Bara Maharani Jilid 14 : Melawan Kok See Piauw lagi

 
Jilid 14 : Melawan Kok See Piauw lagi

Hoa Thian-hong kenali suara itu sebagai suara dari Oh Sam, ia tahu pastilah Giok Teng Hujien sudah mengacau diluar, hatinya jadi amat gelisah. Pikirnya, “Orang itu tak bisa membedakan yang mana serius yang mana tidak, seharusnya aku tidak ajak dia datang kemari”

Berpikir sampai disitu tubuhnya segera meloncat bangun dari atas pembaringan dan sekalian menyeret tubuh Pek Kun-Gie hingga terbangun pula dari atas ranjang, tangan kanannya berputar membetot kembali tangannya, sementara jari tangannya bagaikan tombak menotok ke atas tubuh lawan. Pek Kun-gie ayunkan tangan kirinya berulang kali, di tengah kegelapan kedua orang itu laksana kilat saling menyerang sebanyak tiga jurus.

Mendadak terdengar Oh Sam lari menghampiri pintu kamar sambil teriaknya. “Nona, apakah kau berada di dalam kamar?”

Hoa Thian-hong semakin gugup, tangan kanannya kembali kena dicengkeram oleh Pek Kun-gie keras-keras.

“Aku tidak apa-apa,” sahut gadis itu dengan napas tersengal, “Jangan lari kesana kemari bikin berisik saja!”

“Nona ada musuh berhasil menyusup kedalam, orang itu melepaskan api dan membuat keonaran, hingga kini orangnya belum tertangkap.”

“Aku sudah tahu!” Oh Sam mengiakan berulang kali, lewat beberapa saat kemudian ia baru berlalu dari sana.

Jelas perubahan yang terjadi di dalam kamar telah diketahui pihak luar, hanya saja sebelum mendapat perintah dari Pek Kun-gie mereka tak berani sembarangan masuk ke dalam untuk melakukan pemeriksaan.

Sementara itu Hoa Thian-hong serta Pek Kun-gie masih berdiri saling berhadapan dengan masing-masing pihak mencekat pergelangan lawannya, kedua belah pihak dapat mendengar detak Jantung masing-masing dan saling berpandangan tanpa mengucapkan sepatah katapun.

“Begini terus keadaannya bukanlah suatu tindakan yang benar” pikir Hoa Thian-hong dalam hati, “Lebih baik kuajukan pertanyaanku kemudian cepat-cepat tinggalkan tempat ini.”

Setelah mengambil keputusan, ia segera bertanya dengan suara mendalam, “Dimanakah Chin Pek-cuan?”

“Kau toh tidak serahkan orang itu kepadaku, darimana aku bisa tahu?….”

“Setengah tahun terakhir apakah ada orang datang ke gunung Tay-pa-san untuk mencari diriku?”

“Ada,” sahut Pek Kun-Gie setelah tertegun sejenak. Hoa Thian-hong jadi terperanjat, dengan berangasan segera serunya, “Siapa? pria atau perempuan?”

“Heeeh… heeeh… tentu saja perempuan!”

Hoa Thian semakin gelisah. kelima jarinya semakin kencang mencengkeram pergelangan orang, teriaknya dengan gusar, “Cepat jawab! Siapa yang telah mencari aku?”

Seketika Pek Kun-Gie merasakan tulang pergelangannya jadi sakit seperti mau patah, ia menjerit tertahan dan tanpa terasa jatuh terkulai dalam pelukan si anak muda itu, jawabnya lirih, “Chin Wan-hong….”

“Chin Wan-hong kenapa?” tanya Hoa Thian-hong tertegun.

“Chin Wan-hong datang ke markas mencari dirimu, ia telah kubunuh!”

“Kalau dia bilang ibuku mungkin aku masih percaya,” batin pemuda tersebut, “kalau bilang cici Wan-hong, sudah terang ia cuma ngaco belo belaka!”

Segera tanyanya lebih jauh, “Kecuali dia, apakah masih ada orang yang datang mencari diriku?” “Masih! tiga ekor harimau dari keluarga Tiong pun sudah kubunuh!”

“Fuuh! omongan setan yang tak genah..” Pergelangannya segera dibalik melepaskan diri dari dari cekalan orang, kemudian putar badan dan coba menerjang keluar lewat pintu.

Pek Kun-Gie jadi kebingungan dan tak tahu apa yang mesti dilakukan, tapi ia tak ingin melepaskan dirinya dengan begitu saja di tengah kegelapan tubuhnya segera menerjang ke depan menghadang di depan pintu.

“Kau mau apa?” tegur Hoa Thian-hong.

Pek Kun-Gie agak tertegun, kemudian jawabnya, “Aku ada perkataan hendak disampaikar, kepadamu!”

“Besok tengah hari aku nantikan kedatanganmu di rumah makan Kie Ing Loo, kalau ada urusan kita bicarakan besok saja”

Perasaan hati kaum gadis memang paling sukar diraba, Pek Kun-Gie sendiripun tak mengerti apa sebabnya ia jadi begitu, melihat Hoa Thian-hong hendak pergi ia semakin tak rela melepaskannya begitu saja, tapi gadis inipun merasa kehabisan daya untuk menahan dirinya.

Dalam keadaan apa boleh buat, segera teriaknya lantang, “Siauw Leng, pasang lampu!”

Terdengar dayang cilik itu mengiakan dari luar ruangan, cahaya lampu segera berkilat menerobos masuk lewat celah2 pintu. Dalam pada itu suara pencarian yang berlangsung di tempat luar belum berhenti, setelah Pek Kun-gie buka pintu Siauw Leng sambil membawa lampu lentera berjalan masuk kedalam, sinar matanya berputar menyapu sekejap sekeliling ruangan itu, ketika secara mendadak menjumpai Hoa Thian-hong berada di dalam kamar, sepasang matanya kontan berbelalak lebar, ia tatap pemuda itu tak berkedip.

Hoa Thian-hong pada saat ini bukan Hong-po Seng tempo dulu. bukan saja wajahnya tampan dan tubuhnya keren, wajahnya tercemin cahaya yang amat gagah.

Kegagahan semacam ini paling gampang melumerkan hati kaum gadis dan paling muda membuat lawan jenisnya jatuh hati kepadanya.

Hoa Thian-hong yang diawasi terus, oleh Siauw Leng maupun Pek Kun-gie, lama kelamaan jadi jengah sendiri. Sengaja ia kerenkan wajahnya sambil menegur, “Apa sih yang kau lihat? Aku adalah Hong-po Seng yang tak bakal mati, diluar dugaan kalian semua bukan?” 

“Aduuuh….!” jerit Siauw Leng sambil menepuk dada sendiri, “Aku kira siapa yang telah bergebrak dengan nona di dalam kamar, rupanya kau….”

“Ngaco belo! Ayoh enyah dari sini!” bentak Pek Kun- gie marah.

Siauw Leng tertawa cekikikan, ia letakkan lampu lentera itu di atas meja kemudian putar badan dan mengeloyor pergi. Oh Sam yang ikut menyelinap masuk ke dalam kamar, saat itu ikut melayang keluar pula dari ruangan tersebut.

Pek Kun-gie menutup pintu kembali, sambil bersandar di atas pintu ujarnya ketus, “Malam2 buta kau menyusup masuk ke dalam kamar tidurku, sebenarnya apa maksudmu?”

Hoa Thian-hong tertawa dingin. “Aku senang datang segera datang, kau mau apa?”

Pek Kun-gie mendengus dingin, bibirnya bergerak seperti mau mengatakan sesuatu tapi akhirnya dibatalkan kembali.

Hoa Thian-hong sendiripun merasa tiada perkataan lain yang bisa dibicarakan lagi, setelah berdiri saling berhadapan beberapa saat lamanya pemuda itu segera maju ke depan dengan langkah lebar, katanya, “Aku mau pergi, bila ada urusan kita bicarakan besok pagi saja!”

“Siapa yang datang bersamamu?” tegur Pek Kun-Gie sambil tetap menghadang di depan pintu kamar.

“Seandainya sekali hantam kulancarkan sebuah pukulan dahsyat, rasaaya tidak sulit untuk membinasakan dirinya, Cuma,” pikir si anak muda itu ragu-ragu.

Akhirnya ia tak tega dan menjawab dengan suara hambar, “Seorang sahabatku menunggu diluar ia tak enak ikut masuk kesini!” “Hrnmm! Manusia macam apapun kau gauli,” sindir Pek Kun-Gie sambil mencibirkan bibirnya. “Makin hari kau semakin cabul, apakah tidak takut menjadi nama baik keluargamu!”

Hoa Thian-hong tahu yang dimaksud gadis ini pasti Giok Teng Hujien, dengan alis berkerut ia segera tertawa dingin.

“Aku lihat ada baiknya kau kurangi sindiranmu terhadap orang lain, aku orang she Hoa merasa bahwa setiap tindakanku adalah jujur dan terbuka, siapa cabul siapa tidak aku punya pandangan sendiri”

“Oooh……! jadi kau anggap aku Pek Kun-Gie adalah seorang perempuan cabul..?” teriak gadis itu dengan wajah berubah.

