Si Pisau Terbang Li Bab 21 : Sahabat yang Dapat Dibanggakan

Mode Malam
  
Bab 21. Sahabat yang Dapat Dibanggakan

Serentak In Gok mengangkat tubuh Sian-ji dan dibanting ke lantai, lalu menjambak lagi rambutnya. Namun Sian-ji berbalik merangkulnya erat-erat, ucapnya dengan napas memburu, "Aku tidak takut padamu, aku justru suka padamu, aku justru suka padamu! Sudah terlalu banyak lelaki cakap yang kulihat, sekarang aku justru suka kepada lelaki bermuka buruk. Ap ... apa lagi yang kau tunggu sekarang?" In Gok tidak menunggu lagi.

Dalam keadaan demikian, lelaki mana pun tidak mau menunggu lagi ....

Di dalam kamar hanya tersisa suara napas yang tersengal.

********

In Gok berdiri di samping tempat tidur, mengenakan kembali pakaiannya.

Setelah beberapa saat, Lim Sian-ji tersenyum padanya. “Kini kau tahu bahwa aku memang layak, bukan?”

Kata In Gok, “Seharusnya aku membunuhmu. Kalau tidak, aku tidak tahu berapa banyak orang yang akan mati di tanganmu.”

Kata Lim Sian-ji, “Pada awalnya kau memang berniat membunuhku, bukan?”

“Hmmmh.”

Ia masih tersenyum manis. “Namun kini kau tidak tega membunuhku, bukan?”

In Gok hanya memandangnya, lalu bertanya, “Siapa anak yang datang bersamamu itu?”

Lim Sian-ji tertawa. “Kenapa? Kau cemburu? Atau takut?” Matanya berputar. Lanjutnya, “Ia adalah anak yang baik, tidak nakal seperti engkau. Ia sudah tidur di kamarnya sendiri. Jika ia mendengar suara dari kamar ini, kau tidak mungkin punya kesempatan untuk menggangguku.”

In Gok tertawa dingin. “Ia beruntung tidak mendengar apa-apa.”

Kata Lim Sian-ji, “Benarkah? Benarkah kau akan membunuhnya?”

“Ya.”

Lim Sian-ji tersenyum. “Tapi kau takkan bisa membunuhnya. Ilmu silatnya amat hebat, dan dia adalah sahabat Li Sun-Hoan. Aku pun sangat suka padanya.”

Wajah In Gok langsung berubah.

Kata Lim Sian-ji lagi, “Kamarnya ada di ujung lorong ini. Apakah kau punya nyali untuk menemuinya?”

Sebelum kalimatnya selesai, In Gok telah pergi.

Ia tertawa senang, lalu ditariknya kembali selimutnya menutupi tubuhnya. Ia merasa seperti seorang gadis kecil yang makan permen diam-diam, dan tidak ketahuan oleh ayah ibunya.

Ketika ia membayangkan Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) In Gok mengoyakkan kepala A Fei dari badannya, matanya berbinar-binar. Lalu ia membayangkan pedang A Fei menembus tenggorokan In Gok, dan ia pun jadi bersemangat.

Sambil memikirkan hal itu, ia pun jatuh tertidur. Dalam tidur pun ia tersenyum, karena siapapun yang mati, ia tetap bergembira.

Ia sangat puas atas apa terjadi malam ini.

Tempat tidurnya sangat empuk. Seprainya pun bersih. Namun A Fei tidak bisa tidur. Sebelumnya ia tidak pernah kesulitan tidur.

Baru saja diselipkannya pedang di pinggangnya, daun jendela terbuka.

Ia melihat sepasang mata yang lebih menyeramkan daripada hantu.

Kata In Gok, “Apakah kau datang bersama Lim Sian-ji?” Sahut A Fei, “Ya.”
“Bagus. Keluarlah.”

A Fei tidak menjawab. Ia tidak suka berbicara, tidak suka memulai suatu percakapan.

