Si Pisau Terbang Li Bab 53 : Tipuan

Mode Malam
  
Bab 53. Tipuan

Liong Siau-hun berpura-pura tertawa. Katanya, “Seseorang mungkin punya nama yang salah, tapi julukan itu selalu benar. Seseorang yang bodoh seperti keledai mungkin bernama Tuan Pintar. Tapi jika seseorang dijuluki Si Gila, dia pasti benar-benar gila.

Awalnya Li Sun-Hoan tidak ingin menanggapi. Namun akhirnya ia berkata, “Namun jika seseorang itu terlalu pandai, tahu terlalu banyak, mungkin sedikit demi sedikit ia bisa menjadi gila.”

“O ya?”

“Karena pada akhirnya ia mungkin merasa hidup itu lebih menyenangkan jika ia menjadi orang gila. Untuk sebagian orang, penderitaan yang terbesar adalah bahwa mereka ingin menjadi gila, tapi tidak bisa.”

Liong Siau-hun tersenyum. Katanya, “Untungnya aku tidak sepandai itu. Jadi aku tidak mungkin mempunyai penderitaan semacam itu.”

Tentu saja ia tidak mempunyai penderitaan semacam itu. Ia bahkan tidak pernah menderita. Karena ia memberikan penderitaannya untuk dipikul orang lain.

Li Sun-Hoan termenung lama. Lalu ia menundukkan kepalanya dan minum arak perlahan-lahan.

Liong Siau-hun hanya mengawasinya, menunggu.

Ia tahu bahwa jika Li Sun-Hoan minum perlahan-lahan, ia ingin mengatakan sesuatu yang penting.

Sampai cukup lama, akhirnya Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan berkata, “Toako….”

“Ya?”

“Ada sesuatu yang mengganggu hatiku yang ingin aku utarakan. Namun aku tidak tahu apakah aku sebaiknya mengatakannya atau tidak.”

Kata Liong Siau-hun, “Katakan saja.”

Kata Li Sun-Hoan, “Apapun yang terjadi, kita sudah bersahabat bertahun-tahun.”

Ralat Liong Siau-hun, “Bukan sahabat, saudara angkat.” “Jadi kau pasti tahu orang macam apa aku.”
“Ya….” Walaupun ia hanya mengatakan satu suku kata, Liong Siau-hun mengambil waktu begitu lama. Kata itu pun mengandung sedikit rasa penyesalan.

Apapun yang dilakukannya ia masih seorang manusia.

Setiap manusia pasti masih punya rasa kemanusiaan dalam dirinya.

Kata Li Sun-Hoan, “Oleh sebab itu, jika kau ingin aku melakukan sesuatu, seharusnya kau cukup mengatakannya padaku. Jika hal itu dapat kulakukan, pasti aku akan melakukannya.”

Perlahan-lahan Liong Siau-hun mengangkat cawan araknya, seolah-olah ingin menyembunyikan wajahnya.

Li Sun-Hoan sudah berbuat terlalu banyak bagi dirinya.

Setelah sekian lama, ia menghela nafas dan berkata, “Aku tahu maksudmu. Tapi…..waktu dapat mengubah begitu banyak hal.”

Wajah Li Sun-Hoan terlihat semakin muram. Katanya, “Aku tahu ada salah paham di antara kita….”

Tanya Liong Siau-hun cepat, “Salah paham?”

“Ya, salah paham. Namun dalam hal-hal tertentu, Toako, seharusnya kau tidak salah paham padaku.” Kini wajah Liong Siau-hun sudah pucat pasi. Ia terdiam sekian lama, dan akhirnya berkata, “Namun dalam satu hal itu, sama sekali tidak ada kesalahpahaman.”

Tanya Li Sun-Hoan, “Hal yang mana itu?”

Baru saja kata-kata itu keluar dari mulutnya, Li Sun-Hoan merasa sangat menyesal menanyakannya.

Seharusnya ia sudah tahu jawabannya. Liong Siau-in sepertinya merasa bahwa ayahnya akan mengatakan sesuatu yang sangat penting, sehingga ia segera keluar tanpa bersuara.

Liong Siau-hun tidak menjawab sampai cukup lama. Akhirnya ia berkata, “Aku tahu kau telah menanggung penderitaan yang cukup berat beberapa tahun terakhir ini.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Sebagian besar orang hidup menderita.”

“Namun penderitaanmu lebih besar daripada orang lain.” “Hah?”
Kata Liong Siau-hun, “Karena kau telah melepaskan wanita yang paling kau cintai. Memberikannya kepada orang lain untuk menjadi istrinya.”

Sepercik angur tumpah dari cawan, karena tangan Li Sun-Hoan bergetar hebat. Lanjut Liong Siau-hun, “Namun penderitaanmu tidak sangat sangat dalam. Karena jika seseorang merasa bahwa dirinya telah berkorban untuk orang lain, ia akan berbesar hati. Dan hal ini dapat mengurangi penderitaannya.”

Perkataan ini sangat tajam, namun juga sangat masuk akal.

