Si Pisau Terbang Li Bab 81 : Tragedi yang Tidak Terduga

Mode Malam
Bab 81. Tragedi yang Tidak Terduga

Lalu dengan cepat Sun Sio-ang menambahkan, “Tapi itu karena Kakek tidak punya kesempatan, tidak perlu bertempur.”

“Tidak pernah perlu?” tanya Li Sun-Hoan. “Beliau tidak ada tandingannya.” “Bagaimana dengan Siangkoan Kim-hong?” “Dia…..”
Sun Sio-ang tiba-tiba terdiam, tidak melanjutkan kalimatnya. Apakah tiba-tiba ia terpikir akan sesuatu?

Kata Li Sun-Hoan, “Kakekmu pasti tidak setuju akan sepak terjang Siangkoan Kim-hong.”

“Ia…Ia sungguh jengkel dengan perbuatan Siangkoan Kim-hong,” sahut Sun Sio-ang.

“Tapi beliau tidak pernah pergi menantangnya.”

Sun Sio-ang menundukkan kepalanya. Sahutnya, “Tidak pernah…..” “Mengapa beliau membiarkan Siangkoan Kim-hong membabi buta begitu lama? Dan mengapa ia baru mau menghadapi Siangkoan Kim-hong setelah kau memintanya?”

Mulut Sun Sio-ang terasa kering. Ia pun kehilangan kata- kata.

Kata Li Sun-Hoan, “Waktu ilmu silat seseorang telah mencapai puncaknya, ia pasti akan mulai merasa takut. Takut orang lain bisa menandinginya, takut kalau setelah itu kemampuan mereka akan menurun. Dan bila saat itu tiba, ia akan menghindarinya dengan segala cara. Secara ekstrem, menghindar untuk melakukan apapun juga.”

Ia mendesah dan menambahkan, “Semakin ia tidak ingin bertindak, semakin cepat ia menjadi tidak bisa bertindak. Ada yang tiba-tiba memutuskan untuk mengasingkan diri, ada yang merusak diri sendiri – ingin segera mengakhiri segalanya dengan kematian…. Inilah yang biasanya terjadi sepanjang sejarah manusia. Kecuali jika orang itu bisa melangkah melewati dunia materi dan masuk ke tingkat di mana tidak ada lagi emosi manusia yang bermain. Menjadi tidak peduli lagi akan seluruh dunia dan umat manusia di dalamnya.”

Sun Sio-ang merasa tubuhnya mengejang, dan keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.

Karena ia tahu pasti bahwa kakeknya bukanlah orang yang ‘tidak berperasaan’.

Ia masih peduli akan banyak hal, akan banyak orang. Kata Li Sun-Hoan lagi, “Mungkin aku salah…..”

Tiba-tiba Sun Sio-ang menghambur ke arah Li Sun-Hoan dan memeluknya erat-erat.

Tubuh gadis itu menggigil luar biasa. Ia ketakutan, sangat sangat ketakutan.
Li Sun-Hoan membelai rambutnya. Apakah itu rasa kasihan? Simpati? Kesedihan?

Seseorang yang tidak berperasaan tidak akan berbuat demikian.

Seseorang yang tidak berperasaan tidak akan membuat kesalahan.

Namun mengapa alam selalu memaksa mereka yang penuh cinta membuat kesalahan-kesalahan fatal?

Apakah salah menjadi seseorang yang penuh perasaan?

Pecahlah tangis Sun Sio-ang dan ia mulai sesenggukan. “Tolong, tolong kembali segera bersamaku. Jika kita segera kembali…..apapun harganya…..aku bersedia melakukan apapun juga.”

Terdengar suara ringkik kuda dari jendela kereta. Kini mereka sedang berada di kandang kuda.

Salah satu keahlian Li Sun-Hoan adalah memilih kuda yang baik. Banyak orang tahu bahwa Li Sun-Hoan bukan hanya ahli dalam hal wanita, tapi juga dalam hal kuda. Tidaklah mudah menjadi seorang ahli dalam dua bidang ini.

