Si Pisau Terbang Li Bab 66 : Menghina Diri Sendiri

Mode Malam
 
Bab 66. Menghina Diri Sendiri

A Fei tidak tahu mengapa ia berlari keluar dari ruangan itu. Pandangan Siangkoan Kim-hong tetap dingin selama peristiwa itu, juga saat A Fei berlari ke luar.

Lim Sian-ji berkata dengan lembut, “Aku tunduk sepenuhnya pada dirimu. Kau percaya sekarang?”

“Aku percaya,” sahut Siangkoan Kim-hong.

Namun sebelum kalimatnya selesai, Siangkoan Kim-hong telah menghempaskan tubuh Lim Sian-ji ke atas ranjang dan melompat ke luar.

Tubuh Lim Sian-ji mengejang.

Namun di wajahnya tidak terbayang rasa sedih atau kuatir. Yang terbayang malahan rasa takut.

Rasa takut yang sama saat ia menyadari bahwa ia belum menaklukkan A Fei sepenuhnya. Namun ketakutan ini tidak berlangsung lama.

Apa yang telah kuperbuat? Apa untungnya bagiku?

Apa sebenarnya yang sungguh berharga dalam kehidupan ini?

Lim Sian-ji bangkit dan memunguti pakaiannya dari lantai. Lalu dilipatnya perlahan-lahan dengan sangat rapi.

Setelah tubuhnya telah kembali rileks, ia berbaring di tempat tidur. Senyum yang sangat manis terkembang di bibirnya. Ia sudah memutuskan bahwa ia akan terus mencoba.

***

Ujung koridor itu adalah sebuah pintu.

A Fei berlari menerjang pintu itu dan terjatuh.

Ia terkulai ke lantai. Ia tidak berusaha bangkit, tidak berusaha melakukan apapun juga.

Saat itu, pikirannya sungguh kosong. Pemandangan yang sangat sulit dibayangkan….
Musim gugur telah lewat. Sebidang tanah kering memancarkan keharuman dedaunan kering.

A Fei menggigit tanah kering itu dan menelan segumpal.

Tanah yang kasar dan kering itu masuk ke dalam kerongkongannya dan ke dalam perutnya.

Seolah-olah ia sedang berusaha mengobati rasa laparnya dengan memakan tanah itu.

Ia telah menjadi seseorang yang berdaging, namun hampa di dalam. Ia tidak punya pikiran, perasaan, tidak punya jiwa. Dua puluh sekian tahun kehidupannya seolah-olah menghilang begitu saja ditelan kehampaan.

Siangkoan Kim-hong berhasil mengejarnya. Ia melirik A Fei sebentar sebelum melangkah di atas tubuhnya dan masuk ke dalam rumah di dekat situ untuk mengambl sebilah pedang.

‘Peng’. Pedang itu menembus tanah, persis di sebelah kanan wajah A Fei.

Ujung pedang yang dingin itu menjilat darah saat menggores pipi A Fei. Darah panah mengalir dari badan pedang, setetes demi setetes jatuh ke tanah.

Lalu terdengar suara Siangkoan Kim-hong yang lebih tajam daripada pedang itu. “Ini pedangmu!”

A Fei diam tidak bergerak.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika kau mati sekarang, tidak akan ada seorangpun yang akan menangisi kematianmu. Tidak akan ada seorang pun yang akan mengasihanimu. Dalam tiga hari mayatmu akan membusuk dalam selokan seperti bangkai anjing liar.”

Siangkoan Kim-hong tersenyum mengejek dan melanjutkan, “Karena seseorang yang mati gara-gara seorang wanita seperti itu, lebih tidak berharga daripada seekor anjing liar.”

Tiba-tiba A Fei berdiri dan mencabut pedang itu.

Matanya merah bagai darah. Mulutnya masih belepotan tanah dan lumpur. Ia betul-betul terlihat seperti seekor binatang buas. Tanya Siangkoan Kim-hong tenang, “Kau ingin membunuhku, bukan? Ayo, kenapa tidak kau serang aku?”

Tangan A Fei gemetar. Pembuluh darahnya terlihat menonjol di sekujur tangannya.

Kata Siangkoan Kim-hong lagi, “Kalau kau berniat membunuh wanita itu, aku tidak akan menghalangimu.”

A Fei memutar badannya, tapi langsung berhenti.

“Apakah kau juga sudah kehilangan keberanian untuk membunuh?” tanya Siangkoan Kim-hong dengan sinis.

A Fei membungkukkan badannya dan mulai muntah- muntah.

