Bara Maharani Jilid 10 : Kecintaan Chin Wan Hong

 
Jilid 10 : Kecintaan Chin Wan Hong

KIOE-TOK SIAN-CIE yang duduk ditepi pembaringan dengan cepat bertindak dan menekan tubuhnya balik ke atas pembaring an, tetapi si anak muda itu meronta terus dengan hebatnya, rintihan kesakitan berkumandang memecahkan kesunyian, wajahnya nampak begitu menderita dan tersiksa.

Chin Wan Hong Iah yang paling kuatir diantara beberapa orang itu, wajahnya berubah jadi pucat pias bagaikan mayat, giginya saling beradu gemerutukan, air mata bagai kan layang-layang putus mengucur keluar tak terbendung.

Rupanya Hoa Thian-hong merasa amat tersiksa sekali pada waktu itu, badannya bergulingan kesana kemari tiada hentinya. rintihan kesakitan berkumandang tiada putusnya, andaikata Kioe Tok Sian Cie sekalian tidak berada disitu untuk menahan tubuhnya, beberapa kali ia tentu sudah menggelinding jatuh ke atas lantai.

Lama kelamaan Chin Wan Hong jadi tidak tega sendiri, dengan air mata bercucuran ujarnya, “Suhu, totoklah jalan darahnya.,…”

“Nah, akupun tidak tahu apa yang harus kulakukan pada saat ini “sahut Kioe Tok Sian-Cie dengan alis berkerut dan wajah serius. “Aku rasa lebih baik kita menanti beberapa saat lagi!”

Hoa Thian-hong merintih terus tiada hentinya. seluruh pakaian yang dikenakan telah basah kuyup oleh air keringat, keadaannya mengenaskan sekali hingga menyerupai keadaannya ketika menelan Teratai Racun Empedu api.

Keadaan seperti itu berlangsung terus hingga setengah jam lamanya. akhirnya perlahan-lahan keadaannya telah tenang kembali.

Kioe Tok Sian Cie adalah seorang tokoh sakti dari suatu aliran perguruan silat walaupun begitu jidatnya saat itu sudah basah oleh keringat yang mengucur keluar tiada hentinya, sambil memegang urat nadi Hoa Thian- hong ia melakukan pemeriksaan yang seksama.

Mendadak dirasakannya denyutan jantung pemuda itu kian lama kian tambah kencang gejala itu mirip sekali dengan keadaan seseorang yang baru saja sembuh dari sakit. tanpa terasa ia menghembuskan napas pan-jang dan ujarnya kepada Lie Hoa Siancu, ”Coba kau periksalah warna darah dari Siauw Long!” Buru-buru Lie Hoa Siancu mengambil sebatang jarum emas dan menusuk jari tengah Hoa Thian-hong hingga berlubang, tampaklah cairan darah yang merah segar mengalir keluar dari ujung jarinya yang terluka, darah itu segar dan tidak jauh berbeda dengan darah orang biasa.

Menyaksikan hal itu, dengan hati penuh kegirangan Lie Hoa segera berteriak keras, “Suhu, usaha kita sukses besar!”

Siapa tahu di atas wajah Kioe Tok Sian Cie sama sekali tidak nampak tanda-tanda kegirangan, malahan sambil tertawa getir ujarnya, “Racun teratai yang terkandung di dalam tubuhnya belum punah sama sekali sebaliknya telah menggumpal jadi satu dan tenggelam di dasar Tan- Thian (Pusar), bagaimanakah akibat selanjutnya sulit bagiku untuk menerangkannya pada saat ini.”

“Benarkah ada kejadian semacam itu?” seru Lan Lan dengan alis berkerut dan nada tercengang.

Cepat-cepat ia memayang bangun tubuh Hoa Thian- hong dan mencekal urat nadinya un-tuk diperiksa dengan lebih seksama!

Kioe Tok Sian cie gelengkan kepalanya dan bangun berdiri, kepada Lan Coei Siancu pesannya.

“Baik-baik1ah merawat dirinya, bila ada perubahan cepat memberi laporan kepadaku!”

Selesai berkata ia segera putar badan dan keluar dari kamar.

Semua orang yang telah berjaga2 selama satu malam suntuk pada saat itupun merasa lelah dan penat, maka semua orangpun berpamitan untuk pergi beristirahat kecuali Lan Koei yang membantu Chin Wan Hong merawat si anak muda itu.

Penyelidikan Kioe Tok Sian Cie di dalam hal obat2an memang lihay sekali, terutama bermacam ragamnya bahan obat2an yang di tanam di sekitar tempat itu, setelah dirawat dengan seksama pada malam itu juga Hoa Thian-hong telah dapat membuka matanya.

Chin Wan Hong jadi kegirangan setelah mati, sementara sekelompok kakek seperguruannya yang telah berjerih payah selama dua bulan lebih, ketika melihat Hoa Thian-hong ada harapan untuk sembuh, merekapun ikut merasa berlega hati.

Tiga ekor harimau dari keluarga Tiong yang mendapat kabar itu buru-buru masuk ke dalam gua untuk menengok, setelah itu mere ka berlutut dihadapan Kioe Tok Sian cie untuk menyatakan rasa terima kasihnya yang tak terhingga.

Siapa tahu tengah hari keesokan harinya, racun yang mengeram di dalam tubuh Hoa Thian-hong kambuh kembali, ia merintih dan bergulingan di atas pembaringan dengan penuh penderitaan.

Kioe-Tok Sian-cie segera putar otak untuk mengurangi rasa sakit itu, tetapi usahanya selalu menemui jalan buntu, terpaksa dengan mata terbelalak ia biarkan pemuda itu mengerang kesakitan.

Sejak hari itulah setiap tengah hari tiba, perduli hari terang atau hujan racun Teratai empedu api yang mengeram di dalam tubuh Hoa Thian-hong pasti kambuh satu kali, setiap kali racun itu kambuh ia pasti mengerang erang kesakitan, tetapi kurang lebih setengah jam kemudian terasalah re a k si racun teratai itu berhenti sendiri bergolak dan tenggelam ke dasar pusar, sedikitpun tidak menunjukkan gejala lain lagi.

Begitulah setiap pagi Hoa Thian-hong telah bangun dari tidurnya, ia tentu menjumpai Chin Wan Hong duduk di tepi pembaringan seorang diri sambil memandang keluar pintu dengan termangu-mangu, setelah kesadarannya mulai pulih dari pembicaraan banyak orang diapun sudah mengetahui apa yang telah terjadi sejak ia keracunan.

Mendengar tentang pengorbanan yang diberikan Chin Wan Hong kepadanya selama ini, dalam hati kecilnya si anak muda itu merasa amat berterima kasih sekali.

Suatu hari ketika ia merasa semangatnya telah pulih dan badannya telah segar kembali, tiba-tiba serunya dengan suara lirih, “Enci Chin…..”

Chin Wan Hong tersentak kaget dan cepat cepat menoleh, lalu dengan wajah terkejut bercampur girang tegurnya -

“Apakah kau telah sembuh?”

“Terima kasih atas perbatian cici, siauwte telah sembuh!”

Ia merandek sejenak, kemudian sambungnya lagi dengan suara lirih, “Siauwte bisa hidup hingga kini kesemuanya ini adalah berkat perhatian serta pemberian dari cici, Budi kebaikan cici tinggi bukit, siauwte merasa sulit untuk membalasnya.”

“Sudahlah, kau tak usah membicarakan tentang soal budi lagi,” sahut Chin Wan Hong sambil tundukkan kepalanya rendah2. “Kami orang-orang dari keluarga Chin sudah terlalu banyak berhutang budi kepadamu, mau bicarakan-pun tak ada selesainya.”

Mendadak Lan Coei berjalan masuk ke dalam kamar, ketika mendengar si anak muda itu telah berbicara segera serunya sambil tertawa-

“Siauw Long, kau sudah dapat berbicara?”

Hoa Thian-hong segera alihkan sinar matanya ke samping.

“Siauwte telah dapat berbicara, selama ini banyak berterima kasih atas perawatan cici dalam hal makanan dan minuman!”

Lan Coei tertawa.”Kami berbuat demikian karena memandang di atas wajah Hong-ji, kau tak usah berterima kasih lagi.”

Bicara sampai disitu ia ambil keluar dua butir pil dan dimasukkan ke dalam mulutnya kemudian sambungnya lebih lanjut, “Menurut suhu, Racun Teratai Empedu api yang mengeram dalam tubuhmu telah melarut ke dasar pusar dan selalu terpengaruh oleh sinar matahari, karena itu setiap kali sang surya berada pada posisi yang sangat dekat dengan bumi racun dalam tubuhmu akan bekerja satu kali, waktu itu kau akan merasakan sekujur tubuhmu panas bagaikan disengat api. Untuk mengurangi penderitaan dikala kambuh dan dari pada kau berguling guling di atas tanah kata suhu lebih baik kau ber-lari2 saja mengelilingi lapangan.”

