Bara Maharani Jilid 03 : Wajah Hitam yang sulit dibersihkan

 
Jilid 03 : Wajah Hitam yang sulit dibersihkan

TERDENGAR gadis cantik yang berada di dalam kereta itu segera berkata: „Biarlah kupikirkan lebih dahulu baru kita bicarakan lagi!”

Kedahsyatan ilmu silat yang dimiliki Oh Sam sukar dicarikan tandingannya dalam kalangan dunia persilatan, tetapi sikapnya terhadap gadis cantik itu ternyata menghormat dan tunduk seratus persen. Mendengar sahutan tadi ia lantas mengiakan dan kembali ke tempat duduknya di depan kereta, sekali sentak tali les, kereta itu kabur kembali ke depan dengan gerakan cepat.

Beberapa saat kembali sudah lewat, kereta kudapun telah keluar dari pintu utara kota Keng-Chiu, mendadak dari balik ruang kereta menggema keluar suara sentilan jari. Diikuti suara dari gadis cantik tadi berkumandang datang:

,,Bawa orang itu ke dalam kereta, aku ada persoalan yang hendak kutanyakan kepadanya”.

Oh Sam segera menghentikan keretanya dan mencengkeram tubuh Hong Po Seng masuk ke dalam ruang kereta, dayang cilik tadi telah membuka pintu kereta, Oh Sam pun segera melangkah masuk ke dalam keretanya:

,,Pemuda ini memiliki berbagai macam ragam kepandaian aneh, siocia barus berjaga-jaga atas kelihayannya!”.

Gadis cantik itu mengangguk ketus, dayang cilik itupun menutup kembali pintu kereta menurunkan korden dan kereta berangkat kembali menuju keutara.

Hong Po Seng duduk dengan punggung bersandar di atas dinding kereta, sepasang matanya berputar ke sana ke mari mencari pedang baja miliknya. Tampaklah dalam ruang kereta sebelah kanan terletak sebuah kursi empuk yang dapat digunakan untuk duduk ataupun tidur, di sudut kiri terdapat sebuah meja kecil, empat belah dinding tertutup oleb korden yang halus dan indah, selembar kulit harimau terbentang di atas lantai, sebuah lantai keraton tergantung di atas kereta dan di atas dinding kereta terdapat sebuah lemari kecil, dalam lemari itu terdapat beberapa macam barang antik serta beberapa jilid buku.

Sambil bertopang dagu gadis cantik itu duduk di atas kursi empuk sementara dayang cilik tadi duduk di atas kasur sutera di bawah kaki majikannya. Tiga buah nampan berisi makanan terletak di atas meja kecil dan sama sekali belum disentuh. Sedangkan pedang baja milik Hong Po Seng tidak nampak bayangannya.

Tiba-tiba terdengar dayang cilik itu menegur dengan suara merdu:

„Hay, siapa namamu?”

„Aku she Hong Po bernama Seng!” sahut si anak muda itu tanpa ragu-ragu, sorot matanya menyapu sekejap ke atas wajah gadis itu kemudian balik tanyanya:

,,Dan siapa pula nama nona berdua?”

Sebagai seorang pemuda yang sejak kecil telah di didik keras oleh ibunya, kesopanan selalu diutamakan olehnya dalam setiap pergaulan.

,.Aku bernama Siauw Ling!” terdengar dayang cilik itu menyahut sambil tertawa. ,.Sedang siocia kami she Pek, siapa namanya ……. Rahasia! Kau tak boleh tanya dan tak boleh tahu”. Hong Po Seng tertawa hambar.

,,Nona Pek, kau memanggil cayhe datang kemari entah ada persoalan apa?”““.

Gadis cantik itu termenung beberapa saat lamanya, kemudian ia baru bertanya dengan suara hambar.

,,Orang yang mewariskan ilrau silat kepadamu apakah pernah membicarakan soal kelihayan dari ilmu pukulan Kioe-Pit-Sin-ciang?”

Hong po Seng mengerti dibalik ucapan tersebut pasti ada sebab-sebabnya, ia jadi terkesiap.

,,Cayhe belum lama terjunkan diri ke dalam dunia persilatan, pengetahuanku sangat cetek dan pengalamanku boleh dibilang belum ada, entah sampai di manakah kelihayan dari ilmu pukulan Kioe-Pit-Sin-ciang itu?”

Ketika didengarnya si anak muda itu sama sekali tidak menyebutkan nama dari yang orang telah mewariskan ilmu silat kepadanya, di atas wajah sang gadis yang cantik jelita itu terlintas senyuman mengejek.

„Hmmm, tidak sampai tiga hari, lengan kirimu bakal jadi cacad! Dapatkah jiwamu tertolong hal ini harus dilihat dari nasibmu, apakah kau punya rejeki atau tidak”.

Hong-po Seng semakin terkesiap mendengar perkataan itu, pikirnya dalam hati:

„Serangan yang dilancarkan Kok See Piauw dalam keadaan tergopoh-gopoh dan gelisah paling banter cuma menggunakan tenaga dua bagian belaka, dan jelas ilmu pukulan „Kioe Pit Sin Ciang” itu tak beracun, kenapa hanya luka yang demikian kecilnya bisa mengakibatkan lenganku jadi cacad? Bahkan menurut gadis ini jiwaku bisa terancam? Aneh sungguh tak habis

mengerti. ”.

Terdengar gadis cantik itu telah berkata lagi dengan nada dingin:

“Kau anggap, aku sedang menakut-nakuti dirimu atau membohongi dirimu? Hmm!”

„Aaaai akupun tahu tiada berguna menakut-nakuti, cuma saja setelah aku terluka, mau sedih atau

menyesal apa gunanya, toh nasi telah berubah jadi bubur!’.

„Hmmm belum tentu begitu, asal kau punya

keinginan untuk tetap melanjutkan bidup, aku punya kepandaian untuk menyelamatkan selembar jiwamu!”.

„Kalau didengar nada pembicaraannya rupa nya

aku harus memohon sendiri ” pikir Hong Po Seng.

oooOooo

Dari sikap lawannya yang termenung tak bicara, gadis cantik itu mengerti bahwa hatinya sudah digerakkan oleb perkataannya barusan, ia lantas tertawa hambar.

„Semua orang yang di kolong langit banya tahu bahwa ilmu pukulan „Kioe Pit Sin Ciang” adalah suatu ilmu pukulan yang sangat lihay, namun tak seorangpun yang tahu di manakah letak kelihayannya, yang dimaksudkan

„Kioe Pit Sin” di sini sama sekali bukan berarti akibat pukulan yang berpatah-patah jadi sembilan bagian”.

„Aaah! benar, semestinya orang-orang baru bisa berpikir sampai kesitu” batin Hong Po Seng ketika mendengar gadis itu menghentikan pembicaraannya, terpaksa ia buka suara;

,,Pengetahuan maupun pengalaman nona sangat luas, hal ini membuat cayhe merasa amat kagum, tapi aneh apa yang dimaksudkan sebagai „Kioe Pit” dalam ilmu pukulan ini?”.

„Ilmu pukulan ini aneh dan istimewa sekali, bagi korban yang terkena oleh pukulannva, dilarang makan sekenyang-kenyangnya dilarang minum sepuas-puasnya, dilarang bergembira berlelebihan, dilarang sedih kelewatan batas, tak boleh kedinginan dan tak boleh kepanasan ….. ”.

Berbicara sampai di sini, sinar matanya dialihkan keatas ujung baju Hong Po Seng yang terbakar hangus oleh api, serentetan sikap mengejek terlintas di atas wajahnya.

Hong Po Seng tertegun dan melongo, pikirnya:

,,Aaah, benar. Setelah aku terluka mula-mula tubuhku kepanasan oleh kobaran api kebakaran, setelah itu aku kedinginan oleh tiupan angin dan salju, setelah itu harus berlarian dan bertempur semalam suntuk, tenta saja keadaan bertempur runyam …”.

Tiba-tiba ia teringat kembali sewaktu kemarin malam masih berada di dalam lorong rahasia milik keluarga Chin, waktu itu ia pernah jatuh pingsan satu kali dan hampir saja jatuh terjengkang, hanya saja ketika itu peristiwa tersebut sama sekah tidak diperhatikan, kini ia sadar dan menjadi paham, jelas itulah akibatnya dari kambuhnya luka bekas terkena pukulan. „Siauw-Ling! bebaskan jalan darahnya yang tertotok” merdadak terdengar gadis cantik itu berseru.

Dayang cilik itu manis, ia rnendekati sisi tubuh Horg Po Seng kemudian menggerakan telapaknya menabok di atas jalan darah “Thin-Ci” di tubuh pemuda tersebut.

„ Sudah cukup?” tanyanya kemudian sambil tertawa

,,Bebaskan pula jalan darah Tiong-Kheknya!”.

Buru-buru dayaitg cilik itu menepuk pula di atas jalan darah „Tiong-Khekhiat” sehingga jalan darah yang tertotok itu segera tergetar bebas.

Diam-diam Hang Po Seng mengatur pernapasannya dan mengalirkan hawa murni ke seluruh tubuhnya, ia bermaksud hendak melancarkan peredaran darah dalam badannya.

