Si Pisau Terbang Li Bab 67 : Puncak Tertinggi Ilmu Silat

Mode Malam
 
Bab 67. Puncak Tertinggi Ilmu Silat

Semua orang tahu bahwa ilmu silat Siangkoan Kim-hong memang begitu lihai. Namun tidak seorang pun pernah melihat dia bertempur. Bahkan sekarang pun, tidak seorang pun melihat dia menyerang.

Seakan-akan tangannya tidak bergerak sama sekali. Mereka hanya melihat dia menekan meja sedikit sebelum sepasang sumpit itu terbang melesat di udara. Lalu Sebun Yu pun terkulai dan rebah ke tanah.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Bawa dia pergi dan periksa dengan seksama.”

Orang-orang berjubah kuning itu langsung membawa tubuh Sebun Yu keluar.

Bibir Sebun Yu seolah-olah bergerak sedikit, namun ia bergitu ketakutan sehingga tidak secuil suara pun keluar dari mulutnya. Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika memang makanan itu masih ada di perutmu, aku akan membayar dengan nyawaku, sehingga kematianmu tidak sia-sia.”

Tidak seorang pun berani bicara. Tidak seorang pun berani bergerak.

Setiap orang terlihat seolah-olah sedang duduk di papan berpaku. Pakaian mereka semua basah oleh keringat dingin.

Salah satu orang berjubah kuning tadi masuk kembali dan berkata, “Kami telah memeriksanya.”

“Apa yang kalian temukan?” “Tidak ada. Perutnya kosong.”
“Bagus,” kata Siangkoan Kim-hong.

Matanya lalu menyapu ke setiap wajah di ruangan itu dan berkata, “Jika kalian berdusta di hadapanku, maka kalian akan mengalami nasib yang sama. Semua mengerti?”

Semua mengangguk.

Tanyanya lagi, “Apakah semuanya juga tidak lapar?”

Semua langsung menjawab, “Tidak…tidak, kami lapar….kami lapar.” Mereka semua langsung berlomba-lomba menyantap makanan di meja. Tidak ada yang mengunyah lagi. Suapan demi suapan langsung ditelan dan masuk perut begitu saja.

Tiba-tiba, seseorang yang basah kuyup dari kepala sampai ujung kaki, masuk ke situ dan berdiri dekat pintu. Matanya merah, penampilannya kusut masai, tubuhnya lemas. Ia terus-menerus menggumam, “Seseorang yang berbaju ungu kemerahan, seseorang yang berbaju ungu kemerahan.”

A Fei!

Liong Siau-hun langsung bangun berdiri.

Mata A Fei hinggap padanya dan berkata, “Ternyata kau.”

Walaupun matanya sayu dan penampilannya kusut dan mengantuk, ada pedang dalam genggamannya.

Selama ada pedang di tangannya, itu cukup untuk membuat Liong Siau-hun merasa tidak nyaman.

Liong Siau-hun mundur selangkah demi selangkah. A Fei maju selangkah demi selangkah.
Pedang itu bergoyang-goyang dalam genggamannya. Langkahnya pun tidak mantap. Namun ketika Liong Siau-hun melihat pedang itu teracung, segera ia memutar badannya dan lari.

A Fei melompat ke arahnya. Sebelum ia sampai ke situ, orang-orang sudah bisa mencium bau arak.

Kini wajah Liong Siau-in pun berubah. Ia segera mengangkat kursi tempat ayahnya tadi duduk dan melemparkannya ke arah A Fei, untuk menghadang langkahnya.

A Fei sama sekali tidak melihat kursi itu dan jatuh tersandung. Ia langsung jatuh ke tanah dan pedangnya terlontar dari genggamannya.

Ia bahkan tidak bisa menahan pedang itu dalam genggamannya!

Liong Siau-hun sangat kaget, namun pada saat yang sama sangat gembira. Ia segera memutar badannya kembali dan memungut pedang itu. Dalam sekejap mata saja, kini ujung pedang itu telah tertuju pada kepala A Fei.

Namun ia tidak langsung menusukkan pedang itu.

Karena dari sudut matanya ia dapat melihat sekilas wajah Siangkoan Kim-hong.

Wajah Siangkoan Kim-hong saat itu sangat kosong, terlihat sangat mengerikan. Ia duduk di situ seperti patung, bergerak seinci pun tidak. Karena ia tidak bergerak, tidak seorang pun di situ berani bergerak.