“Aku tak mau perduli perempuan apakah dirimu itu…” mendadak satu ingatan berkelebat pada benaknya, ia segera berpikir, “Buat apa aku bicarakan urusan yang tak berguna dengan dirinya?… Lebih baik membungkam saja….”

Terdengar Pek Kun-gie berkata lagi dengan suara dingin, “Jangan kau anggap pihak Thong-thian-kauw benar-benar mampu untuk melindungi keselamatanmu. jika sungguh terjadi bentrokan, siapapun akan berusaha menghabisi jiwamu”

“Haaah… haaah…. haaah…. tentang soal itu kau tak usah kuatir, nyawa toh milikku sendiri. Aku jauh lebih jelas menilai diriku sendiri daripada kau! ” Mendadak terdengar suara bentakan-bentakan keras berkumandang datang dari tempat kejauhan, sepasang biji mata Hoa Thian-hong segera berputar, katanya sambil tertawa, “Aaaah… mereka sudah mulai bertempur! aku mau tengok kesana!”

Dengan tenaga yang besar dia getarkan lengan kirinya sehingga membuat tubuh gadis itu terpental sejauh lima depa, buru-buru pemuda itu membuka pintu kamar dan kabur keluar.

Pek Kun-gie merasa gusar bercampur mendongkol. sambil ikut mengejar keluar teriaknya gusar, “Biar siluman rase itu yang datang cari kemari!”

Hoa Thian-hong pura-pura tidak mendengar, iapun tak menggubris bagaimana keadaan dari Giok Teng Hujien, bagaikan bintang yang jatuh dari langit tubuhnya segera melayang keluar dari pekarangan dan selalu dari situ.

Ketika tiba di pusat kota tiba-tiba dari arah belakang ia dengar ada orang menyusul datang, dengan cepat pemuda itu menoleh. tampak Giok Teng Hujien sambil membopong rase saljunya dengan senyum dikulum sedang menguntil di belakang tubuhnya.

Hoa Thian-hong tersenyum. “Cici, di dalam sekte agama Thong-thian-kauw, sebenarnya apa jabatanmu?”

“Pengawas dari sepuluh sektor, tidak kecil bukan?” “Benar! pengawas dari sepuluh ketua sektor memang suatu kedudukan yang sangat terhormat, dengan jabatanmu itu pergi mengacau kantor cabang orang, apakah kau tidak malu ditertawakan oleh sesama sahabat kangouw?”

“Fuui! bocah kurangajar, kesemuanya ini bukankah gara-gara kau yang bikin onar!”

Hoa Thian-hong tertawa nyaring, setibanya di perempatan jalan kedua orang itu berpisah, pemuda itu segera berangkat pulang ke rumah penginapannya.

Setibanya di rumah penginapan, Hoa Thian-hong membuka kamar tidur Ciong Lian-khek. Ia lihat jago bercambang itu sedang duduk bersemedi sedang Chin Giok-liong sudah terlelap tidur, maka iapun kembali ke kamarnya sendiri untuk beristirahat.

Semalam berlalu dengan secepatnya, hari kedua pagi- pagi sekali Hoa Thian-hong telah bangun, sebelum ia turun dari pembaringan tiba-tiba Ciong Lian-khek berjalan masuk ke dalam kamar diikuti penerima tamu she-Sun dari perkumpulan Hong-im-hwie serta Ciau Khong ketua kantor cabang kota Cho Ciu.

Hoa Thian-hong tahu bahwa urusan pasti luar biasa, buru-buru ia turun dari pembaringan dan menyapa kedua orang itu. Selesai memberi hormat dari sakunya Ciau Khong ambil keluar sebuah kartu undangan merah yang besar dan diangsurkan ke tangan pemuda itu. Di atas kartu merah tadi tercantumlah beberapa huruf yang berbunyi demikian, “Hormat kami. Jin Hian ketua dari perkumpulan Hong-im-hwie”

Terdengar Ciau Khong berkata, “Sebetulnya ketua kami akan berkunjung sendiri kemari, tetapi berhubung masih banyak urusan yang harus diselesaikan maka sulit bagi beliau untuk berkunjung sendiri, karena itu aku sengaja diutus datang kemari untuk menyampaikan rasa kagum kami terhadap dirimu”

“Jin Hian adalah pemimpin dari suatu perkumpulan besar” pikir Hoa Thian-hong dalam hati.” Soal undangan walaupun enteng tapi gengsinya luar biasa, belum lama aku terjun ke dalam dunia persilatan. Kalau berbicara menurut peraturan dunia persilatan, sepantasnya kalau akulah yang melakukan kunjungan kepadanya”

Berpikir sampai disitu dia segera menjura dan berkata, “Aku tiada berbudi dan berkemampuan, tidak berani kuharapkan kunjungan dari Jien Tang-kee, harap Ciau- heng suka menyampaikan kepada ketua kalian, katakan saja besok sore aku pasti akan datang berkunjung ke kantor cabangmu untuk mengucapkan terima kasih kepada Jien Tang-kee!”

Ciau Khong mengiakan beralang kali, setelah memberi hormat diapun mohon pamit dan berlalu. Dari sikap maupun nada ucapannya yang begitu menghormat seakan-akan memperlihatkan bahwa dalam semalaman saja nilai Hoa Thian-hong sudah meningkat berlipat li pat ganda. Selesai sampan pagi, seorang pelayan muncul menyampaikan sebilah pedang baja. Ciong Lian-khek terima pedang itu sambil ujarnya, “Pedang ini sengaja kusuruh orang untuk membuatnya semalam, mumpung sekarang tak ada urusan, mari kita berlatih diluar kota.

Hoa Thian-hong merasa amat berterima kasih atas perhatian orang, sambil membawa serta Chin Giok-liong mereka tinggalkan rumah penginapan dan menuju keluar kota.

Di suatu tempat yang sunyi, Hoa Thian-hong terima pedang baja itu dan menimang2nya sebentar, lalu berkata, “Pedang baja milikku itu terbuat dari baja yang dilapisi besi murni, berat keseluruhannya mencapai enam puluh dua kati, aku rasa pedang ini jauh lebih kecil, beratnya hanya mencapai tiga puluh tiga kati dan merupakan separuh dari senjataku itu, entah cocok tidak bila kugunakan nanti?”

“Baja Hian-tiat adalah benda yang tak ternilai harganya, sekalipun ada uang juga belum tentu bisa dibeli. Senjata tajam keluaran dari kota Cho-Ciu sudah tersohor di seluruh kolong langit, bila kau mengatakan kurang bagus, yaah. apa boleh buat, tak mungkin mereka sanggup membuatkan yang lebih baik lagi.”

Ia berpikir sebentar, lalu tambahnya, “Sekarang coba kau mainkan dulu ilmu pedangmu, aku pingin tahu sampai dimanakah kehebatannya.”

Hoa Thian-hong tertawa, sambil memegang pedang baja itu dia maju ke tengah kalangan, setelah hening sejenak kaki kirinya melangkah maju setindak ke muka, pedang di tangan kiri mengayun ke atas dan laksana kilat lancarkan sebuah babatan maut.

“Sreeeet….!” desiran angin pedang bergema memekik telinga, suara dengungan akibat getaran di tubuh pedang itu berbunyi nyaring dan tajam, seolah-olah pedang tersebut akan terpatah jadi beberapa bagian.

“Usahakan sekuat tenaga untuk mengatur hawa murnimu!” seru Ciong Lian-khek dengan suara dalam.

Hoa Thian-hong menyadari bahwa pedang baja itu tak kuat menahan getaran hawa murninya, sekuat tenaga ia berusaha membendung penggunaan hawa murninya yang hebat dengan sangat hati-hati setiap babatan dilancarkan.

Jumlah jurus dalam ilmu pedangnya itu hanya enam gerakan belaka, walaupun Hoa Thian-hong mainkan dengan gerakan lambat namun dalam sekejap seluruh gerakan itu telah selesai dimainkan.

Hoa Thian-hong pun tarik kembali pedangnya sambil berdiri keren, ujarnya, “Cianpwe adalah seorang ahli pedang kenamaan……”

“Kau tak usah sangka-sangka terhadap diriku!” tukas Ciong Lian-khek sambil goyangkan tangannya, “Aku adalah Seorang manusia yang sudah mati separuh, selama kau ada niat untuk mengatur dunia persilatan maka aku akan menjadikan diri untuk membantu usahamu dalam dunia kangouw, tak ada perbedaan tingkat kaum enghiong tak ada perbedaan usia, kita tak usah gubris apakah itu cianpwee atau boanpwee, selama kau berani meneriakkan keadilan dalam dunia persilatan aku akan selalu mendukung cita-citamu tiap orang berusaha dan berjuang menurut kemampuan masing- masing, siapapun tidak mengurusi satu sama lainnya, bukankah begitu jauh lebih bagus?”