Siapa sangka tiba-tiba kepalanya pusing tujuh keliling, seluruh tubunya bergetar keras kemudian roboh terjengkang ke atas lantai, seketika itu juga ia jatuh tak sadarkan diri.

Ucapan dan gadis itu sedikitpun tidak salah, ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang yang muncul pada saat ini jauh berbeda dengan sepuluh tahun berselang, kekejaman kesedihan, serta kehebatan racunnya boleh dibilang mematikan setiap korban yang terkera oleh pukulan tersebut, hanya saja selama sepuluh tabun Boe Liang Sin Koen tak pernah tinggalkan goa pertapaannya sedangkan Kok See Piauw pun belum lama terjun ke dalam dunia persilatan, sampai di manakah kehebatan dari ilmu pukulan tersebut hanya beberapa orang saja yang tabu. Ketika menjumpai Hong Po Seng jatuh tak sadarkan diri di atas lantai, dayang cilik itu segera berjongkok dan memeriksa tubuh pemuda tersebut, katanya kemudian:

„Siocia, apakah kau hendak menerima orang ini sebagai pembantu kita? ”.

Dengan ujung jarinya yang dibasahi oleh air ludah ia gosok-gosok wajah Hong Po Seng yang tajam pekat itu keras, ujungnya lebih jauh:

,,Andaikata wajah orang ini tidak dipoles dengan obat penyaruan, aku pikir ia pasti tampan dan menarik!”.

„Coba kau totok jalan darah “Jien Tiong”nya!” terdengar gadis cantik itu menitahkan.

Mendengar perintah dari majikannya dayang cilik itu segera melancarkan sebuah rotokan di bawah lekukan hidung pemuda tersebut, seluruh tubuh dan kulit badan Hong Po Seng tergetar keras, dalam waktu singkat ia siuman kembali dari pingsannya.

,,Heng po Seng, dengarkan baik-baik!” kata gadis cantik itu dengan wajah adem. Aku bernama Pek Koen Gie Pek Loo Pangcu ketua dari perkumpulan Sin Kee Pang adalah ayahku!”

Sejak semula Hong po Seng telah menduga sampai di situ maka ia tidak sampai kaget setelah mendengar pengakuan dari dara ayu tersebut, sepasang telapaknya segera menekan ke atas lantai coba merangkak bangun.

Siapa sangka karena sedikit mengerahkan tenaga itulah luka di atas bahu kakinya terasa amat sakit hingga merasuk ke dalam isi perutnya, tubuh jadi lemas dan sekali lagi ia roboh terjengkang di atas lantai. Dayang cilik yang ada di sisinya segera memayang ia bangun, katanya:

,,Eeeea kau harus sedikit tahu diri, jangan sampai menjengkelkan atau menggusarkan siocia kami!”.

,,Terima kasih atas perhatian diri nona cilik” sabut Hong po Seng tertawa hambar. ,,Entah nona Pek masih ada petunjuk apa lagi? Cayhe siap mendengarkan dengan seksama!”.

Setelah jatuh pingsan dan siuman kembali, wajah pemuda itu dari hitam pekat kini berubah jadi kuning pucat, sepasang matanya suram tak bersinar, suaranya untuk berbicara pun lemah tak bertenaga, seakan-akan seseorang yang sedang menderita sakit parah.

Pek Koen Gie sema sekali tidak terharu oleh keadaan orang, katanya perlahan-lahan:

,,Kemarin malam di rumah keluarga Chin Pek Cuan telah terjadi peristiwa, kebetulan kaupun berada di kota Keng-chiu, bahumu terluka oleh pukulan, pakaianmu terbakar sebagian oleh api, jelas tak bisa dipungkiri lagi kau pasti sudah turut campur dalam peristiwa itu bukan begitu?”.

Semangat Hong Po Seng segera berkobar setelah mendengar dara itu mengungkap kembali peristiwa di keluarga Chin.

"Nama besar Boe Liang Sin Koen telah menggetarkan seluruh Liok lim, ia mempunyai seorang murid yang bernama Kok See Piauw, meski ilmu silat yang dimilikinya jauh lebih kuat dari aku orang she Hong Po, menurut pendapat caybe, alangkah baiknya kalau pihak perkumpulan Sin Kee Pang jangan ikut campur dalam persoalan keluarga Chin ini”. Pek Koen Gie dapat menangkap arti lain dalam perkataan tersebut, jelas pemuda itu sedang menyindir perkumpulan Sin Kee Pang yang sedang membaiki Kok See Piauw dengan harapan bisa menggaet Boe Liang Sin Koen berpihak kepada mereka, diam-diam dia jadi naik pitam:

„Pihak perkumpulan Sin Kee Pang kami telah kehilangan tiga orang dan kematian seorang Hoe Hoat” serunya sambil tenawa dingin. ,,Apakah hutang darah ini harus kami catat atas namamu!”.

,,Hmmm. ketiga orang itu telah kubacok mati semua, mayat mereka telah kulempar ke dalam kobaran api, saat ini mungkin abunya pun sudah musnah terhembus angin. Kalau memang kalian mau mencari balas, catat saja keempat lembar jiwa itu atas namakul”

Pek Koen Gie mendengus dingin, dalam waktu singkat di atas wajahnya yang cantik jelita terlintas hawa dingin yang menggidikkan hati.

,,Hmmm kau tak usah menanggung dosanya Chin Pek Cuan, selama mereka ayah dan anak masih hidup di kolong langit, cepat atau lambat pasti akan terjatuh ke dalam jaring perkumpulan Sin-Kie-Pang!”.

Hong-po Seng jadi sangat gelisah.

,,Nona kau sengaja mengucapkan kata-kata seperti ini bukankah kasarnya ada maksud memaksa diri cayhe?

Entah kau ada perintah apa yang hendak diutarakan kepada cayhe, katakanlah asal aku Hong-po Seng dapat kerjakan pasti akan kulakukan”. Pek Koen Gie tertwa dingin.

,,Rupanya kaupun terhitung seorang manusia cerdik!” ia merandek sejenak. ,,Anak buah perkumpulan Sin-Kee- Pang bukanlah manusia yang boleh dibunuh oleh orang luar, andaikata kau ingin melepaskan diri dari persoalan ini satu-satunya jalan hanya menyumbang tenaga bagi perkumpulan kami. Mengingat usiamu masih muda, kepandaian silatmu tidak lemah dan merupakan seorang manusia berbakat yang punya kemungkinan besar untuk maju, persoalan yang telah lewat tak akan kubicarakan lagi, aku tanggung jika keluarga Chin tidak akan mengalami ancauan bahaya apapun!”.

Mula-mula Hong-po Seng tertegun, kemudian ia jadi paham dengan duduknya perkara.

,,Oooh, ternyata huhungan antara nona dengan Boe- Liang san bukan hanya hubungan biasa, kalau tidak tak nanti kau berani mengucapkan kata-kata sesumbar itu!”

,,Hanya mendengar nada ucapanku saja ia bisa menebak maksudnya, kecerdikan orang ini benar-benar sukar dicarikan tandingannya di kolong langit ” diam-

diam Pek Koen Gie berpikir.

Melihat ia sedang pejamkan mata seolah-olah lagi berpikir, iapun segera menanti dengan tenang tanpa mengganggu.

Hong po Seng diam-diam memikirkan kembali situasi yang dihadapi sekarang, dimulai dari keselamatan keluarga Chin ibunya yang meagasingkan diri di atas bukit, serta nama ayahnya almarhum yang cemerlang dalam Bu-lim akhirnya ia tertawa getir. „Nona!” katanya kemudian. „Tidak sulit bagiku untuk menggabungkan diri menjadi anggota perkumpulan Sin- Kie Pang, tapi kesulitan justru terletak pada ketidak tulusan hatiku, aku tak dapat bersikap setia dengan sepenuh hati kepada kalian. Nona, bagaimana pandanganmu mengenai hal ini ?”

,,Persoalan itu tidak sulit untuk diatasi” jengek Pek Koen Gie sambil tertawa dingin. ,,Kalau kau berani mengkhianati perkumpulan, maka kau akan kuhukum menuruti peraturan, aku rasa hal ini bukan merupakan satu kesulitan”.

Ia merandek sejenak, lalu tambahnya :

,,Menurut penglihatanku, kesulitan justru terlerak pada upacara untuk masuk jadi anggota, aku takut kau sulit untuk menuruti!”.

,,Upacara masuk jadi anggota bagaimana maksudmu

?? tolong nona suka menjelaskan!”.

„Hmm, kalau dibicarakan semestinya sederhana dan gampang sekali, cukup asal kau suka berlutut dibadapanku, mendengarkan nasehat serta teguranku kemudian mengijinkan aku menancapkan tiga batang jarum beracun penempel tulang di atas tubuhmu maka secara resmi kau telah kuterima sebagai anggota perkumpulan Sin Kie Pang. Bagaimana? apakah kau perlu mempertimbangkan lagi?”