Hoa Thian-hong mengangguk sambil mengucapkan terima kasih, mendadak ia jumpai Lan Lan Siancu yang berjalan masuk ke dalam kamar, mengetahui perempuan ini adalah murid terbesar dari Kioe-Tok- Sian-Cie buru- buru panggilnya, “Toa suci!”

Lan Lan tertawa dan duduk disisi pembaringan, ujarnya, “Suhu suruh aku memberitahukan kepadamu, sebelum racun Teratai itu punah sama sekali dari tubuhmu kau dilarang berhubungan dengan kaum wanita, kalau tidak maka perempuan itu akan menemui ajalnya seketika itu juga, kau harus mengingatnya baik- baik.”

Mula2 Hoa Thian-hong agak tertegun dan tidak mengerti apa yang dimaksudkan, tetapi setelah dipikir sebentar diapun mengerti apa yang sedang diartikan, tanpa terasa wajahnya berubah jadi merah padam saking jengahnya.,.. lama sekali ia tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

Terdengar Lan Coei berkata pula dari samping, “Hong- jie, kaupun harus ingat baik-baik sebelum racun Teratai itu hilang dari tubuhnya kau jangan sekali kali kawin dengan Siauw-Long!”

Chin Wan Hong adalah seorang gadis perawan dari keluarga bangsa Han, mendengar perkataan itu wajahnya seketika berubah jadi merah padam, dengan tersipu sipu ia bangkit berdiri dan siap lari keluar dari dalam kamar, tetapi tangannya keburu ditarik oleh Hoa Thian-hong.

“Siauw-Long!” terdengar Lan Lan berseru lagi. “Seringkali kau bergerak kesana kemari, apakah badanmu terasa kurang enak?” Di atas punggung Siauwte masih menancap tiga batang jarum beracun. bagian sekitar situ terasa agak kaku dan gatal”

“Kalau begitu biarlah kubantu dirimu untuk mencabutnya keluar!” kepada Lan Coei segera perintahnya, “Pergilah dan pinjamkan besi Semberani milik Sam suci!’

Buru-buru Lan Coei berlalu, beberapa saat kemudian dengan membawa Ci-Wie siancu serta Lan Sien ia muncul kembali di dalam ruangan.

Cie Wie Siancu segera ambil keluar sebuah besi hitam dari sakunya, setelah Chin Wan Hong melepaskan pakaian yang dikenakan Hoan Thian-hong maka Lan Lan segera dekatkan besi hitam tadi di atas mulut luka di atas punggung si anak muda itu dan menghisap keluar tiga batang jarum beracun Soh Hoen Tok-Ciam yang mengeram di punggungnya.

Sedari permulaan dulu semua orang telah tahu bahwa warna hitam di atas wajah Hoa Thian-hong bukanlah asli sejak dilahirkan, tetapi berhubung racun teratai yang mengeram dalam tubuhnya terlalu berat hingga jiwanya sukar dipertahankan, siapapun tiada kegembiraan untuk mengurusi persoalan sepele itu.

Tapi kini setelah sakitnya mulai sembuh dan melihat pula badannya yang berkulit putih bersih, timbullah sifat kelakar diantara mereka, pertama2 Ci-Wie Siancu yang berteriak lebih dulu, “Sien-Kauw, Cepat cari daun obat dan dirmasak kemudian kita cucikan muka dari Siauw- Long!” Hoa Thian-hong tidak mengerti apa yang dimaksudkan Oleh mereka, mendengar perkataan itu buru-buru sambungnya, “Samsuci, siauwte bisa cuci muka sendiri

Lan Sien tertawa cekikikan, dalam sekejap mata ia sudah ngeloyor keluar dari dalam kamar.

Di dalam lembah Hoe-Hiang-Kok memang dipelihara pelbagai macam rumput obat yang aneh2 dari pelbagai kolong langit, tidak lama Lan Sien berlalu ia sudah muncul kembali sambil membawa belasau macam daun obat, dimana daun obat tadi segera diserahkan kepada pelayan untuk dimasak.

Dalam pada itu Lan Lan yang ada di dalam kamar telah berhasil menghisap keluar ketiga batang jarum beracun yang mengeram di dalam punggung Hoa Thian- hong, jarum itu terbuat dari emas dan waktu itu polesan racun yang ada di ujung jarum telah larut ke dalam cairan darah si anak muda itu. hingga jarum yang terhisap keluar nampak kuning dan keemas-emasan.

Lewat beberapa saat kemudian, seorang perempuan suku Biauw masuk ke dalam kamar sambil membawa sebaskom air obat.

Lan Sien segera berteriak keras, “Hong-jie, cucikanlah muka Siauw-Long!”

Dalam hati kecilnya Chin Wan Hong memang ingin sekali menyaksikan wajah Hoai Thian-hong yang sebenarnya, tetapi dengan tabiatnya yang ramah dan halus serta tindak tanduknya yang sangat hati-hati gadis ini tak berani turun tangan secara gegabah. tanyanya lebih dulu, “Siauw-Long, bagaimana kalau kucuci bersihkan warna hitam yang ada di atas wajahmu?” Karena semua orang memanggil dirinya sebagai Siauw Long maka Chin Wan, Hong-pun ikut memanggil dengan sebutan itu.

Hoa Thian-hong yang teringat akan budi kebaikan semua orang dimana dengan susah payah telah berusaha untuk menyelamatkan selembar jiwanya. merasa tidak tega untuk inenampik keinginan orang, apalagi setelah lolos dari kematian dan racun teratai belum punah sama sekali dari tubuhnya, terhadap orang- orang dari perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw ia merasa amat muak dan benci. dalam hatinya telah mengambil keputusan untuk muncul kembali di dunia persilatan dengan wajah yang sebenarnya. karena itu mendengar pertanyaan orang sambil tersenyum ia segera mengangguk.

Melihat si anak muda itu telah setuju, Chin wan Hong- pun segera mengambil sebuah handuk kecil, setelah direndam dengan air obat wajah Hoa Thian-hong yang hitam mulai dibersihkan.

Berita ini dengan cepat bersiar luas diseluruh lembah Hoe Hiang Kok. tidak selang beberapa saat seluruh anak murid Kioe Tok Sian Cie telah berkumpul semua di dalam ruangan itu, suara pembicaraan dengan logat yang aneh menggema memenuhi angkasa,” hingga membuat suasana jadi amat ramai.

Dalam pada itu air obat untuk mencuci muka sebaskom telah berganti sebanyak delapan sembilan kali, warna hitam di atas wajah si anak muda she Hoa itu pun mulai luntur beberapa bagian.

“Ooooh, ia terkena bahan obat Thiat san-Khek!” teriak Lie Hoa Liancu dengan keras. Meledaklah teriak teriakan kegirangan dan seruan memuji berkumandang diseluruh ruangan.

Waktu itu hari sudah mendekati siang, semua orang pun segera mengundang Hoa Thian-hong untuk bersantap setelah itu memayang dia keluar dari gua.

Sesuai dengan waktu2 sebelumnya, racun yang mengeram dalam pusar pemuda itu mulai kambuh. dan mengikuti petunjuk dari Kioe Tok Sian Cie ia segera berlari larian jalan kecil dalam lautan bunga itu.

Sungguh aneh sekali, dalam keadaan badan yang lemah tak bertenaga karena sakit yang dideritanya belum sembuh setelah racun teratai itu kambuh seketika itu juga ia rasakan darah panas di dalam rongga dadanya bergolak keras, tenaga yang bergelora dalam tubuhnya secara menakjubkan melipat ganda, terutama sekali setelah berlarian di atas jalan sempit, makin cepat dia berlari semakin berkurang rasa sakit yang dirasakan di dalam tubuhnya.

Dalam posisi tidak mempan terhadap segala macam racun, bau harum beracun yang tersiar dari balik barisan Hoe-Hiang-Tin bukannya merobohkan malahan sangat bermanfaat baginya, semakin badannya terasa enak makin cepat ia berlari.

Beng Chen Chen serta Lan Coei sekalian yang menyaksikan kejadian itu jadi tertarik, mereka berteriak keras dan segera mengejar dari belakang tubuhnya.

Bagitulah sesudah berlarian kurang lebih setengah jam, racun teratai yang bekerja dalam tubuhnya telah larut kembali ke dasar pusar, sementara Lan Coei sekalian yang mengikuti di belakangnya telah basah kuyup oleh keringat, napas mereka tersengal-sengal dan tidak kuat mempertahankan diri lagi.

Tanpa terasa setengah bulan telah lewat dengan cepatnya, dari sakitnya Hoa Thian-hong pun berangsur angsur telah sehat kebali, setiap tengah hari tiba bila racun dalam tubuhnya mulai bekerja, iapun berlari larian di jalanan untuk mengurangi penderitaan.

Rupanya daya kerja racun itu makin lama semakin mendahsyat, terpaksa iapun harus berlari makin lama semakin cepat, dalam keadaan begitu “Biauw Nia Sam Sian” tiga dewi dari wilayah Biauw masih sanggup untuk berlari berendeng dengan dirinya, sedang mereka dari angkatan yang lebih rendah sudah tak sanggup untuk menyusul lagi.

