Si Pisau Terbang Li Bab 29 : Cambuk yang Punya Mata

Mode Malam
  
Bab 29. Cambuk yang Punya Mata

Tangan si kurus menggebrak meja dan tubuhnya melayang ke udara. Angin dingin berkelebat dan sebuah cambuk berwarna hitam mengkilat telah tergenggam di tangannya.

Ia menyentak pergelangan tangannya dan cambuk panjang itu bergelora, menghasilkan angin yang menerpa orang-orang yang berada di luar. Terdengar suara ting ting tang tang. Empat puluh koin jatuh ke tanah.

Keempat puluh orang itu adalah jago-jago dalam dunia persilatan, namun tidak satupun pernah melihat permainan cambuk yang begitu mengagumkan.

Ketika cambuk itu ada di tangannya, cambuk itu seolah- olah menjadi hidup, seperti punya mata.

Keempat puluh orang itu saling pandang, lalu segera menggunakan ilmu meringankan tubuh mereka untuk kabur. Sebagian lari ke jalan, sebagian memanjat tembok. Langit penuh dengan bayangan orang-orang yang berhamburan. Dalam sekejap saja, semua sudah pergi. Wajah si tua berjubah kuning itu memucat. Ia membentak dengan marah, “Kau telah mengambil Koin Pencabut Nyawa mereka. Apakah kau ingin mati menggantikan mereka?”

Si kaki satu tertawa dingin, “Nyawa Dewa Cambuk Sebun Yu memang cukup berharga untuk menggantikan nyawa mereka semua!”

Ditariknya tongkatnya dan ia pun berdiri dengan satu kaki. Seakan-akan kakinya itu tertancap di tanah, seperti sebatang pohon yang kuat.

Si tua berjubah kuning mengacungkan tangannya. Dalam tangannya tergenggam sebuah Boan-koan-pit, Pensil Baja.

Siapapun yang mempunyai senjata seperti itu, pastilah mempunyai kungfu tingkat tinggi.

Empat orang mengelilingi Sebun Yu.

Si mata satu mundur beberapa langkah dan membuka jubahnya. Tampak 49 mata tombak, ada yang panjang, ada yang pendek.

Kelima pasang mata orang itu memandang ke arah cambuk panjang Sebun Yu.

Si kaki satu lalu tertawa. “Aku rasa kau pasti sudah tahu siapa keempat temanku ini.”

Sahut Sebun Yu, “Aku sudah tahu dari tadi.” Si kaki satu berkata, “Kalau dipandang dari segi keadilan, kami berlima seharusnya tidak main keroyok. Tapi hari ini lain.”

Sebun Yu tertawa. “Aku sudah melihat begitu banyak orang dalam dunia persilatan menang dengan cara main keroyok. Kau pikir aku peduli?”

Si kaki satu pun menyahut, “Awalnya, aku tidak ingin membunuhmu, tapi kau telah melanggar peraturan kami. Bagaimana mungkin kami melepaskanmu? Jika kami membiarkan peraturan kami dilanggar, kami akan jadi sekelompok pendusta. Aku harap kau bisa mengerti.” 

Kata Sebun Yu, “Bagaimana jika aku mau pergi?” Si kaki satu menjawab, “Kau tidak bisa lagi pergi!”
Sebun Yu hanya tertawa. “Kalau aku benar-benar ingin pergi, kalian berlima tidak mungkin menghalangiku!”

Si kaki satu menggeram, tongkatnya sudah bergerak!

Walaupun gerakannya sederhana, tenaganya sungguh tidak terkira!

Sebun Yu masih tersenyum, cambuknya meliuk-liuk dengan cepat seraya melompat ke atas.

Si mata satu mengacungkan tangannya dan 13 mata tombak mencelat, membawa segulung angin ke arah Sebun Yu. Yang panjang disambitkan lebih dulu, namun yang pendek lebih cepat. Terdengar suara klak klak klik klik secara beruntun, waktu cambuk itu menghalau ketiga belas mata tombak itu.

