Si Pisau Terbang Li Bab 89 : Penutup

Mode Malam
Bab 89. Penutup

Li Sun-hoan terdiam beberapa saat. Lalu ia mendesah dan berkata perlahan, “Ketika seseorang menang, ia selalu merasa sangat kelelahan dan kesepian.”

“Kenapa?” tanya Sun Sio-ang. “Karena ia telah berhasil, ia telah mencapai tujuannya. Tidak akan ada lagi yang diharapkannya, yang dinanti- nantikannya. Tapi orang yang menderita kekalahan justru akan semakin terpacu untuk berusaha lebih giat lagi.”

Sun Sio-ang kembali menggigit bibirnya dan berkata, “Jadi ternyata, kemenangan pun tidak terasa manis.”

Li Sun-hoan terdiam. Lalu ia menyahut sambil tersenyum, “Walaupun rasa kemenangan pun sulit ditanggung, itu masih lebih ringan daripada rasa kekalahan.”

Keberhasilan dan kemenangan tidak akan memberikan kepuasan, tidak juga membawa kebahagiaan.

Kebahagiaan sejati hanya dapat diraih saat menjalani perjuangan yang kau alami seumur hidupmu.

Jika kau sempat menikmati kebahagiaan seperti itu, hidupmu sungguh tidak sia-sia.

Paviliun adalah tempat orang bertemu untuk mengucapkan salam perpisahan. Perpisahan memang selalu membawa perasaan yang mengharu-biru.

Oleh sebab itu, hanya dengan mengucapkan kata ‘paviliun’, kesedihan pun sudah bisa terasa.

Hujan telah berhenti. Rerumputan basah dan kelihatan kacau. Di luar paviliun, dekat jalan raya, sepasang muda-mudi sedang mengucapkan salam perpisahan mereka.

Seorang pemuda yang bersemangat dan seorang gadis yang penuh gairah. Tampak jelas, bahwa mereka sedang dimabuk cinta. Ia seharusnya tetap tinggal dan menikmati kegembiraan masa mudanya. Mengapa ia berkeras ingin pergi?

Terlihat pedang di sisinya. Namun pedang setajam apapun tidak dapat memisahkan cinta masa muda dan mimpi-mimpinya. Mata pemuda itu terlihat merah, sepertinya ia habis menangis.

“Kau telah menemaniku sejauh ini. Sudahlah, kau pulang saja.”

Si gadis menundukkan kepalanya dan bertanya, “Kapankah engkau akan kembali?”

“Aku belum tahu. Mungkin setahun, dua tahun,…..”

Air mata si gadis kembali mengalir membasahi pipinya. Ia berkata, “Mengapa kau harus membuatku menunggu begitu lama? Mengapa kau harus pergi?”

Si pemuda menegakkan tubuhnya dan menjawab, “Aku telah mengatakannya kepadamu. Aku ingin menemukan mereka, dan mengalahkan mereka satu per satu!”

Pandangan mata si pemuda menuju ke kejauhan. Cahaya terang terpancar dari matanya. Lanjutnya, “Orang-orang yang tercantum dalam Kitab Persenjataan. Siangkoan Kim-hong, Li Sun-hoan, Guo Song Yang, Lu Feng Xian….. Aku ingin semua orang tahu bahwa aku lebih hebat daripada mereka semua. Dan setelah itu…..”

Potong si gadis, “Dan setelah itu apa? Kita sudah begitu berbahagia sekarang. Setelah kau kalahkan mereka semua, apakah kita akan lebih berbahagia?”

Jawab si pemuda, “Mungkin juga tidak. Tapi, ini harus kulakukan!”

“Kenapa?”

“Karena aku tidak bisa menyia-nyiakan setengah hidupku tanpa arti seperti ini. Aku ingin membuat nama bagi diriku sendiri. Aku ingin terkenal seperti Siangkoan Kim- hong dan Li Sun-hoan. Dan aku yakin, aku pasti berhasil!”

Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat. Ia sungguh- sungguh sudah bertekad bulat.

Si gadis memandang kepadanya dengan tatapan kagum. Matanya penuh dengan kelembutan dan kehangatan.
Akhirnya ia mendesah dan berkata dengan lembut, “Aku pun yakin bahwa kau akan berhasil. Sampai kapan pun kau pergi, aku akan menunggumu di sini dengan setia.”

Hati mereka penuh dengan kesedihan karena akan berpisah, namun juga penuh dengan harapan akan kebahagiaan yang akan datang. Tentu saja kedua orang itu tidak akan menyadari kehadiran orang lain.

Dari balik hutan, ada dua pasang mata yang sedang menatap mereka.