Tatapan Siangkoan Kim-hong tidak lagi setajam tadi. Katanya, “Aku tahu, saat ini hidup rasanya jauh lebih mengerikan daripada mati. Namun kalau kau mati sekarang, artinya kau melarikan diri. Dan aku tahu bahwa kau bukan seorang pengecut.”

Tambahnya, “Lagi pula, kau belum memenuhi janjimu padaku.”

A Fei sudah tidak muntah-muntah lagi, namun nafasnya masih tersengal-sengal.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Jika kau masih berani hidup, ikut aku!” Lalu ia segera memutar badannya dan berjalan pergi.

A Fei memandangi muntahannya tadi, lalu ia pun memutar badannya dan pergi mengikuti Siangkoan Kim- hong.

Selama itu, tidak setetes air mata pun keluar dari matanya.

Orang yang tidak mencucurkan air mata, hanya mencucurkan darah!

Dan ia sudah siap untuk mencucurkan darah.

Di sebelah luar pintu terdapat sebuah pekarangan kecil.

Dalam pekarangan itu ada sebatang pohon willow putih yang mengangguk-angguk sedih ditiup angin musim gugur. Seakan-akan sedang bersedih karena singkatnya kehidupan ini, bersedih karena kebodohan manusia yang tidak menyadari betapa berharganya hidup yang singkat ini.

Masih terlihat cahaya di salah satu kamar.

Cahaya itu mengalir keluar dari bawah pintu dan menyinari kaki Siangkoan Kim-hong.

Siangkoan Kim-hong memandang A Fei, lalu menepuk bahunya. Katanya, “Tegakkan dadamu. Masuklah ke dalam dan hapuslah kesedihan hatimu.”

A Fei pun masuk ke dalam kamar itu. Mengapa Siangkoan Kim-hong membawanya kemari? A Fei tidak peduli.
Jika hati seseorang sudah mati, apalagi yang ditakutinya? Ada tujuh orang dalam kamar itu.
Tujuh orang gadis cantik.

Tujuh senyuman yang memikat ditujukan hanya padanya, tujuh pasang mata yang genit memandanginya.

A Fei sungguh terperanjat.

Siangkoan Kim-hong tersenyum lebar, katanya, “Dia bukannya satu-satunya wanita cantik di dunia ini.”

Ketujuh gadis cantik itu langsung mengerubungi dan menariknya ke dalam sambil tertawa cekikikan.

Keharuman tubuh mereka membawa selentingan aroma arak.

Di sudut ruangan terlihat beberapa kotak kayu yang ditumpuk.

Siangkoan Kim-hong membuka salah satu di antaranya dan terlihat cahaya yang gemerlapan di dalamnya.

Kotak itu penuh dengan emas dan permata. Kata Siangkoan Kim-hong, “Dengan kotak-kotak ini, kau dapat membeli cinta seratus lebih wanita.”

Salah satu gadis itu berkata dengan genit, “Hati kami sudah menjadi miliknya. Tidak perlu dibeli lagi.”

Siangkoan Kim-hong tertawa mendengarnya dan berkata, “Lihat, dia juga bukan satu-satunya wanita yang bisa berkata-kata manis padamu. Semua wanita sama, terlahir dengan mulut semanis madu.”

Gadis yang lain cekikikan sambil berkata, “Tapi kami mengatakan yang sebenarnya!”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Kebenaran adalah kebohongan, kebohongan adalah kebenaran. Kebenaran dan kebohongan, sama sekali tidak ada bedanya.”

Perlahan ia menghampiri A Fei dan bertanya, “Kau masih ingin mati?”

A Fei menenggak seguci arak dan tersenyum lebar sambil menjawab, “Mati? Siapa yang ingin mati?”

“Bagus. Selama kau tetap hidup, semua yang ada di sini adalah milikmu!”

A Fei merengkuh salah satu gadis itu ke dalam pelukannya.

Ia memeluknya erat-erat, seakan-akan ingin melumatnya. Siangkoan Kim-hong berjalan ke luar dan menutup pintu.

Suara tawa yang silih berganti terdengar sampai ke luar.

Siangkoan Kim-hong berjalan meLimtasi pekarangan kecil itu sambil menyilangkan tangan di dadanya. Ia menengadah melihat bulan dan menggumam, “Hari akan cerah besok.”

Siangkoan Kim-hong suka hari yang cerah.

Dalam hari yang cerah, darah lebih cepat mengalir dan orang lebih cepat mati!

Hari yang cerah!

