Si Pisau Terbang Li Bab 69 : Pria Sejati

Mode Malam
 
Bab 69. Pria Sejati

Karena putra tunggal Siangkoan Kim-hong telah terbunuh, ia sedang dikuasai amarah yang tidak terkendali. Ia ingin bertempur dengan Li Sun-Hoan sampai mati. Dan ia ingin melakukannya sekarang juga….. Li Sun-Hoan segera memotong perkataan Siangkoan Kim-hong, “Jika kau ingin berduel sampai mati, aku akan menerima tantanganmu kapanpun juga. Kecuali hari ini.”

“Kenapa?”
“Hari ini…..aku hanya ingin minum hari ini.” Matanya memandang mayat dalam peti mati itu.
Katanya, “Ada waktu-waktu tertentu yang tidak cocok untuk bertempur, tidak cocok untuk berbuat apapun juga selain untuk minum arak. Hari ini adalah salah satunya.”

Perkataannya sungguh menyentuh perasaan. Namun mungkin tidak ada orang lain yang bisa mengerti.

Hanya Siangkoan Kim-hong yang sungguh mengerti.

Karena ia menyadari sepenuhnya perasaannya sendiri. Dengan beban seperti ini, berduel sama seperti bertempur dengan satu tangan terikat.

Ia akan memberikan keuntungan yang begitu besar bagi lawannya!

Li Sun-Hoan bisa saja memanfaatkan kesempatan ini demi keuntungannya, tapi ia tidak melakukannya, walaupun ia tahu kesempatan seperti jarang sekali terjadi. Mungkin tidak akan pernah ada lagi!

Siangkoan Kim-hong terdiam begitu lama. Akhirnya ia bertanya, “Kalau begitu, kapan waktu yang baik?” Jawab Li Sun-Hoan, “Aku sudah bilang, kapan pun kau kehendaki.”

“Ke mana harus kucari dirimu?”

“Kau tidak perlu mencariku. Cukup bilang saja dan aku akan menunggu di sana.”

“Waktu aku bilang, kau akan mendengar?”

Li Sun-Hoan tertawa, katanya, “Waktu Siangkoan-pangcu berbicara, seluruh dunia mendengarkan. Tidak sulit untuk mendengarmu.”

Siangkoan Kim-hong terdiam lagi. Lalu ia berkata, “Jika kau ingin minum, ada arak di sini.”

Li Sun-Hoan tertawa lagi. “Apakah aku pantas meminumnya?”

Jawab Siangkoan Kim-hong, “Jika kau tidak pantas, tidak ada seorang pun di dunia ini yang pantas.”

Ia memutar badannya dan menuang dua cawan besar arak. Katanya, “Aku minum cawan ini untukmu.”

Li Sun-Hoan minum secawan sekali teguk. Senyumnya yang lebar menghiasi wajahnya. Ia berseru, “Arak yang bagus! Secawan arak yang sungguh lezat!”

Cawan Siangkoan Kim-hong pun telah kosong. Ia memandang cawan itu dan berkata, “Ini adalah cawan arak yang pertama dalam dua puluh tahun.” ‘Prang’. Cawan pun pecah berkeping-keping.

Siangkoan Kim-hong berjalan ke arah peti mati itu dan mengangkat tubuh anaknya. Lalu ia berjalan keluar.

Li Sun-Hoan memandangnya tanpa suara. Setelah Siangkoan Kim-hong keluar dari pintu ia menghela nafas panjang dan menggumam, “Walaupun hanya Siangkoan Kim-hong yang dapat menjadi Siangkoan Kim-hong, tapi mengapa ia tidak bisa menjadi seorang sahabat?”

Ia menuang secawan arak lagi dan meminumnya habis. Lalu ia berteriak, “Kekasih seorang pria sejati, mengapa ia mengkhianati niat baiknya?”

‘Prang’. Cawannya pun pecah berantakan di lantai.

Semua orang dalam ruangan itu terlihat seolah-olah terbuat dari kayu. Segera setelah Li Sun-Hoan keluar dari sana, semua orang menghela nafas lega.

Beberapa orang mulai kasak-kusuk di antara mereka. “Li Sun-Hoan memang Li Sun-Hoan. Di dunia ini, kurasa hanya dia seoranglah yang dapat membuat Siangkoan Kim-hong bersulang baginya.”