Ia merasa tenaga dalamnya memperoleh kemajuan yang amit pesat, kekuatan angin pukulanpun bertambah ampuh tiga kali lipat, pemuda itu mengerti bahwa itulah berkat dari Teratai Racun Empedu Api. hanya saja semakin sempurna tenaga dalamnya, daya kerja racun teratai itupun semakin dahsyat hingga secara lapat-lapat ia merasa agak payah.

Lan Sien yang setiap hari mengumpulkan daun obat memaksa Chin Wan Hong untuk mencucikan muka Hoa Thian-hong setiap hari, setelah berpuluh-puluh hari kemudian warna hitam di atas wajah Hoa Thian-hong telah hilang lenyap sama sekali, sebagai gantinya muncullah seraut wajah yang tampan dan menarik hati. Diam-diam Chin Wan Hong marasa kegirangan setengah mati, para kakak seperguruannyapun ikut beriang gembira akan hal tersebut.

Setiap hari seluruh lembah Hoe-Hiang-Kok dipenuhi dengan panggilan “Siauw Long “di dalam negeri kaum wanita yang cantik dan supel itu Siauw Long pun menjadi pujaan sana sini.

Suatu tengah hari, Siauw Long kembali berlarian ditengah jalan raya,. puluhan gadis cantik suku Biauw dibawah “Biauw-Nia Sam-Sian “termasuk juga Tiong-si Sam Houw tiga ekor harimau dari keluarga Tiong berdiri berjajar di tepi jalan raya.

Selesai berlarian, pemuda itu merasa semangat serta tenaganya masih segar bugar maka iapun diiringi semua orang berpindah menuju kelapangan untuk berlatih silat*

Pertama2 ia berlatih lebih dahulu jurus serangan yang ampuh “Koen-Sioe-Ci-Tauw” kemudian Biauw-Nia Sam- sian maju mengerubuti dirinya. latihan berlangsung dengan seru dan riangnya.

Setengah harian kemudian tiba-tiba ia teringat kembali akan Tiong-si Sam Houw yang jarang ditemui, ia tak tahu bagaimanakah hasil latihan ilmu pukulan dari ketiga orang itu, maka dipaksanya ketiga orang itu untuk berlatih dihadapannya.

Salama ini Tiong-si Sam Houw selalu melayani Hoa Thian-hong dengan sikap pelayan terhadap majikan, Walaupun si anak muda itu tak mau tapi lama kelamaan tanpa terasa hal itu jadi suatu kebiasaan.

Mendengar pemuda itu menyuruh mereka berlatih, tanpa banyak bicara ketiga orang itu segera mainkan ilmu telapaknya dengan sungguh2. Setelah dilihatnya permainan ilmu telapak mereka sangat hapal dan tenaga dalamnya bisa diandalkan, girang sekali pemuda kita.

Mendadak terdengar Chin Wan Hong berseru, “Siauw Long, suhu telah mewariskan serangkaian ilmu barisan kepada mereka. barisan itu dinamakan Sam Sing Boe Khek Tin Hoat’

Barisan Sam Seng Boe Khek Tin?” ujar Hoa Thian- hong terkejut bercampur girang.” Coba mainkanlah agar aku lihat.”

“Ilmu barisan yang diajarkan Sin Nio kepada kami ini amat kacau dan rumit” kata si harimau pelarian Tiong Liauw sambil tertawa jengah. “Sedang kami bertiga amat bodoh, sekalipun dengan paksa bisa hapal tapi kalau di mainkan kurang lebih sempurna.”

Selesai bicara ia segera beri kode dan ketiga orang itu menyebarkan diri menduduki posisinya masing-masing, ilmu barisan Sam Seng Boe-Khek-Tin pun dengan cepat sudah dimainkan.

Dengan penuh seksama Hoa Thian-hong memperhatikan perubahan-perubahan dari barisan itu, kemudian pikirnya di dalam hati, “Ooh, rupanya sebuah barisan yang mengutamakan pertahanan bersama serta penyerangan serentak, bila mereka bertiga berhasil, menguasainya memang banyak manfaat yang bakal didapatkan.”

Mendadak satu ingatan berkelebat di dalam benaknya, segera ia berseru, “Enci Hong, ini hari bulan apa tanggal berapa?” “Udara di dalam lembah Hoe-Hiang-Kok hangat dan nyaman laksana musim semi, cuaca sama sekali tidak mengalami perubahan. aku sendiripun sudah melupakan hari dan tanggal.”

Dengan berdandan sebagai gadis suku Biauw, gerak- geriknya yang halus disertai wajah yang malu menimbulkan suatu rangsangan yang aneh bagi kaum pria.

Terdengar Lie Hoa Siancu yang berdiri disisi mereka menyahut sambil tertawa, “lni hari bulan sepuluh tanggal tujuh belas, kenapa sih kau mendadak menanyakan hari dan tanggal?”

“Aduh celaka!” teriak Hoa Thian-hong dengan hati terkejut. “Aku telah melupakan hari dan tanggal. aku harus segera berangkat untuk pulang ke rumah…..!”

Habis bicara ia putar badan dan lari.

Melihat perbuatan si anak muda itu semua orang segera mengejar dari belakang, Lan-Lan enjotkan badannya melayang ke tengah udara dan menyusul kehadapannya, sambil tertawa ia segera menegur, “Coba lihat tampangmu yang gugup dan tergopoh-gopoh tidak macam orang, sekalipun sudah melupakan tanggal, pulang ke rumah terlambat beberapa haripun rasanya tidak mengapa kan?”

“Tidak bisa jadi! ibu sedang berharap-harap akan kedatanganku di atas gunung.”

Sementara pembicaraan masih berlangsung tubuhnya telah menyusup ke dalam gua dan langsung menghadap Kioe-Tok Sian-Cie, sambil berlutut di atas tanah ujarnya, “Sian-Nio. aku telah melupakan tanggal dan. hari untuk pulang ke rumah, sekarang juaku harus mohon diri kepada Sian-Nio untuk turun gunung!”

Sambil tersenyum Kioe-Tok Sian-Cie membimbingnya bangun dari atas tanah, lalu berkata, “Anak baik, kau sudah melupakannya selama berapa hari? kecuali menyusahkan ibumu yang harus menanggung rindu apakah kau telah menelantarkan urusan lain?”

“Aku tak boleh menyusahkan ibu hingga beliau harus menanggung rindu! tecu sekarang juga harus berangkat untuk pulang ke rumah!”

Kembali Kioe-Tok Sian-Cie tertawa.

“Sekalipun terburu-buru juga tak perlu berangkat sekarang juga, lebih baik tunggu sampai besok pagi saja, asal perjalanan dilakukan dengan lebih cepat bukankah sama saja?”

Ia merandek sejenak lalu melirik sekejap ke arah Chin Wan Hong yang berada di belakang tubuhnya, lalu menambahkan, “Hubungan serta cinta kasih para cici terhadap dirimu tidak jelek, sebelum berangkat berilah salam perpisahan kepada mereka semua dan tetapkan juga waktu untuk saling berjumpa dikemudian hari.”

Hoa Thian-hong mengiakan tiada hentinya kemudian mengundurkan diri, semua orangpun segera berkumpul di dalam kamarnya Chin Wan Hong.

Sore itu dilewatkan dalam suasana murung dan sedih karena harus berpisah, malamnya semua orang menyiapkan sebuah perjamuan untuk menghantar keberangkatan si anak muda itu. Selesai bersantap Hoa Thian-hong serta Chin Wan Hong sambil bergandengan tangan mencari angin di dalam kebun bunga, mereka saling mengutarakan isi hati dan melewatkan malam yang panjang dengan kemesraan dan penuh kasih sayang.

Keesokan harinya pagi-pagi sekali Hoa Thian-hong telah minta diri kepada Kioe-Tok Sian-Cie, dengan diantar oleh “Biauw-Nia-Sam-Sian” serta Chin Wan Hong sekalian berangkatlah pemuda itu keluar lembah, perpisahan itu dirasakan amat berat sekali terutama setelah bergaul amat lama dan dihati masing-masing telah timbul perasaan persahabatan yang kental, diantara beberapa orang Chin Wan Hong yang merasakan paling berat, sepanjang perjalanan ia berpesan tiada hentinya sambil mengucurkan air mata, jelas nampak di atas wajahnya bahwa ia merasa berat hati untuk berpisah dengan kekasihnya.

Hoa Thian-hong sangat merindukan keadaan ibunya, setelah keluar dari barisan Hoa-Hiang-Tin, iapun keraskan hati untuk berpisah dengan semua orang dan melakukan perjalanan dengan cepat.

Keinginannya untuk pulang ke rumah amat besar, sepanjang perjalanan ia berlarian terus baik siang maupun malam, terutama sekali setiap tengah hari telah tiba dan racun teratai dalam tubuhnya mulai kambuh, ia berlari jauh lebih cepat dari kuda jempolan, kendati badannya terasa agak tersiksa namun perasaannya jauh lebih gembira dan lega.