***

Debu beterbangan tertiup angin. Jalan sangat panjang. Cahaya matahari menyegarkan dan penuh vitalitas.
Seorang penunggang kuda mengendarai kudanya dengan cepat keluar dari penginapan. Alis matanya tebal, matanya melengkung, dan wajahnya gagah. Ia mengenakan jubah kuning yang Longgar. Dadanya yang bidang menentang angin dan debu yang beterbangan di bawah cahaya matahari yang hangat.

Hanya ada satu hal dalam pikirannya.

‘Bawa datang A Fei untuk membunuh dua orang, yang satu berbaju ungu, yang satu berbaju merah.’ Itu perintah langsung Siangkoan Kim-hong.

Jika seorang anggota Kim-ci-pang menerima perintah Siangkoan Kim-hong, pikiran mereka hanya terfokus pada perintah itu.

Warna muka Liong Siau-hun hampir sama dengan warna baju yang dikenakannya, ungu kemerahan.

Ia bukannya baru saja minum arak.

Kekuasaan pun dapat memabukkan orang bahkan lebih daripada arak.

Siangkoan Kim-hong menyambutnya secara pribadi. Acara ini pasti akan sangat agung dan megah.

Ia berharap dapat mengundang semua orang dalam dunia persilatan untuk menyaksikan dirinya dalam keagungan dan kemegahan ini.

Sayang sekali orang yang datang hari ini sangat sedikit.

Tidak ada orang yang ingin mengundang bahaya yang tidak perlu bagi dirinya sendiri.

Tiga cawan arak sudah membasahi kerongkongannya. Wajah Liong Siau-hun makin memerah. Ia mengangkat cawannya lagi dan berkata, “Toako, kebaikanmu padaku sungguh tidak dapat kubalas dengan apapun juga. Aku tidak akan pernah melupakan kemurahan hatimu. Aku bersulang untukmu dengan cawan ini!” Kata Siangkoan Kim-hong dingin, “Aku tidak minum arak.”

Liong Siau-in yang berdiri di belakan mereka segera menuang secawan teh dan menghaturkannya kepada Siangkoan Kim-hong. Katanya, “Kalau begitu, Paman, harap berkenan menerima secawan teh ini.”

Sahut Siangkoan Kim-hong, “Aku juga tidak minum teh.”

Liong Siau-hun tertawa, dan bertanya, “Kalau begitu, apa yang biasanya Saudara minum?”

“Air putih.”

Wajah Liong Siau-hun terlihat kaget. “Kau hanya minum air putih?”

“Air putih sangat menyejukkan jiwa. Orang yang suka minum air putih, pikirannya jernih.”

Liong Siau-in pun mengambil cawan yang lain dan mengisinya dengan air putih, dan menyuguhkannya pada Siangkoan Kim-hong.

Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku hanya minum kalau aku haus. Saat ini, aku tidak haus.”

Liong Siau-hun mulai tampak gelisah.

Liong Siau-in berkata dengan tenang, “Kalau begitu, bagaimana kalau aku saja yang menggantikanmu minum cawan ini?” Sahut Siangkoan Kim-hong, “Kau yang mengisinya, minumlah.”

Liong Siau-in mengangkat cawan arak, cawan teh, dan cawan air putih, dan minum ketiganya.

Kemudian Liong Siau-in pun berkata, “Di jaman dahulu, orang mengangkat saudara dengan mengangkat sumpah dengan darah. Tapi Paman dan ayah adalah orang-orang yang pandai dan terpelajar, tidak perlulah menggunakan adat istiadat semacam itu. Tapi kebiasaan untuk saling memberi hormat dengan hio tidak boleh dikesampingkan.”

Tanya Siangkoan Kim-hong, “Apa gunanya hio?”

Jawab Liong Siau-in, “Untuk berterima kasih kepada langit dan bumi. Untuk memberi hormat pada dewa- dewa dan setan-setan.”

“Dewa-dewa dan setan-setan tidak datang menghormatiku. Mengapa aku harus menghormati mereka?”

“Memang, Paman adalah pahlawan yang sangat agung dunia ini, bahkan di dunia lain. Dewa-dewa dan para setan pun pasti sangat segan padamu.”

“Aku tidak menghormati mereka, mengapa mereka harus menghormati aku?”

Liong Siau-in kehabisan kata-kata dan terbatuk dua kali. Akhirnya ia berkata, “Jadi Paman, maksudmu adalah….” Potong Siangkoan Kim-hong tidak sabar, “Yang akan mengangkat saudara dengan aku itu kau atau ayahmu?”

“Tentu saja ayahku.”

“Kalau begitu, minggir dan diam!” “Baiklah,” sahut Liong Siau-in pelan.
Ia menundukkan kepalanya dengan hormat dan mundur ke belakang. Wajahnya tidak berubah sedikitpun.