Kuda dan wanita. Dua-duanya sangat sulit dimengerti. Ia segera memilih dua ekor kuda yang tercepat.
Wanita yang tercantik belum tentu yang terbaik. Kuda yang tercepat belum tentu yang terkuat. Wanita cantik sering kali kurang tulus, kuda yang cepat sering kali kurang ketahanannya.

Dua ekor kuda terguling. Dua orang berlari kesetanan.
Matahari sudah mulai tenggelam.

Kedua orang itu terus berlari sekuat tenaga. Mereka tidak peduli apa yang dipikirkan orang yang di sekitarnya.
Mereka tidak peduli akan kelelahn tubuh mereka sendiri. Mereka tidak peduli akan apapun juga.
Malam pun semakin dekat. Tidak ada orang lagi di jalan.
Malam ini, bulan dan bintang entah pergi ke mana. Tidak ada setitik cahaya pun yang tampak. Hutan yang gelap berada di samping jalan. Di luar hutan itu tampak siluet sebuah paviliun.

Bukankah ini tempat perjanjian duel?

Di tengah malam yang gelap itu, sepertinya ada secercah cahaya di kejauhan.

Cahaya itu tampak semakin terang, dan sesosok manusia terlihat dari jauh.

Sun Sio-ang mendesah lega dan seluruh tubuhnya yang tegang mulai rileks.

Sungguh merupakan suatu keajaiban ia bisa berlari begitu lama. Mungkin juga karena rasa takutlah yang menggerakkan kakinya.

Rasa takut memang bisa membangkitkan kekuatan manusia yang terpendam.

Namun kini, ia telah melihatnya. Ia telah melihat apa yang diharapkannya. Nafasnya yang tersengal-sengal langsung seolah-olah berhenti dan ia pun tersungkur ke tanah.

Li Sun-Hoan belum berani bernafas lega.

Ia melihat cahaya itu terombang-ambing dan ia melihat cahaya itu berkelap-kelip aneh. Kadang-kadang sangat terang, kadang-kadang redup tiba-tiba.

Mendadak cahaya itu berkobar seperti lentera raksasa. Pada suatu hari dulu, di luar sebuah kota yang lain, dalam paviliun yang lain, Li Sun-Hoan pernah melihat kelap-kelip lampu persis seperti ini.

Pada saat itu, Tuan Sunlah yang berada di paviliun itu sedang mengisap pipanya.

Selain Tuan Sun, Li Sun-Hoan belum pernah melihat orang lain bisa mengisap pipa seperti itu.

Li Sun-Hoan merasa air mata yang hangat membasahi bola matanya.

Sun Sio-ang masih rebah di tanah, perlahan menangis sambil berusaha bangkit berdiri lagi.

Ini adalah air mata bahagia. Air mata penuh rasa terima kasih.

Tuhan belum mengijinkan ia membuat kesalahan fatal.

Li Sun-Hoan membantunya bangkit berdiri dan mereka berdua segera berjalan menuju paviliun itu.

Paviliun itu sudah penuh asap dan seseorang duduk tepat di tengahnya.

Wangi asap itu sudah sangat dikenal oleh Sun Sio-ang.

Ia merasakan kehangatan dalam dadanya. Segera dilepaskan pegangan tangan Li Sun-Hoan dan dengan cepat ia berlari ke paviliun itu. Ia hanya ingin segera memeluk kakeknya dan mengatakan padanya betapa ia sungguh berterima kasih.

Sebelum tiba pun ia sudah berseru-seru, “Kakek! Kami sudah sampai…..kami sudah sampai!”

Tiba-tiba cahaya di paviliun itu padam.

Lalu terdengar seseorang berkata dengan kaku, “Bagus. Aku memang menunggu kalian berdua!”

Suara itu dingin, tidak bersahabat, tegas. Tanpa nada, tanpa perasaan.

Langkah Sun Sio-ang terhenti. Kehangatan yang baru dirasakannya langsung berubah menjadi kebekuan.
Sangat dingin sampai ia tidak bisa bergerak lagi.