Hoa Thian-hong pada saat ini sudah bukan Hong-po Seng tempo dulu, sekalipun usianya belum mencapai delapan belas tahun tetapi perawakan tubuhnya sudah tinggi kekar, wajahnya tampan dengan alis yang tebal. terutama sepasang matanya yang menyorotkan cahaya tajam menandakan bahwa tenaga lweekangnya telah memperoleh kemajuan yang amat pesat.

Ibunya berdiam jauh di daerah utara, dari arah Barat- daya menuju ke arah Barat-laut ia harus melakukan perjalanan ber-puluh2 ribu li jauhnya. tetapi dikarenakan wajahnya telah berubah dan perjalanan dilakukan sangat cepat, wilayah kekuasaan perkumpulan Sin-kie-pang serta Hong-im-hwie berhasil dilalui tanpa menimbulkan sedikit persoalanpun,

Siapa tahu ketika dengan susah payah ia berhasil tiba di rumah, yang ditemui hanya sebuah bukit yang kosong, ibunya entah sudah pargi kemana. di dalam rumah nampak tertinggal secarik kertas yang berbunyi.

“Surat ini ditujukan kepada Hong-jie, “Sudah lama kunantikan kepulanganmu ke rumah tapi kau tak kunjung tiba. maka kuambil keputusan untuk mencari jejakmu di dalam dunia persilatan, setelah membaca surat ini berangkatlah ke kota Cho-Chiu untuk berjumpa.”

Hoa Thian-hong jadi amat gelisah, dihitung dari tanggal di atas surat ia mengetahui bahwa ibunya sudah hampir satu bulan turun gunung, maka tergopoh-gopoh ia turun gunung dan langsung mengejar ke kota Cho- Chiu,

Sepanjang perjalanan ia berusaha menemukan jejak ibunya tetapi hingga tiba di kota Cho-Chiu bayangan tubuh ibunya belum nampak juga. Diam-diam iapun mengambil kesimpulan, dengan keadaan ibunya yang lemah dan tenaga dalamnya yang sudah musnah kecepatan kakinya tak akan lebih cepat dari orang yang mengerti ilmu silat, ditambah pula perjalanan. harus dilakukan dengan tersembunyi- sembunyi, tentu saja perjalanannya makin lambat lagi.

Ia sadar seandainya bukan saling bertemu muka secara kebetulan sulit untuk menemukan kabar beritanyas maka akhirnya dia mengambil keputusan untuk berdiam di kota Cho-Chiu untuk menantikan kedatangan ibunya, daripada kedua belah pihak saling bersisipan dan tak bisa bertemu.

Kota Cho Ciu nampak amat gerah dari ramai sekali! Kota ini mempunyai tiga kelebihan yakni banyaknya perusahaan Piauw-Kiok, banyaknya rumah makan dan

warung Serta banyak nya rumah pelacuran dan panggung opera.

Berhubung kolong langit dibagi jadi tiga kekuasaan maka para perusahaan Piauw kiok menjadikan kota Cho Chiu sebagai titik pertemuan, para pedagang dari empat penjuru kebanyakan membongkar dan membuat barang2 dagangannya di kota ini, karena itu perusahaan ekspedisi yang bermunculan disitU banyak bagaikan jamur di musim hujan. dengan sendirinya rumah makan serta rumah pelacuranpun ikut bermunculan disana sini dengan ramainya.

Kota Cho Chiu juga merupakan satu2nya kota bebas dari kekuasaan tiga golongan kekuasaan Bulim, kota itu tidak termasuk dalam wilayah perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw, tatapi mereka semua menaikan cabang2 kantornya di tempat itu.

Sebuah bangunan besar di sudut utara kota merupakan kantor cabang dari perkumpulan Hong-im- hwie, kantor cabang dari perkumpulan Sin-kie-pang berada di sudut Barat, sedangkan sebuah kuil yang besar dan megah dikenal dengan nama “It-Goan” di sudut kota sebelah Tenggara merupakan kantor cabang dari perkumpulan Tong-thian-kauw. kantor-kantor cabang itu saling, berhadap hadapan dengan mengambil posisi dari wilayah kekuasaan mereka masing-masing.

oooOooo-

14

DALAM kota Cho Chiu sering kali memunculkan manusia-manusia Bulim dengan badan yang kekar, alis yang tebal dan wajah yang bengis, percekcokan saling terjadi dan perkelahianpun sudah merupakan suatu kebiasaan, tetapi di daerah sekitar sana jarang sekali terjadi pembunuhan, sebab bila ada seseorang terbunuh maka dari ketiga belas pihak sakti mengirim orang untuk melakukan penyelidikan, pembunuhnya jarang sekali dapat meloloskan diri dari pengejaran mereka.

Bila malam telah tiba. kota Cho Chiu bermandikan cahaya lampu yang terang benderang, rumah makan penuh sesak dengan manusia, di atas panggung berisik dengan suara tambur dan gembrengan sedang di rumah pelacuran penuh lengking seruan lirih dan tertawa cekikikan, hingga fajar menyingsing suasana ramai itu baru reda. Oleh sebab itulah setiap tengah hari suasana di kota itu amat sunyi dan sepi, disamping itu daerah sekitar sana seringkali bermunculan banyak orang dengan wajah yang asing, mereka yang bertemu dengan manusia- manusia tersebut kebanyakan lenyap tak berbekas dan tiada kabar beritanya lagi.

Tepat dihadapan kantor cabang perkumpulan Hong- im-hwie berdiri sebuah warung teh yang tidak besar pun tidak kecil, pagi itu dari pintu luar berjalan masuk seorang pemuda berwajah tampan dan beralis tebal, dia adalah Hoa Thian-hong.

Saat itu badannya jauh lebih kekar dan sorot matanya semakin tajam, gerakan tubuhnya enteng dan ringan, bagi mereka yang ahli sekilas memandang segera akan mengetahui bahwa ia merupakan seorang ahli silat yang memiliki tenaga dalam amat sempurna.

Di dalam kenyataan kehadiran Hoa Thian-hong di kota Cho Chiu telah diketahui oleh semua pihak yang berkuasa disana, hanya tak seorangpun yang tahu siapakah gerangan pemuda itu.

Ketika pelayan menyaksikan kemunculan pemuda itu, buru-buru lari menyambut kedatangannya sambil menyapa, “Hoa-ya, selamat pagi!”

Hoa Thian-hong mengangguk dan langsung naik keloteng, di sudut sebuab jendela ia memilih tempat dan duduk.

Setiap pagi ia pasti nomor dua tiba disitu, dalam pada itu sinar matanya telah berkelebat memandang sekejap ke arah orang yang datang lebih duluan itu.

Orang tersebut adalah seorang pria bercambang yang kehilangan sebuah lengan kirinya, di atas jidat orang itu tertera sebuah codet bekas bacokan golok yang amat panjang sekali, sekilas memandang tampang orang itu kelihatan mengerikan sekali.

Codet bekas bacokan golok itu telah menutupi usianya dan menutupi pula raut wajah yang sebenarnya.

Setiap pagi ia pasti datang lebih duluan dan selamanya pula duduk menyendiri di sudut tembok, sambil mencekal teko air teh seringkali ia memandang keluar jendela dengan pandangan mendelong, badannya jarang bergerak dan wajahnya selalu murung.

Baru saja Hoa Thian-hong ambil tempat duduk pelayan telah menghidangkan seteko teh wangi serta senampan bak-pao yang masih mengepulkan asap. si anak muda itu memenuhi cawannya dengan air teh lalu perlahan lahan diteguknya, setelah itu mulai menikmati sarapan paginya.

Terdengar dari arah tangga loteng berkumandang suara derap kaki manusia, seorang pria berusia pertengahan yang memakai ikat kepala warna hijau dan menggoyang goyangkan kipasnya naik ke atas loteng, sinar matanya menyapu sekejap sekeliling tempat itu kemudian sambil tertawa terbahak bahak ia menjura ke arah si anak muda itu.

“Haaaah…. haaah…. haaaah…. Thian-hong-heng, hari ini siauwte berhasil menyusu di rimu!”

“Selamat Pagi Ma-heng!” sahut Hoa Thian-hong Sambil mengangguk. “Siauwte pun baru saja tiba!”

Kiranya orang ini she Ma bernama Ching-san dengan julukan “ Ciauw-Hoen-Si-Ci” atau si utusan pencabut nyawa, ia bekerja di pihak perkumpulan Tong-thian-kauw dengan tugas diluar.

Hoa Thian-hong yang telah berdiam selama beberapa bulan di kota Cho-Chiu, walaupun belum barhasil menemukan ibunya, tetapi semua kurcaci yang ada di kota tersebut telah dikenalnya satu per satu.