Tentu saja, hal ini tidak bisa disamaratakan untuk semua situasi.

Tangan Liong Siau-hun pun bergetar. Katanya, “Mungkin kau masih belum memahami arti penderitaan yang sesungguhnya.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Mungkin…..”

Kata Liong Siau-hun, “Ketika seorang laki-laki mengetahui bahwa istrinya adalah hasil pemberian orang lain, dan bahwa istrinya masih tetap mencintai orang itu….. Itu adalah penderitaan yang terbesar dalam hidup manusia!”

Benar sekali.

Ini bukan saja penderitaan yang terbesar, namun juga penghinaan yang terbesar.

Biasanya, seorang laki-laki merasa lebih baik mati daripada mengungkapkan hal ini. Bahkan mengucapkannya pun terasa sangat menyakitkan! Tidak seorang pun yang ingin menyakiti dirinya sendiri, mempermalukan dirinya sendiri, seperti ini.

Namun Liong Siau-hun telah mengatakannya. Ia telah mengatakannya pada Li Sun-Hoan.

Hati Li Sun-Hoan pun hancur.

Dari perkataan ini, ia menyadari dua hal. Yang pertama, Liong Siau-hun pun ternyata merasakan penderitaan yang sangat besar. Oleh sebab itulah ia berubah, berubah begitu drastis. Siapapun yang berada di tempatnya, pasti akan berubah seperti dia juga.

Tiba-tiba Li Sun-Hoan merasa kasihan pada Liong Siau- hun.

Yang kedua, karena Liong Siau-hun telah mengatakan hal ini padanya, dapat dipastikan bahwa hidupnya tidak akan lama lagi!

Li Sun-Hoan tidak pernah peduli akan hidup dan mati. Namun dapatkah ia mati sekarang?
Mereka berdua tidak berbicara banyak. Namun tiap kata keluar dengan hati-hati, setelah dipikirkan masak-masak, setelah jeda yang begitu lama.

Hari itu mendung. Senja pun sudah mulai turun. Walaupun hari belum malam, langit sudah sangat gelap. Namun wajah Liong Siau-hun lebih gelap daripada warna langit saat itu.

Ia mengangkat cawan araknya, lalu diturunkannya kembali. Diangkat, lalu diturunkan…..

Bukan karena ia tidak bisa minum arak itu. Namun karena ia tidak ingin minum arak itu. Karena ia tahu, semakin banyak seseorang minum arak, ia akan menjadi lebih ceroboh. Seorang yang sangat tenang sekalipun, kalau ia bertindak ceroboh, keputusan yang diambilnya adalah berdasarkan perasaannya.

Setelah sekian lama, akhirnya Liong Siau-hun berkata, “Seharusnya aku tidak mengatakan hal itu hari ini.”

Li Sun-Hoan tersenyum dan menyahut, “Setiap orang pernah mengatakan hal-hal yang tidak ingin mereka katakan. Itulah manusia.”

“Namun aku tidak mengundangmu ke sini untuk mengatakan hal itu.”

“Aku tahu.”

“Apakah kau tahu mengapa aku mengundangmu ke sini?”

“Ya.”

Untuk pertama kalinya, Liong Siau-hun terlihat terkejut. “Kau sungguh-sungguh tahu?” “Aku tahu.”

Li Sun-Hoan tidak menunggu Liong Siau-hun menanyakan lagi. Ia segera melanjutkan, “Apakah kau betul-betul mengira bahwa ada harta karun di Hin-hun- ceng?”

Liong Siau-hun berpikir sejenak dan menjawab, “Ya.” “Di mana kau pikir harta karun itu berada?”
“Kau pasti tahu tempatnya.”

Kata Li Sun-Hoan, “Aku selalu mempunyai masalah aneh.”

“Masalah aneh apa?”

“Masalahku adalah bahwa aku tahu hal-hal yang seharusnya aku tidak tahu. Namun aku malah tidak tahu hal-hal yang seharusnya aku tahu.”

Mulut Liong Siau-hun terbungkam.

Lanjut Li Sun-Hoan, “Seharusnya kau sudah tahu. Masalah harta karun ini hanyalah tipuan….”

Liong Siau-hun memotong cepat, “Aku percaya padamu. Karena kau tidak pernah berdusta padaku.”

Ia memandang Li Sun-Hoan lekat-lekat dan menambahkan, “Jika ada seseorang yang dapat kupercaya di dunia ini, orang itu adalah engkau. Jika aku masih mempunyai seorang sahabat di dunia ini, orang itu adalah engkau. Semua perkataanku mungkin adalah dusta, namun kali ini aku sungguh-sungguh mengatakan yang sebenarnya.”

Li Sun-Hoan pun menatap Liong Siau-hun lekat-lekat. Ia menghela nafas panjang dan berkata, “Aku percaya padamu karena…..”

Ia tidak melanjutkannya, karena ia sudah mulai terbatuk- batuk.

Waktu batuknya berhenti, Liong Siau-hunlah yang menyelesaikan kalimatnya, “Kau percaya padaku karena kau menyadari bahwa dirimu sudah tidak berguna lagi bagiku, sehingga aku tidak lagi punya alasan untuk menipumu. Betul kan?”