Seperti angin puyuh, Sebun Yu melayang makin tinggi, lalu tiba-tiba mencelat, menghilang dari pandangan.

Si kaki satu segera berseru, “Kejar!”

Si kaki satu pun menutul tanah dengan tongkat besinya dan melayang ke udara. Ilmu meringankan tubuhnya lebih baik dari orang berkaki dua. Ia pun segera menghilang dari pandangan.

Keempat orang berjubah kuning yang lain segera menyusul, dan seketika warung itu pun sunyi senyap. Hanya dua mayat tertinggal di situ.

Kalau bukan karena kedua mayat itu, Si Bungkuk Sun mengira bahwa itu semua hanya mimpi buruk belaka.

Si kakek tua terbangun. Pada wajahnya tidak kelihatan tanda-tanda ia mabuk. Ia memandang ke arah orang- orang berjubah kuning itu pergi dan menghela nafas. “Tidak heran bahwa Cambuk Ular Sebun Yu berada di urutan yang lebih tinggi daripada Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) In Gok. Dari gerakannya, ia memang pantas disebut Si Dewa Cambuk. Pek-hiau-sing memang benar- benar tahu apa tentang persenjataan.”

Si gadis berkuncir bertanya, “Apakah betul ia adalah ahli cambuk yang paling hebat saat ini?” Sahut si orang tua, “Keahlian yang baru saja ditunjukkannya itu belum pernah ada di antara ahli senjata lemas dalam tiga puluh tahun terakhir ini.”

Tanya si gadis berkuncir lagi, “Bagaimana dengan si kaki satu?”

“Ia bernama Cukat Kang. Julukannya di dunia persilatan adalah Heng-siau-jian-kun’ ‘Si Penyapu Seribu Tentara’. Tongkatnya yang disebut Tongkat Baja Emas, mempunyai berat 100 kati. Senjata yang terberat yang pernah ada.”

Si gadis berkuncir pun tersenyum. “Yang satu bernama Sebun Yu. Yang satu lagi bernama Cukat Kang. Mereka memang ditakdirkan menjadi musuh.”

[Yu artinya lunak. Kang artinya keras.]

"Meski senjata Sebun Yu termasuk lunak, tapi orangnya justru sangat lurus dan keras, sebaliknya Cukat Kang yang bersenjata keras itu justru berhati licik dan licin.
Kungfu kedua orang memang saling berlawanan, perangai masing-masing juga tidak sama, namun lunak dapat mengatasi keras, bicara tentang Kungfu, Cukat Kang kalah setingkat, soal adu tipu akal Sebun Yu bisa jadi akan kecundang."

"Menurut pandanganku, si kakek berjenggot putih itu jauh lebih culas daripada Cukat Kang," kata si nona. 
"Orang itu bernama Ko Hing-kong, seorang ahli Tiam- hiat (ilmu totok) (ilmu menutuk Hiat-to)," tutur si kakek. "Sedangkan si mata satu bernama Yan Siang-hui, sekaligus ia mampu menyambitkan 49 buah lembing kecil dalam sekejap dan jarang meleset. Senjata kedua orang ini dalam daftar senjata yang disusun Pek-hiau-sing menempati urutan nomor 37 dan 46, di dunia Kangouw mereka pun tergolong jago kelas satu."

Si nona berkucir mencibir, "Huh, masakah urutan nomor 46 juga terhitung jago kelas satu?"

"Memangnya kau tahu ada berapa juta orang di dunia ini yang berlatih ilmu silat, dan ada berapa orang pula yang namanya bisa tercantum dalam daftar yang disusun Pek-hiau-sing itu?"

"Dan orang yang bermuka pucat hijau itu menggunakan senjata macam apa? Apakah juga terdaftar?"