Sementara itu si Utusan Pencabut nyawa Ma Ching- san telah duduk disisinya, lalu dengan suara rendah ujarnya, “Thian-hong heng, mumpung kedua orang si tua bangka yang tidak modar2 itu belum datang, bagaimana kalau kita membicarakan sesuatu dengan hati sejujurnya.”

“Sudahlah. tak usah kau bicarakan lagi,“ tukas Hoa Thian-hong Sambil teftawa4 “Siauwte sedang menunggu orang, tiada waktu bagiku untuk berangkat ke kota Leng- An”

Ia merandek sejenak, kemudian sambil tersenyum tambahnya, “Siapa yang tidak tahu akan kelihayan dari Giok-Teng Hujien, usia siauwte masih muda belia, aku masih tidak pingin mempertaruhkan batok kepalaku sebagai bahan gurauan….”

Buru-buru si Utusan Pencabut Nyawa Ma Chiang San goyangkan tangannya berulang kali. “Kau jangan percaya dengan perkataan kedua orang tua bangka yang ngaco belo tidak karuan itu. Giok Teng Hujien dari perkumpulan kami bukanlah manusia sadis seperti apa yang dikatakan mereka, terus terang saja kukatakan bahwa…!”

Ketika dilihatnya orang itu celingukan kesana kemari tidak berani bicara secara blak2an, Hoa Thian-hong segera tertawa nyaring, katanya, “Haaah….haaah….Ma- heng, bila kau ada urusan katakanlah terus terang!”

Dengan suara rendah dan setengah berbisik si Utusan Penyabut Nyawa Ma Ching-san segera berkata, “Hujien telah meninggalkan markas besar menuju kemari, malam nanti ia mengajak heng tay untuk berjumpa dikuil It Hoa Thian-hong segera mengerutkan sepasang alisnya kemudian tertawa.

“Bila kejadian ini berlangsung pada setengah tahun berselang, sekalipun telaga naga atau sarang harimau siauwte berani untuk mengunjunginya….tapi sekarang,…..”

“Thian-hong heng. kau telah Salah menduga!” buru- buru si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san goyangkan tangannya berulang kali.”Hujien adalah bermaksud baik terhadap dirimu dan sedikitpun tidak Untuk mencelakai diri heng tay, lagipula kuil It Goan Koan yang begitu kecil masa sanggup Untuk mengurung Heng tay yang begitu lihay!”

Mendadak terdengar gelak tertawa yang amat nyaring berkumandang datang.

“Haaah…. haaah…. Ma-heng, kenapa kau musti sungkan2, siapa yang tidak tahu kalau si-Utusan Pencabut Nyawa dari perkumpulan Tong-thian-kauw selamanya membunuh orang tanpa menggunakan golok, tapi cukup menggape tangannya saja!”

Dengan cepat si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching- san putar kepalanya dan menuding ke arah orang itu dengan kipasnya sambil memaki, “Soen Loo-ko! kau sebagai petugas terima tamu dari perkumpulan Hong-im- hwie, kenapa bersikap begitu kasar dan tidak bersahabat terhadap diri siauwte?”

Orang she Soen itu adalah seorang kakek tua yang berperawakan tinggi dan kurus. Sementara itu sambil tertawa terbahak bahak menyapa diri Hoa Thian-hong kemudian duduk dihadapan mukanya.

Hoa Thian-hong tersenyum, tiba-tiba ia menjura ke arah seorang kakek berwajah merah padam yang tanpa menimbulkan sedikit surapun menguntil dibelakang kakek she-Soen tadi serunya, “Tang Loo Hu-hoat, wajahmu nampak berseri2 dan kegirangan, karena urusan apa sin?

“Haaah….haaah…….haaah…. “Kakek berwajah merah she Tang itu tertawa terbahak-bahak, dari sakunya dia ambil keluar sebuah sampul surat kemudian sambil diangsurkan ke depan katanya, “Hoa-heng, coba lihat. dari tempat jauh telah melayang tiba sebuah berita kegirangan, apakah tidak sepantasnya kalau aku ikut bergembira bagi diri Hoa-heng?”

Hoa Thian-hong menerima surat tersebut, tiba-tiba si Utusan pencabut nyawa Ma Cing San yang ada disisinya menyerobot surat itu dari samping, kemudian sambil mengeluarkan isi sampul itu dibacanya, “Hari ini aku tiba, sambutlah kedatanganku di Lan-Hong. tertanda: Pek.”

Hoa Thian-hong miringkan kepalanya ikut melihat isi surat itu, terlihatlah oleh nya dibawah rentetan huruf yang sangat indah tadi tertera sebuah cap yang merupakan rangkaian huruf: Kun-gie dua patah kata.

Si-Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san segera angsurkan kembali surat itu ke tangan Hoa Thian-hong, lalu sambil alihkan sinar matanya ke arah kakek berwajah merah itu tegurnya, “Tang-heng, apakah surat itu benar- benar ditulis sendiri oleh nona Pek Kun-gie dari perkumpulanmu?”

“Haah….haah….haah….” sambil mengelus jenggotnya kakek berwajah merah itu tertawa targelak. “Siapa yang mempunyai batok kepala cadangan? aku sih tak berani memalsukan namanya!”

“Tang-heng!” si kakek she-Soen, penerima tamu dari perkumpulan Hong-im-hwie berseru dengan pura-pura tertegun. “Bukankah nona Pek mengirim Surat itu kepada kantor Cabangnya agar semua anak buahnya yang hadir sama-sama menyambut kedatangannya, mau apa kau serahkan surat itu kepada diri Hoa-heng?’

Kembali si kakek berwajah merah itu mendongak dan tertawa terbahak-bahak.

“Nona Pek kami ini adalah seorang perempuan yang berwatak aneh dan bercita-cita tinggi, semua tindak- tanduknya dilaksanakan dengan andalkan ilmu silat serta kecerdikannya, belum pernah ia gunakan kedudukannya sebagai putri kesayangan Pangcu untuk memerintah kami, apalagi memerintahkan anak buahnya untuk menyambut kedatangannya, sekalipun dia ada maksud begitu pun tak nanti akan menulis surat sendiri.”

Habis berbicara ia tertawa terbahak-bahak, kemudian meneguk secawan air teh dan pejamkan matanya tidur ayam di atas kursi.

Si Utusan Pencabut nyawa Ma Ching-san yang menyaksikan akan hal itu, sepasang alisnya kontan berkerut. kepada Hoa Thian-hong serunya dengan suara aneh, “Hoa-heng, kau sudah dengar belum? tindak- tanduk nona Pek selamanya diandalkan pada kecerdikan serta kelihayan ilmu silatnya, lebih baik kau cepat-cepat berangkat dan perjalananmu dilakukan sedikit lebih cepat, kalau kedatanganmu terlambat bisa jadi batok kepalamu akan lenyap dan berpisah dari badanmu!”

Hoa Thian-hong tersenyum, ia merobek surat itu hingga hancur berkeping-keping, kemudian pikirnya di dalam hati, “Ini hari sudah bulan Lak-Gwee, sekalipun perjalanan ibu sangat lambat semestinya ia sudah harus tiba di kota Cho-Chiu, kenapa bayangan tubuhnya masih belum juga nampak? Aaaai….. Apakah di tengah jalan ia telah menemui kesulitan? Aaaah. Tidak mungkin, pengalaman serta pengetahuan yang dimiliki orang tua itu sangat luas, lagipula mengetahui segala macam akal licik yang sering dipakai oleh orang Bulim, kawanan kurcaci biasa tidak nanti bisa mengapa-apakan beliau…..”

Memikirkan tentang keselamatan ibunya, pemuda itu merasa pikirannya amat kalut dan hatinya risau hingga tanpa terasa di atas wajahnya nampak murung dan gelap.

Mendadak terdengar si Utusan Pencabut nyawa Ma Ching-san tertawa terbahak bahak lalu berkata, “Thian- hong Heng, nona Pek suruh kau menyambut kedatangannya, kejadian ini benar-benar merupakan suatu kehormatan serta kebanggaan bagimu, bisa berjumpa dengan kaum enghiong itulah kesenangan bagi orang kangouw, tapi awas…. kau jangan

berayal terus, malam ini sebelum kentongan ketiga lebih baik berangkatlah lebih dulu. Mari…..mari….mari…. mumpung sekarang tak ada urusan, siauwte ingin menantang dirimu untuk main catur!” bicara sampai disitu ia segera menoleh dan berteriak keras, “Pelayan! siapkan papan catur dan biji catur!”

Petugas penerima tamu dari perkumpulan Hong-im- hwie serta Tang Hu-Hoat dan perkumpulan Sin-kie-pang sama-sama tidak mengerti akan permainan catur, mendengar mereka mau bermain catur, sepasang mata kedua orang itu kontan mendelik besar.

Kakek tua berwajah merah she-Tang itu sambil busungkan dada segera berseru keras, “Ma-heng, nanti malam Hoa-heng masih harus melakukan perjalanan. bagaimana kalau kau biarkan dia pergi beristirahat seben tar?”