Seru Liong Siau-hun, “Orang ini berani-beraninya berbuat onar di depan Toako. Ia pantas mati!”

Siangkoan Kim-hong tetap diam. Setelah sekian lama, barulah ia berbicara, “Ada seekor anjing di depan sana. Kau lihat tidak?”

Jawab Liong Siau-hun, “Ya, rasanya tadi aku melihatnya.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Kalau kau ingin membunuh orang itu, lebih baik kau bunuh anjing di depan sana.”

Tanya Liong Siau-hun, “Toako, apakah maksudmu orang ini tidak ada harganya, bahkan dibandingkan dengan seekor anjing sekalipun?”

Siangkoan Kim-hong balik bertanya, “Bagaimana dengan engkau?”

Liong Siau-hun sangat terperanjat. “Aku….?”

“Dia tidak berharga dibandingkan dengan seekor anjing sekalipun, namun kau lebih rendah lagi. Ketika anjing melihat dia, setidaknya anjing itu tidak melarikan diri.”

Liong Siau-hun diam seribu bahasa.

Mata Siangkoan Kim-hong menyapu pada orang-orang yang ada di situ dan bertanya, “Apakah di antara kalian ada yang bersedia mengangkat saudara dengan seekor anjing?”

Jawab semua orang serempak, “Tentu saja tidak!”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Mereka saja tidak mau. Apalagi aku….”

Lalu Siangkoan Kim-hong memandang Liong Siau-hun dan berkata, “Kurasa kau dan anjing ini bisa menjadi sahabat baik. Mengapa tidak kalian berdua saja yang menjadi saudara angkat?”

Kata-katanya tidak dapat ditarik kembali. Namun siapakah yang dapat menahan penghinaan sejauh itu?

Wajah Liong Siau-hun berkeringat dan mulai tergagap- gagap, “Kau…. Kau….”

Liong Siau-in segera berlari ke sana dan mengambil pedang. Katanya, “Ini semua adalah usulanku. Aku tidak menyangka hal ini akan mendatangkan penghinaan bagiku dan bagi ayahku. Aku tidak dapat lagi membasuh kesalahanku. Hanya dengan mencurahkan darah aku dapat membalas kebaikan ayah padaku. Sungguh sayang, ibu tidak hadir di sini, karena aku tidak dapat memutuskan hidup matiku tanpa kehadiran beliau.”

Tiba-tiba diangkatnya pedang itu dan ditebasnya tangannya sendiri.

Mulut semua orang ternganga, namun tidak ada yang berani berbuat apa-apa. Liong Siau-in sangat kesakitan dan tubuhnya pun gemetaran. Namun ia hanya mengatupkan mulutnya erat-erat dan mengambil potongan tangannya, lalu diberikannya kepada Siangkoan Kim-hong. Katanya, “Apakah kau sudah merasa puas?”

Wajah Siangkoan Kim-hong tidak berubah. Ia memandang anak itu dingin dan berkata, “Kau ingin menukar tangan ini dengan nyawamu dan nyawa ayahmu?”

“A….Aku….”

Sebelum ia bisa berbicara lebih lanjut, rasa sakitnya sudah begitu dahsyat sehingga ia jatuh pingsan.

Walaupun hati Liong Siau-hun sangat sedih, ia tidak berani menunjukkannya. Ia hanya berdiri di situ tanpa bicara.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Demi anakmu, aku ampuni nyawa kalian berdua. Sekarang pergilah, dan jangan sampai kulihat kau lagi!”

Akhirnya A Fei pun bangkit berdiri.

Seolah-olah ia tidak menyadari sama sekali apa yang baru saja terjadi di situ. Kelihatannya, ia pun tidak menyadari bahwa ada banyak orang di situ. Matanya langsung tertuju pada guci arak di atas meja dan perlahan-lahan ia berjalan ke sana dan segera menyambarnya. Ia memeluk guci itu erat-erat, seakan-akan guci itu adalah seluruh hidupnya.

‘Prang’, guci itu pun pecah. Arak tumpah ke lantai.
Tangan A Fei gemetaran, masih memegangi guci yang pecah itu.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Arak ini hanya untuk manusia. Kau tidak pantas meminumnya!”

Lalu ia melemparkan sekeping perak ke lantai dan berkata, “Jika kau masih ingin minum, sana beli sendiri.”

A Fei mengangkat kepalanya dan memandang Siangkoan Kim-hong. Lalu ia memutar badannya dan berjalan pergi.

Kepingan perak itu ada di samping kakinya.