"Orang itu bernama Tong Tok dan berjuluk ‘Tok-tang- lang’ (si belalang berbisa), senjata yang digunakannya disebut Tong-long-to (golok belalang), golok beracun, barang siapa sampai terluka oleh goloknya, dalam waktu satu jam pasti binasa tanpa tertolong."

Si nona tertawa mengikik, "Hihi, aku jadi ingat, konon orang ini gemar makan lima macam serangga berbisa, karena hobi makannya itu sehingga sekujur tubuhnya berubah warna hijau, sampai matanya juga berwarna hijau."

"Ya, beberapa orang itu sudah tergolong jago kelas terkemuka di dunia Kangouw," tutur si kakek sambil mengetuk pipa tembakaunya dan mengisi tembakau, lalu udut lagi. Setelah mengembuskan asap tembakaunya, ia menyambung pula, "Tapi bila mereka dibandingkan anak muda berbaju kuning yang angkuh itu, mereka boleh dikatakan belum masuk hitungan."

"Benar, dapat kulihat juga orang itu memang tidak boleh diremehkan," ujar si nona, "Meski usianya paling muda, tapi dia paling sabar, senjata yang digunakannya juga lain daripada yang lain, entah bagaimana asal usulnya?"

"Pernahkah kau dengar nama Liong-hong-goan (gelang naga dan hong) Siangkoan Kim-hong?" tanya si kakek. 
"Tentu saja pernah kudengar," sahut si nona. "Senjata andalan orang ini bernama Cubo-liong-hong-goan (gelang induk beranak naga dan hong) dan menempati urutan nomor dua dalam daftar senjata susunan Pek- hiau-sing, namanya bahkan di atas pisau kilat Li-tamhoa. Orang Kangouw siapakah yang tidak kenal namanya?"

"Nah, pemuda itu bernama Siangkoan Hui, dia putra satu-satunya Siangkoan Kim-hong," tutur si kakek tukang dongeng. "Cukat Kang, Tong Tok, Ko Hing-kong dan Yan Siang-hui, mereka juga anak buah Siangkoan Kim-hong."

Si nona berkucir melelet lidah, "Wah, pantas mereka bertindak sedemikian semena-mena, kiranya mereka mempunyai dukungan sekuat itu."

"Sudah cukup lama Siangkoan Kim-hong menghilang," tutur pula si kakek, "tapi dua tahun yang lalu mendadak dia muncul kembali, ada 17 tokoh kelas top yang termasuk dalam daftar senjata itu dicakup olehnya dan terbentuklah Kim-ci-pang (sindikat mata uang emas).
Selama dua tahun ini mereka malang melintang di dunia Kangouw dan tidak terkalahkan, setiap orang Kangouw sama miring terhadap mereka, besar pengaruh mereka sekarang bahkan sudah di atas Kay-pang (serikat pengemis)."

"Kay-pang adalah organisasi terbesar di dunia persilatan, masakah sindikat yang kurang terhormat seperti mereka itu dapat menandingi Kay-pang?" ujar si nona.

Si kakek menghela napas, "Selama dua tahun ini, kesatria Kangouw yang hebat sudah semakin berkurang, yang baik surut, yang jahat tumbuh, apabila kaum kesatria muda tidak berusaha maju dari berjuang, entah sampai kapan dunia ini akan dikuasai Kim-ci-pang." 

Sampai di sini, seperti tidak sengaja ia melirik sekejap ke arah "setan arak" yang masih tetap mendekap di atas meja dan belum lagi sadar itu.

Nona berkucir itu menghela napas gegetun, "Jika demikian, bila Kim ci-pang sudah ikut campur urusan ini, pihak lain terpaksa harus menonton saja di samping."

"Itu pun belum pasti," ujar si kakek dengan tertawa. 
"Memangnya ada pendatang baru yang Kungfunya terlebih tangguh daripada Siangkoan Kim-hong?" tanya si-nona.