“Betul!” seru kakek she-Soen pula sambil tertawa. “Lebih baik kita kongkouw disini saja kan lebih enak daripada main catur. Ee eeei…. Ma-heng kemarin malam kau menikmati sorga dunia di rumah pelacur mana? apakah sudah menemukan barang baru? jangan lupa bagi bagi kepada rekan rekanmu Iho…..”

Sret! Si Utusan pencabut nyawa Ma Ching-san merentangkan kipasnya dan digoyangkan beberapa kali, kemudian dengan nada ogah-ogahan menjawab, “Tentang soal ini, sebetulnya Siauwte tidak ingin banyak berbicara….” ia merandek sejenak, lalu tambahnya, “Tetapi kalau memang Soen-heng mengajukan pertanyaan itu, siauwte merasa tidak enak untuk merahasiakannya,” Orang ini sebetulnya tidak banyak bicara tetapi akhirnya meluncurlah kata-kata yang amat panjang mengisahkan petualangannya kemarin malam dengan pelacur.

Tang Loo Hu-Hoat dengan penuh kenikmatan mendengarkan kisah cerita rekannya itu badan tegak lurus dan matanya melotot besar, sedangkan si kakek she Soen itu sambil mengedipkan matanya melek merem mendengarkan pula dengan penuh perhatian: se-akan2 diapun tergiur oleh cerita itu.

Hanya Hoa Thian-hong seorang yang tidak ambil perhatian, sambil duduk di kursi ia menikmati air tehnya. Sementara sepasang matanya memperhatikan manusia yang berlalu lalang di atas jalan raya sambil kadang kala melirik sekejap ke arah si manusia bercodet di sudut ruang itu.

Mendekati tengah hari, tamu yang berkunjung di hotel rumah makan itu makin lama semakin banyak. Hoa Thian-hong-pun segera bangun berdiri, ujarnya sambil tertawa, “Silahkan kalian bertiga bercerita disini, siauwte hendak mohon diri terlebih dahulu.”

“Hoa heng, apakah kau hendak peng “Bauw Tok”lari racun?” tanya Tang Loo Hu hoat dari perkumpulan Sin- kie-pang dengan penuh perhatian

Sambil tersenyum Hoa Thian-hong mengangguk ia segera menjura ke arah tiga orang itu dan meninggalkan loteng tersebut.

Tiba-tiba si Utusan Pencabut Nyawa Ma Ching-san ikut bangun berdiri, bisiknya lirih, “Sebelum kentongan nanti, siauwte akan datang ke rumah penginapan untuk menjemput dirimu!”

“Ma heng!”terdengar kakek she Soen menyindir dengan suara keras,” Perbuatan seorang pria sejati tidak takut diketahui orang lain, kenapa sih kau berbisik macam orang perempuan Saja?”

Hoa Thian-hong malas untuk mendengarkan pencekcokan diantara ketiga orang itu, baru saja ia hendak berlalu mendadak dilihatnya jari tangan si-pria bercodet di sudut ruangan yang sedang memegang poci teh itu gemetar keras,

Walaupun gerakan itu sangat lirih tetapi kebetulan Sekali terjatuh ke dalam pindangan Hoa Thian-hong membuat si anak muda itu segera menyadari akan sesuatu, dengan cepat dia alihkan sinar matanya keluar jendela.

Tampaklah dari depan pintu kantor Cabang perkumpulan Hong-im-hwie meluncur masuk tujuh delapan ekor kuda jempolan, orang pertama yang ada di paling depan adalah seorang pria berwajah putih yang memakai pakaian perlente

Ketajaman matanya pada saat ini sudah berbeda jauh dengan keadaan dahulu. hanya sekilas memandang ia telah berhasil melihat raut Wajah kedelapan orang yang berada di atas kuda itu, Satu ingatan kembali berkelebat di dalam benaknya. Pemuda itu masih teringat bahwa pria berwajah putih berbaju perlente itu bukan lain adalah “Pat-Pit-Siuw-loo” atau si Malaikat berlengan delapan Cia Kim dari perkumpulan Hong-im-hwie. Agaknya kakek tua she-Soen itupun menemukan bahwa ada orang tiba di kantor cabangnya, buru-buru ia tinggalkan meja sambil berseru, “Sam Tang-kee dari perkumpulan kami telah tiba, maaf. Siauwte terpaksa harus berangkat lebih duluan!”

Setelah menjura, kepada semua Orang, dia pun berlalu.

Dalam hati kecil Hoa Thian-hong sebetulnya ingin sekali duduk beberapa saat lagi disitu Sambil mengawasi gerak-gerik pria bercodet itu, apa daya raCun Teratai Empedu Api yang bersarang ditubuhnya sudah mulai kambuh, terpaksa ia tinggalkan Mu dan Tang dua orang itu dan berlalu lebih dahulu

Setibanya diluar kota, racun teratai telah kambuh, Hoa Thian-hong pun terpaksa kerahkan tenaga dalamnya untuk berlarian mengelilingi tembok kota tersebut.

Ia sudah sebulan lamanya berdiam di kota Cho-Chiu, setiap tengah hari bila racun teratainya kumai ia musti ber-lari2an mengelilingi tembok kota, orang yang mengetahui bahwa di dalam tubuhnya mengandung segera memberikan julukan “Bauw-Tok” atau Lari Racun kepadanya.

Hoa Thian-hong yang ada maksud memancing perhatian ibunya tidak menyaru dengan nama lain lagi, asal usulnya juga tidak dirahasiakan, maka semua orang di kota itu pada mengetahui bahwa “Hoa Thian-hong Lari racun mengelilingi kota Cho-Chio

Bukan begitu saja bahkan kabar berita ini tersiar pula sampai ke dalam telinga Perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw, cuma ia sendiri sama sekali tidak mengetahuinya. Tenaga dalamnya secara tiba-tiba memperoleh kemajuan yang amat pesat, daya kerja racun teratai yang berada di dalam tubuhnya pun kian hari kian bertambah ganas, setiap kali kambuh sekujur tubuhnya terasa sakit dan amat menderita sekali.

Dalam keadaan begitu ia berhenti berlatih ilmu lweekang, tetapi gerakannya berlari-larian kencang tidak jauh berbeda dengan berlatih tenaga dalam, tenaga murni yang dimilikinya tetap memperoleh kemajuan yang pesat, sementara daya kerja racun teratai semakin hari semakin menggila.

Ketika malam pertama tiba disana, dalam waktu setengah jam ia hanya bisa mengelilingi tembok kota itu sebanyak dua kali lingkaran kini gerakan tubuhnya cepat bagaikan hembusan angin, dalam waktu setengah jam sudah empatbelas kali dia naengitari tembok kota tersebut.

Oleh sebab itulah wilaupun orang Cho Chiu tak pernah menyaksikan si anak muda itu turun tangan tapi siapapun mengetahui bahwa ilmu silat yang dimiliki olehnya luar biasa sekali, serangannya tentu dahsyat bagaikan gulungan ombak di samudra.

Selama ini pihak Sin-kie-pang, Hong-im-hwie dan Tong-thian-kauw mengawasi gerak-geriknya dengan ketat, hanya saja hingga detik itu belum pernah ada salah satu pihak yang menggunakan kekerasan menghadapi dirinya. sebaliknya si anak muda itu sendiri juga bertindak sangat hati-hati, ia tak berani bertindak terlalu gegabah. Setelah berlarian selama setengah jam, daya kerja racun teratai telah tenggelam kembali ke dasar pusar, dengan badan basah kuyup oleh keringat ia pulang ke rumah penginapan untuk mandi dan tukar pakaian. selesai bersantap siang pemuda itu berpesiar dijalan raya sambil menantikan kedatangan ibunya.

Sore itu bayangan tubuh si pria codet berkecamuk di dalam benaknya, setelah pusing. kepala beberapa saat akhirnya dia ambil keputusan untuk menyingkirkan dahulu persoalan tentang Pek Kun-gie serta Giok Teng Hujien, seorang diri berangkatlah dia untuk menyelidik keadaan si manusia bercodet itu.

Ketika senja meajelang tiba, seorang diri ia berjalan keluar dari rumah penginapan keluar dari pintu barat masuk dan pintu timur setelah berputar kayun menghilangkan jejak, akhirnya pemuda itu menyembunyikan diri di sekeliling kantor cabang perkumpulan Hong-im-hwie.

Suasana di dalam gedung kantor cabang perkumpulan Hong-im-hwie itu nampak terang benderang bermandikan cahaya, suara gelak tertawa amat berisik hingga kedengaran dari luar gedung, di pintu depan manusia berlalu-lalang dengan ramainya menunjukkan suasana disitu diliputi kesibukan.

Beberapa saat kemudian tandu demi tandu diterangi lampu lentera masuk ke dalam gedung di belakang tandu mengiringi sekelompok muda-mudi yang membunyikan alat bunyi-bunyian.

