Si Pisau Terbang Li Bab 32 : Mengerti Musuh Terbesar

Mode Malam
 
Bab 32. Mengerti Musuh Terbesar

Waktu sampai di sana, salah satu dari hidup mereka akan berakhir!

Li Sun-Hoan sungguh menyadarinya.

Kwe ko-yang memang musuh yang sangat berbahaya.

Sepanjang hidup Li Sun-Hoan, mungkin inilah pertama kalinya ia berhadapan dengan musuh yang setanding.

Banyak jago silat ‘mencari kekalahan’ karena mereka berpikir bahwa selama mereka bisa bertemu dengan lawan yang setanding, walaupun kalah, mereka akan merasa bahagia.

Namun Li Sun-Hoan sama sekali tidak berbahagia. Hatinya berdebar-debar.
Ia tahu, dalam kondisinya saat ini, kemungkinan besar ia akan kalah.

Ketika jalan ini berakhir, kemungkinan demikian pula hidupnya!

Ini bisa jadi jalan menuju ke neraka baginya.

Ia tidak takut mati, namun bagaimana bisa dia mati sekarang?

Keadaan sekeliling semakin tandus, terlihat hutan di depan sana. Daun-daun musim gugur berwarna merah bagai darah. Mungkinkah ini ujung jalan itu?
Langkah Kwe ko-yang makin lama makin besar, dan jejak kakinya makin lama makin dangkal. Ini menunjukkan bahwa tenaga dalam dan tenaga luarnya sudah hampir bersatu padu mencapai puncaknya.

Saat itu, konsentrasinya, tenaganya, tubuhnya, akan menjadi satu dengan pedangnya. Saat itu, pedangnya bukan lagi hanya sebilah logam, tapi pedang itu sudah mempunyai jiwa. Saat itu, kekuatan pedangnya akan menjadi tanpa batas dan tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalanginya!

Li Sun-Hoan tiba-tiba berhenti.

Ia tidak berbicara. Ia tidak bersuara sedikit pun. Namun Kwe ko-yang tahu.

Ia tidak menoleh, hanya bertanya singkat, “Di sini?”

Li Sun-Hoan diam saja sampai cukup lama. Lalu katanya, “Hari ini….aku tidak dapat melawanmu.”

Kwe ko-yang memutar badannya, dan matanya menusuk tajam menatap Li Sun-Hoan. Ia berteriak, “Apa katamu?”

Li Sun-Hoan menunduk. Kepalanya terasa berdenyut- denyut. Ia tahu ini adalah tindakan pengecut, sesuatu yang dalam mimpi pun tak pernah dilakukannya.

Tapi saat ini, itulah yang harus dilakukannya.

Tanya Kwe ko-yang, “Katamu, hari ini kau tak dapat melawan aku?”

Li Sun-Hoan hanya bisa mengangguk. Tanya Kwe ko-yang, “Mengapa?”
Sahut Li Sun-Hoan, “Karena aku mengaku kalah.”

Kwe ko-yang menatapnya dengan pandangan tidak percaya. Seakan-akan tidak dikenaLimya lagi orang ini.

Sampai sekian lama, akhirnya Kwe ko-yang mengambil nafas panjang. “Li Sun-Hoan, Li Sun-Hoan, kau betul- betul pahlawan sejati!”

Li Sun-Hoan terkekeh. “Pahlawan? Orang seperti aku disebut pahlawan?”

Kwe ko-yang menggelengkan kepalanya dan mendesah. “Mungkin di seluruh dunia ini, hanya kaulah yang dapat disebut pahlawan sejati.”

Li Sun-Hoan diam saja dan Kwe ko-yang melanjutkan, “Kau mengaku kalah. Aku tahu betapa sulitnya mengatakan hal itu. Bagiku, mungkin lebih baik mati daripada harus mengatakannya.” Ia tersenyum, sambungnya, “Sebetulnya, mati itu sangat mudah. Namun untuk mengakui kekalahan demi membantu orang lain, itu adalah kakrakter seorang pahlawan, seorang laki-laki sejati!”

Kata Li Sun-Hoan, “Kau….”

Ia merasakan kehangatan dalam hatinya, dan ia tidak sanggup menyelesaikan kalimatnya.

Kata Kwe ko-yang, “Aku mengerti mengapa kau tidak dapat melawanku. Kau tidak boleh mati sekarang, karena masih ada orang yang hidupnya bergantung padamu.”

Li Sun-Hoan masih tidak bisa bicara, namun air mata bahagia hampir menetes dari matanya.