Kata In Gok, “Aku akan membunuhmu.”

Tapi A Fei malah menjawab, “Aku tidak ingin membunuh siapapun hari ini. Pergilah.” Kata In Gok lagi, “Aku juga tidak ingin membunuh siapapun hari ini. Cuma kau saja.”

“O ya?”

“Seharusnya kau tidak datang bersama dengan Lim Sian- ji hari ini.”

Mata A Fei berkilat tajam seperti pisau. “Jika kau menyebut namanya lagi, aku akan membunuhmu.”

In Gok terkekeh. “Kenapa?” “Karena kau tidak pantas.”
In Gok tidak bisa menahan tawanya. “Bukan saja aku akan menyebut namanya, aku akan tidur dengan dia. Apa yang akan kau perbuat?”

Wajah A Fei terasa seperti terbakar.

Ia biasanya adalah seorang yang sabar dan tidak mudah terpancing. Ia belum pernah merasa marah seperti saat ini.

Tangannya sampai bergetar.

Dalam kemarahannya, pedangnya terhunus.

Namun Jing-mo-jiu (Tangan Setan Hijau) pun berkelebat! Terdengar bunyi nyaring. Pedang itu patah. In Gok tertawa. “Kau berani menghadapiku dengan kungfu kacangan seperti ini? Kata Lim Sian-ji ilmu silatmu cukup tinggi.”

Sambil mengatakannya, In Gok telah maju sepuluh jurus.

A Fei hampir tak dapat menahan serangannya. Ia hanya punya sebilah pedang patah, dan harus bergantung penuh pada kecepatannya menghindari serangan In Gok.

Tawa In Gok makin keras. “Jika kau bisa menjawab dua pertanyaan dengan jujur, akan kuampuni nyawamu.”

A Fei mengertakkan giginya. Keringatnya mengucur deras.

Tanya In Gok, “Apakah Lim Sian-ji sering tidur dengan laki-laki? Apakah kau pernah tidur dengannya?”

A Fei hanya dapat berguling di tanah untuk menghindari serangan In Gok. Ia merasa sangat lelah.

In Gok mendesak, “Ayolah. Beri tahu aku dan aku akan mengampunimu.”

Sahut A Fei, “Aku…aku akan jawab.”

Lalu In Gok tertawa lagi dan serangannya mengendur. Tiba-tiba pedang berkelebat.

In Gok tidak pernah melihat pedang yang bergerak secepat itu. Waktu ia menyadarinya, pedang itu sudah tertancap di tenggorokannya. Wajahnya penuh dengan rasa tidak percaya.

Sampai mati pun ia tidak tahu dari mana datangnya pedang itu.

Dalam mati pun ia tidak dapat mempercayai pemuda itu memiliki pedang yang luar biasa cepatnya.

Wajah A Fei sedingin es. Ia berkata, sekata demi sekata, “Siapa yang menghina dia, akan mati.”

Tenggorokan In Gok masih mengeluarkan suara-suara aneh. Ia mengangkat alisnya, karena ia ingin tertawa. Ia ingin memberi tahu A Fei, “Cepat atau lambat, kau pun akan mati di tangannya.”

Sayangnya, tak sepatah kata pun bisa keluar.

Waktu Lim Sian-ji terjaga, ia melihat sesosok bayangan di luar jendela. Bayangan itu mondar-mandir saja di luar. Ia tahu orang itu pasti A Fei. Ia pasti ingin masuk, namun tidak ingin membangunkannya.

Jika itu adalah In Gok, ia tidak mungkin masih ada di luar.

Ia terus berbaring dengan santai di atas tempat tidurnya sampai agak lama. Lalu ia berkata, “Apakah engkau yang di luar, Fei Kecil?”

Bayangan A Fei berhenti. “Ya, ini aku.” Kata Lim Sian-ji, “Mengapa kau tidak masuk?”