Merah padam selembar wajah Hong-po Seng begitu selesai mendengar perkataan itu, hawa amarah yaog bergelora dalam rongga dadanya sukar dikendalikan lagi. Saking gusarnya luka di atas bahunya seketika kambuh kembali, pandangan jadi gelap dan sekali lagi ia jatuh tak sadarkan diri . . .

,,Siocia, kenapa kau ajukan peraturan seperti itu?” terdengar dayang cilik itu menegur dengan wajah tertegun bercampur tercengang. Dahulu belum pernah kudengar ada peraturan semacam ini!”

Pek Koen Gie tertawa dingin.

„Watak serta tabiat orang ini kukoay sekali, kalau dikatakan ia tidak takut mati ternyata ia sangat takut menghadapi kematian, kalau dikatakan takut mati ternyata ia mempunyai sikap memandang suatu kematian bagaikan pulang ke rumah, terhadap manusia semacam ini siapapun bisa dibikin apa boleh buat, oleh karena itu aku perlu menghina dirinya habis-habisan, bila ia berani menghianati diriku maka sekali hantam akan kubereskan selembar jiwanya”.

Dayang cilik itu seperti mengerti seperti pula tidak mengerti atas pembicaraan majikannya, terdengar ia berkata:

„Orang ini sangat cerdik, ilmu silatnya tentu bagus juga bukankah lebih baik kalau siocia menerima menjadi pembantu yang setia??”.

Sambil berkata ia totok kembali jalan darah ”Jien Tiong” di lekukan hidung Hong-po Seng, pemuda itupun siuman kembali.

Perlahan-lahan si anak muda itu membuka matanya, mententeramkan hatinya dan berpikir: „Sebelum persoalan-persoalan yang dibebankan kepundakku kuselesaikan secara baik, aku tidak boleh mati. sebab kalau tidak aku bakal menyia-nyiakan jerih payah ibuku sela na ini. Tetapi kalau disuruh aku menerima penghinaan yang demikian besarnya, mungkin sukrna ayah yang berada di alam baka pun akan ikut merasa malu sebinpga sepanjang masa beliau tak bisa pejamkan mata. Aaaa sungguh bikin aku jadi serba

salab, nana yang harus kulakukan?”.

Semakin dipikir kepalanya makin pusing, hatinya makin putus asa mendadak ia mendongak, sinar

matanya terbentur dengan sorot mata gadis itu empat mata terbentur jadi satu mengakibatkan sekujur tubuh Hong Po Seng bergetar keras saking kagetnya.

Sepasang alis Pek Koen Gie kontan berkerut, ujarnya dengan nada dingin:

,,Apakah kau telah mengambil keputusan??”.

Hong Po Seng mententeramkan kembali hatinya dan memandang lagi ke atas wajah gadis itu, ia temukan di balik biji matanya yang jeli terkardung sifat kejam yang amat sangat, tanpa terasa pikirnya dalam hati:

,,,Gadis ini tentu mempunyai dendam sakit hati lain terhadap diriku, kalau tidak mengapa ia begitu benci dan sakit hati terhadap diriku?? ”

Mana ia tahu Pek Koen Gie sejak kecil sudah terbiasa dimanjakan. belum pernah ia mengalami penghinaan ataupun pandangan rendah dari orang lain, sebagai orang yang halus di luar keras di dalam sudah tentu hatinya tersinggung terlebih dahulu tatkala gadis itu mengetahui bahwa Hong Po Seng sama sekali tidak memandang sebelah matapun terhadap perkumpulan Sin Kee Pang yang besar itu.

Ditambah pula kecantikan wajah Pek Koen Gie bagaikan bidadari, setiap berjumpa dengan dirinya tentu tertarik dan terpesona oleh kecantikan wajahnya, siapa tahu Hong-po Seng bukan saja tidak tertarik kepadanya, bahkan seakan-akan menganggap kecantikan wajahnya hanya suatu kejadian yang lumrah dan tak usah dikejutkan, tentu saja gadis itu merasa amat tersinggung, gengsinya terasa diturunkan oleh sikap pemuda itu.

Hal inilah yang menyebabkan timbulnya rasa sakit hati dan benci dalam hati gadis she Pek itu, ia bersumpah hendak membalas dendam, ia berjanji hendak menghina pemuda itu habis-habisan.

Lama sekali Hong po Seng termenung dan mempertimbangkan persoalan itu, tapi ia belum berhasil juga melepaskan dari simpul mati tersebut, akhirnya sambil menghela napas pikirnya :

,,Meskipun ini hari aku menyerah, belum tentu ia mau melepaskan diriku dengan begini saja, penghinaan yang lebih besar tentu akan kualami dikemudian hari. Daripada menanggung derita dan siksaan lebih baik kusudahi saja hidupku sampai di sini.

Setelah mengambil keputusan demikian, ia lantas mendongak dan berkata: ,,Nona, cayhe sudah mengambil keputusan.”

Badannya lemah tentu saja hal ini mempengaruhi suaranya hingga kedengaran amat lirih, mendadak Pek Koen Gie naik pitam, tanpa menantikan selesainya ucapan itu katanya:

,,Manusia konyol, apa yang hendak kau katakan? kalau bicara jangan lemah lembut seperti cacing kepanasan, utarakanlahdengan sedikit bersemangat ”

„Bagus! bagi cayhe urusan mati hidup adalah suatu peisoalan kecil, sebaliknya kehormatan dan gengsi adalah masalah besar, aku telah mengambil keputusan untuk menempuh jalan mati saja!”

Pek Koen Gie semakin naik pitam setelah mendengar perkataan itu, dengan tangan kaki gemetar serunya.

,,Kalau sekarang juga kubereskan jiwamu. Hmm, terlalu enakan bagimu” Berbicara sampai di situ ia

lantas ulapkan tangannya ke arah Siauw Leng.

Melihat kode majikannya dayang cilik itu buru-buru mengetuk dinding kereta. Kereta kuda itu segera berhenti, pintu di buka dan Oh Sam melongok ke dalam.

Siauw Leng segera memberi tanda, tanpa mengucapkan sepatah katapun Oh Sam mencengkeram tubuh Hong-po Seng dan dibawa keluar dari ruang kereta.

Sejak semula Hong-po Seng sudah tiada tenaga untuk memberikan perlawanan, iapun menyadari bila hawa amarahnya berkobar niscaya ia bakal jatuh tak sadarkan diri, oleh sebab itu sambil menahan rasa mangkel dan sedih yang berkecambuk dalam hatinya, ia biarkan dirinya dibawa keluar kereta , dan meneruskan perjalanan menuju ke Utara. Ilmu pukulan Kioe Pit Sin Ciang benar-benar sangat lihay, hasil latihan Hong po Serg yang susah payah selama banyak tahun ternyata tidak sanggup menahan sebuah gebukan ringan ilmu pukulan tersebut. Kini terhembus oleh angin dingin dan badai salju, ditambah pula rasa lapar yang tak terhingga dalam waktu singkat ia jatuh pingsan kembali.

Oh Sam cuma melirik sekejap ke arahnya, sedikitpun orang ini tidak menunjukkan rasa kasihan, simpatik ataupun maksud untuk menolong, sikapnya acuh tak acuh.

Di musim salju yang dingin siang jauh lebib rendek dan malam, ketika sore hari baru menjelang tiba diudara sudah gelap gulita, sejak jatuh tak sadarkan diri tadi Hong-po Seng belum sadar kembali, sementara Oh Sam pun melarikan kereta kudanya cepat-cepat menuju ke luar kota Seng-Chiu.

Mendadak suara derap kaki kuda yang amat santar berkumandang datang dari arah depan belasan ekor kuda jempolan dengan gagah dan cepatnya menerjang keluar dari balik pintu kota menyongsong kedatangan mereka. Dari jauh memandang rombongan tersebut. Oh Sam segera menghardik keras: „Siapa di situ???”.

,,Yang baru datang benarkah Oh San ya??” sahutan nyaring menggema tiba.

Sementara pembicaraan masih berlangsung ke dua belah pihak telah saling berdekatan, terdengar suara ringkikan kuda menjulang keangkasa, dua belas orang mendatang bersama-sama loncat turun dari atas kuda dan berdiri penuh rasa bormat di depan pintu kereta.

Korden kereta tersingkap, Pek Koen Gie menengok sekejap keluar sambil bertanya:

,,Loe Hoen Tongcu, kalian datang kemari dengan menggembol senjata tajam apakah telah terjadi suatu peristiwa diluar dugaan??”.

Pria kekar yang menggembol golok besar bergagang emas pada punggungnya itu segera maju menjura, lalu menjawab:

„Barusan hamba sekalian memperoleh laporan kilat yang mengatakan di dusun sebelah timur telah kedatangan serombongan manusia yang sangat mencurigakan, keadaan mereka seperti orang yang sedang meugungsi . . “.

,,Aku akan menantikan laporanmu di ruang kantor cabang” tukas Pek Koen Gie tanpa menantikan orang itu menyelesaikan kata-katanya. ,,Andaikata rombongan itu adalah keluarga dari Chin Pek Cuan, segera tangkap semua dan gusur kedalam kantor, jangan lepaskan barang seorangpun diantara mereka dan jangan kalian celakai pula jiwa mereka!”