Hoa Thian-hong merasa sangat terharu sehingga tanpa terasa air mala jatuh bercucuran membasahi pipinya, buru-buru ia berseru, “Baiklah, akan kulatih kembali degan seksama, mungkin karena sudah lama, ilmu itu tersia-sia kesaktiannya serta kemujijatan gerakan jurus ilmu pedang itu sendiri, asal kau suka berlatih giat hingga pedang yang enteng itu dapat kau gunakan untuk melawan musuh tanpa berhasil dipatahkan lawan, maka tenaga dalammu berarti telah memperoleh kemajuan satu tingkat”

Mendengar perkataan Hoa Thian-hong jadi tertegun. “Selama ini belum pernah aku memikirkan soal itu,

sedikitpun tidak salah! Seandainya sekarang aku berlatih dengan memakai pedang ini, kemudian ganti memakai pedang biasa, bukanlah selanjutnya aku berlatih dengan memakai pedang bambu atau pedang kayu? dasar belajar silat rupanya satu sama lain adalah sama dan tidak jauh bedanya”

“Ucapan tepat sekali!” jago pertambangan sangat membenarkan. Tempo dulu Hoa Thian-hong sendiripun pernah merasakan, dengan hanya andalkan sebuah jurus pukulan ‘Kun-siu-ci-tauw’ saja tidak cukup baginya untuk menghadapi para jago lihay dengan ilmu silat yang beraneka ragam, tapi berhubung pedang bajanya telah ditahan oleh Ciu It-bong dan ia tidak berhasil menemukan senjata tajam yang cocok banyaknya, maka persoalan itu untuk sementara waktu terbengkalai.

Sekarang setelah disadarkan kembali oleh Ciong Lian- khek, ia baru sadar bahwa senjata tajam bukanlah masalah yang penting, asal dia melatih diri dengan giat maka akhirnya menggunakan senjata tajam macam apapun tak ada bedanya satu sama lain.

Tanpa terasa semangat segera berkobar, niat untuk melatih diri pun semakin menebal. Sekali lagi ia pasang kuda2 dan mengulangi kembali permainan ilmu pedangnya, tapi berhubung penggunaan hawa murni yang tidak sesuai bisa mengakibatkan patahnya pedang baja itu’ maka meskipun gerakannya dilakukan sangat lambat’ pemuda itu justeru merasa semakin payah. baru berlatih beberapa saat sekujur badannya telah basah kuyup oleh keringat.

Selama ini Chin Giok-liong hanya duduk disisi kalangan dengan pandangan mendelong dan bodoh, sedangkan Ciong Lian-khek pusatkan seluruh perhatiannya menyaksikan permainan pedang pemuda itu, sesaat kemudian tiba-tiba ia angkat kepala dan berpaling ke arah tembok kota. Kiranya diantara lekukan tembok kota duduklah seorang kakek tua yang gemuk pendek dan berwajah merah bercahaya sedang mengawasi Hoa Thian-hong berlatih pedang, tatkala Ciong Lian-khek menoleh ke arahnya, kakek gemuk itu segera menggerakkan bibirnya membisikkan sesuatu dengan ilmu menyampaikan suara, kemudian perhatiannya dicurahkan kembali ke arah permainan pedang si anak muda itu.

Setelah berlatih kurang lebih satu jam kemudian, sekujur badan Hoa Thian-hong telah basah kuyup oleh air keringat, napasnya tersengkal2 bagaikan kerbau

Ketika itulah mendadak kakek gemuk di atas tembok kota itu menyentilkan sebutir batu kerikil menghantam ujung pedang baja di tangan Hoa Thian-hong.

Sementara itu seluruh perhatian yang dimiliki si anak muda itu sedang dicurahkan dalam permainan jurus pedangnya, begitu merasakan datangnya ancaman dari luar, hawa murninya segera disalurkan semakin hebat menelusuri tubuh pedang itu.

“Criiing…!” diiringi suara dentingan nyaring, pedang baja yang besar dan kasar itu seketika putus jadi empat lima puluh potongan kecil dan berceceran di seluruh angkasa

Hoa Thian-hong yang sedang pusatkan seluruh perbatiannya berlatih ilmu pedang hingga berada dalam keadaan lupa diri, sewaktu melihat pedang bajanya secara tiba-tiba tergetar patah jadi amat terperanjat, tubuhnya dengan tangkas berkelit ke samping meloloskan diri dari sambitan kutungan pedang itu, sedang matanya dengan tajam menyapu sekeliling tempat itu mencari asal datangnya serangan bokongan itu.

Rupanya si kakek gemuk yang berada di atas tembok kota itu tiada maksud berjumpa dengan pemuda itu, badannya dengan cepat menyusup ke bawah dan menyembunyikan diri dibalik tembok kota.

Dalam pada itu Ciong Lian-khek telah maju menghampiri dirinya sambil berkata, “Nanti aku akan suruh ahli besi buatkan sebilah pedang lagi untukmu, kini sudah mendekati tengah hari, bagaimana dengan racun teratai yang mengeram di dalam tubuhmu?”

Sesudah bergaul agak lama dengan jago buntung isi, lama kelamaan Hoa Thian-hong sudah lupa dengan kebiasaannya, melihat wajahnya murung dan menguatirkan persoalan itu, buru-buru ia tertawa paksa.

Racun teratai sudah akan mulai kambuh, biar kulatih dulu serangkaian ilmu pukulan tangan kosong”

Sambil maju beberapa langkah ke depan, ia segera rentangkan telapaknya dan mulai berlatih

Tiba-tiba Ciong Lian-khek meloloskan pedangnya yang tersoren d ipunggung, ia berseru, “Mari aku temani dirimu bermain beberapa gebrakan!”

Pedang digetarkan dan segera terpisah mengancam beberapa bagian tubuh pemuda itu.Hoa Thian-hong melengos ke samping, telapaknya langsung ditadok kemuka…. suatu pertarungan serupun segera terjadi diantara dua orang jago lihay itu.

Ilmu pedang yang dimiliki Ciong Lian-khek ganas, tajam dan telengas, setiap gerakannya cepat laksana sambaran kilat. Dengan susah payah Hoa Thian-hong masih sanggup mempertahankan diri, kurang lebih setelah lewat seratus gebrakan, mendadak racun teratai yang mengeram dalam tubuhnya mulai kambuh, sekujur tubuhnya terasa linu dan amat sakit.

Dengan kambuhnya racun teratai, hawa murni yang bergolak dalam tubuhnya semakin berlipat ganas, cuma sayang pikirannya tak tenang. Menghadapi ilmu pedang Ciong Lian-khek yang cepat dan ganas benar-benar tidak sesuai

Beberapa saat kemudian, sebuah tabasan pedang jago bercabang itu berhasil mampir di atas bahu Hoa Thian- hong, ia segera melompat mundur ke belakang sambil berseru, “Cepatlah pergi lari racun, pertarungan ini kita lanjutkan besok pagi saja!”

Dalam peristiwa yang terjadi kemarin siang, secara kebetulan saja aku berhasil lolos dari tangan Cu Goan- khek” pikir Hoa Thian-hong di dalam hati.” Kejadian semacam ini setiap saat bisa jadi terulang kembali, mumpung sekarang ada kesempatan aku musti berusaha keras untuk menahan siksaan dan berlatih giat, dari pada sampai menghadapi keadaan seperti ini aku jadi bingung dan gelagapan” Berpikir sampai disitu ia segera ambil keputusan dengan menahan rasa sakit berlatih terus.

“Ayoh kita lanjutkan bergebrak!” katanya sang badan meluruk ke muka dan telapaknya langsung diayun menghantam tubuh lawan.

Ciong Lian-khek putar pedang menyambut datang serangan, melihat hawa pukulan yang dipancarkan dari telapaknya kian lama kian bertambah kuat, sehingga mengakibatkan pedang bajanya merasa gemetar yang sangat kuat, ia jadi terkejut bercampur girang, sambil mengepos tenaga pertarungan dilanjutkan semakin seru.

Puluhan jurus setelah lewat, suatu kesempatan Ciong Lian-khek melancarkan tiga jurus serangan berantai, pedangnya bergetar kencang dan secara tiba-tiba menotok dada pemuda itu.

Ketika pertarungan melawan Cu Goan-khek tempo hari, pertama. Ia bertarung dengan keras lawan keras, kedua. Jiwanya terancam bahaya. Karena itu perlawanan yang. diberikan sepuluh kali lipat lebih hebat dari pada sekarang, maka ia sanggup mempertahankan diri tidak kalah.

Sebaliknya keadaan yang dihadapinya saat ini jauh berbeda pertarungan ini termasuk dalam bilangan latihan, setiap jurus harus dipatahkan dengan jurus, setiap gerakan harus dipecahkan dengan gerakan tentu saja lama kelamaan pemuda itu tak tahan dan keteter hebat. Mendadak Ciong Lian-khek berseru dengan nada dalam, “Rendahkan bahu ke bawah sambil lintangkan kaki ke samping, maju menyerobot sambil kirim serangan!”

0000O0000

Hoa Thian-hong tertegun mendengar seruan itu, tapi dengan cepat ia dapat memahami seruan tersebut, sekali lagi ia menubruk maju kemuka.