“Sayang sekali mereka tidak bertempur.”
“Entah mengapa, kurasa dua orang itu sangat mirip.” “Li Sun-Hoan mirip dengan Siangkoan Kim-hong?. Apa
kau sudah gila?” “Walaupun pembawaan dan perilaku mereka jauh berbeda, keduanya….keduanya seperti bukan manusia. Hal-hal yang mereka lakukan tidak dapat dilakukan oleh manusia.”

“Ya….ada benarnya juga perkataanmu. Mereka berdua memang seperti bukan manusia, hanya saja….yang satu adalah orang suci, dan yang satu lagi adalah iblis.”

Garis pemisah antara kebaikan dan kejahatan sangatlah tipis. Perbedaan antara orang suci dan iblis terletak di antaranya.

Betul, jika Li Sun-Hoan bukanlah seorang Li Sun-Hoan, ia pun sangat bisa menjadi seorang Siangkoan Kim-hong.

***

A Fei tidak menoleh.

Lim Sian-ji memindahkan kursinya dan duduk tepat di belakang A Fei, menutup jalan menuju ke pintu.

Ia hanya duduk di situ saja sampai cukup lama.

A Fei pun tetap berdiri masih dengan cara yang sama. Gaya berdirinya terlihat agak lucu.
Lim Sian-ji mengikik dan berkata, “Apa kau tidak merasa lelah berdiri seperti itu? Mengapa tidak duduk dan bersantai sejenak? Ini ada kursi di sampingku. Kau tidak ingin duduk? Ah, aku tahu, kau tidak akan bisa duduk di sini. Bukan seleramu.

Lalu mengapa kau tidak pergi saja?

Walaupun aku duduk di depan pintu, apa susahnya bagimu untuk menyingkirkan aku. Selain itu, masih ada juga jendela di situ. Kau bisa keluar dari sana seperti seorang maLing kecil.

Kau sebenarnya takut, bukan? Aku tahu, walaupun kau menginginkan aku mati, kau tidak berani menyentuhku sedikitpun. Bahkan memandangku pun kau tidak berani. Karena dalam hatimu, kau tahu bahwa kau masih mencintai aku. Bukankah begitu?”

Suaranya masih tetap merdu dan merayu seperti dulu.

Suara tawanya bahkan terdengar semakin menarik dan manis.

Karena ia begitu gemar melihat orang menderita, ia selalu menebarkan bibit-bibit penderitaan kepada setiap orang di dekatnya.

Sayang sekali, orang-orang yang menderita adalah orang-orang yang sungguh-sungguh mencintai dia.

Walaupun ia tidak bisa melihat rasa pedih di wajah A Fei, ia dapat melihat dengan jelas pembuluh darah di belakang lehernya begitu tegang, seolah-olah akan meletus. Bagi Lim Sian-ji, ini adalah suatu kenikmatan. Ia duduk dengan nyaman di kursi itu sambil menonton.
Sebenarnya ia ingin sekali bisa menonton sambil menikmati secawan arak yang lezat.

Tiba-tiba kursi yang didudukinya ditendang orang sampai ia jatuh terjengkang.

Siangkoan Kim-hong telah kembali dengan menggendong mayat putranya!

Waktu kursi yang sedang kau duduki dijungkirbalikkan orang, rasanya hatimu juga terjungkal bersamanya.

Namun Lim Sian-ji tidak mengucapkan sepatah katapun. Menggerakkan satu otot pun tidak. Ia tahu apapun juga yang diperbuatnya sekarang, ia tetap akan kelihatan seperti orang tolol.

Siangkoan Kim-hong pun sedang memandangi leher A Fei dari belakang.

Bentaknya, “Balikkan badanmu dan lihat siapa ini!”

A Fei masih tidak bergerak, namun pembuluh darah di lehernya sudah hampir melompat keluar dari dalam kulitnya. Akhirnya, perlahan-lahan ia menoleh dan melihat orang dalam gendongan Siangkoan Kim-hong.

Kini matanya pun seakan-akan hendak melompat keluar.

Tanya Siangkoan Kim-hong, “Kau pasti tahu siapa dia, bukan?” A Fei mengangguk.

Tanya Siangkoan Kim-hong lagi, “Ia masih hidup, sehidup-hidupnya, beberapa hari yang lalu, bukan?”