Kadang kala, sahabat karibmulah yang akan jadi musuh terbesarmu. Namun kadang kala, musuh yang paling kau takutilah yang paling mengerti tentang dirimu.

Karena hanya lawan yang sepadan, yang pantas menjadi sahabatmu.

Karena hanya lawan yang sepadan, yang sungguh- sungguh mengerti apa yang kau rasakan.

Li Sun-Hoan tidak tahu apakah ia harus merasa gembira, sedih, atau berterima kasih.

Kwe ko-yang kemudian berkata, “Tapi hari ini kita tetap harus bertempur!” Li Sun-Hoan terperanjat, “Mengapa?”

Kwe ko-yang tersenyum. “Ada berapa banyak Li Sun- Hoan di dunia ini? Jika hari ini kita tidak bertempur, kapan lagi aku akan bertemu dengan lawan yang sepadan?”

Sahut Li Sun-Hoan, “Waktu aku sudah menyelesaikan tanggung jawabku, aku akan melawanmu kapan pun kau inginkan.”

Kwe ko-yang menggelengkan kepalanya. “Sayangnya, jika saat itu tiba, mungkin kita tak akan bisa bertempur lagi.”

Tanya Li Sun-Hoan, “Mengapa?”

Mata Kwe ko-yang melayang ke kejauhan, lalu dengan perlahan dan pasti ia berkata, “Saat itu, mungkin kita sudah menjadi sahabat.”

Li Sun-Hoan berpikir cukup lama. “Kau lebih suka jadi musuhku daripada jadi sahabatku?”

Wajah Kwe ko-yang menegang, lalu ia berseru, “Aku telah mendedikasikan seluruh hidupku untuk pedangku. Kapan aku punya waktu untuk berteman? Lagi pula….”

Suaranya menjadi lembut saat ia meneruskan kalimatnya, “Mudah sekali untuk menemukan sahabat. Namun hampir tidak mungkin untuk bertemu seorang lawan yang tenggang rasa dan penuh perhatian.” ‘Tenggang rasa dan penuh perhatian’ adalah kata-kata yang biasa digunakan untuk mendeskripsikan seorang sahabat. Kwe ko-yang menggunakan kata-kata ini untuk menggambarkan seorang lawan. Sungguh janggal.

Namun Li Sun-Hoan mengerti.

Kata Kwe ko-yang, “Kau bukanlah satu-satunya orang di dunia ini yang merupakan lawan setandingku dalam hal ilmu silat. Namun walaupun ada seseorang yang sepuluh kali lebih hebat daripada aku, aku tetap tidak akan terlalu menghargai dia dan aku rasa aku tidak akan mungkin merasa bahagia mati di tangannya.”

Sahut Li Sun-Hoan, “Kau memang benar. Tidak mudah bertemu dengan lawan yang tenggang rasa dan penuh perhatian.”

Kata Kwe ko-yang, “Oleh sebab itu kita harus bertempur hari ini. Walaupun aku mati di tanganmu, sedikit pun aku tidak akan menyesal.”

Sanggah Li Sun-Hoan, “Tapi aku….”

Kwe ko-yang langsung memotongnya. “Aku mengerti perasaanmu. Jika kau mati di tanganku hari ini, aku akan menyelesaikan kewajibanmu. Aku akan menjaga siapa saja yang ingin kaujaga.”

Li Sun-Hoan memandang ke tanah. Lalu berkata, “Kalau begitu, aku bisa mati dengan tenang…. Terima kasih.” Ia hampir tidak mengatakan ‘terima kasih’ dalam hidupnya. Kata ‘terima kasih’ ini diucapkannya dari hatinya yang terdalam.

Kata Kwe ko-yang, “Terima kasih kau bersedia berduel denganku. Mari mulai!”

Sahut Li Sun-Hoan, “Mari mulai!”

Jika sahabatmu memperhatikan engkau, itu hal yang biasa. Namun jika musuhmu memperhatikan engkau, rasanya lebih dalam, lebih mengharukan.

Sayangnya, perasaan ini takkan mungkin dirasakan oleh orang lain!

Angin bertiup membawa daun-daun kering beterbangan ke antara mereka.

Suasana penuh dengan hawa pembunuhan.

Kwe ko-yang perlahan-lahan menghunus pedangnya dan memegangnya di depan dadanya. Pandangannya tidak pernah lepas dari tangan Li Sun-Hoan.

Tangan yang sungguh menakutkan.

Li Sun-Hoan seakan-akan telah berubah menjadi orang lain. Rambutnya masih acak-acakan, jubahnya masih kusut, namun ia tidak lagi tampak lemah.