Ia menatap kepingan perak itu sejenak, lalu membungkukkan badannya…..

Seulas senyum tergambar di wajah Siangkoan Kim-hong. Ia terlihat lebih mengerikan saat tersenyum.
Tiba-tiba terlihat selarik cahaya terang.

Sebilah pisau melesat bagaikan kilat dan memaku kepingan perak itu di lantai. A Fei terkejut dan mengangkat kepalanya. Sekujur tubuhnya membeku.

Seseorang berdiri dekat pintu sedang memandangnya lalu berkata, “Arak di sini lebih enak daripada arak di tempat lain. Jika kau ingin minum, akan kutuang secawan untukmu.”

Masih ada satu guci arak lagi di atas meja.

Orang itu berjalan menuju ke meja, menuang arak ke cawan dan menyuguhkannya kepada A Fei.

Tidak seorang pun buka suara. Bahkan suara nafas pun tidak dapat terdengar.

Siangkoan Kim-hong pun tidak bersuara.
Ia hanya menatap orang ini dengan mulut terkunci. Orang ini tidak jangkung, tapi tidak pendek juga.
Pakaiannya kumal dan lusuh. Ia tampak seperti seorang laki-laki setengah baya yang penyakitan.

Tapi waktu Siangkoan Kim-hong melihat dia menuang arak dan memberikan cawan itu kepada A Fei, ia tidak berusaha mencegahnya. Bahkan ia tidak menunjukkan reaksi apapun sedikitpun.

Tidak ada seorang pun yang berani membangkang perintah Siangkoan Kim-hong! Namun orang ini jelas-jelas mengabaikan perkataan Siangkoan Kim-hong barusan.

Kini cawan arak itu sudah berada di tangan A Fei.

A Fei menatap itu seperti orang tolol. Dua tetes air mata perlahan jatuh ke dalam cawan itu.

Ia tidak pernah ragu-ragu mencucurkan darah, namun air mata selalu berusaha keras dibendungnya.

Mata Sun-hoan pun mulai berkaca-kaca, dan setetes mulai membasahi sudut matanya. Namun di bibirnya tetap tersungging senyum yang hangat dan bersahabat.

Senyum itu seakan-akan mengubah penampilan lusuh lelaki setengah baya ini menjadi seseorang yang begitu bercahaya dan berkarisma. Tidak ada pernah membayangkan bahwa seulas senyum bisa begini besar pengaruhnya.

Ia pun tidak berbicara lagi.

Perasaan yang terkandung dalam senyuman dan air mata itu tidak dapat diekspresikan dalam kata-kata.

A Fei tidak dapat mengendalikan tangannya yang mulai gemetaran. Tiba-tiba ia meraung dan membanting cawan di tangannya itu. Ia segera bangkit dan berlari ke arah pintu.

Sun-hoan sepertinya sudah akan pergi mengejarnya. Seru Siangkoan Kim-hong, “Tunggu sebentar!”

Lelaki itu masih melangkah dua langkah lagi sebelum berhenti.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika kau ingin pergi, seharusnya tadi kau tidak usah datang. Jika sudah datang, mengapa hendak pergi?”

Sun-hoan berdiri di situ sejenak, lalu menyahut, “Benar. Aku sudah datang, mengapa hendak pergi?”

Sebelumnya, tidak sekalipun ia melirik Siangkoan Kim- hong. Kini ia memutar tubuhnya perlahan.

Tatapan matanya bertemu dengan mata Siangkoan Kim- hong.

Tatapan yang berkobar-kobar!

Bertemunya tatapan kedua orang ini, seakan-akan dapat menyulut kobaran api.

Kobaran api yang menyala tanpa suara, tanpa bentuk. Walaupun tidak ada orang yang dapat melihatnya, mereka semua dapat merasakannya.

Hati semua orang berdebar-debar, seakan-akan jantung mereka hendak melompat keluar.

Mata Siangkoan Kim-hong bagaikan tangan setan. Tatapannya dapat mencekik mati jiwa seseorang. Mata lelaki setengah baya itu bagaikan samudra raya yang tiada berujung, begitu luas dan tenang membiru. Begitu luas, sehingga dapat memerangkap semua setan dan iblis yang gentayangan di dunia ini.

Jika mata Siangkoan Kim-hong diibaratkan pedang, mata orang ini adalah sarungnya!

Hanya dengan melihat matanya, semua orang tahu bahwa ia bukan lelaki setengah baya biasa.