A Fei mengangguk lagi.

“Sekarang kau melihatnya mati, kau tidak kelihatan sangat terkejut. Itu karena kau tahu bahwa dia sudah mati, bukan?”

A Fei terdiam beberapa saat sebelum menjawab, “Ya, aku tahu ia sudah mati.”

“Bagaimana kau bisa tahu?” tanya Siangkoan Kim-hong tajam.

Jawab A Fei, “Karena pembunuhnya adalah aku.”

Ia mengatakannya tanpa beban sedikitpun. Matanya pun tidak berkedip. Seolah-olah ia tidak tahu apa konsekuensinya ia mengaku.

Gadis-gadis di sana ketakutan setengah mati.

Bahkan Lim Sian-ji pun terlihat terhenyak dan kaget. Pada saat itu, ia merasa ada suatu perasaan aneh merayapi hatinya. Seperti kesedihan, seperti simpati.

Ia tidak mengerti mengapa ia memiliki perasaan itu pada A Fei. Namun ia tahu, sekali Siangkoan Kim-hong bertindak, nyawa A Fei tidak akan bisa selamat.

Dan kapan pun Siangkoan Kim-hong dapat bertindak.

Ia melihat sorot mata A Fei. Tatapannya sama seperti tatapan orang mati.

Seorang mati yang sangat bodoh.

Bukan saja orang ini sangat bodoh, ia pasti mabuk berat. Kalau tidak, mengapa ia mengaku seperti itu? Ah, memang orang ini sudah tidak ada harapan lagi, buat apa kupikirkan hidup dan matinya?

Lim Sian-ji melengos dan tidak memandang A Fei lagi.

Ia berharap Siangkoan Kim-hong membunuhnya dengan cepat. Makin cepat makin baik, supaya ia tidak terlalu lama terganggu oleh perasaannya.

Namun yang tidak berani ia tanyakan pada dirinya sendiri adalah, ‘Jika aku memang tidak peduli hidup dan matinya, mengapa perasaanku terasa amat gundah?’

Siangkoan Kim-hong masih belum juga bertindak.

Ia masih menatap mata A Fei lekat-lekat. Seolah-olah ia sedang berusaha mengerti sesuatu yang begitu rumit.

Namun ia tidak menemukan jawabannya. Tatapan A Fei sangat kosong. Itu bukan mata orang yang masih hidup.

Siangkoan Kim-hong baru menyadari bahwa kini sorot mata A Fei seakan-akan sudah dikenalnya, seperti sudah sering dilihatnya sebelum ini.

Sudah pasti ia pernah melihatnya sebelum ini.

Saat ia mengambil pedang Hing Bu-bing dan menyerahkannya kepada A Fei, sorot mata Hing Bu-bing sama persis seperti ini.

Saat ia mengambil nyawa seseorang, tatapan kosong orang itu, sama dengan sorot mata ini. Tidak berperasaan, tidak bernyawa, tidak peduli lagi akan apapun juga.

A Fei masih menunggu, menunggu dengan diam.

Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong bertanya, “Apakah kau sedang menunggu mati?”

A Fei diam saja.

“Kau mengaku membunuh dia, hanya supaya aku membunuhmu, bukan?”

A Fei tetap diam saja.

Senyum licik tersirat di wajah Siangkoan Kim-hong. Lalu panggilnya, “Mandor Lu!”

Seseorang segera muncul. Tidak ada yang tahu bahwa orang ini sudah bersembunyi di situ selama ini. Dan tidak ada yang tahu apakah ada orang lain lagi yang bersembunyi di situ. Tidak ada yang menyangka ada orang yang berani bersembunyi begitu dekat dengan Siangkoan Kim-hong. Karena jika memang begitu, maka pasti ada begitu banyak orang yang juga sedang bersembunyi di situ.

Seseorang yang tidak terlihat, seorang hantu.

Ke mana pun Siangkoan Kim-hong pergi, hantu itu akan mengikuti tepat di belakangnya.

Perintahnya terdengar seperti mantra. Hanya dialah yang dapat memanggil hantu itu!

Jika Mandor Lu memang benar adalah hantu, ia sudah pasti bukan hantu yang kelaparan.

Hantu yang kelaparan tidak mungkin bertubuh segendut itu.