A Fei mendorong pintu itu perlahan, dan pintu segera terbuka. Ia bertanya, “Kau tidak mengunci pintu?”

A Fei tergesa-gesa menghampirinya, dan menatap wajahnya lama. Wajahnya terlihat sedikit pucat, bersemu hijau. Wajah A Fei berubah. “Ada….Ada sesuatu yang terjadi padamu?”

Sahut Lim Sian-ji, “Wajahku pasti terlihat pucat, karena semalam aku tidak bisa tidur. Aku berbalik ke sana dan ke sini saja, tidak bisa tidur.”

Hati A Fei mencair.

Lim Sian-ji bertanya, “Bagaimana dengan engkau? Tidurmu nyenyak?”

Jawab A Fei, “Tidak. Ada anjing gila yang semalaman menggonggong di luar.”

Lim Sian-ji mengerjapkan matanya, “Anjing gila?”

Sahut A Fei, “Ya. Tapi aku sudah membunuhnya, dan kulemparkan dia ke danau.”

Tiba-tiba terdengar suara tambur di luar. A Fei membuka jendela dan terlihat seorang pegawai penginapan sedang memukul tambur. “Para tamu yang terhormat, apakah Anda ingin mendengar berita yang paling hangat saat ini? Berita yang menggegerkan dunia persilatan? Aku jamin berita ini hangat dan menarik. Lagi pula, Anda bisa makan dan minum sambil mendengarkannya.”

A Fei menutup jendela sambil menggelengkan kepala. Tanya Lim Sian-ji, “Kau tidak ingin mendengarkan?” “Tidak.”
Kata Lim Sian-ji, “Tapi aku mau. Lagi pula, kita kan harus makan.”

A Fei tersenyum. “Sepertinya orang-orang ini tahu bagaimana caranya berdagang.”

Lim Sian-ji menyingkapkan selimutnya hendak bangkit. Namun segeranya ditariknya selimutnya kembali menutupi tubuhnya. Wajahnya bersemu merah. “Apakah kau tak akan memberikan pakaianku?”

Wajah A Fei pun menjadi merah. Hatinya berdebar kencang, jantung berdebar karena melihat tubuh yang bugil itu.

Sian-ji tertawa mengikik dan berseru pula, "Berpaling ke sana, tidak boleh mengintip."

A Fei menghadap dinding, jantung serasa mau melompat keluar.

*** Rumah makan itu hampir penuh. Kisah-kisah dunia persilatan memang sungguh menarik, sehingga semua orang ingin mendengarnya.

Sewaktu mendengar kisah ini, orang-orang merasa bahwa mereka seperti bagian dari cerita itu.

Di kursi dekat jendela, duduk seorang tua berpakaian kain katun biru, menghisap pipanya dengan mata terpejam.

Di sebelahnya duduk seorang gadis muda. Rambutnya dikuncir dua, matanya besar dan tajam. Waktu mata itu berputar, seakan-akan bisa merenggut jiwa laki-laki.

Saat A Fei dan Lim Sian-ji memasuki ruangan, mata mereka berbinar. Mata gadis berkuncir dua itu terus menatap mereka.

Lim Sian-ji juga menatap gadis itu, lalu tersenyum. Bisiknya, “Kau lihatkah mata gadis itu? Aku harus berhati-hati supaya dia tidak membawamu lari.”

Mereka memesan makanan. Orang tua itu berdehem lalu berkata, “Hong-ji, sudah tibakah waktunya?”

Si gadis berkuncir menjawab, “Ya, sudah waktunya.”

Orang tua itu membuka matanya. Walaupun ia terlihat sangat tua, ia masih penuh semangat, terlebih lagi matanya. Orang tua itu meniup cawannya dan menghirup tehnya sedikit. Tiba-tiba ia berkata, “Bwe-hoa-cat hanya melakukan kejahatan, Pelajar Tamhoa berbudi luhur dan berbakat besar.”