Tidak lama setelah pertarungan berlangsung, Ciong Lian-khek dengan gerakan yang sama melancarkan tusukan kembali ke depan, Hoa Thian-hong tidak ragu- ragu lagi, ia rendahkan bahunya ke bawah sambil geserkan kaki kanannya ke samping, sambil putar telapak ia kirim satu pukulan ke muka.

Tusukan pedang Ciong Lian-khek segera mengenai sasaran kosong, dengan cepat ia melayang mundur ke belakang. Menggunakan kesempatan itu Hoa Thian-hong menerjang ke depan dan merebut posisi yang lebih baik, serangan bertubi-tubi segera dilancarkan.

Pertarungan berlangsung kurang lebih satu jam lamanya dengan sebilah pedangnya Ciong Lian-khek pertunjukan pelbagai perubahan yang tiada taranya. berulang kali si anak muda itu menelan kekalahan ditangannya tapi setiap kali ia pasti peroleh pemecahan dari jurus ampun tadi, dengan demikian setelah bertarung sengit hampir satu jam lamanya manfaat yang ia dapatkan melebihi hasil latihan selama tiga bulan. Akhirnya kedua orang itu berhenti bertarung, dengan sekujur badan basah kuyup oleh air keringat mereka beristirahat dan mengatur pernapasan.

Kemudian Sambil mengajak Chin Giok-liong mereka kembali ke rumah penginapan, selesai membersihkan badan dan pakaian Hoa Thian-hong masuk ke dalam kamarnya jago bercambang itu untuk berpamitan, Ketika itulah Ciong Lian-khek ambil keluar sebuah kartu undangan sambil berkata, “Janjimu dengan Pek Kun-gie lebih baik dipenuhi seorang diri, bisa bersahabat itu lebih baik, kau musti sedia jalan mundur untuk menghadapi segala kemungkinan yang tidak diinginkan!”

Ia termenung beberapa saat lamanya. kemudian melanjutkan, “Dalam pertemuanmu dengan Jin Hian nanti, bertindaklah menurut keadaan. bila kau sanggup menemukan jejak pembunuh tersebut hal ini jauh lebih bagus lagi.”

“Mengapa begitu?” tanya Hoa Thian-hong sambil menerima kartu undangan tersebut.

Ciong Lian-khek tidak menjawab, ia berjalan keluar dari kamar dan periksa Sekejap keadaan di empat penjuru, lalu sambil bersandar di atas pintu bisiknya, “Berhasil mencari tahu jejak pembunuh Jin Bong berarti pula berita mengenai pedang emas ada harapan bisa kita temukan. Bila kita berhasil dapatkan pedang tersebut berarti pula ada harapan besar bagi kita untuk mendapatkan ilmu silat warisan dari Siang Tang Lay. Jika demikian keadaannya maka usaha kita membasmi kaum iblis serta menegakkan kembali keadilan dalam dunia persilatan pun ada harapan besar.”

Mendengar perkataan itu, Hoa Thian-hong segera merasa darah panas bergelora dalam dadanya. “Cianpwee, kau juga percaya dengan rahasia pedang emas?”

Meskipun Ciong Lian-khek berulang kali menyatakan bahwa dia tak mau dipanggil sebagai ‘cianpwe’, tapi kebiasaan sukar dihilangkan dan mulut pemuda itu.

Dengan wajah serius Ciong Lian-khek mengangguk.

“Pedang kecil berwarna emas itu ada hubungan yang erat sekali dengan ilmu silat peninggalan dari Siang Tang Lan, persoalan ini tak bakal salah lagi! Sekarang pusatkan saja seluruh perhatian dan tenagamu untuk mendapatkan pedang emas itu, mengenai masalah yang lain kita bicarakan kemudian hari saja. aku percaya suatu ketika persoalan ini pasti akan jadi terang!”

“Mengenai pembunuh dari Jing Bong, sedikit banyak aku telah memperoleh suatu gambaran!” ujar Hoa Thian- hong setengah berbisik.

“Maksud perempuan yang mencatut nama Pui Che- giok serta raut wajahnya mirip dengan Pek Kun-gie itu?”

“Bukan! bukan orang itu yang kumaksudkan”jawab pemuda itu sambil menggeleng, “jejak perempuan itu bagai kabut di pagi hari, detik ini entah dia sudah berada dimana? yang kumaksudkan adalah Pui Che-giok dayang kepercayaan dari Giok Tong Hujie!” “Dengan alasan apa kau mencurigai orang itu?” tegur Ciong Lian-khek dengan suasa terkejut, “Nak, kau musti tahu persoalan ini bukanlah persoalan kecil yang boleh dibuat permainan, suatu tindakan yang keliru segera akan mendatangkan bencana kematian yang mempengaruhi mati hidup seseorang!”

“Ketika pembunuh itu menyelesaikan jiwa Jin Bong, yang dipergunakan adalah sebilah badik mustika yang kecil mungil, kemarin sewaktu aku berada di kuil It-goan- koan, dalam paniknya Pui Che-giok juga pernah unjukkan badik mustika yang bentuknya persis sekali dengan alat pembunuh tersebut, oleh karena itulah aku menduga antara mereka berdua tentulah terkait oleh suatu hubungan yang sangat erat”

Ia berhenti sebentar dan berpikir, kemudian lanjutnya, “Tatkala peristiwa berdarah itu sedang terjadi, perahu peribadi milik Giok Teng Hujien kebetulan pula sedang berlabuh di sungai Huang-hoo, apakah cianpwee tidak merasa bahwa kejadian ini aneh sekali?” 

“Ehmm…! badik mustika adalah suatu benda yang kecil dan tidak menyolok mata, tak nyana bocah ini bekerja amat teliti dan seksama, sampai urusan sekecil itupun tidak terlepas dari pengamatannya. Aaai…. ia betul-betul bernyali besar dan berpikiran teliti, bocah ini termasuk seorang calon jago yang luar biasa. Mungkin Thian punya mata dan sengaja menurunkan bocah ini ke bumi untuk melenyapkan kaum durjana dan iblis dari kolong langit?” pikir Ciong Lian-khek dalam hati kecilnya. Berpikir sampai disitu ia lantas berkata, “Banyak peristiwa yang terjadi di kolong langit kadang kala berada diluar dugaan orang, adu kelicikan dan adu kekejian bukanlah sifat utama dari orang golongan kita. Kau harus bertindak dengan hati-hati, bekerja secara mantap dan seksama, utamakan perlindungan jiwa atas diri sendiri kemudian baru pikirkan usaha untuk maju ke titik sukses, jangan terlampau gegabah dan menuruti emosi hati sehingga sebaliknya malah kena dicurangi oleh pihak lawan”

Hoa Thian-hong mengiakan berulang kali, sesudah menepuk bahu Chin Giok-liong ia putar badan dan berlalu dari situ.

Sambil menghantar pemuda itu keluar dari kamar, Ciong Lian-khek berpesan kembali, “Kunjunganmu ke perkumpulan Hong-im-hwie lakukanlah menurut peraturan dunia persilatan, dengan begitu mereka tak akan turun tangan menghadapi dirimu. Aku punya dendam sedalam lautan dengan Cia Kim, bila kita saling bertemu pertarungan sengit pasti akan terjadi, maka dari itu akupun tak akan menemui kepergianmu ini.”

Hoa Thian-hong mengiakan sertu mengangguk, sepeninggalnya dari rumah penginapan dia langsung menuju ke rumah makan Ki-Eng-Lo.

Sebagai seorang jago muda yang mendapat sorotan paling tajam dari semua golongan di kota Cho-Ciu, pemuda ini dikenal oleh seluruh orang di rumah makan tersebut, ketika ia tiba dipintu depan. Pemilik rumah makan diiringi beberapa orang pelayan telah menyambut kedatangannya sambil berkata, “Hoa-ya, Pek toasiocia dari perkumpulan Sin-kie-pang telah siapkan perjamuan dalam gardu Cui-Wi-Teng, silahkan Hoa-ya menuju kesitu!”

Hoa Thian-hong mengangguk dan segera mengikut di belakang orang itu, setelah melewati tanah lapang untuk bersilat mereka putar ke dalam sebuah jalan kecil yang rimbun. beberapa puluh tombak kemudian sampailah mereka di hadapan sebuah gardu persegi delapan yang rimbun dan sejuk, dalam gardu telah disiapkan meja perjamuan.

Pek Kun-gie dengan mengenakan pakaian serba putih duduk disisi gardu, ketika Itu ia sedang memperhatikan sepasang capung di tengah kolam teratai, Siauw Leng sambil memegang sebuah kipas berdiri disisinya, dayang ini sedang celingukan kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu.

Ketika Hoa Thian-hong munculkan diri di tempat itu, Siauw Leng sambil tertawa cekikikan segera berseru, “Nona, tamu kita telah datang!”

Pengurus rumah makan itu maju beberapa langkah kemuka dan berseru sambil memberi hormat, “Nona, Hoa-ya telah tiba!”