"Meski Liong-hong-goan termasuk senjata nomor dua dalam daftar senjata, tapi pisau kilat si Li yang menempati urutan nomor tiga dan Ko-yang-thi-kiam (pedang besi Ko-yang) yang nomor empat itu, Kungfu keduanya belum pasti di bawah Siangkoan Kim-hong," si kakek tertawa, lalu menyambung pula dengan perlahan, "Apalagi di atas Liong-hong-goan juga masih ada sebatang pentung mahasakti dan serbahebat yang disebut Ji-ih-pang (pentung serbajadi)."

"Sesungguhnya di mana letak kehebatan Ji-ih-pang itu, mengapa bisa mendapatkan urutan nomor satu di dalam daftar senjata Pek-hiau-sing?" tanya si nona.

Si kakek menggeleng, "Ji-ih-pang juga disebut Thian-ki- pang (pentung rahasia alam), rahasia alam tidak boleh dibocorkan, maka selain Thian-ki-lojin (si kakek rahasia alam) yang memegang Thian-ki-pang itu, mana orang lain bisa tahu?" Nona berkucir itu termenung sejenak, mendadak ia tertawa dan berkata pula, "Biarpun Kim-ci-pang itu sangat hebat, tapi kurang pintar mencari nama, masa pakai nama ‘uang’ segala, kan mata duitan jadinya?
Sungguh lucu dan menggelikan."

"Setan pun doyan duit, apalagi manusia," ucap si kakek dengan sungguh-sungguh. "Segala apa di dunia ini, adakah yang punya daya pikat terlebih besar daripada ‘duit’? Nanti kalau kau sudah berumur setua diriku barulah kau tahu nama ini tidak menggelikan sedikit pun."

"Tapi di dunia ini juga ada sementara orang yang tidak dapat dipengaruhi dengan duit," ucap si nona.

"Ya, tapi orang macam begitu teramat sedikit, bahkan makin lama semakin jarang," kata si kakek.

Kembali si nona terdiam dan termenung memandangi kuku jari sendiri. Si kakek asyik udut pula, lalu dia mengetuk pipa tembakaunya di tepi meja dan berkata lagi, "Apa yang kuceritakan ini telah kau dengar seluruhnya bukan?"

Berputar biji mata si nona, ia pun melirik si setan arak sekejap dan menjawab dengan tertawa cerah, "Aku kan tidak mabuk, tentu sudah kudengar dengan jelas."

Si kakek manggut-manggut, "Dan asal usul orang-orang itu tentu juga sudah kau ketahui semua?"

"Ya, tahu semua," jawab si nona.

"Bagus, dengan demikian selanjutnya kau perlu hati-hati bilamana bertemu dengan mereka."

Dengan tersenyum si kakek lantas berbangkit, lalu bergumam, "Meski arak di warung ini lumayan, tapi orang hidup kan tidak dapat senantiasa berendam di dalam guci arak dan melewatkan hidup ini secara sia-sia, jika tiba waktunya harus pergi kan harus angkat kaki juga. Betul tidak juragan?" 
Kedua kakek bercucu ini bertanya jawab seakan akan sedang bercerita bagi orang lain.

Sampai terkesima Sun bungkuk mendengarkan, kini ia tidak tahan, tanyanya dengan tertawa, "Wah, tampaknya Losiansing sangat hafal terhadap segala seluk-beluk dunia Kangouw, tentu engkau jaga seorang kesatria besar, maka rekening minum kalian biarlah kubereskan bagimu."

Si kakek tukang dongeng menggeleng dengan tertawa, "Ah, sama sekali aku bukan kesatria apa segala, paling banter aku cuma setan arak saja. Baik seorang kesatria maupun seorang pemabuk, utang harus dibayarnya sendiri, tidak boleh ingkar, juga tidak dapat menghindar."

Si orang tua mengeluarkan beberapa uang perak dan meletakkannya di atas meja. Ia dan cucunya lalu keluar dari warung itu masuk ke dalam kegelapan malam.

