Si Pisau Terbang Li Bab 44 : Hidup dan Mati

Mode Malam
 
Bab 44. Selamat dari Kematian

Lemari itu gelap dan pengap. Orang lain mungkin akan jadi gila menghadapi situasi seperti ini. Orang-orang yang datang kelihatannya mempunyai maksud buruk. Kalau tidak, mereka tidak mungkin mendorong Ling Ling seperti itu.

Namun Li Sun-Hoan tetap tenang. Ia tersenyum dalam hati.
Ia teringat hari dia pertama kali datang ke sini, waktu Ling Ling mengatainya sebagai seorang perampok. Gadis muda ini mungkin tidak pernah belajar di sekolah, namun kepandaiannya berbohong sepertinya sudah setaraf dengan Lim Sian-ji.

Namun kedua tamu itu tidak mempedulikan si gadis sama sekali. Mereka berjalan menjelajahi dua kamar di depan, sepertinya mereka sedang mencari sesuatu. Lalu mereka masuk ke dalam kamar tempat Li Sun-Hoan berada. Ling Ling segera menghalangi langkah mereka dan berteriak, “Ini adalah kamar pribadi Nonaku. Kalian tidak boleh sembarangan masuk.”

Sahut salah seorang tamu, “Tapi kamu datang untuk menemui Nonamu.”

Suara ini sangat halus, sangat empuk, bahkan mengandung seulas senyum.

Suara seorang wanita! Li Sun-Hoan terkesiap.
Terdengar Ling Ling berkata, “Kalau memang demikian, apakah kalian betul-betul mengenalnya?”

Sahut wanita itu, “Tentu saja….kami bersahabat akrab.”

Kata Ling Ling, “Kalau begitu, mengapa kalian tidak bilang dari tadi. Aku kira kalian adalah perampok.”

Si wanita terkekeh, katanya, “Apakah kami kelihatan seperti perampok?”

Sahut Ling Ling, “Aku tidak tahu tentang kalian berdua. Tapi perampok zaman sekarang berbeda dengan dulu. Beberapa bahkan lebih sopan dan lebih mentereng daripada kalian berdua. Sekarang ini, kita tidak bisa lagi menilai seseorang dari penampilannya.” Sebelum si wanita menjawab, suara yang lain berkata, “Di mana Nonamu? Bisakah kau memintanya untuk keluar?”

Suara ini rendah dan sedikit serak, namun cukup merdu juga. Li Sun-Hoan merasa pernah mendengar suara ini, namun ia tidak bisa mengingat siapa pemiliknya.

Jawab Ling Ling, “Aku sungguh mohon maaf, namun Nona sudah pergi beberapa hari yang lalu. Aku disuruhnya tinggal untuk menjaga rumah. Jika kalian mau meninggalkan pesan, aku akan menyampaikannya kepada Nona.”

Si wanita bertanya, “Kapan ia kembali?”

Sahut Ling Ling, “Mmmm, aku tidak tahu…. Jika Nona tidak memberi tahu, aku takut untuk bertanya.”

Wanita yang lain mendengus dan berkata sinis, “Enak betul. Ia ada di sini setiap hari, kecuali di hari kita datang. Apakah dia bersembunyi dari kita?”

Kata-kata ini membuktikan bahwa mereka memang datang untuk cari gara-gara.

Ling Ling tetap tersenyum, katanya, “Jika kalian berdua adalah sahabat Nona, beliau pasti akan senang untuk bertemu. Mengapa harus bersembunyi?”

Kata wanita itu dengan tersenyum, “Ada orang yang bersedia menemui siapa saja kecuali sahabatnya.
Tidakkah itu aneh?” Wanita yang lain berkata dengan dingin, “Mungkin karena ia terlalu banyak berbuat salah terhadap sahabat- sahabatnya.”

Ling Ling masih tersenyum. “Kalian berdua bicara yang aneh-aneh. Tempat ini sangat kecil. Tidak ada tempat untuk bersembunyi.”

Kata si wanita, “O ya? Walaupun aku tidak mengenal seluk-beluk rumah ini, aku bisa saja menemukan ruang rahasia tempat bersembunyi di sini.”

Kata Ling Ling, “Ya mungkin, jika kau dapat bersembunyi di lemari sana.”

Lalu ia tertawa dan menambahkan, “Namun jika ada yang bersembunyi di dalam lemari, kurasa ia akan mati tidak bisa bernafas.”

Si wanita juga tertawa dan berkata, “Benar juga. Nonamu sangat mengutamakan kenyamanan. Ia tidak mungkin tahan duduk dalam lemari itu….”