Perlahan-lahan Pek Kun-gie berpaling dia ulapkan tangannya mengundurkan pengurus rumah makan itu, kemudian dengan sikap ogah-ogahan bangkit berdiri dan berjalan menuju kemeja perjamuan. “Agaknya pertemuan yang diadakan hari ini rada sedikit berlebihan” pikir Hoa Thian-hong dalam bati.

Sementara ia berpikir begitu, langkahnya dilanjutkan menuju ke arah meja perjamuan sapanya sambil memberi hormat, “Nona, harap suka memberi maaf bila kedatanganku agak terlambat!

“Untuk keterlambatanmu kau harus dihukum dengan tiga cawan arak” seru Siauw Leng dengan cepat sekali tertawa, “Kemarin malam secara gegabah dan kasar kau telah melukai pula nona kami, sebentar lagi hutang ini musti diselesaikan pula!”

“Hmmm! Sedikit tak tahu aturan!” tegur Pek Kun-gie dengan wajah berubah, “Apa itu kau, kau, kau?”

Sambil meleletkan lidahnya Siauw Leng segera membungkam, buru-buru dia penuhi cawan kedua orang itu dengan arak wangi.

Diam-diam Hoa Thian-hong pun memperhatikan sikap Pek Kun-gie, dia lihat wajah gadis itu layu dan lemah bahkan nampak sedikit murung dalam hati segera pikirnya, “Serangan yang kulancarkan kemarin malam hanya menggunakan tenaga sebesar lima bagian, masa ia benar-benar terluka?”

Bibirnya bergerak hendak mengucapkan beberapa patah kata yang menyatakan permintaan maaf, tapi setelah teringat kembali akan penghinaan yang pernah diterima pada masa lalu, pemuda itu segera keraskan hatinya dan membungkam dalam seribu bahasa.

Kecantikan wajah Pek Kun-gie boleh dibilang nomor satu di kolong langit, kecuali kalah setengah tingkat dari gadis yang mencatut nama Pui Che-giok boleh dibilang gadis2 lain dalam dunia persilatan tak seorangpun yang dapat menandingi dirinya.

Tampak ia angkat kepala memandang sekejap ke arah Hoa Thian-hong, lalu ujarnya, “Apa yang hendak kau katakan? Mengapa tidak jadi bicara? Apa takut didengar orang lain?”

Hoa Thian-hong menggeleng, sambil angkat cawan arak ia menyahut, “Sanak keluarga dari Chin Pek-cuan Loenghiong masih tertinggal di kota Seng-ciu, asal kan tersedia melindungi jiwa mereka semua maka semua hutang piutang kita dimasa yang silam kuhapuskan sampai disini saja, sejak kini aku tak akan mencari gara- gara dengan dirimu lagi.”

“Hmmm, kesetia kawanmu terhadap keluarga Chin rupanya luar biasa sekali?”

Hoa Thian-hong tertegun, dari nada ucapan itu dia dapat menangkap suatu perasaan lain yang aneh sekali, setelah merandek sejenak ia lantas berkata, “Chin Pek- cuan pernah melepaskan budi terhadap keluarga Hoa kami, dan aku rasa semua orang pasti mengetahui akan kejadian tersebut. Setelah aku makan teratai racun empedu api, enci Chin Wan-hong pula yang mengusahakan obat mujarab sehingga aku dapat terhindar dari bahaya maut, bila tiada pengorbanan darinya, darimana aku Hoa Thian-hong bisa munculkan diri di kota Cho-Ciu pada saat ini?”

Dari pembicaraan itu dapat terlihat betapa mesranya sikap pemuda ini terhadap diri Chin Wan-hong, perasaan tersebut sama sekali tidak disembunyikan barang sedikitpun jua.

Pek Kun-gie segera tertawa dingin, selanya, “Bila aku tidak mengirim Oh Sam untuk menghantar kalian melakukan perjalanan sejauh ribuan li, masih kau bisa sampai di tempat tujuan….?”

Mula2 Hoa Thian-hong tertegun, kemudian pikirnya dalam hati, “Seandainya bukan dikarenakan tiga batang jarum beracun ‘So-Hun-Tok-Ciam’ akupun tak akan menelan teratai racun untuk bunuh diri, andaikata aku mati keracunan itu masih mendingan, sekarang aku hidup segar bugar di kolong langit sedang Teratai racun empedu api yang seharusnya kuberikan kepada ibuku sebagai obat malah termakan olehnya, siapa yang harus menyembuhkan sakit yang diderita ibu?”

Sebagai seorang anak yang berbukti kepada orang tuanya, Hoa Thian-hong lebih mementingkan soal kesehatan ibunya daripada soal lain. Teringat akan hal tersebut rasa bencinya terhadap pihak perkumpulan Sin- kie-pang kian bertambah tebal, sekalipun berhadapan kamu dengan seorang gadis cantik jelita bagaikan bidadari, perasaan itu sulit pula untuk disembunyikan…. Sementara itu ketika Pek Kun-gie tidak mendengar jawaban dari si pemuda itu, dan segera berpaling dan berkata lagi, “Kemarin malam aku telah pikirkan kembali pertanyaan yang kau ajukan kepadaku rasanya sekarang aku telah berhasil memahami maksud yang sebenarnya dari pertanyaanmu itu….”

“Maksud apa?” tanya Hoa Thian-hong dengan alis berkerut.

“Bukankah kemarin kau bertanya kepadaku, adakah seseorang datang ke markas mencari dirimu? Sekarang aku sudah tahu siapakah orang yang kau maksudkan itu”

“Siapa?”

“Ayahmu sudah meninggal, hanya ibumu merupakan satu2nya orang yang kau sayang Kalau kulihat dari sikapmu yang gelisah bercampur cemas maka dapat kusimpulkan bahwa kau tentulah merasa kuatir bila ibumu pergi ke markas Sin-kie-pang mencari dirimu. bukan begitu?”

Tercekat juga hati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, dengan suara dingin segera serunya, “Ilmu silat yang dimiliki ibuku sangat lihay, andaikata ia benar- benar berkunjung kebukit Tay-pa-san, maka aku peringatkan lebih baik kalian berhati-hati!”

“Addduuuh mak! benarkah Hoa Hujien selihay itu?”teriak Siauw Leng tiba-tiba sambil tertawa merdu.”Aku jadi pingin tahu sampai dimanakah kehebatannya” Dengan pandangan dingin Pek Kun-gie melirik sekejap ke arah dayangnya lalu angkat cawan araknya dan diangsurkan kepada Hoa Thian-hong.

Pikiran Hoa Thian-hong jadi kuatir, ia tak dapat membebaskan gadis cantik di hadapannya ini seorang teman atau lawan tanpa banyak bicara diapun angkat cawan arak sendiri dan meneguknya setegukan.

Terdengar Pek Kun-gie berkata kembali, “Memang aku tahu bahwa kelihayan ilmu silatnya yang dimiliki orang tuamu dikenal oleh setiap orang, tapi kau musti ingat bahwa sepasang kepalan susah mengalahkan empat buah telapak Apalagi dalam markas perkumpulan Sin-kie- pang terdapat jago lihay yang tak terhitung jumlahnya, bila ibumu benar-benar berani menempuh bahaya, aku takut sulit baginya untuk keluar dari situ dalam keadaan selamat”

Tertegun bati Hoa Thian-hong mendengar perkataan itu, hanya dia seorang yang tahu bahwa Hoa hujien menderita luka dalam yang amat parah sehingga ilmu silatnya tak dapat dipergunakan lagi, tapi rahasia semacam ini tentu saja tidak sampai diucapkan keluar,

Sambil tertawa paksa segera katanya, “Kalau anggota perkumpulan Sin-kie-pang kalian berani berbuat kurang ajar terhadap ibuku dengan andalkan jumlah banyak, akupun tak usah susah2 pergi mencari satroni dengan orang lain, rasa dongkolku itu segera akan kulampiaskan di atas tubuhmu, dengan gigi aku balas gigi dengan cakar aku balas cakar, hutang baru hutang lama semuanya aku bereskan atas namamu seorang”

Pek Kun-gie segera mendengus dingin.”Hmm! Aku nasehati dirimu, lebih baik lepat21ah bunuh diriku, sebab kalau tidak, sekembaliku ke kota Seng-ciu maka seluruh keluarga dari Chin Pek-cuan akan kubunuh sampai habis”

“Kau anggap aku tak berani mencabut jiwamu…” teriak Hoa Thian-hong dengan gusar Tiba-tiba ia merasa dibalik ucapan

gadis itu seakan-akan terselip nada pedih yang menyedihkan hati, sikapnya yang lesu dan murung pada saat ini jauh berbeda dengan sikapnya yang angkuh dan sombong dimasa lampau, ia jadi heran dan untuk sesaat berdiri tertegun,

Keadaan Pek Kun-gie nampak lesu, layu dan seperti orang aras2an, dengan kepala tertunduk dia awasi cawan araknya dengan pandangan mendelong.