Li Sun-Hoan menjawab pertanyaan ini dengan diam.

Liong Siau-hun bangkit berdiri dan berjalan mengitari meja.

Tidak ada suara lain di pekarangan itu. Langkahnya makin lama makin terasa berat.

Seakan-akan ia merasa gelisah…. Atau mungkin ia hanya ingin Li Sun-Hoan berpikir demikian.

Lalu ia berhenti. Ia berhenti tepat di depan Li Sun-Hoan, katanya, “Kau pasti mengira aku akan membunuhmu.” Wajah Li Sun-Hoan tetap tenang, sangat tenang. Ia pun menyahut dengan tenang, “Apapun yang kau perbuat, aku tidak mempersalahkanmu.”

Kata Liong Siau-hun, “Namun aku tidak akan membunuhmu.”

“Aku tahu.”

“Ya, kau pasti tahu. Kau sangat memahami diriku.”

Tiba-tiba ia berbicara dengan berapi-api dan melanjutkan, “Karena walaupun aku membunuhmu, aku tetap tidak dapat memiliki hatinya. Aku hanya akan membuatnya membenciku lebih dalam lagi.”

Li Sun-Hoan menarik nafas panjang dan berkata, “Ada begitu banyak hal dalam kehidupan ini yang berada di luar kendali manusia.”

Di luar kendali manusia.

Kalimat yang sangat sederhana. Namun merupakan satu yang yang paling menyakitkan dalam hidup ini.

Ketika kau berjumpa dengannya, kau tidak dapat melawannya, kau tidak dapat bertempur dengannya. Apapun yang kau lakukan, apapun yang kau usahakan, hal itu tetap berada di luar kuasamu.

Liong Siau-hun mengepalkan tangannya kuat-kuat. Katanya, “Aku tidak bisa membunuhmu, tapi bukan berarti aku akan melepaskanmu.” Li Sun-Hoan mengangguk.

Karena aku masih berguna bagimu dalam keadaan hidup. Namun ia tidak mengatakannya.
Bagaimanapun Liong Siau-hun menyakitinya, mengkhianatinya, ia tidak akan mengucapkan sepatah katapun yang dapat menyakiti hati Liong Siau-hun.

Liong Siau-hun mengepalkan tangannya lebih kuat lagi. Karena hanya di hadapan Li Sun-Hoanlah ia merasa sangat kecil, sangat tidak berarti.

Oleh sebab itulah, rasa setia kawan Li Sun-Hoan yang begitu besar bukannya melunakkan hatinya, namun malah membuat amarahnya makin berkobar-kobar.

Ia memandang benci pada Li Sun-Hoan dan berkata, “Aku akan membawamu menemui seseorang. Orang ini ingin bertemu denganmu sejak lama. Mungkin….kau juga ingin menemuinya.”

***

Ruangan itu besar.

Namun walaupun ruangan itu besar, hanya ada satu jendela di situ. Satu jendela yang sangat kecil dan sangat jauh di atas.

Jendela itu terbuka. Namun pemandangan di luar tidak bisa terlihat dari jendela itu. Pintunya juga sangat kecil. Seseorang yang berbahu lebar harus masuk dengan memiringkan badannya.

Pintu itu juga terbuka.

Dinding ruangan itu dicat putih. Catnya sangat tebal, seolah-olah supaya orang tidak tahu apakah itu adalah dinding batu, dinding beton, atau dinding besi.

Ada dua tempat tidur di sudut ruangan. Tempat tidur kayu.
Seprainya sangat bersih, walaupun tampak sederhana.

Selain kedua tempat tidur itu, hanya ada lagi satu meja besar di ruangan itu.

Meja itu penuh dengan buku-buku rekening dan berkas- berkas.

Seseorang berdiri di depan meja itu. Kadang-kadang ia memberi satu dua tanda di buku rekening itu dengan kuasnya. Sekali waktu, terbayang seulas senyum di sudut bibirnya.

Ia mengerjakannya dengan berdiri!

Ia merasa bahwa jika seseorang duduk, orang itu menjadi rileks. Dan jika seseorang menjadi rileks, ia akan lebih sering melakukan kesalahan.

Ia tidak pernah rileks. Ia tidak pernah melakukan kesalahan. Ia tidak pernah kalah.
Ada seseorang lagi di belakangnya.

Orang itu berdiri bahkan lebih tegak lagi, seperti sebatang tombak.

Ia hanya berdiri di situ. Tidak tahu berapa lama. Ia tidak bergerak seujung jari pun.

Seekor nyamuk terbang mengitarinya. Bahkan matanya pun tidak berkedip.
Nyamuk itu hinggap di hidungnya dan mulai mengisap darahnya.

Ia tetap tidak bergeming.

Seolah-olah ia tidak punya perasaan. Tidak merasa sakit, tidak merasa senang.

Mungkin ia pun tidak tahu mengapa ia hidup.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 53 : Tipuan"

Post a Comment

close