Sementara itu wajah Liong Siau-hun menjadi tegang, katanya tegas, “Anakku yang tidak berguna itu memang tidak punya sopan santun. Toako, mohon jangan tersinggung.”

Siangkoan Kim-hong tiba-tiba menggebrak meja dan berkata tajam, “Anak seperti itu, bagaimana ia bisa menjadi penerusmu?”

Ia mengeluh dan meneruskan, “Sayang sekali ia bukan anakku.”

Muka Liong Siau-hun menjadi merah dan tidak tahu harus bilang apa.

Seseorang tiba-tiba masuk dan langsung menuju Siangkoan Kim-hong. Alisnya tebal dan matanya melengkung. Ketika ia tepat berada di belakang Siangkoan Kim-hong, ia berbisik, “Perintahmu sudah diberikan, namun….” “Namun apa?”

“Ia sedang mabuk. Sangat mabuk.”

Siangkoan Kim-hong mengerutkan alisnya dan berkata, “Siram dia dengan air dingin. Jika belum bangun juga, siram dengan air kencing.”

“Ya,” jawab orang itu dengan tatapan penuh kekaguman.

Kecuali orang mati, siapapun dapat dibangunkan dengan siraman air kencing.

Liong Siau-hun tidak dapat mendengar apa yang sedang dipercakapkan. Ia lalu berkata, “Toako, apakah kau sedang menantikan seseorang?”

Sahut Siangkoan Kim-hong, “Siapakah yang cukup pantas untuk kunantikan?”

Kata Liong Siau-hun, “Kalau semua sudah hadir, mengapa kita tidak….”

Siangkoan Kim-hong memotongnya dengan tawa dan berkata, “Usiamu?”

“Lima puluh satu.”

“Hm, ternyata kau lebih tua daripada aku. Kelihatannya aku yang harus memanggilmu Kakak.”

Wajah Liong Siau-hun kelihatan tidak sabar. Ia segera berdiri dan berkata, “Ah, tidak jadi soal siapa yang tua siapa yang muda. Yang penting adalah apakah seseorang mampu atau tidak. Toako, tolong jangan puji aku berlebih-lebihan.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Kalau kau menganggapku lebih tua, maka kau harus mendengarkan petunjukku.”

“Ya.”

“Bagus. Duduklah dan mari minum…. Pertama-tama mari minum untuk sahabat-sahabat di sini.”

Orang yang dapat duduk dan minum di situ, sudah jelas adalah orang yang cukup terkemuka.

Siangkoan Kim-hong belum mengangkat sumpitnya, maka sumpit semua orang pun seolah-olah beratnya menjadi beratus-ratus kilo. Siapa yang bisa makan?

Kata Siangkoan Kim-hong, “Makanan sudah siap. Jika tidak dimakan, makanan ini akan jadi mubazir. Aku tidak suka menyia-nyiakan barang. Mari, silakan dicicipi.”

Setelah perkataannya ini, tujuh delapan pasang sumpit mulai bergerak.

Kata Liong Siau-hun, “Ikannya kelihatan sangat segar. Toako, cobalah sedikit.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Aku makan kalau aku lapar. Saat ini, aku tidak lapar.” Tambahnya, “Makan sewaktu tidak lapar adalah sama dengan menyia-nyiakan barang.”

Setelah perkataan itu, beberapa pasang sumpit kembali diletakkan ke atas meja.

Salah satu di antara yang datang adalah seseorang dengan wajah pucat dan tubuh yang tinggi. Di jarinya terlihat sebentuk cincin kumala yang sangat indah.
Sarung pedang yang tergantung di pinggangnya pun dihiasi dengan batu-batu kumala yang indah.

Walaupun orang ini tidak berkata sesuatupun, wajahnya kelihatan sangat gelisah.

Ia belum pernah merasakan kegelisahan seperti ini. Kini, ia menyesal datang ke tempat ini.

Seharusnya ia tidak perlu datang.

‘Kumala Gemerlapan Hin’ adalah merek yang terkenal. Jika orang dalam dunia bisnis mendengar nama ‘Kumala Gemerlapan Hin’, itu sama dengan orang dalam dunia persilatan mendengar nama ‘Pisau Kilat si Li’.

Siauya ‘Kumala Gemerlapan Hin’, Sebun Yu sudah terbiasa dimanjakan dan dilayani sejak masih kecil. Kalau ia ingin pergi ke timur, siapapun tidak berani mengusulkan untuk pergi ke barat.