Sebagian dari mereka sudah bisa menebak siapa dia.

Akhirnya suara Siangkoan Kim-hong memecahkan kesunyian, “Mana senjatamu?”

Pergelangan tangan lelaki itu mengedik sedikit, dan terlihatlah sebilah pisau di antara jemarinya!

Pisau Kilat si Li!

Setelah semua orang melihat pisau itu, mereka tahu bahwa tebakan mereka memang tepat.

Lelaki itu adalah Li Sun-Hoan! Akhirnya Li Sun-Hoan datang!
Tangannya sangat mantap. Seakan-akan membeku di udara.

Jari-jemarinya panjang dan kurus. Kukunya dipotong rapi. Tangan ini tampak lebih cocok memegang sebatang pena daripada memegang sebilah pisau. Namun dalam dunia persilatan, tangan ini adalah tangan yang paling berharga, tangan yang paling menakutkan dari semua tangan yang ada di dunia.

Pisaunya adalah pisau biasa dan sederhana. Namun di tangan orang ini, pisau itu dapat menjadi senjata yang amat berbahaya!

Siangkoan Kim-hong berdiri dan berjalan ke hadapan Li Sun-Hoan.

Jarak di anatara mereka ada tujuh meter.

Tangan Siangkoan Kim-hong masih berada dalam lengan bajunya.

Ia telah merajai dunia persilatan sejak dua puluh tahun yang lalu dengan Cincin Naga dan Burung Hong miliknya. Dalam Kitab Persenjataan, senjata ini berada di urutan kedua. Satu tingkat di atas Pisau Kilat si Li!

Dalam dua puluh tahun belakangan ini, tidak seorang pun pernah melihatnya menggunakan cincin itu.

Walaupun semua orang tahu senjata itu amat ampuh, tidak seorangpun mengetahui sampai sejauh mana keampuhan senjata itu.

Apakah cincin itu ada di tangannya sekarang? Kini mata semua orang beralih dari pisau Li Sun-Hoan ke tangan Siangkoan Kim-hong.

Perlahan-lahan tangannya keluar dari lengan bajunya. Tangan itu kosong.
Tanya Li Sun-Hoan, “Di mana cincinmu?” Sahut Siangkoan Kim-hong, “Ada di sini.” “Di mana?”
“Dalam hatiku.” “Dalam hatimu?”
“Cincin itu tidak berada di tanganku, namun ada dalam hatiku!”

Mata Li Sun-Hoan menyipit.

Cincin Siangkoan Kim-hong tidak dapat dilihat!

Karena tidak dapat dilihat, cincin itu dapat berada di segala tempat. Bisa berada di hadapan matamu, di depan lehermu, atau di tepat samping nyawamu.

Setelah seluruh jiwamu dihabisinya sekalipun, kau tetap tidak tahu dari mana cincin itu datang!

‘Cincin itu tidak berada di tanganku, namun ada dalam hatiku.’ Puncak dari segala ilmu silat! Ini adalah tingkatan para dewa.
Namun tidak seorang pun mengerti. Tidak seorang pun, kecuali Li Sun-Hoan.

Semuanya terlihat kecewa.

Begitu banyak orang ingin sekali melihat cincin itu, dan ingin menyaksikan kekuatan dan kehebatannya. Mereka tidak dapat mengerti bahwa yang tidak terlihat itulah yang benar-benar kuat dan hebat.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Tujuh tahun yang lalu akhirnya tanganku menjadi tidak lagi berbentuk.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Aku sungguh kagum.” “Kau mengerti?” tanya Siangkoan Kim-hong.
“Begitu samar dan berseni. Tidak ada cincin, tidak ada keakuan. Tidak ada jejak yang dapat ditemukan, tidak ada halangan yang tidak tertembus.”

“Luar biasa! Kau betul-betul mengerti!” Siangkoan Kim- hong berseru kegirangan.

Mengerti adalah tidak mengerti. Tidak mengerti adalah mengerti.

Mereka berdua seakan-akan adalah dua Master Zen yang sedang beradu filsafat. Selain mereka berdua, tidak ada seorang pun di situ yang mengerti sepatah kata pun yang mereka ucapkan.

Mereka tidak mengerti sama sekali. Itulah sebabnya ini sangat mengerikan bagi mereka….

Satu per satu diam-diam berdiri dan mundur ke sudut ruangan.