Ketika si pemuda mulai melangkah menapaki jalan raya yang panjang di hadapannya, Sun Sio-ang menghela nafas dan berkata, “Kalau saja dia tahu nasib seperti apa yang dialami Siangkoan Kim-hong, mungkin ia tidak akan begitu mudah meninggalkan kekasih hatinya….”

Apa yang terjadi setelah seseorang membuat nama untuk dirinya sendiri?

Sun Sio-ang memandang Li Sun-hoan dengan mata penuh air mata. Lanjutnya, “Ia ingin menjadi terkenal seperti engkau, tapi kau…..apakah kau memang lebih berbahagia daripada dia? Kurasa…..Kurasa jika kau berada di tempatnya, kau tidak akan berbuat seperti itu.”

Mata Li Sun-hoan masih terpaku pada sosok si pemuda yang berjalan semakin jauh, dan akhirnya hilang dari pandangan. Jawabnya, “Jika aku ada di tempatnya, aku pun akan berbuat seperti itu.”

“Kau……”

“Manusia harus selalu memiliki tujuan dan ambisi. Dan terkadang, kita harus berani meninggalkan segala sesuatu demi meraih cita-cita itu. Apapun hasilnya, apakah itu keberhasilan atau kegagalan, itu tidaklah penting.” 
Senyum kepuasan tergambar di sudut bibir Li Sun-hoan. Matanya pun cerah dan bercahaya. Lanjutnya, “Ada orang yang akan menganggap itu sangat bodoh, namun tanpa pikiran seperti itu, apa jadinya dunia kita ini?”

Kini mata Sun Sio-ang pun penuh kelembutan dan kekaguman, sama seperti mata si gadis tadi. Ia, seperti si gadis di paviliun itu, sangat bangga akan kekasihnya.

A Fei yang sejak tadi berdiri agak jauh, perlahan-lahan berjalan mendekati mereka.

Namun Sun Sio-ang masih menggenggam tangan Li Sun- hoan erat-erat, tidak ingin dilepaskannya. Ia tidak merasa malu. Ia tidak menganggap bahwa rasa cintanya terhadap Li Sun-hoan harus disembunyikan.

Kalau bisa, ia bahkan ingin menyerukan pada seluruh dunia betapa ia mencintai Li Sun-hoan.

Kata A Fei, “Kelihatannya ia tidak akan datang.”

Mereka berencana untuk bertemu dengan Lim Si-im di situ.

Mereka sama sekali tidak tahu apa yang telah terjadi di antara Lim Si-im dan Liong Siau-hun. Sama seperti si pemuda tadi, tidak tahu apa yang telah terjadi pada Siangkoan Kim-hong.

Ada hal-hal yang lebih baik tidak kita ketahui. Ketika ia berpikir tentang Lim Si-im, tanpa terasa genggaman tangan Sun Sio-ang pada Li Sun-hoan mengendur.

Tapi dengan segera ia kembali menggenggamnya kuat- kuat, bahkan lebih dari sebelumnya. Katanya, “Ia telah berjanji untuk bertemu denganku di sini. Aku yakin, ia pasti akan datang.”

“Ia tidak akan datang!” kata A Fei. “Kenapa?” tanya Sun Sio-ang.
“Karena ia tahu bahwa tidak ada gunanya ia datang kemari.”

Sun Sio-anglah yang bertanya, tapi waktu A Fei menjawab, matanya terarah kepada Li Sun-hoan.

Li Sun-hoan pun tidak berusaha melepaskan genggaman tangan Sun Sio-ang.

Dulu, setiap kali ia mendengar orang menyebut nama Lim Si-im, ia akan merasa sedih dan tertekan. Seolah- olah seluruh tubuhnya dikunci dengan belenggu.

Ia selalu menanggung beban kesedihan ini di punggungnya.

Namun kini, kesedihan itu tidak lagi seberat sebelumnya. Apakah yang telah membebaskannya? Perasaannya terhadap Lim Si-im telah terpupuk begitu lama. Tentu saja perasaan itu menjadi teramat dalam.

Tapi, walaupun ia baru mengenal Sun Sio-ang sebentar saja, mereka berdua telah mengalami kesukaran yang paling berat bersama-sama. Mereka telah melalui lautan api hidup dan mati.

Oleh sebab itukah, perasaan mereka menjadi lebih dalam?

Saat itu, Lim Si-im telah lama pergi.

A Fei benar – ia tidak datang, karena ia tidak perlu datang.

Liong Siau-hun muda (Liong Siau-in) pun pernah menanyakan pada ibunya, “Mengapa kau tidak memperbolehkan aku menemuinya sekali lagi saja?”