Waktu ia ingin belajar ilmu pedang, banyak guru pedang diundang untuk mengajarnya, bahkan mencarikan untuknya sebilah pedang mustika. Pada usia 10 tahun, Sebun Yu sudah menggunakan pedang itu untuk membunuh….

Membunuh tanpa alasan. Ia hanya ingin tahu rasanya membunuh seseorang. Maka segera dicarikan untuknya orang yang bisa dibunuhnya.

Orang seperti ini harus duduk di meja dan dipaksa untuk mengikuti tekanan semacam ini. Tidak heran ia merasa sangat gelisah.

Ia pun belum menyentuh sumpitnya sama sekali. Mata Siangkoan Kim-hong memandang Sebun Yu.
Sebun Yu ingin menoleh dan melepaskan diri dari pandangan itu, tapi mata Siangkoan Kim-hong seakan- akan mempunyai kekuatan magnetis yang membuatnya tidak dapat melengos sedikitpun.

Jika ia ingin memandang seseorang, orang itu hanya bisa membiarkan dia memandangnya.

Sebun Yu merasa sekujur tubuhnya menjadi dingin. Mulai dari ujung jemarinya, perasaan dingin itu merayap ke punggung, masuk ke dalam tulang-tulangnya, dan merembes ke dalam hatinya.

Tiba-tiba Siangkoan Kim-hong berseru, “Apakah makanan ini beracun?”

Tanya Sebun Yu, “Mengapa beracun?” “Kalau tidak beracun, mengapa tidak kau makan?”

“Aku juga tidak lapar, jadi aku tidak mau menyia-nyiakan makanan.”

Tanya Siangkoan Kim-hong, “Benarkah kau tidak lapar?” “Ben….Benar.”
Kata Siangkoan Kim-hong, “Menyia-nyiakan makanan masih dapat dimaafkan, tapi berbohong tidak dapat ditolerir. Mengerti?”

Sebun Yu tidak dapat menahan rasa marahnya. Katanya, “Buat apa aku berbohong untuk hal sepele macam ini?”

“Berbohong adalah berbohong. Tidak jadi soal apakah kau berbohong mengenai hal sepele atau hal penting.”

“Aku sudah bilang, aku tidak lapar,” tegas Sebun Yu.

Tanya Siangkoan Kim-hong, “Ini sudah lewat waktu makan. Bagaimana mungkin kau tidak lapar?”

“Karena makananku sebelumnya belum habis tercerna.”

Kata Siangkoan Kim-hong, “Kau makan di Rumah Makan Fuiyun di bagian selatan kota. Benar kan?”

“Ya, benar.” “Kau memesan sepiring ayam wijen, semangkuk sup mi belut, dan bakpao daging. Kau makan dua potong ayam, setengah mangkuk mi, dan tujuh bakpao. Benar?”

Sebun Yu tertawa dan berseru, “Aku tidak menyangka Siangkoan-pangcu sudah menyelidiki setiap gerak langkahku sampai sedetil ini!”

Siangkoan Kim-hong tidak menggubrisnya. Ia terus berkata, “Karena tadi kau bilang apa yang kau makan belum habis tercerna, maka seharusnya masih ada dalam perutmu, bukan?”

“Ya, kurasa begitu.”

Siangkoan Kim-hong menurunkan pandangannya dan berkata, “Coba buka perutnya dan mari kita lihat apakah masih ada atau tidak.”

Walaupun setiap orang di situ tahu bahwa ia sedang mencari gara-gara dengan Sebun Yu, mereka semua terkejut bahwa peristiwa ini tiba-tiba menjadi separah itu. Tapi tidak seorang pun berani menunjukkan reaksi negatif atau rasa heran akan perkataannya itu.

Perintah Siangkoan Kim-hong tidak bisa ditarik kembali. Sekali diberikan, harus dilaksanakan.

Wajah Sebun Yu langsung memucat. Ia berkata ragu- ragu, “Ketua, kau hanya bercanda denganku, bukan?”

Siangkoan Kim-hong tidak mempedulikannya sama sekali. Empat orang berjubah kuning masuk. Sebun Yu melompat dan menghunus pedangnya. Gerakannya sangat cermat dan akurat. Tidak seorangpun pernah melihat dia bertempur, namun mereka segera tahu bahwa ilmu pedangnya tidak lemah.

Namun sebelum pedang keluar dari sarungnya, terdengar bunyi ‘Siut’. Sepasang sumpit di tangan Siangkoan Kim- hong telah tertancap di bahu kiri dan kanan Sebun Yu.
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 66 : Menghina Diri Sendiri"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close