Ia hampir menyerupai sebuah bola raksasa, namun gerak-geriknya cukup Lincah. Entah dari mana ia menggelinding ke situ dan berkata, “Hamba siap mendengarkan.”

Siangkoan Kim-hong masih menatap A Fei.

Lalu katanya perlahan, “Orang ini ingin mati. Kita tidak akan membiarkannya mati.”

“Mengerti!” jawab Mandor Lu bersemangat. Kata Siangkoan Kim-hong, “Kita akan memberikan sesuatu yang lain baginya.”

“Mengerti!”

“Kita akan memberinya arak yang terbaik, wanita yang tercantik. Semakin banyak yang diinginkannya, semakin banyak kita akan menyediakannya.”

“Mengerti!”

Siangkoan Kim-hong terdiam sesaat, lalu melanjutkan, “Apapun yang dia inginkan, berikan padanya.”

“Mengerti!”

Tiap kali jawabannya keluar tanpa dipikir dua kali. Tapi kali ini matanya melayang menuju Lim Sian-ji, dan ia bertanya, “Siapapun juga?”

Sahut Siangkoan Kim-hong, “Siapapun juga yang diinginkannya. Wanita tua bangka sekalipun, jika ia menginginkannya, berikan padanya!”

Mandor Lu tersenyum, katanya, “Aku mengerti sekarang. Akan kubawakan untuknya seorang wanita tua bangka sesegera mungkin.”

Lim Sian-ji menggigit bibirnya kuat-kuat. Ia tidak tahan untuk tidak bertanya, “Dan bagaimana jika ia menginginkan aku?” Jawab Siangkoan Kim-hong dingin, “Aku sudah bilang, siapapun yang diinginkannya.”

“Ta….tapi aku kan lain. Aku adalah milikmu. Selain engkau, tidak ada seorang pun yang….”

Ia berjalan ke samping Siangkoan Kim-hong dengan senyum menghiasi wajahnya.

Senyum yang luar biasa cantik, dengan gerak langkah yang luar biasa mengundang.

Siangkoan Kim-hong tidak melirik sedikitpun padanya. Tiba-tiba ia menampar pipi Lim Sian-ji dan berkata keras, “Siapapun bisa memilikimu, kenapa dia tidak bisa?”

Tubuh Lim Sian-ji terjengkang karena kerasnya tamparan itu. Ia sampai terjatuh di halaman depan.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku akan memberikan segala sesuatu yang diinginkannya, karena aku tidak ingin dia pergi. Aku ingin tahu, akan jadi orang macam apakah dia setelah tiga bulan.”

“Mengerti!” jawab Mandor Lu.

Siangkoan Kim-hong memutar badannya dan melangkah keluar.

A Fei menggigit bibirnya dan mengertakkan giginya kuat- kuat. Dengan suara serak ia bertanya, “Aku telah membunuh putramu, mengapa kau belum juga membunuh aku?”

Siangkoan Kim-hong sudah berada di luar pintu. Ia tidak menoleh sewaktu menjawab, “Karena aku ingin kau hidup menderita. Sampai kau tidak punya keberanian lagi, bahkan untuk mati!”

‘Siapapun dapat memilikimu, kenapa dia tidak?’

‘Hidup dalam penderitaan, sehingga tidak punya keberanian lagi, bahkan untuk mati!’

A Fei meringkuk, menggulung tubuhnya seperti bola, seakan-akan sedang menghindari lecutan cemeti yang tidak kasat mata.

Cemeti itu terus-menerus melecut dia tanpa berhenti.

Mandor Lu berjalan ke arahnya sambil tersenyum lebar. Katanya, “Jika cawan dalam hidupmu sudah kosong, mengapa repot-repot mengangkatnya menghadap bulan? Kehidupan memang seperti ini, jangan terlalu diambil hati.”

Lalu ia menoleh pada gadis-gadis di situ dan dengan wajah garang ia berseru, “Mengapa kalian tidak segera mengambilkan arak untuk Siauya?”

Orang ini memiliki satu wajah untuk menghadapi Siangkoan Kim-hong, satu wajah lain untuk menghadapi A Fei. Dan kini, saat bicara dengan para gadis itu, ia menggunakan wajah yang lain.

Memang sebagian besar orang di dunia ini punya begitu banyak wajah. Mereka berganti wajah seperti pemain sandiwara bertukar topeng di atas panggung. Mungkin bahkan lebih mudah dan lebih cepat daripada bertukar topeng.