Ia memandang para pemirsa. “Tahukah kalian siapa yang kubicarakan?”

Kata si gadis berkuncir, “Siapakah kedua orang itu? Aku tidak pernah mendengar tentang mereka.”

Si Tua Sun terkekeh. “Kau pasti tidak begitu terpelajar. Kedua orang ini sangat terkenal. Bwe-hoa-cat hanya muncul dua kali dalam tiga puluh tahun ini. Namun ribuan bandit digabung pun belum dapat menyaingi kejahatan yang telah diperbuatnya.”

Si gadis berkuncir tersenyum. “Bagaimana dengan Si Tamhoa itu?”

Si Tua Sun berkata, “Ia adalah putra seorang pejabat besar. Keluarga itu sungguh luar biasa. Dalam tiga generasi, tujuh orang anggota keluarga itu lulus ujian kekaisaran. Hanya saja, tidak seorang pun berhasil meraih gelar Conggoan [Conggoan adalah gelar untuk ranking pertama dalam ujian kekaisaran. Tamhoa adalah gelar untuk ranking ketiga]. Kedua kakak beradik generasi terakhir ini lebih berbakat lagi daripada para pendahulunya. Maka ayah mereka sangat berharap bahwa salah satu dari mereka bisa memperoleh gelar Conggoan.” Si gadis berkuncir tersenyum dan berkata, “Gelar Tamhoa saja sudah sangat bagus. Mengapa terlalu berharap mendapat gelar Conggoan?”

Si Tua Sun terus melanjutkan kisahnya, “Siapa sangka, waktu Siauya yang pertama mengikuti ujian, dia pun hanya berjasil memperoleh gelar Tamhoa. Seluruh keluarga merasa kecewa. Harapan mereka tertumpu pada Siauya yang kecil. Namun sayangnya, nasib begitu kejam terhadap keluarga Li. Putra kedua inipun hanya mendapat gelar Tamhoa. Ayah mereka sangat sedih dan kecewa, akhirnya meninggal dua tahun kemudian. Putra pertamanya pun terkena penyakit parah dan akhirnya meninggal tak lama kemudian. Hati Li-tamhoa pun mati bersama mereka berdua. Ia mundur dari jabatannya dan mengasingkan diri.”

Sampai di sini, ia menghirup tehnya sedikit lagi.

A Fei pun hanyut dalam kisah itu. Ia merasa berbahagia waktu orang-orang memuji Li Sun-Hoan, lebih daripada waktu mereka memuji dirinya.

Lalu si orang tua melanjutkan lagi, “Orang ini bukan saja pelajar yang sangat berbakat, ia juga seorang ahli silat. Sejak kecil ia telah berlatih ilmu silat yang tinggi.”

Si gadis berkuncir pun bertanya, “Jadi ceritamu hari ini adalah mengenai kedua orang ini?”

Jawab si orang tua, “Betul.” Kata si gadis berkuncir lagi, “Pasti cerita itu amat menarik. Tapi….tapi bagaimana mungkin seorang Tamhoa dapat berhubungan dengan kriminal seperti Bwe-hoa-cat itu?”

Sahut si orang tua, “Pasti ada alasannya.” “Apa alasannya?”
Kata Si Tua Sun sekata demi sekata, “Karena Li Sun- Hoan adalah Bwe-hoa-cat . Bwe-hoa-cat adalah Li Sun- Hoan.”

A Fei menjadi sangat gusar, ingin sekali ia menyanggahnya. Namun ia keduluan oleh si gadis berkuncir. “Li-Tamhoa ini pasti seorang yang sangat kaya. Mana mungkin ia mau menjadi bandit dan pemerkosa? Tidak masuk akal. Aku tidak percaya.”

Si Tua Sun menjawab, “Bukan hanya kau. Aku pun tidak percaya. Jadi kuselidiki persoalan ini.”

Si gadis berkuncir bertanya, “Pasti kau sudah menemukan sesuatu, bukan?”