Kedua wanita itu tertawa licik.

Setelah cukup lama, si wanita bertanya, “Jika Nonamu tidak ada dalam lemari itu, siapa yang ada di sana sekarang?”

Sahut Ling Ling terbelalak, “Apa? Ada orang dalam lemari? Bagaimana aku bisa tidak tahu?” Tanya si wanita lagi, “Jika tidak ada siapa-siapa dalam lemari, mengapa engkau menghalanginya? Apakah kau kuatir kami akan mengintip baju-baju Nonamu?”

Kata Ling Ling, “Apa yang kau bicarakan? Aku tidak menghalangi apa pun…”

Si wanita berkata, “Adik kecil, kau memang pandai bicara, tapi kau masih sangat muda. Kau belum cukup umur untuk menipu dua rubah macam kami.”

Bersembunyi di dalam lemari pakaian bukanlah hal yang dapat dibanggakan. Li Sun-Hoan sungguh tidak tahu bagaimana reaksi kedua wanita ini saat menemukannya.

Ia pun belum tahu siapa mereka.

Suara wanita yang pertama, halus dan lembut, namun kata-katanya menusuk seperti jarum. Sudah pasti, sulit untuk menghadapinya.

Wanita yang satu lagi tidak bicara banyak, namun dengan kata-katanya yang jarang ia ingin cari gara-gara. Sepertinya ia punya kebencian terhadap Lim Sian-ji.

Ilmu silat keduanya setidaknya setanding dengan Lim Sian-ji.

Terdengar Ling Ling memekik dan pintu lemari pun terbuka.

Li Sun-Hoan memejamkan matanya, berharap kedua wanita ini tidak mengenalnya. Si wanita pun tidak dapat mempercayai penglihatannya. Ia tidak menyangka bahwa yang di dalam lemari adalah seorang laki-laki. Ia tertegun.

Lalu ia tersenyum dan berkata, “Adik kecil, siapa laki-laki ini? Apakah dia sedang tidur?”

Kata Ling Ling tergagap, “Ia…. Ia adalah saudara sepupuku.”

Si wanita tergelak, katanya, “Oh, betapa lucunya! Kau tahu, waktu aku masih muda, aku pun sering menyembunyikan kekasihku di dalam lemari. Suatu hari, aku kepergok, dan aku pun mengatakan bahwa ia adalah saudara sepupuku!”

Lalu ia pun menambahkan, “Gadis kecil ini luar biasa. Lebih hebat daripada kita.”

Wanita yang lain terdiam cukup lama. Akhirnya ia berkata, “Lim Sian-ji tidak ada di sini. Mari kita pulang saja.”

Si wanita menyahut, “Mengapa terburu-buru. Kita kan sudah ada di sini. Kenapa kita tidak bersantai dulu sejenak?”

Waktu pintu lemari dibuka, Li Sun-Hoan mencium bau harum semerbak. Kini keharuman itu makin kental, yang artinya wanita itu semakin dekat dengan dia. Si wanita kemudian berkata, “Adik kecil, kau mungkin masih muda, namun pandanganmu terhadap pria ternyata baik sekali.”

Sahut Ling Ling, “Tidak ada banyak pria di sekitar sini, dan Nona mengambil yang bagus-bagus. Aku harus puas dengan dia.”

Tanya si wanita, “Maksudmu kau tidak puas dengan dia? Lihat orang ini. Ia tidak terlalu gemuk, tidak terlalu kurus. Wajahnya pun cukup ganteng, dan kelihatannya ia cukup berpengalaman dengan wanita.”

Kata Ling Ling, “Yah, lumayanlah. Tapi kelemahannya adalah bahwa dia terlalu banyak tidur.”

Sahut si wanita sambil tersenyum nakal, “Mungkin karena ia terlalu lelah….Bagaimana mungkin dia tidak lelah setelah berjumpa dengan setan kecil sepertimu?”

Kata Ling Ling lagi, “Ia juga sudah tua.”

Kata si wanita, “Betul. Ia memang terlalu tua untukmu. Tapi cocok sekali untukku.”

Tambahnya, “Jika adik kecil tak suka padanya, kau boleh memberikannya untukku. Aku berjanji akan memberimu seorang pria yang lebih muda dalam satu dua hari ini.”

Wanita itu sebelumnya tampak sopan, namun setelah melihat Li Sun-Hoan kelakuannya berubah total. Sambil berbicara, ia sudah mengangkat tubuh Li Sun-Hoan. Saat itu Li Sun-Hoan harus membuka matanya. Waktu ia melihat, ia sungguh terperanjat.
Wanita itu belum tua, mungkin 25 atau 26 tahun. Ia pun tidak jelek. Sebenarnya jika ada orang yang membelahnya menjadi tiga bagian, ia akan menjadi tiga wanita cantik.