Habis berkata ia ulapkan tangannya.

Orang she Loei itu mengiakan dengan penuh rasa hormat, diikuti oleh anak buahnya masing-masing meloncat naik ke atas kudanya.

Mendadak Oh Sam meloncat ke depan jendela katanya

:

,,Chin Loo jie adalah seorang manusia pemberani

sudah tersohor akan kekerasan hatinya ia tak sudi menyerah kepada musuhnya dan tidak takut mati untuk menangkap beberapa orang itu hidup-hidup, hamba rasa beberapa orang ini masih belum mampu untuk melakukannya”.

„Ehmm, kalau begitu kaupun ikut pergi!”.

Seketika ada seseorang yang menyerahkan kuda tunggangannya untuk Oh Sam sedang ia sendiri menggantikan kedudukan sebagai kusir kereta.

Dalam waktu singkat Oh Sam beserta orang-orang itu telah berlalu dari Kereta kuda masuk ke dalam kota dan langsung menuju ke markas perkumpulan Sin Kee Pang cabang kota Seng Chiu, Pek Koen Gie turun dari kereta mengangguk terhadap orang-orang yang menyambut kedatangannya kemudian langsung menuju ke ruang dalam.

Siauw Leng dengan menjinjing sebuah kotak terbuat dari emas menyusul di belakangnya diikuti orang yang bertindak sebagai kusir tadi membopong lubuh Hong po Seng.

Orang itu membawa tubuh pemuda she Hong po ini menuju ke sebuah ruang besar dan menyandarkan dirinya di atas sebuah kursi besar, sementara meja perjamuan telah dipersiapkan di tengah ruangan.

Selesai cuci muka dan ganti pakaian Pek Koen Gie muncul dalam ruangan itu diiringi serombongan wanita.

Pek Koen Gie duduk di kursi utama, dua orang wanita mengiringi dikedua belah sampingnya sedang sisanya mengitari di depan meja, terdengar suara pembicaraan yang nyaring dan ramai berkumandang memenuhi seluruh ruangan, semua orang bergembira ria kecuali Pek Koen Gie seorang, wajahnya selalu murung dan kesal jarang sekali ia buka suara untuk bercakap-cakap apalagi tertawa.

Di tengah perjamuan, seorang dayang muncul sambil membawa sebuah nampan, di atas nampan terletak secawan air jahe serta sembilan buah mangkok kecil, dalam mangkok masing-masing diisi dengan cuka, minyak kayu putih, arak kuning, air jeruk serta pelbagai macam obat-obatan lainnya dan segumpal kapas Siauw Leng tertawa cekikikan, dengan wajah berseri-seri ia mendekati tubuh Hong po Seng, mula-mula ia cekoki pemuda itu semangkok air jahe, kemudian dengan menggunakan kapas yang dicelupkan ke dalam minyak kayu putih ia mulai menggosok wajah Hong po Seng yang berwama hitam pekat itu.

Sepertanak nasi telah lewat namun warna hitam di atas wajah Hong po Seng sama sekali tak luntur ataupun berubah, maka Siauw Leng mengambil lagi segumpal kapas yang direndam dengan air cuka, namun obat perubah warna itu benar-benar sangat hebat, meski sudah digosok berulang kali hasilnya tetap nihil, wajah Hong po Seng tetap hitam pekat seperti sedia kala.

Siauw Leng jadi amat kecewa, melibat si anak muda itu mulai mendusin kembali ia segera goyang-goyangkan tubuhnya sambil berteriak keras ,,Hey Hong po Seng, sebenarnya wajahmu sudah kau polesi dengan obat apa?”

Pek Koen Gie sendiripun merasa ingin tahu bagaimana gerangan wajah sebenarnya dari pemuda itu, ia berhenti minum dan alihkan sinar matanya ke arah sana, demikian pula dengan puluhan pasang mata lainnya berbareng dialihkan ke atas wajah Hong po Seng.

Pemuda she Hong po yang baru saja mendusin dan pingsannya hanya memandang sekejap ke arah sekelilingnya dengan wajah mendelong lama sekali ia baru bertanya ;

„Nona apa yang kau tanyakan?”

„Eeei”, wajahmu telah kau polesi dengan obat apa?” teriak Siauw Leng.

Hong po Seng tahu kematian tak akan terbindar dari dirinya, ia jadi malas buka suara. tapi iapun takut dayang cilik itu ribut tiada bentinya maka ia menyahut:

,,Sejak aku berusia tujuh tahun, setiap hari wajahku kugosok dengan air obat, tiga tahun kemudian wajahku telah berubah jadi begini dan mungkin selama hidup wajahku tak akan pulih kembali seperti sedia kala, nona cilik aku lihat lebih baik kau tak usah buang tenaga dengan percuma”

,,Hey. sampai di mana sih kelihayan dari rnusuh- musuh besarmu??” hingga kau pandang persoalan yang kecil jadi masalah besar??” mendadak terdengar Pek Koen Gie mendengar dengan suara dingin.

Sorot mata Hong-po Seng berkilat, ia melriik sekejap ke arahnya seakan-akan hendak mengucapkan sesuatu namun akhirnya ia batalkan maksud tersebut dan pejamkan kembali matanya.

Siauw-Leng si dayang cilik jadi kheki, sambil mencibirkan bibirnya ia menyingkir dari situ. Perempuan yang duduk di sebelah sisi Pek Koen Gie mendadak menimbrung dengan suara lantang :

,,Hey bocah muda, perduli siapakah musuh besarmu asal kau mohonkan bantuan serta perlindungan dari siocia kami, meski Thian Ong Loo-cu ataupun Giok-Hong- Thay Tie tak nanti mereka berani mengganggu selembar jiwamu!”.

Hong-po Seng tetap pejamkan matanya dengan mulut membungkam, terhadap ocehan perempuan tersebut ia sama sekali tidak ambi gubris.

Diam-diam Pek Koen Gie jadi mendongkol, ia angkat cawan araknya dan sekali teguk menghabiskan isinya, mendadak satu ingatan berkelebat dalam benaknya, ia berpikir :

,,Senang hidup takut mati adalah kebiasaan dari manusia, sekarang ia berlagak angkuh dan sombong tidak lebih karena terdorong oleh emosi belaka, asal aku dapat memancing rahasia hatinya dan berhasil mengetahui kelemahannya maka ia akan takut menghadapi kematian, asal dalam hatinya sudah timbul rasa takut menghadapi kematian, tidak terlalu sulit bagiku untuk menaklukan dirinya”.

Berpikir demikian ia lantas tertawa dingin katanya:

,,Hong Po Seng, kematianmu telah berada di ambang pintu, bila kau masih terdapat pekerjaan atau tugas yang belum sempat diselesaikan utarakan saja kepadaku, mengingat kau mempunyai beberapa bagian semangat seorang ksatria, setelah kau mati aku dapat perintakan orang-orang untuk menyelesaikannya!”.

„Antara kau dengan aku terpisah oleh paham yang berbeda, aku rasa tidak baik kalau kita beterjasama” tampik Hong Po Seng dengan suara hambar, matanya melotot besar. „Maksud baik dirimu lebih baik kuterima di dalam hati saja, aku tak berani merepotkan diri nona”.

Meski ia diluar bicara demikian, dalam hati terbayang kembali wajah ibunya yang penuh kasih sayang, teringat kembali ucapan ibunya bahwa hanya teratai racun empedu api saja yang dapat menyembuhkan sakitnya serta memulihkam kembali kepandaian silatnya, tanpa sadar titik air mata jatuh berlinang membasahi pipinya.

Haruslah diketahui bagi orang ksatria lebih baik mati terbunuh daripada menerima penghinaan, meskipun Hong Po Seng mempunyai keinginan untuk melanjutkan hidup namun andaikata ia disuruh berlutut di hadapan Pek Koen Gie sambil mendengarkan nasehat serta tegurannya, hai itu boleh dibilang merupakan suatu penghinaan yang maha besar bagi seorang manusia, juga merupakan penghinaan terhadap keluarga kakek moyangnya. Oleh karena itu setelah dipikirkan pulang pergi, ia merasa kematian adalah jalan yang terbaik baginya untuk ditempuh.

Kini terpancing oleh Pek Koen Gie, tanpa sadar air mata telah membasahi wajahnya.

Pek Koen Gie pribadi sebagai seorang putra pangcu yang paling berkuasa di kolong langit pada hari-hari biasa selalu andalkan kekuasaan ayahnya untuk berbuat sewenang-wenang, mengikuti adatnya setelah Hong Po Seng menyinggung perasaan halusnya sebagai seorang wanita, ia bersumpah untuk membalas dendarn sakit hati ini. Sekarang melihat si anak muda itu telah mengucurkan air matanya, ia jadi girang, biji matanya mengerling sekejap kearah Siauw Leng memberi tanda.

Siauw Leng adalah seorang dayang yang masih muda, watak kekanak-kanakkannya belum hilang, ia takut sebelum sempat melihat wajah sebenarnya dari Hong-po Seng dia keburu mati, maka menjumpai keringanan mata majikannya, ia segera mengambil semangkok nasi dan diberikan kepada seorang dayang disisinya sambil berpesan :

„Lengan toaya itu tidak leluasa uatuk bergerak, cepat kau suapin dirinya hingga kenyang!”.