Lama sekali ia baru angkat kepala dan memandang wajah si anak muda itu, biji matanya yang bening secara lapat-lapat terselip kelesuan yang sangat aneh.

Makin dipandang Hoa Thian-hong merasa semakin bingung, ia merasa sikap Pek Kun-gie pada saat ini jauh berbeda dengan sikapnya dimasa silam. sekarang bukan saja tidak nampak kesombongan jiwanya bahkan nampak jauh lebih halus dan lembut. Setelah berpikir sejenak, pemuda itu merasa semakin bingung. Akhirnya sambil angkat cawan araknya ia berkata setengah gelagapan, “Aku akan menemani nona untuk minum beberapa cawan lagi, bila kau tak ada urusan lain, akupun ingin mohon diri terlebih dulu”

Mendengar perkataan itu, Pek Kun-gie angkat cawannya dan meneguk setegukan. kemudian dengan nada seenaknya ia berkata, “Aku dengar katanya ibumu sangat cantik, benarkah itu?”

Hoa Thian-hong tidak menyangka kalau ia bakal mengajukan pertanyaan semacam itu, setelah melengak sejenak ia mengangguk “Benar, ibuku memang sangat cantik”

“Bagaimana kalau kecantikannya dibandingkan dengan Chin Wan-hong?….”

Hoa Thian-hong segera tersenyum. “Lucu amat pertanyaanmu ini, yang satu adalah orang dewasa sedang yang lain baru seorang bocah, bagai mana aku musti membandingkannya?….”

Haruslah diketahui Hoa Hujien adalah seorang perempuan yang amat cantik, meskipun usianya telah mencapai empat puluh tahun namun kecantikan wajahnya masih belum hilang lenyap.

Sedangkan Chin Wan-hong hanya halus lemah lembut dan menyenangkan orang, gadis ini tidak termasuk dalam golongan gadis cantik. Bila hendak dibandingkan tentu saja ia bukan tandingan dari kecantikan Hoa Hujien Sekalipun begitu Hoa Thian-hong tidak ingin merendahkan salah satu diantara mereka berdua, sebab yang satu adalah ibu kandungnya yang sangat disayang sedang yang lain adalah teman akrabnya, dalam keadaan begini pemuda tersebut segera ambil jalan tengah dengan tidak memberikan perbandingan

Tiba-tiba terdengar Siauw Leng nyeletuk, “Bagaimana kalau Hoa Hujien dibandingkan dengan nona kami?”

“Lancang amat kau ini, jangan banyak bicara,!” seru Pek Kun-gie dengan uring2an. Ia berpaling ke arah Hoa Thian-hong kemudian melanjutkan, “Tabiatku suka menyendiri dan jarang sekali mengikat tali persahabatan dengan orang lain, di hari2 biasa teman,ku hanya budak ini saja, bila ia kurang ajar kepadamu harap kau suka memaafkan”

“Omongan bocah cilik kenapa musti dipikirkan?” sahut Hoa Thian-hong sambil tersenyum. ketika dilihatnya sepasang biji mata gadis itu sedang mengawasi dirinya seolah-olah sedang menantikan perkataan selanjutnya, terpaksa sambil tersenyum ia menambahkan, “Harap nona jangan marah, ibuku ibarat rembulan di angkasa sedang nona bagaikan sekuntum bunga, meskipun ke- dua2nya indah namun sulit bagiku untuk membandingkannya”

Bila di-hari2 biasa. perkataan itu pasti akan menggatalkan telinga Pek Kun-gie, tapi sekarang wajahnya tetap tersungging senyuman lirih, sedikitpun tidak nampak rasa tidak senang yang terlintas di atas wajahnya. “Aku toh seorang budak ingusan yang tiada berharga, mana bisa dibandingkan dengan Hoa Hujien? Mungkir. dengan enci Wan-hong mu itupun tak dapat mengimbangi”

“Apanya sih yang bagus pada diri Chin Wan-hong? Kalau dibandingkan dengan nona kami, dia belum ada separuhnya!” sela Siauw Leng tidak puas.

Sorot mata Pek Kun-gie berkilat ia sapu sekejap wajah Hoa Thian-hong lalu katanya sambil tertawa, “Perempuan yang telah dewasa toh gampang berubah, siapa tahu kalau kecantikan wajah Chin Wan-hong secara tiba-tiba berubah jadi lebih cantik dari pada diriku?”

Hoa Thian-hong tersenyum, pikirnya, “Perempuan memang aneh sekali, baik dalam raut wajah maupun dalam ilmu silat, mereka selalu ingin kecantikannya melebihi orang lain.”

Ia bangkit dari tempat duduknya dan segera menjura, katanya, “Karena masih ada urusan lain, dilain hari saja aku datang kembali untuk menyambangi nona!”

Wajah Pek Kun Ge yang baru saja dihiasi senyuman kegembiraan seketika berubah jadi sedih kembali setelah mendengar pemuda itu mohon diri.

Hoa Thian-hong adalah pemuda yang cerdik. meskipun usianya masih muda tapi dia pandai melihat gelagat orang. menyaksikan gadis itu menunjukkan rasa sedih setelah ia mohon pamit, tanpa terasa dalam hati pikirnya, “meskipun gadis ini sombong dan agak mau menang sendiri dalam menghadapi tiap persoalan, namun bila keadaannya bisa begini halus terus menerus, dia patut diajak berteman”

Berpikir sampai disitu. timbullah rasa kasihan dalam hatinya, ia segera berkata, “Pagi ini Jin Hian telah mengutus orang untuk mengampaikan sebuah kartu undangan kepadaku, karena akupun membutuhkan sejenis obat darinya maka undangan tersebut telah kuterima. Bila nona tak keberatan, aku ingin mohon diri lebih dahulu agar bisa bikin sedikit persiapan”

“Itu toh urusan nanti malam? Atau mungkin hendak pergi ke kuil It-goan-koan?”

Pek Kun-gie adalah seorang gadis yang tinggi hati, sebelum berkenalan dengan Hoa Thian-hong belum pernah hatinya tertarik siapapun, tapi setelah berjumpa dengan pemuda itu, sedikit demi sedikit ia mulai tertarik hatinya oleh kegagahan serta ketampanannya, dalam hati kecilnya timbullah rasa cinta yang mendalam, cinta itu bersemi sedikit demi sedikit. akibatnya rasa senang gadis ini terhadap pemuda itu boleh dikata jauh lebih mendalam dari pada cinta dalam pandangan pertama.

Rasa cinta itu mulai bersemi sejak perkenalan mereka, ketika terjadi peristiwa Hoa Thian-hong bunuh diri dengan menelan teratai racun empedu api di tepi sungai Huang-hoo, gadis itu baru menyadari bahwa hati kecilnya telah terisi oleh bayangan Seorang pria, dan pria itu bukan lain adalah Hoa Thian-hong. Tapi sayang semuanya terlambat, pemuda pujaannya telah bunuh diri dan kabar beritanya sejak itu ikut lenyap bersama lenyapnya Chin Wan-hong serta Tiong-si Sam Houw.

Ketika berita tentang munculnya kembali Hoa Thian- hong dalam dunia persilatan tersiar sampai gunung Tay- Pa-San, Pek Kun-gie merasakan hatinya senang bercampur murung, ia merasa ingin sekali cepat-cepat bertemu dengan pemuda itu, tapi diapuu tahu antara mereka berdua pernah terikat oleh suatu permusuhan dimasa yang silam, sengketa tadi seolah-olah sebuah jurang yang dalam telah memisahkan mereka berdua pada tepian yang berbeda, hal mi membuat hatinya jadi murung dan sedih. tapi akhirnya ia nekad berangkat juga ke kota Cho-Chiu untuk bertemu dengan dirinya.

Hoa Thian-hong sendiri meskipun tidak dapat memahami perasaan hati si gadis, tapi ia dapat metihat perubahan sikap Pek Kun-gie yang amat besar serta sikap persahabatannya terhadap dia, hal iti membuat sikapnya jadi kikuk dan Salah, dia ingin sekali hatinya dan berlalu dari situ, tapi apa daya hatinya terasa lemah menghadapi kaum wanita.

Untuk sesaat pemuda ini jadi melongo dan tak tahu apa yang musti dilakukan olehnya.

Siauw Leng si dayang kecil itu tidak punya pikiran cabang. melihat Hoa Thian-hong hendak pergi sedang Pek Kun-gie ada maksud menahan, ia segera menarik tangan pemuda itu sambil menyeretnya duduk kembali di tempat semula, serunya sambil tertawa, “Eeei…. bagaimana sih kau ini? Kok sikapmu tak tahu adat? pertanyaan yang diajukan nona kami toh belum selesai!”

Hoa Thian-hong tertawa getir, ia duduk ke tempat semula. Sikap kurangajar yang diperlihatkan Siauw Leng pada saat ini ternyata tidak peroleh dampratan dari Pek Kun-gie, malahan gadis ini pura-pura tidak melihat.