Jawab Si Tua Sun, “Tentu saja. Kisah ini sungguh berbelit-belit, menarik, dan juga amat aneh…”

Sampai di sini, tiba-tiba ia berhenti bicara dan memejamkan matanya seperti hendak tidur.

Si gadis berkuncir berlaku seolah-olah ia tidak sabar dan mulai merecoki kakeknya. “Mengapa kau berhenti?” Si Tua Sun meniup pipanya.

Si gadis berkuncir lalu berkata, “Kau memang pandai menarik perhatian pemirsa. Berhenti pada bagian yang lagi tegang-tegangnya.”

Wajah gadis itu pun berseri-seri. “Oh….aku mengerti. Kau ingin minum arak.”

Bukan hanya gadis itu yang mengerti, semua pendengar pun mengerti. Mereka semua merogoh saku dan mengeluarkan uang. Pelayan pun berkeliling mengumpulkan uang sumbangan.

Kini si orang tua mulai bicara lagi. “Semuanya berawal dari Hin-hun-ceng.”

Si gadis berkuncir segera memotong, “Hin-hun-ceng? Itu kan tempat kediaman Liong-siya? Tempat itu sangat indah.”

Si Tua Sun berkata, “Sudah tentu. Namun tempat yang indah itu adalah pemberian Li Sun-Hoan baginya. Karena mereka adalah saudara angkat dan istrinya adalah sepupu Li Sun-Hoan.”

Kakek-cucu ini seakan-akan sedang berbincang-bincang berdua, namun dengan cara itu mereka berhasil menceritakan keseluruhan cerita. Ketika ia sampai di bagian Li Sun-Hoan tidak sengaja melukai Liong Siau-in, lalu tertangkap, semua pendengar menghela nafas prihatin. Ketika ia sampai di bagian Lim Sian-ji terperangkap dan bagaimana cepatnya pedang si pemuda A Fei, matanya seolah-olah melayang pada Lim Sian-ji dan A Fei. Mata si gadis berkuncir pun sebentar- sebentar hinggap di meja mereka.

Walaupun ia tidak menunjukkannya, A Fei sungguh merasa bahwa kedua orang ini mengenali mereka berdua. Mungkinkah kakek-cucu ini menceritakan cerita ini khusus bagi mereka?

Kemudian si gadis berkuncir berkata, “Kalau begitu, Bwe- hoa-cat sudah mati di tangan A Fei, bukan?”

Kata Si Tua Sun, “Tio-lotoa dan Dian-jitya tidak percaya bahwa yang dibunuhnya adalah Bwe-hoa-cat . Mereka berkeras bahwa Li Sun-Hoanlah Bwe-hoa-cat .”

Si gadis berkuncir lalu bertanya, “Jadi siapa sebenarnya Bwe-hoa-cat ?”

Jawab Si Tua Sun, “Tidak ada seorang pun yang pernah melihat wajah asli Bwe-hoa-cat . Tidak ada seorang pun yang tahu siapa yang salah dan siapa yang benar.
Namun Tio-lotoa dan Dian-jitya adalah orang-orang terhormat. Kata-kata mereka dianggap sebagai kebenaran. Jikalau mereka telah menyatakan bahwa Li Sun-Hoan adalah Bwe-hoa-cat , siapakah yang berani membantah? Oleh sebab itu, Sim-bi Taysu memutuskan untuk mengadili dia di Kuil Siau-lim-si.”

Ia menyedot pipanya lalu melanjutkan, “Namun ketika mereka tiba di Kuil Siau-lim-si, malah Li Sun-Hoanlah yang membawa Sim-bi Taysu ke sana.” Waktu ia mengatakan itu, bahkan Lim Sian-ji pun terkejut. A Fei hampir jatuh pingsan. Mereka berdua mulai menduga-duga apa yang terjadi dalam perjalanan.

Untungnya, si gadis berkuncir membantu mereka bertanya pada si orang tua.