Sayangnya ia juga berdagu tiga lapis. Berada dalam pelukannya, Li Sun-Hoan serasa tidur di atas kasur kapuk.

Ia tidak dapat percaya bahwa seorang wanita dengan tawa yang begitu menggiurkan dan suara yang begitu merdu adalah seorang wanita yang sangat gendut.

Tapi yang lebih mengejutkan adalah wanita yang satu lagi.

Wanita itu pun sangat cantik. Pinggangnya amat ramping, dan mengenakan pakaian ketat berwarna biru. Lengan bajunya amat lebar. Ia hanya berdiri mematung, namun karismanya bagai seorang dewi.

Ia bukan lain daripada orang yang dipatahkan pergelangan tangannya oleh Li Sun-Hoan, Na Kiat-cu!

Anehnya, Na Kiat-cu seperti tidak mengenali Li Sun- Hoan. Wajahnya tenang. Ia bahkan tidak sering-sering memandang ke arah Li Sun-Hoan. Si wanita gendut terus tertawa. Tiap kali, seakan-akan Li Sun-Hoan merasa ada gempa bumi.

Ling Ling mulai kebingungan. Katanya, “Tapi orang ini kotor. Berbulan-bulan ia tidak mandi. Kau seharusnya tidak menyentuh dia, bisa kena kutu nanti.”

Sahut si wanita gendut, “Kotor? Sudah pasti tidak. Lagi pula, tidak ada masalah sekalipun ia berkutu. Malah membuatnya makin jantan.”

Kata Ling Ling, “Tapi….ia juga seorang pemabuk.”

Kata si wanita gendut, “Lebih baik lagi. Seorang pria bukan pria sejati kalau ia tidak bisa minum.”

Ia mengedip genit ke arah Li Sun-Hoan dan berbisik, “Sebentar lagi kau akan tahu kehebatanku.”

Ling Ling mulai tertawa. Tawanya sungguh nyaring.

Mata si wanita gendut melebar, tanyanya, “Mengapa kau tertawa?”

Jawab Ling Ling, “Aku menertawakan kebodohanmu. Aku tidak sangka kau mau menyentuhnya.”

Kata si wanita gendut, “Apa istimewanya dia?” Tanya Ling Ling, “Tahukah kau siapa dia?”
Si wanita gendut balas bertanya, “Tahukah kau siapa aku?” Sahut Ling Ling, “Sudah pasti kau bukan saudara sepupunya.”

Si wanita gendut tidak menggubrisnya. “Pernahkah kau dengan nama Budha Perempuan Mahagembira? Aku adalah muridnya, Ci-cun-po. Kepandaianku yang teristimewa adalah makan laki-laki.”

Kata Ling Ling, “Jika kau memakannya, dia akan nyangkut di tenggorokanmu dan kau tidak akan bisa mengeluarkannya lagi.”

Sahut Ci-cun-po, “Tulang pun tidak pernah kuludahkan saat makan laki-laki.”

Ling Ling mengejapkan matanya, katanya, “Kau tidak ingin tahu siapa dia?”

Jawab Ci-cun-po, “Jika aku ingin tahu, aku akan bertanya padanya. Kau tidak perlu kuatir. Lagi pula….selama dia adalah laki-laki, aku pasti puas.”

Lalu ia memandang ke arah Na Kiat-cu, katanya, “Tolonglah aku menyingkirkan gadis kecil ini. Tempat ini cukup bagus dan aku cuma ingin pinjam sebentar.
Jangan ngintip ya.”

Tubuh Li Sun-Hoan merinding. Ia ingin muntah, tapi tidak bisa. Ia ingin mati, namun tidak dapat. Satu- satunya harapannya adalah supaya Na Kiat-cu menuntut balas sekarang juga dan memberinya kematian yang cepat. Namun mengapa Na Kiat-cu berbuat seolah-olah tidak mengenalnya? Ia hanya berdiri di sana, meliriknya pun tidak. Tapi saat itu Na Kiat-cu berkata, “Aku juga menginginkannya.”

Wajah Ci-cun-po tertertekuk dan berseru, “Apa? Apa kau bilang?”

Wajah Na Kiat-cu tetap tenang. Katanya, “Aku menginginkan lelaki itu!”

Ci-cun-po memandangnya dengan tatapan ingin membunuh. Bentaknya, “Berani kau mengambilnya dariku?”