“Aah, kentongan kedua sudah lewat” pikir Hoa Thian- hong suatu ketika. “Andai kata si pria berlengan buntung itu ada maksud menyirepi tempat ini, semestinya ia akan muncul pada waktu-waktu begin…”

Perhatiannya terhadap persoalan kecil membuat pengalaman si anak muda ini memperoleh kemajuan yang pesat, karena takut rahasianya ketahuan maka selama ini dia hanya berani mengintip dari tempat kegelapan.

Waktu sedetik demi sedetik telah berlalu, suara nyanyian dan musik yang berkumandang dari dalam gedung makin lirih dan sirap, lewat beberapa saat kemudian para penyanyi dan penari mohon diri berlalu dari gedung tersebut.

Mendadak…. terdengar suara derap kaki kuda berkumandang memecahkan kesunyian, empat ekor kuda jempolan muncul dari balik pintu dan langsung menuju ke arah pusat kota.

Dari tempat persembunyiannya Hoa-Thian-hong dapat melihat jelas raut wajah beberapa orang itu. orang pertama bukan lain adalah “Pat-Pit Siuwloo” si malaikat berlengan delapan Cia Kim, orang kedua adalah hweesio berbadan gemuk, berkepala besar dengan mata bulat dan berwajah penuh diliputi nafsu membunuh, dibelakang padri itu mengikuti seorang pemuda berpakaian ringkas warna hitam dan berusia diantara dua puluh tahunan.

Hoa Thian-hong masih ingat sewaktu berada ditepi sungai Huang-ho tempo dulu, pemuda ini pernah saling beradu tenaga dengan Kok See-piauw, alhasil kekuatan mereka seimbang dan siapapun tidak berhasil merebut kemenangan. Orang terakhir she-Ciauw bernama Khong, dia adalah Touwcu atau ketua kantong cabang perkumpulan Hong- im-hwie di kota Cho Chiu.

Dengan cepatnya keempat orang itu berlalu dari situ, Hoa Thian-hong tak berani gegabah ia awasi dulu keadaan di empat penjuru sebelum bertindak, baru saja hatinya merasa sangsi harus membuntuti atau tidak mendadak dari sudut jalan berkelebat lewat sesosok bayangan manusia. dengan meminjam kegelapan yang mencekam di sekitar sana orang itu membuntuti Cia Kim berempat dari tempat kejauhan.

Begitu melihat tubuh dari bayangan manusia tadi. Hoa Thian-hong merasa amat terperanjat, pikirnya, “Sungguh lihay ilmu meringankan tubuh yang dimiliki orang itu, walaupun aku harus berlatih lima tahun lagipula belum tentu bisa menyusul dirinya!,…”

Terlihatlah bayangan manusia tadi berkelebat mengikuti tepi jalan raya. gerakan tubuhnya tidak terlalu cepat tetapi se-bentar2 berpindah tempat dari kiri ke kanan dan dari kanan ke kiri begitu seterusnya, Hoa Thian-hong walaupun sudah pentang matanya namun gagal untuk memperhatikan gerakan tubuh orang itu.

Dalam sekejap mata keempat ekor naga tadi sudah berhenti di depan sebuah gedung tempat berjudi, bayangan hitam tadipun segera berkelebat ke samping dan lenyap dari pandangan,

Buru-buru Hoa Thian-hong menyembunyikan diri di tempat kegelapan, pikirnya, “Cia Kim bukanlah seorang manusia biasa, orang itu berani mencabut kumis di wajah harimau rasanya diapun pasti bukan seorang jago biasa. Kepandaian silat yang kumiliki terlalu cetek, lebih baik tindakanku lebih berhati-hati sehingga tidak sampai menggagalkan rencana orang “

Berpikir sampai disitu ia segera menyembunyikan diri di tempat kegelapan dan menunggu dengan hati sabar, sedikitpun tidak berani bergerak secara sembarangan.

Sementara itu “Pat-Pit Siuw-loo” si malaikat berlengan delapan Cia Kim sekalian yang telah masuk ke dalam gedung perjudian lama sekali belum juga munculkan diri, sedang bayangan hitam tadipun tidak menampakkan diri, Dalam keadaan begitu Hoa Thian-hong harus menggunakan kesabarannya yang paling besar untuk menanti terus,

Beberapa jam kemudian keempat orang itu baru nampak muncul dari gedung perjudian dan berlalu dari situ

Pintu kota Cho-Chiu tidak pernah ditutup kaum pelancong dapat berpesiar kemanapun mereka ingin pergi dengan sebebas2nya, setelah keluar dari gedung perjudian tadi keempat orang itu berangkat ketepi sungai di kota sebelah Timur Untuk main pelacur di atas perahu, kemudian mengunjungi perkampungan Moo-Kee-Cung Untuk bermain dan bersantap menanti kentongan keempat telah lewat mereka baru nampak munculkan diri kembali.

Sepanjang perjalanan Hoa Thian-hong menguntil terus tiada hentinya, pikirnya didalam. hati

“Kedua belah pihak sama merupakan jago Bulim kelas satu, walau aku harus menguntil selama tiga hari tiga malampun akan kuintil terus sampai selesai” Sewaktu hendak keluar kota, agaknya bayangan manusia itu menyadari bahwa jejaknya tak bisa disembunyikan lagi karena daerah diluar tembok kota adalah tanah datar yang luas, badannya segera merandek sejenak di belakang pintu kota.

Sedetik saja bayangan tubuh orang itu merandek, Hoa Thian-hong telah berhasil melihat jelas wajahnya.

Ternyata orang itu bukan lain adalah lelaki bercodet yang dijumpainya setiap hari di sudut loteng rumah makan.

Tanpa sadar semangat Hoa Thian-hong berkobar kembali, dia ikut keluar dari pintu kota.

Tiba-tiba….pria bercodet yang ada di depan rupanya merasakan sesuatu, badannya merandek sejenak dan berpaling ke belakang.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan jejaknya sudah konangan, terpaksa keraskan kepala untuk mengikuti lebih jauh.

Baru saja Pat-Pit Siuw-Loo sekalian berada kurang lebih setengah li diluar kota, si manusia bercodet yang menguntil terus selama ini tiba-tiba enjotkan badannya melayang ke depan, sambil menghadang jalan pergi beberapa orang itu bentaknya dengan suara berat, “Cia Kim! coba lihat siapakah aku?”

Mendengar bentakan itu “Pat-Pit Siuw-Loo” Cia Kim segera meloncat turun dari punggung kudanya.

Pria berlengan buntung itu mendengus dingin, sambil meloloskan sebilah pedang ia langsung menubruk ke depan. Cahaya berkilauan memancar keempat penjuru, dalam waktu singkat kedua orang itu telah saling bergebrak sebanyak tiga jurus.

Begitu melihat jurus serangan yang dipergunakan lawannya, si malaikat berlengan delapan Cia Kim segera berteriak dengan tiada terkejut, “Aah. kau adalah Ciong- Lian-Khek?”

Sementara pembicaraan masih berlangsung, bagaikan sambaran kilat kedua orang itu telah saling bergebrak sebanyak lima enam jurus.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan kelihayan ilmu silat yang dimiliki si jago bercambang itu jadi melongo dan kesemsem, ia tak menyangka kalau kepandaian silat orang itu jauh diluar dugaannya. Darah panas dalam rongga dadanya segera bergolak, saking tertariknya sampai ia lupa akan keadaan sendiri, selangkah demi selangkah tubuhnya mendekati kalangan pertarungan itu.

Tiga orang yang datang bersama malaikat berlengan delapan Cia Kim waktu itupun sudah turun dari kudanya, ketika menyaksikan kedatangan Hoa Thian-hong secara mendadak mereka semua nampak tertegun.

Ciauw Khong yang pernah mengintip si anak muda itu secara diam-diam waktu ia ‘Berlari racun’ begitu melihat munculnya Hoa Thian-hong disana, segera ujarnya kepada hweesio gemuk yang berada disisi tubuhnya, “Lapor Ngo-ya, orang ini bukan lain adalah Hoa Thian- hong!”

Dalam perkumpulan Hong-im-hwie padri gemuk ini menduduki kursi nomor lima, orang kangouw hanya tahu dia bernama Seng Sam Hauw, siapapun tidak tahu apa gerakan keagamaannya, karena ia suka minum arak, suka perempuan dan suka membunuh manusia maka orang-orang memberi julukan “Seng Sam Hauw” atau she-Seng yang punya tiga kesukaan pada orang ini.

Setelah mendengar laporan dari Ciauw Khong, padri yang bernama Seng Sam Hauw itu segera goyangkan bahunya mendekati si anak muda itu, tegurnya dengan suara ketus, “Apakah kau adalah keturunan dari Hoa Goan Sioe?”

Orang ini punya perawakan badan yang gemuk dan besar, sepintas lalu gerak geriknya nampak lamban dan tidak lincah, tapi dalam kenyataan begitu cepat hingga sukar dilukiskan dengan kata-kata.

Mendengar orang itu mengucapkan kata-katanya dengan nada tidak sopan, Hoa Thian-hong merasa amat mendongkol, dengan nada yang dingin dan ketus iapun balik bertanya, “Toa hweesio, kau ada urusan apa?”