Jawab Si Tua Sun, “Ternyata dalam perjalanan mereka dijebak oleh Ngo-tok-tongcu. Dian-jitya Tan Okmpat pendeta Siau-lim-si pun terbunuh. Sim-bi Taysu akhirnya memutuskan untuk membebaskan Li Sun-Hoan setelah ia kena racun. Li Sun-Hoan mengetahui bahwa hanya di Siau-lim-silah ada obat penawar untuk racun yang melukai Sim-bi, sehingga dibawanyalah pendeta itu kembali ke Siau-lim-si.”

Si gadis berkuncir mengacungkan jempolnya. “Li Tamhoa ini memang seorang pahlawan. Jika orang lain yang berada di tempatnya, orang itu pasti sudah kabur.”

Sahut Si Tua Sun, “Kau memang benar. Sayangnya, para pendeta di Siau-lim-si tidak berterima kasih padanya, mereka bahkan ingin membunuhnya.”

Mata si gadis berkuncir terbelalak kaget, “Kenapa?”

Jawab Si Tua Sun, “Karena kisah ini diceritakan oleh Li Tamhoa sendiri. Para pendeta Siau-lim-si tidak mempercayainya sedikitpun.”

Si gadis berkuncir berkata terbata-bata, “Tapi…tapi kan Sim-bi Taysu bisa membelanya?” Si Tua Sun tertawa getir. “Sayangnya Sim-bi Taysu meninggal sesaat setelah sampai di Siau-lim-si. Selain Sim-bi, tidak ada seorang pun di dunia yang dapat membuktikan kata-katanya!”

Terdengar desahan dari segala penjuru rumah makan itu.

A Fei sudah hampir meledak, dia tidak tahan lagi dan bertanya, “Apakah Li-tayhiap sudah mereka bunuh?”

Mata Si Tua Sun berbinar. “Walaupun Siau-lim-si cukup terkenal dan memiliki banyak pesilat tangguh, tetap sulit bagi mereka untuk membunuh seorang Li Sun-Hoan.”

Si gadis berkuncir pun melirik A Fei . “Namun jika sampai terjadi pertempuran, bahkan orang yang terhebat sekalipun tidak akan mampu menandingi banyak musuh sekaligus. Pisau terbang Li Tamhoa memang tidak ada duanya di dunia persilatan, namun tetap saja ia tidak mungkin membunuh seluruh murid Siau-lim-si.”

Si Tua Sun pun berkata, “Walaupun Siau-lim-si mempunyai banyak murid dan tiap orang adalah ahli silat, siapa yang akan menyerang paling dulu? Siapakah yang berani menantang pisau Li Sun-Hoan yang pertama?”

Si gadis berkuncir pun menjadi gembira lagi dan bertepuk tangan. “Kakek benar. Siau Li Sin To (Pisau Kilat si Li Ajaib) tidak pernah luput. Tidak seorang pun akan berani mendekatinya. Jadi pastilah saat ini dia sudah pergi jauh.” Kata Si Tua Sun, “Tapi dia tidak pergi.” “Mengapa?”
Sahut Si Tua Sun, “Walaupun tidak seorang pun di Siau- lim-si berani menghadapinya, Li Sun-Hoan pun tidak punya jalan keluar. Lagi pula, dengan keadaan yang menggantung seperti ini, ia tidak mungkin pergi begitu saja.”

Si gadis berkuncir menjadi bingung. “Jika ia tidak bisa pergi, dan juga tidak bisa bertempur, apa yang bisa dilakukannya?”

Si Tua Sun menjawab, “Ia dikelilingi oleh ratusan pendeta Siau-lim-si. Ia sadar bahwa sekali ia menyambitkan pisaunya, ia akan mati. Bagaimana pun, sebilah pisau tak akan mampu membunuh ratusan orang sekaligus.”

