambut putih itu. Rupanya orang inipun sedang menasehati diriku agar membatalkan niat menuju ke selatan serta datang ke kota Leng An.”

“Perkataannya itu memang tidak salah baik orang- orang dari Thong-thian-kauw maupun orang-orang dari Hong-im-hwie rata-rata merupakan manusia yang tidak genah, mereka hanyalah manusia-manusia rendah yang mengandalkan jumlah banyak. Bila kita bergaul terus  dengan mereka maka akhirnya sendirilah yang bakal rugi.”

Ia menghela napas panjang, kemudian lanjutnya, “Mati hidup aku budak tua sih bukan menjadi soal, sebaliknya bila Siauw-koan-jin sampai mengalami sesuatu kejadian, budak mana punya muka untuk bertemu lagi dengan toa-ya diakhirat?”

Hoa Thian-hong tertawa paksa. “Bagaimanapun juga kita harus balaskan dendam bagi kematian ayahku, kalau tidak apa gunanya kita hidup lebih lanjut di kolong langit?”

Ia mendongak dan tiba-tiba bersenandung:

“Di tengah berhembusnya angin malam, burung elang terbang di angkasa.

Sebercak kain terkurung di daratan tengah …

Oooh! pedih tahukah sahabat lama, ingin naik loteng sayang tiada tangga menuju ke langit?”

Kakek gemuk pendek itu segera menjawab dengan bersenandung pula,

“Di tengah kain bertanya pahlawan apa gunanya merebut kekuasaan merajai kolong langit?

Tinggi rendah gardu merah generasi pemerintah, jauh rendah daun seribu kuburan. Aaaai…. .! yang ada tinggal impian buruk!”

“Kalau didengar dari nada ucapannya ini jelas dia adalah seorang jago yang sedang putus asa dan bersedih hati, tapi siapa dia?” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.

Sejak ia terjun ke dunia persilatan, sudah banyak pengetahuan serta pengalaman yang didapatinya.

Terhadap orang-orang dari Hong-im-hwie, Sin-kie-pang serta Thong-thian-kauw, pemuda ini merasa bahwa orang-orangnya kalau bukan sengaja melanggar hukum, pastilah manusia yang termasuk dalam golongan orang buas, licik dan keji. Sebaliknya mereka2 yang berjiwa ksatria sebagian besar telah putus asa dan patah semangat.

Kini mendengar nada ucapan dari kakek itu, dengan cepat ia dapat merasakan bahwa kakek gemuk itu adalah segolongan dengan dirinya.

Setelah berhasil menyusul kesisi tubuhnya ia lantas menjura dan berkata, “Loocianpwee, aku Hoa Thian- hong memberi hormat untukmu.”

“Tidak berarti, bagaimana kalau kita bicarakan suatu perdagangan jual beli?” sahut si kakek gemuk itu sambil goyangkan kipasnya.

“Bolehkah aku mengetahui terlebih dahulu sebutan loocianpwee?” “Kalau kau ingin tahu, akupun tak akan merahasiakan kepadamu. aku she-Cu bernama Tong. dengan mendiagan ayahmu boleh dibilang pernah bersahabat!”

“Oooh..! rupanya Cu toa-ya!” seru Hoa In tercengang, “Hampir saja hamba tidak kenal lagi dengan kau orang tua”

“Kekesalan serta penderitaan membuat orang gampang tua, wajahmu penuh berkeriput dan rambutmu telah berubah semua. hampir saja akupun tidak kenali dirimu lagi,” sahut Cu Tong.

“Kini hamba sudah tidak kesal dan menderita lagi. Eeei.. Cu toa-ya. Bukan dahulu wajahmu putih bersih? Kenapa sekarang berubah jadi merah bercahaya?”

“Mungkin tua aku semakin tak becus, maka aku ganti berlatih ilmu iblis hingga wajahku makin lama makin jadi merah” ia tertawa kering lalu melanjutkan, “Setelah mencuri hidup belasan tahun, aku malu untuk bertemu dengan orang jagad lagi, bila wajahku tidak berubah merah, bukankah keadaanku lebih rendah daripada seekor binatang?”

Tertegun hati Hoa In mendengar ucapan itu. setelah termangu mangu beberapa saat lamanya ia berkata, “Siau Koan-jin, Cu toa-ya ini adalah salah seorang diantara Bulim Siang-Sian sepasang dewa dari dunia persilatan…..”

“Aku hanya seorang panglima yang kalah perang” tukas Cu Tong dengan cepat, “Tidak pantas menceritakan kegagahan dan keberanian, lebih baik jangan kau ungkap lagi peristiwa di masa silam”

Diam-diam Hoa Thian-hong menghela napas melihat sikap kakek gemuk itu, ujarnya kemudian, “Loo- cianpwee. mari kita cari tempat untuk beristirahat, keponakan ingin berlutut memberi hormat kepadamu!”