Suasana untuk sesaat diliputi kecanggungan serta serba kerikuhan mendadak pada sesaat itulah terdengar suara langkah manusia bergema datang, disusul tampaklah pengurus rumah makan diiringi seorang pemuda baju putih berjalan mendekat

Melihat kehadiran pemuda itu. dengan mata melotot besar Siauw Leng segera berseru, “Aaah! Kok kongcu juga datang ke kota Cho-Ciu?”

Pek Kun-gie sendiri sewaktu mengenali pemuda itu sebagai Kok See-piauw, dengan alis berkerut segera alihkan biji matanya yang jeli ke arah Hoa Thian-hong.

Rupanya Kok See-piauw sendiri juga telah melihat ketiga orang yang hadir dalam gardu, sambil melangkah masuk ke dalam gardu itu ia tertawa lantang dan berseru, “Oooh…! Adikku manis, kenapa kau pergi tanpa pamit? Aku sampai tak enak makan tak enak tidur, kejam amat hatimu!”

Diam-diam Pek Kun-gie merasa amat gusar melihat kehadiran pemuda itu, dalam keadaan serta situasi seperti ini ia tak ingin dirinya diganggu orang lain, di samping itu diapun takut Hoa Thian-hong tak senang hati, maka setelah manggut lirih kembali dia alihkan sorot matanya ke arah pemuda she Hoa tadi untuk mengamati perubahan wajahnya.

Sementara itu Hoa Thian-hong telah berpikir di dalam hatinya setelah menyaksikan kehadiran dari Kok See- piauw, “Kebetulan sekali, aku memang hendak mengundurkan diri, eeei .. siapa tahu kau datang kemari…. inilah kesempatan bagiku untuk pergi dari sini!” 

Berpikir demikian ia lantas bangkit berdiri dan siap memohon diri kepada Pek Kun-gie.

Tiba-tiba Siauw Leng berseru sambil tertawa, “Kok Kongcu saudara ini bukan lain adalah Hong-po Seng Kongcu yang pernah kita jumpai tempo dulu, sekarang ia bernama Hoa Thian-hong dan merupakan orang yang paling tersohor di kota Cho-Ciu!”

Kok See-piauw sendiri agaknya juga sudah mengetahui siapakah Hoa Thian-hong itu, dengan alis berkerut sengaja dia amati lawannya dari atas kepala hingga sampai ke ujung kaki lalu sambil membuka kipasnya ia menyindir sambil tertawa , “Bisa lolos dari bencana besar, kehidupanmu kemudian hari tentu banyak rejeki, bocah keparat! Sekali goyang badan ternyata kau betul-betul sudah berubah lebih hebat dari dahulu!”

Hoa Thian-hong berjiwa besar dan bercita cita tinggi, setiap saat ia selalu memikirkan bagaimana caranya menumpas kaum iblis serta durjana dari muka bumi dan bagaimana caranya menegakkan kembali keadilan di kolong langit, yang termasuk daftar incarannya antara lain Bun Liang Sinkun, Pek Siau-thian, Jin Hian serta beberapa orang gembong iblis dari perkumpulan sekte agama Thong-thian-kauw.

Manusia-manusia sebangsa Kok See-piauw sebetulnya tidak tercatat dalam hati, tapi setelah menyaksikan kesombongan pemuda itu serta sikapnya yang begitu jumawa, tak urung berkobar juga hawa amarah dalam dadanya, rasa benci dan muak menyelimuti seluruh benaknya.

Kok See-piauw sendiri sudah lama mencintai Pek Kun- gie, meskipun tiada kemajuan namun harapan selalu tetap ada, kini setelah dilihatnya gadis itu secara mendadak meninggalkan permusuhan dan berubah Jadi bersahabat dengan Hoa Thian-hong, terutama sikap Pek Kun-gie yang begitu dingin terhadap dirinya serta raut wajah pemuda she-Hoa yang tampan serta gagah, timbullah rasa dengki dan cemburu dalam hati kecilnya, nafsu membunuh segera berkobar dan tanpa banyak bicara dia langsung ambil tempat duduk di dalam gardu.

Hoa Thian-hong semakin naik pitam terutama setelah dilihatnya sikap maupun perkataan lawan amat tak tahu diri, tapi ingatan lain segera berkelebat dalam benaknya, ia merasa tak leluasa untuk bergebrak dalam keadaan begini.

Maka sambil menekan kembali hawa gusarnya ia bangkit berdiri dan tinggalkan tempat duduknya. Pek Kun-gie jadi amat gelisah. segera pikirnya di dalam hati, “Dalam menghadapi persoalan yang kutemui pada saat ini, aku haru ambil keputusan tegas. Bila kutampik Kok See-piauw maka paling banter dari sahabat kita akan berubah jadi permusuhan, sebaliknya kalau aku sampai menggusarkan dirinya, mungkin sejak detik ini kami tak akan hidup secara damai.”

Hati perempuan memang dalam ibarat saudara, terutama sekali gadis tinggi hati macam Pek Kun-gie, bila ia tidak senang mungkin masih mendingan, jika ia telah jatuh hati maka sekalipun perjalanan dihadang oleh golok tajampun ia tak akan balik kembali.

Demikianlah, setelah mengambil keputusan ia segera bangkit berdiri dan mengejar ke sisi Hoa Thian-hong, serunya, “Disebelah tenggara kota terdapat sebuah kedai makan tersohor. mari aku temani dirimu makan di tempat lain saja!”

Hoa Thian-hong terkesiap. dalam hati ia merasa bangga dengan sikap gadis tersebut tetapi iapun merasa serba salah, untuk beberapa saat ia jadi berdiri menjublak dan tak tahu apa yang musti dilakukan.

Kok See-piauw jadi sangat malu dengan tindakan Pek Kun-gie tersebut, sambil bangkit berdiri teriaknya keras- keras, “Hian-moy harap berhenti, biar siau-heng saja yang pergi dari tempat ini!”

Pek Kun-gie tidak menyahut, ia tarik ujung baju Hoa Thian-hong dan diajak menyingkir ke samping untuk memberi jalan lewat bagi Kok See-piauw. Pemuda she-Kok ini adalah anak murid kesayangan dari Bu-Liang-Sinkun, semula tabiatnya sangat binal dan kasar, tapi sejak ia jatuh cinta kepada Pek Kun-gie lama kelamaan sifatnya banyak berubah, ia jadi lebih halus dan penurut. Tapi kini setelah impian indahnya buyar, terutama setelah hatinya diliputi kedengkian serta rasa kecewa. muncullah kembali wataknya yang buas dan kasar itu. ia bersumpah hendak membalas sakit hati ini.

Tatkala tubuhnya berjalan lewat disisi kedua orang itu, mendadak ia berhenti dan melotot ke arah Hoa Thian- hong dengan sorot mata berapi-api.

Wajah Pek Kun-gie berubah hebat. ia tahu pemuda itu mengandung maksud tak baik tanyanya dengan suara dingin, “Kok-heng, diantara kita berdua hanya ada hubungan persahabatan dan selamanya tiada urusan pribadi apapun, dalam urusan hari ini jika Kok-heng masih suka memberi muka kepadaku. lebih baik janganlah menimbulkan keonaran dan gara-gara di tempat ini”

Kok See-piauw tertawa dingin.”Hubungan diantara kita berdua toh sudah berlangsung lama, siapa suruh kau bersikap kejam lebih duhulu?”

Sorot matanya dialihkan ke arah Hoa Thian-hong, kemudian sambil tertawa seram tambahnya, “Kedatangan aku orang she Kok di kota Keng-ciu kali ini adalah menuntut balas bagi sakit hati guruku, tetapi memandang di atas wajah adik Pek untuk sementara waktu urusan itu telah kukesampingkan. tapi sekarang urusan telah jadi begini, kau si bangsat cilik pun harus memberi pertanggungan jawab kepadaku”

“Sungguh menggelikan orang ini,” batin Hoa Thian- hong di dalam hati, “Dia lebih mengutamakan kepentingan pribadi daripada perintah gurunya, Hmm! dasar manusia rendah….”

Sebelum dia sempat buka suara, Pek Kun-gie telah berseru kembali dengan gusar, “Kok-heng, mengungkap ungkap kejadian masa lampau bukanlah seorang lelaki sejati masalah yang menyangkut keluarga Chin telah kutangani sendiri, bila Kok-heng merasa tidak puas, silahkan mengajukan perotes langsung dengan diriku!”

Kok See-piauw masih mencintai gadis ini dia tak ingin putus hubungan sama sekali dengan Pek Kun-gie, tapi terhadap Hoa Thian-hong rasa bencinya telah merusak ke tulang sumsum, ia bersumpah hendak membinasakan pemuda itu.

Mendengar ucapan dari gadis she-Pek, ia segera tertawa panjang dan menyindir, “Hoa Thian-hong, Hoa Thian-hong, tampangmu sih berubah tambah ganteng dan gagah, tidak tahu sampai dimana kehebatan ilmu silatmu, masa kau cuma berani bersembunyi dibawa gaun seorang perempuan?”