Hong-po Seng sudah seharian penuh tidak bersantap, perutnya sejak semula sudah terasa amat lapar, dalam keadaan seperti ini diapun ogah untuk memperhatikan adat istiadat lagi, di bawah suapan dayang tadi dalam waktu singkat ia telah menghabiskan dua mangkok nasi.

Suasana di dalam ruaagan ini nyaman dan hangat, selesai bersantap merasa semangatnya pulih kembali, keempat anggota badannyapun sudah mulai terasa segar, maka ia lantas pejamkan matanya diam-diam mengatur napas.

Setelah menderita siksaan seharian penuh, semangat dan kekuatan Hong-po Seng mengalami kerusakan yang sangat hebat, dalam semedinya ia temukan seluruh urat- urat penting di atas bahu kirinya telah tersumbat, meski lengan kirinya mungkin jadi cacad nanun jiwanya masih dapat diselamatkan, maka dari itu ia tidak terlalu merasa kuatir. Selesai berlatih beberapa saat lamanya ia merasa badannya jadi lelah, pandangannya berkunang dan ia tertidur nyenyak.

Pek Koen Gie sendiri selesai bersantap berbicara sejenak dengan perempuan-perempuan itu, karena hatinya murung ia segera berpamitan dan kembali kekamarnya.

Siauw Leng mengikuti majikannya duduk tepekur di atas meja lama kelamaan ia sendiri terlelap dalam

tidurnya.

Kentongan ketiga kentongan keempat.,.

kentongan kelima ayam mulai berkokok suara ketukan Bok Hie dari kaum paderi berkumandang di tengah kesunyian.

Mendadak terdergar suara derap kaki kuda secara lapat-lapat berkumandang datarg. Pek Koen Gie tersentak bangun dari tidurnya, sepasang biji mata yang bening memancarkan cahaya tajam, tanpa sadar ia melirik sekejap kearah Hong Po Seng.

Siauw Leng pun tersentak bangun dari tidurnya, dengan mata masih mengantuk ia beiseru:

,,Siocia. apakah air tehnya sudah dingin?”

Hong po Seng pun baru saja mendusin dari tidurnya, mendengar suara hiruk pikuk di luar ruangan yang bercampur dengan isak tangis kaum wanita dan bocah cilik mula-mula ia tertegun, sementara suara gaduh tadi sudah semakin dekat dengan ruangan mereka.

Mendadak korden tersingkap. Oh Sam masuk ke dalam lebih dabulu diikuti anak buah kantor cabang kota Keng Chiu yang menggusur sembilan orang tawanan, dalam waktu singkat mereka sudah berada dalam ruangan semua.

Diam-diam Hong po Seng melirik sekejap ke arah orang-orang itu, ia temukan salah seorang dara berbaju hijau yang ada di situ bukan lain adalah Chin Wan Hong puteri kesayangan dari Chin Pek Cuan, dengan hati terperanjat ia loncat bangun, teriaknya ;

,,Nona Chin, dimanakah ayahmu?”

Waktu itu Chin Wan Hong sedang memayang seorang nenek tua yang rambutnya telah beruban semua, melihat kemunculan Hong-po Seng di tempat itu ia berdiri tertegun, lama sekali baru sahutnya ;

,,Ayah serta engkohku menguatirkan keselamatanmu maka kemarin malam mereka memisahkan diri untuk mencari dirimu, sekarang entah mereka berada dimana???”.

Dengan tajam ia perhatikan sekejap wajah pemuda itu lalu tanyarya berubah:

,,Kau terluka parah ???”. Hong-po Seng menggeleng.

,,Tidak terlalu menguaitrkan !”.

Sinar matanya rnerayap sekejap kesekeliling ruangan, ia temukan diantara sembilan orang lainnya ada enam orang adalah perempuan dan seorang adalah bayi yang masih kecil, di samping itu terdapat seorang kakek berjubah hijau serta seorang pria berusia tiga puluh tahunan, tubuh mereka berdua telah basah oleh lepotan darah segar, sepasang tangannya dibelenggu di atas panggung. Oh Sarn berjalan mendekati majikannya lalu membisikkan sesuatu kesisi telinganya, Pek Koen Gie segera mengangguk tiada hentinya.

,,Chin Wan Hong!” mendadak ia menegur dengan nada dingin. „Tiga orang manusia dari kantor cabang kota Keng-Chiu apakah mati di tangan kalian ayah dan anak???”.

Hong-po seng cepat berpaling, dengan wajah gusar timbrungnya dari samping:

“Bukankah cayhe sudah berkata berulang kali, ketiga orang itu modar diujurg pedang bajaku. mengapa nona menuduh orang lain yang bukan-bukan??”.

Pek Koen Gie tertawa seram.

„Baiklah. siapa duluan siapa belakangan sama saja!” ia menoleh dan menambahkan “Loe Tongcu perintahkan orang untuk siapkan alat siksaan! ”

Untuk menyiksa seseorang caranya berbeda jauh dengan cara membunuh orang, ketika dilihatnya Hong-po Seng sama sekali tidak dibelenggu dan takut si anak muda itu mcmberikan perlawanannya hingga anak buahuya tak sanggup melayani, mendengar perintah tersebut buru-buru Loe Hoen Tongcu menjura.

,Biarlah hamba turun tangan sendiri!”.

Tangannya berkelebat mencabut keluar golok besar gagang emas dari atas punggungnya kemudian dengan langkah lebar maju ke depan.

Hong-po Seng putar otaknya dengan cepat ia tahu percuma baginya untuk melawan, maka sambil bulatkan tekad ia berdiri tak berkutik di tempat semula. Selangkah demi selangkah Loe Hoen Tong berjalan semakin dekat, kaki-kakinya mendadak ditekuk, tiga jari tangan kirinya menusuk kehadapan matanya sementara lengan menggapai membacok-bacok kepala lawan.

Cahaya emas tampak berkelebat lewat, sebentar lagi batok kepala Hong Pe Seng bakal berpisah dengan badannya”.

Mendadak Chin Wan Hong menjerit, keras dan membentak sambil menahan isak tangis;

,,Turggu sebentar!”.

Loe Hoen Tongcu terperanjat dia ingin menarik kembali serangannya namun tak sempat, disaat yang kritis itulah mendadak pergelangan tangannya terasa bergetar keras, tahu-tahu golok emasnya sudah lerjepit oleh dua jari tangan Oh Sam.

Kendati begitu tak urung leher kiri Hong po Seng termakan juga oleh bacokan tersebut hingga muncul sebuah bekas luka yang panjangnya mencapai dua coen, darah segar-segar mengalir keluar dengan derasnya.

Bagaimanapun juga Oh Sam adalah pelayan lama keluarga Pek, dengan mata kepala sendiri ia saksikan Pek Koen Gie menginjak dewasa, terhadap tabiat serta tingkah laku majikan mudanya ini ia mengetahui sangat jelas, ia tahu andaikata majikannya ada niat membinasakan Hong po Seng, sejak semula pemuda itu telah dibunuhnya! jiwa si anak muda itu dapat selamat hingga kini jelas menunjukkan kalau ia mempunyai tujuan lain karena itulah disaat yang kritis ia telah menjepit gagang golok orang. „Loe Hoen tongcu tunggu sebentar!” serunya. “Siocia sedang menyelidiki siapakah pembunuh yang sebenarnya dari ketiga orang kita, coba kita dengar dulu apa yang hendak diucapkan perempuan itu!”

Lolos dari lubang kematian Hong po Seng merasakan hatinya jadi kosong. setelah termangu-mangu beberapa saat lamanya ia baru berpaling ke arah Chin Wan Hong.

Tampaklah sepasang mata gadis itu telah basah oleh air mata, timbul rasa iba dan kasihan dalam hati kecilnya segera ia berkata:

„Nona Chin, sebetulnya aku tidak ingin memberitahukan kepadamu, tapi setelah kejadian berubah jadi begini akupun terpaksa harus berbicara sesungguhnya.

Chin Wan Hong mengangguk.

,,Apa yang hendak kau katakan, utarakanlah keluar, bila tidak ingin dikatakan janganlah kau ucapkan!”.

Hong-po Seng tertawa ramah,

„Ayahmu telah melepaskan budi yang tak terhingga besarnya kepada keluarga Hong-po kami, aku Hong po Seng sengaja datang ke kota Keng Chiu bukan lain adalah untuk membalas budi kebaikan tersebut. Setelah terjadinya penstiwa seperti ini kendati aku Hong-po Seng harus mengorbankan selembar jiwaku keselamatan seluruh keluarga Chin harus kupertahankan terlebih dahulu, kalau tidak aku bakal malu pulang ke rumah, daripada tugasku tak terselesaikan lebih baik aku mati di sini saja”. Chin Wan Hong tertegun beberapa saat lamanya, mendadak ia berpaling ke arah Pek Koen Gie seraya berkata :

"Keluarga paman Yap kami sama sekali tidak tersangkut dalam peristiwa ini, nenekku dan ibuku juga bukan orang-orang dunia persilatan, andaikata kau suka melepaskan mereka pergi, segera akan kuberitahukan siapakah pembunuh yang sebenarnya”

,,Heee. .heee. “pandai amat kau berbicara” jengek Pek Koen Gie sambil tertawa dingin. „Baiklah, coba kau katakan lebih dahulu siapakah pembunuh yang sebenarnya?”