Semakin sering mereka berganti wajah, semakin cepat mereka lupa seperti apa wajah mereka yang sebenarnya.

Lebih lama mereka mengenakan topeng-topeng mereka, lebih susah untuk mencopotnya lagi.

Karena akhirnya mungkin mereka merasa bahwa dengan mempunyai lebih banyak topeng, akan lebih sedikit kekecewaan yang mereka alami.

Namun untungnya, masih ada orang-orang yang tidak punya topeng sama sekali. Satu-satunya wajah yang mereka miliki adalah wajah mereka sendiri!

Apapun situasinya, betapapun beratnya kegagalan yang dialaminya, wajah mereka tidak pernah berubah!

Waktu mereka ingin menangis, mereka menangis. Waktu ingin tertawa, tertawa. Waktu ingin hidup, mereka hidup. Dan waktu ingin mati, mereka pun akan mati!

Dalam menghadapi kematian sekalipun, mereka tidak akan berkompromi! Ini adalah sikap seorang pria sejati!

Jika orang-orang seperti ini tidak ada lagi dalam dunia, maka kehidupan hanya akan menjadi satu kekecewaan yang luar biasa besar.

Dan tidak akan ada yang tahu akan jadi apa dunia ini nantinya.

Arak pun tiba.

Mandor Lu menuang secawan dan berkata, “Minumlah! Makin banyak kau minum arak, makin kau tahu bahwa semua wanita itu sama saja. Tidak perlu terlalu dipusingkan!”

A Fei mengertakkan giginya dan berkata, “Mereka tidak sama.”

Mandor Lu tertawa keras-keras. “Lalu siapa yang kau inginkan?”

Mata A Fei berkobar karena marah. Lalu perlahan ia berkata, “Aku mau istrimu!”

*** Malam.
Pasar malam.

Pasar malam selalu penuh gairah. Berbagai macam orang dapat ditemui di sini. Tapi Li Sun-Hoan merasa sebatang kara. Tidak ada seorang pun yang tertinggal di dunia ini.

Karena orang-orang yang dikasihinya telah menjadi jauh, sangat jauh. Mereka telah berubah menjadi orang-orang yang tidak dikenalnya lagi, sangat aneh, sampai-sampai ia merasa mereka sebenarnya sudah tidak ada lagi.

Ia mendengar bahwa Liong Siau-hun dan putranya sudah menghilang selama beberapa waktu, tapi…..

Bagaimana dengan Lim Si-im?

Tanpa jejak, tanpa sepatah katapun. Yang tertinggal hanya kerinduan, kenangan yang membekas sampai selamanya.

‘Bahkan sampai akhir masa, ada luka yang tidak akan pernah sembuh’.

Walaupun arti kalimat ini sangat sederhana, perasaan yang terkandung di dalamnya mungkin lebih dalam dari lautan yang terdalam.

Namun kecuali mereka yang pernah merasakannya, siapakah yang dapat memahami betapa pahit dan pedihnya perasaan itu?

Dari kejauhan terdengar suara seruling mengiringi lagu yang murung.

Suara seruling itu seakan-akan sedang bercakap-cakap dengan langit malam. ‘Mengapa perasan kita begitu dalam?’ ‘Mengapa kita begitu dimabuk cinta?’
Waktu sekuntum bunga telah mekar dengan segala keindahannya, ia akan layu dan mati.

Waktu manusia dimabuk cinta, mereka akan menjadi tidak berdaya….

Ia sedang berada di tepi jurang hidup dan mati, tidak heran ia merasa begitu tidak berdaya.

Hanya ditemani seguci arak, tidak heran ia merasa begitu putus harapan.

Matanya yang mabuk mengawasi orang-orang yang berpasang-pasangan.

Teringat lagi pada air mata yang menetes di saat-saat yang gelap dan sepi…..

Si peniup seruling sudah cukup kesepian. Mengapa ia harus menaburkan air mata dan kepedihan hatinya pada orang lain juga?

Li Sun-Hoan meminum cawannya sekali teguk. Tiba-tiba ia mengetuk-ngetuk cawan itu dengan sumpitnya dan bernyanyi lembut.