Suara itu seperti sebuah pentungan yang menghajar dia dari langit jatuh berdebam kembali ke bumi.

Lalu empat buah lentera menyala terang.

Empat lentera kuning yang tergantung di tongkat bambu.

Dibawah gemerlap cahaya keemasan itu, duduklah seseorang. Dingin seperti emas, anggun seperti emas, bahkan hatinya pun sepertinya terbuat dari bongkahan emas.

Ia sedang mengisap pipa.

Pipa yang diisapnya adalah pipa Tuan Sun. Tapi orang itu adalah Siangkoan Kim-hong!

Orang yang sedang mengisap pipa di paviliun itu adalah Siangkoan Kim-hong!

Angin dingin bertiup kencang, hujan es mengguyur bumi. Tidak ada yang menyadari kapan hujan mulai turun.
Sun Sio-ang berdiri mematung dalam hujan. Seluruh tubuhnya mengejang, kaku sekujur tubuh.

Ia ingin berteriak, namun tidak bertenaga. Ia ingin menyeruduk masuk, namun tubuhnya tidak bisa bergerak.

Dadanya mulai sesak, ia ingin muntah.

Tapi bahkan setetes air mata pun tidak bisa keluar.

Li Sun-Hoan berjalan lebih lambat daripada Sun Sio-ang. Kini ia terus berjalan menuju ke paviliun itu. Langkahnya tetap dan pasti.

Namun nafasnya telah berhenti.

Ia berjalan perlahan masuk ke paviliun itu dan berhadapan dengan Siangkoan Kim-hong.

Siangkoan Kim-hong tidak menoleh ke arahnya. Matanya masih terfokus pada pipa di tangannya.

“Kau terlambat.” Setelah terdiam lama, Li Sun-Hoan menyahut, “Ya, aku terlambat.”

Mulut Li Sun-Hoan terasa kering. Pahit. Seolah-olah lidahnya sedang menjilati sebatang besi berkarat.
Rasanya sangat sulit diutarakan. Apakah ini rasa ketakutan?
Kata Siangkoan Kim-hong, “Lebih baik terlambat daripada tidak hadir.”

Kata Li Sun-Hoan, “Seharusnya kau tahu, cepat atau lambat aku pasti datang.”

Lalu Siangkoan Kim-hong berkata, “Sayangnya, orang yang seharusnya datang, datang terlambat. Dan orang yang tidak seharusnya datang, datang awal.”

Setelah perkataan itu, keduanya terdiam. Mereka berdiri saling berhadapan, saling pandang satu dengan yang lain. Tidak seorangpun bergerak sedikitpun.

Mereka berdua menunggu kesempatan.

Sekali mereka bergerak, tidak akan mungkin ditarik kembali!

***

Di tengah-tengah hujan dan angin, di tengah-tengah hutan yang gelap, ada dua orang lagi, dua pasang mata lagi. Kedua pasang mata itu tertuju pada Siangkoan Kim-hong dan Li Sun-Hoan.

Sepasang mata yang tenang dan lembut, bagaikan air yang mengalir. Terang dan bercahaya, bagaikan bintang. Di seluruh dunia, sulit ditemukan sepasang mata seindah ini.

Sepasang mata yang satu lagi berwarna kelabu, seolah- olah menyatu dengan kegelapan malam yang tidak berjiwa. Di seluruh neraka pun, sulit ditemukan sepasang mata yang begitu mengerikan seperti ini.

Jika ada setan dan dedemit yang bersembunyi di hutan itu pun, mereka pasti sudah kabur sejak tadi.

Sepasang mata itu bisa membuat setan dan dedemit gemetar lututnya.

Lim Sian-ji dan Hing Bu-bing telah berada di sana sebelum yang lain tiba. Mereka sudah bersembunyi di sana sejak lama.

Lim Sian-ji berdiri di samping Hing Bu-bing dan berpegangan kuat-kuat pada lengannya.

Hing Bu-bing tidak bersuara dan tidak bergerak sedikitpun.