,,Ketiga orang itu semuanya mati di ujung senjataku,” sahut Chin Wan Hong dengan air mata bercucuran”

,,Mayat mereka telah kami buang ke dalam lorong rahasia keluarga kami, aku rela mengorbankan jiwaku untuk menebus dosa tersebut.”

Meski perkataan itu diutarakan halus, luwes tanpa emosi namun sikapnya kukuh dan teguh rupanya dia hendak korbankan selembar jiwanya demi menyelamatkan seluruh jiwa keluarganya:

„Hemm, polos amat jalan pikiranmu!” jengek Pek Koen Gie sambil mendengus dingin

,,Orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang bukan manusia sebangsa gentong nasi yang bisa dipermainkan seenaknya, dengan andalkan kepandaian silat yang kau miliki masa mampu untuk mencabut selembar jiwanya Kwa-Thay?''

„Heng-jie!” tiba-tiba nenek tua berambut putih itu buka suara, “Nenekmu telah berusia tujuh puluh lima tahun, sudah masanya bagiku untuk mati kau mohonkan saja kepada nona itu untuk melepaskan paman Yapmu sekeluarga, kita orang-orang dari keluarga Chin akan tetap tinggal di sini.”

,,Loo Thay Koen'“ mendadak kakek berbaju hijau itu menyela sambil tertawa tergelak!' Dewasa ini seluruh penjuru kolong langit telah dijajah oleh kaum iblis serta manusia-manusia laknat yang terkutuk, bagaimanapun juga aku Yap See Ciat pernah mempunyai nama besar dalam dunia persilatan, kini keadaanku terdesak hingga harus bersembunyi di desa menjadi petani, bila aku tidak korbankan selembar jiwaku demi keadilan, akan ditaruh kemanakah selembar wajahku ini?”

Hong po Seng yang mendengar perkataan itu diam- diam menghela napas panjang pikirnya :

,,Aaai”,.jaman apakah ini? kenapa kaum kesatria dan patriot-patriot gagah hanya bisa main bersembunyi belaka? sekali unjukkan diri, kematian segera mengancam jiwa raganya”

Tiba-tiba Pek Koen Gie betseru keras: ,,Bagus! Kalau memang kalian pingin mati semua, akan kupenuhi harapanmu semual”, ia menoleh dan hardiknya :

,,Gusur mereka semua keluar dari sini dan babiskan nyawa mereka !”

Dari perubahan wajah dara cantik itu Loe Hoen Tongcu mengerti babwa majikan mudanya ini benar- benar sudah naik pitam, keputusan yang diambilpun bukan gertak sambal lagi, dengan golok tersoren ia segera melangkah ke depan siap memenggal batok kepala kakek berambut hijau itu. Hong po Seng terperanjat menghadapi situasi semacam itu, cepat-cepat dia mendongak dan tertawa keras.

Suaranya keras, tinggi dan melengking amat menusuk pendengaran, suaranya jauh lebih tak enak didengar dari pada isak tangis yang menyedihkan, begitu panjang dan keras gelak tertawanya sampai air muka semua orang berubah hebat, darah segar mulai mengucur dan ujung bibirnya membasahi wajah dan dadanya.

Pek Koen Gie segera meloncat bangun, sambil mendepak meja hardiknya keras-keras : .,Hong-po Seng...” apa yang kau tertawakan ???”

„Hm . . Hm . , betapa gagahnya perkumpulan Sin Kee Pang ha .. ha “. . betapa jantannya jago-jago perkumpulan panji sakti”.......

Dengan langkah lebar ia maju kemuka, kernudian bertekuk lutut dan jatuhkan diri berlutut dihadapan dara ayu itu.

Tindakan ini benar-benar luar biasa sekali, kecuali Siauw Leng si dayang cilik yang mengetahui duduk perkara sebenarnya, baik para jago dari perkumpulan Sin Kee Pang maupun para ang-gota keluarga dari Chin Wan Hong sama2, tertegun dan berdiri melongo, mata mereka terbelalak lebar-lebar, tak seorangpun mengerti apa yang sebenarnya terjadi.

Pek Koen Oie sendiri walaupun dalam hatinya memang ada niat untuk menghina dan mempermalukan si anak muda itu, namun setelah Hong Po Seng jatuhkan diri berlutut dihadapannya tak urung ia dibikin terkesiap juga sehingga untuk beberapa saat lawannya berdiri ter mangu-mangu.

Lama sekali akhirnya ia tertawa seram.

,,Hmm ..... Hmm.. Hong Po Seng, apa maksudmu berlutut di hadapanku?"

„Apalagi??” sahut Hong Po Seng sambil angkat kepalanya.” Tentu saja masuk menjadi anggota perkumpulan Sin Kee Pang! Kesusahan dan kesulitan hanya bisa dibebaskan dengan kematian, ternyata kematianpun tidak mudah diperoleh”

Pek Koen Gie betul-betul naik pitam, telapak tangannya langsung diayun menggaplok pipi sianak muda itu keras-keras.

Hong po Seng mendengus berat, setelah isi perutnya terluka ia tak sanggup mengerahkan tenaga dalamnya untuk melawan, termakan gaplokan tersebut dalam mulutnya segera terasa ada sesuatu yang mengganjal, ketika disemburkan ke atas telapak, tampaklah benda itu bukan lain adalah tiga biji gigi yang berlumurkan darah segar.

OoOoO 5

Pada dasarnya Chin Wan Hong adalah seorang nona yang balus lembut dan berhati penuh welas kasih, setelah menyaksikan penderitaan serta penghinaan yang diterima Hong po Seng, hatinya jadi amat sedih seperti diiris-iris dengan pisau, ia meraung keras:

,Manusia she Pek! nonamu akan beradu jiwa dengan dirimu!”

Bagaikan macan betina yang terluka ia menubruk ke arah lawannya dengan suatu tubrukan ganas. Tempo dulu semasa Yap Soe Cat masih berkelana di dalam dunia persilatan, dengan andalkan ilmu telapak dan ilmu pedangnya ia berhasil memperoleh julukan sebagai „Ceng Lian Kiam Khek” atau si Jago Pedang rambut hijau, andaikata pada malam ini tiada Oh Sam yang turun tangan membantu, orang-orang dari perkumpulan Sin Kee Pang belum tentu bisa menangkap pertarungan tersebut.

Sekarang. kendati sepasang telapaknya telah terbelunggu namun setelah menyaksikan Chin Wan Hong turun tangan, iapun segera genjotkan badannya mengirim satu tendangan kilat kearah OhSam.

Sayang seribu kali sayang, walaupun kedua orang itu turun tangan hampir pada saat yang bersamaan, apa daya kekuatan mereka masih belum sanrgup menandingi kepandaian lawannya.

Melihat datangnya serangan, Ob Sam segera mengigos ke samping diikuti secara beruntun ia melancarkan tiga buah serangan sekaligus ... dalam satu kesempatan punggung Yap Soe Ciat berhasil dihajar hingga membuat tubuhnya mencelat keluar dari ruangan, sedangkan Pek Koen Gie dalam sekali ayunan tangan saja telah berhasil menotok jalan darah dari Chin Wan Hong.

Pria berusia tiga puluh tahunan yang ikut tertawan bukan lain adalah putra dari Yap Soe Ciat, melihat. ayahnya sudah turun tangan diapun segera melancarkan satu tendangan dahsyat menghajar lambung Loe Hoen Tong¬cu Situasi serba kacau ini mengejutkan bayi dalam pondongan salah satu keluarga Yap, tangisan keras dengan cepat bergema memenuhi ruangan, suasana jadi kacau dan suara hiruk pikuk melanda di mana-mana.

Hong po Seng jadi gelisah bercampur cemas dalam keadaan yang tertekan batinnya ia tak sanggup mempertahankan diri, tidak ampun agi si anak muda itu jatuh tak sadarkan diri. Mendadak terdengar Pek Koen Gie membentak gusar:

,,Gusur keluar mereka semua siapkan kereta dan segera lanjutkan perjalanan”.

Begitu perintah tersebut diucapkan para anggota perkumpulan Sin-Kee-Pang segera menggusur para tawanan keluar dari ruangan salah satu diantaranya mencengkeram tubuh Chin Wan Hong yang menggeletak di atas tanah, sedang yang lain mencengkeram tubuh Hong po Seng.

Siapa sangka mendadak Pek Koen Gie me lancarkan satu tendangan kilat menghajar tubuh orang itu, membuat tubuhnya mencelat keluar dan ruangan dan untuk sesaat tak sanggup bangun.