Si Bungkuk Sun mengawasi kepergian mereka. Sewaktu ia menoleh kembali, ia melihat bahwa si pemabuk pun kini sudah bangun. Ia berjalan ke arah tempat duduk yang tadi diduduki oleh Sebun Yu. Ia memungut surat yang ditinggalkan oleh Cukat Kang. Si Bungkuk Sun tersenyum. “Sayang sekali kau sudah mabuk tadi. Kau melewatkan pertunjukan yang sangat seru.”

Si pemabuk tertawa, lalu menghela nafas. “Pertunjukan yang sebenarnya belum lagi dimulai. Walaupun aku tidak ingin menonton, aku kuatir aku harus menontonnya.”

Si Bungkuk Sun hanya menaikkan alisnya. Ia merasa semua orang sangat aneh hari ini. Seolah-olah mereka salah minum obat.

Si pemabuk membaca surat itu dalam sekejap, dan wajahnya pun berubah merah. Ia membungkuk dalam- dalam dan mulai terbatuk-batuk.

Si Bungkuk Sun bertanya, “Apa kata surat itu?” Sahut si pemabuk, “Ti…tidak apa-apa.”
Kata Si Bungkuk Sun, “Kudengar mereka semua datang ke sini karena surat itu.”

“O ya?”

Si Bungkuk Sun pun tersenyum. “Mereka menyebut- nyebut tentang semacam harta karun. Apa pun itu, mereka pasti hanya main-main.”

Lalu ia pun bertanya, “Kau mau arak lagi? Kali ini gratis.” Ia tidak mendengar jawaban. Ketika ia menoleh, dilihatnya si pemabuk hanya berdiri di situ sambil menatap ke kejauhan.

Matanya tidak tampak mabuk, bahkan tersirat suatu kegagahan yang tidak biasa.

Si Bungkuk Sun mengikuti arah pandangannya. Ia hanya dapat melihat secercah cahaya lilin di kejauhan. Cahaya itu tampak semakin jauh karena kabut yang menyelimuti tempat itu.

***

Waktu Si Bungkuk Sun kembali ke halaman belakang, hari sudah tengah malam.

Di halaman, suasana selalu tenang. Terlihat lilin di kamar si pemabuk masih bercahaya, namun pintunya terbuka lebar. Melambai-lambai karena tiupan angin.

Si Bungkuk Sun pergi ke sana untuk melihat. Ia mengetuk pintu dan bertanya, “Apakah kau sudah tidur?”

Tidak ada suara.

Apa yang dilakukannya di luar selarut ini?

Si Bungkuk Sun masuk. Dilihatnya ruangan itu kacau balau. Potongan-potongan kayu tersebar di seluruh ruangan, tapi pisau kecilnya tidak nampak di mana pun juga. Setengah guci arak terlihat masih di atas meja. Segumpal kertas yang telah diremas-remas ada di sampingnya.

Si Bungkuk Sun segera mengenali bahwa itu adalah surat yang ditinggalkan oleh Cukat Kang.

Ia tidak tahan untuk tidak membacanya.

“15 September. Hin-hun-ceng akan menunjukkan harta karunnya. Anda diharapkan datang untuk turut menyaksikan.”

Hanya tiga kalimat saja. Lebih sedikit yang tertulis, surat itu menjadi lebih misterius dan menarik perhatian orang.

Penulisnya sungguh memahami hati manusia.

Si Bungkuk Sun mengangkat alisnya. Wajahnya pun berubah.

Ia tahu Hin-hun-ceng adalah puri di depan warungnya. Namun ia tidak habis pikir, apakah hubungan si pemabuk dengan puri itu?
*** ***
Note 03 Desember 2020
Belajarlah rendah hati, rendahkan hatimu serendah-rendahnya hingga tidak ada seorangpun yang bisa merendahkanmu.
|Serial Si Pisau Terbang Siao Li telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial Si Pisau Terbang Siao Li (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 29 : Cambuk yang Punya Mata"

Post a Comment

Pop mobile

Pop Deskop

close