Lim Si-im balas bertanya, “Untuk apa kau menemuinya?”

“Aku hanya ingin ia tahu, mengapa ayah sampai mati,” kata Liong Siau-hun muda (Liong Siau-in) sambil mengertakkan giginya.

Apapun yang telah diperbuat Liong Siau-hun di masa lalu, ia telah membasuhnya bersih dengan darahnya sendiri.

Sebagai seorang anak, ia pasti ingin seluruh dunia mengetahuinya. Tapi Lim Si-im tidak berpikir demikian. Katanya, “Ia melakukan apa yang dilakukannya, hanya karena ia merasa itulah yang harus dilakukan. Bukan karena ia ingin memohon pengampunan orang lain, juga bukan karena ingin seluruh dunia mengetahuinya.”

Ia terdiam sejenak, lalu melanjutkan lagi, “Bukan saja ia telah melunasi hutang-hutangnya, ia pun telah melunasi hutang-hutang kita. Selama kita hidup berbahagia, aku yakin ayahmua akan bisa beristirahat dengan tenang.”

Lim Si-im pun tidak ingin berjumpa dengan Li Sun-hoan, karena ia tahu bahwa perjumpaan itu hanya akan membawa kesedihan belaka.

Mereka pun tidak berusaha mencari mayat Liong Siau- hun, karena mereka tahu bahwa Kim Ci-pang (Partai Uang Emas) selalu membuang mayat orang yang mereka bunuh dengan cepat dan efisien.

Dan jika mereka memaksa mencari, yang akan mereka dapatkan hanyalah kesedihan. Hal ini pun dipahami oleh Sun Sio-ang. Mayat kakeknya pun tidak akan pernah ditemukan.

Ada hal-hal dalam hidup ini yang tidak bisa dikendalikan. Siapapun tidak dapat mengendalikannya.

Walaupun hal-hal ini sulit diterima, kita hanya dapat mencari jalan untuk melaluinya, dan hidup terbebas dari belenggunya. Mereka telah bertekad bulat untuk terus hidup! Karena kematian bukanlah solusi permasalahan mereka – kematian bukanlah solusi permasalahan apapun juga.

Ada sekelompok orang lain yang sedang mengucapkan salam perpisahan di paviliun itu.

Kali ini, A Feilah yang mengucapkan salam perpisahan. Ia berkata bahwa ia ingin bertualang pergi ke lautan luas, mencari rempah-rempah yang dapat membuat manusia hidup selama-lamanya dan mencari dewa umur panjang.

Tentu saja ia berbohong, namun Li Sun-hoan tidak berusaha mencegahnya pergi.

Karena asal-usul A Fei pun merupakan suatu misteri. Ia tidak suka membicarakannya, bahkan dengan Li Sun- hoan sekalipun. Namun setiap kali Li Sun-hoan menyebut nama Shen Lang, Xiong Mao Er, Wang LianHua, Zhu QiQi, dan para pendekar lain dari generasi sebelumnya, wajah A Fei selalu berseri-seri dengan suatu ekspresi yang aneh.

Apakah ada hubungan antara A Fei dengan para pendekar di masa lalu itu?

Apakah itulah sebabnya ia memutuskan untuk bertualang di lautan lepas?

Li Sun-hoan tidak berusaha menanyakannya. Karena ia tahu bahwa masa lalu seseorang tidaklah penting. Manusia bukanlah anjing, bukan juga kuda. Silsilah keturunan bukanlah hal yang penting sama sekali.

Kita ingin menjadi orang seperti apa, itu semua ada di tangan kita masing-masing.

Itulah yang terpenting dan terutama.

Ketika sahabat berpisah, biasanya ada ucapan-ucapan selamat, juga ada banyak kesedihan dan emosi. Tapi di antara Li Sun-hoan dan A Fei, yang ada hanyalah ucapan selamat, tidak ada kesedihan sama sekali.

Karena yang satu tahu pasti bahwa yang lain akan hidup berbahagia. Bahwa akan ada banyak kesempatan untuk bertemu kembali di kemudian hari.

Terutama ketika A Fei melihat tangan Li Sun-hoan, hatinya menjadi tenteram.

Tangan Li Sun-hoan masih menggenggam erat tangan Sun Sio-ang.

Tangan itu telah memegang pisau terlalu lama. Telah memegang cawan anggur terlalu lalu lama. Pisau itu terlalu kejam dan cawan anggur terlalu dingin. Tangan itu pantas untuk merasakan kehangatan mulai sekarang.