Kemarahan gadis she Pek itu tidak sampai di sana saja, ia depakkan kakinya ke atas lantai hingga beberapa ubin retak berserakan setelah itu baru berlalu dari sana. Suasana dalam ruangan pulih kembali dalam kesunyian hanya Hong-po Seng seorang masih menggeletak terlentang di atas tanah, suasana di luar ruangan hening dan sepi jelas anggota keluarga Chin serta Yap

telah digusur keluar semua dari tempat itu. Kurang lebih sepenanak nasi kemudian Pek Koen Gie muncul kembali dari ruang dalam ia melirik sekejap ke arah tubuh Hong po Seng yang mengeletak di atas tanah kemudian meneruskan langkahnya menuju ke ruang depan, Siauw Leng si dayang cilik itu mengikuti di belakangnya, ia perintahkan dua orang dayang lainrya menggotong tubuh si anak muda itu berjalan keluar mengikuti di belakangnya.

Kereta kuda telah siap menanti di beranda luar, para anggota perkumpulan Sin-Kee Pang cabang kota Seng Chiu telah menanti semua di bawah undak-undakan untuk menghantar keberangkatan majikan mudanya.

Setelah turun dari undak-undakan batu, mendadak dari sakunya Pek Koen Gie ambil keluar sebuah panji kecil terbuat dari kain kuning sambil menyerahkan benda itu ketangan Loe Hoen Tongcu pesannya:

„Perintah kepada para kantor cabang di tujuh propinsi, persengketaan antara perkumpulan Sin Kee Pang dergan Chin Pek Cuan untuk sementara waktu ditangguhkan hingga waktu yang tak terbatas, seandaianya orang she Chin itu yang sengaja mencari gara-gara, diperkenankan melawan dirinya dan bawa kemarkas besar, tetapi dilarang mengganggu keselamatan jiwanya, selesai menyampaikan perintah, Tanda perintah” Hong Loei Leng ini segera dikirim balik kepadaku!”.

Loe Hoen Tongcu mengatakan berulang kali, dengan tangan gemetar segera menerima angsuran Tanda perintah tersebut.

Kiranya ”Hong Loei Leng”' adalah tanda perintah kelas utama di dalam perkumpulan Sin Kee Pang, di dalam perkumpulan hanya Pek Koen Gie serta ayahnya saja yang masing-masing memegang sebuah.

Organisasi perkumpulan Sin Kee Pang amat luas, peraturan amat ketat, berjumpa dengan tanda peraturan itu sama halnya dengan bertemu dengan orangnya sendiri, dengan panji kecil itu di tangan kemanapun kita pergi dan apapun yang kita minta segera akan terpenuhi, sampaipun ingin mencabut jiwa seseorang nanti tak ada seorang manusiapun yang berani membangkang, saking besarnya kekuasaan panji tersebut hingga boleh dibilang hampir sebanding dengan kekuasaan seorang pangcu.

Meski Loe Hoen Toagcu sudah banyak tahun berbakti kepada perkumpulan Sin Kee-Pang, baru kali ini ia melihat dan menerima panji kekuasaan tersebut.

Siauw-Leng perintahkan kedua orang dayang itu untuk menggotong tubuh Hong-po Seng naik ke atas kereta, sementara Pek Koen Gie setelah memeriksa cuaca katanya:

„Oh Sam kau boleh istirahat sebentar, pilih orang lain untuk menggantikan sejenak kedudukanmu!”.

Selesai berkata ia ulapkan tangannya dan masuk ke dalam ruang kereta diiringi salam perpisahan dari anak buahnya.

Dalam pada itu udara gelap dan mendung, seorang lelaki berjubah hitam meloncat naik ke atas kereta menggantikan Oh Sam sebagai kusir, di tengah ayunan cambuknya kerata bergerak menuju ke utara.

Dalam ruangan Hong-po Seng berbaring di atas kulit harimau, Siauw Leng mengganjalkan selimutnya sebagai bantal pemuda itu. Di bawah sorot cahaya lampu tampak air mukanya pucat pias bagaikan mayat, noda darah masih mengotori ujung bibirnya, keadaan pemuda itu kelihatan mengerikan sekali.

Rupanya dayang cilik ini merasa radaan takut, terdengar ia berseru :

,,Siocia, orang ini tak bisa diganggu terus-terusan, aku lihat lebih baik kita lepaskan saja”

„Hmmm! andaikata mau mengganggu dirinya terus kenapa?” jengek Pek Koen Gie sambil mendengus dingin, ia merandek sejenak setelah memandang sekejap kearah dada pemuda itu katanya lagi :

,,Lepaskan jubah luarnya dan buang keluar. Hmmm sudah ternoda darah ditambah bekas hangus terbakar . .

. Huh . . . sungguh membuat hati orang jadi jemu!”

Siauw Leng melepaskan lebih dahulu ikat pinggang Horg-po Seng lalu melepaskan jubah luarnya, dari dalam gentong air ia mengambil sedikit air bersih dan membersihkan noda darah di atas wajahnya.

Melihat noda darah sudah bersih namun dayangnya masih saja menggosok wajah pemuda ini tiada hentinya, kontan Pek Koen Gie mengerutkan alisnya.

,,Eeei kenapa sih kau menggosok terus

wajahnya??” ia menegur. Siauw-Leng tertawa cekikikan.

,,Aku ingin sekali melihat bagaimana sih wajahnya yang sebenarnya? tampan atau jelek ??”.

,.Cisss”, apanya yang menarik. Hmm? coba rentangkan telapak kanannya”, Siauw-Leng mengiakan, dilihatnya tangan kanan pemuda itu mengepal kencang- kencang dari celah-celah jarinya nampak noda darah, tapi sekalipun sudah dicoba berulang kali genggaman tersebut belum berhasil juga direntangkan.

Melihat itu sambil tertawa dayang tadi lantas berseru :

„Kencang amat genggamannya, mustika apa sih yang sedang dia pegang?”

Sekuat tenaga ditariknya genggaman tangan pemuda itu, dalam sekali sentakan telapak Hong-po Seng berhasil juga direntangkan. Ternyata benda yang dipegangnya itu bukan lain adalah tiga biji gigi, saking kencangnya ia menggenggam sampai telapaknya terluka dan mengucurkan darah.

Dayang itu jadi takut, jantungnya berdebar keras dan untuk beberapa saat lamanya ia tak berani berkutik.

Mendadak terdengar Hong-po Seng merintih lirih, giginya yang tergerak membuat wajahnya menunjukkan rasa sakit yang tak terhingga, diikuti badannya tak berkutik lagi.

Air muka Pek Koen Gie berubah hebat, tapi hanya sebentar saja ia telah berhasil menenangkan kembali hatinya.

,.Hey, ayoh cepatan dikit, kenapa sih kau duduk termangu-mangu belaka . .?” tegurnya.

Siauw Leng menjulurkan lidahnya, buru-buru ia membersihkan telapak tangan si anak muda itu dari noda darah dan membungkus ketiga biji gigi tersebut dengan secarik kain.

Dari dalam sakunya Pek Koea Gie ambil ke luar sebuah bungkusan kain, dari dalam bungkusan tadi mengambil keluar empat buah botol yang berisitan empat macam obat yang berbeda, ia memilih dua biji di antaranya dan diserahkan ketangan Siauw Leng.

Menerima dua biji obat itu dayang tersebut memandangnya sekejap, lalu sambil tertawa ia bertanya:

“Siocia! bukankah obat ini adalah Jien Ci Wan obat untuk menyembuhkan luka dalam?? lalu obat apa yang satunya lagi ini?”

,,Obat pemunah untuk luka bekas pukulan Kioe Pit Sin Ciaog”, Hm! cerewet amat kau si budak cilik!”

Habis berkata ia jatuhkan diri berbaring di atas kursi malesnya.

Siauw Leng menghancurkan lilin pembungkus pil tersebut lalu menjejalkan obat tadi ke dalam mulut Hong-po Seng, setelah itu dicekokkan pula beberapa teguk air bersih.

Pek Koen Gie yang sedang berbaring, mendadak melemparkan selembar kain tersebut. Siauw Leng segera menyelimuti tubuh Hong Po Seng.

Setelah minum obat si anak muda itu hanya mendusin sebentar untuk kemudian tertidur kembali dengan nyenyaknya.

Suasana untuk beberapa saat lamanya diliputi keheningan yang mencengkam, mendadak terdengar Siauw Leng bertanya sambil tertawa.

,,Siocia, menurut dugaanmu benarkah dia she Hong po?”

„Hmm! perduli amat dia mau she apa?”

,,Dia bilang pernah berhutang budi kebaikan yang tiada taranya atas diri Chin Pek Cuan, kenapa Chin Wan Hong tidak mengetahui akan persoalan ini” .,Kepandaian silat yang dimiliki Chin Pek Cuan meski tidak terlalu lihay, namun hubungan persahabatannya amat luas, para jago-jago lihay pada masa yang silam kebanyakan mempunyai hubungan yang erat dengan dirinya. Mengenai persoalan ini setibanya di atas gunung rasanya tidak sulit untuk mengetahuinya”

Siauw Leng mengangguk.

„Dalam gelisah dan cemasnya Chin Wan Hong siap mengadu jiwa dengan diri Siocia, aku lihat hubungan mereka berdua belum tentu hubungan biasa saja” katanya lagi sambil tertawa.