‘Bunga-bunga bertumbuh tanpa perasaan, Cepat atau lambat akan layu dan mati, Manusia tanpa gairah Juga akan berakhir lelah dan lesu, Tanpa cinta,
Kemanakah hidup harus mencari cita rasanya? Kenangan akan air mata di tempat yang gelap dan sepi, Masih lebih baik daripada tidak bisa meneteskan air mata.’

Suara seruling pun terdengar semakin sayup. Dan berganti dengan suara tawa.

Cita rasa apa yang terkandung dalam suara tawa ini? Bagaimana dengan A Fei?
Sudah setengah harian Li Sun-Hoan pergi ke segala tempat mencari, mengais-ngais berita.

Tidak seorang pun tahu ke mana dia pergi. Tidak seorang pun merasa melihat orang seperti dia.

Li Sun-Hoan tidak tahu bahwa pelarian A Fei berakhir di markas besar Kim-ci-pang.

Namun walaupun ia tahu, ia tidak tahu di mana tempat itu berada.

Lentera terombang-ambing dipermainkan angin. Arakpun bergolak dalam cawannya.

Arak yang kental dan pekat. Lentera yang gelap dan suram.

Ia sedang minum di sebuah warung bakmi kecil. Sepanjang jalan dipadati dengan tenda-tenda kecil. Orang-orang yang datang ke situ adalah orang biasa. Tidak ada yang mengenalinya dan ia pun tidak mengenali siapapun.

Ia menikmati suasana seperti ini. Walaupun rasanya suram dan terasing, ia merasa bahwa ini sebuah pergantian suasana yang baik.

Keberhasilan dan kegagalan, kebahagiaan dan kesedihan dalam hidup, itu semua tidak ada artinya bagi orang- orang ini. Selama ada secawan arak, itu sudah lebih dari cukup.

Di tempat seperti ini tidak ada tawa yang mengundang, tidak ada lagu yang menyedihkan.

Malam begitu tenang, malam begitu hambar…. Tiba-tiba ketenangan ini terusik.
Seseorang berteriak dan menyumpah-nyumpah.

“Pemabuk yang tidak berguna! Tidak tahu malu! Minum lalu tidak mau bayar! Walaupun arak itu sudah ada dalam perutmu, ayo muntahkan segera!”

Mau tidak mau Li Sun-Hoan menoleh.

Ia menoleh begitu cepat karena ia mendengar kata ‘pemabuk’. Ia melihat seseorang sedang berpegangan kuat pada seguci arak. Walaupun ia sudah dipukuli, sepertinya orang itu tidak peduli lagi akan hidup matinya, asalkan ia bisa minum arak seteguk lagi.

Seorang lelaki tua dengan kain minyak terikat di pinggang terus berterak dan mencaci-maki, sambil memukuli orang itu.

Li Sun-Hoan menghela nafas dan melangkah ke sana. Katanya, “Biarkan dia minum. Aku yang akan membayar.”

Caci-maki langsung berhenti. Demikian juga pukulan.

Uang dapat mengikat tangan manusia dan dapat menutup mulutnya.

Orang yang tadi dipukuli masih meringkuk di lantai, ia tidak bisa bangun. Ia mengangkat guci itu ke mulutnya dan berusaha minum. Tapi arak malah mengucur membasahi kepala dan badannya. Tapi kelihatannya ia tidak peduli.

Seakan-akan ia sedang berusaha tenggelam dalam arak itu.

Jika bukan karena kenangan yang pahit, mana mungkin seseorang bisa menjadi seperti ini?

Jika seseorang begitu bergairah, bagaimana ia harus mengatasi kenangan yang pahit? Li Sun-Hoan sungguh bersimpati dan berkata, “Tidak ada selera makan sendirian. Di mejaku masih ada makanan dan arak. Maukah kau makan dan minum bersamaku?”

Orang itu minum seteguk lagi dari gucinya, lalu tiba-tiba melompat berdiri dan berseru, “Kau pikir kau ini siapa? Kau pikir kau pantas minum bersama denganku?
Walaupun kau membeli tiga ratus guci arak, aku tetap tidak akan minum bersamamu….”

Pada saat itu, sumpah serapahnya berhenti dan kedua tangannya segera melingkari lehernya sendiri.

Li Sun-Hoan sungguh terkejut dan berkata, “Kau….benar kau?”

Orang itu lalu membanting guci arak ke lantai dan segera berlari pergi.