Pemuda ini sudah punya pengalaman, ia tahu ber- cakap2 dengan manusia dari kalangan Perkumpulan Sin- kie-pang, Hong-im-hwie maupun Tong-thian-kauw tak perlu memakai peraturan. karena itu sambil bercakap2 hawa murninya telah dihimpun di telapak kiri siap melangsungkan pertarungan sengit.

Seng Sam Hauw menyeringai seram, baru saja ia hendak mengumbar hawa amarahnya mendadak terdengar Ciong-Lian-Khek si manusia berlengan kutung itu membentak keras, “Cia Kim! aku si Ciong-Lian-Khek tidak akan membalas dendam atas lenganku yang kutung!” “Kau tidak akan membalas dendam atas kutungnya lenganmu, lalu apa gunanya beradu jiwa?” pikir Hoa Thian-hong dengan hati heran dan tidak habis mengerti.

“Kalau kau punya kepandaian keluarkan saja semuanya “terdengar Si malaikat berlengan delapan Cia Kim berseru sambil tertawa dingin. “Aku orang she Cia akan melayani dirimu sampai kemanapun juga!”

“Aku juga tidak membalas atas kekejian hatimu merebut istriku!” bentak Ciong-Lian Khek kembali.

“Sudah kau tak usah banyak bacot. aku tahu kau hendak membalas dendam atas terbunuhnya anakmu!” “Apa dosanya seorang bocah berusia tiga tahun?

mengapa kau membinasakan dirinya?”

Sambil menggertak gigi si malaikat berlengan delapan Cia Kim bungkam dalam seribu bahasa, pukulannya yang dahsyat laksana gulungan ombak ditengah samudra segulung demi segulung maluncur ke depan menandingi permainan pedang baja dari Ciong-Lian Khek.

Pertempuran tersebut benar-benar merupakan suatu pertarungan yang amat sengit, Seng Sam Sauw Hauw segera tertarik perhariannya untuk menyaksikan jalannya pertempuran yang maha seru itu hingga lupa untuk bergebrak melawan Hoa Thian-hong.

Ciong lian Khek yang dibebani oleh dendam sakit hati sedalam lautan memainkan jurus-jurus pedangnya dengan hebat dan gencar, ia telah melupakan mati hidupnya. seluruh pikiran dan kekuatannya dikerahkan untuk berusaha membinasakan lawannya.

Si malaikat berlengan delapan Cia Kim yang mengandalkan kedelapan puluh satu jurus “Koei-Goan- Ciang-Hoat” nya Untuk menandingi lawan, meskipun sudah keluarkan seluruh kekuatan dan kepandaiannya namun ia selalu keteter dibawah angin, kendati beberapa kali ia menempuh bahaya untuk merebut posisi namun keadaannya masih tetap terdesak hebat,

Melihat keadaan sangat tidak menguntungkan bagi pihaknya, dalam hati Seng Sam Hauw segera berpikir, “Dalam sakit hati si bajingan berewok ini terhadap Sam- ko bertumpuk2 bagaikan bukit, kedua belah pihak sama- sama tak sudi hidup bersama membiarkan manusia semacam ini tetap hidup di kolong langit hanya akan mendatangkan bencana saja bagi diri Sam-ko, lebih baik kugunakan saja kesempatan yang sangat baik ini untuk membasminya dari muka bumi.”

Berpikir sampai disitu, niat busuknya segera terlintas di dalam benak. Sambil menyeringai seram ujarnya, “Ciong Lian Khek, kau telah merusak kegembiraan diriku untuk menikmati malam yang begini indah. Hmm! akan kusuruh kau merasakan kelihayanku…..”

Badannya segera bergerak dan menubruk ke arah tubuh lawan, telapak tangannya yang besar kontan disodok kemuka-

Menyaksikan kejadian itu Hoa Thian-hong jadi gusar,segara bentaknya keras2, “Hay. toa-hweesio! jangan mencari kemenangan dengan jumlah banyak!”

Setelah mendengar bahwa Cia Kim telah membinasakan seorang bocah berusia tiga tahun, timbul rasa benci dan muaknya terhadap orang itu. sifat kependekarannya muncul dan ia merasa harus menegakkan keadilan bagi umat Bulim, apalagi setelah menjumpai Seng Sam Hauw hendak mencari kemenangan dengan andalannya jumlah banyak, ia segera munculkan diri untuk menghalangi niatnya itu,

“Hmmm….. kau anggap di tempat ini manusia macam dirimu punya hak untuk berbicara!” terdengar pemuda berpakaian ringkas itu berseru dengan suara dingin

Sambil berseru ia maju ke depan dan melancarkan sebuah pukulan dahsyat ke arah si anak muda itu.

Sejak turun gunung berulang kali Hoa Thian-hong harus menerima penghinaan dan siksaan hidupnya hampir saja musnah di tangan orang. hal itu lama kelamaan menimbulkan rasa gusar dan mangkel dalam hatinya, apalagi setelah setiap hari disiksa oleh racun teratai membuat tabiatnya sama sekali berubah, hati serta tindakannya berubah jadi jauh lebih keji.

Terhadap orang-orang dari perkumpulan Sin-kie-pang, Hong-im-hwie serta Tong-thian-kauw pada dasarnya ia memang menaruh rasa benci, telapak kirinya segera dengan menghimpun tenaga dalam sebesar dua belas bagian bersiap siaga menghadapi segala kemungkinan.

Laksana kilat pemuda berpakaian ringkas itu meluncur kemuka, telapak tangannya dengan dahsyat meluncur datang mengancam tubuhnya.

Menyaksikan hal itu Hoa Thian-hong tertawa dingin, telapaknya bergerak kemuka dengan jurus “Koen-Sioe Ci- Tauw” ia papaki datangnya ancaman tersebut.

“Blaaaam…!” terdengar suara ledakan dahsyat bergeletar memenuhi angkasa, si pemuda berpakaian ringkas itu menjerit ngeri, badannya secara beruntun mundur beberapa langkah ke belakang dengan sempoyongan, dari mulutnya darah segar muntah keluar sedang di atas tanah tertera nyata telapak kaki sedalam tiga coen.

Sesudah mundur hingga delapan langkah jauhnya, akhirnya pemuda itu jatuh mendeprok di atas tanah.

Ciauw Khong jadi amat terperanjat, buru-buru ia mendekati tubuh pemuda berpakaian ringkas itu dan memeriksa keadaan lukanya.

Tampaklah sepasang matanya terpejam rapat, wajahnya pucat pias bagaikan mayat sedang dadanya bergelombang naik turun tiada hentinya, walaupun ia menggertak gigi kencang kencang namun darah segar mengucur keluar tiada hentinya dari ujung bibir.

Ditinjau dari keadaannya itu jelas menunjukkan bahwa isi perutnya telah terpukul luka parah oleh serangan lawan.

Sementara itu setelah serangannya berhasil memukul mundur pemuda berpakaian ketat itu, Hoa Thian-hong alihkan sinar matanya ke arah kalangan pertempuran, dilihatnya Seng Sam Hauw bekerja sama dengan Cia Kim sedang bertempur mengerubuti Ciong-Lian Khek.

Si pria bercodet itu tidak nampak keteter walaupun ia harus satu melawan dua musuh tangguh, sekalipun begitu posisinya sudah tidak menguntungkan seperti tadi lagi, ia lebih banyak melancarkan serangan dari pada melakukan pertahanan.

Ketiga orang itu sama-sama merupakan jago silat kelas satu yang sudah lama tersohor di kolong langit, masing-masing pihak mempunyai kepandaian andalan yang berbeda, setelah pertempuran berlangsung, jurus- jurus serangan yang aneh saling bermunculan, ada yang lihay ada yang keji dan ada pula yang aneh, semua mempunyai keunggulan dan keistimewaannya sendiri2.

Hoa Thian-hong yang menyaksikan jalannya pertarungan dari sisi kalangan, setelah lewat beberapa gebrakan kemudian ia mulai merasa hatinya goyah dan matanya berkunang-kunang.

Dalam sekejap mata ketiga orang itu sudah saling bergebrak sebanyak lima enam puluh jurus.

Ciong-Lian-Khek, dengan andalkan sebilah pedangnya yang berkilauan tajam laksana kilat menyambar ke sana menusuk kemari, tetapi apa daya kedua orang lawannya adalah jago-jago Bulim yang lihay dan punya nama.

Setelah bertempur lebih jauh akhirnya dari posisi di atas angin ia berada dalam keadaan seimbang dan dari posisi seimbang ia keteter dibawah angin.

Kalau si Ciong-Liau Khek harus bertempur dengan cara keras lawan keras terus-terusan, akhirnya ia pasti akan menderita kalah,” pikir Hoa Thian-hong dalam hati. “Tapi kalau dilihat keadaannya yang sudah dipengaruhi emosi, tak mungkin orang itu suka mengundurkan diri sebelum maksudnya tercapai…..”