Bisik Lim Sian-ji, “Jika kau ingin membunuhnya, ini adalah kesempatan yang paling baik. Tidak akan ada lagi kesempatan sebaik ini.” Sahut Hing Bu-bing, “Saat ini ada orang lain yang sedang berusaha membunuhnya. Aku tidak perlu lagi menyerang.”

“Aku bukan menyuruhmu membunuh Li Sun-Hoan.” “Lalu siapa?”
“Siangkoan Kim-hong. Bunuh Siangkoan Kim-hong!” pekik Lim Sian-ji tertahan.

Tubuhnya gemetar sedikit saking gembiranya. Kuku- kukunya tertanam di kulit tangan Hing Bu-bing.

Hing Bu-bing tidak bergerak. Ia pun tidak merasa sakit sedikitpun.

Namun ada api yang berkobar di matanya. Seperti kobaran api neraka.

“Saat ini, ia sedang berkonsentrasi penuh pada Li Sun- Hoan. Ia tidak bisa menghadapi orang lain lagi. Lagi pula, ia tidak tahu sama sekali mengenai tangan kananmu.
Kau pasti dapat membunuhnya,” kata Lim Sian-ji. Hing Bu-bing masih tidak bergeming.
“Kau kan tahu peraturan Kim-ci-pang. Kalau Siangkoan Kim-hong tidak ada lagi, kaulah yang akan menjadi ketua yang baru,” desak Lim Sian-ji lagi.

Ia mulai menggerutu dengan suara pelan. Suaranya sungguh tidak enak didengar. Seperti suara anjing yang akan melahirkan.

“Walaupun kau tidak menginginkan kedudukan itu, kau harus membalas perbuatannya dulu terhadapmu. Supaya waktu ia masuk ke neraka, ia akan menyesal telah memperlakukan engkau seperti itu,” Lim Sian-ji terus membujuknya.

Mata Hing Bu-bing masih berkobar dengan api dari neraka. Dan kobaran api itu makin lama makin besar.

“Ayo, cepat. Kalau kau melewatkan kesempatan ini, kaulah yang akan menyesal, bukan dia.”

Akhirnya Hing Bu-bing mengangguk dan menjawab, “Baiklah, aku pergi!”

“Cepatlah, aku akan menunggumu di sini. Setelah kau berhasil, aku akan menjadi milikmu seorang untuk selama-lamanya.”

Kata Hing Bu-bing, “Kau tidak perlu menungguku.” “Kenapa?”
“Karena kau akan ikut bersamaku!”

Tiba-tiba Lim Sian-ji merasa ada sesuatu yang salah.

Setitik rasa takut terlihat dalam matanya yang indah. Hing Bu-bing mencekal pergelangan tangannya. Lim Sian-ji tidak suka menangis. Ia merasa wanita yang menangis adalah wanita yang lemah, wanita yang menjijikkan dan sangat bodoh.

Lagi pula, ia masih punya banyak cara untuk membuat laki-laki melakukan kehendaknya.

Namun saat ini ia sungguh merasa kesakitan dan air mata pun tidak dapat dibendungnya.

Ia serasa mendengar tulang-tulang tangannya gemeretuk. “Apa kesalahanku? Mengapa kau memperlakukan aku seperti ini?”

“Seumur hidupmu, kau telah membuat satu kesalahan besar,” kata Hing Bu-bing.

“Apa itu?”

“Kau tidak boleh menganggap semua orang mencintaimu seperti A Fei mencintaimu!”

***

Li Sun-Hoan berdiri membelakangi hutan itu.

Ia tidak melihat Lim Sian-ji dan Hing Bu-bing, saat mereka keluar dari sana. Perhatiannya tercurah pada Siangkoan Kim-hong. Namun ia dapat melihat ekspresi aneh di wajah Siangkoan Kim-hong.

Tiba-tiba perhatian Siangkoan Kim-hong terpecah. Tidak pernah ia memberi kesempatan pada lawan seperti ini. Dan sudah tentu ia tidak akan pernah lagi melakukannya.

Namun Li Sun-Hoan tidak menyerang. Pisaunya masih tetap berada di tangannya.