Dalam hati Hoa Thian-hong tertawa geli terhadap Pek Kun-gie pemuda ini sama sekali tidak menaruh hati, tapi setelah teringat akan sebuah pukulan Kiu-pit-sin-ciang yang dihadiahkan Kok See-piauw sewaktu berada di gedung keluarga Chin di kota Keng-ciu hingga hampir saja jiwanya melayang, ia jadi bangga hati melihat kegusaran orang makin memuncak, ia merasa sakit hati itu tak perlu dibalas lagi asal pemuda she-Kok ini bisa dibikin naik pitam sehingga muntah darah.

Meskipun demikian, iapun kuatir bila musuhnya itu menimpakan rasa mangkel dan gusarnya di atas tubuh Chin Pek-cuan. maka dengan wajah serius katanya, “Sudah lama aku mendengar orang berkata bahwa Bu- liang Sinkun paling pegang janji dan selamanya tak pernah mengingkari ucapan sendiri, kau sebagai murid kesayangannya tentu mempunyai watak demikian pula bukan?”

“Kau tak usah menjebak aku orang she-Kok dengan kata-kata,” tukas Kok See-piauw cepat, “Kalau punya kepandaian ayoh unjukkan kelihayanmu, asal kau si bangsat belum modar, aku orang she Kok tak nanti akan mencari Chin Pek-cuan tua bangka itu.”

Sebagai tamu terhormat dan perkumpulan Sin-kie- pang, selama ini dia hanya berdiam terus di bukit Tay- pa-san, setelah Pek Kun-gie Pergi tanpa pamit buru-buru ia menerjang ke Timur dan baru tengah hari tadi tiba di kota Cho-ciu, setelah berkunjung sejenak di kantor cabang Sin-kie-pang, ia langsung menyusul kemari.

Dengan begitu dia belum sampai mendengar kabar mengenai pertarungan antara Hoa Thian-hong dengan Cu Goan-khek, karena itulah dalam pandangannya, dia musti menganggap enteng musuhnya ini, dianggapnya pemuda itu bakal keok dalam beberapa gebrakan saja. Sementara itu Hoa Thian-hong telah tersenyum setelah diketahuinya Kok See-piauw masuk perangkap, ujarnya kemudian, “Sulit sekali untuk peroleh janji dari mulutmu sendiri, kalau memang ingin bergebrak silahkan saudara tentukan waktu dan tempatnya, aku pasti akan datang menemui janji.”

Kok See-piauw semakin naik pitam, ia tidak menanti untuk menunggu lebih lama, sambil menyapu sekejap sekeliling tempat itu serunya, “Ikuti diriku”

Dengan langkah lebar ia berlalu lebih dulu dari situ.

Sambil tersenyum Hoa Thian-hong membuntuti dari belakangnya, sedang Pek Kun-gie dengan mulut membungkam mendampingi disisi pemuda tersebut.

Setibanya dilapangan beradu silat Kok See-piauw segera berhenti, melihat musuhnya datang didampingi oleh Kun-gie. ia merasa gengsinya semakin terinjak dengan penuh kegusaran segera teriaknya, “Bila aku beruntung dan berhasil menangkan pertarungan ini, Hian-moay tak boleh gunakan obat pemunahku untuk menolong jiwanya.”

Pek Kun-gie mengerutkan alisnya, dari dalam saku dia ambil sebutir pil warna hijau dan segera ditimpuk ke depan. Kok See-piauw sambut obat tersebut, tiba-tiba ia merasa menyesal ia merasa tidak seharusnya karena persoalan itu dia musti bentrok dengan Pek Kun-gie, dalam hati. segera pikirnya, “Baiklah. akan kubunuh lebih dahulu bangsat ini, kemudian akan kulihat kau bakal berubah pikiran atau tidak?” Sekali gencet ia hancurkan obat itu jadi bubuk lalu disebar di atas tanah, jengeknya sambil tertawa dingin, “Hoa Thian-hong, kau berdiri melulu di situ, apakah hendak tunggu sampai aku orang she-Kok turun tangan lebih dahulu?”

“Hmm! Bajingan, kau memang terlalu tak tahu adat!” dengus Hoa Thian-hong, ia maju kemuka dan segera melancarkan sebuah pukulan.

Dengan tangkas Kok See-piauw mengegos dari ancaman itu, lalu sambil tertawa dingin kembali ejeknya, “Aku kira ilmu silatmu telah mendapat kemajuan pesat, tak tahunya….Huuuh! Melulu satu jurus itu saja”

Sambil berseru jari dan telapaknya bekerja cepat, dalam sekejap mata dia sudah kirim lima jurus serangan silat.

Dengan tenang Hoa Thian-hong hadapi setiap serangan lawar, sembil bertempur pikirnya dalam hati, “Meskipun orang ini terlalu jumawa, ilmu silatnya luar biasa juga. Dari sini dapat dibayangkan betapa lihaynya Bu-liang Sinkun sang gurunya…”

Sementara itu, para tamu dalam rumah makan tersebut berbondong2 telah penuhi sekitar kalangan tatkala mereka tahu ada orang sedang bertempur disitu, tentu saja diantara mereka terdapat pula para jago dari golongan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Thong-thian- kauw, suara bisik2 kedengarannya berkumandang diantara mereka sedang seluruh perhatian dicurahkan ke tengah kalangan, seakan-akan mereka sedang menikmati suatu pertempuran yang amat indah.

Dalam menghadapi pertarungannya hari ini, Hoa Thian-hong bersikap tenang dan sama sekali tidak terburu nafsu, ilmu pukulan Kun-siu-ci-tau dimainkan dengan bebas dan enteng, diantara serangan terdapat pula pertahanan yang kuat.

Tenaga dalam yang ia miliki saat ini sedang berada dalam taraf peningkatan, terutama pembaruan antara hawa murni serta kadar teratai racun yang bersarang di tubuhnya telah menciptakan sesuatu cara berlatih tenaga dalam yang aneh, makin kerap ia bergerak makin pesat kemajuan yang diciptakan dalam tenaga murninya. bukan saja ia tidak merasa lelah bila bertempur melawan orang kebalikannya tubuh merasa makin segar dan nyaman.

Lain hanya dengan Kok See-piauw yang diliputi rasa dengki dan benci, ia berniat membinasakan musuhnya dalam berapa gebrakan saja, karena itu lewat beberapa jurus kemudian ilmu ‘Kiu-pit-sin-ciang’ dari perguruannya telah dimainkan dengan dahsyat, tangan kanan menyerang dengan ilmu pukulan tangan kiri menotok dengan ilmu totokan, ia menyerang secara brutal dan penuh nafsu.

Bila dibicarakan tentang indahnya gerakan serta luasnya ilmu silat, Hoa Thian-hong tak dapat menangkan Kok See-piauw, tapi kalau berbicara tentang tenaga dalam maka pemuda kita ialah yang lebih unggul.

Meskipun jurus pukulannya hanya tunggal tapi dibalik itu terkandunglah banyak perubahan yang dahsyat, ia tak pernah menyerang dengan jurus tipuan ataupun pancingan, namun walau Kok See-piauw telah unjukan ilmu silat macam apapun itu selalu tak berhasil merebut kemenangan

Begitulah, Kok See-piauw kuat dalam variasi jurus, lemah tenaga dalam, semakin gusar ia menghadapi pertarungan itu semakin lemah tenaga serangannya, hingga lama kelamaan posisinya mulai nampak goyah dan terdesak bebat.

Menghadapi keadaan seperti ini, Hoa Thian-hong segera berpikir dalam hati, “Setelah Cu Siauw Lek tampil ke muka, sekarang bila Kok See-piauw kupukul roboh maka dengan sendirinya Bu-liang Sinkun bakal muncul diri, orang lain punya tulang punggung sedang aku? Bila aku kalah siapa yang akan balaskan dendam?”

Teringat pula luka yang diderita ibunya, ia jadi kesal.

Hilanglah niatnya untuk bertempur lebih jauh. sambil membentak keras telapaknya laksana kilat menyapu ke depan. Pukulan ini bukan saja dilancarkan dengan cepat laksana kilat, bahkan luar biasa hebatnya.

Mimpipun Kok See-piauw tidak menyangka kalau dalam serangan yang sama secara tiba-tiba musuhnya telah menggunakan tenaga yang lebih dahsyat, melihat tak ada kesempatan lagi baginya untuk menghindar, terpaksa ia putar telapak menyongsong datangnya serangan itu dengan keras lawan keras. “Blaaaam….!” di tengah bentrokan nyaring Kok See- piauw merasa tubuhnya bergetar keras, lengannya jadi linu dan kaku hingga tanpa terasa badannya terdorong mundur dua depa ke belakang.

“Kalau rejeki? pasti bukan bencana, kalau bencana tak akan kuhindari lebih baik undang saja gurumu!” pikir Hoa- Thian-hong dalam hati.

Tabuhnya menerjang makin kemuka, telapak diayun dan sebuah pukulan kembali dilancarkan.

Kok See-piauw terkesiap, buru-buru ia pasang she-si (Kuda-kuda) kemudian sepasang telapak didorong ke depan dan menerima datangnya serangan itu secara keras lawan keras?