Sahut Na Kiat-cu, “Ya.”

Wajah Ci-cun-po berubah hijau, lalu memucat. Ia tersenyum keji dan berkata, “Jika kau menginginkannya juga, bisa kita bicarakan.”

Kata Na Kiat-cu, “Aku tidak ingin tubuhnya, aku ingin nyawanya!”

Ci-cun-po tersenyum lega. “Ah, itu lebih mudah lagi dibicarakan. Aku ambil badannya dulu, baru kau ambil nyawanya.”

Sahut Na Kiat-cu, “Aku ambil nyawanya dulu, baru kau ambil tubuhnya.” Meluap amarah Ci-cun-po, namun ia tetap berusaha berdamai. “Aku memang sangat suka laki-laki, namun aku tidak suka laki-laki mati.”

Kata Na Kiat-cu, “Saat ini, ia tidak jauh berbeda daripada orang mati.”

Kata Ci-cun-po, “Ia tidak bisa bergerak karena Hiat-to (jalan darah)nya tertutup. Yang pasti, aku bisa membuatnya bergerak lagi.”

Kata Na Kiat-cu, “Kalau ia sudah bisa bergerak, aku tidak bisa lagi mencabut nyawanya.”

Ling Ling menyela sambil tersenyum, “Betul sekali. Kalau ia sudah bisa bergerak, ia hanya perlu menggerakkan tangannya dan kalian berdua akan mati.”

Tanya Ci-cun-po, “Siapa sih orang ini?” Jawab Ling Ling, “Si Pisau Kilat si Li.”
Ci-cun-po terkesiap. Ia menggelengkan kepalanya dan berkata, “Aku tidak percaya. Kalau ia memang betul Li Sun-Hoan, mana mungkin ia mencintaimu?”

Sahut Ling Ling, “Ia memang tidak mencintaiku. Akulah yang mencintainya. Oleh sebab itu aku ingin kau membunuhnya.”

Ci-cun-po tidak mengerti. “Kenapa?” Jawab Ling Ling, “Nonaku bilang bahwa jika aku jatuh cinta pada seseorang dan ia tidak balas mencintaiku, lebih baik laki-laki itu mati daripada ia jatuh ke tangan wanita lain.”

Ci-cun-po mendesah, “Aku tidak menyangka bahwa kau lebih berbisa daripada aku.”

Tanya Ling Ling, “Jadi kau masih menginginkan tubuhnya? Kau berani?”

Ci-cun-po tidak bergeming, hatinya sudah mantap. “Jika aku dapat melewatkan semalam saja dengan laki-laki seperti Li Sun-Hoan, aku akan mati berbahagia.”

Ia lalu menoleh ke arah Na Kiat-cu dan menambahkan, “Jangan kuatir. Kujamin kau tetap bisa mengambil nyawanya setelah kunikmati tubuhnya.”

Na Kiat-cu diam saja.

Kata Ci-cun-po, “Jangan lupa, aku awalnya datang ke sini untuk membantumu. Berilah sedikit muka padaku.”

Na Kiat-cu terdiam sesaat sebelum berkata, “Apakah kau masih menginginkan laki-laki bertangan buntung?”

Kata Ci-cun-po senang, “Tangan buntung sih tidak apa- apa, asalkan bagian yang lain itu masih utuh.”

“Kalau begitu aku ingin satu tangannya.” Ci-cun-po berpikir sejenak dan bertanya, “Tangan yang mana?”

Sahut Na Kiat-cu, “Ia menebas tangan kananku, jadi aku juga menginginkan tangan kanannya.”

Ci-cun-po mendesah dan berkata, “Baiklah. Cepat kau kerjakan dan jangan buat kotor.”

Sahut Na Kiat-cu, “Baik.”

Ia berjalan perlahan-lahan ke arah mereka. Matanya berbinar-binar.

Ling Ling berseru, “Kau sungguh tidak takut padanya?”

Kata Ci-cun-po dengan lembut, “Adik kecil, kalau kau tidak mau dia menderita. ”

Ia tidak menyelesaikan perkataannya.

Sekelebat cahaya biru telah keluar dari lengan baju Na Kiat-cu, terarah pada tangan kanan Li Sun-Hoan.

Terdengar jeritan yang segera berhenti. Tubuh Li Sun-Hoan terhempas ke tanah.
Tidak disangka-sangka, jeritan itu keluar dari mulut Ci- cun-po.