Pek Koen Gie tertawa dingin,

,,Hmm, ngaco belo tidak keruan..., kau anggap segala persoalan hanya kau saja yang tahu?”

Siauw Leng terbungkam untuk beberapa saat lamanya ia membisu dalam seribu bahasa.

Sesaat kemudian ia berpaling memandang sekejap kearah Hong po Seng, lalu ujarnya lagi sambil tertawa:

„Bagaimanapun juga aku tetap merasa bahwa Hong po Seng mempunyai sedikit keistimewaan yang berbeda jauh dengan orang lain, hanya saja aku tidak tahu dimanakah letak keistimewaannya itu!”

Pek Koen Gie mendongak dan memandang sekejap kearah dayangnya dengan sorot mata tajam, kemudian melirik kembali ke arah Hong-po Seng katanya ketus:

„Kalau kau berani membicarakan soal Hong-po Seng sekali lagi, lidahmu segera akan kupotong jadi dua bagian!” Siauw-Leng tertawa cekikikan, setelah di ancam ia benar-benar tidak berani berbicara lagi.

Angin masih berhembus kencang dan salju masih turun dengan derasnya, di tengah getaran bunyi roda kereta sehari telah berlalu dengan cepatnya”

Daerah sekitar King-Ouw hingga mencapai Propinsi Su-Cuan sebagian besar terdapat kantor Cabang perkumpulan Sin Kee Pang, malam itu mereka menginap di kota Tay Yong.

Ketika kereta berhenti berlari, mendadak Hong-po Seng tersentak bangun dari tidurnya, lubang hidung segera mencium bau barum semerbak yang menyegarkan badan ketika ia membuka matanya tampaknya ia sedang berbaring di dalam kereta, sementara ujung gaun Pek Koen Gie persis sedang menggeser di sisi pipinya ketika dara itu sedang melangkah keluar dari dalam kereta.

Siauw Leng segera berjongkok di sisi tubuhnya, terdengar ia menegur sambil tertawa:

,,Bagaimana keadaan lukamu? apakah sudah rada baikan?”

Hong po Seng tidak langsung menjawab, ia bayangkan kembali semua peristiwa yang barusan dialami setelah itu balik tanyanya :

,,Semua anggota keluarga Chin dan Yap kini berada dimana?”

Siauw Leng tertegun, ia merasa ucapan dari pemuda tersebut meski lama sekali tak berubah namun nadanya kosoag melompong seolah-olah datang dari tempat kejauhan dan bukan muncul dari mulutnya sendiri, ia terbelalak dan untuk beberapa saat lamanya tak sanggup mengucapkan sepatah katapun.

„Bagaimana? apakah telah dibunuh semuanya?” terdengar Hong-po Seng menegur lagi dengan cepasang alis berkerut.

Siauw Leng terperanjat buru-buru sahutnya.

„Aaah! tidak, mereka telah dilepaskan semua!” Diikuti iapun menceritakan secara bagaimana Pek

Koen Gie telah turunkan perintahnya yang ditujukan ke seluruh kantor cabang di tujuh propinsi untuk sementara waktu menunda persengketaan mereka dengan Chin Pek Cuan. Di samping itu menceritakan pula secara bagaimana majikannya telah menghadiahkan obat pemunah baginya.

„Bagaimana keadaan lukamu sekarang?”

Diam-diam Hong po Seng tarik napas panjang dan mengatur hawa murninya, ia merasa seluruh sumbatan jalan darahnya telah lancar kembali, jelas luka yang dideritanya telah sembuh seratus persen, maka ia lantas menyahut: „Luka yang kuderita sudah hampir sembuh seperti sedia kala, terima kasih atas pemberian obat mujarah dari siocia kalian”

Sekali lagi Siauw-Leng dibikin melengak oleh nada ucapannya yang kosong dan hambar.

,,Eeei, gimanasih kau ini?” serunya sambil tertawa

,,Siociaku berarti pula siociamu, jangan membangkitkan hawa amarahnya lagi!”.”

Hong-po Seng mengiakan, ia singkap selimut yang menutupi tubuhnya lalu bangkit berdiri dan keluar dari kereta, Siauw-Leng segera memimpin jalan ke depannya. Kedua orang itu berjalan menerobosi beberapa buah halaman lebar dan akhirnya menuju ke sebuah beranda sempit, dari situ mereka menuju ke sebuah bangunan loteng yang amat luas.

Dalam ruangan telah disiapkan beberapa buah meja perjamuan Oh Sam duduk di meja utama sedang sebagian besar orang yang hadir di sana adalah anggota- anggota perkumpulan Sin Kee Pang.

Hong-po Seng merandek sejenak di depan pintu, kemudian ia meneruskan langkahnya menuju ke arah meja perjamuan.

Siauw-Leng yang menyaksikan keadaan itu buru-buru meugejar masuk ke dalam ruangan, tapi ia sendiripun tak tahu bagaimana barus mengatur diri si anak muda ini, untuk sesaat dayang itu hanya bisa berdiri di depan pintu sambil memandang bodoh ke arah pemuda tadi.

Ketika Hong po Seng melangkah masuk ke dalam ruangan, semua anggota perkumpulan Sin Kee Pang tampak tertegun, tidak terkecuali pula diri Oh Sam sendiri, namun sebagai seorang jago yang sudah berpengalaman dalam dunia persilatan dengan cepat ia dapat mengatasi kericuhan itu, sambil menuding kursi di sisinya, orang she Oh itu lantas berseru :

,,Hong-po Seng mari duduk di sini!”

Hong-po Seng menurut dan duduk di sisinya ketika semua orang mendengar bahwasanya Oh Sam membahasai si anak muda itu sebagai saudara, dengan cepat pula pandangan mereka jadi berubah, tak seorangpun di antara mereka berani memandang rendah dirinya. Menanti semua orang telah ambil tempat duduknya masing-masing Oh Sam baru berkata sambil menuding ke arah si anak muda ini:

„Saudara ini she Hong-po bernama Seng, berhubung suatu kesalahpahaman ia telah membinasakan Tio Cien Loo Hoe-hoat kita, dan kini kesalahpahaman tersebut telah diselesaikan, mulai kini la telah berbakti untuk perkumpulan kita”.

Dengan wajah adem dan tiada emosi, dengan sorot mata seram perlahan-lahan Hong-po Seng bangkit berdiri, setelah menjura kesekelilingnya ia duduk kembali di tempat semula, tak sepatah katapun yang diucapkan keluar.

Tampak orang yang berada di hadapannya segera menjura dan berkata:

,,Siauw-te Tu Cu Siang, atas kebijaksanaan serta cinta kasih Lo pangcu telah dianugerahi kedudukan sebagai Tongcu cabang kota Tay-Yong” saudara Hong po mohon banyak petunjuk darimu!”.

Hong-po Seng memperhatikan sekejap wajah Tu Cu Siang, lalu sahutnya tawar:

„Aku tak berani menerima penghargaanmu!”.

Meski ia telah masuk jago anggota perkumpulan dan belum diserahi jabatan, namun Tu Cu Siang sebagai pemimpin satu daerah ternyata memandang hormat terhadap pemuda tersebut, sudah tentu orang yang lain semakin tak perani bersikap kurangajar.

Tampak orang yang berada di sisi Tu Cu Siang segera memperkenalkan diri: “Cayhe bernama Tong Keng, menjabat sebagai Piauw tauw perusahaan ekspedisi Tay Yong Piauw kiok!”.

„Caybe Kho Tian Wie, menjabat ketua dari persekutuan dagang kota Tay-Yong!” sambung yang lain.

Kata-kata ”Cayhe menyambung” menyambung terus tiada hentinya satu demi satu orang-orang itu memperkenalkan diri membuat Hong Po Seng makin mendengar merasa semakin mendongkol.

Rupanva para pedagang kaum hartawan di kota tersebut seratus persen boleh di bilang sudah tunduk di bawah kekuasaan perkumpulan Sin Kee Pang, mereka khusus mengundang anggota perkumpulan itu untuk menjabat pucuk pimpinan dengan jaminan perdagangan mereka bisa berjalan dengan lancar, bukan begitu saja perjudian, pelacuran serta pajak-pajak lainnya boleh dibilang merupakan sumber pemasukan yang subur bagi perkumpulan tersebut, orang lain tidak membicarakan tentu saja Hong po Seng tak tahu sampai sedalam- dalamnya.

Setelah mengalami penghinaan dan rasa malu yang tak terhingga, dalam sedihnya perangai Hong-po Seng telah berobah hebat, kini ia jarang bicara tersenyum ataupun tertawa, girang atau marah tak pernah ditampilkan di atas wajahnya, wajah yang murung, dingin dan kaku menimbulkan rasa bergidik dalam pandangan orang, seakan- akan setiap saat napsu membunuhnya bisa berkobar.

Selesai memperkenalkan diri arakpun diteguk berulang kali, sikap Hong po Seng tetap dingin kaku dan jarang berbicara, untung Oh Sam pandai melihat gelagat- banyolan serta pembicaraannya berhasil menyemarakan suasana perjamuan tersebut.