Li Sun-Hoan mengejarnya. “Tunggu, tunggu sebentar. Sahabat, apakah kau tidak mengenaliku?”

Orang itu lari semakin cepat. “Aku tidak mengenalmu dan aku tidak ingin minum arakmu….”

Dua orang itu, satu melarikan diri dan satu mengejar, dalam sekejap saja sudah hilang dari pandangan.

Siapapun yang melihat pasti merasa bahwa ada sesuatu yang aneh di antara mereka. “Orang yang mencuri arak itu memang orang gila. Sudah tahu akan dipukuli masih juga datang untuk minum. Lalu ada seseorang yang mau membayari, eh dia malah lari.”

“Orang yang mau membayari juga pasti orang gila. Setelah uangnya diambil, dicaci-maki, ia masih memanggil si pemabuk itu sahabat. Aku belum pernah melihat orang seperti dia.”

Tentu saja ia belum pernah melihat orang seperti dia, karena memang hanya sedikit saja orang di dunia ini yang seperti itu.

Siapakah orang yang melarikan diri itu?

Mengapa ia melarikan diri saat melihat Li Sun-Hoan?

Orang lain tentu saja tidak akan tahu alasannya. Bahkan Li Sun-Hoan sendiripun tidak pernah menyangka bahwa di tempat seperti itu, dalam suasana seperti itu, ia akan bertemu dengan orang itu.

Pertama kali Li Sun-Hoan bertemu dengannya adalah di bawah balkon sebuah rumah, di salah satu jalan yang panjang. Saat itu di sana juga ramai orang.

Pakaiannya putih bagai salju. Di antara orang banyak, ia tampak seperti seekor bangau di antara kerumunan ayam.

Walaupun seluruh emas di dunia ini dikumpulkan dan diserahkan padanya, ia tidak akan sudi berbicara sepatah katapun pada orang yang tidak disukainya. Namun kini, hanya karena seguci arak, ia mau menerima hinaan dan cercaan orang, bahkan rela dipukuli seperti seekor babi dalam lumpur.

Li Sun-Hoan tidak bisa percaya bahwa dua orang ini adalah orang yang sama. Ia tidak mau percaya.

Namun ia tidak bisa menyangkal kebenaran.

Orang yang tadi meringkuk di lantai yang kotor itu bukan lain adalah Lu Hong-sian yang agung dan terhormat!

Apa yang menyebabkan perubahan ini? Perubahan yang begitu cepat, dramatis, dan sangat mengerikan!

Penerangan di jalan terlihat makin jauh dan suram, dan bintang-bintang terasa semakin mendekat.

Tiba-tiba Lu Hong-sian berhenti berlari.

Karena ia sudah berada dalam keadaan yang sama dengan A Fei. Ia sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.

Ada banyak orang di dunia ini yang mencoba melarikan diri dari dirinya sendiri. Namun tidak seorang pun berhasil!

Li Sun-Hoan pun berhenti saat jaraknya masih cukup jauh. Ia membungkuk dan mulai terbatuk-batuk. Ia merasa bahwa akhir-akhir ini, ia memang jarang batuk. Namun jika sudah batuk, sangat sulit untuk menghentikannya. Bukankah ini sama dengan dimabuk cinta?

Jika kau semakin jarang mengingat akan seseorang, itu bukan berarti bahwa kau sudah melupakan orang itu. Itu hanya berarti bahwa kenangan itu sudah semakin mendarah daging.

Ketika Li Sun-Hoan tidak batuk-batuk lagi, Lu Hong-sian bertanya, “Mengapa tidak kau biarkan aku lari?”

Ia berusaha menggalang kegagahannya saat berbicara, namun tidak terlalu berhasil.

Suaranya gemetar seperti seekor kelinci yang tercebur ke air dingin.

Li Sun-Hoan tidak menjawab, karena ia tidak ingin menyakiti Lu Hong-sian dengan perkataannya.

Karena jawaban apapun akan menyakiti perasaannya.

Tanya Lu Hong-sian lagi, “Aku tidak berhutang padamu dan tidak harus melakukan apapun bagimu. Mengapa kau memaksaku?”

Akhirnya Li Sun-Hoan menghela nafas panjang dan berkata, “Akulah yang berhutang padamu.”

“Kau tidak perlu membayarnya.”