“Tak usah… tak usah, mari kita keluar dari kota saja”

Dengan membawa perasaan yang berat serta pikiran masing-masing, berangkatlah ketiga orang itu keluar kota, tidak selang beberapa saat kemudian sampailah mereka di pinggir kota.

“Orang tua, apakah kau ada urusan hendak diperintahkan kepada tecu?” tanya Hoa Thian-hong kemudian.

“Memberi perintah sih aku tak berani,” sahut Cu Tong, setelah berhenti sebentar ia lanjutkan lagi dengan nada serius, “Sejak pertarungan di Pak Beng, golongan kesatria mengalami kekalahan total yang hampir saja memusnahkan seluruh inti kekuatan golongan lurus, “Tiga bencana” masing-masing merajai suatu wilayah dan membentuk posisi segi tiga, karena pertama setelah pertempuran besar mereka membutuhkan istirahat yang cukup, dan kedua kekuatan ketiga belah pihak seimbang, siapapun tak berani bergerak secara serampangan, dengan demikian dunia persilatan dapat hidup aman selama sepuluh tahun. Tapi kini…. aaai! Ketenangan tersebut mulai goyah, rupanya saat saling memperebutkan kekuasaan telah tiba.” “Perkataan dari Loocianpwe sedikitpun tidak salah” pemuda itu mengangguk membenarkan, “Kematian Jin Bong bukanlah suatu kejadian secara kebetulan saja. Pek Siau-thian mengurung Ciu It-bong selama sepuluh tahun lamanya tanpa dibunuhpun tujuannya bukan lain hanya terletak pada pedang emas tersebut. Manusia-manusia semacam ini semuanya merupakan manusia golongan pengacau, masing-masing pihak ingin merajai kolong langit dan menduduki kursi pimpinan, merebut tanah beradu ilmu silat rasanya memang suatu kejadian yang tak dapat dihindari lagi.”

“Yang lebih tak beruntung lagi, kau yang belum lama muncul di dalam dunia persilatan ternyata sudah terjerumus pula di dalam persoalan ini,” Cu Tong menambahkan dengan suara gusar.

Hoa Thian-hong tertawa getir. “Takdir telah mempermainkan orang, keadaan siautit amat kepepet dan bagaimanapun juga terpaksa harus berbuat begitu.”

“Aaai..!benarkah bagimu hanya ada jalan maju tanpa mundur dan hendak bertarung melawan kawanan durjana itu hingga sampai akhirnya?”

“Selama siautit masih bisa bernapas, aku akan balaskan dulu dendam sakit hati ayahku, kemudian berusaha membukakan sebuah jalan keluar bagi sahabat2 Bulim!”

“Seandainya tak ada kita orang, mungkin kawanan durjana itu bakal bentrok sendiri dan saling bunuh membunuh, saling berebut memperebutkan wilayah serta kekuasaan” sela Hoa In dengan wajah sedih, “Tetapi setelah Siau Koan-jin tampil kemuka kemungkinan besar kawanan durjana itu akan tinggalkan dendam pribadi dan bekerja sama untuk menghadapi kita orang lebih dahulu”

“Dunia selalu berputar, kita hidup sebagai seorang kuncu mengapa mesti unjuk kelemahan sendiri?” sahut Hoa Thian-hong, “Bagaimanapun kita toh tak bisa berpeluk tangan belaka hidup di tengah penindasan sambil menunggu pihak lawan saling bunuh membunuh lebih dahulu. Lagipula seandainya dari pihak mereka akhirnya berhasil muncul satu golongan yang mampu mengalahkan golongan-golongan yang lain hingga seluruh kolong langit jatuh di bawah kekuasaannya, bukankah hal ini akan membuat kekuatan mereka kian lama kian bertambah kuat?”

“Andaikata situasi berubah jadi demikian, maka budak hanya akan memperhatikan keselamatan Siau Koan-jin seorang, aku tidak punya minat lagi untuk memikirkan jalan keluar dari kawan2 Bulim” sambung Hoa In dengan cepat.

Bicara pulang pergi pelayan tua ini lebih mementingkan keselamatan majikan mudanya, dari ucapan tadi jelas ia mengartikan bahwa lebih baik dendam terbunuhnya ayah Hoa Thian-hong tidak berhasil dibalas, dari pada harus membiarkan majikan mudanya menempuh bahaya.

Terdengar Cu Tong menghela napas berat dan berkata, “Bagi orang yang lebih banyak makan garam, hidupnya akan lebih lama beberapa tahun. Pengurus tua! Kau tak usah kuatir aku tak berani bicara besar tetapi aku berjanji kemanapun Hoa Hian-tit pergi aku orang she-Cu pasti akan mengikuti terus dibelakangnya”