Karena ia dapat merasakan hawa membunuh yang mengerikan datang dari arah punggungnya.

Pisaunya tidak hanya disambitkan oleh tangannya, tapi oleh seluruh tubuh dan seluruh keberadaannya. Jika ia menyambitkan pisau saat itu, ia tidak mungkin bisa melindungi diri dari serangan dari arah belakangnya.

Kakinya berputar dan bergeser tujuh kaki. Kini ia melihat Hing Bu-bing.

Hing Bu-bing berdiri tepat di belakangnya.

Lalu ia pun melihat Lim Sian-ji. Ia belum pernah melihat Lim Sian-ji kelihatan sangat tertekan seperti itu.

Hujan turun semakin lebat.

Mereka semua sudah basah kuyup.

Walaupun empat lentera tergantung di sudut-sudut paviliun itu, namun cahayanya redup karena malam gelap gulita. Hing Bu-bing masih berdiri dalam kegelapan. Ia tampak seperti bayangan saja. Seolah-olah ia tidak betul-betul ada di sana.

Namun Li Sun-Hoan telah mengalihkan pandangannya. Dari Siangkoan Kim-hong pada Hing Bu-bing.

Siangkoan Kim-hong pun mengalihkan pandangannya. Dari Li Sun-Hoan pada Hing Bu-bing.

Karena mereka kini merasa bahwa kemenangan bukan lagi terletak di tangan mereka, namun di tangan Hing Bu- bing.

Hing Bu-bing mulai tertawa. Tertawa sangat keras.

Seumur hidupnya, belum pernah ia tertawa sekeras itu.

Siangkoan Kim-hong menghela nafas dan berkata, “Teruslah tertawa, karena kau memang berhak tertawa.”

Tanya Hing Bu-bing, “Mengapa engkau tidak tertawa?” “Tawaku tidak bisa keluar.”
“Kenapa?”

“Kau tahu sebabnya,” jawab Siangkoan Kim-hong. “Memang benar. Aku tahu sebabnya,” kata Hing Bu-bing.
Kini ia berhenti tertawa dan perlahan-lahan meluruskan tubuhnya. Katanya, “Karena kini, akulah yang bisa menentukan nasib kalian. Kalian berdua tidak akan berani menyerang aku.”

Ia memang benar. Tidak ada yang berani menyerang dia.

Jika saat itu Siangkoan Kim-hong menyerang Hing Bu- bing, itu berarti membiarkan dirinya terbuka bagi Li Sun- Hoan. Tidak mungkin ia mengambil resiko sebesar itu dan memberi kesempatan pada Li Sun-Hoan.

Hal yang sama juga berlaku bagi Li Sun-Hoan.

Kata Hing Bu-bing, “Aku dapat membantumu membunuh Li Sun-Hoan, atau aku dapat membantu Li Sun-Hoan membunuhmu.”

Sahut Siangkoan Kim-hong, “Kurasa memang demikian.”

“Benarkah? Bukankah bagimu aku hanya seorang cacad yang sudah tidak berguna lagi?”

“Setiap orang pasti pernah sekali-sekali salah menilai.”

“Bagaimana kau tahu kau telah salah? Mungkin aku memang hanya seorang cacad yang tidak bisa apa-apa lagi.”

Sahut Siangkoan Kim-hong, “Tangan kananmu lebih kuat daripada tangan kirimu.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” “Lim Sian-ji bukan wanita lemah. Sulit bagi siapa saja untuk menahannya dengan satu tangan saja.”

Perlahan Hing Bu-bing menganggukkan kepalanya dan berkata, “Ternyata kau memang tahu. Sayang sekali kau tahu sedikit terlambat.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku tahu. Dan aku juga tahu bahwa aku telah membuat kesalahan.”

Tanya Hing Bu-bing, “Kau menyesal akan apa yang telah kau perbuat kepadaku?”

“Aku sangat menyesal. Seharusnya aku sudah membunuhmu saat itu!”