Wajahnya telah berubah sama sekali! Dua tahun terakhir ini, hidup Li Sun-Hoan bagaikan sebilah pedang dalam sarungnya. Menunggu waktunya, belum menunjukkan potensi yang sebenarnya, karakter yang sesungguhnya.

Namun saat ini, pedang itu telah keluar!

Diangkatnya tangannya. Sebilah pisau telah tergenggam di dalamnya.

Sebilah pisau yang dapat menembus tenggorokan, sebilah pisau yang tidak pernah luput, Pisau Kilat si Li!

Pedang Besi Kwe ko-yang mengikuti gerakan angin. Selintas cahaya hitam melaju cepat ke arah leher Li Sun- Hoan. Gulungan angin telah mendahului pedang itu dan menghancurkan segala sesuatu yang merintangi jalannya.

Li Sun-Hoan melangkah ke belakang dengan ringan. Dengan satu hentakan saja, tubuhnya telah bergeser sepuluh meter lebih. Sebatang pohon kini tepat berada di belakang punggungnya.

Pedang Kwe ko-yang pun berganti arah mengikuti langkah Li Sun-Hoan dalam jarak dekat.

Li Sun-Hoan sudah tidak bisa mundur lagi. Namun kini tubuhnya mencelat naik ke atas pohon.

Kwe ko-yang ikut mengejar naik dan pedangnya terus mengikuti Li Sun-Hoan, bercahaya bagai pelangi. Tubuh dan pedang telah menjadi satu.

Gulungan angin pedang itu membabat habis seluruh daun di pohon itu.

Pemandangan saat itu sungguh menakjubkan!

Li Sun-Hoan terus melayang di atas gulungan angin pedang itu, mengikuti daun-daun merah yang berhamburan dan kemudian perlahan-lahan melayang ke bawah.

Kwe ko-yang bersalto di udara dan menggerakkan pedangnya sedemikian sampai terlihat tabir hitam putih yang memburu ke arah Li Sun-Hoan.

Kekuatan serangan ini tidak diragukan lagi.

Bahkan dalam jarak beberapa meter di depannya, Li Sun- Hoan dapat merasakan hebatnya tekanan gulungan angin pedang itu. Ke mana pun ia menghindar, ia akan terhempas juga.

Lalu terdengar bunyi ‘Tring’, dan terlihat percikan bunga api.

Pisau Li Sun-Hoan tepat mengenai ujung pedang itu.

Gulungan angin pedang itu langsung lenyap, dan suasana tiba-tiba hening. Kwe ko-yang berdiri mematung di situ, memegang pedangnya. Li Sun-Hoan pun masih memegang pisaunya. Hanya kini, ujungnya sudah gompal.

Ia menatap Kwe ko-yang tanpa suara, Kwe ko-yang menatapnya tanpa suara.

Wajah keduanya tidak berekspresi apa-apa.

Mereka berdua tahu, pisau Li Sun-Hoan kini tak dapat meninggalkan tangannya lagi.

Pisau Kilat si Li, cepatnya bagai kilat. Namun setelah digunakan untuk menghancurkan gulungan angin pedang tadi, ujungnya sudah patah, sehingga kalau disambitkan, kecepatannya akan jauh berkurang.

Walaupun pisau itu lepas dari tangannya, pisau itu tidak akan membahayakan siapa pun lagi!

Pisau yang tidak pernah luput, kini harus menelan kekalahannya.

Li Sun-Hoan menurunkan tangannya.

Seiring dengan gugurnya daun yang terakhir ke tanah, suasana hutan pun kembali sunyi senyap.

Sesunyi kematian itu sendiri.

Walaupun wajahnya tetap kosong, mata Kwe ko-yang berbinar sedikit, lalu katanya, “Aku sudah kalah!”

Kata Li Sun-Hoan, “Siapa bilang kau yang kalah?” Sahut Kwe ko-yang, “Aku yang bilang.”

Ia terkekeh. Sambungnya, “Sebelum ini, kupikir aku lebih baik mati daripada mengatakannya. Namun kini, aku telah mengatakannya, dan aku merasa lega, sangat lega….”

Ia menengadah ke langit dan tertawa terbahak-bahak.

Sambil masih tertawa, ia membalikkan badannya dan pergi berjalan ke luar hutan.

Li Sun-Hoan memandangi punggungnya sampai hilang dari pandangan, lalu mulai terbatuk-batuk.

Saat itu, seseorang tiba-tiba muncul dan bertepuk tangan. “Sungguh hebat. Luar biasa. Sangat luar biasa….”