Siangkoan Kim-hong menatap Li Sun-Hoan dan berkata, “Li Sun-Hoan memang benar-benar Li Sun-Hoan.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Dan hanya Siangkoan Kim-hong yang dapat menjadi Siangkoan Kim-hong.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau adalah generasi ketiga keluarga Tamhoa, terkenal di seantero dunia dan berpendidikan tinggi. Kaya dan termashur, membuat iri semua orang di dunia. Mengapa kau akhirnya menjadi seorang petualang di kelas bawah dunia persilatan?”

“Aku datang kalau aku mau, aku pergi kalau aku ingin.” “Kau pikir kau bisa pergi?”
Li Sun-Hoan terdiam sesaat sebelum menjawab, “Aku tidak bisa pergi dan aku pun tidak ingin pergi.”

“Baiklah. Silakan mulai jurusmu,” tantang Siangkoan Kim- hong.

“Aku sudah mulai.” Siangkoan Kim-hong kelihatan bingung. Tanyanya, “Mana?”

“Dalam hatiku. Jurusku tidak berada dalam pisau ini, namun ada dalam hatiku.”

Kini mata Siangkoan Kim-hong yang menyipit.

Mereka yang tidak dapat melihat cincin Siangkoan Kim- hong juga tidak akan dapat melihat mulainya jurus Li Sun-Hoan.

Namun ketika cincin datang, jurus pun akan menyambutnya!

Walaupun semua orang sepertinya berdiri dengan tenang, mereka merasa seolah-olah merekalah yang sedang bertempur hidup dan mati. Hidup atau mati dapat ditentukan oleh satu helaan nafas saja!

Walaupun semuanya sudah mundur ke sudut ruangan, mereka masih dapat merasakan hawa yang sangat mengerikan.

Tiap-tiap orang dapat merasakan hati mereka makin mengkerut setiap detiknya!

***

Darah dalam tubuh A Fei mulai menggelegak.

Saat ia berlari kesetanan, ia tidak tahu apa yang dipikirkannya, apa yang diperbuatnya. Ia sedang lari dari kenyataan.

Tapi kemanakah ia bisa lari? Dan berapa lama ia dapat bersembunyi?

Ia tidak mungkin berlari selama-lamanya, karena sebenarnya ia sedang melarikan diri dari dirinya sendiri.

***

Sementara itu, Li Sun-Hoan dan Siangkoan Kim-hong sedang saling memandang. Keduanya tidak bersuara, keduanya tidak bergerak.

Yang dapat didengar semua orang di situ hanyalah debur jantung mereka sendiri. Satu-satunya yang dapat mereka lihat adalah butiran keringat mereka sendiri yang menetes dari dahi ke lengan mereka.

Karena sekali salah seorang bergerak, gerakan ini akan mengguncangkan langit dan bumi.

Duel ini dapat meledak sewaktu waktu. Dan dapat berakhir pada detik yang sama.

Karena pada detik itu salah satu pasti kalah. Tapi siapakah yang akan kalah?
‘Pisau Kilat si Li, tidak akan lepas dari tangan kalau tidak akan kena sasaran’ Dalam dua puluh tahun ini, tidak seorang pun dapat lolos dari pisau Li Tamhoa!

Namun cincin Siangkoan Kim-hong berada di urutan yang lebih atas. Apakah artinya cincin itu lebih hebat?

Dua orang ini seolah-olah membeku di tempat masing- masing.

Keduanya seakan-akan bercahaya penuh rasa percaya diri.

Siapakah di dunia ini yang dapat menerka hasil pertarungan ini?

***

A Fei telah jatuh ke tanah. Nafasnya tersengal-sengal. Setelah diam di situ beberapa saat, ia mengangkat kepalanya. Ia tidak tahu di mana ia berada.

Tempat itu adalah sebuah pekarangan kecil.

Di tengah pekarangan itu ada sebatang pohon willow yang terayun-ayun ditiup angin musim gugur.

Di beranda ada sebuah spanduk yang setengah tergulung. Pintu tertutup rapat. Tidak terdengar secuil suara pun dari dalam rumah itu.

Ini adalah tempat ia mabuk-mabukan semalam.

Ia tidak tahu bagaimana ia bisa sampai di sini lagi. Tiba-tiba pintu terbuka. Seraut wajah yang cantik mengintip dari dalam. Hasrat yang begitu besar langsung memuncak dalam diri A Fei, namun wajah itu segera masuk lagi ke dalam.

Ia adalah salah satu dari gadis-gadis yang menemani dia semalam.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 67 : Puncak Tertinggi Ilmu Silat"

Post a Comment

close