“Mengapa kau tidak membunuhku saat itu?” “Aku tidak sanggup.”
Hing Bu-bing memandang Siangkoan Kim-hong dengan tatapan aneh, “Bahkan kau pun ada kalanya tidak sanggup membunuh?”

“Aku masih manusia.”

“Jadi sekarang kau pikir aku pun tidak akan membunuhmu?”

Siangkoan Kim-hong melirik Lim Sian-ji, “Dia pasti menginginkan kau membunuhku.”

“Memang begitu.” “Tapi jika kau memang ingin membunuhku, kau tidak akan membawanya ke sini bersamamu.”

Tiba-tiba tawa Lim Sian-ji meledak.

Kini ia terjatuh ke tanah dan tertawa seperti orang kesurupan. Pemandangan yang sangat aneh.

Kata Lim Sian-ji, “Sudah tentu ia takut membunuhmu. Kalau kau mati, ia pun tidak akan bisa hidup. Kini aku baru mengerti bahwa ia hanya hidup demi dirimu. Ia datang ke sini karena ia menginginkanmu untuk menghargainya. Walaupun di mata orang lain, ia tidak berharga sepeser pun juga.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau tahu, ia dapat membunuhmu dengan sangat mudah?”

“Kau pikir ia sanggup membunuhku?. Waktu kau ingin
membunuhku, ia malah ingin menyelamatkan aku. Kau tahu kenapa?”

Jawab Siangkoan Kim-hong dingin, “Karena ia ingin membunuhmu di hadapanku.”

“Kau salah. Ia tidak ingin membunuhku di hadapanmu. Ia ingin kau membunuhku dengan tanganmu sendiri,,,,,”

Lim Sian-ji tertawa lagi dan melanjutkan, “Waktu kau dan aku sedang bersama, ia menjadi gila karena cemburu.
Saat itu, kupikir ia cemburu padamu, tapi sekarang baru aku tahu bahwa ia cemburu padaku. Ia membenci siapa saja yang kau sukai. Bahkan putramu sendiri, tidak terkecuali…. Kau tahu siapa membunuh anakmu, bukan?”

“Selama ia membunuh demi aku, aku tidak peduli siapa yang dibunuhnya,” sahut Siangkoan Kim-hong datar.

Senyum di bibir Lim Sian-ji perlahan lenyap. Ia menghela nafas panjang dan berkata, “Aku selalu menganggap bahwa aku mengerti jalan pikiran laki-laki, tapi aku sungguh tidak mengerti pikiran kalian berdua. Aku sungguh tidak mengerti hubungan macam apa yang ada di antara kalian berdua.”

Lalu ia pun tersenyum dingin dan menambahkan, “Yang aku tahu, apapun juga itu, itu pasti sangatlah menjijikkan. Aku tidak peduli apa yang kalian ingin katakan. Aku tidak mau mendengarnya.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Yang kau tahu terlalu sedikit, yang kau katakan terlalu banyak.”

“Tapi apapun juga yang kukatakan, aku tidak mungkin dapat membujukmu untuk membunuh dia, bukan?”

“Tidak mungkin!”

Lalu Lim Sian-ji menoleh pada Hing Bu-bing dan bertanya, “Dan aku pun tidak mungkin membujukmu untuk membunuh dia, bukan?”

“Benar,” jawab Hing Bu-bing. Lim Sian-ji mengeluh dan berkata, “Sepertinya aku sebentar lagi akan mati dalam tangan kalian.
Pertanyaannya adalah, tangan siapa? Tanganmu? Atau tanganmu?”

Hing Bu-bing tidak menjawab.

Ia menggerakkan tangannya dan melemparkan Lim Sian- ji ke dekat kaki Siangkoan Kim-hong.

Kali ini, Lim Sian-ji tidak berusaha bangkit. Ia tidak bergerak sedikit pun. Ia hanya meringkuk seperti sebuah bola.

Tapi ia adalah seorang wanita.

Kau bisa menyuruhnya tidak bergerak dan tidak melawan, namun kau tidak mungkin menutup mulutnya.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 81 : Tragedi yang Tidak Terduga"

Post a Comment

close