“Aku tidak bisa membayar hutangku padamu, namun setidaknya aku bisa membelikan arak untukmu.” Lu Hong-sian tertawa getir dan berkata, “Aku belum lupa, kau sudah mengatakannya tadi.”

Tangan Lu Hong-sian terus gemetar, gemetar begitu hebat sampai tidak dapat memegang cawan araknya dengan baik.

Ia sudah menggunakan kedua tangannya untuk memegang cawan itu, namun arak tetap tumpah.

Beberapa hari yang lalu, tangan ini adalah senjata yang sangat berbahaya!

Apapun yang mengakibatkan perubahan ini, perubahan ini begitu mengerikan.

Li Sun-Hoan tidak bisa menebak apa sebabnya.

Lu Hong-sian meraih guci arak itu dan menuang lagi.

‘Prang’. Tangannya malah membuat guci itu jatuh dan pecah.

Matanya memandang tangannya sampai lama, tanpa berkedip. Lalu tiba-tiba ia meraung keras dan menjejalkan tangan itu ke dalam mulutnya.

Ia terus menjejalkan dan terus menggigit. Darah menetes dari sudut mulutnya.
Awalnya Li Sun-Hoan tidak ingin menghalangi apapun yang diperbuatnya. Namun ia tidak tahan untuk membiarkannya. Ia menarik tangan itu keluar dari mulutnya.

Lu Hong-sian berteriak marah, “Lepaskan aku. Aku ingin menggigitnya sampai putus. Menggigitnya sampai putus dengan mulutku sendiri dan menelannya bulat-bulat.”

Tangan ini tadinya adalah miliknya yang paling berharga dan paling dibanggakannya. Namun ketika kesedihan mendera seseorang, mereka selalu ingin menghancurkan miliknya yang paling berharga.

Karena satu-satunya cara meringankan penderitaan itu adalah dengan merusak!

Melumatnya sampai hancur lebur!

Kata Li Sun-Hoan, “Jika seseorang telah bersalah padamu, orang itulah yang pantas mati. Mengapa kau menyiksa dirimu sendiri?”

Teriak Lu Hong-sian, “Akulah yang pantas mati, akulah….”

Dengan sekuat tenaga ia berusaha mendorong Li Sun- Hoan, namun malah dia sendiri yang terjatuh dari kursinya.

Ia tidak berusaha bangun. Ia hanya bersimpuh di lantai dan mulai menangis.

Akhirnya ia menceritakan segala-galanya pada Li Sun- Hoan. Cerita yang didengarnya adalah cerita Lu Hong-sian. Orang yang dilihatnya adalah Lu Hong-sian. Namun yang terbayang dalam benaknya adalah A Fei!

Hati Li Sun-Hoan tercekat.

Apakah A Fei pun mengalami goncangan serupa ini? Apakah A Fei pun telah berubah dan menjadi seperti ini?
Li Sun-Hoan tidak ingin bicara pada Lu Hong-sian lagi, namun entah mengapa pertanyaan ini tidak tertahankan. “Mengapa kau masih tinggal di sini?”

“Kalau tidak di sini, ke mana aku harus pergi?” “Pulang, kembali pada keluargamu.” “Keluarga…..”
Kata Li Sun-Hoan, “Kau sedang sakit sekarang. Dan hanya ada dua cara untuk menyembuhkannya.”

“Dua cara?”

“Yang pertama adalah keluarga. Yang kedua adalah waktu. Jika kau pulang ke rumah…..”

Potong Lu Hong-sian, “Aku tidak akan pulang.” “Kenapa?”
“Karena….karena itu bukan rumahku lagi.” Kata Li Sun-Hoan, “Keluarga adalah tetap keluarga, tidak akan pernah berubah. Itulah sebabnya mengapa keluarga itu begitu berharga.”

Sahut Lu Hong-sian, “Bukan keluargaku yang berubah, akulah yang telah berubah. Aku bukan lagi seperti dulu.”

“Jika kau pulang dan beristirahat untuk sementara waktu, kau pasti akan bisa kembali seperti dulu.”

Ia masih ingin menambahkan, namun terdengar seseorang menyela dari belakangnya, “Dan bagi orang yang tidak lagi punya keluarga, bagaimana cara menyembuhkannya?”
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 69 : Pria Sejati"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close