Adakah dalam dunia ini yang lebih hangat daripada tangan kekasih hatimu? A Fei tahu bahwa Sun Sio-ang akan menghargai tangan itu, lebih daripada orang lain. Walaupun tangan itu masih penuh dengan luka-luka pertempuran panjang di masa lalu, dengan berjalannya waktu ia pasti dapat pulih kembali.

Tentang dirinya sendiri, tentu saja ia pun mempunyai luka-luka lama.

Tapi ia tidak ingin membicarakannya lagi. ‘Masa lalu sudah berlalu……’
Perkataan ini sepertinya sangat sederhana, tapi orang yang mampu melakukannya sungguh teramat sedikit.

Namun Li Sun-hoan dan A Fei, mereka berdua telah berhasil lepas dari masa lalu mereka masing-masing.

Tiba-tiba A Fei berkata, “Aku akan kembali tiga tahun lagi.”

Ia memandang tangan mereka berdua yang masih bertaut dan tersenyum. “Waktu aku kembali, sebaiknya kau segera mentraktirku minum arak.”

Sahut Li Sun-hoan, “Itu sudah pasti, tapi tiga tahun adalah waktu yang sangat lama.”

“Namun arak yang ingin kuminum itu arak yang spesial. Aku tidak tahu apakah kalian berdua bersedia menjamuku dengan arak itu.” Tanya Sun Sio-ang, “Arak apa sih yang kau inginkan?”

“Tentu saja arak pernikahan kalian,” jawab A Fei sambil tersenyum lebar.

Arak pernikahan. Tentu saja arak pernikahan.

Karena arak pernikahan memang membutuhkan tiga tahun lamanya. Tiga tahun untuk berduka atas kematian kakeknya.

Wajah Sun Sio-ang langsung bersemu merah.

Kata A Fei, “Aku telah mencicipi berbagai macam arak, kecuali yang satu ini. Kuharap kalian berdua tidak mengecewakan aku.”

Semakin merah wajah Sun Sio-ang dibuatnya. Ia menundukkan kepala, namun mencuri-curi pandang pada Li Sun-hoan.

Ekspresi wajah Li Sun-hoan pun tampak aneh. Kata ‘arak pernikahan’ sama sekali tidak disangkanya. Setelah terdiam beberapa saat, akhirnya ia berkata, “Aku telah mengundang orang minum berbagai macam arak, namun aku belum pernah mengundang orang untuk minum arak pernikahan. Kau tahu sebabnya?”

Tentu saja A Fei tahu jawabannya, namun Li Sun-hoan tidak menginginkan dia menjawabnya.

Jadi Li Sun-hoanlah yang menjawab sendiri pertanyaannya, “Arak pernikahan itu terlalu mahal.” 
“Terlalu mahal?” tanya A Fei heran.

Li Sun-hoan tersenyum dan berkata, “Ketika seorang pria menjamu orang lain dengan arak pernikahannya, itu berarti ia mengakui ia bersedia membayar hutang- hutangnya sedikit demi sedikit seumur hidupnya.
Sayangnya, aku bukan orang yang suka mengecewakan sahabat-sahabatnya.”

Sun Sio-ang memekik dan menghambur ke pelukan Li Sun-hoan.

A Fei pun tertawa.

Ia sudah tidak tertawa seperti ini begitu lama.

Dengan satu tawa itu, tiba-tiba ia merasa bertambah muda. Semangat dan rasa percaya dirinya meluap-luap. Harapan dan cita-citanya pun bertunas kembali.

Bahkan sepotong kayu kering pun tampak begitu hidup di matanya. Karena ia tahu bahwa dari kayu lapuk itu akan muncul kehidupan yang baru. Tidak berapa lama lagi tunas-tunas pohon baru akan bermunculan di sana.

Ia tidak menyangka begitu besarnya pengaruh ‘tawa’ itu.

Ia tidak hanya mengagumi Li Sun-hoan, ia pun sangat berterima kasih kepadanya. Karena tidak mudah bagi seseorang untuk melepaskan tawa yang sudah terpendam begitu lama. Tapi jika seseorang bisa membangkitkan tawa orang lain, itu lebih berharga lagi. 
‘Menambahkan kaki pada gambar ular’ adalah suatu tindakan yang tidak perlu, juga suatu tindakan yang tolol.

Namun sudah ada begitu banyak ketidakpuasan dalam dunia ini. Mengapa kita tidak membantu menguranginya dengan sedikit tawa?

Tawa adalah seperti minyak wangi. Tidak hanya membuat diri sendiri menjadi lebih baik, namun juga membuat orang lain bergembira.

Apa salahnya bersikap sedikit tolol, kalau itu bisa membawa tawa bagi orang lain?

TAMAT
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 89 : Penutup"

Post a Comment

close