Di tengah-tengah jeritannya, ia melepaskan Li Sun-Hoan dari pelukannya dan balas menyerang Na Kiat-cu. Na Kiat-cu cepat meliukkan pinggangnya dan menghindar.

Walaupun pinggang Ci-cun-po lebih besar dari gentong air, ternyata ia sangat lentur. Ia segera mengubah arah serangannya dan merenggut tangan Na Kiat-cu.

Wajah Na Kiat-cu menjadi pucat pasi.

Wajah Ci-cun-po menjadi hijau karena marah, terlihat sangat jelek. Ia mengertakkan giginya sambil berkata, “Kau…. Kau punya nyali menyerangku? Kubunuh kau!”

Dengan suara gemeretak ia menarik lepas tangan Na Kiat-cu beserta dengan lengan bajunya.

Na Kiat-cu mundur beberapa langkah. Anehnya, ia sama sekali tidak tampak kesakitan.

Ci-cun-po telah mengoyakkan tangan kanannya.

Na Kiat-cu malah tertawa. Katanya, “Lihatlah apa yang kau pegang di tanganmu.”

Ci-cun-po melihat ke dalam tangannya dan terlihatlah ekor kalajengking di pergelangan tangan itu, tersembunyi di balik lengan bajunya yang Longgar.”

Kata Na Kiat-cu lagi, “Tidak ada seorang pun yang dapat berjalan lebih dari tujuh langkah setelah terkena ekor kalajengkingku. Kau lebih besar dari orang biasa, jadi mungkin racunnya tidak akan menyebar begitu cepat.
Tapi aku ragu kalau kau berjalan lebih dari tiga langkah.” Ci-cun-po mengaum dan menyeruduk ingin menyerang Na Kiat-cu.

Tiga langkah ia berjalan dan ia pun rebah jatuh ke tanah.

Na Kiat-cu tidak meliriknya sedikitpun. Ia malah menoleh ke arah Li Sun-Hoan. Ia menatap Li Sun-Hoan dengan pandangan kosong sampai cukup lama. Lalu katanya, “In Gok mati karena ia datang menemui Lim Sian-ji. Aku datang untuk menyelesaikannya dengan Lim Sian-ji.
Tidak ada hubungannya denganmu sedikitpun.”

Ling Ling memotong cepat, “Kalau kau ingin dia bicara, mengapa tak kau buka Hiat-to (jalan darah)nya.”

Na Kiat-cu tidak menggubris gadis itu dan melanjutkan, “Walaupun kau membuat tangan kananku cacad, setidaknya kau menyayangkan nyawaku. Aku selalu membalas budi. Oleh sebab itu aku tidak tahan melihatmu akan diganyang oleh babi gendut itu.”

Li Sun-Hoan mengeluh dalam hati. Ia baru tahu bahwa Na Kiat-cu adalah orang seperti ini.

Na Kiat-cu berkata dingin, “Sekarang aku telah membalas budimu dan tiba saatnya menuntut hakku. Tidak berlebihan jika sekarang aku menginginkan tangan kananmu, bukan?”

Li Sun-Hoan tersenyum, dan diangkatnya tangannya. Na Kiat-cu tertegun, demikian pula Ling Ling. Tangan Li Sun-Hoan sudah bisa bergerak! Namun pisau terbangnya tidak ada di sana!

Melihat tangan itu teracung, apa yang bisa diucapkan Na Kiat-cu?

Li Sun-Hoan tersenyum pahit. Katanya, “Aku berusaha membuka Hiat-to (jalan darah)ku dengan tenaga dalam. Sayangnya, kemampuanku tidak cukup untuk membuka halangan yang terakhir. Siapa sangka waktu aku terjatuh, halangan itu malah terbuka, sehingga aku dapat bergerak lagi.”

Kata Ling Ling kesal, “Mengapa kau begitu penurut? Mengapa kau ulurkan tanganmu begitu saja waktu ia memintanya? Mengapa tak sekalian saja kau berikan pisau untuk memotongnya?”

Wajah Li Sun-Hoan muram. Ia tidak menghiraukan Ling Ling dan berkata pada Na Kiat-cu, “Nona Biru, permintaanmu sama sekali tidak berlebihan. Ini, ambillah.”

Na Kiat-cu terdiam, lama berpikir, lalu mendesah. Katanya, “Ada ya orang seperti ini dalam dunia…..”

Dua kali diulangnya kalimat yang sama. Lalu ia memutar badannya dan berjalan pergi.

Saat itu, tiba-tiba Li Sun-Hoan melompat dengan sigap dan menghadangnya, katanya, “Tolong tunggu sebentar.” 
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 44 : Hidup dan Mati"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close