Suara itu bening dan renyah.

Li Sun-Hoan mengangkat kepalanya dan ternyata suara itu adalah milik cucu perempuan si orang tua tukang cerita.

Matanya yang besar dan jernih penuh dengan senyum yang lugu. Katanya, “Setelah menyaksikan pertempuran hari ini, bahkan aku pun dapat mati dengan tenang.”

Mungkin perasaan Li Sun-Hoan masih begitu tegang, sehingga ia tidak menjawab apa-apa. Si gadis berkuncir pun berkata, “Pada suatu hari, Tuan Lan Da dan Xiao Sun berduel di punak Gunung Tai.
Senjata Tuan Lan Da adalah Palu Besi yang beratnya 50 kg, sedangkan Xiao Sun hanya menggunakan sabuk sutra. Ia menggunakan kelembutan untuk mengatasi kekerasan. Mereka bertarung sepanjang malam. Bahkan ada yang bilang mereka mengubah langit malam menjadi siang.”

Si gadis terkekeh dan bertanya, “Menurutmu, pertarungan itu seru atau tidak?”

Li Sun-Hoan tersenyum. “Dengan kehebatan nona muda bercerita, aku merasa seolah-olah sedang berada di puncak Gunung Tai, menyaksikan secara langsung duel antara Xiao Sun dan Tuan Lan Da.”

Si gadis berkuncir komat-kamit. “Aku tak menyangka bahwa mulutmu lebih hebat daripada pisaumu.”

Kata Li Sun-Hoan, “Masa iya?”

Sahut si gadis berkuncir, “Pisaumu dapat mengambil nyawa orang, namun kata-katamu dapat mengambil hati seorang wanita. Bukankah lebih sulit mendapatkan hati seorang wanita daripada nyawa manusia?”

Matanya yang besar menatap Li Sun-Hoan. Li Sun-Hoan mau tidak mau merasa tertarik padanya. Ia tidak pernah menyangka bahwa gadis semuda ini bisa begitu memikat. Tapi si gadis kembali bertanya, “Jadi, menurutmu, apakah pertarungan tadi menarik?”

Li Sun-Hoan tidak lagi berani menjawab panjang lebar. Ia hanya tersenyum dan mengangguk. “Sepertinya cukup menarik.”

Sahut si gadis berkuncir, “Walaupun pertarungan itu sangat terkenal dan telah menjadi legenda, pertarungan itu tidak ada artinya dibandingkan dengan pertarungan yang baru saja berakhir.”

Li Sun-Hoan terkekeh. “Walaupun aku bukan orang yang suka menyombongkan diri, aku pun bukan orang yang rendah hati. Dalam hal ini, nona terlalu melebih- lebihkan.”

Si gadis berkuncir menjawab dengan tegas, “Aku hanya menyatakan fakta. Kau punya tiga kesempatan untuk membunuhnya, namun dalam tiga kesempatan itu kau tidak melakukannya. Akhirnya, kau pun kehilangan nafsu membunuh, dan juga ujung pisaumu. Pada saat itu, Kwe ko-yang dapat membunuhmu, namun ia malah mengaku kalah….”

Ia mendesah dan melanjutkan, “Orang-orang seperti kalianlah yang disebut pria sejati. Jika kau membunuhnya atau ia membunuhmu, sehebat apapun ilmu silat kalian, sedikit pun aku tidak akan terkesan.”

Kata Li Sun-Hoan, “Kau benar. Kwe ko-yang memang pahlawan sejati.” “Dan kau?”

Li Sun-Hoan menggelengkan kepalanya. “Aku? Aku bukan apa-apa.”

Si gadi berkuncir berkata, “Kalau begitu, aku mau bertanya. Jurus apa yang pertama kali dilancarkannya?”

Sahut Li Sun-Hoan, “Hong-kui-liu-in,Angin Berhembus Memutar Awan.”

Si gadis berkuncir bertanya lagi, “Lalu jurus keduanya?”

Sahut Li Sun-Hoan, “Liu-sing-tui-goat, Bintang Jatuh Mengikuti Bulan.”

Dan si gadis pun bertanya lagi, “Sewaktu berubah dari jurus ‘Hong-kui-liu-in’ ke jurus ‘Liu-sing-tui-goat’, ia melakukannya terlalu cepat, sehingga dirinya terbuka untuk serangan. Jika pada saat itu, kau sambitkan pisaumu bukankah kau dapat membunuhnya?”

Li Sun-Hoan tidak bisa berkutik.
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 32 : Mengerti Musuh Terbesar"

Post a Comment

close