Si gadis berkuncir pun berkata, “Ini adalah kerugiannya. Seseorang tak mungkin bertahan untuk selama- lamanya.”

Ini sama dengan kekuatiran A Fei. Dan ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan.

Kata Si Tua Sun lagi, “Mereka berbicara di depan ruangan tempat mereka menyemayamkan jenazah Sim- bi Taysu. Setelah itu, Li Sun-Hoan berhasil menyelinap ke dalam ruangan itu.”

Si gadis berkuncir tercekat. “Jadi dia terkurung di situ?” Sahut Si Tua Sun, “Pendeta-pendeta Siau-lim-si pun beranggapan bahwa dia akan berusaha kabur. Kini mereka menyesal.”

“Kenapa? Bukankah mereka seharusnya senang bahwa ia sudah terperangkap?”

Jawab Si Tua Sun, “Dalam ruangan itu bukan hanya ada jenazah Sim-bi Taysu. Di situ juga tersimpan naskah- naskah kuno yang sangat berharga untuk Siau-lim-si.”

Si gadis berkuncir itu pun menyanggah, “Tapi kan mereka hanya perlu menunggu di luar beberapa hari. Setelah itu Li Sun-Hoan akan mati kelaparan dan kehausan di dalam.”

Kata Si Tua Sun, “Awalnya mereka pun berpendapat demikian. Tapi Li Sun-Hoan berhasil menawan Sim-si Taysu bersamanya di dalam kamar. Mereka tidak mungkin membiarkan Sim-si Taysu mati bersama dengan Li Sun-Hoan.”

“Tentu saja tidak.”

“Jadi mereka harus mengantarkan makanan dan minuman setiap hari, supaya Sim-si Taysu dan Li Sun- Hoan tidak mati.”

Si gadis berkuncir pun bertepuk tangan. “Sudah lama Siau-lim-si dianggap tempat suci dunia persilatan. Selama beratus-ratus tahun tidak ada orang yang berani bertindak ugal-ugalan di sana. Namun seorang Li Sun- Hoan saja sudah bisa memporak-porandakan tempat itu. Pendeta-pendeta itu bukan hanya tidak bisa berbuat apa- apa, mereka bahkan harus menyediakan makanan baginya setiap hari. Sungguh menggelikan.”

Ia menjadi sangat ceria sekarang. “Li Tamhoa ini benar- benar karakter yang hebat ya, Kek. Ceritamu sungguh luar biasa.”

Saat ini, A Fei tenggelam dalam kegembiraan juga. Ia harus menahan dirinya kuat-kuat untuk tidak berteriak keras-keras bahwa Li Sun-Hoan adalah sahabatnya.

Namun Si Tua Sun kini menghela nafas. “Kau benar. Akan tetapi, cepat atau lambat Li Sun-Hoan akan terkubur di Siau-lim-si.”

Si gadis berkuncir menjadi heran, “Mengapa?”

Si Tua Sun seperti melirik pada A Fei. “Selama tidak ada orang yang bisa membuktikan bahwa Li Sun-Hoan bukan Bwe-hoa-cat , dan bahwa Sim-bi Taysu memang dibunuh oleh Ngo-tok-tongcu, Siau-lim-si tidak akan pernah melepaskannya!”

Si gadis berkuncir pun bertanya, “Siapakah yang dapat membuktikannya?”

Si Tua Sun terdiam. Akhirnya ia berkata, “Sayangnya, tidak ada seorangpun!”
*** ***
Note 23 November 2020
Jangan pernah meremehkan diri sendiri. Jika kamu tak bahagia dengan hidupmu, perbaiki apa yg salah, dan teruslah melangkah.
|Serial Pendekar 4 alis telah rampung dan siap untuk dibaca, untuk membacanya silahkan klik disini : Serial pendekar 4 Alis (Completed).|
(Regards, Admin)

0 Response to "Si Pisau Terbang Li Bab 21 : Sahabat yang Dapat Dibanggakan"

Post a Comment

close